Read My Music

Present by GoodMornaing

...

..

.

Happy Reading

Chapter 01 : A Day Before Meet U

.

..

...


- Musim Semi, 2011 -


Chanyeol mengacak rambut merah menyalanya dengan frustasi. Menatap banyaknya surat- surat tagihan yang berdatangan ke kotak pos bernomor 061, flat sederhana miliknya.

Sekarang bagaimana? Apakah dirinya harus menjual tubuhnya kepada tante- tante haus belaian?

Ewh..

Big-Underline-NO!

Memikirkannya saja sudah sukses membuat Chanyeol bergidik disekujur tubuhnya. Sejauh ini Chanyeol masih yakin akan orientasi seksual miliknya yang lebih menyukai pria manis Asia, daripada seorang wanita dewasa berbadan kencang hasil perawatan mati- matian dirumah sakit bedah plastik.

Baiklah, ayo hentikan sebentar otak Chanyeol yang menyimpang, berani- beraninya membayangkan seorang kekasih bila kenyataan yang ada mengatakan bahwa dirinya telah menjomblo selama 2 tahun lamanya.

Oh ayolahhh, Chanyeol menggerang dalam hati.

Jangankan uang untuk berkencan, Chanyeol bahkan hampir selalu kelaparan diakhir bulan.

Perkenalkan semuanya, nama pria ini adalah Park Chanyeol.

Berusia 20 tahun dan positif telah menjadi sebatang kara sejak kabur dari rumahnya 2 tahun lalu.

OH! Janganlah kalian bertanya alasan seorang Chanyeol kabur dari rumah, atau silahkan saja kalian menerima tatapan mematikan dari mata kelam milik pria berambut cat merah ini.

Baiklah, mari kita hentikan membicarakan masa lalu. Lebih baik kita membicarakan apa yang terjadi sekarang. Chanyeol terancam hidup dijalanan sebab telah menunggak pembayaran sewa flat yang di tempatinya saat ini.

Hidup diibukota sekejam Seoul dengan bermodalkan ijazah Sekolah Menengah Atas ternyata tidaklah semudah yang dibayangkan.

Tak ada perusahaan manapun yang menerima dirinya. HA! Jangan mimpi.

Tak ada pilihan lain bagi Chanyeol, selain memenuhi kebutuhan hidup dengan bekerja paruh waktu di 2 sampai 3 tempat sekaligus selama 2 tahunan ini.

Sungguh gila bukan?

Sebatang kara, dengan pekerjaan tak tetap dan keadaan ekonomi sungguh dibawah rata- rata.

Sebenarnya apakah yang membuat Chanyeol memilih tetap bertahan sampai sejauh ini? Di situasi yang seperti itu?

Jawabannya adalah; Chanyeol punya mimpi.

Chanyeol adalah seorang pria dengan mimpi yang besar. Dirinya percaya bahwa suatu saat nanti, dirinya akan berdiri bangga dan terbang bersama mimpinya itu.

Mimpi Chanyeol adalah menjadi Pemusik.

Menciptakan musik.

Menulis lirik lagu.

Dan menyanyikannya lagunya sendiri untuk ratusan atau jutaan orang.

Chanyeol dengan bangga dapat mengatakan bahwa itulah bakatnya dan itulah mimpinya. Tak ada hal lain di dunia ini yang lebih disukainya selain musik. Musik adalah segalanya bagi Chanyeol, musik adalah hidupnya.

Namun sayang, kenyataan sungguh pahit, mencapai sebuah mimpi tidaklah semudah HANYA memimpikannya saja.

Sudah tak terhitung audisi yang diikuti oleh Chanyeol selama 2 tahun ini.

Sudah tak terhitung pula Chanyeol menawarkan lagu-lagu ciptaannya kebanyak rumah produksi musik, semuanya NIHIL.

Dirinya ditolak dengan mentah- mentah.

Kecewa? Tentu saja.

Sedih, apalagi itu.

Namun, meski begitu Chanyeol tidak pantang menyerah. Meski dirinya kesal setengah mampus, sebab banyak kegagalannya itu tercipta dari kecurangan oleh orang-orang yang mempunyai koneksi di belakang mereka. Aduh.. apalah daya dirinya ini yang hanya orang biasa, miskin, sebatang kara, dan berpendidikan pas- pas an.

Menyebalkan? IYA, sangat.

Tapi Chanyeol tak akan pernah menyurutkan semangat demi mencapai mimpinya.

Karena musik adalah hidup Chanyeol, dan sebaliknya, Chanyeol hidup untuk musik.

Dirinya rela bekerja siang malam untuk menghidupi kebutuhannya sehari- hari. Lalu waktu tidurnya lebih banyak dihabiskan dengan ditemani sang gitar kesayangan. Merangkai nada demi nada menjadi melodi yang indah. Lalu memperbaikinya lagi dan lagi untuk membentuk sebuah harmoni yang sungguh sempurna.

Chanyeol percaya, suatu hari ini, musiknya akan berjejer diantara musik para musisi- musisi dunia yang sudah melegenda.


Kembali ke kondisi Chanyeol sekarang.

Terlihat Chanyeol menghela napas, sungguh berat. Setelah beberapa kali menghela nafas, kemudian Chanyeol melumatkan seluruh kertas- kertas tagihan yang sejak tadi berada ditangannya itu, membuatnya menjadi sebuah gulungan kertas besar. Kemudian melemparkan semua surat tagihan itu ke tong sampah.

Chanyeol bangkit berdiri, dari yang semula duduk dikursi makan tua miliknya, lalu berjalan menuju arah kamar.

Pria muda Park itu memasuki kamar tidur dengan ekspresi datar. Terlalu lelah berekspresi apa- apa lagi dalam menghadapi keadaan ini. Bisa disebut juga terlalu lelah berpikir dan melawan ketakutan akan hari esok yang tak pasti.

Oh, atau lebih tepatnya lagi, mungkin memang sudah terlalu lelah menjalani hidup yang begini.

Eh?

Heee?

Oh tidak.

Tidak tidak tidak.

"Berhenti memikirkan hal tak berguna, aku harus mencari uang sekarang," pikir Chanyeol pada dirinya sendiri.

Setelah itu Chanyeol menyambar jaket berwarna hitam dari gantungan bajunya, kemudian memakainya dengan tergesa. Dilanjutkan dengan mengambil tas besar berisi gitar kesayangannya. Menggendong gitar tersebut dibahu sebelah kanan.

Chanyeol pun menjadi sunyi, berdiam diri. Sekali lagi menghela nafas, kemudian menutup mata, seraya mengatupkan kedua tangannya dengan erat. Membuat sikap berdoa.

Berdoa untuk memperoleh kelancaran dalam segala urusannya hari ini, serta berharap keberuntungan untuk sekali saja memihaknya. Meminta kepada sang pencipta untuk memberikan dirinya pertolongan dan kekuatan untuk terus berjuang lalu berhasil meraih segala hal yang dirinya inginkan.

"Baiklah, semangat Park Chanyeol, keberuntungan tak akan pernah datang dengan sendirinya. Kecuali bila kau menjemputnya sendiri," ucapnya pada diri sendiri, lalu melangkah pergi dengan semangat yang membara.

Tipikal Chanyeol sekali.


Di tempat lain, disebuah Mansion dengan pilar- pilar megah berwarna putih gading.

Dikelilingi taman luas dan terawat lengkap dengan kolam ikan yang indah dengan bentuk rumit yang sungguh luas bagai sungai buatan di bagian depan Mansion. Lalu kolam renang besar nan biru dibagian belakang Mansion. Lalu berhektar tanah yang mengelilingi Mansion itu, membentuk taman bunga indah yang tampak seperti baru saja keluar kabur dari negeri dongeng.

Dan ditaman bagian belakang Mansion inilah, dapat kita lihat seorang pria mungil yang duduk disebuah ayunan yang menggantung disalah satu dahan pohon besar nan kokoh.

Matanya pria mungil itu tertutup, kepalanya bersandar pada salah satu tali ayunan yang sedang dinaikinya itu. Sambil sesekali angin sore membuat rambut hitam legam miliknya menjadi berantakan.

Pria mungil ini menendang dengan pelan kakinya ke tanah, agar ayunannya ikut bergerak pelan ke depan dan ke belakang.

Pria mungil ini amat sangat cantik.

Sebuah kecantikan unik yang sangat jarang dimiliki seorang pria. Membuat setiap orang yang melihatnya tak dapat berpaling. Wajah rupawan yang membius siapapun yang melihat.

Pria mungil ini memiliki wajah sempurna yang berada diantara cantik dan tampan. Dirinya memiliki keduanya. Membuatnya lebih cantik daripada banyak wanita diluar sana. Sekaligus lebih tampan daripada banyak pria diluar sana.

Seindah itulah dia. Seindah itulah Byun Baekhyun.

Lalu berjarak tak kurang dari satu meter Baekhyun. Tampak seorang gadis kecil bersandar pada pohon besar pemilik dahan penompang ayunan yang sedang Baekhyun naiki sekarang.

Gadis kecil itu bernama Shin Jimin. Panggil saja Shinjim atau Jimin.

Di kedua tangannya terdapat sebuah buku novel yang telah dirinya baca dengan suara sebaik mungkin, terhitung sejak beberapa puluh menit yang lalu.

Baekhyun menguap dengan sungguh lebar lalu menggeleng beberapa kali, terlihat menggemaskan sebenarnya, namun hal itu bukanlah pertanda baik bagi gadis yang tengah membaca buku untuk pria mungil ini.

Buku yang dipilih langsung oleh Baekhyun hari ini adalah novel klasik Romeo and Juliet.

Kisah cinta tragis yang sungguh kekanakan, konyol, dan bodoh. Hanya saja novel itu dikemas dengan kata- kata yang sialan jeniusnya indah. Membuatnya menjadi salah satu cerita paling terkenal sepanjang masa.

Bukankah itu menakjubkan?

Baiklah, Baekhyun akui.

Salah satu karya dari William Shakespeare ini memang indah. Siapa memangnya yang tidak mau mengakui fakta itu.

Namun, bila cerita melankolis dengan penuh sajak romantis yang penuh dramatisasi, dengan timpangnya justru digabungkan dengan suara kekanakan khas seorang Shin Jimin. Aduh.., menjadi lain rasanya.

Buku indah itu mendadak banting stir dongeng pengantar tidur yang dibacakan oleh seorang anak sekolah dasar. Tidak ada sama sekali kesan sedih, pilu, mengharu biru yang menyayat hati. Hilang sudah semua itu.

Dan Baekhyun tak suka itu, rasanya seperti ditemani oleh seorang bocah. Meski Jimin hanya dua tahun lebih muda darinya. Namun sungguh, suara remaja perempuan ini sepertinya masih memerlukan proses pubertas beberapa tahun lagi.

"Ekhm.." Baekhyun berdehem pelan, mengintrupsi Jimin yang tengah membacakan bagian Romeo dan Juliet tengah berdansa. Pria manis itu masih menutup matanya, tak ada sekalipun membuka mata sejak tadi, dan masih bersandar pada salah satu tali ayunan kayunya.

Jimin menatap wajah Baekhyun dengan ekspresi awas.

"Maaf menyela anda Nona Shin Jimin, tolong panggilkan Sekretaris Kim Minseok kesini, sekarang." Pinta Baekhyun, dan langsung dijawab Iya yang sungguh patuh dan hampir terdengar spontan dari gadis Shin itu.

Gadis berperawakan mungil dan berisi itu langsung menutup novel ditangannya, kemudian berlari masuk ke dalam ruangan Mansion megah milik keluarga Byun yang berjarak beberapa puluh meter dari tempat mereka berdua.

Meninggalkan Baekhyun yang terlihat memukau bagai malaikat mungil yang sedang duduk di-ayunan putih indah bak singgasana, disertai bias cahaya senja yang memantul dari air kolam renang, berpendar kearah Baekhyun.

Semakin membuat Baekhyun tampak bercahaya persis seperti malaikat.


"Matilah aku, matilah aku, matilah aku, bagaimana ini," adalah hal yang terus Jimin gumamkan disetiap langkahnya mencari Xiumin. Sang Sekretaris sekaligus tangan kanan dan salah satu orang kepercayaan dari Tuan Muda Byun Baekhyun yang kita sayangi.

"Kak Minseok!" Seru Jimin dengan khawatir bercampur lega karena akhirnya menemukan Xiumin.

"Oh!?"

"Ada apa Jimin?" Xiumin menoleh dengan refleks saat namanya dipanggil, lalu merespon dengan pertanyaan bernada khawatir didetik dirinya mendapati wajah si adik sepupu yang tampak sungguh pucat.

Jimin membuka mulut, namun cukup lama hingga akhirnya kata- kata itu keluar, dirinya terlalu emosional sekarang, sibuk menahan diri agar tak menangis. "T-Tu-Tuan muda, memanggilmu." Jimin merasakan lidahnya yang sudah sekaku es batu.

Xiumin terdiam sebentar, kemudian tersenyum, memberikan senyuman menenangkan pada si adik sepupu.

"Tak apa, dia hanya tak merasa cocok saja, bukan berarti dia membenci mu." Dengan sikap yang sungguh menguarkan aura seorang kakak laki- laki, Xiumin menepuk pelan kepala Jimin dengan sayang. Mencoba membuat Jimin merasa lebih baik.

"Tapi tetap saja, artinya kesempatanku untuk debut sekarang, telah sirna." Mata Jimin telah memerah, pasti gadis ini telah menahan sekuat tenaga untuk tidak menangis, sedari tadi. Sedari Baekhyun menyuruhnya untuk berhenti membaca bahkan tanpa menjelaskan bagaimana hasil audisi miliknya ini.

"Yang berarti kau harus audisi jalur biasa seperti banyak orang lainnya diluar sana." Xiumin masih berusaha memberikan semangat.

"Hey, tak ada salahnya memulai semuanya dari awal, kau bukan gagal, ini hanyalah setengah dari kemenangan. Kau tak harus selalu mencari jalan pintas hanya agar sampai pada mimpimu lebih cepat. Semuanya pasti perlu proses Jim, kau gagal saat ini, merupakan hasil dari semua kerja kerasmu dihari kemarin. Bisa berarti bahwa kau masih perlu banyak latihan. Bisa juga artinya kau terlalu banyak latihan hingga terlalu fokus pada hasil dan melupakan prosesnya, maka.. bersenang- senanglah.. hidup tak hanya berfokus pada masa depan, pentingkan masa kini. Bila kau tetap semangat dan terus berjuang hari ini, maka kau akan sukses kedepannya. Dan jangan lupa, sambil bersenang- senang."

"Ayo, bersemangatlah, kau boleh ke dapur dan makan beberapa es krim. Lalu aku akan mendatangimu lagi setelah aku bertemu dengan Tuan Muda Byun. Mengerti?" Xiumin telah meletakkan tangannya pada bahu Jimin.

Jimin menghela nafas, kemudian menganggukkan kepalanya. Dirinya sekarang memang memerlukan beberapa es krim untuk penghibur hati. Lalu gadis mungil itu berbalik meninggalkan Xiumin. Berjalan menuju ke dapur dan ruangan makan di bagian kanan mansion ini.

Xiumin menatap kepergiannya dengan senyum kecil. Kemudian melangkah menuju ke taman belakang, mendatangi Tuan Mudanya.

Tanpa Xiumin ketahui, Jimin menghentikan langkah kakinya, lalu bergantian kini menatap kepergian sang kakak sepupu.

"Hipokrit, kau menyuruhku bekerja keras sambil bersenang- senang. Namun kau sendiri adalah orang paling gila kerja yang pernah aku kenal," ujar si gadis Shin ini, sebelum kembali berbalik menuju arah dapur Mansion.


Baekhyun membuka matanya saat mendengar suara langkah kaki yang familiar baginya itu telah mendekat.

Itu Xiumin, pikirnya.

Saat merasakan Xiumin telah berada didepannya, Baekhyun mengulurkan tangan. Xiumin menggenggam tangan lentik sang majikan kedalam genggaman tangan mungilnya yang hangat.

"Kau tak apa Tuan muda Byun?" Tanya Xiumin dengan khawatir.

Baekhyun menggeleng, "Hanya sedikit pusing. Mungkin karena terlalu banyak berayun," jawab Baekhyun dengan pelan.

Xiumin menatap Baekhyun dengan sungguh dalam. Dirinya tertegun sebentar sambil memandang wajah dari si Tuan Muda di depannya yang tak biasa meminta bantuan saat berjalan ini.

Dirinya tahu, bukan itu yang menjadi alasan utamanya. Tak mungkin Baekhyun sepucat itu hanya karena pusing terlalu lama berayun.

Baekhyun sudah sepucat mayat sekarang. Tuan muda mereka tidak dalam kondisi yang baik. Semua orang tahu itu, namun tak ada yang berani berkata- kata.

Xiumin-pun sama, dirinya memilih bersikap seakan tak tahu. Sebab Tuan Muda mereka tak ingin orang- orang tahu. Maka mereka semua bersikap seolah tak tahu.

"Ternyata suara adik sepupuku juga tak dapat menghibur-mu?" Xiumin bertanya bersamaan dengan saat Baekhyun telah berdiri, menatap mata beriris kelabu milik Baekhyun yang selalu memandang kosong ke depan.

"Dia hanya terlalu imut." Komentar Baekhyun dengan halus penuh kesopanan, Xiumin pun terkekeh mendengarnya, "dan kekanakan.", lalu Xiumin justru ikut menambahkan.

Baekhyun tersenyum lebar. Senyum langka yang sejauh ini hanya beberapa orang yang dapat melihatnya.

Baekhyun tampak luar biasa menggemaskan, mata puppy itu menyipit dalam lengkungan bulan sabit. Disertai senyum-nya yang berbentuk kotak menampilkan gigi- gigi kecil Baekhyun yang lucu, serta tak ketinggalan terangkatnya kedua pipi kenyalnya yang berbentuk seperti mochi.

Siapapun akan ikut tersenyum saat melihat senyum yang menyegarkan hati itu.

"Aku senang dapat menghiburmu," ucap Xiumin seraya memulai langkah mereka berdua.

Keduanya bergandengan tangan melewati jalan setapak yang setiap sisinya berjejer bunga dengan banyak warna. Xiumin selalu berpikir, bahwa seluruh bunga disini indah, Mansion ini indah, bahkan pemilik Mansion yang tengah berjalan sambil bergandengan dengannya ini juga amat sangat indah.

Namun sayang, keindahan itu tak dapat di lihat oleh si pemilik keindahan itu sendiri.

Karena Tuan Muda Byun Baekhyun kesayangan kita, tak dapat melihat apapun.


Chanyeol menyandarkan tubuh pada bangku halte yang sepi malam ini. Mengangkat tangan kirinya, melihat dari jam tangan yang melingkar ditangannya, telah menunjukkan pukul 20.30 KST. Busnya akan datang 30 menit lagi.

Dengan sebuah tas gitar bersandar disampingnya, pria pemilik mata beriris gelap itu menghitung Won demi Won yang didapatnya hari ini. Sekarang adalah malam minggu.

Daripada meremukkan badannya untuk bekerja di cafe yang sungguh ramai, dirinya lebih memilih untuk mengamen disalah satu tongkrongan anak- anak Seoul sekarang. Lebih cepat, sekaligus dia dapat menyalurkan bakatnya. Siapa tahu ada pencari bakat yang sedang berkeliaran bukan?

Chanyeol memasukkan beberapa lembar uang itu kedalam dompetnya. Lalu kembali mengacak rambut merah menyala miliknya frustasi. Jujur saja, meski dia selalu dapat mendorong diri sendiri untuk tak menyerah dan terus optimis.

Di saat- saat seperti ini, Chanyeol terkadang merasakannya juga. Inilah yang disebut dengan fisik yang sedang lelah membuat jiwa juga merasa lelah.

Perasaan putus asa dan kefrustasian atas pencapaian yang selalu tak sesuai rencana, itu selalu datang disaat- saat lelah seperti ini.

Apakah semua ini akan berakhir?

Bila berakhir-pun, apakah berakhir dengan baik?

Bisakah aku?

Kuatkah?

Apakah aku akan menjadi salah satu dari jutaan musisi gagal lainnya?

Adalah kalimat yang terus berputar- putar dikepalanya.

Chanyeol telah membuang segalanya untuk mimpinya ini. Bila Chanyeol tak dapat mencapai mimpinya, Chanyeol akan hancur.

Nyatanya sekarang, Chanyeol telah setengah retak disana- sini. Dirinya terus berusaha mengabaikan itu. Mengabaikan bisikan- bisikan hati yang merayunya untuk menyerah saja.

Namun pria beriris hitam ini tak mau. Chanyeol memang hancur bila hidup tanpa mencapai mimpinya, namun dirinya lebih hancur lagi bila hidup tanpa mimpi ini.

Sekali lagi, dia adalah pria yang hidup untuk mimpi dan mimpinya adalah hidupnya.

"Baiklah, semangat!!" Seru Chanyeol menyemangati dirinya sendiri.

Baik, semuanya pasti ada jalan keluarnya, semuanya akan baik- baik saja asalkan dirinya bekerja keras dan terus berusaha. Pasti ada saat dimana orang- orang mengakui kerja kerasnya. Chanyeol terus mensugesti dirinya sendiri dengan kalimat- kalimat penguat.

Entah kita menyebutnya kuat, berani, atau gila? Sepertinya ketiganya. Lagi pula manusia memang memerlukan ketiga sifat itu untuk bertahan didunia yang sangat senang menghancurkan orang yang lemah, menikam orang yang mudah takut, dan harus menjadi gila dulu untuk menghadapi dunia yang lebih gila.

Chanyeol sungguh hebat, dan dirinya bangga pada diri sendiri. Semangat.

Dari kejauhan terlihat gadis berambut pendek coklat yang berjalan sambil menghentak- hentakan kakinya. Terlihat kesal, bahkan dari jarak 5 meter Chanyeol dapat mendengar sumpah serapah yang sungguh tak pantas keluar dari bibir gadis itu.

Chanyeol berusaha mengabaikannya.

"KIM MINSEOK SIALAN, DASAR PRIA PENDEK, PIPI BAKPAO, PEMBERI HARAPAN PALSU, MULUT MANIS BERBISA, APA SUSAHNYA MENGANTARKU PULANG HAH? BAGAIMANA BISA DIA MENURUNKANKU DITENGAH JALAN DEMI CHEN AHJUSSI. ARGG.. AKU BENCI NAIK BUS! DASAR HOMO MENYEBALKAN!"

Hmm..

Chanyeol sedikit terganggu dengan kalimat terakhir itu. Apakah orientasi seksual dapat dikategorikan sebagai kata umpatan sekarang?

"PASTI IBU SEKARANG MENGHARAPKAN KABAR BAIK DARIKU HUEEE Eh-..."

Seketika tersadar dirinya tampak sungguh memalukan, rengekan gadis itu terhenti saat pandangan mata coklat milik Jimin bertemu dengan mata hitam gelap yang sungguh kelam milik Chanyeol.

"A... er... ehm.." Chanyeol menyeringai melihat gadis itu salah tingkah. Dilihat dari dekat gadis didepannya ini sangatlah muda, Chanyeol bahkan menebak dia belum lulus Sekolah Menengah Atas.

"Kau baik- baik saja nona kecil?" Chanyeol mencoba untuk bersikap layaknya gentleman.

Walaupun awalnya Chanyeol ingin mengejek gadis kecil itu karena sikap bar-barnya tadi, namun saat melihat mata si gadis kecil sangat merah dan bengkak khas seseorang yang habis menangis, Chanyeol menjadi tak tega.

Gadis itu menatap Chanyeol dengan takut. Oh jangan salahkan Jimin, siapa yang tak akan takut melihat pria berotot, sungguh tinggi, berambut merah menyala, dan jangan lupakan beberapa tato di lengannya. Serta tak ketinggalan tatapan tajam dari mata hitam kelam itu, dimalam hari sepi seperti ini.

Sebenarnya kemana perginya semua orang, kenapa daerah ini sepi sekali?

"Kenapa kau malah melamun, kau sungguh tak apa?" Kalimat bernada khawatir dari suara husky itu menyadarkan Jimin dari sikap observasinya.

"Kalau dia jahat seharusnya dia menculikku dari tadi bukan?"

"Bukannya menanyakan keadaanku. Apakah ini yang orang- orang biasa sebut dengan jangan menilai buku dari sampulnya," pikir gadis Shin ini dengan polosnya.

"Anda... siapa?" Tanya Jimin dengan suara ragu yang kentara.

Siapa yang tak ragu untuk berkenalan dengan pria berpenampilan sangar saat malam- malam di halte yang sepi seperti ini?? Tak ada.

Chanyeol tersenyum ramah, menampilkan gigi sempurna kebanggaan semua dokter gigi. Tak ketinggalan dimple manis itu tampak di pipi sebelah kanannya. Sedikit banyak melunturkan kesan bad guy dari diri pria berambut merah itu.

"Aku Park Chanyeol. Lalu siapa namamu gadis kecil?" Chanyeol balik bertanya.

"Shin Jimin," jawab Jimin singkat. Lalu detik selanjutnya menyesal didalam hati, sebab memberikan namanya kepada orang asing.

"Menunggu bis juga?" Kembali Chanyeol bertanya, kemudian diangguki oleh Jimin sebagai jawaban.

"Apa kau tak lelah berdiri disitu? Duduklah Jimin." Chanyeol dengan ramah menepuk tempat disebelahnya.

Jimin pun menurut, dengan kaku dan canggung gadis itu duduk dibangku halte. Membuat jarak beberapa puluh sentimeter dari Chanyeol.

"Kau masih sekolah Jimin?" Chanyeol bertanya, membuka percakapan.

Chanyeol adalah orang yang easy going, dirinya sungguh tak tahan dengan suasana canggung bersama orang lain. Chanyeol akan terus berusaha membuka sebuah percakapan, hal tak penting sekalipun.

"Iya, tahun ke dua, Sekolah Menengah Atas," jawab Jimin dengan pelan sambil menatap wajah Chanyeol dari dekat.

Gadis ini baru sadar, dibalik auranya yang sungguh mengintimidasi, pria yg bernama Park Chanyeol ini sungguh tampan.

"Lalu Kak Chanyeol --ekhm aku rasa Kakak lebih tua dariku-- bagaimana? Apa pekerjaanmu? Atau masih kuliah?" Chanyeol menelan ludahnya saat salah satu pertanyaan menyebalkan itu terlontar dari Jimin.

"Aku musisi jalanan, sedang berusaha dengan audisi - audisiku," jawab Chanyeol kaku.

"Sudah ditebak dengan gitar, suara serak basah merdu yang menghanyutkan, lalu wajah tampan kelewat menjual itu. Wajah- wajah calon idol besar," pikir Jimin.

"Ohh.. aku juga," ucap Jimin menimpali, membuat Chanyeol menoleh dengan sungguh cepat kepada gadis itu, hingga Jimin mengira Chanyeol dapat mematahkan lehernya. Baiklah, itu berlebihan. Mungkin hanya sekedar keseleo atau salah urat, mungkin.

"Apa? Kau penyanyi?" Chanyeol bertanya, memecahkan pemikiran konyol Jimin tentang kondisi leher Chanyeol.

"Begitulah, tapi aku gagal hari ini, entahlah aku harus menyebutnya apa, tapi kurasa itu bisa disebut audisi. Namun bedanya su juri hanya menguji suaraku, bukan vocalku saat bernyanyi."

Chanyeol terdiam, kedua alisnya menukik bingung, apa maksudnya itu? bisa disebut audisi? Hanya suara? Tapi bukan vocal bernyanyi? Jadi itu audisi atau bukan? Kenapa penyanyi tidak bernyanyi? Kenapa tak jelas sekali?

"Aku tak mengerti apa maksudmu?"

Jimin menghela nafas, "Begini kak, kurasa ceritanya akan terdengar sangat klasik. Ada seorang konglomerat yang sialan kaya --Ups! Maaf Kak-- yang SANGAT kaya maksudku, dia memiliki banyak cabang perusahaan dan hotel yang bergantung dibawahnya, dan salah satunya adalah perusahaan hiburan. Kak Chanyeol pasti tahu ini, Agensi BB Entertaiment." Jimin mengucapkan nama agensi itu dengan sedikit bisikan.

Lalu disinilah Chanyeol, tertegun setelah mendengar bisikan Jimin.

Bohong bila Chanyeol tak merasakan perutnya terbalik saat mendengar nama agensi besar itu. Agensi yang telah mengeluarkan musik- musik berkualitas dengan penyanyi- penyanyi yang amat sangat berbakat. BoA, Taeyeon, lalu D.O semuanya debut dibawah label BB Entertaiment, dan jangan ditanya lagi bagaimana suksesnya.

"Jadi, kau audisi langsung didepan CEO BB.Ent, pemilik BB Grup? Tuan... siapa itu namanya, ah! Byun Baekhyun?" Tanya Chanyeol, dan diangguki dengan semangat oleh Jimin.

Chanyeol terkesima.

"Bukankah tak ada yang tahu bagaimana wajah CEO dari BB.Ent? Pemilik Agensi itu sekaligus pemilik tunggal kerajaan bisnis BB Grup telah membuat semua media tak menampilkan wajahnya. Hebat sekali kau dapat langsung menemuinya." Chanyeol membeberkan fakta yang diketahuinya.

Jimin menjadi salah tingkah.

"I-Itu karena kakak sepupu laki- lakiku adalah Sekretaris dan Tangan kanannya, jadi dia memberikan aku kesempatan." bibir Chanyeol membentuk garis tipis, setengah jengkel, lagi- lagi karena koneksi.

Sungguh, tak adil sekali.

"Lalu?" Namun Chanyeol tetap bertanya, pasalnya tak akan mungkin dirinya sebagai salah satu warga Korea Selatan tak penasaran akan bagaimana sosok jenius yang berada dibelakang meja CEO BB Grup yang terkenal itu. Seluruh penduduk Korea Selatan ingin tahu hal ini. Semua tentang BB Group selalu menjadi misteri dan buah bibir.

"Begitulah kak, meski aku sudah menduganya dari awal. Aku gagal yang artinya aku harus audisi jalur biasa. Bersaing dengan ratusan orang dan kemungkinan lolos itu hampir tak mungkin," jelas Jimin dengan nada putus asa.

"Karena seharusnya memang begitulah sebuah audisi berlangsung bukan? Bukan dengan memasuki rumah pemilik perusahaannya. Tidak semua orang memiliki kakak laki- laki yang merupakan Sekretaris di perusahaan besar." Chanyeol tak dapat menahan dirinya untuk tidak menyindir gadis ini, siapa yang tak kesal melihat ada seseorang yang masih saja mengeluh bahkan setelah diberikan kesempatan menakjubkan.

"Iya..." jawab Jimin pelan, merasa tak enak hati setelah mendengar nada suara Chanyeol. Oh ayolah, gadis itu seharusnya lebih peka dan paham, Chanyeol pasti telah mengalami banyak kegagalan dan banyak audisi disana- sini.

Keduanya sempat terdiam canggung. Lalu Chanyeol kembali berdehem, sudah dibilang, pria setinggi 185 cm ini tak pernah tahan dengan suasana canggung macam apapun.

"M-Maafkan aku," Chanyeol berbisik pelan.

Jimin tersenyum maklum, "Tak apa, dan maafkan aku juga kak," ujarnya sambil menatap Chanyeol dengan senyuman, dibalasi Chanyeol dengan anggukan canggung.

Kemudian Chanyeol memberikan ekspresi seperti baru tersadar. Baru menyadari sebuah hal.

"Apa aku boleh tahu, bagaimana tes nya? audisi itu.." Chanyeol bertanya dengan pelan, dirinya tahu, hal ini pasti adalah rahasia yang hanya sedikit orang yang mengetahui ini.

Shin Jimin menatap Chanyeol, memandang pria itu lamat- lamat. Mencoba memutuskan untuk membeberkan informasi top secret ini kepada Chanyeol atau tidak.

"Membaca." Memberitahukannya adalah keputusan Jimin pada akhirnya.

"Heh?" Chanyeol terlalu terkejut dengan informasi tersebut.

Rasanya sedikit..mengecewakan?

Dirinya mengharapkan sesuatu yang lebih sulit, seperti menciptakan lagu atau menyanyi lagu- lagu bernada tinggi misalnya.

"Kau sedang meremehkannya sekarang? Justru itulah tujuannya. Tuan Muda Byun ingin para peserta audisi meremehkan tes tersebut. Membuat kita terkecoh akan kepercayaan diri kita. Berpikir bahwa bila hanya sekedar membaca. Harusnya kita lolos dengan mudah. Padahal, tidaklah semudah itu." Chanyeol terdiam menyimak penjelasan gadis kecil didepannya.

"Lalu penilaian dan standar lolos atau tidaknya bagaimana?" Chanyeol masih penasaran.

Jimin pun menghela napas dengan berat, "Aku tak tahu, Tuan Muda Byun akan memilih salah satu buku di perpustakaannya, lalu kita akan membacakan isi buku itu padanya. Dan saat itulah penentuan kita akan lolos atau tidak." Jimin menghela napas lagi.

"Dan aku tidak," sambungnya, anehnya Chanyeol mendapati dirinya bersimpati pada gadis kecil ini. Padahal Chanyeol juga telah sering mengalami kegagalan dalam audisi semenjak 2 tahun lalu.

Keduanya kembali terdiam, membuat kecanggungan kembali merayap diantara mereka. Membuat chanyeol gelisah, pria ini sungguh tak tahan situasi canggung, semacam apapun.

"Kau mau mendengar aku bernyanyi?" Tawar Chanyeol.

Rona muka gadis Shin itu langsung menjadi cerah, diikuti kepalanya yang mengangguk dengan semangat. Oh.. Chanyeol baik sekali bersedia menyanyi untuk menghiburnya.

Dengan gerakan luwes dan gesit, Chanyeol mengeluarkan gitar kesayangannya dari tempatnya. Lalu meletakkannya diatas pangkuan kakinya yang berlipat.

"Ada request lagu Nona Jimin?" tanya Chanyeol pada gadis kecil disebelahnya. Jimin pun hanya terkekeh, lalu menggelengkan kepalanya. "Terserah Kakak saja." Ucap Jimin.

"Baikah kalau begitu." Chanyeol pun mulai memetik gitarnya.

"Lagu ini aku beri judul, Dont Be Sad, aku biasanya akan memainkannya saat sedang sedih," jelas Chanyeol yang kontan saja membuat mata Jimin berbinar.

"Kakak menciptakan lagu sendiri?! Hebat!!" teriaknya heboh, dan hanya dibalasi Chanyeol dengan senyuman bangga.

Chanyeol mulai memainkan intro lagunya, disampingnya Jimin mendengarkan dengan hikmat.

( Living in the world is such a short time)

(How we missed each other)

(Looking back, we've come such a long way)

(Looking at your pale face while walking in the rain)

(My heart is hurting because of you)

(How do much... we need to be hurt...)

(For our wishes will come true?)

(Dont look so sad)

(I will never give up)

(We won't regret our meeting, would it be?)

(Even if I have to walk this hard and dangerous road, I still love you forever...)

Nananana... nananana...

Hoooo...

Chanyeol tampak sungguh menikmati nyanyiannya. Terdengar tulus. Terdengar indah.

Pria itu seakan masuk dalam dunianya sendiri. Lalu membuat orang lain masuk dalam dunia seorang Park Chanyeol. Musik yang Chanyeol ciptakan sungguh menciptakan dunia yang baru.

Mata Jimin mulai berkaca- kaca.

Musik dari lagu tadi sungguh dingin.

Meski berjudul Jangan Bersedih, namun sang penyanyi sangat jelas terlihat menekan kesedihannya sendiri.

Seorang diri. Oh.. itu pasti sangat menyakitkan.

Lagu tadi sungguh singkat namun benar- benar mengetuk hati Jimin.

Ditambah lagi suara Husky Chanyeol sungguh nyaman didengarkan saat bernyanyi. Pria ini sungguh paket sempurna. Berbakat, tampan, dan memiliki personality yang baik. Seseorang yang memang terlahir untuk menjadi Idola yang dipuja semua orang. Dia terlalu memukau.

Kenapa?

dan, bagaimana?

Bagaimana bisa orang seberbakat ini belum juga bisa debut?

Kenapa perusahaan musik Korea Selatan sungguh bodoh sekali menyia-nyiakan sebuah bakat emas ini?

Jimin tak habis pikir!!

Chanyeol menatap Jimin yang tengah menyeka air mata dipipinya, yang mana Jimin sendiri bahkan tak tahu sejak kapan telah menangis. Sedangkan Chanyeol mengganggap gadis remaja didepannya terlalu terbawa perasaan akan lagu tadi.

"Pasti gadis ini juga telah melewati jalan yang sulit," pikir Chanyeol, sebab pria itu tahu bagaimana kerasnya persaingan untuk menjadi idol.

Tanpa tahu bahwa sekarang Jimin telah melupakan hasil dari audisinya sendiri, dirinya lebih merasa tersiksa dengan keadaan Chanyeol sekarang. Seperti melihat sebuah berlian namun bukannya ditempa dan dipamerkan, justru diinjak lalu disembunyikan didalam tanah terdalam.

"Kak Chanyeol.." Panggil Jimin dengan lirih.

"Iya?" Chanyeol menjawab singkat.

"Aku akan memohon kepada Kakak sepupuku untuk memberikanmu kesempatan audisi didepan Tuan Muda Byun juga. Aku akan membantumu apapun yang terjadi. Hiks... KAU HARUS DEBUT! Aku akan menjadi penggemar pertama-mu! HUEEEEE.." Lalu tanpa rencana, tanpa aba- aba, dan tanpa alasan, gadis mungil itu memeluk leher Chanyeol sambil menangis kencang bak balita.

Sedangkan Chanyeol, terlampau terkejut untuk merespon apapun. Disaat dirinya telah berada diambang batas putus asa. Seorang gadis kecil memberinya harapan untuk mendapatkan sebuah kesempatan. Kesempatan untuk selangkah lebih dekat menuju mimpinya.

"Terimakasih Jimin," gumam Chanyeol sambil menepuk pelan punggung gadis kecil yang berada dipelukannya itu.

Gadis ini sungguh ajaib, datang entah dari mana, kecil mungil, dan memberikan sihir padanya untuk dapat terbang menuju mimpinya diatas sana. Persis seperti Tinker Bell.

-- Chapter I End. To Be Continue --

PS:

Original Song: Dont Be Sad by Chanyeol, Baekhyun, Kyungsoo, and Lay