Disclaimer: I own nothing but the story and characters them self. Semua tokoh yang terlibat dalam cerita ini murni imajinasi penulis. Cerita ini dibuat untuk kesenangan penulis semata. Bukan demi kepentingan komersil. Penulis sama sekali tidak mengambil keuntungan sedikit pun dari cerita ini. Enjoy :)


Chapter 1: Things to Fight For

"Yakin dia orangnya?"

"Ya, nggak salah lagi."

"Siapa kalian?!" Gua bertanya lirih pada kedua orang yang lagi berbincang di ruang gelap. Di ruangan ini gua tiduran di atas altar batu, dan kepala terasa begitu berat. Kayaknya suara gua nggak terdengar karena mereka tetap asik ngobrol tanpa peduli pertanyaan.

"Kok keliatan biasa aja? Nggak meyakinkan." Kata sesosok bayangan yang dari ukuran dan bentuk tubuhnya, gua yakin dia Bellatean wanita.

"Hey, jawab pertanyaan gua! Siapa kalian, apa yang kalian mau?!" Kali ini gua bentak mereka dan berusaha bangun dari posisi tiduran, tapi percuma. Mereka tetap nggak dengar, badan gua juga nggak mau bergerak.

"Masa kamu meragukan keturunan sendiri? Biar beginipun, dia tetap seorang Grymnystre." Sosok bayangan kedua balas berkata kepada si bellato wanita, kali ini bentuk tubuh Bellatean pria.

Suara mereka parau, bak disamarkan. Anehnya, gua tau kalimat-kalimat yang keluar dari mulut mereka. Jadi cuma bisa menebak gender dari gesture dan lekuk tubuh aja.

"Aku tau, tapi anak ini masih terlampau hijau! Masih banyak yang harus dia pelajari! Jangan sampai dia gagal seperti generasi sebelumnya!"

"Tenang, dia masih akan terus berkembang." Ucap si pria dengan tenang. "Kemampuan adaptasi dan penalarannya di atas rata-rata."

Keliatan banget kalo Bellatean wanita begitu meremehkan. Dengan nada tinggi, dia protes. Bodo amat deh mereka mau ngapain. Dari tadi nanya, nggak didengar sama sekali. Salut buat si bellatean pria yang tetap tenang dan tahan dengarkan ocehannya. Gua harus berguru ke dia.

Tetiba pemandangan gelap ruangan tadi berganti. Masih dengan posisi telentang, gua liat poster Ranger Corps gede banget di langit-langit. Celingak-celinguk sebentar, ternyata altarnya udah ganti jadi kasur, sinar matahari menyusup dari celah gorden dan silaukan mata. Kebetulan gua menempatkan kasur di sebelah jendela, bagian timur kamar.

Ruangan ini nggak mewah-mewah amat. Yah, namanya juga mesh tentara. Kamar ukuran 4x4 dengan perabot seadanya ala lelaki. Kasur, meja belajar di samping kasur, monitor LCD multi fungsi yang menempel di tembok di depan meja belajar, dan fasilitas eksklusif. Kamar mandi.

Untung Federasi berbaik hati memberi 1 kamar mandi di tiap kamar. Nggak kebayang kalo harus pake kamar mandi bersama, gimana kalo suatu saat gw kebelet 'ngebom' dan harus antri? Faak.

"Ugh, mimpi itu lagi. Ada pertanda apa ya?" Gua bertanya ke diri sendiri sembari pijat jidat, tahan rasa pusing gara-gara mimpi nggak jelas semalam. Udah beberapa hari ini mimpi tesebut jadi bunga tidur tiap malam. Sampe hapal adegan-adegannya, percakapannya.

Gua pengen bangkit dari kasur ajaib ini. Kenapa bisa dibilang ajaib? Karena ada magnetnya. Argh! dia mencegah tubuh gua untuk beranjak dari kelembutannya!

Pas lagi asik bermesraan dengan kasur dan bantal tercinta, tau-tau pintu kamar digedor.

"Lake, bangun hey! Lu pikir jam berapa sekarang?!" Suara perempuan yang amat familiar terdengar teriak-teriak di luar sana. Gua tutup kuping pake bantal, lalu tarik selimut sampe menutup seluruh tubuh.

Tentu gua tau jam berapa. Sekarang udah waktunya menghadiri kelas pendidikan bagi Kadet pelatihan Ranger Corps. Tapi sial, gua lagi malas.

"Hoo, pura-pura tidur ya?" tanya dia sarkas, "okelah kalo gitu. Lu yang maksa," katanya sambil bersenandung sok imut. Duh malah merinding kalo dia udah begitu.

Dan benar aja, pintu geser dari campuran baja putih dan titanium digeser paksa! Geblek ni cewek, makan apaan yak kuat begini!?

Langkahnya makin dekat. Setelah dekat banget, tangannya yang berkulit halus meraih pergelangan kaki, lalu gua ditarik paksa dari kekasih-kekasih yang senantiasa temani tidur tiap malam (red: kasur, bantal+guling).

"Kalo udah bangun tuh cuci muka! Sikat gigi!" Sambil berseru, dia tarik gua dari atas kasur sampe jatuh tengkurap.

"Ogah! Masih mau tidur!" Gua melawan sekuat tenaga dengan pegangan ke salah satu kaki ranjang, dan itu malah bikin dia makin ngotot nyeret ke kamar mandi.

Namun sesaat dia terdiam. Mengira kegigihan gua membuahkan hasil, dalam hati gua bersorak, "Yes! Nyerah juga kan akhirnya"

Ternyata gua salah. Telapak tangan kirinya pegang tumit kanan gua, telapak tangan kanannya pegang ruas-ruas jari kaki kanan dengan mantap. Dengan satu gerakan, kaki gua dipiting!

"AAH! Kaki, kaki, KAKI! Iya, iya, iya! Cuci muka! Iya, iya sikat gigi!"

"Hehehe gitu dong."

" 'Hehe' pala lu rengat! Kaki gua nggak perlu diplintir juga kali!" Gua ngomel sambil berdiri munggungi dia, "ganggu ketentraman aja."

Sebelah tangannya mengusap bahu kiri, lalu manggil gua.

"Lake," pelan banget. Hampir berbisik, tapi masih bisa terdengar.

"Hm?" Gua berbalik. Penampilan kami begitu kontras. Kaos tidur dan celana pendek masih melekat di tubuh, rambut abu-abu sasak gondrong masih berantakan, dan semalam pasti ngiler. Soalnya ada semerbak bau abstrak di sekitar mulut.

Beda 180 derajat dengan perempuan ini yang pagi-pagi udah pake armor Ranger warna merah strip putih lengkap dari kepala sampe kaki. Poni rambutnya panjang, menutupi mata kanannya. Sinar matahari yang masuk ke kamar, memantul di rambut coklat yang diikat gaya ekor kuda, dan bikin rambut indahnya makin indah.

Beberapa saat kami begini, tubuhnya makin dekat. Kedua tangannya mendekap lembut pipi ini. Wajah manis perempuan itu cuma terpisah beberapa senti aja dari wajah gua. Tinggi kita hampir sama, dia cuma sedikit lebih pendek. Mata kita saling beradu. Sepasang mata coklat itu memandang jauh ke dalam mata ungu.

"Mata lu ... indah. Seperti biasanya," Dia berkata, sambil kasih senyuman yang bikin hati tiap Bellato pria dijamin bakal terkapar nggak berdaya. Senyuman pagi yang bikin hati gw adem, hehe.

Dia Elkanafia Yeve Nordo, biasa dipanggil Elka Nordo biar singkat. Kita udah berteman sejak ... hm, lupa sejak kapan sangking udah lama banget.

Dia udah ada di kehidupan gua semenjak belum bisa lap ingus sendiri. Dan nggak tau kenapa, dia bilang suka banget mata gua yang berwarna ungu, makanya dia sering banget begini. Biasanya pagi-pagi, abis gua bangun tidur.

Tiap kali dia lakukan itu, gua cuma bisa ketawa kecil dan bilang, "Terima kasih lho," sambil usap-usap kepalanya.

.

.

...Novus, Bellato Union's Headquarter...

Setelah bangun tidur dengan cara lebay pagi ini, inilah gua! Lagi berbaris manis bersama para Ranger lain yang tergabung dalam ranger corps, termasuk Elka di samping gua. Sedikit keberuntungan, dan kegigihan Elka menyeret gua kemari jadi faktor utama terhindar dari hukuman terlambat.

Katanya sih hari ini kita bakal dapat pelatihan hand-to-hand combat. Informasi itu jelas bikin gua heran. Semua yang ada di sini 'kan ranger, di medan perang kerjaannya nembak-nembak dari jauh, 'kan? kenapa pake segala dapat pelatihan kelahi tangan kosong?

Pertanyaan tersebut gua simpan dalam hati, nggak berani tanya karena di depan kami udah berdiri instruktur yang terkenal kejam di Korporasi. Rumornya sih Punisher Accretia pernah dia pretelin pake tangan kosong. Lebay, gua kurang percaya.

"Ensign-ensign menjijikan." Kalimat itulah yang pertama keluar dari mulut pria botak itu, setelah ia berjalan dari arah kiri barisan menuju ke kanan, terus balik ke tengah sambil pandangi para Ranger Ensign di barisan depan satu per satu. "Kalian pikir, kalian pantas jadi Ranger? HAH?!"

"Keterlaluan! Federasi pasti sudah gila, putus asa sampe-sampe menerima cacing macam kalian untuk terjun ke medan perang! Apa kualitas prajurit selama 10 tahun terakhir terus menurun?!" Si botak terus aja ngomel, teriak-teriak di depan kami, nggak ada habisnya menghina.

"Nama saya Borr. Infiltrator, Conquest Borr Roggenfellen. Ingatlah baik-baik nama saya karena siapa tau inilah saat terakhir kita akan bertemu. Siapa tau kalian akan langsung mati 5 menit setelah melangkah ke Crag Mine! Hahaha."

Gua dan Ranger lain cuma bisa telan ludah dengar kata-kata si botak. Gua lirik Elka, ekspresi wajahnya agak tegang, tapi tetap menyeringai dengan tatapan mata membara. Tandanya dia sangat tertarik dengan pelatihan ini.

Intinya sih kita diinstruksikan untuk sparing, 1 lawan 1. Setelah dapat peragaan teknik-teknik dasar tarung tangan kosong dari si botak, masing-masing kita disuruh berhadapan untuk praktekkan teknik-teknik tersebut.

Jadilah sekarang gua berhadapan dengan Alecto. Dia teman seangkatan gua, kenal pas awal pendidikan. Gua pasang kuda-kuda, dan dengan segenap tenaga meluncurkan kepalan tangan kanan ke mukanya.

"Hah! Makan nih!" Di saat yakin banget bisa ratakan mukanya, ternyata dia miringkan kepala ke kanan, tipis banget, tinju gua cuma nyerempet rambut denimnya.

Setelah menghindar, dia langsung maju mendekat. Uh, mati ... cepat banget! Lututnya udah sukses mendarat di perut gua sebelum sadar apa yang terjadi.

"Uhek!" Reflek, gua bungkuk tahan sakit. Yak, selanjutnya uppercut! Tepat di dagu! "Fug!"

Seakan belum puas, satu lengannya udah melingkar di bahu gua dan kakinya sigap jegal kedua kaki gua dari belakang. "Doh!" Akhirnya, gua menatap langit.

"Ampun deh, kok lu cupu gini sih? Hahaha." Dia meledek, sembari ulurkan tangan kekar beruratnya buat bantu berdiri.

"Bangke. Tenaga lu terlalu berlebihan. Heran, napsu amat mukulin gua."

"Maap, maap, haha terbawa suasana," enak benar. 'Terbawa suasana' dia kata? "tapi kayanya yang lain nggak ada yang serius ya latiannya."

Setelah dibantu berdiri, gua sedikit bersihkan armor yang agak kotor akibat bantingan tadi, "Iyalah, secara ... Ranger 'kan pake busur dan senjata api. Ngapain repot-repot berantem tangan kosong?"

Dengar pertanyaan tersebut, dia dongak ke langit seraya berkata, "Entah ya, tapi menurut gua sih ... karena nggak ada yang bisa prediksi apa yang bakal terjadi saat perang," Tatapannya sendu, macam menyembunyikan sesuatu, "Eh, liat tuh." Dia alihkan pandangan pada Ranger perempuan yang lagi bicarakan sesuatu dengan instruktur Bot- ehem ... Borr. "Hash'Kafil cantik-cantik ngeri ya."

Asli nggak penting.

Emang sih, nggak salah juga. Hash'Kafil tipe perempuan yang jarang bicara, senyum juga jarang. Rambut hitam dicepol, dengan sepasang mata sayu mengundang yang sewarna dengan rambutnya. Tapi jangan kira dia lemah, dia calon Ranger terkuat kedua ... setelah Elka.

"Ajak sparing ah," kata Alecto sambil nyengir.

Gua geleng-geleng aja liat kelakuan anak itu, "Lu mah orang lagi adem, malah dipanasin. Gua nggak ikutan ah."

"Yo, Hash."

"Lu menghalangi jalan. Bisa minggir?" Salam Alecto dibalas ketus oleh perempuan berambut hitam tersebut. Udah gitu, balas menatap Alec pun enggak.

"Duh galaknya. Lagi kepanasan? Eh, si Lake nantang lu sparing tuh."

Ka-kampret! Kenapa nama gua dibawa-bawa?! Udah gua bilang, ogah ngomporin hewan buas, masih aja! Gua liat mata Hash melirik kemari tanpa menolehkan kepala. Ugh, lirikannya. Boro-boro menarik hati, malah justru ganas.

"Nggak ada waktu buat ladeni permainan anak kecil."

Lagi-lagi jawaban ketus yang keluar dari bibir tipisnya. Entah kenapa baru kali ini gua merasa lega ada orang yang segitu ketusnya menolak tawaran orang lain.

Tapi, belum jauh Hash'Kafil melangkah, Alecto, si bocah sableng bilang, "Oi Lake, nggak jadi. Dia takut katanya!" setengah teriak.

Shite! Hash'Kafil yang tadinya udah menjauh, langsung balik badan dan jalan ke arah gua.

Forcenya pekat, napsu pengen injak leher orang. Tanpa ba-bi-bu, Hash langsung mengepalkan kedua tangan, pasang kuda-kuda. Kepala sedikit menunduk, tapi mata tetap fokus ke depan. Ke gua. Kalo udah begini mau nggak mau, ya ladeni juga.

Makasih Alecto, MAKASIH BANYAK!

"Hash, sumpah, gua sama sekali nggak niat sparing lawan lu. Ini semua kerjaan Alecto."

Nggak dengar ada respon, gua manggil lagi, "Hash?"

"Bawel. Maju sini." Ugh. Sinis amat.

Masih sedikit ragu, setengah hati gua menerjang. Hash'Kafil masih tetap nggak bergerak. Pas jarak gua udah dekat, dia lancarkan tendangan yang benar-benar kuat ke tulang kering gua!

"Ad-uhh, duh, duh!" Gua langsung terduduk meremas tulang kering. Sakit banget! Ini perempuan kok bisa-bisanya menendang titik vital di kaki pas gua lagi lari!?

Gua coba bangkit setelah kena serangan nggak terduga barusan, tapi Hash udah berdiri tepat di belakang. Satu tangan pegang dagu gua, terus lagi-lagi satu tendangan kuat menghantam tumpuan pijak kedua kaki gua. Di saat bersamaan, tangannya yang di dagu, tarik gua ke belakang.

Akhirnya, gua terpelanting. Sebelum ketemu daratan, badan gua berputar sekali di udara. Posisi sekarang: Pantat di atas, tengkuk di bawah.

"Untuk ukuran lelaki, lu terlalu gampang dijatuhkan," Hash berkata, sambil memandang rendah gua yang masih asik di posisi pantat di atas ini. Sedangkan Alecto? Itu anak cuma nyengir kuda liat gua dipermalukan.

"Haha, yup. Terlalu gampang jatuh. Kayak bukan tentara. Masa harus diajarin sih?"

"Oh, jadi lu mau coba juga?" Kali ini, tatapan sinis Hash'Kafil pindah ke Alecto.

"Hah?! Ehm, nggak usah deh. Lain kali aja kali ya," cah sableng mendadak panik pas dapat tantangan. Nggak boleh gua sia-siakan, kesempatan emas buat balas dendam! Muahahaha!

Masih belum berganti posisi, gua langsung inisiatip panaskan situasi, "Ya Ensign Alecto, tolong ajari saya supaya bisa jadi tentara yang baik," diiringi senyum iblis penuh kepuasan menghias wajah.

"Huff, i-iya deh, iya," Asik. Gua sigap berdiri, pengen nonton dari sudut terbaik.

Teknik yang dipake Hash'Kafil tadi luar biasa. Biar gimanapun, sebenarnya tenaga perempuan nggak akan pernah lebih kuat dari lelaki. Kecuali Elka, mungkin.

Nggak peduli seberapa sering perempuan latian, aturan alam itu nggak bisa diganggu gugat. Gua akui, tendangannya yang kena tulang kering amat bertenaga. Dibanding yang kedua, rasanya lemah, tapi tepat kena di titik tumpu kaki.

"Ehem, gua bukan Lake lho, yang gampang digulingkan," tsk. Banyak gaya lu, Kuya, "gua nggak akan segan nih."

"Bawel. Maju sini."

5 detik kemudian, Alecto, pemuda berotot yang katanya nggak gampang digulingkan, udah berada di tanah. Posisi: Pantat di atas tengkuk di bawah.

Makan deh tuh tentara yang baik. Niatnya sok keren, ternyata pake cara yang persis sama, belum juga 10 detik udah nyusruk.

"Teknik yang hebat," puji gua, "Belajar dari siapa?"

"Saudara gua," jawab Hash pendek.

"Hm, keren. Gua harap kedepannya, kita bisa berteman ya."

"Tujuan gua gabung Ranger Corps bukan buat ketemu teman baru," Hash balas kata-kata gua. Nada bicaranya dingin plus ketus, "apa lagi teman baru itu, orang-orang lemah macam lu berdua."

Wow. Nggak cuma bisa beladiri, tapi juga pandai bersilat lidah. Kata-katanya begitu tinggi, dan menghina. Bikin jengkel siapapun yang dengar.

"Beuh, sombong amat. Cuma gara-gara lu bisa jatuhkan gua pas sparing, udah merasa jadi jagoan sejagat?" Gua coba buat tahan kekesalan biar nggak tambah perkara, tapi gagal, "fokus pada tujuan sih boleh aja, tapi setidaknya santai dikitlah. Ada hal lain, selain tujuan yang lu kejar."

Aduh, aku dan mulut besarku. Harusnya kalimat-kalimat tadi nggak keluar begitu aja. Nyerocos tanpa mikir akibat, hasilnya? Hash'Kafil langsung mendaratkan tackle keras ke arah perut. Gua jatuh lagi. Perempuan itu menindih tubuh, kunci kedua tangan gua, dan bersiap menumbuk muka.

"He-hey, Hash! Stop!" Alecto pengen hentikan Hash'Kafil, padahal sebenarnya mah nggak berani.

Tinjunya meluncur deras, "Aih, rata deh." Itulah yang ada di pikiran gua pas tutup mata dan menebalkan otot wajah.

Namun, setelah beberapa saat, nggak ada satu hantaman pun terasa. Pelan-pelan, gua beranikan buka mata. Seinci. Kira-kira segitulah jarak yang pisahkan wajah gua dengan kepalan tangan Hash.

"Lu ngerti apa tentang tujuan? Tujuan gua?" Dengan kesal, dia bertanya. Kali ini nada bicaranya begitu rendah dan dalam, "Semua yang berangkat ke Novus pasti punya ambisi serta tujuan yang ingin dicapai, gimanapun caranya. Bagi gua, tujuan tersebut merupakan satu bukti nyata kalo gua masih semangat, terus berjuang jalani hidup. Dan gua nggak akan bisa santai sebelum meraihnya!" kata-kata itu deras keluar dari mulutnya. Bola mata hitam itu terlihat berapi-api, "Sekarang gua tanya, Uban ... apa tujuan yang lu perjuangkan?"

Pertanyaan yang bikin gua terdiam. Tujuan yang gua perjuangkan... apa? Gua nggak tau tujuan pas daftar di Ranger Corps? Gua nggak tau buat apa jalani pendidikan militer selama ini. Atau sebenarnya punya, tapi sekedar lupa? Segitu rendahkah tujuan itu, sampe gua sendiri lupa begitu aja?

Di tengah kebimbangan, tiba-tiba Elka mendekat. Tampangnya seram, dia menatap Hash'Kafil yang masih menodong gua dengan tinjunya. Ternyata, Elka udah perhatikan kami sejak Hash'Kafil menjatuhkan gua pertama kali. Gawat, bisa perang galaksi ini sih!

Elka berdiri sangat dekat dengan kami. Menatap ke bawah, di mana kami masih saling tindih. Nggak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya, dia menatap Hash'Kafil dengan mata pemangsa.

"Hey Ka, gua nggak apa-apa kok! Ini cuma lagi sparing biasa, hehe." Gua berusaha yakinkan Elka kalo keadaan sebenarnya nggak seperti yang dia liat.

Di lain pihak, terjadi sesuatu nggak terduga. Hash ... tersenyum kecil.

Mukanya terlihat tegang sih, tapi maksa menyeringai seraya berkata, "Menarik. Oke kalo itu mau lu," seolah dia tau apa yang dingiinkan Elka.

Wew, semacam insting hewan buas kali ya, bisa saling paham gitu tanpa ngomong apa-apa?

"Wey, wey! Lu jangan perkeruh suasana dong." Bisik gua pada Hash.

"Cuma mau coba, teknik gua ampuh nggak buat lawan monster?" Dia membalas sambil lepas kunciannya dari tangan gua dan berdiri menghadap Elka.

"Emang lu bukan monster?!" Gerutu gua dalam hati.

Nggak ada lagi yang bisa gua lakukan untuk hentikan mereka selain jadi penonton. Penonton sparing antara 2 monster Ranger Ensign, Elka Nordo vs Hash'kafil Ilkash. Namun pikiran gua nggak fokus. Terganggu satu hal yang terus terngiang di benak. Apa yang harus gua perjuangkan? Kenapa gua ada di sini?

####

"Because no one can predict what'll happen in a war." - Alecto (Ch. 1)


A/N: Halo Internet! Selamat datang di fiksi Lake. Ada beberapa hal yang akan saya sampaikan sebelum anda membaca lebih jauh, yaitu: saya menulis author's note ini di 2016, lol. Saya ingin menyampaikan bahwa walaupun ini fanfiksi RF Online, cerita ini cenderung mengabaikan banyak banget mekanisme dari game RFO. Ada beberapa detail dan konsep orisinil yang saya tambahkan di sana-sini agar cerita ini ga terlalu kaku, dan ga cuma pecinta game RFO yang bisa menikmatinya. Ya, saya pengen membuat cerita yang reader friendly. Supaya bisa menyentuh pembaca yang cuma main RF sebentar, atau bahkan ga main RF sama sekali. Ya, harapan saya, para potensial reader ga harus main RFO atau paham bagaimana background lore RFO untuk menikmati cerita dari saya.

Kalian akan menemukan author's note yang berisi penjelasan tentang konsep-konsep apa yang saya tambahkan, atau mekanisme apa yang saya hilangkan, dan gimana cara kerja semesta cerita ini. Maka sebelumnya, mohon maaf bila kurang berkenan di mata para pecinta RF sejati. Juga, pada 2014 saya menerbitkan cerita ini tanpa pikir panjang. Penggunaan kata yang disingkat adalah karena saya mengetik di HP, ahaha. Jadi kebiasaan nulis sms kebawa deh. Dan juga maaf bila ada penulisan yang kiranya kurang enak dibaca. Di tengah penulisan chapter yang tengah berjalan, saya sekalian memperbaiki penulisan chapter-chapter awal sedikit demi sedikit supaya jadi lebih baik.

Cerita ini mengandung banyak referensi dari hal-yang saya suka. Mulai dari game, acara televisi, anime, kartun, novel, musik, komik, manga, dll. Contohnya, di chapter ini adalah referensi dari adegan anime Shingeki no Kyojin. Saya adalah penggemar berat anime/manga itu, terutama Mikasa. Ohhhh yeeaah! Mikasa fanboy garis keras! Kalo anda tau referensi-referensi lainnya di cerita ini, berarti kita satu selera! Haha. Adapun inspirasi dari cerita ini, saya jelaskan secara lengkap di author's note chapter 18. Oke, sekian dari saya. Silahkan lanjut membaca!

Regards,

Mie Rebus.