Disclaimer : BoBoiBoy Galaxy milik Monsta Studio, cerita dan karakter original milikku.
Main Genre: Thriller/Action/Mysteri
Others : Friendship-Family
Warning! OOC! Elemental as Siblings, humanoid alien and robot, OC etc.
~•~•~
Perumahan semi elit di Pulau Rintis tampak tenang saat pagi hari. Suara burung terdengar mencicit satu sama lain seolah sedang berbincang. Bahkan di sepanjang jalan saja sudah ada beberapa orang memulai aktivitas mereka.
Namun, tampaknya perasaan tenang tersebut tidak berlaku untuk satu kediaman. Karena setiap pagi pasti selalu ada kejadian tidak terduga. Seperti—
"KAK TAUFANNNNNNNNNNN!"
—suara teriakan yang sangat kerasa dari arah kediaman berlantai dua tersebut. Para burung yang bertengger di atas genteng rumah itu pun sontak saja berterbangan menjauh. Orang-orang di sekitar pun ikut terkejut meski sebentar, lalu kembali melanjutkan aktivitas. Membuktikan jika itu bukan kejadian pertama kali. Mereka sama sekali tak peduli dengan alasan dibalik teriakan itu.
Sedangkan di dalam kediaman itu, Taufan sedang tertawa terbahak-bahak. Dia tidak menyangka jika ulahnya itu mampu membuat targetnya mengamuk.
"Hahahahaha ternyata memang benar ya mengerjai orang panas baran itu seru! Aduh perutku jadi kram akibat kebanyakan tertawa!" Taufan melirik ke lantai atas masih dengan tawanya. "Oy, Blaze! Lain kali kau harus melihat muka kagetmu saat bangun tidur! Kocak sekali itu!" cetusnya.
"Berhenti tertawa kau, Angin Muson!" Blaze berseru kencang, tidak peduli kalau semisalnya itu mengganggu saudaranya yang lain.
Taufan memasang wajah konyolnya. "Tidak mau! Wleee!" ledeknya sambil meleletkan lidah.
Untuk sesaat Blaze merasa jika Taufan bukan kakak keduanya. Pemuda bemata biru safir itu lebih terlihat seperti adiknya. Karena saat ini tingkah laku Taufan benar-benar menyulut emosinya. Ingin rasanya Blaze melemparkan panci di tangan kanannya, tetapi dia tidak mau menanggung amukan Gempa. Oleh karena itu, Blaze memilih melemparkan sesuatu di tangan kirinya.
"Hah malas sekali kalau meladenimu, Kak. Mungkin ini yang dirasakan Kak Hali setiap dikerjai." Blaze membuang napas lelah dan berbalik kembali menuju kamarnya.
Setelah berhasil menghindar dari lemparan centong dan melihat kalau Blaze kembali ke kamarnya, Taufan mulai berkata provokasi. "Huuuuu baru segitu saja sudah menyerah. Payah."
Blaze berhenti, lalu menengok pada kakak keduanya itu dengan gerakan pelan. Aura suram sudah menguar dari tubuh anak keempat itu.
"Kak Taufan, coba sekali lagi berkata seperti barusan," kata Blaze dalam.
"Yang mana? Bilang kalau kau itu payah?" Taufan mengerling jenaka. "Boleh, dengan senang hati aku ulangi kembali," ucapnya sambil memasang seringai.
"Oh? Coba kalau berani," tantang Blaze.
"Siapa bilang takut? Oke, dengar baik-baik ya, Adik. Ehem! Ehem!" Taufan berdehem beberapa kali.
"BOBOIBOY BLAZE BIN AMATO ITU SANGAT PAYAH!"
BUAK!!
Sebuah tendangan berhasil mengenai telak perut Taufan tanpa disangka-sangka. Ia terdorong mundur ke belakang beberapa langkah. Kekuatannya memang tidak begitu seberapa, tetapi Taufan karena sedang dalam keadaan tidak siap hingga membuat mundur.
Taufan mengangkat kepala, menatap lurus ke depan. Di sana dia melihat Blaze sudah berada dalam posisi berdiri tegap. Tangan kanan pemuda itu masih terdapat panci kesayangan Gempa. Namun, itu tidak menyulitkan Blaze sama sekali. Bahkan, Taufan sangat yakin jika anak keempat itu tidak peduli pada benda di tangannya.
Seulas senyum kecil bermain di bibirnya. Sembari memegangi bagian yang terkena tendangan, Taufan menegakkan tubuhnya.
"Ho ... langsung bergerak menyerang ternyata. Lawan yang bagus," ujar Taufan terpukau.
"Diam kau!"
"Aduh, Blaze, kau itu jangan terlalu termakan sama emosi. Nanti malah membuat pola seranganmu jadi berantakan dan bikin lawan dapat membaca pergerakan." Taufan mecebikan bibirnya sambil geleng-geleng seakan merasa prihatin pada adik kembarnya itu. "Nah, mumpung masih pagi begini, ada baiknya kita sparring. Bagaimana?"
Dari nada bicara saja itu bukan sebuah tawaran, melainkan provokasi.
Dan melihat sifat Blaze yang memang cenderung mudah tersulut emosi, tentu saja dia tidak akan diam saja kalau sudah dipanasi.
"Oke!"
"Sekarang kita ke lahan di belakang rumah," ajak Taufan.
Baru saja berbalik, keduanya sudah dikejutkan dengan seseorang yang berdiri sambil bertolak pinggang sambil tersenyum. Namun, bukannya merasa damai atau tenang, Blaze dan Taufan justru merinding.
Taufan tertawa kaku dan melambaikan tangan. "Eh, selamat pagi, Gempa," sapanya.
"Pagi, Kak Gempa." Blaze pun turut menyapa canggung.
"Mn, pagi. Oh iya, barusan aku dengar-dengar ada yang ingin sparring di halaman belakang. Kebetulan sekali aku juga sudah lama tidak latihan. Bagaimana kalau sekarang kita ke sana? Mn?" Gempa masih mempertahankan senyuman di bibirnya. Namun, siapa pun yang berada di dekatnya dapat melihat sebuah perempatan imajiner di kening pemuda bermata emas itu.
Ketika mendengar itu, mereka berdua meneguk ludah diam-diam.
Sebenarnya tidak masalah jika melakukan sparring bersama, apalagi Gempa merupakan petarung yang cukup handal. Hanya saja, kali ini mereka lebih baik tidak berurusan dengan Gempa yang berada dalam emosi. Bisa-bisa mereka malah babak belur. Karena selain tangkas, Gempa memiliki kekuatan tangan tidak main-main.
Hanya dengan sekali pukulan, lawan dapat tumbang begitu saja.
Maka dari itu, demi keselamatan diri keduanya menggelengkan kepala cepat. Menolak ajakan sparring yang lebih seperti membuka pintu ke alam lain dari pada sakit badan.
Gempa menaikkan alisnya. "Kenapa geleng-geleng kepala? Katanya tadi mau berantem." Kemudian dia berdecak pelan. "Padahal mumpung masih pagi. Kan bagus buat peregangan otot biar tidak kaku," cetusnya dengan wajah memelas, berharap mendapatkan simpatik kedua saudaranya itu.
"Gem, Kakak minta maaf," pinta Taufan, nelangsa.
"Kenapa minta maaf? Kan Kak Taufan enggak salah apa pun. Lagi pula aku hanya mengikuti ajakan Kak Taufan saja." Gempa membalas enteng. Ia melirik sesuatu di tangan kanan Blaze. "Wah, Aze, tadi aku mencari benda itu di dapur. Aku kira sudah hilang atau lupa menyimpan, tahunya ada padamu ya."
Blaze menunduk. Ia melihat ke arah tangan kanannya yang ternyata masih memegangi panci milik Gempa. Sontak saja dia membulatkan mata terkejut. Beruntung tidak terlempar atau dia tidak selamat.
Blaze menggaruk belakang kepalanya gugup. "Hehehe aku lupa. Nah, kukembalikan ke Kak Gempa," ujarnya sembari menyerahkan panci tersebut pada Gempa.
Gempa menerimanya kemudian kembali bertatapan dengan mereka.
"Jadi, bagaimana dengan tawaran sparringku?" Sekali lagi Gempa melontarkan pertanyaan perihal sparring. Ia masih menguji mereka berdua.
Taufan dan Blaze menggeleng cepat. "TIDAK! TERIMA KASIH!"
Mereka masih sayang nyawa, maaf saja. Karena berlatih bertarung bersama Gempa tidak ada bedanya dengan sang kakak sulung. Tidak ada belas kasihan ketika berada di arena atau lapangan. Entah Gempa atau Halilintar, keduanya pasti akan menyerang secara serius. Lengah sedikit saja dapat berakibat fatal.
Terdengar seperti hiperbola, namun itu kenyataannya. Taufan dan Blaze pernah menjadi sasaran hingga berakhir tepar selama beberapa waktu.
Gempa membuang napas lesu. "Hah kalian ini. Aku memberikan kesempatan malah dibiarkan begitu saja. Ya sudah, sana cepat bersihkan diri dan nanti langsung ke ruangan makan. Lakukan sebelum aku berubah pikiran," titahnya dengan nada lembut.
"SIAP, KOMANDAN!" seru Taufan dan Blaze bersamaan.
Keduanya segera berlari ke lantai atas untuk membersihkan diri. Meninggalkan Gempa yang menggeleng maklum akan tingkah itu.
Gempa berbalik kembali menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Tanpa sengaja dia berpapasan dengan salah satu saudaranya yang bermata hijau emerald.
Itu Duri, anak keenam dan juga salah satu adikknya.
Gempa tersenyum kecil. "Selamat pagi, Duri. Kau habis dari rumah kaca?"
Duri mengangguk semangat. "Um! Baru habis menyirami mereka. Dan Kak Gem tahu, aku mendapat kejadian langka lho!"
"Kejadian apa?"
Walaupun sudah dapat ditebak apa jawabannya, Gempa ingin mendengar langsung dari Duri. Terlihat jelas sekali kalau adiknya itu sangat semangat untuk memberitahukan sesuatu padanya.
Duri mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya dan diperlihatkan pada Gempa. Senyuman lebar tersungging di bibirnya hingga mata menyipit, menunjukkan bahwa dia sedang senang. Duri tertawa kecil.
"Hehehe lihat Kak Gem, aku baru sadar kalau menanam ini di kebun. Kalau diolah pasti jadi ramuan yang hebat," jelas Duri.
Berbeda dengan Duri yang semangat, Gempa justru melongo. Tanaman di tangan Duri benar-benar membuatnya tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Emm ... Duri," panggil Gempa pelan.
Duri menelengkan kepala ke kanan. "Ada apa, Kak Gem?"
"Itu ... mau diapakan tanamannya?" Gempa bertanya sambil menunjuk tanaman di tangan Duri. Raut wajahnya sedikit ngeri meski tidak terlalu kentara.
"Mn? Oh, mau aku berikan pada Solar agar diolah menjadi pil. Jadi, pemasokan obatku bertambah," jawab Duri enteng. "Ya sudah, aku pergi menemui Solar dulu ya, Kak! Beritahu kalau sudah waktunya makan ya! See you!" Kemudian pergi berlari meninggalkan Gempa sendirian.
"Hah ..."
Gempa membuang napas lelah untuk kesekian kalinya. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dihadapkan dengan berbagai kejadian. Tiba-tiba saja rasa pening mendera kepalanya.
"Sudahlah, lebih baik memasak saja," putus Gempa dan berjalan cepat ke dapur demi tidak menemukan kejadian aneh lagi. Sudah cukup kelakuan tiga saudaranya tadi, jangan sampai karena hal itu kewarasannya malah menyusut.
"Omong-omong, aku belum melihat Ais? Apakah masih tidur ya?" Ia bergumam pelan saat tiba di dapur.
"Siapa yang masih tidur, Kak?"
"Alamakocopotcopot!" Gempa terperanjat hingga latah, lalu menoleh cepat ke arah meja makan. Di sana sudah ada seseorang sedang duduk sambil memeluk boneka paus. "Ais, kau membuatku kaget!"
Ais mengangkat bahunya tenang. "Aku diam saja."
"Sejak kapan kau di sini?" tanya Gempa setelah berhasil menetralkan kekagetannya dan berjalan menuju pantry.
"Mn? Dari awal kau berbincang dengan Kak Taufan dan Blaze."
"Heeee? Kenapa aku tidak sadar keberadaanmu?" Satu alis Gempa terangkat heran. Kalau sudah selama itu, seharusnya dia bertemu dengan Ais. Namun, sedari tadi tidak ada siapa pun di dapur sebelum dia menemui Taufan dan Blaze.
Ais merotasikan matanya malas. "Mana aku tahu." Ia kembali merebahkan kepalanya di atas meja sambil menatap Gempa yang mulai memasak lagi. "Oh ya, apa kau sudah mendapat kabar kapan Kak Hali akan pulang?"
Gempa meliriknya, lalu menggeleng. "Belum. Kelihatannya masih belum selesai," jawabnya pelan.
Halilintar si kembar sulung itu hampir tiga bulan ini pergi keluar kota guna menyelesaikan tugas mendesak. Sebelum pergi, Halilintar hanya berpesan pada mereka untuk tidak membuat kekacauan. Dan hingga saat ini belum ada kabar sama sekali kapan pemuda itu akan pulang.
Jika ditanya rindu atau tidak, maka Gempa akan menjawab rindu. Meskipun pribadi kakak sulungnya dingin dan serius, Halilintar dapat menjadi sosok paling dewasa dan panutan bagi semua adiknya. Tak heran kalau dia sangat menghormati Halilintar. Bahkan saat tahu jika Halilintar akan pergi tugas, Gempa sedikit tidak rela.
Ingin rasanya Gempa tidak membiarkan kakaknya terus bekerja seperti itu. Dia ingin kalau kakaknya dapat hidup normal seperti kebanyakan remaja pada umumnya. Namun, apalah daya ketika jalurnya harus begitu.
Karena terlalu larut dengan lamunannya, Gempa tidak sadar kalau air yang dia masak sudah mendidih. Suara letupan segera menyadarkan Gempa.
"Astaghfirullah! Hampir saja aku menghanguskan panci ini," ucapnya lega. "Ais, tolong bantu menata makanan di atas meja."
Ais mengangkat kepalanya malas. Dengan langkah gontai, dia segera mengambil piring berisi lauk-pauk dan menatanya di atas meja. Menu sarapan pagi ini tidak terlalu beragam. Namun, Ais tahu kalau semua itu sehat dan enak. Cita rasa masakan Gempa memang jempolan.
Bersamaan dengan itu, Taufan dan Blaze sudah turun dari lantai dua. Mereka bertemu Duri dan Solar yang tampaknya baru selesai melakukan eksperimen di laboratorium. Terlihat dari Solar yang tampaknya lupa melepas jas putihnya.
Blaze memejamkan mata ketika aroma harum tercium oleh hidungnya. "Woahhh kak Gempa masak kari ya?"
"Iya. Cepat kemari," panggil Gempa.
Keempat orang itu berjalan cepat ke arah meja makan dan segera mengambil posisi. Blaze mendaratkan bokongnya di sebelah Ais. Alisnya bertaut saat kembaran kelima itu masih terlihat mengantuk. "Bangun, Ais," katanya.
"Hmmm." Ais membalas dengan gumaman. Namun, tidak mengangkat kepala sama sekali.
Duri mengedarkan pandangannya ke setiap kursi yang sudah ditempati oleh kelima saudaranya. Hanya ada satu kursi kosong tepat di tengah sana. Itu bagian untuk kakak sulung mereka yang sedang tidak hadir saat ini.
Memikirkan itu, Duri mendadak murung. Solar yang ada di sebelahnya sadar akan perubahan itu segera bertanya.
"Kenapa memasang wajah murung begitu?"
"Melihat kita duduk bersama di sini tanpa kak Hali, membuatku sedih. Aku rindu kak Hali," lirih Duri.
"Haish, tak usahlah murung begitu. Kak Hali pasti segera pulang." Taufan mengibaskan tangannya. "Dia hanya pergi tiga bulan saja, bukan selamanya kok," cetusnya enteng.
"Kau bilang apa, Taufan bin Amato?"
Sebuah suara terdengar dari arah belakang Taufan. Membuat mereka serentak melihat ke sana. Namun, tak berapa lama kemudian mata mereka membulat terkejut. Hampir saja Duri bersuara kalau tidak ditahan oleh Solar.
Taufan masih belum menyadari itu dan lanjut bicara. "Apa? Kau hanya pergi tiga bulan, bukan selamanya. Jadi, untuk apa Duri memasang wajah murung."
"Oh begitu."
"Iya."
Eh?
Taufan merasa ada kejanggalan di sini. Entah kenapa dia merasakan punggungnya mendingin. Lalu, kenapa suara yang bertanya padanya itu terasa familier?
Karena penasaran, Taufan pun perlahan menengok ke belakang pelan-pelan. Keningnya berkerut saat menemukan pakaian hitam merah tepat di depan matanya. Kemudian pandangan bergerak ke atas dan menemukan sepasang mata merah tengah bersibobrok dengan biru safir miliknya.
Ah mata merah. Hanya ada satu di keluarganya dan itu adalah Halilintar.
Tunggu- mata merah hanya milik Halilintar. Orang yang berdiri itu punya mata serupa. Jangan bilang ...
"KAK HALI!"
"Sambutan menarik, Adik-adik."
~•~•~
To be continued
Noh Halilintar pulang.
Oh ya maafin aku ya kalau ceritanya agak absurd. Sudah lama enggak nulis, jadi kaku plus aku kekurangan kosa kata. Harus banyak-banyak membaca ini mah.
Gimana sama bab kali ini?
Mohon kritik dan sarannya ya!
See you!
