Terlalu bingung dengan apa yang sedang terjadi, Baekhyun bahkan tak sempat bertanya kenapa Chanyeol ada di depannya. Lebih mengherankan lagi karena pemuda tinggi itu duduk di depan sebuah piano.
"Duduklah." Suara Chanyeol yang menyuruh Baekhyun untuk duduk akhirnya membuat Baekhyun sadar bahwa ada sebuah kursi di depannya.
Baekhyun duduk dengan patuh. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya penasaran.
"Sekarang giliranku untuk sedikit pamer. Siapa tau kau akan tersihir dengan pesonaku," jelas Chanyeol sambil memberikan sebuah kedipan di akhir.
Baekhyun bertingkah pura-pura muntah. "Terserah deh."
Chanyeol tersenyum puas dengan reaksi Baekhyun. Ia kemudian berdeham bersiap untuk bernyanyi. Perlahan, Chanyeol mulai menekan tuts piano.
Hanya dari intronya saja, Baekhyun bisa tau lagu apa yang sedang dinyanyikan oleh Chanyeol. Dan ia tidak menyangka bahwa suara yang keluar dari mulut menyebalkan itu akan seindah ini.
"Seoreoun mameul mot igyeo..."
Tanpa Baekhyun sadari, ia mulai tenggelam dalam penampilan Chanyeol. Ia tidak pernah mengalihkan pandangannya. Saat ini, ia menyadari betapa sempurnanya perpaduan antara wajah tampan dan suara Chanyeol.
"Nae gyeote isseojweo, naege meomulleojweo..."
Baekhyun mulai ikut bernyanyi saat lagu mencapai klimaks. Ia tersenyum saat Chanyeol menoleh padanya. Senyum yang begitu jarang ia tunjukkan pada Chanyeol.
Alunan piano itu kemudian berakhir disambut dengan tepuk tangan meriah oleh Baekhyun. "Tidak buruk," komentar Baekhyun yang berbeda dengan isi hatinya yang sebenarnya.
Chanyeol hanya tersenyum lebar mendengar jawaban Baekhyun. Dari cara Baekhyun menikmati penampilannya, ia mengerti betul apa yang sebenarnya ingin Baekhyun sampaikan.
"Kenapa kau malah nyanyi lagu galau di siang yang terik begini?" tanya Baekhyun setelah Chanyeol berdiri di depannya.
"Tapi tetap saja kau menikmatinya," balas Chanyeol.
"Hah, Oh Sehun jinjja. Dia mengajakku makan siang, tapi ternyata malah membawaku ke sini," keluh Baekhyun mengingat Sehun lah yang membawanya menemui Chanyeol.
"Itu tidak sepenuhnya bohong kok," ucap Chanyeol dengan senyumnya.
Chanyeol langsung pergi ke sudut ruangan, mengambil sebuah meja dan meletakkannya di depan kursi Baekhyun. Ia juga membawa sebuah tas dan mengeluarkan beberapa kotak makan. Ia menata dengan rapi masakannya di atas meja. Tidak lupa, Chanyeol mengambil satu kursi lain dan meletakkannya di seberang meja.
"Silahkan dinikmati," ucap Chanyeol meminta Baekhyun untuk duduk, dan ia kemudian duduk di depannya.
"Kau menyuruh Sehun menipuku hanya untuk makan siang bersamaku?" tanya Baekhyun sambil terkagum-kagum dengan makanan yang tertata rapi di meja. "Bagaimana caramu membujuknya? Dia tidak biasanya menuruti perkataan orang."
"Aku juga memberikannya makan siang," jawab Chanyeol. "Dan aku senang karena dia tidak peduli dengan apa yang akan aku lakukan."
"Tapi... kenapa kau mengajakku makan siang begini? Bukankah sebaiknya kita makan siang bersama anggota OSIS lainnya?" tanya Baekhyun sambil menyuap nasi ke mulutnya.
"Aku tidak punya banyak waktu kalau harus memasak untuk banyak orang," jawab Chanyeol setelah menelan makanannya.
"Ohh, ini buatanmu, ya?"
Chanyeol tersenyum bangga. "Hm, aku senang sekali saat kau memakan nasi goreng buatanku saat itu. Aku ingin melihat wajah senangmu menyantap masakanku lagi."
Baekhyun berdeham menutupi rasa malunya. "Aku lapar saat itu, makanya aku menikmatinya," ucapnya masih belum mau mengakui betapa enaknya masakan Chanyeol.
Chanyeol pun tersenyum makin lebar melihat Baekhyun yang malu-malu tersebut. Ia berkali-kali mengatakan bahwa Baekhyun menggemaskan, tidak peduli jika Baekhyun menyuruhnya untuk menutup mulutnya.
Tidak sama seperti hari-hari sebelumnya, sekarang obrolan mereka terasa lebih menyenangkan. Alasannya karena Baekhyun sering memulai untuk berbicara dan Chanyeol pun selalu mendapat respons dari Baekhyun saat kali berbicara.
Sungguh, Chanyeol bisa merasakan bahwa senyumnya tidak pernah luntur sedari tadi. Ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Baekhyun.
"Aku tidak mau membatmu kesal, tapi ini seperti kencan," kata Chanyeol membuat Baekhyun seketika berhenti mengunyah.
Baekhyun berdeham dengan canggung. "Ya, mungkin begitu," balasnya tanpa menoleh ke arah Chanyeol.
Chanyeol terkekeh. Kebahagiaannya meluap-luap saat melihat telinga Baekhyun yang merah sama seperti wajahnya.
Baekhyun merasa bodoh karena sudah menyetujui perkataannya. Sekarang ia bahkan tidak sanggup untuk mengangkat kepalanya. Ia tidak mau bertatapan dengan Chanyeol yang tersenyum lebar ke arahnya. Baekhyun tidak gugup melihat wajah tampan Chanyeol, ia hanya malu dengan perkataannya sendiri. Ingat itu baik-baik.
Melanjutkan makannya, Baekhyun baru menyadari sesuatu. Tidak ada timun, sama sekali tidak ada. Baekhyun jadi teringat saat ia makan malam bersama keluarga Chanyeol.
Apa Chanyeol sengaja pamer untuk membuatnya terkesan? Atau, Chanyeol memang benar-benar memikirkannya agar ia bisa menikmati semua makanannya? Baekhyun sebenarnya tidak serius bingung. Ia tau jika jawaban kedua lah yang benar.
Baekhyun sekali lagi merasakan pipinya menghangat. Ia mengangkat pandangannya untuk melirik Chanyeol. Seketika, Baekhyun menyesali keputusannya. Ia lupa kalau Chanyeol masih terus menatapnya.
"Ada apa?" tanya Chanyeol dengan mulut penuh. Ia bingung mendapati Baekhyun yang buru-buru mengalihkan pandangannya. Ia juga memperhatikan sumpit Baekhyun yang bermain-main dengan makanannya. "Apa ada yang tidak kau suka?"
Baekhyun langsung menggeleng. "Tidak, kok. Aku suka semuanya." Baekhyun pun langsung menyuap sepotong besar kimchi ke mulutnya. Ia jelas-jelas sedang salah tingkah.
"Jinjja?" tanya Chanyeol yang percaya dengan semua yang dikatakan Baekhyun. Ia juga membersihkan sudut bibir Baekhyun yang belepotan karena kimchi. Dan Chanyeol kembali bicara. "Kalau memang ada yang tidak kau suka, bilang saja. Aku tidak akan membuatnya lagi kedepannya. Dan kalau ada makanan yang sangat kau suka, bilang juga padaku. Biar nanti aku bisa membuatkannya untukmu."
Baekhyun terdiam sesaat. Sepertinya pria tinggi di depannya ini tidak mengerti dengan apa yang baru saja ia lakukan. Baekhyun bahkan merasakan jika jantungnya hampir copot.
Menenangkan dirinya, Baekhyun mencoba bersikap biasa saja. "Maksudmu, kau akan memasak lagi untukku?"
Chanyeol mengangguk dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. "Kalau bisa sih, aju ingin memasak untukmu setiap hari. Untuk kita."
Sumpit Baekhyun berhenti. Ia mencerna perkataan Chanyeol baik-baik. Bukankah itu artinya Chanyeol secara tidak langsung mengatakan kalau mereka akan tinggal bersama?
Baekhyun langsung meletakkan sumpitnya. Jarinya langsung bersiap dan kemudian melepaskan sentilan di kening Chanyeol. "Bangunlah dari mimpimu!"
Chanyeol meringis sambil mengusap keningnya. Bibirnya mengerucut karena kesal. Tapi meskipun begitu, Chanyeol seketika kembali tersenyum. Bagaimana mungkin ia tidak tersenyum kalau melihat Baekhyun marah-marah dengan wajah malu yang menggemaskan begini.
.
Dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya, Chanyeol sungguh menarik perhatian Kyungsoo. Pemuda itu segera menghampiri Chanyeol yang sedang mengecat papan. "Wajahmu cerah sekali. Rencananya berhasil?"
Chanyeol tersenyum makin cerah setelah Kyungsoo bergabung dengannya. Ia ingin pamer pada Kyungsoo bahwa perlahan ia mulai mendapatkan hati Baekhyun. "Jangan iri kalau suatu hari nanti Baekhyun akan lebih menyukaiku daripada kau."
Kyungsoo memasang tampang datar. Ia sama sekali tidak terpengaruh dengan perkataan Chanyeol. "Sebahagiamu saja deh. Tapi kuingatkan lagi, kau pernah berjanji padaku."
Chanyeol mengangguk. "Seorang pria memegang perkataannya," ucapnya dengan bangga.
Kyungsoo tidak membalas. Ia juga tau betapa seriusnya Chanyeol pada Baekhyun. "Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Kyungsoo memecah keheningan yang sempat muncul. "Kau bilang Baekhyun sudah pernah menolakmu sekali, apa kau masih akan mengungkapkan perasaanmu padanya? Maksudku, lagi?"
Chanyeol mengangguk dengan pasti. "Aku sendiri yang bilang padanya kalau aku akan bertanya lagi apa dia mau berkencan denganku. Aku tidak akan berhenti hingga ia menjawab 'iya'."
"Kau benar-benar tidak tau kapan harus menyerah."
"Aku bahkan tidak tau caranya menyerah padanya." Chanyeol tersenyum lebar mendengar perkataan Kyungsoo padanya. "Tapi, aku masih belum tau bagaimana caranya membuat Baekhyun melupakan rasa sakit masa lalunya," ucap Chanyeol yang mulai terlihat serius. "Satu-satunya alasan Baekhyun menolakku dan orang-orang yang menyukainya adalah masa lalunya. Ia takut menyukai seseorang. Ia takut jika orang-orang akan mempermasalahkan tentang siapa orang yang ia suka."
Kyungsoo menghentikan pekerjaannya untuk sesaat. Ia jelas setuju dengan Chanyeol. "Itulah kenapa sulit bagiku untuk menyerahkan Baekhyun padamu. Kau adalah orang bodoh yang tidak peduli dengan perkataan orang lain, tapi Baekhyun berbeda. Ia tumbuh dengan mendengar ejekan dan cacian dari orang-orang. Makanya, aku ingin kau membuat Baekhyun tetap nyaman—jika pada akhirnya kalian benar-benar pacaran. Merahasiakan hubungan itu memang menyebalkan, tapi Baekhyun perlu waktu untuk melupakan masa lalunya."
Chanyeol mengangguk. "Tenang saja. Aku memang begitu terbuka dalam mengejar Baekhyun, tapi aku pastikan bahwa aku akan merahasiakan sebaik mungkin hubungan kami—jika kami berpacaran—agar tidak ada lagi yang akan menyakiti Baekhyun."
Kyungsoo menghela napas dan kemudian tersenyum. "Aku hanya akan mengatakan ini sekali, jadi dengarkan baik-baik," Kyungsoo memberi jeda sesaat. "Aku bersyukur karena orang yang membuat Baekhyun tidak takut lagi untuk jatuh cinta adalah kau."
.
.
TBC
.
.
.
A/N
Chapter 18 dataaaaaaang! Heheheh masih adakah yang nunggu? Kalau ada, GOMAWO!
Untuk lagu yang dinyanyiin Chanyeol itu judulnya "Hug Me" yaa... aku suka banget suara Chanyeol di lagu ini. Adem banget didengerin
Oke, sekian untuk hari ini, jumpa lagi minggu depan^^
See you!
Virgo
