Disclaimer : Semua Ciptaan dan Hak atas karya dimiliki oleh Pencipta yang sah. Tidak ada komersialisasi dalam cerita ini.
Summary : Uzumaki Naruto seorang Pengacara Publik di Kuoh menemukan dirinya harus membela para Maou dalam Persidangan Surgawi atas permintaan seorang Iblis Cantik. "Mana ada Manusia yang membela Iblis melawan Tuhan!". Cerita seorang pengacara eksentrik yang akan mengalahkan semua hukum di dunia. [Inspired by Better Call Saul/Lucifer/Devil Advocate]
Genre : Drama, Fantasy, Adventure
Rate : M
Setting : AU (Banyak lupa setting latar DxD)
.
.
.
.
.
Devil Lawyer – Chapter 1
Selamat Membaca.
"Bukannya harusnya 150 ribu yen per terdakwa?"
Naruto kesal melihat cek yang diberikan seorang petugas administrasi persidangan padanya. Nominalnya hanya 115 RIbu yen. Itu bayarannya pada perkara barusan.
"Mereka masuk penjara kan akhirnya?"
"Sejak kapan itu penting! Bayaran kita itu sudah tegas diatur!"
Petugas Perempuan itu menghela nafasnya. Bukan sekali Naruto mengeluh atas bayarannya. "Pak, mereka tidak memintamu untuk membelanya di persidangan. Akhirnya pun dengan pembelaanmu itu mereka dipenjara."
"Mereka itu masturbasi pada sebuah kepala manekin gurunya! Tentu saja mereka pantas dipenjara." Tegas Naruto kesal. Kliennya adalah 4 remaja bodoh yang saat pelulusan malah melakukan tindakan begitu di dalam sekolah pada malam hari dan merekamnya. "Dan setidaknya ada bayaran atas kesetiaanku 4 tahun disini, 'kan?"
Pria berusia 28 tahun ini merupakan seorang Lawyer, Pengacara publik tepatnya. Sejak lulus diusia 23 tahun, di tahun pertamanya ia selalu berhasil membela klien di kantor seniornya. Namun karena seniornya ditangkap karena penggelapan ia tidak diterima di kantor manapun dan akhirnya bekerja sebagai pengacara publik. Profesi yang akan membela terdakwa kasus kriminal yang tidak mampu menyewa pengacara swasta.
"Naruto," panggil pegawai bernama Karin itu, "Pilihanmu itu mendapat uang disini atau ganti pekerjaan. Jadi stop mengeluh dan terima bayaranmu!"
Akhirnya Naruto diusir daripada perdebatan itu tak berujung. Karin tau bahwa pria lawan debatnya itu pasti selalu ada alasan untuk melawan perkataannya. Dia memang pintar.
"Hah, andai dia tak terlalu eksentrik sekaligus jago." Gumam Karin. Naruto itu pengacara yang ahli. Dia selalu menang di tahun pertamanya. Hanya saja ia terlalu eksentrik dan memilih mengambil kasus. Kasus yang ia ambil pasti haruslah yang unik dan belum ada yang menyelesaikannya.
~ HaHaHa ~
Ini hari kesekian Naruto merasa sial. Bayarannya atas usahanya rendah, ditambah sekarang ia sedang di Kantor Polisi karena di jalan tadi ada mobil sport yang menabrak mobil miliknya. Sialnya, yang harus ganti rugi adalah dirinya.
"Mana bisa begitu!" Ia disodorkan surat tagihan ganti rugi sebanyak 500 ribu yen. Gajinya selama 2 minggu ini padahal hanya 150 Ribu Yen. "Kita selesaikan saja di Pengadilan."
Usul Naruto. Meskipun ia tau itu tak akan diterima dan justru akan menguras uang miliknya lebih banyak. Ia hanya mengancam dan menggertak.
"Pilihanmu hanya bayar saja atau masuk penjara hari ini" Polisi itu tersenyum meremehkan, ia kemudian menatap pasangan yang menuntut ganti rugi pada Naruto. "Jangan melawan, dia anak Ketua Polisi kota ini."
Gaah! Dasar Korup!
Seja kia berkarir sepertinya Korup adalah hal yang membawa kesialan baginya. Ketika seniornya dituduh korupsi (padahal sebenarnya tidak), asset kantor dan bahkan barang-barang miliknya yang ia dapatkan dari bayaran memenangkan kasus disita. Kini ia dihadapkan lagi ketidakadilan yang sama.
"Meskipun begitu aku tidak punya uang segitu." Tau bahwa melawan artinya ia akan dipenjara 1 bulan tanpa bisa apa-apa dan akan lebih memiskinkannya, akhirnya ia mengalah. "Ambil mobilku saja. Toh pada akhirnya kalian akan merampasnya, 'kan."
Jika ia dipenjara, mobilnya akan dirampas sebagai barang bukti. Melawan di pengadilan ia pasti kalah karena power bocah remaja tanggung yang menabrak mobilnya tersebut.
"Hahaha baiklah. Tanda tangan disini," Naruto menandatangani dokumen ganti rugi dan menyerahkan kunci mobilnya, "Sekarang pergi kau sana!"
Naruto menahan emosinya dan pergi. Ia sudah sering mengalami kesialan melawan korupsi dan hukum yang tidak adil sejak ia kuliah. Sepintar-pintarnya dia, dia hanyalah anak yatim yang ngide menjadi seorang Lawyer.
Di waktu matahari mulai terbenam, Naruto berjalan kaki meninggalkan Kantor Polisi Kuoh. Ia lagi menghemat jadi tidak naik kendaraan. Tujuannya sekarang adalah menenangkan pikirannya.
~ HaHaHa ~
Malam hari di Kuoh tidak begitu gemerlap. Kota ini minim pencahayaan dan gelap di jalan-jalannya. Hanya beberapa bangunan yang masih nyala lampunya di malam hari. Itupun tempat hiburan malam.
Begitulah penampakan lain dari Kota penuh korupsi. Dari pejabat, petugas hukum hingga kebawahnya semuanya penuh korupsi. Sipil yang bukan siapa-siapa pasti akan kesulitan meraih sukses di Kota ini. Orang cerdas pada akhirnya hanya akan gagal atau menjadi batu loncatan orang lain.
Pada akhirnya, banyak orang-orang yang depresi di sini dan mencari ketenangan di klub-klub malam. Begitu juga Naruto. Ia kini duduk di depan seorang Bartender kenalannya dan meminum alcohol.
"2 Gelas lagi Issei."
Si Bartender, Issei, hanya menggeleng kasihan. Temannya tersebut telah meneguk banyak alcohol di sini. "Pulanglah kawan. Besok kau harus bekerja lagi, 'kan."
"Hah Kerja?" Wajah Naruto sinis, ia memang tak gampang mabuk. "Kerja begitu terus bertahun-tahun untuk apa? Di akhir hari pasti stress terus mabuk kesini."
Ya, Naruto tiap hari kesini.
"Kau makanya jangan eksentrik," Issei menyodorkan 2 gelas alcohol pada Naruto. Es batunya ia buat berbentuk berlian cantik, "Stop dengan idealisme pemilihmu. Mengemis saja pada senior-seniormu yang lain untuk dapat kerjaan yang layak."
Naruto Nampak langsung menegak 1 gelas alkoholnya sembarangan. Ia tak peduli kemeja putih dan jas hitam miliknya kecipratan.
"Cih, mereka itu memeras yang miskin bahkan tanpa membelanya dengan benar dan hanya memiskinkan orang-orang mampu." Begitulah senior-senior Naruto di kantor hukumnya masing-masing. Orientasi uang itu tidak salah, namun untuknya, setiap uang yang diterima haruslah membuatnya serius dalam bekerja.
"Lagipula, kau kan tau sendiri motivasi ku menjadi seperti ini."
Issei dan Naruto adalah anak di Panti Asuhan yang sama. Ketika mereka remaja, panti asuhan tersebut digusur karena pengasuhnya dianggap mengeksploitasi anak-anak, padahal itu hanya akal-akalan untuk mendapatkan lahan dan bangunan panti asuhan. Akhirnya pun anak-anaknya dititipkan sembarangan dan menggelandang, seperti mereka berdua.
"Ya ya aku paham," mereka telah bersama sejak kecil, dan Issei tau hanya Naruto yang punya semangat mengejar Pendidikan dan karir, padahal anak-anak lain merasa yang penting bisa hidup di kota ini, "Baiklah karena Pengacara kita sedang sial, aku akan menghiburmu dengan mentraktik 5 gelas lagi. Bagaimana?"
"Yahooo kau yang terbaik, dude."
Mereka tertawa berdua. Tak terlalu kencang karena bar ini sendiri penuh sesak suara musik. Jadi tak ada yang mendengar dan memerhatikan interaksi keduanya. Hanya seorang Perempuan cantik saja yang memerhatikan mereka. Tepatnya ia melihat Naruto dengan mata yang berbinar.
~ HaHaHa ~
Jam 3 dini hari. Naruto diantar oleh Issei dengan motornya ka apartemen miliknya. Apartemen ini adalah satu-satunya yang tak disita karena tuduhan korupsi seniornya. Mereka awalnya satu atap, namun memilih masing-masing setelah Issei merasa ia mampu sendiri.
Apartemen yang hanya berisi kamar, ruang Tengah sekaligus dapur dan kamar mandi itu merupakan harta terbesarnya. Mobilnya kini sudah tidak ada. Uang pun sedikit dan ia tak mampu membeli apa-apa diluar kebutuhan dasarnya.
"Hah miskin sekali menjadi seorang Lawyer … "
Pria berambut pirang acak-acakan dan berkulit putih itu tertidur di sofa miliknya dan menatap atap ruang Tengah. Mata birunya terlihat Lelah. Diatasnya ada lampu murah yang menyala satu-satunya di apartemen miliknya. Ia hemat listrik.
"Andai ada kasus Miliaran Yen yang bisa kuselesaikan," Naruto hanya tertawa ringan. Miris. Tiap malam memang selalu begini, mengkhayal berandai-andai.
Saat ia masih menatap lampu remang diatas atapnya ia terus memikirkan dan berandai-anai kalau ia sukses sebagai Lawyer dan saat itu ia akan mengiklankan dirinya sebagai Better Call Narut-
"Kau yakin?"
"Hah?" Naruto mengedip-ngedipkan matanya. Tatapannya kosong karena diatas nya tiba-tiba ada wajah Wanita cantik yang bertatapan dengannya. Ia melayang nih?
"Halo Naruto, salam kenal."
" … Apa?" Jawabnya ragu-ragu. Ia tadi itu berandai-andai sukses, bukan mengkhayal aneh-aneh lho! Gadis cantik dihadapannya ia masih anggap halusinasi sampai tangan putih gadis itu menyentuh pipinya dan ia langsung kabur dari sofa. Dia berdiri siaga jauh-jauh dari Perempuan melayang itu.
"Siapa kau!"
"Aku Grayfia."
"Tidak tidak bukan nama, maksudku, Kau Siapa!"
"Namaku Grayfia, lengkapnya Grayfia Lucifuge."
"Sialan bukan namamu! Kau ini siapa? Apa? Kenapa? Bagaimana?" Ia tak peduli nama Wanita cantik berambut silver tersebut. Ia hanya fokus pada Wanita itu yang melayang di hadapannya.
"Aku Iblis. Iblis itu spesies selain manusia." Gah mana bisa bilang begitu biasa saja.
Naruto langsung melepaskan dasi hitamnya dan melilitkannya pada tinju tangan kanannya. Ia hidup di jalanan dan ia jago dalam bertarung. "Kau mau apa, Iblis? Bertarung? Aku ingatkan ya aku tak segan melawan Perempuan!"
Grayfia hanya tersenyum kecil, baginya mengalahkan manusia itu mudah sekali. "Kalau aku ini Iblis maka kau tak mungkin bisa mengalahkanku, Naruto."
Iya juga, sih. Pikir Naruto. Namun ia tetap Bersiap dengan kuda-kudanya. "Pokoknya! Kau mau apa disini? Aku tak mau menjual jiwaku, ya!"
"Bisa tenang dulu?" Grayfia berhenti melayang dan duduk di sofa miliknya. Wajah dan badannya cantik, cara duduknya juga. Ia tatap langsung mata biru Naruto.
Mana bisa ia tenang saat ketemu iblis!
"Sebentar," Naruto menarik nafas Panjang dan berjalan mondar-mandir di hadapan Grayfia dan bermonolog. "Pertama iblis itu nyata … tidak tapi koruptor juga iblis … mereka pasti mau aneh-aneh … tapi bisa juga iblis baik kan … "
Setelah 2 menit seperti itu akhirnya Naruto berhenti melakukannya dan mengambil kursi. Tak lupa ia memasang kembali dasinya. Ia sedikit rapih sekarang. Kemudian ia duduk dihadapan iblis cantik yang sepertinya seusia dengannya.
"Baiklah, sebelumnya kau ini iblis nyata, 'kan? Bisa tunjukan buktinya padaku. Terus, kau mau apa denganku, Nona Grayfia?"
"Iblis itu nyata, Naruto," di belakang Grayfia tiba-tiba terbentang sepasang sayap kelelawar hitam yang lebar. Naruto sedikit terkejut kali ini, "Kami seringkali ke dunia manusia, namun karena penampilan kita sama jadi tidak ada yang sadar."
Fisik pembeda antara iblis dan manusia mungkin hanya adanya sayap di punggung para iblis saja.
"Oke, aku percaya," Grayfia menghilangkan sepasang sayap miliknya, "jadi kau mau apa denganku?"
"Aku butuh pengacara."
"Sebentar," Naruto mengambil notebook kecil dan mulai mencatat apa yang dibutuhkan Grayfia, "Pengacara itu aku?"
"Iya, benar, Naruto-kun."
"Kupikir kita belum akrab," Itu sindiran. Grayfia juga bercanda karena pertanyaan Naruto tak perlu dijawab. "Untuk apa?"
"Membela 4 Raja Iblis."
" … Oke," Tetap ia catat namun dia mulai merasa aneh dan curiga. "Jadi si 4 orang Raja Iblis ini melakukan apa dan disidang dengan kasus apa?"
"Iblis bukan orang," Naruto hanya memasang senyum sinisnya dan tertawa kecil, menghargai. Grayfia melanjutkan, "Mereka di pengadilan surgawi. Ancaman hukuman mereka adalah penghapusan eksistensi."
"Wow oke jadi pengadilan surgawi, ya?"
"Benar,"
"Surgawi yang dimaksud … berarti melawan Tuhan?"
"Benar sekali, Naruto-kun."
"Case closed. Aku tolak. Sana pergi." Naruto yang hendak pergi beranjak dihentikan oleh Grayfia. "Tolonglah."
"No. Aku menolaknya, Nona Grayfia."
"Kumohon, hanya kau satu-satunya yang bisa menyelamatkan kaum kami."
"Menyelamatkan, ya?" Grayfia mengangguk sambil tetap memegang tangan Naruto. Mencegahnya pergi.
Kini Naruto tak jadi pergi. Ia berhadapan langsung dengan Grayfia dan menatap wajah cantiknya. Ternyata tinggi Grayfia hanya sampai hidungnya saja.
"Begini ya, pertama, ini di pengadilan melawan Tuhan. Meskipun aku bukan orang religius, tapi tetap saja mana bisa manusia melawan-Nya." Naruto memperagakan jari-jarinya dengan angka 2, "Kedua, yang kubela itu iblis. Iblis nyata. Mana bisa membela Iblis, apalagi Rajanya, melawan Tuhan? Sudah pasti aku akan masuk neraka kalau melakukan ini."
"Rumah kami tidak begitu buruk. Sama dengan bumi semuanya."
"Ya anggaplah Neraka itu ada Disney Land-nya, dan lain-lain. Tapi kasus ini mustahil untuk menang dan konsekuensi buatku juga besar."
"Bukannya prinsipmu adalah memenangkan kasus yang tak pernah diselesaikan?"
"Ya kau benar, tapi ini berbeda."
"Bedanya?"
"Kalau aku gagal ya masuk neraka dan imbalannya tak sepadan."
"Meskipun kamu membela Raja Iblis, Pengacaranya tak akan dimasukan ke Neraka, kok." Grayfia belum melihat ketertarikan di Naruto meskipun diberitahu demikian, "Dan soal Imbalan, kami bisa membayar Triliunan, tidak, sebanyak mungkin uang kepadamu jika mau. Kalau berhasil, akan ada bonus lagi."
Kali ini Naruto merenungkan tawaran Grayfia. Pertanyaannya terjawab. Satu, ia tak akan masuk neraka. Dua, imbalannya sepadan. Saat ini, yang paling ia butuhkan adalah uang.
"Tapi tetap saja Nona Grayfia, tidak ada jaminan menang melawan pengadilan Tuhan."
"Kami, kaum iblis, akan memberikan support sepenuhnya untuk kasus ini. Kami juga menyimpan beberapa Sacred Gear yang bisa digunakan dalam berjalannya kasus ini." Grayfia setelahnya menjalaskan apa itu Sacred Gear padanya. Aneh juga ada alat ciptaan-Nya yang katanya bisa mengancam nyawa-Nya.
"Selain itu, kurasa kau juga memiliki sebuah Sacred Gear."
"Dan jenis apa itu?" Grayfia membalasnya menggelengkan kepala. Yasudah. Itu juga tak terlalu penting, yang penting adalah,
"Baik, begini, berapa persentase menang kalian kalau tidak ada aku? Dan kalau ada, berapa?"
"Kalau tidak ada, 0,001%. Kalau kau mau bantu, maka naik menjadi 0,1%."
Itu sih sama saja tak mungkin menang. Naruto hanya memijit kepalanya. Pusing memikirkan apa yang Grayfia katakan. Presentasi menang kasus ini sama saja dengan game yang ada zeus-zeusnya itu "Haaaah, aku speechless."
"Maksudnya kau menerimanya?"
"Kau berapa lama sih di dunia manusia?"
"Baru 4 hari."
"Oke terserah." Naruto kemudian menarik tangan Grayfia dan mengarahkannya ke pintu keluar, ia membuka pintunya dan Grayfia terus melawan tak mau diusir. "Aku belum menolaknya, ya. Akan kupikirkan. Sekarang pergi. Aku mau tidur."
"Tidak bisa aku menumpang disini?"
Naruto berhenti sejenak dan menatap Grayfia dari ujung ke ujung. Pakaian Wanita ini memang biasa saja. Setelan kantoran Wanita dengan kemeja putih dan rok selutut hitam. Namun mungkin karena badannya yang bagus, wajah cantik dan rambut silver yang digerai bergelombang, jadi kelihatan lebih menarik.
"Baiklah kau boleh menginap di kamarku. Aku tidur di sofa." Naruto tak ingin kliennya kenapa-kenapa. Jam segini di Kuoh rawan pemerkosa.
"Terima kasih Mr Lawyer."
Padahal Grayfia itu iblis yang kuat.
~ HaHaHa ~
Long time no see,
Fic ini ditulis hanya karena gabut saat kuliah akhir. Jadi tolong maklumi kalau seadanya. Tolong maklumi juga karena udah lama vacuum dari platform ini, lupa banyak latar dan setting dari DxD.
Soal konsep cerita, pengen aja cerita yang beda dan familiar aja. Mungkin fans Breaking Bad atau Better Call Saul can relate. Meski itu cuman inspirasi aja, sih. Ga banyak yang perlu di tulis di note ini, tunggu aja chapter-chapter awal pengenalan ini selesai baru tau mau dibawa kemana.
Luciano Olexand Labrentsis.
