Sambil bersenandung ria, Baekhyun menikmati perjalanan pulangnya seperti biasa. Malam hari ini terasa begitu dingin membuat Baekhyun ingin cepat-cepat sampai ke rumah. Ia sungguh tidak sabar untuk segera berbaring dan membungkus tubuhnya dalam selimut yang hangat.

Sesekali menoleh ke atas, Baekhyun hanya menghela napas karena langit yang kosong tanpa bintang. Itulah kenapa ia tidak suka kota. Tidak ada yang bisa dilihat selain gelapnya langit malam. Namun anehnya, saat ia tidak bisa menemukan bintang-bintang yang bisa memenuhi pikirannya, seseorang dengan seenaknya memasuki pikirannya. Bahkan ketika melihat langit malam yang kosong pun, Baekhyun bisa melihat dengan jelas wajah pemuda itu di depannya.

Park Chanyeol. Pemuda tinggi itu tidak akan pernah menyadarinya. Ia tanpa sengaja membuat Baekhyun tidak bisa berhenti memikirkannya. Bukan, Baekhyun memikirkannya bukan karena alasan konyol yang sering terjadi di drama-drama. Baekhyun hanya memikirkan tentang apa yang terjadi tadi siang.

"Apa sebaiknya aku biarkan begitu saja?" tanya Baekhyun bermonolog. "Hm, memang seharusnya begitu karena aku tidak peduli dia mau menganggapku seperti apa. Tapi kenapa sulit sekali untuk membiarkannya?" Baekhyun mengakhirinya dengan helaan napas berat.

Tenggelam dalam pikirannya, Baekhyun sepertinya tidak menyadari ada tiga pemuda yang mendekatinya. Tidak, lebih tepatnya, Baekhyun tidak sengaja berjalan di dekat mereka dan itu membuat mereka menyadari keberadaan Baekhyun. Awalnya Baekhyun hanya akan bergeser dan lanjut berjalan, tapi sepertinya ketiga pemuda itu tidak akan membiarkannya.

Baru saja ingin berbicara pada ketiga pemuda—yang tampaknya seumuran dengannya—itu, Baekhyun sudah lebih dahulu terdiam. Matanya menunjukkan dengan jelas bahwa ia terkejut bukan main saat menyadari siapa orang yang tidak sengaja ia temui ini. Jantungnya tiba-tiba berdegup tidak karuan.

Baekhyun ingin segera lari dari sini.

Namun sayangnya keberuntungan tidak berpihak padanya malam ini. Belum sempat Baekhyun menurunkan pandangannya, salah seorang dari ketiga pemuda itu berdiri tepat di depannya. Melihat seringai di wajahnya membuat Baekhyun hanya bisa mengepalkan tangannya.

Kenapa? Kenapa mereka ada di sini?

"Wah, wah, coba lihat siapa ini. Kau Byun Baekhyun bukan? Siapa sangka ternyata kau pindah ke Seoul. Dan kita bisa bertemu, teman lama!" kata salah seorang dari mereka. Suaranya terdengar ramah dan menyebalkan di waktu bersamaan.

Baekhyun menghela napasnya saat menyadari bahwa ia tidak bisa kabur saat ini juga. "Jangan bersikap sok akrab denganku. Aku tidak ingat pernah berteman dengan berandalan seperti kalian." balas Baekhyun yang menyulut kemarahan semua pemuda di depannya.

"Maksudmu apa ha?!" salah seorang pemuda yang awalnya berdiri di belakang langsung melompat ke arah Baekhyun. "Ya! Kau seharusnya senang karena kami masih memanggilmu teman. Apa kau bahkan sadar kalau tidak ada orang yang mau berteman denganmu? Dan sebenarnya kami juga sama seperti mereka. Melihat wajahmu saja membuatku jijik!"

Baekhyun mengepal kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia sungguh tidak mau berurusan dengan orang-orang ini. Baekhyun ingin segera pergi, tapi lagi-lagi ia dihadang.

Baekhyun mencoba mengendalikan emosinya. "Minggir." Suaranya sedingin angin malam.

"Apa-apaan nada bicaramu itu?" balas salah seorang dari mereka.

"Minggir, sialan!"

"Kau yang sialan!" teriak pemimpin mereka semua. Ia kemudian mendengus, bahkan meludah ke arah kaki Baekhyun.

Baekhyun makin mengeratkan kepalan tinjunya. Ia benar-benar tidak seharusnya membuat masalah malam-malam begini, kan?

"Wah, bisa tahan juga ternyata," kata salah seorang dari mereka. "Atau, apa perlu kita buat dia marah seperti dulu?" usulnya dengan tawa pada teman-temannya.

"Kira-kira teman-temannya di Seoul sudah tau belum, ya?" seseorang lagi bergabung dalam pembicaraan. "Kayaknya belum, nih. Perlu kita bantu come out?" nadanya penuh dengan ejekan dan wajah menghinanya sungguh membuat Baekhyun tidak bisa lagi menahan diri.

Baekhyun memasang kuda-kudanya. Ia sudah siap untuk menghajar semua orang di depannya, hingga seseorang tiba-tiba muncul membuatnya terkejut. Baekhyun mengumpat dalam hati saat Chanyeol sudah berdiri di antara ketiga pemuda itu dan dirinya.

"Kau sedang apa di sini?" tanya Baekhyun sedikit meninggikan nada suaranya. Ingat, Baekhyun tidak pernah melunak jika berurusan dengan manusia keras kepala di depannya ini.

"Itu pertanyaanku," balas Chanyeol.

Raut wajahnya terlihat khawatir. Atau itu hanya perasaan Baekhyun saja?

"Kau siapa?"

Chanyeol mengalihkan perhatiannya saat seseorang menginterupsi pembicaraannya dengan Baekhyun. Chanyeol memandang tidak suka pada tiga pemuda di depannya.

Salah satu pemuda itu mendengus untuk menghina. "Oh, sudah punya pacar sekarang? Artinya tidak ada yang berubah ya? Kau masih sama menjijikkannya dengan—ugh!"

Baekhyun berseru saat Chanyeol tiba-tiba melayangkan pukulannya ke wajah pemuda yang berbicara hingga ia terjatuh. Dua orang lainnya yang terkejut segera membantu teman mereka berdiri. Tanpa disuruh, mereka melompat dan menyerang Chanyeol bersamaan.

Melihat Chanyeol yang dengan gesit melawan, Baekhyun pun melepaskan tendangannya. Ia mencoba untuk menghentikan Chanyeol. Ia menahan Chanyeol yang kembali ingin menghajar tiga orang yang sudah terkapar itu. "Park Chanyeol! Stop!" teriak Baekhyun melihat Chanyeol kembali melangkah maju saat tiga pemuda itu kembali bangkit.

"Hei! Ada apa di sana?!"

Semua terkejut saat tiba-tiba seorang petugas polisi yang sedang berpatroli melihat mereka dari sebrang jalan. Panik, mereka semua langsung kabur. Tidak lupa, ketiga pemuda itu meninggalkan beberapa umpatan pada Chanyeol.

Chanyeol yang ingin mengejar mereka segera ditarik oleh Baekhyun. "Sudah, jangan ladeni mereka! Ayo lari, cepat!"

Chanyeol yang menyadari jika petugas yang mengejar mereka semakin mendekat akhirnya menuruti Baekhyun. Keduanya berlari tanpa arah secepat kilat. Merasa jika mereka sudah tak terkejar lagi, Baekhyun dan Chanyeol berhenti di depan sebuah toko serbaada.

Dengan napas masih terengah-engah, Baekhyun langsung saja menendang Chanyeol membuat pemuda tinggi itu seketika terduduk di tanah. Kening Chanyeol sampai berkerut karena tendangan tiba-tiba itu. Ia langsung protes pada Baekhyun. "Kok aku ditendang, sih. Aku sudah membantumu tau!" protes Chanyeol yang akhirnya membiarkan dirinya duduk di jalan. Ia sudah terlalu lelah untuk berdiri.

"Aku tidak minta dibantu!" balas Baekhyun kembali ke mode galaknya. "Lagian, untuk apa sih kau memukul mereka? Kita bisa terkena masalah!"

"Mana mungkin aku diam saja saat mereka menghinamu," balas Chanyeol yang membuat Baekhyun terdiam. "Mereka siapa? Preman?"

"Bukan, cuma teman sekelas waktu SMP," jawabnya singkat. Baekhyun memperhatikan Chanyeol yang masih duduk kemudian menyadari sesuatu. "Tunggu di sini sebentar," perintah Baekhyun dan langsung saja masuk ke toko meninggalkan Chanyeol sendirian.

Chanyeol yang bingung karena Baekhyun pergi begitu saja memilih untuk tinggal. Ia menolak untuk mengikuti Baekhyun karena percaya jika pemuda itu tidak akan meninggalkannya begitu saja. Cukup lama menunggu, akhirnya Baekhyun kembali dan ikut duduk di samping Chanyeol. Entah karena alasan apa mereka lebih memilih untuk duduk di lantai toko dari pada di kursi yang berada tidak jauh di depan mereka.

Baru saja Chanyeol ingin bertanya tentang apa yang Baekhyun beli, pemuda itu sudah lebih dahulu mengeluarkan sebuah plester. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Baekhyun menarik tangan Chanyeol. Ia membersihkan sedikit punggung tangannya yang terluka dengan kapas dan kemudian menempelkan plester yang telah ia siapkan. Belum selesai sampai di situ, Baekhyun yang juga mengeluarkan dua botol cola, membukanya dan memberikannya pada Chanyeol.

Pemuda tinggi itu menerima cola pemberian Baekhyun dengan wajah bingung. Ini pertama kalinya bagi Chanyeol melihat sisi manis Baekhyun. Ia pikir Baekhyun hanya bisa memaki dan menyiksanya.

Baekhyun yang sepertinya juga merasa canggung segera meminum cola miliknya tanpa menoleh pada Chanyeol. Ia mencoba menghindari bertemu pandang dengan Chanyeol yang kini tersenyum padanya.

"Kau ternyata bisa jadi manis juga, ya," kata Chanyeol akhirnya kembali menjadi dirinya yang biasa. Ia langsung mencoba membuat Baekhyun kesal dengan terus saja memaksa pemuda itu untuk menatapnya. Ia tertawa gemas saat Baekhyun mendorong wajahnya dengan kedua telinganya yang memerah menahan malu. "Ngomong-ngomong, mereka mengganggumu karena apa?" tanya Chanyeol penasaran.

Baekhyun hanya diam tidak menjawab. Ia melempar kaleng cola yang telah habis ke tong sampah dan kemudian berdiri. Ingin segera pergi, tapi Chanyeol menahan lengannya.

"Apa yang mereka lakukan padamu?" tanya Chanyeol yang ikut berdiri. Ia menyadari jika ini bukan masalah sepele. "Katakan padaku, agar aku bisa menghajar mereka sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan padamu." Matanya menatap Baekhyun bersungguh-sungguh.

Baekhyun menggeleng dan melepaskan tangan Chanyeol yang masih menahannya. "Tidak, bukan apa-apa. Semuanya sudah berlalu, aku sudah tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi. Kau juga, jangan lagi berurusan dengan mereka," jawab Baekhyun dan segera berbalik untuk pergi. Namun, lagi-lagi Chanyeol menahannya.

Baekhyun berbalik dengan wajah kesal. "Apa lagi?"

"Pinjam ponselmu," kata Chanyeol meminta.

"Untuk apa?" tanya Baekhyun curiga.

"Aku mau pinjam sebentar saja," desak Chanyeol. Akhirnya ia mendapatkan apa yang ia inginkan—walau dengan sedikit paksaan.

Baekhyun sebenarnya tidak rela untuk memberikan ponselnya, tapi ia juga tidak tahan dengan rengekan Chanyeol. Ia makin dibuat penasaran saat Chanyeol juga mengeluarkan ponselnya. Hingga akhirnya Baekhyun mengerti apa yang dilakukan oleh Chanyeol saat ponselnya berbunyi.

Chanyeol memperlihatkan layar ponsel Baekhyun yang menerima panggilan dari nomer tanpa nama. "Kita belum saling bertukar nomor, jadi aku akan menyimpan nomorku di ponselmu. Biar aku simpan dulu. Hm, nama kontaknya..."

Sebelum Chanyeol berhasil memikirkan nama panggilan yang menarik, Baekhyun sudah lebih dahulu mengambil kembali ponselnya. Ia segera menyimpan kontak Chanyeol di ponselnya.

Penasaran, Chanyeol melihat nama seperti apa yang diberikan Baekhyun padanya. Ia protes saat menemukan Baekhyun menyimpan kontaknya sebagai Kaki Panjang Menyebalkan. "Yaa! Itu tidak keren!"

Baekhyun hanya mengangkat bahu tidak peduli. Ia pun kembali menyimpan ponselnya di dalam saku.

"Ya sudah deh, aku pasrah," kata Chanyeol merajuk. "Yang jelas sekarang kau bisa menghubungiku kapan saja. Dan kau bebas untuk menceritakan para sialan itu."

Baekhyun menghela napasnya saat Chanyeol kembali membahas tiga pemuda sebelumnya. "Sudah kubilang, jangan pedulikan mereka," setelah mengatakan hal itu, Baekhyun segera berbalik dan meninggalkan Chanyeol di tempatnya.

"Baekhyun-ah!" teriak Chanyeol membuat Baekhyun berhenti, tapi ia tidak berbalik. "Aku tidak akan memaksamu untuk cerita, tapi aku punya caraku sendiri," teriaknya dan Baekhyun hanya kembali melanjutkan jalannya tanpa menoleh sedikit pun.

Chanyeol terus memperhatikan punggung Baekhyun yang perlahan menghilang dari pandangannya. Ia terpikirkan dengan air muka Baekhyun yang tampak begitu tersiksa saat melihat teman-teman SMP-nya. Ia yakin bahwa masalah yang telah dilupakan oleh Baekhyun itu sebenarnya masih berkeliaran di pikirannya. Dan Chanyeol dengan sifat keras kepalanya tentu saja tidak akan diam.

Kembali meneguk cola hingga tetes terakhir, Chanyeol sampai tersenyum karena kaleng kosong di tangannya. Mungkin ini adalah cola termanis yang pernah ia minum. Chanyeol berseru dan tertawa setelah berganti melihat plester bergambar Yoda yang membungkus lukanya. "Kalau aku babak belur, apa dia akan merawatku?"

.

.

TBC

.

.


.

A/N

Chapter 7 dataaaaaang~ gak tau cerita ini ada yang nungguin atau nggak, yang jelas aku publish aja biar work yang lain bisa cepet di publish -3-

Gak mau nambah word lagi ahh... Pokoknya thanks buat yang udah mampir ^^ jumpa lagi next week ya^^

See you!

Virgo