MAELSTROM SAGA : DAWN AND TWILIGHT
There are times that sun rises. But after it rises, it will fall
.
Naruto by Masashi Kishimoto
Other characters originally mine except Kadoya Tsukasa and his buddies. They belong to Toei Production
.
.
Summary : Menjelang akhir dari Pohon Dunia, Sang Cahaya akan menjelma. Imbas perbuatan yang tak bijaksana. Dua saudara melebarkan sayapnya, hingga mencapai pusat dari sembilan dunia. Janganlah kalian ke barat, Wahai Dua Saudara. Sang Ular telah mengintai membawa petaka. Yang terkecil memadamkan cahaya, bawa dunia ke dalam salju abadi. -THE BERSERKER.
.
.
Chapter 2
.
.
Tujuh belas tahun telah berlalu. Aku dan Naruto sudah berumur hampir seperempat abad. Beberapa kali aku dan Naruto membantu orang-orang dewasa di desa untuk berburu keperluan desa.
Kini aku tengah bersantai di sebuah tebing di sebelah utara desa. Semilir angin dingin dapat kurasakan menerpa kulitku. Aku sedikit mengasah pedang yang kubawa menggunakan batu asah yang selalu kubawa dalam perbekalanku.
Tiba-tiba saja, aku mendengar suara gedebuk keras dari arah belakangku. Aku bisa melihat sosok Naruto ternyata menjatuhkan bangkai beruang di dekatku. Ia lalu berjalan ke arahku sambil menggenggam sebuah kapak perang berukuran sedang. Darah berlumuran di sekujur tubuhnya dan aku bisa menduga kalau itu adalah darah dari beruang yang menjadi mangsanya.
"Kau tidak membersihkan diri dahulu?" tanyaku saat ia mendudukkan diri di sebelahku.
"Tidak." Ia menjawab dengan singkat. "Aku terlalu lelah saat ini?"
"Melawan beruang itu? Sepertinya kemampuanmu perlahan melemah, Naruto," ejekku sambil menyeringai.
"Terserah kau saja." Aku mengernyitkan dahi ketika mendengar jawaban malas darinya.
"Kau kenapa? Tidak biasanya kau malas seperti ini." Naruto merebahkan badannya di atas salju. Kapak perang miliknya ia geletakkan sembarangan.
"Aku hanya masih kesal saja dengan keputusan ayah tadi pagi. Kau tahu 'kan kalau aku sudah menanti-nanti saat untuk menaklukkan Desa Lynsytarr di daerah timur desa? Tapi kenapa ayah malah membawa Minato dan bukan aku?" gerutunya.
Aku terdiam mendengar perkataannya. Memang benar kalau ayah Naruto, Jiraiya Vindbylgja, telah mengumpulkan pejuang-pejuang terbaik desa untuk menaklukkan Desa Lynsytarr. Tsubasa, Tsume dan Shikaku terpilih untuk menaklukkan Desa Lynsytarr bersama dengan Minato, adik Naruto, sedangkan aku dan Naruto tidak terpilih.
"Sudahlah, tidak usah kau pikirkan." Aku mencoba untuk menghiburnya. "Lagi pula kalau semua pejuang terbaik Desa dikerahkan, pertahanan desa kita akan rentan untuk diserang. Apalagi kalau Desa Wolverþen tiba-tiba menyerang, jadi kita sekarang yang harus mempertahankan desa."
Naruto sepertinya tidak menggubris perkataanku. Ia terus berbaring menatap awan di atas kami. Aku hanya bisa menghela nafas dan melanjutkan aktivitasku. Tiba-tiba saja, Naruto berdiri tegak sehingga mengibaskan salju ke pakaianku.
"Hei, kalau berdiri jangan tiba-tiba gitu!" gerutuku.
Ia tidak menjawab pertanyaanku dan hanya memandang ke arah jauh. Aku pun melihat dari sisi sungai dekat desa, sebuah asap tebal mengepul di sana. Sontak aku terbelalak melihat itu. Belum lagi suara trompet perang bergema hingga ke tempat kami.
"Desa tengah diserang!" seru Naruto. Ia mengangkat kapak perangnya dan bersiap untuk melompati tebing itu. "Ayo Sasuke!"
Setelah itu, ia langsung melompati tebing itu tanpa menghiraukan ketinggian dari tebing itu. Mau tidak mau, aku menyarungkan pedangku dan ikut terjun dari tebing itu.
Jika kalian bertanya bagaimana bisa kami, dua orang manusia biasa, dengan gagah berani terjun dari tebing dengan ketinggian yang mungkin kurang lebih dua ratus meter tanpa pengaman apa pun? Jawabannya adalah "rune" kawanku.
Dengan sigap, aku mengeluarkan sebuah batu rune dari kantong kulit hewan yang terikat di pinggangku dan mengarahkannya ke atas. "Algiz!!"
Sebuah kubah berwarna ungu muncul melindungiku dan Naruto. Kami pun bersiap menghadapi benturan yang kami alami.
Suara gedebuk keras terdengar jelas ketika kami menabrak tanah dengan keras, namun kami masih terselamatkan berkat bantuan rune Algiz. Naruto dengan tidak pandang bulu langsung berdiri lagi dan segera berlari.
"Sebentar Naruto!" Aku berteriak sambil kembali mengeluarkan batu rune lagi. "Raidho!"
Kemudian dua buah sinar keemasan muncul di depanku membentuk dua ekor kuda berwarna putih lengkap dengan pelana dan tali pengekangnya. Aku langsung menaiki salah satu kuda itu serta menarik tali pengekang kuda satu lagi. Lalu, aku memacu kedua kuda itu untuk mengikuti Naruto.
"Naiklah, Naruto!" seruku ketika aku berhasil menyusul Naruto. Dengan sigap, Naruto menyambar tali pengekang kuda yang kutarik dan langsung menaiki kuda itu. Setelah itu, kami langsung memacu kuda kami ke desa.
Kami melihat api mulai melalap sebagian besar rumah di sisi selatan desa. Teriakan perang dan kesakitan mulai terdengar jelas di telinga kami. Naruto yang sepertinya mulai kalap memacu kuda yang ia naiki dengan lebih kencang. Mau tidak mau, aku juga memacu kudaku.
Setelah memasuki alun-alun Altar Pemujaan, kami bisa melihat beberapa prajurit tetap berusaha untuk menahan terjangan prajurit-prajurit yang menginvasi desa. Prajurit yang menginvasi itu mengenakan panji-panji berbentuk kepala serigala berwarna hitam.
"Wolverþen sialan!!" Naruto langsung menghunuskan kapak perangnya dan membacok kepala dari prajurit Desa Wolverþen yang ada di dekatnya.
Ia melompat dari atas kudanya dan langsung menerjang sekumpulan prajurit Wolverþen dengan kapak perang yang masih terhunus. Tangkis-sabetan-tangkis-penggal, itulah yang dilakukan oleh Naruto kepada prajurit-prajurit Wolverþen.
Seorang prajurit Wolverþen mencoba untuk memenggal kepala Naruto, namun pedangnya langsung ditepis oleh Naruto menggunakan kapaknya. Setelah itu, ia memegang gagang kapaknya dengan kedua tangannya dan langsung mengayunkannya dengan keras ke kepala prajurit itu hingga terbelah menjadi dua.
Aku juga ikut membantunya dengan menghabisi beberapa prajurit menggunakan pedangku. Sesekali aku juga menyelamatkan warga yang terjebak dalam reruntuhan rumah yang rubuh ataupun dari prajurit Wolverþen yang menyerang warga.
Tiba-tiba saja, Naruto meraung dengan keras hingga terdengar ke seluruh penjuru desa, "ORSTED!!!" Aku melihat ke arahnya dan menemukan dirinya tengah berhadapan dengan seseorang.
Orang bertubuh tinggi besar dan berotot. Ia mengenakan mantel kulit yang terbuat dari kulit beruang dan baju pelindung yang terbuat dari besi yang sangat berat. Tangan kanannya memegang kapak perang bermata dua yang dilumuri darah, sedangkan tangan kirinya memegang kepala yang kuketahui sebagai salah seorang prajurit desa kami.
Wajahnya yang dipenuhi berewok berwarna pirang itu tertawa keras. "Zehahaha! Naruto Vindbylgja! Mengapa kau harus marah seperti itu? Apa kau marah karena desa kecilmu ini kuserang? Atau karena adikmu yang mengambil posisimu di samping ayahmu?" katanya.
"Jaga mulut kotormu itu, Orsted!!" Naruto menggenggam kapaknya erat-erat. "Atau akan kubunuh kau dengan cara yang menyakitkan!"
"Zehahaha!" Orang bernama Orsted itu tertawa keras dan membuang sembarangan kepala yang ia pegang. "Ayo pusaran kecil! Buat aku terhibur!"
Naruto dengan kalap langsung melompat dan mengayunkan kapaknya ke tubuh Orsted, namun Orsted dengan santai menepis serangan Naruto. Naruto tidak gentar dan menyabet kaki Orsted hanya untuk terpental karena tendangan keras dari Orsted.
"Naruto!" seruku. Aku menghampiri Naruto dan merapalkan mantra padanya. "Algiz! Laguz! Perthro! Ingwaz!" Empat huruf rune muncul di udara dan mulai meregenerasi luka-luka yang diterima Naruto.
"Zehahaha! Kau bukanlah tandinganku Naruto Vindbylgja!" Orsted berseru dengan nyaring. "Dengan ini, Klan Vindbylgja akan musnah! Apa kau tahu kalau Lynsytarr telah bersekutu dengan kami, Wolverþen, untuk menghabisi kalian!? Kalian telah jatuh ke dalam perangkap kami!"
Aku tentu saja terkejut dengan fakta itu. Siapa yang bisa menduga kalau Lynsytarr dan Wolverþen telah bersekutu untuk memusnahkan desa kami? Karena pada awalnya hanya Wolverþen yang dengan terang-terangan menyatakan perang dengan kami.
Tiba-tiba saja, Naruto berdiri secara perlahan. Mulutnya mengucapkan kata demi kata dalam bahasa kuno, "Úr er af illu jarne, opt løypr ræin á hjarne." Tato yang terbuat dari rangkaian huruf rune mulai memenuhi tangan Naruto hingga ke pundaknya. Ia pun merapal lagi, "Ur byþ anmod ond oferhyrned, felafrecne deor, feohteþ mid hornum mære morstapa. Þaet is modig wuht!"
Otot-otot Naruto perlahan mulai sedikit membesar. Tubuhnya mulai dipenuhi dengan tato yang terdiri atas rangkaian huruf rune. Iris matanya berubah hingga menjadi warna putih. Ia memegang erat kapak perangnya dan langsung melompat ke arah Orsted.
Orsted yang masih menyepelekan serangan Naruto hanya memasang kuda-kuda santai dan mempersiapkan kapaknya untuk menangkisnya, namun ia harus menelan pil pahit karena satu tebasan Naruto berhasil mementalkan kapak miliknya.
Ia kelihatan panik ketika Naruto kembali menebaskan kapaknya. Ia mencoba untuk menghindar, namun dadanya berhasil tertebas hingga mengucurkan darah yang sangat banyak.
Baju pelindungnya tergores sangat dalam hingga menimbulkan lubang goresan yang besar. Wajah Orsted mulai kelihatan marah. "Kau!!" Ia langsung mengambil kembali kapaknya yang tergeletak entah ke mana dan langsung mengayunkannya ke Naruto.
Naruto mengambil perisai yang ia ambil sembarangan dari prajurit yang gugur dan mencoba untuk menahan serangan Orsted, namun perisai itu pecah menjadi dua ketika kapak Orsted menghantamnya.
Pecahnya perisai itu tidak membuat Naruto gentar. Menggunakan momentum dari pecahnya perisai itu, ia langsung menggulingkan badannya dan menyabetkan kapaknya ke bagian belakang lutut kaki kiri Orsted. Orsted meraung kesakitan dan memegangi belakang lututnya.
Naruto melihat adanya peluang dan langsung memotong lengan kiri Orsted. Orsted terjatuh dengan tangan kanannya masih berusaha menutupi luka pada bagian belakang lututnya. Ia melihat bahwa Naruto menghampirinya secara perlahan. Tangannya yang memegang kapak berlumuran darah membuat Orsted merasa ketakutan.
"A-ampuni aku, Naruto. Tolong jangan bunuh aku." Ia memohon-mohon kepada Naruto sambil masih meringis kesakitan, namun Naruto tidak peduli. Ketika ia sudah sampai di dekat Orsted, ia memenggal kepala Orsted dan menancapkan kapaknya ke dahi Orsted dalam-dalam.
Kemudian, ia mengangkat kapaknya yang menancap di kepala Orsted dan berteriak keras. "ARGHHH!!" Raungannya terdengar ke seluruh penjuru desa. Prajurit-prajurit dari desa Wolverþen yang melihat bahwa pemimpin mereka sudah mati langsung segera lari kocar-kacir meninggalkan desa.
Tak lama kemudian, hujan mulai mengguyur deras desa kami. Air yang tumpah dari langit memadamkan api hasil penyerangan dari Desa Wolverþen itu. Aku menyarungkan pedangku dan tertunduk karena sedikit kelelahan. Penggunaan rune secara berlebihan sedikit membebani tubuhku.
Aku melihat Naruto masih meraung keras di bawah guyuran hujan. Lama-kelamaan, tato-tato yang memenuhi tubuhnya mulai menghilang. Otot-ototnya perlahan kembali seperti semula. Tangannya yang memegang kapak perlahan terkulai lemas dan ia pun jatuh berlutut. Aku pun segera menahan Naruto agar tidak jatuh dan memapah Naruto ke gedung balai desa.
.
~Maelstrom Saga : Dawn and Twilight~
.
Setelah membaringkan Naruto di ranjangnya, aku pun segera ke balai pertemuan dan memanggil semua warga yang masih selamat. Aku mengambil alih komando sementara dan meminta para prajurit tersisa untuk mengumpulkan jenazah para pejuang maupun warga yang meninggal serta membereskan sisa-sisa perang.
Selain itu, aku juga meminta anggota Klan McFadden yang masih berada di desa untuk menyisir dan menjaga keamanan selama prosesi pemberesan sisa-sisa perang.
Aku terus memberi komando di balai pertemuan hingga Naruto mulai memasuki balai pertemuan itu. Aku yang melihatnya hanya bisa berkata, "Apa kau sudah membaik?"
"Lumayan," jawabnya singkat. Ia melihat ke peta Desa yang terpampang di meja. "Bagaimana kerusakan yang kita alami?"
"Enam puluh rumah rusak parah dan lima belas rumah rusak ringan di sisi selatan desa. Selain itu, dermaga desa juga rusak parah dan perlu perbaikan yang cukup lama karena kita kekurangan orang yang bisa membantu," jawabku.
Ia mengangguk. "Bagaimana dengan korban jiwa?" tanyanya.
"Korban jiwa yang kita alami sebanyak seratus prajurit terlatih, seratus pria warga sipil, serta tiga puluh orang wanita dan anak-anak. Yang selamat hanya lima puluh prajurit terlatih, empat puluh pria warga sipil serta empat ratus orang wanita dan anak-anak. Sedangkan sisa warga sipil yang lain tengah berdagang ke desa lain ataupun tengah berburu dan memancing di laut dan belum kembali hingga saat ini."
Naruto mendecih pelan. "Kalau begitu, kita perlu membuat dermaga darurat kalau-kalau pasukan yang berangkat ke Lynsytarr akan kembali," tukasnya.
Kami meneliti kembali peta tata letak desa. Kemudian aku berceletuk, "Bagaimana dengan pondok memancing milikmu itu, Naruto? Tempat itu sedikit mirip seperti dermaga kecil dan kita bisa mengubah tempat itu untuk bisa menjadi dermaga yang cocok."
Naruto berpikir sejenak. Ia menimbang-nimbang risiko-risiko yang dapat terjadi. Kemudian, ia bertanya, "Apakah ada korban luka-luka di pihak prajurit ataupun warga sipil pria yang selamat?"
"Untungnya sebagian besar hanya luka ringan saja. Mereka siap untuk membangun dermaga darurat," kataku.
Ia berpikir lagi dengan saksama. Kemudian, ia menyetujui pembangunan dermaga darurat di sisi timur desa tempat pondok memancing milik Naruto. Ia pun mengambil seekor burung elang, menulis sebuah surat dan mengirimkannya menggunakan elang itu kepada pasukan yang ingin menyerbu Desa Lynsytarr. Selain itu, ia mengirimkan beberapa burung gagak untuk memanggil kembali warga sipil yang kini tengah berburu jauh di dalam hutan.
Setelah jenazah para prajurit serta warga sipil yang meninggal karena invasi Desa Wolverþen berhasil dikumpulkan, aku dan Naruto mengumpulkan perahu demi perahu ataupun kapal perang yang masih bisa dipakai di dermaga lama untuk prosesi pemakaman. Hingga akhirnya kami memuat dua kapal perang dan tiga puluh perahu dengan jenazah mereka bersama warga yang lain.
Kami semua berada di dekat dermaga lama yang masih rusak parah. Dua kapal perang serta tiga puluh perahu itu masih tertambat di pesisir pantai. Naruto, yang telah menanggalkan baju pelindungnya dan kini telah memakai jubah pemakaman, berdiri di depan seluruh warga. Ia menaiki sebuah batu yang menjulang tinggi di pesisir pantai itu dan menghadap ke arah mereka.
"Warga Desa Vindbylgja!" Naruto berseru dengan nyaring. "Aku tahu bahwa aku tidak bisa berkata-kata seperti saudaraku. Aku tahu bahwa aku masih lemah hingga tidak bisa melindungi saudara-saudara kita."
Ia melirik ke arah kumpulan kapal dan perahu yang tertambat itu. "Dua ratus tiga puluh orang mati karena invasi Desa Wolverþen, dua ratus orang lebih telah mati karena rencana Wolverþen dan Lynsytarr. Mereka menarik prajurit-prajurit terbaik kita untuk suatu perang yang telah ditentukan hasilnya, yaitu kehancuran Vindbylgja. Namun dengan gagah berani, dua ratus orang ini berjuang sekuat tenaga agar kehidupan kita yang hidup semakin baik."
Kemudian, Naruto menengadahkan tangannya ke langit. Hujan masih mengguyur desa, namun Naruto tidak menghiraukan hal itu. "Semoga para Valkyrie menuntun mereka ke Valhalla ataupun Fólkvangr dan menghindarkan mereka dari Helheim."
Kemudian, aku dan para laki-laki yang masih hidup melarungkan kapal perang dan perahu-perahu itu ke laut. Para keluarga terdekat dari korban mulai mengambil busur dan anak panah berapi, lalu menembakkan anak panah berapi itu ke kapal perang serta perahu-perahu itu disusul oleh warga lainnya.
Api mulai berkobar menaungi kapal perang serta perahu-perahu itu. Asapnya mulai membumbung tinggi ke angkasa, hampir menyatu dengan awan hitam yang masih mengguyur Midgard dengan hujan deras. Meskipun hujan deras, api itu berkobar dengan sangat dahsyat tanpa padam.
Kami semua hanya bisa menatap pemandangan itu dengan pandangan duka yang mendalam. Tak ayal, banyak wanita maupun anak-anak yang menangis keras melihat kepergian keluarga mereka yang terkasih. Aku dan Naruto hanya bisa menunduk hormat kepada mereka yang telah meninggal.
Kejadian ini telah memberikan kami pelajaran yang berharga. Aku dan Naruto bertekad kuat untuk melindungi apa yang kami miliki saat ini dan tidak membiarkan musuh kami mengambilnya dengan santai.
.
~Maelstrom Saga : Dawn and Twilight~
.
Beberapa hari telah berlalu semenjak invasi Wolverþen, Naruto dan aku bahu-membahu untuk memimpin desa yang terkena dampak cukup besar karena invasi. Beberapa warga yang sebelumnya sempat pergi berburu dan berdagang ke desa lain sudah kembali dan ikut membantu pembangunan kembali desa kami.
Masih belum ada kabar dari pasukan penyerbu desa kami sejak hari itu. Aku dan Naruto hanya bisa berharap bahwa tidak terjadi sesuatu yang buruk dan tetap fokus membangun desa.
Aku mendata beberapa barang yang masuk maupun keluar dari balai desa, sementara Naruto tengah berdiskusi dengan beberapa perangkat desa yang masih selamat. Setelah laporan yang kubuat selesai, aku pun memberikannya kepada Naruto.
Naruto memilah data-data yang kubuat. Ia mengangguk saja kepadaku dan kembali memberikan perintah kepada beberapa perangkat desa terkait kerusakan yang masih perlu dibenahi, seperti dermaga utama serta beberapa rumah yang berdampak.
Kemudian kami mendengar seseorang berteriak dengan kencang diiringi dengan suara tiupan terompet perang, "Pasukan Thegn telah tiba! Pasukan Thegn telah tiba!!" Orang itu memasuki balai pertemuan dan bersimpuh di dekat Naruto.
"Tuan, pasukan yang dipimpin oleh Thegn Jiraiya telah tiba di dermaga darurat dan mulai memasuki desa," lapornya.
"Baiklah, tolong sambut mereka dengan baik. Aku dan Sasuke masih perlu membereskan laporan terlebih dahulu sebelum Thegn tiba di sini," balas Naruto.
Orang itu mengangguk dan segera keluar dari balai pertemuan itu. Aku dan Naruto langsung bergegas mengumpulkan dan menulis ulang laporan-laporan dari kerusakan maupun perbaikan dari beberapa hari yang terlalu.
Tak lama kemudian, suara sorak-sorai mulai bergema di jalanan desa. Aku dan Naruto merapikan laporan-laporan itu dan menaruhnya pada meja perencanaan, lalu segera keluar dari gedung balai pertemuan.
Kami bisa melihat bahwa bendera panji-panji Klan Vindbylgja memenuhi jalanan desa. Sorak-sorai dari warga yang masih selamat memberikan semangat yang cukup besar kepada pasukan yang datang.
Aku bisa melihat Kepala desa Jiraiya dan istrinya, Tsunade, berada di barisan depan pasukan bersama dengan Minato, Shikaku, Tsume, Tsubasa dan seorang pria bertubuh tinggi proporsional berkulit putih dan berambut hitam. Setelah mereka sampai di depan gedung, aku dan Sasuke berlutut di depan mereka.
"Selamat datang kembali, Thegn dan Para prajurit pemberani Vindbylgja." Aku dan Naruto berbicara secara bersamaan. Kepala desa yang juga bergelar Thegn mengangguk.
"Bagaimana keadaan desa saat kami pergi?" tanya Jiraiya.
"Untuk itu, lebih baik kita membicarakannya di dalam balai pertemuan, Thegn," jawabku.
Thegn Jiraiya mengangguk dan membubarkan pasukannya, menyisakan istrinya, Minato, Shikaku, Tsume, Tsubasa, serta pria berkulit putih itu. Kemudian, kami semua memasuki balai pertemuan.
Setelah Thegn Jiraiya duduk di singgasana Thegn, aku dan Naruto berlutut kembali dan melaporkan segalanya, mulai dari invasi yang dilakukan oleh Wolverþen, korban yang meninggal, kerusakan yang dialami oleh desa, serta rencana pemulihan yang sudah berjalan.
Thegn Jiraiya mengangguk ketika mendengar laporan dariku dan Naruto. Kemudian, ia berkata, "Berdirilah, Naruto dan Sasuke."
Aku dan Naruto berdiri dengan tegap. Thegn Jiraiya juga ikut berdiri. Ia menepuk pundak kami dan berkata kepada kami, "Kerja bagus kalian berdua. Desa ini bisa jadi musnah jika tidak ada kalian. Kalian telah mengubah apa yang seharusnya menjadi tragedi menjadi sebuah legenda yang mengagumkan."
"Sudah menjadi tugas kami, Yang mulia Thegn," jawabku.
Kemudian, ia menoleh ke arah Naruto dan berkata, "Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Ikut denganku nanti."
"Baik ayah." Naruto menjawab pelan.
Thegn Jiraiya tersenyum dan menepuk lagi pundak kami. Kemudian, ia memanggil kembali semua prajurit yang ikut ambil bagian dalam perang melawan Lynsytarr maupun Invasi Wolverþen. Ia mengisi meminta pelayan untuk menyiapkan gelas-gelas penuh dengan Mead untuk dibagikan kepada mereka.
Setelah semuanya mendapatkan gelas masing-masing, Thegn Jiraiya bersulang bersama prajurit yang lain dan mulai berpesta. Sorak sorai dan riuh para prajurit bergema di dalam balai pertemuan itu. Aku dan Naruto juga asyik bercanda dengan teman-teman kami dan juga Minato, adik Naruto.
Kemudian, seorang pelayan menghampiri kami dan mengatakan bahwa Thegn Jiraiya beserta istrinya ingin bertemu dengan Naruto dan Minato. Naruto dan Minato mengangguk serta berpamitan kepada kami.
Ketika mereka berdua pergi meninggalkan kami, aku melihat seseorang tampak menatap kedua bersaudara itu dengan pandangan sinis. Orang itu adalah pria bertubuh proposional dan berambut panjang lurus berwarna hitam yang tadi berada di sebelah Thegn Jiraiya.
Orang itu terlihat menggumamkan sesuatu, namun aku tidak bisa mendengarnya dari tempatku. Tsume yang melihat gelagatku hanya berkata, "Ada apa Sas? Kenapa kau melihat Penasihat Orochi seperti itu?"
Aku menggeleng. "Bukan apa-apa."
Kemudian, aku menoleh ke arah pria tadi dan ia sudah menghilang entah ke mana. Aku hanya bisa masa bodoh dengan kejadian tetap berpesta dengan teman-temanku tanpa mengetahui bahwa kejadian besar akan terjadi beberapa tahun lagi.
.
To be Continued
.
Halo semuanya, kembali bersama saya FI.Antonio no Emperor. Kali ini saya membawakan kembali kisah Maelstrom Saga : Dawn and Twilight. Di chapter kali ini, kita melakukan time skip setelah Minato beranjak remaja dan Naruto sudah menjadi dewasa. Chapter kali ini juga akan menjadi permulaan konflik pertama yang akan dihadapi oleh Naruto dan Minato sebelum akhirnya mereka harus pindah dari kampung halamannya.
Mungkin itu saja dari saya, jika ada kesalahan bisa ditulis dalam kolom review agar nantinya bisa saya perbaiki ke depannya.
Akhir kata, sampai jumpa di chapter selanjutnya.
