"Baekhyun-ah, gomawo~" senandung Chanyeol selepas mereka keluar dari kedai tteokbokki. Ia belum pernah sebahagia ini hanya karena ditraktir sebelumnya.
"Jangan terlalu bahagia," balas Baekhyun datar. "Aku mentraktirmu agar kau berhenti menggangguku," jelasnya sambil menatap Chanyeol tajam. Matanya selalu bisa membuat orang mengangguk patuh. Tapi sayangnya orang yang dia ajak bicara ini adalah Park Chanyeol.
Chanyeol pura-pura cemberut dan mencibir Baekhyun. Sekejap kemudian ia tersenyum nakal. "Kalau begitu untuk yang berikutnya aku yang akan mentraktirmu. Setelah itu izinkan aku untuk tetap mengganggumu."
Satu tendangan diterima Chanyeol membuat betisnya perih. Ia meringis lalu berdiri sambil mengusap lututnya yang tadi berciuman dengan tanah. Tapi Chanyeol memang tidak pernah kapok, ia kembali menggoda Baekhyun tidak peduli jika pemuda itu memberinya pukulan-pukulan tambahan. Chanyeol menganggap jika ini adalah skinship yang begitu sulit didapatkan dari Baekhyun. Ya, tidak salah kalau mengatakan Chanyeol seorang masochist.
Chanyeol dan Baekhyun sudah hampir sampai di halte bus. Hal itu membuat Chanyeol sedikit sedih. Waktu berduaan mereka akan segera berakhir.
"Baekhyun-ah," panggilnya dan menghentikan langkahnya.
Tentu saja Baekhyun juga berhenti di sampingnya. Ia menatap Chanyeol bingung. Terlebih lagi, Chanyeol terlihat serius namun juga gugup.
Chanyeol berdeham sebelum berbicara. "Mengenai ajakan kencanku tadi..." ucapnya mulai berbicara, "aku akan bertanya lagi suatu hari nanti. Dan sebelum itu, biarkan aku tetap bersamamu. Aku ingin terus berada di sisimu."
Baekhyun terdiam mendengar perkataan Chanyeol. Tidak sepenuhnya mengerti dengan apa yang dikatakannya, tapi Baekhyun merasa aneh. Jantungnya berdebar kencang, sama seperti saat ia dan Chanyeol saling bertatapan di kamarnya.
Saat Baekhyun mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk membalas perkataan Chanyeol, ia bisa merasakan jika jantungnya berdebar makin tidak karuan. Alasannya adalah Chanyeol yang lagi-lagi mendekatkan wajahnya hingga Baekhyun otomatis mundur selangkah. Hal itu membuat Chanyeol bingung, ia kembali mendekati Baekhyun dan mengangkat tangannya. Baekhyun begitu terkejut. Ia sampai menutup matanya rapat-rapat. Baekhyun bisa merasakan tangan Chanyeol menyentuh kepalanya. Hanya sekilas, dan Chanyeol kembali menarik tangannya. Saat Baekhyun membuka matanya, ia menemukan sehelai daun di tangan Chanyeol.
Baekhyun merasa bodoh. Bisa-bisanya ia berpikir jika Chanyeol akan mengusap kepalanya. Dan bagaimana mungkin Baekhyun bisa begitu berharap. Baekhyun bisa merasakan jika wajahnya memanas dan hal itu membuatnya memalingkan muka.
Chanyeol terkekeh pelan. "Kau kenapa?"
"Bukan apa-apa, sialan," balas Baekhyun terdengar gugup. Ia juga tidak sengaja berkata kasar. Baekhyun melirik Chanyeol sekilas. Ragu-ragu untuk berbicara. "Chanyeol, apa kau..."
"Ah, busnya sudah datang." Chanyeol memotong perkataan Baekhyun. "Aku pergi sekarang," pamitnya sambil berlari menuju bus. Sebelum naik, Chanyeol berbalik dan melambaikan tangannya. "Sampai jumpa, Baekhyun-ah!"
Baekhyun mendapati dirinya berusaha untuk menahan Chanyeol, namun ia segera menghentikan dirinya. Ia sendiri tidak tau kenapa ia berharap jika pemuda itu tidak segera pergi.
Dari dalam bus, Chanyeol melambai pada Baekhyun dengan senyum lebarnya. Baekhyun tidak punya pilihan lain selain balas melambai, ia bahkan balas tersenyum. Setelah bus berangkat, barulah Baekhyun berhenti tersenyum. Ia mengernyit. "Untuk apa aku tersenyum?"
Baekhyun menghela napasnya setelah bus yang dinaiki Chanyeol menghilang di belokan. Ia kembali teringat dengan perkataan Chanyeol sebelumnya. Lagi, jantungnya berdebar kencang.
"Dia hanya bercanda,'kan?" tanya Baekhyun pada dirinya sendiri. Kedua kakinya bergerak gelisah seolah mengharapkan sesuatu.
.
Perasaan aneh saat mengingat kejadian kemarin sore membuat Baekhyun refleks memukul tembok. Dengan wajah yang tiba-tiba memerah dan jantung yang berdebar kencang, Baekhyun komat-kamit memberikan semua kata-kata kasar untuk Chanyeol. Bahkan bayangan wajah Chanyeol yang muncul di tembok membuat Baekhyun memukul tembok berkali-kali. Barkhyun tidak peduli jika sekarang ia sedang membawa setumpuk buku bersamanya dan bisa meluncur begitu saja dari tangannya.
"Hyung!" seruan dari arah belakang menghentikan Baekhyun. Taehyung yang ternyata menyusul Baekhyun menghentikannya untuk memukul tembok lagi. "Kau sebegitu marahnya karena aku menggodamu?"
"Kau harus bersyukur karena aku memilih untuk memukul tembok dan bukannya kau," kata Baekhyun membuat Taehyung langsung berhenti bertingkah.
Mencoba membuat Baekhyun kembali tenang, Taehyung mengambil beberapa buku dari Baekhyun. Ia bersikeras untuk membantu Baekhyun. Sedangkan Baekhyun menolak karena ia tau kalau Taehyung menolongnya hanya karena masih sayang nyawa.
Taehyung yang masih bersikeras untuk membantu akhirnya mendapatkan semua buku Baekhyun. Ia ingin segera membawa buku-buku itu, tapi seseorang menahan pundaknya. Taehyung menoleh dan terkejut saat seorang pemuda jangkung dari sekolah sebelah menahannya. Diam-diam Taehyung bersorak karena satu lagi orang yang akan ia ungkap rahasianya muncul.
Baekhyun pun terkejut. Ia tidak menyangka jika Chanyeol akan muncul di sekolah. Ini belum jam pulang, dan OSIS tidak ada rapat hari ini. Kehadiran Chanyeol sungguh membuat Baekhyun bingung. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Menemuimu," jawab Chanyeol singkat.
Saat Taehyung ingin bergabung dengan obrolan mereka, ia dibuat bingung oleh Chanyeol. Pemuda tinggi itu tiba-tiba mengambil buku di tangannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Taehyung pun jadi merinding saat tidak sengaja bertatapan dengan Chanyeol. Tatapannya seolah ingin mengusir Taehyung sekarang juga.
"Aku akan membawakan bukumu," kata Chanyeol dengan senyum lebarnya pada Baekhyun. Ia kemudian kembali beralih kepada Taehyung. Dan anehnya senyum lebar itu hilang entah ke mana. "Kembali ke kelasmu sana," usir Chanyeol pada Taehyung.
Baru saja Taehyung ingin melayangkan keberatannya, Baekhyun sudah lebih dahulu memukul belakang kepala Chanyeol membuatnya meringis kesakitan. Taehyung ingin sekali tertawa melihat pukulan tidak terduga itu.
"Jangan seenaknya mengusir orang. Dan sekali pun dia lebih muda darimu, kau harus tetap bersikap sopan," kata Baekhyun kembali ke mode galaknya.
Chanyeol memasang wajah cemberut. "Aku hanya menyuruhnya untuk kembali ke kelas agar dia tidak terlambat," ia membela diri.
"Kalau begitu kau seharusnya juga tidak ada di sini. Kembali ke sekolahmu sana!"
Baekhyun dan Chanyeol akhirnya terus saling membalas. Baekhyun yang terus menyalahkan Chanyeol, dan Chanyeol yang terus membela diri. Taehyung yang melihat perdebatan mereka pun merasa lelah. Seperti melihat pertengkaran pagi suami-istri di meja makan.
"Hyung," Taehyung mencoba menghentikan sejenak adu mulut kedua ketua OSIS itu, "aku akan ke kelas sekarang," ucapnya pamit. Ia akan menyerah untuk mencari tahu apa yang terjadi diantara dua orang ini sekarang. Terlalu melelahkan melihat mereka berdua bertengkar. Tapi setidaknya ia punya sedikit petunjuk tentang apa yang terjadi.
Baekhyun mengangguk. "Aku minta maaf atas apa yang si bodoh ini katakan padamu."
"Kau panggil aku apa?"
Baekhyun tidak mempedulikan Chanyeol. Ia melambai pada Taehyung yang pergi menuju kelasnya. Saat Taehyung sudah pergi, Baekhyun kembali menghadap Chanyeol. Ia menatap Chanyeol lebih galak dari sebelumnya.
Chanyeol hanya membalas dengan senyumnya. "Baiklah, kalau begitu di mana kelasmu?" tanyanya sambil mengangkat lebih tinggi buku-buku di tangannya.
Baekhyun akhirnya pasrah. Ia tau seberapa keras kepalanya Chanyeol. Tanpa bicara lagi Baekhyun segera berjalan menuju kelasnya diikuti oleh Chanyeol.
Selama berjalan, Chanyeol terus mengoceh tentang Taehyung tidak peduli bahwa Baekhyun tidak mendengarkannya sama sekali. Saat ia masuk ke kelas pun, Chanyeol masih belum berhenti berbicara meskipun semua orang yang ada di kelas menatapnya bingung. Kau pasti akan bingung saat ada siswa dari sekolah sebelah masuk ke kelasmu dengan begitu santai.
"Letakkan saja di sini," kata Baekhyun dan duduk di kursinya.
Chanyeol meletakkan tumpukan buku tersebut di atas meja Baekhyun dan juga mendaratkan pantatnya di kursi di depan Baekhyun. Dengan senyum lebarnya seperti biasa, Chanyeol terus menatap Baekhyun tanpa mengatakan apa-apa.
"Apa?" tanya Chanyeol akhirnya setelah Baekhyun menatapnya dengan kening yang berkerut.
"Kenapa kau masih di sini?"
Bukannya menjawab, Chanyeol hanya memberikan Baekhyun senyuman yang lebih lebar lagi. Baekhyun sungguh ingin menampar wajah Chanyeol dengan buku di tangannya. Beruntung Jongdae datang sebelum Baekhyun sempat mengambil buku.
"Kau siapa?" tanya Jongdae bingung melihat pemuda asing di tempat duduknya. Terlebih lagi dia memakai seragam yang berbeda.
"Park Chanyeol, ketua OSIS SM High School dan teman dekat Baekhyun," ucapnya penuh percaya diri sambil menjabat tangan Jongdae meskipun pemuda itu tidak memintanya.
"Sejak kapan kau menjadi temanku?" balas Baekhyun terdengar kesal.
"Aku Kim Jongdae." Jongdae memperkenalkan dirinya. Ia sama sekali tidak peduli dengan protes Baekhyun. "Ngomong-ngomong, itu kursiku."
Chanyeol berseru dan kemudian segera berdiri. "Maaf, aku tidak tau," katanya dan mempersilakan Jongdae duduk.
Jongdae menggeleng sambil tersenyum ramah. "Tidak apa-apa, kau duduk saja di sana. Aku bisa cari tempat lain," ucapnya.
"Tidak apa-apa," jawab Chanyeol dan kemudian menunjuk Baekhyun, "aku dan Baekhyun harus ke ruang OSIS sekarang."
Mendengar namanya disebut oleh Chanyeol, Baekhyun kembali mengernyit. "Untuk apa?"
Chanyeol menghela napas seolah-seolah lelah dengan Baekhyun. Belum tau saja dia kalau Baekhyun lebih lelah menghadapinya. "Kan aku sudah bilang kemarin. Aku ingin salinan dokumen yang kau buat minggu lalu," jelas Chanyeol.
Baekhyun mengingat sejenak dan berseru. Benar juga, Chanyeol mengirimnya pesan kemarin. Baekhyun sudah membacanya, dia hanya tidak membalasnya.
"Seharusnya kau bilang dari tadi," balas Baekhyun yang malah kesal pada Chanyeol. Ya, sekalipun dia yang salah, Baekhyun akan tetap menyalahkan Chanyeol. "Nanti akan kukirimkan padamu," kata Baekhyun yang mulai menyusun buku-bukunya.
Chanyeol terdiam di tempatnya, tercengang. Bahkan Jongdae yang tidak terlibat dengan pembicaraan mereka pun tidak tau harus bereaksi seperti apa melihat Baekhyun yang tampak tidak peduli pada Chanyeol.
"Tapi, dia sampai datang ke sekolah kita. Kau benar-benar hanya akan mengusirnya begitu saja?" tanya Jongdae. Anggukan singkat yang diberikan oleh Baekhyun membuat tawanya pecah. Ia merasa kasihan pada Chanyeol.
Baru kali ini Chanyeol rasanya ingin menyeret Baekhyun dan melemparnya ke luar jendela. Ia kesal, sangat kesal. Chanyeol memasang raut jengkel. "Kalau begitu aku pergi sekarang," ucapnya berusaha membuat suaranya terdengar marah.
"Hm," balas Baekhyun tanpa menoleh.
Chanyeol makin kesal, namun ia berusaha untuk tetap tenang. "Aku pergi sekarang," katanya dan mulai melangkah menjauh.
Baekhyun masih belum mau menoleh.
"Hei, aku benar-benar pergi nih," kata Chanyeol putus asa saat ia sudah hampir sampai di pintu.
"Hm," balas Baekhyun masih belum menoleh. Punya keinginan untuk memutar kepalanya saja ia tidak ada.
Wajah Chanyeol menjadi makin cemberut dari setiap langkah yang diambilnya. "Bukankah biasanya orang mengatakan sesuatu saat temannya pergi?" tanya Chanyeol berharap.
Bukannya Baekhyun, Jongdae lah yang lebih cepat menangkap maksud perkataan Chanyeol. Ia melambaikan tangannya pada Chanyeol. "Hati-hati di jalan! Sampai jumpa lagi, Chanyeol," katanya ramah.
Chanyeol menggeleng. Menyerah. "Hm, sampai jumpa, Jongdae." Ia membalas lambaian Jongdae sama ramahnya. Dan sebelum benar-benar keluar, Chanyeol kembali berteriak pada Baekhyun. "Sampai jumpa di pertemuan OSIS minggu depan, Baekhyunie!" Chanyeol akhirnya pergi meninggalkan kelas.
"Kalian benar-benar dekat, ya," komentar Jongdae setelah Chanyeol pergi.
Baekhyun mendengus—dan diam-diam tersenyum—sambil menggeleng. "Sangat dekat hingga aku ingin sekali mengusirnya setiap kali bertemu."
.
.
TBC
.
.
.
A/N
Yok Chanyeol bisa yok! Bentar lagi Baekhyun luluh kok! Semangat terooooossss!
Hai guys^^ jumpa lagi di chapter 12~ makasih buat yang udah mampir dan tetap nungguin cerita ini tiap minggunya~
See you!
Virgo
