SetsunaZ1 2.0 Present
Disclaimer :
Naruto ©Masashi Kishimoto
HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi
Lily Angel, Seorang gadis yang sangat cantik dari keluarga ksatria tanpa tuan yang menjadi bagian dari pasukan Merchenary King pada zaman perang beberapa puluh tahun yang lalu.
Seorang gadis yang sangat cantik layaknya sebuah permata yang di puja oleh siapapun dan dikatakan sebagai satu-satunya wanita tercantik di benua ini dalam ratusan tahun terakhir. Prilaku yang sama dengan seorang Saint, Penyayang dan tidak pandang buluh pada siapapun, tanpa memandang latar belakang mereka ia akan mengulurkan tangan kepada mereka yang memerlukan bantuannya dan karenanya juga nama 'Angel' lahir.
Dan setelah masa perang berakhir dan para monster diisolasi kembali menuju habitat mereka, Pernikahan politik antara Lily Angel dan juga Vasco 'Airia' Strada terjadi dan akibatnya keluarga Angel menjadi keluarga bangsawan bergelar 'Duke' yang memiliki daerah kekuasaan yang sangat besar dengan banyak pendukung. Hingga beberapa tahun lalu, berita kematian Lily Angel membuat semua orang tanpa terkecuali yang tinggal di kerajaan ini terpukul karena kehilangan seseorang sebaiknya.
Namun mereka semua tidak percaya dengan apa yang mereka dengar saat ini. Semua orang berfikir itu hanyalah omong kosong dari seorang pemuda yang umurnya pun belum genap 20 tahun. Namun itu semua tidak tampak pada wajah seseorang yang memiliki umur tidak jauh berbeda dari pemuda itu. Walaupun di dalam pikiran mereka itu semua tidak lebih daripada delusi karena kehilangan seseorang yang di sayangi, Mereka memilih diam.
"Hassan"
Dengan satu kata yang keluar dari mulut pemuda itu, sesosok yang mereka tahu siapa itu muncul dari sudut ruangan. Hassan itu berdiri dalam diam dan saat Naruto memberikan isyarat kepadanya, Hassan itu menaruh sebuah kristal di atas meja pertemuan dan dari kristal itu keluar sebuah hologram yang menampilkan seorang wanita dengan rambut kuning sebahu di dalam sebuah ruangan berdinding batu.
Wanita itu tampak kelelahan dengan semua yang ia alami. Di wajahnya tersirat rasa lelah yang mendalam, di tangannya gelang besi yang terhubung dengan rantai membuatnya terlihat seperti terpasung dan tidak hanya itu, sorot mata tanpa cahaya membuat semua orang di ruangan itu terkejut bukan main.
"Apa-apaan ini!"
Yang membuka mulutnya adalah seorang pria paruh baya dengan kerutan yang mulai tampak di wajahnya. Pria itu adalah orang yang menaruh kepercayaan pada kerajaan ini karena tanpanya kerajaan inipun tidak akan pernah terlahir karena dalam perang dulu, Ia berada di garis depan mempertaruhkan hidupnya.
"Lord Uchiha, bukankah sudah ku katakan kalau Ratu Lily Angel masih hidup?"
"Tapi tidak seperti ini! Memalsukan kematian dan juga menyekap seorang Ratu dapat membuat pelaku berada di bawah tiang pancung."
Mendengar jawaban kepala keluarga Uchiha, Naruto hanya menyunggingkan senyum mengejek. Ia lalu melihat semua orang yang ada di ruangan ini. Pangeran, Bangsawan dan juga seorang Blacksmith.
"Bagaimana jika pelakunya adalah anggota dari kerajaan ini? Asal kau tahu paman, setelah pencarian yang aku dan para Hassan lakukan, kami menemukan sebuah fakta." Naruto menatap mereka semua dan ia berkata, "Dewan, Phoenix, dan masih banyak lagi bangsawan busuk di kerajaan ini dan kalian tahu? Mereka adalah dalang dari ini semua! Dengan menjadikan seorang Elder dari keluarga Phoenix membuat mereka mudah memasuki meja politik dan lagi tujuan mereka adalah untuk menguasai kerajaan ini dengan menjadikan Raiser Phoenix sebagai Raja yang dapat mereka atur sesuka hati mereka layaknya boneka."
Mereka semua diam tanpa ada yang bisa berkata-kata, karena apa yang diucapkan Naruto ada benarnya. Dan lagi jika mereka pikirkan semua yang sudah terjadi belakangan ini maka itu semua berhubungan. Di mulai dari langkah yang aneh dari dewan, penyekapan Lily Angel dan juga mencoba untuk mengambil alih beberapa pemasukan utama dari wilayah ini salah satunya adalah budidaya dan juga penjualan Crimson Bloom.
Lalu mereka melihat pandangan Naruto terarah pada pemuda yang memiliki umur tidak jauh darinya, Michael.
"Jadi dengan semua bukti yang sudah ku berikan apa kau sudah percaya padaku, Duke Angel?"
Michael tidak dapat menjawab apapun dan memilih untuk diam. Ia sudah tahu bahwa ibunya masih hidup saat pertemuan mereka berdua di kastil miliknya namun ia tidak percaya dan dengan semua bukti yang ada, Michael tidak bisa untuk menyangkal semuanya. Ia hanya bisa diam dan memilih berfikir dan dengan keyakinannya sendiri ia melihat Naruto yang sedang menunggu jawabannya.
"Aku tidak bisa memutuskannya sekarang, Duke Namikaze. Aku harus membicarakan semua yang terjadi saat ini dengan loyalis ku. Namun aku menjanjikan 1 hal, dengan atau tanpa persejuan loyalis ku, Keluarga Angel akan terus mendukung mu."
"Dan apa yang kau inginkan sebagai balasan?"
"Janjikan aku 1 hal, Jadikan Gabriel, Ratu dari Airia."
Semua bangsawan yang merupakan Loyalis Naruto seketika menaikkan tensi di meja pertemuan ini namun dengan aba-aba biasa dari tangan Naruto, Mereka semua diam tanpa terkecuali. Sedangkan Michael terdiam seperti patung dengan semua tekanan yang ada di ruangan itu karena orang-orang di ruangan ini adalah orang-orang yang sangat hebat dan juga kuat dan jika tidak dengan perintah Naruto mungkin ia akan habis.
"Baiklah, Kalian semua adalah pengikut ku, kan?"
Naruto bertanya pada semua orang yang ada di ruangan itu dan semuanya menjawab dengan satu suara "iya" dan karenanya Naruto tersenyum. Ia tahu ini adalah persetujuan sepihak dari dirinya sendiri namun ia tahu jika mereka semua paham akan pilihannya.
"Baiklah, Kau ingin menjadikan Gabriel Ratu dari Kerajaan ini? Menguasai Kerajaan ini untuk kepentingan mu sendiri atau apapun itu namun kau harus tahu jika wilayah Namikaze akan memisahkan diri dari Airia. Jadi ayo kita lakukan."
Michael terdiam dengan apa yang ia saksikan sekarang. Naruto mengambil keputusan tanpa adanya diskusi dengan semua loyalisnya dan bahkan tidak ada satupun dari mereka yang menyanggah apapun yang Naruto katakan. Ia tidak menyangka jika Naruto memiliki pengikut yang sangat setia dengan dirinya dan itu membuat rasa iri sedikit timbul pada hatinya namun ia tidak peduli, karena sekarang kesepakatan sudah terbentuk dan sekarang ia harus pergi membawa kabar ini dan mendiskusikannya dengan para loyalisnya.
"Baiklah, mungkin ini tidak sopan namun aku mohon izin untuk pergi kembali ke wilayah ku dan membicarakan ini semua dengan loyalis ku."
Dan Naruto mempersilahkan Michael namun sebelum ia keluar dari pintu ruangan itu, Naruto berkata, "Perlukah aku mengirim Hassan untuk melenyapkan pengikut mu yang bersekongkol dengan Phoenix?" dan Michael hanya tersenyum, "Tidak perlu, Aku akan mengurusnya sendiri jadi silahkan lanjutkan pertemuan kalian. Permisi, Duke Namikaze."
Selepas kepergian Michael, ruangan itu menjadi seperti biasanya dan Naruto mulai menarik perhatian pada paman nya, kakak dari ibu nya, Uzumaki Arashi.
"Marquess Uzumaki, Bisa kau jabarkan berapa banyak pasukan yang kita miliki secara keseluruhan jika digabungkan dengan semua pasukan yang dimiliki bangsawan di bawah kepemimpinan ku?"
Arashi yang mengerti pun berdiri dari tempat duduknya,
"My Lord, Kita memiliki pasukan yang terdiri dari.."
"2.000 Prajurit yang mana berisi 900 Infantry, 500 Cavalery, 600 Archer. Lalu untuk para Ksatria berjumlah 1.500 Ksatria yang terdiri dari 200 Red Knight di bawah kepemimpinan Marquess Uzumaki, 300 Raven di bawah kepemimpinan Marquess Uchiha, 200 United di bawah kepemimpinan 3 Count, 200 Blue Rose di bawah kepemimpinan Viscountess Catina, 400 Undying di bawah kepemimpinan Count Alucard, 100 Chevalier di bawah kepemimpinan Baron Sieg, 100 Memento di bawah kepemimpinan Baron Entran. Itu adalah keseluruhan orang-orang yang siap bertempur di garis depan. Dan masih ada 970 prajurit pelatihan yang kapanpun itu mereka siap menumpahkan darah mereka demi membayar kebaikan anda. Sekian."
Arashi kembali duduk di tempatnya dan Naruto mulai memikirkan semua strategi yang ia tahu dan mencoba untuk memanfaatkan apa yang ia miliki saat ini namun ia juga harus memikirkan berbagai variabel yang tidak dapat di duga siapapun. Menghela nafasnya sedikit, Naruto kembali bertanya kepada Arashi, "Marquess Uzumaki, apakah dalam sebulan ke depan 970 orang itu siap untuk pergi ke medan perang dan berperang?"
"Maaf tuan, tidak semua bisa dikirimkan karena setiap prajurit memiliki kepasitas pemahaman mereka sendiri dalam menyerap pengajaran namun dapat ku pastikan 1 hal, jika 500 prajurit siap untuk bertempur."
Mendengarnya Naruto tersenyum dan ia rasa mengerahkan 470 orang untuk membawa pasokan makanan, potion ataupun obat-obatan sudah cukup kemanapun. "Pisahkan orang-orang yang menurutmu cukup mumpuni untuk pergi ke medan perang dan latih mereka lebih keras daripada biasanya."
"Hahhh.. sekarang aku sadar jika kita kekurangan House. Pasukan yang mungkin siap tempur hanya sekitar 4.000 orang. Aku juga tidak bisa langsung mengerahkan Blue Rose ataupun Red Knight karena aset yang sangat berharga. Jadi perkiraan ku kita hanya bisa mengerahkan 3.000 pasukan. Dan Guardian, tidak bisa di kerahkan karena 200 orang itu adalah pasukan terakhir kita."
Naruto berbicara dengan nada yang lelah dan memijat keningnya sendiri, membuat semua bangsawan di ruangan itu menatapnya dengan wajah kasihan. Mereka tahu jika ini mungkin menjadi perang pertama seorang Namikaze Naruto yang akan tercatat dalam sejarah namun lawan yang ia hadapi adalah seorang Veteran dalam peperangan. Namun mereka semua tidak tahu jika jiwa yang ada di dalam tubuh Namikaze Naruto adalah jiwa dari Uzumaki Naruto yang lahir di bumi dan karenanya mereka semua tidak tahu apa itu taktik peperangan yang digunakan dibumi.
"Ah.. Marquess Uzumaki, bukankah itu hanyalah pasukan dan knight biasa yang tidak bisa menggunakan sihir? Bagaimana dengan penyihir yang kita miliki?"
"Tuan, Kita hanya memiliki 50 orang yang bisa menggunakan magic di pasukan kita. 42 orang magician dan 8 orang mage. Dan jika para bangsawan dan Nona Meletez dihitung, kita memiliki 42 orang magician, 12 mage, dan juga 1 wizard."
Mendengarnya Naruto tersenyum, ia sudah tahu bagaimana cara memanfaatkan para penyihir yang ia punya dan hanya tinggal menunggu waktu saja untuk dirinya unjuk gigi.
"Lalu, Paman Andrew, apakah pesanan yang ku minta sudah kau siapkan?" Kali ini Andrew, Head of All Blacksmith, mulai memasuki pembahasan dan menatap semua orang yang ada lalu mulai berbicara.
"Seperti yang anda pinta, Aku sudah memenuhi itu semua dalam 3 bulan kepergian anda. Battle Gear yang anda pinta sudah siap dan di antaranya berupa 1.000 pedang, 1.200 tombak, 2.000 anak panah, 800 armor Cavalery dan 1.200 shield sudah kami siapkan dan masih ada 80 catapult, 66 siege tower dan 12 gate breaker yang kami buat sesuai dengan arahan anda. Kami sudah mencoba alat-alat itu dan semua sudah sempurna kecuali saat menggunakan catapult. Kami kesusahan saat menaikan batu yang sangat berat kedalam mangkuknya. Yaahh.. Hiraukan keluhan itu dan sesuai arahan anda, kami semua menaruh peralatan itu di Benteng Alamut. Sekian."
Merasa sudah memberikan informasi yang ia miliki, Andrew kembali duduk dan dapat ia lihat semua bangsawan yang ada di ruangan itu tidak dapat mengeluarkan satu kata pun dari mulut mereka. Dirinya sendiri sudah menduga kalau hal ini akan terjadi karena Naruto merencanakan pembuatan battle gear ini tanpa mendiskusikannya dengan mereka. Dan lagi untuk beberapa perlengkapan yang tidak mereka ketahui dapat mereka dengar dari mulut Andrew sendiri.
Dan Naruto hanya diam mendengarnya, menghiraukan semua orang yang menatapnya dengan ekspresi tidak percaya di wajah mereka. Merasa risih Naruto menghela nafasnya dan memberikan sebuah kertas kepada Andrew dan saat Andrew melihat apa yang ada di dalam kertas itu, Ia terkagum dengan penemuan itu.
Di dalam kertas itu ada sebuah alat yang terlihat seperti rumah namun dapat bergerak dengan menggunakan roda dan pada setiap sisinya entah itu di atas atau dimanapun, semuanya terlindungi perisai yang sangat rapat. Dan pada pandangan pertama, Andrew tahu apa yang Naruto pikirkan dan alasan dari alat ini ada namun pria itu memilih bungkam.
"Dalam waktu satu bulan aku ingin kalian membuat alat itu sebisa kalian, ada berapapun alat itu dalam 1 bulan setelah hari ini itu tidak akan menjadi masalah. Dan untuk mengisi batu di mangkuk catapult itu semua sudah di pecahkan Viscount Alucard."
Alucard yang mendengarnya menatap Naruto dengan wajah penuh pertanyaan namun Naruto menjawabnya dengan senyuman,
"Kau pasti tahu jika ada beberapa monster berakal yang bisa berbicara bahasa manusia datang menuju perbatasan dan memberikan mu surat ku, kan? Singkat saja, mereka adalah bawahan ku dan dengan kekuatan Orc ataupun Troll, mereka bisa di manfaatkan untuk mengangkat batu itu."
"Aku tahu kita sekarang kekurangan pasukan dan bahkan banyak bangsawan yang mengurus wilayah bangsawan yang ku eksekusi namun aku ingin memberitahu kalian semua. Kalau kita akan memulai perang dengan Dvarga dan Hundred Face.." Seorang Hassan muncul dari dalam bayangan menunggu perintah Naruto dan pemuda itu memerintahkannya, ".. pergilah menuju Dvarga, cari jumlah pasukan mereka, apa yang mereka miliki dan sebagainya. Aku tahu kau hebat dalam penyusupan maka dari itu ku percayakan tugas ini kepadamu. Pergilah."
Merasa tensi ruangan sudah mulai mereda Naruto mengundang para pelayan masuk dan menyajikan kudapan kepada para loyalisnya. Mereka berbincang ria dan menikmati senda gurau satu sama lain menghiraukan pangkat mereka semua karena mereka tidak lebih daripada manusia dan keluarga yang saling melengkapi. Catina yang terkejut dengan eskrim dan para laki-laki yang senang memakan roti bakar dengan selai berry menjadi pemandangan yang menenangkan siapapun itu.
-_-_-
To Be Continue
-_-_-
