Paparazzi•henxiao
Published:2019
Source: www.
HAI HAI I'M BACK!
Kali ini dengan membawa sebuah kapal yang belum banyak moment, dari grup yang bahkan belum resmi debut.
Hendery dengan Xiaojun!
Atas saran dari seorang ineedtaeh yang menggegebu ingin membaca fanfic mereka. Tapi karena masih belum banyak moment alias masih banyak kehaluannya dibanding kenyataan, makanya fanficnya juga sebiji-duabijisahaja. Saya yang khawatir melihat dia perlahan gila karena kekurangan asupan, akhirnya memutuskan membuatkan fanfic ini. Itung- itung meramaikan tagar wayv di wattpad hehe.
Prompt ini sudah ada sejak 2018 dengan pair awal rencananya sih Junhui Minghao alias china line dari seventeen. Tapi berhubung itu tidak pernah ditulis lengkap karena ga mood. Jadi ku mengubah castnya menjadi Hendery Xiaojun. Unyu juga kalo dipikir, mood nulis langsung naik.
Awalnya bingung mau nulis gimana sikap mereka. Karena belum ada gambaran (yawongdebutajabelum), tapi ujung-ujungnya aku nulis aja ngikutin alur. Aku juga takutnya mereka nanti malah ga ada moment. Tapi kalo diliat-liat kok Xiaojun ini cantik juga kalo dipasangin sama Hendery dari mukanya membuatku agak optimis hahaha.
Dan ini pertama kalinya aku debut nulis fanfic NCT karena akhir-akhir ini emang kobam mereka!
Terima kasih sudah membaca. Kuharap kalian suka fanfic ini, dan jika berkenan vote + komen juseyooo. Saya sangat menghargai tiap masukkan dari kalian, bahkan jika itu kritik pedas sekalipun. Maaf kalo ada kesalahan, sekali lagi terima kasih.
Hendery dan Xiaojun dengan dunia mereka sendiri. dan Yangyang seolah minta dicrop mukanya tapi ga tega aku hahaha.Can't wait too see 'em debut soon! See ya!
-big love,
13th january 2019
"Ini pesananmu, terima kasih."
Dejun tersenyum kepada pelanggan yang mampir ke cafekecil itu. Seperti biasa, dia yang masih dibalut seragam sekolah langsung bekerja. Di tempat ini, dia mencoba menghasilkan sejumlah uang saku tambahan. Keluarganya memang kaya di China sana. Namun, orang tuanya bertitah bahwa dirinya harus belajar mandiri saat merantau. Jadi, mereka hanya mengirimi uang pas-pasan untuk biaya sekolah. Sisanya, dia harus berusaha sendiri.
Berakhirlah dia menjadi pelayan cafekecil-kecilan.
"Kenapa hari ini sepi sekali?" protes Yangyang, rekannya, dengan bahasa mandarin.
Anak itu memang orang China —Taiwan tepatnya, tapi pernah tinggal di Jerman. Lalu kini tinggal di Korea dalam program pertukaran pelajar. Kebetulan, program itu melibatkan sekolah internasional tempat Dejun belajar. Si Xiao itu sendiri merupakan salah satu murid yang ditunjuk pihak sekolah untuk turut mengurus program itu. Dari sana, dia mengenal Yangyang sebagai adik kelasnya. Mereka malah bertemu lagi saat pertama kali melamar kerja di cafeini setengah tahun yang lalu.
Dejun mengangguk karena suasananya memang hening. Mereka sudah bekerja dari pukul satu -selekaspulangsekolah- hingga sekarang pukul empat sore. Jumlah pelanggan yang datang bisa dihitung jari. Karena kekurangan pengunjung, mereka berdua yang bertugas pun serasa menganggur kebosanan. Mereka hanya bercakap-cakap kecil dan bebas memainkan ponsel.
Bos mereka sendiri bahkan kelihatan seperti seorang pelanggan, duduk santai menyesap americano.
Ten nama panggilannya. Dia pria Thailand dengan nama asli yang mungkin agak membelit lidah bagi orang-orang non-Thai. Pemilik cafeitu tinggal dan berkuliah di Korea Selatan mengambil jurusan pariwisata. Oleh sebab itu, Ten bisa berbicara lima bahasa. Dia tidak akan kesulitan berkomunikasi dengan karyawannya yang bukan orang Korea.
Dejun dan Yangyang keduanya merupakan berdarah China. Lalu ada satu lagi karyawan khusus shiftmalam bernama Mark -tentu, diatakdatangdisianghari. Anak itu adalah orang Korea yang besar di Kanada sehingga terbiasa berbahasa Inggris. Oh, juga ada managerbernama Nakamoto Yuta yang berkebangsaan Jepang. Namun, pria itu jarang menampakkan diri di cafedan lebih sering berbicara dengan Ten di luar jam buka. Itu adalah daftar karyawan di cafekecil ini.
"Ah, sepi sekali. Yangyang, Xiaojun, hari ini kita tutup lebih awal. Kalian boleh pu-"
Kring!Suara lonceng yang terpasang di atas pintu masuk berbunyi. Tanda ada tamu yang membuka pintu itu. Lantas Ten pun berhenti berbicara bahasa mandarin, begitu pula dengan Dejun dan Yangyang. Mereka menatap figur pria asing berpakaian serba hitam itu. Ketiganya terdiam sedangkan si tamu hanya berdiri diam di pintu sejenak.
Dejun dapat membaca ekspresi pria itu, walau wajahnya tertutup masker dan topi. Mata pria itu berlarian dan kelihatan seperti orang tersesat. Ah, dia pasti bingung karena ketiga orang di cafeitu menatapnya dengan intens. Sangat canggung. Padahal seharusnya tamu itu dilayani dan disapa. Akhirnya, Dejun mencoba tersenyum.
"Selamat datang!" sapanya dengan bahasa Korea -karenatamunyakemungkinanorangaslidaerahSeoul.
Itu membuat Yangyang dan Ten tersadar -sontakmengalihkanpandangannya. Yangyang sibuk menghitung uang dan Ten menyeruput kopinya lagi. Mereka kembali sibuk dengan urusannya masing-masing. Membiarkan Dejun menangangi tamu mereka sendiri. Si pria itu sendiri tengah menatap si pelayan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Masih buka 'kan?" tanya si pria dengan ragu.
Dejun mengangguk, "Tentu saja, apakah ada yang mau dipesan?"
Pria itu pun melangkah ke depan kasir. Ia mendongak dan membaca menu yang tertulis di papan. Tangannya mengetuk-ngetuk meja kasir dengan tempo konstan. Dejun cukup diam menunggu si pelanggan menentukan pilihan. Serambi menunggu, dia ikut membunyikan meja dan membentuk irama yang sama dengan si tamu. Ketukannya terhenti, Dejun ikut berhenti dan menatap si tamu.
"Doppio, satu-" ucapan si tamu terputus sebentar kemudian tersenyum kecil pada Dejun, "lalu tiramisu, satu."
"Baiklah. Doppiosatu, dua ribu. Tiramisusatu, dua ribu juga. Totalnya empat ribu won. Apa ada lagi?" tanya Dejun masih dengan senyum lebar.
"Baiklah, icecreamchocolateporsi kecil, satu. Berapa semuanya?" "Itu seribu won. Jadi totalnya lima ribu won."
Pria itu merogoh sakunya dan mengeluarkan uang dari dompetnya. Ia meletakkan uang pas lima ribu won ke atas meja kasir. Kakinya kontan bergerak cepat ke arah kursi paling pojok dan duduk di sana dengan wajah agak risau. Dejun hanya mengernyit heran tetapi tak banyak pikir, dia memilih memasukkan uang itu ke laci dan mengerjakan pesanannya saja.
Kring!Gerak tangan Dejun yang sibuk meramu Doppioterhenti sesaat ketika lonceng pintu berbunyi. Mengejutkan mengetahui ada tamu kedua datang lagi ketika mereka berniat akan tutup. Matanya melirik ke arah pintu sekilas. Ia menemukan segerombolan gadis dengan seragam sekolah yang sama dengan milik Dejun. Si Xiao tidak menghapal seluruh murid sekolahnya tapi wajah mereka juga familiar. Kalau tidak salah, gadis-gadis itu adalah para anggota cheerleader.
"Selamat datang, sunbaenim."
Kali ini, Yangyang yang melayani mereka dengan ramah dan akrab.
Dejun memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Sesudah semua sudah siap, dia menatanya ke atas nampan. Dengan sigap dan profesional, ia mengantarnya ke meja pria itu. Senyum manis masih melekat ketika meletakkan nampan itu, "Pesanan Anda. Selamat menikmati."
"Tunggu."
Sebuah tangan mencekat Dejun ketika hendak pergi ke arah kasir. Langkah kakinya terhenti. Ia segera membalik badannya lagi. Matanya terpaku pada netra gelap si pria. Dejun tersenyum pada tamunya dengan ramah, "Ya, apa ada yang bisa dibantu?"
"Duduklah sebentar dan mengobrol padaku."
Volumesuara pria itu mengecil dan terdengar seperti berbisik dengan lembut. Netra mereka berdua masih tertaut dan Dejun tak berkedip karenanya -iaterpaku. Tamu itu membisikkan kata tolong sekali lagi. Dejun kontan mengalihkan pandanganya. Ia menggelengkan kepala dengan pelan, "Tidak, aku harus bekerja, Tuan."
Pria itu tak bergerak dan malah menarik tangan kanan Dejun dengan kuat mendekatinya. Alhasil, si Xiao itu hampir terjatuh -tapitertahanolehcengkramansipriadibahukiri. Segera, ia menatap si tamu dengan tajam
dan penuh kekesalan. Lagi-lagi, manik mata mereka bertemu. Jarak antara wajah mereka cukup dekat dan Dejun sadar akan hal itu. Ia menjauhkan dirinya.
Usahanya gagal karena pergelangan tangan kanannya masih terjebak di cengkraman si pria.
"Lepaskan," perintah Dejun.
Perintahnya tak diacuhkan. Dejun mencoba melepaskan cengkramannya lagi tetapi tetap tak bisa. Ia memilih tidak menatap pria itu. Ia membuang muka kemudian bergumam dengan bahasa mandarin. Meski dia tau hal yang dia lakukan tidak sopan, dia tetap maki-maki tamunya dalam bahasa lain. Namun, suara tertawa kecil malah terdengar dari pria itu.
Dejun menoleh dan menemukan mata pria itu menyipit -adasenyum tersembunyidibalikmaskernya. Ia mengerutkan keningnya heran. Apakah pria itu mengerti? Kenapa tertawa tiba-tiba? Si tamu kemudian berbisik lagi, "Duduk saja, biarkan temanmu yang melayani mereka."
Dejun segera membuka mulutnya kaget seusai mendengar pria itu berbicara dengan bahasa yang sama dengannya. Dia baru saja ketahuan memaki seseorang. Begitu sial nasibnya! Tak ingin percaya, ia pun bertanya sekali lagi dengan bahasa ibunya untuk memastikan, "Kau bisa berbahasa mandarin?"
Pria itu mengangguk.
"Aku bisa melapor ke bosmu tentang makianmu itu," ancam pria itu dengan tatapan yang menurut Dejun benar-benar menunjukkan aura sinis.
Dejun memikirkan apa yang akan terjadi jika Ten mengetahui dirinya memaki seorang tamu. Ia tahu bosnya tidak akan memecatnya, tapi hukuman akan menunggunya. Pria itu bisa-bisa disuruh shiftmalam menggantikan Mark. Gajinya juga bisa saja dipotong. Ah, membayangkan uang tak mengalir ke rekeningnya terasa sesak. Apalagi belakangan ini, dia sedang dalam masa krisis akhir bulan.
Dejun tak ingin hal itu terjadi!
"Baiklah, lepaskan dulu, baru aku akan mengobrol denganmu."
Tangan Dejun akhirnya terlepas. Ia sebagai seorang lelaki jantan tak mengingkari ucapannya. Maka, dia menempatkan dirinya di depan si pria itu. Tamunya sekarang tampak melepas maskernya lalu melahap es krim coklat miliknya. Namun, itu membuat si Xiao agak kesal. Kenapa memintanya duduk jika ujung-ujungnya dirinya diabaikan demi seporsi makanan?
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Dejun dengan nada kesal. Pria di depannya berhenti melahap es krimnya. Ia memandang si pelayan cafedengan senyum yang tampak begitu tenang dan misterius. Si Xiao hanya terdiam masih dengan perasaan agak kesal karena ekspresi tamunya begitu sulit dibaca. Membuat dirinya kebingungan untuk memulai topik.
"Bagaimana dengan namamu dulu?"
"Hendery, dan kau-" pria itu melirik sekilas nametagsi pelayan, "Xiao Dejun."
TBC.
tiramisu"Hendery?"
Dejun menaikkan satu alisnya ketika mendengar nama pria di hadapannya. Nama yang terdengar begitu familiar di telinganya. Dia meneliti figur wajah dan fisik pria itu lagi. Dejun merasa pernah melihat orang itu di suatu tempat. Mata besar, hidung mancung, rahang tegas dan bibir tipis. Bisa dibilang, tampan secara keseluruhan. Sayangnya, ingatannya sangat kacau dan tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia tak ingat apapun.
"Kita memang pernah bertemu sebelumnya. Kau lupa?"
Dejun semakin kebingungan kala pria di hadapannya berbicara seolah bisa membaca pikirannya. Dia memang tak ingat kapan, dimana, atau bagaimana mereka bertemu sebelumnya. Jadi, ia hanya mengangguk meng- iya-kan pertanyaannya. Si Hendery itu kemudian melihat ke sekeliling — memeriksaentahapa. Namun, tamunya itu kelihatan lega dan lebih santai berkata, "Baiklah, mereka sudah pergi."
"Mereka?"
Mata Dejun ikut menelusuri ke sekeliling cafe. Ia menyadari objek yang Hendery maksud ialah gerombolan siswi sekolah tadi. Mereka yang awalnya berbondong-bondong ke situ, kini sudah tidak ada lagi. Meninggalkan Yangyang yang kini mengelap meja tempat mereka singgah. Ten sendiri masih santai di salah satu meja memainkan ponsel tanpa gangguan. Si Xiao agak merasa bersalah tidak membantu rekannya —apa bolehbuat.
"Baiklah, biar kuulangi lagi, namaku Hendery. Lengkapnya Hendery Wong. Apakah kau ingat?"
Dejun memutar otaknya, kemudian pikirannya sampai kepada suatu sosok di sekolahnya. Hendery Wong, si supermodelterkenal dari Macau yang kebetulan satu sekolah dengan dirinya. Mengingat seberapa tenarnya Hendery di sekolah, kemungkinan pria itu sedang menghindari para cheerleadertadi. Itu sebabnya pakaian serba tertutup membalut tubuhnya.
Dan kemungkinan, pria itu menyeretnya hanya untuk membuatnya tidak tampak oleh para gadis —sebagaipengalih.
Jujur, Dejun di sekolah tak terlalu peduli dengan yang namanya Hendery. Mereka pernah bertemu beberapa kali. Berpapasan di koridor sekolah lalu saling melempar tatapan tanpa sepatah kata, itu kebiasaan mereka. Nama Hendery sering terdengar di antara bahan gossipteman sekelasnya. Nama Dejun sendiri juga pasti sampai ke telinga si model karena ia ketua organisasi kesiswaan yang otomatis membuatnya ikut tenar. Mereka saling
tahu satu sama lain, tapi tidak saling mengenal.
Ini pertama kalinya mereka berbicara.
"Kau— si model itu ya?" tanya Dejun memastikan.
Pria di hadapannya hanya tersenyum santai, kemudian meminum kopinya. Hendery sedaritadi merespons seadanya saja padahal pria itu yang mengajaknya mengobrol duluan. Bahkan dengan kasar menarik tangannya. Dejun menatap pergelangan tangannya yang memerah. Ia meringis sesaat kala seseorang memegang pergelangan tangannya dengan lembut.
Hendery menatap Dejun, "Apakah sakit?"
"Sakit, tentu saja," ucap si pelayan cafeitu kemudian menarik tangan kanannya dari sentuhan Hendery. Dia memilih menaikkannya ke meja untuk menunjukkan berkas agak kemerahan di sana. Ekspresi agak risih tertempel di wajahnya. Tamunya itu jelas sudah tahu, tapi masih bertanya. Menyebalkan juga.
"Maaf, aku menggunakanmu untuk mengelabui para penguntit gila itu." Hendery tetap menyentuh pergelangan tangannya lagi di atas meja —
mengusapnyalembut. Membuat si empunya sedikit merinding. Netra keduanya bertemu. Dejun dapat merasakan ketulusan permintaan maaf di suara kecil itu. Akhirnya, ia melunakkan ekspresinya. Justru senyum terbit di wajahnya, "Tidak apa."
"Lain kali, aku tidak akan begitu lagi."
Hendery tersenyum dan menarik tangannya kembali. Meninggalkan berkas merah yang sudah sedikit samar karena diusap lembut. Dejun segera menurunkan kembali tangannya. Ia kemudian menatap si Wong sambil bertanya, "Lain kali?"
"Kita mungkin bisa bertemu di sekolah. Aku juga suka cafeini. Aku akan datang lagi. Icecreamnya enak."
Pria berpakaian serba hitam itu mengambil suapan terakhir dari es krimnya. Memasukkannya ke mulut. Manis pasti menyentuh lidahnya dan
ekspresinya seperti sangat menikmati setiap gula di dalamnya. Kurvanya melengkung bahagia. Matanya menatap Dejun lagi untuk kesekian kalinya. Tatapan yang lagi-lagi tak dirinya mengerti.
"Manis."
Dejun terdiam dan tersenyum kecil. Dia tahu, tamunya itu sedang memuji rasa es krim buatannya. Tak tahan dengan tatapan teduh Hendery yang ditujukan padanya, si pelayan merasa sedikit besar kepala. Merasa seolah dirinya-lah yang dipuji manis itu. Walau dia tak mengharapkan seorang model terkenal akan memuji dirinya — hanyadapatterjadidalam mimpi!
Netranya pun beralih menatap tiramusiyang belum disentuh oleh tamunya itu. Ia menghindar. Ia tak ingin menatap pria di hadapannya terlalu lama. Dejun takut dirinya kelihatan salah tingkah atau terlalu percaya diri. Hal yang sangat memalukan jika itu terjadi. Jadi lebih baik dia mengalihkan pikirannya. Pada akhirnya, manik hitamnya terkunci lagi pada si Hendery itu.
Pria itu kontan menggeserkan sepiring dessertitu ke hadapannya. Dejun menatap tiramisuitu dengan heran. Matanya mengerjap pelan karena tidak mengerti. Lagi-lagi dia menatap Hendery meminta penjelasan. Tamunya itu hanya berkata singkat, "Untukmu."
Ah, terjadi kesalahpahaman.
Hendery malah mengira dirinya ingin makan tiramisu, padahal dessertitu hanya objek pengalih atensi. Tangannya pun bergerak mendorong kembali piring itu ke pemiliknya. Pria itu mengernyit dan memindahkan posisi piring itu ke depannya lagi. Dejun menggesernya lagi lalu berbisik, "Makan saja, itu kau yang membelinya."
"Aku traktir."
"Aku tak perlu ditraktir." "Sebagai ucapan maaf." "Aku sudah memaafkanmu."
Keduanya terus-menerus bersikeras tak ingin menerima tiramisu itu. Dejun memang tak mau karena dia bukan penyuka makanan manis, tapi Hendery tak punya alasan menolak —iayangmembelinya. Perdebatan mereka berhenti ketika beberapa baris kalimat mandarin dari Yangyang menginterupsi, "Permisi— Oh, astaga! Kau Hendery Wong? Apa yang kau lakukan di sini?"
Ucapannya terputus dan ekspresinya tampak kaget. Matanya membulat dan berbinar. Dejun menatap adik kelasnya itu dengan heran. Oh, ya, Yangyang juga murid sekolahnya dan pasti mengenali Hendery. Kemungkinan juga anak itu adalah salah satu penggemar tamunya ini. Dapat dilihat dari raut wajahnya dan gerakannya yang sontak histeris bahkan refleks mendekatkan tubuhnya.
Siapa juga yang tak kagum pada Hendery di sekolah mereka?
Dejun dapat melihat Hendery sendiri tampak tak nyaman. Pria itu tersenyum canggung, mengangguk lalu memalingkan wajahnya. Dia baru saja dikejar segerombolan stalker, pasti meninggalkan kesan traumatis. Lalu kini harus menghadapi penggemar lain, pasti melelahkan sekali. Dejum menyadarinya dan segera menyuruh Yangyang tenang.
"Berbicaralah agak pelan, kau membuat dia takut!"
Si Xiao mencubit pelan perut Yangyang hingga adik kelasnya itu meringis kecil. Kemudian anak itu segera menunduk meminta maaf dan agak menjaga jarak dengan si model. Hendery mengangguk lalu tersenyum. Ekspresi kaku itu menghilang digantikan raut yang lega di wajah tampannya. Dejun menghela napas lega karena situasinya lebih santai. Tidak ada ketegangan atau kecanggungan.
Yangyang segera beringsut menjauh, menyeret sebuah kursi dan meletakkannya di dekat meja itu. Ia duduk di sana kemudian menatap Dejun dan Hendery dengan mata yang menyipit penuh kecurigaan. Pria berkebangsaan Jerman itu memiringkan kepalanya. Kemudian bertanya, "Kalian teman dekat?"
Dejun menatap Hendery. Hendery menatap Dejun.
Keduanya lalu menatap Yangyang bersamaan, "Tidak."
"Oh, oke, lalu bagaimana kalian bisa duduk berdua mengobrol seperti sepasang kekasih begini?"
Pertanyaan kedua dari Yangyang masih dengan wajah menghakimi dan penuh kecurigaan. Itu membuat Dejun canggung dan bingung bagaimana menjelaskan semuanya. Pria di hadapannya juga tak peduli dan tak membuka suara —padahalmerekaberduadudukdisinikarenaHendery. Malahan Dejun memergokinya mencuri memakan sesuap tiramisuyang tadi diperdebatkan.
Dejun tertawa kecil.
"Kenapa tertawa? Ayolah, jelaskan padaku, mama!" rengek Yangyang dengan nada kekanak-kanakan dibuat-buat.
Dejun tak kuasa menahan tawa karena dipanggil dengan sebutan mama
—walauYangyangsudahseringmengejeknyabegitu. Akhirnya ia terbahak sambil menepuk pundak si rekan kerjanya. Menurutnya ini situasi yang lucu. Apalagi melihat wajah Hendery yang begitu polos dan cluelessmenatap dirinya saat ini. Senyum kecil terpatri di wajah tampan si model meski kelihatan tak tahu menahu apa yang terjadi.
Yangyang ikut tertawa dan memukul Dejun kemudian malah bergelayut di lengannya. Seperti sosok bayi dalam tubuh seorang remaja. Mereka berdua asik sendiri dengan permainan peran yang biasa mereka lakukan. Walau begitu, Dejun masih menangkap bayangan Hendery menghabiskan tiramisunya dan meminum kopinya. Tamunya itu melengkungkan kurvanya lagi.
Ia membuka suara, "Kalau kau jadi anaknya, Dejun jadi mamanya. Boleh aku jadi papanya?"
Keduanya langsung terdiam.
TBC.
marah"Boleh aku jadi papanya?"
Dejun dan Yangyang terdiam hingga akhirnya si pria yang lebih muda itu berbicara dengan senang, "Oh, ya, tentu. Kalian sangat cocok!"
Xiao Dejun menatap dua pria lainnya dengan ekspresi kesal. Hendery ini sepertinya diam-diam menghanyutkan. Dan Yangyang juga kenapa mengangguk-angguk saja pada perkataan si model tanpa berpikir. Jika si pria menjadi ayah dan dirinya menjadi ibu, otomatis mereka sepasang suami! Mana bisa seperti itu.
Lagipula, ini jokeskhusus mereka yang ada di cafe sebagai selingan saat suntuk bekerja dan sepi pengunjung. Dejun sebagai ibu dan Yangyang sebagai anak bayinya walau bertubuh lebih tinggi. Lalu ada Mark yang berperan sebagai saudara Dejun dan Ten sebagai lintah darat yang suka menganggu ketentraman. Mereka bahkan memasukkan Yeri -pelanggansetiamereka- sebagai karakter nona muda tetangga yang hobi membantu. Ya, begitulah keanehan mereka di kala senggang.
"Orang asing tidak boleh ikut main."
Dejun melempar tatapan sedingin es pada Hendery. Model itu hanya diam dan berekspresi kosong mengerjapkan mata menatap si pelayan cafe. Yangyang tampak kecewa melihat situasinya. Lagi-lagi ia mulai mendalami karakternya, "Mama tidak boleh begitu, orang tampan seperti Hendery ini adalah pasangan yang pas untukmu."
Memang benar dugaan Dejun jika Yangyang penggemar berat Hendery! Dejun memutar bola matanya malas.
"Hentikan main-mainnya, Yangyang, " matanya melirik ke arah kasir yang kosong kemudian berkata, "kenapa kau tidak jaga kasir saja?"
Yangyang melepaskan lengan Dejun dan memajukan bibirnya cemberut. Persis seperti anak-anak yang marah hanya karena tidak diberi permen. Pria itu kemudian berdiri dan mengembalikan kursinya ke tempat semula. Kemudian berdiri di samping Dejun dan menatapnya dengan tajam.
"Kenapa tidak kau saja? Tadi aku sudah bekerja, sekarang giliranku duduk di sini menemani Hendery."
Dengan alasan begitu, Dejun tak bisa menjawab lagi. Membuat Yangyang mendapatkan kemenangannya setelah checkmateitu. Sebenarnya, bisa saja dirinya membalas dengan alasan Hendery hanya ingin si Xiao, bukan yang lain. Sehingga ia tak harus bekerja dan cukup menuruti keinginan si tamu. Namun, itu alasan tak logis -kecualiHendery mau bekerjasamadanmeng-iya-kanstatementitu. Kalaupun begitu, pasti adik kelasnya akan salah paham dan curiga ada hubungan antara mereka.
Dejun pun berkata, "Baiklah, kau dengan Yangyang saja, dia anak yang baik."
"Tidak perlu, aku sudah selesai dan akan pergi sekarang. Kalian bisa melanjutkan pekerjaan."
Wajah Yangyang langsung lesu karena tidak jadi berduaan dengan kakak kelasnya. Berbanding terbalik, raut Dejun justru tersenyum penuh kemenangan. Tamunya ini sepertinya memang pengertian dan peka. Karena dengan pergi, maka dua pelayan itu impas dan tak mendapat kesempatan- meskisedikittakadilbagisibocahpalingmuda. Pada akhirnya, Hendery berdiri, Dejun ikut berdiri. Pria berpakaian serba hitam itu membungkuk kecil pada mereka.
"Terima kasih. Semoga kita bertemu lagi, Mungil."
Dalam hati, Dejun merutuk. Faktanya, tinggi badannya hanya pada kisaran seratus tujuh puluhan sentimeter. Jika dibandingkan dengan rata- rata tinggi pria di Korea Selatan, jelas berbeda jauh. Hendery yang berasal dari Macau itu juga sedikit lebih tinggi. Namun, memanggilnya mungil itu sedikit tidak menyenangkan. Tapi, Dejun membiarkannya saja.
Seperti sebelumnya, Hendery tetap menatap Dejun sebelum dia tersenyum, mengenakan masker hitamnya kembali. Lalu menuju ke arah pintu dan menghilang di baliknya misterius. Meninggalkan kondisi cafeyang kembali seperti sempurna, kecuali moodYangyang memburuk dan meja kotor di pojok tadi. Anak itu kini menatap Dejun dengan tatapan benar-benar tidak menyenangkan.
Memang menyebalkan!
Orang dapat menyimpulkan dengan jelas Yangyang adalah remaja labil. Sedikit menyenggol perasaannya maka dia akan memusuhimu selama beberapa waktu. Pada akhirnya dia akan sendiri mendatangimu jika dia butuh. Sedangkan Dejun yang hanya berbeda setahun bersikap sangat lain. Ia adalah remaja yang mulai menginjak kedewasaan dan lebih tenang -takmenutupfaktajikadirinyasendirimasihagakcengengjuga.
"Kau mau menatapku sampai kapan?" tanya Dejun.
Orang itu tidak membalas kemudian berlenggok menjauh menuju ke kasir. Tak mengindahkan pertanyaan Dejun sedikitpun. Pada akhirnya, si Xiao harus membersihkan meja tadi sendiri. Ya, ini memang pekerjaannya dan tadi si Liu Yangyang sudah bekerja, sedangkan dirinya malah menemani seorang pelanggan. Jadi, Dejun tidak merasa terlalu berat hati melaksanakannya.
Ia bersenandung dan merapikan mejanya.
"Aish, kalian bertengkar lagi? Sekarang karena seorang pria? Kenapa dia?"
Ten tiba-tiba muncul di samping meja dan membuatnya terkejut. Dejun pun langsung berhenti dan menatap si bos yang santai memainkan ponselnya. Pria Thailand itu pada dasarnya memiliki kekasih ada di Amerika dan mereka berhubungan jarak jauh lewat internet. Maka tak heran, saat berbicara pun, atensi utamanya terkunci ke layar. Membuat si pekerja merasa sedikit tidak dihargai, tapi karena 'bosselalubenar', Dejun tak bisa berbuat apa-apa. Dengan agak enggan dia menjelaskan situasi antara dirinya dan pelayan lainnya.
Dia hanya menjawab, "Biasa. Dia itu marah karena aku tadi menemani tamu tadi. Kebetulan tamu itu idolanya di sekolah. Sedangkan dia bekerja melayani tamu lain dan tak menyadarinya. Ketika dia sudah menghampiri kami, tamu ini malah pergi."
Ten menatapnya sebentar sambil memiringkan kepala, "Hendery menjadi populer ya?"
Xiao Dejun pun menyipitkan mata menatap bosnya dengan penuh selidik. Baru saja pria itu menyebut nama Hendery dengan sangat jelas. Padahal selama hampir setahun dirinya bekerja di sini, ini pertama kalinya pria itu kemari. Si pria asal Tiongkok itu sampai pada kesimpulan bahwa Ten mengenal Hendery sudah sejak lama.
Artinya dia bukan orang asing bagi bos.
Dan artinya juga, Hendery boleh saja masuk ke permainan mereka.
Dalam hati, Dejun merutuk. Berharap Yangyang tak tahu fakta bahwa bos mengenal si model. Jika sampai tahu, maka anak itu benar-benar akan memaksa Hendery masuk ke dunia fiksional mereka -sebagaiayahsiLiudansuamisiXiao. Lalu dirinya tak bisa melontarkan alasan penolakan. Jangan sampai itu terjadi karena Xiao Dejun masih belum siap mental untuk bermain peran bersama orang yang dia kenal sehari saja.
"Tunggu, kau kenal dia?"
"Saat cafeini baru mulai dan hanya ada aku yang bekerja, dia sering kemari lalu menghilang begitu saja. Aku tak sadar itu dia, sampai dia pergi tadi. Anehnya, dia tak menyapaku," jelas Ten sambil tersenyum.
Pria itu mematikan ponselnya lalu duduk di meja yang sudah Dejun bersihkan. Ia menepuk meja itu, mengisyaratkan agar bawahannya menempatkan diri di sana. Ten melengkungkan kurvanya cerah dan itu tak seperti biasanya. Dejun langsung duduk di hadapannya sambil berpikir jika bosnya sedang dalam mood bagus -sampaimelepaskansmartphonedan kekasihjarakjauhnya.
Ten tak bertutur kata.
Begitu pula dengan Dejun, ia membalas senyum bosnya tanpa tahu maknanya.
"Jadi-" ucapan si bos terputus. "Jadi apa?"
"Kau tak ingin berbaikan dengannya?" Pria itu menghela napas berat.
Hal mudah tapi penuh pengorbanan.
Bertengkar dengan anak itu selalu berujung dirinya yang mengalah. Ia akan menghampiri si Liu lalu meminta maaf. Egocentric, keras kepala, dan agak picik. Yangyang akan memanfaatkan momentum seperti itu untuk mendapatkan apa yang dia mau. Dengan ancaman tak diampuni, orang yang berhubungan dengannya akan dijadikan budak seharian. Dejun sudah berkecimpung beberapa lama dalam bidang 'membujukYangyang'dan tahu bagaimana sikap anak itu.
Benar-benar, tipikal remaja labil juga sadis. Kadang lebih baik didiamkan saja.
"Akan kucoba," ujarnya dengan nada lelah.
"Baiklah, haruskah aku memanggilnya kemari untuk berunding denganmu?" tanya Ten. Dejun hanya mengangguk saja dengan patuh. Pria Thailand itu segera memanggil anak yang sedang duduk di kursi kasir itu, "Yangyang, tutup cafenya dan kemari!"
Pria Jerman itu segera menoleh dengan heran. Matanya masih menatap si Xiao agak kesal. Ia segera melangkah ke arah pintu masuk dan mengubah tulisan openmenjadi close. Kakinya lalu membawanya ke arah Dejun dan Ten duduk berdua. Yangyang berdiri dengan bertumpu pada satu kaki saja,
tangannya dilipat di depan dada -angkuh. Bibirnya dimanyunkan dan alisnya bersatu. Persis, seperti bocah yang sedang merajuk!
"Berhenti memasang wajah seperti itu," tegur Ten dengan senyum kecil hampir tertawa.
Dejun yang memperhatikan itu pun justru sengaja tertawa. Matanya melirik si rekan kerja dengan puas. Bukannya hilang, raut marah itu semakin kuat tercetak di wajah Yangyang. Dengan sengaja, Dejun berkata, "Kau tahu, merajuk seperti itu membuatmu kelihatan lucu, jadi berhentilah."
"Aku tidak merajuk."
TBC.
kebetulan"Aku tidak merajuk."
Dejun menelaah raut wajah Yangyang dan gesturnya. Lagi-lagi, ucapan anak itu berbeda dengan kenyataannya. Ekspresi dan bahasa tubuhnya secara gamblang menggambarkan orang yang merajuk. Namun, Yangyang selalu bersikap gengsi-an mengakuinya. Maka, meskipun mukanya marah, mulutnya akan terus menjawab tidak. Dejun jelas tahu semua sikap adik kelas sekaligus rekan kerjanya itu.
"Kau merajuk." "Tidak."
"Iya."
"Tidak."
Yah, begitu saja terus!
Dejun akhirnya mengalah, "Stop! Aku minta maaf, jadi apa yang kau inginkan?"
Ucapan penuh kepasrahan itu menyebabkan Yangyang refleks tersenyum licik. Itu membuat Dejun merasa sangat tidak nyaman karena dia tahu senyum itu berarti si pria Jerman sedang merencanakan sesuatu. Ia hanya berharap anak itu tak memintanya melakukan hal yang di luar batas wajar. Beberapa bulan mengenal anak itu, Dejun mengetahui bakat terpendam anak itu -seorangjeniusdalamhalpersuasidanmanipulasi.
"Kau ketua klub fotografi kan?" tanya Yangyang.
Ia terdiam sejenak dengan satu alis dinaikkan memikirkan kenapa anak itu menanyakan hal yang retoris. Yangyang sendiri adalah anggota klub yang dia dirikan. Apalagi yang anak itu rencanakan pada dirinya? Ia mencoba tak menghiraukan segala pikiran negatifnya. Siapa tahu anak itu memang lupa akan hal itu 'kan? Menyembunyikan raut curiganya, ia mengangguk saja.
"Iya, kau 'kan anggotanya. Kau lupa?"
Yangyang langsung cengengesan, "Ikuti Hendery, foto dia, cetak dan berikan semuanya padaku."
Mata Dejun membulat mendengar titah dari si adik kelas. Otaknya terputar. Apa barusan anak itu baru saja menyuruhnya menguntit? Mengikuti seorang model yang dirinya tak kenal baik dan mengambil fotonya tanpa izin. Itu melanggar privasi. Itu membuat dirinya sama saja dengan para anggota cheerleadertadi. Sebutan bahasa sehari-harinya adalah menjadi stalker.
Itu sesuatu yang sangat tidak level. Ia tak mau! "Kau barusan menyuruhku menguntit?"
"Kau tidak mau?" tanya Yangyang.
Dejun tak terima, "Tidak mau. Itu sangat tak bermartabat."
"Tidak bisakah kalian berdua berhenti bertengkar hanya karena Hendery?"
Akhirnya Ten membuka suara. Nada bicaranya kedengaran kesal dan geram. Dan itu juga kontan membungkam perdebatan kedua pelayan cafe. Dejun tak berani menatap si bos yang duduk di hadapannya. Akhirnya, matanya lebih memilih menatap Yangyang dengan tajam -dibalasbalikdengantatapanyangsamatajamnya.Dia tahu bagaimana galaknya si bos jika sudah emosi dan tidak ingin mencari gara-gara.
Ten hanya diam. Yangyang diam.
Semuanya diam membentuk atmosfer canggung di cafeitu.
Dejun menggerutu dalam hati. Ia melirik jam dinding yang bergantung di sana. Sudah menunjukkan pukul lima sore. Yang berarti saat ini seharusnya adalah jam dia pulang kerja dan kembali ke apartement miliknya. Seharusnya juga, Mark yang bertugas untuk shiftmalam sudah datang dan bersiap-siap membuka kembali cafepada pukul enam nanti. Namun, semuanya berjalan tak seperti biasanya. Bahkan Mark juga menghilang hari ini!
Situasi ini terjadi karena Hendery itu!
Si Xiao menjadi sedikit dendam. Dia punya beberapa alasan baik untuk tidak menyukai model itu. Pertama, pria itu menariknya hingga tangannya memerah. Kedua, pria itu menggodanya dengan candaan yang tidak menyenangkan hati. Ketiga, pria itu pergi begitu saja dengan misteriusnya. Keempat, pria itu menyebabkan situasi menjadi begini. Benar-benar menyebalkan.
Kring!"What'sup? Hai, bos! Uh, tumben kalian berdua belum pulang?"
Mark merusak suasana yang hening itu dengan sebuah sapaan dalam bahasa Inggris. Berjalan masuk dengan hoodiedan celana panjang. Gayanya kelihatan keren tapi tidak mengesankan karena timingdia datang tidak tepat. Tiga pria lainnya menatap si pria kelahiran Kanada itu dengan jengah. Terutama Dejun yang diam-diam menahan tawa karena suasananya benar-benar tidak bagus.
Mark terhenti di depan pintu dan menatap mereka dengan agak linglung. Kelihatan matanya sedang bergerak mengamati situasi yang terjadi. Ekspresinya berubah menjadi tawa yang dipaksakan. Sepertinya, sudah menyadari kondisi cafeitu. Ia berjalan mendekati mereka bertiga yang berada di meja pojokan -taklupaekspresijemumelekatdiwajahkhasnya.
"Oh, man, kalian berdua bertengkar lagi?"
Ten mengangguk dan menjelaskan dengan bahasa Korea kepada Mark, "Aku tak tahu lagi, mereka bertengkar hanya karena hal kecil. Karena sudah cukup sore jadi-" matanya melirik karyawannya dengan agak dongkol, "kalian bisa pulang dan selesaikan sendiri."
Yangyang yang berdiri dan Dejun yang duduk, keduanya tak berkutik. Dejun mempertahankan diri, tak ingin pergi sebelum Yangyang pergi.
Begini-begini, si Xiao punya egoyang sebenarnya sama tinggi juga. Walau kadang dia bisa sangat pengertian tapi dalam kasus yang seperti ini, mengalah tidak ada dalam kamusnya. Sudah baik tadi dirinya meminta maaf duluan, masa sekarang harus pergi duluan lagi? Biarkan sesekali anak itu yang mengalah.
Ten mau tak mau berdiri lalu menarik kerah baju Yangyang dan Dejun. Ia mendorong mereka pergi, "Sudah sore menjelang malam dan kalian masih mengenakan seragam SMA kalian. Bisa-bisa aku dituduh mengerjakan anak di bawah umur sampai malam hari. Sudah, pulang sana! Hush! Pergi!"
"Tapi, Mark kan seumuran denganku. Kau tidak mengusirnya. Apa- apaan."
"Pulang saja, anak-anakku."
▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒ "Melelahkan!"
Dejun berseru dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Pakaian sekolahnya masih melekat ke tubuhnya. Pada akhirnya, Dejun maupun Yangyang memutuskan pulang ke rumahnya, tanpa menyelesaikan masalah apapun.
Keduanya berkemas dan langsung pergi tanpa berpamitan atau bahkan menatap satu sama lain.
Itu bukan masalah.
Yangyang pasti akan segera berbaikan dengan dirinya.
Mereka berdua pada dasarnya selalu dapat bertemu dimana saja. Mereka satu sekolah, satu tempat kerja dan bertetangga! Dejun adalah ketua klub fotografi sekolah, Yangyang anggotanya. Dejun adalah ketua organisasi kesiswaan, Yangyang si siswa pertukaran pelajar sering berurusan dengannya. Jadi, bahkan jika anak itu menghindar di sekolah, pada akhirnya ada keperluan dan mereka akan saling berbicara. Rasa gengsi mereka tinggi tapi pada akhirnya semua akan kembali semula -bersikapseolahpertengkaranitutidakada.
Selalu begitu. Ah, lupakan!
Dejun segera bersiap untuk mandi, makan malam sederhana, bermain gamesejenak dan tidur karena besok ada sekolah. Dia perlu istirahat setelah beraktivitas seharian. Tidur juga bertujuan mengisi tenaga untuk esok hari. Menatap permainan di ponselnya dengan jenuh, ia pun mematikannya. Sekejap mata, tubuhnya sudah terbalut selimut tebal berbaring di atas kasur. Ia tak banyak pikiran langsung memejamkan mata.
Terlelap.
Esoknya, si Xiao terbangun saat alarmnya berbunyi tepat pukul lima pagi. Bersiap-lah dia ke sekolah seperti biasa. Mengenakan seragam sekolahnya lalu sarapan dulu seadanya dengan segelas susu dan dua buah roti. Ia lalu membawa ransel di punggungnya dan memakai sepatu. Dia berkaca dulu memastikan penampilannya rapi untuk hari yang cerah itu.
Mungil.
Ah, sial, suara pria itu malah muncul di pikiran Dejun. Netranya melihat bayangan badannya sendiri di kaca. Ia mulai berpikir benarkah dirinya mungil? Dirasanya biasa saja! Setidaknya tingginya masih cukup untuk mencapai rak ke 4 di supermarket. Walau memang dengan seragam sekolah dan tas ransel, dia semakin kelihatan kerdil seperti bocah SMP dibanding SMA.
Masa bodoh.
Laki-laki itu pun melangkah ke luar dari apartemen kecilnya. Mengunci pintu dengan aman supaya tidak ada orang yang masuk selagi rumahnya kosong. Dalam hati, dia berharap tidak bertemu Yangyang di depan agar tak
terjebak suasana canggung apalagi di dalam liftnantinya. Baru selangkah, dia sudah dihadang, bukan oleh Yangyang melainkan orang lain. Figur seorang pria dengan seragam sekolah sama sepertinya yang berdiri di hadapannya.
Dejun melirik sekilas. Hendery.
Ah iya, itu si Wong dengan seragam sekolah. Pakaiannya masih bernuansa hitam karena jaket, topi, masker dan ransel yang ia kenakan. Dejun baru mengenalnya sehari tapi gayanya yang begitu khas sekali sehingga mudah untuk dikenali. Dan kenapa si model itu ada di depan apartemennya pagi-pagi? Menyeramkan! Si Xiao mulai berpikir negatif.
Dejun segera berbalik menghadap pintu lagi, berpura-pura tidak melihatnya.
Rasanya ingin mengumpat.
"Hey, kau yang kemarin itu kan? Ah, dunia memang sempit. Kebetulan sekali, mau ke sekolah denganku?"
TBC.
tumpangan"Kebetulan sekali, mau ke sekolah denganku?"
Dejun terdiam masih membelakangi sosok itu. Kebetulan sekali. Sangat- sangat kebetulan ternyata mereka tinggal di apartemen yang sama. Dirinya tak pernah menyadari hal itu dan tidak pernah pula melihat Hendery di sekitar sini. Sekarang ia mulai merutuk. Mulai detik ini, dia akan terjebak di antara adik kelas merepotkan bernama Yangyang dan kenalan barunya yang menyebalkan.
Tapi, kalau dipikir, lebih baik ikut Hendery saja!
Dari sini ke sekolahnya butuh waktu sekitar lima belas menit jalan kaki. Sangat melelahkan baginya berjalan setiap harinya. Terlalu dekat jika memakai bis tapi juga jauh jika memakai jalan. Dejun juga tidak punya mobil atau sepeda motor pribadi karena orang tuanya di China melarangnya. Hendery adalah seorang model muda terkenal dan sudah penghasilan tetap —pastikayadanpunyamobilpribadi!
Bisa dijadikan tumpangan!
Dejun pun berbalik dengan senyum kecil, "Oh, kau Hendery si model. Kau tinggal di sini?"
"Apartemenku di sebelah kirimu."
"Aku tak pernah melihatmu," ujar Dejun semakin heran.
Apartemen di sana berukuran tak jauh beda dari apartemennya yang kecil tapi cukup untuk hidup seorang diri. Seorang supermodelmau tinggal di sana? Lucu sekali. Setahunya juga tempat itu dihuni oleh sosok kakek tua ramah yang selalu pergi senam dan menyapanya di pagi hari —walaubelakangandiatakmelihatkakekitulagi. Tapi, tidak mungkin kan Hendery tiba-tiba membeli apartemen itu?
"Aku baru beli kemarin."
Dejun semakin kaget sampai bahasa Mandarin berubah menjadi Inggris, "What?"
Apakah anak ini sengaja membeli apartemen tepat di sampingnya? Jika memang semua ini kebetulan, maka kebetulan yang sangat disengaja — membuatdirinyasangatwas-was.Silahkan katakan dia terlalu merasa, tapi
si model tampan ini seperti stalkersaja. Sangat creepyjika dibayangkan semakin lanjut. Seharusnya Dejun yang menguntit Hendery, tapi sekarang sepertinya malah dirinya dikuntit oleh Hendery!
Tidak, tidak, tidak boleh berburuk sangka!
Dejun mengerjapkan matanya masih menatap Hendery meminta penjelasan.
"Ah, lupakan saja, yang penting sekarang kita bertetangga. Jadi, kau mau ikut tidak?"
Pria itu menyengir di balik maskernya. Mengalihkan topik dengan mencurigakan tapi sekaligus mengingatkan Dejun kembali bahwa mereka sedang mengenakan seragam sekolah dan baru akan berangkat. Terakhir dia melihat sudah pukul tujuh, sedangkan sekolah dimulai pada tujuh lewat tiga puluh menit. Sekadar memastikan tawaran kenalan barunya itu, si Xiao bertanya, "Jalan kaki?"
"Mobil."
Hendery mengeluarkan kunci dari saku celananya. Sudah diduga.
Mata Dejun berbinar dan kurvanya membentuk senyum manis. Tanpa pikir panjang, ia berjalan ke arah liftuntuk turun dari lantai lima ke lantai dasar dengan langkah yang bersemangat. Meninggalkan Hendery yang masih loading di depan pintu apartemennya. Pria yang lebih pendek itu melambaikan tangan dari kejauhan. Memanggil-manggil si model muda.
"Cepatlah! Aku tak ingin terlambat." "Oh, iya!"
Lalu sekarang apa?
Mereka duduk di mobil dengan si pemilik memegang kemudi dan yang lainnya di sisi kanan. Keduanya duduk tenang mengenakan sabuk pengaman. Dejun tampak bahagia sekali karena bisa ke sekolah naik mobil bersama seorang supermodelterkenal —yangbarusajadiakenalkemarin.Apa kata gadis-gadis di sekolah nanti? Apa kata Yangyang?
Mereka pasti akan sangat iri.
Kemarin, Dejun mencoba mengorek informasi dari teman-teman yang lain. Ia mendengar desas-desus jika Hendery itu tidak menyukai pekerjaannya sebagai model karena popularitasnya mulai menganggu hidup pribadinya. Oleh sebab itu, si pria Macau itu sangat misterius, sibuk dan kaku kepada hampir semua orang. Berbicara dengannya saja susah, apalagi duduk di mobilnya saat ini!
Itu semua sepertinya hoax, karena Hendery dari awal kejadian di cafetidak kelihatan begitu kaku —kecualistyleberpakaiannya. Selalu serba hitam seperti ingin melayat. Itu memberi kesan misterius dan gelap apalagi ditambah masker, jaket dan topi yang begitu tertutup. Sekarang di dalam mobil, itu juga dilepasnya. Di luar itu, sikap dan segala gerak-geriknya wajar saja. Justru tidak kaku, menyenangkan sekaligus menyebalkan.
"Xiao Dejun," panggil Hendery tiba-tiba. "Hm?"
"Aku selalu lupa namamu."
Dejun pun protes, "Apa susahnya nama Dejun untuk diingat?" "Bagaimana kalau aku memanggilmu Xiaojun saja biar mudah?" Ia mengernyit.
Dalam bahasa mandarin, jika beda nada pembacaan, maka akan beda huruf —bedapulaartinya. Hendery dengan cerdik baru saja bermain-main dengan nada dalam membaca nama Xiao Dejun. Si Wong seenak saja mengubahnya nada baca marga Xiao menjadi nada lain. Dia juga menghilangkan nama tengahnya yaitu De. Membuat arti namanya secara keseluruhan berubah menjadi sesuatu yang mengejek dirinya.
Pria mungil itu mengerutkan dahinya.
"Bukan xiao untuk kecil! Nada dan tulisannya berbeda, artinya juga beda!"
"Tapi, kau cocok dipanggil kecil." Dirinya tak sekecil itu!
Beda tinggi Hendery dan Dejun mungkin hanya beberapa centi!
Xiao Dejun dapat melihat seringaian itu walaupun wajah mereka tidak berhadapan. Ia menatap tajam seolah ingin membunuh si model yang sedang fokus mengemudi. Hendery tampak acuh tak acuh dan fokus mengemudi saja. Karena pria yang lebih mungil itu ingat jika si Wong sedang berbaik hati memberinya tumpangan. Jadi, ia akhirnya hanya menatap ke arah jendela. Lalu berujar ketus, "Kau fokus saja pada jalan."
"Mataku memang fokus pada jalan, tapi aku juga tetap memperhatikanmu kok. Jangan cemburu."
"Heh!"
Dejun tak dapat menahan rasa kagetnya digoda seperti itu! Sampai- sampai wajahnya memerah antara merasa sangat malu dan juga ingin marah. Cemberut, bibirnya maju beberapa senti dan ekspresinya persis
seperti gaya marahan Yangyang kemarin. Anak itu mengatai adik kelasnya tapi dirinya sendiri tanpa sadar juga melakukan hal yang sama.
Hendery melirik Dejun lalu tertawa terbahak, "Sudah-sudah, hilangkan wajah merahmu itu, kita sudah sampai Nanti anak-anak yang lain bisa melihatnya dan menggodamu sepuasnya. Kau mau itu terjadi? Oke, turun di sini saja supaya yang lain tidak melihat, lalu kau jalan ke gerbang. Bisa 'kan?"
Pada akhirnya, Dejun masih dengan wajah datar, turun dari mobil Hendery bukan di gerbang tetapi agak menjauh —agartakdilihatsiswa lain. Ia berhenti sejenak kemudian mengetuk kembali kata jendela. Jendelanya diturunkan dan tampaklah si model dengan wajah linglung. Ah, ya, Dejun itu tahu sopan santun dan ia tentu tak lupa untuk mengucapkan satu kata dengan senyum terpaksa, "Terima kasih," kemudian pergi.
"Morning!"
Seseorang menepuk pundak Dejun ketika ia baru saja mencapai pagar sekolah. Ia menegok dan menemukan sosok bertubuh begitu tinggi di belakangnya. Saking bongsornya sampai menghalangi sumber cahaya matahari dari belakang sana. Berjalan berdua begitu kelihatan seperti seorang anak SMP dengan anak kuliahan —meskikeduanyaSMA. Si Xiao menyipitkan matanya pada temannya itu. Ia lalu hanya tersenyum sumringah membalasnya.
"Oh, Lucas."
Lucas Wong namanya. Aslinya Wong Yukhei.
Orang Hongkong yang merupakan salah satu teman sekelasnya di sekolah. Mereka cukup dekat karena Lucas belajar mandarin dari Dejun dan Dejun belajar bahasa cantonesedari Lucas —walaupunkeduanyasebenarnyabisahanyasajatakseimbang. Lalu juga selalu di kelas yang sama selama dua tahun belakangan. Oh ya, sekali lagi, mereka bersekolah di sekolah internasional di Seoul. Jadi jangan heran populasi warganya pun rata-rata merupakan campuran. Jangan heran pula mengapa bahasa lain lebih sering terdengar selain bahasa Korea.
"Ekspresimu tak biasa," ujar Lucas dengan bahasa mandarin.
Lucas mempercepat langkahnya lalu menyamakan kecepatan berjalannya dengan Dejun. Sehingga kini mereka berdua berjalan beriringan dengan gap tinggi yang berbeda jauh. Keduanya menuju ke arah ruang kelas mereka. Dejun tampak keheranan karena ucapan pria tinggi itu. Sebab dia tak
merasa ada yang aneh dengan ekspresi wajahnya. Dia hanya tersenyum ramah seperti biasanya.
"Maksudmu?" tanyanya.
"Kau senyum terus menerus daritadi."
Yukhei tertawa terbahak nyaring. Dejun semakin heran kenapa temannya itu seperti orang gila sekarang. Memalukan sekali karena dilihat oleh siswa- siswi lain di lorong. Padahal tidak ada yang lucu apalagi tentang senyum si Xiao! Memang senyumnya manis dan menggemaskan, tapi tidak pantas ditertawakan. Tiap pagi dia memang selalu tersenyum menyapa orang lain sebagai orang yang ramah. Itu hal yang biasa, harusnya si tinggi itu sudah tahu.
"Bukankah setiap hari juga begitu?" "Beda."
Ada yang disembunyikan.
Dejun semakin heran, "Apa yang beda?" "Kau tadi datang dengan Hendery ya?" TBC.
school"Kau tadi datang dengan Hendery ya?" Lucas melihatnya tadi?
Dejun mulai panik karena setahunya tadi mereka turun di tempat yang tidak banyak orangnya. Refleks, ia segera memukul lengan Lucas hingga pria tinggi itu terdiam dan merintih kecil. Ia menyipitkan matanya dengan sorot yang mengancam nyawa. Telunjuknya diletakkan di depan bibirnya, menyuruh si teman untuk diam. Mereka sedang berjalan di lorong yang penuh murid lainnya. Bisa-bisa terdengar dan jadi buah bibir terlebih keduanya -DejunmaupunHendery- itu sama-sama terkenal di sekolah.
Itu mimpi buruk sekali.
Ketua organisasi kesiswaan berduaan dengan si supermodel? Apa-apaan?
"Aku tadi berpikir aku berhalusinasi melihatmu keluar dari mobil Hendery. Gila ya!" seru si pria Hongkong itu.
Dejun kembali melempar tatapan tajam. Menyuruhnya diam. Jika saja badannya sedikit lebih besar dan tinggi, maka dia akan membekap mulut anak itu supaya berhenti berbicara dan mengoceh. Sayangnya, dia harus berjinjit dulu dan itu melelahkan. Jadi lebih baik dia mempercepat kakinya dan menyeret Yukhei menuju ke kelas sehingga mereka berdua bisa lebih leluasa berbicara -situasidisanajelaslebihsepi.
"Dia tetangga baruku," jelas Dejun dengan suara kecil serambi meletakkan tasnya di bangku.
Lucas bertanya lagi untuk memastikan, "Oh- waitwhat?" "Dia tetanggaku," ulangnya.
"Dia punya rumah bagus di Gangnam dan pindah ke daerah rumahmu yang biasa saja?"
Lagi-lagi, anak itu begitu heboh dan dramatis. Si tinggi itu tampak dengan sengaja menjatuhkan tasnya ke lantai seolah sangat terkejut. Membuat dua tiga orang teman sekelas mereka menoleh. Dejun langsung menendang kaki Lucas yang tempat duduknya berada di sampingnya. Anak itu hanya nyengir seperti orang gila -memangtakbisadiam!
Namun, satu hal membuat Dejun bertanya, "Kau tahu tentangnya?"
"Aku bisa dibilang mantan mitra kerjanya. Kau ingat 'kan? Dulu ketika SMP, aku ikut pemotretan dengannya untuk suatu majalah remaja. Kami berdua jadi cover depan. Dia bisa berbahasa cantonesejuga, sama denganku. Dari situ, aku cukup kenal dia."
Dejun hanya mengangguk.
Hampir ia lupa jika Lucas adalah mantan model. Temannya itu memang sesungguhnya tinggi dan tampan seperti model keren. Sayang sekali, si Yukhei itu keluar ketika naik ke SMA dengan alasan ingin fokus belajar dan sikapnya juga tidak mendukung. Begitu pecicilan! Anak itu juga tak kuat diet. Itu pula sebabnya badannya yang dulu begitu kurus tinggi sekarang menjadi subur bongsor. Berbeda dengan Hendery yang tetap menjadi model hingga naik daun -selalusajakurus!
"Tunggu, Hendery bisa bahasa cantonesejuga ya?" tanya si Xiao.
Lucas menepuk jidatnya, "Oh, astaga, kau sungguh adalah Dejun? Tumben sekali tidak memakai otakmu."
Dejun mengangguk polos.
"Baiklah, kau Guangdong, aku Hongkong, dan dia Macau. Ketiga tempat ini mayoritas bisa berbicara bahasa cantonese. Jangan bilang kau berbicara bahasa Korea dengannya karena mengira dia orang sini?" jelas Lucas diakhiri pertanyaan bernada geram.
Si Xiao hanya mengerjapkan matanya. "Tidak, aku berbicara mandarin."
"Harusnya kau berbicara bahasa itu supaya lebih akrab. Manfaatkan kesempatan itu untuk mendapat popularitas lebih. Lagian bahasa cantonesemu itu sudah fasih, kenapa tidak dipakai?"
Dejun tidak langsung menjawab, dia mengambil beberapa buku dari dalam tasnya dan meletakkannya di meja terlebih dahulu. Dia menoleh lagi ke arah samping dan menatap Lucas dengan datar. Barulah ia menjawab, "Aku tidak ingin akrab dengannya."
Lucas mendengus dan berkomentar dengan nada agak sarkas, "Lucu sekali."
"Apa lagi yang lucu?"
"Kau tidak menyukai orang yang disukai semua orang kecuali kau." "Terserah."
▒▒▒▒▒▒▒▒ "Dejun-ge!"
Sudah ditebak sejak kemarin, Yangyang pasti tidak bisa jauh-jauh dari dirinya. Ujung-ujungnya, ketika jam istirahat, anak itu berseru memanggil namanya dari ujung lorong. Tangannya diangkat begitu tinggi dan cengiran di wajahnya tampak agak memalukan karena dilihat orang lain. Bocah itu berjalan dengan dua temannya yang Dejun tak kenali. Satu hal -tumbensekalianakitumemanggilnyage. Biasanya anak itu menyebutnya Dejun saja.
Kalau begini, pasti ada maunya.
"Dejun brother. Dejun-ge. Dejun-hyung."
Yangyang mendekat lalu menepuk meja Dejun dengan senyum di wajahnya. Ia mendekatkan badannya ke kakak kelasnya. Dua temannya yang lain hanya menatap dari belakang -tidakmencobauntukikutcampur. Membuat si Xiao merasa tidak nyaman dan menatapnya dengan jengah. Apakah anak itu lupa tentang yang kemarin?
Dejun mendorong pelan bahu Yangyang agar badannya menjauh, "Berhenti memanggilku begitu. Kita masih belum baikan, kau lupa ya?"
"Fotonya," bisik Yangyang. "Aku kan tidak setuju."
"Ayolah, bagaimana kalau diberi bayaran? Kita bisa bekerja sama. Kau bagian mengambil foto dan aku marketing. Aku bisa memberimu keuntungan lebih. Kau lihat teman-temanku, mereka meninginkan fotomu." Yangyang berbisik menunjuk dua teman perempuannya di belakang. Ekspresi gembira terpatri di wajahnya dan nada bicaranya benar-benar persuasif. Dia tahu Dejun lemah jika sudah membawa masalah uang. Si Xiao itu kan sedang krisis uang jajan karena akhir-akhir ini banyak sekali urusan. Sayang sekali, dirinya sudah memasang tameng agar tak tergoda
duluan -iasudahmenyiapkanbalasan.
"Kenapa tidak kau yang mengambil foto saja?" tanya Dejun sewot. "Kau lebih senior!"
"Tapi itu keinginanmu."
"Aku laporkan ke bos nanti kalau kau jahat denganku." Yangyang mulai mengancam.
Dejun bergindik ngeri ketika bayangan wajah bosnya yang sedikit garang itu. Apalagi Yangyang lebih difavoritkan hanya karena bocah itu bisa berbahasa Inggris juga. Oh, ia pandai merayu dan manipulasi. Ten pasti akan percaya apa yang anak itu katakan dan bisa-bisa menyuruhnya
mengikuti keinginan si Liu. Sekarang apa lagi yang bisa ia jadikan alasan untuk menghindar? Ia menghela napas berat.
Jalan buntu sudah. "Tenang saja, Yangyang!"
Entah darimana Lucas tiba-tiba ikut ke dalam pembicaraan mereka berdua. Sehingga Yangyang langsung menoleh ke arah samping dan menemukan seorang tiang listrik berdiri menjulang -sepertibiasadenganseringaiantidakjelas.Warga Jerman itu pun menyipitkan matanya lalu tersenyum.
"Hai, Lucas."
Pria Hongkong itu mengangguk, "Mereka berdua itu dekat kok, jadi untuk mendapat fotonya lebih mu-"
Dejun berseru memotong perkataannya, "Lucas!"
"-dah. Fotomu akan segera dicetak dan akan sampai padamu. Aku bisa membantumu juga kalau kau mau. Titip salam ke teman-temanmu yang cantik itu ya."
Di saat-saat ini Dejun tidak bisa berkata-kata apa-apa karena pria itu terus mengoceh. Ia hanya mendelik ke Lucas. Bagaimana bisa temannya yang tidak tahu latar belakang masalah seenaknya justru memperburuk keadaan? Bahkan menggoda adik kelas manis di belakang sana dengan kedipan mata -duagadisituhanyamenundukmalu. Rasanya si Xiao ingin menendang kaki panjang itu lagi.
"Benarkah?"
Lucas mengangguk.
"Baiklah, lusa harus sudah ada, tidak mau tahu!"
Lalu Yangyang berlalu dan kembali ke teman-temannya. Meninggalkan Dejun dengan aura mengerikan dan Lucas yang tampak tak bersalah. Dalam hati, pria asal Guandong itu merutuk. Semuanya menjadi semakin kacau. Terima kasih kepada tuan Wong Yukhei itu! Sekarang dia mau tak mau harus menuruti keinginan adik kelasnya untuk menjadi penguntit. Padahal dirinya tak mau, apalagi orang yang harus diikuti itu Hendery.
Memang mereka tetangga dan semua akan menjadi lebih mudah. Namun, itu tidak mudah bagi Dejun dan ego tingginya. Mau simpan dimana harga dirinya kalau sampai ketahuan? Mau simpan dimana mukanya? Bisa-bisa image baiknya menjadi runtuh karena disuruh menjadi stalker.
"Sialan."
Lucas menepuk pundak Dejun dengan pelan tanpa rasa bersalah, "Jalankan saja."
"Kau seenaknya ikut campur! Kau tahu tidak masalahku?" tanya Dejun lalu mencubit perut si Wong dengan geram. Pria itu agak meringis tapi wajahnya masih seperti biasanya. Justru dengan sok tahu menjawab, "Intinya, Yangyang minta foto Hendery 'kan?"
Dejun hanya bergeming lalu mengemas bukunya. Ia berjalan menjauh, keluar ke kelas. Menjaga jarak saja lebih baik daripada terus berdekatan dengan Yukhei kemudian emosi. Bisa-bisa dia kelepasan dan menampar si Wong tanpa disadari. Tentu saja dia tak ingin itu terjadi.
"Yak, tunggu aku, Dejun!"
TBCstalking
Sesudah kejadian Dejun dan Lucas bertengkar kemarin, semua baik-baik saja sesudah si pria yang tinggi itu mentraktirnya makan. Namun, yang tidak baik adalah bagaimana cara berbaikan dengan Yangyang tanpa harus berurusan dengan Hendery. Semuanya sudah terlanjut dikacaukan.
Esoknya, weekend, Dejun malah bertemu Hendery di depan rumahnya ketika dirinya hendak ke luar mencari makanan -secarakebetulanlagi. Dia masih sedikit kaget karena dia lupa jika model itu sudah menjadi tetangganya. Si Wong itu ingin pergi makan juga dan si pria yang lebih mungil itu akhirnya diajak pula ke restoran mahal untuk ditraktir. Awalnya dia menolak tapi akhirnya mereka terdampar di restoran China berdua.
Dejun ingin menarik perkataannya saja. Hendery tak se-menyebalkan itu.
Justru anak itu sebenarnya sangat lucu dan selalu melemparkan lawakan garing. Sikapnya tenang dan begitu gentle, cocok dengan wajahnya itu. Kadang Dejun menjadi sedikit terlalu percaya diri atau agak paranoidjuga. Ia merasa jika Hendery menyukai dirinya atau menjadi stalkernya -karenakebetulanbertemuterus!Tapi tidak mungkin sih karena ia adalah supermodelyang berada di puncak, mana mau dengan orang biasa sepertinya.
Yang penting, anak itu tidak pelit.
Bahkan membawanya makan ke tempat yang agak mewah. "Mau apa?" tanya Hendery.
"Apa saja."
"Samakan dengan punyaku?" "Ya, terserah."
Netra Hendery menelaah buku menu di tangannya dengan teliti. Ia lalu memanggil seorang pelayan dan menyebutkan entah nama makanan apa yang dia pesan. Pekerja itu tersenyum mencatat pesanannya kemudian pergi. Meninggalkan kedua tamunya duduk diam. Dejun sibuk menatap interiorruangan dan si Wong mencoba memulai topik pembicaraan.
"Kau orang Guangdong kan?"
Dejun hanya mengangguk. Hendery tersenyum lebar karenanya dan tiba- tiba mengoceh dengan bahasa daerah itu, "Harusnya kita berbicara bahasa cantonesesaja. Aku lebih nyaman dengan bahasa ini. Aku tidak tahu kau dari Tiongkok mana, jadi aku hanya berbicara bahasa mandarin waktu itu."
"Aku lebih suka berbahasa mandarin."
"Oh, kau tipe anak muda yang tidak bisa dialek daerah?" sindir Hendery.
Dalam hati, Dejun merasa agak kesal karena nadanya yang lumayan sinis. Seolah mengindikasikan bahwa dirinya tipikal anak zaman sekarang yang melupakan kebudayaan asli. Padahal si Xiao bisa -itujugabahasa ibunyasih- tapi dia hanya jarang memakainya semenjak mulai masuk sekolah. Justru ia menjadi terbiasa berbahasa mandarin.
Ia kemudian membalas setenang mungkin, "Aku bisa, tapi aku tak mau." "Oh ya, temanmu itu siapa namanya?"
Tiba-tiba, Hendery mengubah topik dengan sebuah pertanyaan yang ambigu. Dejun terheran dan bertanya balik, "Huh? Yang mana?"
"Di cafeitu."
Dejun kemudian mulai paham dan langsung menjawab, "Oh, Yangyang." "Dia menyuruhmu mengikutiku ya?"
"Eh?"
Si Xiao itu agak terkejut. Bagaimana bisa Hendery mengetahui hal itu? Dejun tak bisa merespons dengan perkataan. Dia hanya memasang ekspresi agak terkejut. Seolah kedok buruknya terungkap. Well, tidak seburuk itu tapi itu artinya si model tahu bahwa dirinya disuruh menjadi stalker. Bisa- bisa dia salah paham tentang tumpangan kemarin atau tentang makan di restoran saat ini -keduanyabenar-benarkebetulan,bukanacarastalking
"Kalau kau mau, foto saja sekarang. Aku tak masalah difoto karena sudah terbiasa dengan kamera."
"Bagaimana bi-"
"Bagaimana aku tahu? Ada sumber tentu saja."
Hendery memotong pertanyaannya seolah bisa membaca pikiran. Dejun semakin penasaran. Siapa yang memberitahu si model soal hal ini? Tidak mungkin Yangyang sendiri -oh,apakahituLucas? Pria super tinggi itu biasanya merupakan mulut ember dan terlebih ia dekat juga dengan si pria Macau. Mencurigakan sekali. Akhirnya, si Xiao kembali bertanya.
"Siapa?"
Hendery mengalihkan topik, "Sudahlah, kita selesaikan masalahmu ini dulu. Sekarang aku akan berpura-pura seolah aku tidak tahu bahwa aku
difoto."
"Aku tidak bawa kamera." "Ponselmu."
Dejun hanya menurut dan mengeluarkan ponselnya. Ia lalu mengangkat dan mengarahkan kamera ke arah Hendery. Namun, ia belum menjepret sedikitpun karena si model masih bergerak dan berpose dengan agak kaku. Si Wong itu akhirnya bertanya, "Bagaimana aku harus berpose? Berpura- pura membaca menu?"
"Apa saja."
Kemudian Hendery mengambil buku menu dan berpura-pura membacanya. Dejun menjepret dua-tiga foto dari pose itu. Kemudian si model mengubah posisinya, sekarang ia bertingkah seperti orang melamun dan melihat ke arah pelanggan lain. Si fotografer kembali mengambil gambar. Berkali-kali si Wong mengubah posenya tetapi tetap saja tampak begitu naturalkarena ia memang sudah terbiasa dengan hal seperti ini.
Semakin Dejun lihat, semakin ia merasa jika Hendery itu keren. Bagaimana hidupnya bisa selalu ada di depan kamera?
Hal yang susah bagi Dejun karena dirinya agak pemalu. Jangankan di depan kamera. Di depan orang lain yang ia kenal, kadang ia pun susah untuk berbicara -karenaiasesungguhnyaagakpemalu.Jadi, si Xiao adalah tipe orang yang lebih memilih bekerja di balik layar. Berbeda dengan Hendery yang tampaknya begitu profesional dalam pekerjaannya. Tak heran ia begitu tersohor sekarang!
"Permisi, pesanannya."
Nah, sampai di situ, sesi pemotretan berakhir dan mereka berdua menikmati makan siang bersama ditemani topik percakapan ringan seperti-
"Apa suara yang paling kau sukai?"
Dejun memasang pose berpikir kemudian menjawab dengan ragu, "Suara tertawa?"
Hendery hanya mengangguk kemudian melengkungkan bibirnya ke atas membentuk senyum kecil. Dejun kemudian membalikkan pertanyaannya kepada si model. Sekarang giliran si pria Macau itu memasang pose berpikir. Kemudian netranya menatap si Xiao.
"Kalau menurutku ada dua. Ranking kedua adalah suara kucing." "Lalu ranking pertama?"
"Suaramu."
Ini sebabnya Xiao Dejun berada di ambang antara menyukai atau membenci Hendery. Bagaimana tidak? Pria itu kadang sangat baik tetapi juga agak menyebalkan! Tak mau membuang waktu untuk tersipu, si pria dari Guangdong itu langsung melanjutkan makannya. Sedangkan si model hanya tersenyum cengengesan seperti orang bodoh.
"Wah, kau benar-benar mengikutinya?" Dejun hanya mengangguk saja.
Yangyang sudah kegirangan menatap jejeran foto yang ada di meja cafeSenin itu tepat sepulang sekolah. Wajahnya begitu cerah dan sumingrah menanggapi Dejun yang tampak agak cuek. Dalam hati, si Xiao tertawa puas karena si pria Jerman percaya begitu saja pada kebohongannya. Dan sekarang masalahnya akan segera selesai jika si Liu mau menerima foto- foto cetakan itu.
"Tapi foto-foto ini seperti terlalu closeup. Kau langsung menghampirinya atau bagaimana?" tanya Yangyang menyadari keanehan dari fotonya.
"Ya, dan dia mengajakku ke restoran. Lalu aku diam-diam memfotonya di sana."
Yangyang memang teliti menyadari keanehan dari foto-foto yang terpapar di hadapannya. Namun, semua alibi sudah Dejun rencanakan sejak di restoran. Dengan masukkan dari Hendery juga sih. Itu berhasil membuat si pria Jerman mengangguk saja dan tersenyum lagi. Tanpa ragu, mengambil satu cetakan dan menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.
"Ah, papa dan mama benar-benar romantis ya makan di restoran berdua. Aku tidak tahan."
Inilah yang tidak Dejun sukai. Ia langsung mendelik, "Hentikan itu." Yangyang tertawa, "Oke, tapi itu lucu. Jadi ada dua puluh foto,
bagaimana kalau satu foto dihargai seribu won? Lima ratus untukmu, lima ratus untukku."
Mendengar angka seperti itu untuk selembar kertas kecil, Dejun langsung bergeming. Seribu wonbisa untuk segelas minuman biasa di cafeini. Orang mana yang ingin membeli foto itu? Toh, Hendery bukan idolatau aktor, dia hanya model -memangsekali-dua kalipernah masuk televisi.Namun, harga seperti itu tidak wajar karena biasanya cetak foto seribu wonbisa mendapat lima lembar. Yangyang dengan otak dagangnya yang benar-benar sinting!
"Kau benar-benar berniat menjualnya dengan harga itu?"
"Tidak apa, teman-temanku pasti akan membelinya berapapun harganya." "Dua gadis itu?"
"Jangan lupakan para sunbaenimdari klub cheers."
Jika Yangyang sinting karena menjual dengan harga itu, maka teman Yangyang dan para anggota cheerleaderitu lebih sinting lagi. Dejun hanya melengkungkan kurvanya. Ia pun melontarkan pernyataan, "Jadi, masalahnya sudah selesaikan?"
Yangyang menggeleng.
Lagi-lagi dengan senyumnya yang licik tercetak di wajah itu! "Aku 'kan tidak bilang ini bisnis jangka pendek, Xiao Dejun." TBC
congrats"Aku kan tidak bilang ini bisnis jangka pendek, Xiao Dejun."
"Kau sendiri kan anggota klub fotografi juga. Kau bisa pergi stalkingdia sendiri, keuntunganmu juga lebih banyak."
Dejun benar-benar heran dengan anak itu. Ia menatap Yangyang sebentar dengan tatapan yang tajam sedangkan pria itu hanya menaikkan satu alisnya. Si Xiao segera pergi dari kursinya. Ia berjalan ke arah kasir dan berpura-pura sibuk meski tidak ada pelanggan. Tidak mau berbicara lagi pada adik kelasnya yang menyebalkan itu. Lebih baik didiamkan.
"Aku malas keluar. Ayolah, kau menolak uang dan rejeki?" Yangyang menyusul dirinya ke meja kasir, pantang menyerah sekali!
Benar adanya, jika kemarin-kemarin Dejun mengalami krisis keuangan sementara karena banyak urusan —sebagaiketuaorganisasi kesiswaandan klubfotografiyangbaru. Namun, godaan Yangyang tak lagi berfungsi. Tepat kemarin malam, sejumlah saldo masuk ke rekeningnya sehingga sekarang ia tak terlalu butuh uang tambahan dari si Liu. Terima kasih kepada ayahanda yang begitu pengertian di akhir bulan. Padahal si Xiao tidak meminta sedikitpun.
Tidak semudah itu, Yangyang.
"Ajak anggota klub fotografi yang lain. Oh, dan aku harap kau ingat status keluargaku di Guangdong sebelum berbicara soal uang."
Anak itu memasang wajah kecewa, "Aish, baiklah tapi mereka tidak bisa diajak bekerja sama."
Memang anak itu agak lucu dengan wajah seperti itu. Hati lembut si Xiao sedikit tersentuh tapi tetap kurang mempan. Dejun hanya diam dan bergeming. Namun, Yangyang tampak masih penuh kobaran semangat untuk menghasut dirinya. Ia melontarkan kata-kata lainnya, tapi kali ini dengan nada agak mengancam.
"Nanti, aku tidak akan memaafkanmu. Aku masih ingat yang kemarin itu."
"Tidak butuh maafmu."
"Benarkah? Bukannya biasa kau selalu overthinking?"
Benar.
Dejun benci fakta jika dirinya bisa dibaca semudah membaca buku oleh Yangyang. Mereka cukup dekat dan saling mengenal satu sama lain dengan baik. Dan saat-saat ada konflik seperti inilah, si Liu mulai menyerang hal- hal pribadinya. Seperti bagaimana dirinya memang agak cengeng dan selalu paranoid —memikirkanbanyakhalyangkedengaransepele.Ah, menyebalkan.
Dejun hanya bisa memasang perisai berupa kata bualan, "Tidak." "Baiklah, kulaporkan pada Ten nanti saat dia kembali!"
"Lapor saja!"
Dalam hati, Dejun merutuk, mengumpat, memaki, berkata kasar atau apalah itu namanya. Dia tak mau tahu lagi tentang minta maaf atau dilaporkan ke bos mereka. Dia tak takut lagi pada Ten —tohpriaThailanditusedangdiAmerikadancafedipengawasanMarkjugaYuta.Lagipula, kelihatannya yang salah kan memang si pria Jerman. Tiba-tiba, marah- marah sebab dia gagal duduk berdua dengan Hendery dan iri dengan si Xiao. Di posisi ini, seharusnya si Liu yang minta maaf karena sudah merepotkan orang lain.
Persis yang Dejun katakan kemarin, kekanak-kanakan sekali!
Mereka berdua bertengkar, lagi, tanpa berbicara satu sama lain selama jam kerja mereka. Sore itu, cafe terasa seperti medan perang dingin. Mereka hanya saling bertutur untuk profesionalitas kerja saja. Tapi ketika Mark datang, keduanya bertingkah seolah tidak ada yang terjadi.
Memang pencitraan diperlukan.
Karena begitu-begitu, mereka tetap takut Mark akan melapor ke Ten! Bos mereka bisa membanting mereka ketika pulang nanti.
"Hah? Hendery berpacaran?"
"Kenapa Hendery mau dengan dia? Aku tidak menyangka si modelitu belok."
"Tapi, pria beruntung itu memang cantik sih, tidak heran."
Dejun mengerutkan dahi ketika berjalan di koridor sekolah esok paginya. Di awal hari yang cerah, dia justru mendapati sejumlah gossip panas masuk ke telinganya serta tatapan aneh ditujukan ke dirinya. Ia bukan tipe penyuka hal-hal seperti itu —diatak peduli.Namun, mendengar nama yang familiar disebutkan, si Xiao menjadi tertarik. Setiap langkah yang dia ambil, dia
memasang telinga dengan benar supaya bisa mendengar suara samar para siswi yang berbincang.
Dejun sampai pada satu kesimpulan.
Hendery berpacaran dengan seorang pria cantik.
Membuat Dejun sejujurnya merasa aneh. Sebab kemarin saja Hendery masih mengajaknya makan berdua dan menggodanya. Jika memang dia punya kekasih, tidak seharusnya dia menggoda orang lain. Si Xiao mulai menerka-nerka siapa lah kekasihnya itu? Pria cantik di sekolah ini cukup banyak karena makhluk sekolah internasional ini sangat heterogen. Yang paling terkenal adalah Jaemin, adik kelas mereka. Tapi, tidak mungkin Hendery memacari adik kelas kan?
Tidak menutup kemungkinan juga ia memacari kakak kelas. "Berhenti melamun."
Lucas berbicara pelan sambil tertawa. Memang kemarin mereka berbicara bahasa mandarin, tapi hari ini jadwal mereka berbicara dengan bahasa cantonese. Selalu bergantian supaya tidak berat sebelah. Dejun kemudian ingat akan suatu hal. Bagaimana Hendery kemarin bisa mengetahui tentang Yangyang dan foto? Yukhei itu adalah orang pertama yang ia curigai.
Si Xiao langsung menoleh, "Kemarin kau bilang apa ke Hendery?" "Apa?"
"Tentang masalahku dan Yangyang." "Hah?"
Lucas mengerutkan dahi. Dejun ikut mengerutkan dahi melihat bagaimana pria tinggi itu kebingungan. Jika bukan dia yang memberitahu Hendery, siapa lagi? Si Wong itu tampa memasang wajah tidak tahu apa- apa —entahsungguhtidaktahuatauberpura-puratidaktahu. Rasa curiga si Xiao tidak hilang begitu saja karena bisa saja dia berakting. Dejun hanya mendelik singkat.
Lucas justru kabur dengan mempercepat langkah ke kelasnya dan mengejeknya, "Berjalanlah cepat sedikit."
Dejun ditinggalkan di tengah lorong. Akhirnya ia hanya berdecih kemudian mengejar pria tinggi itu. Memang dunia ini tidak adil. Lucas dianugerahi kaki yang panjang sehingga lebih cepat sampai. Sedangkan dirinya yang memiliki kaki sedikit pendek perlu berlari supaya sampai lebih cepat. Melelahkan karena kelas mereka berada di ujung sana.
Hal yang pertama Dejun tangkap ketika kakinya sampai di pintu kelas adalah gossipyang sama.
Henderylagi.Henderylagi.
Bosan sekali mendengar namanya disebutkan dimana-mana. Dejun akui Hendery memang tampan dan terkenal tapi topik seperti ini akan basi juga. Para fansnya mungkin mengalami patah hati luar biasa tapi tidak perlu sampai dibicarakan di sana sini. Apalagi entah kenapa mata teman sekelasnya yang menatap aneh. Membuat moodsi Xiao menjadi buruk.
"Dejun, selamat."
Tiba-tiba suara seorang gadis berbahas Korea terdengar dari belakang kursinya. Dejun yang sudah duduk diam itu menoleh ke belakang dan menemukan sosok perempuan dengan seragam sekolah. Namanya Yeri. Sebelumnya memang disebutkan dia pelanggan cafetempat si Xiao bekerja. Dia juga teman sekelasnya. Namun siapa siswi itu tidak terlalu penting — karenayangpentingsekarangadalahapayangdiaucapkan.
Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba memberi ucapan selamat? "Apa?" tanya Dejun dengan nada heran.
Gadis itu tidak merespons langsung dan hanya tersenyum mengulurkan tangannya. Semakin membuat Dejun terheran. Ia akhirnya hanya menggapai tangan itu dan berjabat tangan sebentar dengan senyum canggung. Ya, tidak apa lah membalasnya meski dia tak mengerti. Ucapan selamat. Oh, selamat pagi atau apa? Lalu barulah ia bertanya lagi, "Terima kasih, tapi selamat untuk apa?"
"Jangan berpura-pura tidak tahu."
Yeri benar-benar membuat dirinya heran. Dia sungguh clueless dan tidak tahu apa yang gadis itu bicarakan. Dejun berusaha mengingat apa hal Bagus yang terjadi hingga dia pantas mendapat ucapan selamat. Tapi otaknya kosong dan tidak bisa memikirkan apapun selain mendapat kiriman uang dari ayahnya.
Ulang tahunnya masih lama juga.
Pengangkatan sebagai ketua organisasi kesiswaan dan ketua clubsudah sejak dua bulan lalu.
Acara apa lagi?
"Aduh, Xiao Dejun, kenapa kau tidak mengerti?"
Lucas seperti biasa tiba-tiba muncul dan berbicara dengan bahasa Korea
—seolahdiamengertidengantopikYeri. Yeri sendiri hanya mengangguk. Mereka berdua sepertinya bersekongkol. Dejun semakin bingung dan hanya
memasang wajah bengong. Otak pintarnya menjadi tidak berfungsi dan dia benar-benar bingung. Dua orang lainnya hanya menertawakannya.
"Kau sudah dengar gossip itu kan?" ujar Yeri. Dejun tidak menjawab.
"Tentang Hendery," tambah Lucas. "Oh, itu."
Dejun hanya mengangguk, oh, lalu apa hubungannya? "Pria cantik yang mereka bilang itu—"
"Langsung saja, Lucas. Selamat, kau dan Hendery berpacaran kan?" Ucapan Yeri membuat Dejun mengerjapkan mata, "Hah?"
TBC.
pacaran?"Selamat!"
Hari itu, Dejun mendapat entah berapa puluh jabatan tangan dari teman- temannya. Mereka semua mengucapkan selamat atas hubungannya dengan Hendery. Padahal mereka tidak ada hubungan apa-apa selain kenalan dan bertetangga saja. Entah siapa yang menyampaikan rumor itu, tapi semua orang tampak percaya. Dejun bahkan tidak punya kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Pada akhirnya ia hanya tersenyum dan tidak banyak merespons.
Bisa-bisa mereka benar-benar mengira dirinya berpacaran dengan Hendery.
Semuanya benar-benar kacau. "Gila ya, kau."
Yangyang menatap Dejun dengan tatapan tajamnya. Pria Jerman itu tampaknya sangat-sangat dan sangat tidak terima dengan semua gossip yang beredar. Sepertinya turut patah hati mendengar jika idolanya memiliki seorang kekasih. Tapi hey, itu hanya rumor dan omong kosong belaka. Dejun sendiri tidak terima dengan semua itu -tapisekarangjustrudilabrak?
Dramatis sekali hidupnya semenjak bertemu dengan si model itu.
Mulai dari pertengkaran dengan Yangyang, disuruh stalking, kemudian sekarang apa? Dirumorkan berpacaran dengan si model asal Macau? Ha! Lucu sekali sebenarnya mengingat jika mereka baru saling mengenal satu sama lain selama mungkin seminggu atau kurang. Aneh juga bagaimana orang-orang bisa percaya si penyebar berita palsu tanpa konfirmasi dari kedua pihak.
Siapapun yang menyebarnya mungkin akan mati besok di tangan si Xiao. "Dejun!"
"Apa lagi?" balas Dejun dengan nada sewot dan suara yang agak nyaring. "Jangan berteriak, bodoh!"
"Kau yang mulai, sialan!"
Yangyang lalu terdiam. Dejun membuang muka karena ia kini kesal. Sejak kemarin mereka belum sempat berbaikan. Bahkan saat pulang ke
apartemen, si Xiao bersikeras menaiki liftyang berbeda dengan si pria Jerman meski mereka menuju lantai yang sama dan liftnya sedang kosong. Di sekolah pun mereka tidak saling menyapa saat berpapasan di kantin. Benar-benar perang dingin.
Mark entah darimana tiba-tiba muncul di hadapan mereka berdua dan mengoceh dengan bahasa Korea. Oh ya, jangan lupa selama Ten ke Amerika, Mark dan Yuta mengambil alih semua urusan cafe. Dan di saat kedua pegawainya berkelahi, sang pemegang kuasa harus melerai daripada membuat keributan.
"Sudah hampir seminggu kalian bertengkar karena Hendery. Perlukah aku menelpon dia kemari untuk melerai kalian? Aku punya nomornya, bytheway.Aku bosan melihat kalian seperti anak-anak labil yang terus menerus beradu mulut. Lebih baik aku langsung panggil pawangnya."
"Jangan!" seru Yangyang.
"Telepon saja, aku tidak masalah karena dia pacarku," ujar Dejun sengaja.
Iya, dirinya tak masalah. Justru dia sangat perlu bertemu dengan Hendery untuk membicarakan kenapa bisa sampai muncul rumor mereka berpacaran. Tidak mungkin hanya karena mereka makan berdua di restoran dan muncul gossipseperti itu. Dejun juga penasaran bagaimana respons Hendery terhadap rumor sejenis ini.
Yangyang mendelik tajam ke Dejun. "Kalian sungguh berpacaran?" "Menurutmu?" tanya Dejun balik.
"Ah, tidak mungkin, kalian baru kenal seminggu."
"Kalau kami benar-benar berpacaran, apa yang akan kau lakukan?"
Ia sengaja tersenyum licik. Ia mulai menggoda Yangyang dengan kalimat yang mengundang rasa penasaran. Dejun ingin rasanya tertawa langsung sekarang. Melihat wajah adik kelasnya seperti mau marah rasanya sangat puas. Biarkan sesekali pria Jerman itu merasakannya. Wajah anak itu agak memerah dan tatapannya tajam. Bagi beberapa orang, itu mungkin menyeramkan.
Bagi Dejun, itu benar-benar lucu.
Kring!Suara bel di pintu menandakan ada yang masuk. Pembicaraan mereka bertiga terhenti. Semua mata langsung tertuju ke orang berpakaian serba hitam. Sebuah adegan yang sepertinya terulang lagi -dejavuatauapalah
itu. Bedanya, kali ini, Dejun sudah tahu siapa orang itu. Maka ia tak membuang waktu untuk menatapnya. Ia justru langsung membuang muka karena tidak tahu akan bereaksi apa.
Bisa dibilang ia malu karena mengingat gossip yang tersebar. "Nah, lookatthat? Dia benar-benar datang."
Mark memasang ekspresi puas. Meski dia tak menelpon, Hendery tetap muncul di hadapan mereka dan membungkam dua pria yang sedang bertengkar -membuatsuasanamenjadiagaktenang. Model itu langsung sedikit kaget kemudian tersenyum dari balik maskernya dan menyapa pria Kanada tersebut dengan ramah. Tidak mengindahkan dua orang lainnya di meja kasir. Mereka kenal satu sama lain juga ha?
Dejun baru ingat fakta jika Mark teman seangkatannya. Dia hampir saja lupa akan hal itu sebab mereka jarang bertemu di sekolah. Dirinya memang selalu sibuk dengan berbagai perannya sebagai ketua ini dan itu, hingga tidak terlalu memperhatikan hal-hal kecil. Seperti bagaimana rekan kerjanya ternyata berteman dengan Hendery juga.
Pria Kanada itu tersenyum, "Oh, Hendery! Kebetulan sekali!" "Mark? Kau bekerja di sini?"
"Ya, ada yang bisa dibantu?"
"Aku mau memesan. Oh, dan berbicara sedikit dengan temanmu itu."
Mark langsung mengangguk dan mempersilakan Hendery berjalan ke kasir tempat Dejun berdiri. Pria yang menjaga kasir itu hanya sedikit tersentak dan memasang senyum canggung. Ia menatap kedua netra gelap milik si Wong. Lagi-lagi ia merasakan dejavukarena hal seperti ini mengingatkannya ke momen seminggu yang lalu saat mereka pertama kali bertemu.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya Dejun. "Dua gelas doppioditemani dirimu." Dejun mengernyit, "Maaf?"
"Aku traktir."
Hendery menarik keluar sebuah kartu kredit tepat di depan wajah Dejun. Pria Guandong itu hanya memasang wajah datar dan tidak terkesan. Sepertinya, si model pura-pura tidak tahu soal rumor itu dan sekarang ingin menyuapnya dengan traktiran di cafe. Si Xiao hanya menggeram kesal lalu menampilkan senyum manisnya. Ia menggeleng -menolaktawaranHenderysecarahalus.
"Kau tidak ingin membicarakan status kita?" tanya Hendery sambil menaikkan satu alisnya.
Dejun langsung tercerahkan pikirannya. Iya, dia perlu membicarakan masalah rumor tidak jelas itu! Jadi, mau tidak mau, dia harus menerima tawaran dari Hendery agar bisa lebih leluasa berbicara berdua. Ia pun hanya mengangguk kecil, "Baiklah, tapi benar kau traktir?"
Model itu mengangguk.
Mata Dejun langsung berbinar begitu cerah, "Baiklah, dua doppiodengan total empat ribu won."
Dejun berpaling dan segera membuatkan dua gelas doppiountuk dirinya dan Hendery. Di sudut matanya, dia dapat melihat Yangyang mendekati si model dan mulai berbicara. Awalnya hanya tentang si Wong yang membayar dengan kredit, tapi topik akhirnya berubah. Si Xiao hanya memasang telinganya dengan benar untuk menguping -tentusajatetapmemperhatikanpekerjaannya.
"Kalian benar-benar berpacaran?" "Menurutmu?"
"Tidak mungkin kan?" "Mungkin saja."
Oh, begitu rupanya.
Hendery membuat pernyataan ambigu! Itu sebabnya orang-orang percaya begitu saja dengan rumor itu. Bagaimana tidak? Si model sendiri membalas dengan perkataan yang bermakna ganda dan nada yang kedengaran bukan bercanda. Dejun sungguh geram rasanya melihat si Wong tidak menolak dikatakan berpacaran dengan dirinya. Jangan-jangan kabar angin ini dibuat oleh dia? Mungkin saja.
Siapa tahu spekulasi Dejun benar, tentang Hendery yang menyukai dirinya.
Meski sedikit tidak masuk akal, tapi dalam skenario ini menjadi mungkin sekali. Mengingat seberapa sering mereka secara kebetulan bertemu. Ingat percakapan pertama di cafe? Besoknya, Hendery langsung menjadi tetangga Dejun. Itu sangat tidak masuk akal pada awalnya -sekarangmenjadibenar- benarmeyakinkan. Atau mungkin Hendery ada dendam untuk merusak popularitas Dejun sebagai ketua organisasi kesiswaan?
Ya, Dejun dan pikirannya yang berlebihan.
"Tuan, dimana kopiku? Apa yang kau lamunkan?"
Hendery terkekeh dari bangku cafedi sudut. Bangku yang sama dengan yang ia duduki minggu lalu. Dejun tersadar dan langsung membawa dua gelas kopinya ke meja itu. Ia terhenti ketika melewati Mark dan anak itu menepuk pundaknya sambil berbisik, "Goodluck." Dejun berpura-pura tidak peduli karena memang tidak mengerti, dan hanya tersenyum. Ia kemudian melanjutkan langkahnya.
Sesudah meletakkan kopi, ia duduk di hadapan Hendery dengan tatapan tajam.
"Jadi?"
"Minum dulu kopinya," ujar Hendery dengan santai menyesap kopinya.
Dejun tidak mau mengalah, masih dengan sorot mata yang sama tajamnya. Ia memerintah, "Bicara dulu."
"Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan?" "Rumor itu."
"Oh, kenapa?" tanya si model dengan santai. Hendery sepertinya benar- benar bodoh karena harus diberitahu dahulu barulah ia mengerti. Kelihatannya si model itu sangat santai menyikapi semuanya. Dejun tak tahan untuk tidak protes. Kalau bisa, rasanya ingin melempar umpatan dan menampar wajah pria itu -tapidiamasihbisamenahandiri.
"Nama baikku bisa rusak."
"Oh, maafkan aku, aku tidak berpikir sampai ke situ ketika mengaku- ngaku jadi pacarmu tadi pagi."
Hendery hanya terkekeh dan itu bisa membuat Dejun terkena hipertensi.
TBC.
kopi"Kau yang mengaku?"
"Aku tidak sengaja mengatakan bahwa aku sudah punya pacar di depan teman sekelasku. Mereka bertanya siapa dan aku sedang memikirkanmu, jadi aku bilang saja begitu."
"Sial."
Memikirkan Dejun?
Lucu, di antara semua orang yang Hendery bisa pikirkan, kenapa harus dirinya.
Dejun tak habis pikir bagaimana seorang siswa paling populer di sekolah membuat rumor tentang dirinya sendiri. Kemudian menyeret orang lain tanpa diketahui. Sialnya, orang lain itu adalah dirinya. Memang ada untungnya karena namanya menjadi lebih dikenal bukan sebagai ketua organisasi kesiswaan —melainkansebagailelakiberuntungyangmendapatkanHendery. Si Xiao sangat tidak menyukai sebutan itu.
Sekarang apa lagi?
Apakah dengan Hendery mengatakan pada khalayak jika yang dikatakannya tadi pagi adalah kebohongan, mereka akan percaya? Dejun rasa tidak semudah itu karena rumor sudah menyebar ke seluruh lapisan sekolah. Oh, bahkan guru kesenian mereka sempat menggoda si Xiao di sekolah tadi. Rasa malu yang ditanggung Dejun benar-benar banyak. Dia tak bisa menjawab gurunya dan hanya menahan amarahnya —inginmeninjusiapapunyangmembuatrumor.
Oh dan kebetulan, dalangnya sedang duduk santai menyesap kopi. "Apa yang bisa kau lakukan?"
"Membuat rumor menjadi kenyataan." "Apa?"
Dejun mengerjapkan matanya sedikit kebingungan ketika mendengar jawaban Hendery. Kepalanya sedikit dimiringkan karena ia tidak paham perkataan itu. Si model itu sendiri melengkungkan kurvanya kemudian menatap si Xiao tepat di netranya. Pria Macau itu tertawa kecil —
menertawakan ketidaktahuan pria di hadapannya mungkin. Dan itu membuat Dejun gondok.
"Minum kopimu dulu."
Hendery mendorong gelas kopi yang belum tersentuh ke hadapan Dejun. Si Xiao menatap pria itu kemudian menatap kopinya. Ia dengan ragu mengambilnya kemudian menghabiskan minuman pahit itu dalam sekali tegak. Lidahnya sedikit kepanasan tetapi masa bodoh. Dia segera melempar sorot kesal kepada si model. Ia pun segera bertanya, "Puas?"
Hendery tertawa, "Baiklah, jadi apa maumu sekarang?"
Dejun menghela napas, "Menghilangkan gossip itu tentu saja." "Kau berikan caranya, aku akan mencoba."
Oh, ya, Hendery berbuat tapi kenapa harus Dejun yang berpikir cara bertanggungjawab? Ia melempar tatapan tajam kepada si model. Sungguh, pria di hadapannya itu seperti tidak ada perasaan bersama dan masih menyesap kopi yang sedari tadi tidak habis-habisnya. Si Xiao mulai berpikir jika anak itu tidak ada hati nuraninya —ataumungkintidakada otak— karena terlalu santai menyikapi semua ini.
Dejun kalang kabut dan panik sendiri tiba-tiba namanya menjadi buah bibir.
Dalangnya malah santai. Tidak bisa dibiarkan.
"Berhenti meminum kopimu! Tatap aku!"
Dejun menepuk meja sebentar. Mencoba menarik perhatian dari si penyebab masalah. Nada bicaranya juga agak dia tinggikan sehingga kalimatnya barusan terdengar seperti kalimat perintah tegas. Ia mulai lelah, kawan-kawan. Masalah ini tidak akan bisa selesai jika hanya dirinya sendiri yang berinisiatif menyelesaikannya. Dan syukurnya, tepukan meja itu membuat Hendery agak tersentak dan memperhatikan dirinya.
"Tidak perlu sampai menepuk meja begitu keras, Xiaojun. Kau cemburu hanya karena kopi?"
Dejun terdiam.
Bukan itu maksudnya! Pria asal Guangdong itu ingin menepuk jidatnya sendiri. Di saat-saat seperti ini, masih sempat-sempatnya Hendery menggoda Dejun hingga pria itu tidak bisa berkata apa-apa. Dia terjebak antara perasaan malu digoda atau ingin marah karena digoda. Tapi apapun perasaannya, wajahnya sudah terlanjur memerah dan si Wong sudah menyadarinya.
"Oh, tidak, Xiaojun-ku memerah." Dejun mengernyit, "Milikmu?" "Ya, milikku."
Sungguh, menyebalkan sekali si Hendery ini.
Muak melihat wajah tampan si Wong yang tersenyum tidak jelas terus menerus, Dejun memilih menatap Yangyang di meja kasir saja. Ia memberi tatapan meminta tolong tapi pria Jerman itu hanya tersenyum —kemudianmencuekinya. Tatapan Dejun beralih ke Mark yang juga sedang ada di kasir. Ia memberi kode meminta tolong yang sama tetapi pria Kanada itu tidak mengerti dan berakhir mengabaikannya.
Tidak ada yang mau menolong Dejun dari iblis penggoda di hadapannya! "Aku sudah memperhatikanmu, tapi kenapa kau justru tidak
memperhatikanku?"
Dejun tersenyum puas karena Hendery juga merasa kesal. Sekarang gilirannya menggoda pria itu. Ia membuat ekspresi semenyebalkan mungkin dengan memajukan bibirnya kemudian menggerutu, "Itulah rasanya tadi ketika aku ingin berbicara tapi kau malah sibuk meminum kopimu."
"Sudah kubilang, jangan cemburu pada kopi. Hatiku sudah milikmu." Hendery sepertinya tidak pernah menyerah jika berhubungan dengan
Dejun! Dalam hati si pria manis, tipe pria seperti si model pastinya seorang playboy. Lihat seberapa mudahnya pria itu memberikan kedipan mata menjijikkan itu. Pastinya, kedipan itu sudah ia berikan ke puluhan korbannya di luar sana. Si Xiao tidak akan jatuh semudah itu —maluiya,tapihatinyatidakterlalutersentuh.
Hati Hendery milik Dejun? "Tapi hatiku bukan milikmu."
"Tunggu saja, akan segera menjadi milik Guanheng." Hendery terdengar begitu optimis.
"Guanheng?" ulang Dejun dengan nada ragu. "Namaku."
Oh, itu nama aslinya?
Dejun berdehem sebentar, "Jadi, Guanheng, bagaimana menyelesaikan rumor ini? Aku meninggalkan pekerjaanku bukan untuk digoda olehmu. Berikan penyelesaian sekarang atau aku akan membencimu seumur hidupku."
Itu ancaman. Si Xiao sampai menunjuk-nunjuk dada Hendery. Nada bicaranya juga dibuat seseram mungkin. Ia mencoba sebisa mungkin mengtimidasi si model. Supaya, mau tak mau, pria itu harus bertanggung jawab atas mulutnya yang mengaku-ngaku. Triknya berhasil karena si Hendery tampak berekspresi agak kaku —tampaktidakberanimacam- macam.
"Biarkan aku berpikir."
Dejun memberikannya waktu.
Hendery memasang pose berpikir Kemudian beberapa menit setelahnya, pria itu memasang wajah berbinar seolah sudah mendapat pencerahan. Dejun langsung menegakkan badannya dari sandaran kursi dan menatap pria di hadapannya dengan ekspektasi tinggi. Ia siap mendengar ide dan penyelesaiannya. Semoga pria itu mengatakan sesuatu yang berbobot yang bisa menyelamatkan reputasinya di sekolah.
"Jadi—"
Ucapannya terputus. Dejun tidak sabaran, "Jadi?" "Kau menjadi pacarku saja, sungguhan."
Dejun bergerak dengan tidak nyaman di kasurnya. Kepalanya masih pusing ketika ia membuka matanya. Matanya bergerak dan menyadari dirinya sudah ada di kamarnya kemudian menemukan sosok pria berkemah putih yang membelakanginya —orangitusedangmengobrak-abriklemarinya.Si Xiao menggaruk tengkuknya kemudian menyipitkan matanya untuk meneliti siapa orang itu. Buram.
Tunggu, bagaimana dia berakhir di kamarnya?
Oh, ya, dia pingsan karena mendengar ucapan Hendery. Ucapan yang tak perlu diingat.
Tapi siapa yang membawanya?
Apakah itu Yangyang? Kebetulan pria Jerman itu juga tinggal di lantai yang sama dengannya, tetangganya juga —selainHendery. Dan anak itu juga pernah beberapa kali bermain ke apartemennya dan tahu seluk beluk rumahnya. Jadi, kemungkinan besar si Liu itulah yang membawanya kemari meski mereka sedang bertengkar. Mark tidak mungkin juga mempercayakan dirinya ke Hendery kan?
"Jam berapa ini?" tanya Dejun. "Jam delapan."
Yangyang masih tidak menoleh dan sibuk melakukan sesuatu. Sepertinya membantu mengemas lemarinya. Anak itu tumben sekali amat rajin dan baik hati! Suaranya juga agak aneh tapi Dejun tidak terlalu peduli, ia justru mengoceh, "Oh, astaga. Aku sangat lapar dan belum makan malam."
Dejun menegakkan badannya. Pria itu terduduk di tepi kasur kemudian meregangkan otot tubuhnya yang kaku karena terlalu lama berbaring. Ia menguap, masih mengantuk dan kelelahan. Ia mengayunkan kakinya kemudian tersenyum kecil. Oh ya, ayahnya baru mengirim uang dan dirinya bisa makan di restoran mewah malam ini.
Ah, dia ingin ke restoran Italia.
Masih sempat kan dia mandi sebentar? Sebab pakaian sekolah yang ia pakai masih melekat dan bagi Dejun itu sangat menjijikan. Ia sangat-sangat butuh air hangat untuk menenangkan kepalanya dari rumor tentang dirinya tadi pagi. Kemudian juga kepalanya yang sangat pusing memikirkan Hendery dan segala ucapannya di cafetadi siang.
Ia menapakkan kakinya ke lantai.
Sebelum itu, ia mengecek ponselnya lalu mengernyit. Tunggu, kenapa tertulis AM?
Dejun segera panik dan berlari ke arah jendela kemudian membukanya. Sinar matahari menyilaukan matanya. Oh, sial, sudah pagi. Ia menatap Yangyang dan akhirnya pria itu menoleh. Tapi yang didapati si Xiao bukan adik kelasnya melainkan—
"Maksudku, delapan pagi. Kau sudah tidur seharian, Putri Tidur." Hendery sialan.
TBC.
lucasJadi, apa yang terjadi?
Atas saksi dua rekan kerjanya, Dejun dengar bahwa dirinya pingsan. Singkatnya, Hendery langsung panik. Mark dan Yangyang yang berada di sana ikut rusuh. Awalnya, si pria Kanada menyuruh si pria Jerman membawa si Xiao pulang berhubung mereka bertetangga dan cukup dekat. Biarkan Mark sendiri yang mengurus cafe sendirian. Namun, si model tampan tiba-tiba menawarkan diri untuk bertanggung jawab.
Dua pria lainnya tampak mengiyakan saja.
Entah apa yang terjadi selama Dejun pingsan karena baik Mark maupun Yangyang tidak tahu. Yang jelas Hendery membawanya pulang, menemaninya sampai pagi —tidakpulang. Bahkan melipatkannya baju serta merapikan kamarnya. Si Xiao jujur dia agak tersentuh bagaimana si model memperlakukan dirinya dengan baik saat ia pingsan. Oh, dan bahkan memberikan sebuah solusi yang lebih baik untuk menangani masalahnya — daripadaharusberpacaransungguhan.
"Jadi, teman-teman, aku hanya bercanda. Jangan anggap perkataanku serius. Jika aku mendengar rumor itu di telingaku lagi, aku akan benar- benar kecewa."
Hendery menjelaskan kepada siswa lain ketika berada di kantin saat jam istirahat. Ia sampai naik ke kursi untuk memberitahu orang-orang yang mengerumuni tempat itu. Sungguh keberaniannya berbicara begitu patut diacungi jempol. Awalnya, Dejun ragu apakah itu akan berhasil. Namun, sesudahnya, rumor itu tenggelam sendiri. Semuanya baik-baik saja.
Konflik selesai.
Benar-benar tentram, berbeda jauh dengan seminggu awal si Wong dan Xiao bertemu. Saat-saat itu memang penuh chaosdan drama. Oh, tapi tenang saja, mereka tidak saling membenci meski kesan pertama mereka tidak sebaik itu. Dejun malah menyukai Hendery yang sebenarnya agak gentle. Oh menyukai sebagai sosok teman dekat semenjak beberapa bulan belakangan —yatemansaja.
Sekarang, pria manis itu bahkan sudah terbiasa digoda oleh si model. Mereka juga sering berbicara bahasa cantonesedengan akrab. Si Xiao sudah tahu perangai khas si pria Macau. Kadang kala, ia ikut menggoda balik. Baik Hendery maupun Dejun, mereka sudah tidak canggung untuk saling memeluk dan bermain ke rumah masing-masing —hinggaberbagiranjang;tempattidur,janganberpikiryanganeh-aneh. Banyak yang mengira mereka sungguhan berpacaran setelah rumor itu, tetapi tetap saja status mereka ditegaskan dalam kata teman.
Garis bawah, cetak tebal, cetak miring.
Nohardfeelingsbetweenthem.
Semua tindakan itu hanya candaan seperti yang Hendery katakan di kantin waktu itu.
Dejun dan Yangyang? Hm, entah sejak kapan, mereka menjadi berbaikan dan melupakan masalah mereka. Justru ditambah Hendery, mereka bertiga membuat bisnis yang cukup boomingdi sekolah. Si Wong sebagai model, si Xiao sebagai fotografer dan si Liu sebagai marketing. Benar-benar kombinasi yang luar biasa. Tidak perlu menjadi paparazziatau stalkerdan sebagainya lagi.
Dejun dan Ten? Baiklah, gajinya baru saja dipotong oleh bosnya karena dibanding bekerja, ia lebih banyak meladeni Hendery. Anehnya, si pria Thailand itu sendiri suka sekali mengobrol dengan si Wong di cafe. Memang bosnya suka tidak sadar diri. Ah, tapi karena dia pemilikinya — jadidiaselalubenardanDejunsalah.
Dejun dan Lucas? Satu kalimat, stillfine,noproblem.
Hendery dan Dejun kini sedang berdua di apartemen milik si Xiao. Weekendkali ini mereka habiskan dengan marathon menonton film di kamarnya. Dejun berguling di kasurnya dan menatap langit-langit kamarnya. Matanya terpejam dan ia memeluk gulingnya dengan erat. Sedangkan Hendery duduk bersila di lantai —sibukmenyortirkaset-kasetfilmmiliksipriamanis.Televisi di depan sana sepertinya juga masih bersemut-semut dengan suara menyebalkan di telinga si Xiao.
Ia membuka matanya kemudian menatap kesal ke arah televisi di depan sana.
"Ah, menyebalkan."
Hendery hanya mengangguk.
"Omong-omong, kemarin aku pergi ke rumah Lucas. Dia punya televisi yang besar sekali, aku iri."
Dejun bergumam, karena tiba-tiba wajah pria tinggi dan rumahnya yang luar biasa high-techitu muncul di pikirannya. Ia benar-benar iri dengan televisinya yang besar dan berlangganan dengan channel yang memiliki koleksi film lengkap. Si Xiao menatap Hendery dan koleksi film miliknya yang sedang pria itu pegang. Oh, benar-benar bukan apa-apa jika dibanding milik Lucas.
"Aku tidak suka Lucas."
Dejun mengernyit karena tiba-tiba Hendery berujar ketus. Pria Macau itu tampak berwajah tenang seperti biasa tapi si Xiao dapat menangkap ada kekesalan. Ia merasakan hal yang aneh terjadi antara kedua Wong. Apakah mereka bertengkar atau apa? Akhirnya, ia bertanya secara retorik, "Kalian dekat kan?"
"Tidak sedekat itu."
Oh, ya, mereka hanya mantan mitra kerja. Sesama rekan kerja seharusnya membangun relasi yang baik. Lagipula Lucas bukan pria yang buruk, dia sangat baik dan humoris. Dejun ingat-ingat pria tinggi itu pernah bilang bahwa mereka lumayan dekat. Kenapa Hendery tiba-tiba mengucapkan tidak suka? Pasti ada hal yang terjadi.
Pria itu menyembunyikan sesuatu. "Apa yang terjadi?"
"Aku hanya tidak suka saja."
Hendery menghindari kontak mata. Pria itu tetap duduk bersila dan menatap koleksi film Dejun. Dan Dejun tahu —priaituberbohong.Ia hanya diam dan memeluk gulingnya sambil menatap si model. Ia memberikan waktu kepada pria itu untuk membuka mulut. Kemudian seperti yang ia duga, si Wong langsung menatap dirinya dengan wajah datar. Dejun hanya tersenyum.
"Kemarin kau pergi kemana dengan dia?"
"Oh, ya, aku menonton bioskop dengannya lalu mampir ke rumahnya." "Apa yang kau lakukan di rumahnya?" tanya Hendery lagi dengan nada
datar. Suaranya sedikit parau. Netra keduanya masih saling tertaut. Entah kenapa, saat ini, Dejun merasa seolah diintimidasi oleh tatapan pria itu. Dan diserbu berbagai pertanyaan membuat ia merasa seolah diinterogasi. Otomatis ia mulai gagu.
"Ehm, me— mengerjakan tugas? Bermain videogamesdan menginap."
Hendery sedikit mengernyit, "Tidur?"
Dejun hanya menganggukkan kepala, "Iya, tidur." "Dimana?" tanya pria Macau itu lagi. "Kamarnya."
"Huh, oke. Seranjang?"
Oh, Dejun mulai mengerti arah pembicaraan ini. Ia menyeringai. Kedua Wong itu bukan bertengkar atau apa —melainkansalahsatunyamerasairi.Hendery kemungkinan iri jika teman baiknya yang bernama Xiao Dejun direbut. Bagi si manis sendiri, itu hal yang lucu karena sejauh yang ia tahu, Guanheng adalah orang paling kalem yang dia temui. Tidak ada marah- marah atau ngambek.
Lalu sekarang pria itu cemburu? Ah, fenomena alam!
Di saat begini, ialah kesempatan bagi Dejun menggodanya.
Maka dari itu, ia menjawab, "Ya, seranjang," dengan senyum lebar di wajahnya.
"Apa lagi yang kalian lakukan?" "Menurutmu?"
Dejun menaikkan alisnya. Perkataan yang benar-benar ambigu dan Hendery sepertinya terjebak oleh perkataan itu. Bisa dilihat ekspresinya yang tiba-tiba begitu kaku dan matanya yang menyipit tidak suka. Rasanya si Xiao ingin tertawa, tapi dia tak ingin menghancurkan skenario yang sudah tertata baik itu.
"Jangan lakukan itu lagi," perintah Hendery. Gotcha!
Dejun melengkungkan senyumnya dengan rasa puas. Matanya masih terikat kepada pria itu dan ia benar-benar bisa merasakan rasa ketidaksukaan dari sana. Sungguh kelihatan jelas sekali bahwa Hendery sedang iri. Ia kembali bertanya dengan nada dibuat sepolos mungkin, "Melakukan apa?"
"Berduaan bersama Lucas." "Kenapa?"
"Tidak ada alasan."
Hendery membuang muka dan lebih memilih menatap kaset-kaset film tadi. Dejun menahan tawa karena melihat wajah si Wong itu. Benar-benar lucu karena hal seperti ini jarang terjadi. Harus dirinya akui, ia sedikit
senang jika pria itu sungguhan cemburu pada Lucas. Rasanya, seperti apa ya?
Ah, entahlah, senang saja.
Dejun kemudian melempar guling yang dia peluk ke kepala Hendery. Pria itu meringis dan memegangi kepalanya. Ia kemudian menatap kesal ke arah si Xiao. Pria manis itu hanya tertawa setelah mengusili si model. Lalu si Wong malah melemparkan balik guling itu dan tertawa puas karena berhasil balas dendam.
Oh, mereka berakhir bermain perang bantal.
Keduanya terbahak hingga Dejun bertanya secara langsung, "Oke,hentikan. Kenapa kau marah kepada Lucas? Cemburu?"
Hendery terdiam dan hanya tersenyum. "Tidak, aku tidak punya hak untuk cemburu." TBC.
ramenSejak hari itu, Hendery jadi aneh di hadapan Dejun.
Pria itu memang kalem.
Tapi, sekarang kalem itu mengarah ke pendiam. Dia irit bicara, tidak banyak bertingkah, senyum juga sedikit pelit, bahkan mereka berdua jarang 'kebetulanbertemu' lagi. Berbeda dengan biasanya yang hobi tersenyum, melempar godaan, sering bertemu secara kebetulan. Dejun mulai berpikir jika ia tak sengaja melukai hati si Hendery. Tapi, berkali-kali ia mengajak si Wong berbicara dan mencoba meminta maaf meski ia tak tahu apa kesalahannya.
Si model itu tetap berkata tidak apa-apa.
Tapi, kalau sudah begitu, pasti ada apa-apanya. "Guanheng!"
Dejun berlari ke arah pria itu yang sedang duduk sendirian di kantin sekolah. Lucas tidak masuk hari ini, dan ia tak ada teman, makanya ia menghampiri Hendery sedang sibuk membaca majalah fashionsambil memakan semangkok ramen. Ah ya, sekarang mereka punya panggilan khusus. Seperti Hendery memanggil dirinya dengan Xiaojun. Maka ia memanggil si Wong dengan Guanheng. Dan otomatis, pria itu langsung menoleh kepadanya dengan ekspresi agak heran.
Oh, mungkin heran karena Dejun biasa menjaga jarak ketika di sekolah. Tak ingin ada rumor lagi, oke?
"Hn?"
Dejun tersenyum dan mendudukan dirinya di hadapan pria itu, "Mau dengar berita baik?"
"Apa?"
"Minggu depan, aku akan ke Guangdong."
Dejun benar-benar semangat dengan mata yang berbinar dan kurva yang melengkung ke atas. Ia hanya pulang ke Guangdong setahun sekali, yaitu saat tahun baru imlek. Setelah sekian lama, ia akan berkumpul kembali bersama keluarganya -ayahnya,kakaklaki-lakinya,danibunya- di kampung halaman yang sangat ia rindukan. Si Xiao tak sabar saat malam
tahun baru imlek, memakan hotpotbersama kemudian bermain petasan dan tidur tengah malam.
Benar-benar seru apalagi mendapat angpao.
Dejun ingin membagikan kebahagiaannya kepada si Wong. Karena pria itu juga merayakan imlek seperti dirinya jadi ada rasa senasib. Pastinya, akan sangat senang juga jika kalender semakin terkoyak menuju ke tanggal yang ditetapkan. Oh, apakah Hendery pulang ke kampung halamannya juga? Ke Macau?
Pertanyaan dari hati si Xiao terjawab dengan wajah datar pria itu. "Oh, hati-hati di sana."
"Kau tidak pulang?"
"Aku ada pekerjaan, sebuah kontrak."
Hendery tersenyum kecil lalu menaikkan majalah yang ia baca - menunjukkansampulnya. Dejun dapat melihat wajah tampan pria itu di sana dengan pakaian cheongsambernuansa merah lalu tulisan selamat tahun baru imlek, gongxifacai, dan sebagainya dalam bahasa mandarin. Pria itu membaca majalahnya sendiri, astaga. Si Xiao hanya mengangguk lalu ikut tersenyum.
Sepertinya, rejeki pria itu lancar sekali.
Saat imlek malah dibanjiri kontrak sampai tak sempat pulang. "Tidakkah kau rindu rumah?"
"Tidak."
Dejun terdiam. Benar-benar tidak bisa berkomentar karena untuk pertama kalinya ia bertemu orang yang tidak rindu rumah ketika merantau! Di saat dirinya bermasalah dengan home-sickselama dua bulan pertama ia di sini. Di saat dirinya harus menelpon ibunya setiap malam waktu itu. Lalu, Hendery dengan mudah mengatakan hal itu.
Hendery benar-benar aneh.
Korea Selatan memang menyenangkan. Tapi, tidakkah ia rindu negeri asalnya? Tidakkah ia rindu melihat lampionmenggantung di depan rumah atau puisi musim semi? Tidakkah ia rindu berbicara bahasa mandarin dan cantonese?Tidakkah ia rindu keluarganya dan teman lamanya di sana?
Atau, dia punya masalah dengan keluarganya?
Dejun tidak bisa banyak bicara jadi dia hanya memandangi pria itu. Seperti sedang serius sekali melihat dirinya sendiri di dalam majalah. Ramennya masih panas, dengan uapnya masih mengepul itu juga belum dihabiskan. Ia menelan ludah karena makanan itu tampak begitu nikmat -
terlebih di netra seseorang yang belum makan siang karena tidakmembawa uang.
Si Xiao itu pun mendelik singkat ke pemilik yang tampak tak menghiraukan gerak-geriknya. Si Wong masih sibuk berkutat dengan majalah itu, entah apa yang seru di dalam sana hingga bisa menyedot seluruh atensi Hendery -padahalisinyakebanyakanfotoHenderysendiri. Dejun benar-benar ragu untuk menyentuh makanan itu, tapi perutnya sudah berteriak. Si model juga tidak memakannya kan? Jadi-
"Kau tidak makan?" "Untukmu saja."
"Benarkah?" tanyanya lagi menatap wajah pria itu. "Iya."
Dejun berseru kegirangan, "Terima kasih."
Dia menggeser mangkuk tersebut ke hadapannya dengan semangat. Indera penciumannya merasakan bau yang menggugah selera. Tak sabaran, ia mengambil sumpit milik Hendery tadi dan hendak mengucapkan selamat makan kemudian memasukkan ramen itu ke mulutnya. Namun, hal itu tak terjadi karena ramen tersebut justru tumpah semua karena ia senggol tak sengaja.
"Astaga, panas!"
Dejun mencicit kecil dan kontan berdiri dari kursinya ketika rasa panas itu mengenai bagian perutnya dan tangannya -rasanyakulitnyamau melepuh. Seragam sekolahnya yang berwarna putih pun menjadi bernoda kemerahan. Meski ia tidak heboh, tapi tingkahnya langsung menarik perhatian banyak orang. Oh, orang-orang itu termasuk Hendery. Si model langsung mengangkat kepala dan menutup majalahnya.
Ia memberi tatapan khawatir, "Kau tak apa?" "Seragamku."
Dejun membersihkan mie dari badannya dan membuangnya ke lantai dengan sedikit jijik. Ia tidak khawatir jika kulitnya memerah akibat panasnya. Ia lebih khawatir jika ia tak punya seragam lagi dan kemudian dimarahi guru karena kotor. Si Xiao pada dasarnya juga malu apabila berjalan di sekolah dengan pakaian yang mengundang perhatian.
Hendery tidak banyak berbicara. Ia segera berlari ke arah penjaga kantin. Entah berbicara apa kemudian datang kembali ke meja mereka dengan sekotak tissue. Pria itu memberikan beberapa lembar ke Dejun untuk
membersihkan diri. Kemudian ia sendiri mengambil beberapa lembar untuk membersihkan meja yang berantakan.
"Kenapa kau tidak hati-hati?"
"Aku tidak tahu. Kuahnya tumpah sendiri, bukan salahku," gerutu Dejun. "Ah, sudahlah, kau harus ke WC."
Hendery lalu membuang tissue bekas itu ke tong sampah. Mengembalikan boxnya serta mangkuk kosong ke pemilik kantin sambil meminta maaf lalu kembali . Ia mengambil majalahnya dan malah memberikannya ke seorang gadis tak di kenal di meja sebelah. Gadis itu keheranan dan kaget tapi kemudian tersenyum terlalu senang, "Benar-benar untukku? Oh, terima kasih!"
Dejun hanya mengernyit, "Apa yang kau lakukan?" "Majalah itu sudah tidak penting. Kemarilah." "Eh!"
Dejun agak kaget ketika Hendery malah menyentuh tangannya -lebihtepatnyamenariktangannya. Menyeretnya ke luar dari wilayah kantin dan menuju ke toilet terdekat. Si Xiao hanya menuruti saja langkah pria itu. Meski ia sedikit khawatir dan takut jika si model marah pada dirinya karena menumpahkan ramen itu. Siapa tahu, si Wong itu sengaja membawanya ke WC lalu membullydirinya di sini daripada di kantin agar reputasinya tak hancur.
Namun, yang terjadi, justru berbeda jauh dengan imajinasi di kepala Dejun.
Hendery malah melepaskan jas birunya. Oh, ya, seragam sekolah ini sebenarnya sedikit berbelit. Atasannya berupa kemeja putih berlogo di bagian dada, dilapisi satu jas khusus sesuai tingkatan. Bagian jas itu sebenarnya opsional dan hanya wajib di saat tertentu. Itu sebabnya Dejun tidak memakainya karena ia kepanasan. Dan sekarang apa? Si model itu memberikan jas itu kepada Dejun.
"Cuci tanganmu dulu setelah itu buka baju dan pakai saja jasku." "Sekarang?"
"Besok."
Dejun hanya tertawa menanggapinya. Tanpa basa-basi, ia mencuci tangannya yang agak sakit karena panas tadi. Lalu melepas kancing. Tentu, ia tak perlu khawatir ada yang melihat karena di WC hanya ada dirinya dan Hendery. Si Wong itu juga bukan masalah, toh sesama lelaki kan? Namun,
anehnya, pria itu malah menahan tangannya dengan senyum aneh saat ia sudah melepas satu kancing. Otomatis itu membuat dirinya keheranan.
Tadi si model menyuruhnya melepas baju, kenapa justru melarangnya sekarang?
"Gantinya di dalam bilik saja. Aku takut aku tidak tahan." "Tidak tahan?"
Dejun mengernyit karena tidak mengerti. Kenapa harus di dalam bilik? Tidak tahan apa? Ucapan Hendery sungguh membuat otaknya berpikir dua kali. Sedangkan pria itu hanya tertawa kecil karena tingkah si Xiao kemudian menggeleng, "Bukan apa-apa."
"Oh, ya, tanganku sedikit terluka karena panas."
Dejun mengangkat tangan kirinya dan menunjukkan bekas kemerahan di sana kepada Hendery. Si Wong hanya menatapnya dengan heran. Lalu si Xiao menghela napas karena pria itu tak mengerti maksudnya. Akhirnya ia berkata sambil tersenyum manis, "Bisa kau bantu aku melepaskan kancingku?"
TBC.
comebackHendery pada akhirnya membantu Dejun mengganti baju. Tenang, tidak ada hal aneh yang terjadi. Si Wong hanya tampak begitu kaku melepaskan tiap kancing kemeja. Pria itu juga membantunya memakaikan jas. Mata pria itu melakukan semua itu tanpa melihat ke arahnya. Yang mana ekspresi seperti itu -bagiDejun- sangat aneh dan lucu.
Dejun segera berkaca melihat jas milik Hendery yang membalut tubuhnya. Agak kebesaran dan jasnya sedikit tidak nyaman bagi si Xiao. Itu karena bagian celah di tengah yang terbuka hingga memperlihatkan dadanya. Tapi, setidaknya, ia terlihat lebih baik daripada mengenakan kemeja putih yang kotor. Ia tersenyum pada Hendery.
"Terima kasih."
"Bukan masalah, tapi kita harus ke UKS dulu." Hendery tersenyum kaku lagi.
Oh, pria Macau itu kembali menyeretnya ke UKS lagi. Melewati lorong penuh siswa-siswi lain yang bebrisik menciptakan rumor tidak mengenakkan itu. Dejun mencoba bodoh amat karena ia hanya ingin mengobati beberapa bagian kulit yang memerah. Keduanya saling melempar canda di sana, terlebih Hendery. Lalu pria itu mengejek dirinya dan tertawa karena si Xiao meringis ketika diobati.
"Sakit?"
"Iya, makanya aku meringis!"
Hendery malah tertawa dan sengaja menekankan obat luka bakar di daerah tangan yang kemerahan itu.
"Ya, Tuhan!"
Sesudah itu, mereka kembali ke kelas masing-masing kala bel sudah berbunyi. Dejun kembali dan disambut sejumlah tatapan aneh dari teman sekelasnya. Kemudian terdengar lagi gossip tidak jelas dari yang lain, dengan sigap, si Xiao langsung membantah berita itu. Selang berapa lama, guru pun datang dan bersyukur ia tak memerahi si pria Guangdong karena pakaiannya.
Terima kasih, semenjak hari itu, Hendery semakin bertingkah aneh di hadapan Dejun.
Ya, memang pria itu sering bertemu dengan Dejun lagi setelah meminjamkan jasnya. Bahkan si Wong menggodanya terus-kembalisepertidulu. Yang aneh adalah bagaimana pria itu jadi suka menggumamkan kata- kata yang aneh. Lalu Hendery juga sering tersenyum sendiri, bertingkah canggung dan gugup. Bukan kah mengherankan jika seorang model yang biasanya percaya diri bertingkah seperti itu?
Dejun merasa heran juga, tapi mencoba biasa saja.
Oh, ya, sore ini, Dejun akan berangkat ke Guangdong untuk malam tahun baru.
Awalnya, ia ingin naik taksi saja, tapi ia baru saja ingat jika Hendery punya mobil. Maka dari itu, ia memilih meminta tolong saja untuk diantar ke bandara Incheon. Pria itu setuju-setuju saja tapi di hari H, justru tidak muncul batang hidungnya -menghilangtanpakabar. Dejun sudah mengetuk pintu apartemennya berkali-kali dan menelponnya.
Tidak ada balasan.
Mungkinkah pria itu sedang ada jadwal pemotretan? Tapi kenapa kemarin pria itu bilang dia ada waktu kosong? Ah, kalau memang tidak sempat mengantar, bilang saja dari awal. Tidak perlu dipaksakan daripada harus begini. Dejun sedikit kesal memikirkannya. Jika ia menunggu, bisa- bisa ketinggalan pesawat nantinya.
Maka dari itu, ia segera meninggalkan sebuah pesan di depan pintu Hendery dan juga melalui ponsel. Dejun pun akhirnya memilih naik taksi saja -meskibayar- daripada harus ketinggalan penerbangan hanya untuk menunggu si model. Syukurnya, ia bisa tiba tepat waktu dan tidak banyak kendala, ia sudah naik ke pesawat.
Dejun memutuskan menelpon ayahnya tepat sebelum berangkat. Ia berbicara bahasa cantonesedengan keluarganya tentu saja.
"Papa, aku sudah di pesawat."
Suara di seberang sana justru memarahinya, "Matikan ponselmu, kalau begitu. Kenapa menelepon?"
Dejun tertawa kecil mendengar ocehan dari sang ayah. "Aku rindu papa."
"Jangan manja begitu, nanti juga bertemu. Sudah, sebaiknya kau menutup ponselmu karena berbahaya dimainkan di pesawat."
"Iya, sanar, pa. Toh, pesawatnya belum jalan. Cuman mau mendengar suara papa aja hehe. Nanti jika aku sudah sampai akan aku kabari. Sampai jumpa nanti. Bye."
"Hati-hati, cepatlah kemari karena ada banyak hal yang papa ingin beritahu."
Telepon tertutup dan Dejun hanya mengernyit. Tidak biasanya ayahnya mengatakan hal seperti itu. Memberitahu banyak hal? Perkataan itu malah membuat dirinya menjadi tak sabaran untuk pulang. Penasaran apa yang ingin ayahnya katakan pada dirinya.
Ia duduk, coret, tidur dengan tenang selama penerbangan.
Sampai di bandara internasional Guangzhou, langit sudah memancarkan warna oranye. Ia pertama-tama menelpon ayahnya dulu, mengatakan jika ia sudah sampai dengan baik. Ayah Dejun malah menyuruhnya jangan pulang terlalu cepat dan menyarankannya pergi berjalan-jalan ke kota dulu sampai malam. Sangat mencurigakan!
Tapi, itu membuat Dejun semakin penasaran.
Ia memilih mengabaikan saran ayahnya dan mengambil taxi. Si Xiao langsung memberikan alamatnya dan melesat pulang ke rumah kedua orang tuanya. Rumah mereka berada di kompleks yang biasa saja meski kaya - ayahnyapunyaperusahaanprodukmakananyangbesar. Ia berdiri di depan pagar menatap tanaman di halaman yang dihiasi lampu-lampu serta lampionmini. Ada pula lentera bercahaya lain yang bergantung di pintu depan rumah serta hiasan lainnya yang menarik mata.
Dejun tersenyum. Akhirnya, ia pulang.
Ia menatap ke arah lantai dan menemukan sejumlah sendal entah milik siapa terlepas di luar. Jumlah yang tidak seperti biasanya menandakan ada tamu sedang datang -mungkinsepupunyaataupamannya.Dejun tak terlalu mengacuhkannya lalu membuka pagar yang memang tak terkunci sambil menyeret kopernya. Ia pun menekan bel dan mengetuk pintu di saat bersamaan.
"Pa,ma,ko, aku pulang!" Pintu terbuka.
Dejun langsung memeluk sosok itu. "Selamat imlek, pa!"
Uh, tunggu, kenapa ayahnya terasa sedikit lebih tinggi dan kurus. Ini juga tidak terasa seperti kakak laki-lakinya. Ia mengernyit merasakan keanehan
itu. Tetapi ia tetap tak melepaskan pelukannya karena rasanya hangat. Dejun baru saja dari luar dan rasanya dingin setengah mati. Berpelukan membuat suhunya kembali normal.
Ia tersenyum dan melepaskan pelukannya.
Namun, ia membulatkan mata ketika melihat jelas wajah orang yang ia peluk.
"Uhm, Xiaojun, selamat imlek." "Guanheng?"
"Jadi, bagaimana bisa kau kemari?" tanya Dejun dengan bahasa
cantonese.
"Dengan pesawat."
Dejun menepuk jidat, "Maksudku, kenapa?" "Tanya saja ke papa-mu nanti."
Hendery menunjuk Tuan Xiao yang sedang menonton acara barongsai. Si model itu melengkungkan kurvanya dan Dejun tetap tidak mengerti. Apalagi tadi ia memeluk si Wong dengan santainya tanpa tahu ternyata pria itu bukan ayahnya -memalukan! Kepalanya benar-benar pusing memikirkan hal ini. Entah bagaimana, pria itu tiba-tiba muncul di hadapannya dengan sweatermerah rapi dan mengatakan akan merayakan imlek di sini?
Ayahnya tadi juga hanya tertawa mengatakan, "Oh, selamat tahun baru dan kau sudah memeluk salah orang, anakku. Dia itu Hendery, anak dari teman ayah di Macau. Cepat masuk dan ucapkan selamat imlek ke mama dan koko!"
Ya, Dejun juga tahu dia Hendery, tapi sejak kapan pria itu menjadi anak teman ayahnya? Lalu bagaimana dengan kontrak majalahnya? Bagaimana pula dengan keluarga si Wong di Macau? Kenapa pria itu tidak memberitahu dirinya lebih dulu? Apa yang sebenarnya terjadi? Kepala si Xiao benar-benar ingin meledak dengan ribuan pertanyaan di dalamnya.
Akhirnya, ia memutuskan mandi saja sesudah melepas rindu dengan ibu dan kakaknya.
Dejun mengenakan pakaian merah tentu saja karena ini imlek. Ia tak lupa mengenakan sedikit liptintkarena bibirnya benar-benar pucat. Meski ia sering dimarahi kakaknya karena memakai makeup, tapi tidak ada salahnya jika ia hanya mengenakan sedikit saja 'kan? Liptintitu membuat bibirnya lebih segar dan warnanya sesuai dengan baju yang ia kenakan -merah. Lagipula di Korea Selatan, lelaki dengan makeupbukan masalah besar.
"Cepat kemari untuk makan, anak-anak."
Ibu Dejun memanggil. Dejun pun segera berlari ke arah meja makan dan menatap lapar makanan di atas sana. Ah, makanan China buatan ibunya yang sudah lama tak ia makan. Ia langsung duduk dan yang lain pun begitu. Semuanya makan dengan tenang ditemani topik santai seperti apa kabar si bungsu Xiao yang merantau dan Hendery ikut berbicara juga menimbrungi.
Akhirnya, di saat yang tepat, Dejun melontarkan pertanyaan sambil menunjuk Hendery.
"Kenapa dia kemari?"
"Dia kan temanmu?" tanya sang ibu.
Dejun mengerucutkan bibirnya, "Iya, tapi seharusnya dia kan ke rumah orang tuanya sendiri."
"Orang tuanya sedang di luar negeri. Dia di Korea Selatan sendiri merayakan imlek. Mereka akhirnya menyuruhnya pulang ke sini saja untuk tahun baru dengan sensasi baru. Mereka menitipkannya kemari, kau mengerti? Juga sekaligus pertama kali mengenalkannya padamu."
Dejun semakin mengernyit.
Oke, masuk akal tapi tetap saja aneh. "Aku sudah kenal."
Sang kakak hanya menepuk jidat, "Ya, daidai, maksud papa, bukan kenal sebagai temanmu. Melainkan mengenalkannya pertama kali sebagai calon suamimu."
"Ha?"
TBC.
firework"Maksudnya, kalian dijodohkan."
Ucapan nyonya Xiao semakin memperjelas situasi. Dan saat itu juga, Dejun mulai panik dengan ribuan pertanyaan lain bermunculan di kepalanya. Ia kini menatap Hendery meminta penjelasan. Namun, pria Macau itu hanya tersenyum saja dan tidak berbicara sedari tadi. Si manis semakin dibuat kebingungan.
Kenapa situasinya menjadi seperti ini? "Tapi, pa, kenapa harus dia?" protes Dejun.
Tentu, dia harus bertanya, di antara jutaan manusia lain yang berjalan di atas bumi, kenapa harus Hendery -temanbaiknya- yang dijodohkan dengan dirinya? Dunia begitu sempit! Dejun bukan tidak suka. Ia tidak yakin karena perjodohan berarti pernikahan. Pernikahan ada atas dasar cinta. Tapi, dirinya dan Hendery tidak saling mencintai. Tidak mungkin ia harus menghabiskan hidupnya tanpa kasih sayang.
Mungkin iya, Dejun sedikitmenyukai Hendery tapi itu bukan cinta. Dan memangnya Hendery menyukai Dejun juga?
"Memangnya kamu mau dijodohkan dengan perempuan?" tanya kakaknya.
Skakmat.
Memang orientasi seksualnya itu homo-seksual dan ia tidak tertarik kepada lawan jenis. Cinta pertamanya saja seorang laki-laki. Keluarganya menerimanya dengan baik setelah dia comingout sebelum ia pergi ke Korea. Namun, kakaknya memang masih sedikit sensitif terhadap hal itu. Apalagi ayah mereka dulu adalah dragqueen-identikdengankomunitasLGBT- dan dulu meninggalkan rumahnya demi pekerjaan itu.
Makanya, sang kakak menyinggung terus menerus.
"Sudahlah, kalian kan sudah mengenal satu sama lain. Tinggal menyesuaikan saja."
Sesudah itu, Dejun tak bisa banyak protes.
Ia hanya diam sampai makan malam selesai. Memang hotpotenak dan masakan chineselainnya juga begitu menggugah selera. Tapi moodnya
sedang downdan itu tidak bisa diselamatkan. Ayah, ibu, dan kakaknya sudah tampak akrab dengan Hendery. Hal itu semakin membuat Dejun tidak terlalu senang. Harusnya imlek ini dia habiskan hanya dengan keluarganya dan tanpa beban pikiran. Sekarang ia malah pusing.
Sesudah makan malam, ia membantu ibunya mencuci piring. "Anak-anak, kemari, papa beri kalian sesuatu."
Dejun langsung berlari menghampiri ayahnya. Dia tahu betul maksud kalimat dari si ayah yang selalu diucapkan setiap tahun baru imlek. Memberikan sesuatu yang paling ia sukai. Sesuatu dalam bungkus amplop merah. Ia tersenyum kemudian duduk di sofadi samping kanan tuan Xiao dengan riang. Kakaknya duduk di sisi kiri. Ibunya duduk di hadapan sang ayah.
Hendery? Uh, dia menghilang. Tapi, masa bodoh.
"Dimana Hendery?" tanya si ibu.
"Dejun, cari dia, papa juga ingin memberi dia sesuatu."
Dejun langsung bermuka masam karena disuruh seperti itu. Kenapa Hendery juga diberikan angpao? Sejak kapan dia jadi bagian keluarganya? Si Xiao bungsu belum siap menerima kenyataan bahwa ia akan dijodohkan, lalu si Wong nanti akan masuk ke keluarganya. Rasanya aneh saja dan asing. Maka dari itu, ia tak mendengar perintah ayahnya dan tidak beranjak.
Namun, si kakak menyelundupkan tangannya dan mencubit lengannya dengan gemas dari belakang, "Jangan merajuk, anak kecil."
Dejun menyipitkan mata dan menatap kakaknya yang duduk di sisi kiri si ayah. Jelas bukan ayahnya yang mencubitnya. Sudah pasti sosok kakaknya. Ia lalu protes, "Ko, aku sudah bukan anak kecil. Jangan mencubitku. Kenapa tidak kau saja yang pergi mencarinya?"
"Itu kan calon suamimu!"
"Hush, malam tahun baru jangan bertengkar. Dejun, kamu panggil dia ya."
Perintah mama kedengaran lebih halus tapi keduanya langsung menurut. Dejun juga takut kalau mamanya sudah berbicara dengan nada seperti itu. Bisa-bisa si ibu marah dan melempari kepalanya dengan spatula atau mengusirnya dari rumah semalaman. Maka dari itu ia hanya menunduk dan berdiri lalu melesat ke arah kamar tamu di lantai dua -tempatHenderytidur- sambil berseru ke pada nyonya Xiao.
"Iya, ma. Aku cari Guanheng dulu ya!"
Dejun sampai di depan pintunya lalu mengetuk terlebih dulu. "Guanheng!"
Tidak ada balasan. Ia mengetuk lagi.
"Guanheng, keluar!" panggilnya dengan bahasa cantonese.
Tetap tidak ada balasan meski diketuk berkali-kali. Dejun sekarang mulai kesal karena tidak dijawab. Tidak mungkin pria itu ada di lokasi lain, pasti ada di dalam, hanya tidak bersuara saja. Ia akhirnya mengabaikan sopan santun dan langsung membuka pintu dengan tidak sabar. Syukurnya, pintu itu tidak terkunci.
Ia mengintip dahulu. "Guanheng?"
Tidak ada orang.
Akhirnya ia membuka pintu itu secara lebar. Namun, tetap saja matanya tak menemukan siapa-siapa di dalam sana. Ia memutuskan mengintip di balik pintu. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada pria itu. Dejun mengerutkan keningnya. Kemana pria itu sebenarnya jika tidak ada di kamar?
Dejun melangkah masuk.
Ia kemudian melirik pintu menuju balkon yang tertutup. Kakinya segera melangkah karena kemungkinan besar pria itu ada di sana. Ia membuka pintunya kemudian tersenyum ketika menemukan sosok model yang sedang melamun itu. Hendery tampak memandang ke arah kejauhan dan tampak tidak sadar akan keberadaan si Xiao.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Dejun sekarang sudah terbiasa berbahasa
cantonesedengan Hendery.
Hendery sedikit terkejut ketika mendengar suara Dejun. Ia langsung menoleh ke belakang dan tersenyum ketika mata mereka berdua bertemu. Si Xiao hanya mengernyit kemudian melangkah mendekat ke sana dan berdiri di sampingnya. Tangannya ia tumpu ke pembatas balkon. Matanya kemudian melirik ke arah langit.
Ada bulan purnama yang indah memang, tetapi itu tertutup oleh awan gelap.
"Tidak ada yang menarik, kau lihat apa?" "Tunggu saja."
"Apa maksudmu den- wah!"
Perkataan Dejun terpotong dan ia langsung menoleh ke arah langit ketika mendengar suara ledakan. Sedikit kaget tetapi juga kagum karena ia melihat berbagai cahaya berwarna yang indah menghiasi langit malam itu. Percikan
kembang api yang indah! Kurvanya melengkung ke atas. Matanya dipenuhi binar.
"Indah 'kan?"
Dejun tidak menoleh atau menjawab pertanyaan dari Hendery itu. Seluruh atensinya sudah tertuju ke langit yang begitu indah. Kembang api itu tidak ada hentinya, dari berbagai arah dan dengan berbagai warna. Suaranya nyaring tetapi begitu meriah. Pria di sampingnya tidak ia pedulikan lagi. Ia bahkan melupakan tujuan awalnya ke sini.
"Xiaojun."
Dejun akhirnya menoleh, "Apa?"
"Dari hatimu, apakah kau menerima perjodohannya?"
Ia terdiam sebentar. Matanya terpaut ke netra gelap milik Hendery. Ia menenangkan otak untuk berpikir sejenak jawaban yang tepat. Sebab pertanyaan itu adalah hal yang sangat sensitif bagi dirinya maupun si model. Kemudian, dengan agak ragu, ia menjawab singkat, "Tidak."
"Kenapa?"
Dejun melihat ekspresi kekecewaan di wajah Hendery dengan jelas dan ia mulai bimbang. Kenapa pria itu membuat raut wajah seperti itu? Si Xiao mulai berasumsi jika pria itu juga mengharapkan perjodohan ini dan dengan penolakan dari dirinya membuat semangat si Wong itu padam. Hanya asumsi. Tapi, ia bertanya-tanya jika memang asumsinya benar, kenapa pula si model setuju saja?
Mereka berdua hanya teman dekat selama beberapa bulan terakhir. Memang seminggu awal pertemuan mereka, begitu banyak hal dramatis yang terjadi. Memang dalam permainan mereka, Hendery sudah menjadi pasangan dari Dejun dan papadari Yangyang. Memang mereka sering menggoda satu sama lain. Memang ada rumor jika mereka berpacaran.
Tak mungkin kan pria Macau itu membawa semua permainan itu masuk ke hati? Hendery yang Dejun kenal adalah pria yang tidak terlalu membawa perasaannya. Pada dasarnya, mereka tidak pernah mengatakan tentang perasaan masing-masing dalam pertemanan mereka. Tapi, masa Hendery -simodelterkenal- menyukai dirinya?
Maka dari itu, Dejun berhati-hati memilih jawaban, "Aku hanya ragu." "Kenapa ragu?"
Dejun hanya tersenyum, matanya kali ini memilih menghindari tatapan Hendery. Ia mendongak dan menatap langit yang dihiasi kembang api, "Guanheng, kita itu teman baik selama beberapa bulan belakangan. Rasanya
aneh jika seseorang yang baru saja kau anggap teman baik tiba-tiba menjadi kekasihmu."
"Aneh ya?"
Dejun menangguk sambil tersenyum dan menoleh kembali ke arah Hendery -karenakembangapinyaberhentisesaat.Ia bertanya, "Kau sendiri, kata hatimu, setuju atau tidak?"
"Aku tidak senang, Xiaojun, sangat tidak senang ketika ayahku menelponku dan menyuruhku kemari. Aku berpikir aku akan dijodohkan dengan orang asing. Namun, ketika aku melihat Tuan Xiao dan mengingat figura di apartemenmu. Aku sadar, aku dijodohkan dengan dirimu."
Hendery berhenti sebentar kemudian melanjutkan kata-katanya, "Aku sangat senang mengetahui fakta jika aku dijodohkan dengan dirimu, bukan orang lain."
TBC.
perasaan?"Aku sangat senang mengetahui fakta jika aku dijodohkan dengan dirimu, bukan orang lain."
"Kau tidak merasa aneh?"
Dejun bergumam. Ia menatap Hendery dengan ragu. Netra mereka bertemu. Jantungnya sudah berdetak tak karuan untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Jika saja balkon itu dipasangkan lampu, maka wajahnya jelas sudah memerah. Syukur, langit gelap, pencahayaan berasal dari bulan purnama dan kembang api yang masih samar. Si Xiao merasa malu saja tanpa sebab.
"Ya, aku suka saja."
Dejun mengernyit, "Kau suka?"
"Aku selalu suka asalkan itu dengan Xiaojun-ku."
Hendery tersenyum tipis dan Dejun hanya tertawa menanggapinya. Di saat seperti ini, pria itu malah melemparkan candaan yang bagi si Xiao sama sekali tidak lucu —meskiiatertawa. Yang ada, candaan itu membuat jantungnya terpacu lebih cepat karena ia takut jika asumsinya benar. Ia takut jika si Wong benar-benar menyukai dirinya dan rasanya benar-benar aneh. Ia kemudian berhenti dari tawanya dan mendelik.
"Bukan saatnya becanda!" serunya.
"Aku tidak bercanda. Aku menyukaimu. Sejak dulu?" Dejun terdiam.
Asumsinya benar. Perkiraannya benar jika Hendery menyukai dirinya. Ia menatap netra kelam milik si model, mencari celah kebohongan. Namun, nihil, dia hanya mendapatkan tatapan sayu dari pria itu. Alhasil jantung Dejun semakin memberontak dengan tidak tenang. Terakhir kali, ia mengecek perasaannya, ia merasa sangat yakin bahwa ia tak mencintai si Wong. Tetapi kenapa sekarang perasaannya sangat kacau —rasanyabenar- benarjanggal.
Oh, tenang, Xiao Dejun, itu hanya gugup biasa 'kan?
Ia menatap tajam ke Hendery lagi, mencoba memastikan sesuatu, "Sejak di cafe?"
Hendery menghindari kontak mata, tetapi ia tersenyum.
"Jauh sebelum itu. Acara pengangkatan ketua organisasi kesiswaan yang baru. Kau sangat lucu. Hanya saja aku tidak punya nyali menghampirimu dan hanya melihatmu dari jauh. Suka dalam diam. Namun, kejadian di cafeadalah kebetulan aku menghindari dari stalker-ku."
Dejun membuang muka setelah mendengar peragraf panjang yang diucapkan dengan nada super lembut. Ia menyembunyikan wajahnya karena ia tahu, rasanya pipinya panas dan pasti sudah merah tak dikontrol. Ia tak ingin menatap Hendery karena semua sikapnya sedang di luar kendali. Mulai dari perasaannya sampai wajahnya. Ia memilih bergeming dan menatap kembang api yang sudah mulai menyala lagi.
Ia tak mengira jika seseorang model terkenal seperti si Wong menyukai dirinya. Otak Dejun sekarang sedang kacau memikirkannya. Hendery menerima perjodohan ini, karena menyukai dirinya dan benar-benar serius. Si mungil dapat melihat sekilas wajah tampan pria itu yang tenang —tanpakeraguan. Rasanya si Xiao memiliki begitu banyak beban di hatinya.
Sebab, ia tak bisa membalas perasaan pria itu. Mungkin bisa, tetapi bukan sekarang.
Sekali lagi, ia penuh ragu.
"Kau tahu, aku sangat senang waktu di cafesampai-sampai kehilangan akal. Aku mengikutimu sejak keluar dari cafe. Aku melihat tempat tinggalmu dan memutuskan membeli apartemen kakek tua di sebelahmu. Itu sebabnya kau bertemu denganku paginya."
Dejun langsung menatap pria itu dengan tajam, "Kau—" ucapannya terputus, "menjijikkan."
Dejun tak menyangka jika semua hal yang ada di pikirannya sekarang menjadi nyata. Dulunya, ia berpikir jika Hendery adalah stalkertapi ia mencoba menghilangkan pemikiran itu. Sekarang? Hendery sendiri yang mengakui hal itu. Bahwa si model mengikuti dirinya bahkan membeli apartemen di samping miliknya. Semua ini menjadi sangat lucu tiba-tiba. Rasa gugupnya hilang digantikan kekesalan.
Suatu hal yang Dejun tak pernah sukai adalah penguntit.
Dejun punya kenangan buruk dengan hal itu. Ketika ia masih SMP di Guangdong, ada seseorang kakek tua yang sering mengikutinya — mengambilfotonyatanpaizin. Sampai suatu saat, kakek itu berbicara kepadanya, mengajaknya pergi ke suatu tempat yang ia tak ketahui, dan tersenyum mengerikan. Si Xiao benar-benar ketakutan. Ia kabur dan
melapor ke ayahnya. Sesudah itu, masalah selesai karena kakek itu ditangkap polisi setempat. Tetapi ingatannya masih membekas di kepala si mungil.
Dejun hanya berdecih dan tidak menatap Hendery sedikitpun. Rahangnya keras karena ia benci dengan hal itu —meskiiatemanbaiknyasekalipun. Si Xiao kecewa kepada si Wong. Apakah pria itu berteman dengan dirinya hanya karena suatu obsesi belaka? Apakah si model itu mengambil foto untuk dijadikan fantasi menjijikkan?
"Ya, semua itu bukan kebetulan. Aku juga mengambil foto-fotomu tanpa izin. Aku tahu, menggelikan menjadi stalkeryang tidak tahu diri. Aku tidak beda jauh dari para geng cheerleaderitu. Tapi, Yangyang pernah menyuruhmu mengikutiku juga kan?"
Hendery bertanya seolah merendahkan jika si Xiao sendiri pernah menjadi stalkerjuga. Dejun tidak berniat menjawab karena ia masih merasa tidak senang. Ia justru bertanya balik mencoba terdengar setenang mungkin menghadapi si Wong, "Dia memberitahumu?"
"Aku menanyai Lucas."
Ha, pria itu bahkan melibatkan Lucas. Ia masih ingat bagaimana Hendery mengatakan dirinya tak suka Lucas. Tapi ternyata, mereka berdua sesama Wong bekerja sama. Tak mengejutkan juga —merekaberduamantanrekankerja.Tapi, kenapa pula si tinggi itu mau memberitahu si model tentang dirinya? Pengkhianatan macam apa ini?
Dejun tertawa lalu menatap dalam ke netra Hendery, "Aku semakin yakin keputusanku menolak semua hal bodoh ini."
"Kau boleh menjauhiku, Xiaojun. Aku tak masalah karena aku akui aku memang salah mengikutimu secara diam-diam. Itu jelas mengusik privasimu. Menguntit itu jelas salah dan menjijikan seperti yang kau bilang. Makanya, tidak kulakukan lagi ketika kita mulai dekat belakangan ini. Maafkan aku, tapi aku benar-benar menyukaimu, ah tidak—"
Hendery tulus.
Ia tahu ketika si model mengenggam lembut tangannya. Maka dari itu, reaksi dari tubuhnya kembali tak bisa ia kendalikan. Jantungnya berdetak tak karuan ketika mata mereka bertautan. Hendery tersenyum dan Dejun terpaku. Ia membuang wajahnya lagi, menghindari kontak mata yang mengacaukan segala perasaannya.
"Aku mencintaimu, Xiao Dejun." "Bodoh," umpat si mungil.
Kemudian, ia menarik Hendery. Mengikis jarak mereka.
Itu menegangkan dan tidak sehat bagi jantung Dejun. Suatu momen yang tidak akan ia lupakan meski itu hanya selang beberapa detik saat kedua bibir mereka terpaut —hanyamenempelsekilas.Entah kenapa ia sangat refleks melakukannya. Menyerahkan ciuman pertamanya untuk teman baiknya sendiri, saat malam imlek, di atas balkon, ditemani kembang api. Kedengaran romantis bak film tetapi si Xiao justru merasa sangat memalukan.
Ia benar-benar tidak sadar!
Kenapa ia melakukan hal tolol seperti itu? Mencium Hendery?
Astaga.
Dejun segera membuang muka. Ia sudah benar-benar panas di pipi maupun otak karena semuanya serasa memusingkan. Seperti efek alkohol, mungkin barusan ia mabuk, mungkin ini mimpi. Ia mencoba menenangkan dirinya— mencobabersikapbiasasaja. Si Xiao menggerutu kecil, "Itu ciuman pertamaku. Kau beruntung mendapatkannya."
"Itu yang kedua."
Dejun langsung menoleh, "Maksudmu?"
"Ketika kau pingsan waktu itu dan aku membawamu pulang, aku menciummu. Di pipi sih— maaf."
Hendery terkekeh kecil di akhir kalimatnya. Dejun langsung mencubit lengan si model dengan kesal. Keduanya saling membalas cubitan dan tertawa seperti biasa —bercanda. Semuanya terasa sedikit ringan dan melegakan. Hingga akhirnya si Wong memulai sebuah pertanyaan yang membuat si Xiao memiringkan kepala.
"Jadi, bagaimana?" "Apa?"
"Xiaojun, kau ingat saat aku bilang aku tak punya hak untuk cemburu pada dirimu dan Lucas? Sekarang, aku mau bertanya. Maukah kau memberikan hak itu kepadaku? Mungkinkah kau bisa menerima perjodohan kita tanpa keraguan?"
Dejun kembali terdiam.
Pertanyaan lagi. Ia menimang-nimang dalam kepalanya. Matanya menatap Hendery dan meneliti setiap ekspresi wajahnya. Ah, si model memang tampan di bawah cahaya bulan dan sinar warna warni dari
kembang api yang menyala. Jantungnya si Xiao kembali tak karuan melihat pria itu. Otaknya tak bisa bekerja normal jika sudah memikirkan tentang perasaannya.
Kenapa pertanyaan itu sangat sulit seperti ujian matematika? Bahkan lebih sulit!
Sejak awal bertemu, Dejun memang menyukai Hendery. Ia suka pria itu yang menarik dari visualnya. Ia juga senang sekaligus kesal jika pria itu menggodanya. Namun, jantungnya tak pernah bereaksi seperti yang mereka bilang reaksi jatuh cinta itu. Ia memang merasa bahagia di dekat si Wong, tapi tidak meledak-ledak rasanya. Hanya saja, malam ini berbeda. Ia pertama kali merasakan sesuatu yang menggelikan, rasanya seperti—
jatuhcinta?
Dejun menghembus napasnya dengan berat, "Aku tidak tahu."
"Terima saja, kenapa susah sekali sih!"
TBC.
angpao"Terima saja, kenapa susah sekali sih?"
Dejun hampir saja tersulut emosi oleh kalimat itu jika saja ia berakal pendek —mengiraituHenderyyangmembentaknya. Syukurnya, ia masih sadar jika suara itu adalah suara seorang perempuan dan jelas bukan suara si model. Kedua pria yang berdiri di balkon segera menoleh ke arah pintu kamar. Mata mereka menyipit untuk menemukan beberapa bayangan yang bersembunyi di baliknya.
Dejun langsung membalikkan badan. Sial, itu keluarganya.
Ayah. Ibu. Kakak.
Demi Tuhan, ia sangat malu sekarang hingga wajahnya memerah. Mereka pasti mencari si bungsu karena tidak kembali ke ruang tamu. Si manis tidak berani menunjukkan mukanya ke keluarganya. Pasti mereka sudah melihat banyak hal yang terjadi di antara dirinya dan Hendery — kemungkinanbesarmelihatciumanitujuga! Mau ditaruh dimana muka Dejun jika sudah kepergok begini.
Hendery sendiri sepertinya tak ada rasa malunya.
Pria itu malah mendekati mereka, Dejun dapat mendengar suara langkah kaki si Wong masuk ke kamar. Akhirnya, si Xiao mengintip sekilas dan mendapati pria itu melihat ke balik pintu. Lalu ia benar-benar melihat sosok ayah, ibu, dan kakaknya, lengkap semua dengan cengiran di wajah. Hendery juga ikut tersenyum, mengatakan sesuatu tentang 'hanyaberbicaradenganDejunsambilmelihatkembangapi'lalu melangkah ke arah balkon lagi.
"Ayo, masuk."
Hendery menggapai pergelangan tangan dan ingin menariknya pergi. Namun, Dejun tidak berpindah tempat satu senti pun mempertahankan posisi. Ia benar-benar tak ingin turun dan melihat kedua orang tuanya. Bukan tidak ingin angpao yang ayahnya katakan tadi, tapi malunya sudah ke tulang. Si model sepertinya tidak menyerah, menarik Dejun lagi dan lagi dari tempatnya.
Namun, ia tetap bergeming.
"Papa-mu ingin membagikan angpao untuk kita. Cepatlah turun. Kau tidak mau angpao?"
Dejun hanya menggeleng. "Ya sudah, aku tinggalkan."
Hendery berjalan menjauh kembali ke kamar dan menghilang begitu saja. Dejun langsung berbalik ketika tidak melihat pria itu lagi di daerah balkon. Ia langsung celingak-celinguk mencari apakah si model itu tengah bersembunyi atau apa. Namun ia tak menemukan apa-apa selain kekosongan. Tumben sekali pria itu cepat menyerah!
Akhirnya, tanpa sadar juga, Dejun berujung mencari Hendery ke lantai bawah.
"Nah, anak papa, kemari!"
Dejun mau tidak mau menurut saja sambil bertingkah biasa-biasa saja. Meski dalam hati ia malu, tapi ia mencoba melupakan yang tadi. Ya, dia ingin angpao. Ia pun duduk di samping kiri ayahnya. Hendery di samping kanan si kepala keluarga. Sedangkan kakak dan ibunya duduk di sofa yang berbeda di depan mereka dibatasi meja. Duo ibu dan anak Xiao itu tersenyum entah seperti apa —cengirananeh.
"Ini untukmu."
Tuan Xiao menyerahkan amplop merah kepada anaknya. Wajah Dejun langsung menjadi begitu cerah dan tersenyum mengambilnya tanpa ragu. Ia memasukkannya ke dalam saku. Tak lupa juga, ia memeluk ayahnya dan berseru, "Terima kasih. Dejun sayang papa!"
"Mama sama koko tidak disayang?" tanya kakaknya. "Iya, Dejun sayang kalian juga."
Si mungil lalu memeluk ibu dan kakaknya. "Kalau aku?"
Dejun memicingkan matanya menatap Hendery lalu berekspresi datar. Pria yang di tatap hanya tersenyum dengan wajah tenang. Mau dipeluk juga? Disayang juga? Enak saja, si Wong meminta hal seperti itu sesudah mendapat ciuman. Tidak semudah itu mendapatkan pelukannya.
"Tidak."
"Jangan begitu. Dia itu calon suamimu. Tadi pas awal sudah berpelukan dan barusan juga sudah melakukan lebih dari itu 'kan? Tidak usah malu- malu."
Suatu nasihat dari ibu Dejun yang tetap tidak diindahkan dengan beberapa alasan. Pertama, karena mengungkit-ungkit masalah melakukan hal yang lebih itu. Kedua, karena menyuruhnya tidak usah malu padahal rasa malu itu tak bisa dikontrol semudah itu. Ketiga, karena berpelukan itu mudah bagi si manis, tetapi mengucapkan kata sayang seperti yang ia lakukan ke keluarganya itu adalah hal sangat sulit.
"Kalau begitu, aku saja yang memelukmu."
Hendery menawarkan diri dan Dejun langsung berseru, "Baiklah, biar aku yang lakukan. Kau diam!"
Maka Dejun pun bergerak melewati ayahnya dan pergi memberikan pelukan sebentar kepada pria itu dengan agak tidak ikhlas. Wajahnya masam dan ia sempat mendengar Hendery berbisik ke telinganya beberapa kata yang membuat pipinya bersemu sedikit. Ia duduk kembali ke tempat kosong di samping ayahnya dengan wajah kaku.
Kalimat yang dibisikkan itu— "Hendery sayang Xiaojun juga."
Itu balasan dari kalimat yang Dejun ucapkan ke papa, mama, dan koko. Dan tidak diucapkan kata-kata sayang ke Hendery. Tetapi, pria itu justru membalasnya dengan senyumnya yang menyebalkan. Si Xiao tadi tidak bisa bereaksi banyak selain membalas dengan bisikan lain yaitu 'Dejun benci Hendery' yang membuat si Wong menahan tawa.
Keluarga Xiao hanya mengulas senyuman senang melihat interaksi mereka berdua.
"Kalian benar-benar cocok," ujar si ibu.
Dejun hanya tersenyum, tapi ia sadar akan satu hal. Ayahnya berwajah datar sedari tadi dan tidak banyak bereaksi. Bahkan ia bisa mendengar dengusan dari si kepala keluarga Xiao yang terdengar tidak mengenakkan. Si bungsu pun menoleh dan menatap ayahnya dengan heran. Padahal tadi ketika acara makan malam, ayahnya biasa-biasa saja.
Apa yang terjadi?
"Pa, kenapa papa berwajah lesu?"
"Papa ingin bertanya, apakah kamu benar-benar setuju dengan perjodohan ini?"
Dejun bergeming sejenak kemudian berpikir jika itulah penyebab ayahnya lesu. Karena masalah perjodohan antara dirinya dan Hendery, membuat papa kesayangannya menjadi banyak pikiran. Pasti ia sudah mendengar percakapan mereka di balkon tadi dan kecewa berat karena
penolakan itu —meskisiibutampakmasihmendukung. Sebagai anak yang berbakti, si bungsu tak tega melihatnya.
Ia tersenyum sekilas. "Aku setuju, pa."
"Tadi, papa dengar di balkon kamu menolaknya. Jika memang kamu tidak bisa menerima semua ini, papa bisa membatalkan perjodohannya. Tidak ada kecewa, papa malah senang, apapun itu yang penting kamu bahagia."
Iya, Dejun senang perjodohan bodoh seperti itu bisa dibatalkan. Ia benar- benar bahagia mendengarnya karena ayahnya benar-benar mengerti dirinya. Netranya dalam melihat raut wajah pengertian dari si ayah tapi satu hal yang menganggu hatinya. Perjodohan bukan hanya satu sisi, ada pihak lain. Memutuskan secara sepihak saja bukankah terlalu tidak sopan?
Lalu, bagaimana dengan Hendery?
Hendery sudah menaruh perasaan kepada Dejun. Ia sudah berharap banyak meski ditolak. Ia sudah mencium si Xiao dan mendapat pelukannya meski tidak mendapat hatinya. Kemudian tiba-tiba semua dibatalkan begitu saja di depan matanya. Si manis bukannya mulai suka, ia hanya merasa iba dan tidak enak dengan pria itu. Membayangkan rasanya sedikit menyedihkan.
Namun, reaksi Hendery di luar perkiraan.
"Aku setuju saja dibatalkan jika memang ia tak terima. Ayahku juga sebenarnya ingin membatalkan perjodohan ini. Awalnya ini adalah tentang kakak ketigaku dengan Dejun, tetapi ia sudah punya kekasih dan si mungil ini juga sukanya dengan laki-laki. Akhirnya, aku ditarik sebagai pengganti saja."
Pria itu tersenyum kelihatan tanpa beban. Lalu, apa-apaan yang tadi?
Dejun merasa dipermainkan.
"Mama tidak setuju. Kalian harusnya tetap bersama karena kalian memang cocok. Hanya perlu membuka hati saja dan menerima satu sama lain. Perjodohan ini tidak boleh dibatalkan. Bisnis olahan makanan kita perlu bisnis restoran milik keluarga Wong sebagai penyokong."
Semua mata tertuju ke si ibu yang tiba-tiba berdiri dan menatap tajam ke suaminya. Dejun tidak bisa berkata apa-apa karena sedikit kaget melihat ibunya seperti itu. Si bungsu tahu, mamanya memang sangat setuju dan
mendukung semua ini dengan alasan bisnis yang sangat ditekuni di bidang kuliner. Namun, tidak sampai sebegininya.
"Tapi, kedua pihak setuju untuk melepas satu sama lain," balas si ayah dengan tenang.
"Dejun, lihat kokomu yang dijodohkan dengan gadis lain yang tidak ia kenal. Ia terima saja. Kamu sudah mengenal Hendery dan teman baik. Apa susahnya menerima saja. Kau mau menerima perjodohan ini kan? Tatap mata mama dan jawab. Kau juga, Hendery? Kau terima kan?"
Dejun hanya diam dan menunduk. Ia memainkan jemarinya dengan gugup dan mengigit bibir bawahnya. Ia takut melihat ibunya yang begitu berbeda. Nada bicara begitu tinggi dan membentak. Ia melirik Hendery di sisi sana yang hanya tersenyum kaku. Kakak lelaki di hadapannya juga berekspresi sama.
"Jangan memaksa anakku seperti itu!" bentak si ayah ikut tersulut emosi. "Anakmu? Dia anakku juga. Jadi aku punya hak."
Dejun menggeram marah, "Pa! Ma! Sudahlah! Aku pergi saja!"
TBC.
pertengkaranDejun tidak keluar dari kamar sampai pagi.
Meski, ia mendengar suara gedoran di pintu. Suara ibunya dan ayahnya yang masih saja bertengkar di luar sana tentang perjodohan itu. Lalu suara Hendery yang memanggil namanya dengan parau. Kemudian kakaknya yang menyuruhnya keluar. Ia mencoba unruk tidak mengacuhkan semua itu.
Ia bingung.
Kenapa semuanya menjadi seperti ini?
Malam imlek yang seharusnya penuh tawa, berujung sebuah masalah yang tak menyenangkan. Dejun tidak tahu lagi harus bagaimana. Ia tidak bisa tidur malam itu dan yang dilakukan hanya berguling lalu menangis di kasurnya. Esoknya, ia bahkan tidak makan sedikitpun dan tidak pula pergi ke kelenteng untuk berdoa di hari pertama imlek.
"Xiaojun, keluarlah."
Dejun tidak juga tersentuh hatinya meski itu Hendery sekalipun. Ia mendekam seharian.
Malamnya lagi, barulah ia menerima sedikit makanan yang diselundupkan oleh kakaknya karena memang lapar sekali. Dejun hanya ingin berbicara dengan kakak lelakinya yang tidak banyak bermasalah. Ayahnya? Ibunya? Hendery? Semuanya terlalu memusingkan bagi otaknya, jadi ia memutuskan mogok bicara saja untuk refreshing.
Ya, dia begitu terus sampai lima hari terlewati.
Tenang, dia tetap makan tapi mungkin hanya sekali sehari dan asalkan itu dari kakaknya.
Besok ia sudah akan pulang.
Dan yang ia lakukan hanya mendekam di kamar selama imlek. Tidak ada bermain petasan atau melihat barongsai. Tidak ada berkunjung ke rumah orang dan mencari angpao. Ini semua terdengar seperti tahun baru yang paling menyedihkan dan penuh bencana. Namun, ia sadar beberapa hal huru-hara yang sudah terjadi di luar sana ketika ia mengurung diri.
Hendery sudah pulang kemarin dengan kata perpisahan.
"Xiaojun, aku tahu kau di sana. Aku akan pulang. Tenang saja, perjodohannya sudah dibatalkan. Ibumu juga menerimanya meski dia sedikit tertekan. Kau tidak perlu memaksakan dirimu. Selamat tinggal. Kapan kau akan ke Korea? Jangan lupa jaga dirimu."
Ayah ibunya masih bertengkar —kinimelibatkansikakak.Semua menjadi snagat kacau sampai pada tahap ada suara barang yang dilempar pecah. Masing-masing kubu tetap berdiri dengan pendapatnya. Mama yang bersikeras ingin perjodohan dilaksanakan demi bisnis. Papa yang ingin dibatalkan saja asalkan anaknya bahagia.
Dan Dejun berpikir.
Lebih baik, ia menerimanya saja.
Jika ia menerimanya, maka mamanya akan senang. Dirinya akan senang jika mamanya senang dan tidak berkelahi lavi. Jika dirinya senang, maka papanya juga akan sama dan mendukung dirinya. Hendery juga akan bahagia juga kan pastinya? Bisnis keluarga juga semakin maju kan?
Sepertinya menguntungkan bagi semuanya.
Kecuali dirinya sendiri yang harus sedikit berbohong.
Ya, tidak apalah, lebih baik ia mengorbankan rasa tidak sukanya dibanding melihat dan menjadi saksi perkelahian setiap hari. Lagipula, ia merasa bersalah, sangat merasa bersalah—menyebabkanperpecahandirumahtanggakeluarganya.Kemudian sekarang malah seeperti seorang pengecut di kamarnya sementara dunia luar begitu kacau.
Ah, melarikan diri dari tanggung jawab.
"Menurutmu, mana yang lebih penting? Dejun atau bisnis kita?"
"Anak kita penting tapi bisnis kita tak kalah penting. Karena bisnis kita yang merosot, anak kita terpaksa bekerja mencari jajan sendiri."
Dejun langsung membuka pintu ketika mendengar ayah dan ibunya bertengkar lagi. Ia tahu, bisnis keluarga mereka akhir-akhir ini merosot dan satu-satunya cara ialah kerjasama bisnis. Namun, keluarga Wong tidak mudah diajak kerjasama kecuali dengan perjodohan. Ayahnya rela mengorbankan peluang bisnis demi dirinya. Lalu ada ibunya yang tidak ingin hidup sengsara dan berusaha menyelamatkannya.
Telinga Dejun panas maka ia langsung membuka pintu. "Bisakah kalian diam?"
Ekspresi kedua orang tuanya kaget dan berhenti berdebat.
"Dejun sayang, bagaimana kondisimu?" tanya si ibu melembutkan tutur katanya.
Si anak hanya melengkungkan kurvanya lalu bergumam tidak apa-apa. Ia melirik ayahnya yang juga menanyakan kenapa dirinya tidak keluar selama lima hari. Namun, Dejun hanya mengulas senyuman. Ia tak berniat menjawab. Kemudian ada kakaknya yang berdiri di sana juga tetapi mematung saja.
Dejun kemudian berkata, "Aku menerima perjodohannya." "Kau benar-benar tidak keberatan?"
Suara ayahnya bertanya dengan khawatir. Dejun mengangguk dan tersenyum lagi mencoba menenangkan si papa. Keputusannya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Tidak apa, toh, Hendery adalah temannya. Dia bisa menikahi pria itu ketika lulus nanti dan hanya menganggapnya sebagai teman serumah saja kan? Atau mungkin bisa saja ia jatuh cinta ke si Wong suatu saat nanti? Meski itu sedikit— entahlah.
Ya, intinya, Dejun sudah rela-rela saja dijodohkan.
Ibunya tampak senang karena perjodohan dijalankan maka bisnis akan tetap hidup. Si ayah tampak lega karena anaknya tidak keberatan. Kakaknya begitu pula ekspresi wajahnya. Semua menjadi lebih tentram sesudah Dejun mengatakannya. Tidak ada keributan atau apalah itu lagi. Seharian itu, barulah rasanya seperti imlek yang menyenangkan.
Mereka sekeluarga berjalan-jalan bersama dan menghabiskan waktu berkunjung ke kerabat yang lain. Lalu mengantar Dejun ke bandara untuk kembali ke Korea—walau anak itu ingin sekali tetap tinggal. Namun, sekolahnya di sana tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Ia akhirnya memeluk seluruh anggota keluarganya dan pergi. Tidak ada keributan lagi.
Ia kembali ke Korea dan hal yang pertama Dejun lakukan bukan masuk ke rumahnya. Ia justru berdiri di depan apartemen di samping rumahnya. Masih dengan koper dan jaket yang belum ia lepas. Ekspresi wajahnya gugup dan ia menekan bel. Menunggu dengan sepatu yang mengetuk lantai tak sabaran.
"Guanheng!" "Dejun?"
Si manis langsung tersenyum lebar. Ia benar-benar lega ketika melihat si model berdiri di hadapannya dengan seragam. Oh, ya, pasti baru saja pulang dari sekolah. Hampir saja tadi Dejun panik karena tidak dijawab. Ia mengira Hendery pindah — pulangkeMacaudantidakkembalilagi—
karena perjodohannya dibatalkan dan keluarga Wong membutuhkan penerus bisnis segera. Si Xiao mendengar hal seperti itu dari ayahnya.
Syukur hal itu tidak terjadi karena dirinya menerima perjodohan itu.
Dejun masih belum mau berpisah dengan Hendery. Ya, dia selama di pesawat merenung dan memutuskan untuk mulai menyukai pria itu. Seperti kata ibunya, mereka sudah mengenal satu sama lain dan tidak sulit menyesuaikan diri. Kalau dipikirkan, sebenarnya si model ini benar-benar tipe idealnya. Kenapa ia tak sadar dari dulu?
Ah, Dejun tinggal membuka hatinya sedikit dan semua akan lebih baik. "Aku pikir kau ke Macau."
"Kau baik-baik saja? Kenapa kau tidak menaruh kopermu dulu? Bagaimana perjalananmu tadi? Sudah makan?"
Dejun hanya tertawa ketika diserang banyak pertanyaan dari si model yang begitu khawatir. Tak seperti biasa, ia tak merasa terganggu atau apa. Ia justru senang jika seseorang mengkhawatirkan dirinya. Dalam sehari, ia mencoba membuka hati, rasanya sudah berbeda. Ia mulai menyadari banyak hal yang selalu ia abaikan termasuk betapa pedulinya Hendery —iatakpernahsadardulunya.
"Aku tidak apa. Aku hanya—" Hendery tersenyum, "Hanya apa?" "Rindu."
Dejun berujar dengan volume sekecil mungkin agar tak terdengar. Tapi Hendery tetap mendengar kata-katanya dan sedikit kaget tetapi sedetik kemudian tersenyum penuh kemenangan. Sekarang apa lagi? Si model justru memeluk tubuhnya tanpa ragu dan membuat si mungil hampir saja oleng jika tidak ditahan. Berbeda lagi dengan sebelumnya, si Xiao membiarkannya saja meski awalnya hendak menolak.
Hendery kan calon suaminya. Jadi, ia harus terbiasa.
Hendery berbisik di telinganya, "Aku juga merindukanmu." "Terima kasih sudah merindukanku."
"Aku hampir saja gila ketika kau mengurung dirimu di kamar berhari- hari. Aku hampir gila karena tidak mendengar suaramu dan tidak melihat wajahmu. Aku hampir gila karena kau menolak perjodohannya. Tanpamu, aku bisa gila."
Pria itu bernapas di ceruk leher Dejun dan menghirup aroma khas si manis. Pelukannya semakin erat dan enggan lepas. Si Xiao kini tahu
bagaimana rasanya menjadi si model. Sebab, sekarang ia bisa merasakan hangat di dadanya juga. Detakan menyenangkan yang sama dengan yang Hendery rasakan. Rasa menggelitik perut yang juga sama anehnya —asingtapimenyenangkan.
Sama seperti saat di balkon waktu itu, sebelum ibunya menghancurkan momen mereka.
Tapi ia masih agak ragu.
Benarkah ini namanya jatuh cinta?
"Hendery, lepaskan, aku belum menyimpan koperku."
TBC.
accept"Kenapa kau tiba-tiba menerimanya lagi?"
Hendery bertanya. Dejun hanya tersenyum kemudian untuk kesekian kalinya hari ini, ia sadar banyak hal. Si model itu ternyata suka sekali melemparkan pertanyaan. Mereka sekarang sedang duduk di apartemen si Wong. Si pemilik apartemen sudah berganti baju dan si Xiao juga sudah menyimpan koper di apartemen sebelah.
Dejun berpikir sebentar tentang pertanyaan itu.
Jika ia menjawab karena ia tak suka melihat orang tuanya bertengkar, Hendery mungkin akan tersinggung dan tidak enak hati. Jika ia menjawab karena dirinya mulai menyukai si Wong, pria itu juga mungkin tidak percaya —apalagiwaktuitusesudahditolakdibalkon.Dejun bingung harus menjawab apa. Tapi, ia pikir opsi kedua lebih memungkinkan.
"Aku pikir, aku mulai menyukai ini." "Tapi, waktu itu—"
Reaksi Hendery persis seperti perkiraannya Dejun.
"Aku merenung selama mendekam di kamarku. Aku merasa mungkin aku bisa membuka diriku dan menerima ini semua tanpa paksaan. Perjodohan ini juga tidak seburuk itu daripada aku dijodohkan dengan kakak ketigamu itu kan?"
Dejun tersenyum.
Hendery hanya mengangguk lalu bertanya lagi, "Bagaimana dengan jawabanmu?"
"Apanya?"
"Hak untuk cemburu. Jadi, kau mau memberikannya?"
Kali ini si pria asal Guangdong tertawa. Oh, astaga, ia ingat itu kata-kata di balkon sebelum orang tuanya menyela pembicaraan. Kata-katanya unik sehingga ia tak tahan untuk tidak tertawa. Dejun mengerti artinya Hendery mengajak dalam hubungan yang lebih serius sehingga rasa cemburu diperbolehkan. Waktu itu ia menjawab tidak tahu karena memang masih ragu. Tapi, sekarang ia sudah tahu jawabannya, tapi ia rasa tak perlu dijawab lagi.
"Menurutmu?" tanyanya.
"Jangan membuatku gugup, Xiaojun."
Ekspresi Hendery memang lucu juga—tampaksangatserius. Mata mereka tertaut seperti biasa, tapi Dejun tidak lagi menghindar. Sebab berbeda lagi, hari ini, ia merasa jika netra gelap itu sangat menarik atensinya. Ia kemudian menjelaskan, "Aku sudah bilang aku menerima perjodohan tanpa paksaan kan? Jadi, kalau kau mau cemburu terhadap diriku, silahkan karena kita juga sudah terikat perjodohan ini. Asal ada syarat."
"Syarat?"
Dejun mengangguk mantap, "Hm." "Apa itu? Aku bisa mencoba."
"Syaratnya, aku juga boleh cemburu jika kau dekat dengan orang lain dan buat aku jatuh padamu."
Keduanya terdiam. Dejun dalam hati merasa puas jika sudah berhasil memerangkap Hendery. Pria itu pasti sudah sangat gugup tadi karena mengira persyaratannya sangat sulit. Itu hal yang mudah, karena si Xiao sebenarnya tidak mudah cemburu. Membuat dirinya jatuh hati, itu sedikit sulit tapi si pria Guangdong sudah membuka diri dan itu lebih mudah ketimbang sebelumnya.
Lalu sekarang si model malah tergelak, "Tentu saja, Wong Dejun. Kau boleh cemburu sepuasnya, dan aku akan membuatmu jatuh hati kepadaku, silahkan tunggu sebentar saja."
"Wong katamu? Belum!"
Dejun tidak terima namanya diubah-ubah seperti itu. Hey, memang sekarang mereka mungkin sudah resmi punya hak cemburu satu sama lain. Namun, untuk mengubah nama, itu sudah level yang lebih tinggi lagi — pernikahan. Hendery akan menikah dengan dirinya sesudah lulus SMA itupun masih lama dan jika semua berjalan lancar tanpa masalah.
"Nanti juga jadi Wong."
"Nanti kau tidak bisa memanggilku Xiaojun lagi."
"Tetap bisa, kau kan mau diapakan juga tetap xiao (
)!"
Dejun hanya memutar bola mata malas jika sudah
"Kau sudah resmi dengan dia?"
menyangkut
tingginya.
Dejun hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan si pria tinggi yang duduk di sebelahnya. Memang sudah resmi dan sejak resmi itu, Hendery
dan si Xiao selalu berangkat sekolah bersama. Kali ini, tidak perlu sembunyi karena takut ada rumor — itukenyataan. Warga sekolah langsung gempar melihat keduanya turun dari mobil yang sama terang-terangan. Lucas juga ikut-ikutan heboh menyambutnya dan langsung merangkul pinggang teman baiknya itu.
Dejun hanya tertawa.
"Tolong, tanganmu," ucap Dejun memperingati dengan canda kecil.
Ya, kan, Hendery sudah punya hak cemburu. Dejun cukup tahu diri juga untuk menjaga dirinya sendiri. Ia sudah tahu bagaimana wujud si model jika cemburu, menjadi sangat pendiam dan sulit diajak bicara! Apalagi waktu itu, si Wong cemburunya karena teman baiknya, si Lucas ini.
Figur si model masih dapat ditangkap oleh matanya, berada di ujung lorong sana dan menatap ke arah mereka berdua —sepertimengawasi. Lucas sadar dan langsung melepas rangkulannya kemudian tergelak, "Ups, maaf, aku tidak sadar kau sudah punya orang."
"Kami resmi karena kau juga sih. Jadi, terima kasih."
Si Lucas langsung menyengir, "Ya, ya, sama-sama, tapi traktir ya nanti!"
Dejun hanya menyunggingkan senyuman kecil lalu memilih mempercepat langkahnya ke kelas. Hal pertama yang ia dapatkan ialah tatapan dari teman-temannya dan bisikan-bisikan itu lagi. Tapi, satu hal, rasanya berbeda dari yang kemarin dan ada sesuatu dibalik sorot netra siswa-siswi lainnya. Si Xiao tidak menyukai itu. Rasanya menakutkan.
Dejun menunduk kemudian berjalan ke mejanya. Namun, ia tak langsung duduk di sana. Langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sesuatu yang aneh. Ia mendekat dan melihat goresan-goresan benda tajam di atas mejanya. Kemudian juga tinta spidol permanen yang tidak dapat dihapus. Semua itu ditulis dengan huruf Hangul yang sangat tidak rapi.
Lucas ikut mengernyit.
"Xiao Dejun, ketua kesiswaan yang?"
Pria itu menyipitkan mata tampak kesulitan membaca tulisan abal-abal di meja Dejun. Namun, si pemilik meja bisa membacanya dengan jelas — sertapahammaksudnya. Ia hanya meringis. Maka si Xiao pun melanjutkan perkataan Lucas yang terputus, "Bodoh."
"Aku salah apa?"
Dejun menepuk jidat ketika Lucas berkata demikian dengan wajahnya yang kelihatan bengong. Padahal si Xiao hanya melanjutkan kata-katanya.
Akhirnya, ia menjelaskan, "Maksudku, bukan kau. Orang yang menulis ini. Dia mengatakan aku bodoh."
"Uhm, tapi kau mendapat juara satu paralel kemarin."
Dejun hanya tersenyum kemudian menepuk mejanya. Tangannya meraba goresan demi goresan serta tinta yang melekat di sana. Tulisannya masih mengkilat dan baru. Ia membaca tulisan-tulisan tidak jelas itu. Begitu banyak kata-kata kasar lainnya —danyangmenyakitihati. Ia pun akhirnya meletakkan tasnya dan duduk di kursinya. Ia lalu mendongak menatap Lucas yang masih berdiri dengan badan tingginya.
"Kau sudah sekolah sejak dua hari yang lalu kan? Apakah ini sudah ada sejak kemarin?" tanyanya.
"Sepertinya, sejak pulang sekolah kemarin, atau pagi ini." Dejun menghembuskan nafasnya dengan kesal.
Sialan, dia baru saja kembali dari Guangdong. Selama seminggu, ia tak masuk sekolah. Ketika masuk, langsung disambut tatapan sinis dan tulisan tidak beradab dari sesorang yang tidak diketahui. Padahal, Dejun punya reputasi yang sangat baik di sekolah sebagai ketua kesiswaan yang ramah dan murid yang teladan. Dia tak menyangka ada yang membencinya dan melakukan hal ini.
Pria yang menjual tubuh ke Hendery.
Itu satu kalimat di antaranya yang membuat Dejun berpikir bahwa semua ini karena gossipnya dengan Hendery. Karena, para penggemar berat si model pasti kecewa dan meneror dirinya. Ia ingat bagaimana ia bertengkar dengan Yangyang —salahsatupenggemarjuga— hanya karena gossip waktu itu. Bukan tidak mungkin, ada yang melakukan hal ekstrem selama dirinya tidak ada di tempat.
Dejun bisa gila memikirkan kemungkinan yang dapat terjadi. Jika sebelum kata 'resmi' saja sudah banyak coretan ini. Bagaimana dengan sekarang? Saat mereka sudah resmi begini, mungkin banyak hal yang lebih parah bisa terjadi. Si Xiao menjadi takut dan merasa sangat terhina. Di saat ia mulai menerima Hendery, orang lain ingin menghentikannya. Si manis mencoba tidak peduli. Ia hanya duduk mengeluarkan bukunya dan belajar saja seperti biasa.
Namun, jam istirahat, dan entah kenapa kericuhan terjadi.
Si manis sedang berada di ruang organisasi kesiswaan dan mengadakan rapat kecil dengan beberapa anggotanya membahas acara imlek bersama. Namun, itu terganggu ketika seseorang mengetuk pintu ruang dengan
barbar. Lalu ada teriakan-teriakan heboh. Dejun dan anggota lain memperhatikan pusat kehebohan yang terletak di kantin sana—sebagaianggotaorganisasiyangbaikinginikutmelihatapayangterjadi.
Dejun berjalan menembus kerumunan bersama anggota lainnya. Ia awalnya mendengar suara teriakan dan menerka jika ini adalah pertengkaran. Ia juga melihat orang-orang lain bersorak dan beberapa orang mencoba melerai. Kemudian ia malah melongo melihat siapa yang ada di sana.
"Apa yang kau lakukan, Hendery!?"
TBCbolos
"Kau gila?" tanya Dejun tapi ia tak mengharapkan adanya balasan.
Ya, Hendery memang gila. Dia berada di tengah kerumunan orang kantin dan menampar seorang perempuan. Lalu malah berujung berkelahi dengan pacar si siswi itu. Si Xiao yang baru datang saking kagetnya langsung berteriak dengan bahasa Korea ke si Wong. Alhasil kegiatan semua orang langsung terhenti. Akhirnya, ketiga pelaku utama dibawa ke kantor guru untuk diadili.
Hendery berakhir mendapat skorsing seminggu atau tujuh hari. Si perempuan skorsing tiga hari.
Kekasih si perempuan mendapat seminggu juga.
Si mungil tidak tahu pasti apa yang terjadi di antara ketiga pelaku. Ia hanya bertugas menyeret ketiganya ke dalam kantor lalu sisanya guru yang mengurus. Sampai jam istirahat berakhir, ia tidak masuk ke kelasnya - begitupuladenganHendery.Dejun memutuskan untuk membantu si model mengobati luka akibat bertengkar tadi. Keduanya di UKS sekarang. Memang ia tak suka ketinggalan pelajaran, tapi ia ingin belajar menjadi kekasih yang baik juga.
Iya, Dejun pada dasarnya malu mengakuinya, tapi itu kenyataan kan? Mereka sudah sepasang kekasih.
"Lucas berkata seseorang menuliskan kata-kata tidak menyenangkan di mejamu."
"Lalu?"
"Orang itu yang menulisnya."
Dejun menghela napas. Sudah ia duga ada hubungannya dengan masalah itu. Ia merasa semakin tidak enak hati dengan Hendery karena secara tidak langsung, ia membuat si model terluka begini. Juga si perempuan itu ditampar sekali oleh si Wong dan sisanya adalah pertengkaran antara pacar si perempuan dan pacar si Xiao. Kedua pria berakhir terluka juga sih dan si gadis pipinya memerah lalu menangis histeris.
Ia sengaja menekan luka memar di dahi Hendery hingga pria itu meringis. Ah, ya, Dejun jadi ingat ketika ia terluka akibat kuah ramen yang
panas. Si model juga melakukan hal yang sama ke dirinya yaitu menekan luka hingga rasanya sakit sekali. Sekarang saatnya ia balas dendam. Si Xiao lalu hanya tersenyum dan mencoba menasehati si Wong.
Bahwa, dirinya tak perlu dibela.
Bahwa, Hendery tidak perlu melukai orang lain demi dirinya. "Kau memukuli seorang wanita."
"Ini bukan masalah jenis kelamin, Xiaojun-ku. Ini masalah bagaimana dia bersikap terlepas dari gendernya. Dia juga merusak fasilitas sekolah. Kau sebagai ketua organisasi hanya akan diam melihatnya?" tanya Hendery.
Dejun bergeming sebentar karena tidak bisa menjawab, "Aku-"
"Xiaojun, tolong jangan khawatir. Jangan memutuskan hubungan kita yang baru dimulai hanya karena ini. Seohwa hanya iri dan mencoba menghalangi kita. Dia menyebutmu bodoh tapi dia lah yang bodoh karena melakukan hal tersebut secara diam-diam," ia menarik napas sekilas lalu melanjutkan perkataannya, "Seorang pengecut."
"Aku tidak apa tapi lihat, kau sampai terluka."
Dejun menempelkan plester di pipi Hendery. Pria itu terluka juga di sana sampai berdarah akibat tergores cincin milik si lawan. Dalam hati, si Xiao benar-benar khawatir -danmerasabersalah-dengan wajah tampan yang bonyok itu. Si Wong hanya meringis lagi dan tersenyum tanpa beban, "Aku kan sudah punya hak cemburu."
"Kau tidak punya hak menampar gadis itu dan berkelahi dengan pacarnya."
"Aku cemburu padanya karena ia pasti berada di pikiranmu sepanjang hari."
Hendery menahan tangan si Xiao lalu menatap netra indah itu sambil melengkungkan kurvanya ke atas. Si manis hanya terdiam. Oh,ayolah,itugaring.Ia sungguh tidak tahan untuk tidak tertawa jika si Wong sudah mengeluarkan kata-kata seperti itu. Benar-benar cheesy. Keduanya akhirnya tertawa terpingkal-pingkal juga karena situasi yang hening sejenak penuh kecanggungan.
Ruang UKS begitu ramai hanya karena dua makhluk itu.
Sesudah semua luka Hendery diobati, Dejun malah diajak bolos untuk pertama kalinya. Dan anehnya, ia mau-mau saja padahal sangat beresiko apalagi ia populer sebagai murid teladan. Jika ketahuan maka benar-benar bisa merusak citra baiknya dan akan semakin banyak yang tidak
menyukainya. Awalnya, ia menolak, tapi si model mengatakan bahwa keamanan mereka terjamin.
Seperti kisah klise pada umumnya, Hendery menyeret Dejun ke atap sekolah.
"Kau sering bolos?"
Hendery hanya mengangguk, "Tidak terlalu sering, mungkin sebulan sekali ketika ada pemeriksaan kedisiplinan."
"Pantas."
"Aku mau saja tapi yang mengecek anak buahmu. Kau hanya mengawasi."
Dejun tersenyum kecil lalu berdecih.
Pantas, wajah si Wong tidak pernah tampak setiap kali organisasi kesiswaan melakukan pengecekan rutin. Pantas pula Dejun tidak terlalu mengenalnya. Pemeriksaan itu dilakukan tiap akhir bulan dan yang tidak memenuhi standar akan mendapat nilai sikap yang kurang. Semakin tidak lengkap, semakin terancam nasibmu di sekolah. Bisa-bisa tidak naik kelas - atauterkenaskorsingringankalaukauuntung.
Dejun selaku ketua mengawasi semua pengecekannya. Tentu, ia sadar, ada beberapa murid yang sungguh invisibledan kebal terhadap razia. Mereka akan ditindaklanjuti esok harinya. Namun, tetap saja, murid-murid ini kabur lagi. Pada akhirnya, guru dan organisasi kesiswaan menyerah saja. Sebagai ganti, mereka dianggap absen seharian.
Hendery berdiri menyandarkan punggungnya ke pagar kawat pembatas. Dejun duduk di lantai bawah. Ia lelah sesudah menaiki tangga menuju ke atap -lima lantai dan itu tidak sedikit. Ia menatap si model dan bertanya, "Jadi, apa yang akan kita lakukan di sini?"
"Mengobrol."
Dejun langsung bertanya, "Oh, ya, bagaimana bisa tadi kau tahu gadis itu yang melakukannya?"
Hendery mendudukan dirinya di lantai pula.
"Aku melihatnya kemarin. Ia mendatangi mejamu dan tampak memegang spidol serta penggaris. Aku bertanya kepadanya dan dia hanya berkata bahwa dia menjatuhkan barangnya di dekat mejamu. Aku lalu pergi saja."
Si Xiao masih heran.
Kenapa gadis itu melakukan hal seperti itu ke dirinya? Si siswi sudah punya kekasih, jadi alasan cemburu dan iri sebagai seorang penggemar itu
tidak masuk akal. Lalu, Hendery sendiri, mengasumsikan jika gadis itu yang melakukannya. Bagaimana jika salah orang? Dejun tak habis pikir - Henderyberakalpendeksekali.
"Lalu, kau menghajarnya di kantin begitu saja?"
"Dia menghampiriku lalu mengatakan sesuatu yang menyebalkan di kantin. Aku sangat geram hingga tanganku refleks sendiri bergerak menampar wajahnya yang penuh foundationitu," gerutu Hendery.
Jadi, memang gadis itu yang cari masalah terlebih dulu. "Aku bertanya lagi, bagaimana bisa perjodohan ini terjadi?"
Hendery menatap Dejun lalu mengangkat bahu, "Ayahku menyeretku ke masalah ini."
Dejun mengangguk lagi. Hendery sepertinya memang tidak tahu apa-apa soal bagaimana mereka berakhir berdua. Mereka berdua intinya, sama-aama terjebak oleh keinginan orang tua mereka. Si Xiao menghela napas lalu menatap langit yang biru tanpa awan di atas kepala mereka. Si Wong ikut memandang ke arah yang sama.
Sepersekian detik ia melamun.
Hingga ia disadarkan oleh suara deheman. Dejun menoleh, "Apa?"
"Jika ada orang yang menganggumu, jangan diam saja. Jangan seperti tadi lagi."
Hendery tersenyum dan pertahanan si Xiao begitu mudah runtuh. Mau tak mau, bibirnya ikut melengkung cerah ke atas. Ia mengangguk kecil lalu agak terkejut ketika tangannya tiba-tiba berada di genggaman si model. Dejun menarik kembali tangannya lalu melempar tatapan kesal.
Si model hanya menggaruk tengkuknya, "Aku kan sudah punya hak." "Terserah kau saja."
"Aku sudah meminta meja baru."
Dejun mengerutkan keningnya, "Meja baru untuk apa?"
"Untukmu, tentu saja, Xiao Dejun. Duduk dan belajar dengan meja penuh coret-coret itu tidak berkesan. Sangat membuat tidak fokus apalagi tulisannya yang jelek seperti itu. Guru sudah mempertimbangkan untuk membeli meja baru."
Hendery mencubit lengan si Xiao dengan gemas mungkin karena kelambatan berpikir Dejun di saat-saat seperti ini - terutamaekspresibengongnya. Si manis hanya meringis lalu menggeser tubuhnya menjauh dari si model. Tidak ingin dekat-dekat lagi. Ia juga menggembungkan
pipinya dengan gemas. Membuat si Wong cekikikan. Sedangkan ia membuang mukanya karena kesal.
"Aku tidak butuh perlindunganmu, Guanheng."
"Kau memang tidak butuh, tapi aku akan tetap melindungimu." Dejun melipat tangannya di depan dada, "Hah, kata manis lagi."
"Kau sendiri yang bilang kemarin, syaratnya adalah aku harus membuatmu jatuh hati. Ini caraku, dan aku tahu, kau suka kan? Atau aku harus lebih agresif? Langsung menciummu di sini? Tidak ada yang melihat juga!"
Dejun hanya terkekeh mendengar jawaban itu. Hendery mengoceh dan mengancam akan menciumnya bahkan bergerak mendekat. Tapi, si Xiao langsung berdiri dan mendorong tubuh si model dengan senyum lebar. Ia berlari ke ujung atap sekolah menjauhi si Wong yang terduduk di ujung satunya lagi. Kemudian ia mengepalkan tangannya dan mengangkatnya.
"Belum terlalu berhasil, Hendery. Coba lagi, semangat!"
TBC.
mejaOmong-omong soal meja, Hendery tidak berbohong.
Dejun datang ke sekolah pagi-pagi esoknya dan sudah mendapat meja baru yang bersih lagi. Kepala sekolah hanya berpesan kepadanya untuk menjaga fasilitas sekolah dengan baik dan melapor jika ada yang merusaknya. Setelah pesan itu, ia justru lebih was-was jika ada orang lain yang berniat merusak mejanya.
Sebab, gadis itu hanya di skors tiga hari!
Dan ia tahu, gadis itu anggota cheerleadergila itu. Mereka punya geng yang semuanya adalah penggemar Hendery serta supermodelterkenal lainnya. Dejun tidak takut sebenarnya dan tidak terlalu peduli dengan kalimat-kalimat tidak beradab itu —padadasarnyasemuaitutidakada yangbenar.Ia tidak sakit hati, ia hanya khawatir jika mereka merusak sarana prasarana di sekolah lagi.
"Hendery sungguh mau dengan dirimu?" Dejun menggerang malas.
Oh, demi Tuhan.
Ia tidak suka jika sudah harus muncul dihadapannya dan menghalangi jalannya. Tidak ada si Seohwa itu, tetapi empat orang temannya yang sama gila juga. Salah satu di antaranya adalah orang berwajah Eropa dan kalau tidak salah, anakkepalasekolah.Si Xiao hanya melangkah menjauh dan mencoba tidak mempedulikan para perempuan itu. Tetapi, mereka terus mengejarnya seperti dirinya adalah seorang bintang terkenal.
"Apa mau kalian?"
"Hendery benar-benar punya selera rendahan," ujar salah satu dari mereka.
Yang lain mengangguk lalu bersahut, "Kau memakai sihir apa untuk membuat Hendery berbelok begitu? Cantik tidak, terkenal tidak, kaya tidak, kolot dan hanya modal pintar saja! Ketua organisasi? Ketua klub forografi? Heh, jabatannya saja yang banyak, tapi semua tidak berguna. Apakah kau benar-benar menjual tubuhmu?"
Dejun berdecih.
Ia benar-benar kesal dengan kebodohan yang ada di hadapannya. Sekitar satu atau dua di antaranya adalah kakak kelas yang seharusnya fokus ke ujian, tetapi malah mengurusi urusan orang. Kemudian mulutnya juga sangat tidak bisa dikontrol. Si Xiao merasa ingin tertawa ketika mendengar kata menjualtubuh. Karena hey mereka tidak tahu fakta —pihakyangmengejardanberjuangituHendery,bukandirinya!
"Jaga bicaramu, Nona."
Dejun sejujurnya merasa sedikit menang karena dia sekarang tampak sedikit lebih tinggi dibanding para gadis ini. Tetapi mereka menang jumlah dan malah mengelilingi si Xiao. Sejujurnya, si manis mengharapkan Hendery tiba-tiba datang dan menghajar mereka semua lagi seperti yang dilakukan ke Seohwa biar kapok, tapi si model sedang diskors — iajugataksekejamitumenyuruhnyaberkelahi.
Siswi-siswi itu hanya tertawa cekikikan mendengar ucapan tegas si Xiao. Memang, ia sudah sering berbicara dengan tegas karena ia ketua organisasi kesiswaan dan klub fotografi juga. Ia sudah sering dipercaya dan diberikantanggungjawab. Dejun sudah biasa menghadapi siswa maupun siswi yang tidak mau mendengar kata-katanya. Ia hanya mengembuskan napas dengan berat.
"WeareatschoolandIhaveauthoritytodragyoutobepunished," ancam Dejun.
Ia langsung berjalan maju dan menabrak bahu si satu yang merupakan anak kepala sekolah tanpa disengaja —iasendiriyangmenghalangi. Kemudian sungguh dramatis, disenggol sedikit sudah oleng dan menjerit. Alhasil, itu menarik perhatian murid lainnya yang ada di lorong. Siswi yang terjatuh itu terduduk di lantai dan mulai playingvictim.Gadis-gadis ini dari klub cheerleadertetapi seolah dari klub drama!
Si Xiao hanya berjalan pergi saja.
Namun, kali ini yang menghadangnya adalah seorang siswa lain.
Dejun mengenalnya. Seorang siswa yang merupakan salah satu anggota klub fotografinya. Memang, si Xiao jarang aktif di klubnya sendiri meski ia dipilih menjadi ketua, kebanyakan masalah diurus wakilnya yaitu Yangyang
—tetapiiatahusiapasajaanggotanya. Yang ini, seorang adik kelas bernama Lee Jeno. Oh, kalau tidak salah juga pacarnya adik kelas terkenal itu, si Jaemin? Namun, si manis tidak peduli, ia hanya berdecak kesal lagi.
Mau kembali ke kelas saja susah!
"Dejun-sunbaenim, kau menabrak seorang gadis, tidakkah berniat minta maaf?"
"Bisa minggir sebentar, Jeno?"
Pria itu hanya menampilkan matanya yang berbentuk bulan sabit disertai senyum kecil. Dejun kemudian melangkah menjauh mengabaikan Jeno tetapi anak itu pantang menyerah. Justru terus menghalanginya lagi dan berkata, "Minta maaflah, sunbaenim. Dua patah kata bukan hal yang sulit."
"Aku ingin kembali ke kelasku dan kau bisa kembali ke kelasmu," ucap Dejun.
"Tapi—"
"Hey, I'mgoingtotellmyfather!"
"Jadi, kau kena skorsing juga?" tanya Yangyang.
Pemuda satunya lagi hanya mengangguk saja dengan pasrah. Hari ini, moodnya benar-benar rusak. Xiao Dejun, si siswa teladan dan sempurna di sekolah, untuk pertama kalinya membuat catatan buruk dan mendapat skorsing tiga hari —karenaboloskemarindankejadianpagitadi. Ia sudah benar-benar tidak peduli dengan reputasinya. Mungkin sekarang para gadis tukang gossip di sekolah sedang membicarakan dirinya di sosial media.
Hancur sudah.
Ia kemudian hanya mendudukkan dirinya di kasir. Sementara Yangyang di senelahnya dengan santai mengerjakan tugas sekolahnya. Seperti biasa, cafecukup sepi, hanya ada sekelompok anak kuliahan yang berkumpul di sana dan itupun sudah dilayani. Ten sedang kuliah sore dan tidak mengawasi kedua karyawannya. Lucas dan Hendery berdiri di dekat meja. Ya, mereka diseret Dejun untuk sesi curhat.
Sebenarya Lucas saja yang diajak, tapi Hendery ikut-ikutan. "Coba tadi aku ada di sana, biar kuhajar itu Jeno."
Lucas berucap dengan bahasa Mandarin lalu berdiri dengan ekspresi kesal dan siap menggulung lengan pakaiannya. Tak lupa, menyibak rambutnya dan bertingkah seperti ia kepala tukang pukul. Dengan badan yang tinggi itu, tampangnya cukup meyakinkan seperti preman. Tetapi, tiga orang lainnya menahan malu dan menyuruhnya tenang.
Akhirnya, Lucas merapikan kembali lengan bajunya dan nyengir, "Aku hanya kesal."
"Tapi, kupikir Jeno tidak sepenuhnya salah."
Dejun mengangguk mendengar pendapat Yangyang. Memang, adik kelasnya itu sebenarnya tidak bersalah. Kemungkinan besar Jeno hanya salah satu dari sekian murid yang lewat di lorong kemudian menyaksikan bagaimana si anak kepala sekolah terjatuh —lalumengirasiXiaosengajamelakukannya. Intinya, ini hanya kesalahpahaman saja.
Semua kembali lagi ke geng cheerleader. Ini semua salah mereka.
"Sepertinya aku benar-benar harus menghajar mereka semua." Kali ini, Hendery yang bertingkah seperti preman.
Lagi-lagi Dejun menepuk jidatnya, "Hentikan itu. Mereka penggemarmu. Bisa-bisa kau kehilangan reputasimu karena tingkah seperti itu terus. Untung saja kasus kemarin diselesaikan dengan baik dan Seohwa tidak banyak biacar. Jika tidak, bisa-bisa kau kehilangan pekerjaanmu sebagai publicfigure."
"Aku tidak apa, papa mamaku punya bisnis restoran dan aku bisa meneruskannya."
Dejun hanya memasang wajah tidak berkesan dan menatap Hendery dengan tidak suka. Mana bisa si Wong berujar seenteng itu. Padahal untuk masuk ke industri model itu sungguh sulit apalagi sampai naik daun begitu. Dan juga mengandalkan usaha orang tua bukanlah hal yang bagus. Harusnya Guanheng bisa sedikit menjaga imagenya itu.
Dejun akhirnya memilih tidak banyak bicara.
"Tunggu, kalian benar-benar berpacaran?" tanya Yang yang. Hendery dan Dejun saling bertatapan lalu mengangguk, "Ya?" "Wait, kupikir itu masih rumor?"
Tiga pria lainnya saling bertatapan kemudian tergelak. Yangyang benar- benar memasang wajah yang polos bertanya seperti itu. Hendery hanya menepuk-nepuk tangannya dengan senang karena merasa itu lucu. Dejun hanya tersenyum tipis. Lalu lain lagi dengan Lucas, ia memukul-mukul si Liu sambil tertawa.
"Ayolah, kalau itu rumor kenapa Hendery sampai menghajar si Seohwa?" ujar Lucas.
"Dejun, kau—"
Ekspresi si Yangyang mengeras lalu menyipitkan matanya. Dejun langsung memasang wajah bingung dan terkerut. Apakah si Liu marah pada dirinya lagi? Si Xiao agak terkejut dengan ekspresi itu. Padahal ia pikir adik tingkatnya itu mendukung mereka berdua apalagi semenjak mereka
melakukan bisnis bersama —bisnisdimanaHenderymenjadimode,Dejunfotograferdan Yangyangmanagernya.
Hendery dan Lucas sendiri terdiam.
"Selamat! Kalian harus melakukan photoshootuntuk merayakannya! Biar aku yang fotokan sesekali. Hasil fotonya akan kujual ke teman- temanku. Kita harus menggunakan kesempatan ini. Bisnis kita akan semakin luas!"
Dejun tetap kebingungan, "Eh? Memangnya ada yang mau foto yang ada diriku?"
"Banyak!" seru Yangyang.
Hendery tersenyum, "Dia benar, sebenarnya banyak yang mendukung kita. Pasti mereka akan suka dengan foto kita dan membelinya. Lain kali, lebih baik fokus saja ke mereka yang supportif dibanding mereka yang tidak mendukung. Ada baiknya berfoto mengisi acara skorsingkita!"
"Kenapa kau malah seperti senang aku diskorsing juga?" "Karena kita bisa lebih banyak waktu berdua!"
TBC.
emosi"Senyum! Berpose yang mesra sedikit!"
Netra Dejun tertaut dengan milik Hendery kemudian ia hanya tersenyum kecil. Sementara, di sisi sana, Yangyang sibuk menjepret foto mereka dengan kamera miliknya. Keempat orang yang kemarin berkumpul di cafeitu sepakat untuk diam-diam menggunakan ruang klub untuk photoshoot mereka. Meski, sebenarnya yang terkena skorsing tidak boleh menggunakan fasilitas sekolah.
Namun, terima kasih Lucas yang pandai mengalihkan perhatian. "Astaga, astaga, mataku."
Dejun hanya tertawa mendengar seruan Lucas ketika melihat Hendery merangkul dirinya. Sebenarnya si Xiao juga sedikit merinding juga. Rasanya menggelikan, aneh, dan deg-degan bercampur menjadi satu. Bisa dibilang rasanya lebih dominan ke arah malu difoto bersama dengan kekasihnya sendiri. Apalagi melihat si model berpakaian secara tak biasa memakai atasan sleeveless menampilkan lengannya —lebihmenawan dibandingbiasanya.
Hendery sendiri tampak menikmati setiap pose mereka.
Bahkan, Hendery semakin bebas dengan pemotretan begini. Tangan si Wong menyentuh tangannya atau melingkar di pinggangnya. Bahkan tak ragu, mencium dirinya di pipi. Dejun benar-benar tidak bisa bereaksi banyak karena ini pertama kalinya ia ikut dalam photoshoot. Ia hanya tersenyum dan kadang memalingkan wajahnya yang memerah. Apalagi saat memasang pose-pose mesra —yangsebenarnyaiatahupastilebihmenjualdikalanganpembeli.
Rasanya aneh saja!
Makin aneh, karena Yangyang tampak sangat puas dengan foto mereka. "Dejun benar-benar tampak natural!"
Yangyang menghentikan aksi foto dan menelaah hasil foto mereka. Hendery dan Dejun mendekati pria itu kemudian melirik hasil-hasilnya. Si Xiao dapat melihat beberapa foto mereka yang memang sebenarnya bagus apalagi ketika dirinya memasang ekspresi malu. Padahal ia sudah pesimis
dan merasa jelek. Namun, ia bersyukur tidak seburuk itu juga. Ia tersenyum pada si model dan berkata, "Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk pertama kalinya, aku tidak kaku ketika difoto." "Ehem."
Lucas terbatuk. Dejun dan Hendery langsung menoleh ke sudut ruangan dan menemukan pria berbadan tinggi itu dengan ekspresi aneh. Lalu dengan suara berat berkata, "Maaf, silahkan dilanjut." Seperti biasa, semua ornag di sana langsung tertawa karena setiap tingkah si pria Hongkong.
"Baiklah, terima kasih pemotretannya! Nanti aku print dan kujual ke teman-teman dengan harga double karena isinya dua orang. Kalian mau juga? Gratis tenang saja."
Dejun berpikir sebentar kemudian mengangguk, "Cetak yang menurutmu paling bagus saja."
"Baiklah. Sekarang kalian harus menyelundup keluar!"
Jadi, bagaimana masalah ini berakhir?
Dejun sendiri tidak tahu bagaimana semuanya menjadi lebih tenang. Ia masuk sekolah lebih dulu karena masa skorsingnya hanya tiga hari. Ketika ia masuk, ia merasa gugup dan takut terjerat kasus lagi. Namun, siapa sangka, Seohwa dan gengnya malah meminta maaf. Kemudian mereka malah mendekatinya tanpa alasan.
Dejun awalnya berpikir memang mereka sudah sadar.
Sampai Hendery mulai masuk sekolah pun, semua berjalan baik-baik saja. Tidak ada yang salah dan semua terasa lancar. Murid-murid yang lain juga tidak menggosipkan mereka lagi. Yang ada, malah keduanya mendapatkan banyak penggemar. Alhasil, bisnis mereka dengan Yangyang menjadi laris manis. Dejun juga lebih sering berduaan dengan si model di sekolah tanpa takut lagi.
Dan Dejun pikir, ia mulai mencintai Hendery?
Ah, entahlah, hubungan mereka baru berjalan dua minggu. Namun, Hendery benar-benar memperlakukan dirinya dengan baik. Satu hal yang pasti, keduanya menjadi sangat dekat dan sering menempeli satu sama lain. Dejun sampai pada tahap merasa sering jantungan di dekat si Wong. Sepertinya, ia benar-benar suka dengan pria itu.
Sampai—
"Dejun, berbicaralah."
Si manis kebingungan ketika Hendery tiba-tiba menghampirinya di kelas ketika jam istirahat pertama. Pria itu berdiri di hadapannya dengan wajah datar. Si Xiao memiringkan kepalanya dan menatap si Wong. Tidak biasanya, si pria itu menjadi begitu diam —padahaltadipagimerekabaik-baiksaja. Dejun jelas mengetahui pasti ada yang salah. Tiba-tiba datang memintanya berbicara?
Oh, cemburu lagi?
Akhirnya, ia tersenyum dan berkata lembut, "Apa ada yang salah?" "Jelaskan."
Nada bicaranya dingin, Hendery melempar tepat beberapa lembar kertas foto di hadapannya. Dejun menyipitkan mata dan langsung mengernyit melihatnya dengan kebingungan. Ia tiba-tiba teringat akan pemotretan mereka beberapa hari yang lalu bersama Yangyang. Oh, foto mereka yang waktu itu kah?
Hendery menunjuk salah satu foto, "Apa yang kau lakukan di situ?"
Mata Dejun mendapati foto dirinya dengan hoodiedi depan sebuah tempat yang terdapat plat nama bercahaya keunguan di tengah kegelapan. Kemudian beberapa foto lain dirinya di keramaian. Tak lupa, foto dimana anglemembuat dirinya tampak mencium orang lain! Ia membulatkan matanya kemudian menatap Hendery dengan kaget, "Darimana kau mendapatkannya?"
Hendery menghardik, "Jelaskan lebih dulu!" Dejun menghela napas.
Pasti ada kesalahpahaman di sini. "Aku hanya menjemput seseorang."
Ya, memang Dejun hanya menjemput seseorang di klub malam. Dirinya bukan pria yang suka keluar malam dan pergi berfoya-foya. Malam di foto itu, adalah saat Ten mabuk dan ia diminta mengantarnya pulang. Mau tak mau, ia hanya mampir sebentar ke sana. Lalu sialnya, beberapa pria mabuk menariknya dan Si Xiao juga tidak sadar ada orang yang memfotonya secara diam-diam seperti itu —dengansudutkamerayangtidakbagus.
Hendery pasti salah paham dan berpikir tidak-tidak. "Jangan berbohong."
Pria itu tampak marah dan Dejun hanya bisa menggeleng. Ia benar-benar tidak berbohong. Hendery sepertinya sangat tidak percaya dengan apa yang ia katakan. Dari mana pun asalnya, yang jelas, orang itu cukup untuk
membuat kepercayaan si Wong kepada kekasihnya sendiri menurun. Jujur, si Xiao menjadi bingung dan khawatir.
Sekaligus kesal.
Belum lagi, sekarang Hendery menyeretnya paksa keluar dari kelas menuju ke atap —dimanahanyaadamerekaberduadisana. Pria itu mengajaknya berbicara empat mata saja. Dejun tentu saja merasa sangat sebal dengan sikap pria itu yang begitu semena-mena. Baik si Wong maupun si Xiao sekarang tampak berada dalam mode emosi.
"Sekarang hanya ada kita berdua—" Hendery terdiam sebentar lalu mengambil napas. Ia berucap dengan nada tenang meski kentara terdapat sedikit emosi dan penekanan di dalam tiap katanya, "Silahkan jelaskan padaku, jujur, apa yang kau lakukan di sana, Xiaojun? Aku tidak akan marah."
Dejun mendengus kesal, "Aku sudah bilang bahwa aku hanya menjemput seseorang."
Ia mengepalkan tangannya dengan geram karena bagaimana pun ditekan terus oleh kekasihnya sendiri bukanlah hal yang menyenangkan. Hendery tampak memasang raut tidak suka dan mendorong kecil Dejun hingga tubuh mungil itu bertabrakan dengan pagar pembatas dari kawat. Si Xiao meringis lalu hendak kabur saja tetapi ia sudah dikurung oleh dua lengan milik si Wong.
Jarak wajah mereka dekat dan Dejun dapat mendengar deru napas berat si model. Ia sendiri benar-benar tidak bisa bergerak sekarang. Jantungnya terpacu karena ini pertama kalinya ia melihat Hendery menggunakan kekerasan. Ia tak mengerti apa yang membuat si Wong menjadi seperti ini
—kehilangan akal— dan begitu marah.
Jujur, Dejun takut. Nyalinya menciut.
"Aku tidak suka seorang pembohong."
"Kenapa kau tidak percaya kepadaku?" gumam Dejun.
"Aku percaya padamu, selalu. Hanya saja, foto itu berkata lain."
Dejun membuang wajahnya. Ia tak suka melihat Hendery yang tidak bisa mempercayai kata-katanya. Si model itu tampak begitu mengintimidasi dan jantung si Xiao tidak bisa tenang jika ditatap seperti itu. Siapapun yang memotretnya, terkutuklah! Ia sungguh merasa ingin menangis karena terjebak di situasi kesalahpahaman seperti ini.
Padahal, hubungan mereka berdua baru saja berangsur membaik.
"Menurutmu apa yang kulakukan?" tanya Dejun.
"Kurasa, aku tidak perlu menjawabnya? Kita berdua tahu apa yang orang lakukan di klub malam! Jujur saja, aku kecewa padamu, Xiaojun. Aku sudah berusaha mendapatkan hatimu, sudah berusaha membuatmu suka padaku, tapi yang kau lakukan adalah bermain-main."
Dejun lalu berdecih.
Kali ini, ia yang kecewa mendengar bagaimana Hendery tidak bisa mempercayai dirinya. Ia menatap pria itu lalu segera menepis tangan pria itu dan lepas dari kukungannya. Ia berlari ke arah pintu dan menatap si model dengan emosi, "Sudahlah, kita akhiri saja!"
TBCcinta?
Dejun benar-benar kacau karena pertengkaran itu.
Ia benci Hendery.
Di saat ia mulai menyukai pria itu. Di saat ia mulai membuka hatinya.
Semua malah jadi begini. Hendery tidak bisa mempercayai dirinya dan itu menyakiti hati kecil Dejun. Ia pikir semua akan baik-baik saja jika ia menerima perjodohan ini dan mungkin ia bisa perlahan mencintai si model. Si Xiao pikir si Wong mencintai dirinya. Namun, pada akhirnya yang ia dapatkan adalah pengkhianatan. Jadi, daripada sakit hati dan dilanjutkan, lebih baik diakhiri saja kan?
"Sudahlah, jangan menangis lagi!"
Itu kata suara otaknya yang logis. Namun, rasa sakitnya tidak bisa dihilangkan begitu saja dan menangis membuat perasaan Dejun lebih lega. Ia bukan tipe cengeng tapi kali ini ia benar-benar bingung, kenapa sepulang sekolah ia menangisi orang lain seperti ini —sampaitidakpergibekerja. Air matanya jatuh begitu saja dan ia memendamkan wajahnya ke bantal.
Ah, tapi—
perjodohannya bagaimana?
Ayah dan ibu mereka juga tidak tahu jika mereka bertengkar. Dejun juga sudah bilang ia akan menerima perjodohannya, begitu pula dengan Hendery. Lalu belum sebulan, baru dua minggu, kini mereka sudah bertengkar dan terpecah begini. Membuat si Xiao berpikir apa yang akan terjadi kalau mereka benar-benar menikah di masa depan. Jadi, haruskah ia membatalkan perjodohannya?
Namun, ia kembali teringat ayah dan ibunya yang bertengkar.
Pada akhirnya, ia bungkam. Dejun memiliki konflik batin dengan dirinya sendiri antara ingin menerima atau membatalkan perjodohan. Si murid teladan untuk pertama kalinya terlihat berantakan ke sekolah dan semua orang bertanya kenapa. Hingga akhirnya mereka menemukan kejanggalan. Bahwa, ternyata Hendery juga tampil sama kacaunya. Jadi, mereka menarik kesimpulan jika kedua orang itu dalam pertengkaran.
Sekolah sempat gempar kenapa pasangan yang lagi dalam masa bermesraan itu terlibat perang dingin. Tidak ada yang berbicara dengan satu sama lain —meliriksatusamalainjugatidak. Bisnis Yangyang jadi merosot karena dua pelaku utamanya menolak bekerja sama. Lalu banyak gossip mulai bertebaran tentang bagaimana berakhirnya hubungan mereka.
"Perjodohan mereka dibatalkan?"
"Bukan, kurasa, Hendery memutuskan hubungan mereka hanya untuk mempermainkan Dejun."
"Salah, kupikir Dejun yang memutuskannya karena Hendery terlalu populer dan ia tak tahan."
"Hm, mungkin ada pihak ketiga?" "Ha? Hendery selingkuh?"
"Bisa saja Dejun yang selingkuh."
Telinga Dejun benar-benar panas ketika melewati lorong sekolah. Ia dihadiahi begitu banyak pasang mata yang menatap aneh dirinya. Kakinya melangkah ke kelas dengan terburu-buru. Ia langsung melempar tasnya ke atas meja lalu menjadikan tas itu sebagai tumpuan untuk ia tidur. Si Xiao benar-benar mengantuk karena ia menangis lagi semalaman. Sudah hari ke- tiga.
Ternyata begini rasanya susah moveon.
Entah kenapa, Dejun jadi menyesal memutuskan hubungan mereka, padahal masalah kecil itu bisa dibicarakan baik-baik. Eh, tapi Hendery sendiri yang tidak mau mempercayai dirinya. Entah darimana ia mendapat foto itu —tunggu. Apakah dari Seohwa dan teman-temannya itu? Ya, bisa saja sih mengingat bagaimana mereka nekat mencoret mejanya berapa minggu yang lalu.
"Dejun! Kau sudah dua hari tidak pergi bekerja!"
Baru ingin memejamkan mata, suara Yangyang menyapa telinga.
Dejun langsung menyipitkan mata dengan kesal ke adik kelasnya itu. Yangyang sendiri hanya tersenyum kemudian memasang ekspresi sedikit terkejut. Oh, pastinya, melihat wajah si Xiao yang berantakan adalah hal yang mengejutkan! Si pria kebangsaan Jerman ith langsung menepuk pundaknya.
Ia bertanya, "Kau benar-benar putus dari Hendery?" Dejun tidak menjawab lalu memilih tidur lagi. "Dejun!"
Ia memilih diam dan memejamkan mata.
Namun, telinganya samar-samar mendengar suara Lucas dan Yangyang terlibat dalam percakapan. Entah si pria tinggi itu muncul darimana. Yang pasti, mereka berdua membicarakan dirinya. Si Wong mengatakan jika Dejun sudah seperti itu berapa hari dan masih tidak mau terbuka. Pria itu juga dengan santai berkata bahwa Hendery yang memutuskan hubungannya
—bersikap sok tahu lagi. Dan si Liu terus-menerus melemparkan pertanyaan.
Lalu, ia mendengar dering bel masuk.
Suara Yangyang menghilang. Begitu pula dengan keributan lainnya yang berangsur menyepi. Namun, Dejun masih merasakan pusing dan ia begitu malas mengangkat kepalanya. Membuka mata saja rasanya sangat susah. Ia merasakan gelap sekian detik saja, tetapi tiba-tiba sudah terdengar suara guru membentaknya dan sesuatu yang berat —iayakinadalahbuku— menyentuh kepalanya. Alhasil, si Xiao mau tak mau membuka mata.
Itu gurunya.
"Mau jadi apa sekolah kita kalau murid teladannya tertidur di pelajaran?"
Dejun tentu tidak ingin membuat Yangyang dan Ten terus khawatir soal dirinya. Ia juga masih butuh uang dari gajinya. Tak bisa berlama-lama bersedih, si Xiao pulang sekolah memutuskan pergi bekerja saja di cafe. Meski, dia tahu, dia berkemungkinan sangat besar bertemu dengan mantan kekasihnya —karenaHenderymemanglangganancafejuga.
Tapi mengingat mereka bertengkar, mungkin pria itu juga tidak akan ke
cafe.
Baguslah kalau begitu!
"Kalian putus hubungan?" tanya Ten.
Tentu saja, Dejun hanya mengangguk pelan di hadapan bosnya. Sebenarnya, Ten juga ikut andil dalam merusak hubungan mereka. Karena menjemput si pria Thailand itu, Dejun harus ke klub malam. Karena ke klub malam, seseorang melihat dan memfotonya. Lalu foto itu diberikan ke Hendery dan kesalahpahaman terjadi.
Oh, haruskah, ia meminta Ten membantu menjelaskan semua ini ke Hendery?
Tapi, waktu itu, si bos mabuk dan mungkin tidak ingat apa-apa. Yangyang lalu heboh dan bertanya, "Kalian putus karena apa?" "Tidak cinta," jawab Dejun asal.
"Yang benar?"
Yangyang meragukan. Dejun tidak menanggapi karena memang dia sendiri ragu akan jawabannya. Ia sendiri tidak tahu apakah dia sudah cinta dengan Hendery atau belum? Kalau belum, tapi kenapa rasanya sesakit ini? Kepalanya masih sedikit pening jika sudah memikirkan hal itu.
Maka dari itu, dia memilih menumpukan dagunya ke meja kasir dengan malas dan memejamkan mata.
Ten hanya mengoceh, "Sebenarnya, aku bahkan tidak tahu jika kalian sudah berhubungan resmi. Anak itu tidak pernah cerita, tapi aku tahu jika dia benar-benar sangat kagum denganmu. Putus hubungan, pastinya berat untuk kalian berdua."
"Kau dekat dengannya, bos?" tanya Yangyang.
"Dulu dekat karena memang dia pelanggan awal, lalu sekian lama dia sibuk modelling, kami menjauh. Semenjak dia dekat dengan Dejun dan sering kemari, dia juga kembali dekat denganku. Hendery selalu menjadikanku tempat curhat belakangan ini."
Dejun langsung menegakkan kepala dan menyela, "Dia— mengatakan sesuatu?"
"Aku belum bertemu dengannya tiga hari belakangan."
Si Xiao menghela napas berat lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Menurutnya, Ten adalah kunci untuk menyelesaikan masalah ini. Namun, ia masih ragu karena sebenarnya masalahnya ada pada Hendery yang tidak bisa mempercayai kekasihnya sendiri. Bahkan —menurutDejun— dijelaskan pun, anak itu tetap akan keras kepala dan berpikir negatif.
Ia mulai mempertimbangkan untuk memberitahu penyebab mereka putus. Yangyang seperti bisa membaca pikiran si Xiao. Anak itu tiba-tiba menanyakan hal yang persis seperti yang Dejun pikirkan, "Em, siapa yang memutuskannya? Kenapa bisa sampai putus?"
Akhirnya, Dejun menatap Ten. "Ge, kau ingat ketika kau mabuk?"
"Iya? Ketika pesta ulang tahun Kun?"
Dejun hanya mengangguk, "Ya, siapapun Kun itu, tapi kau mabuk dan aku menjemputmu kan?"
Ten mengangguk kemudian berekspresi kebingungan karena tiba-tiba disangkut pautkan. Dejun hanya tersenyum terpaksa karena ia bingung bagaimama menjelaskannya lagi. Yangyang juga sama bingungnya dan mengerutkan dahi lalu bertanya, "Jadi, apa hubungannya?"
"Dia salah paham."
"Kenapa bisa?" tanya Ten dengan ekspresi sedikit suram.
"Seseorang mengambil fotoku diam-diam di klub dan menyebarkan rumor tidak jelas."
"Dan dia percaya rumor itu?"
Dejun dapat menangkap pasti ada sedikit beban di hati Ten karena secara tak langsung membuat hubungan kedua anak sekolahan itu runyam. Itu bukan masalah besar sebenarnya, si pria Thailand tak seharusnya merasa bersalah. Namun, si Xiao hanya tersenyum kecil untuk menenangkan si bos. Ia berkata, "Bisa tolong aku, bos?"
TBC.
baikan"Tolong aku, Lucas, bagaimana ini?" "Ya, angkat saja teleponnya!"
Dejun menatap ngeri alat elektronik yang tergeletak di atas meja. Ada dering dan getaran muncul darinya. Serta juga sebuah nama yang tertera di layarnya. Itu Hendery. Si Xiao sangat kaget ketika ia sedang mengerjakan tugas dengan Lucas, tiba-tiba saja kekasih—apakahsudahbisadisebutmantan— menenelponnya. Tentu saja, dia sedikit freakedoutapalagi mereka tidak berbicara seminggu penuh.
Memang ia meminta Ten berbicara pada Hendery dan menjelaskan masalahnya —jikasempat.Bukannya mau kembali menjalani hubungan romantis itu. Dia tidak mau malahan. Dia belum siap sakit hati lagi sementara ini. Dejun hanya ingin meluruskan masalah yang ada sehingga tidak ada kesalahpahaman diantara mereka. Dia juga tak ingin rumor itu menyebar dengan tidak jelas di sekolah.
Tapi tidak harus menelponnya langsung kan?
Akhirnya, Lucas geram, menekan tombol angkat dan mengaturnya ke mode loudspeaker.
"Hey, Dejun?"
Dejun menelan ludah mendengar suara di seberang sana yang parau. Ia memelototi Lucas dengan kesal dan langsung menerjang pria itu untuk mengambil kembali ponselnya yang dirampas. Namun, si tinggi tetap menang karena menaikkan tangannya dan si Xiao harus berjinjit-jinjit untuk meraih ponselnya. Si Wong hanya menyuruhnya diam saja lalu tersenyum penuh makna.
Akhirnya, ia mengalah, tetapi ia tidak ingin berbicara! "Aku tahu kau di sana walau tidak mau bicara."
Dejun tetap diam dan kembali sibuk mengerjakan tugasnya dengan tak acuh.
"Baiklah, aku tadi pergi ke tempat Yangyang di sebelah sana untuk beberapa urusan kecil soal foto. Kebetulan, apartemenmu ada di antara
tempatku dan milik Yangyang. Jadi, aku melihat sepasang sepatu di depannya. Apakah Lucas berkunjung? Apa yang dia lakukan di sana?"
Suara Hendery terdengar cemburu. Dejun tahu itu.
Lucas tersenyum jahil ketika mendengar hal itu. Dejun kembali mendelik ke arah pria itu dengan kesal. Ia lalu kembali sibuk mengerjakan tugasnya dan mencoba untuk tidak mempedulikan Hendery dan teleponnya. Namun, tetap saja, pikirannya tertuju ke situ dan ia kesulitan untuk menjaga fokusnya. Bahkan si model itu belun berkata apapun. Pada akhirnya, ia hanya bisa mengerjakan satu soal lalu melirik handphonenya lagi.
"Aku akan ke sana, tunggu sebentar. Ada banyak hal yang ingin kubicarakan."
Telepon dimatikan.
Dejun langsung panik mendengarnya. Dia benar-benar belum siap berbicara lagi dengan Hendery. Menatap wajahnya saja ia belum siap secara mental. Meski, dua tiga hari ini, ia mencoba moveondan fokus belajar untuk kenaikan kelas. Namun, ia masih dalam proses dan itu belum selesai. Kedatangan si model itu akan merusak segalanya.
"Demi Tuhan, Lucas, aku harus bagaimana?" tanya si Xiao. Dan sekejap kemudian, bel apartemennya berbunyi.
Lucas langsung dengan riang berlari membukakan pintu tanpa izin dari si pemilik. Ia langsung berujar dengan kata-kata yang menyebalkan, "Hi, Hendery, aku sudah dengar kau tadi menelpon Dejun. Uhm, dia di dalam dan kuharap jangan banyak mengganggunya. Moodnya sedang buruk."
Hendery tersenyum.
Dejun mengintip sedikit dan yang ia dapatkan adalah pemansangan seperti itu. Yang jelas, hatinya langsung kacau karena senyum yang —malu mengakui,tapisejujurnya— ia rindukan. Si model itu tampak sedikit berwajah suram tetapi ia tetap kelihatan bagus dengan turtleneck putihnya. Mendengar derap langkah mendekat, si Xiao langsung menyembunyikan wajahnya di balik buku dan berpura-pura membaca.
Namun, tiba-tiba bukunya ditarik.
Dejun tentu marah tapi ia bungkam ketika melihat Hendery. "Kita perlu bicara."
Dejun menggeleng lalu membuang wajah.
Seperti kebiasaan ketika mereka masih berhubungan, si model langsung saja menyeret si mungil ke kamar untuk berbicara empat mata. Lucas
dibiarkannya di ruang tamu dan berkutat dengan pekerjaan kelompok mereka. Dejun tidak bisa menghindar lagi dan hanya menarik napas dalam lalu mengeluarkannya dengan berat. Hendery hanya menatapnya.
Canggung.
Benar-benar canggung apalagi ketika tangan Hendery menyentuh tangannya tadi.
"Lihat mataku, Dejun."
Dejun tidak mengindahkan perintah itu dan hanya menunduk- tidakberkontakmata.Karena mata Hendery adalah kelemahan bagi si Xiao. Ia memilih melirik ke arah lain lalu bertanya, "Kenapa kau tidak memanggilku Xiaojun lagi?"
"Karena aku pikir kau sedang marah."
Dejun terdiam sejenak lalu berkata, "Aku tidak marah, hanya kecewa." "Maaf."
"Ya," balasnya singkat dan sedikit dingin. "Bisakah kita kembali seperti semula?"
Dejun berdecih. Kali ini, ia menangkat kepala dan menatap Hendery. Mata mereka tertaut dan si Xiao memberi sorot yang tidak menyenangkan. Tentu, ia tak senang jika tiba-tiba si Wong meminta semuanya kembali menjadi semula. Kepercayaannya sudah hilang dan tidak semudah itu didapatkan kembali.
Maka dari itu, ia berujar tegas, "Tidak." Namun, Hendery pantang menyerah.
Seperti sebelumnya ketika ia berusaha mendapatkan hati si Xiao, ia terus bertindak. Kali ini ia mengenggam tangan si mungil dan memberikanya tatapan lembut. Namun, Dejun tidak luluh begitu saja, ia menarik kembali tangannya. Ia lalu langsung memasang senyum kecil di wajahnya.
"Jawab dulu pertanyaanku." Hendery mengangkat alis, "Apa?" "Darimana kau dapatkan foto itu?" Dejun menunggu jawaban.
Terasa hampir semenit dan belum ada jawaban dari si pria asal Macau itu. Hendery tampak penuh gugup dan gelisah. Kali ini justru si Wong yang menunduk dan menolak untuk berkontak mata. Dejun tidak bisa bereaksi apapun selain menantikan suatu respons. Rasa curiga memenuhi hatinya.
Telinganya kemudian menangkap gumaman kecil yang tidak jelas. "Apa katamu?"
"Seohwa." Huh?
Jadi benar jika Seohwa dan geng teman-temannya itu yang mengambil fotonya? Dejun sudah menduganya sih, tetapi ia tidak yakin. Namun, ya memang bisa ditebak karena mereka punya dendam tersendiri kepada si Xiao —karenaberkencandengansimodel. Tidak mungkin mereka diam saja sesudah beberapa kejadian ketika awal hubungan Dejun dan Hendery.
Namun, bagaimana bisa mereka mendapat kepercayaan orang itu? Dejun menatap Hendery dan meminta penjelasan.
"Jadi, ya, dia mendekatiku. Awalnya, aku risih dan kesal tentu saja. Namun, lama kelamaan aku luluh dan mulai berteman dengan dia serta teman-temannya selama sebulan terakhir. Mereka benar-benar memasang topeng berwajah baik. Aku percaya begitu saja ketika mereka bilang tentang melihatmu di klub. Otakku benar-benar kacau waktu itu. Maaf..."
Hendery tampak menyesal dan mengacak rambut legamnya yang sudah cukup panjang. Dejun mulai paham kenapa bisa semua ini terjadi. Karena ya, mereka pada dasarnya berwajah dua kan? Mereka menanamkan sugesti Mereka memiliki rencana busuk dengan bertingkah pura-pura baik. Kemudian sesudah mendapat kepercayaan maka mereka akan merusak hubungan si Xiao dengan si model.
Si Xiao menghela napas lalu tersenyum tulus pada si Wong.
Iba ada di hatinya. Sejujurnya, ia masih memiliki secercah rasa kepada si Wong. Ia juga tahu dari sini bahwa Hendery sebenarnya juga ada korban dari para gadis-gadis itu. Namun, kenapa pula si model mudah percaya pada orang lain? Hatinya memang sudah sakit karena dikhianati waktu itu. Ia takut hal yang sama akan terjadi jika dia memberikan suatu kesempatan lagi.
Hatinya bimbang.
Di satu sisi, ia merasa masih menyayangi si Wong. Di satu sisi, ia benci ketika ia merasa dipermainkan. "Apa yang akan kau lakukan sekarang padaku?"
"Aku tahu, kau sulit mempercayaiku. Maka dari itu, aku meminta izin lagi. Bolehkah aku mendapatkan hak untuk membuatmu jatuh cinta padaku lagi? Bolehkah aku membuatmu jatuh lagi padaku?" tanyanya.
Dejun menimbang-nimbang.
Ia pikir itu tidak perlu karena ia sudah jatuh hati Namun, jawabannya mungkin ya?
Kata-kata yang Hendery ucapkan sedikit mirip dengan persyaratan yang Dejun ucapkan ketika mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Mungkin dia akan membiarkan si Wong kembali berjuang —sepertiyangduludilakukan.Mereka akan kembali lagi ke masa-masa sebelumnya dimana si model melontarkan kata manis demi menarik hatinya.
Tidak apa juga.
Rasanya lucu saja dan menyenangkan. Ketika mereka berdua, lalu tiba- tiba si Wong mendekatinya seperti dulu. Biarkan saja Hendery berjuang dua kali. Karena Dejun pikir yang pertama itu adalah perjuangan mendapatkan hati —selamatkarenasudahsukses. Yang kedua mungkin bisa dibilang adalah membangun kepercayaan dan kesetiaan.
Setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua kan? "Baiklah, tapi ada syarat lagi."
"Apapun itu aku akan coba penuhi." "Jaga hatiku sampai kita menikah nanti." TBC.
time jumpBisa dibilang ketika mereka baikan, tidak banyak masalah lain.
Oh, dan para gadis itu meminta maaf secara langsung kepada Dejun. Sepertinya, karena si Wong mengancam mereka untuk melakukan hal itu. Sesudahnya, mereka tidak lagi melakukan hal ekstrim dan malah kadang berbincang dengan si Xiao. Mungkin mereka sudah bertobat dan merelakan Hendery.
Sekitar beberapa hari sesudah mereka kembali menjalin hubungan, ujian kenaikan kelas dilaksanakan. Keduanya selalu belajar bersama waktu itu. Suatu keajaiban karena Hendery tiba-tiba mendapat nilai yang bagus. Mereka berdua naik ke kelas akhir dengan Dejun mendapat ranking satu dan si Wong —secaraluarbiasamengejutkan— masuk peringkat sepuluh besar.
Memulai semester baru, mereka beruntungnya ditempatkan di kelas yang sama.
Hubungan Hendery dan Dejun menjadi semakin membaik. Tidak banyak konflik lagi dan mereka sudah cukup dikenal warga sekolah sebagai pasangan yang serasi. Seperti pasangan kekasih lain, mereka sering berkencan di hari Minggu dan di cafemilik Ten. Kadang kala, karena mereka bertetangga, mereka saling mengunjungi apartemen satu sama lain.
Begitulah setahun hubungan mereka terasa sangat cepat. Sampai mendekati waktu ujian akhir.
Seluruh murid tingkat akhir mulai khawatir dengan masa depan mereka
—termasuksepasangkekasihitu. Dejun sendiri berencana kembali ke Guandong untuk kuliah di sana, tapi opsinya masih terbuka dan belum tetap. Ia mendengar Lucas akan kembali ke Hongkong untuk kuliah sedangkan ada beberapa teman lain yang langsung bekerja.
"Kalau kau mau kemana?" "Kembali ke Macau."
Itu sekilas mematahkan hati Dejun karena mereka akan terpisah sementara.
Hari itu, kelulusan mereka. Hendery mendapat nilai yang bagus dan Dejun lagi-lagi mengukir prestasi dengan mengambil juara satu. Mereka dengan riang berfoto mesra. Tak lupa juga berfoto dengan Lucas, Yeri, dan teman lain. Juga, keluarga mereka yang datang dari jauh. Ten turut datang untuk melihat karyawan di cafenya lulus —MarkdanDejun. Ada pula Yangyang terlihat begitu terharu karena kakak kelasnya lulus.
Semua terasa bahagia hari itu.
Hendery benar-benar kembali ke Macau sebulan sesudahnya. Pria itu bahkan memutuskan kontrak dengan agensi modellingnya. Si Wong berkata dia kembali untuk meneruskan bisnis orang tuanya. Kakak iparnya mengalami kecelakaan dan lumpuh sementara beberapa bulan. Kakak pertamanya juga hamil. Kakak kedua dan ketiganya sudah menikah, pindah ke rumah suami. Ayah ibunya juga sudah paruh baya. Tidak ada yang bisa mengurus bisnis.
Dejun tidak bisa berkata apa-apa selain memeluk pria itu sebelum terbang. Ia sendiri membulatkan hati melanjutkan studi di Korea Selatan dibanding kembali ke kota asal. Mengambil jurusan studi bisnis, si Xiao sangat senang karena berhasil lolos ujian di salah satu universitas terkenal di pusat kota Seoul.
Dua tahun sesudahnya berjalan secara cepat. Hubungan mereka terpisah jarak.
Mereka sering bertengkar karena masalah ketidakpercayaan. Dejun pikir, itu kekanak-kanakan seperti masa awal mereka berkencan dulu. Dia tentu tak ingin hal yang sama terjadi ketika ia dewasa —jadi,diamendinginkankepala.Lagipula mereka sudah terikat oleh perjodohan. Ia percaya jika Hendery tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh. Pria itu sudah berjanji kepada dirinya untuk menjaga hatinya.
Dejun menjalankan studinya dengan baik selama tiga tahun itu. Hendery mulai lihai membangun bisnis restoran milik orang tuanya. Keduanya kadang hanya bertemu setahun dua tiga kali. Sisanya adalah kontak melalui ponsel. Itu adalah masa-masa paling penuh cobaan —sepertiyangsudah disebuttentangkecemburuandansegalamacamnya. Entah bagaimana bisa, hubungan mereka tetap saja berlanjut.
Dejun pikir, mungkin karena mereka memang sudah saling mencintai sepenuhnya.
Sudah hampir lima tahun sejak mengenal satu sama lain di cafe. Empat tahun lebih sesudah mereka resmi menjalin hubungan. Tiga tahun lebih
sesudah si Xiao menjalani kuliahnya. Semuanya tidak terlalu terasa seiring dewasanya sosok si mungil Dejun dan kekasihnya si Hendery. Ia kini lulus dengan nilai sempurna dan mendapat gelar sarjana di salah satu universitas Korea.
Si Wong tentu saja datang ke acara wisudanya. "Xiaojun-ku mendapat gelar sarjana!"
Hendery tersenyum sama seperti senyumnya dulu ketika masa sekolah— hanyasajaekspresinyalebihtenang.Dejun hanya membalasnya dengan pelukan ringan. Sekarang, selagi si Wong ada, malam sesudah acara, pergilah ke cafemilik Ten yang masih berjalan lancar. Si Xiao sudah tidak bekerja di sana sejak kuliah, Yangyang ke Jerman, Mark ke Kanada. Ten menjalankannya bersama dua orang. Yuta yang masih setia menjadi manajer, dan ada lagi satu orang lain, suami Ten.
Mereka makan berdua.
Sementara orang tua Dejun dan kakak laki-lakinya pergi berkeliling Seoul sesuka mereka.
"Maaf, mengganggu kencan kalian, tapi ini pesanannya!"
Ten meletakkan dua piring es krim coklat dan sepiring tiramisudi atas meja. Dejun menerimanya dengan senyum cerah. Hendery sedikit terkejut dan menoleh lalu berekspresi gembira melihat wajah si pria Thailand. Ia tersenyum dan berseru, "Oh, astaga, Ten-ge, sudah lama tak jumpa."
"Bagaimana kabarmu, Hendery?" tanya Ten dengan senyumnya.
Pria itu berdiri sebentar lalu mencari-cari kursi dan mulai duduk di meja bersama sepasang kekasih itu. Dejun hanya tertawa kecil karena Ten tampak sangat senang — begitupulaHendery. Ia hanya sibuk memakan tiramisufavorit yang mengingatkannya ketika pertama kali ia berkenalan dengan kekasihnya di cafeini. Si Xiao tak banyak bicara dan hanya mendengar pembicaraan dua pria lain.
"Baik, bagaimana denganmu? Aku pikir kau akan pindah ke Amerika sesudah menikah."
Pria Thailand itu tertawa kecil, "Yeah, itu rencana aslinya, tapi aku memaksa untuk tetap di sini. Dan kapan kalian menyusul?"
"Sebentar lagi."
Hendery mengenggam tangan Dejun.
Berbeda dengan awal hubungan mereka, si Xiao tidak lagi menghindar. Ia sudah terbiasa dengan kontak fisik dan ucapan manis dari Hendery. Ia sudah mempercayai dan mencintai pria itu. Dejun hanya sedikit bersemu
ketika pria asal Macau itu berkata sebentarlagi.Itu artinya, mereka akan segera menikah kan? Ah, dilamar?
Tak bisa dibayangkan.
"Omong-omong, ini topik sensitif. Aku tahu kalian dijodohkan tapi apa keluarga kalian tidak masalah jika kalian tidak bisa menghasilkan keturunan. Terutama, Hendery karena kau putra tunggal. Aku bertanya karena ketika aku hendak menikah, aku dihadapi pertanyaan yang sama."
Dejun terdiam.
Dia tak bisa menjawab karena tak pernah memikirkan hal sejauh itu. Sejauh yang dia tahu, ayahnya baik-baik saja dengan perjodohan ini. Ibunya malah sangat mendukung. Soal penerus keluarga, si Xiao punya kakaknya. Dan ia juga sudah punya keponakan yang sekarang sedang di Guangdong bersama kakak iparnya. Kalau mereka mau —sebenarnyasoalanak— bisa saja mengadopsi. Namun, ia tak memikirkan soal Hendery.
Apakah keluarganya menerima sepenuhnya? Ia menatap pria itu.
"Sebenarnya ini perjodohan antara kakakku dan dia. Sayangnya, kakakku tiba-tiba punya kekasih dan aku diseretnya sebagai pengganti. Ayah dan ibuku tidak berkata apa-apa dengan ide kakakku itu dan setuju saja. Kupikir, mereka akan menerimanya. Soal keturunan dan penerus, kupikir tidak harus patriarki. Di masa depan, mungkin anak jiejieku yang akan meneruskan bisnis."
Dejun menghela napas lega mendengar kata-kata dari Hendery yang bijak.
Jarang bertemu, ia sadar bahwa kekasihnya benar-benar sudah dewasa.
Mereka bertiga sibuk berbincang soal masa depan, masa sekarang dan nostalgia. Dejun melahap habis makanannya teemasuk milik Hendery. Pria Macau itu hanya meminum kopi malam-malam begitu. Sementara Ten sibuk berada di antara sepasang kekasih muda itu, suami si bos sibuk mengurus pelanggan lainnya.
Ah, tak terasa ya, waktu berjalan cepat.
Sesudah itu, mereka memutuskan pulang ke apartemen si Xiao. Si Wong itu memang tidur — hanyamenginapsajakok!— dengannya. Keluarganya sendiri memilih bookinghotel saja. Mereka benar-benar kelelahan terutama Dejun yang dari pagi mengikuti acara wisuda dan pulangnya malah mengobrol sampai hampir tengah malam. Sebelum tertidur pulas, banyak pikiran hinggap di pikirannya.
Dejun malah banyak terngiang-ngiang pikiran akan masa depannya. Ia belum menentukan apa yang akan dia lakukan sesudah semua ini. Apakah ke Guangdong? Apakah kerja di Seoul? Dan, pertanyaan yang paling melekat dibenaknya adalah satu hal—
Kapan Hendery melamarnya?
TBC.
lamaran"Hendery?"
Dejun bertanya dengan ragu. Ia tiba-tiba terbangun padahal ia susah mengantuk dan sangat lelah sesudah berbincang di cafe. Baru tidur dua jam ia harus membuka mata lagi karena mendengar suara benturan yang nyaring dari arah ruang tamu. Mau tak mau, si Xiao bangkit dan berjalan keluar mengecek apa yang terjadi. Ia sempat melirik tempat di samping kasurnya
—kosongdantidakadaorang.
Ia pikir suara itu mungkin Hendery. Namun, yang ia tak menemukan apa-apa.
Jujur, ia agak takut dan berjalan pelan mendekati sofa di sana. Ia melihat kondisi ruang tamunya yang agak berantakan dan lampu berpijar benderang. Padahal sebelumnya tidak begitu. Hendery juga tidak tahu pergi kemana dan menghilang. Jantungnya berdetak karena gugup dan khawatir. Ia melangkah dengan sangat hati-hati sambil melirik kanan dan kiri.
Ia tetap tidak menemukan apa-apa.
Ia lalu berjalan ke arah dapur yang memang tidak memiliki sekat dengan ruang tamu. Tetap saja kosong dan kondisinya tak jauh berbeda — berantakandenganbeberapaplastikberserakan!Dejun lalu memutuskan mengecek sekilas ke seluruh ruang apartemennya yang kecil tapi luas untuk seseorang yang tinggal sendiri. Ruang tamu, dapur, dan sampai ke WC. Semuanya sama.
Ia mulai khawatir.
Bagaimana jika itu maling yang bersembunyi?
Ia lalu memutuskan kembali ke kamarnya dan mengunci pintu. Dejun meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Matanya tidak menemukan adanya ponsel lain yang menandakan bahwa Hendery pergi dengan membawa ponselnya. Ia akhirnya memutuskan menelpon sang kekasih. Tidak ada balasan. Sekarang ia mulai gemetar —mengenggamponselnyadanmenunggu suarasi Wong membalasnya.
Ia menggigit bibir bawahnya.
Bagaimana kalau Hendery kenapa-napa?
Akhirnya, Dejun memutuskan menelpon ayahnya. Masa bodoh jika itu menganggu tidurnya atau apa. Tapi, ini lebih penting. Ada suara nyaring, apartemennya tiba-tiba kacau, lalu kekasihnya menghilang dan tidak bisa dihubungi. Ia begitu lega ketika mendengar suara ayahnya yang masih serak dan memarahinya. Si Xiao bungsu langsung berujar panik.
"Pa, Hendery menghilang."
"Demi Tuhan, kamu menelpon papa hanya untuk itu?" protes si ayah.
Dejun dengan nada kesal membalas, "Serius! Aku sudah mencarinya ke seluruh rumah!"
"Mungkin dia ke toilet."
Dejun menggeram kesal dengan ayahnya sendiri yang terlewat santai. Calon menantunya menghilang dan dia bilang begitu saja? Ia mendudukkan dirinya di kasur dan mencoba menenangkan diri. Ia perlu berpikir rasional sekarang. Ia terdiam sebentar dan segera menarik napas dalam. Akhirnya, ia berbicara dan menjelaskan apa yang terjadi.
"Aku bangun karena suara keras. Lalu aku melihat dia sudah menghilang membawa ponselnya. Aku sudah mencoba menelponnya dan dia tidak mengangkat. Lebih tepatnya, nomornya tidak aktif. Belum lagi, kondisi ruang tamu dan dapur tiba-tiba kacau."
"Baik, kau sudah cek balkonmu?" tanya si ayah.
Dejun langsung menepuk jidat dan tersenyum, "Uhm, oh ya! Aku lupa apartemen kecil ini punya balkon juga. Xie-xie, papa!"
"Jika memang tidak ada, hubungi ayah lagi."
Dejun bergegas meletakkan ponsel di saku. Lalu keluar lagi ke ruang tamu karena balkonnya memang pintunya tersambung ke tempat itu. Balkonnya itu juga sempit dan hanya dimanfaatkan si Xiao untuk menjemur pakaian. Jadi, itu tempat yang agak rawan jatuh —apartemennyalantailima. Sebelumnya, si Xiao sudah menyiapkan pemukul baseballhadiah dari kakaknya untuk perlengkapan saja. Ia mengintip dahulu kemudian perlahan membuka pintunya ketika tidak melihat apa-apa.
Ia terheran-heran.
Kemana Hendery sebenarnya?
Akhirnya, ia berniat menghubungi ayahnya sekali lagi. Namun, telinganya kembali menangkap suara aneh dari arah ruang tamu. Dejun langsung membalikkan badan dan sekali lagi, hampa di hadapannya. Tidak ada objek yang berubah kecuali suatu buku tebal yang tergeletak tiba-tiba di
lantai. Memberanikan diri, si manis melangkah masuk lagi dan meletakkan tongkat baseballnya di lantai. Ia mengambil buku itu.
"Catatan cinta?"
Si Xiao tertawa membaca judul yang cheesy.
Ia tidak ingat memiliki buku itu. Itu juga tidak mirip sama sekali dengan tulis tangan aksara Cina yang biasa ia tulis. Dejun terbiasa menulis dengan huruf simplified chinese —yanginitradisional.Ia mengerutkan dahi ketika membacanya. Oh, mungkinkah ini punya Lucas? Hendery? Yangyang? Mereka sering kemari membawa buku-buku untuk belajar bersama dulu. Mungkin saja tertinggal dan tersembunyi selama. ini.
Rasa penasaran menggelitik.
Ia membuka lembar pertama dan memindai setiap katanya yang ditulis dengan rapi. Tanggal yang tertulis menunjukkan waktu sekitar enam tahun yang lalu. Oh, berarti itu ketika dirinya baru memasuki tingkat kedua SMA. Dan ketika hari-hari awal di tingkat kedua, ia belum mengenal Hendery — iabarumengenalnyasekitarakhirsemesterpertama— dan kurang akrab dengan Yangyang karena baru berkenalan.
Jadi, Dejun pikir, ini sepertinya milik Lucas yang notabenenya teman dari awal masuk SMA.
Hari ini, untuk pertama kalinya, aku jatuh cinta dengan seorang yang sangat manis. Wajahnya berseri, tetapi juga. sarat akan gugup karena jarang tampil di depan. Menurutku, itu lucu karena pipinya merona dan ia selalu menggigit bibir bawahnya. Bahkan, tubuh mungilnya bergetar. Yang membuatku heran, ia tetap tampil sempurna hari ini melawan kegugupannya.
Si Xiao benar-benar tersenyum lebar. Ia tak habis pikir jika memang ini milik Lucas karena isinya benar-benar garing. Aneh saja jika seseorang seperti dia jatuh cinta. Ia jadi penasaran siapa gadis yang dibicarakan ini. Disebutkan jika orang yang disukainya sedang tampil. Tanggal itu, dulunya adalah acara pembukaan tahun ajaran baru. Banyak orang yang tampil sih waktu itu, termasuk Dejun senduri sebagai ketua OSIS yang baru.
Dejun mulai ketagihan untuk membaca sesutau yang tak seharusnya dia baca —privasioranglain. Ia terus membuka lembar kedua, ketiga dan seterusnya. Hingga halaman terakhir yang berisi tulisan. Isinya hampir sama yaitu tentang bagaimana si penulis mengungkapkan cintanya untuk si kekasih. Tidak banyak hal spesifik, justru rasanya seperti membaca puisi.
Ia menemukan kejanggalan.
Tanggalnya baru saja ditulis kemarin. Yang berarti—
"Ini milik Guanheng?" "Sudah puas membacanya?"
Dejun tersentak sekilas mendengar suara lain, "Oh, astaga, darimana kau?"
Ia bersyukur ketika melihat kekasihnya sudah di sana. Lalu ia meneliti Hendery yang sudah mengenakan kemeja rapi dengan tampang yang menawan. Tiba-tiba saja muncul di hadapan si Xiao sesudah menghilang sesaat. Tentu saja, itu aneh! Sangat aneh karena sekarang masih subuh dan langit masih gelap. Dejun menutup buku itu dan menyembunyikannya di balik punggungnya. Ia menatap heran ke sang kekasih.
"Apa yang kau lakukan, Guanheng?" tanya Dejun. "Maaf merusuh di apartemenmu."
"Kenapa kau mengacaukan apartemenku?" "Berikan dulu bukunya."
Dejun menunjukkan buku itu, "Ini punyamu?" Hendery mengangguk.
Dejun tertawa mengingat setiap kata-kata yang dituliskannya. Itu untuk dirinya ya? Menggelikan tapi si Xiao menyukainya. Ia juga baru menyadari jika si Wong sudah menyukainya sejak awal semester. Berarti, pria itu memendam perasaan berbulan-bulan lamanya! Ia langsung menyembunyikan bukunya lagi ketika Hendery hendak merebutnya.
Tenaga si Wong lebih kuat dan itu membuat si Xiao oleng.
Hampir saja, dia jatuh karena menginjak tongkat baseball. Syukurnya, Hendery menahan tangannya. Dejun ingin berterima kasih tetapi ia memang gengsi. Justru ia memajukan bibirnya dan berujar kesal, "Kalau aku jatuh, aku menyalahkanmu."
"Mana bisa begitu."
"Jawab dulu, kau darimana?" "Bukunya dulu."
"Jawab dulu."
"Buku dulu, Wong Dejun."
Dejun menghela napas karena mendengar namanya diganti lagi seenaknya! Ia langsung menyembunyikan bukunya lagi di balik punggung. Tentu saja, Hendery masih pantang menyerah dan mencoba merebut catatan
itu darinya. Lagi-lagi —ada saja hal yang terjadi! Hendery berhasil merebut bukunya, tapi malah terjatuh dan si Xiao juga ikut jatuh ke atasnya.
Keduanya bertatapan sekejap. Lalu tangan Hendery sengaja melingkar di pinggang kecilnya dan memeluknya erat. Bukunya malah dibuangnya ke lantai. Dejun sedikit senang karena dipeluk, tetapi juga kesal. Ia sudah mengantuk dan ingin tidur tetapi malah ditahan. Oleh sebab itu, ia protes, "Baiklah, singkirkan tanganmu, Guanheng."
"Tidur saja begini."
"Kau sudah dapat bukunya, jadi jawab, apa yang kau lakukan?"
Hendery menatap mata Dejun lalu mengukir senyum, "Sebenarnya, ingin membuat surprisedan melamarmu dengan kata-kata di halaman paling belakang buku itu. Sayangnya, aku lupa menaruhnya dimana dan terpaksa membongkar tempat ini itu lagi. Aku sempat pergi membeli sesuatu dulu, makanya menghilang. Maaf, jadinya malah tidak mengejutkan."
"Kau benar-benar pelupa, padahal itu baru kemarin!"
Dejun geram sekali dan menekankan hidungnya ke hidung Hendery. Ia tak tahan untuk tidak protes karena jika semuanya berjalan sempurna, mungkin akan sangat luar biasa. Hatinya tetap merasa sangat senang juga karena bagaimanapun dia akan dilamar —suatuhalyangbarutadiiabayangkan.Oh, tentu, itu alasan kenapa kekasihnya mengenakan jas dan tampak tampan sekali malam ini!
Hendery mengeratkan pelukannya.
"Lupakan buku itu. Mau menikah denganku?"
Dejun langsung memendamkan wajahnya ke dada Hendery. Ia menghirup aroma wangi dari jas si Wong. Si Xiao benar-benar bisa gila karena hanya tersenyum membuat jantung kekasihnya terdengar berdetak cepat dan gugup. Ia kemudian menjawab dengan kekehan singkat, "Jangan khawatir, Guanheng, jawabannya pasti iya."
"Cincinnya nanti di Taiwan saja ya!"
"Heh, memangnya ke Taiwan untuk apa?" tanya Dejun keheranan. "Mempersiapkan pernikahan, Xiaojun-ku!"
Dejun baru mengerti. Ya, dia hampir saja lupa fakta jika Taiwan itu melegalkan pernikahan sesama jenis. Tentu saja, mereka akan menikah di sana karena lebih dekat dibanding harus terbang ke Eropa. Akhirnya, ia mengangguk dan kembali mengeratkan pelukannya ke Hendery. Mereka berdua masih enggan melepas satu sama lain. Berpelukan di sofa ternyata nyaman juga ya.
"Kapan kita perginya?"
"Besok! Sudah kubelikan tiketnya."
END.
note: chapter terakhir memang agak panjang ya hehe, oh ya, jangan lupa, ada epilog juga.
epilog"Hari ini hari pertama ke sekolah. Kamu harus bisa cepat cepat!"
Hendery berbicara dengan bahasa Korea. Ia sudah berada di balik pintu mobil dengan setelan jas yang bagus — siapberangkatkerjamengurus bisnisrestorannya.Ia menurunkan jendela kacanya dan berseru. Seperti hari sebelumnya, ia tersenyum menyemangati bocah kecil yang sedang duduk di lantai teras rumah mencoba mengenakan sepatunya. Laki-laki mungil itu memakai seragam berwarna putih dan khas bernuansa taman kanak-kanak.
"Tunggu aku, dad!" seru anak berambut hitam itu dengan bahasa yang sama.
"Ayo, pakai sepatumu dengan baik atau nanti daddytinggalkan."
Hendery terkekeh ketika melihat wajah anak empat tahun itu tampak begitu ketakutan. Dengan sengaja, ia menaikkan kaca jendela mobilnya dan berpura-pura ingin menyetir pergi. Bocah itu langsung berdiri dan memasang raut sangat kesal. Sepatu mungilnya bahkan baru dipasangkan sebelah saja. Ia kemudian sungguhan menangis dan menjerit.
"Daddy, jangan tinggalkan aku!" Hendery terbahak-bahak di dalam mobil.
Lalu tiba-tiba suara teriakan berbahasa cantonesemuncul, "Astaga, Guanheng, kau membuat dia menangis lagi."
Hendery tampak sedikit panik dan masih menahan tawa ketika Dejun muncul dengan apron yang masih melingkar di pinggangnya. Sepertinya dia baru saja selesai memasak. Pria yang resmi menjadi suaminya itu kini tampak menatapnya tajam meski terhalang oleh kaca. Si Xiao —ohatausekarangbisadibilangWong?— itu kemudian menunduk untuk menyamakan tingginya dengan si bocah.
Tangisan itu berhenti.
"Jeremy, ayo sini papa bantu pakaikan," ujar Dejun berbahasa Korea. Jeremy menangguk lalu membiarkan ayahnya memakaikan sepatu.
Hendery hanya tersenyum melihat interaksi antara kedua makhluk paling dia cintai itu. Ia menurunkan kembali jendela kaca mobil. Lalu
mengeluarkan kepalanya dan berseru, "Huijing, jangan menangis lagi oke? Jelek kalau menangis begitu!"
"Papa, daddyjahat!"
Bocah itu mengadu, memanggil salah satu sosok ayahnya dengan raut memelas. Dejun hanya mencoba menenangkan si anak. Hendery hanya terdiam menyaksikannya interaksi kedua orang yang dia cintai itu. Rasanya sungguh antusias melihat anak tunggalnya —Jeremyyangcengengitusudah mulai menginjak usia bersekolah. Padahal serasa baru kemarin anak itu baru satu bulan sudah mereka adopsi dari panti asuhan.
Ah, benar-benar tidak terasa.
Ia ingat betul pertama kali ia melihat si Xiao ketika pengangkatan ketua OSIS yang baru. Hendery lalu menguntit si manis hingga berakhir menjadi sepasang kekasih yang ternyata dijodogkan. Sampai pada tahap ketika ia melamar Dejun sehari sesudah wisuda pria itu. Si Wong ingat betul hari pernikahan mereka di Taiwan. Mereka kemudian pindah ke Seoul karena dirinya disuruh kakaknya mengurus cabang restoran di sini.
Kakak Dejun juga berniat membuka cabang bisnis di Korea dan itu akan diurus oleh si Xiao. Mereka mungkin akan menetap di situ selamanya. Itu sebabnya, Dejun dan Hendery berbicara bahasa Korea dengan anak mereka agar terbiasa dengan lingkungan sekitae. Sedangkan mereka berbicara bahasa cantonesedan mandarin satu sama lain. Tapi, Jeremy juga jenius, anak itu juga bisa mengerti bahasa yang orang tuanya gunakan dan kadang bisa memakainya juga.
"Guanheng, bawa anakmu baik-baik!" perintah Dejun sambil berdiri di samping pintu mobil.
"Baiklah, ada syaratnya."
Hendery tersenyum kecil. Dejun sepertinya mengerti dengan cepat apa yang dibicarakan. Ia lalu mencium sekilas bibir suaminya dimana tubuh mereka dibatasi pintu mobil. Dan si Wong tentu saja langsung bahagia dan berwajah sumingrah. Bocah yang sudah duduk di sampingnya itu hanya diam san masih cemberut.
"Baby, kalau daddynakal, kamu marahi saja, ya?"
Jeremy justru berwajah suram ketika Dejun berkata begitu, "Papa tidak pergi."
"Papa menjaga rumah kita. Kalau mau papa ikut pergi, tunggu saja ya. Sebentar lagi perusahaan papa akan dibangun di Seoul. Saat itu, papa akan
pergi juga bersama kalian untuk bekerja. Bye-bye,Jeremy! Sekolah yang benar, oke? Kamu sudah kenal gurunya 'kan?"
"Oh, Winwin-saem?"
"Dengarkan dia nanti! Jangan nakal!" "Cium?"
"Hm, bye!"
Hendery hanya tersenyum ketika suaminya dari tadi ada di sisi anak mereka dan mencium kening Jeremy sekilas. Lalu keduanya saling melambaikan tangan. Si Wong hanya menatap pasangannya sekilas sambil mengangguk mantap dan menyetir pergi. Ia akan mengantar si putra bersekolah untuk pertama kalinya dan tak sabar melihat anaknya tumbuh besar lagi!
Beneren END.:p
ending noteFINALLY SELESAI!
Klise banget ya ceritanya tp aku harap kalian suka endingnya. Happy ending seperti yang kalian inginkan!
Ga nyangka bakalan banyak yg baca padahal pair henxiao ini momentnya masih agak dikit gitu. Butthanks! Respons kalian benar-benar baik dan aku senang banget ngebaca setiap komentarnya. Makasih juga ada yg ngasih kritik saran yang membangun. Maaf juga banyak kesalahan di fanfic ini ya.
Kalo ada yg bingung soal cerita ini, tanya aja hehehe.
Dan honestly, kupikir semua cerita harus ada pesannya ya? Setelah sekian lama menulis, aku bingung sendiri soalnya ceritanya benar-benar terasa hambar di pikiranku. Hanya banyak romansa dan fluff yang menyenangkan. Mungkin tulisan ini lebih cocok untuk sekadar hiburan aja kali ya? Menurut kalian, apa ada yang bisa diambil dari cerita ini? Ya intinya, kedua tokoh utama itu punya problemyang pada akhirnya bisa dilewati bersama.
Inti dari hubungan itu komunikasi. Ada banyak kesalahpahaman, tapi mereka bisa berdiskusi dan nyelesaiin itu. Tolong jangan tiru stalkingdan hal jelek lainnya ya gaes. Ambil hikmahnya aja hoho.
Aku jujur agak bingung buat epilog. Awalnya mau buat adegan pernikahan mereka tapi aku kurang tahu resepsi nikahan tuh biasa gimana sih. Jadi, kubikin adegan aftermarriageaja. Aku juga asli ga kepikiran buat anak yang mereka adopsi itu siapa kan. Lalu aku pikir bikin karakter sendiri aja kali ya, dibanding diambil dari dunia nyata. Dan terciptalah JeremyWong.
Dan if ya wonder kenapa di ending aku gak pakai istilah istriatau mama untuk Dejun. Itu karena menurutku, mau bagaimanapun tetap saja dia itu lelaki yang pantas dipanggil dengan sebutan lelaki pula hehe. Emang pas awal cerita yang di cafe, mereka sempet becandaan pakai kata "mama" gitu dan pada adegan Dejun tidur juga dipanggil "putritidur". Aku akui itu adalah misgenderingdan tidak baik dilakukan. Jadi, maaf ya huee. Pada
akhirnya, aku merasa lebih suka kalo Dejun dipanggil papadan Hendery
daddy. Semoga bisa dipahami ~
(^ ^)
Btw, kalo aku publish story baru.
Mending pair apa? Henxiao lagi kah?
Aku udah ada draft sih, tapi masih ragu mau pilih pairnya soalnya lagi mabuk sama beberapa pair lain terutama di NCT. Dan lagi prefer nulis cerita yang agak berat gitu buat mencoba genre baru. Kali ini, aku mau coba omegaverse atau fantasy mungkin? Atau yang non baku aja ala grupchat gt? Wkwkw aku lagi banyak ide soalnya.
Jadi, akhir kata, terima kasih lagi atas dukungan kalian semua. See you!
22 Maret 2019
-satu tujuh
