Scared to be Lonely
Even when we know it's wrong
Been somebody better for us all along
Tell me, how can we keep holding on, holding on tonight?
'cause we scared to be lonely
.
SAWAMURA EIJUN
Sawamura membuka matanya. Tampaknya dia tertidur di meja belajarnya. Kertas-kertas berisikan tulisan tangan dan rumus matematika berserakan di sekitarnya. Beberapa lembar terjatuh ke lantai. Angin dari balkon berhembus masuk dan menerbangkan kertas-kertas itu, membuatnya semakin berceceran.
Dia bisa merasakan tubuhnya yang kaku dan lehernya sakit. Sepertinya lehernya akan sakit untuk beberapa lama. Dengan tangan kanannya, dia mengambil kertas yang menempel di pipinya selama dia tertidur. Ketika dia mencoba menggerakan lehernya, rasa sakit menyerangnya.
"Aduh sial," rutuknya sambil memijat-mijat lembut leher dan bahunya.
Dia mengambil kertas-kertas yang berceceran dan menumpuknya dengan rapi. Dia sampai lupa sudah sampai mana kerjaannya. Ponselnya berdenting dan sebuah pesan baru masuk.
Orang Aneh: Mengirimkan file
Orang Aneh: Bisa kau tambahkan sendiri e-signature-mu. Setelah itu disimpan masing-masing saja.
Tanpa harus membuka apa isi file-nya, Sawamura sudah tahu. Dia kembali teringat dengan Miyuki, serta hubungan aneh yang terjalin di antara mereka. Sejujurnya, Sawamura tidak pernah menyangka bahwa hidupnya bisa berputar ke arah yang aneh seperti ini. Persis seperti di film-film romantis yang selalu ditontonnya di kala senggang.
Sawamura: Oke, terima kasih.
Sawamura membuka file tersebut. Isinya adalah poin-poin perjanjian yang mereka susun di restoran. Tidak ada yang diubah, semua poin-poin itu masih diingat dengan jelas oleh Sawamura, sampai titik koma sekalipun. Dia mencantumkan e-signature dan menyimpan file itu. Lalu, dia beranjak menuju dapur.
Perutnya keroncongan dan akhirnya dia memanaskan air untuk membuat ramen instan. Dia terlalu malas untuk memasak, terlalu malas untuk makan keluar, akhirnya ramen instan menjadi pilihan. Selagi menunggu air mendidih, Sawamura terus mereka ulang pertemuannya dengan Miyuki. Rasanya seperti menonton kejadian di dalam televisi, seperti tidak nyata. Setiap percakapan, gestur tubuh mereka, dia mereka ulang semuanya sampai mengingatnya di luar kepala.
Apakah ini akan baik-baik saja? Sawamura tidak pernah melibatkan diri dalam hubungan seperti ini, jadi semakin dipikirkan, dia semakin merasa cemas. Apakah dia terlalu terburu-buru ketika menyetujui tawaran Miyuki? Apakah semua akan berjalan seperti rencana mereka berdua? Mungkin akan baik-baik saja, karena mereka telah menetapkan batasan-batasan. Semua telah tertulis secara resmi dan ditandatangani oleh kedua belah pihak. Seharusnya tidak ada masalah. Sawamura terus mengulang-ulang hal itu.
Lamunannya tersentak ketika air sudah mendidih. Dia mematikan kompor dan menyeduh ramennya. Sambil menunggu 3 menit, dia mengambil bir di kulkas dan memainkan ponselnya. Dia membuka Instagram, me-like postingan teman-temannya, dan menonton konten-konten yang muncul di FYP-nya. Ketika 3 menit telah berlalu, dia mengaduk-aduk ramen hingga bumbunya tercampur. Wangi rempah-rempah dan bumbu instan menguar di seluruh dapur. Uap panas menguap dan Sawamura meniup-niup pelan supaya mie-nya tidak terlalu panas saat disantap.
Dipikirkan sampai kepalanya pecah juga tidak akan menghasilkan apapun. Dia sudah terlibat bersama Miyuki. Kini, dia hanya harus menjalaninya. Lagipula, hubungan itu tidak akan mengubah apapun di dalam kehidupannya. Dia masih berada di apartement-nya, dia masih menjalani hari-harinya, masih mengajar mahasiswa, membimbing tesis, dan menyelesaikan persamaan. Hanya saja, dia tidak bingung lagi untuk menghabiskan malam atau untuk menyalurkan hasratnya. Mau dipikirkan juga, ini tetap menguntungkan.
Sawamura mulai memakan ramen-nya perlahan-lahan.
.
Pesan dari Miyuki muncul ketika dia sedang makan siang bersama Haruichi. Miyuki hanya menulis alamat rumahnya dan pukul berapa mereka akan bertemu. Sawamura menyemburkan teh dingin yang sedang diminumnya. Haruichi melempar tissue ke wajahnya.
"Jorok," katanya sebal.
"Maaf, maaf," kata Sawamura sambil mengelap bibirnya dengan tissue yang dilempar Haruichi. Dia terbatuk-batuk.
"Kenapa?" tanya Haruichi.
Sawamura menggeleng. Dia tidak mau memberitahu temannya tentang hubungannya dengan Miyuki atau pun perjanjian di antara mereka. Rasanya terlalu memalukan dan tidak etis membicarakannya. "Ini terlalu pedas," kata Sawamura sambil menunjuk makanan di depannya.
"Kau tersedak saat minum teh. Tehnya kau campur merica?" tanya Haruichi tajam.
Sawamura menghela napas. "Haruo, kau terlalu mengerikan. Mengerikan. Makanya kau berubah dari Harucchi menjadi Haruo."
"Jangan berlebihan," kata Haruichi. Dia kembali memakan steak di depannya dengan tenang.
Sawamura harus mengalihkan perhatiannya. Dia tidak bisa memikirkan pesan dari Miyuki sekarang, karena akan sangat aneh. "Jadi, penelitianmu bagaimana? Aku melihat dua asistenmu tadi menunggu di depan ruanganmu."
"Begitulah. Aku sedang mencari sampel-sampel dan data dukungan. Kau tahu susah sekali mendapat dana penelitian belakangan ini? Membuatku malas saja harus menerbitkan di Jurnal Fakultas."
Sawamura tertawa. "Kau bisa tampak mengerikan kalau kau mau, Haruo. Jangan sia-siakan bakatmu."
Sebagai jawaban, Haruichi mengacungkan pisau steak yang berlumuran saos pedas. "Kau mau jadi uji cobaku?" dia bertanya sambil tersenyum manis.
"Maksudku, kau pasti bisa memak–meminta pihak fakultas. Itu hakmu."
Haruichi tidak menanggapinya. Dia memotong daging steak dihadapannya. "Kau sendiri bagaimana? Belakangan ini kau selalu makan siang di luar," katanya.
"Ah, itu." Sawamura mengatur kata-katanya supaya tidak tampak mencurigakan. "Aku sedang kesulitan menyelesaikan persamaan. Makanya mau cari suasana baru."
Haruichi menaikkan alisnya. "Oh ya? Sudah lama kau tidak kesulitan. Menurutmu, berapa lama waktu yang kau butuhkan?" tanya Haruichi.
Sawamura memotong daging steak di depannya. Dia mengangkat bahu. "Aku belum tahu. Masih banyak faktor-faktor yang belum kuketahui. Aku akan mengerjakannya perlahan-lahan."
"Tidak seperti biasanya ya," komentar Haruichi.
"Apanya?"
"Biasanya kau selalu terobsesi untuk menyelesaikan persamaan. Kau bisa meninggalkan segalanya."
"Wah, kalau kau katakan seperti itu aku tampak seperti maniak."
"Kau memang maniak."
Sawamura berdecak. "Setidaknya aku tidak membuat Dekan-ku ketakutan," gumamnya. Dia melihat takut-takut ke Haruichi yang masih mengunyah steak-nya. Dia belum mau ditikam oleh sahabatnya sendiri. Mereka menghabiskan makan siang, setelah itu kembali ke kampus.
"Ini malam minggu, kita bertemu di tempat biasa?" tanya Haruichi sebelum dia mengajar.
Sabtu malam adalah waktu yang ditetapkan oleh Sawamura dan Haruichi di Klub Buku. Mereka selalu bertemu setiap Sabtu malam di Klub Buku tersebut, meminum wine terbaik, membaca buku-buku klasik dan berkelas sambil sesekali merokok cerutu. Mereka memulai rutinitas itu sedari mereka menjadi bagian dari staff pengajar di Universitas Tokyo.
"Ah iya," kata Sawamura. Dia baru ingat bahwa malam ini dia harus ke Klub Buku. Biasanya dia tidak lupa, tapi kejadian beberapa waktu belakangan ini seolah mengacaukan semua jadwal kehidupannya. Malam ini, Miyuki memintanya datang dan Sawamura tidak punya alasan menolak. Jika baru pertemuan pertama sudah menolak, kesan Sawamura akan jelek. "Aku tidak bisa datang malam ini."
"Tumben."
"Ingat persamaan yang sedang kukerjakan? Aku mau mencoba mengutak-atiknya lagi."
"Aku berubah pikiran. Kau masih seorang maniak."
"Sudah kubilang, itu terlalu berlebihan."
Haruichi menghela napas. "Ya sudah. Tidak seru jika minum wine sendiri. Kurasa aku akan bermalas-malasan saja di apartment-ku."
"Minggu depan aku akan datang," kata Sawamura. Haruichi mengangguk. Setelah itu, mereka berpisah ke fakultas masing-masing.
.
Sawamura Eijun sedang panik. Dia menggigit bibirnya sampai nyaris berdarah sambil menatap putus asa ke cermin di kamar mandinya. Apakah potongan rambutnya terlihat aneh? Apakah poninya terlalu panjang? Lalu, dia mencoba beberapa eskpresi, seperti tersenyum, menyeringai dan tertawa. Semuanya terlihat kaku. Ekspresinya kaku. Semuanya kaku.
Dia seharusnya mandi, karena Miyuki memintanya datang pukul 8 malam di kediamannya. Dan sekarang sudah pukul 7 malam, sementara Sawamura belum melakukan apapun. Biasanya dia tidak pernah panik untuk masalah seperti ini, tapi kali ini dia panik. Haruskah dia mencukur rambut-rambut yang sudah tumbuh dengan lebat? Atau tidak perlu? Haruskah dia mengemut permen mint supaya napasnya segar?
Sambil merasa panik, Sawamura akhirnya memutar keran shower dan dia mandi dengan air dingin untuk menyegarkan pikirannya. Dia menggosok seluruh tubuhnya, membersihkan semua tempat yang ingin dia bersihkan dan menggosok giginya sebanyak dua kali. Lalu, dia keluar dari kamar mandi dan dihadapkan dengan krisis berikutnya.
Harus pakai baju yang seperti apa? Apakah cukup dengan kaos? Tidak terlalu santai? Apakah nanti Miyuki akan menilainya sebagai orang yang tidak bisa berpakaian? Meskipun hubungan mereka kasual, tapi tetap saja rasanya aneh memakai kaos. Lalu, apakah Sawamura harus memakai kemeja? Namun, apa bedanya dengan kemeja yang biasa dia pakai untuk mengajar? Memangnya Sawamura mau menghadiri pertemuan ilmiah? Kemeja bukan pilihan bagus. Akhirnya, pilihan baju Sawamura jatuh pada kaos polo. Semi kasual dan semi formal.
Sawamura menyisir rambutnya ke segala tempat dan frustasi karena rambutnya memutuskan untuk mengembang dengan sempurna. Rasanya dia ingin menggunakan gel rambut sebanyak-banyaknya. Namun, tampaknya itu bukan ide yang bagus, sehingga dia hanya menyisir rambutnya berkali-kali hingga dia lelah. Selanjutnya, Sawamura memakai cologne. Dia tidak memakainya terlalu banyak karena siapa tahu Miyuki tidak menyukainya dan menghancurkan mood.
Setelah selesai bersiap-siap, Sawamura menatap lagi pantulan dirinya di cermin kamarnya. Dia tampak rapi sekaligus santai. Kaos polo abu-abu dan celana jeans biru tua. Untuk outer, dia menggunakan mantel hitam untuk menghalau angin di malam hari. Sepatu kets yang mudah dibuka. Dia sudah siap untuk bertemu Miyuki.
.
Miyuki Kazuya tinggal di kompleks mansion yang selevel lebih tinggi dari Sawamura dengan keamanan yang ketat. Sawamura membunyikan bel di depan pintu masuk mansion yang terkunci otomatis dari dalam.
"Ini Sawamura," kata Sawamura ketika interkomnya telah tersambung dengan intercom Miyuki.
"Oh, tunggu sebentar." Tak berselang lama, suara kunci terbuka dan pintu masuk mansion terbuka. Sawamura langsung masuk ke dalamnya. dia menuju lift ke lantai 14 tempat Miyuki tinggal. Sekarang, mengetahui bahwa jarak antara dia dan Miyuki semakin tipis, kaki Sawamura terasa bergetar. Dia merasa gugup. Kegugupannya bertambah ketika lift perlahan-lahan naik tanpa berhenti hingga sampai ke lantai 14. Bukan cuma sekali Sawamura berniat untuk kabur. Sayangnya, kakinya terus melangkah semakin dekat menuju pintu mansion Miyuki.
1418 adalah nomor mansion Miyuki. Sawamura berdiri di depan pintu yang tertutup rapat itu. Jika dia pergi sekarang, masih ada waktu. Dia belum mengumumkan kedatangannya di depan pintu Miyuki. Dia masih punya kesempatan terakhir untuk kabur.
Namun, kabur dari apa? Sawamura tidak melakukan kesalahan, begitu pula Miyuki. Semua yang terjadi saat ini atas dasar kemauan masing-masing pihak. Hubungan kasual ini terjalin di atas kesadaran masing-masing pihak. Jadi, apa yang harus Sawamura takutkan? Ini bukan pertama kalinya dia tidur dengan orang asing. Dan menurut Miyuki, ini juga bukan pertama kalinya mereka tidur bersama. Meskipun Sawamura lupa total, tapi itu tetap sebuah kenyataan. Miyuki mengingatnya. Itu tidak menjadikannya sebagai pembohong.
Akhirnya, Sawamura menekan tombol bel sekali lagi dengan tangan gemetar. Dia menunggu respon dari dalam sampai suara kunci diputar dan pintu terbuka dari dalam. Di balik pintu ada Miyuki yang memakai pakaian santai rumahan dengan kacamata dan rambut yang acak-acakan. Sawamura menelan kembali seluruh kegugupannya. Asam lambungnya serasa naik ke kerongkongan.
"Hai," katanya setengah gugup dan setengah melengking.
"Hai. Ayo masuk," ajak Miyuki. Sawamura patuh bagaikan anjing. Dia masuk ke dalam mansion Miyuki dan menaruh sepatunya di tempat yang sudah disediakan. Rupanya, Miyuki sudah menyiapkan sebuah sandal rumah. Sawamura memakainya.
"Maaf sedikit berantakan," kata Miyuki.
Mansion Miyuki cukup besar untuk ditinggali seorang diri, setidaknya jauh lebih besar dari apartment Sawamura. Tipe yang ditempati Miyuki adalah tipe paling sederhana, dengan sebuah kamar tidur, dapur, ruang tamu, balkon dan ruang makan. Desain interiornya modern, meskipun perabotan di dalam mansion tersebut standar.
"Maaf, aku mandi sebentar. Tunggulah di sofa dulu," kata Miyuki.
Barulah Sawamura menatap penampilan Miyuki. Kaos oblong putih dan celana training berwarna abu-abu. Rambutnya acak-acakan dan tampaknya dia belum bercukur beberapa hari ini. Sawamura jadi merasa berlebihan karena berpenampilan rapi. Namun, dia tidak mengatakan apapun dan duduk di sofa seperti perintah Miyuki.
Miyuki masuk ke dalam kamarnya untuk mandi, sementara Sawamura hanya betah duduk 30 detik. Dia lebih tertarik menatap keseluruhan mansion Miyuki. Untuk ukuran lelaki yang tinggal sendiri, mansion tersebut tidak kotor, malah tergolong rapi. Beberapa buku tersusun rapi di rak sebelah televisi. Pakaian-pakaian ataupun jaket tidak berserakan di lantai, tapi tergantung di gantungan belakang pintu masuk, meksipun sudah menumpuk di sana. Dapurnya apik dan Sawamura bisa melihat banyak bumbu-bumbu berderet. Perkakas di dapurnya juga lengkap dan tidak seperti di tempat Sawamura yang sudah berkarat karena tidak pernah di pakai, di sini terawat. Tampaknya Miyuki sering menggunakan alat-alat masaknya.
Di meja televisi terdapat beberapa foto figura. Ada foto Miyuki yang baru lulus kuliah, ada foto Miyuki yang memenangkan beberapa penghargaan sebagai arsitek dan ada foto Miyuki dengan seorang lelaki. Dari wajahnya, mereka tidak mirip. Dari pose foto mereka berdua, terlalu akrab jika disebut sebagai teman. Sawamura dapat menyimpulkan bahwa sosok itu adalah kekasih Miyuki yang telah meninggal.
Rupanya dia sama seperti aku. Masih menyimpan memori-memori itu di sekitarnya.
Sawamura mendengus miris. Dia merasa sedikit lebih dekat dengan Miyuki karena kesedihan yang mereka tanggung. Bukan ikatan yang sehat, tapi itu sudah cukup menjadi alasan untuk malam hari ini. Puas melihat foto-foto, Sawamura beralih ke buku-buku Miyuki. Ada buku mengenai leadership, buku novel klasik inggris, sastra lama jepang, hingga buku teori konspirasi mengenai perang dunia kedua. Bacaan Miyuki tidak terbatas dalam satu genre dan itu membuatnya lebih menarik.
Di meja kaca di depan sofa, ada laptop Miyuki yang masih menyala. Di layar menampilkan Autocat dan pekerjaan Miyuki. Sawamura tidak begitu paham mengenai dunia arsitektur, tapi dia menyimpulkan bahwa apapun yang dikerjakan Miyuki itu begitu penting dan hebat. Dia baru mendesain kerangka-kerangka di Autocat, tapi Sawamura bisa melihat hasil akhir dari rancangan tersebut.
"Maaf membuatmu menunggu," kata Miyuki. Dia baru keluar dari kamarnya. Rambutnya basah dan dia masih memakai handuk untuk mengeringkan rambutnya. Sawamura menahan napas tanpa sadar. Miyuki masih berpakaian santai khas rumahan, meskipun dia tampak lebih segar dari sebelumnya. Kegugupan kembali melilit seluruh perut Sawamura.
"Tidak masalah," katanya. Miyuki berjalan ke arahnya dan Sawamura mati-matian berdiri tegap di tempatnya. Apakah ini waktunya? Apakah Miyuki akan langsung menidurinya? Sawamura bersiap untuk apapun sampai… Miyuki menunduk dan menutup laptop-nya.
"Pekerjaan, biasa," kata Miyuki. Sawamura menghela napas. Miyuki belum menyentuhnya. Namun, dia juga sangat kaku dan suasana canggung ini lama-lama bisa membunuh Sawamura. "Kau mau minum sesuatu dulu?" tanya Miyuki. Sawamura menggeleng. Dia jadi sedikit kesal karena Miyuki banyak berbasa-basi. Dia bukan tamu di sini dan datang bukan untuk bertamu. Namun, dia tidak mengucapkannya.
Miyuki menaruh handuk yang digunakannya di lengan sofa dan berdiri sangat dekat dengan Sawamura. Sawamura bisa mencium wangi sabun, shampoo, pasta gigi, serta aftershave yang dipakai. Tampaknya Miyuki bercukur selama di dalam kamar mandi. Dia tersenyum miring.
"Hai," katanya lagi. Suaranya sedikit lebih berat dari sebelumnya.
"Hai."
Miyuki mengangkat tangan kanannya dan menyentuh sehelai rambut Sawamura yang menutupi wajahnya. "Kau tampak lebih santai dari biasanya," kata Miyuki. Dia menyelipkan rambut itu ke belakang telinga Sawamura.
Sawamura berharap dia tidak mengeluarkan suara aneh, karena ini sangat canggung dan dia sangat gugup. Perutnya melilit dan dia tidak terbiasa dengan perasaan itu. "Karena aku tidak bekerja. Atau kau lebih suka aku memakai kemeja?" tanyanya.
Miyuki tertawa. "Begini sudah cukup," katanya.
Lalu, Miyuki mendekatkan diri dan mencium Sawamura. Sawamura menutup matanya untuk menikmati ciuman, tapi mengerang ketika kacamata Miyuki menusuk matanya. "Aduh," katanya. Ciuman terlepas.
"Kenapa?" tanya Miyuki. Tampaknya dia tidak sadar bahwa kacamatanya menusuk mata Sawamura. Dengan pelan, Sawamura mengambil kacamata itu dari wajah Miyuki dan meletakkannya di meja kaca. Lalu, dia kembali mencium Miyuki.
Begini lebih baik, batinnya. Tidak ada yang menghalangi ciuman mereka. Mulut Sawamura terbuka untuk mengundang Miyuki dan disambut dengan baik. Lidah mereka bertemu dan ciuman itu semakin dalam dan panas. Tangan Miyuki terangkat untuk menyentuh Sawamura. Tangan kanannya menekan belakang kepala Sawamura dan satu lagi berada di pinggang Sawamura, menahan tubuhnya agar tidak menjauh.
Sawamura sendiri kebingungan untuk meletakkan tangannya, karena dia ingin menyentuh seluruh tubuh Miyuki secara bersamaan. Namun, akhirnya kedua tangannya dikalungkan di leher Miyuki dan Sawamura meremas rambut Miyuki yang masih basah. Ketika ciuman panjang itu terlepas, Sawamura bisa merasakan bahwa dia sudah setengah ereksi. Bibirnya basah dan wangi pasta gigi Miyuki masih bisa dihirupnya.
"Ayo kita ke kamar," kata Miyuki. Sawamura mengangguk. Mereka memasuki kamar Miyuki dan bergerak ke atas ranjang. Miyuki kembali mencium Sawamura yang tidur terlentang sambil menggesekan kedua paha mereka. Meskipun masih tertutup jeans dan celana training, Sawamura bisa merasakan bahwa Miyuki sama-sama ereksi seperti dirinya. Dengan insting, tangan Sawamura meraih penis yang ereksi itu dari luar dan meremasnya pelan.
Miyuki mengerang dalam ciuman mereka. Sawamura mengartikan erangan tersebut sebagai persetujuan. Dia juga ikut terangsang mendengar Miyuki, apalagi ketika dia menyentuh penis tersebut yang masih tertutup kain. Tubuh Sawamura bereaksi dengan instingnya. Dia memajukan pinggulnya sampai kedua penis itu kembali bergesekan.
Miyuki menciumi lehernya dan menjilat cetakan dari otot-otot di leher Sawamura. Sawamura melepaskan celana training yang dipakai Miyuki dengan sedikit teegesa-gesa. Miyuki membantunya dengan menendang-nendang kakinya untuk melepaskan celananya. Kini, Sawamura menggenggam langsung penis Miyuki yang sudah sepenuhnya ereksi. Dia bisa merasakan vena-vena di sekitarnya yang berdenyut-denyut. Tangan Sawamura meremas lembut penis tersebut.
"Dimana lubrikanmu?" tanya Sawamura.
"Tunggu sebentar," kata Miyuki. Dia merangkak menuju nakas di sebelah tempat tidurnya, meraih laci kedua dan mengambil lubrikan. Dia setengah melemparnya ke arah Sawamura yang ditangkap dengan gesit.
Sawamura melumuri tangan kanannya dengan lubrikan dan kembali menyentuh penis Miyuki. Dia mulai memijat secara lembut penis tersebut dan Miyuki mengerang. Lubrikan membuat pijatan itu semakin licin. Tangan Sawamura begitu lincah. Tubuhnya mengingat semua sentuhan itu dengan baik, meskipun memorinya tidak. Setiap dia menyentuh Miyuki, tubuhnya mengirimkan jutaan aliran listrik dan Sawamura menikmati sensasi itu. Dia menikmati erangan Miyuki setiap Sawamura menyentuhnya.
"Kau ini selalu terburu-buru ya," kata Miyuki di tengah-tengah erangannya. Dia menghentikan tangan Sawamura. "Nanti tidak seru kalau aku keluar."
Mendengarnya, Sawamura tertawa. Dia melepaskan tangannya dari penis Miyuki. "Wah wah, mohon maaf Tuan," katanya geli. Namun, Sawamura akhirnya memelankan temponya. Hubungan kasual mereka akan berhasil kalau kedua belah pihak merasakan nikmat yang sama dan Sawamura tidak mau juga Miyuki keluar duluan.
Sawamura membuka kaos polonya dan kembali menciumi Miyuki. Kini, dia mengikuti tempo Miyuki, lebih perlahan dan santai. Dia menikmati tiap ciuman yang basah dan penuh gairah. Dengan tempo yang lebih pelan, Sawamura bisa lebih merasakan setiap sensasi di antara mereka.
Miyuki melepaskan kaosnya dan membantu Sawamura melepaskan celana jeans-nya. Setelah kulit mereka tidak lagi terbalut pakaian, kehangatan yang menguar dari kulit ke kulit membuat Sawamura merinding. Tubuh Miyuki hangat, harum dan bersih. Dia ingin menghirup semua aroma itu sekaligus.
Sawamura berbaring terlentang sambil menatap langit-langit kamar Miyuki. Langit-langit yang berwarna putih susu dengan lampu yang remang-remang. Miyuki menciumi seluruh dadanya, menggigit putingnya, lalu menjilati perut Sawamura. Otot-otot perutnya berkonstraksi akibat sentuhan yang sensitif dan Sawamura tidak menghentikannya.
Napas Miyuki terasa panas ketika bernapas di dekat penis Sawamura. Penisnya sudah ereksi sepenuhnya dan Sawamura yakin bahwa Miyuki menikmati setiap kontraksi dari otot-otot perutnya. Lalu, tanpa peringatan, Sawamura bisa merasakan mulut Miyuki yang lembab dan hangat di sekitar kepala penisnya. Sawamura melesakkan kepalanya semakin dalam ke bantal yang digunakan. Dia memejamkan mata sambil menikmati seluruh sensasi yang diberikan oleh Miyuki.
Miyuki bermain dengan tempo yang lambat dan santai. Dia menjilati seluruh penis Sawamura, kedua tangannya memijat lembut skrotum Sawamura. Sawamura menahan seluruh dirinya untuk tidak menggerakkan pinggulnya agar penisnya bisa masuk lebih banyak ke dalam mulut Miyuki. Tidak, dia tidak melakukan itu. Dia sudah berjanji untuk bermain lebih pelan dan mengikuti tempo Miyuki. Jadi, dia memejamkan matanya untuk menikmati seluruh sensasi yang diberikan oleh Miyuki.
Meskipun tempo Miyuki lambat, tapi Sawamura tidak merasa bosan. Dia merasakan birahinya malah meningkat di setiap sentuhan. Akhirnya, Sawamura menggunakan kedua tangannya untuk meraih kepala Miyuki. Dia meremas lembut rambut Miyuki, meskipun tidak memaksakan apapun. Dia melihat kepala Miyuki yang bergerak maju mundur dan Sawamura semakin terangsang.
"Sudah sudah," ujarnya. "Aku mendapat pesanmu."
Miyuki menghentikan kegiatannya. Ketika dia mengangkat kepalanya, sebuah seringai jail menghiasi wajahnya. Sawamura mendengus sebal, tapi Miyuki segera meraih wajahnya dan mereka kembali berciuman. Di tengah ciuman, Sawamura melepaskannya. "Boleh tolong jangan berbasa-basi lagi?" tanyanya.
Miyuki mendengus geli. "Ya ya." Dia mengambil lubrikan yang tadi dipakai Sawamura, melumuri jari-jarinya dan melebarkan kedua kaki Sawamura. Sawamura merasakan jari Miyuki yang sudah dilumuri oleh lubrikan merangsang daerah sekitar lubangnya. Lubrikan yang dingin dan jemari Miyuki yang lincah, keduanya membuat kepala Sawamura terasa berputar-putar. Sawamura meremas seprai Miyuki untuk mengendalikan dirinya.
Lalu, perlahan Miyuki mulai memasukkan jarinya. Sawamura merasakan sensasi yang tidak asing, meskipun rasanya seperti baru pertama kali. Tubuhnya mengingat jelas setiap sentuhan Miyuki. Tubuhnya bereaksi sendiri di setiap kali Miyuki memaju-mundurkan jari-jarinya. Hingga Miyuki menekan sebuah organ yang membuat Sawamura memekik.
Ketika Miyuki mengeluarkan jari-jarinya, Sawamura merasakan sebuah kehampaan. Namun, dia tahu itu tidak akan berlangsung lama karena Miyuki mengambil sebuah kondom dan memakainya di penisnya sendiri. Lalu, dia memposisikan dirinya di antara kedua kaki Sawamura dan memasukkan kepala penisnya perlahan-lahan.
Sawamura menahan desahannya sebelum seluruh penis Miyuki masuk. Setelah Miyuki memasukkan semuanya, dia menatap Sawamura seolah meminta izin. Ketika Sawamura mengangguk kecil, barulah dia mulai bergerak. Gerakannya pelan dan tidak terburu-buru. Sawamura melihat ekspresi Miyuki. Dia tampak menikmati setiap sensasi dari Sawamura. Sawamura meraih leher Miyuki dan mencium bibirnya. Ciuman itu meyakinkan, bahwa Sawamura juga sama menikmatinya dengan Miyuki. Gerakan Miyuki semakin cepat dari biasanya. Satu tangan menahan leher Miyuki, satu tangan lagi, Sawamura menyentuh penisnya dan mulai memijatnya lembut. Penisnya licin, bekas Miyuki mengulumnya. Dia memijatnya sesuai dengan tempo gerakan Miyuki.
"Sawamura-san, aku…"
Sawamura mengangguk. "Aku juga."
Miyuki mempercepat temponya bersamaan dengan Sawamura yang memijat penisnya semakin cepat. Tak berselang lama, Miyuki mengeluarkan cairan spermanya di dalam Sawamura. Sawamura mengeluarkannya di atas perutnya sendiri.
Napas mereka memburu sambil merasakan sisa-sisa euphoria. Napas mereka menghangatkan wajah satu sama lain, sebelum Miyuki mengeluarkan penisnya yang masih berlapis kondom dari dalam Sawamura. Dia melepaskan kondomnya dan mengikatnya, lalu melemparkan kondom itu ke lantai kamar. Barulah dia berbaring di sebelah Sawamura yang masih mengatur napas.
Tubuh mereka telah lengket karena keringat, liur dan sperma. Sawamura jelas butuh mandi lagi sebelum keluar dari mansion Miyuki. Namun, dia masih mengatur napas sebelum beranjak ke kamar mandi. Biasanya, Sawamura akan langsung pergi begitu saja setelah selesai seks, namun dia mempertimbangkannya. Apakah dia harus langsung pergi? Mandi dan pergi? Begitu? Atau dia harus berbasa-basi terlebih dahulu?
Dia melirik Miyuki yang tampaknya masih menikmati keheningan di antara mereka. Miyuki memejamkan matanya sambil bernapas teratur. Akhirnya, Sawamura memutuskan untuk bangun. Gerakannya membuat Miyuki membuka mata dan duduk di ranjangnya.
"Mau kemana?" tanya Miyuki.
"Aku pinjam kamar mandi," kata Sawamura sambil menunjuk tubuhnya sendiri. Miyuki menunjuk pintu lain di kamar tersebut.
"Ada handuk bersih juga di dalam rak nomor 3. Kau bisa pakai," kata Miyuki.
Sawamura beranjak ke kamar mandi. Kamar mandinya luas. Sawamura menuju shower dan menyalakannya. Air dingin langsung membasuhi seluruh tubuh Sawamura. Dia berdiam cukup lama sampai akhirnya dia mulai keramas dan menyabuni seluruh tubuhnya. Salah satu keuntungan memakai kondom (selain mencegah penyakit menular seksual) adalah Sawamura tidak perlu repot-repot membersihkan cairan yang tersisa. Dia cukup mandi seperti biasa saja.
Sesuai kata-kata Miyuki, ada sebuah handuk bersih di rak nomor 3. Sawamura memakainya untuk mengeringkan tubuhnya dan ketika dia keluar dari kamar mandi, Miyuki sudah tidak ada di dalam kamarnya. Situasi di dalam kamar masih sama seperti terakhir kali, hanya saja Miyuki sudah memunguti pakaian Sawamura dan meletakkannya di atas tempat tidur. Sawamura segera memakai kembali pakaiannya dan menaruh handuk tersebut di rak baju kotor.
Ketika dia keluar, Miyuki sudah memakai lagi bajunya dan sedang berada di meja dapur. Kacamatanya telah terpasang dan laptop terbuka di depannya. Dia menatap Sawamura yang baru keluar kamarnya.
"Aku menaruh handuk tadi di rak baju kotor," kata Sawamura.
"Oke," kata Miyuki.
Sawamura tidak tahan lagi dengan kecanggungan seperti ini, akhirnya dia berkata, "Aku akan pulang." Miyuki menatapnya. Sawamura seperti bisa melihat sebersit rasa kecewa di mata Miyuki dan itu membuatnya tampak seperti orang jahat.
"Tidak mau makan malam di sini dulu? Aku bisa memasak sebentar," kata Miyuki.
Basa basi sebelum dan sesudah seks tidak termasuk di dalam perjanjian mereka. Apakah mereka melanggar peraturan dengan makan malam bersama?
Sawamura menggeleng. "Ini sudah larut. Kau juga tampaknya masih punya pekerjaan," tolaknya halus.
"Oke," kata Miyuki. Jika dia kecewa karena Sawamura menolak tawarannya, dia tidak menunjukkannya. Dia juga tidak menekan Sawamura. "Aku akan mengantar sampai ke depan."
"Tidak perlu," kata Sawamura. Namun, Miyuki sudah keburu bangun dan berjalan ke pintu depan sambil memakai jaket. Dia memberikan mantel Sawamura.
"Setidaknya yang ini jangan menolak," kata Miyuki sambil membuka pintu mansion-nya. Sawamura berjalan bersamanya ke arah lift. Selama itu, ada sebuah keheningan menyelimuti mereka. Apa yang harus dibahas? Seks tadi? Haruskah mereka membahas hal itu? Atau hal yang lebih ringan, seperti cuaca hari itu atau kegiatan sehari-hari? Sawamura hampir mati karena tidak tahu harus membahas hal apa dan keheningan ini seolah membunuhnya perlahan.
"Kau masih bekerja di malam sabtu," kata Sawamura ketika mereka berada di dalam lift.
"Begitulah. Kami masih budak-budak para klien," ujar Miyuki.
Sawamura terkekeh. "Kupikir kalian punya jam kerja seperti pegawai kantoran."
"Katakan itu pada para klien yang merongrong di jam 3 pagi. Mereka tidak akan membiarkan kami bersantai barang sejenak."
"Setidaknya kau akan dibayar sesuai jasa."
"Benar juga. Itu patut disyukuri."
Lift berdenting dan mereka telah sampai di lobi utama. Miyuki benar-benar mengantarkan Sawamura sampai ke depan pintu masuk. Mereka berhadapan satu sama lain. "Sampai jumpa," kata Sawamura.
"Ya, sampai jumpa."
.
MIYUKI KAZUYA
Kuramochi menghampirinya ketika Miyuki sedang menyeduh kopi di dapur firma. Dia butuh doping kafein setelah bergadang selama satu minggu berturut-turut. Mereka memang sudah menang proyek besar, tapi bukan berarti berhenti begitu saja. Tanggung jawab yang diberikan juga semakin besar dan Miyuki semakin sering bergadang. Kadang, dia harus merelakan waktu liburnya untuk meladeni klien-nya.
"Presentasimu bagus tadi," ujar Kuramochi. Dia menuang kopi untuk dirinya sendiri. Tanpa gula. "Sepertinya mereka terkesan."
Miyuki menyeruput kopinya. Rasa pahit mengusai seluruh lidahnya. "Tunggu sampai aku bertengkar dengan teknik sipik, baru bisa disebut berhasil," katanya.
"Jangan terlalu pesimis dulu. Rancanganmu bagus." Kuramochi menepuk pundak Miyuki. "Sudahlah. Mau ikut minum-minum malam ini? Anak-anak akan ke bar yang biasa."
Miyuki menimbang. Sebenarnya dia malas menghabiskan waktu sendirian di mansion-nya. Dia juga malas menyentuh pekerjaannya. Minum-minum dengan teman-temannya sepertinya tidak buruk juga.
Dua minggu berlalu setelah Miyuki menghubungi Sawamura untuk datang ke mansion-nya. Dua minggu yang lalu adalah kali terakhir Miyuki melakukan hubungan seks dengan orang lain. Setelah itu, dia terlalu sibuk mengurusi proyeknya sampai dia tidak bisa menghubungi Sawamura ataupun menghabiskan waktu sendirian. Namun, dia juga penasaran kenapa Sawamura belum ada menghubunginya setelah kegiatan mereka.
Setelah mereka selesai, Sawamura langsung pulang begitu saja. Dia meminjam kamar mandi Miyuki, lalu pulang. Tidak ada basa-basi, tidak menerima tawaran Miyuki untuk makan malam bersama juga. Sawamura benar-benar menganggap hubungan kasual di antara mereka sebatas pelampiasan seks saja. Dia benar-benar menuruti seluruh isi perjanjian mereka. Benar-benar orang yang kaku dan serius. Meskipun kaku dan serius, permainannya di atas ranjang selalu tampak terburu-buru dan juga lihai.
Sungguh dua sifat yang kontras. Miyuki jadi semakin penasaran.
"Oke. Kurasa aku memang butuh melepaskan penat," ujarnya.
"Bagus," kata Kuramochi sambil mengangguk puas. "Jam biasa di tempat biasa. Jangan lupa." Setelah itu, Kuramochi keluar dari dapur dengan satu cangkir kopi. Miyuki menyeruput kopinya sekali lagi sebelum dia menuju ruang kerjanya.
.
Suasana bar lumayan sepi. Wajar saja, karena ini bukanlah hari libur atau malam minggu. Orang-orang yang datang ke bar kebanyakan para karyawan kantor yang juga ingin melepaskan penat. Mereka masih memakai kemeja kerja, jas, serta tas kerja mereka. Biasanya, mereka datang sendiri, dan duduk sendiri di bar sambil menatap para bartender meracik minuman.
Dulu Miyuki merasa rutinitas seperti ini terlalu menyedihkan, duduk sendirian di bar sambil berusaha mabuk untuk melupakan pekerjaan, tapi sekarang dia juga melakukan hal yang sama. Rupanya dunia kerja adalah dunia gila dimana tidak ada ampun bagi orang yang tidak bisa mengimbangi ritme Tokyo. Kota yang terlalu besar, terlalu sibuk, dan terlalu menuntut masyarakat.
Masih lebih baik melampiaskannya dengan mabuk, daripada dengan bunuh diri.
Pikrian Miyuki bergidik.
Untungnya dia tidak masuk ke bar sendirian. Ada 4 orang yang ikut masuk ke bar, termasuk Miyuki. Mereka mengambil kursi-kursi yang lebih lega dan luas sebelum satu orang pergi menuju bartender untuk memesan minuman. Kali ini yang ditunjuk adalah Ono.
"Benar-benar gila," kata Zono sambil menghempaskan punggungnya ke punggung kursi. "Klien gila itu akhirnya datang lagi."
"Oh, yang kau ceritakan waktu itu?" tanya Kuramochi.
Zono mengangguk. "Iya. Katanya dia setuju pada rancanganku yang terakhir, tapi masih banyak maunya. Kenapa orang seperti itu harus datang ke firma kita?" dengusnya kesal.
Ono bergabung dengan mereka. Dia duduk di sebelah Zono. "Proyek itu hanya sebentar saja perayaannya. Sisanya neraka," keluh Ono.
"Lihat saja kantung mata Miyuki. Kita bisa menaruh uang 10 ribu yen di dalamnya," canda Kuramochi.
"Setidaknya aku tidak bingung menyimpan uang," kata Miyuki.
"Sudah dengar? Katanya Kataoka-san sedang negosiasi untuk proyek Mall baru," kata Ono.
"Di Tokyo? Lama-lama tanah ini akan tenggelam karena isinya beton semua."
Ono menggeleng. "Bukan, katanya di Kyoto. Tapi ini masih belum diumumkan. Soalnya yang mau mengambil proyek ini bukan hanya firma kita saja."
"Kyoto ya… Akan jadi tantangan besar bagi arsitek untuk merancang bangunan di Kyoto. Sepertinya akan sengit. Semuanya pasti ingin merancang desain-nya," komentar Miyuki.
Kuramochi menyenggol sikunya. "Hoo, kau tertarik juga, Miyuki? Menurutmu kau sanggup merancang bangunan spektakuler?"
"Bahasamu berlebihan," dengus Miyuki.
Kyoto adalah daerah yang kental dengan nuansa tradisi Jepangnya. Dulu, Kyoto pernah menjadi Ibu Kota Jepang, sehingga kebudayaan di Kyoto masih dijaga dan dirawat hingga saat ini. Bahkan, hiburan seperti Geisha, Oiran, serta Maiko masih menjamur dan menjadi salah satu atraksi pemikat untuk semua turis yang datang berkunjung ke Kyoto. Karena itu, bangunan-bangunan yang di bangun pasti akan mempertimbangkan seluruh nilai sejarahnya. Miyuki jelas menginginkan proyek menantang seperti itu. Tidak ada arsitek yang tidak menginginkan proyek besar itu.
"Padahal kuharap kita hanya minum-minum untuk melupakan pekerjaan, tapi ternyata kita masih saja membahas pekerjaan," ujar Zono. Bahunya lemas.
"Mau apa lagi? Tidak ada topik seru selain pekerjaan untuk dibahas. Kau mau membahas istrimu?" tanya Ono.
Kuramochi tergelak. "Paling-paling kau disuruh tidur di luar lagi karena pulang dalam keadaan mabuk."
"Sialan kau," gerutu Zono.
Minuman mereka datang. Masing-masing satu gelas bir tinggi. "Bersulang," kata Kuramochi. Gelas kaca keempatnya berdenting dan mereka langsung meneguk alkohol itu. Rasa pahit, segar, khas bir beralkohol membasahi seluruh kerongkongan Miyuki. Tubuhnya sedikit rileks setelah meminum alkohol.
"Aku tahu. Kita bahas saja kau," kata Zono sambil menunjuk Miyuki. Miyuki menaikkan alisnya bingung. "Kau mulai berkencan lagi ya?" tanyanya.
Semua mata memandang Miyuki, sementara Miyuki sendiri bingung harus berkata apa. Dia berkencan lagi? Dia saja sudah tidak pernah dekat dengan laki-laki lain setelah kejadian itu.
"Oh ya? Kapan?" tanya Kuramochi.
Miyuki menggeleng. "Tidak. Kalian pernah melihatku jalan dengan orang lain? Selain grup menyedihkan ini."
"Sialan kau," kata Kuramochi.
"Aku melihatmu makan siang dengan laki-laki beberapa minggu yang lalu." Zono menyebutkan nama restorannya dan Miyuki tersadar bahwa dia melihatnya bersama dengan Sawamura.
"Itu klien," jawab Miyuki.
"Kau tidak membawa laptop."
"Kau pernah mempertimbangkan menjadi detektif? Mungkin akan laku," ujar Miyuki. "Lagipula kami hanya membahas perjanjian saja. Bukan tentang proyeknya."
Zono mendengus. "Cih, tidak seru."
"Wah, maaf saja kalau tidak ada yang bisa dikorek dariku." Miyuki meneguk lagi bir-nya. Dia ingin meminum sesuatu yang lebih kuat dari bir, tapi besok masih hari kerja dan mengawali hari dengan sakit kepala akibat pengar bukanlah sesuatu yang baik. Jadi, dia menahan diri untuk memesan alkohol lainnya.
"Oh ya, katanya akan ada orang baru di firma kita," ujar Ono.
Miyuki menatap Ono. "Kau ini tahu semua gossip di firma ya. Aku curiga kau mata-mata Kataoka-san."
Ono mendengus. "Kau hanya harus bersosialisasi dengan orang lain, Miyuki-kun. Dan itu bukan hal sulit."
Kuramochi menepuk-nepuk pundak Miyuki. "Dia tidak bisa. Dia terlalu sombong dan narsistik untuk bersosialisasi."
Miyuki memutar bola matanya. "Aku tidak begitu. Aku berteman dengan semua orang."
"Tapi kata-katamu tajam, semuanya jadi tidak mau berteman denganmu," ujar Kuramochi sambil tertawa. Ono dan Zono mengangguk setuju.
"Aku hanya memberi saran pada mereka," kata Miyuki membela diri.
"Kau mengatai mereka bodoh, tidak punya pendirian, dan tidak kreatif. Intinya, kau menyuruh mereka bunuh diri," kata Kuramochi.
"Aku tidak ingat pernah mengatakan hal seperti itu dan berhenti membesar-besarkan masalah."
Ono mengernyit. "Kota ini sudah merampas semangat hidupku. Jangan kau tambahkan lagi Miyuki."
Miyuki menghela napas. "Sialan kalian semua."
Setelah puas di bar dan mengeluarkan semua uneg-uneg mereka, akhirnya mereka memutuskan pulang ke rumah masing-masing (terutama Zono yang takut akan dikunci di luar rumah). Miyuki berjalan bersama Kuramochi menuju kediaman masing-masing, karena mereka satu arah. Miyuki menikmati udara dingin di pertengahan musim gugur dan menghembuskan napasnya yang hangat ke udara luar, menghasilkan embun.
"Orang yang kau ajak makan siang bersama itu, orang yang sama di klub malam waktu itu kan?"
Pertanyaan mendadak dari Kuramochi menghentikan langkah Miyuki. Dia menatap Kuramochi seperti menatap hantu. Kuramochi mendengus mendapati reaksi Miyuki yang blak-blakan seperti itu. "Ekspresimu terlalu terlihat jelas," katanya.
Miyuki mengerjap. "Kau melihatnya?" tanya Miyuki.
"Aku memang tidak sehebat dirimu, tapi aku jago mengamati hal-hal kecil seperti itu." Miyuki kembali berjalan di sebelah Kuramochi. "Waktu itu kau bilang mau membeli minuman di bar, tapi kau tidak kembali, dan aku mengecekmu. Rupanya kau sedang naik ke lantai atas bersama dengan pria lain. Kau bukan tipe yang akan tidur dengan sembarang orang, jadi kemungkinan kau mengajaknya makan siang bersama lagi."
"Aku terkesan," kata Miyuki. "Aku dikelilingi oleh orang-orang dengan tingkat pengamatan yang tinggi. Mengerikan." Dia memasukkan kedua tangannya ke saku mantelnya. "Itu memang orang yang sama," kata Miyuki mengakui. Dia merasa tidak ada gunanya berbohong pada Kuramochi. Lagipula, Kuramochi tidak akan melakukan hal aneh-aneh ataupun menceramahinya. Hanya saja, dia masih tidak mengatakan perjanjian mengenai hubungan kasualnya dengan Sawamura.
"Aku tidur dengannya malam itu," kata Miyuki. "Ternyata kami berdua terlalu mabuk sehingga akhirnya berakhir di ranjang."
"Aku tidak pernah melihatmu tidur dengan orang asing selama kau mabuk berat sekalipun," ujar Kuramochi.
Miyuki mengangkat bahunya. "Entahlah. Kurasa itu terjadi begitu saja. Aku tidak berpikir."
"Dan kau mengajaknya makan siang."
"Aku mengembalikan barangnya yang tertinggal. Itu saja." Miyuki menghela napas. "Intinya, aku tidak sedang berkencan dengannya. Aku tidak sedang berkencan dengan siapapun. Itu inti pertanyaanmu kan?"
Kuramochi memalingkan wajah dan menatap jalanan yang sudah gelap. Namun, lalu lintas masih sangat ramai. "Begitulah."
Mereka sampai di depan apartment Kuramochi. "Besok jangan datang terlambat atau gajimu akan dipotong~" kata Miyuki sambil melambai.
Kuramochi berdecak. "Kau bukan HR! berhenti mengurusi gaji orang, dasar menyebalkan!" seru Kuramochi sebelum dia masuk ke gedung apartment-nya. Miyuki lanjut berjalan sambil tertawa.
Setelah dia berjalan cukup jauh, tawanya menghilang dan dia berjalan dalam keheningan. Efek alkohol masih ada dan pikirannya mengembara kemana-mana. Dia memikirkan pekerjaannya, pertemuan dengan klien, sampai revisi-revisi lainnya. Lalu, setelah dia muak memikirkan pekerjaan, dia memikirkan sosok Sawamura Eijun. Rambutnya yang tebal, matanya yang bersinar terang dan penuh keseriusan ketika sedang bicara, tapi memancarkan nafsu di atas ranjang dan tubuhnya yang sempurna. Dua minggu telah berlalu, tapi dia masih mengingat dengan jelas setiap sentuhan dari Sawamura. Memikirkannya saja membuat seluruh tulang belakang Miyuki serasa dialiri listrik.
Dia segera mengenyahkan pikiran itu. Akan sangat aneh dan mesum jika dia sampai terangsang di jalanan. Orang bisa memanggil polisi dan Miyuki tidak mau hal itu terjadi. Harga dirinya bisa hancur jika dia ditangkap polisi hanya karena ereksi di tengah keramaian. Dia bukan orang mesum. Jadi, dia berjalan lebih cepat hingga samapi ke mansion-nya sambil memikirkan hal-hal konyol.
Sesampainya di mansion, entah kenapa Miyuki jadi merasa resah. Pertama, dia menyalahkan bahwa perasaan ini adalah efek alkohol sepenuhnya. Dua minggu sudah berlalu, tapi Sawamura tidak menghubunginya sama sekali. Sejak dia pulang dari mansion Miyuki, Miyuki berusaha mengecek pesannya, tapi tidak ada satu pun pesan dari Sawamura.
Berbagai pikiran negatif menghantui Miyuki. Apa Sawamura kecewa setelah dia sadar? Miyuki sadar bahwa tempo permainan Sawamura lebih cepat dari Miyuki dan kemarin dia berusaha untuk menahan dirinya dan menyesuaikan temponya dengan Miyuki. Bukannya Miyuki tidak menyukai ketergesaan, tapi dalam tempo yang lebih santai, dia bisa lebih banyak merangsang pasangannya. Setidaknya itu yang dia lakukan selama ini.
Tapi Sawamura bukanlah pasangannya dulu, batin Miyuki.
Miyuki mengerang. Dia ingin menghubungi Sawamura lagi, ingin menyentuh lelaki itu dan ingin disentuh oleh Sawamura. Dia ingin merasakan Sawamura dengan mulutnya lagi dan itu membuatnya setengah gila. Namun, jika Miyuki terus menghubunginya, dia takut bahwa Sawamura akan keberatan. Meskipun di dalam perjanjian tidak dijelaskan berapa kali seseorang berhak menghubungi pihak lainnya, Miyuki takut bahwa Sawamura akan menganggapnya maniak seks.
Miyuki hampir memutuskan untuk manstrubasi malam itu sebelum tidur, sebelum sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dia sudah malas untuk menanggapi pesan apapun, sebelum tahu bahwa Sawamura menghubunginya. Dia hampir melocat di tempat tidur.
Sawamura mengetikkan alamatnya dan jam berapa mereka akan bertemu. Sawamura meminta bertemu di pukul 5 sore, besok. Miyuki langsung membalas pesan tersebut. Dia sebenarnya ingin bertanya mengapa Sawamura baru menghubunginya, tapi takut bahwa pria itu akan merasa risih. Akhirnya, Miyuki menahan diri. Setidaknya, malam ini dia tidak jadi manstrubasi dengan menyedihkan.
.
Sawamura tinggal di sebuah apartment kelas menengah. Dilihat dari kondisi gedungnya, masih bagus dan terawat. Apartment itu tidak seperti mansion Miyuki yang tidak bisa dimasuki sembarang orang tanpa memiliki janji via intercom, hanya saja terpasang kamera CCTV di setiap sudut di dalamnya dan ada seorang satpam yang menjaga di depan gedung apartment. Sawamura menginstruksikan untuk langsung naik ke lantai 5 di pintu nomor 519. Jadi, Miyuki menurutinya.
Miyuki menarik napas dan menghembuskannya perlahan sebelum mengetuk pintu Sawamura. Dia bersemangat sekaligus gugup untuk menghadapi Sawamura. Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu Sawamura dan tak berselang lama, Sawamura membuka pintunya.
"Ayo masuk," katanya.
Miyuki menahan dirinya untuk tidak langsung menciumi seluruh bibir Sawamura ketika dia melihatnya lagi untuk pertama kali setelah dua minggu berlalu. Sawamura tampaknya baru selesai mandi, rambutnya masih basah, bajunya tipis dan dia memakai celana pendek di rumahnya. Kaki jenjangnya terlihat dengan jelas dan Miyuki ingin menjilatinya semua. Dia mengenyahkan pikiran kotor seperti itu. Belum saatnya.
"Maaf tempatku sempit," katanya.
Ukuran apartment Sawamura memang lebih sempit dari Miyuki. Begitu masuk, di belakang pintu adalah dapur dan mesin cuci. Lalu, ada meja makan kecil yang berisi dua kursi. Ada sofa juga di sudur ruangan dengan televisi. Sampingnya, ada balkon. Di sudut ruangan ada sebuah meja belajar yang di atasnya tampak bertumpuk-tumpuk kertas dan buku yang terbuka.
"Apa kau sibuk dua minggu ini?" tanya Miyuki.
Sawamura menghela napas. Dia membereskan kertas-kertas di atas meja belajar tersebut. "Begitulah. UTS baru saja selesai dan aku sibuk dengan soal-soal dan nilai mahasiswa."
Miyuki mengangguk. Setidaknya sekarang dia sudah mendapat jawaban mengapa Sawamura tidak menghubunginya selama dua minggu. Miyuki tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi, jadi dia menghampiri Sawamura yang masih menutup buku-buku dan berusaha merapikan kertas-kertas jawaban mahasiswa.
"Miyu–"
Kalimatnya terputus karena Miyuki segera menciumnya. Dia tidak peduli lagi apa yang ingin Sawamura katakan. Dia merindukan rasanya mencium Sawamura. Dia rindu lidahnya bertemu dengan lidah Sawamura, rindu erangan tertahan Sawamura, semuanya.
Sawamura merespon dengan cara mengalungkan kedua tangannya ke leher Miyuki dan memperdalam ciuman mereka. Miyuki merengkuh pinggang Sawamura dan menempelkan paha mereka berdua. Dia bisa merasakan Sawamura yang perlahan-lahan ereksi di balik celananya. Miyuki memajumundurkan pinggulnya untuk menciptakan gesekan di antara mereka berdua.
Mereka masih punya kekuatan untuk berjalan ke dalam kamar Sawamura sebelum Sawamura mendorong Miyuki ke tempat tidurnya. Dia membuka bajunya sendiri dan Miyuki ikut membuka bajunya. Sawamura merebahkan Miyuki dan kini posisinya di atasnya. Melihat dari kilatan mata Sawamura, Miyuki yakin dia bukan satu-satunya yang merindukan persetubuhan mereka. Sawamura juga sudah menginginkan ini. Dan sekarang, dia tidak menahan diri lagi. Sekarang, bagaimana pun tempo Sawamura, Miyuki akan mengikutinya.
"Aku sudah dua minggu tidak… jadi kupikir aku mungkin tidak akan bertahan lama," kata Miyuki memberitahu sebelum Sawamura kecewa.
Sawamura tersenyum. "Aku juga. Tidak masalah. Kita punya banyak waktu," katanya. "Lagipula aku tidak akan membiarkanmu keluar secepat itu." Dia mengedipkan matanya.
Mendengar jawaban Sawamura, rasa percaya diri Miyuki kembali. Jadi, dia mulai rileks di atas ranjang Sawamura sementara Sawamura membuka celananya. Dia sudah familiar dengan bibir Sawamura yang mengulum penisnya atau pun tangan yang memijat penisnya pelan dan berirama. Ketika mulut Sawamura menyentuh kepala penis dan menjilatnya, Miyuki mengerang. Sensasinya benar-benar memabukkan. Lidahnya berputar untuk menjilat seluruh bagian kepala penis Miyuki. Miyuki merasa bisa mengeluarkan cairannya detik itu juga, tapi jelas dia tidak melakukannya. Dia menyerap baik-baik seluruh sentuhan Sawamura dan melirik kegiatan lelaki itu di bawah.
Sawamura sibuk dengan mulut dan kedua tangannya. Mulutnya sibuk mengulum penis Miyuki dan kedua tangannya sibuk meremas lembut kedua skrotum Miyuki. Sepertinya Sawamura juga menyadari bahwa Miyuki tidak bisa bertahan lama, sehingga dia memelankan temponya tanpa diminta oleh Miyuki. Sedikit banyak, Miyuki bersyukur atas pengertian Sawamura.
Setelah puas dengan kedua skrotum Miyuki, Sawamura menyentuh penisnya sendiri. Dia mengulum penis Miyuki sambil memijat penisnya lembut. Miyuki tidak tahu apa yang direncakanan oleh Sawamura, karena itu dia berusaha menikmati semuanya. Miyuki bisa merasakan penisnya berdenyut dan dia berusaha memperingatkan Sawamura, hanya saja saat itu dia tampak kehilangan kemampuannya untuk bicara. Kedua tangannya meremas seprai Sawamura.
Namun, Sawamura menghentikan kegiatannya sesaat sebelum Miyuki menyemburkan seluruh cairannya. Hampir dia berterima kasih kepada Sawamura. Sawamura meraih lubrikan, menuangkannya di seluruh telapak tangannya dan dia mencium Miyuki lagi. Posisinya masih di atas Miyuki. Dia merendahkan tubuhnya sampai kedua penis mereka bersentuhan. Dengan lubrikan di tangan, Sawamura mulai memijat kedua penis itu bersamaan dan menggerakan pinggulnya.
Gesekan-gesekan dari kedua penis itu membuat Miyuki seperti terbang menuju langit ketujuh. Dia bisa merasakan vena-vena dari kedua penis itu bergesekan, menyalurkan impuls-impuls di sepanjang jalur neuron. Ditambah dengan licinnya lubrikan dan hangatnya tangan Sawamura, ini terlalu sempurna. Terlalu membuainya.
"Kau memang penuh dengan kejutan," ujarnya serak. Dia berhasil menemukan suaranya ditengah gelombang kenikmatan yang diberikan Sawamura.
Sebagai balasan, Sawamura mulai menciumi leher Miyuki, menggigitnya dan menjilatnya. Pinggul Miyuki ikut bergerak naik-turun untuk menambah gesekan di antara mereka. Dia bahkan menahan pinggul Sawamura dengan tangannya agar mereka bisa terus berkontak fisik.
Tak berselang lama, Miyuki mengeluarkan cairannya bersamaan dengan Sawamura. Perut Miyuki lengket karena cairan dari keduanya. Namun, Sawamura segera menunduk dan menjilati seluruh perut Miyuki sampai tidak ada yang tersisa. Miyuki terpana melihatnya, karena dia baru bertemu dengan orang seperti Sawamura. Tidak pernah ada sebelumnya dan mungkin tidak akan ada setelahnya.
Barulah setelah itu Sawamura berbaring di sebelah Miyuki. Miyuki masih berusaha mencerna kegiatan mereka tadi. Setiap bertemu Sawamura, dia selalu terkejut. Sawamura selalu memberinya kejutan. Sawamura selalu punya sejuta cara untuk membuatnya tetap tertarik dan penasaran.
Miyuki menatap Sawamura yang masih mengatur napasnya. "Tadi itu… unik," katanya mencari kata-kata yang tepat. Sawamura hanya tertawa kecil ketika mendengarnya.
"Apa itu caramu berterima kasih?" tanyanya.
"Mungkin."
"Sama-sama. Aku juga membutuhkannya."
Miyuki sudah bersiap-siap jika Sawamura akan mengusirnya begitu saja dari kediamannya. Namun, Sawamura memiringkan tubuhnya hingga dia bertatapan dengan Miyuki. "Kau masih sanggup untuk beberapa ronde?" tanyanya.
Dan mungkin yang dibutuhkan Sawamura untuk bersemangat di atas ranjang hanyalah UTS dan mengoreksi nilai-nilai mahasiswa.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam ketika Miyuki dan Sawamura sudah benar-benar kehabisan tenaga. Rasanya Miyuki bisa tertidur begitu saja tanpa harus mandi. Sawamura sendiri tidak mengatakan apapun dan hanya mengatur napas.
Keheningan di antara mereka kadang membuai, tapi jika mereka terus diam, Miyuki bisa benar-benar tertidur. Matanya sudah berat, tapi dia terus mengulang-ulang di dalam hatinya bahwa dia harus segera mandi dan kembali ke mansion-nya.
"Istirahatlah dulu," kata Sawamura. Dia bangun dengan susah payah. "Aku akan delivery makanan." Lalu, dia mencari celananya dan memakainya. Sawamura tidak repot-repot memakai kaosnya. Dia meninggalkan Miyuki sendirian di kamar Sawamura.
Miyuki mendengus. "Padahal kemarin kau tidak mau makan malam bersamaku," gumamnya. Namun, dia tidak menolak juga karena dia memang kelaparan. Setelah menghitung angka 1-20, akhirnya Miyuki bangun dari tempat tidur Sawamura dan memakai kembali pakaiannya. Dia berjalan keluar dari kamar dan mendapati Sawamura sibuk mengeluarkan dua botol bir dari kulkas. Dia menyerahkan satu botol bir pada Miyuki. Miyuki meneguknya. Mereka duduk bersama di sofa Sawamura.
"Harus kuakui," kata Sawamura, "kali ini benar-benar melelahkan."
Miyuki mendengus. "Wajar saja."
"Tapi itu bisa menebus dua minggu kan?" retotiknya.
Miyuki tertawa. Rupanya bukan hanya dia yang kepikiran selama dua minggu ini. Rupanya Sawamura pun sama sepertinya. Miyuki menjadi lebih rileks di dekat Sawamura. Sawamura juga tidak menunjukkan tanda-tanda kecanggungan seperti di awal hubungan mereka.
"Jadi, UTS ya," kata Miyuki. Dia melirik tumpukan pekerjaan Sawamura yang belum selesai.
Sawamura mendengus. "Mengerikan. Untunglah kau bukan dosen. Kau akan terkejut dengan jawaban-jawaban Ajaib para mahasiswa."
"Aku pernah jadi mahasiswa. Percayalah, aku tahu."
Tak berselang lama, pintu depan diketuk. Sawamura bangkit. "Sepertinya itu makanan kita," katanya. Dia berjalan ke arah pintu dan menerima makanan tersebut. Lalu, dia membawa keresek putih berisi makanan siap saji mereka.
Sawamura membeli makanan korea. Jajangmyeon dan Tteokbboki. Aroma saosnya menguar di udara dan Sawamura menyajikannya di sofa. Sawamura sempat memakai kaosnya sebelum dia makan. "Selamat makan," ujar mereka bersamaan.
Rasa bumbu korea dari Tteokbboki memenuhi mulut Miyuki. Sawamura mengaduk-aduk campuran bumbu hitam Jajangmyeon dengan mienya. Uap panas menguar. Setelah mereka makan beberapa suap, Sawamura berbicara. "Kenapa kau mau menjadi arsitek?" tanyanya.
Miyuki berhenti mengunyah. Dia memikirkan baik-baik alasannya. "Karena itu pekerjaan yang keren. Menjadi arsitek berarti merancang sebuah bangunan dari nol. Bangunan yang tidak bisa sembarang dirancang. Kau harus memikirkan lingkungan, sudut matahari, kelembapan dari sebuah bangunan. Banyak orang mengira arsitek perancang gedung yang hanya memikirkan desain, tapi sebenarnya tidak seperti itu. Desain kami hanyalah bonus."
"Wow. Itu adalah alasan yang detail."
"Terima kasih," ujar Miyuki. "Kenapa kau menjadi dosen?" tanya Miyuki.
Sawamura mengangkat bahu. "Karena aku tidak bekerja di NASA," ujarnya setengah bercanda. Namun, rasanya Miyuki tidak merasa itu sebuah candaan.
"Kau ingin bekerja di NASA?"
"Itu Impian setiap ahli matematika. Para ilmuwan memang dibutuhkan untuk mengutak-atik roket, tapi siapa yang menghitung lintasan roket? Siapa yang memutuskan titik jatuh? Itu semua membutuhkan ahli matematika. Tapi menjadi dosen tidak buruk juga. Gajinya tetap dan waktu liburku juga banyak."
"Kupikir itu Impian yang luar biasa kalau kau ingin kerja di NASA."
"Impian hanyalah Impian. Ada dunia nyata yang harus kita jalani, bukan?"
Miyuki mengangguk. "Apa sedari dulu kau menyukai matematika?" tanyanya.
Sawamura mengangguk. "Matematika adalah ilmu pasti di dunia ini. Setiap persamaan memiliki penyelesaian. Apa kau tahu apa artinya?"
Miyuki menggeleng. Sawamura menatapnya. "Artinya, selalu ada jalan keluar. Mau sesulit apapun persamaan, selalu ada jalan kelaurnya. Selalu ada jawaban pasti yang menanti. Itu berbeda dengan dunia nyata."
Benar. Di dunia nyata, tidak semua masalah punya jalan keluar. Tidak semua pertanyaan ada jawaban pastinya. Miyuki bisa memahami hal itu. Dia juga hidup di dunia nyata dan dunia nyata memang sampah. Terlalu banyak tuntutan, terlalu banyak pertanyaan yang tidak punya jawaban.
Tapi… "Pertanyaan tanpa jawaban, itu juga sebuah jawaban."
Sawamura mendengus. "Mungkin kau benar. Itu masih termasuk jawaban. Kadang kita tidak menyadarinya."
Mereka memakan makanan mereka di dalam diam sampai habis. Setelah makanan mereka habis, bir mereka juga habis, Miyuki semakin malas kembali ke mansion-nya. Sudah terlalu malam, namun dia tidak enak jika harus menginap. Besok masih hari kerja. Sawamura juga masih harus bekerja.
"Terima kasih untuk makanannya," kata Miyuki, "dan birnya." Dia bangkit dari sofa. Sawamura ikut bangkit. "Kurasa aku akan pulang sekarang."
Sawamura seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia mengurungkan niatnya. "Aku akan mengantarmu sampai depan."
Mau tidak mau Miyuki tersenyum. "Oke."
.
SAWAMURA EIJUN
Pesan dari Miyuki bukanlah pesan untuk mengajaknya tidur bersama, melainkan sebuah percakapan random. Sawamura mau tidak mau tersenyum mendapati pesan seperti itu. Dia tidak tahu sejak kapan dia menunggu pesan dari Miyuki.
Orang Aneh: Kalau kau bekerja di NASA, mungkin kau bisa bertemu Elon Musk.
Sawamura: Elon Musk itu di SpaceX.
Orang Aneh: Tunggu, jadi itu berbeda? Membingungkan.
Sawamura: Tentu saja berbeda.
Orang Aneh: Tapi Elon Musk juga membuat roket (?)
Sawamura: NASA lebih dari sekedar roket. Tapi aku paham point-mu.
Orang Aneh: Ah kau benar. Aku baru melihat di Google. Mungkin berniat untuk kerja di SpaceX? Atau kau bisa mengajariku tentang rasi bintang.
Sawamura: Di Tokyo? Jangan bercanda.
Pertemuannya yang terakhir dengan Miyuki tidak buruk juga, malah Sawamura merasa bahwa ada kemajuan dalam hubungan mereka. Sawamura tahu, bahwa dia melakukan kesalahan dengan langsung pulang begitu saja di mansion Miyuki, jadi Sawamura menebusnya dengan mengajak Miyuki makan malam bersama dan minum bir. Sebenarnya, di malam itu Sawamura ingin menawarkan Miyuki agar menginap, tapi seluruh kalimat itu tertahan di ujung lidahnya.
Apakah Sawamura sudah bertindak terlalu jauh jika membiarkan Miyuki menginap? Tidak disebutkan dalam perjanjian mereka mengenai menginap di kediaman masing-masing pihak, jadi sebenarnya itu batasan yang abu-abu. Bisa diartikan sebagaimanapun mereka ingin mengartikannya. Namun, Sawamura merasa itu melewati batas, jadi di malam itu dia menahan lidahnya untuk mengucapkan kata-kata itu.
Kini Sawamura hanya berbaring di sofa dan membiarkan Netflix-nya menyala tanpa ditontonnya. Dia sibuk mengetik pesan untuk Miyuki dan kadang tertawa dengan balasan Miyuki. Miyuki hanya mengatakan hal-hal ringan untuk dibahas tapi Sawamura tetap membalasnya. Kadang, Miyuki juga mengirimkan beberapa stiker lucu.
Sawamura tidak keberatan bertukar pesan seperti itu dengan Miyuki. Rasanya seperti mendapat teman baru, dan sejujurnya Sawamura jarang bisa mendapat teman baru. Sensasi memiliki teman baru berbeda dengan Haruichi. Memiliki teman baru seperti mengeksplore tempat baru, mengetahui kesukaan dan ketikdaksukaannya, mengetahui sifatnya, mengetahui kebiasaannya, dan sebagainya. Meskipun mereka sepakat untuk menghubungi dikala butuh saja, tapi kehidupan sosial manusia memang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Ini tidak melanggar peraturan, batin Sawamura.
Mereka hanya bertukar pesan, mengatakan hal-hal random, atau sekedar menanyakan kabar. Lagipula, tidak ada salahnya mengenal Miyuki. Tidak ada salahnya memiliki teman bicara selain Haruichi. Haruichi memang teman lamanya dan mereka sudah menghadapi suka duka bersama, tapi Miyuki berbeda. Kegiatannya berbeda dengan Sawamura, jadwalnya berbeda, dan kesukaannya pun berbeda. Hanya saja, mengenal seseorang yang berbeda dari kita bukanlah kejahatan.
Sawamura menatap nama kontak Miyuki. Orang Aneh. Kini, dia tidak merasa Miyuki aneh lagi. Setelah tidur dengannya sebanyak dua kali dan bertukar pesan beberapa kali, dia memutuskan untuk mengganti nama kontak tersebut.
Terkadang, Miyuki mengiriminya pesan jail yang berbau sensual. Dan Sawamura hampir membanting ponselnya ketika mengajar di kelas karena membaca pesan tersebut.
Miyuki K: Menurutmu kalau kita menambah ronde lagi untuk malam ini, apa kau sanggup?
Sawamura: Aku sedang bersama mahasiswa.
Miyuki K: Kau tidak harus membalasnya saat ini juga. Apa kau ereksi?
Sawamura: Kau benar-benar mesum.
Sawamura mematikan ponselnya, tapi dia memikirkan kata-kata Miyuki dan dia setengah ereksi ketika mengajar. Untunglah saat itu mahasiswanya sedang sibuk mengerjakan kuis yang diberikan oleh Sawamura, sehingga Sawamura bisa menenangkan dirinya sampai dia tidak lagi ereksi. Dia berjanji akan membalas Miyuki begitu dia bertemu dengannya nanti.
.
"Jadi, apa kau ereksi selama mengajar?" tanya Miyuki ketika Sawamura baru sampai di mansion-nya.
"Kau memang menyebalkan," kata Sawamura sambil mencium bibir Miyuki. Miyuki menyeringai di dalam ciuman mereka.
"Jadi aku benar! Kau ereksi selama mengajar!" Dia terbahak. "Wah, Sawamura-sensei mesum."
"Diam," kata Sawamura dan dia meremas penis Miyuki dari luar celananya.
Miyuki masih terkekeh geli. "Apa ini pembalasan dendammu, sensei~"
"Entahlah," kata Sawamura dan dia mendorong Miyuki sampai Miyuki terduduk di sofanya.
"Tidak mau repot-repot ke dalam kamar, eh?"
"Kau banyak omong hari ini," kata Sawamura sambil membuka kancing kemejanya. Miyuki membuka pakaiannya. Lalu, Sawamura menurunkan celana Miyuki dan langsung menjilat penis yang masih belum begitu ereksi.
Miyuki mengerang dan Sawamura menyeringai. Rupanya Miyuki jadi tidak banyak bicara ketika mulut Sawamura bekerja. Penis yang belum ereksi itu dijilat dan dirangsang oleh Sawamura, sampai perlahan-lahan Miyuki mulai ereksi.
"Sial Sawamura…"
Miyuki memanggil namanya tanpa ada suffix di belakangnya. Untuk pertama kalinya. Sawamura merasakan dirinya bersemangat karena itu. Dia langsung mengulum penis yang masih setengah ereksi.
"Kau tidak sabaran ya," dengus Miyuki, tapi dia mengerang nikmat. Jadi, Sawamura membiarkannya terus mengoceh. Dia bisa merasakan penis Miyuki yang perlahan-lahan semakin ereksi di dalam mulutnya. Sensasinya begitu memabukkan sehingga Sawamura semakin semangat mengulumnya. Miyuki mengerang semakin keras dan sesekali meremas rambutnya. Sentuhan penuh putus asa itu membangkitkan gairah Sawamura. Dia memainkan kedua skrotum Miyuki dengan kedua tangannya. Dia menjilat seluruh penis Miyuki sampai ujungnya, merasakan rambut-rambut halus di sekitar penis itu di wajahnya, lalu kembali mengulumnya. Sawamura mencoba memasukkannya ke dalam seluruh mulutnya dan dia tahu Miyuki akan keluar sebentar lagi.
"Sudah… aku mau keluar…" kata Miyuki terpatah-patah. Namun, Sawamura tidak berhenti. Dia terus mengulum penis Miyuki, menjilati vena-venanya sampai Miyuki memekik tertahan ketika seluruh cairan itu keluar di dalam mulut Sawamura. Dengan tenang, Sawamura menelan semuanya. Barulah dia melepaskan penis Miyuki dari mulutnya dan mengelap ujung-ujung bibirnya.
Miyuki menatapnya dengan tatapan tak percaya dan juga berkabut dengan nafsu.
"Keterlaluan," kata Miyuki.
"Bukan salahmu. Aku memang hebat," ujar Sawamura. Dia membuka sisa pakaiannya dan penisnya yang sudah ereksi dengan sempurna berdenyut meminta perhatian. Namun, ketika Miyuki akan meraihnya, Sawamura menepis tangannya.
"Kau tidak akan melakukan apapun," katanya. Ketika Miyuki memasang wajah bingung, Sawamura berbisik di telinganya. "Kau hanya akan menontonku."
Dia berjalan ke kamar Miyuki lebih dulu. Miyuki mengikutinya dengan lemas bercampur kesal. "Kau memang keterlaluan."
.
MIYUKI KAZUYA
Sawamura sudah menyamankan dirinya di atas ranjang Miyuki. Dia sudah mengambil lubrikan dan menaruhnya di seluruh telapak tangan kirinya. Dengan perlahan, dia mulai memijat penisnya sendiri. Miyuki menonton dari ujung ranjang, berharap dialah yang memijat penis Sawamura dan mengulumnya. Namun di waktu yang bersamaan, dia ingin sekali melihat Sawamura menyentuh dirinya sendiri karena ekspresi yang ditunjukan Sawamura benar-benar seksi.
Dia mengerang karena sentuhannya sendiri dan Miyuki kehabisan kata-kata untuk berkomentar. Dia tidak bisa melepaskan pandangan itu dari kepalanya. Kalau bisa, dia malah ingin merekamnya untuk mengabadikan momen ini. Sawamura membuka matanya dan tatapan mereka bertemu dalam satu garis lurus. Iris coklat itu telah berkabut karena birahi dan kenikmatan. Miyuki tidak bisa menyangkalnya, bahwa dia ingin sekali menyentuh Sawamura detik ini juga.
Lalu Sawamura terkekeh pelan dan ketika menatap arah pandang Sawamura, Miyuki sadar bahwa dia telah setengah ereksi lagi, untuk kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Dia ikut terkekeh. Akhirnya, dia memutuskan untuk ikut aktif dalam permainan yang Sawamura ciptakan. Dia ingin Miyuki menonton? Oke, Miyuki hanya akan menonton. Namun, jangan harap kalau Miyuki akan diam saja melihat Sawamura merenggut semua kesenangan sendirian. Dia berjalan mendekat sampai dia duduk di pinggir ranjang sebelah Sawamura. Sawamura tidak melepaskan pandangannya dari Miyuki.
"Aku bilang kau hanya akan menonton," ujarnya pelan.
"Aku tahu. Tapi menonton dengan lebih dekat tidak masalah kan?" Sawamura tidak membalas. Miyuki melihat tangan sawamura yang dua-duanya sibuk bekerja. "Apa mahasiswamu sadar kau ereksi selama kuliah?" tanya Miyuki.
Sawamura tertawa pelan, meskipun Miyuki yakin bahwa kata-kata itu merangsang Sawamura. "Kami sedang kuis, jadi tidak…" jawabnya setengah mendesah.
"Kau benar-benar mesum sensei," bisik Miyuki. Dia melihat penis Sawamura yang berdenyut ketika Miyuki membisikan kalimat itu. "Apa kau memikirkan penisku saat ereksi di kelas?"
Sawamura mendesah sebelum menjawab. "Begitulah… Kau mengirim pesan di saat yang kurang tepat."
"Apa kau berharap aku memasukkannya sekarang? Seperti bayanganmu di dalam kelas?"
Sawamura memijat penisnya dengan lebih bersemangat. Namun, Miyuki tahu bahwa Sawamura tidak akan membiarkan dirinya keluar secepat itu. Miyuki tahu bahwa pria itu ingin mempermainkan Miyuki. Namun, Miyuki tidak akan kalah. Dia juga bisa membalas Sawamura.
"Apa kau berfantasi kita bercumbu di kelas? Disaksikan oleh mahasiswamu?" bisik Miyuki lagi. Sebenarnya, Miyuki bisa merasakan penisnya yang perlahan-lahan berdenyut dan dia ingin bergabung dengan Sawamura. Namun, dia masih ingin melihat ekspresi Sawamura yang begitu memabukkan. Dia sedang dilemma.
"Apa yang akan kau lakukan jika kita bercumbu di kelas?" tanya Sawamura.
Miyuki tidak bisa merasa tidak senang. Sawamura menyambut permainannya. Dia merangkak lebih dekat kepada Sawamura. "Pertama aku akan menciummu. Lalu mendudukanmu di atas meja." Sawamura mengerang. "Kemudian, aku akan membuka seluruh kancing kemejamu dan mulai menjilati dadamu." Miyuki meniup napas yang hangat di kedua puting Sawamura yang sudah mengeras. "Aku tidak menyentuhmu, tenang saja."
Meksipun begitu, Miyuki sudah ereksi dengan sempurna dan sangat ingin menyentuh Sawamura. Setidaknya, dia ingin dilibatkan dalam permainan solo Sawamura. Namun, belum saatnya. Supaya permainan mereka lebih mengasyikkan, dia harus mengikuti arus Sawamura dan mengubahnya perlahan-lahan.
"Aku akan mengulum penismu dan dengan tanganku, aku akan memainkan lubangmu."
Mendengar kalimat itu, Sawamura seperti bereaksi. Tangannya yang sedari tadi memainkan skrotumnya, berpindah ke area belakangnya. "Seperti ini?" tanya Sawamura.
Miyuki menatap permainan tangan Sawamura dan menelan ludahnya. Benar, persis seperti itu.
"Apa lagi yang akan kau lakukan padaku?" bisik Sawamura.
Untuk sesaat, Miyuki kehilangan kalimatnya. Sawamura tidak pernah terlihat begitu seksi dan begitu mempesona di saat yang bersamaan. Dia menyentuh dirinya sendiri untuk menghukum Miyuki karena pesannya tadi, tapi Miyuki akan dengan senang hati dihukum setiap waktu oleh Sawamura. Miyuki segera menguasai dirinya.
"Aku akan memasukkan satu jari. Merasakan dinding-dindingmu yang hangat menjepit jariku."
Sawamura memasukkan satu jari ke dalam lubangnya. "Lalu? Apa yang harus kulakukan dengan jariku?"
"Aku akan menambah satu jari lagi dan mencari prostatmu."
Sawamura memasukkan satu jari lagi. Dia memajumundurkan kedua jari tersebut. Lubrikan membantu melicinkan jalannya. Namun, Miyuki tahu bahwa jari-jari Sawamura tidak bisa mencapai prostatnya sendiri. Dia hanya bisa merangsang dirinya sendiri sampai titik tertentu. Untuk selanjutnya, dia masih membutuhkan Miyuki. Jadi, Miyuki akan menunggu sampai Sawamura memohon padanya.
"Apa… Apa lagi?"
"Setelah kutemukan prostatmu, aku akan mengeluarkan jari-jariku."
"Kau… mau apa setelah… itu?"
Miyuki berbisik tepat di depan bibir Sawamura yang terbuka karena desahan. "Aku akan memasukkan penisku dan menghujamkannya berkali-kali sampai kau tidak bisa bersuara lagi."
"Lakukanlah," bisik Sawamura.
"Lakukan apa?"
Miyuki menahan pekikan kemanangannya. Dia tinggal menunggu Sawamura memohon padanya dan dia telah memenangkan permainan kecil di antara mereka. Sawamura tampaknya sudah lupa tujuan awalnya, karena dia menatap Miyuki dengan penuh hawa nafsu.
"Masukkan penismu dan buat aku tidak bisa bersuara lagi."
Miyuki langsung mencium penuh bibir Sawamura dengan bersemangat hingga liur mereka menetes ke dagu Sawamura. Dia mengambil kondom di tempat biasa dan memakainya. Setelah itu, dia menempatkan dirinya di antara kedua kaki Sawamura. Sawamura sudah membukakan jalan, kini dia tinggal memasukkan seluruh penisnya.
Sensasi berada di dalam Sawamura selalu membuatnya ketagihan. Dindingnya menjepit seluruh permukaan penis Miyuki, hangat dan seperti membalut seluruh tubuh Miyuki. Sawamura mendesah setiap sentakan dari Miyuki. Ranjangnya berdecit-decit. Suara desahan Sawamura dan ranjang yang berdecit membangkitkan seluruh birahi Miyuki. Dia menggerakkan pinggulnya dengan semangat. Kaki Sawamura melingkari pinggulnya, seolah memberikan semangat.
"Miyuki…" desah Sawamura.
Mendengar namanya dipanggil dalam desahan seperti itu bagaikan membangkitkan sebuah fantasi di dalam diri Miyuki. Dengan instingnya, dia meraih tangan Sawamura yang terbuka dan menggenggamnya. Sawamura balas menggenggam tangannya. Dan itu sudah cukup.
Miyuki menemukan prostat Sawamura dan menyentaknya beberapa kali hingga Sawamura mengatakan dia sudah akan keluar. Miyuki mempercepat temponya dan tanpa melepaskan genggaman tangan antara Sawamura dan dirinya, Miyuki keluar bersamaan dengan Sawamura.
Mereka mengatur napas dan Miyuki tidak terburu-buru mengeluarkan dirinya dari dalam Sawamura.
Kami punya banyak waktu, batinnya.
Dia menatap Sawamura yang sudah basah karena keringat, bibir yang memerah dan bengkak, serta mata yang berkabut. Iris coklat itu masih berbinar di tengah euphoria seks. Mata itu balas menatap mata Miyuki dan semuanya terasa sempurna. Sawamura sempurna, dan hubungan mereka sempurna. Untuk sesaat, Miyuki lupa akan semua masalahnya dan hidupnya. Hanya ada dia, Sawamura dan tangan mereka yang bertaut. Dia tidak mau momen ini berakhir.
.
Mereka masih bermalas-malasan di ranjang Miyuki dan tidak ada yang berusaha keluar dari kamar tersebut. Miyuki mengelus lembut rambut Sawamura yang masih berbaring di sampingnya.
"Apa aku menang?" tanya Miyuki.
Sawamura mendongak menatapnya. "Apa?"
"Di dalam permainan kecilmu. Kupikir aku menang."
Sawamura mendengus. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."
"Ya ya. Aku tetap menang hari ini," ujar Miyuki tidak peduli. Mereka kembali menikmati keheningan. Keheningan kali ini tidak canggung dan Sawamura tidak berusaha pergi darinya. Ini sudah cukup.
"Apa kau benar-benar ingin melihat bintang?" tanya Sawamura. Miyuki menatapnya. "Aku bisa membawamu melihat bintang."
Miyuki tersenyum. "Aku tidak berpikir kau akan menanggapi ucapanku dengan serius."
"Kudengar akan ada hujan meteor. Mau melihatnya bersama?" tanya Sawamura.
Anggukan dari Miyuki adalah anggukan tercepat yang pernah dia lakukan tanpa berpikir.
.
Konika Minolta Planetaria Tokyo berlokasi di daerah Yukakucho, Tokyo. Planetarium ini baru dibangun pada bulan Desember 2018, jadi masih tergolong bangunan baru. Konika Minolta sendiri memiliki dua bangunan theatre yang terkenal dan mereka akan menyaksikan hujan meteor dari sana.
Miyuki sendiri belum pernah pergi ke planetarium mana pun. Selama ini dia tidak begitu tertarik dengan ilmu astronomi dan melihat bintang dengan menengadah ke langit Tokyo. Hujan Meteor Orionid mencapai puncaknya di pertengahan bulan Oktober, sehingga mereka berdua pergi ke planetarium di waktu yang pas untuk melihat hujan meteor.
Sawamura berhasil mendapatkan dua tiket untuk masuk ke Planetarium secara online. Meskipun ini bukan hari libur, tapi tetap saja banyak pengunjung yang berdatangan ke Konika Minolta. Kebanyakan dari mereka adalah turis mancanegara, meskipun banyak juga keluarga dan pasangan yang berdatangan.
Dome 1 adalah Digital Multi-Purpose Theatre. Konsep yang dipakai adalah Future atau Masa Depan. Dome ini sepeti teater yang berada di tengah alam semesta, bertaburan bintang-bintang serta galaksi bimasakti. Di sini biasanya ada live music yang bisa dinikmati sambil menikmati kemegahan dari alam semesta. Ada juga bar-style planetarium dimana kita bisa memesan minuman sambil menikmati tiruan angkasa yang sangat realistic.
Dome 2 adalah Planetarium Fulldome Theatre. Keunikan dari tempat ini adalah kita bisa menikmati ilmu astronomi dengan nyaman. Sudah ada sofa-sofa unik yang disediakan untuk masing-masing pengungjung untuk melihat bintang.
Sejujurnya, Miyuki sangat terkesan dengan Sawamura. Bukan hanya dia bersusah-susah mendapatkan tiketnya, tapi Sawamura juga tidak setengah hati mengajaknya pergi. Sawamura memang orang yang serius dan itu merupakan daya tariknya. Mungkin, jika mereka bertemu di waktu dan tempat yang berbeda, mereka tidak akan berada di sini berdua. Tapi, pertemuan mereka berdua sudah sempurna, Miyuki tidak akan mengingkari hal itu.
Setelah menunjukan tiket, mereka memasuki gedung tersebut. Planetarium itu berada di lantai 9. Mereka menuju Dome 2. Dome itu besar dengan desain interior yang mewah tapi tetap kekinian. Tidak heran desain ini memenangkan penghargaan di tahun 2018. Miyuki mengikuti Sawamura ke sebuah sofa bundar. Sudah banyak orang di dalam Dome. Disebut sofa juga tidak terlalu benar, karena Miyuki praktis tidur, sehingga dia bisa menatap langit di atas dengan jelas. Lampu dimatikan dan keajaiban alam semesta terpampang di depannya. Miyuki bisa merasakan keberadaan Sawamura yang berbaring di sebelahnya.
Miyuki tidak begitu memahami ilmu astrologi, tapi dia menikmati setiap angkasa yang dipenuhi hujan bintang. Setiap kali dia menatap bintang-bintang, rasanya tampak tidak masuk akal. Dunia ini tidak hanya berisi tata surya yang selama ini dipelajari di sekolah. Bumi bukanlah pusat semesta dan entah berapa banyak takdir bintang-bintang dan galaksi di angkasa sana. Manusia hanyalah bagian kecil dari dunia.
Lalu, hujan meteor pun terjadi. Belasan garis-garis bercahaya meluncur mulus, mengikuti gravitasi. Tampak seperti hujan cahaya, tapi Miyuki tahu bahwa itu adalah meteor yang memasuki atmosfer bumi. Dia menahan napas menatap keindahan yang tidak pernah dilihat sebelumnya. Dia tidak pernah berpikir akan mengunjungi planetarium, jika bukan dengan Sawamura.
Miyuki mengalihkan pandangannya dari langit dan menatap lelaki yang berbaring di sebelahnya. Sawamura masih menatap langit dengan wajah terpukau yang indah. Irisnya berkilat-kilat dan seluruh warna di langit terpantulkan di irisnya. Seolah iris Sawamura adalah kaleidoskop yang menangkap seluruh warna dan memantulkannya kembali.
Miyuki ingin sekali menyentuh wajah Sawamura saat ini, mengamati dan mematri setiap garis-garis wajahnya. Dia tidak puas dengan apa selalu dilihatnya di atas ranjang. Dia ingin ekspresi Sawamura yang lain. Dia ingin ekspresi Sawamura yang memikat, yang terpukau, yang terkejut, dan yang sedih. Dia ingin melihat itu semua.
Ketika Miyuki sadar, Sawamura telah menoleh ke arahnya juga. Mereka saling bertatap-tatapan di bawah hujan meteor. Ternyata benar, iris Sawamura memang seperti kaleidoskop. Lalu, Sawamura tersenyum padanya. Bukan senyum memikat yang selalu dilakukannya setiap mereka bercinta, bukan senyum mengejek, tapi sebuah senyum tipis yang lembut. Senyum yang memiliki sejuta arti.
"Apa kau menikmatinya?" tanya Sawamura dalam bisikan.
Miyuki mengangguk. "Sangat indah," ujarnya. Namun, dia tidak menatap jutaan bintang di langit. Dia menatap persis ke dalam mata Sawamura.
Sawamura tertawa kecil. "Kau tidak melihat langitnya," bisiknya lagi.
Miyuki menggeleng. "Tidak perlu."
.
Setelah selesai menonton hujan meteor, mereka menuju Dome 1 untuk menikmati live music dan memesan minuman. Suasananya seperti berpetualang di luar angkasa, menjelajahi langit luas.
"Tahu film Interstellar?" tanya Sawamura. Dia meminum minumannya. "Aku merasa kita persis berada di dalam jalur ruang dan waktu."
"Jadi itu alasan utamamu menjadi ahli matematika. Kau ingin membangun mesin waktu," kata Miyuki.
Sawamura tertawa. "Seandainya aku berhasil, kau mau mencoba mesin waktuku?" tanyanya.
"Mungkin. Banyak yang mau kuubah di masa lalu," jawab Miyuki.
"Apa kau mau bertemu lagi dengan kekasihmu dulu?"
Pertanyaan itu menyentak Miyuki. Sejak mereka memulai hubungan kasual, topik-topik sensitif itu tidak pernah muncul ke permukaan. Mereka memendamnya sendiri tanpa pernah mau membahasnya. Ini adalah pertama kalinya Sawamura membahas topik seperti itu. Miyuki mempertimbangkan bahwa Sawamura mabuk, tapi itu tidak mungkin karena mereka bahkan tidak minum banyak.
"Mungkin," kata Miyuki. Kalau dia bisa benar-benar kembali, apa yang akan dilakukannya saat bertemu lagi dengan kekasihnya? Mengatakan semua yang belum sempat dikatakan? "Kau mau kembali ke masa lalu?" tanyanya.
Sawamura mengangguk. "Aku akan memperingatkan diriku yang dulu untuk tidak bertemu dengannya."
"Kenapa?"
"Supaya aku tidak perlu kehilangan. Hal itu tidak bisa disebut kehilangan kalau kita tidak pernah memilikinya."
Miyuki mendengus. "Pola pikirmu selalu unik. Pertama kau bicara bahwa dunia adalah kuburan, sekarang kau ingin mencegah dirimu bersedih."
"Terima kasih."
Miyuki meneguk minumannya. "Kalau begitu sayang sekali. Jika kau kembali ke masa lalu, kita tidak akan bertemu." Sawamura mengernyit bingung. "Karena kita tidak akan punya kesamaan jadi aku tidak berminat tidur denganmu."
Sawamura tertawa cukup keras ketika mendengarnya. Sampai beberapa orang menoleh ke arah mereka. "Apa kau masih mau bertemu denganku, Miyuki?" tanya Sawamura sambil bertopang dagu.
Miyuki merasa ada jalaran listrik di sepanjang tulang belakangnya ketika Sawamura menyebut namanya. "Tentu saja. Bukankah akan aneh kalau kita tahu bahwa kita akan bertemu tapi tidak bertemu?"
"Benar. Kurasa aku tetap ingin bertemu denganmu."
Miyuki tersenyum. "Pembohong," katanya.
Sawamura mengerjap. "Apa?"
"Kau pergi secepat kilat ketika berada di Klub Malam, ingat? Lalu kau mengatakan padaku untuk melupakan semuanya."
Sawamura tergagap sedikit. Namun, dia menguasai dirinya. Ekspresi baru lagi, batin Miyuki. "Kurasa itu bisa dipertimbangkan lagi mengenai kondisi waktu itu."
"Dan kondisi seperti apa maksudmu, Sawamura?"
"Kondisi seperti aku panik. Kartu identitasku baru saja hilang dan aku malas membuat laporan ke polisi."
Miyuki mendengus. "Alasan yang bagus. Bisa kuterima."
Sawamura memajukan tubuhnya. "Jadi, aku dimaafkan?" tanyanya.
Miyuki ikut memajukan tubuhnya. "Kurasa."
"Kau memang berhati lapang, Miyuki Kazuya."
.
"Kenapa kau tidak mempelajari ilmu astrologi juga?" tanya Miyuki. Mereka berjalan keluar dari planetarium.
Sawamura menggeleng. "Terlalu banyak probabilitas, terlalu banyak kemungkinan."
"Bukan ilmu pasti," simpul Miyuki.
Sawamura mengangguk. "Benar. Ilmu astronomi memang menyenangkan bagi orang-orang yang mau mengetahui isi alam semesta, mengetahui bahwa banyak galaksi yang belum terungkap. Namun, harus ada orang yang membantu mereka untuk mengungkap misteri alam semesta. Harus ada yang bisa menghitung lintasan, titik koordinat."
Miyuki memperhatikan setiap penjelasan Sawamura. "Semua orang menganggap matematika sebelah mata. Ilmu matematika tidak begitu diminati, tapi sebenarnya itu ilmu yang penting. Menurutmu, apa kau bisa merancang tanpa menghitung skala? Apa menurutmu seorang dokter bisa memberi terapi cairan tanpa menghitung kebutuhannya? Lihat, semuanya butuh matematika. Bahasa matematika adalah bahasa dasar yang menggerakan dunia. Itulah keindahannya."
"Kau harus mulai berpikir untuk menjadi dosen filosofi juga," komentar Miyuki.
Sawamura tertawa. "Sialan kau."
Mereka berpisah di perempatan. "Sampai jumpa Miyuki," ujar Sawamura.
"Sampai jumpa."
Lalu, Sawamura berbalik badan dan berjalan menjauh. Miyuki masih terpaku ditempatnya berdiri. Dia mengamati sosok Sawamura yang semain lama semakin menjauh. Miyuki tidak bisa memalingkan wajahnya. Sebenarnya, dia ingin menawarkan agar Sawamura menginap di mansion-nya dan mereka bisa menghabiskan waktu bersama. Tidak perlu bercinta, hanya bermalas-malasan saja sambil menonton Netflix atau meminum bir. Namun, dia tidak mengatakannya.
Hari ini sudah sempurna. Hubungan mereka sudah sempurna. Dia tidak perlu mengutak-atiknya atau mencoba hal baru. Dia tidak boleh melanggar peraturan. Apapun yang Miyuki rasakan, harus dia pendam baik-baik agar tidak menghancurkan kesempurnaan di antara mereka.
.
SAWAMURA EIJUN
Miyuki K: Aku harus ke Kyoto beberapa hari.
Sawamura: Oke. Urusan pekerjaan?
Miyuki K: Begitulah. Ada proyek baru di Kyoto. Atasanku mau aku melihat lokasi.
Sawamura menaruh ponselnya. Dia mematikan rokok dan meminum sisa wiskinya sebelum akhirnya menaruh kertas-kertas ujian mahasiswanya. Dia tidak sanggup lagi melihat jawaban-jawaban dari mahasiswanya. Semua jawaban itu membuatnya sakit kepala. Jadi, dia memutuskan untuk beranjak ke balkon dan menutup pintunya. Udara sudah semakin dingin di awal bulan November. Langit kelabu selalu menghiasi hari-hari Sawamura dan juga membuatnya bosan.
Miyuki sedang pergi ke Kyoto beberapa hari, sehingga mereka tidak bisa bertemu. Terkadang, Miyuki masih mengiriminya pesan, tapi itu tidak sama dengan bertemu langsung dengannya. Namun, Sawamura tidak akan mengeluh. Dia mengingat ketika mereka pergi ke planetarium bersama dan itu sangat menyenangkan. Mereka bahkan berfoto bersama di depan Dome 2 yang iconic dan di depan pintu masuknya. Sawamura masih menyimpan foto mereka.
Sawamura menyalakan televisinya dan sambil memilih film, dia menuang wiski ke gelas kosongnya dan membawanya ke sofa. Biasanya dia akan menghabiskan waktu luang dengan mengerjakan persamaan, hanya saja setelah mengoreksi jawaban-jawaban mahasiswanya, dia merasa tidak berselera melihat persamaan. Sebuah TV series komedi tayang di Netflix, tapi Sawamura tidak benar-benar menonton.
Berkali-kali dia mengecek ponselnya untuk melihat apakah ada pesan baru masuk. Namun, pesan terakhir dari Miyuki 10 jam yang lalu. Sawamura menahan keluhannya. Apakah Miyuki sedang sibuk? Dia bilang dia baru mendapat proyek baru di Kyoto, mungkin saja dia sedang rapat bersama para klien. Namun, apakah ada rapat hingga malam hari seperti ini? Bukankah malam hari waktunya istirahat?
Atau, haruskah Sawamura mengirim pesan terlebih dahulu? Selama ini Miyuki selalu mengirim pesan duluan, mungkin ada baiknya sesekali Sawamura yang mengirim pesan. Pertanyaan selanjutnya, pesan seperti apakah yang harus Sawamura kirim? Fakta random yang biasa Miyuki lakukan, pesan sensual, atau sekedar menanyakan kabar? Sejujurnya, Sawamura tidak terlalu ahli dalam membuka percakapan.
Setelah mengetik dan menghapus berbagai pesan, akhirnya Sawamura mendapat ide. Dia memfoto wiski yang sedang di minumnya, sekaligus latar televisi yang sedang menayangkan sebuah acara serial televisi yang sedang ditontonnya. Lalu, foto itu dikirim begitu saja. Tanpa caption, tanpa pesan apapun.
Dua detik setelah pesan itu terkirim, Sawamura merasa sedikit aneh dan berniat menghapusnya, tapi rupanya pesan itu sudah Miyuki baca.
Miyuki K: Netflix and Chill?
Sawamura: Yup.
Miyuki K: Irinya. Aku sudah hampir mati bosan dengan rapat yang tidak selesai-selesai.
Sawamura: Kasihan. Kenapa rapatnya lama sekali?
Miyuki K: Karena kami juga rapat bersama pemkot.
Miyuki K: Mengirimkan stiker
Stiker berupa orang yang berwajah senyum tapi meneteskan air mata. Sawamura tertawa.
Sawamura: Sayang sekali. Kenapa kau tidak pura-pura serangan jantung saja?
Miyuki K: FYI, klien kami berusia 70 tahun dengan jantung yang sehat. Bisa bayangkan bagaimana kalau aku pura-pura terkena serangan jantung?
Sawamura: Benar juga. Kau actor yang buruk. Akting-mu akan langsung ketahuan.
Miyuki K: Setidaknya aku jago meng-oral-mu.
Sawamura tersedak wiski saat membaca pesan itu. Dia terkekeh karena tidak menyangka Miyuki mengiriminya pesan tidak senonoh.
Sawamura: Kau memang gila. Bukankah kau sedang rapat?
Miyuki K: Tapi kau tidak. Mau kutemani untuk Chill?
Sawamura: Apa kau selalu mengirimkan pesan mesum selama rapat? Kau pekerja yang buruk.
Miyuki K: Tidak untuk semua orang. Khusus untukmu.
Sawamura: Bekerjalah sebagai budak dengan baik.
Setelah itu, Miyuki tidak membalas pesannya lagi. Mungkin rapatnya masih berlangsung, Sawamura tidak tahu. Namun, kalau dia membaca pesan-pesan antara Miyuki dan dirinya, kadang dia tersenyum sendiri.
Miyuki Kazuya begitu unik di mata Sawamura. Dia adalah definisi dari sebuah persamaan yang rumit dan sulit untuk diuraikan. Memulai hubungan dengan Miyuki Kazuya ibarat melangkah ke tengah-tengah sebuah persamaan yang belum selesai. Sawamura harus menyusuri masing-masing variable untuk dapat menguraikannya. Setiap variable di dalam diri Miyuki berbeda-beda dan itu membuat Sawamura tertarik.
Benar, seks dengan Miyuki hebat dan Sawamura menikmati setiap detik yang mereka habiskan di atas ranjang. Namun, Miyuki tidak sesederhana itu. Setiap kali dia bertemu Miyuki, dia ingin mengungkapkan lebih banyak variable dari lelaki itu. Setiap dia menghabiskan waktu bersama Miyuki, di atas ranjang ataupun tidak, Sawamura merasa ada kepingan baru yang menambal perasaannya yang sudah compang-camping. Dan itu membuatnya ketagihan sekaligus ketakutan.
Hubungan mereka berlandaskan di atas sebuah perjanjian tertulis dan ditandatangani oleh masing-masing pihak. Artinya, perjanjian itu bersifat sah dan mengikat. Mereka memulai hubungan kasual itu dengan membuat batasan-batasan yang jelas, tapi belakangan ini Sawamura merasa batasan itu semakin kabur. Dan itu membuatnya sedikit takut. Hubungan yang dimulai di atas kertas, biasanya tidak akan berakhir bahagia. Sawamura sudah lelah sakit hati. Dia sudah lelah menjadi orang yang selalu ditinggalkan.
Jika Miyuki tahu apa perasaan Sawamura saat ini, ada kemungkinan Miyuki akan meninggalkannya. Lalu, dia akan sendirian lagi. Jika Miyuki meninggalkannya karena perasaannya pada lelaki itu, Sawamura tidak yakin bisa bangkit lagi. Dia tidak akan pernah bisa menyembuhkan hatinya, jika Miyuki sampai meninggalkannya. Jadi, Sawamura melakukan satu-satunya hal yang bisa dilakukannya untuk mempertahankan hubungannya dengan Miyuki. Dia akan memendam semua perasaannya. Dengan begitu, semua akan baik-baik saja. Dengan begitu, Sawamura tidak akan ditinggalkan.
.
BERSAMBUNG
A/N: Rencananya bikin 2 part doang, tapi ternyata ada banyak hal masih ingin saya ketik. Jadi, 1 part lagi! Komentar, kritik dan saran terbuka tanpa syarat dan ketentuan!
Salam,
Sigung-chan
