EXO High School masih terlihat sibuk hingga larut malam. Karena festival akan dimulai besok, para siswa baru pulang saat sudah memastikan bahwa kelas mereka benar-benar telah siap. Tidak terkecuali bagi para anggota OSIS, mereka juga harus pulang malam untuk memastikan bahwa semuanya terkendali.

Saat tidak ada lagi pekerjaan yang perlu diurus, Sehun, yang juga merupakan anggota OSIS akhirnya bisa pulang saat jam telah lewat dari angka duabelas.

"Sehun-ah!"

Sehun yang baru saja keluar dari gerbang menoleh ke belakang. Ia berhenti menunggu Baekhyun yang menyusulnya.

"Ayo kita pulang bareng," ajak Baekhyun sambil merangkul yang lebih muda. Ia sedikit kesulitan karena Sehun lebih tinggi darinya.

Sehun menoleh ke sekitarnya, seolah mencari seseorang. "Mana Chanyeol hyung?" tanyanya.

Mendengar pertanyaan Sehun, Baekhyun langsung menghela napas. "Pertanyaanmu itu untuk apa? Kau berpikir kalau kami itu dekat setelah Chanyeol memintamu untuk membawaku padanya, ya?"

"Kalian kan memang selalu pulang bareng."

"Dia yang memaksa untuk menemaniku pulang."

"Tapi dia menginap di rumahmu."

Langkah Baekhyun langsung terhenti. "Kau tau dari mana kalau dia pernah menginap di rumahku?"

Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka bahwa murid cerdas seperti Baekhyun bisa jadi sebodoh ini. "Hyung, rumah kita bersebelahan. Aku bisa melihat kamarmu dari kamarku."

Baekhyun berseru. Ia sempat lupa bahwa kamar Sehun sejajar dengan kamarnya.

"Aku juga lihat kalian berciuman."

"APA?!"

Sehun menutup telinganya dan menatap Baekhyun kesal. "Reaksimu terlalu berlebihan, hyung!"

"Aku tidak berlebihan!" sangkal Baekhyun. "Aku cuma kaget karena perkataanmu. Kami tidak pernah berciuman! Sekali pun tidak pernah!"

Sehun berkali-kali membungkuk pada orang-orang yang terkejut dengan teriakan Baekhyun. Ia juga malu karena mereka jadi pusat perhatian. Ia segera menarik Baekhyun meninggalkan keramaian. Saat mereka sudah sampai di kompleks perumahan yang sunyi, barulah Sehun kembali bicara.

"Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri!" Sehun membela dirinya. "Aku sangat terkejut hingga tidak tau bagaimana cara bertanya pada kalian. Aku juga mau tau apa hubungan kalian yang sebenarnya!" Sehun jadi ikut-ikutan menaikkan nada suaranya.

Baekhyun terus membuka dan menutup mulutnya. Ia bingung harus menyangkal seperti apa lagi. "Kau salah lihat, kami tidak berciuman. Aku serius!"

"Lalu kenapa wajah kalian sangat dekat begitu?"

"I-itu..." Baekhyun kehabisan kata-kata. Ia tidak bisa menemukan alasan. Ia sendiri juga masih bingung dengan apa yang terjadi saat itu. Satu-satunya yang Baekhyun ingat adalah, ia merasakan jantungnya hampir meledak saat Chanyeol menatapnya seperti itu.

Melihat Baekhyun yang sudah tidak membalas lagi, Sehun diam-diam tersenyum. Ia merasa menang karena berhasil membuat Baekhyun bungkam. "Terserah deh. Kalau kalian memang tidak berciuman, aku percaya saja deh."

Baekhyun memukul lengan Sehun dan menatapnya tajam. "Jangan mengatakannya kalau kau hanya menggodaku."

Bukannya takut, Sehun malah balas mencibir. Ia sungguh senang menggoda hyungnya yang satu ini.

Setelah topik mengenai Baekhyun dan Chanyeol yang berciuman itu, Sehun tidak punya lagi pembicaraan yang ingin dibahasnya, tapi ia sungguh tidak suka jika harus berjalan tanpa mengobrol begini. "Hyung, kau tidak punya sesuatu untuk dibicarakan?"

Baekhyun berpikir. Ia sebenarnya memiliki hal yang ingin ia tanyakan pada orang lain, tapi ia ragu-ragu. Namun setelah berpikir untuk waktu yang lama, Baekhyun memutuskan untuk bicara.

"Sehun-ah, kau pernah menyukai seseorang?" tanya Baekhyun.

Sehun langsung mengangguk. "Malahan, aneh kalau aku tidak pernah menyukai orang lain? Memangnya kenapa?"

"Aku— maksudku... temanku," Baekhyun berdeham gugup, "dia punya masalah dengan kehidupan percintaannya."

"Masalah seperti apa?"

Kening Baekhyun berkerut mencari kata yang tepat agar ceritanya tidak terlalu mencurigakan. "Dia tidak terlalu mengerti dengan apa yang dia rasakan," jelas Baekhyun, "dia tidak akan menyangkal fakta bahwa jantungnya berdebar kencang saat bersama orang itu, tapi dia tidak pernah bisa mengatakan kalau dia menyukainya. Temanku ini tidak bisa menemukan alasan kenapa dia bisa menyukai orang itu."

"Tidak tau atau memang tidak sadar?" tanya Sehun.

Baekhyun berpikir keras. Ia sendiri juga tidak pasti dengan jawabannya.

"Semua hal di dunia ini punya alasan," ucap Sehun karena Baekhyun tidak juga menjawab pertanyaannya. "Tidak sedikit orang yang bilang bahwa jatuh cinta itu tidak butuh alasan. Bagiku itu konyol. Bukankah kalau kau menyukai sesuatu tanpa alasan sama saja dengan menyukainya tanpa arti? Kau selalu punya alasan dalam setiap keputusanmu, bahkan sebuah alasan yang sepele."

Baekhyun kembali berpikir keras setelah mendengar penjelasan panjang lebar Sehun. Ia tau bahwa tetangganya itu benar. Namun, Baekhyun sayangnya masih belum menyadari alasan yang ia cari-cari selama ini.

"Kalau begitu aku ganti pertanyaanku," kata Sehun setelah Baekhyun berpikir terlalu lama. "Apakah dia merasa senang saat melihat orang itu mendatanginya?"

Baekhyun mendengus tertawa. "Tidak, dia selalu menghela napas saat melihat orang itu."

"Apa dia pernah merasa kagum saat orang itu melakukan hal yang diluar dugaan atau hal konyol lain yang anehnya membuatnya terkesan atau malah hingga berdebar-debar?"

"Hm... sepertinya pernah."

"Lalu, apa dia pernah cemburu saat melihat orang itu bersama orang lain?"

"Cemburu... Sepertinya kata itu tidak terlalu tepat, tapi untuk perasaan seperti itu sepertinya pernah."

"Apa dia merasa nyaman, tidak peduli jika orang itu begitu menyebalkan baginya?"

Baekhyun sekali lagi memberi jeda yang panjang sebelum menjawab. Setelah lama berpikir, Baekhyun mengangguk.

Sehun mengulas senyum. Ia membuka gerbang pintu rumahnya. Ya, tanpa sadar, mereka ternyata sudah sampai di depan rumah masing-masing.

"Kenapa kau hanya tersenyum? Kau sudah mendapatkan jawabannya?" tanya Baekhyun.

Sehun mengangguk dengan bangga. "Mungkin masih dangkal untuk disebut cinta, tapi untuk suka... ya, sudah pasti begitu," ucap Sehun sambil membuka gerbang pintunya. Ia segera masuk, tapi sebelum benar-benar meninggalkan Baekhyun, ia menambahkan. "Hyung, kau tidak tau kapan rasa suka itu akan berganti jadi cinta. Dan, dia orang yang baik kok. Kurasa hanya butuh waktu singkat hingga kau menyadari perasaanmu padanya. Ja, good night, Baekhyun hyung," tambahnya dan berpamitan pada Baekhyun.

Baekhyun mengangguk-angguk mendengar kesimpulan Sehun. Namun, ia tersadar akan sesuatu dan menegur Sehun. "Kubilang ini masalah temanku, bukan aku!" teriaknya, tapi terlambat karena Sehun sudah lari ke dalam rumahnya.

Baekhyun menghela napas pasrah. Ia memang tidak bisa menipu Sehun dengan cerita konyolnya.

"Aku menyukai dia?" tanya Baekhyun pada dirinya sendiri. Ia kemudian menertawai dirinya karena pertanyaan itu.

Tidak ingin memperpanjang lagi, Baekhyun segera masuk ke rumahnya. Ia begitu tidak sabar untuk berbaring di kasurnya, mengistirahatkan tubuh dan pikiran untuk bersiap menghadapi hari besok yang tidak akan mudah.

Berbeda dengan Baekhyun, Chanyeol masih belum berbaring di kasurnya. Rambut yang masih basah menandakan bahwa ia baru saja selesai mandi. Ia segera mengambil handuk dan mengeringkan rambutnya dengan asal. Setelah dirasa cukup kering, Chanyeol duduk di kasur dan mengambil ponselnya.

Chanyeol segera mencari nama Kyungsoo dan menghubunginya. Butuh waktu lama hingga Kyungsoo menjawab panggilannya. "Kyungsoo-ya," sapanya.

Bukannya balas menyapa, Kyungsoo malah balas memarahinya. "Untuk apa kau nelpon orang malam-malam begini? Kau tidak tidur?"

Chanyeol sama sekali tidak merasa bersalah karena sudah mengganggu waktu istirahat Kyungsoo. "Aku cuma mau tanya," katanya memulai pembicaraan.

"Kalau pertanyaanmu tidak penting, aku tutup teleponnya."

"Ini tentang apa yang kau katakan sebelumnya."

Hening yang cukup lama di seberang telepon. Sepertinya Kyungsoo berusaha mengingat apa yang dikatakannya pada Chanyeol. "Memangnya aku bilang apa?"

"Itu, kau ingat, tentang..." kening Chanyeol berkerut mengingat kalimat pasti yang dikatakan Kyungsoo padanya. "Hm, kau bersyukur terhadapku."

Kyungsoo berseru, ia ingat sekarang apa yang ia katakan pada Chanyeol. "Aku sudah bilang padamu, aku hanya akan mengatakannya sekali."

Chanyeol merengek tidak mau terima. "Aku tidak terlalu mengerti maksud perkataanmu. Kumohon, bilang padaku sekali lagi," pintanya.

"Tidak ada pengulangan."

"Ayolah," Chanyeol memaksa, "apa maksudmu dengan orang yang membuat Baekhyun tidak takut lagi untuk jatuh cinta? Apa aku berhasil membuat Baekhyun jatuh cinta padaku?"

"Aku tidak pernah bilang hal seperti itu."

Chanyeol semakin merengek. "Lalu maksudmu apa? Baekhyun menyukaiku atau tidak?"

"Mana aku tau," balas Kyungsoo tidak peduli. "Kenapa tidak kau tanya saja padanya langsung?" Kyungsoo memberi saran.

Jujur, Chanyeol cukup terkejut dengan saran Kyungsoo. Ia tidak menyangka jika Kyungsoo baru saja memberinya izin untuk berkencan dengan sahabatnya.

"Sudah ah, kalau kau masih mau tanya-tanya tentang Baekhyun mending aku tidur saja," ucap Kyungsoo menyudahi obrolan mereka. "Kau juga tidurlah. Kalau sampai kau terlambat ke festival sekolah besok, kubunuh kau."

Pip

Chanyeol terus saja mendumel setelah Kyungsoo memutuskan panggilan mereka secara sepihak. Namun, Chanyeol juga tidak begitu peduli, ia segera mencari nama Baekhyun di ponselnya.

Awalnya Chanyeol berencana untuk menelpon Baekhyun, tapi ia segera mengurungkan niatnya karena takut akan mengganggu bila ternyata Baekhyun sudah tidur. Sungguh, jika Kyungsoo tau Chanyeol bersikap sangat berbeda seperti ini, ia tidak akan segan-segan untuk menguburnya hidup-hidup.

Chanyeol akhirnya mengirimkan pesan kepada Baekhyun. Ia tersenyum lebar saat mengetik di ponselnya.

Baekhyun-ah

Apa kau mau berkencan denganku?

Chanyeol menunggu dengan was-was. Senyumnya semakin lebar saat mengetahui bahwa Baekhyun masih online. Jantungnya berdebar kencang menunggu Baekhyun membaca pesannya. Ia pun hampir memekik saat Baekhyun membaca dan membalas pesannya.

Gila

Berhenti bercanda

Bukannya kecewa, Chanyeol malah tertawa membaca balasan Baekhyun. Ia tidak membalas lagi karena Baekhyun langsung offline. Akhirnya Chanyeol hanya menatap ruang chat tersebut dengan senyum yang masih belum menghilang. "Hm, lebih baik aku tanya langsung saja besok," monolog Chanyeol dan akhirnya mematikan ponselnya.

Chanyeol segera meletakkan ponselnya di meja dan berbaring. Tidak peduli dengan matanya yang masih belum mengantuk, Chanyeol akan memaksa dirinya untuk tidur. Ia tidak akan terlambat sedetik pun untuk hari yang telah ia tunggu-tunggu. Ia begitu bersemangat membayangkan bahwa ia akan menghabiskan banyak waktu bersama Baekhyun di festival besok.

.

.

TBC

.

.


.

A/N

Yooo jumpa lagi di chapter 19~ Thanks buat yang udah baca dan semoga selalu nungguin cerita ini^^ Jumpa lagi minggu depan^^

See you!

Virgo