BoBoiBoy fanfiction proudly present
"SIXTH SENSE" by Aprilia Hidayatul
Disclaimer : Boboiboy Galaxy belongs to Monsta Studio. Original character and story are mine.
Genre : Fantasi, Supernatural, Romance, ETC ( the horror genre is not the main one )
Rate : T
Warning! All character OOC, typo, absurd, cringe etc
••••
Kening Yaya berkerut ketika Lyan berkata demikian. "Kenapa begitu?" tanyanya penasaran.
"Ya pokoknya begitu saja. Sudahlah, kamu tidak perlu penasaran alasan dibalik perkataanku," tukas Lyan seraya mengibaskan tangannya. Ia terlihat enggan memberi penjelasan lebih lanjut pada Yaya. Hal tersebut tentu saja semakin memantik rasa penasarannya.
Yaya memicingkan matanya sejenak, lalu menarik napas pelan. "Baiklah." Ia tidak mau memaksa kalau memang Lyan belum ingin bilang.
Toh arwah itu juga ada bersamanya. Mungkin seiring berjalannya waktu akan terjawab dari pertanyaannya barusan. Hanya saja, Yaya masih memikirkan soal kembar bersaudara itu. Mereka sangat misterius namun juga ada perasaan akrab muncul di dalam hatinya. Seolah-olah ia pernah dekat dengan mereka.
Apakah ucapan Gempa benar adanya?
Yaya mengerang kesal, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Rambut sebahunya dibiarkan ke belakang. Ia menatap langit-langit kamar sejenak.
"Aku hanya ingin hidup tenang. Tapi, kenapa masalah mulai bermunculan?" Ia bertanya dengan suara lirih pada dirinya sendiri. Kemudian satu lengannya terangkat dan menutup sebagian wajahnya.
Cahaya bulan di luar sana perlahan terhalangi awan. Ruangan yang awalnya disinari kini menjadi gelap. Lalu, burung-burung malam tiba-tiba saja terbang melintas di atas rumahnya sambil berkoak. Entah apa yang membuat mereka begitu. Namun, ada firasat buruk yang hinggap di benak Yaya.
Ia bergumam pelan, "Semoga saja ini hanya mimpi burukku."
Di waktu yang sama, sekelompok pemuda terlihat berkumpul di ruang keluarga kediaman tersebut. Mereka tampak larut dengan kegiatan masing-masing sampai salah satunya angkat bicara. Atensi mereka seketika teralihkan.
"Aku dengar di kelasnya kak Hali dan kak Taufan menerima murid baru," ujar Solar tiba-tiba.
"Mn." Halilintar membalas dengan gumaman, lalu kembali fokus pada bacaannya.
Solar memutar mata malas. "Jawab yang jelas. Kamu pikir orang-orang bisa paham gumaman itu."
"Aku bisa."
Kembaran keenam menyahut dengan polosnya. Solar mendelik kesal. "Aku tidak bertanya padamu, Duri."
"Oh baiklah, aku hanya memberitahumu saja."
"Kamu—"
"Sudah, sudah. Bukannya kamu bertanya siapa murid baru itu, kenapa jadi kalian yang bertengkar?" lerai Gempa yang sadar kalau kedua adik bungsunya itu mulai adu cekcok.
Seakan tersadar, Solar menepuk keningnya. "Eh benar juga." Ia kembali menoleh pada kedua kakak tertuanya. "Nah, tolong jawab."
"Kenapa kamu penasaran sekali, Solar? Tidak biasanya kamu tertarik dengan pembicaraan begini," ujar Taufan sambil memasang wajah tengilnya.
Solar menoleh padanya, lalu matanya berkedip nakal. "Karena aku penasaran dengan dia." Ia mencuri pandang pada kakak sulungnya dan melanjutkan omong kosongnya. "Katanya dia cantik dan menggemaskan. Kalau aku mendekatinya bisa saja bukan?"
Srek!
Suara robekan terdengar. Mereka mengalihkan atensi pada Halilintar yang tanpa sengaja merobek halaman buku. Lalu, buku itu ditaruh di atas meja. Setelahnya, ia beranjak dari ruang keluarga. Tak memedulikan tatapan heran dan penuh tanya dari keenam saudaranya.
Kaki jenjang berbalut celana hitam itu melangkah santai ke arah tangga yang membawanya menuju lantai dua. Tidak cepat, tidak juga lambat. Langkahnya begitu pas dan tepat. Hingga punggungnya menghilang dari pandangan.
Merasa jika tekanan udara telah kembali normal, Blaze menarik napas sebanyak-banyaknya. Dadanya naik turun, lalu menghempaskan tubuhnya ke belakang. Lirikan mata sebal dilayangkan pada Solar. "Asal kamu tahu, Sol, hampir saja aku bertemu dengan malaikat maut," ketusnya.
Solar menoleh dengan satu alis terangkat. "Lebai sekali. Aku hanya bergurau saja. Lagi pula, kamu pikir nyawaku banyak apa? Mana mungkin berani merebut apa yang sudah ditandai kak Hali," ujarnya santai. Ia mendadak amnesia kalau barusan hampir membangunkan sisi iblis dari kakak sulung mereka.
Ais yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka akhirnya sedikit tertarik. Mata biru mudanya memandang sayu yang lain.
"Jadi, memang benar gadis itu?" tanyanya memastikan.
"Begitulah." Gempa membalas enteng. Ia tidak akan salah duga. Karena memang gadis itu memiliki apa yang selama ini cari.
Solar menghela napas lelah sambil menutup ponselnya. Punggungnya disandarkan ke belakang, lalu memejamkan mata.
"Ratusan, bahkan ribuan tahun lamanya tidak pernah berubah. Dia tetaplah dia." Ia menerawang ke atas plafon rumah, memikirkan sesuatu. "Entah itu takdir baik atau buruk, aku tidak tahu. Hanya saja, benang merah antara dia dan kak Hali benar-benar sulit diputuskan," pungkasnya.
Taufan mengangguk setuju. "Benar. Eh, tapi kalau kalian bertemu dengannya pasti akan mengerti kenapa dia punya daya tarik," katanya dengan nada ambigu.
"Hm?" Solar membuka satu matanya. "Ah, itu sudah pasti."
"Sudahlah. Kalian jangan membahasnya terus, ada baiknya bujuk kak Hali. Kelihatannya dia marah," lerai Gempa.
"Kamu berniat menumbalkan kami, Gem?" Taufan bertanya dengan tatapan horor.
"Tidak."
"Lalu, maksud ucapanmu itu apa?"
"Kan kalian yang membuatnya emosi."
"Tapi, kamu tahu bukan kalau kak Hali tidak bisa diganggu kalau dalam kondisi begitu?" Blaze ikut menyahut. Ia sedang tidak mau membiarkan badannya sakit-sakit.
Menghadapi Halilintar yang emosi tidak ada bedanya dengan menantang maut. Pemuda itu punya stamina dan petarung andal. Segala jenis beladiri telah dikuasai. Bahkan, ahli pedang juga.
Oh ayolah, Halilintar itu sudah seperti seorang Sword master.
Taufan dan Blaze menggelengkan kepalanya cepat. Menghilangkan gambaran Halilintar sedang mengayunkan pedang tajam dengan gagang bermata batu Ruby.
"Dia benar-benar seperti malaikat maut!"
Gempa dan Duri hanya menautkan alis heran akan tingkah dua orang itu. Entah apa di kepala mereka hingga histeris sedemikian rupa. Memangnya Halilintar semenakutkan itu, kah?
Sedangkan Ais, dia lebih banyak diam. Namun, telinga dan kepekaannya bekerja dengan sangat baik. Bibirnya mengulas seringai kecil.
Kelihatannya akan ada hal menarik tidak lama lagi, batinnya bergumam senang.
••••
Rembulan kini muncul kembali setelah bersembunyi dibalik awan selama beberapa saat. Dengan nakal, sinarnya masuk melalui jendela yang tidak tertutup. Membiarkan embusan pelan angin menggerakkan kain yang ada di sana dengan lembut.
Seorang pemuda duduk di belakang meja belajarnya dengan tangan memainkan sebuah pulpen. Diputar-putar mulai dari cepat hingga kembali pelan. Begitu terus sampai akhirnya dia memegangnya erat. Manik delimanya bersinar dalam kegelapan, di antara bayang-bayang sinar rembulan.
"Kanagara yang indah, kehadiranmu mengapa selalu menarik perhatian orang-orang?"
Secarik kertas diambil sembarang, lalu jemarinya mulai menggoreskan pulpen di atasnya. Perlahan tapi pasti goresan tersebut membentuk sebuah sketsa.
Mulai dari mata, hidung bentuk wajah bahkan senyuman. Benar-benar memikat.
Bukan hanya para manusia, juga makhluk yang tidak biasa.
Ia menghela napas. "Aku benci takdir ini. Namun, hanya dengan ini aku dapat bertemu kamu." Manik delimanya memandang sketsa yang dibuat dalam waktu singkat itu.
Dari goresan pulpen di atas kertas, kini sketsa wajah seseorang tertera di sana. Menampilkan gadis manis yang terus saja menghiasi isi kepalanya.
"Hanna ... Ah, harusnya aku memanggilmu Yaya di kehidupan ini, kan? Kamu tidak akan meninggalkanku kembali. Jangan pernah."
Ia tidak ingin sendiri lagi dan membiarkan hatinya diliputi kekosongan yang bahkan dia sendiri tak mengerti.
Lalu, pertemuan dengan Yaya hari itu seketika mengisinya. Ia tidak merasa kosong lagi.
"Benang merah yang terikat diantara kita memang sekuat itu ya."
••••
To be continued
Ah, kapan ya terakhir update book ini? Anyway, terima kasih banyak buat yang udah mampir.
See you!
RnR juseyo
