Anak itu kembali memegangi kepalanya, berusaha untuk menggali ingatan yang ada di dalam kepalanya. "Namaku adalah ... Naruto? Bahasa yang digunakan di dunia ini mungkin lebih condong ke campuran beberapa bahasa layaknya duniaku sebelumnya," ujar anak itu.

Ia kembali terus menggali memorinya dan mendapati bahwa sekarang ia berada di sebuah hutan yang berbatasan dengan wilayah bangsawan Vlad dengan wilayah bangsawan Sitri. Dengan susah payah, ia mencoba untuk bangkit berdiri dan berjalan menyusuri hutan itu. Sesekali ia berjalan secara mengendap-endap, ketika ia melihat ataupun merasakan adanya hewan buas di sekitarnya.

Anak kecil itu terus berjalan tak tentu arah. Ia mulai merasakan pegal pada kakinya. Rasa haus dan lapar juga mulai dirasakan oleh anak itu. Tidak ada satu pun buah yang bisa ia temukan di sepanjang jalan itu, bahkan suara air mengalir pun tidak ia dengar. Ia hanya bisa berjalan dengan pasrah dan berharap menemukan sesuatu yang bisa ia makan.

Peluh mulai membasahi sekujur tubuhnya. Sudah berjam-jam, anak itu berjalan tak tentu arah. Sesekali ia bersandar pada sebatang pohon untuk beristirahat sejenak, kemudian kembali melanjutkan jalannya. Matanya menatap ke langit dan melihat dari sela-sela dedaunan kalau matahari sudah sampai puncaknya. Ia sudah tidak peduli lagi jika ia bertemu dengan hewan buas yang ada di hutan itu. "Kehidupan keduaku berakhir dengan mati kelaparan di usia muda? Sungguh ironis," batin anak dengan jiwa orang dewasa itu. Sekalipun ia memiliki segudang pengalaman mengenai bertahan hidup di dunianya yang dahulu, namun semua itu sedikit tidak berguna sekarang karena fisiknya yang tidak memadai. Ia hanya bisa berjalan dengan modal tekad dan keinginan saja.

Tak lama kemudian, ia melihat sebuah jalan yang terbuat dari tanah yang ia asumsikan sebagai jalan komersial yang biasa digunakan. Anak itu kembali berusaha sekuat tenaga untuk sampai ke jalan itu. Matanya mulai berkunang-kunang dan nafasnya perlahan memberat. Ia mencurahkan semua tenaganya yang tersisa untuk bisa sampai ke jalan itu hingga ia pun berhasil keluar dari rimbunan pepohonan dan sampai ke pinggir jalan.

Sesampainya di pinggir jalan itu, ia mulai jatuh tersungkur. Sisa-sisa tenaganya perlahan memudar dan matanya terasa berat. Ia terus berusaha untuk membuat dirinya terjaga, namun rasa lelah dan lapar yang menumpuk mulai membuatnya tak berdaya. Perlahan ia mulai memejamkan matanya tanpa menyadari bahwa suara bergemuruh perlahan mendekatinya.

Beberapa saat kemudian, muncul rombongan berkuda melintasi jalan itu. Rombongan tersebut terdiri atas sebuah kereta kuda yang diiringi beberapa prajurit berkuda yang mengitari kereta tersebut. Ketika rombongan itu mulai melintasi tubuh anak itu, seseorang di dalam kereta itu menyuruh rombongan itu berhenti. Lalu, turunlah sesosok pria berusia sekitar tiga puluhan dari kereta itu. Pria itu memiliki badan tegap dan tinggi, rambut pendek berwarna hitam dan juga iris mata berwarna violet. Ia mengenakan pakaian bangsawan berupa kemeja putih yang dibalut dengan jas dan jubah berwarna hitam dengan beberapa insignia di dada sebelah kanannya. Pria itu menatap ke arah anak bernama Naruto yang sudah jatuh pingsan itu.

Salah seorang prajurit yang mengiringi rombongan itu turun dari kudanya dan menghampiri pria itu. "Ada apa, Lord Sitri?" tanya prajurit itu.

Pria yang dipanggil Lord Sitri itu tidak menatap wajah prajurit itu, matanya terus menatap ke arah anak itu. "Aku ingin membawa anak itu kembali ke kediamanku," ujarnya dengan nada yang sedikit berat.

Prajurit itu sedikit menatap pria itu dengan pandangan heran. "Mohon maaf sebelumnya, Lord Sitri, mengapa anda tiba-tiba tertarik untuk membawa anak itu ke kediaman anda?" tanya prajurit itu sekali lagi.

"Aku melihat bahwa pakaian yang ia kenakan adalah pakaian yang biasa digunakan oleh seorang bangsawan meski sekarang terlihat lusuh, jadi aku asumsikan bahwa dia adalah seorang keturunan bangsawan yang entah bagaimana diserbu oleh bandit dan berhasil kabur. Oleh karena itu, aku tertarik untuk mengetahui identitasnya yang sebenarnya," balas Lord Sitri.

"Bagaimana kalau anak itu sebenarnya mata-mata, tuanku?" tanya prajurit itu sekali lagi.

"Untuk itu, kita harus mencari tahu sebelum semuanya terlambat, Sir Castellan. Lagipula aku ragu bahwa dia menjadi seorang mata-mata di kala umurnya yang masih sangat belia," ujar pria itu lagi.

Prajurit bernama Castellan itu hanya bisa menganggukkan kepalanya. Akhirnya, Lord Sitri memerintahkan salah satu prajurit untuk menggendong Naruto ke dalam keretanya. Kemudian, rombongan itu kembali melanjutkan perjalanan mereka.


.

REINCARNATED HITMAN

I walk in the shadows to serve the light

.

Naruto by Masashi Kishimoto

Highschool DxD by Ichiei Ishibumi

Assassin's Creed by Ubisoft Entertainment

.

.

Summary : Seorang pembunuh bayaran terkenal dari organisasi yang paling dicari di seluruh dunia telah dikhianati oleh organisasi tempat ia bernaung sehingga harus tewas dalam misinya. Namun ia tidak menyangka kalau ia harus berenkarnasi di dunia abad pertengahan yang penuh konflik. Bagaimana caranya ia menghadapi konflik tersebut? -THE ASSASSIN

WARNING!! Fanfic ini akan penuh dengan darah, gore, ataupun bahasa kasar!

.

.

Sequence I : My New Story

.

.

Memory 1

The New Beginning and A New Family

.

.


Aku terbangun di sebuah bar pinggir kota, pada sebuah meja di pinggir bar itu. Aku sedikit menguap dan mengambil arloji milikku yang baru saja kumenangkan kembali dalam permainan kartu. Arloji itu tampak tua, mungkin kalian mengetahuinya sebagai jam saku yang terkenal di era-era tahun 1700-an di duniaku dahulu. Saat aku tengah melihat ke arlojiku, tiba-tiba saja aku terkejut ketika mendengar suara pintu didobrak dari depan.

Aku melihat ke arah pintu dan tampaklah sosok pria dengan tubuh tambun tengah mengedarkan pandangannya ke seluruh bar. Saat pria itu melihat ke arahku, ia langsung berjalan cepat sambil menghancurkan beberapa meja atau kursi yang menghalangi jalannya.

"Tidak bisa memenangkan permainan dengan adil, lalu kau langsung mencurinya. Dasar kau pecundang kecil," ujar pria tambun itu.

Sontak aku langsung berdiri. "Tenang, Victor. Kita bisa bicarakan hal ini baik-baik, mate," kataku sambil berusaha menenangkannya.

"Kau penipu kecil. Kembalikan arloji itu!"

"Ini milikku, Victor. Kau hanya meminjamnya dariku dan aku pun mengambilnya kembali."

Wajah pria tambun itu langsung memerah karena marah. "Kau!!" Setelah meraung marah, ia menerjang ke arahku. Aku langsung menghindar ke arah samping.

"Sepertinya kata-kata tidak bisa menenangkan banteng liar sepertimu. Jadi sebaiknya aku pergi dulu." Setelah berkata demikian, aku langsung melompat ke luar jendela. Namun, pria yang kupanggil Victor itu dengan refleks memegang kakiku sehingga aku jatuh terguling di luar dan menjatuhkan arlojiku.

Arloji itu jatuh ke dekat kaki pria yang memiliki tubuh besar sama seperti Victor. Pria itu mengambil arlojiku.

Aku perlahan berdiri dan berkata, "Baru saja, aku mengobrol dengan saudaramu. Mari kita bicarakan dengan baik."

Victor dari balik jendela langsung berkata kepada pria yang membawa arlojiku, "Tidak usah banyak bicara. Cepat bawa pergi!"

"Tunggu sebentar." Tanpa mengindahkan kata-kataku, pria tadi langsung berlari melewati kerumunan. " Damn it!" Aku pun langsung mengejar pria tadi.

Oh ya, ngomong-ngomong. Ini aku, Naruto atau di kehidupanku sebelumnya bernama Maelstrom Wright a.k.a. The Fox. Tiga belas tahun telah berlalu setelah aku tiba-tiba bereinkarnasi ke dunia ini. Mungkin banyak di antara kalian yang kaget melihatku tiba-tiba saja terbangun di sebuah bar dan terlibat perkelahian dengan seorang pria hanya karena sebuah arloji 'kan? Baiklah ... akan kuceritakan secara singkat.

Jadi, seperti yang kalian tahu sebelumnya. Aku dibawa oleh Lord Sitri ke kediamannya di Kota Leviatainn. Di sana, aku dirawat dengan baik hingga aku sadar di sebuah kamar yang tergolong mewah dan dapat disandingkan dengan kamar-kamar hotel berbintang lima yang ada di duniaku sebelumnya.

Kemudian, Lord Sitri bersama Sir Castellan, pengawal pribadi Lord Sitri, menanyaiku beberapa hal ketika aku sudah sadar. Pertanyaan seputar identitasku yang sebenarnya, bagaimana aku bisa sendirian berada di tengah hutan, dan lain-lain. Karena ingatan yang dimiliki tubuh yang kuhuni ini sangat buram, akhirnya aku hanya bisa menjawab setahuku. Aku mengenalkan diriku sebagai Naruto Wright sebagai identitas baruku dan menjawab seadanya ketika ditanya bagaimana bisa aku berada di tengah hutan sendirian.

Lord Sitri, yang mengira kalau aku memiliki hilang ingatan, langsung mengatakan kalau ia ingin mengajakku makan bersama dengan keluarga yang lain dan juga ingin mengadopsiku sebagai salah satu anaknya. Aku ingat sekali kalau Lady Sitri dan kedua anaknya setuju dengan pendapat Lord Sitri. Dan begitulah aku akhirnya memiliki keluarga baru di dunia ini.

Kemudian, selama tiga belas tahun aku berada di kediaman Sitri. Aku belajar mengenai tata krama para bangsawan yang ada di dunia ini. Namun, aku sangat payah di bidang itu sehingga aku pun membuat keputusan untuk menjadi butler pribadi bagi kedua putri Lord Sitri, karena bagaimanapun juga, kekuasaan milik Lord Sitri juga akan diserahkan kepada kedua putrinya.

Lord Sitri dan Lady Sitri awalnya tidak setuju dengan keputusanku, begitu pula kedua putri mereka, Serafall dan Sona, aku tetap bersikeras sehingga akhirnya Lord Sitri pun mau tidak mau memenuhi keputusanku. Setelah itu, aku menjadi butler pribadi dari kedua putrinya. Sesekali aku juga membantu Lord Sitri bersama Serafall dalam mengurusi dokumen-dokumen wilayah Sitri.

Begitulah kehidupanku selama tiga belas tahun ini, kebetulan kemarin aku mengambil sedikit istirahat ke luar mansion untuk menikmati bar dan juga bermain sedikit dengan para petualang yang tengah berada di Kota Leviatainn ini.

Dan di sinilah aku, berlarian di jalanan Kota Leviatainn sambil mengejar seorang pria yang merupakan saudara dari penempa yang 'kalah' melawanku dalam permainan kartu. Sesekali aku harus melewati bawah meja atau bahkan melompat dari jendela agar bisa memperkecil jarak antara diriku dengan pria itu.

Ia sesekali menggunakan kerumunan untuk menghambatku untuk mengejarnya, namun aku terpaksa menabrak beberapa pejalan kaki hanya untuk menangkapnya. Setelah aku merasa bahwa jarak kami sudah sangat dekat, aku pun menjegalnya dan mengambil arloji dari tangannya.

"Seorang penempa sepertimu mungkin belum tentu bisa membaca jam," kataku dengan nada sedikit mengejek.

"Datanglah kemari dan katakan itu kepadaku!" Aku mendengar Victor Sang Penempa yang mengamuk tadi datang ke arahku.

"Ah, sial." Aku pun kembali berlari, kali ini menghindari amukan dari penempa itu.

Tanpa melihat ke belakang, aku mendengar raungan Victor dari kejauhan, "Kembali kau sini!!" atau kata-kata semacam, "Seseorang hentikan dia!"

Aku pun memanjat sisi sebuah gedung tanpa ragu. Kuraih beberapa ceruk yang terbentuk pada dinding gedung itu untuk membantuku naik. Suara jeritan wanita keluar ketika aku tengah menaiki sebuah beranda lantai dua.

"Maafkan aku, Madame," kataku sambil terus memanjat hingga ke atap. Setelah sampai atap, aku berbalik menghadap ke arah Victor dan saudaranya. "Sampai jumpa lagi, Victor. Lain kali, berikan aku pertunjukan yang bagus untuk ke depannya. Adieu."

Aku bisa melihat raut wajah Victor memerah karena marah sebelum aku berlari melalui atap-atap rumah. Memanjat, melompat, bahkan jatuh berguling kulakukan untuk bisa melewati tiap atap. Pada akhirnya, aku menjatuhkan diri dari atap dan terjun ke arah gerobak yang berisi tumpukan jerami tak jauh dari Mansion Sitri.

Aku melompat keluar dari tumpukan jerami itu dan berjalan santai menuju mansion. Di depan gerbang mansion, aku melihat sosok Sir Castellan tengah kebetulan berpatroli di depan gerbang.

"Habis berbuat sesuatu yang aneh-aneh lagi, Naruto?" tanyanya ketika melihatku melenggang masuk ke dalam mansion.

"Hahaha ... begitulah, sire. Sedikit peregangan sebelum membantu Lord Sitri dalam menyelesaikan pekerjaannya," kataku sambil sedikit tertawa kaku.

Sir Castellan hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Ya sudah kalau begitu. Kau ditunggu oleh Lord Sitri di ruangannya," katanya lagi.

Aku mengangguk sopan dan memohon diri untuk segera pergi ke ruangan Lord Sitri. Ruangan Lord Sitri seperti ruangan bangsawan pada umumnya. Pilarnya terbuat dari batu pualam dan lantainya terdiri atas marmer putih. Dindingnya dicat dengan warna putih kebiruan dan beberapa ornamen emas terpasang di dindingnya. Aku bisa melihat sosok Lord Sitri yang dengan gagah duduk di singgasananya tengah berdiskusi dengan salah satu bangsawan yang berada di bawah naungannya sebelum akhirnya mengusir bangsawan itu secara halus.

Aku berjalan pelan ke arahnya kemudian menunduk hormat. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanyaku dengan sopan.

"Kudengar kau meminta izin keluar dari mansion dan sedikit membuat kekacauan lagi dari Olivier dan juga Sir Castellan," ujar Lord Sitri sambil berdiri dari kursinya. "Sudah berapa kali kau melakukan hal itu? Enam? Tujuh?"

"Sebenarnya sudah delapan kali, sire."

"Nah ... delapan kali. Apakah kau tidak memiliki hobi yang lain?" tanya Lord Sitri kepadaku. "Mungkin sebuah hobi baru yang cocok untuk kesehatanmu."

"Sebenarnya hanya bermain kartu yang bisa saya lakukan untuk mendapatkan kesempatan mencicipi sedikit angin segar serta peregangan otot," kataku dengan sopan.

Lord Sitri hanya bisa menghela nafas pasrah. Kemudian, ia mengambil topi miliknya dan berkata, "Kita bicarakan hal ini nanti. Aku masih memiliki beberapa bisnis di Istana Duke Harrington sebelum akhirnya menyambut Sona yang akan kembali dari inspeksi wilayahnya."

Aku sontak memasang raut terkejut. "Sona akan berada di sini?"

"Hanya untuk malam ini. Besok pagi-pagi sekali, ia harus kembali ke Kota Arthens untuk melanjutkan studinya di Menara Hrivia," ujar Lord Sitri sambil memasang topinya.

"Apakah ia memerlukan pengawalan? Saya bisa mengajukan diri untuk itu," kataku.

"Tidak perlu, Sir Castellan yang akan mengawal putriku secara langsung. Lagipula, kau belum bisa ke mana-mana jika kau belum bisa menguasai teknik pedang sihir yang diajarkan Sir Castellan kepadamu." Lord Sitri langsung beranjak untuk keluar ruangannya. "Berlatihlah lebih banyak jika kau ingin bisa keluar melihat dunia."

"Sepertinya itu sulit," gumamku dengan lirih.

Lord Sitri berbalik menghadap ke arahku. "Apa yang kau bicarakan?"

"Hanya ... tolong sampaikan salamku kepada Sona, Tuan," kataku.

Lord Sitri mengangguk dan meninggalkanku sendiri di dalam ruangan yang serba mewah itu.


.

~Reincarnated Hitman~

.


Beberapa saat kemudian, aku melatih teknik pedang yang sempat diajarkan Sir Castellan kepadaku. Oh ya, ngomong-ngomong ada satu alasan lagi yang membuatku merasa kalau aku tidak layak untuk menjadi anak adopsi dari Lord Sitri, yaitu jumlah mana yang ada di dalam diriku yang sangat sedikit.

Berbeda dengan Serafall dan juga Sona yang memiliki jumlah mana yang melimpah ruah, aku hanya memiliki sedikit mana sehingga bakat sihirku menjadi sangat terhambat. Oleh karena itu, aku tidak bisa melayani Sona atau Serafall secara langsung karena mereka belajar di salah satu pusat asosiasi para penyihir, yaitu Menara Hrivia.

Nama menara itu diambil dari nama salah satu dewi yang ada di dunia ini, yaitu Hrivia, Sang Dewi Sihir. Di dalam legenda dunia ini diceritakan bahwa Hrivia merupakan adik dari Aletheia, Dewi Pencipta. Aletheia dan Hrivia diceritakan menciptakan dunia itu bersama-sama, oleh karena itu terdapat dua pusat asosiasi penyihir yang terkenal di dunia ini, Sanctum Sanctorium yang didedikasikan untuk Aletheia dan Menara Hrivia yang didedikasikan untuk Hrivia.

Oleh karena itu, siapa pun yang terpilih oleh kedua asosiasi ini memiliki reputasi yang sangat baik. Kalau aku? Aku hanya bisa menerima nasib dengan lapang dada.

Ketika aku tengah berlatih dengan serius, seorang pria tua dengan pakaian pelayan datang menghampiriku. Rambut pria tua itu pendek dan sudah penuh dengan uban. Wajahnya memiliki rahang yang kokoh dan tegas serta sorot mata yang tajam di balik kacamatanya.

"Olivier," kataku melihat kedatangan pria tua itu.

Pria tua itu hanya memandangku dengan datar. "Aku memerlukan bantuanmu untuk menyikat kuda yang akan digunakan oleh Lord Sitri."

Aku sedikit terdiam sebelum akhirnya berkata, " Baiklah."

Aku pun berjalan bersama pria tua itu menuju ke depan gerbang. Di sana, tampaklah sebuah kereta kuda beserta alat-alat kebersihan berupa sikat dan ember besi tua yang telah penuh air sabun.

Aku mengambil sikat itu dan mulai membersihkan kuda-kuda yang menarik kereta itu. Beberapa pelayan serta prajurit yang kebetulan berada di dekat gerbang tampak berbisik-bisik sambil memandangku.

Aku menghiraukan mereka sambil terus tetap membersihkan kuda-kuda itu.

"Kerjamu lumayan juga, Pelayan." Sebuah suara ejekan terdengar di belakangku. Aku menoleh dan melihat sosok pemuda berumur dua tahun lebih tua dariku, mengenakan sebuah armor besi berwarna perak mengkilap serta sebuah jubah berbulu dari bahu menjuntai ke bawah.

Matanya menatapku dengan pandangan mengejek. Rambutnya yang pirang kecoklatan tampak berantakan meski tertiup angin sepoi-sepoi yang berembus di halaman kediaman ini.

"Ah, Sir Vykas," kataku sambil berbalik badan. "Masih berkutat dengan pedang dan boneka-boneka latihan untuk mengalahkanku?"

Raut wajahnya langsung berubah menjadi kesal. Wajahnya memerah karena malu akan perkataanku. Aku bisa mendengar suara tawa yang tertahan di sekitarku. Bukan hal aneh jika mereka tertawa, berita ini merupakan rahasia umum di mansion ini. Seorang ksatria dengan mana yang melimpah dan penguasaan yang mahir kalah melawan seorang pelayan yang masih muda, urakan dan memiliki mana yang sedikit.

Semua berawal dari tiga tahun yang lalu. Seperti biasa, aku pergi menyelinap keluar dari mansion dan bersenang-senang di kota. Yah, mau bagaimana lagi? Daripada aku harus berlatih pedang dengan ksatria serba serius seperti Sir Castellan, lebih baik aku bersenang-senang sambil melepas penat.

Ah, ya. Aku diminta oleh Lord Sitri untuk menekuni ilmu pedang setelah mengetahui bahwa mana milikku sangat sedikit. Hal itu terjadi semenjak aku menginjak umur dua belas tahun. Aku yang tentu saja sudah ahli dalam menggunakan berbagai macam senjata tajam (terima kasih kepada pengalamanku sebagai hitman di kehidupan sebelumnya), menganggap bahwa latihan yang diberikan oleh Sir Castellan cukup membosankan.

"Awas kau!" Suara Sir Vykas membuatku sedikit terbangun dari lamunanku. Aku melihat dia mengayunkan pedang besi miliknya ke arahku. Aku segera mengambil pel yang ada di dekatku dan menahan pedang Sir Vykas menggunakan gagang pel. Kebetulan sekali gagang pel yang kugunakan terbuat dari besi.

"Hei ... hei, jangan begitu Sir Vykas. Kuda-kuda ini adalah kuda kesayangan Lord Sitri dan akan beliau gunakan untuk mendatangi Istana Duke Harrington hari ini. Apa kau mau menunda jadwal Lord Sitri?" ucapku dengan menyunggingkan seringai khasku.

Dengan kesal, ia menyarungkan kembali pedangnya dan pergi begitu saja. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkah laku ksatria bangsawan itu.

"Menggoda Sir Vykas lagi?" Aku menoleh dan mendapati bahwa Lord Sitri beserta istrinya tengah menghampiriku dan kereta kuda milik Lord Sitri.

Aku menunduk hormat. "Salam, Lord dan Lady Sitri."

Lord dan Lady Sitri hanya mengangguk. Aku membukakan pintu kereta kuda dengan hati-hati. Kemudian, Lord dan Lady Sitri memasuki kereta kuda itu dengan hati-hati.

"Jangan berbuat macam-macam, Naruto. Dengarkan kata, Olivier." Lady Sitri memperingatiku. Aku hanya mengangguk.

"Baik madame," ujarku.

Kemudian, seorang kusir datang menghampiri kereta kuda itu dan membawa kereta kuda itu pun pergi ke Istana Duke Harrington. Aku hanya bisa menatap kereta kuda itu dalam diam.

Tiba-tiba saja, seorang anak kecil menghampiriku dan memberikan sebuah amplop ke arahku. Aku membukanya dan mendapati sebuah tulisan tangan yang sangat kukenali.


.~.

Halo Naruto. Bagaimana kabarmu?

Kau mungkin sudah tahu dari ayah bahwa sebentar lagi aku akan kembali dari inspeksi wilayah bukan? Sebenarnya aku sudah berada di Kota Leviatainn sedari kemarin, meskipun rombongan inspeksi masih berada di Desa Rainderhart. Bagaimana aku bisa kabur? Aku sudah menyuruh Sir Hendrik dan Sir Larstrom untuk tidak mengabari ayah kalau aku menghilang.

Aku saat ini berada di kios Dervis yang ada di distrik Ankord. Temui aku di sini karena sepertinya ada seseorang yang membutuhkan jasa kita berdua.

Itu saja ya. Aku tunggu di kedai teh Wei di distrik Levert.

Tertanda,

S.S.

.~.


Aku hanya terkekeh pelan setelah membaca surat itu. " Sona ... Sona ... tidak aku sangka kalau kau berbuat nekat seperti itu," pikirku.

Kemudian, aku melirik ke arah kanan dan kiri, memastikan bahwa Olivier atau mungkin anak buah Sir Castellan tidak sedang memperhatikanku. Setelah itu, aku berjalan mengendap-endap meninggalkan mansion Lord Sitri dan melenggang ke distrik Levert.


.

To be Continue

.


Halo semuanya, kembali bersama saya FI.Antonio no Emperor. Setelah mengupdate fic The Half Violin Prince dan Maelstrom Saga, kini giliran Reincarnated Hitman yang update. Sebenarnya chapter ini sudah saya cicil dari tahun lalu, namun karena kesibukan menjelang skripsi, akhirnya tertunda hingga sekarang.

Chapter kali ini akan mulai mengisahkan Naruto yang telah bereinkarnasi ke dunia baru. Pada chapter ini dijelaskan juga bahwa Naruto telah diadopsi oleh keluarga Sitri, namun ia memutuskan untuk menjadi seorang butler.

Untuk konsep ceritanya sendiri, saya ingin mencoba untuk menggunakan konsep cerita dari Assassin's Creed. Rencana awalnya, saya ingin menggunakan konsep dari AC Unity saja, namun setelah menonton walkthrough dari game AC Mirage, saya kepikiran, "Kenapa nggak aku gabung aja?" dan jadilah chapter ini.

Chapter berikutnya akan membahas konflik awal yang akan dihadapi oleh Naruto sebelum akhirnya ia akan masuk ke dalam The Brotherhood atau The Hidden Ones.

Mungkin itu saja dari saya, jika ada kesalahan mohon dimaafkan dan bisa dituliskan di dalam kolom review.

Akhir kata, sampai jumpa di Chapter selanjutnya.