GojoHime Short Stories

Jujutsu Kaisen by Akutami Gege

Warn : Bahasa gaul, gajelas, dll


Cut #1

The Scar


"Kenapa dia murung begitu? Sejak kapan jadi sering pake masker dan rambutnya gak dikuncir?"

"Lu itu sering banget merhatiin Mbak Uta, ya?"

"Namanya juga Satoru,"

Gojo Satoru, Geto Suguru, dan Shoko Ieiri sedang duduk bertiga di sebuah lapangan, melihat kakak kelasnya yang tengah berlatih. Gojo melihat ada yang janggal dengan kakak kelas kesayangannya itu- Utahime Iori. Semenjak Gojo pulang dari Kyoto, gadis itu tidak pernah melepas masker dan rambutnya selalu terurai begitu saja- bahkan kadang menutupi setengah wajahnya.

Kalau dibilang khawatir, ya benar. Gojo tidak terbiasa melihat Utahime yang begitu. Masalah lainnya adalah Utahime menghiraukan Gojo yang selalu meledeknya- biasanya, Utahime tidak begitu. Gadis yang lebih tua darinya dua tahun itu selalu saja meladeni segala tingkah laku iseng Gojo Satoru.

"Katanya luka karena ujian pertukaran kemaren, Lu kan punya misi ke Kyoto. Semenjak itu dia murung terus, gue aja ga di chat sama dia selama seminggu terakhir ini," Kata Shoko.

"Masa sih?" Gojo tidak percaya.

"Coba deh, Satoru, lu ajak ngomong. Gue juga aneh liat Mbak Utahime murung terus, biasanya juga ceria," Geto Suguru menambahkan.

Gojo Satoru menoleh, "Lah kok gua anjir?"

"Ya kan lu yang paling suka ngeledekin Mbak Uta," kata Shoko.

"Kalo sama gue mah gak bakal bener, udah sama lu aja, lagian lu juga belom nyapa dia kan seminggu ini?" Tambah Geto.

Gojo menolehkan kembali pandangannya ke arah anak kelas 3 yang tengah latihan. Pemuda dengan tinggi 190 CM itu menghela nafas, dan berdiri dari duduknya yang berada di antara Shoko dan Geto.

"Gatau ah, gue cape. Mau tidur dulu," kata Gojo sambil pergi meninggalkan mereka.

Geto dan Shoko hanya bisa bersabar melihat kelakuan temannya- meski mereka tahu kawan karibnya itu benar-benar sangat mengkhawatirkan kondisi Utahime baru-baru ini, tapi mereka tak bisa berbuat apapun.


Repot banget, sih! Lagi kenapa ujian sampe bikin luka gitu?

Harusnya gue gak perlu gini sih.

Gojo Satoru tengah ada di pusat perbelanjaan. Tidak ada hal khusus yang membuatnya kesini, mungkin beberapa jajanan mania yang menariknya. Pandangan lelaki berusia 17 tahun itu terus menyusuri pertokoan, mencari hiburan agar tidak bosan.

Penglihatannya terhenti di sebuah toko aksesori yang banyak digandrungi wanita muda. Tanpa ia sadari, ia berpikir banyak soal pernak pernik yang dianggap lucu oleh gadis sekolahan seumurannya.

"Cari apa ka, kado? Hadiah? Mau saya bantu carikan?"

...

Gojo terdiam sesaat dan bergumam.

"Hmm..."

"Buat siapa ka? Atau buat kakaknya?" Goda si penunggu toko.

"Bukan," kata Gojo sambil tertawa sedikit, "Temenku lagi murung. Dia baru dapet luka di wajahnya, kayaknya bikin dia gak pede..." entah kenapa ia juga tidak sadar sedang membicarakan soal Utahime.

"Pacar kamu?"

"Bukan!"

Mbak-mbak penjaga tokonya tertawa, "Kamu lucu, deh. Berarti buat teman cewekmu ya.. coba saya liat..."

Mbak yang baik hati itu mulai menyusuri toko demi memenuhi pertanyaan Gojo. Gojo juga bingung, bahkan tambah bingung ketika si mbak membawakan pita putih polos. Sama seperti warna rambutnya saat ini.

"Pita ini kayaknya bakal manis. Warna putih juga melambangkan kemurnian. Saya rasa ketulusan kamu dalam niat mau bikin dia ceria lagi akan tersampaikan dari ini," kata Mbaknya.

Gojo melihat pita itu dengan seksama. Warna kain putih bersih dengan motif timbul yang membuatnya bersinar jika dipantulkan cahaya. Benar-benar mengingatkannya pada Utahime.

"Boleh deh, ini satu mbak."


Utahime berdiri tegak di balkon kelas. Ia masih menutupi bekas lukanya yang masih agak sakit. Maskernya dilepas agar ia bisa menghirup udara segar- namun sesi santainya itu terganggu karena bising yang dibuat oleh Gojo Satoru, yang tiba-tiba mendobrak pintu kelas.

"Utahimeeee~ gak kangen gue kahh?"

Utahime kesal, "Lo bisa gak sih, biarin gue tenang sebentaaar aja?"

Gojo tersenyum lebar dan berdiri di samping Utahime, "Mana bisa, kan gue udah lama ga ketemu lo,"

Songong, Kata Utahime dalam benaknya. Gojo adalah adik kelasnya- pada kenyataannya, ia lebih muda dari Utahime 2 tahun. Seharusnya pemuda itu memanggilnya dengan panggilan "kak" atau menggunakan bahasa yang formal. Tapi Gojo tak pernah peduli dan tetap gigih dalam urusan mengganggu Utahime.

"Mau apa lo kesini?" Tanya Utahime.

"Galak banget," lanjut Gojo, "Dibilang gue cuma mau nyapa,"

Utahime menghela nafas.

"Gak deng, sebenernya gue bingung. Lo sakit flu, batuk, apa gimana, pake masker mulu?"

"Peduli lo apa emang? Tumben banget nanyain, biasanya lo ngatain gue lemah lah apa lah," kata Utahime.

Gojo terkekeh, "Ya gue peduli makanya gue nanyain, gausah galak-galak dong nanti gaada yang naksir sama lo lagi,"

"Siapa juga yang mikirin naksir sana sini, gajelas," kata Utahime, masih terdengar judes.

"Balik ah," lanjut Gojo, "Itu kenapa?"

"Apanya?"

"Muka. Luka di muka lo itu kenapa?"

Utahime terdiam.

"Shoko bilang lo kena luka pas ujian, kasiaaan, kok bisa sih?" kata Gojo.

Utahime menoleh dengan kesal, "Lo dateng cuma mau ngejek gue doang kan?"

"Engga Utahime, Astagaa gue digalakin mulu,"

"Apanya? Nada bicara lo aja kayak gitu," ujar Utahime kesal. "Iya gue mah lemah, ujian gitu aja kena luka begini. Tapi ya gua bersyukur ga dapet luka serius atau sekarat ya, tetep aja lo bakal nganggep gue lemah kan," kata Utahime.

"Kok ngomongnya gitu sih?" Tanya Gojo.

"Ya emang lo begitu kan, gue pasti diejek lemah terus," lanjut Utahime.

Gojo menghela nafasnya. Dia melepas kacamata hitam khasnya dan menangkup wajah Utahime. Tangannya menyentuh bekas luka di wajah yang mengering. Mata biru safirnya memaksa pupil Utahime untuk adu pandangan.

"Lu ngapain, Gojo?" Kata Utahime.

"Lu liat gue, Uta," kata Gojo.

Mata bronze milik Utahime pada akhirnya membuat kontak yang intens dengan pupil biru terang milik Gojo Satoru seorang- pewaris Six Eyes dengan ciri khasnya yang indah itu cukup membuatnya tersihir untuk beberapa saat, membuat wajahnya agak memanas saat sadar kalau tangannya menangkup wajah Utahime yang mungil.

"Gue tau lo murung dengan luka lo ini. Gue gatau kenapa lo bisa terluka kaya gini, karena lo gamau cerita. Tapi gue ga pengen lo murung terus, kenapa emang sama luka ini?"

Utahime terdiam.

"Justru luka ini jadi tanda kalau lo itu salah satu penyihir terkuat, ya gak sih?" Kata Gojo. "Cheer up, Kak! Nih, gue bawa sesuatu buat lo,"

Gojo melepas tangkupannya di wajah Utahime dan memberikannya pita yang kemarin sempat ia beli. Pita warna putih, dengan ketulusan yang ia punya suapaya Utahime bisa percaya diri lagi.

"Harganya murah sih, tapi dipake, ya. Jangan disembunyiin lagi lukanya,"

Utahime memegang pita itu. Tanpa sadar, pangkal tenggorokannya terasa sakit- matanya berair, sampai akhirnya menetes air matanya.

"Lu ngapa nangis anjiiiir???"

Utahime tidak membalas. Ia hanya mengenggam erat pita itu.

"Jangan nangis ahh tar gue lagi yang disalahin!" Kata Gojo, sambil membungkukkan badannya, mencoba untuk melihat wajah Utahime yang menunduk sambil meneteskan air matanya.

Tangannya yang panjang sudah hendak meraih tubuh mungil itu dalam pelukannya. Gojo sangat ingin memeluknya- ia menganggap kalau Utahime sangat-sangat berharga sehingga ia ingin melindunginya. Karena itu dia sering mengejek Utahime. Karena itu juga, ia terus ingin bercanda dengan Utahime. Agar ia bisa melihatnya- meski hanya amarah yang hanya dia dapatkan. Entah bagaimana caranya pikiran semacam itu bisa muncul di pikiran anak umur 17 tahun- selama ini ia sendirian, dan sudah menganggap teman-teman sekolahnya sebagai kerabat terdekatnya.

Saat tangannya meraih bahu Utahime, suara familiar datang dari pintu kelas.

"Gojooo lu apain Mbak Uta sihhhh ampe nangis begituuu?"

"Gue laporin ke pak Yaga nih lama-lama,"

Shoko datang dari arah pintu kelas bersama Geto.

"Ganggu ajadah!"

Geto melirik ke Gojo, "Maaf ya, ganggu kalian pacaran," katanya.

"APANYA!"

kaget, Utahime yang lagi nangis pun tetap kekeh menyangkal pernyataan Geto. "Sabar, mbak,"

"Udah ah! Gue mau balik asrama!"

Utahime pergi dengan hadiah dari Gojo di tangannya. Ia menghilang dari pandangan ketiga sahabat karib itu.

"Lo sih, dateng di timing yang jelek," kata Gojo.

"Lah, jadi gue yang salah," kata Shoko. "Geto yang nyuruh gue,"

"Dih, gue lagi?"

bising kedua temannya itu tak membuat Gojo berhenti memikirkan apa yang terjadi pada Utahime. Tapi beberapa saat kemudian, ada sebuah pesan singkat yang masuk ke ponsel kecilnya-

Dari : Utahime Iori

Terimakasih.

Gojo Satoru pun tersenyum.