Barbatos
.
Disclaimer:
Naruto [Masashi Kishimoto]
Singeki no Kyojin [Hajime isayama]
Dan semua sumber anime yang bersangkutan Bukan milik kyo.
Yang terpenting saya tak mengambil keuntungan apapun dari sumber anime atau character yang saya pinjam untuk fiction yang saya publish.
Rate : M
Pair: Naruto x Mikasa x Annie
Genre : Scy-Fi, Adventure, Romance.
Warning!: Imajinasi liar!, Ooc, AU, Typo, Isekai, Etc, Don't like don't read!.
Summary: Sebuah perang akhir yang terjadi disebuah dunia dengan penuh alat penghancur yang dikendarai oleh manusia. Sebuah Mobile Suit dengan pilot yang mengendarainya harus terlempar ke sebuah dunia yang juga sedang dilanda perang antara manusia dengan raksasa yang disebut Titan. Perang antara para raksasa dan raksasa logam.
.
Chapter 4: Revealed facts.
.
.
Opening song:
Hotaru no Hikari by Ikimonogakari
.
.
.
.
Disebuah bangunan tua yang terlihat seperti kastil dengan bangunannya yang agak rusak namun masih terlihat bagus dan layak ditempati.
Malam yang indah dengan langit gelap yang dipenuhi cahaya bulan dan bintang yang bertebaran di karpet tanpa ujung itu.
Seorang gadis cantik berbaju putih dengan jaket coklat yang berlambangkan sayap kebebasan dipunggungnya itu nampak duduk di atas bangunan kastil itu.
Dengan api unggun yang menyala dan beberapa daging yang dipanggang terlihat diatas api unggun yang menyala indah dimalam hari.
Gadis itu membolak balik daging kelinci hasil buruan pria menjengkelkan yang menculiknya siang tadi.
Hanya karena sebuah janji, gadis itu harus menjadi tahanan pribadi pria pirang yang sedang memperbaiki suku cadang raksasa logam disamping kastil itu.
Tak henti-hentinya gadis itu melirik kesamping kanannya beberapa kali dengan wajah kesalnya pada sang pria penculik gadis manis itu.
"Benda itu tak akan berubah meski kau apakan juga. Disini juga tak ada suku cadang untuk logam itu.. kau tak akan bisa memperbaikinya, baka.."
Naruto yang mendengar celetukan gadis berwajah datar itu hanya melirik sejenak tanpa menghentikan kegiatan pengecekan nya pada Barbatos.
"Aku tak peduli apa katamu.. Barbatos itu istimewa.. dia lebih dari sekedar mesin untukku. Dia adalah sahabatku yang menemaniku dalam setiap pertempuran di tempat kami." Ucap Naruto datar.
Gadis itu menghentikan kegiatannya sebentar dan melirik wajah logam Barbatos yang menurutnya mengerikan itu. Hanya sebentar dan kembali melanjutkan kegiatannya memanggang daging itu dan menaruhnya ke sebuah daun lebar yang telah dia siapkan untuk alas makan mereka berdua.
"Dagingnya sudah matang.. cepat makanlah. Kau bisa melanjutkannya nanti." Ujar Mikasa yang melepas jaketnya dan menggantungnya di dinding belakangnya yang sudah dia siapkan kayu untuk menggantungnya.
"Souka? Baiklah.. apa daging yang dibakar dengan bumbu seadanya itu enak? Kalau tidak kau yang ku makan.."
Ujar Naruto yang menghentikan aktifitasnya dan berjalan mendekati gadis itu. Kemudian duduk didekat api unggun itu yang terdapat makanan disampingnya.
Gadis yang dimaksudnya terdiam sejenak mendengar ucapan Naruto dengan sedikit rona merah muncul dipipinya. Dimana gadis itu sedang menguncir rambut belakangnya yang sedang membelakangi Naruto.
Naruto yang melihat tubuh indah Mikasa dari belakang sedikit menelan ludahnya yang tercekat. Namun wajah datarnya menyembunyikan perasaan aneh yang muncul ketika melihat tubuh gadis itu.
"Makan saja.. Sepertinya kau suka makan daging manusia. Atau ditempatmu sebelumnya kau adalah manusia yang memakan sesama manusia?" ujar Mikasa yang berkacak pinggang menatap tajam Naruto.
Naruto yang mendapat tatapan tajam hanya mendecih seraya membuang mukanya kearah lain. Menghindari kontak mata Mikasa yang malah berjalan mendekatinya.
Sret!
Glub!
"Aumph! Aumpha yang kau lakukan!"
Gadis itu langsung mengambil sepotong daging kelinci bakar didekat api itu dan memasukkannya dengan paksa ke mulut Naruto yang terkejut.
Membuat mulut pria pirang itu penuh dengan daging yang dipaksa masuk ke mulutnya oleh sang pelaku yang menatap datar pria pirang itu.
"Kau tinggal makan saja banyak bicara." Ujar Mikasa yang kemudian menghiraukan Naruto dan memakan jatah daging yang tersisa di atas daun itu.
Naruto yang nampak kesal segera melahap habis dagingnya dan menyeringai ketika sesuatu terlintas dipikirannya untuk membalas gadis itu.
"Ehm.. yah lumayan lah untuk makan malam hari ini. Ugh.. aku masih lapar. Mungkin karena aku yang baru sadar.." gumam Naruto lirih dengan wajah tanpa dosanya.
Mikasa yang mendengarnya hanya memandang datar pria itu dan melanjutkan menggigit daging ditangan kanannya. Membiarkan Naruto yang melirik dengan iris matanya seraya perlahan menggeser tubuhnya mendekati gadis disamping kirinya.
Sret
Aum!
Dengan sengaja Naruto menggit daging yang sedang digigit Mikasa dimulutnya. Hingga membuat keduanya menghentikan kegiatan meteka dan saling bertatapan dengan jarak terpisahkan daging kelinci itu.
1 detik, 3 detik.. semburat merah dipipi Mikasa semakin kentara dengan Naruto yang langsung menarik lepas jatah gigitannya dan kembali ke posisinya disamping gadis itu dan mengunyah makanan dimulutnya tanpa rasa bersalah.
Sementara gadis yang masih loading itu kembali konek dan menghabiskan sisa daging panggangnya dengan wajah bersemu merah di wajah datarnya tersebut.
"Hm.. punyamu lebih enak ternyata. Kau memang pandai memasak rupanya."
Ucap Naruto dengan sebuah senyum diwajah datarnya menatap gadis cantik disampingnya itu.
Sementara yang menjadi objek pembicaraan wajahnya semakin memerah dengan wajah yang berpaling dari pria pirang itu.
"T-trimakasih.."
Sebuah gumaman lirih yang masih terdengar jelas ditelinga Naruto yang dalam batinnya menyeringai kemenangan.
Sret!
Gadis itu seketika mematung dengan tubuh menegang. Ketika pria pirang disampingnya dengan tiba-tiba tidur disampingnya dengan pahanya sebagai bantalan. Membuat rona merah diwajah gadis cantik itu semakin jelas terlihat.
"A-Apa yang kau lakukan, Baka?" Ujar Mikasa yang menatap wajah Naruto dibawahnya yang memejamkan matanya dengan dahi yang berkerut.
"Agh.. kepalaku masih pusing, Mikasa-chan.. ijinkan aku menggunakan pahami sebagai bantal sebentar saja." Ujar Naruto yang mengarahkan tangan kanan mikasa untuk menyentuh dahinya itu.
Tanpa sadar membuat gadis itu sedikit panik dan memijat kepala pirang itu perlahan dengan wajah datarnya yang memerah.
'khukhu.. kena kau' batin Naruto penuh kemenangan.
Dalam hati gadis itu memang sedikit khawatir dengan keadaan pria pirang itu. Apalagi pria itu yang baru sadar dari pingsannya tentu saja akan sedikit membutuhkan banyak waktu istirahat.
Dirinya teringat dengan Eren yang dulu selalu membantunya saat dirinya sedang kesulitan. Pria itulah yang selalu menyemangatinya dan membuka jalan untuknya disetiap problem.
Naruto yang melihat pandangan kosong Mikasa paham. Gadis itu sedang memikirkan sesuatu. Yang jelas pasti orang-orang di dalam tembok itu.
"Ne, Mikasa-chan.. aku ingin bertanya padamu.. kau belum memberikan semua informasi yang ku butuhkan." Ujar Naruto memecah keheningan tanpa merubah posisinya sama sekali.
Gadis yang dipanggilnya seketika menatap wajah Naruto yang berada dibawah dadanya itu.
"Y-yah.. apa itu Naruto-san.."
Dalam batin Naruto, gadis ini langsung berubah 180 derajat saat ini. Bahkan sebelumnya dalam pertemuannya gadis ini sangat keras kepala dan membuatnya harus bertarung sebelum gadis itu mau mengakui kekalahannya.
Tapi skarang malah seperti seekor kucing penurut yang langsung memakan ikan yang sudah di sediakan untuknya.
Kembali pada Naruto yang sedikit terpaku itu. Pria tersebut nampak memasang wajah ingin tau pada gadis yang ada diatasnya itu.
"Ceritakan padaku tentang dunia ini, Mikasa-chan.." ujar Naruto yang menunggu respon dari gadis cantik itu.
Mikasa yang masih loading mendadak itu segera sadar dari lamunannya dan sedikit tergagap ketika akan menjawab pertanyaan pria pirang itu.
"Mm.. a-aku akan memulainya dari awal.. kami adalah bangsa Eldia, dan kelompok yang kau habisi beberapa hari yang lalu itu Adalah bangsa Marley. Musuh kami.."
Ujar Mikasa yang tanpa dia sadari tangannya mengelus rambut Naruto yang juga masih menggenggam satu tangan Mikasa yang lain.
Keduanya seakan terlarut dalam perbicangan dengan posisi mereka yang tampaknya nyaman untuk keduanya bercengkrama dimalam itu.
"Kami sudah lama bermusuhan. Hingga leluhur kami memindah semua rakyatnya ke pulau Paradise ini dan membangun dinding pelindung dari para Colosal Titan untuk melindungi kami para generasi penerusnya.." gadis itu menjeda kalimatnya dengan pikirannya berusaha mengingat semua kejadian yang telah ia lalui.
"Hingga bangsa Marley yang menyerang kami waktu itu berusaha membunuh semua Eldia yang ada, termasuk merebut kekuatan Founding Titan yang dimiliki Eren saat ini. Namun kau berhasil mengalahkan mereka dan memukul mundur Marley dari pulau ini Naruto-san.. a-aku berterimakasih padamu."
Cerita gadis itu sedikit terhenti saat merasakan jika jari telunjuknya masuk kedalam mulut pria pirang yang menatapnya polos itu. Membuat semburat merah diwajah gadis itu kembali muncul dan merasakan perasaan aneh ditubuhnya saat pria itu menghisap jari-jarinya.
"Mmm.. lalu para Titan itu apa? Apwakah semua raksasa twelanjang itu semuanywa swama?"
Naruto bertanya tanpa melepas jari Mikasa yang terasa sedap dimulutnya. Mungkin karena tadi gadis itu membumbui kelinci panggangnya sebelum membakarnya dan sisanya masih terasa di jari-jari gadis cantik itu.
Atau dirinya yang memang masih lapar.
"Enghh.. y-yah, makhluk yang kau lihat itu adalah Titan. Dan Titan yang berakal seperti yang kau lawan dengan ciri fisik dan kekuatan yang berbeda itu adalah Titan Shifter. Atau manusia yang memiliki kekuatan mampu merubah dirinya sebagai Titan dan mengendalikannya.." ujar Mikasa yang mulai menikmati apa yang dilakukan Naruto padanya tanpa sadar.
Pikirannya seakan menolak apapun yang dilakukan pria pirang itu. Namun entah kenapa tubuhnya seakan menyukainya dan tak ingin pria itu mengakhirinya.
Hingga membuat Mikasa sedikit menggigit pelan bibir bawahnya menahan sensasi aneh ditubuhnya yang merasakan jari-jarinya masih dikulum oleh Naruto dengan lidahnya.
"Begitu ya.. aku sedikit paham sekarang. Lalu kenapa kalian tak berdamai saja agar tak ada lagi pertumpahan darah antara kedua bangsa ini?" tanya Naruto yang menghentikan kulumannya dan meletakkannya di pipinya.
Entah kenapa itu membuat sensasi ditubuhnya menghilang dan sedikit membuatnya kecewa.
"Kami ingin seperti itu. Namun tak bisa jika mereka masih ingin menguasi Founding Titan milik Eren. Itu akan sangat sulit jika masih ada Titan selain kami." Balas Mikasa yang menatap datar kearah Barbatos.
"Souka? Aku akan memikirkannya nanti.."
Naruto bergumam lirih dengan mode berpikirnya. Namun itu masih dapat didengar oleh gadis cantik itu.
"Mm.. Naruto-san, kau belum menceritakan detil tentang dirimu.. b-bolehkah aku mengetahui tentang dirimu?"
Inilah yang sejak awal ingin diketahui Mikasa. Walaupun Naruto sudah memberitahukan sedikit tentang dirinya, tapi itu masih belum cukup menjelaskan semuanya.
Termasuk mesin aneh menyerupai Titan dalam bentuk logam keras itu.
Selain untuk dirinya sendiri, mungkin ini juga akan bermanfaat untuk bangsanya. sekaligus untuk mengalahkan Marley tentunya.
Naruto yang mendengar itupun merubah posisinya menjadi duduk membelakangi Mikasa dan melepas pakaian atasnya.
Gadis itu memperhatikan apa yang dilakukan Naruto dengan semu merah diwajahnya.
Seketika gadis itu syok terpaku dan diam seribu bahasa. Menatap tubuh Naruto yang tampak mengerikan jika dilihat secara langsung seperti ini.
Naruto pun berbalik dan menatap gadis cantik yang masih diam menatap tubuh pria itu dengan mulut yang ditutupi dengan tangannya.
"Na-naruto-san.."
Gadis itu hanya mampu bergumam lirih menatap apa yang tersaji didepannya saat ini.
Dimana tubuh Naruto terdapat bekas luka sayatan benda tajam. Di bawah tengkuknya terdapat 6 tonjolan kecil seperti sebuah alat yang ditanam didalam tubuh manusia. Dan sebuah kristal berwarna biru tepat di bagian dada tengahnya yang nampak bersinar.
"Aku adalah satu-satunya objek percobaan manusia buatan Humanoid Alaya-vijnana System yang mampu memperkuat gelombang Ahab pada sebuah Mobile Suit.. itulah Alaya-vijnana yang kau lihat dipunggungku."
Ucap Naruto datar yang kemudian menatap kristal di dadanya itu seraya menjeda kalimatnya. Begitupun gadis cantik itu yang ikut memandang kristal kecil segi enam di dada Naruto.
"Dan ini adalah Altheum cristal yang membantuku memperbaiki kerusakan pada Barbatos. Satu-satunya inti Cristal buatan diduniaku yang tersisa.." Ucap Naruto datar.
Semua kenangannya teringat begitu saja dipikiran pria pirang itu. Dimana sejak ia kecil dia harus menjadi kelinci percobaan System Alaya-vijnana dan berbagai percobaan genetik lainnya sebagai mesin tempur pengendali Mobile Suit.
Dia telah menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya yang tewas karena peperangan yang terjadi di daerahnya.
Namun yang membuatnya mampu bertahan hidup sampai saat ini adalah kemauannya untuk 'terus berdiri, dan menang dalam pertempuran'.
Dia tak ingin orang yang dicintainya mati dalam peperangan karena dirinya yang lemah.
Namun kenyataannya tetaplah pahit.
"Aku kehilangan semua yang ku miliki disana.. termasuk seseorang yang sangat berharga untukku.." gumam Naruto yang saat ini menolehkan wajah datarnya menatap Barbatos.
"Hanya Barbatos yang tersisa dan selalu menemaniku.. dia adalah segalanya untukku." Lanjut Naruto datar.
Gadis itu mencoba menelaah apa yang dikatakan Naruto. Mencoba mencari setitik kebohongan dalam mata pria itu.
Namun dari segi apapun, gadis itu tak melihat jika pria itu sedang berbohong ataupun bersandiwara dengan segala ceritanya.
Dalam batin gadis itu, dia sedikit paham dengan perasaan Naruto yang sekarang. Tak tau sesakit apa penderitaan yang dialami pria itu semasa kecilnya sampai sekarang ini.
Tapi dari kondisi tubuhnya itu sudah dapat disimpulkan jika jalan yang dilaluinya selama ini begitu berat.
'Ternyata masih ada yang lebih menderita daripada kami.. peperangan dimanapun sama saja. Pasti akan membawa kehancuran.' Batin gadis cantik itu yang menatap nanar pria pirang itu.
"Gomennasai, Naruto-san.. mungkin peperangan memanglah jalan yang salah, yang merugikan kedua belah pihak. Bahkan demi peperangan pun, harus mengorbankan masa depan anak-anak sebagai objek percobaan sekalipun." Gumam Mikasa lirih.
Naruto yang mendengarnya hanya berdiri dan menatap gadis itu datar dengan tangannya yang dimasukkan kedalam saku celananya.
Satu matanya tertutup menatap datar gadis cantik yang menyendu menatap kobaran api unggun dihadapannya.
"Tapi berkat mereka semua, aku bisa menjadi seperti sekarang ini.. tak perlu menyesali semua yang telah terjadi.." ujar Naruto yang berjalan mengarah kearah Barbatos dan menatap datar iris biru Barbatos tepat dihadapannya.
Membuat Mikasa yang tadi menunduk seketika menatap punggung Naruto bingung dengan sikap Naruto itu.
"A-Apa maksutmu?"
Tanya gadis itu yang juga berdiri masih menatap punggung tegap pria pirang yang menjadi lawan bicaranya saat ini.
"Takdir seseorang ada ditangan dirinya sendiri.. selama kita mau berusaha, kita masih bisa merubah takdir."
Deg!
Seketika gadis itu membolakan matanya ketika mendengar ucapan Naruto yang menolehkan kepalanya kesamping melirik dengan wajah datar penuh keyakinan.
Iris tajamnya blue shappire yang memandangnya membuat gadis itu membeku terpaku seketika.
Mungkin terdengar simpel, namun setiap perkataan pria itu nampak benar-benar realistis dengan apa yang terjadi dengan pria pirang itu.
Gadis itu menunduk dengan bibir bawahnya yang digigit perlahan. Merasakan sebuah perasaan aneh yang membuatnya memiliki semangat untuk kembali melangkah kedepan tanpa menganggap dirinya sendiri adalah sebuah beban.
Karena selama ini dia yang selalu dilindungi oleh Eren sejak kecil, menjadi seorang prajurit pengintai yang mampu menjadi seorang kapten dengan kemampuan diatas rata-rata anggota yang lain.
Dirinya sadar jika Eren yang sekuat ini sekarang, tak lagi membutuhkan bantuannya disisinya seperti dulu.
Dirinya harus bisa berdiri sendiri tanpa menjadikan Eren sebagai tujuannya lagi.
Dirinya harus bisa melangkah sendiri dan menentukan jalannya sendiri untuk masa depannya.
Bukan lagi masa depan Eren.
Greb!
Gadis itu tersentak seketika dengan iris menyendu saat Naruto yang tau kegelisahan hatinya itu mendekap dirinya penuh dengan kehangatan.
"Hiks.. hiks.. Gomennasai Naruto-san.."
Gadis itu menumpahkan isi hatinya dengan air mata yang mengalir dipipi mulusnya membasahi pakaian Naruto.
"Tak apa.. karena kau sudah berjanji padaku.. maka akupun akan berjanji padamu. Apapun yang terjadi padamu, aku akan melindungimu.. karna kau telah melindungi, dan percaya padaku.. aku tak akan membiarkan siapapun menyakitimu, Mikasa-chan.."
Ucapan datar Naruto keluar begitu saja tanpa disadari pria itu. Dia hanya mengutarakan rasa terimakasihnya karena gadis ini adalah satu-satunya orang yang mengganggap dirinya didunia yang baru ini.
Walaupun Naruto sedikit tau tentang dunia ini, namun manusia didunia ini tetaplah sama. Mereka adalah makhluk yang mempunya perasaan.
Gadis cantik itu kembali terpaku dan terdiam dalam pelukan pria pirang itu. Gadis itu pernah mendengar ucapan itu sebelumnya dari Eren.
'Apapun yang terjadi, aku akan melindungimu, Mikasa-chan!'
Ingatannya ketika mereka masih kecil saat bersama dengan Eren muncul bagaikan kaset yang diputar ulang.
"Arigatou, Naruto-kun.."
Gumaman kecil gadis itu terdengar indah ditelinga Naruto. Membuat pria itu sedikit tersenyum diwajah datarnya. Dan merasakan jika gadis itu membalas pelukannya dan semakin membenamkan wajahnya didada bidang pria pirang itu.
.
"Sudah cukup dramanya?"
Sebuah suara feminim terdengar ditelinga Naruto dan Mikasa yang masih saling mendekap itu. Membuat keduanya seketika menoleh ke sumber suara di dinding dekat pintu masuk diatas kastil tua itu.
"Annie! Kenapa kau bisa ada disini?!"
Mikasa yang tau siapa yang ada didepannya itu segera memasang kuda-kudanya didepan Naruto. Menatap tajam gadis cantik berambut pirang diikat itu.
"Kau tanyakan sendiri pada kekasihmu itu, Mikasa.." ujar Annie yang bersidekap dada dan menyenderkan punggungnya didinding dibelakangnya.
Seketika Mikasa menoleh kearah Naruto. Membuat perempatan muncul di dahinya ketika melihat pria itu malah menatap kearah lain dengan bersiul-siul memasang wajah tak berdosa pura-pura tak tau.
Bletak!
"Ittai! Mi-mikasa-chan, apa yang kau lakukan?!" ujar Naruto yang memegangi kepalanya yang kesakitan saat Mikasa malah memukul kepalanya dengan keras hingga muncul benjolan disana.
Dengan tanpa dosa dan wajah kesal gadis itu menarik kerah Naruto dan menatap tajam pria yang menatap kearah lain menghindari kontak mata dengannya itu.
"Jelaskan Na-Ru-To-Kun.."
Dengan wajah bak Shinigami, gadis itu menatap penuh aura kematian pada Naruto yang berkeringat dingin dengan peluh disekujur tubuhnya.
Yang entah k napa keadaan saat ini nampak berubah 180 Drajat dari sifat mereka berdua itu.
"Hentikan pertengkaran kekasih yang tak berguna itu, baka.. apa maumu pirang?"
"Kami bukan kekasih!"
Ucapan Annie yang memecah perhatian keduanya itu langsung disemprot keduanya yang berkata secara bersamaan.
Membuat Annie hanya mengangguk-angguk pelan seraya memejamkan matanya diwajah datarnya.
"Hm.. hm.. itu cukup membuktikan kekompakan kalian.." balas Annie dengan wajah tanpa dosanya.
"Diam kau.. ini tak ada urusannya denganmu-"
"Baiklah.. kalau begitu tinggalkan pria itu. Biar aku pergi dengannya.."
Ucapan Mikasa dipotong seketika dengan Annie yang berjalan mendekati mereka berdua menatap datar Mikasa yang terkejut mendengar ucapan gadis cantik berambut pirang itu.
"A-apa maksutmu?" ucap Mikasa yang sedikit gelagapan menatap tajam Annie yang juga menatap datar dirinya.
"Kau bilang bukan kekasihnya, kan? Jadi tak jadi masalah untukku dekat dengannya, kan.."
"Kau-.."
Perdebatan kedua gadis itu terhenti seketika saat pria yang menjadi topik mereka berjalan kedepan Mikasa dengan wajah datarnya menatap wajah datar Annie yang berjarak hanya beberapa meter dari posisi Naruto berdiri.
"Aku memang ingin bicara denganmu. Ada hal yang ingin ku pastikan darimu.."
Ujar Naruto yang sebelah matanya tertutup menatap Annie yang juga menatap datar pria pirang tersebut.
Mikasa hanya bersidekap dada ketika melihat interaksi keduanya. Entah kenapa ketika gadis itu mengatakan hal tadi membuatnya sedikit tak suka padanya.
Apalagi status gadis itu yang merupakan musuh mereka walaupun pernah menjadi satu resiment dengannya di Scout Legion.
.
.
.
.
.
_{BARBATOS}_
.
.
.
.
.
Disebuah bangunan yang terdapat di sebuah kota didaratan Marley. Terdapat seorang pria dengan rambut pirang berkacamata dan berjanggut, menatap datar sebuah gelas dimejanya.
Bersama seorang gadis cantik berambut hitam ikal yang menatap pria dengan kacamata itu.
Satu-satunya pria berambut klimis kuning kecoklatan yang berdiri disana nampak mengeraskan rahangnya karena emosi.
"Aku menerima kabar ini dari Reiner.. kita telah dikalahkan telak oleh Paradise."
Pria berkacamata disana berbicara dengan nada rendah dan penuh kekecewaan karena menerima informasi dari rekannya yang gagal dalam menjalankan misi untuk meratakan Paradise.
"Kuso!.. kita kehilangan jejak Annie dan kehilangan hampir seluruh pasukan Marley dan para pejuang yang ikut kesana." Gumam pria berambut klimis itu yang tak bisa menahan gejolak emosinya.
Pasalnya informasi yang barusan dikatakan pria berkacamata itu bahwa pasukan yang dibawa oleh kapten Magath, Reiner dan Annie mengalami kegagalan total.
Apalagi dari informasi Reiner yang saat ini hampir sampai di pelabuhan Marley dengan satu-satunya kapal perang yang masih tersisa, bahwa Collosal Titan telah berhasil direbut. Dan Annie yang tak tau bagaimana kabarnya karena kekalahannya melawan Titan Eren dalam penyusupan Reiner disana.
"Bagaimana mungkin mesin-mesin anti Titan kita berhasil dikalahkan? Apa kekuatan Founding Titan pria itu sudah bisa dikendalikan?"
Satu-satunya gadis cantik itu bertanya pada pria berkacamata yang menjadi sumber informasi mereka sekaligus pemimpin mereka di pasukan pejuang Marley.
"Aku tak tau benda apa itu. Tapi Reiner bilang jika benda itu mampu menghabisi pasukan Marley sendirian dan mengalahkannya dalam pertarungan. Benda itu mampu mengeluarkan api dari tubuhnya dan juga terbang.." balas pria bertopeng itu yang mulai berpikir dengan informasi yang didapatnya.
"Zeke-san.. apa menurutmu mereka memiliki Titan selain kesembilan Titan yang ada? Tapi itu tak mungkin, kan? Didunia ini hanya ada 9 Titan yang sudah diketahui siapa dari pemilik dari kesemua Titan itu."
Pria berambut klimis bertanya pada pria berkacamata yang memiliki nama Zeke itu. Seraya menatap penasaran pada Zeke yang balik menatapnya.
"Itu tidak mungkin, Porco.. Selama 2000 tahun hanya ada 9 Titan didunia ini. Dan kalian tau sendiri bahwa Titan terkuat adalah Founding Titan itu sendiri. Dan Eren, masih belum bisa menguasai sepenuhnya kekuatan itu. Karena dia bukanlah keturunan dari keluarga kerajaan.." balas Zeke pada pria berambut klimis yang bernama Porco itu.
"Ck.. Kuso! Mereka telah membunuh Bertolth dan menghabisi pejuang kita. Aku tak akan memaafkan apa yang sudah mereka lakukan.. aku akan membalas kematian teman-temanku.."
Porco mengepalkan tangannya hingga memutih ketika mengingat kenangan teman-teman seperjuangannya sejak kecil hingga mereka dipilih sebagai penerus Half Titan dan berjuang sejauh ini.
Dia tak bisa menerima kematian rekan-rekannya yang sudah berjuang untuk Marley dan kekuatan mereka yang sudah direbut dan menjadi milik para iblis di pulau Paradise.
"Porco, aku tau apa yang kau rasakan. Akupun juga meraskan hal yang sama denganmu. Tapi, kita tak bisa gegabah dan mengambil tindakan yang nanti akan merugikan Marley dan para pejuang kita. Setidaknya kita harus membuat rencana yang matang agar bisa memenangkan perang ini." Ucap gadis cantik berambut hitam yang mengenakan baju putih lengan panjang dan rok panjang merah itu.
"Apa yang dikatakan Pieck benar, Porco.. setelah kegagalan oprasi Reiner 3 tahun lalu, kita kembali gagal dalam perang terbuka ini. Setidaknya kita memerlukan persiapan khusus untuk menyiapkan pasukan yang lebih banyak dan mesin-mesin anti Titan yang mampu mengalahkan makhluk itu.." ujar Zeke.
Apa yang dikatakan Pieck memang benar. Karena kegagalan oprasi Reiner 3 tahun lalu sudah membawa kerugian karena menyebabkan hilangnya Collosal Titan dan Female Titan yang saat ini tak diketahui keadaanya.
Maka Marley harus membuat sebuah rencana baru yang bisa memenangkan perang ini dan mendapatkan Founding Titan untuk bisa menjadi yang paling kuat diantara negara lain dan membuat perdamaian yang dipimpin oleh bangsa Marley tentunya.
"Aku akan menunggu informasi lebih lanjut darimu, Zeke-san. Aku pergi dulu.."
Porco yang tampak menahan emosinya dengan mengeraskan rahangnya dan ekspresi yang tak terlihat karena bayangan poninya dan pergi dari ruangan itu lewat pintu keluar yang ada disampingnya.
Meninggalkan kedua rekannya yang masih duduk di sofa yang menatap kepergian pria itu dengan pandangan masing-masing.
Tapi kedua orang berbeda gender itu tau apa yang dirasakan Porco saat ini. Dia tak bisa menerima kekalahan telak yang didapatkan Marley saat ini.
Apalagi para Pejuang mereka yang lebih banyak dalam perang itu menjadi korban. Dan yang pasti Titan yang dimiliki Marley saat ini tinggal 5 Titan.
Beast Titan, Armored Titan, Jaws Titan, Cart Titan dan satu Titan ikeluarga Tybur yang merupakan Warhammer Titan. Dan jangan sampai mereka kembali kehilangan Titan lagi.
Karena kehilangan Collosal Titan dan Female Titan saja sudah membuat 40 persen kekuatan mereka berkurang.
Karena menghadapi Founding Titan, sama dengan menghadapi kematian mereka sendiri jika sampai Eren berhasil menguasi sepenuhnya kekuatan itu.
"Aku mengerti apa yang ada dipikiran Porco. Aku pun sedih kehilangan teman-temanku.. dan akupun akan melakukan hal yang sama dengannya.." ujar Pieck yang menjeda kalimatnya seraya berdiri dari duduknya berjalan kearah pintu keluar ruangan itu.
"Aku akan membalaskan dendam teman-temanku.."
Kata terakhir yang Pieck ucapkan hanya mendapat pandangan datar dari Zeke yang kemudian menundukkan wajahnya dengan ekspresi tak terlihat karena bayangan poninya.
'Apa yang akan kau lakukan selanjutnya.. Eren..'
.
.
.
.
.
_{BARBATOS}_
.
.
.
.
.
Paradise island, Mitras.
.
Didalam bangunan yang merupakan pusat dari 3 lapisan dinding di Paradise Island, yang merupakan kediaman dari pemimpin dan para petinggi Eldia di Paradise. Terdapat seorang wanita cantik berambut kuning panjang yang digulung rapi memakai pakaian bangsawan seperti dres panjang putih dibalut cardigan merah yang terbuka. Dan bawahannya memakai sepatu hils yang anggun.
Gadis itu duduk di sofa dengan meja dihadapannya yang memisahkan 3 sofa panjang lainnya yang saling berhadapan.
Gadis itu duduk dengan sahabatnya di pasukan pengintai dulu yang sekarang menjadi komandan pasukan pengintai itu sendiri yang tak lain adalah Levi Ackerman.
Seorang pria tanpa rambut yang merupakan pemimpin pasukan Garrison, Dot Pixis duduk di hadapan Levi dengan seragam yang sama dengan Levi namun berbeda lambang.
Seorang pria berambut coklat beriris hijau dan seorang gadis berambut coklat berkacamata yang rambutnya dikuncir ponitail nampak berdiri diambang pintu menatap satu-satunya gadis cantik berambut pirang yang menjadi tuan rumah dalam pertemuan khusus itu.
"Levi-san, apa menurutmu Mikasa diculik oleh pendatang itu? Dia adalah salah satu pasukan berbakat yang dimiliki Eldia. Aku takut jika keselamatannya terancam oleh pendatang itu." Ujar gadis cantik berambut pirang itu serius.
Inilah yang membuatnya mengadakan rapat khusus antara para pasukan Scout Legion dan Garrison yang ikut menjaga wilayah dinding saat kejadian kaburnya Female Titan dan pria bernama Naruto itu.
Dan kepergian Naruto itu menjadikan Mikasa sebagai alasan untuk pria itu kabur dari tempat ini.
"Aku sempat menghalanginya membawa Mikasa. Tapi karena Mikasa pun memaksakan kehendaknya sebagai penanggung jawab Naruto, dia sepertinya menjadi tawanan Naruto agar bisa pergi dari dalam dinding.." Pria bernama Levi menjawab dengan wajah datarnya seperti biasa menatap Ratunya yang juga menatapnya.
"Aku telah melihat raksasa yang dibawa oleh Naruto. Itu terbuat dari bahan logam seperti halnya armor pada Armored Titan, Namun ini berbeda. Apalagi tubuh Naruto itu.. ada sesuatu yang sepertinya adalah rekayasa buatan."
Gadis berkacamata yang berdiri itu membuka suaranya dan mendapatkan perhatian dari semua orang disana yang memandang gadis itu saat ini.
"Apa kau melihatnya secara langsung, Hange?" tanya Levi datar.
"Aku sempat sekali mengunjungi dimana Naruto itu ditahan. Ada sesuatu ditubuh pria itu. Dan menurutku dari itulah dia mampu menggerakkan benda raksasa itu seperti halnya para Titan.. yah, walaupun ini masih perkiraanku saja, sih.." balas Hange.
"Siapapun, dan apapun dia.. aku akan menemukannya dan menyelamatkan, Mikasa.."
Satu-satunya pria berambut coklat beriris hijau nampak bergumam datar dengan ekspresi tak terlihat tertutup bayangan poninya. Namun kata-katanya masih dapat didengar dengan jelas oleh semua orang yang ada didalam ruangan itu.
"Eren, Kita akan mencarinya.. aku yakin dia masih ada di dalam pulau ini bersama Mikasa." Ucap Hange yang memandang serius Eren.
"Hmm.. apapun yang kalian katakan itu semua mungkin ada benarnya. Orang itu mungkin telah menculik Mikasa, tapi perlu kalian pikir jika Mikasa bukanlah gadis lemah yang tak bisa apa-apa.. jika dia mau, seharusnya dia bisa kabur dari Naruto itu dengan mudah.." pria tanpa rambut yang terlihat sudah berumur itu akhirnya angkat bicara memandang datar Eren.
"Apa maksutmu, Pixis-san?" tanya gadis berambut pirang beriris biru langit itu.
"Mikasa memang sengaja ikut dengan Naruto dan mencari informasi dari orang itu." Bukanlah Pixis yang menjawab pertanyaan gadis itu, melainkan Levi yang melirik datar Eren saat ini.
"Sepertinya memang begitu, Levi.. asal kalian ingat, dia adalah orang yang berhasil mengalahkan pasukan Marley sendirian dan membantu kita memenangkan pertempuran.. kita masih memiliki hutang Budi padanya." Dot Pixis kembali membuka suaranya dan mendapat perhatian penuh dari semua orang yang ada disana.
Mau bagaimanapun apa yang dikatakan Pixis memang benar. Naruto telah membantu mereka memenangkan pertempuran dan otomatis bangsa mereka memiliki hutang Budi pada Naruto itu.
Jadi mereka tak bisa menjudge posisi Naruto saat ini yang seperti menculik Mikasa. Mau tak mau bangsa Eldia di pulau ini harus berterimakasih walaupun mereka tak bisa percaya sepenuhnya pada seorang pendatang misterius yang sudah memenangkan perang itu.
"Maksutmu kita harus menunggu informasi dari Mikasa dan mempercayakan beban ini padanya?" tanya Eren menatap tajam Pixis.
"Tidak, kita akan tetap mencari keberadaan Mikasa. Cepat atau lambat kita pasti bertemu dengan mereka lagi.." balas Pixis.
"Umm.. aku setuju dengan anda Pixis-san.. aku akan memberikan perintah pencarian setelah ini." Ucap gadis berambut pirang itu tersenyum manis
Eren yang mendengarnya membalas perkataan gadis itu dengan mengangguk mengerti dengan tangan yang masih terkepal.
"Terimakasih, Historia-sama. Kami akan melakukannya sebaik mungkin.."
Ucap Hange pada Historia itu yang dibalas anggukan oleh gadis cantik berambut pirang itu.
"Baiklah. Jika ada infomasi lebih lanjut kalian bisa memberitahuku. Dan pertemuan ini selesai untuk malam ini.."
Ujar Historia dan mereka semua pun pergi dari tempat itu untuk melakukan istirahat malam.
.
.
.
.
.
_{Barbatos}_
.
.
.
.
.
Langit malam dengan taburan bintang yang berkelip dilangit. Bulan purnama yang terlihat terang menghiasi indahnya langit malam dengan angin lembut yang berhembus.
Diatas bangunan kastil yang terbengkalai itu nampak 3 orang berbeda gender yang merupakan 2 orang wanita dan 1 orang laki-laki yang duduk didekat api unggun.
Gadis berambut pirang yang nampak duduk dihadapan laki-laki berambut pirang dan gadis berambut hitam pendek yang saling memandang itu.
"Aku sudah menceritakan tentang Marley dan diriku pada kalian.. lalu apa selanjutnya?.." ujar gadis berambut pirang yang tak lain adalah Annie.
Dia sudah menceritakan sejak awal mula dirinya dibesarkan di camp pelatihan hingga dirinya menjadi pewaris Female Titan. Dan sampai saat dia dikalahkan oleh Eren dan membekukan dirinya di dalam kristal hingga akhirnya dia terbangun kembali dan berusaha meloloskan diri.
Annie sejujurnya tak tau ada perkembangan dan informasi apa selama dirinya tertidur didalam kristal itu. Dia terbangun dan mengingat bagaimana terakhir dirinya terkurung disana lalu memutuskan untuk kabur dari dalam tembok.
Dan untungnya Naruto telah membantunya untuk kabur. Inilah kenapa dirinya mau bertemu dengan Naruto dan berniat mencari informasi yang menurutnya bisa dia bawa kembali ke bangsa Marley nantinya.
"Annie Leonhart, itu namamu kan? Aku tak tau jika sampai sejauh itu kalian menginginkan kekuatan Founding Titan. Tapi menurutku jika kalian menganggap semua yang berada di pulau ini adalah iblis, lantas untuk apa kalian bertarung demi bangsa lain sedangkan kalian para Titan adalah bangsa Eldia itu sendiri?" Naruto berkata seraya memandang datar Annie yang juga memandang dirinya datar.
"Sejak awal tugas kami adalah mengumpulkan informasi yang bisa kami bawa untuk memenangkan pertempuran. Tapi sejak aku masuk di Scout Legion, aku merasakan ikatan dari mereka semua yang berjuang bersamaku.. disatu sisi aku adalah seorang pejuang yang menjalankan misi, dan disisi lain aku menemukan teman-teman yang menganggap kami ada dan berjuang bersama." Balas Annie yang memandang lantai dibawahnya datar.
"Aku tau jika aku adalah bangsa Eldia yang tinggal di luar pulau. Tapi doktrin yang ada pada kami sejak kami kecil telah membuat kami menjadi seperti sekarang ini.. bukan hanya aku, tapi seluruh penduduk Eldia yang ada di luar pulau paradise ini. Dan akhirnya kami tetap berjuang untuk bangsa Marley untuk mendapatkan kehormatan dan pengakuan sebagai seorang pahlawan.." Lanjut Annie.
Gadis berambut hitam sebahu yang mendengar cerita Annie sejak awal menahan emosinya sejak tadi dengan wajah datarnya. Dirinya bukanlah tipe gadis yang mudah tersulut emosi jika tidak berhubungan dengan Eren.
Tapi kali ini setelah apa yang dikatakan Naruto, Mikasa sedikit paham arti dirinya hidup didunia ini dan berusaha memilih jalannya sendiri kali ini.
"Aku tau apa yang dirasakan bangsa Marley dulu yang ditindas oleh Eldia. Tapi apakah benar jika kita saling membunuh hanya untuk mendapatkan kekuatan? Sedangkan kalian akan berumur pendek setiap kalian menggunakan kekuatan itu.." ujar Mikasa yang menatap datar Annie.
Kali ini Mikasa sedikit paham tentang kedua bangsa ini yang masih berperang hingga sekarang. Tapi jika hanya bangsa Eldia yang bisa menggunakan Titan, kenapa tidak kembali bersatu? Dan malah membuat cerita bohong tentang iblis di pulau ini.
"Asal kau tau, sejak kami kecil kami memang sudah dipersiapkan sebagai senjata perang. Jadi kami siap mati kapanpun untuk memenangkan peperangan.. itulah kami para Eldia di daratan Marley." Balas Annie yang menahan perasaannya dan emosi dalam dirinya yang mengingat masa kecilnya yang berputar dipikirannya.
Tangannya menggenggam erat dan bibir bawahnya yang ia gigit menahan perasaannya yang tak terbendung lagi.
Dia sudah menceritakan semuanya. Untuk apa menyembunyikannya lagi, sedangkan Marley sudah kalah telak dan dirinya yang terjebak di pulau ini sendirian.
Tak ada gunanya lagi dirinya terus berjuang jika dia kembali ke Marley dan hanya mendapatkan hujatan karena misinya yang gagal.
"aku.. aku hanyalah alat untuk menjalankan misi. Aku tak pernah berpikir bagaimana nasibku kedepannya sejak aku menyusup ke paradise ini. Aku siap mati kapanpun.."
Ekspresi sendu dari Annie yang tertutup bayangan poninya itu masih dapat dirasakan oleh kedua orang berbeda gender tersebut melalui nada bicaranya yang melemah.
"Kau telah membunuh banyak teman-teman kami.. dan kau menganggap dirimu adalah seorang pejuang Eldia? Kenapa kau masih berpikir kau adalah seorang pejuang disaat kau membunuh bangsamu sendiri.."
Mikasa yang mendengar ucapan Annie juga menahan emosinya. Namun gadis itu sangat pandai menutupinya dengan ekspresi datarnya itu. Tapi masih sangat jelas jika Mikasa juga memiliki dendam pada para penyusup ini.
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.. karena ulah kalian orangtua Eren tewas, banyak penduduk Eldia yang dimakan oleh para Titan, penderitaan kelaparan yang kami alami, semua karena ulah kalian. Jika saja kalian tidak menghancurkan dinding, mungkin sampai saat ini kami masih hidup dengan damai di dalam dinding tanpa memikirkan dunia luar.. ini semua salah kalian!"
Mikasa mengingat semua kenangan masa kecilnya bersama Eren hingga sekarang ini. Mengingat banyak rekannya yang gugur dimedan tempur, masyarakat yang kelaparan dan menjadi mangsa bagi para Titan itu.
Gadis itu mengeraskan rahangnya dan berusaha akan memukul Annie yang masih diam ditempatnya.
Greb!
Namun Naruto dengan mudah menahan pergerakan Mikasa dan mendekap gadis itu dalam pelukannya berusaha meredam emosi gadis cantik ini yang menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang Naruto.
Tak biasanya gadis ini dengan mudah jatuh kepelukan seorang pria. Dia akan dengan mudah menghajar siapapun yang menyentuhkan kecuali Eren dan Armin. Tapi entah kenapa dengan pria pirang ini dia tak bisa menyembunyikan emosinya dan memilih pasrah dengan apa yang dilakukan pria pirang ini.
"Cukup apa yang menjadi perdebatan kalian.. Annie, Mikasa-chan, kalian sama-sama berasal dari bangsa Eldia yang sama, kan? Tak usah lagi kalian mengulang kesalahan yang telah leluhur kalian lakukan dulu.. aku tau kalian memiliki beban masing-masing yang kalian tanggung dipundak kalian.."
Naruto menjeda kalimatnya dan memandang datar Annie yang merespon ucapannya dari gestur tubuh gadis itu yang sedikit bergetar.
"Kalian sudah tau informasi dari masing-masing pihak juga, kan.. kalian tak perlu mengikuti perintah orang lain yang bertentangan dengan prinsip dalam diri kalian jika itu malah akan membuat kalian hancur dengan sendirinya.. Annie, jika kau sudah tau kebenarannya tentang semua ini, seharusnya kau tau apa yang harus kau lakukan.. bukannya malah terus maju mengorbankan dirimu demi sebuah dendam Marley itu.." ujar Naruto.
Annie yang mendengarnya menggigit bibir bawahnya dan cengkraman tangannya semakin kuat mendengar apa yang disampaikan Naruto memanglah benar.
"Aku tidak punya pilihan lain! Aku masih punya seorang ayah yang menunggu kepulangan ku membawa sebuah kemenangan dan pulang dengan selamat! Aku harus berhasil menjalankan misi demi mengangkat kehormatan kami para pejuang.. kalian tak tau bagaimana kehidupan kami dulu yang ditindas oleh mereka, dan setelah kami mendapatkan kepercayaan Marley kami harus berjuang agar mengangkat derajat kami dan tidak ditandas lagi!" Annie berkata dengan nada keras yang emosinya sudah tak bisa dibendung lagi.
"Kalian yang tinggal damai didalam tembok ini tak kan pernah tau apa yang kami alami disana.. kami punya tujuan hidup kami sendiri yang harus kami perjuangkan." Lanjut Annie yang kembali menundukkan wajahnya dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya siap untuk ditumpahkan.
"Aku paham sekarang. Ini semua karena dendam.. lingkaran kebencian membuat kalian buta akan sebuah kebenaran yang seharusnya bisa kalian raih. Aku tak menyalahkan kalian para Eldia diluar pulau ini yang ditinggalkan, terasingkan oleh Marley dan diinjak-injak karena leluhur kalian.. dan kalian hanya menjalankan misi untuk kepentingan kalian disana.. tapi semua masalah pasti ada solusinya, Annie." Ujar Naruto yang melepaskan pelukannya pada Mikasa dan mendekati Annie.
Mikasa hanya menatap apa yang dilakukan Naruto dalam diamnya. Berusaha mencerna setiap perkataan dua orang berbeda gender dihadapannya itu.
Naruto berjongkok di depan Annie dan mengangkat wajah gadis itu dengan tangan kanannya.
Iris blue shappirenya menatap serius Annie yang juga menatapnya sendu dengan ekspresi yang masih sama.
"Aku pernah merasakan apa yang kalian rasakan. Aku adalah sebuah objeck percobaan sejak aku kecil dan sering hampir mati karena itu. Aku pun memiliki dendam karena orang-orang yang aku sayangi tewas karena peperangan.. benci? Dendam? Tentu saja.."
Naruto menjeda kalimatnya dan menatap iris Annie lebih dalam. Namun tanpa keraguan Naruto mengusap pipi mulus Annie perlahan dan tersenyum padanya. Membuat gadis cantik itu membolakan matanya dengan jantung yang berdegub lebih kencang dari sebelumnya.
"Aku pun sama seperti kalian yang merupakan seorang pembunuh berdarah dingin yang tak segan membunuh siapapun musuhku di medan perang.. bahkan aku hampir menyerah ketika orang yang ku sayangi tewas.. tapi ketika aku diberikan sebuah kesempatan dan bertemu dengan kalian.. aku jadi paham. Bahwa untuk menghentikan sebuah peperangan adalah dengan menghilangkan rantai kebencian diantara kita ."
Ucapan Naruto kali ini membuat tubuh Annie membeku seketika. Berusaha mencari sebuah kebohongan dari setiap ucapan Naruto padanya.
Karena tak mungkin manusia bisa menghilangkan kebencian ini selama manusia itu hidup. Dan kebencian ini akan selalu ada, perang tak akan pernah berakhir.
"Selama manusia hidup.. perang tak akan pernah berakhir, Naruto.." gumam Annie.
"Aku tak tau bagaimana caranya menghentikan perang ini. tapi selama kita masih memiliki sesuatu yang berharga, aku akan melakukan semua yang aku bisa untuk melindunginya.. dan aku yakin, perang pasti akan berakhir dan perdamaian akan terwujud saat kita sama-sama saling memahami.. dan menurunkan ego kita masing-masing.."
Ucapan terakhir Naruto sukses membuat gadis itu menangis dan menggenggam tangan Naruto yang ada dipipinya.
"Hiks.. Aku tak tau lagi harus apa, Naruto.. aku tak bisa kembali lagi sebelum misiku berhasil.." ucap Annie yang sudah tak bisa menahan perasaannya lagi.
Dia sungguh ingin berhasil dalam misinya ini, tapi kekalahan telak Marley ini menjadi pukulan keras untuk mereka yang ada di daratan Marley.
Dan para Eldia yang ada disana pasti semakin tertekan karena kekalah ini.
Dia pun takut jika harus pulang dan malah akan disalahkan atas kegagalannya dalam menjalankan misi.
"Hentikan semua ini.. kembalilah menjadi dirimu sendiri dan hidup dengan semestinya tanpa harus memikirkan misi ataupun bertarung, Annie.. kau masih memiliki ayah, bukan? Dia pasti menunggu kepulangan mu.." balas Naruto yang masih membuka pola pikir Annie.
"Ta-tapi.. bagaimana mungkin.. aku tetap akan mati pada akhirnya.." gumam Annie putus asa.
"Jika kau mau, ikutlah denganku.."
Deg!
Annie terpaku dan membeku seketika saat mendengar Naruto mengatakan hal itu. Seakan dengan mudahnya pria ini percaya pada dirinya yang baru dikenalnya ini.
Dan dengan percaya dirinya pria ini mengatakan hal yang menurunya tak pantas untuk dirinya yang merupakan seorang musuh.
Tapi dari sorot mata pria ini, dia tak memiliki sedikitpun keraguan didalamnya. Disetiap ucapannya, gestur tubuhnya, pria ini seolah mengatakan 'semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku'.
"Aku tau aku bukan siapa-siapa dan tak memiliki kekuatan untuk melindungi nyawamu.. tapi setidaknya kita masih bisa berusaha bertahan hidup didunia ini bersama.. aku pun tak memiliki siapapun disini. Aku juga tak memiliki tujuan apapun disini. Tapi dengan adanya teman disisiku, setidaknya aku memiliki orang yang menganggap ku ada."
Naruto menangkup kedua pipi Annie seraya menatap kedua mata gadis itu yang membola dengan semburat merah dipipinya.
Menatap senyum Naruto yang pertama kali dilihatnya ini membuat dirinya seakan tertarik untuk melihat sejauh apa pria ini bisa membuktikan semua perkataannya barusan.
Namun yang pasti, sebuah perasaan hangat dihatinya dapat dia rasakan. Sebuah perasaan yang berbeda ketika dengan teman-temannya dulu.
Tapi sebuah perasaan nyaman dan aneh yang dirasakannya untuk pertama kali dia rasakan selama hidupnya.
"Be-benarkah? A-Apa kau yakin dengan apa yang kau katakan itu, Naruto?"
Gumam Annie yang masih tak berubah dari ekspresi dan posisinya saat ini.
"Hm.. asalkan kau mau berubah menjadi lebih baik lagi dan menghentikan misi ini.. aku dan Barbatos akan menjadi temanmu.."
Ujar Naruto yang masih tersenyum. Hingga beberapa detik kemudian, gadis cantik berambut pirang itupun tersenyum dan mengangguk perlahan.
Naruto hanya menyeka air mata di pipi gadis itu perlahan dan membuat semburat merah dipipi Annie semakin terlihat.
"Mm.. Naruto, bolehkah aku memelukmu?"
Gumam Annie sedikit ragu dan senyum diwajahnya itu yang dibalas anggukan pelan oleh Naruto yang membuat mentalnya kembali kuat.
Greb!
Dengan sedikit ragu, Annie langsung memeluk Naruto dan membenamkan wajahnya di dada bidang Naruto.
Gadis itu pun merasakan jika Naruto mengusap lembut surainya seraya tersenyum menatap rambut pirang Annie.
Dengan perlahan Annie berusaha menstabilkan kembali emosinya dan menghilangkan perasaan cemas dan ragu dihatinya. Berusaha menenggelamkan dirinya dalam kenyamanan yang baru pertama kali dia rasakan selama hidupnya.
Entah apa yang dimiliki pria ini, tapi kenapa dirinya dengan mudah jatuh kedalam pelukan pria pirang ini. Sedangkan dirinya yang berstatus sebagai musuh, nampaknya hal yang mustahil terjadi.
Tapi tubuhnya bertentangan dengan pikirannya saat ini.
'Ternyata ini yang dirasakan gadis itu..'
Batin Annie yang sebelumnya melihat Mikasa yang dipeluk Naruto. Dan kini dia tau apa yang dirasakan Mikasa ketika pria ini memeluknya.
Nyaman.
.
"EHM!"
Beberapa menit kemudian, sebuah suara deheman yang terdengar sengaja diperkeras terdengar dari belakang Naruto.
Membuat keduanya menatap sang pemilik suara yang tak lain Adalah Mikasa Yang saat ini ekspresinya tertutup bayangan poninya yang berdiri di blakang Naruto.
Sedangkan Annie yang paham dengan situasinya menyeringai didengan wajah datarnya itu.
"E-eh.. Mikasa-chan.. ada apa?"
Ujar Naruto yang tak paham dengan gadis itu dan memandang bingung. Namun aura yang dipancarkan gadis berambut hitam ini seakan mengatakan jika 'Aku baik-baik saja'.
Berbanding terbalik dengan perasaanya yang mulai tak enak ini.
Greb!
"Naruto-kun, aku akan selalu bersamamu.. dimanapun kau berada aku akan selalu bersamamu~"
Naruto malah kembali meneguk ludahnya yang tercekat ketika Annie malah memeluknya erat seraya bermanja dipelukannya ini. Dirinya berusaha melepaskan tapi entah kenapa seakan berat sekali melepaskan pelukan gadis ini.
"E-eh, Annie su-sudahlah cukup.. kau terlalu berlebihan."
Naruto semakin cemas ketika merasakan sebuah aura tak mengenakkan dari Mikasa yang semakin nampak aneh dari gestur tubuhnya.
"Ne~ Naruto-kun.. sepertinya kau mendapatkan teman baru, eh? Tapi kau tau kan jika dia adalah musuhku.. emm, jadi karena kau berteman dengan musuhku, berarti aku bisa membunuhmu sekarang, eh~"
Suara yang sangat indah dan menggoda dengan ekspresi Senyuman yang sangat manis dari Mikasa terlihat dari gadis cantik itu.
Namun kata-kata dan gestur tubuhnya yang tiba-tiba menggenggam sebuah pisau dapur membuatnya sekaan mengatakan 'Riwayatmu sudah berakhir sampai disini'.
"A-annie, Le-lepaskan aku.. e-e Mikasa-chan aku bisa je-jelaskan.."
Ucapan Naruto seakan hanya sebuah angin lewat yang tak didengarkan oleh kedua gadis cantik itu.
Bahkan pelukan Annie semakin erat dan Mikasa yang berjalan semakin dekat pada Naruto den gan pisau yang terlihat tajam ditangan kanannya.
"Tak ada yang perlu dijelaskan, Naruto-kun~"
"Tu-tunggu! Mi-mikasaa!!"
Brakk! Bug! Bag! Duag!
.
Dan malam yang indah itu berakhir dengan suara-suara aneh yang terdengar mengalun merdu dengan hembusan angin dan sinar cahaya bulan purnama yang menghiasi permadani tanpa ujung dengan milyaran bintang yang indah di atas pulau Paradise itu.
.
.
.
.
.
Pagi hari yang cerah disebuah kastil tua yang terdapat di luar tembok di daerah hutan bagian selatan.
Seorang gadis cantik berseragam putih dan menggunakan jaket coklat dengan rambut pirangnya yang indah yang dikuncir itu. Sedang mengolah memotong sebuah sayuran dengan pisau digenggamannya.
Gadis itu memotong sedemikian rupa supaya pas untuk dimakan nantinya. Tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil.
Beberapa bumbu yang bisa dia olah dia potong dan diracik sedemikan rupa agar masakannya bisa dimakan dan pas dilidah.
Karena dia jarang sekali masak, dan ini adalah menjadi tugas pertamanya pagi ini. Daripada dia bosan tidak melakukan apapun, lebih baik dia mengerjakan apa yang bisa dikerjakannya.
Karena 2 temannya yang lain sedang mencari buruan untuk mereka dan masuk di sekitaran Tepi sungai dihutan sebelah barat dari kastil tua itu.
"Kenapa mereka lama sekali? Atau jangan-jangan mereka sedang ber-"
"Apa yang kau katakan?"
Baru saja Annie akan menyelesaikan kalimatnya, dirinya dikagetkan oleh suara feminim dari Mikasa yang masuk kedalam kastil itu bersama dengan Naruto dibelakangnya yang membawa keranjang penuh dengan ikan disana.
"Akhirnya kalian datang juga. Masakan tak akan segera jadi kalau kalian tak datang juga.." ujar Annie datar seraya menerima kerjanjang berukuran sedang dari Naruto dan mengambil beberapa ikan yang sudah dibersihkan oleh Naruto sebelumnya disungai.
"Hm.. sudahlah cepat selesaikan masakannya, dasar cerewet ." ujar Mikasa datar yang melepaskan jaket coklat miliknya dan melinting lengan bajunya untuk menyiapkan masakan.
"Apa kau bilang? Bukannya kau yang banyak bicara, muka tembok.."
Annie memicing tajam seraya berdiri dihadapan Mikasa yang sedang berjongkok itu.
"Katakan sekali lagi, dasar raksasa telanjang.."
Mikasa pun ikut berdiri dan menatap tajam Annie yang ada dihadapannya hingga keduanya menimbulkan aliran listrik diantara mata elang mereka itu.
"Siapa yang kau bilang telanjang? Tubuhku bahkan lebih indah darimu.. bilang saja kau iri denganku, eh." Balas Annie yang menyeringai.
"Iri katamu? Kau bisa berada ditempat ini karena Naruto-kun yang mengasihanimu.. 'aku tidak punya pilihan lain~ aku tak bisa kembali ke Marley~ hiks.. Naruto~'"
Mikasa malah semakin gencar dengan menirukan gaya Annie yang menurutnya menyedihkan tadi malam. Dengan air mata buaya yang menurut Mikasa itu sangat menjijikkan untuk dipandang!
"Gghh.. bilang saja kau iri karena Naruto-kun lebih mudah mempercayaiku daripada dirimu yang pernah meninggalkannya.. sampai harus mengikat janji untuk tetap disampingnya? Heh, itukah yang kau maksut dengan Naruto-kun membelamu, Ne Mikasa-chan~"
"Kau tak usah banyak bicara, atau ku pukul wajah tak berdosa mu itu, Annie.." Mikasa mencengkram kerah baju Annie hingga wajah mereka saling berdekatan.
"Kau kira aku takut padamu, Mikasa?" begitupun Annie yang juga mencengkram kerah baju Mikasa hingga keduanya mengeluarkan aura membunuh.
Naruto yang daritadi melihat dengan swetdrop kelakuan random kedua gadis yang baru dikenalnya ini menjadi semakin pusing memikirkan mereka.
"E-bagaimana dengan ikannya? Aku lap-"
"DIAM KAU, BAKA!"
Ucapan Naruto yang tergagap seketika berhenti dan menciut seketika saat kedua gadis itu bersamaan berkata padanya dengan tubuh yang nampak lebih besar dengan aura membunuh hitam dan wajah seperti Shinigami yang mengacungkan pisau padanya.
.
'Ini tak akan mudah..'
.
.
.
.
.
To be continued..
.
Ending:
Shinzou wo Sasageo! By Lingked Horizon.
.
A/N: Assalamualaikum wr. Wb. Salam buat kalian para readers yang masih setia membaca. Sesuai request dari kalian saya sempatkan untuk update perlahan Fict saya. Mungkin akan memakan waktu lama. Tapi ya sudahlah dijalani saja sesuai alurnya.
Terimakasih yang masih setia membaca di FFN ini. Dukungan atau kritik dari kalian melalui Review baik itu Guest ataupun yang memakai akun Ffn, sangat membantu semangat saya untuk masih menulis.
Walaupun pekerjaan yang banyak menyita waktu di real life ini, tapi sedikit waktu saya meluangkannya untuk mengetik dan membuat kalian senang membaca Ffn ini.
.
Untuk kalian yang ingin tau imagenya agar lebih mengena Feel-nya, kalian bisa Add FB saya dengan Nick name:
Kyoigneel.
Selain fict dari Barbatos dan World yang sudah ada disana, mungkin bertahap akan saya masukan image lain dari Fict saya yang lain.
.
Sekali lagi terimakasih atas dukungannya dan tetap semangat dalam membaca!
Ditunggu saran dan kritik kalian lewat Review. Karena saran ataupun komentar di Review kalian adalah bahan bakar semangatku dalam menulis FFN.
See you next time!
.
Kyoigneel out!
