Disclaimer! I do not own the characters, no profit is taken from this fanfic.


[chapter 01. encounter]

"Miku-chan! Aku penggemar beratmu!"

"Miku-chan! Miku-chan! Miku-chan!"

Semua teriakan dari pada penggemar di luar sana hanya kutanggapi dengan lemparan senyuman kecil, yang kutahu itu malah akan menambah suara yang sangat berisik. Sementara dari dalam gedung, para staf acara memanggilku dan berkata saatnya mempercantik diri. Aku menurut saja, segera melangkahkan kakiku di atas karpet merah menuju ruang rias—disambut jeritan para gadis di sepanjang jalan menuju gedung, yang dibatasi pita pembatas serta dijaga ketat oleh petugas keamanan.

Melihat pantulan diriku di cermin yang telah dihias dengan cantiknya, membuatku tersenyum puas. Perias wajah pribadiku sempat memuji penampilanku yang faktanya adalah hasil tangannya sendiri. Asisten pribadiku mengisyaratkan lewat manik merahnya—menyuruhku bergegas menuju panggung karena para penggemar tengah menunggu dengan antusias. Aku tetap hanya menurut, sebelum akhirnya langkahku diberhentikan oleh kameramen. Lelaki setengah baya itu memberiku beberapa arahan yang diterima otakku dengan baik.

Berusaha menenangkan diri, aku mulai mengambil napas lalu membuangnya. Setelah dipikir siap, kakiku melangkah menuju megahnya panggung dengan lampu berpendar terang dan sorakan pujian. Lagu diputar, aku mulai bernyanyi dan menari, bersama senyuman paksa yang sanggup menutupi segala kesedihan hidupku.

Di sinilah aku,

—Hatsune Miku, delapan belas tahun, seorang idola yang menyedihkan.


Now playing │ phony — KAFU, Tsumiki


kono yo de zouka yori kirei na hana wa nai wa
(there's no flower in this world more beautiful than an artificial one)

naze naraba subete wa uso de dekite iru
(that's because everything is manufactured from lies)

antipathy world

Konser berakhir dengan sambutan sorakan memuji oleh para fans yang sedari tadi tidak berhenti. Aku tetap tersenyum, seraya melambaikan tangan kepada para penggemarku. Mereka mengambil gambarku—aku tak keberatan. Setelah dirasa cukup, aku berjalan menuju kursi dan mendarat duduk melepas penat.

"Selamat siang, semuanya," sapaku seperti biasa, diiringi sebuah senyuman tipis. Kulihat sekilas wajah-wajah para penggemarku—mereka tersenyum melihatku, terlihat sangat bahagia. Senyuman itulah yang membuat senyuman pada wajahku terbentuk. "Aku senang kalian datang," ucapku lagi.

Tanpa basa-basi lagi, fansigning pun digelar. Penggemar datang bergilir sesuai nomor antrian, kusambut dengan senyuman dan sedikit percakapan. Tak jarang dari mereka yang memberiku hadiah seperti boneka, perhiasan, pakaian, bahkan barang berharga—yang kupikir tidak seharusnya diberikan padaku. Semua berjalan lancar, hingga sekitar setengah jam kemudian, seseorang datang dan mengubah segalanya.

"Miku? Miku, kan?"

Seorang pemuda bersurai biru tua datang padaku dan menanyakan pertanyaan itu. Iris teal-ku menabrak iris ocean-nya, membuat otakku mendadak memutar memori masa lalu. Lelaki ini, lelaki yang dikenal baik oleh kelima indraku sejak tiga tahun lalu. Aku melirik ke arah kaus putih dan luaran kemeja kotak-kotak biru tua yang ia kenakan. Bahkan aku masih ingat gaya berpakaiannya yang tidak berubah.

"Hai, penggemar baru, ya?" ucapku dengan senyuman tipis, berusaha terdengar normal seraya menyapanya. Ketika mendapati kedua manik ocean itu menatapku dengan sendu—sekaligus agak menyelidik, cepat-cepat kualihkan pandanganku ke album musik grupku yang ia genggam di tangan kirinya. "Baiklah, aku tanda tangani albummu, ya?" tanyaku sambil mengambil albumnya.

Aku pun mulai menggoreskan tinta spidol di halaman awal album miliknya. Namun, tiba-tiba saja aku merasakan sentuhan hangat yang membuat gerakanku terhenti. Sekarang kedua tangannya sedang menggenggam tangan kananku cukup kuat. Hendak melayangkan protes, aku menatap matanya dengan penuh keberanian—membuat lidahku menggantung di rongga mulut.

"Kamu Miku, kan?" tanyanya lagi, memastikan. Iris matanya yang teduh itu masih menatapku, lebih sendu.

"Iya, aku Miku," jawabku sekenanya.

"Harune Miku, kan?"

Rasanya jantungku memompa lebih cepat, darahku berlomba-lomba berdesir mendahului satu sama lain. Aku semakin gugup, bisa kurasakan keringat dingin mengalir di telapak tanganku. Yang aku khawatirkan akhirnya muncul. "Aku Hatsune Miku, bukan Harune."

"Kau tidak ingat? Aku Kaito," ucapnya dengan raut wajah sedih—ekspresi yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Aku melempar senyum kebingungan. "Ah, itu—"

"Maaf, waktu anda sudah habis."

Entah aku harus bersyukur atau tidak saat seorang petugas keamanan mengusir pemuda itu dari hadapanku sebelum dia bertanya lebih banyak. Aku sempat menatapnya dengan pandangan yang, aku sendiri tidak tahu—apakah aku merindukannya atau tidak ingin bertemu lagi dengannya—sebelum seorang penggemar datang lagi kepadaku. Gadis dikuncir dua itu menginginkan perhatianku, segera saja kuberikan dan mengacuhkan segala pikiran buruk tentang Kaito.

Sebenarnya aku merindukanmu, tapi membencimu juga di waktu yang sama.

-o0o-

zetsubou no ame wa atashi no kasa o tsuite
(the rain of despair pelts my umbrella and)

shimerasu maegami to kokoro no rimen
(dampens my bangs and the hidden side of my heart)

wazurawashii wa
(oh, it's all so troublesome)

Aku melirik ke arah seorang gadis yang memiliki surai hijau sebahu. Dia berkumpul bersama kedua temannya, tengah menonton sesuatu melalui ponselnya dan berteriak-teriak tidak jelas—kadang menyebutkan nama yang tidak kutangkap dengan baik. Mereka cukup berisik di dalam ruang kelas yang kecil ini, dan aku butuh konsentrasi penuh untuk belajar mata kuliah selanjutnya.

"Nakajima, tidak bisakah kalian mengecilkan suara?" tanyaku dengan nada seramah mungkin.

Ketiga gadis tersebut langsung menatapku dengan raut sedih yang dibuat-buat. "Sebentar saja, Shion-san. Lumiere sedang mengadakan live streaming music video dan aku harus menjadi penonton pertamanya!" jawab seorang gadis dengan rambut merah ikal yang dikuncir kembar tinggi.

"Mau lihat juga, Kaito?" tanya gadis bersurai hijau sebahu itu, temanku sejak sekolah menengah atas—Nakajima Gumi—sambil menahan tawanya. Lantas ia menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya.

Penasaran dengan "Lumiere" yang disebut Teto, aku pun menerima tawaran Gumi dan duduk di sebelahnya. "Kalian menonton apa?"

Gadis yang berada di sebelah kiri Nakajima, dengan surai kuning terang sebetis yang diikat menyamping, langsung menyodorkan ponsel yang ia genggam untuk menjawab pertanyaanku. Indra penglihatanku mulai mencerna pemandangan di dalam layar persegi panjang itu. Empat gadis dengan masing-masing bersurai kuning, toska, merah muda, dan cokelat, sedang menari dan menyanyi ditemani sorot lampu yang menyilaukan mata. Gadis bersurai toska yang diikat dua langsung menyita perhatianku.

"Akita-san, siapa dia?"

Iris kuning Neru mengikuti ujung jari telunjukku. "Wow, seorang Shion Kaito langsung terpana oleh kecantikan maut seorang Hatsune Miku," jawabnya dengan nada mengejek. Ucapan itu berhasil membuat dua manusia lain tertawa terbahak.

Nama yang disebut Neru membuat perutku tergelitik. "Namanya, Hatsune… Miku?" tanyaku hati-hati. Tiga gadis yang masih tenggelam dalam sisa-sisa tawa hanya sanggup mengangguk untuk menjawab pertanyaanku.

Aku menyandarkan punggungku ke kursi, mundur dari hiruk-pikuk ketiga gadis itu. Mataku berusaha menerawang layar ponsel dari jauh—sekarang Hatsune Miku itu sedang berakting entah tentang apa.

Gumi menyadari perubahan atmosferku. "Kenapa, Kai?"

"Dia umur berapa?" tanyaku lagi, hanya memastikan.

Gumi berpikir sejenak. "Tahun ini delapan belas, ya? Dia kelahiran dua ribu tujuh," jawabnya setelah bertanya pada kedua temannya. "Dia memang lebih muda dari kita. Apa jangan-jangan kau sudah jatuh hati padanya?"

Aku hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum aneh.

—aku, Shion Kaito, dua puluh tahun, tengah menunggu seseorang yang menghilang sejak lama.

-o0o-

itsushika kotonoha wa tou ni karekitte
(before I knew it, the words had already withered)

koto no mi ga atashi ni urete iru
(the fruit of the truth is ripening within me)

kagami ni utsuri uso o egaite mizukara o miushinatta meiku
(painting lies upon the mirror's reflection, a "makeup" of the loss of oneself)

"Miku-chan, ada lipstik?"

Tanganku mengaduk-aduk isi tas kecil yang berada di atas meja rias. Setelah menemukan barang yang diminta, aku mengecek warna lipstik terlebih dahulu sebelum mengopernya ke tangan ramping di sebelahku. Surai cokelatnya bergerak turun saat dia tersenyum berterima kasih. Aku hanya membalas menggunakan anggukan, membuatnya segera menggunakan lipstik tersebut sembari becermin dari tempat duduknya..

"Hatsune-sama, mau pakai warna apa?"

Jari jemariku menunjuk warna yang kusukai—merah muda, seperti biasa. Pemilik surai biru laut itu menyapukan lipstik berwarna pucat pada bibirku, lalu perlahan menambah intensitasnya. Pandanganku fokus pada pantulan cermin yang menampilkan bayangan wajah sempurnaku.

"Terima kasih, Aoki-san."

Seseorang tiba-tiba menyambar bahuku ketika Aoki sudah pergi keluar ruang rias. Surai cokelatnya menggelitik leherku ketika ia menatap lurus ke cermin. Kedua lengannya mendekap diriku dari belakang. Iris kembar yang senada dengan warna rambutnya melebar dihiasi senyuman manis.

"Hari ini kau terlihat seperti bunga yang sedang mekar!" pujinya, bersama senyuman yang tidak pudar dari wajahnya.

Aku terkekeh pelan. "Maksud Meiko-nee, biasanya aku seperti bunga yang layu?"

Gadis ini—Sakine Meiko—menyandarkan kepalanya di kepalaku. "Akhir-akhir ini raut wajahmu tidak bagus. Ada masalah?"

Aku memejamkan mata, merasakan telapak tangan Meiko yang mulai mengelus punggung tanganku. Hangat. "Aku hanya tidak suka becermin, rasanya seperti bukan aku," balasku sambil menghela napas dengan berat.

"Kenapa tiba-tiba? Sebelumnya kau tidak pernah mengeluh tentang ini."

Aku membuka mata, seiring dengan tawa kecil yang muncul. "Kira-kira Meito-san memperbolehkanku mengubah warna rambut tidak, ya?" tanyaku—bermaksud mengalihkan pembicaraan, sembari memainkan rambutku yang sudah dikuncir dua dengan jari telunjuk tangan kiriku.

Meiko meringis jenaka. "Hei, walaupun Meito itu kakakku, dia tidak akan berbaik hati seperti itu," jawabnya sambil mengelus puncak kepalaku. "Lagipula warna representasi kita sudah ditentukan dari sebelum debut, sesuai warna asli rambut kita. Sepertinya akan berlebihan jika kau ingin memalsukannya juga."

Aku menunduk, berusaha menyembunyikan wajahku. Semua bagian dari diriku sudah menjadi palsu sejak dua tahun lalu.

"Hatsune Miku-san, Kagamine Rin-san, Megurine Luka-san, dan Sakine Meiko-san, dimohon berkumpul di sini!" Teriakan dari seorang staf laki-laki dari luar ruangan membuat aku dan Meiko terkejut. Aku langsung bangkit dari duduk, ditemani genggaman hangat dari tangan lembut Meiko.

"Ingat, ya, Miku-chan. Selama hatimu tidak berubah, dirimu tetaplah dirimu."

Aku sedikit terperangah mendengarnya, setelahnya aku membalas dengan senyuman lebar—palsu, tapi sungguh tulus berterima kasih untuk kata-katanya. Kami pun bergegas menuju sumber suara, tempat berkumpulnya anggota Lumiere—keluargaku.

masalahnya, aku sudah tidak tahu siapa diri asliku.

-o0o-

papapparapappararappappa

nazonazo kazoete asobimashou
(let's play a game where we count all the riddles)

tatattaratattararattatta

naze naze koko de odotte iru deshou
(why, oh why do we dance in this place?)

"Nakajima, menurutmu dia mirip seseorang tidak?"

Pertanyaan yang keluar dari mulutku dibalas tatapan aneh Gumi. Lantas ia merapatkan mantelnya, napasnya yang berhembus menciptakan uap dingin di sekitar wajahnya. "Maksudmu adik kelas kita yang pernah kau pacari itu?"

Aku hanya mengangguk dalam diam.

"Mukanya memang mirip sedikit, sih. Tapi dia sendiri yang bilang kalau wajahnya itu asli dari lahir. Yah, kau taulah ada tujuh kembaran kita di dunia ini," jawab gadis itu sambil melucu. Setelah itu bola mata zamrudnya menatapku dengan serius. "Kau harus move on."

Aku tidak membalas karena tidak yakin apakah aku bisa melakukannya. Aku sedang menatap serpihan salju yang turun perlahan menyelimuti daratan—salah satu bulirnya menyentuh punggung tanganku—ketika Gumi menyerukan namaku untuk bergabung bersamanya. Sudah ada Neru, Teto, dan beberapa temannya sesama penggemar Lumiere. Kerumunan mulai ramai, orang-orang berdatangan untuk berebut kursi paling eksklusif di konser kali ini. Setelah berhasil berjalan bersama Gumi dan teman-temannya, aku menatap spanduk besar yang memuat potret seluruh anggota Lumiere, masing-masing satu. Tentu saja pandanganku hanya terfokus pada gadis toska bernama Hatsune Miku itu.

tapi, aku sudah bertekad untuk tidak melepaskannya lagi.

-o0o-

kantan na koto mo wakaranai wa atashi tte nan dakke
(I can't understand even the simplest of things; what even am I?)

sore sura yoru no te ni hodasarete ai no you ni (kieru, kieru)
(even that, stirred by the hand of the night; just like love, (it disappears, it disappears))

sayounara mo ienu mama naita phony phony phony
(I cried, still unable to say even goodbye, phony phony phony)

uso ni karamatte iru atashi wa phony
(tangled up in lies, I am a phony)

antipathy world

"Sekarang kita memasuki sesi tanya-jawab bersama Lumiere!" Meiko, sebagai leader grup, tengah memandu para anggotanya untuk duduk di kursi yang sudah disediakan oleh staf. Aku memilih duduk di sebelah kanan Meiko.

"Kami sudah memilah beberapa pertanyaan dari Clair, dan sekarang kami akan menjawabnya," ucap Meiko, kemudian tersenyum pada anggota lain dan Clair—fans Lumiere—secara bergantian. Orang-orang bersorak dari bawah panggung.

"Kita bacakan pertanyaan pertama, ya! Kalian sudah siap?" tanya Meiko sembari menatap tiga anggotanya, meminta persetujuan. Tentu saja kami semua menjawab siap menggunakan mikrofon masing-masing.

Layar besar di belakang kami menampilkan sebuah tangkapan layar dari aplikasi Twitter yang memuat tiga baris kalimat. "Pertanyaan pertama ditujukan untuk Miku-chan!" seru Meiko seraya memberikan tepuk tangan untukku, kemudian lanjut membaca melalui layar kecil di hadapan kami. "Miku, anda sangatlah cantik! Apakah ada tips dan trik untuk merawat wajah? Rasanya kecantikan anda seperti tidak nyata! Wah, pasti semuanya setuju dengan pernyataan ini." Orang-orang kembali bersorak karena ucapan Meiko.

Aku mengangkat mikrofon ke depan mulutku. "Terima kasih! Untuk tips dan trik sepertinya tidak ada, ya…" aku berpikir sejenak, "aku tetap memakai produk perawatan wajah secara teratur. Ah, paling penting mengurangi konsumsi minyak dan tidur yang cukup!"

"Dengan kata lain, kau hanya ingin bilang bahwa kecantikanmu itu dari lahir, kan?" Gadis bersurai merah muda yang duduk di pinggir kanan langsung menyahut. Semua orang ikut tertawa karenanya.

Aku juga tertawa kecil. "Aku bisa setuju dengan perkataan Luka-nee." Gadis itu, Megurine Luka, hanya tersenyum bangga menanggapinya. Tentu saja dia hanya bercanda—sarkas, dan kami sudah terbiasa.

Seorang gadis dengan rambut pendek yang berada di barisan paling depan berusaha mengatakan sesuatu. Meiko menangkapnya, lalu maju ke depan dan bertanya padanya secara personal. Saat gadis itu menjawab, Meiko menyerahkan mikrofonnya. "Bisakah Miku-chan menunjukkan foto sebelum debutnya?" ucapnya kemudian, membuat penonton riuh.

aku benci pertanyaan ini.

Meiko telah kembali pada tempat duduknya. "Wow, seorang Hatsune Miku memang memiliki kehidupan privat saat sebelum debut. Tapi, akankah dia mengungkapkannya kali ini?"

Gadis bersurai kuning yang duduk di sebelah kananku—Kagamine Rin—berkali-kali menyahut, "tidak mungkin!" dengan ekspresi konyol. Meiko membuat raut penasaran, sementara Luka menggeleng pasti. Penonton mulai antusias, menyerukan persetujuan mereka, berharap jawaban "iya" yang keluar dari mulutku.

Aku tersenyum enggan. "Seperti kata Meiko-nee, hal tersebut adalah privasiku."

tentu saja aku tidak serampangan, aku bisa ketahuan melakukan operasi plastik.

Berikutnya, berbagai suara yang terdengar hanya mengekspresikan kekecewaan para penggemar. Dengan cepat aku mengoreksi ucapanku, "saat sekolah menengah atas, aku sangat tidak keren, jadi aku malu untuk menunjukkannya."

"Padahal, kurang dari sepuluh detik yang lalu orang ini bilang bahwa dirinya cantik dari lahir," Luka langsung menanggapi ucapanku, membuat penonton tertawa.

Aku pura-pura merengut. "Kalian boleh melihat foto saat aku masih kecil," ucapku sambil memberi kode pada operator, lalu beberapa potret saat aku belum menyentuh umur lima tahun muncul di layar besar. Sekarang penonton sedang bersorak senang sebagai respon.

"Miku–nee lucu sekali!" Rin berkomentar dengan mata berbinar, "ini bisa dijadikan jimat keberuntungan!"

Luka mendelik. "Astaga, Rin. Berhenti menyebar omong kosong seperti itu."

Rin pundung ke pojok panggung, Luka harus membujuknya tiga-empat kali agar anak itu mau kembali ke tempat duduknya. Para penonton dipenuhi gelak tawa karena pemandangan tersebut. Setelah itu, Meiko membacakan pertanyaan selanjutnya—yang untungnya bukan untukku.

Maaf, aku benar-benar seseorang yang palsu.

-o0o-

itsushika sora no ne ga iya ni nariatte
(before I knew it, the mimicked cries joined the unpleasant chorus)

iro no me ga anata o toite iru
(their eyes, leery, are dissolving you)

kagami ni utsuru atashi o kaite
(I am missing from the mirror's reflection)

dare shimo ga mi machigatta feiku
(there is only a "fake" that everyone mistook for someone else)

"denshion de tsutaeru yo"

Suara riuh tepuk tangan dan jeritan menjadi latar panggung saat ini. Keempat gadis itu, Lumiere, berdiri bergandengan dan menunduk hormat bersama-sama. Setelah beberapa detik, mereka kembali menaikkan punggungnya, lalu tersenyum dan melambai-lambaikan tangannya masing-masing. "Terima kasih sudah datang, semuanya!"

Instrumen lagu lain terdengar, kali ini lebih melankolis. Mereka berpencar, mengambil posisi agar semua penonton bisa melihat dengan jelas. Kebetulan Miku berada di depan barisanku, namun tentu saja berjarak puluhan orang. Dia membetulkan posisi mik yang menempel di pipinya. "Ayo bernyanyi bersama! Karakuri Pierrot!" ajaknya kemudian.

Ketika semua orang bernyanyi, aku hanya diam—walau sebenarnya aku tahu keseluruhan lirik dan melodinya. Lidahku terlalu kaku, tak sanggup mengeluarkan suara sedikit pun. Aku hanya memberikan perhatian penuh pada indra penglihat yang mulai memfokuskan satu objek. Aku mulai cemburu pada cahaya matahari yang bisa mencium surai toskanya dengan bebas, terasa halus dan bersinar. Dia mengenakan atasan tanpa lengan dan rok pendek, membuatku penasaran—tidakkah kamu kedinginan? Faktanya, dalam cuaca seperti ini pun ia tetap melempar senyum dan menyanyi serta menari seperti tidak ada apa-apa. Tanpa sadar tanganku merapatkan mantel biru tua yang kupakai, terpikir ingin memakaikan kehangatan ini padanya.

Aku tidak suka senyumannya yang sekarang—senyum penuh kepalsuan.

Tiba-tiba sebuah ide gila mengilhamiku.

Aku ingin menguak wajah asli di balik topengnya itu.

-o0o-

dou shite ai nante mono ni muragari sore o hossite ikiru no da
(how do we live, as we crowd around and lust after that thing known as love?)

kyou mo oyoide iru yoru no densha ga toori satte iku
(I'm swimming today again, as the night-train is passing me by)

odori akase yo
(dance the night away)

"Banyak sekali Clair yang menyebutkan tentang debut solo Miku-chan! Tentu saja karena dia adalah member pertama yang melakukan debut solo! Selamat atas debutmu!" Meiko memberikan tepuk tangan untukku, diikuti oleh para penonton. Aku menunduk hormat membalasnya. Kami berempat kembali duduk di bangku masing-masing karena sesi tanya-jawab memasuki babak kedua. Aku duduk di antara Rin dan Luka—karena rupanya anak itu masih merajuk.

"Jadi, Clair penasaran tentang lagu Patchwork Staccato karena kamu sendiri yang menulis liriknya, ya?" tanya Meiko seraya menatap para penonton dan aku bergantian.

Aku meraih mikrofonku. "Iya. Bisa dibilang aku yang menyumbangkan ide, lalu composer melakukan koreksi sedikit agar selaras dengan melodi," jawabku dengan senyum manis—berbangga karena lagu ciptaanku laris manis.

Meiko mengangguk-angguk antusias saat penonton bersorak. "Kalau begitu, apa latar belakang yang membuatmu menulis lagu itu?"

Tanpa sadar, mataku meredup. "Sebenarnya lagu itu menceritakan tentang seseorang yang berada dalam suatu hubungan, tapi tidak berjalan lancar karena pasangannya memiliki banyak kesibukan sehingga dia merasa kesepian. Akhirnya dia berani mengakhiri hubungan tersebut," jawabku sambil menerawang langit—entahlah, aku terlalu takut untuk menatap siapa pun.

"Wah, maknanya dalam sekali. Pengalaman pribadi?"

Celetukan Luka membuat kesadaranku kembali, hampir tersedak oleh ucapan itu. Hatiku mulai panik saat para penonton semakin berisik, mendesakku untuk menjawab. Astaga Luka-nee, kenapa harus pertanyaan seperti itu, sih?

"Luka-nee bicara apa? Miku-nee itu tidak pernah mau terlibat dalam hubungan dengan laki-laki." Rin tiba-tiba menyahut dengan raut mengejek. Luka hanya balas mencibir, lagi-lagi membuat para penonton tertawa.

"Kalau begitu apakah dia masih mencintai mantan pacarnya?" tanya Meiko, kembali fokus padaku.

Aku menutup mata sebentar, bayangan seorang lelaki bersurai biru tua melewati benakku. "Sesuai yang ada di lirik, ya… mungkin masih."

papapparapappararappappa

nazonazo damashite utaimashou
(let us sing and deceive with riddles)

tatattaratattararattatta

naze naze koko ga itamu no deshou
(why, oh why, does it hurt here so much?)

Karena napasku tinggal sedikit, aku memutuskan tidak menghabiskan banyak tenaga untuk menari. Berhubung lagu soloku bernada pelan, aku bisa bernyanyi dengan santai. Kakiku bergerak ke kanan dan kiri bergantian, bersamaan dengan kedua tanganku yang melakukan koreografi. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, membuat lautan lightstick biru kehijauan—warna representasiku—yang dilambaikan sesuai ritme oleh para penggemar lebih bersinar. Aku sangat menyukai pemandangan ini.

"kimi yo isso isso inaku nare"

Saat bagian reff tiba, banyak gadis yang awalnya bernyanyi pelan menjadi berteriak. Mereka semakin menggerakkan lightstick pada genggaman masing-masing secara agresif. Jika itu merupakan bentuk 'berhubungan dengan hidup' mereka, maka aku ingin ikut meneriakkan lirik ini.

Aku tak ingin kau ada di sini sekarang.

Namun, semakin aku berteriak dalam hati, bayang-bayangnya semakin jelas. Pandanganku memburam. Sepersekian detik setelahnya, aku sadar bahwa hal yang kuanggap hanya ada di anganku itu ternyata berwujud. Dia, surai biru gelap itu, mata ocean itu, sedang menatapku dari kerumunan penonton. Hampir saja aku kehilangan keseimbangan. Entah kenapa mataku bisa menemukannya di antara ratusan penonton, padahal jarak kami juga cukup jauh. Tidak ingin terdistraksi lebih jauh, aku langsung mengalihkan pandangan ke arah lain—bersama jantung yang masih berdegup kencang.

Tapi, mungkin aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu. Karena kalau begitu, akan sedikit menyakitkan.

-o0o-

sanzan na hibi wa kawaranai wa
(I can't change these miserable days)

zetsubou no ame wa yamanai wa
(this rain of despair just won't let up)

sayounara mo ienu mama naita phony phony phony
(I cried, still unable to say even goodbye, phony phony phony)

uso ni karamatte iru tada
(I'm just tangled up in lies)

"Selamat beristirahat, semuanya!"

Setelah membungkuk hormat seraya mengucapkan terima kasih kepada beberapa staf, aku langsung melesat ke ruang tunggu Lumiere. Tanganku meraih mantel hitam yang dilipat rapi di sudut sofa, lalu bergegas memakainya. Badanku hampir membeku kalau saja alat pemanas ruangan tidak menyala. Aku mendudukkan diri ke sofa, merasakan hangatnya udara yang mulai menyebar ke seisi ruangan, sembari menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku. Selang beberapa detik, tiga anggota grupku menyusul masuk.

"Gila, ya. Kita banyak bergerak tapi tidak berkeringat setetes pun," komentar Luka sambil memakai mantel kremnya.

"Namanya juga hari pertama turun salju," balas Rin sambil meringis, lalu mendarat di sofa dan memelukku setelah memanggil namaku dengan nada manja. Badannya sudah dibungkus oleh mantel kuning favoritnya.

Aku menyambut Rin seraya mengelus puncak kepalanya—hal yang paling ia suka. Dia tersenyum lebar sebagai balasan. Meiko dan Luka yang kelelahan ikut merebahkan diri di sofa lainnya. Semuanya sudah melakukan yang terbaik, dan baru kali ini kami harus tampil di bawah curahan salju. Aku menatap wajah Luka yang sekarang tengah menatap layar ponselnya, ingat bagaimana tadi ia mengumpat saat ketua penyelenggara memberikan perintah untuk tetap menjalankan konser. Bergeser sedikit ke Meiko yang sudah terlelap bersandar di lengan sofa, ingat bagaimana tadi ia menasehati Luka untuk menjaga sikapnya. Aku mendongak, menatap langit-langit, memejamkan mata. Aku juga ingat bagaimana tadi lelaki biru itu tiba-tiba muncul di antara ratusan orang, menyaksikan konserku.

Aku penasaran, bagaimana perasaanmu saat melihatku di atas panggung?

-o0o-

kantan na koto mo wakaranai wa atashi tte nan dakke
(I can't understand even the simplest of things; what even am I?)

sore sura yoru no te ni hodasarete ai no you ni (kieru, kieru)
(even that, stirred by the hand of the night; just like love, (it disappears, it disappears))

"Terima kasih atas kerjasamanya hari ini!"

Aku menundukkan kepalaku kepada semua orang yang berada di belakang panggung. Rin, Meiko, dan Luka juga melakukan hal yang sama. Beberapa kru membalas hormat, hingga kami menaikkan kembali kepala kami. Setelah berbincang sebentar dengan ketiga anggotaku, aku memutuskan untuk beristirahat. Segera kulangkahkan kaki menuju ruang tunggu pribadiku, lalu meraih sebuah kursi yang kutemukan empuk saat mendudukinya. Saat pandanganku terlempar ke depan, lagi-lagi cermin menampakkan wajah yang tidak kukenal—terlihat kelelahan. Aku benci ekspresi ini.

Seorang staf masuk ke ruanganku, memecah keheningan yang kucipta sendiri. Tangannya menggenggam segelas teh hijau. "Silakan minumnya, Hatsune-san," ucapnya kemudian, menyodorkan minuman pesananku. Dia juga meraih mantel hijau gelapku dari gantungan di sudut ruang, lalu menyampirkannya di bahu telanjangku. Bersamaan dengan senyuman hormat, surai ungunya ikut bergerak.

"Terima kasih banyak," ucapku, balas tersenyum juga—membuang jauh-jauh ekspresi jelek sebelumnya. Segera aku mengambil gelas itu dari tangannya.

Setelah staf itu pergi, aku kembali tenggelam pada kesunyian. Aku pun mengalihkan pikiran ke teh hijau khas Jepang favoritku. Bibirku menyentuh permukaan gelas kaca, memasukkan larutan tawar itu ke dalam lambungku. Sensasi hangat menyebar ke seluruh tubuhku. Mulai merasa kedinginan, aku memakai mantel dengan benar—memasukkan masing-masing tangan ke lubang yang tersedia.

Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar di telingaku. Seorang staf laki-laki yang tak kukenal muncul ketika pintu itu dibuka. "Maaf, Meito-sama memanggil anda."

sayounara mata ne to tsubuyaita phony phony phony
(goodbye, see you later, I murmured; phony, phony, phony)

uso ni karamatte iru atashi wa phony
(tangled up in lies, I am a phony)

Tanpa basa-basi, aku langsung melesat ke arah ruangan manajer grupku, dituntun oleh staf tadi. Namun lelaki berbadan tegap dan bersurai cokelat yang sangat mirip dengan Meiko itu sudah menungguku di depan pintu ruang pribadinya. Setelah memastikan pertemuanku dengan Meito tercipta, staf laki-laki itu langsung pamit undur diri.

"Miku-chan!" sapanya sepersekian detik setelah melihatku, seperti ada sesuatu yang diburu-buru. "Akhir-akhir ini kau kesusahan karena Yowane-san mengundurkan diri, kan?"

Aku mengangguk sebagai jawaban.

Surai cokelatnya bergerak-gerak antusias saat ia melayangkan senyuman lebar. "Kalau begitu, aku ingin memperkenalkanmu dengan asisten barumu."

Aku sedang merapatkan mantel ketika Meito membuka pintu ruangannya. Jendela besarnya tidak ditutup, membuat angin berhamburan menerpa wajahku. Sinar matahari siang membuat mataku menyipit, tiba-tiba muncul dari sela-sela jendela. Lamat-lamat aku melihat seseorang sedang duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kayu. Setelah pandanganku beradaptasi dengan cahaya, sosok pemuda bersurai biru tua itu semakin jelas terlihat.

Iris teal-ku membulat sempurna, sangat kontras dengan pemuda itu yang tengah tersenyum lembut padaku.

zouka dake ga shitte iru himitsu no phony
(only the artificial flowers know this secret phony)

"Selamat siang, Hatsune Miku-san. Nama saya Shion Kaito, saya berumur dua puluh tahun, dan sekarang sedang berkuliah di Universitas Tokyo. Saya bekerja part-time sebagai asisten pribadi anda."

Ini bencana.

-o0o-