Disclaimer

Naruto : Masashi Kishimoto

HighSchoolDxD : Ichie Ishibumi

Fate/Stay Night: TYPEMOON

Genre : Fantasy, Action, Adventure

Warning : Typo bertebaran (seperti biasa), Gaje

.

.

Beberapa hari berlalu, rutinitas si kembar Namikaze tak jauh berbeda dari hari-hari lainnya yaitu bermain, belajar dan latihan sihir baik ditemani oleh Minato ataupun sesekali oleh Kushina ketika suaminya tersebut sedang keluar. Adapun dengan Sasuke, bocah Uchiha tersebut juga sering bermain dengan si kembar karena jarak rumah mereka yang tidak terlalu jauh.

.

Saat ini terlihat Naruto sedang duduk di bawah sebuah pohon, matanya menatap bosan ke arah sang kembaran yang tengah mencoba melakukan sihir namun tak kunjung berhasil. Dia berdiri lalu berjalan menghampiri adiknya itu, "Kapasitas manamu belum cukup untuk melakukan sihir tersebut," ucapnya setelah berada tepat di samping Menma.

"Ck... mana mungkin manaku belum cukup ?, bukankah kemarin tou-san baru memeriksa kapasitas mana kita dan angka perbedaannya juga tidak signifikan," keluh Menma.

"Kalau begitu kau memang tidak punya elemen tersebut" jawab enteng si pirang sambil mendelikkan bahu.

"Jika kau bisa maka akupun harusnya bisa, jadi ajari aku bagaimana melakukan sihir angin !" Menma lagi-lagi mencoba berkonsentrasi untuk memunculkan sihir yang dia mau.

"Kalau aku bisa maka sudah kuajari dari kemarin, masalahnya aku juga tidak sengaja waktu itu mengeluarkan sihir angin saat kau melemparku dengan buah-buahan busuk," Naruto sedikit kesal jika mengingat kejadian itu, memang Menma dan Sasuke kadang bercandanya tidak lucu, mereka pernah membakar sebuah gudang penyimpanan hanya karena musang yang mencuri pisang milik si kecil Uchiha dan Namikaze tersebut bersembunyi di sana. Dan pernah juga dua penjahat kecil itu mengikat seorang anak perempuan yang Naruto tahu bernama Sakura di sebuah batang pohon dengan posisi terbalik, padahal waktu itu mereka baru berkenalan dengan anak perempuan tersebut dan lebih parahnya lagi mereka tak menunjukkan rasa penyesalan sama sekali.

"Tunggu sebentar, kau kan bilang bisa menggunakan elemen angin secara tak sengaja karena aku melemparmu dengan buah busuk... jadi jika aku dalam posisi serupa itu bisa membuatku mengeluarkan elemen angin sepertimu secara tak sengaja ?" ide tersebut tiba-tiba terlintas di benak si bocah berambut merah.

"Kau mau aku melemparmu dengan buah ?, tapi menurutku akan lebih baik jika dilempar dengan sesuatu yang lebih keras," kini si pirang yang memberikan usul.

"Benar juga, tapi apa yang akan kau lempar ?" tanya Menma penasaran.

"Bagaimana kalau batu sungai ?," usul Naruto sambil mengambil sebuah batu yang bahkan berukuran lebih besar dari diameter tangannya.

"Kau punya dendam padaku ?, jika batunya sebesar itu aku bisa terluka jikalau sihirnya tidak berhasil" geram Menma pada niatan si pirang.

"Justru ini akan efektif, atau kalau mau yang lebih menantang aku bisa menembakkan Thunder Bullet padamu atau Wind Knife" usul Naruto lagi bahkan kali ini lebih gila usulannya.

"Kau sudah tidak waras, sudahlah lupakan. Lebih baik aku belajar sendiri," tegas Menma sambil berputar membelakangi Naruto untuk lagi dan lagi mencoba menciptakan lingkaran sihirnya.

"Kalau begitu berusaha lah, Menma-chan" Naruto sedikit mengejek adiknya itu dan selanjutnya dia kembali ke arah pohon yang tadi dia sandari.

Naruto harus akui kalau tekad dan ambisi adiknya itu sangat gigih, sebenarnya dia ingin membantu namun untuk anak seumuran dirinya mengajari orang bukanlah hal mudah itu karena dia saja bingung kenapa bisa menggunakan elemen ke duanya dengan tidak sengaja.

.

.

Waktupun tak terasa berjalan hingga kini menunjukkan kalau hari sudah sore, Menma dan Naruto memutuskan untuk kembali pulang ke rumah karena kalau mereka pulang terlambat bisa-bisa mama Kushina akan mengamuk pada mereka berdua.

Sesampainya di rumah kedua kakak beradik itu langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan semua kotoran yang menempel di tubuh mereka setelah bermain seharian.

Tak banyak kegiatan di sore hari yang dapat mereka lakukan, kini mereka sedang berada di taman yang terletak di bagian dalam rumah besar tersebut bersama dengan kedua orang tuanya.

Minato tampak sedang membantu Menma mencoba mengeluarkan sihir angin yang sedari tadi terus dia coba namun hasilnya nihil sementara dengan Naruto anak pirang itu lebih memilih diam di pangkuan sang ibu, "kau tidak belajar sihir seperti Menma, Naru ?" tanya Kushina pada bocah yang sedang duduk di pangkuannya itu.

"Tidak, aku sudah bisa menguasai sihir tingkat rendah yang tou-chan ajarkan jadi aku sedang mencoba meningkatkan kapasitas manaku supaya bisa menggunakan sihir tingkat menengah lebih sering. Aku hanya bisa menggunakan sihir menengah sebanyak 4x saja sehari" Naruto tampak cemberut karena menurutnya 4x adalah angka yang sedikit tapi bagi orang dewasa seperti Kushina dan Minato justru melihat perkembangan Naruto bisa dibilang sangat luar biasa dengan mengingat umurnya dan ditambah dia bisa menggunakan dua elemen sihir yang berbeda.

Kushina memeluk putra sulungnya itu dari arah belakang dan menggosokkan pipinya pada pipi Naruto.

"Sabarlah, karena itu akan bertambah seiring dengan pertumbuhanmu jadi tidak usah terlalu terburu-buru untuk meningkatkan kapasitas manamu, karena kalau dipaksakan bisa berakibat dengan rusaknya aliran mana ke seluruh tubuh" Naruto mendengarkan saran Ibunya, dia berbalik arah hingga kini berhadapan dengan Kushina dan langsung menenggelamkan kepala di dada Kushina.

Wanita dewasa berambut merah itu mengangkat wajah Naruto dan langsung menciumi wajah putranya itu terutama di bagian pipi gembil si pirang.

Minato yang dari melihat Kushina yang sedang menyiksa Naruto hanya bisa tertawa pasalnya si pirang kecil itu sedang berusaha untuk kabur namun tubuhnya dipeluk cukup erat.

.

.

Keesokan harinya.

.

.

Naruto dan Menma saat ini baru bangun tidur, dan setelah selesai mencuci muka mereka segera menuju ruang makan yang di sana sudah terlihat ada Minato yang sedang membaca suatu gulungan kertas sementara Kushina tampak sedang sibuk memasak.

Melihat kedua anaknya tiba Minato tersenyum dan menyapa kedua bocah tersebut, "Selamat pagi dua berandal kecil tou-san".

"Selamat pagi" ucap si kembar berbarengan.

.

Tak berselang lama kemudian Kushina berjalan ke arah meja untuk menaruh masakan yang baru saja dia buat.

"Selamat pagi" sapa Kushina dan langsung mencium pipi kedua putranya.

.

Akhirnya setelah masakan siap lalu acara sarapan pagi keluarga Namikaze pun dimulai. Sarapan pagi mereka makan dengan cukup lahap apalagi melihat Menma dan Naruto yang sepertinya sangat menyukai apa yang dimasakkan oleh Kushina.

Hingga tak lama berselang makanan itu habis tak bersisa.

"Naruto, Menma... hari ini tou-san mau pergi ke kediaman lord Gremory dan kaa-san kalian katanya mau ke kediaman Uchiha jadi apa kalian mau ikut ?" tanya Minato sesudah mereka sarapan.

"Aku ikut ke rumah Sasuke, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan nanti" jawab Menma.

"Lalu Naru, kau mau ikut kaa-chan ?" Kushina menanyakan minat si pirang.

"Aku ikut ke kediaman Gremory saja, aku sudah berjanji pada Rias-chan waktu itu" balas Naruto.

Setelah memutuskan untuk siapa ikut dengan siapa mereka langsung bergegas dan bersiap dengan Menma ikut ke rumah Uchiha dan Naruto yang mengikuti Minato ke kediaman Gremory.

.

.

Di perjalanan Minato dan putranya menuju kediaman Gremory, saat ini keduanya sedang menaiki kereta kuda untuk sampai lebih cepat ke sana walaupun sebenarnya Minato punya sihir yang bisa membuatnya bepergian secara instan namun itu dia anggap tidak etis jika hanya digunakan untuk hal sepele seperti kunjungan seperti sekarang.

Melihat Naruto yang sepertinya senang ketika melihat pemandangan lalu lalang kota membuat Minato tersenyum simpul, "sepertinya kau sangat senang kita bisa pergi ke luar ?".

Naruto mengalihkan perhatiannya dan balik menatap Minato, "kau senang bisa pergi jalan-jalan atau senang akan bertemu gadis itu ?" tambah Minato sambil menatap jahil pada si pirang yang memiliki ciri fisik cukup mirip dengannya.

"Aku cukup senang bisa pergi keluar bersama tou-chan, tapi aku juga senang bisa menepati janji yang kubuat" ujar Naruto sambil kembali melihat kearah jendela.

"Memangnya apa janjimu ?" Minato cukup penasaran dengan yang dimaksud oleh si kecil.

"Hum..., aku berjanji akan berkunjung ke rumah Rias-chan" jawab Naruto yang masih melihat keluar jendela, "dan kata tou-chan kita sebagai lelaki harus bisa menepati janji" celetuk Naruto menambahkan.

Seringai bangga terukir di wajah Minato, sepertinya dia berhasil menanamkan rasa tanggung jawab pada Naruto sejak kecil. Apa mungkin dia juga harus mulai mengajarkan anaknya itu nilai-nilai yang lain sedari sekarang.

Minato sedikit bergeser ke arah anaknya itu lalu mengelus pelan kepala kuning Naruto, "kau ini terlalu pintar bagi anak seusiamu tapi itu justru membuat tou-san bangga padamu".

"Oh iya, Naruto apa kau menyukai Rias-chan ?" tanya Minato tiba-tiba dengan niat iseng saja namun diluar dugaan si bocah itu malah mengiyakan.

"Ya, aku suka Rias-chan !" tegas Naruto.

"Hah ?" Minato kini melongo, enteng sekali anaknya itu menjawab. Memangnya dia sudah tahu arti dari menyukai lawan jenis ?, bahkan untuk sekedar pipis ke kamar mandi saja dia masih meminta diantar oleh Kushina dan dirinya jika dalam keadaan sedang gelap.

"Kau serius menyukainya ?" Minato mencoba memastikan.

"Ya !" jawabnya singkat.

"Suka yang seperti apa ?" jiwa kebapakan Minato keluar, sungguh dia penasaran apakah anaknya ini beneran mengerti dan jika iya siapa yang mengajarinya?, apakah Kushina ?.

"Mungkin sama seperti menyukai Sasuke dan Menma, aku suka bermain dengannya dan dia sangat baik" Naruto menyampaikan apa yang ada di pikirannya mengenai Rias.

Mendengar jawaban Naruto membuat Minato bernafas lega, syukurlah ternyata otak anaknya itu belum terkontaminasi dengan hal-hal dewasa tapi jika menilik Naruto yang cepat belajar dan memahami sesuatu mungkin dia harus menjauhkan si pirang kecil dari gurunya Jiraiya nanti. Membayangkannya saja sudah mengerikan kalau semisal Jiraiya mengajarkan anaknya hal-hal yang belum sepantasnya diajarkan.

.

.

Akhirnya tak terasa mereka pun sampai di sebuah rumah megah yang di dominasi oleh warna merah tersebut.

"Ayo kita turun" ajak Minato yang diikuti oleh replika dirinya namun berukuran lebih kecil.

.

Kedua manusia berbeda ukuran itu berjalan melewati sebuah pintu besar dan mereka juga diarahkan oleh seorang pelayan pria menuju ke tempat dimana keduanya sudah ditunggu.

Naruto yang sedang berjalan si samping ayahnya itu tak henti-hentinya mengagumi ornamen-ornamen dan bentuk dari rumah tersebut. Rumahnya juga bisa dibilang besar dan banyak hiasan juga tapi melihat rumah ini seperti ada hal lain yang membuat si bocah pirang tertarik.

Kemudian setelah berjalan melewati sebuah lorong mereka sampai di depan pintu berbahan kayu berwarna putih, si pelayan mengetuk sebanyak tiga kali sebelum akhirnya membuka pintu tersebut.

"Lord Namikaze telah tiba Gremory-sama" ucap si pelayan, lalu selanjutnya Minato mengajak Naruto memasuki ruangan tersebut setelah si pelayan selesai berbicara pada majikannya.

"Selamat datang Minato-dono, dan sepertinya emmmm... Naruto-kun ? ikut" sambut seorang pria yang Naruto ketahui namanya adalah Zeoticus Gremory.

"Terima kasih atas sambutannya Zeoticus-dono, katanya Naruto sudah berjanji untuk berkunjung ke rumah Rias-chan jadi dia ingin menepati janjinya itu" balas Minato sekaligus memberikan alasan kenapa Naruto dia ajak kemari.

"Ahh... jadi Naruto-kun ingin menepati janjinya pada Rias-chan ya kebetulan sekali saat ini dia sedang bermain di taman belakang bersama anak-anak lainnya apa kau mau ke sana ?" tanya Zeoticus sambil berjalan mendekati Minato dan Naruto.

Si pirang kecil hanya menjawab dengan anggukan kepala mengiyakan tawaran Zeoticus barusan, lalu pria berambut merah itu memanggil kembali pelayan yang sebelumnya untuk mengantarkan Naruto menemui putrinya Rias.

.

.

Naruto saat ini mengikuti langkah sang pelayan yanv membawanya ke halaman belakang sementara ayahnya dan paman berambut merah tampaknya memiliki urusan penting.

Saat sampai di halaman belakang matanya langsung dikejutkan dengan pemandangan yang sedikit mengerikan, bagaimana tidak saat itu terlihat Rias sedang berdiri dan diatas kepalanya terdapat sebuah jeruk dan yang makin membuat Naruto melongo adalah dua orang anak perempuan berambut hitang yang entah siapa namanya sudah siap-siap menembakkan sihir pada Rias, mungkin lebih tepatnya pada buah jeruk yang terletak diatas kepala si perempuan merah. Naruto yang ingin menghentikan mereka sempat melirik ke arah pelayan yang mengantarnya namun justru orang tersebut sudah menghilang.

Mau tidak mau Naruto yang harus menghentikan para anak perempuan tersebut.

.

"Sona, Akeno... bagaimana kalau hukumannya diganti saja ?" rengek Rias pada kedua temannya.

"Tidak bisa, bukankah tadi kaulah yang mengusulkan hukuman itu ?" tolak si anak yang bernama Akeno.

"Terima saja hukumanmu, dan kalau kau tidak banyak bergerak mungkin tembakkan sihir kami tidak akan meleset" kini si anak berkacamata berbicara.

"Kalian tidak akan melesetkan ?" lagi-lagi Rias merengek, sungguh dia menyesali kesombongannya saat menantang kedua temannya itu dan mengajukan hukuman dan justru soalnya menimpa dirinya sendiri.

"Ini tidak akan meleset, kalaupun sedikit meleset rasanya seperti digigit semut saja" lagi-lagi Akeno mencoba menenangkan Rias yang justru sama sekali tidak membuat anak perempuan itu tenang dan malah kian panik.

"Baiklah, ayo kita beri pelajaran pada si tomat itu Akeno" ajak Sona yang sudah berkonsentrasi.

Sementara itu Rias malah makin ketakutan melihat Akeno dan Sona sudah bersiap, saat dia memejamkan mata dan bersiap jika seandainya sihir mereka meleset namun telinganya mendengar suara lain yang sepertinya dia pernah dengar.

.

"Tunggu !" Naruto berbicara dengan sedikit berteriak supaya kedua gadis itu menoleh padanya, dan benar saja mereka melirik ke arah si kecil Namikaze.

Rias membuka matanya dan alangkah terkejutnya dia melihat siapa yang menghentikan hukuman padanya, gadis kecil itu berlari ke arah si pirang yang sedang berjalan dan secara tak sadar dia mengambil jeruk yang berada di atas kepalanya lalu melemparkan jeruk tersebut, secara tak sengaja mengenai Akeno.

"Naruuuuuu tolong mereka membully ku" teriak Rias yang tengah berlari menuju si bocah Namikaze dan menyembunyikan diri di belakangnya.

.

.

"Wah wah wah, tak kusangka ternyata Rias mempunyai teman laki-laki" Akeno berjalan mendekati Rias dan Naruto diikuti oleh Sona juga.

"Naru tolong, mereka masih ingin menembakku dengan sigir" cicit Rias yang masih bersembunyi.

"Jangan mengada-ada Rias !, justru kau lah orang yang pertama mencetuskan ide tersebut" bantah Sona sambil membenarkan posisi kacamata miliknya.

"Siapa namamu ?" tanya Akeno tanpa berbasa basi terlebih dahulu.

"Perkenalkan namaku Namikaze Naruto, salam kenal" dia memperkenalkan dirinya dengan sopan sambil membungkuk.

"Ara... namaku Akeno Himejima dan jika tidak keberatan kau boleh memanggilku dengan sebutan Akeno-chan" Akeno mendekatkan wajahnya selama beberapa detik yang membuat Naruto sedikit melangkah mundur lalu.

"Perkenalkan namaku Sona Sitri, salam kenal Namikaze-san" Sona memperkenalkan dirinya dengan sopan santun.

"Ah iya salam kenal, kalian bisa memanggil dengan namaku saja".

.

.

.

.

TBC