Detective Conan Belongs to Aoyama Gosho
State of Grace
I'm walking fast through the traffic lights
Busy streets and busy lives
And all we know is touch and go
We are alone with our changing minds
We fall in love 'till it hurts or bleeds
.
Kalau Furuya Rei disuruh mendeskripsikan bagaimana Akai Shuichi, dia bingung harus memulai dari mana. Akai Shuichi itu rumit. Dia hidup dengan berlapis-lapis topeng untuk membentengi dirinya, sama seperti Furuya. Pertama kali Furuya bertemu dengannya, namanya adalah Moroboshi Dai. Lebih mudah mengatakan bahwa Moroboshi Dai adalah wajah sampul dari Organisasi Hitam, karena hitam sangat melekat dan cocok dengannya daripada Vermouth yang berpakaian serba hitam.
Rambutnya hitam panjang, perawakannya tinggi, besar, dan selalu memakai mantel hitam apapun yang terjadi. Dia juga selalu identik dengan rokok yang tidak pernah absen dari celah bibirnya. Kode namanya adalah Rye. Selama berada di organisasi, Furuya sering mendapat misi bersama dengan Akai, sehingga dia punya sedikit informasi mengenainya.
Misalnya, dia adalah sniper yang handal, sangat handal malah. Lalu, Akai juga memiliki kemampuan deduktif yang tinggi, terkadang pemikirannya teramat kritis. Kadang, Furuya takut terlalu banyak bergerak jika berada di dekat Akai. Dia takut jika Akai bisa menemukan sesuatu yang tidak lazim pada Furuya dan identitasnya sebagai NOC ketahuan. Jadi, sebenarnya Furuya ingin menjaga jarak dengan orang berbahaya seperti Akai.
Namun, Akai juga disenangi oleh organisasi, terutama Gin. Dia bisa langsung bekerja di bawah Gin meskipun dia baru masuk ke dalam organisasi. Dia melenyapkan musuhnya dengan cepat dan tanpa sisa, persis seperti kabut di pagi hari. Dia orang yang keji dan berdarah dingin, yang pastinya Furuya tidak mungkin sanggup melakukan itu.
Dan terakhir, dia bertanggung jawab atas kematian rekan kerja Furuya, Morofushi Hiromitsu. Dengan kejamnya dia memaksa Hiromitsu menembak dirinya sendiri, membuat seolah-olah Hiromitsu tidak memiliki jalan keluar lain. Yang lebih parah, Furuya terlambat menyelamatkan sahabatnya. Itu adalah kegagalan terbesar sepanjang karir kepolisian Furuya.
Jadi, berdasarkan sejarah mereka berdua, Akai Shuichi adalah pribadi yang rumit. Saking rumitnya, Furuya tidak bisa menjabarkan apa yang sebenarnya dia rasakan pada Akai. Bencikah, karena telah memojokkan Hiromitsu hingga dia membunuh dirinya sendiri? Kalau selama ini Akai adalah NOC seperti dirinya, seharusnya Akai bisa menyelamatkan Hiromitsu, mencegahnya membunuh diri dan tragedi itu tidak harus terjadi.
Apa yang dirasakan oleh Furuya terhadap Akai? Kesalkah, karena belakangan ini Akai selalu selangkah lebih awal dari Furuya, seolah-olah Furuya selalu berada di dalam genggaman tangannya? Furuya merasa seperti dipermainkan oleh agen FBI itu. Akai pernah bilang, kalau dia tidak mau bermusuhan dengan Furuya, bahwa Furuya bukanlah orang yang harus menjadi musuhnya. Dan itu juga berlaku dengan Furuya, bahwa Akai bukanlah musuh yang harusnya Furuya kejar. Bahwa dengan menyerahkan Akai, tidak akan menjadikan sebuah batu loncatan untuk sampai ke inti organisasi. Toh, saat itu Furuya juga bekerja langsung di bawah instruksi Rum.
Apa yang sebenarnya Furuya rasakan? Marahkah, karena dia tidak bisa mengenyahkan bagaimana Akai Shuichi yang berbincang intens dengan Jodie Starling, atau bagaimana gestur tubuh mereka yang tampak lebih intim dari seharusnya? Furuya tidak tahu masa lalu mereka berdua, dia juga tidak mau tahu, tapi hanya melihat mereka berdua saja membuat sesuatu di dalam perutnya bergolak. Sesuatu yang panas dan berbahaya.
Furuya menarik napas. Dia membuka matanya dan menatap lagi para petinggi PSB yang saat ini sedang berkumpul hanya untuk mendiskusikan laporan yang Furuya buat mengenai penyamarannya selama ini. Dan bagian terpenting, Siapa yang bertanggung jawab atas kematian Morofushi Hiromitsu.
Furuya memang mengembalikan paket berisi ponsel Hiromitsu yang sudah rusak kepada kakak lelakinya, meskipun tidak secara langsung. Furuya yakin detektif itu akan langsung paham. Namun, itu jelas tidak berlaku pada prosedur. Prosedur dan aturan ada untuk mengatur dan mengekang manusia. Jadi, Furuya saat ini harus mengikuti prosedur.
"Furuya Rei."
Nama itu menggaung di sepenjuru ruangan yang sepi. Hanya ada Furuya yang berdiri dengan tegap, lengkap dengan atribut polisinya dan para petinggi PSB.
Apa yang harus dia katakan? Bilang pada mereka kalau Hiromitsu bunuh diri? Kalau dia menjawab seperti itu, pertanyaan yang berikutnya keluar adalah; kenapa tidak kau cegah? Bukankah kalian menjalankan misi berdua? Kematian yang sia-sia.
Atau dia bisa bilang kalau itu adalah perbuatan Moroboshi Dai, Rye, atau siapapun namanya. Kalau Furuya menjawab seperti itu, maka pertanyaan berikutnya yang keluar adalah; kenapa FBI menghalangi penyelidikan polisi Jepang? Mereka pikir mereka siapa? Ini bahkan bukan negara mereka! Dan bisa jadi hal-hal yang tidak diinginkan lainnya akan terjadi.
Situasi belakangan ini belum begitu bagus. Meskipun Organisasi milik Karasuma Renya telah runtuh, tetapi antara FBI dan PSB masih panas. FBI beroperasi tanpa seizin kepolisian dan jelas paspor yang mereka gunakan bukanlah paspor bekerja. Banyak juga yang menggunakan paspor palsu. Sebenarnya Furuya paham karena ini adalah perang. Kau tidak tahu mana lawan dan mana kawan. Kawan bisa menjadi lawan dalam sekejab dan lawan bisa menjadi kawan.
Namun, lagi-lagi prosedur harus dijalani. Harus ada laporan dan, yang lebih penting, harus ada yang bertanggung jawab.
Furuya Rei kembali teringat wajah Hiromitsu dan kematiannya. Sampai Furuya menghembuskan napas terakhir pun, itu tidak akan pernah dia lupakan. Teman baiknya, sahabatnya, dan rekan kerjanya. Hiromitsu sudah menjadi bagian dari diri Furuya dan keluarganya. Setelah kematian Hiromitsu, Furuya praktis tidak punya siapa-siapa. Dia ditinggal sendirian lagi di dunia ini.
Sama seperti dokter Elena yang pergi menghilang begitu saja. Sama seperti teman-temannya yang satu per satu meninggal dalam tugas. Akhirnya, Furuya yang setiap tahun harus mengabsenkan diri ke kuburan masing-masing. Dia tinggal sendiri.
"Saya yang membunuh Morofushi Hiromitsu."
Jawaban itu tidak pernah diperkirakan oleh para petinggi.
"APA KATAMU?"
Meja digebrak. Bisik-bisik terdengar. Furuya masih berdiri dengan tegar ditempatnya.
Dia mengingat wajah Akai Shuichi dan dia sadar bahwa yang dia lakukan ini konyol. Akai pasti akan kembali ke Amerika, dia akan melupakan tentang Furuya, dia akan melupakan semua yang pernah terjadi di sini. Dia akan kembali bersama Jodie Starling. Furuya tidak lebih dari sekedar memori yang perlahan-lahan memudar dari otak Akai.
Namun, dia masih memiliki kekuatan untuk menutupi kenyataan. Tenang saja, tidak ada yang tahu tentang kebenarannya, bisiknya pada dirinya sendiri.
"Malam itu, ketika Hiromitsu terpojok, saya ada di sana."
"Dan kau memutuskan untuk membunuhnya? Begitu!"
"Gin juga ada di sana. Saya tidak punya pilihan selain menarik pelatuk dan membunuh Hiromitsu. Pilihannya adalah membunuh Hiromitsu atau identitas kami berdua akan segera diketahui. Saya masih harus menjalankan tugas sebagai mata-mata, jadi saya melakukan hal yang harus saya lakukan. Melaksanakan perintah Gin dan menghabisi Hiromitsu dengan tangan saya sendiri."
Kebohongan itu terucap dengan begitu lancar. Saking lancarnya, Furuya bisa percaya bahwa kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah kebenaran. Mungkin, jika Furuya dilakukan tes kebohongan pun, hasilnya akan mengatakan dia tidak berbohong.
Furuya menatap para petinggi PSB. Mereka sepertinya sibuk berunding untuk melakukan tindakan apa pada Furuya. Harus dihukum atau dibiarkan? Membunuh rekan sendiri di kondisi terjepit, hukuman apa yang pantas untuk diberikan pada Furuya?
Furuya menanti dan menanti.
.
Haro menggonggong dengan semangat. Udara dingin di Hokkaido memang berbeda dari Tokyo. Udaranya masih sangat asri dan segar. "Haro, jangan lari-lari dulu," ujar Furuya. Dia keluar dari Mazda-nya dan ikut menikmati udara Hokkaido. Di belakangnya, truk jasa pindah terparkir rapi. Dua petugasnya sedang menurunkan berbagai kardus-kardus yang berisi barang-barang Furuya. Dia menatap bangunan tua yang terlihat tidak begitu terurus.
Efek domino dari kebohongan Furuya menghasilkan; dia dipindah tugas ke Hokkaido. Furuya tidak keberatan, malah dia sedikit senang. Tokyo banyak menyimpan kenangan menyakitkan untuk diingat dan keluar dari lingkungan itu sepertinya tidak terlalu buruk. Di sini, dia bisa memulai lembaran baru dan dia tidak lagi harus membuat banyak alasan jika dia bertemu dengan orang-orang yang dia kenal.
Dia bukan lagi Bourbon, bukan lagi Amuro Tooru. Dia adalah Furuya Rei.
"Haro tunggu!" seru Furuya ketika anjing kesayangannya mulai melompat-lompat girang di rerumputan depan rumahnya. Dia mengikuti Haro yang mengibas-kibaskan ekornya dengan girang. "Dasar, padahal kau juga sudah sering main di taman."
Rumah dinasnya yang baru bukanlah berupa unit apartment, melainkan sebuah rumah satu lantai yang sudah lumayan usang. Lagi-lagi Furuya tidak keberatan. Dia sudah lumayan bosan tinggal di bangunan apartment dan juga dia bisa tahu bahwa Haro lebih bersemangat berada di sini daripada di tempat mereka yang dulu.
"Kau sudah mulai menandai tempatmu ya," kata Furuya sambil tertawa saat dia melihat Haro yang mengendus-endus tanah untuk kencing.
Setelah semua kardus diturunkan, Furuya memberikan tip pada jasa pindahan dan mereka segera pergi dari depan rumah Furuya. Furuya mengambil kunci rumah dan mulai membuka pelan pintu depan. Haro mengikutinya.
Furuya menyalakan lampu di pintu masuk dan dia menghela napas. Debu-debu memenuhi setiap jengkal lantai rumah tersebut. Penerangannya pun tidak begitu terang. Dia masuk semakin dalam tanpa membuka sepatunya. Di ruang tamu hanya ada sofa yang sudah usang, tetapi layak dipakai. Mungkin besok Furuya akan membersihkan sofa tersebut. Lalu, di dapur dia mencoba menyalakan keran air dan untungnya berfungsi dengan baik. Dia menghela napas lega. Ada dua kamar tidur di rumah itu dan satu kamar mandi. Di kedua kamar tidur tidak ada ranjang, jadi mungkin Furuya akan tidur dengan futon terlebih dahulu.
Dia menatap sekeliling dan menghela napas pendek. Sebuah senyum terukir di wajahnya. "Sepertinya kita akan bekerja keras hari ini Haro!"
Haro hanya menggonggong.
.
2 TAHUN KEMUDIAN
2 tahun berlalu sejak Organisasi Hitam diringkus dan semuanya disidang. Akai Shuichi menginjakkan kakinya lagi di Bandara Narita setelah hengkang dari Jepang selama 2 tahun. Banyak yang harus diurus setelah masalah besar itu dan karena itu dia dipanggil pulang ke Amerika. Karena panggilan itu mendadak, dia tidak sempat berpamitan dengan banyak orang, hanya keluarga Kudo. Bahkan, dia tidak sempat melihat lagi anggota PSB yang bertarung bersamanya, Furuya Rei.
Furuya menghilang bagai di telan angin sejak kasus besar itu selesai. Bahkan, bawahannya Kazami, tidak mau buka mulut dimana dia. Alhasil, Akai kembali ke Negeri Paman Sam tanpa sepatah kata terucap untuk Furuya. Dia sempat bertanya pada Kudo Shinichi, tapi detektif remaja itu juga hanya menggelengkan kepalanya.
Akai bukan orang bodoh, meskipun dia bukan lulusan Kepolisian Jepang, yang namanya prosedur dimana-mana harus dijalani. Akai punya firasat bahwa menghilangnya Furuya pasti berkaitan dengan meninggalnya Scotch. Setelah semua ini selesai, jelas para petinggi butuh laporan dan pertanggungjawaban. Dan Furuya adalah satu-satunya orang yang bisa melakukan itu.
"Shu-Nii!"
Seruan itu menyentak lamunan Akai. Dia melihat Sera Masumi yang melambai riang ditemani oleh Ibunya, Sera Mary. Akai menghela napas pelan. Padahal kemarin Ibunya seolah tidak peduli kalau dia mau ke Jepang atau tidak, tapi sekarang dia ikut menanti kedatangan Akai di Jepang. Masumi langsung melompat dan memeluk Akai dengan erat, bahkan dia mengalungkan kedua kakinya di pinggang Akai.
"Masumi, kau berat," kata Akai.
Hal itu membuat Masumi turun dan merenggut. "Bisa tidak katakan 'aku pulang', atau 'sudah lama ya tidak bertemu', daripada mengatai aku gendut?"
"Aku tidak ada bilang kau gendut."
"Tapi kau mengataiku berat. Itu sama saja."
"Transit?" tanya Mary.
Akai menggeleng. "Aku ambil pesawat langsung."
"Kulihat kau tidak memanjangkan rambutmu lagi," komentar Mary.
"Belum ada rencana."
Mary mendengus, "Baguslah. Ibu juga tidak suka melihat rambutmu kalau panjang."
Setelah sapaan yang penuh cinta itu, mereka pulang ke apartment yang dibeli oleh Mary untuk menetap di Jepang. Setelah semua yang terjadi, mereka berdua kerasan tinggal di Jepang dan Masumi akhirnya lulus dari SMA Beika.
"Mama sekarang menjadi guru bahasa Inggris," kata Masumi sambil menyetir mobil. Mary duduk di bangku depan dan Akai duduk di belakang beserta kopernya. Akai bahkan tidak tahu kalau Ibunya bisa menjadi guru. Dia tidak mau membayangkan Ibunya mengajar murid-murid.
"Kau sendiri? Kuliah dimana?" tanya Akai pada Masumi. Dia ingin mengalihkan pikirannya dari bayangan bahwa Ibunya seorang guru.
"Aku mengambil jurusan Psikologi di Universitas Tokyo," kata Masumi. "Oh ya, apa Shu-nii sudah pernah bertemu dengan calon istri Shukichi-nii? Ternyata dia polisi dari divisi lalu lintas. Yumi namanya. Ternyata dunia ini sempit ya?" Masumi terus berceloteh.
Akai tidak menanggapinya, karena jauh sebelum dia diperkenalkan dengan keluarganya, Akai sudah tahu.
"Lalu teman-temanmu yang lain bagaimana?" tanya Akai lagi.
"Sonoko mengambil Jurusan Bisnis di Singapura, Ran mengambil jurusan Hukum di Universitas Tokyo dan Kudo juga."
Akai mengangguk paham. Lalu, setelah keluar dari jalan tol, mereka memasuki Kota Beika. "Ibu mengajar dimana?" tanya Akai.
"Di SMA Swasta Tokyo," kata Masumi.
Mary lebih banyak diam. Sifat Akai sepertinya banyak turun dari Ibunya, sementara sifat kedua adiknya lebih banyak dari Ayahnya. Padahal dia dan Ibunya tidak begitu akur, apalagi sejak hilangnya Ayah mereka dan Akai memutuskan berbohong pergi ke Amerika untuk masuk kuliah, tetapi ternyata dia malah mendaftar menjadi agen FBI. Akai juga menolak mengganti marganya, karena dia merasa bahwa satu-satunya hal yang menjadi pengingat bahwa Ayahnya pernah hidup hanyalah marga yang saat ini disandangnya.
Hubungan mereka memang lumayan membaik sejak kasus besar Organisasi Hitam ditutup, tapi bukan berarti Akai jadi lebih terbuka dengan Ibunya. Sikap mereka terhadap satu sama lain masih dingin, makanya dia senang ada Masumi yang berceloteh terus.
Apartment yang dibeli oleh Mary merupakan apartment tipe sederhana. Memiliki 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi, serta ruang tamu dan dapur. Jika ditinggali hanya berdua oleh Masumi dan Mary, apartment itu tidak terlalu sempit. Namun, begitu Akai masuk, rasanya jadi terlalu sempit.
"Shu-nii bisa tidur di kamarku. Aku akan tidur dengan Mama malam ini," ujar Masumi. "Lalu, besok kita akan bertemu dengan Shukichi-nii dan Yumi-san di Stasiun Tokyo, baru kita akan ke Hokkaido bersama!" jelas Masumi semangat.
Akai jadi kembali ingat apa tujuannya datang ke Jepang. Di musim dingin seperti ini, ketika Masumi sedang libur semester, Akai di telepon oleh adiknya karena mereka mau berlibur bersama. Tidak ada hal khusus, hanya karena Masumi sedang libur semester, Mary juga, dan Shukichi yang ingin liburan bersama sambil membawa pacarnya. Karena didesak oleh Masumi dan juga Shukichi, akhirnya Akai mengambil cuti. Padahal sebenarnya dia malas sekali terbang ke Jepang ketika sedang musim liburan. Alasan pertamanya karena tiket mahal dan kedua karena di pesawat akan sangat penuh dengan keluarga yang akan liburan, artinya dia akan mendengar tangisan bayi non-stop selama di perjalanan.
Akai menaruh kopernya di kamar Masumi dan mengganti bajunya. Kamar Masumi seperti kamar siswa pada umumnya, banyaknya textbook dan tugas-tugas yang berserakan di meja belajarnya. Lalu, Masumi juga menempel To Do List di tembok kamarnya. Ada juga kalender yang tanggal hari ini dilingkari dengan tulisan: Jemput Shu-Nii di bandara. Di dinding dekat tempat tidurnya, ada foto semasa Masumi sekolah di SMA Beika, itu adalah foto karyawisata bersama Mouri Ran dan Suzuki Sonoko.
Akai merebahkan tubuhnya ke kasur Masumi dan merasakan betapa dia sangat rindu tidur di kasur tanpa kaki yang tertekuk. Setelah menghabiskan 15 jam di dalam pesawat, Akai sangat bersyukur dia bisa merasakan kembali keempukan kasur. Untuk beberapa saat, dia hanya menatap langit-langit kamar Masumi. Keheningan melandanya.
Dia tidak begitu bersahabat dengan Jepang. Banyak tragedi yang terjadi sejak dia ditugaskan di Jepang. Dimulai dari meninggalnya Scotch, si anggota PSB, kemarahan dari Furuya, lalu kegagalan menangkap Rum yang berakibat diketahuinya penyamaran Akai, lalu juga Miyano Akemi, gadis manis yang menjadi kekasih Akai yang berakhir meninggal karena Akai tidak bisa melindunginya. Dan setelah semua tragedi itu selesai, kenapa masih ada yang terasa kurang?
Kenapa dia masih merasa ada yang kosong? Semua urusannya telah selesai, semuanya sudah berakhir, tapi kenapa dia merasa tidak puas? Pada akhirnya dia bisa kembali ke Amerika, seharusnya itu sudah menjadi kepuasan sendiri, karena bagaimana pun juga Akai milik Negara Amerika.
Dia memejamkan matanya. Dia mencoba beristirahat untuk sejenak dari jetlag yang masih melandanya. Namun, ketika dia sudah mulai masuk ke alam mimpi, pintu kamarnya diketuk dan suara Masumi terdengar. "Shu-nii, ayo makan malam bersama kami."
Akai bangkit dari kasur. "Oke."
.
Furuya mengamati sekali lagi pakaian yang dikenakannya. Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan tampilannya, tapi dia memastikan sekali lagi sebelum keluar rumah. Setelah dia puas, dia mengangguk. Furuya mengambil ranselnya dan menyandangnya. Dia menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Setelah itu, dia ke ruang tamu. Haro masih setia mengikutinya.
Hari ini Furuya akan berlibur ke Gunung Hakodate. Meskipun selama 2 tahun ini Furuya ditempatkan di Hakodate, tapi pada awal-awal penempatannya Furuya sibuk sehingga dia belum sempat mengunjungi wisata yang sangat terkenal di Hokkaido, yaitu Gunung Hakodate. Jadi, ketika dia punya kesempatan, dia mengambil cuti dan akan pergi selama 3 hari 2 malam.
Dia menepuk-nepuk kepala Haro. "Himawari-san akan datang setiap pagi dan sore untuk memberimu makan. Jadilah anak baik dan jaga rumah, Oke?" kata Furuya. Haro menggonggong. Haro adalah anjing yang pintar dan tidak begitu menyusahkan. Dia penurut, meskipun terkadang sangat jahil. Ini bukan pertama kalinya Furuya harus meninggalkan Haro sendirian di dalam rumah. Beberapa kali ketika mereka masih tinggal di Tokyo, karena pekerjaannya, Furuya terpaksa meninggalkan Haro sendirian. Jadi, Haro sudah tahu perannya jika Furuya tidak pulang hari ini.
"Haro, aku berangkat."
Dan Furuya mulai melangkah keluar dari rumah dinasnya. Dia tidak membawa mobil Mazda-nya. Dia akan naik kereta sampai ke kaki Gunung Hakodate, barulah dari situ dia akan melanjutkan menggunakan bis khusus sampai ke penginapan.
Sambil menunggu kereta, Furuya memperhatikan kesibukan para warga Hakodate di bulan Desember ini. Sudah 2 tahun Furuya ditugaskan di sini menjadi seorang Inspektur Kepolisian. Sejauh ini, Furuya tidak banyak menemukan kasus-kasus rumit dan berat. Dibandingkan Tokyo, Hokkaido adalah sebuah ketenangan. Furuya baru menyadari bahwa dia sudah mendambakan kehidupan yang membosankan ini sejak lama. Tidak ada pengintaian yang memakan korban, tidak ada ketergesaan dalam menyelesaikan kasus, dan tidak ada tuntutan untuk hidup dalam lapisan topeng.
Keretanya datang dan Furuya segera menaiki kereta tersebut. Liburan kali ini akan sangat sempurna!
.
Suasana di penginapan ramai dan berhiaskan ornament Natal dan Tahun Baru. Para keluarga yang datang, para pasangan dan bahkan kelompok anak-anak muda sudah ramai di meja resepsionis. Furuya maju ke bagian resepsionis untuk check in.
"Furuya Rei," katanya.
Resepsionis perempuan itu mengangguk dan mengetik sesuatu di komputernya sebelum menghadap Furuya lagi. "Satu orang di kamar 801," katanya. Dia menyerahkan card pada Furuya dan Furuya mengambilnya.
"Terima kasih," katanya. Dia berjalan memasuki penginapan lebih jauh lagi. Banyak sekali turis domestik maupun luar negeri yang datang ke Gunung Hakodate tahun ini. Furuya berdesak-desakan dengan para turis di dalam lift dan koper-koper mereka.
Dia sedikit merindukan libur-libur seperti ini. Sayang sekali karena penginapan mereka tidak memperbolehkan hewan peliharaan, maka Furuya tidak bisa membawa Haro. Padahal, dia juga ingin anjingnya ikut jalan-jalan.
"Hanya datang sendirian?" tanya seorang wanita pada Furuya. Pertanyaan basa-basi.
Furuya tersenyum, "Iya Bu."
"Hiking?" tanya wanita itu lagi.
Furuya menggeleng. "Saya tidak suka membawa koper, apalagi hanya sendiri," jawab Furuya.
Wanita itu mengangguk. "Kadang membawa koper itu susah. Apalagi kalau masih muda sepertimu, lebih enak memakai tas gunung."
Furuya tertawa setuju.
Lalu, satu per satu tamu mulai turun di lantai kamar masing-masing. Sampai di lantai 8, Furuya turun beserta dengan tamu yang lain. Dia langsung mencari kamarnya. Setelah di depan kamarnya, dia membuka pintu menggunakan kartu akses dan ruangan hotel minimalis menyambutnya. Dia menaruh tas besarnya di dekat tempat tidur dan langsung merebahkan diri secara asal di ranjangnya.
"Ayo kita nikmati liburan ini."
.
Menaiki kereta gantung untuk sampai di Puncak Gunung Hakodate merupakan tujuan utama para turis datang berduyun-duyun ke tempat ini. Furuya sudah mengantre di stasiun kereta gantung bersama dengan orang-orang lain. Nanti, setelah kereta gantungnya datang, hanya butuh waktu 3 menit untuk sampai ke Puncak Gunung. Nah, setelah sampai di puncak barulah liburan yang sebenarnya. Furuya sudah mencatat berbagai kegiatan yang akan dia lakukan, dia sudah menyiapkan ponselnya dengam baterai penuh beserta powerbank (kalau sewaktu-waktu baterainya habis) dan dia juga sudah membuat list apa saja yang ingin dibelinya.
Dengan sabar, Furuya menunggu kereta gantung sampai suara seseorang mengejutkannya.
"Amuro-san!"
Seluruh tubuh Furuya seperti disengat listrik dan disiram air dingin. Nama itu sudah bukan lagi bagian dari diri Furuya dan sudah 2 tahun berlalu. Dia sudah meninggalkan Tokyo dan semua kenangannya. Seharusnya di kota ini tidak ada orang yang mengenal Furuya. Namun, kenapa nama itu masih diserukan?
Namun, Furuya tidak langsung menyahut atau memberikan gerakan-gerakan bahwa dia mendengar nama itu ataupun bereaksi seolah itu adalah namanya. Mungkin Amuro yang lain. Marga Amuro di Jepang cukup lazim dipakai oleh orang-orang, jadi mungkin itu hanya Amuro yang lain. Furuya menghembuskan napas. Iya, dia tidak perlu takut, panik atau pun bereaksi pada nama itu.
Dia tetap pada tempatnya sambil menunggu kereta gantung datang.
"Amuro-san!"
Suara itu lagi. Suaranya seperti Furuya kenal, tetapi Furuya tidak mau banyak berpikir. Suara dari seorang perempuan. Mungkin Amuro yang lain ini punya kenalan yang tidak sengaja bertemu di stasiun ini. Kalau Furuya tidak punya kenalan siapapun. Semua kenalannya ada di sebelah selatan Jepang, karena itu juga salah satu alasan mengapa Furuya senang dipindahkan ke Hokkaido. Dia tidak punya siapapun di sini.
Pundaknya ditepuk dan Furuya menoleh. Wajah yang tidak asing berdiri di sebelahnya. Wajah yang dia pikir tidak akan pernah ditemuinya lagi. "Amuro-san, apa kau tidak dengar dari tadi aku memanggilmu?" tanyanya.
Furuya berkedip. Wajah seorang perempuan yang keras dengan rambut hitam pendek yang acak-acakan. Senyuman miring seperti anak jahil dan gigi taring yang keluar saat tersenyum. "Sera Masumi…" kata Furuya setengah tidak mengerti.
Masumi tersenyum semakin lebar. "Ternyata benar Amuro-san! Aku pikir tadi salah orang karena kau tidak menyahut saat kupanggil!" dia berkata ceria.
Kenapa ada Sera Masumi di sini? Kenapa dia bertemu Sera Masumi di sini?
"Kebetulan sekali ya! Aku juga sedang liburan bersama keluargaku!" katanya sambil menunjuk serombongan orang dewasa yang berjalan ke arah Masumi.
Masumi ini adalah adik perempuan dari Akai Shuichi. Dia tidak mau mulai berpikir. Namun, dia tetap mengikuti arah telunjuk Masumi yang masih menunjuk.
4 orang lelaki dewasa, dua orang perempuan dan dua orang laki-laki. Seluruh tubuh Furuya rasanya seperti dihimpit beban seberat 100 ton, karena untuk sesaat dia lupa caranya bernapas, caranya berpikir, dan caranya untuk hidup.
Tidak jadi masalah siapa 3 orang lainnya, tetapi Furuya tidak bisa mengenyahkan pandangannya dari sesosok laki-laki yang paling tinggi. Dia memakai mantel hitam, celana hitam, dan semuanya serba hitam. Semakin lama mereka semakin mendekat dan Furuya bisa melihat topi rajut hitamnya, rambut ikalnya yang juga berwarna hitam, mata hijaunya serta kantung mata yang selalu hadir di bawah matanya.
Melihatnya saja membuat Furuya mengingat kembali alasan dia dipindahtugas ke Hokkaido. Alasan mengapa harus ada yang bertanggungjawab. Alasan mengapa Furuya lagi-lagi sendirian. Orang yang rumit sampai Furuya bingung cara mendeskripsikannya.
"Akai Shuichi…" katanya tanpa berpikir ketika mereka bertemu dalam jarak yang dekat.
Sudah 2 tahun lamanya mereka tidak bertemu. Setelah runtuhnya Karasuma Renya, Furuya kembali ke markas PSB dan menulis laporan ini-itu. Dia tidak pernah tahu lagi kabar dari para FBI, CIA, MI6 dan siapapun yang terlibat. Dia sibuk dengan dunianya dan dia sama sekali tidak berusaha menghubungi agen FBI ini. Tidak satu kali pun.
Apa Akai masih ingat dengannya? Atau dia sudah lupa?
"Ini Ibuku, Sera Mary, lalu Shuichi-Nii, Shukichi-Nii dan pacarnya Yumi-san," kata Masumi. Namun, kata-kata Masumi rasanya sangat jauh. Furuya tidak fokus lagi. Apakah dia merespon ucapan Masumi? Apakah dia mengangguk dan berbasa-basi dengan Mary atau dengan Yumi atau dengan Shukichi?
"Lama tidak bertemu Furuya-kun," kata Akai.
Bahkan, suara beratnya juga tidak berubah. Masih sama seperti dulu. Seperti Furuya pertama bertemu dengannya, sampai akhirnya dia berpisah dan bertemu lagi.
Furuya mengangguk kaku. Dia lupa apa yang diucapkannya setelah sapaan dari Akai karena kereta gantung sudah datang. Setidaknya, perhatian Furuya teralihkan.
Masumi terlihat sangat bersemangat ketika kereta mulai datang. Ibunya sampai menegurnya karena harus mengantre untuk ikut masuk ke dalam kereta gantung. Rupanya, mereka semua muat dalam satu kereta. Furuya sengaja mengambil tempat di ujung karena tidak mau mengganggu keluarga itu. Dia memfokuskan pada pemandangan-pemandangan yang terpampang di sepanjang jalan. Salju-salju yang menutupi atap rumah warga, pesisir pantai, dan semakin naik ke atas, kabut semakin tebal.
"Amuro-san, kau hanya datang sendiri?" tanya Masumi lagi. Rupanya dia membebaskan diri dari keluarganya dan menghampiri Furuya yang sedang asyik memotret pemandangan. Furuya tidak akan pernah terbiasa dengan nama itu, tapi dia terlalu malas untuk mengoreksi Masumi bahwa namanya bukanlah Amuro. Toh, sekarang tidak ada bedanya lagi mau dia dipanggil seperti apapun juga.
"Iya. Aku sedang ingin liburan saja," kata Furuya.
"Tapi kebetulan sekali kita bertemu di Hokkaido. Kau juga sudah merencanakan liburan ke Hokkaido?" tanya Masumi lagi.
Furuya, yang lagi-lagi malas menjelaskan situasinya, hanya mengangguk. "Soalnya aku bosan di kota-kota besar terus."
Sera Masumi banyak berubah selama 2 tahun ini. Selama Furuya kenal, anak perempuan ini selalu menampilkan wajah curiga setiap Furuya ada di dekatnya. Dia juga berusaha mengorek informasi bahwa dulu dia pernah bertemu dengan Furuya dan tentang Organisasi. Namun, sekarang dia tampak lebih santai dan tampak seperti anak remaja pada umumnya.
"Kau lanjut kuliah kemana Sera?" tanya Furuya basa-basi.
"Aku tetap di Tokyo," katanya.
"Kerasan tinggal di Jepang?"
Masumi mengangguk. "Aku juga malas pindah-pindah terus. Dan lagi, menurutku di Jepang situasinya kondusif dan teman-temanku juga di sini."
Furuya mengangguk sambil tersenyum. "Ya kalau kau sudah betah."
Kereta gantung sampai dan setelah stabil, satu per satu orang mulai turun. Masumi pamit untuk berkumpul lagi bersama keluarganya dan Furuya memutuskan untuk turun terakhir. Pertemuannya dengan keluarga Akai memang mengejutkan, tetapi dia menekankan lagi di dalam dirinya bahwa dia sudah tidak ada urusan apapun lagi dengan FBI ataupun Akai. Lagipula, dia datang ke sini untuk melepas penat, untuk berlibur.
Furuya menghirup udara pegunungan yang dingin dan sejuk. Angin musim dingin berhembus kencang, tetapi Furuya tidak gemetar. Dia merapatkan mantelnya dan berjalan bersama orang-orang lain di Puncak Gunung Hakodate. Ketika dia keluar stasiun, landscape kota Hokkaido terpampang nyata di hadapannya. Pesisir pantainya yang tidak pernah sepi, arus lautnya yang tenang dengan warna biru laut yang senada dengan langit. Lalu, perkotaan yang telah dihuni oleh Furuya selama 2 tahun ini juga terlihat sangat jelas. Bangunan-bangunan bersejarahnya, gedung-gedung perkantorannya, pencakar langitnya, semuanya terlihat jelas.
Untungnya kabut tidak turun hari ini, sehingga matahari bisa bersinar di musim dingin seperti ini. Sinar matahari seperti melengkapi komposisi lukisan indah dari atas sini. Sinar matahari seperti membanjiri setiap lekukan dan sudut dari Hokkaido, memberi napas kehidupan pada lukisan tersebut. Furuya tidak bosan berlama-lama memandangnya. Dia tidak menyesal pergi ke Gunung Hakodate.
Di belakangnya, aktivitas para turis hampir semuanya sama. Saling berfoto dengan latar belakang Hokkaido, membeli cideramata, atau sekedar mencari wisata kuliner di sini, meskipun tidak banyak. Furuya mengambil ponselnya dan mulai memotret pemandangan didepannya. Karena dia terlatih sebagai anggota PSB dan berprofesi menjadi mata-mata, dia tidak terlalu suka dipotret, tetapi dia sangat suka memotret pemandangan. Setidaknya bisa disimpan di dalam laptopnya nanti untuk kenang-kenangan.
Furuya belum beranjak dari tempatnya berdiri sampai sebuah kaleng kopi disodorkan didepannya. Furuya menoleh dan mendapati Akai-lah yang memberinya kaleng kopi. Seketika, Furuya ingat bahwa keluarga Akai juga sedang berlibur bersama di sini. Seketika dia ingat lagi, masa lalunya. Dan seketika dia lupa caranya berinteraksi.
"Kopi hangat," kata Akai memulai percakapan.
Seumur Furuya mengenalnya, di dalam organisasi maupun setelah dia kembali ke FBI, Akai tidak pernah memulai percakapan duluan, kecuali memberi instruksi atau saat memecahkan kasus. Biasanya, dia pendiam dan bisa terus mengabaikan siapapun yang ada didekatnya jika menurutnya tidak menarik. Namun, 2 tahun telah berlalu setelah Furuya tidak lagi bertemu dengannya. Mungkin, waktu 2 tahun itu mampu mengubah seseorang.
Furuya mengambilnya dengan ragu. Kalengnya masih hangat dan tangan Furuya menggenggam kaleng kopi tersebut dengan erat, mencari kehangatan. "Terima kasih," katanya sedikit canggung.
Akai berdiri di sampingnya sambil memandang kota Hokkaido. Dia belum mengatakan apapun dan Furuya masih menatap sosoknya dari samping. Sosok Akai tidak berubah sejak dahulu. Dia tetap berperawakan tinggi dengan wajah yang dingin dan rambut hitam yang pekat. Sejujurnya, penampilan Akai jauh lebih Jepang dibandingkan Furuya yang memiliki kulit tan dan rambut pirang. Furuya berani bersumpah, jika ada orang asing bertemu mereka, mungkin bisa saja mereka mengira bahwa Furuya adalah anggota FBI dan Akai adalah anggota PSB.
"Jadi kau dipindahkan ke Hokkaido?" tanya Akai membuka percakapan setelah beberapa saat diam.
Genggaman Furuya ke kaleng kopi menguat. "Apa?" tanyanya. Bukan karena dia tidak mendengar ucapan Akai, bukan juga ingin memastikan. Dia hanya refleks mengatakan hal itu.
"Kurasa kau tampak lebih nyaman di kota ini," kata Akai lagi. Dia seperti bicara sendiri, karena tatapannya masih menatap pemandangan di depannya. Mungkin kalau Furuya mengendap-endap pergi, Akai tidak akan sadar dan akan terus bicara sendiri.
Namun, respon Furuya tidak seperti itu. Dia tidak mengendap-endap pergi. Dia mendengarkan semua monolog Akai dan memalingkan wajahnya untuk melihat landscape yang sama dengan yang Akai lihat. Lalu, dia mengangguk pelan. Satu kali, tetapi menurut Akai itu sudah cukup.
"Tidak kusangka bisa bertemu keluargamu di sini," kata Furuya. "Ini bukan salah satu rencanamu yang licik kan, FBI?" tanyanya. Furuya tidak bermaksud untuk memprovokasi, tapi refleksnya setiap bertemu Akai adalah provokasi. Furuya tidak suka melihat wajah tenangnya yang seolah tidak bisa terprovokasi oleh apapun, dia tidak suka melihat Akai seperti tahu segalanya. Dia tidak suka mengingat wajah datar itu, dengan tega dan dingin mengatakan secara lugas pada Furuya bahwa dialah yang mengeksekusi Hiromitsu.
Dia ingin meruntuhkan wajah datar Akai, karena itu setiap bertemu dengannya, Furuya selalu memprovokasinya. Sialnya, malah dia yang termakan umpan sendiri. Dia yang selalu tersulut emosi setiap berhadapan dengan Akai, sehingga dia tidak bisa mengalahkan lelaki itu. Dia selalu melihatkan emosi jika berurusan dengan Akai, padahal Akai sendiri tidak menganggap Furuya penting untuk diperhatikan.
"Aku juga diseret ke sini," kata Akai. "Kau pikir tiket ke Jepang murah saat high season seperti ini?"
Furuya mengerjap. Dia tidak menyangka bahwa seorang Akai Shuichi mampu menjawab pertanyaanya dengan sarkasme. Apa yang terjadi pada Akai Shuichi yang seperti Himalaya, dingin, kaku dan tidak tertembus? Kenapa sekarang dia menjawab Furuya dengan sarkasme?
"Benar juga," ujar Furuya. Dia mengalihkan pandangannya ke kopi yang masih digenggamnya. Lalu, dia membuka tutupnya dan mulai meneguknya. Rasa pahit yang kental segera menusuk lidahnya. Hampir saja dia memuntahkan cairan kopi itu. "Pahit…" gumamnya tanpa sadar.
"Ah, terlalu keras untukmu rupanya," komentar Akai. Ternyata, Akai mendengar gumamannya. Akai juga minum kopi yang sama. Seolah ingin menyombong, dia meneguk cairan itu dua teguk dengan ekspresi datar. Furuya melihatnya tidak percaya.
"Saraf-saraf lidahmu pasti sudah mati rasa," katanya.
"Tidak juga. Aku suka kopi," ujar Akai.
"Aku juga minum kopi, tapi tidak sepahit ini."
"Ini masih batas wajar pahitnya," komentar Akai.
Furuya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku paham sekarang kenapa angka serangan jantung dan gagal jantung di Amerika paling tinggi di dunia."
Akai hanya menanggapinya dengan lalu. "Ya sudah, ayo kita cari minuman lain," ajaknya.
Furuya hampir berseru keras-keras. Apa ini? Akai mengajaknya jalan? Apa ada yang salah dengan otaknya? Namun, dia mengendalikan diri. "Bukankah kau pergi bersama keluargamu? Apa tidak aneh kalau tiba-tiba jalan bersamaku?" tanyanya.
Akai hanya menyunggingkan sebuah senyum tipis dan penuh percaya diri. "Mereka tidak butuh ditemani olehku. Lagipula, kita sudah lama tidak bertemu. Banyak yang bisa kita bicarakan."
.
Mungkin keputusan berlibur ke Jepang adalah keputusan paling benar yang pernah dibuat Akai, setelah dia memutuskan untuk masuk FBI. Dia bertemu lagi dengan Furuya Rei setelah 2 tahun tidak berkontak. Dia melihat lagi sosok Furuya, bahwa polisi itu sudah baik-baik saja sekarang dan air wajahnya jauh lebih cerah dan rileks dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Sebenarnya kopi itu hanya alasan saja. Akai tidak tahu bagaimana caranya supaya Furuya mau mengobrol bersamanya, apalagi sejak mereka bertemu di stasiun kereta gantung, Furuya tampak tidak mau terlibat dalam percakapan apapun. Dia bicara hanya karena Masumi mengajaknya bicara. Dan lagi, Furuya masih tampak seperti dulu; segan ketika bertemu dengannya, kaku ketika bicara dengannya, dan selalu memprovokasinya. Setidaknya, Akai tahu bahwa Furuya belum berubah.
5 tahun telah berlalu sejak kematian Morofushi Hiromitsu, dan 5 tahun itu pula dia tidak mengatakan apapun pada Furuya, bahkan setelah Karasuma Renya runtuh. Dia tidak berusaha meluruskan kesalahpahaman, dia tidak berusaha membela diri. Dia tetap menerima semuanya, menjadi seorang Akai Shuichi yang berhati dingin dan memaksa Scotch bunuh diri.
Mungkin semuanya akan lebih mudah bagi Akai jika dia menemui Furuya, berkata bahwa bukan dialah yang menyebabkan Scotch meninggal, tetapi Furuya yang menjadi pemicunya. Mungkin dia bisa berkata bahwa Scotch sudah tenang saat di balkon, mau bekerja sama dengan FBI sampai langkah kaki terdengar dari tangga besi. Akai lengah dan Scotch berhasil merebut pistol Akai untuk menghancurkan ponselnya.
Mungkin jika Akai bicara seperti itu, hidupnya akan lebih mudah. Dia tidak perlu menanggung dosa yang sebenarnya bukan miliknya. Dia tidak perlu menjaga jarak dengan Furuya, menerima semua kebenciannya dan selalu ditatap dengan tatapan menyalahkan dari Furuya. Iya, Akai seharusnya bisa melakukan itu semua.
Namun, bagaimana dengan Furuya?
Meskipun Akai tidak tahu bagaimana hubungan Furuya dengan Scotch, tapi dia bukan orang bodoh. Mereka berdua sangat dekat dan menempel seperti perangko terhadap amplop. Jika Akai mengatakan yang sebenarnya, bagaimana reaksi Furuya? Jika dia mengetahui bahwa karena dirinya sendiri, Scotch bunuh diri. Apa Furuya sanggup menahan beban dosa tersebut? Dengan rasa bersalahnya? Akan jadi apa kehidupan Furuya kalau dia tahu bahwa selama ini dialah pembunuh Scotch?
Akai tahu bahwa itu bukan tindakan yang benar jika Furuya tahu, makanya dia tetap memutuskan untuk memikul salib tersebut. Yang dia tidak sadar, dengan keputusannya itu dia malah masuk semakin dalam ke hidup seorang Furuya Rei. Jika Furuya tidak punya siapapun lagi di dunia ini, Akai mau menjadi seseorang yang menemani Furuya, melindunginya di balik bayangan, serta menggantikan peran sahabat Furuya.
Lagi-lagi, itu semua akhirnya dilakukan secara diam-diam tanpa satu kata pun terucap.
Mereka duduk di sebuah café yang bernuansa modern. Udara di dalam café lumayan hangat, tetapi baik Furuya dan Akai tidak membuka mantel mereka.
"Jadi, kapan mereka akan menikah?" tanya Furuya.
Akai tidak perlu bertanya siapa yang dimaksud, sudah pasti pasangan yang sedang dimabuk cinta di keluarganya. Shukichi sangat bersemangat memperkenalkan Miyamoto Yumi ke Ibunya, sampai membuat Yumi tidak enak hati dan sedikit malu atas tingkah pacarnya.
"Kau kenal dengan Miyamoto-san?" tanya Akai balik.
Furuya mendengus dalam hati. Kebiasaan Akai tidak langsung menjawab pertanyaan tidak berubah. Memangnya Furuya mau apa juga kalau memang Master Shogi menikah dengan kekasihnya? Furuya tidak ada hubungan dengan mereka berdua. Jadi, dia hanya mengangkat bahu, tanda tidak jelas antara tidak tahu atau tidak peduli. "Yang aku tahu adalah; kami dari akademi kepolisian yang sama."
Akai tidak menyentuh teh yang ada di depannya. Dia lebih tertarik dengan Furuya. Berbincang-bincang dengannya, tanpa ada rasa permusuhan, tanpa ada rasa benci, seperti dulu. Seperti sebelum Scotch terbunuh.
"Kau masih jadi bagian FBI?" tanya Furuya.
Akai mengangguk. "Tapi aku dipindahkan ke bagian BAU."
Behavioral Analysis Unit adalah salah satu Unit terkemuka di dalam FBI yang tugas utamanya membuat profil pelaku kejahatan. Furuya tidak kaget, karena dia tahu kemampuan seorang Akai Shuichi. Lagipula, dia merasa divisi BAU lebih cocok untuk Akai dibandingkan terjun ke lapangan.
"Baguslah. Kau payah dalam menyamar soalnya," ujar Furuya.
Akai tahu bahwa Furuya tidak ada maksud merendahkannya, terlihat dari caranya mengulum senyum, sinar di mata birunya dan tatapan matanya yang menyiratkan kenangan masa lalu.
Akai mendengus. "Sepertinya itu juga yang dipikirkan oleh atasanku."
Furuya tampak lebih rileks, karena dia menyenderkan punggungnya ke punggung kursi. Kaki kanannya ditumpu di atas kaki kirinya. "Meskipun kau akan sangat jarang menggunakan senapan kesayanganmu itu."
Alis Akai terangkat naik karena tertarik. "Oh, kau tahu banyak soal BAU?"
Furuya hanya menghela napas. "Kau pikir Akademi Polisi Jepang itu hanya mempelajari kasus dalam negeri? Kami banyak belajar kasus yang diselesaikan FBI selama Pendidikan."
Akai baru tahu informasi itu. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, gestur bahwa dia tertarik. "Jadi Furuya-kun, kasus apa saja yang kalian analisis?"
"Kami kebanyakan belajar psikoanalisis yang kalian terapkan. Bagaimana satu tindakan pelaku bisa menunjukan kecenderungannya, gangguan kepribadiannya dan tekanan yang dialaminya. Sayangnya, teknik seperti itu belum terlalu berkembang di Jepang."
"Teknik yang dipakai di Jepang tidak terlalu buruk juga, kau tahu," ujar Akai. "Mengurutkan urutan kejadian, alibi dan bukti-bukti fisik, itu juga standar yang dipakai di dunia."
"Tapi Akai, pendalaman psikoanalisis itu lebih menarik."
Akai selalu suka cara Furuya mengucapkan namanya. Kalau semua orang mengucapkannya dengan menggabungkan semua silabel kata, Furuya tidak. Ada jeda singkat ketika Furuya mengucapkan Aka dengan I nya. Khas Furuya sekali. Hanya Furuya yang mengatakan namanya seperti itu.
"Kau tertarik dengan materi psikoanalisis?" tanya Akai.
Furuya mengangguk. "Pada teknik wawancara kognitif yang kalian lakukan." Furuya membenarkan posisi duduknya. "Selama Pendidikan aku sempat menonton video-video FBI yang melakukan wawancara kognitif. Dan metode itu jelas jauh lebih efektif dibandingkan metode interogasi biasa. Interogasi biasa membutuhkan waktu berjam-jam jika pelaku tidak mau bekerjasama kan? Tapi dengan wawancara kognitif, kita seolah ikut menyelami isi pikirnya. Kita seperti membaca buku tentang dirinya, kepribadiannya, semuanya. Singkatnya, kita masuk ke dalam pikiran seorang pembunuh."
Akai menyimak penjelasan Furuya dengan saksama. Dia kembali diingatkan, bahwa sebenarnya Furuya itu orang yang menyenangkan unutk diajak diskusi. Jika mereka bisa melepaskan masa lalu yang merantai mereka berdua, duduk-duduk di café sambil berdiskusi seru tentang pekerjaan mereka, berapa lama pun, Akai rasanya sanggup.
Furuya menyesap tehnya setelah dia bicara. Akai menanggapinya. "Kau benar. Kami lebih memilih wawancara kognitif. Tidak hanya untuk pelaku, tapi juga untuk saksi mata. Akademi Polisi Jepang belajar sampai belajar video-video wawancara kami juga?" ia bertanya tertarik.
Barulah, disaat itu dia melihat semburat merah muda yang tipis di kedua pipi Furuya. "Sebenarnya tidak seperti itu. Aku yang suka mencari-cari bahan pelajaran baru. Dan jujur saja, aku tertarik dengan metode-metode para FBI. Kalian bekerja efisien dan tidak banyak memakan waktu."
Akai mengerjap, meskipun dia berusaha menutupinya. Namun, dia tidak bisa menyangkal bahwa dia senang mendengar seorang Furuya Rei memuji pekerjaannya seperti itu. Meskipun dia tidak bilang itu pujian untuk Akai, tapi itu sudah cukup. Ketika Furuya menangkap senyuman di wajah Akai, wajahnya mengecut dan dia tampak malu karena mengatakan hal yang memalukan seperti itu. "Itu tidak ada maksud apa-apa, Akai!" katanya dengan nada suara yang sedikit dinaikkan.
Akai menggeleng. Senyumnya belum hilang dari wajahnya. "Aku tidak berkata apa-apa. Tapi aku berterima kasih kalau kau menganggap FBI seperti itu. Itu sangat berarti."
Furuya menggerutu mendengar jawaban Akai seperti itu. "Tidak perlu berpura-pura baik didepanku." Untuk menutupi kecanggungan, Furuya meneguk tehnya lagi. Dua teguk. Barulah dia melirik kemana saja asal bukan ke Akai yang sedang duduk didepannya.
Akai mulai meneguk tehnya. Minuman itu sudah mulai mendingin. Sinar matahari sudah mulai meredup di Puncak Gunung Hakodate. Dan ketika Akai melihat jam tangannya, sudah menjelang sore. Kalau sudah sore, maka list yang harus dilakukan saat berada di Puncak Gunung Hakodate adalah pergi ke dek observasi.
"Furuya-kun," panggil Akai. Furuya menoleh lagi. "Ayo kita ke dek observasi."
.
Dek observasi sudah sangat ramai dengan para pengunjung. Kalau mereka telat sedikit saja, mereka pasti tidak dibolehkan masuk lagi ke dalam ruangan. Furuya memandang sekeliling, karena di semua pinggir kaca sudah ramai dengan orang.
"Shu-Nii, Amuro-san! Ke sini!" Furuya dan Akai menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Masumi sedang melambai ke arah mereka. Awalnya Furuya enggan mengikuti, karena dia merasa seperti ikut liburan bersama keluarga Akai, tetapi Akai menariknya mendekat karena bahunya hampir menabrak seseorang dan membawa mereka berdua ke arah Masumi. Furuya tidak bisa menolak.
Pada akhirnya, dia mengamati keseluruhan keluarga Akai. Yang paling pertama dikenalnya adalah Sera Masumi. Gadis tomboy yang terlibat langsung di dalam kehidupan penyamaran Furuya. Lalu, ada master Shogi Haneda Shukichi dan pacarnya Miyamoto Yumi. Shukichi memakai topi dan kacamata, yang menyembunyikan ketenarannya. Tangannya merangkul mesra pundak Yumi. Kalau tidak salah, Furuya sempat bertemu secara tidak sengaja dengan Yumi, di hari terakhir dia berada di Akademi Polisi. Tidak ada interaksi langsung antara mereka berdua, dan tampaknya Yumi juga tidak ingat dengan Furuya. Yang terakhir adalah seorang wanita berusia sekitar 50 tahun, badannya tinggi dengan wajah seperti orang asing serta rambut berwarna pirang.
Ibu dari Akai Shuichi, pikir Furuya.
Dia baru memperhatikan wanita itu dari dekat. Wajahnya mirip sekali dengan Masumi, tetapi dari ketiga anaknya, tidak ada yang mewarisi rambut pirangnya. Meskipun begitu, garis rahang dan ekspresi dingin dan tegasnya mirip dengan Akai. Apalagi khas keluarga mereka yaitu kantung mata yang sangat hitam. Bibirnya dipoles lipstick berwarna merah darah.
"Apa kabar," kata Furuya sambil memberi salam padanya. Dia hanya mengangguk sebagai respon dari salam Furuya. Bahkan, gestur tubuhnya pun mirip dengan Akai.
"Untung kalian berdua tidak telat," kata Masumi ringan. Furuya menanggapinya dengan tersenyum. Dia berdiri di samping Akai.
"Apa kabar Furuya Rei-san," sapa Master Shogi, Haneda Shukichi.
Furuya yakin sekali bahwa dia tidak pernah berinteraksi dengan Shukichi dan tidak pernah bertemu langsung. Namun, Shukichi menyebutnya dengan nama aslinya dan dia tahu bahwa anak kedua dari keluarga Akai ini lebih berbahaya jika dijadikan musuh.
"Selamat sore Haneda-san," kata Furuya sambil menyunggingkan senyum. "Ini pertemuan pertama kita berdua ya."
Shukichi mengangguk. "Benar," katanya, "tapi aku dengar banyak cerita dari kakakku."
Furuya mengerjap dan melirik Akai di sebelahnya. "Oh ya?" tanyanya.
Dari sampingnya, Akai menyahut pada adik laki-lakinya, "Jangan bicara yang tidak diperlukan Shukichi."
Furuya baru mendengar nada suara Akai yang seperti itu. Nada suara dari seorang kakak pada adiknya. Tidak dingin, tidak juga ramah, hanya terdengar nada galak dan teguran. Shukichi hanya menanggapi kakaknya dengan senyuman. Senyumannya ramah dan professional, seperti yang sering dilihat Furuya di televisi.
Ketika langit sudah mulai gelap, Furuya mengalihkan pandangannya ke arah kaca besar. Sunset yang ditawarkan oleh Gunung Hakodate memang sedikit berbeda dari sunset pada umumnya yang kita lihat di puncak gunung saat hiking atau di pinggir pantai. Untuk benar-benar melihat keindahannya, para penunjung harus sabar menanti selama 30 menit setelah sunset berakhir, karena disitulah garis antara siang dan malam bertemu.
Transisi antara gelapnya langit dan lampu-lampu kota yang dinyalakan seperti dunia para peri bintang. Satu per satu, dengan berbagai warna, lampu kota mulai menyala. Riak air laut yang tenang, dan kapal-kapal para nelayan yang berlabuh dengan rapi di sekitar Pelabuhan juga bisa terlihat. Furuya mulai memotret pemandangan di depannya. Hakodate lagi-lagi menawarkan keindahan untuknya. Sebuah keindahan yang tidak bisa membuatnya berpaling.
Masumi membantu Shukichi dan Yumi berfoto. Lalu, Furuya menawarkan diri untuk memfoto seluruh keluarga beserta Yumi. Ketika Akai berdampingan dengan Ibunya, Furuya merasa mereka bagaikan pinang dibelah dua, karena ekspresi mereka mirip sekali.
"Berapa lama kalian akan liburan di Hokkaido, Sera?" tanya Furuya. Mereka masih berada di dek observasi. Setelah puas berfoto, Furuya memutuskan untuk beramah-tamah dengan Masumi, sebagai satu-satunya kenalannya di keluarga Akai.
"Tidak lama. Hanya 3 hari saja. Yumi-san harus kembali kerja lagi," jawabnya. "Ah ya, Amuro-san, kau sendiri berapa lama rencana liburannya?"
"Sekitar 3 hari juga," jawabnya.
"Wah, berarti kita bisa pulang bareng ya," ujar Masumi bersemangat.
Furuya menggeleng. "Aku tinggal di Hokkaido sekarang, Sera."
Mata Sera membelalak. "Eh? Kenapa? Sejak kapan?"
"Aku mau cari suasana pekerjaan baru di sini. Sudah 2 tahun ini," jelasnya singkat.
Sera mengangguk. "Berarti kalau aku mau ke Hokkaido lagi, aku tidak perlu repot ya. Aku bisa menghubungi Amuro-san," ujarnya.
Furuya tertawa singkat. "Aku juga belum menjelajahi seluruh Hokkaido."
Mereka berbincang sebentar lagi, mengenai apa yang Masumi lakukan selama 2 tahun ini, apa saja kegiatan Masumi, bagaimana kehidupan kampusnya. Dari situ Furuya tahu bahwa Sonoko, si gadis kaya raya telah pindah ke Singapura, lalu Ran dan Shinichi melanjutkan ke Fakultas Hukum, sementara Masumi melanjutkan Pendidikan ke Fakultas Psikologi.
"Kalian masih sering bertemu?"
"Rutin? Tidak juga. Jadwalku dengan Ran dan Kudo berbeda, tapi aku sering melihat mereka di awal-awal semester. Fakultas kami punya beberapa kelas gabungan. Ah, tapi terkadang kami bertemu untuk sekedar hang out di kafe-kafe dekat Todai." Furuya mengangguk. "Bagaimana rasanya tinggal di sini? Hokkaido tidak sebesar Tokyo. Apa kau kadang merindukan Tokyo?" tanya Masumi.
"Apa kau kadang merindukan London?" Furuya bertanya balik.
Mendengar pertanyaan itu Masumi merenggut. "Kenapa aku merasa semakin lama kau semakin mirip Shu-nii. Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan."
Furuya tertawa. "Maaf, maaf," katanya. "Kadang aku merindukan kesibukan Tokyo, tapi terlepas dari itu, di sini cukup menyenangkan. Kami lebih dekat dengan warganya karena tidak sebanyak Tokyo."
"Kudengar depopulasi di Jepang semakin parah. Apakah di sini juga ada desa mati?" tanya Masumi.
"Beberapa. Tapi selama kematian tidak menunjukkan tanda-tanda kriminalitas, polisi tidak begitu dilibatkan."
"Di Tokyo sendiri tidak begitu terasa depopulasi, tapi aku sedang menyusun proyek untuk tugas semester ini mengenai depopulasi," jelas Masumi.
"Dan apa tepatnya yang ingin kau teliti mengenai depopulasi dari sudut pandang psikologis?" tanya Furuya.
Masumi menampilkan wajah yang bersemangat, seolah dia telah menantikan pertanyaan itu dari Furuya, atau siapapun. "Aku meneliti mengenai perubahan emosional para pra-remaja yang berasal dari daerah yang memiliki tingkat depopulasi tinggi. Akibat depopulasi yang terus-menerus terjadi, banyak pasangan juga memutuskan untuk tidak memiliki anak. Apa yang terjadi? Banyak sekolah yang ditutup karena mereka tidak memiliki siswa untuk diajar. Anak-anak yang terpaksa memasuki sekolah yang lebih besar dan menampung lebih banyak siswa, dengan kata lain, sekolah di kota. Perubahaan suasana sekolah, lingkungan dan lingkaran pertemanan, itu semua akan mempengaruhi emosi seorang siswa. Aku mengambil topik itu."
"Itu topik yang menarik untuk dibahas," kata Furuya. "Jadi, kau akan melakukan penelitian di mana? Ada beberapa provinsi yang sudah mengalami depopulasi."
Masumi mengangkat bahu. "Aku masih mengumpulkan beberapa topik untuk proposal. Aku sudah punya beberapa Desa dan Kota, tapi aku belum mendiskusikannya dengan dosen pembimbingku."
"Wah, kau cocok juga jadi mahasiswa antropologi."
Masumi mendengus. "Tidak. Antropologi terlalu membosankan. Psikologi membahas mengenai emosi manusia. Memang tidak sekeren para psikiater, tapi psikologi dibutuhkan untuk beberapa pekerjaan, misalnya seperti FBI."
Furuya mengangkat alisnya karena tertarik. "Sepertinya kau tertarik dengan pekerjaan kakakmu. Aku tidak yakin kau akan diizinkan semudah itu."
Masumi tertawa. "Asal kau tahu saja, Shu-Nii mendapat lemparan asbak rokok ketika bergabung dengan FBI," ujar Masumi sambil berbisik. "Jadi… begitulah."
"Kuharap kau tidak mendapat lemparan asbak rokok," kata Furuya.
"Masumi," panggil Mary. Mereka berdua menoleh.
"Ah, sepertinya kita sudah harus turun," kata Masumi. "Amuro-san, kau akan turun juga kan?" tanya Masumi. Furuya mengangguk. "Kita turun bersama saja ya. Lebih enak kalau beramai-ramai kan?"
"Tidak masalah denganku."
Ketika mereka sedang menunggu kereta gantung yang akan membawa mereka turun, Akai menghampirinya. Masumi sedang asyik melihat-lihat foto dengan Yumi dan menertawakan Shukichi yang tampaknya canggung dan kaku saat di foto. Mary di sebelah Masumi hanya ikut melihat tanpa berkomentar. Sungguh pemandangan yang aneh.
"Kau akrab dengan Masumi," kata Akai.
Furuya memutar bola matanya. "Itu disebut beramah-tamah Akai, kalau-kalau kau lupa kosa kata Jepangnya."
"Bukan itu maksudku."
Furuya menaikkan alisnya. "Ah, kau merasa posesif sebagai seorang kakak. Wah, ternyata kau punya juga sisi seperti itu ya."
Sebagai balasan, Akai hanya mendengus. Furuya hampir saja tertawa terbahak-bahak kalau dia tidak ingat dimana dia berada saat ini. Jadi, dia hanya mengulum sebuah senyum yang cukup lebar. Sebuah senyum yang mengandung rasa geli dan menarik di waktu yang bersamaan.
Kereta gantung mereka datang dan mereka masuk satu per satu ke dalam ruangan terbatas itu. Ketika Furuya akan melangkah masuk ke dalam, tanpa sengaja dia menginjak es yang belum mencari sehingga dia sedikit terpeleset. Furuya pasti langsung jatuh membentur tanah kalau tangan Akai tidak sigap melingkari pinggangnya dan menahannya jatuh atau mempermalukan diri.
"Hati-hati," katanya.
Pegangannya kokoh dan stabil. Dia menahan Furuya tanpa merasa kesusahan, padahal Furuya sendiri bukanlah pemuda kurus kerempeng. "Maaf," gumam Furuya dengan suara mencicit. Dia terlalu kaget sampai lupa caranya bernapas atau bicara. Pinggangnya panas dan dia bisa merasakan bentuk telapak tangan Akai dengan jelas meskipun tubuhnya dilapisi berbagai jenis kain.
Mereka menaiki kereta gantung yang akan membawa para turis turun ke titik awal. Kecepatan kereta konstan, tapi Furuya merasa kereta berjalan sedikit lambat. Selama di dalam perjalanan, tangan Akai tidak melepaskannya. "Aku sudah baik-baik saja," kata Furuya setengah berbisik. "Terima kasih yang tadi."
Akai mengangguk, tapi tidak melepaskannya. Furuya tidak risih, hanya saja dia terlalu malu dan merasa tidak pantas. Seluruh keluarga Akai ada di sini dan Furuya merasa seperti orang yang bermain kucing-kucingan di sini. Dia merasa takut ketahuan padahal tidak ada yang salah dengan mereka berdua.
Ketika kereta sudah sampai di titik awal, Furuya menahan dirinya untuk tidak segera berlari kabur detik itu juga. Mereka turun satu per satu dan udara malam hari di Hakodate sudah sangat menusuk kulit, meskipun mereka tidak lagi berada di puncak.
"Amuro-san," panggil Masumi, "sampai bertemu lagi ya!" dia melambai dengan bersemangat. Furuya balas melambai.
"Sampai jumpa Furuya-kun," kata Akai. Dia mulai melangkah kembali ke rombongan kelaurganya. Pinggang Furuya yang tadi disentuh, mendadak terasa kosong. Akai telah berpaling dan entah kapan lagi mereka bisa bertemu. Akai akan kembali ke dunianya dan begitu pula dengan Furuya. Satu-satunya bukti bahwa takdir mereka pernah bersinggungan hanyalah kematian Hiromitsu. Dan kini, itu semua akan tenggelam bersama memori lainnya.
Tangannya terangkat, ingin menjangkau punggung Akai, tapi pada akhirnya dia berhenti. Takdir mereka sudah tidak lagi bersinggungan. Untuk apa berusaha memaksakan hal yang tidak akan pernah terjadi. Melihat punggung Akai menjauh akan selalu menjadi takdir Furuya, tanpa dia bisa melangkah mendekat.
Namun, punggung itu berhenti. Akai berbalik. "Apa besok kau mau pergi bersama-sama?" tanyanya. Furuya masih menatapnya. Raut wajah Akai masih datar, tapi di balik tatapannya, terdapat sebuah kecanggungan dan cemas. "Tidak bersama yang lain. Hanya kau dan aku."
Pipi Furuya memanas di tengah dinginnya Gunung Hakodate. "Oke," katanya.
.
"Maaf aku terlambat," kata Furuya sambil berlari kecil menuju Akai yang sedang menunggunya. Akai sedang merokok sambil menatap ponselnya. Dia memakai kemeja hitam dibalut sweater abu-abu dan mantel hitam. Penampilannya sudah tidak bisa dilepaskan dari warna hitam, sehingga Furuya tidak bisa membayangkan Akai memakai baju berwarna selain hitam. "Apa kau sudah menunggu lama?" tanyanya.
"Tidak, aku juga baru sampai."
"Tadi aku harus mengantre lift," katanya.
"Kita berangkat?" tanya Akai. Dia memasukkan ponselnya ke saku celananya dan mematikan rokoknya. Furuya mengangguk. Mereka mulai berjalan bersama. Pertama, mereka menuju Taman Goryukaku.
Taman Goryukaku dibangun dengan desain benteng gaya barat berbentuk Bintang dan juga merupakan situs berserajah khusus. Benteng ini juga merupakan lokasi Pertempuran Terakhir Hakodate pada tahun 1868-1969. Taman ini mulai dibuka untuk umum di tahun 1910 dan untuk memperindah taman, seribu pohon Sakura ditanam sepanjang taman.
Sudah banyak pengunjung yang berjalan-jalan di sekitar taman. Hari ini salju tidak turun, sehingga langit terlihat lumayan cerah. Pohon-pohon Sakura yang ditaman sedang tidak berbunga. Jika ingin melihat keindahan dari Sakura yang bermekaran, lebih baik datang di musim semi. Namun, musim dingin pun menunjukkan pesonanya dengan cukup indah. Tempat itu luas, tapi mereka sudah bisa melihat ujung dari Goryukaku Tower.
"Wow, Ibumu? Aku tidak terkejut," kata Furuya. "Sepertinya seluruh keluargamu akhirnya menetap di Jepang." Akai baru saja menceritakan bahwa kinia seluruh keluarganya menetap di Jepang.
Akai mendengus. "Ini negara asal Ayahku," kata Akai. Mereka mengantre untuk naik ke Goryukaku Tower. Di depan mereka tampak beberapa pasangan yang juga sedang berkencan. Selain itu ada pula beberapa keluarga yang sedang pergi berlibur dan sekelompok anak muda yang sedang mengantre sambil bercanda dengan teman-temannya.
Furuya menatapnya terkejut. "Ayahmu orang Jepang?"
"Apa itu bentuk sarkasme? Jelas-jelas margaku adalah marga Jepang."
"Awalnya kupikir itu nama samaranmu. Tapi wajahmu memang terlalu oriental untuk ukuran orang Eropa."
Akai menyeringai. Mereka melangkah lebih dekat ke tempat pembayaran tiket. "Apa itu artinya kau baru saja mengakui bahwa kau sering menatap wajahku?" tanyanya.
Furuya mendengus dan memalingkan wajahnya. Pipinya terasa panas, tapi bibirnya tidak berhenti menyunggingkan senyum. "Bermimpilah terus Akai." Dia menatap Akai. "Jadi Akai nama Ayahmu. Apa Ayah dan Ibumu…"
"Bercerai?" sambung Akai karena Furuya terlalu sungkan untuk melanjutkan kalimat tanya itu. "Karena marga mereka berbeda."
Furuya mengangguk lalu berdeham. "Tidak usah di jawab. Itu terlalu privasi."
Mereka membeli 2 tiket untuk memasuki Goryokaku Tower. "900 yen per orang," kata penjaga tiket.
Akai mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan uang dua lembar 1000 yen. "Biar aku yang…" kalimat Furuya terputus ketika si penjaga tiket telah menyerahkan dua lembar tiket masuk.
"Terima kasih," kata Akai kepada si penjaga tiket. Mereka memasuki Tower.
"Tidak masalah," kata Akai. Mereka menuju lift untuk menuju ke atas. Mereka mengantre bersama orang-orang yang lain. "Orangtuaku tidak bercerai," kata Akai. Pintu lift terbuka dan mereka berdua memasuki lift. Karena orang-orang juga ikut masuk ke lift, mau tidak mau Furuya harus berdiri sangat dekat dengan Akai. Dari jarak sedekat ini, Furuya bisa mencium bau sisa rokok, kopi dan cologne yang dipakai Akai. Anehnya, dia juga bisa mendengar dan merasakan desiran jantungnya yang menderu-deru di telinga dan detak jantungnya yang menggila. Dia hanya berharap Akai tidak mendengar detak jantungnya, karena itu pasti sangat memalukan.
5 menit berlalu dan pikiran Furuya melayang kemana-mana. Dia menatap profil Akai dari samping, rahangnya yang kuat, tatapan matanya yang tajam dan penuh perhitungan dan rambutnya sehitam langit malam. Rambut pendek Akai sama cocoknya dengan rambut panjangnya. Dia memotongnya setelah kematian Miyano Akemi, perempuan yang menjadi kekasihnya selama dia berada di Organisasi Hitam. Kebetulan pula, Akemi adalah anak dari Elena dan teman masa kecil Furuya.
Dunia yang begitu sempit dan takdir yang begitu rumit.
Iris Akai bergulir dan tatapan mereka bertemu dalam satu garis lurus. Akai tidak akan pernah bosan memandang iris biru langit milik Furuya. Iris itu selalu berkilat dalam semangat positif yang terkadang tidak bisa diikutinya. Furuya adalah orang yang ramah dan mudah tersenyum. Dia orang yang memiliki 1001 ekspresi. Kini, dia berdiri dengan sangat dekat dan Akai mampu menghidu wangi citrus dan shampoo hotel yang digunakan Furuya. Rambutnya pirang dan berkibar lembut setiap ada angin yang berhembus. Akai tidak pernah menyangka bahwa wangi shampoo hotel sangat cocok dengan Furuya.
Lift berdenting dan mereka keluar satu per satu. Mereka berdua menuju pinggir kaca untuk dapat memandang Hakodate lebih jelas.
"Kami berkewarganegaraan Inggris," kata Akai melanjutkan ceritanya. "Seperti yang kau lihat, Ibuku warga asli Inggris, begitu pula dengan kakek-nenekku."
"Jadi Ayahmu pindah kewarganegaraan?" tanya Furuya.
Akai menggeleng. "Begitulah. Mereka memulai hidup di London karena pekerjaan Ibu. Tapi kami semua memakai nama keluarga Ayah dulu."
"Kenapa Ser–Masumi, marganya berbeda?"
"Setelah Ayah menghilang dan kami mengasumsikan dia telah meninggal, Ibu mengubah nama keluarga beserta Masumi. Dia berpikir itu lebih aman."
Furuya menatap Akai. "Tapi kau tidak," katanya.
Akai menggeleng. "Aku tidak."
"Kenapa?"
Akai tidak langsung menjawab. Dia memandang ke arah langit biru di musim dingin yang luas dan tidak bersudut. Langit yang tidak pernah berubah di makan oleh waktu. Tatapannya menerawang dan Furuya yakin bahwa jawaban yang diberikan Akai tidak sederhana. Dia bukanlah pria yang sederhana.
"Ketika Ayah pergi ke Jepang dan tahu bahwa dirinya mungkin tidak akan pernah pulang lagi, dia meminta kami melupakan dirinya. Seolah-olah dia tidak pernah hidup di dunia ini. Seolah-olah kami tidak pernah mengenalnya. Egois kan?" Akai menatap Furuya dan sebersit emosi kecewa serta terluka muncul di wajahnya.
"Ibu pun hanya melakukan apa yang diminta. Dia hanya berusaha melindungi keluarga. Makanya dia mengubah nama keluarganya. Menghapus keberadaan suaminya begitu saja. Dulu aku merasa dia terlalu kejam dan kaku, tapi ketika aku sudah berada di usia ini, aku tahu bahwa Ibu pun berat melakukannya. Suaminya pergi begitu saja dan kalimat terakhir yang dikatakannya adalah untuk melupakannya. Itu tidak romantis."
Furuya tidak memotong satu kata pun. Akai jarang membuka dirinya, apalagi bercerita tentang keluarganya. Mau tidak mau Furuya merasa penting dan sedikit senang karena Akai merasa dirinya pantas untuk mendengar ceritanya. Untuk mendengar semua beban yang tidak pernah dibicarakannya.
Rupanya, setiap orang pun punya masalah hidup masing-masing. Jauh sebelum Akai bertemu dengan Furuya, dia menjalani sebuah kehidupan yang lain. Kehidupan yang tidak diketahui oleh Furuya. Furuya merasa dia lebih dekat dengan Akai dengan cerita itu. Dia menjadi kenal dengan Akai yang lain, yang masih berproses mencari jati diri dan terluka.
"Saat aku memutuskan masuk FBI, aku tetap menggunakan marga Ayahku. Aku tidak mau bersembunyi seperti Ibu. Aku tidak mau melupakan Ayah. Keberadaan Ayah telah dihapus dari dunia ini dan jika aku mengganti namaku, maka tidak akan ada lagi orang yang mengingat bahwa Akai Tsutomu pernah ada di dunia. Aku ingin ketika aku menghancurkan Organisasi Hitam, mereka tahu bahwa aku adalah anak Ayahku."
"Akai…" gumam Furuya terpaku. Dia tidak tahu mau berkomentar apa. Cerita itu membuka perspektif baru mengenai Akai Shuichi. Ternyata, Akai pun tetap pernah menjalani tahun-tahun remaja dan semua keegoisan mereka. Ternyata, Akai berduka dalam caranya sendiri. Dia mengenang Ayahnya dengan caranya sendiri. Semua yang terjadi hingga saat ini adalah cara hidupnya sendiri. Dengan pelan, Furuya mengangkat tangannya dan dengan lembut mengelus punggung Akai.
Sentuhan itu lembut dan tidak memaksa. Dia menyalurkan semua rasa simpati dan pengertian yang tidak bisa diucapkan lewat kata-kata. Furuya yakin, Akai tidak butuh kata-kata penyemangat atau pujian darinya. Dia telah berhasil melewati itu semua tanpa kata-kata kosong tersebut. Yang Akai butuhkan saat ini hanyalah sebuah pengertian dan didengarkan. Dan itulah yang Furuya lakukan. Dia mendengarkan setiap cerita Akai dengan saksama. Sentuhan itu bermakna bahwa Furuya tidak kemana-mana. Dia ada di samping Akai dan siap mendengarkan semua hal yang telah dipendam lama oleh pemuda itu.
.
"Apa keluargamu tahu bahwa kau pergi denganku hari ini?" tanya Furuya sambil meminum teh hangatnya. Mereka memutuskan untuk makan siang di café terdekat di dalam Tower. Rencananya mereka akan memesan anggur, tapi akhirnya tidak jadi. Mereka memutuskan bahwa masih terlalu siang untuk mabuk, sementara mereka masih mau berkeliling sampai lelah.
Akai mengangguk. Dia memotong steak sirloin di depannya. "Aku katakan bahwa ingin menemui seorang teman. Lagipula Shukichi dan Miyamoto sudah punya rencana sendiri."
"Masumi?"
"Dia merengek minta ikut, tapi kurasa akhirnya dia dan Ibuku akan belanja di pasar pagi."
Furuya mengangguk. "Menurutmu setelah ini kita kemana?" tanyanya. "Di bulan Desember seperti ini, biasanya akan ada pertunjukan Iluminasi, hanya saja baru dibuka sore hari."
"Kurasa kita bisa kembali lagi ke sini sore," kata Akai.
"Kalau jalan-jalan tanpa arah, apa kau keberatan?" tanya Furuya.
Akai tersenyum tipis. "Ini liburan. Bahkan melihat toilet umum pun akan dianggap hiburan oleh turis."
Furuya tertawa kecil. "Benar juga."
.
Mereka turun dari Goryukaku Tower dan berjalan di sepanjang jalan besar Hakodate. Pembicaraan mereka melantur ke sana kemari, tetapi mereka berdua menikmatinya. Tidak melulu soal kasus, kadang mereka membicarakan masa lalu masing-masing, termasuk keseharian Furuya di Akademi Kepolisian.
"Jadi dulu kau murid nakal?" simpul Akai.
"Berlebihan. Kami hanya tidak suka dengan peraturan yang terlalu mengekang. Lagipula supervisor-nya terlalu galak."
"Bukankah itu tujuan Akademi Kepolisian? Supaya disiplin dalam kekangan aturan?"
Furuya mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Mungkin. Tapi menurutku aturan itu sudah sangat kuno."
"Dan kau adalah ahli dalam menyikat toilet."
"Waktu-waktu yang indah," dengus Furuya.
"Tapi aku masih penasaran bagaimana caramu bisa lulus tepat waktu ketika kau menghancurkan sebagian body mobil milik pengawasmu?" tanya Akai sambil geleng-geleng kepala.
"Disitulah kemampuan komunikasi kami pakai. Selama ada alibi yang masuk akal, kejahatan tidak bisa dibuktikan tanpa ada senjata pembunuh, saksi mata dan trik."
"Ucapanmu seperti detektif sejati."
Furuya tertawa.
Rasanya menyenangkan berjalan bersama seperti ini. Hanya membahas hal-hal kecil, saling mengenal satu sama lain lebih dalam lagi, mengenali sisi-sisi kehidupan satu sama lain yang tidak pernah diungkapkan, sampai menertawakan kekonyolan masa muda mereka. Kenapa dulu mereka tidak bisa akrab seperti ini?
Namun, mungkin itulah yang dibutuhkan oleh mereka berdua untuk saling menyembuhkan luka masing-masing. Butuh waktu lebih dari 5 tahun sampai akhirnya mereka bisa berdiri bersisian tanpa ada permusuhan ataupun keinginan untuk membunuh satu sama lain. Apa yang telah terjadi di antara mereka bukanlah hal yang dapat dilupakan begitu saja. Hingga sekarang, lukanya masih membekas dan mereka, dalam caranya masing-masing, memanggul salib tersebut seumur hidup.
Jadi, di waktu yang terbatas ini, seharusnya mereka diperbolehkan untuk berpura-pura tidak menanggung beban. Berpura-pura bahwa luka mereka telah sembuh.
Ketika langit sudah mulai berubah warna dan matahari sudah mulai tenggelam, mereka kembali ke Taman Goryukaku untuk menyaksikan Hoshi no Yume. Acara itu dimulai dari tanggal 28 November sampai dengan hari terakhir di Bulan Februari dan merupakan acara rutin setiap tahun. Sekitar 500 lampu digantung sepanjang perimeter dari benteng tersebut. Acara iluminasi ini berlangsung setiap malam dimulai pukul 5 sore hingga 8 malam. Pendaran-pendaran lampu ini akan semakin mempertegas bentuk Bintang dari benteng tersebut.
Ini adalah sebuah jalan romantis di malam hari.
Lampu-lampu telah menyala terang di sepanjang perimeter. Di musim dingin seperti ini, malam lebih cepat datang, sehingga sinar dari neon-neon itu menerangi setiap langkah para pejalan kaki. Jalan setapak di sekitar taman dan perimeter sudah banyak orang. Mereka sibuk berfoto-foto atau sekedar berjalan-jalan mengelilingi perimeter sambil menatap ratusan lampu.
"Sepertinya kita tepat waktu," kata Akai.
Furuya harus mengakui bahwa Hoshi no Yume ini benar-benar mengagumkan. Acara ini bersinar dalam ciri khasnya sendiri. Dia begitu terpana dengan kelap-kelip lampu neon. Mengingatkannya pada terangnya Tokyo di malam hari. Di Hokkaido, Furuya lebih sering melihat bintang di malam hari bersama Haro. Anjing itu pun rupanya suka melihat bintang. Furuya tidak bisa melihat bintang di langit Tokyo. Lampu-lampu terlalu mendominasi langit, sehingga sinar bintang kalah. Namun, kerlipan neon di sepanjang perimeter begitu mempesona.
Furuya tersentak ketika Akai menyelipkan tangannya dan menggenggam tangannya. Tangan Akai hangat dan Furuya merasa ada aliran listrik yang menjalari seluruh tulang punggungnya. Pipinya terasa panas dan perutnya bergolak. Dia merasakan pipinya memanas dan dengan perlahan, dia menoleh ke arah Akai, yang sedang menatapnya juga.
"Boleh?" tanya Akai setengah berbisik. Furuya mengangguk, setengah sadar apa yang terjadi. Mereka lanjut berjalan sambil bergandengan tangan.
"Apa kau pernah menyesal meninggalkan Tokyo, Furuya-kun?" tanya Akai setelah beberapa saat hening.
Furuya tidak langsung menjawab. Sera bertanya hal yang sama dengannya kemarin, tapi dia berhasil menghindari pertanyaan gadis itu. Namun, sekarang dia tidak mungkin menghindari pertanyaan dari Akai.
Apakah dia menyesal? Tokyo adalah kehidupannya beserta memori masa lalunya. Semua mendiang temannya, keseruan mereka, tawa tangis mereka, semua ada di Tokyo. Hidup Furuya ada di Tokyo dan kini dia meninggalkan itu semua dan melipir ke Hokkaido. Di sini tenang, tidak ada masalah serius, tidak ada yang mampu melukai hatinya. Dia bisa menyembuhkan diri di sini.
"Sedikit sedih karena harus meninggakkan kota sibuk seperti Tokyo, tapi hidup di sini tidak buruk. Udaranya lebih bersih, Haro juga lebih suka berjalan-jalan di sini, dan gajinya tidak terlalu kecil juga," katanya dan diakhiri candaan di belakang.
"Percayalah, gajiku juga kecil," kata Akai.
Tapi kurasa aku bisa menemukan kedamaian di sini.
"Kau sendiri bagaimana? Puas dengan divisi barumu?" tanyanya.
"Setidaknya aku masih bisa memecahkan kasus. Itu sudah cukup bagiku."
Furuya mengangguk. "Kita tidak bisa mendapatkan semua yang kita inginkan, bukan? Pada beberapa titik, semua ada batas maksimalnya. Pilih satu dan buang yang lain. Kalau semua orang mendapatkan keinginannya, tidak ada kejahatan di dunia."
"Benar."
Air danau di sekitar taman berkilauan tertimpa dengan cahaya lampu yang semakin terang, bersamaan dengan langit yang semakin gelap. Udara musim dingin berhembus, tapi itu semua tidak mampu membut Furuya menggigil. Seluruh tubuhnya panas karena Akai. Mereka berdapmpingan dan bergandengan tangan layaknya kekasih. Ini semua sudah cukup untuk memacu adrenalin Furuya dan membuat tubuhnya tetap panas.
Kenapa Akai menggenggam tangannya? Apa yang Akai rasakan terhadap Furuya? Pertanyaan itu berputar-putar tanpa bisa dijawab olehnya. Akhirnya, dia memutuskan untuk tidak memikirkannya karena dia tidak bisa berkonsentrasi pada momen ini. Apapun yang Akai rasakan, apapun yang Akai lakukan, Furuya akan membiarkannya untuk malam ini saja.
Mereka berhenti berjalan setelah cukup lama. Mereka menatap ke arah danau hitam yang memantulkan langit. Riaknya tenang, karena tidak ada arus ataupun gaya dari luar ke arah danau tersebut. Suasana di sekitar mereka menghilang, seolah mereka berdua berada di dalam dunia yang sama sekali berbeda. Seolah mereka di tarik ke dimensi lain, dimensi khusus untuk mereka berdua.
"Kapan kau akan kembali ke Amerika?" tanya Furuya. Mereka berhadapan satu sama lain dan tangan saling menggenggam.
"Besok," ujar Akai pelan. "Kami akan naik Shinkansen kembali ke Tokyo. Lalu, aku akan langsung pulang."
Pulang.
Akai mendeskripsikan 'pulang' adalah kembali ke Amerika, karena memang di situlah tempatnya kembali. Di sana kehidupannya, pekerjaannya, dan segalanya. Jepang bukanlah tanah kelahirannya atau pun rumahnya. Meskipun dia mengemban marga Jepang milik Ayahnya, dia tidak pernah menjadi bagian dari Jepang. Darah yang mengalir dalam nadi Akai berbeda dengannya.
Furuya milik Jepang. Di sinilah rumahnya. Di sinilah kehidupannya. Inilah tempatnya untuk pulang. Meskipun wajah Furuya sering disalahartikan sebagai turis, tapi darah Jepang mengalir di nadi-nadinya.
Akai memperhatikan kebimbangan yang terlintas di wajah Furuya. Dia tahu apa yang laki-laki itu pikirkan. Bahwa momen ini akan berakhir. Mereka akan terpisah ribuan kilometer dan tidak tahu kapan bisa bertemu lagi. Bahwa kehidupan mereka sangat berbeda dan pada akhirnya mereka harus kembali pada kenyataan. Namun, dia tidak mau memikirkan itu saat ini. Momen yang dibaginya bersama Furuya adalah momen berharga dan layak untuk dikenang. Biarlah apa yang terjadi besok, akan terjadi besok.
Biarlah malam ini akan menjadi fantasi mereka berdua.
Iris biru milik Furuya tampak puluhan kali lebih indah daripada biasanya. Sinar-sinar lampu terbiaskan dengan sempurna. Warnanya terserap dalam Iris-nya yang biru dan itu tampak seperti kaleidoskop dengan sejuta warna bagi Akai. Begitu menghipnotis dan dia tidak akan pernah bosan melihat iris itu bersinar terang.
Kedua tangannya terangkat untuk menyentuh kedua sisi wajah Furuya. Pipinya dingin karena seharian terkena udara dingin, tapi Akai mampu melihat semburat merah yang muncul. Sejujurnya, Akai gugup setengah mati dan cemas. Dia takut Furuya menolaknya dan pergi begitu saja. Jika itu sampai terjadi, Akai tidak akan pernah bisa sembuh dari luka yang ditimbulkan. Namun, Furuya belum bergerak atau bereaksi. Dia membiarkan Akai menyentuh kedua sisi wajahnya.
Akai mendekat secara perlahan, takut membuatnya kaget dan dia bisa melihat setiap detail dari wajah Furuya yang selama ini luput dari pengamatannya. Bulu matanya panjang dan setiap Furuya berkedip, bulu matanya bergoyang seirama. Ada sisa-sisa kantong mata di bawah matanya yang masih menghitam. Hidungnya mancung dan bibirnya tipis serta sedikit pecah-pecah karena udara dingin. Rambut pirangnya berkibar lembut setiap tertiup angin.
Akai tidak bisa melepaskan pandangannya dari bibir tipis itu. Bibir itu digunakan Furuya untuk memecahkann kasus-kasus rumit, untuk membeberkan kebenaran, lalu bibir itu juga digunakan untuk meneriakkan nama Scotch di hari kematiannya. Bibir yang sama juga digunakan untuk menyumpahi Akai dan mencaci-makinya. Bibir yang tanpa sadar, digilai oleh Akai.
Masa bodo-lah, batin Akai sebelum dia mencium bibir tipis itu.
Bibir Furuya dingin dan kering, seperti yang dibayangkannya. Untuk sesaat yang mengerikan, Akai merasa dia akan ditolak karena tidak ada respon apapun dari Furuya. Dia sudah berniat untuk menyudahi ciuman sepihak itu, sebelum Furuya membuka mulutnya dan membalas ciuman Akai. Lidah Akai masuk perlahan-lahan dan ciuman mereka semakin dalam. Furuya seolah memberi izin dengan ciuman balasan yang diberikannnya.
Akai tidak pernah bermimpi akan mencium seorang Furuya Rei, Polisi Rahasia milik Jepang. Namun, ketika bibir merek beratemu, lidah mereka saling menginvasi, Akai sadar bahwa ini ciuman terbaik yang pernah terjadi di hidupnya. Ciuman yang akan sangat dirindukannya ketika dia kembali ke Amerika nanti. Karena Akai tidak akan pernah bisa menemukan seseorang seperti Furuya lagi. Dan Akai tidak mau mencari orang lain selain Furuya.
Mungkin bisa berhasil, batinnya. Hubungan Ayah dan Ibunya berhasil. Mungkin jika dicoba, hubungan mereka juga bisa berhasil. Namun, Akai menyingkirkan pikiran itu. Memikirkan hal berat seperti itu bisa menghancurkan mood dan Furuya terlalu berharga untuk diabaikan begitu saja. Jadi, dia meresapi dalam-dalam ciuman mereka yang panjang dan basah itu.
Akhirnya, mereka melepaskan diri setelah kehabisan napas. Napas keduanya menderu dan terasa hangat di wajah satu sama lain. Wajah Furuya sudah merah total dan bibirnya basah dan sedikit bengkak. Ketika Akai menemukan kembali kesadarannya, dia bisa mendengar beberapa orang cekikikan dan barulah dia sadar ini di tempat umum. Beberapa gadis tertawa cekikikan melihat mereka berdua, ada pula yang memalingkan wajah saking malunya. Namun, Akai mengabaikan semuanya. Tidak ada yang penting kecuali reaksi Furuya.
"Kurasa kita harus pergi dari sini," ujar Furuya pelan. Akai setuju. Mereka harus pergi dari taman secepatnya sebelum penonton mereka lebih banyak lagi.
Kali ini, Furuya berjalan beberapa langkah di depan Akai. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku mantelnya. Akai tidak berani berkata apapun karena dia takut mendengar penolakan atau kemarahan Furuya, meskipun Furuya sama sekali tidak mengatakan apapun. Ketika mereka sudah berada di jalan biasa, Furuya berhenti berjalan, tapi dia belum berbalik menatap Akai.
Akai masih berusaha menunggu meskipun dia hampir mati karena kecemasan yang berlebihan. Apa Furuya akan menghajarnya karena menciumnya tiba-tiba? Apa dia akan lari begitu saja meninggalkan Akai? Dia tidak bisa membaca gerakan Furuya.
Sampai Furuya akhirnya berbalik menatap Akai dan berjalan mendekat. Kepalanya tertunduk. Akhirnya, Akai berusaha bersuara. "Furuya-kun, maaf–"
"Apa kau mau kembali ke hotel bersamaku?" tanya Furuya. Dia mendongak dan wajahnya sudah merah total. Namun, iris birunya berkilat. "Aku akan mengembalikanmu tepat sebelum keberangkatan Shinkansen," tambahnya.
Akai merasa lega hingga tidak bisa lagi tertawa mendengar lelucon itu. Dia hanya mengangguk bagai boneka rusak dan membiarkan Furuya menuntunnya.
Malam itu, dia bermalaman dengan Furuya Rei untuk pertama kalinya.
.
Lampu di dalam kamar hotel Furuya remang-remang. Dia mematikan semuanya kecuali lampu di nakas sebelah tempat tidurnya. Pemanas ruangannya menyala sehingga meskipun tanpa busana, kedua pria yang sedang tidur bersisian itu tidak mati kedinginan.
"Tadi itu… luar biasa," bisik Akai sambil menatap wajah Furuya yang sedang berbagi bantal dengannya. Furuya menatapnya lewat iris biru yang tidak akan pernah bosan dilihat oleh Akai.
"Yup," katanya setuju.
Furuya menyusuri dada tanpa busana itu dengan tangannya. Telapak tangan Furuya lembut dan sentuhannya halus. Setiap sentuhan membuat Akai serasa dialiri ribuan volt yang membuatnya kecanduan. Dia ingin Furuya terus menyentuhnya dan dia ingin terus menyentuh Furuya. Namun, mereka hanya memiliki batas hingga matahari terbit. Setelah itu, fantasi ini akan berakhir.
Akai ingin sekali menghentikan waktu, supaya mereka bisa terus seperti ini. Hanya berdua, saling bersentuhan dan tidak terpisahkan. Dia tidak ingin pergi tanpa Furuya, tapi di saat yang bersamaan dia juga ingin Furuya ikut pergi bersamanya.
Ikutlah bersamaku. Hiduplah bersamaku.
Namun, kalimat itu akan menghancurkan kesempuraan yang ada saat ini. Jadi, Akai bicara hal lain. "Aku ingin mengajakmu melihat Patung Liberty," katanya. Furuya menatapnya. Tangannya masih mengusap-usap bahu Akai dengan lembut. "Atau kita bisa berjalan-jalan di Central Park. Haro pasti akan sangat puas kalau kau mengajaknya jalan-jalan di sana."
Furuya tertawa kecil. "Paling-paling dia akan kecapekan di tengah perjalanan dan aku yang harus menggendongnya pulang. Tapi melihat Patung Liberty tidak buruk juga. Bagaimana dengan Broadway?"
"Aku bisa membawamu menonton pertunjukannya. Dengan akses FBI, mungkin bisa mendapatkan diskon."
"Jadi kau mau menyalahgunakan pekerjaanmu untuk menonton drama?"
Akai tertawa. Dia menggenggam tangan Furuya dan mengaitkan jari-jemari mereka. "Broadway bukan sekedar drama. Itu adalah Impian para bintang." Furuya menatap tautan tangan mereka berdua. Begitu pas dan terasa sempurna. Dia akan mengingat-ingat rasanya setelah fantasi ini berakhir. "Atau aku bisa membawamu ke Kantor FBI di New York. Melihat markas FBI dan Ruang Interogasi mereka. Mungkin kau bisa ikut investigasi juga."
Furuya tertawa. Impian itu benar-benar sempurna dan dia nyaris bisa membayangkannya. "Apa FBI sekarang membuka pertukaran pelajar antar negara?" tanyanya.
"Khusus untuk anggota PSB yang satu ini bisa," jawab Akai. Lalu, dia mengecup ujung hidung Furuya dengan ringan. Jutaan kupu-kupu menggila di dalam perutnya akibat tindakan manis itu. Furuya merona. "Atau kita bisa juga ke Negara Bagian yang lain. Ke LA untuk berfoto di lambang Hollywood, atau ke Florida. Kau akan menyukai liburan di sana."
"Bagaimana dengan London? Aku ingin melihat tempatmu dibesarkan," kata Furuya.
"Benar juga. Mungkin setelah itu kita harus pergi ke London. Aku akan menunjukkanmu rumahku yang dulu, lalu Menara Big Ben, Istana Buckingham. Banyak sekali tempat yang harus kita kunjungi."
Furuya mengangguk setuju.
Benar, masih banyak sekali tempat yang belum mereka kunjungi bersama. Masih banyak fantasi-fantasi yang belum menjadi kenyataan. Saat ini, mereka memang hanya bisa bersama dalam waktu yang terbatas, tapi mungkin bisa berhasil.
Orangtuamu berhasil, mungkin jika kita mau mencoba ada kemungkinan akan berhasil.
Kalimat itu tertahan di ujung lidah Furuya. Malam ini sudah sangat sempurna, jadi dia tidak boleh merusak momen ini dengan harapan atau kenyataan. Harapan akan menghancurkan manusia, sementara kenyataan akan menghancurkan fantasi indah mereka.
"Nanti," kata Furuya sambil menatap mata hijau Akai. Tatapannya penuh dengan fantasi dan janji yang tidak pasti.
"Nanti."
.
Furuya Rei menatap langit Hokkaido yang mendung. Akhirnya, sesuai dengan prakiraan cuara, salju mulai turun. "Haro, ayo masuk." Anjingnya langsung menurut dan masuk ke dalam rumah. Furuya mengunci pintu rumahnya, menutup semua jendela dan memastikan tidak ada udara luar yang bisa masuk ke dalam rumah. Barulah dia menggelar kotatsu dan menghangatkan diri bersama Haro.
Dia menyalakan televisi dan memutar sebuah film dari Netflix. Sambil menonton, Furuya menyeduh teh dan mengupas jeruk. Sungguh camilan yang pas untuk sore yang dingin. Dia sedang bebas tugas, jadi dia ingin memanfaatkan waktu liburnya untuk bermalas-malasan. Haro tertidur sambil berselimut di dalam kotatsu. Furuya juga jadi ingin tidur di dalam kotatsu.
Liburan kali ini lebih dari cukup menyenangkan. Liburan kali ini segalanya bagi Furuya, meskipun momen itu tidak abadi. Keesokan dari dimana Furuya menghabiskan malam bersama Akai, esoknya dia harus kembali pulang ke Tokyo dan kembali ke Amerika. Furuya tidak bisa mencegahnya dan dia tidak akan mencegahnya.
Sebab mereka hidup untuk negara masing-masing.
Furuya tidak tahu kapan takdir akan mempertemukannya lagi dengan Akai. Dan dia sama sekali tidak keberatan untuk menunggu.
.
SELESAI
A/N: Komentar, kritik, dan saran terbuka tanpa syarat dan ketentuan
Salam,
Sigung-chan
