"Berbicara..."
'Batin...'
"Jutsu/Jurus"
"Iblis/Monster..."
[Sacred Gear...]
Warn : Hati-hati, sakit mata.
"Hanya itu yang bisa saya sampaikan pada kalian, ingatlah untuk menjaga kesehatan kalian semua."
Berbicara seorang guru yang sedang menghadap pada sekumpulan remaja dengan baju olahraga hitamnya; Naruto.
"Hai Sensei!" Jawaban serempak terdengar dari para muridnya ditengah kelelahan yang mereka dera.
"Ah, dan ingatlah jika minggu depan kita mempunyai jadwal lomba olahraga bulanan." Naruto memberitahu ketika dia mengingat hal yang hampir terlewatkan, "jadi kusarankan sekarang mulailah membuat daftar anggota yang ingin kalian semua ikut sertakan dalam lomba."
Mendengar "Hai" kolektif dari para muridnya, segera dia menyuruh mereka untuk membubarkan diri untuk berganti pakaian dan beristirahat untuk memulihkan tenaga yang telah terkuras.
...
Bunyi derap langkahnya memenuhi lorong dimana dia berjalan menuju ruang guru. Sesampainya dia disana dia mendapati ruang yang diisi dengan belasan meja dan kursi yang disusun rapi sedemikian rupa agar menghemat ruang, beserta tumpukan kertas diatasnya, yang sayangnya dari sekian banyak kursi kosong tersebut hanya satu orang yang mengisinya; seorang pria kisaran umur akhir 50-an dengan rambutnya yang telah memutih dibanyak bagian, dan beberapa keriput yang menghiasi permukaan wajahnya.
"Selamat siang, Minatsuka-sensei."
Sapaan tak lupa terucap dari bibirnya.
"Ah~ siang untukmu juga, Uzumaki-sensei." Balasan dari orang tua yang dikenal sebagai MinatsukaーOohaba Minatsuka lebih lengkapnya, suaranya yang agak bergetar mencerminkan usianya.
"Kuharap hari baik selalu bersamamu, Sensei." Ucapan disertai senyum tua tersebut dibalas ringisan oleh Naruto, mengingat peristiwa yang menimpanya dipagi hari, "atau mungkin tidak untuk hari ini?"
Terkekeh malu untuk menyembunyikan kejadian yang tidak mungkin diterima oleh manusia awam, dia menjawab. "Yahh begitulah, hanya masalah yang agak membuatku tidak nyaman untuk sementara ini."
Minatsuka mengangkat alisnya bingung, "hoo? Apakah itu tentang perempuan?" Kedutan terlintas dibibir Naruto, dan sayangnya itu tidak terlewatkan oleh mata tua lelaki tersebut. "Heheh, kusarankan agar kau segera menyelesaikan itu secepatnya. Asal kau tahu, aku tidak akan berani membuat seorang wanita marah padaku, kau tidak tau betapa menyeramkannya mereka ketika marah."
Meringis ketika mendengarnya yang membuat Naruto teringat bagaimana ketika Sakura dan Tsunade dulu sering memukulnya ketika dia melakukan hal konyol.
"Yah, meskipun masalahnya agak berbeda dari yang Anda bayangkan, tapi akan kuingat itu."
"Heheh, Anda masih muda, jadikan itu bagian dari pengalamanmu untuk kedepannya." Senyum lembut mekar diwajah tua tersebut, yang dibalas oleh Naruto dengan senyumnya sendiri.
Terkadang Naruto selalu berbicara mengenai hari-hari biasanya yang dia jalani dengan Minatsuka, betapa lelaki tua itu mengingatkannya akan kehadiran Hokage-jiji-nya bersama suasana tenang yang selalu dia tampilkan, terkadang dengan beberapa kebijaksanaan yang dimilikinya.
Skip...
"Hoahm."
Menguap malas, Naruto berjalan keluar dari halaman utama sekolah menuju rumahnya.
"Hm?"
Sesampainya di gerbang sekolah langkahnya terhenti lantaran melihat sesuatu, atau lebih tepatnya seekor kucing hitam tepat disamping gerbang, sedang duduk dengan mata seakan mengamati tiap orang yang lewat. Kucing hitam itu adalah jelmaan dari seseorang yang telah mengacaukan paginya. Sepertinya kucing tersebut atau yang telah dia beri nama sebagai Kuro; nama dalam bentuk kucingnya, sedang menunggunya. Hanya saja dia terlihat garang ketika beberapa siswi lewat yang menganggapnya lucu dan tergoda untuk memberikan sebuah belaian pada bulu hitamnya, harus segera menjauh ketika mendapati cakar yang siap melukai mereka.
Berjalan semakin dekat dan tatapan mereka bertemu. "Yo! menungguku?"
Tanpa jawaban Kuro melenggang mendekatinya dan ketika sampai pada jangkauan, segera dia melompat dan melingkarkan badannya pada bahu si pirang.
"Enak sekali hidupmu." Si pirang yang menjadi tempat peristirahatan mencibir, "ouch, sialan!" Segera umpatan pelan terucap ketika mendapati goresan dipipinya akibat dari kuku kucing tersebut.
Mengabaikan gerutuan tersebut, Kuro kembali membuat posisi yang dikiranya nyaman untuknya dan segera memejamkan mata menikmati singgasananya. Mendapatkan tanda centang yang segera bertengger di kepala Naruto.
'Kenapa harus ada bola bulu kedua disini!'
"Apa lagi monyet! Jangan samakan aku dengan kucing kecil itu, kau bajingan!" Suara kemarahan menggelegar dikepalanya; itu Kurama. Ketika mendapati dirinya menjadi sasaran oleh tuan rumahnya.
Memutar matanya ketika mendengar rubah yang selalu mengoceh tentang harga dirinya, dia membalas. 'Yayaya terserah dirimu tuan rubah yang perkasa.'
"Hmp! Kau bajingan kecil."
Dan percakapan terputus...
...
Perjalanan pulang yang relatif damai dengan ramainya pejalan kaki berlalu lalang membuat senyuman kecil muncul diwajah Naruto, berpikir betapa beruntungnya mereka merasakan apa yang jarang bisa dirasakan oleh orang-orang rumahnya.
Keadaan damai yang diimpikan oleh beberapa orang yang mencarinya, meski dia berharap ini adalah kedamaian dalam arti yang sesungguhnya, tanpa ada kegelapan yang bergerak dibelakangnya. Tapi dia tahu, bahwa setiap cahaya pasti memiliki kegelapan, sama dengan sekarang. Bahkan jika perdamaian sejati pernah menjadi tujuan utamanya, dia tahu pasti akan ada hal-hal kecil yang akan mengganggu perdamaian tersebut.
Dia tidak naif, atau mungkin masih naif dalam beberapa hal, tapi dia sadar saat semakin bertambahnya usianya bahwa tidak akan ada perdamaian sejati. Itu hanya impian konyol yang ditanamkan oleh Pervy Sage kepadanya.
Dalam beberapa hal, dia mungkin akan membenarkan beberapa tindakan yang diambil beberapa musuh besarnya di masa lalu.
Sulit membuat manusia mengerti satu sama lain, akan ada perpecahan sekecil apapun itu, yang akan menimbulkan konsekuensi entah itu kecil ataupun besar di masa mendatang. Tidak bisa menyalahkan mereka, karena walau bagaimanapun, itu adalah beberapa sifat emosi yang mendasarinya.
"A-ano..."
Renungannya pecah ketika mendengar suara mencicit, melengokkan kepalanya ke kiri, dia bisa melihat seorang gadis kecil sedang menatapnya dengan mata besar, mata yang memancarkan kebingungan dan ketakutan.
"Ya? Ada yang bisa kubantu Ojou-chan?"
Dia melihat baik-baik gadis tersebut, tinggi yang mencapai atas perutnya, usia berkisar di umur 10-11 tahun, rambut hitam panjang yang dikepang menjadi twintail, dengan mata yang senada dengan warna rambutnya, wajah bulat dengan poni rata serta helaian yang jatuh di masing-masing wajahnya, pipi yang bulat memancarkan rona merah. Pakaian yang terdiri dari blush putih dengan terusan rok sewarna dengan rambutnya yang menutupi kakinya hingga ke lutut. Oh, itu manis...
"Lihat apa yang kita temukan, seorang Pedophile disini..."
Tanda centang muncul ketika suara berat yang berasal dari kepalanya berbicara.
'Diam kau rubah bodoh!'
"A-apa anda bisa membantuku mencari Okaa-san, Oji-san?"
"BWAHAHAHAHAHA..."
Warna meninggalkan kulit Naruto ketika mendengar panggilan yang disebutkan dari gadis kecil tersebut. 'Apakah aku terlihat setua itu?' Mengabaikan suara tawa dikepalanya, ratapan hatinya yang terdengar hanya menegaskan betapa berpengaruhnya hal tersebut padanya.
"Yah, itu tidak salah meski wajahmu tidak menua sebanyak itu, tapi umurmu tidak bisa bohong." Tanda kerutannya menebal mendengar komentar tersebut.
'Bisakah kau diam untuk sementara, bola bulu sialan!?'
"..."
Menarik nafas lalu menghembuskannya sekedar untuk menenangkan diri, dia berjongkok menyamakan tingginya dengan gadis tersebut, dan dengan senyum lembut berkata, "bisa beritahu aku siapa namamu, Ojou-chan? Dan nama Ibumu? Itu untuk agar lebih mudah menemukannya nanti. Oh, dan untuk namaku, Naruto Uzumaki."
"U-um, maafkan aku. Namaku Hisana, Hisana Koyama, dan Ibuku Mayumi Koyama, Oji-san." Sambil membungkuk gadis tersebut memperkenalkan dirinya.
"Urg..."
Mendengar gumaman kecil itu gadis tersebut atau yang sekarang dikenal sebagai Hisana mengangkat kepalanya, "Oji-san? Ada apa?"
Melihat Hisana yang bermata besar dengan kepala dimiringkan ketika bertanya, membuat sesuatu didalam diri Naruto bergemuruh seakan berteriak untuk melindungi hal tersebut selamanya.
"Khekhekhe..."
Suara tawa berat menyadarkannya dari fantasi sesaatnya. Masih tersenyum dia menjawab, "tidak, tidak apa-apa. Hanya mengingat hal kecil."
"Jadi darimana arah kamu datang bersama ibumu? Dan bagaimana kau bisa terpisah dengannya?"
Mengaitkan kedua tangannya kebelakang punggung serta menundukan kepalanya, Hisana menjawab, "U-um, kami akan masuk ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa bahan makanan untuk nanti malam, t-tapi karena banyak orang aku terpisah dari tangan Ibu." Menggoyangkan badannya pelan, dia melanjutkan, "ibu bilang aku tidak boleh berbicara dengan orang asing, tapi aku bingung bagaimana menemukannya jika aku tidak melakukannya, jadi aku memberanikan diri bertanya dengan Oji-san, karena Oji-san terlihat seperti orang baik."
Matanya berkaca-kaca ketika mengatakan itu, Naruto yang tidak tahan meletakkan tasnya dan menepuk pelan kepala gadis kecil tersebut dengan tangan tunggalnya.
"Yosh yosh, kamu sudah berusaha Koyama-chan. Dan juga, bukankah kamu gadis yang pemberani." Berdiri tegak, Naruto segera memungut tasnya dan segera mengulurkannya kepada gadis tersebut, "aku akan membantumu menemukan Ibumu. Jadi bisa kau pegang lenganku agar aku tidak kehilanganmu ditengah pencarian kita nanti?"
Gadis tersebut menatapnya bingung, dan seakan mengerti kebingungan gadis tersebut, Narut memaksakan senyum malu, "A-ah, aku hanya mempunyai satu tangan, Koyama-chan."
Kesadaran terlintas diwajah gadis kecil tersebut ketika melihat lengan sebelah kanannya berkibar sebatas siku, menandakan tiada lengan bawah yang menghuninya. "A-Aku minta maaf, Oji-san."
"Meh, tidak perlu dipikirkan." Senyumannya melembut. Sejujurnya itu mengejutkan bagi Naruto, untuk seorang gadis sekecil itu mempunyai tindak tanduk yang sangat sopan membuktikan betapa bagusnya didikan yang diterimanya.
"Jadi? Kita berangkat?"
"U-um..." Anggukan pelan menyusul dengan tangan mungil yang mencengkeram lengan bajunya.
...
Setelah sekitar satu jam berkeliling, dan menemukan kebuntuan, Naruto memutuskan untuk mencari pos Polisi terdekat untuk menanyakan keberadaan Ibu dari gadis kecil yang berkeliling mencari bersamanya. Dan betapa beruntungnya dia menemukan pos yang dekat dengan Pusat perbelanjaan tersebut dan menemukan bahwa seorang wanita yang diduga Ibu Hisana; jika dilihat dari seberapa identiknya Hisana dengan wanita tersebut, yang berdiri cemas seakan menunggu sesuatu, sambil beberapa kali berbicara dengan polisi yang menjaga pos tersebut.
Saat pandangan Hisana terarah pada wanita tersebut, dia segera berlari menuju wanita tersebut dengan air mata membasahi wajah mungilnya, hal yang sama juga dilakukan wanita tersebut ketika melihat putrinya berlari kearahnya.
Beberapa menit dihabiskan dengan penjelasan diberikan kepada Polisi dan Ibunya, yang mendengarkan sambil memeluk putrinya seakan takut jika melepaskannya sedetikpun dia akan kehilangannya lagi. Tak lama berselang dia berpamitan untuk pergi, tak lupa dengan senyuman syukur terima kasih yang diberikan Ibu tersebut kepadanya.
Dia merasa berputar tanpa henti, keadaan menyakitkan ditambah dengan beberapa luka yang dialaminya.
Sialan, tangan kanannya yang telah disembuhkan sedikit hanya untuk menghentikan pendarahannya terbuka kembali.
Matanya terasa sangat perih dan terbakar...
"Ini akibat dari kebodohanmu lagi, kit." Kurama, atau biasa dikenal oleh banyak orang sebagai Kyuubi, membentak didalam kepalanya, "sudah kubilang untuk menenangkan pikiranmu, tapi kau tidak mendengarkan." Geraman kasarnya semakin terdengar, "dan lihat apa yang terjadi, kita tidak tahu berada dimana. Kita benar-benar terkurung dalam kegelapan."
'Ghh, lalu bagaimana aku bisa tenang?! Aku membunuh saudaraku! Aku membunuh Sasuke!' Naruto membentak balik. 'Aku hanya berniat menepati janjiku kepada Itachi untuk membawa Sasuke kembali, tidak peduli bahkan jika aku harus mematahkan beberapa tulang di tubuhnya!'
'Tapi apa yang kulakukan? Aku membunuhnya, Kurama' dia terisak pelan, meski perih di matanya bertambah parah diakibatkan dengan beberapa luapan bening air matanya yang bercampur dengan sedikit darah.
Keheningan menghuni didalam pikiran Naruto, untuk sesaat pikiran konyolnya berkelebat pada keadaan tidur bola bulu. Sayangnya hal tersebut harus dia buang jauh-jauh ketika mendengar gemuruh yang diasumsikan sebagai pengambilan posisi yang lebih nyaman sebagaimana bisanya rubah tersebut bertindak.
"Dengarkan aku, nak." Kurama memulai, "saudara Uchiha-mu itu mati dengan keinginannya sendiri, kau tidak membunuhnya." Tegasnya.
'T-tapi...'
"KUBILANG! Dengarkan aku!" Banyaknya amarah yang tertahan terlihat dari seberapa banyak geraman yang terlibat dalam suaranya, "jujur saja, aku tidak peduli jika Uchiha itu hidup atau mati, itu juga bukan urusanku..."
'L-lalu...'
"TAPI!" Geraman yang dari tadi menyertai disetiap ucapannya perlahan mulai surut. "Aku juga tidak akan buta dengan harapan yang dipancarkan oleh mata yang sekarang kau miliki," suara hembusan nafas panjang menggema dikepalanya. "Jangan lupa dengan kemampuan penginderaan emosi yang kau dan aku bagikan Naruto. Meski saat itu pikiranmu kabur, tapi aku dengan jelas tidak merasakan sedikitpun emosi negatif yang sebelumnya berkobar liar, Kit."
"Dia memberikan mata yang dimilikinya hanya agar dia bisa melihat apa definisi dari sesuatu yang kau percayai nak," Kurama menyelesaikan. "GAH, sulit sekali memang jika berbicara dengan kalian, manusia sialan!"
Naruto tetap diam, perlahan dia membuat tubuh dan pikirannya rileks unutk memasuki mindscapenya. Dan ketika dia membuka matanya tanpa kesakitan yang dirasakannya sebelumnya, dia melihat seekor rubah oranye besar sedang memegangi kepalanya dengan lolongan panjang.
Sontak hal tersebut memberi sedikit hiburan tersendiri bagi Naruto.
Menghela nafas panjang, dia berjalan perlahan menuju rubah tersebut, yang menghentikan lolongannya ketika mendengar suara tapak kaki mendekatinya.
"Kurama..."
"Kau tidak melihat apa-apa..."
Pandangan bingung sesaat sebelum Naruto menghembuskan nafas perlahan(lagi), "Baik. Hanya saja, maafkan aku. Aku tidak bisa tenang sebelumnya."
"Hmph..." Kurama mendengus, "ya. Dan lihat apa yang terjadi... Kau menyalurkan chakra secara berlebihan pada matamu dan membuka sebuah robekan yang menelan kita ke antah berantah, selamat."
Raut wajah malu terlihat pada Naruto ketika mendengar cibiran tersebut. "Dengar, aku minta maaf atas hal ini, aku dalam keadaan tertekan, kau tahu."
"..."
"..."
Mengusap belakang kepalanya dengan tangannya yang tersisa, Naruto mendesis pelan seakan merasakan benturan. Tak lama dia merasakan berbagai energi bertebaran dari luar tubuh fisiknya.
"Kurama..."
"Aku tahu..." Segera, dengan mata terpejam Kurama mengambil posisi lotus, mencoba merasakan energi diluar tubuh Host-nya. Tak lama mata merah bercelahnya terbuka, "energi ini... aku tidak tau energi apa ini. Hanya saja ketika aku mencoba merasakan energi alam disekitar, itu... itu sungguh tidak baik... tidak sama sekali."
Naruto memandangnya bingung, Kurama yang melihat itu mencoba menjelaskan secara pelan agar dapat dicerna oleh otak bebal Host Jinchuriki berambut pirang tersebut.
"Apa kau ingat dengan Moryuu?" Anggukan menjadi balasan, "ini hampir sama. Jika Moryuu memiliki chakra gelap yang mengerikan, energi disekitar kita sama halnya dengan itu, perbedaannya ini bukan chakra. Ini hanya energi seperti chakra tapi dengan sifat lebih halus, tapi tetap saja mengerikan seberapa gelap energi ini."
"Apa ada pengaruh buruk energi ini untuk tubuh?"
"Aku tidak yakin dengan itu." Menggeleng pelan, Kurama melanjutkan, "hanya saja, aku merasakan beberapa tanda kehidupan dengan dikelilingi energi yang kita bicarakan. Dan beberapa menuju kearah kita, tapi sepertinya kita bisa tenang untuk sedikitnya, aku tidak merasakan emosi negatif dari mereka"
"Jadi begitu..." Menggosok rahangnya, kerutan tercipta pada kening Naruto, menandakan pikirannya dipacu. "Untuk sekarang, mungkin kita harusーOh Sial..."
Renungannya terputus ketika merasakan sebuah emosi yang sangat dikenalnya degan baik dari beberapa orang yang ditemuinya dulu, bersamaan dengan energi asing mencoba masuk dalam sistem chakranya.
"Naruto!"
"Aku mengerti!"
...
Tangan tunggalnya mencengkeram erat sebuah tangan mungil nan halus.
Mengabaikan jeritan yang diduganya dari pemilik tangan tersebut dia membuka matanya secara spontan.
Dia dihadapkan dengan kecantikan mungil berambut hitam yang diikat menjadi twintail, dengan mata merah mudanya yang berkilauan menatapnya dengan keterkejutan yang jelas, pakaian yang dikenakannya cukup aneh, itu berwarna hijau. Dan jika dilihat lebih jelas rok hitamnya yang mencapai bawah lututnya menegaskan bahwa pakaian itu adalah pakaian formal(mungkin?).
Ada juga sebuah benda kecil aneh seukuran jarinya tergeletak didadanya.
Menarik nafas perlahan, Naruto mencoba mengeluarkan suaranya.
"Si-siapa kau?"
Sial, sakit disekujur tubuhnya bertambah parah, terlebih lagi pandangannya mulai berkunang-kunang.
"Serafall, Serafall Sitri. Atau sekarang aku dikenal sebagai Serafall Leviathan, dan jika boleh kutahu; Siapa anda? Darimana anda berasal? Dan bagaimana anda bisa sampai ke keadaan anda saat ini?"
Namanya agak aneh untuk diucapkan... Tunggu... Abaikan itu, dia mencoba memfokuskan pandangannya hanya untuk meringis ketika pendengarannya mulai berdenging menyakitkan.
Pandangannya semakin gelap, tapi dia berusaha mengucapkan nama yang menjadi identitasnya.
"N-Naruto... U-Uz-"
Ah, sialan...
Bibirnya berhenti berucap, tubuhnya tidak merespon, dan pandangannya akhirnya menemui kegelapan.
Tapi sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, dia mendengar Bijuu dalam dirinya mencibir marah...
"Itu karena matamu dalam bentuk aktif, idiot!"
Pantas saja...
Matanya terbuka ketika merasakan pergerakan diatas badannya.
Dia melihat Kuro masih dalam keadaan meringkuk mencari posisi yang sekiranya dianggap nyaman.
Membawa garis pandangnya keatas, dia menemukan lautan langit gelap dengan disinari beberapa percikan bintang.
'Astaga berapa jam aku tertidur disini?'
Mengangkat tangan tunggalnya guna mengecek jam, pukul 8 malam, '3 jam.'
Yap, tiga jam semenjak dia menemani seorang gadis kecil menemukan Ibunya. Dan berakhir menuju bukit tinggi disamping hutan tempat dia menyaring energi alam sekitar kota. Bertujuan untuk menikmati udara segar yang disediakan alam untuk dihirupnya.
Melirik pada kucing yang masih tertidur lelap.
Mengangkat kucing tersebut, yang mengakibatkan Kuro terbangun. Dia berdiri dan meletakkan kembali kucing itu ke pundaknya, yang tentu sangat disambut dengan melingkarnya Kuro pada daerah singgasananya, yaitu; sepanjang pundaknya.
"Nyaa~"
Memutar matanya, Naruto mencibir. "Pemalas yang beruntung."
...
Seperti biasa jalan masih ramai dengan orang yang melintas, entah itu untuk berbelanja makanan, pulang kerja, keluar hanya untuk bermain bersama temannya, atau bersama keluarga, atau bahkan bersama kekasihnya.
Kencan kah...
Pikirannya melayang pada rekan satu tim nya dulu, tak lama senyum masam terukir diwajahnya.
'Heh, ada-ada saja...'
Bayangan seorang gadis mungil berambut hitam twintail melintas dikepalanya.
'Apa maksudnya itu...'
Menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran tidak jelas tersebut, menutup mulut guna menahan kuapan.
"Yah lebih baik pulang."
Tapi niat tersebut tertunda ketika dia merasakan hembusan menjijikan menerpa indranya. Itu berasal tidak jauh dari tempatnya berhenti, melangkah untuk menuju arah darimana emosi negatif itu berasal, dia berhenti disebuah gudang tua terbengkalai tak begitu jauh dari pemukiman.
Matanya menajam ketika dia melebarkan jangkauan sensornya, sembari melangkah secara perlahan mendekati gudang tersebut. Matanya melebar sesaat ketika pendengarannya yang ditingkatkan mendengar suara berderak dan tangisan pelan yang berasal dari dalam. Melangkah semakin dekat, matanya melihat sebuah kantong belanja dengan beberapa sayuran yang hancur terinjak disekitarnya.
Tanpa menunggu lama dia menoleh pada kucing yang sekarang juga telah terbangun dipundaknya.
"Bisa kau pulang dulu? Aku akan mengurus hal ini." Naruto berkata pada kucing tersebut yang sekarang membalas tatapannya.
Mengerti apa yang dimaksudkan singgasana berjalannya, kuro segera turun.
Tak menunggu waktu lama Naruto langsung melesat menuju pintu gudang tersebut. Setelah sampai didepan pintu tanpa berpikir panjang dia segera menendang pintu gudang dengan keras, yang menyebabkan pintu berkarat tersebut terpental lepas dari engselnya.
Debu berterbangan ketika mendapati gelombang hantaman, tak luput juga dia mendengar suara terkesiap pelan yang berasal dari dalam.
Ketika debu menghilang, pandangan didepan Naruto adalah pandangan yang menyebabkan dirinya hampir meledakkan gudang tersebut tanpa pikir panjang.
Didepannya terlihat dua sosok besar menyerupai banteng yang sekarang menatap kearahnya, dengan tetesan cairan merah yang sudah diketahuinya dengan jelas apa itu mengalir melalui rahang yang masih sibuk membuat gerakan seakan mengunyah sesuatu. Diantara dua sosok banteng tersebut tergeletak anggota tubuh seorang perempuan yang tidak lengkap; dengan hilangnya kaki kiri, juga tangan kanan, perutnya yang telah terkoyak dengan beberapa organ dalam berceceran disekitar tubuhnya, rambut hitamnya yang tak teratur menutupi sebagian wajahnya yang dikelilingi dengan beberapa air mata yang tadinya mengalir dari matanya yang sekarang hanya menatap keatas dengan sayu di bola matanya yang berwarna hitam pucat tanpa kilauan, yang menandakan hilangnya kehidupan dari dirinya.
Kemarahan menerpa dirinya ketika dia mengalihkan pandangannya menuju sudut belakang, dimana dia menemukan seorang gadis kecil yang sangat dikenalnya, meski itu hanya beberapa jam lalu.
Itu Hisana!
Jika itu Hisana, maka wanita yang tergeletak tak bernyawa diantara dua stray devil...
Oh tidak... Jangan bilang...
Keparat...
Aura kuning dengan beberapa aksen ungu berkobar liar, itu cerminan dari amarahnya yang hampir meledak.
Aura tersebut dilengkapi dengan sinar tidak serasi yang berwujud dalam apa yang seharusnya menjadi tempat kedua matanya berada.
Disebuah ruangan diantara gedung-gedung yang berjejer, ruang Osis lebih tepatnya. Berkumpul beberapa remaja dengan setelan seragam yang sama. Mereka sedang berkumpul mengelilingi seorang gadis remaja dengan potongan Bob, bermata violet yang dibingkai dengan kacamata hitamnya.
Itu Souna Shitori, atau Sona Sitri dengan beberapa anggota Peerage-nya sedang berkumpul untuk memulai pembasmian iblis liar.
"Kalian siap?"
"Hai, Kaichou!"
"Baik, mari mulai pembasmiー"
Kalimat apapun yang keluar dari mulut Sona tidak pernah selesai ketika merasakan sebuah aura yang membuat punggungnya menggigil.
Hal tersebut tidak hanya dirasakan olehnya saja, tapi oleh anggota peerage-nya juga. Bahkan beberapa dengan refleknya mengeluarkan senjata masing-masing.
'Apa itu tadi?' Kerutan ketakutan muncul diwajah Sona.
"Kaichou..." Sona menoleh ketika mendapat panggilan dari Queen-nya, yang menatapnya dengan tatapan yang menandakan firasat buruk, "Aura yang baru saja terasa berasal dari koordinat yang akan kita tuju..."
Sekarang ini buruk, itu adalah pikiran Sona saat ini. Karena di belum pernah merasakan hal seperti itu sebelumnya, yang bisa diyakininya sebagai senjang kekuatan antara dirinya dan siapapun pemilik aura tersebut.
Kerutannya semakin dalam ketika otaknya berpacu untuk mencari solusi yang sekiranya bisa aman untuknya dan anggotanya.
"Tsubaki..."
"Perintah, Kaichou?"
Meski sekarang jadwal untuknya dan anggotanya, tapi lebih baik aman daripada celaka...
"Hubungi Rias!"
"Hai!"
Gadis kecil yang pemalu tersebut mengalami kejadian memilukan, senyuman kecil lucunya sekarang telah digantikan cemberut ketakutan, matanya yang ketika mereka pertama kali bertemu penuh dengan cahaya kepolosan sekarang digantikan oleh mata kusam kosong menyakitkan, rambutnya yang tadinya berkilauan sekarang kusut penuh debu dan kotoran. Pakaiannya pun tak luput dari segala jenis kotoran dan bahkan beberapa percikan darah.
Suara percikan menggema dalam gudang tersebut, bersamaan dengan munculnya aliran listrik yang berderak ditangan tunggal Naruto, pandangannya begitu fokus karena amarah hingga mengabaikan sekitarnya.
Mengangkat tangan yang diselimuti oleh petir tersebut kearah salah satu Stray Devil, dia menggumamkan variasi jurus mendiang temannya.
"Chidori Eiso"
Petir tersebut memanjang menembus salah satu iblis liar tersebut.
Iblis liar yang tersisa ketika melihat sejenisnya ambruk segera tanpa berpikir menerjang kearah Naruto yang tetap tidak bergeming.
Ketika jarak tinggal dua meter dengan menganganya mulut banteng tersebut, berniat menerkamnya. Naruto menghindarinya dengan hanya melangkah ke samping membuat Iblis tersebut melewatinya.
Tidak mendapatkan daging didepannya, segera banteng tersebut berbalik untuk kembali menerjang Naruto yang tetap membelakanginya, yang sekali lagi hanya mengambil satu langkah lebar kesamping.
Saat tubuh iblis banteng tersebut sejajar dengannya, kepulan asap tercipta ditangan kirinya dan segera setelah itu dengan gerakan kabur menebas kearah Iblis itu. Ketika Stray devil mendaratkan kakinya, raungan kesakitan menggema keras didalam gudang tersebut dengan dibuktikan putusnya kaki kiri dan tangan kanannya, persis sama dengan keadaan wanita yang menjadi korban iblis tersebut.
Naruto dengan wajah datar hanya melangkah perlahan menuju tempat dimana iblis banteng itu menggelepar dengan raungan sakitnya. Tanpa peduli apapun, dia menginjak punggung iblis itu dan segera mengangkat Chokuto ditangannya, dan tanpa ampun menusukkannya tepat di tengkorak banteng itu, yang seketika terdiam tak bernyawa.
Pandangannya beralih pada Hisana yang memandangnya dengan mata kosongnya, menghampiri gadis kecil tersebut, segera setelah sampai didepannya dia menjatuhkan chokuto-nya dan meraup Hisana dalam pelukannya.
"Oji...-san?"
Rintihan pelan tersebut menyebabkan getaran menyedihkan didalam diri Naruto, mengusap pelan punggung kecil gadis tersebut.
"Hushh, tenanglah. Kau aman sekarang."
Badan kecil tersebut bergetar semakin keras ketika rengekan perlahan merembes keluar dari bibir Hisana.
"O-Okaa-san...*Sob Oji-san, Okaa-san...Hueeー"
Air mata keluar dari mata Naruto yang masih memancarkan sinar tak serasi, ketika mendengar tangisan gadis tersebut.
Dia tidak mengetahui bagaimana kehidupan gadis tersebut, tapi sesuatu dalam diri Naruto tidak bisa menghadapi ratapan kesedihan semacam itu keluar dari bibir yang tadinya diwarnai kepolosan.
"Hushh tenanglah, Hisana. Ada Oji-san bersamamu."
Dekapannya semakin erat ketika mendengar ratapan itu menjadi tangisan histeris, ketika kejadian traumatis sebelumnya menjadi begitu jelas dikepala gadis itu.
Suara ramai langkah yang mendekat padanya menyebabkan dia segera melepaskan dekapannya, dan menyambar pedangnya dan mengarahkan dimana suara tersebut berasal, aliran listrik berderak menyelimuti tangan dan pedangnya yang menghasilkan aliran listrik biru memanjang sepanjang bilah pedang tersebut.
Kewaspadaan yang tadinya menyelimutinya sekarang menghilang ketika mendapati sekumpulan remaja didepannya. Itu murid-muridnya.
"S-Sensei...!"
Uh-huh... Maaf beribu-ribu maaf atas lamanya update bagi yang menunggu.
Um, jadi yaa... membawa masuk beberapa OC.
10-11-2023
