Baekhyun berkali-kali menghapus coretan di buku catatannya saat ia terus saja mendapatkan jawaban yang salah. Bukan karena Baekhyun tidak mengerti dengan pelajarannya, tetapi memang karena Baekhyun tidak bisa fokus sekarang. Baekhyun akhirnya menyerah dan melemparkan pensilnya dengan kesal.
Jongdae yang duduk tepat di depannya menjadi korban kemarahan Baekhyun. Ia berbalik menatap Baekhyun kesal, namun pemuda itu malah menatapnya lebih galak.
"Sialan, kau kenapa sih?" tanyanya kesal.
"Iya, benar. Aku kenapa sih?" Baekhyun menggebrak meja membuat semua teman sekelasnya terkejut. Beruntung tidak ada guru di kelas, sehingga ia tidak perlu mendapat omelan.
"Kok malah nanya balik?" Jongdae menatap Baekhyun heran.
Tidak peduli lagi, Baekhyun menjatuhkan kepalanya di atas meja. "Jangan ajak aku bicara," kata Baekhyun dan Jongdae pun kembali menghadap ke depan tidak mempedulikan temannya itu.
Baekhyun menghela napas, ia terus menatap ke luar jendela. Alasan ia tidak bisa konsentrasi sekarang adalah karena kejadian kemarin malam. Ia tidak bisa berhenti memikirkan seorang Park Chanyeol yang datang tiba-tiba dan menolongnya. Ia juga terus bertanya-tanya, kenapa dia begitu perhatian pada Chanyeol malam itu? Memang seharusnya Baekhyun merasa bersalah karena Chanyeol terluka untuk menolongnya, tetapi ia sungguh malu jika harus mengingat betapa perhatiannya ia pada Chanyeol.
"Pasti Chanyeol akan lebih sering menggangguku," monolog Baekhyun lelah. Ia perlahan menutup matanya. Bersiap untuk tidur di kelas, hal yang sudah lama tidak ia lakukan.
.
"Chanyeol."
Chanyeol yang sedang sibuk bermain game di ponselnya menoleh saat salah seorang temannya menghampiri. "Apa?"
"Ada yang mencarimu di gebang," katanya sambil menunjuk ke luar jendela.
Chanyeol menoleh ke arah gerbang, ia hanya menghela napas dan kemudian berdiri. "Baru juga mau santai."
.
Hingga pulang sekolah pun, Baekhyun masih terus memikirkan kejadian semalam. Namun, ada satu hal yang lebih dikhawatirkan oleh Baekhyun. Yaitu teman-teman SMP-nya yang sudah pasti mendendam kepada Chanyeol. Baekhyun pun yakin jika Chanyeol tidak akan tinggal diam jika bertemu dengan mereka. Baekhyun juga takut jika nanti Chanyeol mendengar apa yang terjadi padanya dari mulut pemuda-pemuda yang menyebalkan itu.
"Baekhyun?"
Baekhyun menoleh saat seseorang memanggil namanya. Ia berseru saat menemukan Yixing berdiri di sampingnya. "Yixing hyung!" seru Baekhyun mendekati pemuda yang lebih tua.
"Kamu mau pulang?" tanya Yixing yang langsung diangguki oleh Baekhyun. "Mau bareng?"
Baekhyun menggeleng. "Tidak perlu, nanti malah meropotkan," tolak Baekhyun dengan sopan pada senior kesayangannya itu.
"Tidak kok, kan yang menyetir bukan aku," balas Yixing kembali menawarkan.
Oh, ada supirnya ternyata, batin Baekhyun.
"Yixing-ah!"
Baekhyun dan Yixing kompak menoleh saat suara yang familiar memanggil nama Yixing. Baekhyun terkesima melihat sebuah mobil mewah yang berhenti di depannya. Ia seharusnya tidak perlu terkejut melihat Suho yang duduk di balik kursi pengemudi.
Suho membuka pintu mobil dan keluar, segera menghampiri Baekhyun dan Yixing. "Baekhyun, lama tidak ketemu."
Baekhyun senyum dan membungkuk sedikit, balas menyapa Suho. "Suho hyung kenal dengan Yixing hyung?"
Suho mengangguk dengan senyum lebar di wajahnya.
"Baekhyun, kau serius tidak mau pulang bareng?" Yixing kembali menawarkan tumpangan pada Baekhyun.
Baekhyun mengangguk. "Yakin kok, hyung."
"Aku antar saja deh," balas Suho juga tidak tega meninggalkan Baekhyun sendirian malam-malam begini ini.
"Tidak usah, serius," Baekhyun kembali meyakinkan kedua senior itu.
"Ya sudah deh," kata Suho sedikit kecewa. "Tapi, kapan-kapan jangan ditolak, ya." Baekhyun mengangguk sambil tertawa ringan sebagai jawaban. "Oh iya, persiapan untuk festival sekolah bagiamana?"
"Lancar kok, hyung," jawab Baekhyun memberikan kedua jempolnya dengan bangga.
"Bagus deh," balas Suho senang. "Kalau butuh sesuatu bilang saja, aku bisa tolong apa saja kok. Butuh dana tambahan? Atau mungkin butuh hiburan tambahan? Apa perlu aku undang SNSD atau Super Junior? Aku juga akan usahakan mengundang Yoo Jae Seok untuk nge-MC."
Baekhyun tertawa renyah mendengar candaan Suho yang sebenarnya bukanlah candaan. "Sekalian saja kau undang semua komedian terbaik di Korea, hyung," balas Baekhyun sarkas.
Suho dan Yixing tertawa gemas dengan reaksi Baekhyun. "Pokoknya, kalau butuh bantuan jangan segan-segan untuk memberitahuku," kata Suho dan dibalas dengan sebuah anggukan oleh Baekhyun. "Juga, akrab-akrab dengan Chanyeol, ya. Kasih tau juga dia untuk tidak keluyuran di jam sekolah."
Baekhyun mengernyit. "Memangnya kenapa? Chanyeol bolos?" tanya Baekhyun bingung.
Suho mengangguk singkat. "Waktu sore dia tiba-tiba pergi. Dia kembali sesaat sebelum pulang. Dia babak belur, katanya baru saja menghajar beberapa orang yang mengganggunya. Hah, padahal ketua OSIS, tapi suka sekali cari masalah," kata Suho menghela napasnya.
Baekhyun terdiam mendengar penjelasan Suho. Chanyeol babak belur? Ini tidak seperti apa yang ia bayangkan, 'kan? "Hyung, Chanyeol sudah pulang?" tanya Baekhyun mulai khawatir.
Suho mengangguk. "Iya, sekitar sepuluh menit yang lalu."
Baekhyun mengeluarkan ponselnya san segera mencari nama Kaki Panjang Menyebalkan di kontaknya. Suho dan Yixing bingung melihat Baekhyun.
"Baekhyun, kenapa?" tanya Yixing.
Baekhyun menggeleng. "Tidak apa-apa kok, hyung," jawab Baekhyun memaksakan senyumnya. "Hyung, aku pulang duluan ya," pamit Baekhyun meninggalkan Suho dan Yixing yang masih terlihat kebingungan.
Baekhyun berkali-kali menghubungi nomor yang sama, namun tetap tidak diangkat. Sambil terus berlari tanpa arah, Baekhyun mencoba kembali menghubungi Chanyeol. Akhirnya, setelah percobaan yang keenam, Chanyeol mengangkat panggilannya.
"Bangsat!" tariak Baekhyun begitu panggilan mereka tersambung. Bahkan Chanyeol belum sempat bilang apa-apa. "Kau dimana?!" dengan napas ngos-ngosan, Baekhyun bertanya.
Chanyeol sepertinya bingung dengan Baekhyun yang terdengar terburu-buru. "Di rumah," jawabnya dari seberang telepon.
Baekhyun sekali lagi mengumpat sebelum bicara. "Di rumah? Maksudnya di rumahmu ada penjaga kasir yang bertanya 'masih ada lagi?' gitu?" kata Baekhyun setelah mendengar suara seorang wanita di telepon. "Park Chanyeol, di mana kau sekarang?" tanyanya tegas.
Chanyeol memberikan jeda yang lama sebelum menjawab. "Toko serbaada kemarin malam," jawab Chanyeol pada akhirnya.
Baekhyun bersyukur karena Chanyeol jujur padanya. "Kau tunggu di sana, jangan ke mana-mana!" dan Baekhyun segera mematikan ponselnya.
Baekhyun berlari lebih kencang. Hanya dalam waktu tujuh menit, Baekhyun sampai di depan toko. Ia mendapati Chanyeol berdiri sambil menyender pada tembok toko.
Melihat kedatangan Baekhyun, Chanyeol langsung tersenyum dan melambaikan tangannya. Namun, bukannya balas menyapa, Baekhyun malah langsung memarahinya tanpa alasan.
"Brengsek, kenapa kau keras kepala sekali, sih? Sampai babak belur begini, kau tidak sakit? Kau senang wajahmu sampai biru-biru begitu? Kau memang sialan paling keras kepala!" teriak Baekhyun tepat di depan Chanyeol.
Chanyeol hanya diam ketika Baekhyun memarahinya. Barulah setelah Baekhyun selesai dan memberi jeda untuk mengambil napas, Chanyeol buka suara. "Sudah selesai marah-marahnya?"
"Belum!" teriak Baekhyun membuat orang-orang yang lewat terkejut.
Chanyeol menghela napasnya. "Kau tau dari mana kalau aku babak belur?"
"Suho hyung."
"Dia bilang aku menghajar siapa?"
Baekhyun bungkam. Suho hanya bilang jika Chanyeol menghajar orang-orang yang mengganggunya, tidak tahu dengan pasti siapa orang-orang itu. Baekhyun menggeleng dengan lemah. Ia perlahan menundukkan kepalanya.
Chanyeol tersenyum tipis. "Ada temanku yang diganggu sekelompok preman. Aku awalnya hanya ingin bicara dengan mereka, tapi mereka sudah lebih dahulu memulai pertengkaran," jelas Chanyeol dengan suara yang lebih rendah. Ia tahu jika Baekhyun merasa bersalah.
"Mianhae," bisik Baekhyun. Ia merasa bersalah sudah memarahi Chanyeol tanpa tahu alasannya yang sebenarnya. Dan merasa malu karena berpikir bahwa Chanyeol sampai babak belum begini karena teman-temannya yang kemarin.
"Kau sekhawatir itu padaku?" Chanyeol mulai kembali menggoda Baekhyun.
"Sialan!" teriak Baekhyun dan kemudian mengambil kantong keresek yang dipegang Chanyeol. "Kenapa kau masih belum mengobati lukamu?" kata Baekhyun mengalihkan topik, mengambil obat-obatan yang masih terbungkus rapi di dalam kantong keresek hitam itu.
Chanyeol tersenyum jahil. "Aku menunggumu. Kalau aku yang mengobatinya sendiri, rasa sakitnya masih akan terasa. Tapi jika kau yang mengobatiku, dijamin aku akan langsung sembuh," katanya dan langsung mendapat pukulan sayang dari Baekhyun.
"Obati sendiri!" Baekhyun mengembalikan kantong keresek itu pada Chanyeol.
Chanyeol tidak menerimanya dan malah melipat tangan di dada. "Padahal tadi khawatir."
"Apa harus aku yang mengobatimu?"
Chanyeol mengangguk. "Harus banget."
Baekhyun menatap Chanyeol jengkel membuat pemuda yang lebih tinggi tertawa gemas. Seolah terpaksa, Baekhyun menarik Chanyeol untuk duduk di sebuah kursi yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Baekhyun perlahan mulai mengobati luka-luka yang memenuhi wajah Chanyeol.
Selama Baekhyun membersihkan lukanya, Chanyeol tidak pernah sekali pun mengalihkan pandangannya dari wajah manis Baekhyun. Bersyukur karena Baekhyun begitu fokus dengan lukanya sehingga ia tidak perlu mendapat pukulan lainnya dari Baekhyun karena tidak berhenti menatapnya. Chanyeol juga tidak bisa menahan senyum, berharap jika ia bisa menikmati momen ini lebih lama lagi.
"Apa kau mau menjadi pahlawan pembela kebenaran dan pemberantas kejahatan?" omel Baekhyun setelah menutup luka-luka di wajah Chanyeol dengan plester. Ia segera beralih pada luka-luka di tangannya. "Ibumu pasti marah melihat seragammu yang sudah hitam begini."
Chanyeol tertawa kecil. "Lebih seram jika kau yang memarahiku," balasnya yang dibalas dengan tatapan tajam oleh Baekhyun. Chanyeol makin tersenyum gemas. "Baekhyun-ah," panggil Chanyeol lembut.
"Hm," balas Baekhyun singkat masih fokus mengobati luka di tangan Chanyeol. Ia terus menunggu, tetapi Chanyeol masih belum melanjutkan perkataannya. "Apa?"
Chanyeol bekali-kali membuka dan menutup mulutnya tetapi tidak bersuara. Ia tampak ragu untuk berbicara dan pada akhirnya menggeleng. "Un, bukan apa-apa."
Baekhyun sendiri juga tidak penasaran sehingga ia tidak peduli sama sekali. Ia pun telah selesai mengobati semua luka Chanyeol dan segera berdiri. "Sudah, aku mau pulang sekarang. Ingat, jangan berkelahi lagi. Sekali pun kau menolong temanmu, cobalah untuk bicara lebih dahulu. Dan kalau mereka memang yang pertama memulai perkelahiannya, lawan saja secukupnya. Jangan sampai aku mendengar kabar kalau kau mendapat sangsi sosial karena kedapatan baku hantam."
Chanyeol tersenyum lebar. "Kau pengertian sekali. Bisakah kau seperti ini setiap hari?"
Baekhyun menendang kaki kiri Chanyeol membuatnya meringis. "Sudah ah, aku pulang!" kata Baekhyun kesal dan segera melangkahkan kakinya pergi.
"Baekhyun-ah!" teriak Chanyeol membuat Baekhyun berbalik. "Gomawo! Hati-hati di jalan!" katanya sambil melambai. Ia tertawa saat Baekhyun tidak membalas lambaiannya dan pergi begitu saja.
Sikap Baekhyun yang dingin dan kemudian berubah hangat dan kembali dingin mungkin menjadi salah satu alasan Chanyeol menyukainya. "Hm, aku tidak bisa menahannya lagi," monolog Chanyeol. "Aku tidak akan melepaskanmu, Byun Baekhyun. Tidak akan pernah."
.
.
TBC
.
.
.
A/N
Yuhuuuuu chapter 8 datang~
Btw, kenapa bisa ada Lay di sini? KARENA AKU KANGEN ICING huhuh...T_T yuk yang kangen icing angkat tangan yuk... T_T
And thanks buat yang udah mampir^^ kita jumpa lagi next week ya^^
See you!
Virgo
