Chanyeol menoleh saat pintu ruang OSIS terbuka. Ia tersenyum, menyapa saat mengetahui bahwa Kyungsoo lah yang masuk.

"Sendirian saja?" tanya Kyungsoo. Tidak sama seperti orang lain, Kyungsoo tampaknya tidak peduli pada wajah Chanyeol yang penuh plester.

Chanyeol mengangguk menjawab pertanyaan Kyungsoo. "Kyungsoo-ya," panggil Chanyeol setelah Kyungsoo duduk, "kau bilang kau satu SMP dengan Baekhyun, 'kan?"

Kyungsoo mengangguk setelah duduk di sofa. "Iya, tapi cuma satu setengah tahun. Baekhyun pindah dari sekolah khusus laki-laki di Bucheon. Kenapa?"

"Baekhyun pernah cerita tentang alasannya pindah sekolah?"

"Tentu."

"Kau bisa beritahu aku?"

Kyungsoo mengernyit. "Apa kau ingin membuat sebuah biografi? Dari kemarin kau bertanya ini-itu terus tentang Baekhyun. Kalau kau melakukannya hanya untuk membuat Baekhyun kesal, sebaiknya kau berhenti. Kau bisa saja ditemukan mengambang di sungai Han suatu hari nanti."

Chanyeol hanya tertawa renyah. Sudah ia duga jika Kyungsoo akan bersikap seperti ini. Chanyeol kemudian berdeham sebelum kembali bicara. "Aku tau kalau Baekhyun itu dulunya gay."

Kyungsoo yang tadi sibuk dengan ponselnya berhenti dan menoleh pada Chanyeol. Matanya yang besar menatap Chanyeol tidak percaya. Ia memberikan jeda yang begitu lama sebelum membalas. "... Maksudmu?"

"Aku bertemu teman SMP Baekhyun dari Bucheon. Sepertinya mereka pindah ke Seoul sejak SMA. Dan luka-lukaku yang kemarin kudapat setelah menghajar mereka."

"Kau tau dari mana kalau mereka temannya Baekhyun?"

Chanyeol mulai menjelaskan dari awal. Mulai dari ia bertemu Baekhyun yang tampaknya sedang diejek oleh teman-teman lamanya. Hingga akhirnya Chanyeol didatangi oleh mereka dan berakhir berkelahi hingga ia menang telak.

"Sebenarnya aku tidak mau berkelahi. Aku meminta mereka untuk berhenti mengganggu Baekhyun. Tapi mereka mulai bicara tentang bagaimana Baekhyun dulu—seolah-olah mereka begitu mengenal Baekhyun—dan yah, mereka sepertinya mengira jika aku akan membenci Baekhyun setelah mendengar semua itu. Tapi aku lebih membenci mereka dan memaksa mereka diam dengan sedikit menghajar mereka."

Kyungsoo menghela napas. Ia tampak menahan amarahnya membuat Chanyeol sedikit takut saat ia membuka mulut. "Kenapa kau tidak mengajakku juga? Walaupun tidak bisa berkelahi, setidaknya aku ingin menendang bokong mereka satu-persatu," kata Kyungsoo berapi-api.

Chanyeol bernapas lega karena Kyungsoo ternyata berada di sisinya.

"Pasti ada alasan lain, kan," kata Chanyeol serius, "kenapa Baekhyun sangat benci dibilang gay?"

Kyungsoo berpikir lama untuk menjawab. Ia menghela napas untuk yang kesekian kalinya dan bersandar. Mungkinkah pilihan yang tepat untuk memberitahu Chanyeol semuanya?

Chanyeol yang tahu bahwa sulit bagi Kyungsoo untuk menceritakan masa lalu orang lain mencoba meyakinkannya. "Aku sama sekali tidak penasaran dengan masa lalu Baekhyun. Aku cuma mau tau apa yang mereka lakukan pada Baekhyun agar aku tau balasan apa yang pantas untuk mereka. Aku yakin, bogem mentah kemarin sama sekali belum cukup." Chanyeol menatap Kyungsoo serius.

Kyungsoo pun pada akhirnya menyerah. Ia memutuskan untuk memberitahu Chanyeol. Kyungsoo menarik napas dalam sebelum mulai bercerita. "Entah apa dan siapa yang memulai, tiba-tiba saja ada rumor yang mengatakan bahwa Baekhyun itu gay. Tapi, meskipun itu hanya rumor, banyak orang yang menatapnya lain—yah, kau tau sendiri tatapan seperti apa yang kumaksud. Baekhyun berhasil bertahan selama satu tahun dengan rumor tu. Tapi tetap saja ia tidak baik-baik saja ketika hampir semua orang menjauhinya, bahkan teman-temannya juga.

"Baekhyun awalnya tidak pernah mendapat bulian yang begitu parah hingga salah seorang senior Baekhyun mendapat semacam black mail. Aku tidak tau itu black mail seperti apa, tapi sepertinya itu dari orang yang menyukai senior itu. Dari foto-foto yang dikirim, jelas pengirimnya adalah murid di sekolah yang sama. Dan cuma satu orang yang dirumorkan gay saat itu. Senior itu pun langsung menemui Baekhyun.

"Masalahnya di sini. Senior itu sengaja bicara di tempat yang sepi supaya tidak ada yang mendengar. Baekhyun juga sudah berkali-kali menyangkal, sampai akhirnya Baekhyun tidak ada pilihan lain selain mengaku bahwa dia gay. Tapi ia sudah bersikeras mengatakan bahwa ia tidak akan pernah melakukan hal seperti itu, apalagi pada orang yang dia suka."

Chanyeol mendengarkan dalam diam.

"Tepat saat itu, ternyata salah satu teman sekelas Baekhyun ada di sana dan mendengar pembicaraan mereka. Besoknya, rumor tentang Baekhyun makin menjadi-jadi. Ditambah dengan kejadian black mail itu, semua orang langsung mengira kalau itu semua ulah Baekhyun. Semua pembulian dan ejekan itu akhirnya makin parah. Bahkan Baekhyun pernah mendapat bulian fisik, seperti dilempari sampah dan sebagainya. Dan yang paling parah adalah, orang yang mendengar pembicaraan Baekhyun dengan seniornya dan orang yang sama yang membuat Baekhyun seolah-olah adalah monster adalah orang yang disukai Baekhyun."

Raut wajah Chanyeol langsung berubah kusut, terlihat tidak senang mendengar hal itu.

Kyungsoo yang menyadari ketidaksukaan di mata Chanyeol cepat-cepat melanjutkan ceritanya. "Semua hinaan itu langsung membuat Baekhyun stres. Hampir semua orang di sekolah menatap Baekhyun jijik. Bahkan setelah tahu kalau black mail itu cuma keisengan teman si senior, tetap saja pandangan itu tidak hilang. Akhirnya, setelah appa Baekhyun pindah tugas ke Seoul, Baekhyun pindah ke SMP yang sama denganku. Dia sebenarnya masih trauma dengan kehidupan sekolah, sampai-sampai Baekhyun tidak masuk beberapa minggu sejak pindah. Karena aku ketua kelas, aku datang ke rumahnya untuk memastikan dia baik-baik saja. Tidak mudah untuk bicara dengannya, Baekhyun baru mau menceritakan semua ini padaku setela aku berkunjung beberapa kali. Dari sana lah aku dan Baekhyun menjadi dekat, dan akhirnya aku bisa membujuk Baekhyun untuk kembali ke sekolah." Kyungsoo menghembuskan napas yang cukup panjang. Ia sepertinya teringat pada hari dimana Baekhyun menangis sambil menceritakan masa lalunya yang jauh dari kata baik-baik saja.

"Baekhyun sama sekali tidak menceritakan masalah ini ke keluarganya?" tanya Chanyeol penasaran.

Kyungsoo menggeleng. "Keluarganya tau dia punya masalah dan mereka sangat khawatir, tapi mereka tidak bisa memaksa Baekhyun untuk bicara. Hingga sekarang yang tau cerita ini hanya aku, Taehyung, dan salah seorang senior Baekhyun di SMA."

Chanyeol mengepalkan tinjunya. Sekarang ia yakin jika apa yang ia berikan pada teman-teman SMP Baekhyun kemarin masih belum cukup.

"Baekhyun tidak mau lagi jadi gay, tapi dia tidak keberatan dengan keberadaan gay di sekitarnya," Kyungsoo kembali bercerita. "Tapi itu sendiri sulit untuk Baekhyun karena mengingatkan dia pada masa lalunya."

Chanyeol terdiam. Makin merasa bersalah saat mengingat Baekhyun yang hampir menangis karena candaannya.

"Jadi," Kyungsoo melanjutkan, "aku tidak mau melihat Baekhyun tersiksa lagi. Kalau kau cuma mau mengganggu Baekhyun, sebaiknya kau berhenti sekarang juga. Tapi, kalau kau serius ingin melindungi Baekhyun, aku sama sekali tidak keberatan."

Chanyeol tersenyum. Dia tahu jika Kyungsoo begitu percaya kepadanya. "Perasaanku untuk Baekhyun itu serius. Aku tau ini akan sulit, tapi aku akan mendapatkan Baekhyun tanpa menyakitinya. Sedikit pun, aku tidak akan menyakitinya. Aku berjanji untuk menjaga Baekhyun."

Kyungsoo berpikir cukup lama. Ia tidak keberatan jika Chanyeol ingin menjaga Baekhyun, tapi sedikit ragu jika Chanyeol ingin memenangkan hati Baekhyun. Bagaimana pun, Baekhyun masih memiliki rasa sakit yang membekas di hatinya.

Chanyeol menyadari keraguan di wajah Kyungsoo. Dia tahu jika temannya itu khawatir. "Dengar, kalau sampai aku menyakiti Baekhyun sedikit saja, kau boleh menghajarku sepuasmu."

Kyungsoo menghela napas. Ia mengerti sekali jika Chanyeol sudah sangat serius. "Pegang perkataanmu, Park Chanyeol."

.

Di perjalanan pulang sekolah, Baekhyun mampir ke toko untuk membeli persediaan makanan dan bahan-bahan lainnya. Hari ini Baekhyun lagi-lagi harus sendirian di rumah karena kedua orang tuanya bekerja dan ia terpaksa memasak untuk dirinya sendiri. Ia sebenarnya ingin membeli makanan instant, tapi ia sudah terlalu banyak makan makanan instant selama beberapa hari ini, dan Baekhyun peduli dengan kesehatannya. Baekhyun juga tidak bisa membiarkan ibunya mengomel karena membiarkan kulkas mereka kosong begitu saja.

Setelah keluar dari toko, Baekhyun memutar mata malas. Ia langsung mempercepat langkahnya melihat tiga orang yang membuat suasana hatinya hancur akhir-akhir ini.

"Wah, kita bertemu lagi," kata salah seorang dari tiga pemuda yang mencegahnya untuk kabur.

Baekhyun mencoba untuk menjauh, tapi ia sudah lebih dahulu terkepung. Baekhyun mau tidak mau mengangkat kepalanya dan menatap satu persatu wajah di depannya. Wajah yang sama menyebalkannya dengan yang kemarin. Mungkin bedanya hanya plester di wajah mereka.

"Kau mau kabur begitu saja ya," kata salah seorang dari mereka, "beda sekali dengan Byun Baekhyun yang menghajar seniornya sampai tak sadarkan diri."

Baekhyun meremas kantong belanjaannya dengan erat. Berusaha agar tidak melayangkan tinjunya.

"Aku tidak yakin dia akan datang lagi kali ini," ucap pemuda yang berdiri paling depan, "tapi, tidak ada salahnya mencoba. Mungkin dia akan datang untuk menolong pacar tersayangnya. Dan aku pastikan untuk menghajarnya habis-habisan kali ini!"

Baekhyun tidak perlu menebak siapa yang dimaksud. Dan Baekhyun juga tidak berharap Chanyeol akan datang, karena menurutnya hal itu hanya akan menambah masalah.

"Kau pasti tidak mau menghajar kami." Ketiga pemuda itu tampak percaya diri. "Kau tidak mau kejadian yang sama terulang lagi, kan? Kau pasti masih merasa bersalah pada para senior."

Baekhyun mendengus, tertawa. "Merasa bersalah? Mereka pantas dihajar, begitu juga kalian!" Ia mulai tidak bisa menahan emosinya.

Ketiga pemuda di depannya balas tertawa lebih keras. "Kalau begitu hajar! Kau pikir kami akan kalah?"

Baekhyun tidak tahan lagi, ia segera melayangkan pukulannya.

Tidak sempat menangkis pukulan tersebut, pemuda yang dipukul oleh Baekhyun terlempar ke belakang dan menabrak teman-temannya. Namun, seringai lebar masih belum hilang dari wajah mereka. Ketiganya malah makin bersemangat.

"Akhirnya. Byun Baekhyun akhirnya bangun!"

Baekhyun sudah tidak peduli pada barang belanjaannya yang sudah berserakan. Ia segera menarik kerah salah satu pemuda tersebut dan kembali memukul wajahnya. Tidak lupa pada dua pemuda lainnya, Baekhyun juga menghajar mereka secara bergantian. Namun, saat Baekhyun akan melepaskan tendangannya, seseorang sudah lebih dahulu menendang.

.

TBC

.

.

.


A/N

Hai guys! Sorry minggu kemarin gak up soalnya aku sibuuuuuuuuk... Makasih yaa, buat yang tetap nungguin cerita ini^^ Aku bakal lanjut update weekly karena aku udah gak sibuk-sibuk amat akhirnya~~ dan tenang aja, aku gak bakal ngilang begitu aja sebelum cerita ini tamat! Pantang berenti sebelum selesai!

Udah ah, nambah words aja dari tadi... Pokoknya makasih buat yang udah mampir dan nungguin chapter baru... Jumpa lagi next week guys!

See you!

Virgo