Baekhyun masih terus mengeluh. Ia kesal pada Chanyeol yang memaksanya, tapi lebih kesal lagi pada dirinya sendiri yang bersedia membantu. Tempat percetakan itu tidak jauh, namun bersama dengan Chanyeol lah yang membuatnya kesal. Apalagi Chanyeol tidak bisa diam sedari tadi. Sungguh, Baekhyun tidak mengerti kenapa Chanyeol bisa sangat cerewet saat bersamanya. Padahal kalau sedang bersama orang lain dia tidak akan banyak bicara.

Setelah mendapatkan spanduk mereka, Chanyeol dan Baekhyun pun kembali ke EXO High School untuk menyimpannya. Mereka juga sekalian memeriksa lagi barang-barang yang ada di sana. Keduanya memastikan jika semua barang yang diperlukan untuk gotong royong sudah lengkap.

"Aku pulang sekarang," pamit Baekhyun setelah mengunci pintu gudang.

Mendengar hal itu, Chanyeol malah cemberut. Ia sedih karena tidak bisa bersama Baekhyun lebih lama lagi. "Kalau begitu aku akan mengantarmu."

"Tidak."

Chanyeol bisa mendengar suara dari hatinya yang hancur. Meski ini bukan pertama kalinya Baekhyun menolak, tapi tetap saja rasanya sakit.

Baekhyun diam-diam tersenyum puas karena sudah membuat Chanyeol kesal. Baekhyun baru saja ingin membuat Chanyeol lebih kesal lagi, hingga ponsel Chanyeol tiba-tiba berdering. Melihat Chanyeol tersenyum lebar setelah tau siapa yang menelepon, Baekhyun jadi penasaran.

"Ne, eomma," sapa Chanyeol pada ibunya di seberang telepon.

Mengetahui bahwa yang menelepon adalah ibu Chanyeol, Baekhyun diam-diam merasa lega. Eh, untuk apa aku merasa lega?

Baekhyun menggelengkan kepalanya. Ia menyingkirkan berbagai pemikiran aneh yang muncul di benaknya. Pemikiran yang tidak ia suka dan tidak akan pernah ia katakan pada Chanyeol.

"Iya, aku akan makan malam di rumah," kata Chanyeol berbicara dengan ibunya. Kedua matanya kemudian melirik Baekhyun yang masih memperhatikannya. Chanyeol tiba-tiba mendapatkan sebuah ide. "Ah, eomma, aku akan membawa seseorang ke rumah."

Baekhyun bingung sekaligus terkejut. Ia tidak bodoh. Baekhyun yakin betul jika Chanyeol sedang membicarakan dirinya. Artinya, Chanyeol mengatakan pada ibunya bahwa dia akan membawa Baekhyun bersamanya.

Melihat Baekhyun menatap tajam ke arahnya, Chanyeol terkekeh gemas. "Bukan, hanya seorang teman, kok." Chanyeol masih berbicara dengan ibunya.

Baekhyun menyuruh Chanyeol untuk berhenti bercanda, tapi Chanyeol sama sekali tidak mau mendengarkannya. Ia berusaha untuk mengambil ponsel Chanyeol, tapi pemuda itu dengan gesit menghindar. Baekhyun makin kesal saat Chanyeol sudah mematikan ponselnya. Baekhyun benar-benar tidak punya kesempatan.

Chanyeol tersenyum lebar melihat Baekhyun yang menatapnya tajam. "Selamat datang di makan malam keluarga Park," sambut Chanyeol ceria. "Kau tidak bisa menolak, ibuku sangat berharap bisa bertemu denganmu."

Baekhyun ingin sekali berteriak, memukul, dan menendang Chanyeol hingga semua kemarahannya menghilang. "Dasar ular licik!"

"Tapi tampan, kan?" balas Chanyeol yang langsung mendapatkan pukulan sayang dari Baekhyun.

Mau tidak mau, Baekhyun akhirnya mengikuti Chanyeol ke rumahnya. Ia tidak lupa untuk memberitahu ibunya bahwa ia tidak akan makan malam di rumah. Baekhyun juga menyesal karena telah menyebut nama Chanyeol. Sekarang ibunya menganggap mereka sangat akrab. Bahkan ibunya mengizinkan Baekhyun untuk menginap meskipun Baekhyun tidak menginginkannya. Sangat tidak menginginkannya.

Chanyeol dan Baekhyun sampai di kediaman Park tidak sampai dua puluh menit lamanya. Chanyeol membuka pintu dan mempersilakan Baekhyun masuk duluan. Ia terlihat sopan, tapi bagi Baekhyun Chanyeol hanya terlihat norak.

Saat Baekhyun dan Chanyeol masuk, ibu Chanyeol langsung menyambut keduanya. Ia masih mengenakan apron, dan Baekhyun bisa mencium aroma harum masakannya.

"Wah, jadi ini temanmu ya?" tanya sang ibu menghampiri Baekhyun.

Baekhyun membungkuk dan menyapa dengan sopan. Melihat senyum ramah wanita di depannya, Baekhyun tau dari siapa sifat ceria Chanyeol berasal. "Namaku Byun Baekhyun, teman Chanyeol dari EXO High School. Kami sama-sama ketua OSIS, makanya bisa saling kenal."

Chanyeol mendengus. "Kau mengaku temanku sekarang."

Baekhyun menyikut Chanyeol untuk menyuruhnya diam. Jangan lupakan tatapan membunuhnya pada Chanyeol.

Ibu Chanyeol tertawa gemas melihat tingkah keduanya. "Sudah, sudah. Ayo kita makan malam sekarang. Kalian pasti sudah lapar," ajaknya dan membawa Baekhyun menuju meja makan.

Chanyeol tersenyum di belakang. Meskipun ia ditinggal oleh Ibunya sendiri, Chanyeol sangat senang melihat pemandangan di depannya. Ya, Chanyeol tidak bisa menahan dirinya untuk tidak membayangkan ibunya begitu akrab dengan calon pacarnya.

Chanyeol pun segera menyusul menuju meja makan dan duduk di samping Baekhyun. Ayahnya yang baru saja datang dari ruang tengah juga ikut bergabung. Baekhyun sekali lagi menyapa dan bersalaman dengan ayah Chanyeol.

"Makan yang banyak, jangan segan-segan," kata ibu Chanyeol sambil memberikan nasi kepada Baekhyun. "Kau mau makan apa? Bagaimana dengan acar ini?"

Baekhyun sedikit bingung karena ditawari begitu banyak oleh ibu Chanyeol. Ia juga tidak tau bagaimana caranya menolak saat disuguhkan acar timun.

"Baekhyun tidak makan timun."

Baekhyun terkejut saat Chanyeol tiba-tiba mengatakan hal tersebut. Bagaimana tidak, seingatnya ia tidak pernah mengatakan hal itu kepada Chanyeol. Bahkan mengatakannya secara tidak sengaja saja Baekhyun rasa tidak pernah.

"Oh, begitu ya?" Ibu Chanyeol kembali meletakkan mangkuk acarnya. "Seharusnya kau bilang tadi, jadi eomma bisa memasak masakan tanpa timun untuk Baekhyun."

"Ah, tidak apa-apa, kok," balas Baekhyun merasa tidak enak. "Aku tidak mau merepotkan," ucapnya sambil tersenyum.

"Ya sudah, kalau begitu ayo kita lanjut makan," kata ibu Chanyeol dan semua orang di meja makan pun menggerakkan sumpit mereka.

Setelah makan malam, Chanyeol mengajak Baekhyun untuk ke kamarnya dulu sebelum pulang. Ia memaksa Baekhyun untuk duduk sebentar. Ia bahkan berjanji untuk tidak melakukan hal-hal aneh pada Baekhyun. Tapi perkataannya malah mengundang satu tendangan rendah dari Baekhyun.

Baekhyun meletakkan tasnya di meja belajar Chanyeol. Ia melihat sekeliling kamar yang luasnya hampir sama dengan kamarnya. "Hm, cukup rapi untuk orang sepertimu."

"Apa maksudnya dengan orang sepertiku?" balas Chanyeol merasa tersinggung. Ia baru saja naik ke atas ranjangnya.

Baekhyun menarik kursi dan duduk. "Aku senang bertemu ayah dan ibumu. Mereka menyenangkan. Tapi jika kau melakukan hal licik seperti itu lagi, awas saja kau," Baekhyun memberikan peringatan pada Chanyeol dengan tatapan tajam.

Chanyeol tertawa. "Sayang sekali, aku ingin menggunakan cara ini lagi kedepannya," ucapnya dan mendapatkan lemparan sebuah buku oleh Baekhyun.

Chanyeol hanya menghabiskan waktunya untuk menggoda Baekhyun. Ia begitu suka dengan reaksi yang diberikannya. Hingga Baekhyun berhenti menanggapi keusilan Chanyeol padanya. Ia melihat kearah jam. Chanyeol pun tau jika Baekhyun sudah ingin pulang.

"Aku harus pulang sekarang," kata Baekhyun sambil mengambil tasnya.

Chanyeol bangkit dari kasurnya. "Aku akan mengantarmu hingga ke halte bus."

"Tidak perlu. Dan aku juga tidak mau," tolak Baekhyun.

"Aku memaksa."

Baekhyun menghela napasnya. "Berapa banyak hal yang kau paksakan padaku hari ini?"

"Bersyukurlah karena aku tidak memaksamu untuk menginap," balas Chanyeol, "karena itu artinya kau akan tidur di ranjang yang sama denganku," sambungnya dengan cengiran lebar. Ia menaikkan sebelah alisnya menggoda Baekhyun.

Baekhyun hampir saja melemparkan tasnya ke arah Chanyeol.

"Aku ganti baju dulu," kata Chanyeol sambil membuka lemarinya. Ia mengambil sebuah sweater hitam dan celana pendek.

Baekhyun begitu terkejut saat Chanyeol membuka seragamnya begitu saja. "Setidaknya tunggu sampai aku keluar!" teriaknya dan segera keluar dengan wajah yang memerah.

Chanyeol tertawa. "Jangan malu begitu, kau juga cowok, lho," kata Chanyeol pada Baekhyun yang ada di luar kamarnya. "Atau... kau malu karena hal lain?" goda Chanyeol berharap jika Baekhyun masuk ke kamarnya sambil memakinya.

Dan berhasil. Baekhyun bahkan hampir membanting pintu dengan raut wajah marah. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi mulutnya tertahan saat mendapati Chanyeol baru saja akan memasang celananya.

"Masuk saja," ajak Chanyeol tersenyum bangga dengan tubuh yang hanya tertutup celana dalam.

Dengan wajah yang semakin memerah, Baekhyun kembali menutup pintu. "Cepat ganti bajumu, kalau tidak aku pulang sekarang juga!"

Secepat kilat, Chanyeol sudah keluar dari kamarnya. Ia menatap Baekhyun masih dengan senyum jahilnya. "Kau lucu," katanya pada Baekhyun, "tidak mau aku antar tapi tetap menungguku untuk ganti baju."

Hanya memberikan tatapan tajamnya, Baekhyun mendahului Chanyeol menuruni tangga. Ia pamit terlebih dahulu kepada orang tua Chanyeol. Kemudian segera keluar dengan Chanyeol yang begitu senang hanya karena mengantarkannya ke halte.

"Ah, ngomong-ngomong," Baekhyun membuka pembicaraan, "bagaimana kau tau kalau aku tidak suka timun?" tanyanya penasaran.

"Saat kita makan, kau selalu menyisihkan timun, apa pun makanannya. Jadi ya, kutebak kau tidak suka timun," jawab Chanyeol singkat.

Baekhyun hanya mengangguk mengerti. Ia merasa aneh saat memikirkan bagaimana Chanyeol begitu memperhatikan hal terkecil yang ia lakukan. Bahkan orang-orang terdekatnya tidak akan menyadari hal itu hanya dengan memperhatikannya.

Tanpa sadar, Baekhyun tersenyum.

Beruntung Chanyeol tidak pernah mengalihkan pandangannya dari Baekhyun sehingga ia tidak melewatkan senyum tersebut. "Terkesan?"

Baekhyun berdeham dan menyembunyikan senyumnya. Ia kembali memasang wajah datar. "Takut sih, iya. Kau seperti seorang stalker," cibir Baekhyun membuat Chanyeol cemberut.

Chanyeol tidak pernah berhenti mengajak Baekhyun mengobrol, sehingga perjalanan mereka terasa begitu singkat. Keduanya kini sudah sampai di halte bus yang kosong. Chanyeol dan Baekhyun pun duduk di kursi untuk menunggu busnya datang.

"Busnya mungkin akan datang lama. Kau bisa pulang duluan," usul Baekhyun pada Chanyeol tanpa menoleh.

Chanyeol menggeleng. "Kau sungguh tidak mengenalku," balas Chanyeol makin menyamankan dirinya duduknya di samping Baekhyun.

Baekhyun pun hanya mengedikkan bahu. Ia memang tidak mengharapkan Chanyeol untuk mendengarkan perkataannya.

"Hm, gomawo," Baekhyun berbisik malu-malu.

Chanyeol yang awalnya hanya memperhatikan jalanan di depan mereka segera menoleh. Ia terdiam dengan ekspresi terkejut.

Mendapati reaksi terkejut Chanyeol membuat Baekhyun menghela napas. "Wajar jika aku berterima kasih karena kau sudah mengantarkanku, kan? Kau juga sudah mengajakku makan malam dengan keluargamu."

Chanyeol tidak bisa menahan senyumnya melihat wajah Baekhyun yang memerah karena malu. Ia mendekatkan wajahnya sehingga ia dapat melihat rona merah itu lebih jelas. "Kiyowo."

Baekhyun tersentak kaget karena Chanyeol berbicara tepat di telinganya. Ia lebih kaget lagi karena mendapati wajah Chanyeol berada terlalu dekat dengannya. Dan mungkin karena terkejut, Baekhyun sampai lupa untuk mendorong Chanyeol seperti yang selalu ia lakukan sebelumnya.

Chanyeol masih tersenyum memperhatikan wajah Baekhyun dari dekat. Ia tidak akan menyangkal bahwa jantungnya berdebar kencang sekarang. Namun, ia tetap tidak menarik dirinya untuk menjauh. Sebaliknya, Chanyeol makin mendekat pada Baekhyun.

Baekhyun tanpa sadar menahan napas. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Bahkan saat ia sudah merasakan napas hangat Chanyeol menerpa wajahnya, Baekhyun masih saja diam.

Hingga tepat sebelum bibir keduanya saling bersentuhan, Baekhyun dikejutkan oleh lampu bus yang datang. Ia segera saja mendorong Chanyeol membuat pemuda tinggi tersebut hampir terjatuh dari tempatnya.

Baekhyun buru-buru berdiri. "Busnya sudah datang." Bus yang ia tunggu-tunggu akhirnya berhenti di depannya. "Aku pulang sekarang," pamitnya dan segera masuk ke dalam bus tanpa menoleh.

Chanyeol yang masih bingung karena dorongan Baekhyun tadi bahkan tidak sempat untuk mengucapkan sepatah kata pun. Baekhyun juga memilih untuk duduk di kursi yang akan sulit ditemukan jika Chanyeol melihat dari luar. Chanyeol pada akhirnya hanya bisa melambaikan tangan saat bus mulai berangkat.

Setelah bus tersebut menjauh, Chanyeol menghela napas. "Padahal tinggal sedikit lagi," monolognya. Ia terlihat sedih, bahkan menyedihkan.

Lama memperhatikan bus tersebut menghilang dari pandangannya, Chanyeol kemudian tersenyum tipis. Menggeleng dan menertawakan diri sendiri. Ia kemudian segera berbalik dan berjalan kembali ke rumahnya. Selama di jalan, Chanyeol tidak bisa berhenti memikirkan apa yang akan terjadi apa bila bus itu datang sedikit lebih lama.

.

.

TBC

.


.

A/N

Yo yo yo yo yo chapter 14 datang! Gimana? masih ada yang nunggguin cerita ini? Buat yang masih nunggu dan selalu sempetin buat baca, GOMAWO^^

okeeee that's all for today... jumpa lagi next week guys^^

See you!

Virgo