Aprilia Hidayatul present

"This Is Our Love"

a fanfiction about Halilintar and Yaya

Genre : Slice of Life, Romance, Teenlit

Disclaimer : BoBoiBoy Galaxy belongs to Monsta Studio

Warning : Typo, Gaje, OOC etc.

=

Siang itu, Yaya mengobrol ( lebih tepatnya memberanikan diri bicara ) dengan Halilintar perihal apa yang akan dia lakukan di hari kasih sayang. Walaupun sudah menebak apa jawaban pemuda itu, ia sedikit berharap Halilintar ada waktu untuknya.

"Lintar, kau ada waktu tidak nanti? Di rumah juga tidak apa-apa. Aku ingin menghabiskan waktu denganmu," katanya dengan wajah merona.

"Pas tanggal itu? aku harus kerja." Halilintar menyahut datar tanpa mengalihkan tatapannya dari televisi.

Bukan hal aneh lagi kalau Yaya pagi-pagi sudah memunculkan eksistensinya di kediaman Halilintar. Gadis itu memang punya kegiatan rutin membuat sarapan untuk bujangan yang memilih tinggal mandiri.

Lagaknya saja ingin tinggal sendiri, padahal dia cukup payah dalam beberapa hal tentang rumah tangga. Kalau tidak kebetulan apartemen Yaya bersebelahan dengannya, mungkin Halilintar akan terus membeli makanan di luar. Buang-buang uang kalau kata Kirana, kakak dari Halilintar.

Mendengar ucapan itu, mau tidak mau Yaya hanya bisa pasrah. "Baiklah, aku tahu. Tidak apa-apa. Anggap saja aku hanya mimpi."

"Kau ini ngomong apa sih? Ah! Acara baru!" seru Halilintar ketika matanya fokus pada acara baru di televisi.

Yaya yang sudah berbalik, kembali menoleh ke belakang. Berharap kalau Halilintar akan berubah pikiran.

"Apa kau harus kerja seharian di tanggal itu?" tanya Yaya hati-hati.

Halilintar menoleh. "Ya." Tanpa memerhatikan wajah nelangsa Yaya, ia kembali meneruskan kalimatnya. "Tanggal 13 dan 14 aku harus menjual cokelat di kedai milik kakek Gempa. Penghasilannya lumayan. Memangnya kenapa?"

Ditanya begitu membuatnya tersentak. "Tidak apa-apa. Berjuanglah!" Kemudian dia pun berbalik dan bersiap untuk pulang. Bahunya turun dengan lemas.

Apa boleh buat, dia harus bekerja. Lagi pula Hali bukan tipikal orang yang tertarik dengan hal begini, ujarnya dalam hati.

Halilintar melirik ke belakang tepat di mana punggung Yaya hilang di balik pintu. Lalu, pandangannya kembali lurus ke depan kemudian diturunkan ke bawah. Merenung.

"Tanggal itu ya ..."

Tanggap 13 Februari di SMA Galaksi. Cuaca sedang cerah dan berawan. Taufan dan Yaya sedang berada di taman sekolah. Taufan sangat terharu ketika menatap cokelat pemberian Yaya di tangannya.

"Terima kasih, Yaya. Aku akan menyimpannya dengan baik," ujarnya semangat. Cokelat tersebut ia bawa ke dalam pelukannya dengan erat.

"Bukan apa-apa, sebaiknya dimakan saja," ujar Yaya tersenyum kecil saat melihat kelakuan Taufan yang menurutnya terlalu berlebihan.

"Kamu akan memberikan cokelat pada Hali besok, kah?" tanya Taufan dengan senyuman lebar di bibirnya.

Yaya mengangguk. "Benar. Aku dan Ying akan membuatnya hari ini."

Taufan memasang wajah kagetnya. "Wah buat sendiri? Itu pasti istimewa." Kemudian tiba-tiba saja keningnya berkerut dalam. "Tapi, kamu yakin dengan rasanya nanti, Yaya? Kamu kan—"

Belum tuntas perkataannya, sebuah sepatu melayang ke arahnya dan mendarat mulus di kening Taufan. Tentu saja itu perbuatan Yaya yang kini menatap emosi pemuda biru tersebut.

"Sekali lagi kamu bilang begitu, bukan hanya sepatu yang melayang."

"Hehehe maaf." Taufan meringis kecil.

Bersamaan dengan itu, Halilintar tiba. "Maaf, aku terlambat. Tadi ada pertemuan dengan anak-anak karate dulu," ucapnya datar.

"Kamu lama sekali. Aku lapar, bahkan perutku sudah berdemo," gerutunya sambil mengembungkan pipi kesal.

Namun, Halilintar tidak fokus padanya melainkan pada sosok berjaket biru di depan mereka. "Sedang apa kamu di sini, Fan?" tanyanya sinis.

"Jangan begitu dong, Hal," rajuk Taufan.

Yaya hanya mengulas senyum kecil saat melihat interaksi dua pemuda itu. Tatapan Halilintar kemudian jatuh pada bungkusan kado di tangan Taufan.

Taufan yang paham dengan sorot penuh tanya itu. "Ah ini," ia mengacungkan bungkusan itu, "ini cokelat dari Yaya. Betulkan?" Kedipan jahil ia layangkan dengan bibir yang tersenyum ceria pada Yaya.

"Iya," sahut Yaya singkat. Ekspresinya saat ini benar-benar terlihat polos.

"Oh." Halilintar menganggapinya santai. Kemudian mengambil sendok dan berdoa sejenak. Setelah itu, kotak makannya dibuka. "Aku makan duluan."

Yaya tersentak. Ia lupa sesuatu. "Ah! Aku lupa ambil termos teh di kelas. Kalian makan saja duluan." Gadis itu bangkit, lalu beranjak pergi menuju kelasnya..

Halilintar sudah mulai makan. Taufan yang ada di depannya beraksi mengganggunya.

"Hihi baguskan?" Taufan memamerkan cokelat di tangannya.

"Ya, ya." Halilintar menyuapkan makanan ke mulut. Tak peduli pada Taufan.

"Aku senang sekali. Ini pertama kalinya aku mendapatkan cokelat dari seorang gadis," ujarnya lebay.

"Begitu?"

Taufan mengangguk. "Oh iya, kamu pasti dapat setumpuk! Tahun lalu dapat berapa? Lima puluh?"

Halilintar berhenti menyuapi makanan ke mulut, lalu menatap heran Taufan yang berkata barusan. "Lima puluh? Aku hanya mendapat satu. Itu pun pemberian kak Kirana," jawab Halilintar seadanya.

Taufan seakan kehilangan kata ketika mendengar itu. "Kamu pasti bohong, kan?"

"Untuk apa bohong?" Halilintar berkata kesal. Perempatan siku-siku seakan timbul di pelipisnya seperti di dunia komik.

"Betulkah? Hanya satu? Pemberian kak Kira?"

Halilintar mengangguk singkat. Tiba-tiba saja Taufan menepuk bahunya agak kencang. Lalu, pemuda ceria itu tertawa lepas. "Hahahaha ternyata kamu itu payah juga!"

Tatapan kesal dilayangkan Halilintar. Namun, kelihatannya tidak dipedulikan sama sekali. Kepalanya hampir berasap karena emosi. Kalau saja suara seseorang tidak menginterupsinya, ia akan membalas ucapan Taufan.

"Ah, maafkan aku kelamaan." Yaya datang dengan termos kecil di tangan. Keningnya berkerut heran saat merasakan atmosfer di antara kedua pemuda itu terasa berat. "Kalian kenapa?"

"Tidak apa-apa," sahut Halilintar datar. Wajahnya mendingin karena sebal. Entah pada Taufan atau ada alasan lain. Hanya Tuhan dan dia yang mengetahui itu.

=

Pada malam hari, Yaya ada berada di ruang tamu apartemen Halilintar dengan buku-buku resep kue dan cokelat berserakan. Mukanya menunjukkan kebingungan yang kentara.

"Pilih mana ya? Berdasarkan jumlah, kue paling banyak. Tapi, kalau aku buat itu takutnya Hali akan jatuh pingsan. Selain itu, kurang menarik juga," ujarnya. Ia mengambil buku lain dan membacanya sampai suara seseorang terdengar.

"Aku pulang."

Gadis itu bergegas menuju pintu. Saat itulah ia mendapati Halilintar yang wajahnya kelelahan sambil menaruh jaket dan tas selempang di gantungan dekat pintu.

"Kamu sudah pulang. Bagaimana kedainya?"

"Lelah sekali. Para wanita itu menakutkan." Halilintar bergidik ngeri sesaat, lalu beranjak menuju kamar mandi. "Aku mandi dulu. Tolong buatkan makanan yang enak, ya," katanya lesu.

"Selelah itukah?" Yaya menggeleng pelan. Lalu, segera pergi ke dapur dan mulai memasak.

Hingga tanpa sengaja, mata bermanik hazelnut itu menangkap sesuatu yang tergeletak di atas meja makan. Kakinya melangkah mendekat, lalu melihatnya.

Apa ini? Terlihat seperti cokelat. Seharusnya memang ... cokelat?

Wajah Yaya menampakkan mimik kaget. Ia menengok ke kanan dan ke kiri.

"Maaf, Hali! Aku pinjam lihat!"

Ia melirik pengirim bungkusan itu. Terdapat nama Halilintar dan pengirimannya bernama Rumi.

=

Keesokan harinya di kediaman Ying.

"Gawat, Ay!" seru gadis itu kaget setelah mendengar cerita Yaya.

"Ga, gawat?"

"Berdasarkan sifat, Halilintar seharusnya tidak mau menerimanya. Tapi, dia menyimpan itu. Apa itu artinya ..." Ying sengaja menggantungkan ucapannya. Tangannya tanpa sadar mengarahkan pengocok adonan pada wajah Yaya. Membuat gadis itu memundurkan diri.

"Dia lapar?" Yaya menjawab dengan polosnya. Ying menatap kesal padanya.

"Salah! Kamu ini bodoh sekali, sih!" celanya.

"Ha? Maksudmu aku?"

"Halilintar pasti cemburu melihatmu memberikan cokelat pada Taufan. Gadis yang disukainya memberi pada pria lain," jelas Ying serius.

"Tapi, kan itu cokelat kasih?" Ia beropini, lalu menoleh pada Ying dengan sorot mata bingung.

"Hubungan kalian sangat rumit," cetus Ying tanpa melihat Yaya. Membuat gadis itu waspada. "Takutnya ini akan sulit diselesaikan. Jangan-jangan nanti Halilintar menganggap kamu suka pada Taufan lagi. Karena emosi, lalu jadian dengan gadis bernama Rumi itu."

Yaya terlihat ketakutan. Terbayang kalau semisalnya orang yang dia sukai itu menyatakan perasaan pada gadis lain. Kepalanya segera menggeleng cepat guna mengenyahkan pikiran aneh barusan.

"Kalau begitu yang penting ada perempuan."

Ying menoleh ketika sahabatnya itu tak menanggapi. "Kau mendengarkanku tidak? Menarik, lho!"

Benar-benar tidak membantu sama sekali.

Perasaan gelisah itu terbawa hingga ia pulang ke apartemen. Di depan pintu flat milik Halilintar, ia berjalan mondar-mandir sambil menggigit jari cemas. Ketika melirik arloji di tangannya, jarum jam telah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Ini lebih dari jam kerja Halilintar yang hanya sampai tujuh malam.

"Sampai sekarang belum pulang juga. Pintu flatnya di kunci, padahal aku harus memasak." Ia bergumam pelan.

Ada alasan lain mengapa Yaya selalu memasak untuk Halilintar. Namun, itu akan menjadi cerita dilain waktu. Kini ia sedang ingin memastikan sesuatu agar hatinya kembali tenteram.

Ah, dua tahun sudah berlalu padahal. Tetapi, pemuda itu tidak pernah berhenti membuatnya cemas dan gelisah.

Payah.

Sekali lagi, ia kembali menatap arloji di tangan. Kalau sampai saat ini belum pulang juga, ia akan nekat menghubungi Gempa dan bertanya kenapa jam kerjanya bertambah lama. Masa iya karena ini hari kasih sayang, sehingga konsumen membeludak?

Eh tapi itu masuk akal juga. Kedai cokelat milik kakek Gempa terkenal dengan kualitas cokelat serta olahannya yang enak-enak. Pastinya akan banyak pembeli berbondong-bondong ke sana. Para pegawai juga dibuat kelabakan karena itu. Pasti begitu, pikirnya optimis.

Namun, pemikiran itu kembali terdistorsi oleh perkataan Ying yang sekelebat muncul. Tentang Halilintar yang cuek dan kemungkinan tertarik dengan gadis lain. Seketika saja isi kepala Yaya kembali semrawut.

"Kalau begini jadinya, seharusnya aku katakan sejak awal saja!"

"Apanya yang dikatakan sejak awal?"

Yaya tersentak kaget. Ia menolehkan kepalanya dan menemukan Halilintar baru saja pulang dari kerja. Pemuda itu terlihat sangat lelah, tetapi tatapan matanya menunjukkan bahwa dia heran dengan tingkah Yaya barusan.

Gadis itu menggeleng pelan. "Eh bukan apa-apa. Omong-omong, kamu baru pulang jam segini? Tidak biasanya," cetusnya melihat Halilintar membuka kunci apartemennya.

Keduanya berjalan masuk ke dalam sambil mengobrol.

"Iya. Itu karena kedainya benar-benar ramai."

"Begitu ya. Lalu," tatapannya turun pada apa yang dipegang Halilintar. Ia melotot kaget. "Ha-Hali, apa yang kamu bawa itu?!"

"Ha?" Halilintar membeo tak mengerti. Kemudian ia melihat arah pandang Yaya pada tangannya. "Oh ini," katanya mengangkat kantong kertas berisi berbagai jenis cokelat yang terbungkus rapi dan cantik.

"Dari mana kamu mendapat cokelat sebanyak itu?!"

"Karena hari kasih sayang sudah berlalu, semua cokelat sisa diberikan padaku."

Merasa kalau dugaannya salah, Yaya bernapas lega. "Oh begitu." Ia mengangguk paham.

Kening Halilintar berkerut. Merasa jika kelakuan gadis di depannya itu aneh. Ya, tidak salah juga. Yaya memang aneh menurutnya.

Aneh dalam artian secara harfiah dan lainnya. Hmmm ...

Yaya mengerjapkan mata ketika Halilintar menyodorkan kumpulan cokelat itu padanya. "Nah, kalau mau kau tinggal ambil saja. Apa ada yang kau suka atau tidak di sana."

"Mau!" serunya senang. Namun, sedetik kemudian ia meringis kecil. Intinya bukan ini!

Ketika melihat Halilintar sedang membuka kulkas untuk menaruh tumpukan cokelat itu, ia mendengar Yaya memanggil namanya.

"Lin-Lintar."

Halilintar berbalik, lalu mengangkat satu alisnya. "Ya?" Kemudian sebuah cokelat terulur padanya. "Ini?"

Yaya dengan wajah merona memberikan cokelat pada Halilintar.

"Cokelat, ini untukmu." Ia memalingkan wajahnya saat benda di tangannya telah berpindah pemilik. "Aku membuatnya sendiri. Maafkan aku kalau misalnya tidak enak. Tapi, aku sudah mencobanya. Rasanya tidak seburuk itu kok!"

Halilintar menatap cokelat di tangannya, lalu pada Yaya. "Terima kasih, aku suka kok." Entah salah lihat atau apa, ia yakin kalau senyuman terluas di bibir pemuda kaku itu. "Ini manis sekali," lanjutnya dengan nada lembut.

Tidak biasanya.

Hal itu membuat Yaya merasa kalau sebentar lagi ia akan meleleh. Terlebih senyuman itu benar-benar luar biasa, apalagi jarang sekali di perlihatkan oleh Halilintar. Ia mengibaskan tangan salah tingkah. Ah, masa terus terang begitu ...

Halilintar menatap Yaya dengan pandangan aneh. Ada apa dengan gadisnya itu?

Astaga, gadisnya dia bilang.

Yaya mengepalkan tangannya. Suasana sangat mendukung untuk menyatakan perasaannya. Baru saja akan memantapkan hati, tiba-tiba dering telepon rumah berbunyi.

"Maaf, aku terima telepon dulu," ujar Halilintar sembari berjalan menuju ruang keluarga. Tangannya masih memegang cokelat pemberian dari Yaya. Entah lupa untuk ditaruh atau memang sengaja. Tidak memedulikan jika saat ini ada seonggok manusia berdiri dengan aura suram menguar.

Yaya terlihat murung. Dasar, Lintar, tidak mengerti suasana manis! Di situasi begini sempat-sempatnya menerima panggilan telepon. Kasihan sekali kamu, Yaya!

"Eh Ibu Rumi, terima kasih untuk cokelatnya kemarin. Oh? Iya ..."

Yaya terkejut saat mendengar percakapan Halilintar dengan seseorang di seberang sana. "Eh?"

"Ibu sendiri? Cokelatnya sudah diberikan belum? Eh, bagus sekali itu. Ya, sampai jumpa." Halilintar menoleh pada Yaya dengan senyum tengil di wajahnya. "Hari ini Ibu yang flatnya di bawah kita sedang kencan, loh!" ujarnya sedikit geli.

"Eh?" Yaya tiba-tiba saja tersenyum malu. "Dengan siapa?"

"Sepertinya dengan teman barunya. Aneh, ya? Mungkin ini yang disebut puber kedua." Halilintar terkekeh kecil.

Yaya ikut terkekeh. Merasa lucu dengan cerita dari Halilintar tersebut sampai ia sadar dengan sesuatu. "Oh, jadi yang kemarin itu cokelat kasih?" tebaknya.

"Tentu saja. Mana mungkin itu cokelat kasih sayang."

"Bukan begitu, aku kira kamu suka dengan gadis lain ..." Yaya mencicit pelan dengan wajah kian merona. Namun, ekspresinya terlihat sendu.

Halilintar menatapnya dengan pandangan sulit diartikan. "Kenapa? Kamu meragukanku?" tanyanya datar.

Gadis itu terlonjak kaget, lalu mengibaskan tangannya cepat. "Bukan, maksudku bukan begitu. Aku kira kamu salah paham denganku dan Taufan ..."

"Ha?! Mana mungkin aku salah paham," ujar Halilintar tenang.

"Betul juga." Yaya mengangguk membenarkan. Ia mengusap tengkuknya dan tersenyum malu. Tidak memedulikan reaksi Taufan jika pemuda itu mendengar ucapan keduanya.

"Lagi pula," Halilintar tercenung sesaat, "meskipun kamu menyukai orang lain, aku juga tidak akan berubah secepat itu."

Yaya memandang Halilintar yang berbicara seperti itu. Lalu, ide jahil terbesit di kepalanya. Ia memasang tampang polos.

"Oh ya, perasaanmu pada Suzy bertahan selama enam tahun."

"Jangan ungkit cerita itu. Sudah berlalu, bahkan aku sudah lupa bagaimana rupa anak itu. Lagi pula, kamu percaya cerita anak-anak?!" ujar Halilintar berubah sinis.

Yaya berkedip dua kali. "Kamu marah padaku?"

"Tidak!"

"Tapi, aku merasa kamu sedang marah."

"Bisakah kita berhenti bicarakan dia? Aku tidak suka kamu menyebut namanya." Ia memalingkan wajahnya ke arah lain dengan ujung telinga mulai merona.

Eh?

Helaan napas lolos dari bibir Halilintar. "Dasar."

Yaya terpana. Ternyata dia sungguh menyukaiku. Entah kenapa alu merasa disayanginya.

"Anu, Lintar ..."

Ting! Tong!

"SELAMAT HARI KASIH SAYANG! CEPAT KE SINI!" seru Taufan girang.

Entah bagaimana pemuda itu masuk dan menghancurkan suasana dua sejoli yang kini sama-sama memegang ujung meja makan dengan wajah kesal.

Taufan menunjukkan bingkisan cokelat di tangannya. "Lihat cokelat ini! Ada kartunya juga. Asyik!"

Pemuda itu mendekapnya dengan erat. Ia terharu dengan wajah teramat lebai. Lalu, keterkejutan mampir di wajahnya ketika melihat mereka.

"Eh kalian kenapa?"

Halilintar menoleh sinis padanya. "Kamu sengaja datang ke sini hanya untuk bilang itu?"

"Iya?" Taufan menyahut polos.

Halilintar berjalan menghampirinya dan menarik pipi Taufan. "Kamu punya otak tidak sih?"

"Memangnya kenapa?"

"Pengganggu!"

"Apa salahku, Hali! Berhenti menarik pipiku, sialan!"

Yaya menghela napas lesu. Kedua pemuda yang berkelahi itu ia abaikan. Ia merenung untuk sesaat.

Aku rasa perasaanku sudah tersampaikan, bukan?

Yah ... cokelat kasih sayang itu sudah disampaikan dan menjadi perantara bahwa perasaan Yaya hanya untuk Halilintar.

=

To be continued

Nah, chapter duanya. Tentang cokelat kasih sayang sudah selesai. Mari masuk ke kisah lain yang membersamai mereka berdua.

RnR please :3