Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto, tak ada keuntungan apa pun yang diambil melalui fanfiksi ini

Warning: AU, typo, DLDR.

.

.

Sakura mendesah, tiket digital sudah terkirim ke ponselnya. Sasuke tak menanggapi, lelaki itu dengan entengnya menjatuhkan diri di atas kasur Sakura.

"Sasuke-kun, kau tidak sedang bercanda, kan?"

"Aku serius."

Sakura memijat keningnya dengan sebelah tangan. "Tapi ini tiket ke New Zealand, pulang pergi, penerbangan first class."

Sasuke menyeringai tipis. "Kau kekasihku."

"Sasuke-kun, harganya tak murah. Lalu, kau akan menyusulku dari dari Kanada? Apa itu bukan pemborosan namanya?"

Sasuke sudah tahu kalau reaksi Sakura akan seperti ini. Perempuan itu selalu protes jika Sasuke memanjakannya dengan barang mahal, selalu mempertanyakan banyak hal, tak pernah puas, dan akan terus mengejarnya sampai dia mendapat jawaban yang memuaskan rasa ingin tahunya. "Kalau kita pergi bersama dari Tokyo, bukankah itu lebih berisiko?"

Untuk jatah libur tahun baru, keduanya sama-sama diberi sepuluh hari liburan dari agensi. Uchiha Sasuke, sang megabintang. Aktor kenamaan berusia dua puluh tujuh tahun dengan filmografi mengagumkan. Seseorang yang diakui kualitas aktingnya, tak diragukan baik dalam hal profesionalitas, popularitas maupun penghargaannya. Lain hal dengan Haruno Sakura, si pendatang baru di industri hiburan. Dia yang baru saja memenangkan kategori aktris pendatang baru terbaik tahun lalu, dan oleh karena itu, Sakura mulai mendapat tawaran menjadi pemeran utama. Usianya lebih muda dua tahun dari Sasuke. Tak seperti Sasuke yang sudah menjadi aktor sejak kecil, Sakura memulainya cukup terlambat. Gadis itu mengutamakan pendidikan aktingnya lebih dahulu. Setelah lulus dari universitas dengan nilai yang mengagumkan di jurusan akting, barulah karirnya dimulai.

Katakanlah itu adalah cinta pada pandangan pertama bagi keduanya setelah bertemu di salah satu acara penghargaan. Sakura yang bersinar di atas panggung tertangkap mata kelam Uchiha Sasuke. Sementara pemuda itu adalah cinta monyetnya, sesorang yang telah dikagumi Sakura sejak lama karena bakat dan parasnya yang rupawan.

Dimulai dari saling tukar nomor ponsel, saling follow di media sosial pribadi yang privasinya dirahasiakan. Keduanya yang tak pernah terlibat dalam satu proyek pun diam-diam menjadi sepasang kekasih. Dan sekarang hubungan ini sudah berjalan selama lebih dari setahun.

Sakura mengiyakan saja ajakan Sasuke untuk berlibur ke luar negeri di awal tahun. Yang penting mereka bisa bepergian dengan aman. Namun, Sakura tak tahu kalau Sasuke sudah mengatur segalanya bahkan sebelum mereka menghabiskan malam tahun baru bersama. "Tapi itu berlebihan, Sasuke-kun. Belum lagi tiketmu, Tokyo-Vancouver-Wellington-Christcurch. Setelah itu kau kembali ke Vancouver sebelum pulang ke Tokyo."

"Semua sudah kuperhitungkan. Para penguntit itu tahunya aku berlibur ke Kanada dan kau liburan ke New Zealand. Jadi, tak akan ada yang curiga kalau kita sedang bersama."

Sakura tak lagi mendebatnya, dia tersenyum kecut sebab penjelasan Sasuke memang masuk akal. Ketika hubungan mereka tercium banyak orang, maka hari-hari kelabu bisa saja dimulai. Sakura tak menyangkal kalau media dan para penguntit adalah golongan yang paling menyebalkan. Selain itu, Sakura sempat kepikiran bagaimana kalau dia yang tiba lebih cepat? Mana tempat tujuan mereka adalah tempat yang sepenuhnya asing, sudah tentu dia akan sangat kebingungan di sana, apalagi Bahasa Inggrisnya tak begitu bagus. Belum lagi memikirkan berapa banyak uang yang Sasuke keluarkan, membayangkan saja membuatnya meringis.

"Kalau begitu kita bagi dua biayanya, ya," rengek Sakura lagi, mengeluarkan pemikiran yang mengganjalnya sejak tadi.

"Tidak."

"Sasuke-kun, jangan begitu," keluh Sakura. "Ini bukan ke tempat yang dekat seperti China atau Macau."

Sasuke meberikan kode dengan dagunya agar Sakura mendekat, lalu menarik tangan kekasihnya untuk bergabung di atas ranjang. "Tetap tidak."

Sakura tak menanggapinya lagi, tahu benar kalau percuma saja berdebat dengan Sasuke. Sekali pria itu memutuskan, maka sulit sekali mengubah pendiriannya.

"Malam ini dan besok habiskan waktu dengan orangtuamu. Karena setelah tiba di tempat tujuan, kau sepenuhnya milikku."

Ucapan yang disambut wajah tersipu Haruno Sakura.

.

oOo

.

Sakura memastikan tak ada yang mengenalinya. Dia telah mengambil jalur private untuk masuk ke dalam ruang tunggu bandara. Kumpulan wartawan dan admin fansite dan fans yang membawa kamera tak pernah gagal membuatnya sakit kepala. Sakura yang baru naik daun saja diikuti seperti ini, bagaimana dengan Sasuke yang sudah memiliki nama besar? Popularitas sungguh memiliki dua sisi yang kapan saja bisa menjadi boomerang.

Mereka masih akan terpisah pada saat transit di Wellington. Kota tujuan mereka Chirstchurch-lah yang menjadi tempat pertemuan. Iseng, Sakura mengeluarkan ponsel, melakukan pencarian terkait destinasi liburan mereka.

Kalau boleh memilih, Sakura ingin sekali mengunjungi Auckland, dia bukan penggila Lord of The Rings, tapi Hobbiton Village Movie Set sangat menarik perhatiannya. Memasuki rumah para hobbit dan merasakan sendiri sensasi seolah berada langsung di tengah trilogi yang melegenda itu pasti menyenangkan. Jujur saja, Sasuke tak memberitahu mereka akan ke mana. Jadi, Sakura memulai dari kotanya saja.

Christcurch adalah kota yang penuh dengan sejarah dan budaya kontemporer. Pemandangannya menakjubkan dan nilai seni pada kebudayaannya sungguh luar biasa. Ada kebun anggur di Greystone, lembah dan bukit-bukit yang sangat cantik. Alam yang indah memang menjadi ciri khas New Zealand. Lantas, sebenarnya Sasuke mau mengajaknya ke mana, sih? Dengan begitu banyak pilihan destinasi, Sakura sungguh tak tahu yang mana yang menjadi pilihan kekasihnya.

"Hah?" Kali ini keterkejutan menggantikan rasa penasarannya. Dalam sepuluh tahun terakhir Christcurch telah diserbu gempa bumi beberapa kali. Yang paling parah, kota itu mendapat serangan teroris pada tahun 2019. Sasuke keracunan apa ketika memilih kota itu?

Segera dia mengetikan sesuatu untuk dikirim cepat-cepat ke ponsel kekasihnya.

To: Anata

Sasuke-kun, serius? Kota itu pernah terkena gempa dan serangan teroris!

Aku tak mau ke sana!

Sasuke-kun, kita pulang saja, ya.

Atau kita di Wellington saja?

Auckland juga bagus.

Sayaaaaaaaaaaaang ….

Sasuke-kun T.T

Tak butuh waktu lama sampai kekasihnya itu membalas.

From: Anata

Christcurch sudah pulih.

Kau akan melupakan kekhawatiranmu ketika kita tiba.

Kalau kau masih takut, coba cari soal Greystone PurePod.

Kita akan berlibur ke sana.

Kali ini bukannya khawatir, tapi Sakura tertegun menatap layar ponselnya.

Baiklah, percaya saja pada Sasuke-kun.

Greystone PurePod membuatnya menahan napas. Penginapan satu kamar yang terbuat dari kaca. Letaknya di Lembah Waipara. Baru melihatnya dari gambar saja Sakura sudah jatuh cinta dengan lembah dan perbukitan yang mengelilingi penginapan kecil yang akan menjadi tepat berliburnya bersama Sasuke.

Tapi hanya dalam waktu singkat, Sakura kembali melongo. Sasuke pasti sudah kehilangan akal! Harganya mahal sekali! Astaga! Astaga! Mereka akan menginap beberapa lama di sana, kepala Sakura mendadak sakit saat mengalkulasikan ribuan Dollar untuk empat hari ke dalam kurs Yen. Belum lagi dengan biaya transportasi dan segala akomodasinya, berapa banyak uang yang sudah Sasuke keluarkan?

To: Anata

Sasuke-kun, aku akan mengikuti apa saja maumu T.T

Aku akan menurutimu.

Aku tak akan membantahmu sedikit pun.

AKU JANJI.

Sasuke tak kunjung membalasnya. Sakura semakin putus asa.

From: Sasuke

Tak semahal yang kau kira.

Jangan banyak berpikir.

"Aku akan mengikuti apa saja maumu."

Ok, akan kuingat.

Matilah! Kenapa Sakura tak ingat kalau Sasuke suka bereksperimen? Tak seperti pembawaannya yang tenang dan pendiam. Ketika hanya ada mereka berdua, pria itu bisa menjadi sosok yang berbeda. Habislah sudah ini, Sakura mengingat-ingat lagi sepertinya dia sudah membawa pakaian yang aman, yang tidak kan memancing lelaki itu. Hanya saja, ini Uchiha Sasuke yang menjadi lawannya, lelaki yang tak pernah hilang akal untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

"Mati aku, mati …."

.

oOO

.

Sakura kembali mengenakan masker ketika melewati pintu kedatangan di Christcurch. Mata wanita muda itu langsung mengenali Sasuke yang sedang melambaikan tangan padanya, sosok tinggi dengan ketampangan khas Uchiha. Syukurlah, pria itu tiba lebih awal darinya. Sakura sudah takut kalau penerbangan Sasuke mengalami delay atau lebih parah lagi jadwal penerbangan mereka menjadi berbeda hari.

"Lepaskan saja masker itu." Sasuke mengambil alih koper Sakura, menggenggam tangan kekasihnya agar mereka berjalan beriringan.

"Bagaimana kalau ada turis dari Jepang yang mengenali kita?" tanya Sakura was-was sebab maskernya sudah berpindah ke kantong coat gelap Sasuke.

"Sakura." Sasuke mengecup bibir Sakura, cepat. Sangat cepat sampai Sakura tak sempat berkedip. "Lihat, kan? Tak ada yang peduli."

Sakura mengamati sekeliling. Benar, tak ada ratusan pasang mata yang memata-matai atau bahkan menghakimi. Semua berjalan seolah tak ada yang terjadi. Normal, sangat normal. Berbeda sekali dengan di Jepang sana.

"Ayo."

Sepertinya memang dia harus menuruti saran Sasuke. Semua akan baik-baik saja.

Kali ini langkah Sakura terasa sangat ringan. Berbeda jauh dengan ketegangannya selama di dalam penerbangan.

.

oOO

.

Dari dalam mobil Sakura asik menyaksikan orang yang berlalu-lalang di pinggir jalan. Christcurch, kota yang terletak di Pulau Selatan, New Zealand, ini sangat aktif. Terutama ketika ada pembangunan di beberapa sudut kota. Sasuke menyetir sendiri, lelaki itu sibuk melihat peta yang disajikan GPS kemudian mengangguk-angguk. Kadang dia menelepon seseorang, lalu berbicara dalam bahasa asing. Sakura yang tak begitu paham pada apa yang sedang mereka bicarakan, dibiarkannya Sasuke bercengkerama, sedangkan perempuan itu sibuk mengagumi dari kursi di samping lelaki itu.

Benar kata Sasuke, dia langsung lupa pada kekhawatirannya. Bangunan yang berjejer di tengah kota itu sungguh indah, tata kotanya teratur, bangunan unik seperti Eropa abad pertengahan. Mobil mereka melaju semain jauh, tak lama kemudian mereka meninggalkan perbatasan kota. Mobil itu terus meluncur melewati jalan panjang berkelok.

Sakura melirik jam tangannya yang telah disesuaikan dengan zona waktu setempat, sudah empat puluh menit mereka berkendara. Jika tadi Sakura telah jatuh cinta, maka kali ini dia lebih jatuh cinta lagi. Lembah Waipara melebihi ekspektasinya, lebih indah daripada gambar yang dilihatnya melalui layar kaca. Perbukitan dengan lembah luas, kontur turun naik dengan sekawanan besar domba berlarian. Angin yang bertiup membuat rerumputan luas bergejolak layaknya ombak kecil di tengah lautan rumput.

"Itu kebun anggurnya," ujar Sasuke.

"Wow!" Rahang Sakura hampir jatuh melihat berhektar-hektar pohon anggur yang berbaris rapi. Pohon-pohon anggur itu membentuk garis-garis sejajar, berkelok turun-naik mengikuti tinggi dan rendahnya tanah yang menjadi pijakan tumbuh.

Sasuke tersenyum tipis, reaksi Sakura adalah sesuatu yang telah berulang kali dibayangkan pemuda itu.

"Penginapan kita, letaknya di belakang kebun anggur itu, bukan?"

"Hn."

Sakura masih terus mengaggumi pemandangan yang memanjakan matanya. Jauh lebih indah dari pencariannya di internet tadi.

"Kalau kau capek, besok saja baru kita berkeliling."

"Memangnya boleh?" tanya Sakura yang masih tenggelam pada keindangan alam di sana.

"Tentu, kita bisa melihat-lihat lokasi penyulingannya juga dan mencicipi anggurnya secara gratis."

Wanitanya mengangguk-angguk takjub.

Di luar dugaan Sakura, Sasuke meraih tangan kekasihnya, menggenggamnya lembut sementara tangannya yang lain masih sigap menyetir. Inilah yang paling Sakura sukai, pria itu hangat hanya kepada dirinya. Sisi yang tak mudah ia perlihatkan pada orang luar.

Mobil yang membawa mereka mulai memasuki area parkir Greystone Cellar Door, kebun anggur yang mereka bicarakan sejak tadi.

"Kau membawa tas pakaian seperti yang kuminta, kan?" tanya Sasuke yang dijawab dengan sebuah anggukan.

"Buat apa memangnya?"

Uchiha Sasuke hanya tersenyum misterius.

oOo

Sasuke benar-benar efisien mengerikan! Tentu, kata apa lagi yang bisa menjabarkan semua persiapan Sasuke dan informasi yang dia kumpulkan sebelum mereka bepergian?

Untuk check in di Greystone Purepod tak bisa sesuka hati, harus di pukul tiga sore, check out jam dua belas siang pada hari di mana mereka selesai menginap. Dan mereka tiba tepat waktu. Sakura jadi tak yakin Sasuke mengatur semua ini sendiri dalam waktu singkat. Seseorang pasti sudah membantunya, kecuali Sasuke sudah merencanakannya dari jauh-jauh hari.

Dasar perfeksionis!

"Kopernya kita bongkar dulu, terus ditinggal saja dalam mobil," kata Sasuke setelah mereka menyelesaikan check in.

Sakura juga tak tahu sama sekali kalau mereka tak diperbolehkan membawa koper ke dalam kamar. Jadi, pakaian selama beberapa hari dimasukan ke dalam tas kecil, pantas saja Sasuke memintanya menyiapkan banyak hal. Pria itu juga sudah memesan paket makanan ketika mereka diterima oleh petugas, katanya akan diantarkan setiap jam makan nanti, tapi mereka juga bisa mengambil stok untuk disimpan. Mereka mengambil buah-buahan, cokelat, keju dan almond untuk dibawa. Dari gedung kecil di area parkir tadi, di mana dilakukan pengecekan dan pengambilan stok makanan, mereka berjalan lagi sekitar enam ratus lima puluh meter. Pagar besi telah terbuka dengan pepohonan rindang yang menyambut akrab. Jalur pejalan kaki yang terbuat dari batu alam telah disiapkan sehingga tamu yang datang tinggal mengikutinya saja.

"Alami sekali di sini," ujar Sakura mengagumi. Rerumputan menghiasi di kanan-kiri mereka setelah melewati pintu tadi. Jalannya sedikit turun naik, beberapa kali dia memegang lengan Sasuke agar keseimbangannya tak hilang. "Bahaya nih kalau hujan."

"Greystone PurePod satu-satunya dari tiga PurePod yang ada di Christcurch yang menyediakan mobil untuk mengantar tamu kalau jalannya licin."

"Sasuke-kun pernah ke sini?"

Pemuda itu menggeleng.

Benar kan?

Dia efisien mengerikan!

Ketika sampai di ujung jalan, pondok kaca mereka telah terlihat dari atas. Tak ada lagi jalan dari batu yang disusun, hamparan rumput hijau yang menurun adalah karpet penyambut mereka, landscape yang sungguh memukau. Sakura langsung bisa melihat seisi ruangan pondok kaca itu dari luar. Tempat tidurnya putih, sedikit bergidik pada kamar mandi yang sepertinya juga transparan.

"Sasuke-kun, bagaimana dengan privasi? Yakin tak ada yang mengintip nanti?" Liburan berdua seperti ini tak mungkin kalau mereka hanya duduk dan bercanda seharian. Yang benar saja! Hal itu tak mungkin terjadi kalau sang kekasih adalah Uchiha Sasuke.

Mengerti akan kepanikan Sakura, Sasuke kembali memberi penjelasan. "Tenang, lahan ini adalah properti pribadi."

Sakura masih tak tenang. Kata Sasuke pihak pengelola PurePod telah bekerja sama dengan pemilik lahan. Mereka mereka adalah pemilik peternakan makanya tak heran kan ada banyak domba di sini. Jangankan orang lain, hewan peliharaan pun tak boleh dibawa.

"Jangan khawatir," Sakura menatap dalam kekasihnya. Berusaha mengusir jauh-jauh kecemasan yang melanda. "Kita akan bebas bercinta sebanyak yang kita inginkan."

"UCHIHA SASUKE!" Wajah Sakura sudah memerah padam. Tak perlu memperjelas sampai ke sana, kan?

Mereka melepaskan sepatu di teras kayu yang mengelilingi bagian depan dan samping kiri pondok kaca itu. Bagus sekali, ada pemanggang untuk barbeque yang sudah tersedia di ujung teras, di dekat kaki pemanggang sudah tersedia sekeranjang penuh makanan. Sasuke menggeser dinding kaca yang juga serbaguna sebagai pintu agar mereka masuk.

Sakura berkeliling mengamati.

Semua terbuat dari kaca! Bahkan kipas di atas ranjang dan lantainya juga kaca. Di sisi kiri terdapat ranjang Queen size berwarna putih, di tengah ruangan terdapat meja bundar dengan dua kursi kaca. Pintu yang menghubungkan ke kamar mandi tidak tertutup, letaknya di tengah-tengah. Lega sekali karena dinding pemisah kamar ke kamar mandi dan toilet bukanlah dinding kaca transparan seperti dinding luar, atap, dan lantai, melainkan kaca layaknya cermin. Di sebelah kiri terdapat lemari kabinet setinggi pinggang mereka. Laci pertama isinya majalah-majalah terbaru, ada majalah bisnis, fashion, travelling, otomotif, bahkan olahraga, benar-benar mengikuti perkembangan. Laci kedua berisi peralatan makan yang lengkap. Dan laci ketiga ada peralatan game sederhana seperti catur dan Bluetooth speaker. Di sebelah kanan pintu ada kitchenette. Dapur kecil itu dilengkapi cooktop lengkap dengan ketel untuk memanaskan air dan wastafel dengan kerannya pada bagian atas. Bagian bawah terbagi atas kulkas kecil dan tiga rak yang menyimpan peralatan memasak sederhana. Sasuke sudah memasukkan stok yang mereka bawa tadi ke dalam kulkas mini.

Sakura melewati pintu kecil itu, napasnya tak lagi berat ketika mendapati gorden putih di pojok kamar mandi. Tak ada bak, hanya ada shower yang dilengkap dengan sabun dan peralatan mandi lainnya. Dinding kayu membatasi kamar mandi dan toilet, dengan pintu agak rendah yang juga tak tertutup. Baiklah, terima kasih, Kami-sama, dinding kaca pada toilet itu juga dilengkapi tirai yang bisa dibuka tutup. Sakura mengembuskan napas lega. Semua kekhawatirannya menguap pergi.

"Sudah selesai melihat-lihat?" Sasuke duduk pada salah satu kursi, dia sudah membuka botol wine yang sudah disediakan di atas meja sejak tadi. Sakura bergabung bersamanya setelah mengambil gelas dengan dengan kaki tinggi dari dalam laci.

"Sasuke-kun, tempat ini indah."

"Hn." Sasuke mengambil gelas dari Sakura dan menuangkan wine.

Sakura menguap, namun segera menutup mulutnya dengan tangan. Lelah akibat penerbangan berjam-jam baru terasa sekarang.

"Jet lag?"

"Mungkin," jawab Sakura seadanya.

"Kau tidur saja, biar aku memanggang daging dan mempersiapkan makan malam kita."

"Yakin?" Sakura tahu betul Sasuke dan memasak bukanlah dua hal yang bisa dipadukan.

"Seratus persen."

Sakura minum seteguk sebelum meletakan kembali gelasnya ke meja. Dia mengulurkan tangannya, menyentuh tangan Sasuke di atas meja bundar itu.

"Jangan sampai dagingnya gosong."

Sasuke tertawa sinis.

"Kau pasti lebih lelah dariku," ujar Sakura tanpa melepaskan tangan sang kekasih.

"Sakura, aku sudah biasa dengan perjalanan panjang. Ingat?"

Benar juga, jam terbang Sasuke lebih tinggi darinya. Berpindah dari satu negara ke negara lainnya bukan hal baru untuk lelaki itu, mengingat banyak proyek filmnya yang mengambil tempat di luar negeri.

"Baiklah." Sakura merebahkan diri. Semilir angin menerpa wajahnya. Ternyata pintu bukan berada pada satu sisi, tapi dua. Sasuke mendorong pintu kaca yang berhadapan dengan pintu yang dibukanya tadi. Angin terus membuai Sakura untuk melangkah ke alam mimpi.

.

oOO

.

Sakura memiringkan tubuh, pemandangan yang pertama dilihatnya adala sosok Sasuke yang sedang sibuk memanggang daging. Aroma lezat menjumpai hidungnya.

"Sudah bangun?" Sasuke tak sengaja berbalik, lalu mendapati kekasihnya sudah membuka mata.

"Hm. Jam berapa ini?"

"Jam delapan."

Berarti sudah hampir empat jam dia tidur.

"Masih lelah?"

Sakura menggeleng. Ruangan itu terlihat sedikit lebih luas, rupanya Sasuke sudah memindahkan meja dan kursi ke teras. Sakura beranjak dari ranjang. Memutar keran pada wastafel, mencuci mukanya. Bayangannya terpantul lewat dinding kaca di belakang kitchenette.

"Kau masih cantik."

"Gombal."

Sakura mengambil tempat pada salah satu kursi. Sasuke telah menata makanan di atas meja, ada dua piring putih besar yang telah dihiasi dengan buah dan bunga, bagian tengahnya masih kosong. Buat dagingnya pasti. Buah-buahan telah ditata di wadah keramik persegi yang juga berwarna putih. Ada sekitar enam strawberry yang sudah dipotong menjadi dua bagian, kiwi yang diiris tipis, dan anggur yang telah dilepaskan dari ranting halusnya.

"Mereka memberi kita daging apa?"

"Domba, sudah dibumbui, tinggal dipanggang saja, sini kemarikan piringnya."

"Sudah matang?"

"Ya."

"Tidak hangus, kan?" Mimik wajahnya penuh kecurigaan.

Sasuke mendengus. "Jangan remehkan aku."

Sakura menyerahkan piring lalu membantu Sasuke membawanya kembali ke meja. Seusai santap malam, mereka bercengkerama, saling menceritakan banyak hal. Sakura sangat menyukai momen mereka menghabiskan waktu bersama seperti ini.

"Baterai ponselmu sedang diisi, ada dua usb port ternyata."

"Tak ada TV, DVD, Wi-Fi,dan jaringan telepon, tempat ini benar-benar dirancang untuk menyatu dengan alam, ya," timpal Sakura.

"Bahkan listriknya berasal dari panel surya. Kau sudah lihat bangunan kecil di sebelah? Itu sumber energi kita di sini?" Sakura mengangkat kepalanya, bergerak mengamati, benar, ada bangunan berbentuk persegi dengan enam panel surya di atasnya.

"Yang di atas kita," tunjuk Sakura "bukan hanya atap yang menutupi teras, semuanya panel surya juga?"

Sasuke mengangguk.

"Kreatif sekali." Sakura berdiri, dia berkililing sepanjang teras, mengamati alam sekitar sekali lagi. Sungguh damai. Berbanding terbalik dengan rutinitas mereka sebagai pekerja seni. Terbangun dengan gemerlapnya metropolitan, tampil dengan ulasan senyum, berakting, waktu istirahat yang sedikit, menjumpai fans. Rutinitas yang terkadang memuakkan. Memang itu bagian dari impian mereka, tapi adakalanya menarik diri dari kehidupan yang penuh dengan kemilau sekaligus kegelapan itu penting adanya. Seperti sekarang.

"Sasuke-kun, aku mau kursus Bahasa Inggris nanti."

"Belajar saja denganku."

Sakura menggoyang gelas wine, mengamati gerakan memutar cairan merah marun itu di dalam gelas. "Kau sibuk, aku ingin belajar dengan intens." Dia kembali menduduki kursi yang ditinggalkannya.

Sasuke tak menanggapi. Konsentrasinya sudah pecah ketika Sakura mengambil sepotong kiwi. Perempuannya itu tak langsung makan, dia menahan irisan bundar itu di bibirnya sebelum dimasukkan ke mulut. Dengan sengaja dia jempolnya mengusap bibir tipisnya sendiri. Kali ini dia mengambil cokelat yang juga telah disiapkan sebagai dessert, makanan berbentuk hati itu masuk ke dalam mulutnya tanpa hambatan. Sakura mengulum cokelat yang bersisa pada jari telunjuknya, perlahan-lahan, seolah menikmati setiap millimeter kelezatan yang tertinggal.

Cuaca mulai gelap. Cahaya jingga dan ungu menghiasi angkasa.

"Haruno Sakura." Ekspresi Sasuke tak terbaca. Suara serak, tatapan dalam Sasuke, tampaknya ada yang berhasil memancing sang kekasih.

"Aku selesai, sekarang saatnya mandi." Sakura langsung mendorong kursi ke belakang, melangkah cepat menuju kamar mandi.

Sasuke menyeringai. Kabur setelah sukses menggoda, eh? Perempuannya ini semakin pintar.

oOo

Satu hal yang Sakura syukuri adalah dinding pembatas dengan kamar mereka tak tembus pandang. Mereka bukannya tak pernah mandi bersama, tapi aneh saja rasanya mandi sambil diperhatikan dari ruangan sebelah. Tentu Sakura tak lupa menarik gorden. Sekalipun Sasuke sudah meyakinkan kalau privasi mereka terjamin, Sakura masih belum berani. Lembah ini sangat luas, masa sih tak ada yang menyusup?

Asyik pada pikirannya sendiri, Sakura tak menyadari kalau Sasuke sedang bersedekap sambil menyandarkan tubuhnya di pintu penghubung mereka.

"Bikin kaget saja." Sakura melotot sebentar sebelum kembali menyabuni tubuhnya, rambutnya yang lolos dari cepolan sedikit basah terkena percikan air. Banyak menghabiskan waktu dengan Sasuke membuatnya lebih percaya diri. "Mau bergabung?" tawar Sakura.

"Sepertinya tidak, kau pasti tahu apa jadinya kalau aku ikut berpartisipasi."

"Ini tawaran terakhirku, lho."

Sasuke kembali menggeleng.

Huh, dasar pembohong. Sakura mencibir dalam hati. Bibir boleh bilang tak mau, tapi tindakannya tidak demikian. Sakura bisa melihat gerakan Sasuke yang menarik kaosnya melewati kepala. Semenit kemudian, Sasuke sudah berada di bawah pancuran bersamanya.

oOo

Setelah beberapa lama, mereka akhirnya mengeringkan tubuh seadanya. Sakura memakai kemeja kebesaran yang menutupi sampai ke pangkal pahanya. Kemeja Sasuke tentu saja.

Sakura yang tersipu duduk di tepian ranjang sedangkan Sasuke membantu mengeringkan rambutnya dengan handuk. Pria itu sendiri hanya mengenakan celana pendek berwarna hitam dengan rambut yang sudah setengah kering.

"Sedikit lagi, Sasuke-kun," pinta Sakura ketika Sasuke mengangkat handuk dari kepala gadis itu.

"Keenakan, ya?"

"Apa sih?"

Ini yang Sasuke sukai, Sakura selalu reaktif dengan godaannya. Sakura adalah pemilik hatinya. Butuh waktu agak lama setelah malam pertama mereka di Tokyo baru Sasuke menyadari kalau dia hanya mau Sakura. Tidak, dia butuh Sakura. Dia cemburu pada lawan main gadis itu. Sasuke tak sungkan mengakuinya—lebih tepatnya hanya mengakui pada diri sendiri. Ketika menyaksikan scene Sakura berpelukan dengan lawan mainnya, detik itu juga Sasuke memutuskan dia tak akan pernah melepaskan Sakura! Sedalam itu Sasuke mencintainya.

oOo

Cahaya di langit kini hampir hilang sepenuhnya.

Sasuke bergabung bersama Sakura di atas ranjang setelah menggantung handuk mereka di kamar mandi, tak lupa dia mematikan semua lampu, pintu-pintu juga telah ditutup. Mereka tak melakukan apa pun. Hanya berpegangan tangan menatap langit. Menghabiskan waktu, menyaksikan transisi warna sampai sepenuhnya gelap.

Jika di Jepang sedang mengalami musim dingin, maka hal sebaliknya terjadi di belahan bumi bagian Selatan. Musim panas di New Zealand adalah yang terbaik. Satu persatu titik cahaya bermunculan, sampai langit berubah menjadi lautan bintang dengan mozaik biru gelap bercampur merah muda sebagai latar belakang.

"Aku pikir tempat ini tak bisa lebih cantik lagi."

"Mengejutkan, bukan?" timpal Sasuke.

"Sasuke-kun."

Sasuke tak menyahut, tapi menatap lembut kekasihnya.

Sakura menggenggam tangannya semakin erat.

"Aku ingin bisa sepertimu. Kau tahu tidak? Sejak sampai tadi aku mengamatimu. Kau bisa dengan lancar berkomunikasi, meminjam mobil dari rental untuk dibawa sendiri, sesuatu yang kupikir sangat sulit untuk orang sepertimu," ucap Sakura berhati-hati. "Maksudku, kau…."

"Teruskan."

"Aku tak tahu kaubisa semudah ini menyesuaikan diri dengan lingkungan asing. Kau … sangat lokal."

"Itu alasannya kau mau belajar Bahasa Inggris?"

"Yaaah, seperti itu."

"Aku bisa membimbingmu, itu pun kalau kau tak keberatan," tawar Sasuke.

"Seperti yang sering kaulakukan?"

"Tentu."

Sakura tertawa lega. Sasuke selalu bisa mengusir keraguannya. "Aku beruntung memilikimu."

"Tidak," sanggah Sasuke. "Aku yang beruntung."

Sakura memekik kala Sasuke sudah berada di atasnya, menaungi tubuh perempuan itu.

"Aku akan menurutimu, aku akan mengikuti apa saja maumu," seru Sasuke, menirukan isi pesan Sakura.

"Sasuke-kun …," panggil Sakura mengantisipasi.

"Aku akan menagihnya sekarang."

"Sasuke-kun …." Sakura semakin waspada. Yang di kamar mandi tadi berbeda, mereka masih tertutup dari dunia luar. Tapi sekarang? Meski gelap, tapi dinding-dinding kaca tak terasa seperti pembatas. Ranjang mereka seperti berada di alam liar, di tengah lembah dengan ditemani suara jangkrik.

Sasuke mulai mengecup rahang Sakura. "Kau sudah berjanji."

Mata mereka saling menatap intens. Selanjutnya, tawa renyah Sakura menyapa telinga Sasuke, menggantikan suara nyaring jangkrik di musim panas di New Zealand.

.

.

.

End

AN:

Terima kasih buat semua yang telah menyambut saya kembali :)