Outlander Heroes
Disclaimer
Naruto : Masashi Kishimoto
HighSchoolDxD : Ichie Ishibumi
Genre : Fantasy, Action, Adventure
Warning : Typo bertebaran (seperti biasa), Gaje, OOC
.
.
.
Beberapa bulan terlewati, hubungan pertemanan Naruto bersama ketiga anak perempuan itu kian dekat, semakin seringnya Minato sang ayah berkunjung ke kediaman Gremory membuat Naruto juga kian sering bertemu Rias karena dirinya selalu minta diajak untuk pergi ke sana. Selain berkunjung dan bermain bersama anak-anak perempuan itu Naruto juga jadi kenal dengan kakak Rias dan Sona yakni Sirzechs dan Serafall.
"Baiklah anak-anak. Latihan hari ini kita sudahi, perkembangan kalian sudah bagus" Sirzechs menepuk tangannya untuk mengalihkan perhatian tiga anak perempuan dan satu orang bocah laki-laki yang tadi berlatih sihir.
Seorang wanita berambut coklat datang dengan dua maid di belakangnya membawa air minum beserta camilan bagi anak-anak yang baru daja berlatih ditemani Sirzechs.
Ketika semuanya sedang beristirahat Minato dan Zeoticus mendekat setelah sebelumnya membicarakan hal penting. Minato yang sudah selesai dengan urusannya mengajak Naruto pulang, namun sosok wanita bersurai coklat itu segera berdiri dan berbicara pada Minato meminta izin supaya Naruto bisa menginap. Melihat sang anak tampaknya masih ingin di sana Minato akhirnya mengizinkan dan akan menjemput anaknya itu esok hari.
.
.
"Rias, aku lelah. Bisakah kita beristirahat sebentar?" Naruto merebahkan kepalanya di meja. Bocah pirang itu sudah cukup capek karena setelah selesai berlatih si gadis muda Gremory selalu mengajaknya bermain dan melakukan banyak hal di dalam rumah. Sona dan Akeno sudah pulang tadi sore, jadilah Naruto yang meladeni Rias yang entah kenapa tiap bersamanya selalu penuh dengan energi.
"Dasar payah..." Rias berkacak pinggang tepat di samping Naruto.
"Anak-anak ini sudah malam, ini waktunya tidur Gremory kecil" Ibu dari Rias mendatangi keduanya. Ekspresi Rias tampak kecewa dan belum rela tidur sekarang. Sempat ia ingin bernegosiasi dengan ibunya supaya memberikan waktu sebentar lagi namun belum sempat berbicara, dirinya melihat senyuman maut dari sang ibu sudah cukup membuat Rias lari ngibrit ke kamar tidur meninggalkan Naruto yang keheranan.
"Ayo, kau juga harus tidur Naru."
Naruto diantar ke sebuah kamar oleh wanita tersebut. "Terima kasih, bibi Venelana" si Namikaze kecil mengucapkan terima kadih karena sudah di antar ke kamar.
Rasa nyaman setelah merebahkan diri di kasur langsung dirasakan Naruto, apalagi dirinya juga cukup capek meladeni Rias bermain serta berlatih bersama teman-teman lainnya di bawah bimbingan Sirzechs. Berlatih bersama kakak dari Rias membuat Naruto sangat bersemangat, dirinya sering mendapatkan masukan dari sulung Gremory itu apalagi yang Naruto ketahui adalah hanya Sirzechs seoranglah yang mampu bertarung seimbang dengan Kakak Sasuke yakni Itachi.
Hampir saja tertidur Naruto mendengar pintu kamar dibuka dan ada derap langkah kaki kecil masuk, si pirang yang tahu siapakah penyelinap tersebut langsung pura-pura tidur.
"Naru, kau sudah tidur?" Rias naik ke atas kasur dan melihat si pirang dengan mata terpejam. Tangan kecilnya mengguncangkan bahu Naruto agar yang bersangkutan bangun.
"Ya ampun, Rias. Ini sudah malam, apa kau ingin dimarahi paman Zeoticus dan bibi Venelana?" Naruto yang jengkel karena diganggu saat ingin tidur membuka matanya dan bangkit hingga posisi terduduk.
"Ada yang ingin kutanyakan padamu, apa artinya perjodohan?".
Pertanyaan Rias membuat Naruto berekspresi aneh, bocah laki-laki itu menghela nafas dan tak menjawab.
"Kata Sona, saat kau dijodohkan dengan seseorang berarti kau akan menikah dengan orang itu di masa depan. Apa itu benar Naru?" lanjut Rias yang membuat Naruto kembali menghela nafas. Sebenarnya si bocah pirang agak heran, jika Rias sudah tahu jawabannya dari Sona kenapa juga harus bertanya padanya.
"Jika sudah tahu jawabannya dari Sona kenapa bertanya padaku?."
"Oh, itu artinya di masa depan kita akan menikah".
Rias menepuk tangannya dan antusias, berbeda halnya dengan Naruto yang malah bengong. "Apa maksudmu?" si pirang menatap wajah Rias yang sedang cengar-cengir.
"Aku menguping pembicaraan maid, katanya kita berdua sudah di jodohkan".
"Ah begitukah?, yasudah kembali ke kamarmu kalau begitu. Aku mau tidur" Naruto yang seolah tak peduli dengan informasi bahwa dirinya dijodohkan ingin segera tidur namun Rias kembali membuat si pirang terduduk dengan menarik tangannya.
"Berjanjilah bahwa di masa depan kita memang akan menikah!" sebuah kalimat yang diucapkan Rias membuat Naruto membeku. Si bocah keturunan Namikaze dan Uzumaki itu melihat raut wajah serius dari gadis perempuan Gremory itu, bola matanya seakan bersinar meskipun penerangan di kamar cukup redup.
Tanpa sadar Naruto mengangguk, baru pertama kali dia melihat Rias yang bersungguh-sungguh. Gadis Gremory itu tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi untuk kemudian merebahkan diri di kasur.
.
Di kediaman Namikaze.
.
Menma yang jika biasanya selalu tidur bersama kakaknya, Naruto. Kini sedang berada di kamar kedua orang tuanya. Bocah kembaran Naruto itu merasa talut jika tidur sendirian, jadinya ia minta tidur di kamar Minato dan Kushina.
"Kaa-chan bisakah ceritakan lagi tentang Naga Kegelapan yang waktu itu?" Menma yang nyempil di antara duo suami istri Namikaze meminta sang ibu menceritakan sebuah lisah yang waktu itu pernah diceritakan padanya dan Naruto.
Kushina tersenyum, jemarinya yang lentik itu mengelus kepala merah putra keduanya. Dirinya mulai bercerita, sebuah legenda menyebutkan bahwa dahulu kala sebelum banyaknya kerajaan-kerajaan berdiri seperti sekarang ada sebuah kerajaan super besar dan super kuat menguasai wilayah bagian selatan benua yang sebagian wilayahnya saat ini berdiri negara dengan bersistem kerjaan bernama Outland serta mencakup beberapa bagian dari kerajaan-kerajaan tetangga.
Pada awalnya semua baik-baik saja sampai sebuah tragedi terjadi. Makhluk yang katanya hanya mitos secara tak terduga bangkit dan memporak-porandakan hampir seluruh wilayah.
Kebangkitan makhluk tersebut nyatanya hanya awal dari semuanya, aura dan kekuatannya yang luar biasa itu menarik perhatian dari monster-monster lainnya untuk datang dan bertarung. Kekacauan diantara para monster itu membuat manusia yang kekuatannya tak seberapa harus menjadi saksi betapa mengerikannya kejadian tersebut.
Pertarungan maha dahsyat itu mulai reda saat satu persatu monster yang bertarung mati karena saling membunuh dan menyisakan dua ekor saja yakni sosok naga berwarna putih dan merah. Luka-luka di tubuh keduanya menandakan seperti apa dahsyatnya pertarungan diantar dua monster legendaris tersebut yang sudah membantai makhluk lainnya. Pertarungan mereka hampir mencapai akhir hingga sebuah sinar berwarna putih dan kuning emas berhasil menghempaskan kedua naga tersebut.
Dua orang pria berdiri di antara puing-puing kota yang hancur akibat pertarungan para monster.
Si naga putih yang tadi terpental kini kembali bangkit dan sudah bisa terbang lagi sementara naga merah tampaknya kehilangan kesadaran atau mungkin bisa saja mati. Tatapan buas si naga hitam tak membuat keduanya gentar, bola energi mulai muncul di depan mocong sang naga. Mulutnya terbuka lebar sebelum kemudian tembakkan energi melesat menuju dua manusia tersebut yang juga sudah menyiapkan serangan.
.
Belum selesai Kushina bercerita, anaknya itu sudah masuk ke alam mimpi.
"Putraku ini sangat lucu saat sedang tidur" gemas dengan Menma yang terlelap Kushina mencium pipi gembil bocah bersurai merah itu.
"Oh iya, Minato. Apa kau menerima proposal perjodohan dari keluarga Hyuuga?" Kushina mengalihkan pandangannya pada Minato yang sedang berbaring di sebelah kiri sambil membaca sebuah kertas.
"Aku sudah membacanya. Tapi Hyuuga meminta untuk dijodohkan dengan Naruto, kau tahu sendiri kalau bocah pirang itu tampaknya lebih senang jika ada di lingkungan Gremory bila dibandingkan dengan Hyuuga yang lebih kaku. Zeoticus sepertinya sudah mengantisipasi ini makanya dia langsung mencoba mendekatkan Naruto dengant putrinya sedari kecil" Minato meletakkan kertas tadi lalu kemudian memiringkan posisi tubuh hingga bisa melihat ke atah Kushina.
"Sebenarnya aku tak masalah jika kita berbesan dengan Gremory ataupun Hyuuga, hanya saja kenapa hampir semua permintaan perjodohan selalu kepada Naruto?. Bukankah semua tahu jika kita punya dua putra?" Kushina meletakkan telunjuk di dagu.
"Sepertinya anak itu sudah diawasi oleh beberapa keluarga bangsawan, tentunya mereka juga telah mengetahui kemampuannya hingga hampir semua yang punya anak perempuan seumurannya atau lebih tua sedikit langsung mengajukan proposal perjodohan. Tapi ada juga beberapa juga yang mengajukan pada Menma".
Kushina mengangguk paham, memang kemampuan anak sulungnya itu cukup menyita perhatian bahkan sahabat dari Kushina sendiri mengakui jika saja Sasuke itu perempuan ia akan menjodohkannya dengan Naruto. Bisa menggunakan dua elemen sihir di usia yang masih belia dan sudah level menengah sementara anak-anak lain hanya bisa menggunakan sihir elemen dasar. Tampaknya juga kemampuan Naruto itu sedikit meredupkan pandangan orang pada Menma yang walaupun hanya bisa menggunakan elemen petir tapi dia juga bisa menguasai sihir tingkat menengah.
"Walaupun begitu kita harus memberikan perhatian yang adil bagi mereka berdua, jangan sampai salah satu dari mereka kekurangan kasih sayang" Kushina kembali tersenyum lembut dan memainkan rambut anaknya yang memiliki warna merah sepertinya.
"Huum" Minato mengangguk setuju dan ikut memperhatikan wajah sang anak.
.
Seorang pria dewasa bersurai merah panjang berjalan melewati lorong kediamannya yang mewah. Zeoticus Gremory, salah satu bangsawan itu saat ini tengah menuju kamar putrinya setelah ia tadi menemani putra sulungnya Sirzechs Gremory berbincang.
Kasur yang ada di ruangan itu tampak kosong dan masih rapi, Zeoticus menggelengkan kepala sambil terkekeh pelan. Meninggalkan segera kamar tersebut dan kini menuju sebuah pintu dan segera membukanya.
Cahaya temaram kamar serta suasana sunyi membuat di sana cocok untuk dijadikan tempat beristirahat. Derap langkah kakinya pelan saat mendekati ranjang, dua orang anak kecil berbeda gender sedang tertidur di sana.
"Dasar Gremory kecil. Sepertinya sudah tidak sabaran, kalian bisa tidur bersama saat sudah berusia 17 tahun" Zeoticus mengangkat tubuh ringan Ruas ke dalam gendongannya. Pria tersebut membawa Rias kembali ke kamarnya dan menidurkan bocah merah tersebut di sana.
Selesai mengembalikan Rias ke tempat tidurnya Zeoticus datang ke kamarnya dan sang istri untuk beristirahat. Setibanya di sana, pandangan pria itu tertuju lurus pada sesosok wanita bersurai coklat panjang yang tengah duduk sambil menyisir rambutnya.
Venelana tersenyum melihat Zeoticus yang terpaku di dekat pintu, "kemarilah anata!".
Suara Venelana seperti hipnotis bagi Zeoticus, pria itu mendekat dan berada di belakang tubuh sang istri. Aroma wangi yang menguar dari tubuh wanita itu membuat gairah Zeoticus bangkit. Sebelah tangannya mengelus pundak sang istri yang bebas tanpa ada penghalang karena jenis pakaian yang Venelana gunakan.
"Kau sangat menggoda Vene-chan" panggilan yang hanya Zeoticus gunakan ketika mereka hanya berduaan itu memberikan desiran pada diri Venelana apalagi kini sebelah tangan lain dari Zeoticus sudah menyelinap masuk ke dalam baju sang istri guna memainkan gundukan berukuran jumbo milik Venelana.
Erangan lembut lolos begitu saja dari bibir Venelana, "aku menginginkan dirimu malam ini, Anata~".
Tak tahan lagi dengan godaan Venelana, Zeoticus menggendong istrinya itu dan ia bawa ke atas kasur. Lidah keduanya langsung saling melilit satu sama lain ketika berciuman. Nafas mereka memburu kala nafsu kian membumbung tinggi dan ingin segera dilepaskan.
Gairah memburu seiring suara syahdu mengiringi dua insan yang tengah memadu kasih di atas ranjang yang berderit. Gerakan menusuk Zeoticus sukses membuat Venelana mendesah dan mengerang begitu nikmatnya.
Gempuran pria itu akhirnya sukses membuat pertahanan sang wanita jebol, Venelana sampai dibuat kejang-kejang karena pelepasannya yang begitu hebat berbarengan dengan Zeoticus yang menyemburkan benih-benihnya ke dalam rahim sang wanita.
Rasa lega yang dirasakan tubuhnya membuat Zeoticus begitu rileks, ia memeluk tubuh montok sang istri lalu kemudian mengulum puting susunya sambil beristirahat dan mengumpulkan energi sebelum nanti kembali menggauli wanita tersebut.
.
.
"Sebenarnya kita mau ke mana?" Naruto berjalan paling belakang diantara anak lainnya. Dua orang gadis perempuan yakni Akeno dan Ris sedang memimpin jalan.
Naruto memperhatikan daerah sekeliling, pohon-pohon menjulang dengan beberapa hewan liar seperti tupai dan kelinci. Kini dirinya sedang menemani Rias serta Akeno untuk mengeksplor hutan di dekat kediaman Gremory. Sedari pagi buta Rias sudah bangun dan mengajak Naruto supaya mau ikut menemaninya, Rias dan Akeno memang sudah merencanakan akan masuk ke hutan itu nah berhubung Naruto masih ada jadinya sekalian saja di ajak itung-itung jadi pengawal mereka karena secara kekuatan Naruto di atas Akeno dan Rias.
Ketiganya makin masuk ke dalam hutan, sinar matahari juga semakin minim karena lebatnya dedaunan di sana.
"Bukankah kata orang-orang di dalam hutan ini ada sebuah danau?, kita sudah masuk cukup dalam tapi belum ada tanda-tandanya" Rias sedikit mengeluh karena sudah cukup bosan hanya berjalan saja.
"Kau itu terlalu banyak mendengar perkataan orang-orang Rias, sudahlah lebih baik kita kembal dan ajak orang dewasa siapa tahu mereka hafal tempat yang ku maksud" Naruto ingin mengajak Rias kembali, daripada dia makin masuk ke dalam hutan dan tersesat karena salah jalan atau bahkan memang danau gang di maksud tak pernah ada.
"Eh... di sebelah sana terlihat terang. Mungkin saja danaunya ada di sana" Rias sumringah melihat cahaya terang di depan. Dirinya berlari bersama Akeno yang kemudian di susul oleh Naruto.
Keluar dari hutan yang rimbun dan kini ada di wilayah terang tampak pemandangan di depan bukanlah danau melainkan seperti sebuah gua dengan tinggi tiga meter dan lebar lima meter.
"Gua apa ini?" Akeno melihat bentuk dari tempat tersebut.
"Sepertinya ada sesuatu di dalam. Mau coba memeriksanya?" ide aneh-aneh kembali keluar dari Rias.
"Sebaiknya kita tidak masuk ke dalam sana Rias. Aku merasakan hawa tidak nyaman dari dalam sana" tak biasanya Naruto yang penuh rasa penasaran langsung ciut karena gua di hadapannya. Entah kenapa dia sepertinya merasakan aura jahat dari sana.
"Ara~... tumben sekali takut. Apa perlu hanya aku dan Rias saja yang masuk ke dalam?" Akeno melemparkan tatapan mengejek pada si pirang.
"Kita masuk saja. Ayo!, Akeno" Rias mengajak Akeno masuk ke dalam.
Naruto masih ragu-ragu untuk masuk, dirinya sedang bingung apakah harus ikut ke dalam atau hanya menunggu saja di luar. Aura yang Naruto rasakan sepertinya tak dirasakan oleh dua gadis itu, setelah sempat kebingungan akhirnya Naruto dengan setengah hati ikut masuk ke dalam gua tersebut mengekor di belakang Rias dan Akeno.
.
.
.
TBC
