Disclaimer:

Gundam Seed/Destiny © Masatsugu Iwase, Yoshiyui Tomino, Hajime Yatate Sunrise

(saya hanya meminjam karakter di dalamnya)

*.*

Pukul 12.30, Bertemu Denganmu

By

Ann

Pindah ke kota baru memang sebuah tantangan, apalagi untuk bekerja tanpa ada seorang kawan maupun keluarga. Itulah yang Cagalli rasakan. Ia baru saja pindah ke Zalf untuk mengurus salah satu lini usaha keluarganya.

Pindah dari Orb ke Zalf tidaklah mudah, apalagi Cagalli memiliki tugas berat di kota baru ini. Ia harus mengembalikan angka penjualan spare part yang menurun dalam dua tahun terakhir.

Lini usaha yang Grup Hibiki yang Cagalli tangani adalah bagian penjualan spare part berbagai kendaraan bermotor, khususnya mobil. Sementara saudara kembarnya, Kira, fokus pada pengembangan teknologi dan produksi.

Memang sudah biasa bagi Cagalli berpindah dari satu kota ke kota lain untuk mengurus bisnis keluarga. Namun, pindah ke Zalf memberikan rasa yang berbeda. Entah mengapa, di kota yang besar ini Cagalli merasa lebih kesepian dibandingkan kota lainnya.

Perputaran waktu setiap harinya terasa begitu cepat, terutama dengan begitu banyaknya pekerjaan dan masalah yang harus ditangani. Namun, di sela kesibukannya, Cagalli selalu menyempatkan diri datang ke sebuah tempat untuk menikmati waktu istirahatnya.

Archangel, sebuah kafe yang baru buka tak jauh dari bangunan kantor perwakilan Grup Hibiki di Zalf, menjadi tempat tujuan Cagalli setelah makan siang. Biasanya, gadis berambut pirang yang dipotong di atas bahu itu akan tiba di Archangel pukul 12.30 atau lebih sedikit. Ia akan memesan segelas moccacino, bisa panas atau dingin tergantung cuaca. Kadang, jika Cagalli belum menyantap makan siang, ia akan menambah roti lapis.

Archangel memang menyediakan berbagai macam kopi, roti lapis, dan berbagai keik manis. Cagalli pernah mencoba beberapa minuman dan makanan di kafe itu, tapi pilihannya selalu kembali ke moccacino dan roti lapis ayam. Dua menu itu yang paling sering ia pesan.

Seperti hari ini, Cagalli juga memesan segelas moccacino dingin bersama dua roti lapis ayam. Hari ini ia cukup lapar sehingga satu roti lapis saja tidak akan cukup mengganjal perutnya. Apalagi setelah ini ada setumpuk dokumen harus disiapkan untuk laporan ke kantor pusat.

Cagalli mengambil pesanannya dari pemilik kafe yang tersenyum ramah padanya. Archangel bukanlah kafe besar sehingga suami istri pemilik kafe itu tidak mempekerjakan pegawai tambahan. Hanya mereka berdua yang menyiapkan pesanan dan mengantarkannya. Biasanya sang suami membuat pesanan dan istrinya akan bekerja sebagai penerima pesanan juga kasir.

"Selamat menikmati dan semoga harimu menyenangkan."

Cagalli membalas ucapan itu dengan senyuman. Lalu melangkah ke meja bagian sudut yang biasa ia tempati. Ia mengambil kursi yang menghadap ke pintu agar bisa melihat orang itu datang.

Orang itu sama seperti Cagalli, pengunjung rutin kafe yang datang di waktu hampir bersamaan dengan Cagalli. Bisa lebih awal, tapi lebih sering lebih lambat dibandingkan Cagalli sehingga Cagalli punya waktu untuk memerhatikan pria itu.

Sebenarnya, bukan hanya Cagalli yang memerhatikan kedatangan orang itu. Sebagian besar kaum hawa juga akan memerhatikannya. Mengapa tidak jika orang itu memiliki penampilan yang membuat orang tidak mudah melupakannya.

Tinggi, gagah, dengan wajah tampan. Siapa yang tidak akan suka menghabiskan waktu menatap wajah itu. Namun, yang paling Cagalli suka adalah pembawaan orang itu. Pria berambut biru gelap terlihat bergitu tenang dan berwibawa. Penampilannya juga selalu rapi. Cagalli penasaran bagaimana wajah panik orang itu atau ekspresi lain selain ketenangan yang selalu terlihat.

Orang itu datang beberapa menit kemudian, lalu memesan kopi hitam seperti biasa. Kali ini juga menambahkan sebuah cinnamon rolls dalam pesanannya. Orang itu duduk tidak jauh dari Cagalli, membelakangi sehingga hanya terlihat punggungnya saja.

Memandangi punggung pria itu cukup memberikan kebahagiaan bagi Cagalli. Setidaknya, ia punya sesuatu hal menyenangkan hari ini sehingga pekerjaan tidak akan terasa begitu berat.

.*.

Hari ini Cagalli datang lebih awal, memesan segelas moccacino hangat karena hujan turun sejak pagi membuat udara cukup dingin. Ia memesan roti lapis lagi, tapi hanya satu dan sudah menghabiskannya.

Kali ini ia tidak mendapatkan meja biasa yang ditempatinya sehingga memilih duduk di kursi di depan dinding kaca yang menghadap ke luar kafe. Terdapat enam kursi di jajaran tersebut, semua kursi sudah penuh kecuali satu tempat di sebelah Cagalli.

Hari ini, Cagalli tidak bisa menatap pintu masuk sehingga menghabiskan waktunya menatap hujan. Lagi pula, waktu baru menunjukkan pukul 12.15 sehingga masih ada waktu sebelum orang itu muncul.

Tidak berapa lama seseorang menempati kursi di sebelah Cagalli, tapi tidak membuatnya menoleh. Ia terlalu asyik memandangi hujan sembari berusaha mengeyahkan pikiran mengenai masalah distribusi spare part yang terlambat. Banyak pesanan akan overtime karena perusahaan pengangkut yang biasa digunakan Hibiki Grup mengalami masalah.

Cagalli harus mencari cara agar distribusi tetap berjalan dengan baik, paling tidak keterlambatan tidak terlalu lama sehingga tidak mengecewakan konsumen.

"Ah, sudahlah. Mari pikirkan nanti," gumam Cagalli. Tangannya bergerak hendak meraih gelas kopinya, tapi tidak menemukan gelas itu. Saat ia menoleh, Cagalli mendapati gelasnya sudah diambil oleh orang yang duduk di sebelahnya.

"Manis!" protes orang itu setelah mencicipi isi gelas Cagalli.

Cagalli menatap orang itu tidak berkedip, pertama karena orang itu mengambil gelasnya, kedua karena orang itu adalah orang itu. Ya, dia adalah pria yang sering Cagalli pandangi punggungnya.

"Itu punyaku," ujar Cagalli setelah bisa bersuara.

Orang itu langsung panik dan mengucapkan kata maaf berkali-kali dan baru berhenti saat mendengar suara tawa Cagalli.

"Kau menertawakanku?"

Sekarang ganti Cagalli yang panik. "Maaf, bukan begitu maksudku. Hanya saja, biasanya kau terlihat tenang. Tidak kusangka bisa menunjukkan wajah panik juga."

"Kau mengenalku?"

Cagalli terdiam, wajahnya memerah, dan ia langsung memalingkan pandangannya. "Aku beberapa kali memerhatikanmu," akunya.

"Begitu, aku pun sama."

Cagalli menoleh dan mendapati wajah orang itu juga sedikit memerah. Cagalli tidak menyangka bahwa orang itu juga memerhatikannya.

"Aku akan ganti kopimu," ujar orang itu seraya berdiri.

"Tidak perlu," tahan Cagalli. "Aku tidak akan bisa meminumnya, karena harus cepat kembali ke kantor."

"Tapi─"

"Lagi pula, isi gelas itu sudah hampir habis. Kalau minum satu gelas lagi aku bisa kembung," Cagalli menambahkan alasan.

"Kalau begitu, besok."

"Ya?"

"Aku akan membelikanmu kopi besok," kata orang itu. "Pukul 12.30, kita bertemu di sini."

Cagalli mengangguk, mengiyakan permintaan orang itu.

.*.

Keesokan harinya, Cagalli memasuki Archangel dengan bersemangat. Tentu saja, karena hari ini ia akan ditraktir kopi oleh orang itu. Kemarin, ia lupa menanyakan namanya sehingga belum bisa menyebut namanya. Sebutan orang itu mungkin harus bertahan satu hari lagi. Karena Cagalli baru berniat menanyakannya hari ini.

Saat memasuki kafe, orang itu sudah menunggunya tidak jauh dari tempat pemesanan.

"Hai." Satu sapaan yang begitu sulit diucapkan oleh Cagalli dibalas dengan senyuman. Andai bisa meleleh, Cagalli mungkin akan meleleh di tempat.

"Siap memesan?"

Cagalli mengangguk, kemudian menyebutkan pesanannya pada pemilik kafe.

"Itu minuman yang manis kemarin?" tanya orang itu.

Cagalli mengangguk. "Kau tidak suka minuman manis?"

"Tidak terlalu, tapi bukannya tidak mau mencoba. Punya rekomendasi, aku bosan minum kopi hitam terus."

"Latte atau cappucino?" Cagalli menawarkan.

"Latte, sepertinya aku belum pernah mencobanya."

"Baiklah, satu moccacino dan satu cappucino," ujar pemilik toko yang berdiri di belakang meja pemesanan sekaligus kasir.

"Tidak pesan roti lapis?" tanya orang itu.

Cagalli menggeleng. "Aku sudah makan tadi. Aku hanya pesan roti lapis kalau belum makan siang atau saat perutku masih lapar."

"Ah, begitu. Mau keik?" Orang itu kembali menawarkan.

Karena tidak enak menolak lagi, Cagalli memilih salah satu keik dalam etalase. Namun, saat hendak membayar orang itu berkata, "Hari ini aku yang traktir, ingat kan?"

Mereka berdua lalu membawa pesanan yang sudah selesai dan duduk di meja yang biasa Cagalli tempati. Meski mulanya canggung, keduanya kemudian bisa saling bercerita. Terutama masalah pekerjaan, saling berkeluh kesah mengenai masalah kerja, juga bercerita mengenai hal menyenangkan di tempat kerja.

Pukul satu kurang lima menit, keduanya berpisah. Setelah keluar dari pintu kafe melangkah ke arah yang berbeda. Saat telah menjauh, Cagalli baru ingat belum menanyakan nama orang itu.

"Esok akan kutanyakan," ucap Cagalli sembari menatap punggung orang itu yang terus menjauh.

.*.

Namun, esok demi esok berlalu tanpa pernah Cagalli bertanya nama orang itu dan di mana tempat kerjanya. Mereka hanya menghabiskan waktu 20 hingga 25 menit bersama saling bercerita. Kadang Cagalli menceritakan masalahnya, kadang orang itu yang bercerita. Begitulah pertemuan mereka setiap hari, duduk bersama menikmati kopi sambil bercerita di tengah hari.

Setiap hari kerja Cagalli selalu menyempatkan diri datang, duduk bersama orang itu, bercerita, meminum kopi, hingga memakan berbagai keik bersama. Seperti berkencan, tapi bahkan keduanya tidak saling mengetahui nama.

Cagalli berniat bertanya, tapi selalu lupa. Sesekali mereka memang tidak bertemu karena orang itu tidak bisa datang, tapi selalu memberitahu di hari sebelumnya. Jadi, Cagalli tidak akan berharap, tapi tetap merindukannya.

Perasaan kagum itu sudah berkembang menjadi rasa suka. Rasa suka yang menyebabkan Cagalli merindukan orang itu. Bahkan di hari libur, Cagalli ingin segera kembali bekerja karena ingin bertemu dengan orang itu. Menatap sepasang mata berwarna emerald yang selalu sanggup membuat harinya terasa menyenangkan.

.*.

"Rapat di kantor pusat?"

"Iya, Cagalli. Kau tidak bisa menundanya lagi," ujar Kira, adik kembar Cagalli dari seberang line telepon. "Kau harusnya datang dari minggu lalu, tapi kau terus menundanya."

"Iya, tapi aku sudah mengirimkan laporan dari sini dan ikut rapat daring juga. Kurasa tidak perlu sampai berangkat ke Orb." Cagalli mencoba mencari alasan untuk tidak berangkat.

"Sebenarnya, ada apa sih di sana sampai kau tidak mau pulang?" tanya Kira. "Hanya beberapa hari, Cagalli. Sekalian menengok Papa dan Mana. Memangnya kau tidak kangen mereka? Tidak rindu pada adik kesayanganmu ini?"

Bohong kalau Cagalli bilang tidak merindukan keluarganya. Namun, Cagalli berat untuk pergi. Karena jika pergi artinya tidak bisa bertemu orang itu.

"Ayolah, Cagalli. Pulang besok dan habiskan akhir pekan di sini."

Akhirnya, Cagalli meniyakan. Lagi pula, ia merindukan keluarganya dan ingin menghabiskan waktu bersama mereka, sekaligus mengurus beberapa pekerjaan di kantor pusat.

Hari ini, Cagalli akan mengatur kepergiannya dan berpamitan pada orang itu. Sekaligus menanyakan nama dan meminta kontaknya, agar bisa menanyakan kabar di saat mereka jauh.

Namun, ketika sampai di Archangel, Cagalli tidak bisa menemukan orang itu. Ia menunggu hingga lewat pukul satu siang, tapi orang itu tidak kunjung datang. Sempat terlintas untuk meninggalkan pesan untuk orang itu melalui pemilik kafe, tapi Cagalli tidak tahu namanya. Bagaimana ia meninggalkan pesan?

Dengan perasaan tak karuan Cagalli kembali ke kantor, lalu berangkat ke Orb sore harinya.

Cagalli menghabiskan hari-hari berikutnya dengan perasaan tidak tenang. Meskipun pekerjaannya tetap berjalan lancar dan bisa menghabiskan waktu bersama keluarga, tapi ada hal yang terasa tidak tepat. Karena ia tidak berpamitan dengan orang itu.

"Apa yang akan dia pikirkan tentangku? Apakah dia akan merindukannya? Atau justru merasa tenang karena aku tidak ada?"

Ternyata kepulangan Cagalli ke Orb harus diperpanjang seminggu kemudian, karena permintaan ibunya dan ada beberapa permasalahan mengenai distribusi yang harus diselesaikan.

Akhirnya Cagalli baru kembali dua minggu setelahnya. Tepat di hari ia kembali, Cagalli langsung pergi ke Archangel di waktu istirahat siang. Ia sengaja datang lebih cepat agar bisa menunggu orang itu.

Namun, harapan Cagalli sia-sia. Orang itu tidak datang seperti biasanya. "Mungkin dia sudah melupakanku," pikir Cagalli sembari meninggalkan kafe.

Kali ini ia berjalan lebih lambat, mengitari area pertokoan di area tersebut. Bukan dengan tujuan tertentu, hanya mencoba untuk menghilangkan berbagai pikiran negatifnya.

"Aku harus datang lagi besok dan bertanya pada pemilik kafe mungkin ia tahu sesuatu."

Dengan semangat baru, Cagalli melangkah lebih cepat karena sudah terlambat kembali ke kantor. Akan tetapi, langkahnya tertahan saat seseorang menarik tangannya.

Cagalli hampir menendang orang itu, tapi urung saat melihat siapa yang menahannya.

"Akhirnya aku menemukanmu!" Orang itu berkata dengan napas yang tidak beraturan.

"Kau mencariku?"

"Iya," jawab orang itu sambil mengatur napasnya. "Kau tidak datang ke kafe, kupikir sesuatu terjadi padamu. Namun, aku tidak bisa menanyakan tentangmu. Aku tidak tahu siapa namamu dan di mana kau bekerja," kata orang itu.

"Aku hanya tahu kau gadis yang menyenangkan, pekerja keras, gigih, dan teman bicara yang cocok denganku. Aku hanya tahu bahwa aku senang bersamamu. Aku menyukaimu."

Cagalli tidak sanggup berkata-kata. Ia hanya bisa memandang orang itu tanpa bisa mengalihkan matanya. Orang itu tidak terlihat tenang seperti biasanya, bahkan bisa dikatakan cukup kacau, tapi tetap setampan biasanya. Bahkan jauh lebih tampan.

"Maaf, kau pasti terkejut. Aku mengatakannya begitu saja. Padahal niatku tidak seperti ini. A-aku─"

"Aku juga menyukaimu," kata Cagalli.

Senyum orang itu mereka, lalu tertawa. "Ini melebihi dari yang kuharapkan, tapi aku menyukainya."

Cagalli mengangguk. "Hanya saja … aku belum tahu namamu."

"Tentu saja, aku lupa memperkenalkan diri." Orang itu menegakkan tubuh, lalu berkata, "Perkenalkan, namaku Athrun Zala. Kalau boleh tahu siapa namamu?" Athrun mengulurkan tangan yang langsung disambut Cagalli.

"Namaku, Cagalli Hibiki, senang berkenalan denganmu."

.*.

fin

.*.

Hai, hai, saya tidak tahu apakah masih ada yang aktif di fandom ini. Saya sendiri sudah lama tidak aktif, mungkin sekitar 5 tahun. Fanfic AsuCaga ini bukan pertanda comeback, hanya pelepas rindu pada pasangan yang saya harapkan bisa benar-benar canon di animenya.

Terima kasih sudah membaca~

Salam hangat,

Ann