Balas review:
Guest:
Awkwk, itu terlalu fakta, hahaha :D
ZhongEi:
Makasih support-nya! :D
Megumin07:
Yup, memang seharusnya bentar lagi end, cuma ya karna jadwal update author aja yg membuatnya terasa agak lama.
Well soal chapter epilog sudah pasti akan ada, tinggal nunggu aja nanti :)
Soal ellen, well, sayangnya dia udah gak ada tempat lagi di fic ini, jadi ya dengan terpaksa author bersihin itu karakter :D
Dan yeah, makasih review baiknya, hehe :D
Reply0:
Wkwk, gaskeun ampe ke ujung!
Sesi balas review akhirnya berakhir, dan seperti biasa, gak ada yang mengecewakan, mwehehe.
Mantap kalian semua :)
Tanpa basa-basi lagi silakan membaca update chapter 18 di bawah ini :D
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Menjelang pagi hari di salah satu lantai gedung ini.
Nia mendapati dirinya menerima tugas lain selain mengerjakan seri novelnya; yaitu mengawasi pekerja baru.
"Mulai hari ini aku bekerja di bawah pengawasanmu. Mohon bantuannya, Nia-senpai."
Nia mengamati pemuda berambut kuning di hadapannya ini. Mudah murah senyum, jelas ramah, dan disertai sikap yang setidaknya bagus.
"Namamu... Uzumaki Naruto-kun, benar? Selamat datang di perusahaan Yggdrasil Sephira, kurasa."
Yggdrasil Sephira pada dasarnya tidak lebih dari sekedar kamuflase agar mereka dapat berbaur di masyarakat dan menjalankan misi terkait Spirit. Namun, Nia mengakui kalau dirinya bersama anggota Ratatoskr lain, semuanya terlalu menyukai perusahaan ini hingga ke tahap terlalu antusias ketika mengerjakan proyek menyangkut anime.
Naruto menyengir.
"Aku mengapresiasi sambutannya, Nia-chan."
Nia tersenyum lalu tersadar dengan perkataannya.
"Ap-hey, ke mana sikap hormatmu tadi?!" (Nia).
"Malas. Mending begini saja, dattebayo." (Naruto).
Nia tercengang.
Untuk beberapa alasan, dia merasa kepalanya akan sering terasa sakit, dan semua itu karena lelaki di hadapannya ini.
"S-Setidaknya, pastikan kau mengikuti aturan standar perusahaan ini, paham?"
Naruto masih menyengir, tapi kali ini, cengirannya semakin lebar.
'Hauuu, selamat tinggal masa tenangku.'
Perempuan itu menangis dalam hati.
Siang hari saat tanggal cuti. Nia mengetik banyak kata sementara Naruto duduk di sampingnya. Mereka sedang berada di ruang tamu sambil ditemani laptop dan makanan ringan.
"Ano, Naruto-kun, bisa kau bantu aku dengan ini?" tanya Nia.
Walau awalnya skeptis, tapi setelah beberapa minggu, dia pada akhirnya terbiasa dengan kehadiran Naruto di hidupnya. Contohnya saja mereka sedang mengerjakan proyek bersama di rumahnya saat ini.
"Osu," jawab Naruto.
Nia membiarkan lelaki itu mengambil alih laptop(nya). Dia teringat sesuatu lalu beranjak dari sofa.
"Aku mau ambil minum. Mau diambilin sekalian gak?"
"Susu soda, yang kaleng kalau ada."
"Oke."
Nia pergi ke dapur.
Tidak perlu waktu lama, dia kembali ke ruang tamu dengan membawa dua objek berbeda warna, lalu menyerahkan salah satu kaleng pada lelaki itu. Naruto berhenti mengetik sejenak dan menerima minumannya.
"Makasih, Nia-chan."
"Sama-sama."
Nia duduk lagi di sampingnya
"Ini mungkin firasatku, tapi sepertinya kau gak akan pernah panggil aku dengan sebutan 'Senpai' lagi, huh?"
Naruto menyengir ke arahnya.
"Nia-chan lebih pas saja bagiku."
Nia menghela nafas.
"Sudah kuduga… tadinya aku pengen bilang gitu, tapi khusus untukmu, kurangnya sikap hormatmu akan kubiarkan saja sepertinya."
Naruto terkejut dan merasa tersentuh.
"Aww, aku juga sayang kamu, Nia-chan." (Naruto).
"Ap-hey! Kenapa nyambungnya malah ke sana?!" (Nia).
Naruto tertawa sedangkan Nia cemberut, tapi hanya untuk sesaat, karena pada akhirnya dia ikut tertawa juga. Mereka berhenti tertawa setelah beberapa saat.
"Dah sudah, waktunya ngetik lagi."
"Dan jangan lupa, ikutin draft kasar kita sebelumnya, Naruto-kun."
"Siap laksanakan, dattebayo."
Naruto mengetik lagi. Di sisi lain, dia mengamati pekerjaan yang dilakukan lelaki itu, dan ekspresi senang terlihat di wajahnya.
'Ah… kebersamaan kita ini… kuharap bisa berlangsung selamanya.'
Nia diam-diam tersenyum dengan pipi merah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seirei Ninja
Summary
Dengan kenyataan yang terungkap, ninja kuning itu harus berhadapan dengan ancaman lain, yang tidak hanya mengancam eksistensi Spirit, tapi juga alam semesta secara keseluruhan.
.
.
Disclaimer
Naruto dan Date a Live dimiliki oleh pemilik aslinya. Author hanya meminjam mereka untuk kepentingan fanfic ini.
.
.
Genre
Utama : Romance. Drama. Friendship. Harem.
Selingan : Humor. Family. Action. Supranatural.
Warning : Semi-OOC Naruto.
.
.
Chapter 18
Lembar Penebusan
(Part Akhir)
.
.
.
Ledakan hebat terjadi di mana-mana.
Sementara dirinya sibuk menghindari kejaran para makhluk raksasa ini, Naruto berusaha fokus menjaga Nia yang sedang ada dalam pelukannya, tidak lupa memikirkan cara agar bertahan dari situasi ini.
Dia tersentak.
'Sial, bodohnya aku.'
Naruto langsung membentuk segel tangan.
"Tajuu Kagebunshin no Jutsu!"
Seketika jutaan klon Naruto bermunculan. Mereka semua langsung menyerang setiap monster yang berani mendekati keduanya. Di sisi lain, Naruto melayang turun di antara tanah, lalu melepaskan gadis itu dari pelukannya. Dia menyadari Isaac perlahan ikut turun.
"Nia-chan, tetap dibelakangku," kata Naruto.
"U-Um," balas Nia.
Nia menurut lalu berdiri di belakangnya. Isaac menghela nafas dengan tingkah perempuan itu.
"Dasar, padahal aku baru mau ngasih kue tadi."
Naruto memperhatikan aneka serangan elemental dan teknik mengesankan lain dilakukan oleh klonnya lewat bantuan energi Spirit. Dia kembali menghadap pria itu dengan ekspresi waspada.
"Sikapmu barusan.. sepertinya kau sangat suka dengan kekacauan, huh?" sahut Naruto.
Isaac menyeringai dan memperlihatkan gigi taring dengan iris matanya berubah hitam.
"Jangan tegang gitu, cobalah bersantai... seperti aku, yang suka mandi di kolam darah," canda Isaac.
Dia matanya menyipit, dan sebelum bisa mengatakan apapun, suara batuk terdengar.
"U-Uhuk.."
Berbalik, dia melihat gadis itu jatuh tersungkur sambil memuntahkan darah, dan yang mengejutkan adalah kulitnya mendadak pucat. Naruto tanpa ragu menyatukan telapak tangannya. Sontak barrier pelangi dengan bentuk segitiga mengitari Nia, perlahan tapi pasti, kulit pucatnya kembali menjadi sehat dan wajahnya segar lagi.
"A-Aku baik-baik saja, kau fokus saja padanya, Naruto-kun."
Naruto mengangguk lalu beralih kepada pria itu. Isaac bertepuk tangan sambil bersiul.
"Heroik sekali kau ini… seperti yang diharapkan dari seorang Naruto Uzumaki."
Mereka berdua saling pandang dengan raut wajah berbeda. Naruto serius sedangkan Isaac santai.
"Hawa buruk yang ada pada Nia-chan… untuk beberapa alasan, aku bisa merasakannya darimu."
Isaac terkekeh.
"Aku bisa paham mengapa kau berpikir seperti itu." Isaac menambahkan. "Bahkan kau gak memakai Sage Mode sama sekali… [Reiryoku] benar-benar sesuatu, eh?
"Tapi anehnya cuma Spirit dari semesta ini yang mempunyai latar belakang yang sangat berbeda, dan juga, kekuatan yang terlalu luar biasa bila dibandingkan dengan yang lainnya."
"Kau bicara seolah Spirit juga ada di luar sana."
Keduanya mengabaikan guncangan hebat yang sedang terjadi akibat pertarungan klon Naruto melawan para monster. Isaac angkat bicara dengan ekspresi terhibur.
"Gak sekuat yang ada di sini tentunya... tapi setidaknya, aku masih baik hati dengan membunuh mereka secara bersamaan."
Penglihatan lain terlintas di benak lelaki itu.
Seorang remaja laki-laki berambut biru menangis di antara kumpulan mayat perempuan. Kebakaran hebat terjadi di sekitar mereka.
"Yoshino... Kotori... Kaguya... Natsumi... Miku... Tohka... semuanya...!!!"
Perlahan, dia menatap benci sosok humanoid buruk rupa dengan sayap yang terbang di udara, lalu dengan cepat memanggil suatu pedang lalu terbang ke arahnya.
"...AAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRGHHHHH!!!!"
Humanoid itu mengibaskan lengannya. Seketika, kepala remaja berambut biru itu terlepas dari tubuhnya, dan mati di tanah menyusul yang lain.
"…"
'Itu... wujud aslinya? Enggak, mengingat sikap makhluk ini, kemungkinan dia masih punya bentuk fisik lain,' pikir Naruto.
Naruto menggeleng lalu fokus lagi.
"Spirit? Kau punya dendam dengan Spirit juga?"
Isaac mengangkat bahu.
"Enggak juga. Kebetulan saja aku ambil identitas 'Isaac Westcott' dari dunia itu... tapi kau..."
Ekspresi Isaac berubah. Tak ada kesan humor lagi dari raut wajahnya, melainkan amarah, kebencian, dan segala emosi buruk lainnya.
"... kau... kau, Uzumaki Naruto, yang gak bisa kumaafkan sampai kapanpun juga."
Nada bicara Isaac berubah. Meski penampilannya manusia, tapi suaranya menjadi lebih berat, dan terkesan inhuman.
Dia tidak mengatakan apapun, tapi, dirinya sudah menyadari satu hal penting dari perkataannya.
"Singkatnya… kau adalah ancaman terakhir bagi kehidupan kami."
'Pria' itu tertawa.
"Tepat sekali. Dan ada baiknya kita pindah ke tempat yang lebih… menyenangkan, khusus pertarungan ini."
Isaac menjentikkan jarinya.
"?"
Naruto mengamati keadaan sekitar yang telah berubah. Saat ini, dia berada dalam suatu bangunan menyerupai rumah sakit, tapi dengan keadaan hening seolah tak ada siapapun di sini. Bahkan hanya sebagian penerangan yang berfungsi sementara sisanya padam.
"…"
Naruto melangkah pelan ke depan. Berhenti sejenak, dia menyadari ada tulisan di dinding, dan itu ditulis dengan darah.
KENAPA CUMA AKU SAJA YANG SADAR KENYATAANNYA?
Lelaki itu mengerutkan alis.
'Kenyataan? Apa hubungannya dengan itu?'
Naruto menengok ke samping. Kemudian, dia melihat tulisan darah lain, kali ini mengutarakan maksud berbeda.
KARENA AKU SAJA YANG SADAR, BERARTI AKU LAH KEBENARANNYA, BENAR BEGITU?
Sebelum bisa berkomentar, dia memperhatikan setiap lampu yang aktif pecah satu demi satu, hingga pada akhirnya di sini gelap gulita.
"…"
Ninja itu masih membuka matanya. Karena pada dasarnya, dia masih bisa melihat semuanya dengan jelas, lalu dirinya menghembuskan nafas.
"Jadi? Mau sampai kapan kau berdiri di belakangku terus?"
Naruto memutar badannya ke belakang, sempat mendengar ledakan di depan sana, lalu tanpa ragu meninju sesuatu dengan keras. Seketika semuanya cerah lagi, tapi kali ini, dia berdiri di atas lautan merah dengan langit ungu sebagai pelengkap. Naruto juga memperhatikan kehadiran bulan sabit merah di atas sana.
"Lagi-lagi… dimensi yang berbeda," gumam Naruto.
Sebuah bola cair merah naik dari laut kemudian melayang di udara. Naruto waspada dan melihat bola itu mengubah wujud menjadi Isaac. Isaac mengelus sudut bibirnya yang sedikit merah.
"Harus kuakui, untuk seorang Naruto Uzumaki, pukulanmu lebih keras dari versi lainmu."
Naruto mengerutkan alis.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Hm? Kenapa kau sampai mikir sejauh itu?"
"Karena jelas sekali kau gak suka kehadiranku… entah apa alasannya."
Isaac tiba-tiba tertawa.
"Oh, itu benar sekali, aku memang dan sangat membencimu." Isaac menambahkan. "Kau juga sadar dengan semua mayat versi dirimu, bukan? Mereka… sangat menyedihkan.
"Baik kau yang sudah jadi Hokage, atau masa mudamu, semuanya melalui kehidupan yang bahagia… dan itu membuatku muak."
Naruto berpikir sejenak. Beberapa teori bermunculan di benaknya.
"Akatsuki?" tanya Naruto.
"Jauh," jawab Isaac.
"Otsutsuki?"
"Kau mau melawak?"
"Uchiha?"
"Bahkan gak mendekati sekalipun."
"Kabuto?"
"Lelucon yang bagus."
Dia mengerutkan alis.
'Jika dia bukan salah satu dari orang-orang yang kusebut tadi... terus siapa?'
Isaac bertepuk tangan. Aksi 'pria' itu menarik perhatian Naruto.
"Nah, sudah bicaranya, sekarang..."
Isaac menyeringai.
"...saatnya pesta dimulai, tidakkah kau pikir begitu?"
Naruto ekspresinya serius.
Keheningan menyelimuti suasana mereka berdua.
"…"
"…"
Gelombang kejut menghempaskan air laut ke segala arah. Baik Naruto dan Isaac sama-sama meninju wajah mereka saat itu terjadi. Mereka langsung melompat mundur, tapi dengan cepat Naruto menarik kunai sementara Isaac menciptakan belati dari ketiadaan, lalu keduanya mengadu senjata tajam masing-masing sehingga percikan api tercipta sebagai akibatnya.
Merasa kurang, Naruto melompat kemudian melempar beberapa shuriken yang diselimuti aura putih ke arah Isaac, yang dengan mudah dihindari oleh lawannya itu. Namun, secara mengejutkan sebuah portal hitam langsung mengisap shuriken-shuriken tersebut, memindahkannya kembali pada Isaac tepat di punggungnya. Seketika Isaac tersambar petir hebat usai shuriken-shuriken itu menancap di punggungnya.
"Cih."
Isaac mencabut paksa semua shuriken itu. Melihat peluang, Naruto terbang turun lalu menendang wajah Isaac, menghempaskan Isaac hingga begitu jauh dari lokasi sebelumnya. Namun, Isaac seketika berubah wujudnya menjadi kobra raksasa, yang langsung mendesis pada Naruto sebelum akhirnya berusaha melahapnya. Naruto terbang lagi dan pada akhirnya menetap di udara. Menyadari lawannya masih mengejarnya, dia menciptakan Rasenshuriken berwarna ungu yang langsung dilemparnya, alhasil mengiris kobra tersebut menjadi dua sebelum meledak.
"…"
"…"
Naruto menangkap tinju Isaac dari samping. Dia menyeringai.
"Kau cepat menyadarinya."
"Mustahil kau kalah semudah itu."
"Bingo."
Seketika Isaac berubah menjadi wanita berpenampilan duyung sebelum menjerit pada ninja itu. Tersentak, dia segera mencengkeram leher sang siren, lalu melemparnya dengan keras ke bawah hingga mencapai laut. Naruto menyadari tetesan darah dari telinganya dan aura putih menyelimuti celah yang terluka.
'Ini cukup seharusnya.'
Naruto menengok ke bawah dengan lengan terangkat. Seekor titanoboa tiba-tiba naik dan membuka lebar mulutnya. Bola berwarna pelangi tercipta sebelum pada akhirnya membesar dengan cepat.
"CHO OODAMA RASENGAN!"
Naruto terbang turun dan langsung menghantam Rasengan masifnya pada titanoboa. Teknik itu mendorong kuat sang makhluk purba kembali ke dasar laut terdalam.
"?!"
Namun, Naruto tiba-tiba menemukan dirinya berada di langit biru dalam kondisi terjun bebas, dan melihat banyak gedung runtuh di sekitarnya. Naruto refleks menyilangkan tangannya di depan dada ketika Isaac melayangkan tendangan kepadanya. Terlempar sedikit, dia menabrak dinding beberapa kali sebelum berhenti usai punggungnya mengenai aquarium ikan, dan langsung berdiri saat melihat Isaac muncul di ruangan ini. Mereka melesat satu sama lain dan pertarungan jarak dekat dimulai lagi. Baik Naruto dan Isaac sama-sama melancarkan tendangan maupun pukulan, dan hasilnya gelombang kejut tercipta dari serangan fisik mereka, itu bahkan menghancurkan semua perabotan sampai memecahkan semua kaca di ruangan ini.
Akan tetapi pada satu titik, Isaac melayangkan pukulan dengan lengannya mendadak berubah menjadi tombak tajam, tapi Naruto dengan keraguan nol mengadu tinjunya, menghancurkan ujung tombak sebelum memukul wajah Isaac sampai lawannya terpukul mundur. Naruto berlari lalu melakukan uppercut pada dagu Isaac, lalu melompat dan disusul dengan tendangan keras lain ke bagian muka, itu dilakukan berulang kali hingga menghancurkan banyak langit-langit.
Tak berselang lama.
Atap gedung berlubang dan keduanya berada di udara lagi. Tidak berhenti, Naruto segera ditelan portal hitam, hanya untuk muncul di belakang Isaac lalu berusaha menendang lagi, tapi kali ini ditahan olehnya. Isaac terkejut.
"Kau… ini bukan Naruto Rendan…"
Tanpa ragu, Naruto memutar badan dan membanting punggung tangannya ke wajah Isaac, disusul dengan tinju lain lalu berputar lagi sebelum membanting punggung kakinya tepat di sisi perut lawannya.
"SHISHI RENDAN!"
Isaac terjun jauh ke bawah layaknya meteor dan jatuh tenggelam. Naruto menyadari dimensi ini telah berubah lagi dan dirinya kembali berdiri di atas laut merah.
'Waspadalah diriku, jangan sampai kau lengah.'
Naruto mengamati keadaan sekitar dengan fokus. Keheningan mencekam menyelimuti dimensi ini.
"…"
Naruto langsung terbang di langit. Ia melihat para megalodon dengan jumlah tidak sedikit berusaha menggapainya dengan gigi-gigi runcing mereka.
'1.000, huh? Mungkin 100 matahari seharusnya cukup.'
Mata Naruto berubah menjadi putih dan seketika berbagai planet matahari tercipta di langit yang langsung menghantam para megalodon tanpa terkecuali. Guncangan hebat terjadi di seluruh dimensi ini saat itu juga.
Ketika serangannya terhenti, dia mengamati laut merah itu telah kering dan menyisakan daratan merah, perlahan dirinya turun sekaligus mendarat.
Deg.
Ia menengok ke belakang dan langsung menangkap tinju dari Isaac, tapi di saat bersamaan, tinju lain meluncur yang seketika membuat Naruto terpukul mundur dengan dua bola matanya pecah. Isaac melompat dengan satu kaki terangkat, kemudian turun sambil membanting punggung kakinya tepat di atas lawannya, membelah dua kepala Naruto sehingga mengeluarkan darah. Namun, Naruto tanpa ragu menangkap kaki Isaac, memutarnya dengan cepat sampai menciptakan tornado sebelum melempar musuhnya itu jauh ke sisi daratan yang berbeda. Seketika aura ungu menyelimuti Naruto lalu kondisinya pulih seperti semula.
Isaac tiba-tiba muncul dengan serangan fisik lain. Begitu pula dengan Naruto yang kali ini siap dengan tinjunya juga. Mereka mengadu pukulan dan seketika penglihatan berbeda terlintas di benak lelaki itu.
Di antara reruntuhan kota ini, seseorang dibalik armor naga merah disertai kristal hijau meraung ke arah sosok humanoid buruk rupa dengan sayap, tapi pada akhirnya tubuhnya terbelah dan mayatnya tergeletak bersama mayat teman-temannya yang lain.
Keduanya saling memukul lagi dan lelaki itu menerima penglihatan lain.
Dua kembar lelaki dan perempuan berambut pirang tampak melayang di udara sambil menyerang sosok humanoid buruk rupa bersayap. Namun, pada akhirnya, mereka berdua kalah tapi sempat meneriakkan nama "Lumine!!!" dan "Aether!!" sebelum lenyap dari kenyataan.
Naruto dan Isaac mencengkeram tinju masing-masing ketika serangan fisik mereka terhenti. Naruto menggeram lalu mengadu kepalanya dengan kepala Isaac sampai kepala mereka sama-sama hampir pecah.
Dataran luas terlihat, lengkap dengan kumpulan orang dengan penampilan beragam mengelilingi sesuatu.
Seorang pemuda berambut kuning dan pemuda berambut hitam tergeletak dalam kondisi mengenaskan di tanah. Kulit mereka melepuh dan sebagian permukaannya terkelupas sampai mengeluarkan nanah.
Salah satu remaja perempuan di sana menangis, rambutnya pink dengan iris mata hijau.
"K-Kenapa? Padahal kita sudah menang *hiks*tapi kenapa kalian juga ikut mati?"
Seorang pria mengenakan masker meletakkan tangannya di bahu perempuan itu.
"Kau sudah melakukan apa yang kau bisa, Sakura. Kematian Naruto dan Sasuke… di luar kendali kita."
Seorang remaja perempuan berambut indigo menangis di pelukan seorang laki-laki dengan tanda segi-tiga merah di pipinya. Lelaki itu menatap sedih ke arah salah satu mayat.
"Di mana pun kau berada sekarang, semoga kau dapat menemukan kebahagiaan di dunia lain, sahabatku."
Beberapa ninja dengan ikat kepala daun memperhatikan kedua mayat itu dengan ekspresi aneh.
"Setidaknya… kita bisa lega Jinchuuriki dan anggota terakhir klan Uchiha itu tewas."
"Ssst, pelankan suaramu."
"Ah, maaf, cuma aku lelah saja pernah pura-pura baik sampai minta tanda tangan di depannya."
"Yah, penduduk lain sebenarnya takut dengan peningkatan kekuatan Jinchuuriki kita, walau mereka tidak mengatakannya secara langsung."
"Setidaknya akan ada yang lega saat tahu soal ini."
"Bodoh kalian, karena dia mati, siapa yang akan melindungi kita kalau ada ancaman lain datang?"
"K-Kau benar, bagaimana ini?"
Sementara itu, seorang lelaki berambut nanas menyipitkan matanya ke arah mereka, hanya sesaat lalu kembali ke mayat teman rambut kuningnya.
"Aku tahu ini terdengar gak masuk akal, bahkan untukku, tapi… kuharap kehidupanmu yang berikutnya lebih baik dari yang sekarang, meskipun itu berarti kau melupakan kami semua, Naruto," gumam lelaki nanas itu.
Keduanya terpaksa mengambil langkah mundur. Ninja itu kebingungan dengan penglihatan yang diterimanya, mengabaikan fakta kalau keningnya meneteskan darah, tapi itu pulih seketika. Begitu pula dengan luka Isaac yang ikut sembuh dengan cepat.
'Mustahil. Kenapa momen kematianku ada pada ingatannya?'
Naruto sempat berpikir akan melihat kematian versi lainnya. Namun, entah mengapa momen kematiannya dulu yang terlihat, dan itu sama persis tanpa ada perbedaan sama sekali.
Seakan menyadari sesuatu, Isaac terkekeh, dan sesaat bola matanya adalah biru safir sebelum kembali hitam. Naruto melebarkan matanya.
"K-Kau, jangan bilang-"
"Fokus!"
Naruto terlempar usai ditendang Isaac. Berputar di udara, dia mendarat turun, dan melihat kumpulan kepala naga berusaha memakannya. Sontak Naruto memukul setiap kepala naga dengan tangan diselimuti hawa crimson, ketimbang menghancurkan, pukulannya membagi waktu mereka ke titik nol sampai lenyap. Naruto menyadari kalau Isaac telah menghilang dari penglihatannya.
'Ke mana dia?'
Suara seseorang terdengar di seluruh dimensi.
"Gimana rasanya saat tahu identitas asliku, hm? Kau pasti semakin bertanya-tanya mengapa aku melakukan semua ini."
Naruto menggertakkan giginya.
"Semua dunia itu… semua nyawa itu… kalau kau sangat ingin kedamaian, kenapa mereka yang gak bersalah harus jadi korbannya?!"
Tawa keras terdengar.
"Ah, seperti kata pepatah, gak ada yang bisa memahami dirimu… kecuali kau itu sendiri."
"JAWAB PERTANYAANKU!"
Naruto menengok sekitar dengan ekspresi marah. Dia berusaha mengontrol emosinya, tapi setelah mengetahui siapa identitas asli dari Isaac Westcott, dirinya merasa emosi... dan juga bersalah.
"Nah, itu bisa dilakukan nanti, karena saat ini…"
Seketika muncul banyak makhluk berpenampilan mirip ninja itu sendiri dari ketiadaan.
"…sepertinya para Nekrom tertarik melakukan pesta dengan dagingmu."
Suara itu tidak terdengar lagi setelahnya.
Ninja itu menerima penglihatan lain terkait kehidupan mereka.
Seorang shinobi kuning meraung dalam keputus-asaan berat saat desanya musnah dengan jumlah mayat terbakar di sekelilingnya.
Naruto mengeraskan ekspresinya.
'Begitu… para makhluk ini, mereka yang tadi kulihat di laut hitam itu… sekaligus versi lain diriku juga rupanya.'
Walau mereka nampak mengerikan, dengan taring dan iris mata hitam pekat, tapi dia bisa dengan jelas merasakan kesedihan, penderitaan, trauma, dan semua emosi gelap itu menyatu dalam diri mereka.
"..."
Naruto menarik nafas lalu mengepalkan tinjunya. Perlahan energi crimson terkumpul di sekitar tangannya lalu mengambil bentuk padat.
"Jika dia pikir aku akan membunuh kalian, maka itu pemikiran salah, karena yang akan kulakukan sekarang…"
Para Nekrom menerjang ninja itu bersamaan.
"…adalah menyelamatkan kalian semua!"
Naruto berteriak saat membanting tinjunya ke laut.
Seketika semuanya diselimuti hawa crimson pekat.
Maria berjalan ke sana-kemari dengan ekspresi cemas di wajahnya. Tenka mengerutkan alis saat mengamati tingkah sesama Spirit itu.
"Kau sedang memikirkan apa, Maria?"
Saat ini, mereka berempat tengah berada di ruangan khusus, sedangkan sisanya berkeliaran di sekitar markas [Ratatoskr]. Khususnya Hibiki, Kurumi, dan Kurama.
Maria berhenti sejenak lalu beralih pada Tenka.
"Ah, enggak, aku cuma… memikirkan kencan mereka berdua, itu saja," ujar Maria.
"Um? Seharusnya kencan mereka berlangsung baik, bukan? Terlebih lagi Nia adalah manusia normal, jadi seharusnya gak ada yang perlu dikhawatirkan," sahut Tenka.
Maria mengerutkan alis.
"Kau ada benarnya juga, kurasa aku saja yang terlalu berlebihan memikirkannya."
Kemudian, dia mengamati ada pesan di ponselnya, lalu beralih pada Tenka.
"Aku diperlukan. Kau mau ikut?"
"Boleh, kebetulan aku sedang haus... tapi aku akan balik lagi ke sini nanti."
Maria tertawa kecil.
"Terserah kau saja."
Tenka berseri.
Keduanya pergi dari ruangan ini. Kini hanya ada Mio dan Carmerra di sini.
Kebetulan mereka berdua tengah berbincang mengenai sesuatu.
"…kait [Rasiel]. Bagaimana menurutmu?"
Carmerra terdiam sejenak.
"Aku… enggak terlalu yakin, Nona Mio." Carmerra menambahkan. "Ini mungkin terdengar aneh, tapi aku merasa kalau [Rasiel] gak akan cocok lagi denganku sekarang."
"Tapi... apa kau yakin? Maksudku, ini agar memastikan kau tetap hidup lama di era ini." (Mio).
"Positif." (Carmerra).
Mio tidak bicara lagi. Spirit itu membuka telapak tangannya dan kristal kelabu muncul dari ketiadaan. [Rasiel] bersinar pelan ketika melayang di antara keduanya. Carmerra terkejut.
"Eh? T-Tunggu bentar, kenapa [Rasiel] bilang kalau 'aku' juga ada di masa kini?"
Dia terdiam. Raut wajah rumit nampak di wajah Spirit pertama itu.
"Itu karena ada kemungkinan jika Honjou Nia… adalah reinkarnasimu, di waktu modern ini."
Carmerra merenung sesaat lalu dirinya angkat bicara.
"Kalau dipikirkan lagi, aku memang merasa... familiar, dengan kehadiran Nia. Kurasa itu maksudnya."
Tak ada percakapan lagi di antara mereka berdua. Setidaknya, hingga tiba-tiba Carmerra tersungkur, dan dia terkejut dengan perkataan mantan Spirit itu berikutnya.
"N-Nia! Jiwanya... jiwanya dalam bahaya!"
Untuk sesaat, mata Spirit pertama itu bercahaya, tapi meredup dalam waktu singkat.
'E-Eh? Kenapa… kenapa kekuatanku gak bisa mencapai mereka berdua? Rasanya seperti… diblok sesuatu?' pikir Mio.
[Rasiel] bercahaya sedikit. Spirit pertama itu tersentak dengan usul dari [Kristal Sephira] tersebut.
"Nona Mio… itu bisa dilakukan, 'kan?"
Mio bergetar dengan ekspresi rumit.
"Secara teknis, jika [Rasiel] saja yang pergi, maka itu mustahil dilakukan.
"Namun, lain halnya jika jiwamu yang bergabung dengan [Rasiel, maka dengan begitu jiwa Nia bisa terselamatkan… tapi kau akan mati sebagai gantinya."
Keheningan menyelimuti situasi mereka.
Carmerra tersenyum.
"Dalam waktu singkat ini, aku... paham, kalau kalian semua selalu berusaha memberikan support padaku. Tapi, biar bagaimanapun, rasa bersalah ini, masih tetap terasa di hatiku.
"Oleh karena itu, jika aku bisa menyelamatkan seseorang, satu nyawa saja, maka aku ingin melakukannya... sebagai bentuk keputusan akhirku."
"…"
Mio perlahan mengarahkan tangannya ke arah Carmerra. Namun, seketika Spirit lain memegang tangannya, dan ia terkejut.
"Tenka?"
Tenka ekspresinya serius.
"Aku… gak sengaja dengar percakapan kalian." Tenka menambahkan. "Dengan diriku yang sekarang, memisahkan jiwa dari fisik bukan hal sulit.
"Jadi… jika kau mengizinkan, biar aku saja yang melakukannya."
"..."
Mio terdiam lalu mengangguk.
Kemudian, Tenka langsung memegang gagang senjata tajam itu, lalu menatap Carmerra dengan ekspresi tenang.
"Ini gak akan terasa apapun. Aku janji padamu."
Gadis itu menggeleng.
"Itu bukan masalah, tapi yang pasti… terima kasih…"
Carmerra melirik ke arah Mio dengan senyuman, lalu dengan perlahan, kembali menatap Tenka.
"…karena gak membuat Nona Mio-bukan, sahabatku, menanggung beban ini."
Tenka mengangguk sebelum mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Carmerra memejamkan matanya. Kemudian, dia mengayunkan Sandalphon, dan raga Carmerra tersungkur dengan suatu asap putih keluar dari raganya. Asap ini membentuk 'Carmerra' tapi dengan penampilan hampir transparan.
Mio memaksakan dirinya untuk tersenyum.
"Selamat tinggal… sahabatku."
'Carmerra' hanya tersenyum lalu mengubah wujudnya menjadi seperti semula. Asap putih itu menyelimuti [Rasiel] lalu keduanya menghilang begitu saja.
"…"
Mio perlahan mengisi kursi sementara Tenka duduk di sampingnya.
"Kau mau… kuambilkan sesuatu? Mungkin makanan atau minuman?" tawar Tenka.
Nada bicaranya terdengar cemas.
Spirit pertama itu mengangguk.
"Sekalian… panggil yang lain kemari."
"Um."
Dengan amanat itu, Tenka pergi dari tempat ini, meninggalkan Mio seorang diri.
"…"
Tetesan air mata jatuh.
Nia mengatupkan bibirnya.
'Kuharap dia baik-baik saja.'
Berdiam diri di barrier, gadis itu berusaha untuk tetap tenang, walau kenyataannya dia merasa sangat khawatir dengan keadaan Naruto saat ini.
'Meski begitu, siapa sangka kalau pemimpin [DEM] itu sendiri yang rupanya dalang dibalik semua ini? Tapi entah mengapa dia sepertinya lebih suka solo… kurasa ini definisi nyata dari seseorang yang bisa ngelakuin semuanya sendiri.'
Ia memperhatikan kalau pertarungan antara klon dan para monster itu telah berakhir.
'Dan anehnya Mio-chan bahkan gak sadar dengan kehadirannya selama ini… kurasa dia memang punya kemampuan yang menangkal pengaruh Spirit ke tahap tertentu.'
Nia menghela nafas.
'Yah, nasib baik Naruto-kun punya kehadiran energi lain dalam dirinya, jadi dengan kata lain, dia punya kelebihan Spirit tanpa kekurangan mereka.'
Sebagian dari mereka telah menghilang dalam kepulan asap dan sisanya berpindah ke sisi gadis itu.
"Err, nona boss, apa perlu kami atur ulang barrier-nya? Mungkin seperti peningkatan faktor regenerasi, atau mewujudkan beberapa tipe menu agar perutmu kenyang?" tawar klon tertentu.
Salah satu di antara mereka terkekeh.
"'regenerasi' katanya."
"Oi, bukan salahku kalau pola pikirku tiba-tiba berkembang ke arah yang aneh."
"Huh, kau benar, aku bahkan baru tau pendinginan Absolute Zero tapi anehnya bisa langsung paham bagaimana cara menerapkannya di pertarungan tadi."
"Dan kentutku menghanguskan wyvern raksasa. Sangat epic."
Mereka tertawa satu sama lain. Nia sweatdrop dengan percakapan para klon ini.
"Um, aku ingin tahu keadaan Ruto-kun sekarang, bisa kalian membantuku?" tanya Nia.
Klon tertentu berkedip.
"Oh, boss baik-baik saja, setiap serangannya mempunyai dampak signifikan terhadap lawan anehnya itu."
Nia lega mendengarnya.
"Fuuh, bagus kalau gitu."
Deg.
Ketiganya tersentak saat melihat gadis itu tiba-tiba jatuh tersungkur dengan kulit wajah mendadak pucat lagi.
"T-Tunggu bentar, Nona boss, akan kami atur barrier-nya agar-"
Salah satu klon berhenti bicara saat menyadari ia memuntahkan suatu objek. Baik para klon dan Nia kaget saat melihat ular kecil merayap pelan sebelum lenyap diikuti kabut hitam. Gadis itu bergetar saat teringat kejadian tertentu.
'B-Bentar kalau gak salah ini... seperti yang terjadi pada Carmerra, 'kan?'
Para klon bergegas menyentuh barrier saat menyadari ada hal tidak beres. Ketika itu menyala kecil, raut wajah Nia menjadi tenang lagi, kemudian ekspresinya berubah menjadi kepanikan.
"Awas!"
Sebelum bisa bereaksi, mereka dilahap kabut hitam lalu musnah, sementara kabut itu perlahan mengambil wujud seseorang. Seketika Nia tertarik ke arah pria itu sebelum dirinya memuntahkan darah segar.
"E-Eh?"
Menengok ke bawah, dia melihat perutnya ditembus oleh tinju Isaac, dan seketika rasa sakit luar biasa dirasakannya.
"Arrgggghh!!!"
Isaac mengabaikan Nia yang menjerit dan tersungkur di tanah. Dia tersenyum puas dengan bola hitam yang melayang di telapak tangannya.
"Dengan begini… lengkap sudah para [Gods]." Isaac berbicara dengan nada normal. "Kurasa melakukan reinkarnasi paksa pada rekan [Rasiel] itu bukan hal sia-sia. Buktinya kau bisa terlahir ke dunia ini dan jadi wadah bagi Ouroboros sebagai hasilnya. Aku berterima kasih padamu, Honjou Nia."
"A… Apa?"
"Ma, gak ada gunanya juga kasih tau lebih lanjut, karena sebentar lagi juga kau akan mati. Kecuali… kalau Carmerra mau menyerahkan potongan jiwa dan [Rasiel] padamu sebagai gantinya. Dah."
Isaac menyeringai sebelum menghilang. Sementara itu, dia memuntahkan darah lagi, dan pandangannya mulai kabur.
"Naru... To-kun?"
Nia kehilangan kesadarannya.
Di sisi lain, sebuah portal tercipta, dan lelaki itu muncul dari sana. Dia bergegas mendekati Nia lalu mengamati gadis itu dengan matanya yang berubah warna sesaat. Warna mata Naruto kembali seperti semula usai menemukan sumber masalahnya.
'Jiwanya sudah terpotong sebagian, tapi aku yang sekarang seharusnya bisa dengan mudah memulihkan fragmen kehidupannya. Yang perlu kulakukan cuma menyiapkan media spiritual agar nyawanya bisa pulih seperti semula.'
Sontak kristal kelabu terwujud di hadapan lelaki itu. Naruto kebingungan dengan peristiwa ini.
"[Rasiel]? Kenapa kau…"
Kristal itu bercahaya sedikit. Naruto terkejut dengan info yang diterimanya ini lalu ekspresinya tampak rumit.
"Begitu. Jika itu benar-benar keinginan Carmerra… maka aku akan menghargai keputusan terakhirnya."
[Rasiel] bercahaya terang dan langsung memasuki raga Nia. Begitu pula dengan Naruto yang perlahan menutup matanya.
.
.
.
Nia membuka penglihatannya.
"Di mana… aku?"
Mendengar suara non-human, dia menengok ke atas, dan melihat kepala seekor ular mendesis kepadanya. Dia juga memperhatikan keadaan sekitarnya minim penerangan dan menyadari kalau tubuhnya dililit oleh hewan itu.
'Aku… aku harus melakukan sesuatu.'
Nia berusaha menggerakkan tangannya, tapi sekuat apapun dia berusaha, usahanya itu berakhir sia-sia. Saat dia mencoba lagi, entah kenapa, beberapa ingatan buruknya di semasa sekolah terlintas di pikirannya.
"Wah, Nia nulis hal aneh lagi di buku tulisnya."
"Sudah jelek, cupu pula, pantas gak ada cowok yang mau sama dia."
"Ih, dasar orang aneh."
Dia bergetar hebat, karena semakin lama, ingatan buruk lain mulai memasuki kepalanya.
"Nia si aneh."
"Nia si buruk rupa."
"Lebih baik kau mati saja, Nia."
"Mati."
"Mati."
"Mati."
Pengulangan kata "Mati." selalu terdengar di kepala gadis itu. Hal ini diperparah dengan betapa kuatnya ikatan ular tersebut seiring waktu berjalan.
"Mati."
"MATI."
"MATI. MATI. MATI. MATI. MATI. MATI. MATI…"
Nia menggertakkan giginya.
'Enggak.. aku gak akan mati di sini.'
Memori lain muncul di pikirannya. Namun, tidak seperti sebelumnya, memori ini mengandung hal baik di semasa hidupnya.
"Selamat ulang tahun, Nia."
Memori bersama orang tuanya.
"Hey, Nia-chan, kau tahu kalau Nakatsugawa ngupil barusan?"
"Oi! Itu fitnah namanya!"
Kebersamaannya dengan kru kapal lain.
"Hmph, buat kopi itu mudah, cuma perlu dirobek bungkusnya… akan kucoba pakai Sandalphon."
"Jangan!"
Keanehan para Spirit.
"Bukan masalah, ambil waktumu sebanyak mungkin. Tapi..."
"Tapi?"
Naruto mengembangkan senyuman.
"...kalau kau perlu bantuan apapun, panggil aku."
Kedekatannya dengan pria yang dicintainya.
"…"
Nia berusaha membuka mulutnya, walau darah menetes keluar dari sela bibirnya, tapi dia memaksakan dirinya untuk berbicara.
"Na… To…"
Gadis itu menggertakkan giginya lalu berteriak.
"…Naruto!"
Semuanya retak dan akhirnya pecah secara bersamaan. Sebelum terjatuh, dia merasakan kalau seseorang telah menangkap dirinya, mengangkat wajah lalu air matanya menetes saat menyadari siapa orang ini.
"'kan sudah kubilang, kalau kau perlu bantuan apapun, panggil saja aku."
Naruto menyengir.
Sontak Nia memeluk lelaki itu dan menangis di pelukannya.
"Naruto *hiks* Naruto *hiks* Naruto *hiks*…"
"Ssst, keluarkan saja semuanya, aku akan di sini menemanimu, dattebayo."
Keduanya seperti ini selama beberapa saat. Pada akhirnya, dia berhenti menangis, lalu mengamati keadaan di sekitar. Nia terkesan dengan pemandangan taman bunga warna-warni dan langit biru cerah. Dia juga melihat kawanan burung beterbangan ke sana-kemari.
"Ini… dimensi buatanmu?" tanya Nia.
"Yup, aku membuatnya khusus untukmu," jawab Naruto.
Nia merona sementara Naruto terkekeh. Gadis itu tersadar dengan sesuatu.
"Naruto, apa yang terjadi padaku… Isaac, dia-"
"-fragmen Ouroboros, aku mengerti." Naruto menambahkan. "Jika bukan karena campur tangan [Rasiel] dan Mio, Carmerra seharusnya sudah mati sejak lama, tapi karena dia masih hidup, maka fragmen itu berpindah pada reinkarnasinya… yaitu kau."
Nia menyadari ada nada aneh pada lelaki itu.
"Saat kau sebut namanya… Carmerra, d-dia masih bersama yang lain, bukan?"
"…"
Naruto membuka telapak tangannya. Sebuah kristal utuh yang memancarkan cahaya kelabu terlihat dalam penglihatan Nia. Namun, jika diperhatikan lagi, dia bisa melihat ada hal yang berbeda dari [Kristal Sephira] ini.
"Sebelum menyelamatkanmu, aku… sempat mendengar permintaan Carmerra dari [Rasiel, yang ingin mengembalikan potongan jiwamu yang sudah termakan oleh makhluk itu dengan jiwanya sendiri," jelas Naruto.
"Dan karena kami pada dasarnya orang serupa, dia menyatukan jiwanya dengan [Rasiel]… begitu?"
Naruto tersenyum kecut lalu mengangguk. Nia termenung sebentar.
"Bukankah… dengan dirimu yang sekarang, kau bisa memutar waktu agar potongan jiwaku utuh lagi."
"Bisa. Tapi Carmerra… dia ingin menyerahkan warisannya padamu, sekaligus ngelakuin penebusan terakhir pada akhir hidupnya."
"…"
"…"
"Y-Yeah, kalau kau misalnya-"
"-aku terima."
"Eh?"
Naruto terkejut dengan ekspresi serius gadis itu. Nia meneruskan kata-katanya lagi.
"Jika benar itu adalah permintaan Carmerra-maksudku, diriku dari masa kuno, maka sudah sewajarnya kalau aku merespon perbuatan baiknya, benar begitu?"
"…"
Naruto perlahan tersenyum.
"Ini mungkin akan terasa aneh, tapi tahanlah sedikit."
Nia mengangguk.
Selang beberapa saat, kristal kelabu itu melayang lalu mendekati Nia, perlahan memancarkan sinar terang yang menyelimuti gadis itu.
Tak lama kemudian.
Cahaya itu meredup sehingga menampilkan penampilan Nia yang mirip dengan biarawati. Warna pakaian ini merujuk pada tinta dengan kain luar semi-transparan, garis emas mengitari area pinggang pakaian, dan sepatu bot bertali.
Nia berkedip saat menyadari kondisinya saat ini.
"Huh, pakaian ini gak buruk juga," ujar Nia.
"Kurasa itu karena efek samping dari kehidupan masa lalumu," balas Naruto.
"Yeah… mungkin kau ada benarnya juga."
Naruto hanya tersenyum.
"Mungkin ada baiknya kita segera kembali sekarang. Kau siap?"
"T-Tunggu sebentar." (Nia).
"Hm? Apa ada yang salah?" (Naruto).
Nia menggaruk pipinya. Raut wajah Spirit itu tampak gugup.
"Um, yeah, meski kau bilang begitu… err, kurasa… sekali lagi, boleh?"
Naruto berkedip kemudian terhibur. Ninja itu angkat bicara.
"Karena kau yang memintanya, kurasa aku gak ada pilihan selain menerimanya, eh?"
Nia hanya menyengir sementara Naruto terkekeh. Keduanya berciuman dengan lembut selama beberapa saat. Lalu, mereka berdua menjauhkan wajahnya masing-masing, dan untuk sesaat Naruto diselimuti prana kelabu sebelum itu memudar.
"Huh, dan kupikir [Astral Dress] ini akan menghilang saat kita berciuman tadi," ujar Nia.
"Ketimbang menyegel kekuatanmu, aku cuma mengatur kondisi fisikmu supaya bisa menangani potensi penuh [Rasiel," jelas Naruto.
"Oh, aku mengerti... hm? Entah kenapa aku merasa sebagian [Reiryoku] milikku berpindah padamu." (Nia).
"Eh? Ah, kurasa itu gak sengaja masuk kepadaku barusan." (Naruto).
"Nah, simpan saja, biar jadinya impas sama dengan yang lain." (Nia).
Naruto tertawa kecil.
"Ada-ada saja. Omong-omong, sampai jumpa di alam kesadaran, dah."
Seketika kehadiran ninja itu lenyap. Nia berkedip lalu menampar keningnya sendiri.
'Oh, benar juga, ini 'kan masih di alam bawah sadarku.'
Spirit itu tersadar dengan sesuatu.
"Huh, dari membuat dimensi lain di sini, hingga interaksi antar jiwa… dia sudah seperti GameShark berjalan saja," gumam Nia.
Nia menyengir sendiri sebelum menghilang juga.
.
.
.
"…a. Nia. Nia."
Nia membuka matanya dan hal pertama yang dilihatnya adalah ninja itu. Dia mengamati keadaan sekitar dan melihat dimensi serupa di mana mereka sempat ditarik paksa Isaac kemari.
"Oh, aku lupa kalau kita masih di dimensi ini," ujar Nia.
"Yeah, semacam itu," jawab Naruto.
Nia mengangguk lalu mengamati penampilannya. Dia berkonsentrasi dan pakaiannya kembali seperti semula.
"Nah, begini lebih baik... are? Kau gak memanggilku dengan tambahkan chan barusan."
Naruto berkedip lalu tersenyum.
"Agak sulit menjelaskannya, tapi kurasa dengan begitu, aku bisa... lebih dekat lagi dengan kalian, mungkin?"
Nia menerima alasan itu lalu membuat keputusannya juga.
"Kalau gitu aku panggil kau Naruto saja mulai dari sekarang."
Naruto terkekeh.
"Suka-sukamu saja."
Nia tertawa kecil dan tersadar sesuatu.
"Err, Naruto, soal makhluk yang mirip denganmu-"
"Nekrom."
"-yeah, itu, apa yang terjadi pada mereka?"
Ninja itu terdiam sebentar.
"Dengan kekuatan Kurumi, aku membagi energi gelap mereka semua hingga ke tahap tak bersisa, dan karena pada dasarnya mereka telah mati… mereka lenyap begitu saja." (Naruto).
"Oh… begitu." (Nia).
Gempa hebat perlahan mengguncang dimensi ini dan retakan menjalar dengan cepat. Naruto langsung mengibaskan lengannya dan sebuah portal tercipta di hadapan keduanya.
"Sekarang!"
"Baik!"
Mereka berdua melompat masuk ke dalam portal.
Spirit lain menunggu di ruangan ini. Mereka tampak cemas dengan keadaan Naruto dan Nia.
"Kuharap mereka baik-baik saja," ujar Tenka.
"Ara, kau seharusnya gak perlu cemas, ini Naruto-san yang kita bicarakan," sahut Kurumi.
Walau demikian, ekspresi Nightmare itu nampak tidak nyaman, meski wajahnya menunjukkan senyuman khasnya seperti biasa.
Di sisi lain, Hibiki memperhatikan ibunya yang hanya termenung semenjak tadi, dan itu membuatnya khawatir.
"Apa… ibu mau kuambilkan sesuatu? Mungkin makanan?" tawar Hibiki.
Mio tersadar lalu menampilkan senyuman.
"Ibu gak apa-apa, cuma… masih sedikit kaget dengan kepergian sahabat ibu, itu saja," jawab Mio.
Hibiki mengangguk dan tidak mengatakan apapun lagi setelahnya.
Suara seseorang terdengar dibalik speaker.
"Err, Tenka, Kurumi, aku ingin kalian ke ruang kendali sebentar saja. Terima kasih."
Kurumi dan Tenka melirik satu sama lain. Mereka berdua beralih pada Hibiki dan Mio.
"Ano, Mio-san, Hibiki-san, sepertinya Maria-san membutuhkan kehadiran kami, nanti kami kembali lagi kalau urusan kami telah selesai."
Ibu dan anak itu mengangguk. Tenka beserta Kurumi pergi dari ruangan ini meninggalkan keduanya.
Tak berselang lama.
Mereka melihat sebuah portal tercipta di tengah ruangan. Dua orang melompat turun lalu itu menutup dengan sendirinya.
"Ayah!"
"Oof!"
Dia langsung memeluk ayahnya itu. Naruto menggeleng dan langsung mengelus rambut putrinya itu.
"Padahal ayah baru pergi sebentar, tapi sudah serindu ini sama ayah?"
Hibiki melepaskan pelukannya lalu menyengir. Di sisi lain, Nia beralih pada Mio sebelum menunjukkan ekspresi bersalah, dan ini terkait seseorang.
"Ano, kalau kau gak ingin lihat wajahku dulu, dengan senang hati aku akan-"
Mio menggeleng.
"Apa yang terjadi bukan salahmu." Mio menambahkan. "Aku memang sudah melihat koneksi tersendiri antara kau dan Carmerra, jadi peralihan warisan ini memang gak terelakkan lagi.
"Terlebih lagi… aku gak mungkin bisa menolak keinginan sahabatku, yang cuma ingin kisah hidupnya berakhir dengan menyelamatkan nyawa. Itu saja."
Nia termenung sebentar lalu tersadar sesuatu.
"Kalau gitu… kapan-kapan mau main game bareng? Setelah semua ini selesai tentu saja."
Mio terkejut dengan penawaran itu. Dia terdiam sebentar lalu tertawa kecil.
"Boleh. Kedengarannya seru."
"Hoho, mantap kalau gitu."
Keduanya tersenyum satu sama lain. Naruto dan Hibiki mengelus dada usai melihat interaksi itu.
Kemudian, Maria, Tenka, dan Kurumi, ketiganya memasuki ruangan ini dan merasa lega ketika menyadari keberadaan Naruto dan Nia di sini.
"Syukurlah, terlepas dari fakta kalian tiba-tiba tiada saat sedang berkencan, aku sempat membayangkan skenario buruk sebetulnya," ujar Maria.
"Lihat? 'kan sudah kubilang kalau Naruto-san dan Nia-san baik-baik saja," sahut Kurumi.
"Hmph, terserah kau saja, Kurumi," balas Tenka.
Naruto terkekeh.
"Maaf membuat kalian cemas, tapi kurasa kita bisa menyalahkan dalangnya atas semua ini." Naruto menambahkan. "Dan err, alasan mengapa kau gak tahu ini… singkatnya, eksistensinya terlalu tinggi untuk bisa dicapai kekuatanmu, Mio-chan."
Mio mengerutkan alis lalu mengangguk.
"Kadang aku berpikir mengapa kemampuanku gak bisa menjangkaunya, tapi kalau itu alasannya, kurasa gak ada yang bisa kulakukan."
Nia berdeham.
"Enggak cuma itu, pelaku utamanya juga sudah kami tahu identitas aslinya, yakni... Isaac Westcott."
Tak ada jawaban. Maria melipat lengannya dan ekspresinya serius.
"Berpikir bahwa dia... yah, semenjak awal posisinya sudah terlalu tinggi untuk dijangkau, bahkan di antara manusia dengan jabatannya sebagai pemilik [DEM] terkemuka."
"..."
Naruto mengerutkan alis.
'Mungkin… ada baiknya aku kasih tahu identitas sesungguhnya dari Isaac Westcott.'
Dia menghembuskan nafas lalu beralih ke arah mereka.
"Semuanya-"
Deg.
"-ugh."
Naruto tiba-tiba diselimuti kristal aurora dari ujung kaki hingga kepala. Semua (kecuali Mio) terkejut dengan fenomena ini.
"B-Bu, apa maksudnya ini?!" tanya Hibiki.
"O-Oh, ini ulah dari Kristal Spiral, bisa dibilang semacam tindakan pencegahan agar semua kekuatan yang terkumpul pada ayahmu enggak meledak," jelas Mio.
Mereka bernafas lega. Lalu, seseorang dengan canggung mengangkat tangannya, dan berbicara.
"Er, kurasa aku yang bertanggung jawab soal ini, maaf semuanya." (Nia).
"Itu bukan masalah. Terlebih lagi mengingat sikap Naruto, seharusnya kau juga sadar kalau dia lebih suka memastikan orang-orang di sekitarnya baik-baik saja." (Mio).
Kemudian, saat diperhatikan baik-baik, mereka menyadari kalau Naruto terlelap begitu damai.
Kurumi tertawa geli.
"Ara, ufufufu, entah kenapa wajah tidur Naruto terlihat menggemaskan sekali, tidakkah kalian pikir begitu?"
Merasa diperhatikan, Kurumi menengok ke samping, dan menyadari kalau hampir semua orang di sini mengamatinya.
"Eh? Kenapa kalian semua melihatku seperti itu?" tanya Kurumi.
"Enggak, Kurumi, tapi sepertinya kau gak menambahkan san lagi di kata-katamu," tanya Tenka.
Kurumi berkedip lalu menggaruk pipinya. Wajah gadis itu memerah.
"Y-Yeah, kurasa itu karena aku ingin lebih dekat dengan kalian, sebagai sesama Spirit gitu."
""Aw.""
"B-Berisik."
Nia menyengir.
"Nah, aku juga sudah seperti itu… mari kita tos, Kurumi!" (Nia).
"Jangan kau juga!" (Kurumi).
Hampir semua orang di sini tersenyum sedangkan Kurumi cemberut. Mio menggeleng lalu bicara lagi.
"Yeah, intinya…"
Deg.
Spirit pertama itu tersentak. Maria kebingungan saat menyadari raut wajah pucatnya.
"Mio?"
"Enggak… mereka… mereka datang."
Alarm keras tiba-tiba berbunyi. Suara lain terdengar di speaker.
[Setiap unit bersiaga di posisi masing-masing. Diulangi. Setiap unit bersiaga di posisi masing-masing. Diulangi. Setiap unit bersiaga di posisi masing-masing.]
Pintu ruangan mereka terbuka. Seekor rubah jingga memasuki tempat ini dan tercengang dengan keadaan ninja itu.
"O-Oi, apa yang terjadi dengan Naruto?!"
Hibiki tampak gugup.
"Err, mengenai itu..."
Mendengar penjelasan dari Hibiki, bijuu itu merasa lega, lalu dua orang lain ikut masuk kemari.
"Semuanya, tolong kalian lihat ini. Karen."
Karen meletakkan tablet di meja lalu menggeser layar ke atas. Seketika beberapa hologram dalam bentuk monitor terlihat di langit-langit. Mereka memperhatikan banyak monster serangga di atmosfer, tidak hanya itu, masih ada entitas lain yang menyebar pada sebagian wilayah di planet ini bahkan di luar angkasa sekalipun.
Elliot tampak serius.
"Militer kami akan terfokus pada makhluk-makhluk ini, khusus kalian-"
Pria itu berhenti bicara ketika menyadari ekspresi serius para gadis ini. Dia terkejut.
"Kalian… serius?"
Mereka mengangguk. Eliiot terdiam lalu menghela nafas sejenak.
"Aku… akan kembali ke ruang kendali untuk mengatur komando dengan pasukan keamanan kami. Sedangkan kalian-"
Elliot tersenyum.
"-semoga beruntung."
Para gadis ini mengangguk. Di saat Elliot dan Karen pergi, kini hanya tersisa para Spirit, Kurama, dan Hibiki di sini. Mio melirik ke arah Kurumi.
"New York," balas Kurumi.
Mio menengok ke Tenka.
"Tenguu," jawab Tenka.
Mio beralih pada Maria dan Nia.
"Angkasa," jawab keduanya.
Mio memperhatikan bijuu itu. Kurama mengamati sejenak layar hologram tersebut lalu beralih pada Mio.
"Uhh, kurasa aku akan menghadapi yang ada di lautan itu… dekat samudra pasifik, bukan?"
Mio mengangguk lalu beralih pada Hibiki.
"Hibiki, tolong awasi semesta ini melalui dimensi kita yang dulu… dan juga, tolong lindungi ayahmu."
Hibiki mengangguk.
"Serahkan padaku, dattekana."
Mio puas. Kemudian, dia mengamati satu per satu semua yang ada di sini, lalu ekspresinya mengeras.
"Ingatlah, ini mungkin akan jadi pertarungan yang sulit, jadi... berhati-hatilah."
Mereka semua mengangguk dengan raut wajah optimis. Mio menjentikkan jarinya dan tiba-tiba semua (kecuali dirinya) lenyap diselimuti cahaya putih.
"…"
Mio menengok ke luar jendela, sempat melihat banyak pesawat militer telah lepas landas, tapi pandangannya fokus pada dimensi tersembunyi yang berlokasi di antara sistem tata surya.
'Di sana kau rupanya.'
Spirit pertama itu ikut menghilang seketika.
Sebuah kapal kecil terlihat berdiam diri di tengah perairan. Dua orang dengan kostum penyelam tampak beristirahat usai menjelajahi sebagian isi laut. Satu di antaranya melirik ke samping.
"Masih ada rokok?"
"Nih."
"Makasih, kawan."
"Yeah, sama-sama."
Mereka berdua merokok sejenak. Keheningan menyelimuti suasana keduanya lalu seseorang angkat bicara.
"Aku memutuskan Olivia."
Temannya itu berhenti merokok. Dia terkekeh.
"Keputusan bagus. Ingatlah masih ada banyak cewek di luar sana… yang sikapnya lebih baik dari mantanmu itu, seharusnya."
Pria itu tersenyum.
"Kau benar. Mungkin aku akan menemukannya suatu hari nanti."
"Lain hari maksudmu."
"Baru aku mau bilang gitu."
Keduanya tertawa. Namun, tawa duo sahabat itu terhenti ketika hawa kabut tiba-tiba memenuhi udara, dan itu menimbulkan tanda tanya besar di kepala mereka.
"Uh, terakhir kali kita ke sini, gak ada kabut atau semacamnya, bukan?" tanya orang kesatu.
"Y-Yeah, kau benar," jawab orang kedua.
"Mungkin ada baiknya kita segera pulang."
"Roger."
Pria kedua langsung berdiri, tapi mendadak guncangan hebat mengguncang kapal, memaksa keduanya berpegangan erat pada tiang terdekat.
"Apa yang sedang terjadi?!"
"Aku gak tahu! Bahkan alarm peringatan ombak saja gak berbunyi sama sekali!"
Keduanya terkejut ketika melihat banyak tentakel menembus wilayah kapal dan menghancurkan seisinya. Beberapa dari tentakel bahkan sampai menangkap dan melilit kuat pinggang mereka. Lalu, dua pria itu langsung berteriak ketakutan, hal ini disebabkan keduanya menyadari ada sepasang mata besar menatap balik dari area permukaan laut.
"Jangan bunuh kami!"
"Kami mohon! Kami masih ingin hidup!"
Namun, ketika semuanya tampak buruk…
"Oops, hampir saja."
…tangan kuning raksasa dengan garis hitam menarik paksa keduanya dari jeratan tentakel.
Duo sahabat itu lega, tapi, mereka refleks menjerit saat wajah rubah besar memandang keduanya.
""Aaaaah! Sekarang musang raksasa!"" (Dua pria itu).
"Siapa yang kalian panggil musang hah?!" ( Kurama).
Getaran hebat tiba-tiba mengguncang laut. Kurama menyadari adanya bahaya langsung melempar sepasang teman itu ke udara, dan tidak lama, sinar laser dari dalam helikopter mengenai keduanya lalu membentuk semacam bola cahaya. Itu melayang hingga meredup saat mendarat tepat di dalam kendaraan udara tersebut.
"Civilians clear. Tuan Kurama, kami serahkan sisanya padamu."
"Ya! Kalian para militer fokus saja pada serangga-serangga terbang itu!"
Helikopter itu menerima sarannya dan langsung pergi menjauh dari sana.
Mendengar suara aneh, bijuu itu berbalik, lalu melihat entitas lain naik ke permukaan laut. Makhluk ini mempunyai badan manusia, kepala gurita, dan terakhir sayap naga.
Kurama kesal.
"Sial, lawanku malah tentakel hentai pula."
Cthulhu memandang datar lawannya itu.
.
.
.
Seseorang tiba-tiba muncul di sini. Dia mengamati sekitar dan hanya mengamati galaksi, planet, dan sistem tata surya, semua itu dari kejauhan. Meski begitu, penglihatan Spirit ini cukup jelas, hingga ke tahap mencapai detail sejauh apapun.
'Hening sekali. Yah, itu bisa diwajarkan mengingat aku sedang di luar angkasa sekarang... huh?'
Spirit itu refleks menengok ke samping. Dari sana, suatu lubang cacing berukuran lebar mendadak tercipta, dan kepala naga supermasif dengan kristal biru di kepalanya terlihat begitu jelas.
Dia ekspresinya serius.
"Eloah."
Maria langsung mengenakan [Astral Dress] miliknya usai dibalut aura safir. Dengan mewujudkan Michael, ia mengarahkan ujung senjata mistisnya pada makhluk itu, dan matanya menyipit.
"Takkan kubiarkan kau bergerak lebih jauh dari sini, makhluk."
Zoruim menggeram pelan.
.
.
.
"Ara, tempat ini… keliatan buruk sekali," gumam Kurumi.
Saat tiba, dia tampak berada di tengah kota New York dengan situasi kacau balau, di mana banyak gedung runtuh dan retakan dalam jumlah banyak melebar luas di tanah. Spirit itu juga memperhatikan sebagian besar kendaraan dengan roda mengalami kebakaran di jalan.
'Tapi tetap saja, melihat jalanan di sini telah sepi, kemungkinan besar para warga telah dipindahkan ke [Shelter] bawah tanah.'
Kurumi mengakui, kalau ada fitur teknologi yang sangat bermanfaat akibat kemunculan [Spacequake, satu di antaranya yaitu [Shelter] yang tersebar di seluruh dunia.
"Hm?"
Kurumi menengadah dan melihat fenomena unik. Di langit, ada suatu makhluk yang bersembunyi dengan sayap, lalu sayapnya terbuka menunjukkan monster berpenampilan mengerikan.
"Elohim."
Kurumi langsung mengenakan [Astral Dress] miliknya. Menghembuskan nafas, dia mengarahkan sepasang flintlock ke arah entitas itu, lalu menyeringai.
"Nah, mari kita mulai… acara Phantom Opera ini."
Destoroyah menyeringai lebar.
.
.
.
Banyak orang berlarian di jalan memasuki area [Shelter]. Jeritan ketakutan terdengar yang diikuti berbagai serangan listrik menyambar sebagian area Kota Tenguu.
Namun, saat petir lain hampir mengenai seorang anak kecil, seorang gadis berpenampilan princess langsung muncul dan menebas listrik itu hingga lenyap tanpa menimbulkan ledakan. Dia langsung mengibaskan lengannya dan barrier ungu berlapis seketika menyelimuti langit.
"Keren."
Dia beralih ke arah anak itu dengan senyuman.
"Tadi itu hampir saja. Apa kamu terluka?"
Anak perempuan itu tersadar lalu menggeleng.
"Sera!"
Keduanya menyadari asal suara itu dari seorang wanita dan dia langsung berlari ke arahnya. Mereka sempat berpelukan, lalu menyadari penyelamat putrinya, wanita itu membungkuk sesaat disertai kata-kata.
"T-Terima kasih banyak, karena telah selamatkan putriku."
Tenka mengangguk.
"Di sini gak aman, jadi lebih baik kalian segera berlindung dengan yang lain."
"B-Baik."
Mereka berdua langsung memasuki lokasi [Shelter] terakhir dan itu turun menuju bawah tanah. Merasa situasinya telah aman, dia mendengar suara barrier buatannya pecah, seketika memutar badan dan melihat monster naga dengan tiga kepala yang masih terbang di udara.
"Kalau kau ingin menyakiti mereka lagi…"
Tenka memegang erat gagang [Sandalphon] dengan ekspresi serius.
"…langkahi mayatku terlebih dahulu."
Ghidorah hanya meraung khas naga.
.
.
.
'Huh, aku di sini rupanya.'
Nia menyadari dirinya telah melayang di ruang angkasa. Menengok ke samping, dia melihat ada titik biru dari jarak yang sangat terlalu jauh tengah berhadapan dengan sosok makhluk lain, dan dirinya terkesan dengan apa yang dilihatnya.
'Woah, Maria hebat juga.'
Mendengar suara, dia menengok ke samping, dan melihat pusaran hitam yang menunjukkan aneka ular hitam dengan ukuran semakin besar tiap detiknya.
Nia serius.
"Baiklah, ini saatnya untuk… It's Spirited time!"
Nia langsung mengenakan [Astral Dress] miliknya sendiri. Dengan senyuman percaya diri, ia membuka halaman Rasiel, dan membiarkan suaranya terdengar.
"Nah, snacky, akan kubalas perbuatanmu waktu itu. Jadi bersiaplah... untuk kujadikan sate."
Ouroboros mendesis.
.
.
.
Seseorang muncul pada dimensi ini. Dia memperhatikan keadaan sekitar yang merupakan dimensi khusus sambil melayang. Spirit pertama itu juga hanya melihat warna merah di setiap sudut dimensi ini.
'Hawa di sini... buruk juga.'
Deg.
Dia memutar badan ke belakang.
Dari ketiadaan, muncul sosok mengerikan yang menyerupai iblis, dengan kulit hitam dan garis putih-merah mengitari permukaan fisiknya.
Ia menyebut nama [Astral Dress] dirinya.
"Yah."
Mio langsung mengenakan [Astral Dress] kepunyaannya sendiri. Dia menyipitkan matanya ke arah sosok ini.
"Kau… begitu, kau diciptakan khusus sebagai counter dari kekuatanku rupanya. Tapi meski begitu…"
Cahaya putih menyelimuti Spirit pertama itu. Mio mengeraskan ekspresinya.
"…akan kukalahkan dirimu… bagaimanapun caranya."
Dark Lucifer menyeringai saat membuka lebar gigi runcingnya.
Hibiki meletakkan tangannya pada objek khusus dengan struktur alam semesta di dalamnya. Dia fokus memastikan setiap kerusakan akan langsung kembali seperti semula dalam pertarungan yang lain.
'Kalau dipikirkan lagi… mungkin ini akan jadi peristiwa yang sangat besar di sejarah umat manusia nanti,' batinnya.
Menengok ke belakang, dia sempat mengamati kristal yang di dalamnya terdapat Naruto dengan kondisi tak sadarkan diri, kembali lagi ke depan lalu tersenyum.
"Jangan khawatir, ayah, untuk momen ini, kami akan berjuang keras... jadi ayah beristirahatlah sebentar," gumam Hibiki.
Demi-Spirit itu lalu berkonsentrasi lagi.
TBC
A/N:
Wah, konflik mulai memanas, dan identitas Isaac yang sudah keliatan jelas dia itu siapa dari pembicaraannya dengan Naruto :D
Btw, soal pertemuan Naruto (versi fic ini) dengan Naruto yang lain author sengaja potong, karena itu akan terlihat pada satu atau dua chapter terakhir Seirei Ninja. Yah, tinggal tunggu saja sih nanti, hehehe.
Oh iya, soal nama-nama makhluk yang dihadapi para Spirit, itu ada di google kok, kalian bisa cek nanti untuk visualnya :)
Author gak akan komen banyak, kecuali sehat selalu buat reader-san sekalian, hehe.
Terakhir…
Sampai jumpa di chapter berikutnya :D
{Racemoon: sign out}
