Disclaimer: I own nothing but the story and characters themselves. Semua tokoh yang terlibat dalam cerita ini murni imajinasi penulis. Cerita ini dibuat untuk kesenangan penulis semata. Enjoy :)
Chapter 63: The Initiatives
-7 bulan lalu, Markas Besar Bellato, Kantor Divisi Sains dan Teknologi-
Dentingan baut, mur, dan suku cadang gawai elektronik begitu riuh gegara seorang pemuda berambut hitam terburu-buru persiapkan beragam peralatan. Intense rifflegun, pulse handgun, perangkat pelacak, pengacak sinyal, gravity grip di tangan kiri dan nullifier di kanan, granat, komputer portable, sekotak peralatan standar berisi beberapa jenis kabel, obeng, kunci pas, bor serta solder mini, dan nggak lupa goggle kesayangan.
Terpal kelabu besar berdebu yang membungkus bongkahan besi, dia buka dengan satu tarikan keras, pamerkan sebuah kreasi Si Armor Rider, armor unit rakitan.
Dengan gesit dia lepas kabel-kabel yang terpasang di setiap anggota tubuh besi itu. Kondisinya nggak bisa dibilang memukau karena gabungan lempeng logam bekas yang dilas jadi satu.
Kepalan tangannya memukul tombol hijau gerbang bengkel buat keluarkan armor unit yang baru lima persen diupgrade. Log misi terpatri di tangan diset untuk terus menayangkan siaran langsung dari drone-drone pengintai Federasi yang lagi memantau keadaan genting di Solus.
Jantung berdegup lebih keras dari biasanya, merinding terus gerayangi ruas tulang punggung. Apalagi ... setelah dapat kabar sahabat serta sepupu perempuannya yang merupakan anggota Divisi Artileri Bellato diperintahkan stand by sebagai pasukan inti. Dia berusaha menepis segala ragu dan bulatkan tekad untuk berangkat bantu kamerad.
Pemuda itu membuka palka dan tangannya dengan cepat masukkan kunci unit lalu menyalakan satu per satu saklar dan tombol pemicu mesin.
Bunyi kasar dari suku cadang saling tumpang-tindih di balik kokpit kian terdengar. Buat kurangi panik, dia sempatkan buka bungkus permen berlabel Hexos dan ambil sekaligus dua butir, sembari menunggu parameter bahan bakar yang hanya terisi kurang dari setengah menyala terang dengan warna hijau tosca.
Indikator bergambar siluet armor unit bertipe yang belum pernah ada sebelumnya di jajaran unit tempur Federasi ikut menyala kurang dari sedetik kemudian, menyatakan unit dalam keadaan siap pakai.
"Tolonglah. Sekali lagi ... bantu gua," gumamnya.
Tangan pemuda itu hendak mendorong tuas kendali dan memajukan unit, tapi batal gegara seorang pria paruh baya berambut magenta berdiri menghadang di depan. "Mau ke mana kamu?"
"Mereka butuh tenaga, Maximus, dan saya siap tempur," dia menjawab, berusaha sembunyikan keresahan di balik getar suara.
"Divisi Sains dan Teknologi nggak ada perintah untuk tempur." Pria paruh baya dengan luka bakar di wajah tersebut bersidekap. "Kembalikan unitmu ke dalam. Ini bukan permintaan, ini perintah."
"Keluarga saya ... orang-orang yang saya pedulikan ... ada di sana, Maximus." Gigi pemuda itu mengertak, tangan mengepal tuas lebih keras. "Maaf."
Begitu armor unit melewati Sang Komandan, sebuah bentakan menggelegar di telinga pemuda berambut coklat. "BERANI KAMU BAWA UNIT ITU KE SOLUS, SAYA CABUT SURAT IZIN PENELITIANMU!"
Seketika gerakan unit itu terpaku di tempat kurang lebih lima belas detik. Nggak ada respon, nggak ada suara, nggak ada pergerakan apapun sebelum putar arah dan kembali masuk gerbang bengkel, ke posisi semula.
Hening membungkus udara beberapa saat. Belum ada tanda si pilot bakal keluar.
Tetiba suara hantaman berulang kali terdengar dari dalam kokpit. Si pilot cuma tau cara itu buat luapkan frustrasi saat ini karena dia tau, nggak mungkin memaki atasan tanpa konsekuensi lebih berat. Begitu keluar dari armor unit, dia lempar inventorinya ke meja kerja.
Bukan nggak mau berikan izin, tapi Sang Komandan cuma enggan biarkan anak didiknya celaka. Anak itu punya potensi yang belum terjamah, masih sangat muda pula, maka harus ada batasan dan kendali atas visinya supaya nggak terus gegabah.
"Hey," tegurnya sebelum pemuda itu keluar ruangan. Yang dipanggil hanya menoleh dalam diam. "Saya cuma larang kamu bawa unit ini ke Solus."
Seketika adrenalin pemuda itu naik. Dia segera berlari, menyambar kembali inventori yang tadi sempat terhempas.
Pemuda berambut coklat berhenti sejenak di depan Sang Komandan untuk beri gestur hormat, dan berkata penuh kelegaan, "Terima kasih, Maximus."
"Kita butuh teknisi di sana. Jangan bertindak dungu." Dibalas dengan sikap yang sama dari Sang Komandan sebagai tanda izin keberangkatan diberikan.
Beberapa saat setelah si anak didik menghilang dari pandangan, dia melangkah ke hadapan armor unit. Pandangannya menelusuri sejenak tiap lempeng logam dari atas sampai bawah, sebelum berhenti di satu titik, di bagian dada kanan.
Terukir di sebelah lambang Federasi Bellato, sebuah ukiran solder nggak rapih bertuliskan YORAF, diikuti MK. I tepat di bawahnya.
Pikiran Si Mental Smith senior langsung memutar rekaman percakapan yang pernah terjadi dengan juniornya.
"Proyek Yoraf? Bisa jelaskan lebih detail?"
"Siap! Dasarnya, ini adalah MAU type baru yang punya karakteristik gabungan Goliath dan Catapult."
"Sedikit lebih kecil dari keduanya?"
"Kecil bukan berarti lemah, Maximus. Konsumsi bahan bakar unit ini akan lebih efisien, kelincahan dalam pertempuran jarak dekat meningkat, dan dilengkapi kemampuan tempur jarak jauh yang mempuni."
"Pertahanan dan penyerangannya ... apa hanya setengah dari Goliath, setengah Catapult?"
"Untuk sekarang, iya, tapi saya terus berusaha tembus batas itu."
"Apa yang kamu bilang terdengar macam penurunan. Kenapa nggak kembangin dan tingkatkan apa yang udah ada?"
" 'Kan Anda yang ngajarin, Maximus. Kita nggak bisa jalan di tempat. Selalu ada hal baru yang menanti untuk direalisasikan."
"Buat purwarupanya. Kalo kamu berhasil ketemu solusi di iterasi kedua, saya akan terima proposalmu."
"Siap, Maximus!"
"Satu lagi ... apa arti 'Yoraf'?"
Sang Maximus ambil terpal kelabu yang tergelar di lantai, dan menyelimuti kembali unit tersebut.
"Yosuro, Rays, Fath. Para pendahulu saya."
"Kamu belum mampu melindunginya," dia berujar, lalu berbalik menutup gerbang bengkel.
.
.
Kondisi markas besar lebih ramai dari biasanya gegara kedatangan pengungsi sipil Solus. Armor Rider berambut hitam berlari meliuk lewati orang-orang yang berkumpul di jalan menuju mesin teleport utama. Suara tangis anak kecil, omelan penduduk sipil yang mempertanyakan gimana nasib kediaman mereka kepada para tentara penjaga, serta protes orang yang kelaparan, semua dia hiraukan.
"Berhenti!" Larinya tertahan pasukan penjaga dari Brigade Support Federasi. "Identifikasi dirimu, prajurit! Saat ini akses teleport lagi dibatasi!"
Si pemuda perlihatkan kartu tanda anggota digital di log misi. Tertera lengkap seluruh identitas dirinya beserta pas foto. "Baydzofi Hardji, Divisi Sains dan Teknologi! Saya dapat perintah langsung dari Maximus Khortenio Kartea untuk reparasi kerusakan di Benteng Solus!"
Kedua prajurit itu saling tatap sejenak sebelum menggeleng pelan. "Teleport Benteng Solus rusak dirudal Accretia."
"Hah? Serius?! Terus gimana kirim bantuan personil dan logistik ke sana?!" Seru Si Armor Rider, nggak nyangka keadaannya segawat ini.
"Untuk saat ini, kita cuma bisa berharap pada mereka yang di Solus."
Kepanikan kembali mengisi relung dada. Pandangannya berputar keliling markas, berharap ada secercah solusi. Mata coklat itu menangkap sosok lelaki berambut denim lima puluh meter dari tempatnya berdiri, lagi jalan cepat ke arah hanggar udara.
"Eh, dia ... ?"
Serta merta, Dzofi mengejarnya sambil manggil-manggil. "Lec! Alecto!"
Hidden Soldier itu berhenti dan tengok belakang. "Eh, elu. Siapa ya? Lupa."
"Dzofi! Baydzofi Hardji! Bisa-bisanya, baru juga minggu lalu tanding bareng!"
"Oh, ya maaf. Aura lu NPC banget sih bor. Gua cuma ingat Sabila Ulva doang."
"Si anjing," rutuk Dzofi dalam hati. "Ya, ya, terserah! Lu mau ke mana? Gua butuh bantuan buat ke Solus. Ada channel nggak?"
Mata kelabu tetiba berbinar, mukanya sumringah. "Tergantung."
"Tergantung?"
"Bisa bayar nggak?"
"Ya ampun, masih mikirin duit bae lu ya di saat begini!"
"Mau atau nggak, ma bor?"
Dzofi mikir sebentar. "Berapa?"
"Sejuta. Lima ratus dp, lima ratus pas lu sampe sana."
"SEJU-" Ginjal Si Armor Rider serasa mau lompat keluar. "Anak setan! Bedebah dongo! Kemaruk amat duit lu, bangsad!" Akhirnya meledak kalo udah nyenggol urusan duit.
"Woilah santai atuh. Armada udara kaleng lagi berkeliaran di langit Solus. Satu pesawat logistik kita aja udah kena tembak. Silakan cari pilot transport mana yang berani ke sana cuma-cuma."
Akibat terpojok keadaan, mau nggak mau Dzofi transfer dp ke rekening Si Hidden Soldier sembari gerutu.
"Ikut gua."
Sesampainya di hanggar armada udara Bellato, Si Hidden Soldier kekar berlari menuju sebuah pesawat berlabel BEO-212.
"Major Hevoy, Captain Thisack, kita dapat penumpang tambahan," kata Alecto sambil masuk dan mukul badan pesawat tiga kali, "Captain Baydzofi Hardji dari Sainstek."
Di dalam udah ada sembilan prajurit selain Alecto dan Dzofi.
"Sorry lagi nggak bisa salaman. Naik buruan," ujar Hevoy dari speaker pesawat. "Okay semua, kencangkan sabuk pengaman. Banyak doa, dan jangan muntah."
Di perjalanan, mata kelabu Alecto nggak lepas dari Dzofi. Dia bertanya, "Emang Divisi lu ada perintah turun?"
"Ada. Misi reparasi," jawab Dzofi singkat, "lu sendiri?"
"Maaf bor, nggak bisa kasih tau," balas Alecto. Disusul gerak mulut tanpa bersuara. "Intel."
Perjalanan udara dari markas besar menuju Benteng Solus makan waktu kurang lebih dua jam, dan jauh dari kata mulus. Pesawat transport bergoyang, meliuk ke sana kemari demi hindari jalur pertempuran langit.
Turbulensi hebat jelas bikin semua penumpang ekspresikan ketidak-nyamanan, tapi mau nggak mau harus ditahan.
.
.
-Benteng Solus-
Pendaratan vertikal pesawat BEO-212 di bagian helipad benteng, disambut gelegar ledakan misil Kekaisaran yang menghujam senjata anti-aircraft Solus.
Reflek, semua prajurit langsung menunduk sambil tutup kuping begitu keluar dari pesawat karena nggak kuat terima bunyi yang menyayat gendang telinga tiba-tiba.
Pesawat BEO-212 langsung terbang lagi begitu kargo sudah kosong. Sedangkan para penumpang berlari turun dari helipad melalui tangga darurat, menuju ke dalam Benteng.
"Ruang perawatan! Ruang perawatan meledak! Ada teroris!" Teriak Berserker wanita berambut hijau yang lagi angkut Infiltrator senior dan Wizard pirang pingsan di punggungnya. "Tolong bantu evakuasi!"
Disusul derap langkah satu skuad tentara Satuan Tugas Gabungan, dan Brigade Support Federasi menuju ke sana.
"Gua cabut ya. Jangan lupa sisanya," Alecto berkata, lalu ikut pergi ke ruang perawatan.
Salam perpisahan Alecto sama sekali nggak digubris. Pasalnya, mata coklat Si Armor Rider sibuk menelisik sekeliling. Kobaran api, lubang bekas ledakan dan peluru, serta mesin lelang yang layarnya pecah setengah, teleport utama yang sudah nggak aktif, semua masuk jarak pandang.
Beberapa skuad prajurit beragam profesi cuma berdiri di dekat pintu gerbang. Mereka nggak bisa keluar gegara semua jembatan penghubung antara benteng dengan Dataran Solus telah ambruk digempur rudal Kekaisaran berkali-kali.
"A-apa yang ... ."
"Fi? Kamu ngapain ke sini?" Tanya seorang Ranger wanita yang sibuk baringkan prajurit-prajurit terluka ke tempat perawatan darurat.
Baydzofi nggak akan kesulitan kenali mahkota putih pendek itu di manapun dia berada. Lelaki itu segera berlari hampiri kawannya.
Rasa lega penuhi hati seketika tau satu sosok perempuan tujuannya dalam kondisi baik, namun, kegelisahan masih tersisa karena ada satu lagi yang belum dia ketahui.
"Mana Kak Ulva?!" Tanyanya, kedua tangan mencengkram bahu Sabila.
"Di-di garis depan bareng Maximus Izcatzin," jawab Sabila kaget.
Beban dunia seakan runtuh di atas bahu dengar kata-kata itu. Perlahan, dia lepas cengkraman pada bahu Sabila dan mundur teratur.
Liat perubahan ekspresi, Sabila tau niat apa yang ada di balik rambut hitam. Dia sudah kenal lelaki ini terlalu lama. Segera dia tangkap balik pergelangan tangan kawan masa kecilnya. "Jangan."
"Harus, Sab." Si Armor Rider menyentuh dada sendiri dengan tangan kanan, dan tangan Sabila pakai tangan kiri.
Alhasil, tubuh Dzofi jadi lebih ringan dan langsung berakselerasi jauh lebih cepat menuju gerbang utara benteng. Sedangkan Sabila jatuh berlutut akibat tubuhnya ditarik gravitasi tiga setengah kali lipat.
"Dzofi!" Ranger berambut putih masih berjuang lebih keras gerakkan tubuh, tapi dengan usaha ekstra aja, kakinya cuma bergerak dua senti.
Pandangan mata biru terkunci pada sosok Armor Rider yang makin dekat ke gerbang benteng. Dengan gravity nullifier, pasti mudah bagi Si Armor Rider buat lompati jurang pemisah.
Sabila tarik napas dalam-dalam dan konsentrasi penuh. Mata biru safir berubah merah. Ledakan kekuatan menyeruak dari dalam diri, menyentak lewat betis dan mengirim seluruh tubuh mungil meluncur ke arah Dzofi, hiraukan gaya gravitasi tambahan hasil perangkat kreatif itu.
Dari arah serong belakang, dia menjegal perut kawan masa kecilnya hingga terangkat dari tanah, dan membanting Dzofi sekuat tenaga.
"AGH!" Ruas-ruas tulang punggung Si Armor Rider remuk di beberapa titik sekaligus. Dia nggak bisa bergerak. Tepatnya, beban tubuh Sabila yang lagi terpengaruh gravitasi lebih berat nggak izinkan dia bergerak. "Sab, minggir! Aku harus bantu Kak Ulva!"
"Sadar, Fi. Kamu cuma bakal bahayain dirimu dan kamerad kita yang lagi tempur di luar sana," kata Sabila tenang. Warna irisnya berkedip bolak-balik antara merah dan biru.
"Aku nggak mau dia celaka! Dia satu-satunya keluargaku yang tersisa!"
"Kami Divisi Artileri Bellato." Perempuan mungil menepuk dada sebelah kiri. "Percaya sama kami. Kumohon."
Ledakan roket serta rentetan senjata api jadi musik latar pengisi kekosongan kata di antara mereka. Respon Sabila bikin Dzofi sadar, bahwa betapa selama ini dia sudah berpikiran sempit. Apa dia lupa, dua perempuan yang paling dia khawatirkan adalah anggota pasukan elit Federasi?
"Ma-maaf, Sab. Aku ... a-aku cuma nggak mau diam saat yang lain sibuk berjuang."
Sabila berdiri, tersenyum semanis gulali dan ulurkan tangan. "Yuk, kasih usaha maksimal buat jalani peran masing-masing."
Uluran tangan Sabila disambut genggaman tangan Dzofi. Begitu Si Armor Rider berdiri, nyeri di punggungnya langsung menyambar lebih parah, tapi berusaha ditahan kuat-kuat. Dia nggak mau Sabila merasa bersalah.
Tetiba angin berhembus sepoi diiringi serbuk-serbuk bunga berterbangan dari arah zona perang Solus menuju tiap sudut benteng.
Aliran udara terlampau sejuk menjelajah sistem pernapasan siapapun yang menghirupnya. Ringankan luka, pulihkan stamina dan tenaga. Para prajurit sekarat dan tenaga medis yang kehilangan harapan karena rusaknya ruang perawatan Solus, kini bisa bernapas lebih lega.
Nyeri di punggung Dzofi gegara bantingan Sabila, berangsur hilang.
Tanah sedikit bergetar, lalu dari balik dataran Solus, keluar akar-akar kokoh yang menyambungkan kembali semua jembatan benteng. Bunga-bunga indah bermekaran di sela dinding besi, serta mengisi bekas lubang peluru dan rudal.
"Fenomena apa lagi ini?" Dzofi keheranan.
"Force alam," gumam Sabila.
Mereka putuskan untuk melangkah keluar benteng. Sebuah pohon raksasa langsung menarik perhatian. Sebelumnya nggak pernah ada pohon sebesar itu di daerah sini. Dedaunan hijau nan lebat terus menari ikuti aliran angin, menebar serbuk kesembuhan lebih banyak.
Di dekat batang pohon, ada tiga orang. Dzofi kenal dua di antaranya; Rokai Leiten dan Maximus Croiss Kirxix. Seorang lagi Spiritualist wanita dengan logo Brigade Support Federasi di lengan kanan.
"Perhatian semua personil dan unit tempur. Serangan Kekaisaran berhasil dinetralisir. Sekali lagi, serangan Kekaisaran berhasil dinetralisir. Saat ini, ruang perawatan Benteng Solus tidak bisa digunakan. Jadi, harap bawa semua prajurit terluka ke area radius delapan ratus lima puluh meter dari zona aman. Mantra penyembuh Captain Rokai Leiten akan membantu Anda semua," ujar Sang Archon Bellatean melalui channel komunikasi yang bisa diakses semua prajurit.
Dzofi sempat terpukau, mengingat dia pernah berhadapan satu lawan satu dengan Holy Chandra itu. "Dia ... bisa nyelametin banyak orang. Lah gua?"
Dari kejauhan, delapan personil Divisi 1 Artileri beserta tiga armor unit yang semuanya keluarkan asap hitam, berjalan iring-iringan.
Di antara para personil itu, ada sosok perempuan yang dicari Dzofi, mendekap lightning gun kesayangan. Armornya rusak berat, sekujur lengan kanan berdarah, wajah penuh noda lumpur, dan berjalan agak gontai. Sobekan-sobekan di pipinya perlahan menutup begitu terkena serbuk tanaman penyembuh.
Si Armor Rider nggak kuasa tahan luap emosi. Dia berlari sekencang mungkin dan langsung memeluk kakak sepupunya yang masih bisa pulang dari medan perang dalam keadaan utuh.
.
.
-Seminggu Kemudian, Markas Besar, Kantor Divisi Sains dan Teknologi-
Perbaikan teleport utama Solus jadi hal yang diprioritaskan Archon, mau nggak mau, harus dikerjain sampai begadang-begadang. Sebenarnya fungsi dasar teleport sudah jalan begitu masuk hari kedua perbaikan, cuma betapa jengkel Si Armor Rider pas baru tau ada personil bau kencur nggak becus merangkai aliran sirkuitnya. Alhasil, masih sering ngadat. Dia harus bongkar semua dan rapihkan dari akar.
Setelah hampir seminggu Captain Baydzofi Hardji jadi salah satu teknisi yang bertanggung jawab atas perbaikan mesin teleport Solus, hari ini dia bisa pulang dan sedikit regangkan badan.
Pagi ini seperti biasa, dia seduh teh panas tawar di ruang bengkel, berniat lanjutkan karya yang entah berapa lama terbengkalai. Kemasan teh kosong langsung dilempar ke tempat sampah.
Ada rasa penyesalan juga sebenarnya. Andai dia nggak sering menunda update software dan hardware, andai lebih sering farming dan cari cuan, pasti dia bisa bawa unit ini ke Solus tempo hari. Sekarang, semua sudah terlanjur. Haruskah boot reboot?
Salah gua lu nggak bisa tempur.
Di telinga pemuda itu terpatri sepasang headphone nirkabel yang memutar siaran ulang acara tadi malam. Acara penghargaan dari Archon, sebagai tanda jasa bagi mereka yang berkontribusi besar di pertempuran Solus. Salah satunya, untuk Holy Chandra yang telah merapal satu mantra penyembuh berskala terbesar selama seratus tahun terakhir.
"Captain Rokai, Captain Rokai. Gimana kesan Anda setelah diberi apresiasi tertinggi oleh Archon usai berhasil selamatkan banyak nyawa?"
"Saya ... belum pantas menerimanya. Ini adalah penghargaan atas hal yang belum mampu saya lakukan sendiri. Valley of Valoria bukan kemampuan saya, melainkan mentor saya, Conquest Rylit Iuigi. Beliau yang harusnya lebih diapresiasi."
"Merendah terus sampe inti Novus," Dzofi menanggapi respon Rokai seraya mengurai rangkaian kabel usang di bagian dalam armor unit.
Mendadak, terdengar ketukan pintu bengkel tiga kali. Mata Dzofi beralih ke jam digital; 0830. Bengkelnya baru buka layanan di jam 1000.
"Belum buka. Balik aja dua jam lagi," ujarnya pada siapapun di balik pintu.
Namun ketukan tiga kali kembali terdengar.
"Belom buka, woy! Ngerti Bahasa Bellato nggak lu?!"
Kali ini justru berbalas ketukan tanpa henti.
Kesal, Dzofi menghentak langkah dan buka pintunya dengan kasar. Udah siap mengumpat pula. "Heh, bangs-"
Umpatan itu batal keluar begitu tau siapa si biang kerok. Seorang pemuda berkacamata yang sedikit lebih tinggi darinya, sepagi ini udah berseragam lengkap Holy Chandra.
"Hai," sapanya, "boleh ngobrol sebentar?"
"Oh, b-boleh, boleh. Masuk sini." Dzofi buka pintu lebih lebar. Mana sangka orang yang sempat dia tanggapi omongan online-nya tadi, sekarang hadir depan mata. "Sorry berantakan."
Rokai nggak keberatan sama sekali. Tanpa bicara, dia ambil kursi tunggal yang ada di sudut ruangan dan bawa ke dekat meja kerja Dzofi.
Si Armor Rider tepok jidat karena baru ingat tehnya abis. "Mau minum apa?"
"Apa aja."
Dzofi cek kulkas. Mata coklat brownies-nya tertuju ke botol jus markisa yang full tertutup label merk. "Jus markisa doyan?"
"Lumayan."
Tapi betapa malu pemuda berambut hitam pas meraih botol jus itu. Soalnya ... enteng. Ternyata udah abis juga. Terpaksalah dia sajikan segelas air putih plus es batu.
Mata hitam sang tamu tertuju ke gelas di hadapannya, alis terangkat sebelah. Heran, kok beda sama apa yang tadi ditawarkan.
"Hehe, markisa bening."
Seketika hening. Kecanggungan mengisi ruang bengkel.
"Itu ... candaan ya? Gua nggak nangkep referensinya," Rokai berkata.
"Lebih tepatnya pengalaman buruk. Udahlah, nggak usah dibahas. Jadi, apa yang mau lu obrolin?"
Raut wajah Holy Chandra berubah serius. "Langsung ke intinya. Gua mau lu buatkan senjata."
Dzofi mengernyitkan dahi. "Senjata macam apa?"
"Sarung tangan. Yang bisa gantiin tongkat sihir."
Mata Dzofi melebar nggak percaya. "Salah kamar, bang. Bengkel senjata Spiritualist sebelah sono noh."
Rokai tetap menatap mata coklat Si Armor Rider lekat-lekat.
Belum ada tanggapan, Dzofi menyanggah lagi, "Gua Armor Rider merangkap teknisi, bukan dukun."
"Bukannya lu punya sarung tangan gravitasi? Itu inspirasi gua."
Si Armor Rider terhenyak dengar omongan Rokai. Nggak nyangka Holy Chandra penyelamat banyak nyawa, yang dulu pernah telak mengalahkannya di festival olahraga, terinspirasi barang itu.
Dia ambil gravity grip dan nullifier. "Ini cuma purwa-"
"Yang berfungsi." Sela Rokai. "Gua bisa bayar berapapun yang lu butuhkan. Bahkan, gua bisa biayain proyek armor unit lu itu sekalian."
Dzofi tengok unitnya yang baru aja dibongkar sebentar. Hampir tergoda, tapi masih berusaha bantah. "Kibul. Gua nggak percaya lu sekaya itu."
"Percayalah," katanya singkat dengan muka serius.
Alasan Dzofi bersikerasi menolak bukan sekedar masalah biaya, tapi juga disiplin ilmu. "Apa yang gua buat berdasarkan sains, bukan spiritual!"
Lagi, Rokai cuma menatap mata coklat Si Armor Rider lekat-lekat, lalu ambil secarik kertas putih, juga pensil yang tergeletak di atas meja kerja Dzofi dan mulai gambar diagram mantra.
"Ini diagram mantra Ignite. Mantra sederhana yang berkali-kali gua lempar ke lu. Kalo gua gambar segaris lagi di sini ... ." Goresan pensil tersambung di bagian atas diagram, membuat percik api keluar dari tengah kertas itu. "Mantranya aktif. Kalo yang ini dihapus dan dibikin melengkung sedikit ... ." Sekarang percik apinya terbagi jadi lebih kecil dan banyak. "Ignite; Raze."
"Ya terus? Percuma lu jelasin, nggak paham gua begituan."
"Konsep diagram sihir sebenarnya mirip dengan papan sirkuit yang sering lu liat di perangkat elektronik. Artinya, sains dan spiritual nggak selamanya bertolak belakang. Ini bukan kebetulan," jelas Rokai.
Sebuah opini asing bagi seorang teknopat dominan pemikiran logis. Dia menggeleng, menolak pernyataan barusan. Kata-kata nggak bakal cukup buat debat dengan tipe orang macam Rokai.
Dzofi ambil sebotol kecil oli baru, dan dituang ke gelas isi air yang tadi disodorkan buat sang tamu. Isian gelas diaduk dengan cepat dan keras. "Tuh, argumen lu."
Nggak peduli seberapa keras air dan oli diaduk, pada akhirnya, ketika putaran berhenti, kedua zat tersebut akan terpisah kembali meski dalam satu wadah yang sama.
"Ini buat gua minum?" balas Rokai dengan muka datar.
"Nggaklah, goblog!" Dapat respon nyeleneh, keluar deh toxic-nya.
"Canda. Nyairin suasana."
"Bercanda tapi muka lu datar gitu. Anyway, gua nggak bisa melakukannya," kata Dzofi.
Dapat penolakan kesekian kali, Rokai sigap berdiri dan todongkan tongkat sihir perak metalik. Di ujung tongkat tersebut berkobar nyala api oranye.
Dzofi langsung angkat tangan. "Woy, apaan nih? Jangan ngamuk di sini! Banyak bahan gampang meledak!"
"Gimana gua bisa munculin api ini?"
"Harus berapa kali gua bilang, mana gua tau!" omel Si Armor Rider.
"Apa yang menyebabkan molekul memanas?"
"Getaran?"
"Semua hal yang lu liat selalu dalam keadaan bergetar yang konstan. Itulah ilusi soliditas. Saat gua menyulut api dari ketiadaan, sebenarnya yang gua lakukan adalah menggetarkan molekul udara lebih cepat dalam waktu singkat sampai memercik lidah api dengan tongkat sebagai media penguat force. Itu sains dasar, 'kan? Untuk belokkan kehendak alam, kami, Spiritualist, harus paham dulu gimana prinsip alam bekerja." jelas Rokai panjang lebar.
"Tapi ... gua ... gua tetap nggak bisa," ujar Si Armor Rider pelan.
Api Rokai padam seiring tongkatnya turun. Sekelebat raut kecewa tersirat di wajah. "Siapa lu, apa yang lu lakukan pada Baydzofi Hardji?"
"A- ... apaan sih? Gua ya gua! Nggak jelas lu!"
Kilas balik di benak Si Holy Chandra terpampang moment festival olahraga, saat pemuda di depannya sukses manfaatkan celah sempit buat rebut ikat kepala hingga tim Lake terhindar dari eliminasi.
Pun begitu saat duel satu lawan satu. Meski tau perbedaan kemampuan mereka amat besar, dia terus cari cara menang tanpa sedikitpun gentar.
"Lelaki yang pernah gua lawan di arena nggak pernah batasi dirinya dengan hal-hal yang nggak bisa dia lakukan. Sebaliknya, dia selalu mendorong batas hal-hal yang bisa dilakukannya." Rokai balik badan menuju pintu. "Lu bukan dia."
Kalimat pedas Si Holy Chandra sukses menohok sampai ke sanubari terdalam.
Mulut Dzofi terkunci rapat di tengah ruang bengkel yang terhampar berbagai suku cadang gawai di tiap sudut, seakan tiap purwarupa kreasinya bakal jadi saksi bisu atas respon apa yang akan terlontar.
Kenapa kemungkinan memadukan sains dan spiritual berusaha dia tolak sekeras mungkin? Padahal sebelumnya, apapun akan selalu dicoba untuk temukan hasil terbaik. Nggak peduli teriakan macam apa yang bakal diterima dari mentornya, dia tetap akan presentasikan terobosan baru nggak masuk akal walau belum tentu berhasil.
Inikah pertanda dia jalan di tempat, dan mulai takut terus maju jelajahi zona baru penuh misteri?
BRAK!
Suara tumbukan bikin Rokai batal keluar ruangan. Begitu menoleh lagi, Dzofi udah gambar sketsa kasar asal jadi sarung tangan permintaan Si Holy Chandra. Satu cengiran lebar pertanda siap terima tantangan.
"Maaf, gua tersesat. Makasih udah nyeret gua balik ke jalan yang benar," dia berkata penuh kepositifan, "Proyek baru butuh nama. Mau lu namain apa?"
Rokai tersenyum. Bagi Dzofi, rasanya ini pertama kali liat Si Holy Chandra yang sering bermuka datar dan cool lemparkan senyum secara langsung.
.
.
-7 Bulan kemudian, Di Tempat Yang Sama, Sebelum Lake Ditemukan Para Intel-
Di tengah kegelapan malam, suara langkah sepatu seorang Hidden Soldier kekar bergema di lorong kantor Divisi Sains dan Teknologi. Begitu santai dia melenggang usai sedikit 'mengusik' sistem CCTV.
Dia bongkar kunci pintu salah satu ruang bengkel pakai seutas kawat.
Visi mata kelabu menangkap sepasang sarung tangan perak yang terhubung banyak kabel ke beragam alat ukur mulai dari Volt meter hingga LCR meter, serta cetak biru bertuliskan Forcepath MK. II dengan orat-oret rumus fisika dan diagram mantra di atas meja.
Bukan itu yang dicari, melainkan seonggok armor unit berukir Yoraf di dada. Dia buka pelindung mesin, lalu cabut paksa sebuah suku cadang. Selesai capai tujuan dan keluar ruangan, pakai seutas kawat yang sama, nggak lupa kunci pintu kembali seperti semula.
...
"The man I fought in the arena never limits himself with the things he can't do. Instead, he always pushes the limit of the things he can do. You're not him." - Rokai (Ch. 63)
...
A/N:
Update: 1 Nov '23
Edit: 2 Nov '23 ganti warna rambut Dzofi. Ternyata hitam, bukan coklat.
Sabila did the spear! Wkwkwk.
Warna matanya bolak-balik berubah karena dia masih belajar menguasai kemampuan khususnya tanpa kehilangan kesadaran, daripada kejadian lawan Elka di Festival Olahraga (Ch. 31) keulang lagi.
Buat teman-teman author yang karakternya gua comot-comot, mon maap ya kalo eksekusinya melenceng dari sifat asli si karakter.
Bagian jus markisa diambil dari cerita Baydzofi, reboot Journey For Identity yang publish di wetped. Yang punya wp, go check out and follow his story there.
Chapter callbacks, in case you forgot because this shites was in ancient times:
- Gravity Grip Nullifier (Ch. 27 36)
- Rokai vs Dzofi (Ch. 28 Ch. 36)
- "Siapa lu, apa yang lu lakukan pada Baydzofi Hardji?" (Ch. 39, pertanyaan Rokai adalah pertanyaan Lake buat dirinya).
- Pesawat transport Bellato ditembak jatuh (Ch. 49)
- Teroris di ruang perawatan Solus (Ch. 52).
- Solus amburadul (Ch. 58)
Regards,
Mie.
