Menjelang malam hari.

Hujan deras terjadi di kota ini. Meski begitu suasana jalan masih tampak ramai seperti biasanya.

Di sisi lain, tepatnya di sebuah taman, seekor anak anjing mengamati keadaan sekitar dari balik kotak kardus. Kondisi hewan itu nampak tidak baik dengan badan kurus dan bekas pukulan di beberapa bagian tubuhnya.

Ia tidak paham mengapa keadaannya menjadi seperti sekarang. Pada awalnya, ada sepasang kekasih yang membelinya dari toko hewan, dan merawatnya dengan baik selama satu minggu.

Namun, tidak seperti hari-hari sebelumnya, mereka berdua entah kenapa mulai melakukan hal buruk kepadanya. Beberapa di antaranya seperti kekerasan fisik, tidak memberikan makan, dan masih banyak lagi tindakan kejam lainnya.

"Lihat, Hidan-kun, anjing ini masih bertahan rupanya."

"Itu karena kau terlalu lembut, Hinata-chan, ayo kita permainkan dia lagi."

"Fufu, idemu bagus juga."

"…"

Ia mengonggong pelan. Mungkin ia berharap ada seseorang mendengarkan suaranya. Namun, karena situasi tengah hujan deras, maka tak ada siapapun yang datang kepadanya.

"…"

Anjing itu berusaha lagi. Namun, sama seperti sebelumnya, aksi hewan tersebut nampak sia-sia.

"…"

Karena sudah putus-asa, anjing itu memilih diam dan menunggu ajalnya…

"K-Kejam, siapa yang setega ini padanya?"

…setidaknya hingga dua orang itu tiba.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kebersamaan Sempurna

Summary

Apa yang ada di pikiran kalian saat mendengar kata keluarga? Ayah, ibu, dan anak saja? Bukan. Itu mencakup arti yang sangat luas, dan sudah pasti, hubungan yang lebih dalam dari sekadar darah.

.

.

.

Disclaimer

Naruto dan Oshi no Ko dimiliki oleh pemiliknya masing-masing. Author hanya meminjam mereka demi kepentingan fanfic ini.

.

.

Genre

Utama: Family

Selingan: -

.

.

Pairing

[Uzumaki Naruto x Kurokawa Akane]

.

.

Seorang pemuda berambut kuning tampak menyaksikan televisi di ruang tamu. Sesekali ia makan donat yang ada di meja.

"Berita pagi, sejumlah siswa ditemukan dalam kondisi mengenaskan di terowongan. Aparat keamanan setempat saat ini sedang mencari pelaku dan melakukan penyelidikan terkait motifnya…"

Dia menggeleng.

"Ada-ada saja kriminal zaman sekarang," gumam lelaki itu.

Seorang wanita muda datang dari dapur. Dia berambut biru pendek dengan penampilan anggun dan lemah lembut.

Wanita muda itu mengamati acara yang sedang tayang di TV.

"Tumben kau liat acara ginian, Naruto."

"Aku cuma penasaran dengan keadaan di luar sana. Itu saja, Akane."

Mereka adalah Naruto Uzumaki dan Akane Uzumaki. Sepasang pengantin dengan usia pernikahan sekitar dua tahun. Keduanya bertemu saat Naruto tengah liburan di desa Akane dulu. Mereka berinteraksi cukup sering yang mengakibatkan benih-benih kasih tumbuh di antara mereka berdua kala itu.

"Heeh, begitu rupanya."

Akane duduk di samping Naruto. Naruto melingkari tangannya di pundak Akane, yang hanya tersenyum lebar, lalu memeluk suaminya itu sebagai gantinya. Keduanya terkejut ketika seekor anjing melompat ke pangkuan mereka. Namun, itu hanya sesaat, lalu Naruto dan Akane tertawa kecil.

"Ada-ada saja tingkahmu ini, Chikara," ujar Naruto.

"Tapi sikapnya ini yang membuatnya menggemaskan, tidakkah kau berpikir begitu?" tanya Akane.

Chikara merupakan nama pemberian keduanya pada anjing ini. Nama itu datang karena ia mampu bertahan hidup sendirian meskipun kondisinya buruk saat ditemukan Naruto dan Akane dulu.

"Aku setuju."

Chikara menjilat wajah Naruto dan Akane secara bergantian. Aksi hewan tersebut mengundang gelak tawa dari keduanya.

"S-Sudah, Chikara, kalau gini terus kita gak akan jadi pergi jalan-jalannya."

"I-Itu benar, dattebayo."

Chikara berhenti menjilat lalu turun ke bawah. Ia bergerak cepat ke suatu arah dan mengabaikan pandangan penasaran dari mereka.

"Menurutmu Chikara mau ngapain?" tanya Akane.

"Aku sendiri gak paham sejujurnya," jawab Naruto.

"Kalau kau tanya aku, mungkin dia akan merobek celanamu sama seperti kemarin."

"Ouch, kau kejam sekali padaku, Akane."

"Fufu, maaf deh."

Tak berselang lama.

Hewan itu kembali ke ruang tamu dengan piringan terbang di mulutnya.

Keduanya berkedip lalu tertawa geli.

"Yah, karena bintangnya sendiri sudah gak sabar…"

"…sekarang tinggal kita yang bersiap-siap."

Chikara berseri-seri khas anjing.

.

.

.

Suasana di puncak gunung ini tampak sepi. Hal itu dikarenakan tidak banyak orang yang mengunjungi tempat ini. Meski begitu, dua orang dengan satu ekor hewan terlihat berada di sini, dan ketiganya bermain satu sama lain.

"Ayo kejar aku, Chikara!"

"Woof!"

Akane berlari setelah mendapatkan piringan karet dari suaminya itu. Chikara dengan antusias mengejar majikan wanitanya tersebut. Di sisi lain, Naruto mengamati kebersamaan keduanya sambil tersenyum, lalu melompat dan menerima piringan karet dari lemparan Akane. Naruto menelan ludah ketika Chikara melirik ke arahnya.

"Ups, mungkin sudah saatnya untukku… nigerundayo!"

"Woof!"

Berbalik, Chikara kali ini mengejar Naruto, yang langsung kabur saat menyadari hewan itu bergerak ke arahnya. Akane bersorak dan menyemangati mereka.

"Kau pasti bisa, Chikara! Dan Naruto, ayo lebih cepat larinya!"

"Kau ini bersorak untuk siapa, dattebayo?!"

"Kalian berdua tentu saja!"

Naruto dan Chikara saling kejar-mengejar selama beberapa saat. Hingga pada suatu titik, dia melempar piringan terbang itu lagi ke arah Akane, tapi Chikara dengan gesit melompat lalu menangkap objek tersebut lewat mulutnya. Akane mendekati mereka berdua.

"Dan pemenangnya… Chikara!"

"Woof! Woof! Woof!"

Chikara back-flip dan melompat-lompat kegirangan. Di sisi lain, pemuda itu hanya terkekeh, dan tidak keberatan dengan kekalahannya ini.

"Hehe, itu baru anjing kita," kata Naruto.

"Yup," balas Akane.

Naruto mengamati arloji di tangannya. Dia beralih pada istrinya itu.

"Akane, sebentar lagi waktunya makan siang, jadi…"

Akane tersenyum.

"Ayo kita kembali kalau gitu."

Naruto mengangguk.

"Chikara, ayo." (Naruto).

"Woof!" (Chikara).

Ketiganya menuju suatu arah dan akhirnya kembali pada tikar mereka. Akane meletakkan dua kotak makanan dan dua minuman botol dari tas, kemudian, dia juga mengeluarkan tempat makan khusus anjing lalu meletakkan itu di sisi lain tikar. Chikara berbinar saat melihat Naruto menuangkan makanan spesialnya tepat di benda bulat tersebut.

"Ini kemenanganmu, jadi makanlah sepuasnya."

"Woof!"

Ia melahap makanannya tanpa ragu. Naruto dan Akane tertawa geli dengan tingkah kegirangan anjing itu. Tak berniat kalah dari Chikara, keduanya juga ikut menikmati isi bento mereka, yang berisikan onigiri, telur gulung, salad, saus, mayo dan lain-lain.

Tak berselang lama.

Akane merapikan peralatan makan mereka. Sementara itu, Chikara tiba-tiba berlari mengejar kupu-kupu, dan Naruto hanya terdiam saat menyaksikan sikap binatang tersebut.

"Akane."

"Hm?"

"Gak kerasa… sudah 1 tahun lebih, sejak kita menemukan Chikara waktu itu."

Terdiam, dia mengamati ekspresi rumit dari wajah suaminya itu, lalu mengikuti pandangannya. Akane mengamati Chikara yang bersenang-senang dengan senyuman.

"Yah… waktu cepat sekali berlalu, hm?"

Naruto menggenggam erat tangan Akane. Dia merasa cemas dengan sikap suaminya itu.

"Naruto, apa kau… khawatir dengan keadaan Chikara?"

"…"

"Kadang aku berpikir… gimana kalau kita gak menemukan Chikara pada malam itu?" Naruto menambahkan. "Maksudku, jika kita gak pergi ke mini-market untuk belanja… ada kemungkinan…"

Akane menyentil pelan pipi Naruto. Naruto meringis diperlakukan seperti itu.

"Jangan mikir 'kemungkinan", tapi pikirkan 'sekarang' saja, Chikara sehat, kita bertiga bahagia, bukankah itu sudah bagus?"

Dia bisa paham mengapa pemuda itu berpikir keras tentang hewan peliharaan mereka tersebut. Itu karena pada dasarnya Naruto adalah seorang yatim-piatu.

Di sisi lain, orang tua Akane sebenarnya masih utuh, tapi mereka suka sekali menghamburkan uang dalam jumlah besar. Buruknya, Akane pernah hampir dinikahkan dengan seorang pengusaha bertubuh gemuk oleh ayah dan ibunya demi melunasi hutang mereka, dan mungkin akan berhasil jika bukan karena perbuatan nekat Naruto yang membawanya jauh dari tempat kelahirannya dulu.

Naruto berkedip lalu menggaruk pipinya.

"Kau benar, sepertinya aku cuma sedang banyak pikiran saja."

Akane tersenyum.

"Itu sudah jadi kebiasaanmu, tapi bukan berarti aku membencinya."

"Terus? Bagian mana yang kau suka dariku?"

Wanita muda itu merona.

"Eh? K-Kalau soal itu-jangan ketawa!"

Pemuda itu berhenti tertawa sambil menyeka air matanya.

"M-Maaf, tapi kau lucu sekali kalau sudah begini, dattebayo." (Naruto).

"Mou, bakaruto." (Akane).

Naruto menyengir sementara Akane berseri. Lalu, keduanya saling menatap sebelum perlahan memajukan wajahnya masing-masing, berniat melakukan hal wajar khas pasutri.

Namun, Naruto dan Akane terkejut ketika Chikara mendadak berada tepat di antara wajah mereka, tapi hanya sesaat sebelum keduanya tertawa lalu mengusap kepala hewan itu.

"Aww, kau bagian dari keluarga ini juga, Chikara. Mustahil kami melupakanmu," ujar Akane.

"Itu fakta dan aku setuju," sahut Naruto.

Chikara berseri-seri kemudian menjilat wajah mereka secara bergantian.

"Gaah, Chikara! Itu geli!"

"Woof!"

"Haha! Sini kugelitikin kamu!"

"Woof! Woof!"

Tawa menyertai keluarga kecil ini.

END

A/N: Hellloooo reader-san sekalian! Gimana oneshot kali ini? Letakkan komentar kalian di tempat seharusnya :D

Dan yeah, akhirnya Akane dapat giliran juga, mantap wkwk :D

Fakta unik, tadinya author mau nambahin adegan lain di mana pada hari-hari berikutnya, Naruto dan Akane meninggal dalam kecelakaan, rumah mereka diambil alih oleh ortu Akane yang buruk sikapnya (versi fic ini), dan Chikara terusir terus kena tangkap pemiliknya sebelumnya (Hidan dan Hinata), disiksa lagi hingga meninggal.

Tapi author gak tega masukin itu konten, brr, jadinya dibuat happy end saja lah.

Tapi ya, err, sedikit peringatan, author akan masukkan adegan lain yang akan terjadi jika Naruto dan Akane gak menemukan Chikara di bawah ini.

Terakhir…

Sampai jumpa di fanfic one-shot berikutnya :D

{Racemoon: Sign-out}


Menjelang malam hari.

Hujan deras terjadi di kota ini. Meski begitu suasana jalan masih tampak ramai seperti biasanya.

Di sisi lain, tepatnya di sebuah taman, seekor anak anjing mengamati sekitar dari balik kotak kardus. Kondisi hewan itu nampak tidak baik dengan badan kurus dan bekas pukulan di beberapa bagian tubuhnya.

Ia tidak paham mengapa keadaannya menjadi seperti sekarang. Pada awalnya, ada sepasang kekasih yang membelinya dari toko hewan, dan merawatnya dengan baik selama satu minggu.

Namun, tidak seperti hari-hari sebelumnya, mereka berdua entah kenapa mulai melakukan hal buruk kepadanya. Beberapa di antaranya seperti kekerasan fisik, tidak memberikan makan, dan masih banyak lagi tindakan kejam lainnya.

"Lihat, Hidan-kun, anjing ini masih bertahan rupanya."

"Itu karena kau terlalu lembut, Hinata-chan, ayo kita permainkan dia lagi."

"Fufu, idemu bagus juga."

"…"

Ia mengonggong pelan. Mungkin ia berharap ada seseorang mendengarkan suaranya. Namun, karena situasi tengah hujan deras, maka tak ada siapapun yang datang kepadanya.

"…"

Anjing itu berusaha lagi meski badannya gemetar karena hawa dingin. Namun, sama seperti sebelumnya, aksi hewan tersebut tak membuahkan hasil sama sekali.

"…"

Air mata menetes dari kelopak mata anjing itu. Perlahan, binatang tersebut memejamkan matanya, lalu memilih diam tanpa mengeluarkan suara lagi.

"..."

Di bawah langit gelap, pada akhirnya, anjing itu meninggal tanpa diketahui siapapun.

Sendirian.