Baekhyun begitu terkejut ketika Chanyeol dengan kaki panjangnya membuat salah seorang pemuda yang dilawannya terlempar begitu jauh. Ia bahkan tidak sempat mengatakan apa-apa karena Chanyeol pun tidak menoleh padanya. Baekhyun melihat sekilas wajah pemuda itu, dan dia menyadari jika Chanyeol sangat marah sekarang.

"Wah, dia benar-benar datang," kata salah seorang dari ketiga pemuda itu sambil bertepuk tangan. Ia sangat puas melihat Chanyeol yang terbakar emosi.

Chanyeol mengeram menatap ketiga pemuda itu. "Kalian belum puas aku hajar? Kubilang berhenti mengganggunya!" teriak Chanyeol membuat Baekhyun sampai terkejut.

Baekhyun terdiam. Ini pertama kalinya dia melihat Chanyeol semarah ini. Senyum jahil dan wajah ramahnya hilang. Matanya menatap nyalang ketiga pemuda di depannya.

"Apa kalian tidak bisa meninggalkannya? Berhenti mengganggunya dan jangan membuat keributan lagi."

Salah seorang dari ketiganya tertawa. "Kau juga bicara seperti itu kemarin. Tapi lihat apa yang terjadi, malah kau yang pertama mendaratkan pukulan ke wajahku. Apa kau yakin jika bicara saja bisa menyelesaikan masalah? Apa kau bisa menjamin kalau kau tidak akan mengamuk seperti yang kemarin?"

Chanyeol mengepal erat tinjunya. Sebenarnya ia masih kesakitan karena luka-lukanya beberapa hari yang lalu belum sembuh sepenuhnya. Tapi ia tidak punya pilihan lain selain menghajar mereka kalau memang perlu. "Kata-kata saja memang tidak bisa untuk orang-orang brengsek seperti kalian."

Ketiganya langsung tersulut emosi. Salah satu dari mereka mendecih sambil menatap Chanyeol dengan muak. "Padahal aku baru bertemu denganmu tiga kali, tapi aku sudah muak melihat wajahmu. Akan lebih bagus jika ini menjadi pertemuan terakhir kita."

"Oh, benarkah? Aku juga berpikir begitu. Aku senang jika tidak akan bertemu kalian lagi."

"Ya, setelah kami menghajarmu terlebih dahulu."

Baekhyun mengernyit. Menyadari ada sesuatu yang salah di sini. "Chanyeol," panggilnya dengan nada serius, tapi Chanyeol tidak mendengarkan sama sekali.

"Jangan terlalu percaya diri," balasnya kembali bersiap menyerang. "Pukul aku kalau kalian bisa!"

Ketiga pemuda itu tersenyum puas dan segera berhamburan menghajar Chanyeol. Namun, saat Chanyeol sudah siap untuk melepaskan tinjunya, ia terkejut saat pemuda-pemuda itu malah menghindarinya dengan sengaja. Dua orang diantara mereka malah pergi ke arah Baekhyun.

Chanyeol berseru saat Baekhyun tersungkur. Ia ingin segera menolong Baekhyun, tapi yang seorang lagi menahannya dan memukul tepat di ulu hatinya. Chanyeol mengutuk dirinya sendiri yang gagal menolong Baekhyun dan malah ikut terjatuh.

"Kau tidak apa-apa?" Bukannya mengkhawatirkan dirinya sendiri, Chanyeol masih sempat-sempatnya menanyakan keadaan Baekhyun.

Suara tawa terdengar dari ketiga pemuda di sana. "Astaga, kau masih mengkhawatirkan pacarmu?"

Chanyeol segera bangkit mendengar tawa itu. Ia menatap ketiganya nyalang. Namun, sebelum kembali menghajar mereka, ia terlebih dahulu membantu Baekhyun bangun.

Baekhyun bangun dengan bantuan Chanyeol. Ia baru akan menarik tangan Chanyeol untuk kabur, tapi pemuda tinggi itu sudah melepaskan tangannya kembali. Baekhyun sungguh lelah dengan sifat keras kepala Chanyeol.

Tanpa menahan diri, Chanyeol melepaskan tinjunya. Ia menghajar ketiganya sekaligus. Saat ada kesempatan, Chanyeol berhasil membuat salah seorang dari mereka terjatuh dan terbaring. Ia segera meluapkan kemarahannya pada pemuda yang telah memukul Baekhyun.

Baekhyun berteriak meminta Chanyeol berhenti. Ia mulai takut saat Chanyeol masih terus saja melayangkan tinjunya tanpa ampun.

Baekhyun berusaha untuk menarik Chanyeol, tapi dua orang lainnya malah menarik Baekhyun menjauh. Mereka segera mengambil kesempatan ini untuk menyerang Baekhyun. Beruntung, Baekhyun mendapatkan celah sehingga bisa menahan dan kemudian membalas serangan mereka. Kedua lawannya pun jatuh bersamaan karena tendangannya.

Chanyeol yang akhirnya berhenti dengan serangan bertubi-tubinya terkejut bukan main. Sebenarnya ia sudah berdiri untuk menolong Baekhyun, tapi sepertinya Baekhyun mengatasinya lebih baik dari dirinya.

Baru saja Chanyeol ingin mengangkat tangannya dan bertos ria dengan Baekhyun, ia langsung menunduk. Ia langsung patuh saat Baekhyun menatapnya dengan tatapan tajam. Chanyeol langsung mengerti hanya dengan melihat mata Baekhyun. Baekhyun dipastikan akan mengomelinya sekarang.

Tiga pemuda yang sudah kewalahan karena dihajar Chanyeol dan Baekhyun pun ikut berdiri. Ketiganya kembali bersiap menyerang, tapi mereka malah kabur secara tiba-tiba.

Chanyeol bingung saat ketiga pemuda yang sudah babak belur itu malah kabur. Ia berniat untuk mengejar, tapi seseorang menahannya. Chanyeol pikir Baekhyun lah yang menahannya, karena itulah dia begitu terkejut saat tau kalau seorang petugas polisi menatapnya seolah berkata 'kau mau ke mana?'

Chanyeol langsung kikuk. Ia tersenyum canggung menyapa polisi tersebut. Ia beralih pada Baekhyun yang berusaha menyembunyikan tawanya.

"Apa yang kalian lakukan malam-malam begini?" tanya sang petugas seolah-olah memarahi anaknya yang pulang terlambat.

"Itu... er, biasa lah pak, anak laki-laki," balas Chanyeol sambil memberikan senyumnya. Ia mencoba mendapatkan kesan baik dari sang polisi.

Chanyeol sungguh tidak tau harus mengatakan apa lagi saat petugas polisi di depannya tidak menerima alasan apapun. Baekhyun pun dengan segera mengambil peran dan berbicara pada sang polisi. Ia berbicara sehalus dan sesopan mungkin. Ia pun menceritakan apa yang tadi terjadi—dengan sedikit pengurangan dan penambahan pada kejadian aslinya.

Pada akhirnya, polisi tersebut hanya menasehati Baekhyun dan Chanyeol. Ia mencoba maklum karena ia pun pernah melakukan hal yang sama di masa-masa remaja dulu. Setelah memastikan bahwa Chanyeol dan Baekhyun baik-baik saja, akhirnya sang polisi pergi.

Chanyeol bernapas lega. Ia beralih pada Baekhyun yang kini tengah memungut belanjaannya yang berserakan. Chanyeol dengan gesit mengambil semuanya dan memasukkannya kedalam kantong plastik. Chanyeol pun segera memberikan kantong tersebut kepada Baekhyun.

Chanyeol mengernyit bingung saat Baekhyun malah menatapnya tajam. "Apa?"

Baekhyun mengambil kantong belanjaannya dengan masih menatap Chanyeol tajam. "Kata mereka ini pertemuan ketiga kalian. Kau pergi menemui mereka?"

Chanyeol tiba-tiba bingung harus bicara apa. Matanya bergerak gelisah ingin menghindari tatapan Baekhyun. Ia sibuk mencari alasan. Ini adalah pertanyaan yang paling ingin dia hindari dari Baekhyun.

Chanyeol kembali mengambil kantong belanjaan Baekhyun. Bukannya menjawab, Chanyeol malah balik bertanya. "Aku mampir ke rumahmu, ya?"

Baekhyun menatap Chanyeol kesal. Ia hampir melepaskan tinjunya pada wajah tampan Chanyeol. "Park Chanyeol, kau bertemu mereka sebelumnya?"

Chanyeol berpikir sebelum menjawab. "Kita ke rumahmu dulu," balasnya, "aku jawab di sana."

Baekhyun bisa merasakan jika emosinya kembali mendidih. Sungguh, tidak ada orang yang bisa membuatnya marah secepat ini selain Chanyeol. Dan Chanyeol juga satu-satunya orang yang bisa membuatnya menghela napas pasrah walau sedang marah besar.

"Yuk, kita pulang," kata Chanyeol dan langsung memimpin jalan.

Baekhyun kehilangan kata-kata saat Chanyeol sudah berjalan duluan. Ia segera menyusul Chanyeol dan tidak lupa memberikannya tendangan rendah membuat Chanyeol hampir berlutut di jalan.

Selama perjalanan menuju rumahnya, Baekhyun terus menanyakan hal yang sama. Chanyeol pun juga terus memberikan jawaban tidak relevan. Cukup mengejutkan karena Chanyeol tidak mengalami cedera selama di jalan. Padahal Baekhyun sudah berkali-kali memberinya pukulan dan tendangan sampai ia mengaduh kesakitan.

Tidak terasa, Baekhyun san Chanyeol sudah sampai di kediaman Byun. Baekhyun menghela napas lelah. Tidak ia sangka jika Chanyeol benar-benar akan mengikutinya hingga ke rumah.

"Belanjaanku," kata Baekhyun berusaha mengambil kembali kantong belanjaanya. Tapi bukan Chanyeol namanya kalau memberikannya begitu saja.

Chanyeol mengangkat belanjaan Baekhyun tinggi-tinggi. "Kan aku bilang mampir, bukan nganterin," ucapnya merasa tidak adil.

Baekhyun menyikut tulang rusuk Chanyeol, tapi pemuda itu tetap bergeming. "Tidak mau aku menerima tamu sepertimu," katanya kembali memberikan Chanyeol tendangan rendah.

Berhasil menahan tendangan Baekhyun, Chanyeol segera berlari menuju pintu rumah Baekhyun. "Baekhyun-ah, aku butuh toilet!" katanya buru-buru. "Buka pintunya cepat!"

Baekhyun lagi-lagi menghela napas. Namun kali ini ia tertawa karena situasi yang tidak terduga ini.

Chanyeol berlari secepat kilat setelah Baekhyun menunjukkan di mana toiletnya. Ia bahkan meletakkan belanjaan Baekhyun begitu saja di atas sofa.

Baekhyun menggeleng-geleng dan mengambil kantong belanjaannya. Ia segera pergi menuju dapur dan mulai mengisi kulkasnya. Setelah beberapa menit, Chanyeol akhirnya keluar dari toilet dengan wajah lega. Syukurlah Chanyeol benar-benar membutuhkan toilet, kalau itu hanya alasan, hancur sudah dia diremuk oleh Baekhyun.

"Baekhyun-ah, ada P3K?" tanya Chanyeol setelah duduk di sofa.

Baekhyun mengangguk dan segera pergi mengambil kotak P3K. Ia pun ikut duduk di sofa. Baru saja Baekhyun ingin mulai membersihkan luka-lukanya, Chanyeol sudah lebih dahulu mengambil barang-barang yang ia pegang.

"Kali ini giliranku untuk mengobatimu," kata Chanyeol dan mulai membersihkan luka di tangan Baekhyun. Dengan perhatian penuh, Chanyeol mengobati luka Baekhyun dan menutupnya dengan plester.

Baekhyun berterima kasih setelah Chanyeol mengobati semua lukanya. Dia merasa sedikit canggung karena diperlakukan begitu manis oleh Chanyeol.

"Kau juga punya luka," kata Baekhyun sambil mengambil kapas baru. Ia segera mengambil tangan Chanyeol dan membersihkan luka-lukanya. "Kau menyeramkan sekali tadi. Kupikir kau bisa saja membunuh mereka kalau tidak kuhentikan."

Chanyeol tersenyum lembut mendengar perkataan Baekhyun. Ia tau betul kalau Baekhyun khawatir padanya. "Itu karena aku ingin melindungimu. Aku marah sekali saat dia memukulmu," kata Chanyeol dengan suara yang lembut.

Baekhyun jelas mendengar perkataan Chanyeol, tapi ia memilih untuk pura-pura tidak mendengar. Setelah selesai dengan luka-luka Chanyeol, Baekhyun segera mengganti topik pembicaraan. "Lalu, untuk pertanyaan tadi?"

Chanyeol menatap Baekhyun bingung. Kini ia yang berpura-pura tidak tau dengan pertanyaan apa yang dimaksud Baekhyun.

Beruntung lah Chanyeol karena Baekhyun tidak mau sofanya hancur hanya untuk menghajarnya. "Kata mereka tadi itu pertemuan ketiga kalian." Baekhyun merendahkan suaranya, membuat suasana lebih serius. "Chanyeol-ah, jawab dengan jujur."

Chanyeol makin bingung harus menjawab apa setelah Baekhyun memanggil namanya seperti itu. Lama berpikir, Chanyeol akhirnya menyerah. "Aku memang bertemu mereka sebelumnya. Waktu kubilang kalau aku cuma menghajar preman yang mengganggu temanku," Chanyeol mulai bercerita. "Jangan marah dulu. Bukan aku yang memulai, tapi mereka yang datang ke sekolah. Dan aku mulai menghajar mereka ketika mereka mulai mengatakan hal-hal buruk tentangmu." jelas Chanyeol.

Baekhyun diam sesaat. "Apa yang mereka katakan sampai kau semarah itu?" Sebenarnya, tanpa bertanya pun Baekhyun sudah tau jawabannya.

Chanyeol lagi-lagi memberi jeda yang panjang sebelum menjawab. "Mereka cerita tentang apa yang terjadi di SMP."

Dugaannya benar.

Baekhyun perlahan menundukkan kepalanya. "Dan kau menghajar mereka karena merasa jijik mendengar ceritanya?"

"Iya," jawab Chanyeol tanpa pikir panjang. Namun saat matanya menangkap tubuh Baekhyun yang gemetar, ia langsung panik. Chanyeol segera menggenggam tangan Baekhyun membuat pemuda itu menatapnya bingung.

Chanyeol menggeleng meyakinkan Baekhyun. "Aku jijik pada mereka yang terus mengatakan kata-kata sampah itu tentangmu. Aku benar-benar ingin membungkam mulut mereka."

Baekhyun cukup terkejut dengan perlakuan Chanyeol. Baekhyun segera melepaskan tangan Chanyeol yang masih menggenggam miliknya. Ia mengalihkan pandangannya dan menghela napas. "Padahal aku sudah berusaha agar cerita ini tidak bocor ke siapa pun," ucapnya frustasi.

Chanyeol menepuk pundak Baekhyun. "Kalau sampai mereka menceritakan hal itu pada orang lain, aku pastikan jika mereka tidak akan punya kesempatan untuk bicara lagi."

Baekhyun mendengus. "Kau serius ingin jadi pahlawan, ya?"

"Pahlawan untuk Byun Baekhyun."

Baekhyun memukul Chanyeol dengan bantal sofa. "Tapi, kau serius tidak apa-apa dengan fakta bahwa aku dulunya gay?"

Chanyeol mengangguk. "Kalau aku keberatan dengan orang gay..." jawab Chanyeol memberi jeda terlebih dahulu, "mustahil aku bisa berteman dengan Suho hyung."

Baekhyun cukup terkejut mendengarkan nama yang disebutkan oleh Chanyeol. Yixing tiba-tiba terlintas di benak Baekhyun.

"Dan aku juga tidak keberatan sama sekali kalau kau mau jadi gay lagi," kata Chanyeol dengan senyum lebarnya. Ia sekali lagi mendapatkan lemparan bantal oleh Baekhyun.

Chanyeol tetap tertawa puas meskipun dilempari bantal oleh Baekhyun. Chanyeol baru menghentikan tawanya saat tiba-tiba sesuatu, atau lebih tepatnya seekor corgi melompat dan mendarat di kakinya. Chanyeol berseru kaget.

"Mongryong, turun!" perintah Baekhyun pada anjing manisnya. Namun, Mongryong sama sekali tidak peduli dan tetap duduk di kaki Chanyeol.

Chanyeol tersenyum gemas. "Kau punya seekor anjing?" tanyanya sambil mengangkat Mongryong dan memangkunya.

"Bukan, aku punya seekor kucing," balas Baekhyun sarkas.

Chanyeol sendiri sebenarnya juga merasa bodoh karena bertanya, jadi dia membalas perkataan Baekhyun dengan tawa. Ia kemudian asyik bermain bersama Mongryong yang terlihat nyaman dengannya.

"Dia tidak biasanya selengket itu dengan orang baru," ungkap Baekhyun yang mendekat dan ikut mengelus Mongryong.

"Dia tau siapa sahabat pemiliknya," balas Chanyeol dengan wajah percaya diri, "dia merasa nyaman karena pemiliknya juga merasa nyaman denganku," sambung Chanyeol dan langsung mendapatkan lemparan bantal yang kedua dari Baekhyun.

Ingin menghajar Chanyeol lebih banyak lagi, Baekhyun terpaksa berhenti saat perutnya tiba-tiba berbunyi. Dia mendadak merasa malu karena Chanyeol mendengar dengan jelas suara perutnya. Wajahnya sampai memerah.

Chanyeol tersenyum, gemas. "Oke!" teriaknya berdiri dari sofa membuat Mongryong terkejut dan melompat turun. "Khusus malam ini, sang koki tampan ini akan memasak makan malam untuk kita berdua."

"Kau bisa masak?" tanya Baekhyun meragukan Chanyeol. Tapi ia tidak mengatakannya dengan sarkasme, karena ia sendiri tidak sehebat itu dalam memasak.

Chanyeol tersenyum makin lebar. Dia begitu percaya diri. "Pinjam dapurmu sebentar." Dan Chanyeol berjalan menuju dapur dengan Baekhyun yang mengikutinya.

Setelah memperhatikan Chanyeol memasak Baekhyun harus mengakui jika Chanyeol cukup hebat. Tapi siapa yang tahu hasilnya akan seperti apa. Mungkin saja Chanyeol terlihat hebat saat memasak tapi rasa makannya tidak seenak itu, 'kan?

Chanyeol yang sudah selesai memasak meletakkan makanannya di atas meja. Sepiring nasi goreng kimchi sudah ada di depan Baekhyun. Aroma enak sudah menguasai indra penciuman Baekhyun.

"Cepat makan, aku tidak memasukkan bahan-bahan yang aneh kok," kata Chanyeol setelah memasukkan sesuap nasi goreng ke mulutnya.

Baekhyun akhirnya mengambil sesendok dan memasukkannya ke mulutnya. Baekhyun sekuat tenaga menahan senyumnya saat rasa lezat memenuhi mulutnya. Ia mengakui betapa enaknya masakan Chanyeol, tapi ia tidak akan membiarkan Chanyeol mendapatkan pujiannya.

Chanyeol terkekeh. Ia tahu jika Baekhyun begitu ingin menyerukan betapa enaknya masakannya. Tanpa perlu Baekhyun komentari pun, Chanyeol sudah senang melihat Baekhyun memakan masakannya.

Baekhyun bahkan memasukkan suapan besar ke mulutnya. Entah karena lapar atau karena nasi goreng yang lezat tersebut. Ia terkejut saat Chanyeol memberikan beberapa sendok nasi goreng ke piringnya. Baekhyun menatap Chanyeol dengan mata yang lebar dan pipi yang menggembung. Sungguh pemandangan paling menggemaskan yang pernah Chanyeol lihat.

Setelah makan malam mereka selesai, Chanyeol kembali duduk di sofa. Baekhyun yang baru saja selesai berganti baju ikut bergabung.

"Belum mau pulang?" tanya Baekhyun pada Chanyeol yang kekenyangan.

Chanyeol malah mengubah posisinya hingga berbaring di sofa. "Aku menginap, besok kan libur."

Baekhyun menginjak kaki Chanyeol membuat pemuda itu kesakitan. "Pulang," usirnya dingin.

Chanyeol cemberut. "Sudah larut. Bagaimana jika aku dihadang preman? Kalau tiba-tiba ada yang menculikku bagaimana? Sekarang aksi kriminal dimana-mana."

Baekhyun memutar mata malas. "Dasar banyak drama."

Chanyeol makin merengek. "Boleh ya, malam ini saja kok," pinta Chanyeol memeluk bantal sofa erat-erat. Ia sepertinya sudah menyatu dengan sofa itu.

"Kau serius ingin aku hajar, ya?" kata Baekhyun melayangkan tinjunya pada Chanyeol. Ia menarik tangannya sebelum ia benar-benar meninju Chanyeol. Bagaimana pun juga, tangannya masih sakit.

Chanyeol malah tertawa melihat reaksi Baekhyun. "Baekhyun-ah, kalau kau bisa berkelahi sehebat itu kenapa tidak dari awal kau habisi mereka?"

Baekhyun menggeleng. "Nanti akan menimbulkan masalah yang lebih besar. Aku tidak mau di-skors lagi."

Chanyeol terkejut mendengar jawaban Baekhyun. "Kau pernah di-skors?"

"Iya, waktu SMP," jawabnya. "Ada sekitar tujuh atau delapan senior yang menghinaku gay. Karena hilang kesabaran, tanpa sadar aku menghajar mereka dan seketika mereka pingsan. Aku di-skors dua minggu, tapi karena Appa dipindah tugaskan ke Seoul, aku tidak perlu lagi kembali ke sekolah itu."

Chanyeol terdiam mendengar cerita singkat Baekhyun. Ia tiba-tiba teringat dengan perkataan Sehun tentang rumor dimana Baekhyun menghajar beberapa orang di sekolah lamanya. Ternyata itu sama sekali bukan rumor. Sepertinya memang tindakan yang salah untuk membuat Baekhyun marah. Chanyeol sempat membayangkan jika ia mungkin akan terbangun di rumah sakit suatu hari nanti jika masih suka membuat Baekhyun marah.

Baekhyun ingin sekali meneriaki Chanyeol yang malah terlihat makin nyaman di sofanya. Ia beralih melihat jam dinding, sudah lewat tengah malam. Sudah terlalu lelah, Baekhyun akhirnya menyerah. "Kau boleh menginap malam ini," katanya dengan terpaksa.

Chanyeol berseru girang. Ia bahkan hampir terjatuh dari sofa saking bersemangatnya.

Baekhyun tertawa kecil melihat reaksi Chanyeol. "Kau bisa tidur di kamar hyungku. Dia tidak ada di rumah karena kuliah," kata Baekhyun setelah menyadari bahwa Chanyeol terlalu besar untuk sofanya.

Chanyeol mengikuti Baekhyun dengan bersemangat menuju lantai dua. Kamar kakak Baekhyun yang kini kosong berada tepat di samping kamar Baekhyun. Hal itu membuat Chanyeol lebih senang lagi. Meskipun sebenarnya Chanyeol lebih suka jika ia bisa tidur di kamar Baekhyun walau harus beralaskan lantai yang dingin. Tapi jika ia memintanya bisa-bisa Baekhyun mengusirnya dari rumah.

"Baekhyun-ah," panggil Chanyeol sebelum Baekhyun masuk ke kamarnya. "Mimpikan aku, ya,"

"Najis!"

Blam!

Chanyeol tertawa melihat reaksi Baekhyun. Mungkin ini hari yang cukup melelahkan, tapi Chanyeol menjamin jika ia akan tidur nyenyak seperti bayi. Ia bahkan bisa memastikan jika ia akan menikmati mimpi terindahnya malam ini.

.

TBC

.

.

.

A/N

Apa chapter kali ini kepanjangan? Aku sempat mau jadiin ini dua chapter, tapi bingung mau motongnya di mana... Yaudah deh, aku jadiin satu chapter aja... Moga moga gak bosen ya bacanya^^

And thanks buat yang udah mampir di chapter 10, jumpa lagi next week~

See you!

Virgo