Hermione yang memang sudah izin untuk tidak bekerja akhirnya kembali ke flat untuk berkemas. Ada sedikit ketidak-inginan dari dalam dirinya untuk tidak pindah ke rumah Zabini tapi setelah ia selesai berkemas, ia pun sadar kalau ia tidak ingin tinggal di sini, di flat milik Athena. Selain itu, Scorpius akan senang sekali bisa tinggal di rumah Zabini. Anak itu kerap kali mengatakan kalau dia ingin sekali tinggal di rumah bukan di flat.

Athena. Hermione mendesah. Sepupu dari Draco Malfoy itu sudah banyak sekali membantunya selama ini. Ia bisa berada pada kehidupannya saat ini dan tidak tinggal di kapel, semuanya berkat Athena. Entah apa yang akan ia katakan pada Athena setelah semuanya jelas.

Pikirannya tentang Athena kembali terdistraksi begitu ia melihat lemarinya yang terbuka. Ia sengaja mengulur waktu karena ia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Scorpius. Satu kata saja keluar dari mulut Hermione maka akan banyak pertanyaan yang akan Scorpius lontarkan. Bagaimana reaksi Scorpius jika tahu bahwa ada kemungkinan kalau Draco Malfoy adalah ayah kandungnya?

Saat tahu Hermione menjalin hubungan dengan Malfoy, Scorpius menerima kabar itu dengan sangat baik bahkan sampai berandai-andai jika Malfoy menikahi Hermione.

"Aku pasti sudah gila," ucap Hermione pada dirinya sendiri. "Menikah dengan Malfoy, mempunyai anak kembar, bahkan sampai mengganti namaku sendiri. Hermione Malfoy. Lucu sekali."

Otaknya tidak berhenti berpikir sejak Malfoy mengatakan kalau ia bisa memutuskan sendiri apa yang akan ia lakukan jika memang hasil tes menunjukkan kalau ia memang Hermione Granger. Ia memang sudah pasti akan memutuskan sendiri apa yang akan ia lakukan tapi ia tahu, semua ini tidak akan terjadi tanpa Malfoy. Ia tahu, ia harus melibatkan Malfoy dalam setiap pengambilan keputusan. Terima atau tidak, Malfoy sudah banyak membantunya.

Namun, ada beberapa hal yang sudah ia pikirkan.

Pertama-tama, ia akan menemui orangtuanya. Orangtuanya harus tahu kalau Hermione dan Scorpius masih hidup. Selain itu, ia juga ingin menghabiskan waktu dengan mereka. Ingatan akan orangtuanya terhenti ketika ia menghapus memori mereka. Waktu sudah bertahun-tahun berlalu tapi rasanya baru kemarin ia melakukannya.

Hermione juga ingin bertemu dengan Harry dan Ron. Ada banyak sekali hal yang ingin ia tanyakan, selain tentang kasusnya juga tentang kehidupan mereka. Ia tidak mengira kalau ia akan sangat merindukan Harry dan Ron. Rasanya pedih sekali merindukan mereka tapi ia juga merasa semangat. Hal terakhir yang ia ingat adalah perang selesai. Ketiganya juga mempunyai keinginan yang sama yaitu menjalani hidup selayaknya penyihir normal tanpa khawatir penyihir lain akan membunuh mereka.

Hermione mendesah setelah memikirkan hal itu.

Ia tidak bisa hidup normal sebelum ia tahu siapa yang membunuhnya.

Ia tentunya tahu apa yang terjadi pada dirinya berdasarkan berita yang ia baca di surat kabar.

Seseorang menculiknya dan Scorpius, mengurung mereka beberapa hari sebelum akhirnya menghapus memori Hermione. Selain itu, mereka juga membakar tempat di mana ia disekap dan membunuh orang lain seakan-akan itu tubuh Hermione dan Scorpius.

Ya Tuhan. Penyihir macam apa yang tega membakar mereka? Apa mereka sudah mati ketika dibakar? Atau mereka dibakar hidup-hidup? Memikirkannya saja sudah berhasil membuat Hermione ketakutan setengah mati.

Selain itu, seseorang yang menghapus memorinya sudah pasti bukan sosok penyihir biasa. Dia pasti sangat ahli dalam jampi memori.

"Shit," umpat Hermione. Ia benci sekali tidak bisa melakukan apa-apa. Ia juga benci tidak tahu sama sekali apa yang harus ia lakukan.

.

.

.

Hermione tersenyum pada Scorpius yang terlihat sekali bersemangat. Mereka baru saja tiba di rumah Zabini dan anak itu sama sekali tidak menyembunyikan rasa bahagianya.

"Mr Zabini ini adalah teman Mr Malfoy?" tanya Scorpius. Rasa antusias dalam suaranya sangat terdengar jelas.

Hermione mengangguk dan terkekeh pelan. Scorpius bisa menjadi anak yang ekspresif saat senang. "Berarti, Mr Malfoy juga ada di sini?"

Hermione kini menggeleng. "Mr Malfoy kembali ke Inggris untuk menjemput Carina."

"Carina juga akan kembali ke Spanyol?" tanya Scorpius penuh semangat.

"Iya. Kau akan bertemu dengannya dalam beberapa hari," jawab Hermione yang kemudian tertawa karena melihat anaknya mengepalkan tangannya penuh semangat.

Selang beberapa menit, Zabini pun mempersilakan mereka masuk dan menunjukkan kamar mereka. Selagi Scorpius mengagumi kamar barunya, Hermione menemui Zabini yang sedang sibuk di dapurnya.

"Apa kau tidak memperkerjakan asisten rumah tangga?"

Blaise sepertinya terkejut akan kehadiran Hermione yang tiba-tiba di dapurnya karena dia hampir menjatuhkan sendok.

"Aku tidak butuh karena aku tahu semua mantra rumah tangga."

"Benarkah?"

"Selalu nada heran," gumam Zabini setelah meletakkan sendok yang jatuh tadi di wastafel lalu dia memberikan secangkir teh pada Hermione.

Hermione tertawa pelan lalu menyesap tehnya. Terlalu manis tapi itu bukan masalah besar. Ia tidak pernah menambahkan pemanis pada tehnya. "Terima kasih, Zabini," ucapannya.

"Aku belum membantu sedikit pun."

"Kau membiarkanku dan Scorpius tinggal di sini untuk sementara."

"Yeah, Malfoy tidak mendiskusikan hal itu padaku terlebih dahulu. Aku tidak bisa menolaknya."

Hermione kembali tertawa. Zabini pun tidak salah. Malfoy lah yang tiba-tiba datang dengan ide kalau Hermione dan Scorpius harus tinggal di sini. Dia bisa saja menolak kehadiran Hermione dan Blaise tapi dia menerimanya dengan senang hati.

"Jadi, kalian akan memberitahu Scorpius dan Carina secara terpisah?" tanya Zabini sebelum suasana menjadi canggung.

"Bisa dibilang begitu tapi kami – aku mungkin hanya akan memberitahu Scorpius garis besar saja. Aku akan memberitahunya kalau sebagian ingatanku sudah kembali."

Zabini mengangguk-angguk dan tidak mempertanyakan keputusan Hermione. "Aku yakin Draco akan bisa membawa Carina ke sini dalam beberapa hari," katanya lagi. "Narcissa akan langsung memberikan izin Carina kembali ke sini jika mereka tahu kau masih hidup."

Mendengar nama ibu Malfoy disebut, Hermione pun jadi ingin menanyakan banyak hal kepada Zabini mengenai wanita itu. Di ingatannya, ia hampir tidak pernah berinteraksi dengan Narcissa Malfoy. Ketika Hermione berada di rumahnya untuk dijadikan bahan pahatan oleh Bellatrix Lestrange, Narcissa Malfoy bahkan tidak meliriknya sama sekali juga tidak melakukan apa pun. Yang mengejutkan Hermione adalah wanita itu berani berbohong pada Voldemort untuk kepentingannya sendiri. Memang dia melakukan itu untuk anaknya tapi tetap saja. Jika saat itu Voldemort bisa bertindak saat menyadari kalau Narcissa Malfoy berbohong padanya, Malfoy dan keluarga pasti hanya tinggal sejarah.

"Tadinya aku tidak ingin menanyakan hal ini, tapi karena kau menyebutnya. Jadi, Narcissa Malfoy dan suaminya mengizinkan Draco menikah denganku?" Hermione bergidik mengatakan hal itu.

Blaise menaikkan alis kanannya setelah mendengar pertanyaan Hermione dan ada sedikit seringaian di ujung bibirnya. Hermione menyebut nama ibu Malfoy dan tapi tidak dengan ayahnya.

"Sepertinya setelah perang selesai, Narcissa menjadi sangat menyukaimu, Hermione. Aku tidak tahu apa yang membuatnya menjadi seperti itu, tapi kau seperti anak perempuan yang diidam-idamkannya sejak lama. Yang mengejutkan, kalian cocok satu sama lain."

"Aku tidak percaya padamu."

"Aku pun sama tidak percayanya," Zabini terkekeh pelan. "Draco apalagi, tapi begitulah faktanya."

"Kau tahu, untuk beberapa saat, aku tidak ingin mengingat sebagian memoriku yang hilang tapi di satu sisi, aku ingin mengingatnya. Aku ingin tahu apa yang dilakukan Harry dan Ron saat mereka tahu aku akan menikah dengan Malfoy? Aku ingin tahu apa yang aku rasakan padanya sampai membuatku menikahinya? Tidak hanya itu, aku ingin tahu hidupku setelah perang. Menjadi penyihir bebas yang tidak takut akan kematian karena dibunuh oleh Voldemort."

Zabini tersenyum lalu memberanikan diri menggenggam tangan Hermione. "Kau mempunyai hidup yang bahagia setelah perang. Semua orang pun sama."

"Tapi tetap saja ada yang tidak senang padaku sampai berani membunuhku."

"Kebahagiaan itu datang dari dalam diri kita sendiri. Seseorang yang melakukan itu padamu pastilah sosok yang amat menyedihkan, tidak pandai bersyukur, dan tentu saja tidak punya hati."

Hermione merasa lega mendengar ucapan Zabini. Ia tidak menyangka ternyata Zabini merupakan sosok yang bisa perhatian pada orang lain tanpa ada unsur godaan di dalammya.

"Jadi, kau bilang aku lebih dekat denganmu ketimbang Malfoy, apa kau temanku? Seperti Aku dengan Harry dan Ron?"

"Aku rasa tidak sedekat itu," ucap Zabini tertawa pelan. "Tapi, karena saat itu kau tahu kalau Draco menyukaimu, dan sepertinya kau butuh teman-teman laki-laki, jadi, ya! Kau cukup dekat denganku."

Hermione tersenyum. "Malfoy menyukaiku terlebih dahulu?"

"Sejak kau memberikan kesaksian untuknya, sepertinya dia mulai tertarik padamu."

"Kenapa ya aku bisa memberikan kesaksian untuknya? Apa aku pernah bercerita padamu?"

Zabini menggeleng. "Draco pun sepertinya tidak tahu. Aku tidak yakin. Tapi, berkat kau dan beberapa orang dari pihakmu memberikan kesaksian untuk Draco, dia dan ibunya bebas dari kurungan Azkaban."

Hermione tidak begitu kaget jika Narcissa terbebas dari Azkaban. Ia yakin Harry memberikan kesaksian juga untuk ibu Malfoy.

"Jadi, hubungan semua orang menjadi lebih baik setelah perang? Apa kau bersedia menceritakan sedikit kepadaku?"

Zabini pun menceritakan sedikit kisah pada Hermione setelah perang juga beberapa hal yang terjadi di tahun-tahun Hermione tidak ada. Harry menikahi Ginny. Ron menikahi Astoria Greengrass. Theodore Nott berkencan dengan Luna Lovegood.

Zabini tidak menceritakan sedikit tapi cukup banyak bagi Hermione dan membuatnya tak sabar ingin bertemu dengan teman-temannya. Zabini merupakan pencerita yang baik. Dia bercerita dengan seluruh tubuhnya dan yang paling menarik menurut Hermione adalah tatapan mata dan intonasi suara yang Zabini gunakan. Hermione heran, dengan pesona yang begitu memukau, kenapa tidak ada satu wanita yang tertarik pada Zabini?

Belum selesai Blaise bercerita, ponsel Hermione berbunyi. Ia mengerutkan dahinya begitu membaca nama Malfoy di layar ponselnya.

"Malfoy meneleponku," ucapnya pada Blaise.

"Terimalah. Aku akan menemani Scorpius sampai kau selesai."

Hermione mengucapkan terima kasih pada Blaise lalu menerima panggilan telepon Malfoy.

"Ada apa?" tanya Hermione.

"Apa kau sudah di rumah Blaise?" tanya Malfoy tanpa basa-basi. Hermione hanya bergumam.

Mereka diam beberapa detik lalu Malfoy berkata lagi, "Granger, Aku sudah memberitahu Carina. Aku akan berbicara pada orangtuaku setelah makan malam."

"Bagaimana tanggapan Carina?"

"Carina menerimanya dengan sangat baik. Dia juga ingin kembali ke Spanyol dan bertemu Scorpius."

"Aku belum memberitahu Scorpius."

"Kenapa?"

"Kami baru saja tiba di rumah Zabini," jawab Hermione lalu melangkah menuju wastafel untuk meletakan cangkir tehnya yang sudah kosong. "Scorpius sedang merasa bahagia sekali saat ini, jadi Aku menundanya sampai nanti waktu tidur."

Hermione dapat mendengar Malfoy tertawa pelan di sana. "Apa kau berpikir Scorpius tidak akan bahagia menerima kabar ini?"

"Aku tidak yakin, tapi Aku rasa dia mungkin akan bahagia sekali." Hermione kini berjalan memutari kitchen island dan duduk di salah satu bangku tinggi.

Malfoy kembali tertawa tapi hanya sebentar. Mereka kembali diam. Hermione merasa seperti remaja yang salah tingkah karena kehabisan kata-kata sangat berbicara dengan sosok yang disukai.

"Granger?"

"Mmm?"

"Semoga berhasil berbicara pada Scorpius nanti."

"Semoga berhasil berbicara pada kedua orangtuamu, Malfoy."

Draco di seberang sana kembali tertawa pelan untuk ketiga kalinya tapi yang ini terdengar lepas dan lega sekali. Hermione yang mendengarnya pun juga merasa lega. Seperti baru saja melepas beban berat di punggung.

"Baiklah. Aku akan menutup teleponnya. Selamat malam, Granger."

"Malfoy," cegah Hermione sebelum Malfoy menutup teleponnya.

"Ada apa?"

"Menurutmu, apakah Athena harus diberitahu?" Hermione agak ragu bertanya itu pada Malfoy. Ia tidak juga seharusnya bertanya tapi kondisinya saat ini sedang tidak dalam kondisi sempurna untuk mengambil keputusan. Ia tidak ingin mengakuinya tapi keberadaan Malfoy sedikit membantunya, tidak, bahkan lebih banyak dari yang ia butuhkan.

"Kita akan memberitahunya setelah kita mendapatkan hasil tes DNA-nya. Bagaimana?"

Hermione pun menyetujui ucapan Malfoy. Tak lama setelah itu, Malfoy menutup teleponnya dan Hermione menemui Scorpius yang ternyata sudah bersiap-siap untuk tidur. Zabini tidak ada di kamar anaknya

"Aku pikir Mr Zabini masih bersamamu," kata Hermione.

"Paman Blaise hanya mengecekku sebentar lalu keluar lagi. Dan Aku tidak tahu di mana Paman Blaise sekarang."

Sebelah alis Hermione naik mendengar Scorpius memanggil Zabini dengan sebutan Paman Blaise.

"Apa saja yang kalian bicarakan?"

"Tidak banyak," jawab Scorpius. "Paman Zabini hanya bercerita tentang rumah dan pekerjaannya. Mum tahu, Paman Zabini ternyata mempunyai saham yang sangat banyak di Ferrari."

Hermione menghela nafasnya pelan. Scorpius cukup banyak berinteraksi dengan Felipe Buenafe sehingga anaknya itu tahu sedikit soal bisnis dan juga mobil. Felipe menyukai Ferrari, begitu juga dengan anak-anaknya yang menyebabkan Scorpius juga menyukai mobil tersebut.

"Carina bilang ayahnya mempunyai mobil Ferrari."

"Itu benar," jawab Hermione. Malfoy mengendarai mobil itu pagi ini. Tidak heran kenapa pria tersebut bisa mempunyai mobil sekelas Ferrari. Tidak heran juga jika ternyata barang-barang Muggle yang digunakan - yang dimilikinya ternyata termasuk barang-barang mewah. Draco Malfoy memang mempunyai selera yang bagus.

"Wow," ucap Scorpius takjub.

"Apa kau sudah mengantuk?" tanya Hermione untuk mengalihkan pembicaraan.

Scorpius mengangguk. "Aku ingin tidur tapi entah mengapa Aku merasa Mum ingin berbicara padaku saat ini."

"Kau benar," Hermione terkekeh. "Ada sesuatu yang ingin Mum sampaikan padaku tapi Mum tidak yakin harus memulai dari mana."

"Apa ini ada kaitannya dengan alasan kita berada di rumah Paman Blaise?"

Hermione mengangguk.

"Bagaimana dengan Mr Malfoy?"

"Mum juga akan membicarakannya."

"Apa kalian akan menikah?"

Hermione merinding seketika. Ia tidak ingin menikah dengan Malfoy. Tapi, ini juga ada kaitannya dengan pernikahan yang pernah mereka lakukan. "Tidak tapi juga ada kaitannya dengan itu.

"Apa apa, Mum? Apa karena Mum mimpi buruk semalam?"

Hermione mengangguk. Ia pun duduk bersandar pada dinding sambil memegang kedua tangan Scorpius. Ia bingung sekali harus mulai dari mana namun ia tetap mencoba.

"Mum sudah pernah memberitahumu soal keadaan Mum yang hilang ingatan, kan?" Scorpius mengangguk pelan. "Entah bagaimana, mimpi buruk yang terjadi pada Mum semalam membuat Mum kembali mengingat beberapa memori di masa lalu."

"Ingatan Mum sudah kembali?" Scorpius terkejut tapi dalam artian baik. Dia tampak antusias.

"Hanya sebagian tapi lebih dari cukup untuk Mum."

"Jadi, Mum tahu siapa diri Mum sebenarnya?"

Hermione kembali mengangguk untuk kesekian kalinya.

"Siapa, Mum?"

"Hermione Granger."

Scorpius menaikkan kedua alisnya, mengerutkan dahi, dan memandang Hermione dengan wajah heran. Ia dapat menebak kalau Scorpius tahu siapa Hermione Granger meskipun mereka tidak pernah membicarakannya. Ia berasumsi jika anaknya mengetahui hal itu dari Carina.

"Ibunya Carina?"

Dugaan Hermione benar. "Dari mana kau tahu kalau Hermione Granger adalah ibunya Carina?"

"Well, Aku membaca beberapa buku mengenai perang penyihir di Inggris beberapa tahun lalu, Aku tahu siapa Hermione Granger dari buku-buku yang aku baca," Alis Hermione kembali naik sebelah. Ia tahu Scorpius suka membaca tapi untuk yang satu ini, ia tidak tahu sama sekali. "Carina pun pernah bercerita tentang ibunya. Segala macam dia ceritakan. Dan ternyata, Hermione Granger adalah ibunya Carina."

"Kenapa kau tidak pernah bercerita pada Mum kalau Carina pernah bercerita tentang ibunya?"

"Aku berjanji padanya untuk tidak bercerita pada siapa pun."

"Dan kenapa kau tidak pernah bercerita pada Mum kalau kau tahu siapa Hermione Granger sebelum mengenal Carina?"

"Aku juga tidak tahu, tapi kupikir karena aku takut sesuatu buruk akan terjadi jika Aku bertanya sesuatu tentang Inggris kepada Mum," jawab Scorpius pelan. "Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada, Mum."

Hermione memeluk Scorpius sambil mengusap-usap lengan anaknya. "Terimakasih sudah memikirkan keadaan Mum."

"Jadi, Mum adalah Hermione Granger?" Scorpius sama sekali tidak risih dengan pelukan ibunya. Hermione pun kembali mengangguk. "Hermione Granger ibunya Carina?"

"Well, jika hanya ada satu Hermione Granger di dunia ini, maka Mum adalah ibunya. Namun, Mum sendiri tidak yakin apakah Mum adalah ibunya Carina karena Mum tidak mengingatnya. Mum mengingat kehidupan Mum sebelum ini, sebelum perang di Inggris tapi hanya itu saja. Mum tidak ingat kehidupan Mum setelah perang. Jadi, ada kekosongan di ingatan Mum."

"Dan, Mr Malfoy tahu akan hal ini?"

"Tentu saja. Dia yang meminta agar kita pindah ke sini agar lebih aman."

"Sepertinya Mr Malfoy sudah tahu sejak awal kalau Mum adalah Hermione Granger."

"Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu?"

"Mr Malfoy dan Paman Blaise kaget ketika bertemu Mum untuk pertama kalinya di katedral."

Ingatan Hermione melayang ke hari ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya di Spanyol. Ia yang saat itu tengah berlatih paduan suara, dari tempat ia berdiri, ia melihat Scorpius mendekati seorang pria asing. Hermione terkejut saat melihat Malfoy dan kemiripan yang ada pada dirinya dan Scorpius. Saat itu ia sudah tahu kalau Malfoy bukan berasal dari Spanyol. Anehnya, Hermione saat itu sama sekali tidak tertarik mencari tahu lebih banyak mengenai Malfoy. Tidak ada alasan khususnya. Hanya tidak tertarik saja.

"Mum pikir mereka kaget karena melihat orang lain yang wajahnya mirip dengan istri dari Mr Malfoy," jawab Hermione. Saat itu ia tidak berpikir seperti itu karena ia tidak tahu. Tapi, pernyataan yang ia berikan cukup masuk akal.

"Mr Malfoy juga kaget saat pertama kali bertemu denganku," kata Scorpius. "Carina mengatakan padaku saat pertama kali dia bertemu denganku, dia berpikir seperti pernah melihatku sebelumnya. Dan pada pertemuan berikutnya, dia mengatakan kalau aku mirip sekali dengan ayahnya ketika masih kecil."

Hermione pun menyetujui hal tersebut. Ia pun berpikir demikian. Draco Malfoy yang ia ingat saat berusia 11 tahun tidak jauh berbeda dengan Scorpius saat ini. Ia yakin jika nanti Scorpius berusia 11 tahun, perawakannya akan sama sekali dengan Malfoy. Merlin! Bahkan saat ia terbangun dari mimpi buruknya dan Scorpius masuk ke dalam kamarnya, ia langsung mengingat Malfoy.

"Aku kerap kali berpikir betapa miripnya Mr Malfoy denganku," lanjut Scorpius. "Aku berpikir mungkin Mum akan melakukan sesuatu tapi ternyata tidak. Begitu juga saat Mum dan Mr Malfoy menjalin hubungan, aku berharap kalian melakukan sesuatu seperti membahas betapa miripnya kami berdua, tapi juga tidak."

Ada kesedihan terpancar dari Scorpius begitu dia selesai berbicara. Scorpius adalah anak yang baik juga pengertian. Hermione merasa berhutang padanya karena harus menjalani hidup sebagai Mia yang sebatang kara. Anaknya itu tidak pernah meminta sesuatu yang lebih dari kemampuan Hermione. Dia juga anak yang tahu diri karena meskipun mereka dekat dengan keluarga Buenafe, Scorpius tidak pernah bersikap rendah diri dan memalukan.

Hanya satu keinginan Scorpius yang selalu dia suarakan: dia ingin tahu siapa ayahnya.

"Maafkan Mum karena tidak peka akan keinginanmu, Scorpius."

"Aku mengerti, Mum," Scorpius memeluk Hermione erat. "Aku pikir Mum takut jadi aku dapat mengerti itu."

Hermione mencium puncak kepala Scorpius. "Jadi, ternyata kau sudah tahu."

"Tidak, tidak. Aku hanya berspekulasi juga berharap."

"Tapi spekulasi dan harapanmu benar. Selain itu, kita juga harus melakukan sesuatu untuk membuktikan ini semua."

"Sesuatu seperti apa?"

"Kita akan melakukan tes DNA untuk memastikan apakah Mum memang Hermione Granger. Kau, Carina, dan Mr Malfoy juga akan melakukan tes yang sama, juga untuk memastikan apakah kalian bersaudara, memastikan kalau kau memang anak dari Mr Malfoy."

Scorpius tersenyum mendengarnya. "Jika benar aku adalah anak dari Mr Malfoy, maka Mr Malfoy adalah ayahku?"

Hermione mengangguk lalu tersenyum. Ia pun memeluk Scorpius erat. Ia tahu ini adalah sesuatu yang sangat Scorpius inginkan: mengetahui siapa ayahnya. Bahkan jika benar, Scorpius mendapatkan lebih dari apa yang dia inginkan: ia tahu siapa ayahnya, ayahnya masih hidup, dan juga menginginkan Scorpius menjadi anaknya.

"Kapan kita akan melakukan tesnya?"

"Kita masih menunggu kedatangan Mr Malfoy dan Carina ke Spanyol. Jika semua berjalan lancar maka besok atau lusa mereka akan tiba di sini. Setelah itu, kita bisa menentukan jadwal untuk melakukan tes."

Hermione dapat merasakan kebahagiaan dari diri Scorpius. Scorpius seperti sedang mentransfer rasa bahagianya lewat pelukannya. Dia seperti tidak ingin merasakan kebahagiaan itu sendirian.

"Mum, jika benar Mum memang Hermione Granger, maka Mum berteman dengan Harry Potter?"

Hati Hermione tiba-tiba terenyuh. Harry. Ron. Keduanya lebih dari sekedar teman. Mereka berdua adalah segalanya bagi hidup Hermione.

"Mum?"

"Mmm, iya. Mum berteman dengannya."

"Bagus sekali. Bisakah Mum bercerita padaku apa saja yang pernah Mum lakukan dulu?" pinta Scorpius penuh semangat.

"Tapi ini sudah waktunya tidur."

Hermione menunjuk jam dinding digital muggle yang ada di tengah ruang kamar Scorpius. Jamnya menunjukkan pukul 09.19 pm.

Scorpius mendesah sedih tapi dia tidak mundur. "Kali ini saja. Aku mohon."

Hermione ingin menolak permintaan anaknya itu karena setelah ini mereka akan punya banyak waktu. Hermione dengan senang hati menceritakan semua kisahnya pada Scorpius kapan pun. Tapi, saat ini, Scorpius tampak tidak mengantuk dan begitu antusias. Melanggar aturan yang dibuatnya sendiri bukan tindakan kriminal, kan?

"Hanya jika kau berjanji untuk terus bercerita pada Mum mengenai apapun yang kau pikirkan juga yang kau rasakan.

"Aku berjanji."

.

.

.

"Dad?"

Draco mendapati Carina baru saja masuk ke ruang kerjanya tak lama setelah ia menutup telepon.

"Ada apa?"

"Grand-père dan Grand-mère sudah menunggu Dad."

Draco menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia sudah menyiapkan diri tapi tetap saja bingung apa yang harus ia sampaikan nanti. Ibunya adalah penggemar Hermione sedangkan ayahnya adalah ketua klub anti-Hermione sekaligus pendiri dan satu-satunya anggota. Ia khawatir akan reaksi mereka jika mereka tahu kalau Hermione masih hidup. Jika mereka tahu kalau Scorpius juga masih hidup.

Keduanya tentu saja tahu soal hubungan Draco dan Mia. Keduanya tidak menentang tapi juga tidak mendukung. Menurut mereka, mengencani wanita yang wajahnya mirip dengan mendiang istrinya bukanlah hal bijak. Draco hanya sedang bermain api tanpa tahu kalau api tersebut dapat membakarnya.

Mereka tidak sepenuhnya benar.

Draco menemui orangtuanya di ruang keluarga. Ruangan ini adalah salah satu dari ruangan pertama yang dirombak total oleh Hermione setelah dia menjadi Nyonya di keluarga ini. Kesan hitam dan kelam dari Malfoy Manor dihempas habis-habis oleh Hermione. Dia memilih warna putih dengan aksen perpaduan berbagai macam warna biru dan abu-abu sebagai ciri khas dari Malfoy Manor. Ciri khas itu tetap ada sampai detik ini meskipun Malfoy Manor berdiri tanpa Nyonya di dalamnya.

"Kejutan sekali kau kembali berada di Inggris," ucap Narcissa pada anaknya. "Untuk apa kau repot-repot kembali ke Spanyol jika kurang dari 24 jam sudah berada di sini lagi?"

"Ada sesuatu yang ingin Dad katakan pada kalian," ucap Carina lalu duduk santai di samping neneknya. Narcissa menyambutnya dengan usapan lembut di punggung Carina.

"Apa?" tanya Lucius tanpa basa-basi. Draco tidak senang jika ayahnya tiba-tiba menjadi sangat ingin tahu.

"Well, aku tidak akan berbasa-basi pada kalian. Kalian sangat terhormat karena mendapatkan kabar ini langsung dari aku ketika tidak ada satu orang pun yang tahu."

"Jadi?"

"Hermione masih hidup, begitu juga dengan Scorpius."

"Jangan bercanda," ujar Lucius dingin. Respons yang diberikan ayahnya sangat menyebalkan. Di lain sisi, ibunya hanya diam, mengawasi tanpa terlihat ingin mengatakan sesuatu.

"Untuk apa aku bercanda?" seru Draco tersinggung. Sebelum kedua orangtuanya berbicara, Ia langsung bercerita tentang semua spekulasinya terhadap Mia. Carina juga membantunya dengan menceritakan apa yang ia dan Scorpius bicarakan setiap kali mereka bertemu. Sungguh di luar dugaan kenyataan bahwa Carina dan Scorpius selama ini berspekulasi tentang siapa mereka tapi tidak satu pun dari kedua anak itu yang menyampaikan pikiran mereka kepada Draco atau Hermione. Ia juga menceritakan apa yang terjadi pada Mia atau Hermione kalau ini wanita itu sudah mendapatkan ingatannya kembali. Tidak semuanya tapi setidaknya kini dia tahu siapa dirinya yang sebenarnya.

"Apa dia baik-baik saja?" tanya Lucius.

"Mereka baik-baik saja," jawab Draco mengesampingkan fakta kalau ayahnya menanyakan keadaan Hermione. "Mereka saat ini berada di rumah Blaise."

"Mereka?"

"Hermione dan Scorpius," jawab Draco cepat dan tak sabar. "Keduanya sudah pindah dari flat milik Athena dan berada di rumah Blaise saat ini."

"Apa kau sudah memberitahu Athena?" tanya ayahnya lagi.

Draco menggeleng. "Kami akan memberitahunya nanti jika hasil tes sudah keluar."

"Tes? Tes apa yang akan kau lakukan?" Ibunya pun akhirnya mengeluarkan suara.

"Inilah alasanku memberitahu kalian," ucap Draco yang tidak sama sekali menyembunyikan keenganannya. "Hermione ingin melakukan tes padaku dan Carina, juga dirinya dan Scorpius. Dia ingin mempunyai bukti yang jelas kalau dia memang Hermione Granger dan ibu dari Carina. Tes itu juga dimaksudkan untuk mengetahui apakah aku benar ayah kandung Scorpius."

"Apakah wanita itu tidak yakin akan ingatannya sendiri?" cemooh Lucius. Draco melihat Carina mengerutkan dahi dengan tatapan mata kesal tertuju ke kakeknya. Anaknya itu tampak tidak terlalu senang mendengar Lucius menyebut Hermione dengan sebutan wanita itu.

"Well, aku rasa dia yakin sekali," jawab Draco. "Father dan Mother akan langsung mengetahui kalau dia memang Hermione hanya dari tatapan mata serta ekspresinya saja."

"Di mana kalian akan melakukan tes?"

"Di Spanyol. Blaise sudah mengurusnya. Karena itu juga aku akan membawa Carina ke Spanyol besok."

Draco dapat melihat Carina tersenyum kesenangan tapi tidak dengan Narcissa. "Setelah apa yang terjadi pada Carina, kau masih ingin membawa anakmu ke sana?"

"Kau bisa melakukan tes itu di sini," tambah Lucius.

"Kita harus merahasiakan ini dari siapa pun," kata Draco. Ia sungguh berharap kedua orangtuanya mengerti. "Kita sama sekali tidak tahu sosok yang melakukan perbuatan ini pada keluarga. Fakta kalau hidup Hermione sebagai Mia selama 8 tahun tidak diganggu oleh siapa pun membuktikan bahwa sosok ini tidak tahu keberadaan Hermione. Dia tidak tahu kalau Hermione masih hidup."

"Apa ada jaminan jika tes yang akan kau lakukan di Spanyol akan aman?"

"Tidak ada tapi aku pikir akan lebih baik jika kami melakukannya di Spanyol. Publik akan geger jika tahu kalau Hermione masih hidup."

"Kau harus menjamin jika tes yang akan kau lakukan itu aman. Mother tidak hanya berbicara untuk keamanan kau, tapi juga Carina. Kehidupan Hermione dan Scorpius pun bisa jadi tidak aman," ucap Narcissa waspada. "Kita tidak tahu siapa yang melakukan ini pada keluarga kita, Draco. Kau harus berhati-hati dalam bertindak. Kau tidak bisa membuat mereka kembali dalam bahaya."

Draco tidak mengatakan apapun karena otaknya sedang berpikir mengenai segala kemungkinan yang akan terjadi. Ia berkata jujur mengenai memang tidak ada jaminan keamanan bagi mereka jika melakukan tes di Spanyol tapi melakukan tes di Inggris sama dengan bunuh diri. Dunia sihir Inggris sebaiknya tidak tahu mengenai keberadaan Hermione. Jika demikian, ia juga harus menahan diri untuk tidak memberitahu Potter dan Weasley akan hal ini. Merlin! Dua penyihir itu akan murka sekali jika mereka tahu fakta ini di kemudian hari.

"Aku yakin Blaise dapat memberikan jaminan keamanan untuk kalian, tapi, Athena dan suaminya akan memberikan jaminan itu lebih banyak, lebih kuat dari yang kau bayangkan."

Ibunya memang benar. Blaise mempunyai pengaruh yang cukup kuat meskipun dia tidak terkenal. Blaise lebih suka berbuat dalam diam, terselubung, pelan-pelan karena dia tidak suka menarik perhatian pihak-pihak tertentu seperti media. Itu salah satu alasan mengapa dengan pesona yang dia punya, Blaise tidak pernah bertahan dengan wanita mana pun. Kebanyakan dari mereka ingin mendapatkan paparan media dan pusat perhatian.

Di lain pihak, keluarga Athena sangat berpengaruh di masyarakat sihir Spanyol. Keluarga Buenafe adalah satu satu keluarga sihir tua terpandang di sana. Bantuan dari mereka akan sangat memudahkan proses ini tapi Draco tahu, memberitahu Athena tidak akan semudah yang dipikirkan oleh orangtuanya.

"Aku tidak ingin memberitahu Athena," ucap Draco. "Kami akan banyak menghabiskan waktu jika kami terus menerus memberitahu orang lain."

"Hanya Athena dan suaminya, Draco," ujar Lucius sedikit memaksa "Jika Hermione tidak setuju maka kau harus membuatnya setuju, entah bagaimana caranya. Selain itu, aku pikir Athena akan kesal padamu jika tes yang kau lakukan itu tidak berjalan dengan baik."

"Ayahmu benar," tambah Narcissa. "Athena akan banyak membantumu setidaknya dia bisa memberikan jaminan keamanan kalau berita kau melakukan tes DNA dan hasilnya tidak akan bocor ke publik. Berita dari Spanyol memang tidak menarik bagi warga Inggris tapi jika mereka mendengar sedikit kabar mengenai Hermione, kau tahu kalau publik di sini tidak bisa diam."

"Aku tahu, Mother."

"Apa kalian sudah selesai?"

Draco tertegun beberapa saat sebelum akhirnya sadar kalau ia lupa akan kehadiran Carina di sini. Ia juga mendengar kedua orangtua tertawa seakan mereka juga baru sadar kalau sejak tadi Carina ikut dalam pembicaraan ini.

"Cucuku yang cantik, maafkan grand-père yang melupakanmu," kata Lucius yang langsung mengulurkan tangannya pada Carina. Carina pun berdiri dan merima uluran tangan Lucius seraya anak kecil itu duduk nyaman di pangkuan kakeknya.

"Aku banyak mendengar kisah tentang Mum dan bagaimana dia pergi, tapi kurasa baru kali ini aku mendengar kalian membicarakan Mum bersamaku."

"Kami tidak sanggup membicarakan Hermione di depanmu, sayang," ucap Narcissa sedih. Draco tahu ibunya masih menangisi kepergian Hermione dan Scorpius tapi ibunya dapat menutupi semua kesedihannya dengan baik. Hermione bagai anak perempuan yang diidam-idamkan selama ini. Tidak heran ketika Hermione memutuskan untuk merombak desain interior Malfoy Manor dan menambahkan beberapa tanaman dan bunga kesukaannya di taman, ibunya tidak menolak sama sekali malah mendukung Hermione dan semua ide briliannya.

Tapi, Carina tampak tidak sedih. "Jadi, kalian akan membiarkanku kembali ke Spanyol, kan?"

"Apa kami punya pilihan?"

Carina terkekeh pelan sambil menggeleng. "Kali ini aku kembali ke sana untuk bertemu dengan ibu dan kakakku."

"Kau pasti sangat senang sekali."

"Aku lebih daripada senang."

"Baiklah," seru Draco lalu bangkit dari duduknya. "Aku akan beristirahat."

Draco pun meninggalkan Carina bersama kedua orangtuanya dan segera kembali ke kamar. Tanpa mengganti pakaian, ia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang sembari menutup kedua matanya dan memijit pelan dahinya.

Sungguh di luar dugaan.

Hermione masih hidup.

Ia tertawa pelan.

Ia merasa lucu dengan hidupnya saat ini.

Skenario seperti apa lagi yang akan ia lalui dalam hidupnya?

Ia tidak tahu apakah ia akan siap dengan hari esok dan hari-hari setelahnya.

Ia yakin 100% kalau hasil tes akan positif.

Dan karena itu, hidupnya yang aman perlahan akan menghilang. Ia harap tidak selamanya tapi ia tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Ia yakin kalau Hermione tidak akan tinggal diam. Wanita itu akan melakukan segala cara untuk mengetahui siapa yang telah membunuhnya. Dia mungkin akan melanggar jutaan aturan untuk mencapai tujuannya. Hermione akan melakukan apa pun untuk melindungi keluarganya. Begitu juga dengan Draco.

Ia tidak akan bisa beristirahat setelah ini, Tidurnya mungkin akan banyak terganggu. Ia mungkin akan kembali mendapat mimpi buruk. Dan sebelum semua hal itu terjadi, Draco mengambil Ramuan Tidur-tanpa-Mimpi dan meminumnya. Hal yang sangat ia butuhkan saat ini adalah tidur yang nyenyak.