Read My Music by GoodMornaing
Cast: Park Chanyeol x Byun Baekhyun
Genre: Romance and Drama
.
.
.
Chapter 43: Genius
- Happy Reading -
.
.
.
Seoul, Korea Selatan. Lokasi Mansion Byun.
Musim Semi, 2014. Pukul 22:00
- 120 menit sebelum insiden -
Baekhyun tertawa sopan mendengar beberapa lelucon garing yang dilontarkan salah satu tamu penting didepannya. Lalu dengan lihainya Baekhyun mulai memutar- mutar topik pembicaraan hingga semuanya secara tak sadar ikut dalam permainan kata Baekhyun, yang mana tujuan Baekhyun adalah mengalihkan fokus pembicaraan mereka dari yang awalnya selalu berputar kepada Baekhyun, lalu akhirnya berpindah kepada tak lain tak bukan Kim Jongdae, CEO baru BB Groub.
Setelah tujuan Baekhyun berhasil. Dengan teramat terampil Baekhyun mundur lalu menghilang dari circle para pengusaha dan pejabat itu. Tanpa satupun menyadarinya.
"Maafkan aku Chen Ahjussi, namun mengertilah, aku mempunyai tujuan lain malam ini." Bisik Baekhyun pada dirinya sendiri seraya terkikik geli.
Dengan langkah ringan setelah 2 kali meneguk cairan champagne, Baekhyun melangkah pada satu dan merupakan satu-satunya tujuannya malam ini.
"Ekhmm.. apakah anda sedang sibuk Tuan Park?" Dengan nada lembut Baekhyun bertanya.
Chanyeol yang memiliki telinga tajam khas seorang musisi, dan tentu saja sudah hapal mati akan siapakah pemilik suara yang memanggilnya itu. Dengan perlahan berbalik badan, sebelumnya membelakangi Baekhyun dan berhadapan dengan Suho, kekasih Sehun teman satu Grup nya. Menjadi berhadapan dengan Baekhyun sekarang.
Hitam kelam, merupakan warna rambut yang dimiliki oleh pria luar biasa cantik dihadapannya ini.
Mata abu- abunya tampak berkilau memantulkan cahaya lampu- lampu hias yang bergantung indah diatas kepala keduanya. Mata itu memandangi Chanyeol dengan intens namun lembut, membuat siapapun yang bila berada diposisi Chanyeol sekarang dijamin sudah pasti merona hebat.
Sialan, dia terlampau indah hingga rasanya dadaku terasa sakit. Gerutu Chanyeol didalam hatinya.
"Tidak Komisaris Byun, anda tampak indah malam ini. Sungguh kehormatan anda mendatangi dan menyapa saya, apakah anda memiliki keperluan bersama saya Tuan Komisaris?" Tanya Chanyeol balik dengan suara berat rendah khas miliknya.
Suho yang sedari tadi merasakan atmosfer aneh diantara keduanya mulai menyadari bahwa sikap terbaik yang diambil sekarang adalah, "Ekhmm.. saya mohon undur diri, sepertinya saya perlu menyapa putri CEO dari Sawsung Electronics yang sedang duduk sendirian disana."
Baekhyun tersenyum tipis kearah Suho yang berlalu meninggalkannya berdua dengan Chanyeol. Sementara Chanyeol mulai menunjukkan raut tegang.
"Keberatan bila ikut saya sebentar Tuan Park?" Tanya Baekhyun, meminta izin dengan sopan.
"Tidak. Ekhm.. saya tidak keberatan." Jawab Chanyeol dengan kaku, teramat canggung. Gugup mulai menggerogotinya setelah ditinggalkan berdua saja dengan Baekhyun.
"Good." Gumam Baekhyun, kemudian dengan ringannya, mulai melilitkan tangan ke lengan Chanyeol. Setelah itu keduanya berjalan sambil bergandengan, Baekhyun memimpin arah tujuan keduanya.
Chanyeol merasakan wajahnya mulai memanas. Sepanjang langkah keduanya dibawa Baekhyun, semua mata tertuju pada mereka berdua. Tak sedikit pula Chanyeol memergoki beberapa orang berbisik sambil menatap mereka berdua. Chanyeol mulai khawatir ini akan menjadi skandal dan merugikan Baekhyun.
"Menurutmu ini tak apa Baek?" Tanya Chanyeol dengan suara berbisik, secara kontras merubah kosa-kata yang digunakannya menjadi informal.
Baekhyun tak langsung menjawabnya, hanya terkekeh pelan. "Ini pesta VVIP Chanyeol, bukan tempat orang-orang yang suka menyebarkan gosip murahan. Lagipula aku tak keberatan menjadi headline gosip mingguan bersamamu."
Baekhyun melempar senyum menenangkan ke pria disampingnya, setelah melihat senyum khas seindah malaikat itu Chanyeol ikut merasakan ketenangan, dan membalas senyuman sang pujaan hati.
Kemudian keduanya mempercepat langkah menuju sayap kiri lantai 1 Mansion Byun, yaitu ruangan- ruangan pribadi dari pemilik Mansion mewah ini. Bagian Mansion yang sedari awal acara telah ditutup dan dilarang bagi siapapun untuk memasukinya. Tentunya pengecualian kepada si Tuan Rumah.
Setelah melewati beberapa lorong yang Chanyeol sudah teramat familiar, akhirnya keduanya berhenti didepan sebuah ruangan.
Perpustakaan Mansion Byun
Tempat keduanya pertama bertemu di Mansion ini.
Baekhyun membuka pintu double dihadapan keduanya secara bersamaan. Kemudian menyilahkan Chanyeol masuk terlebih dahulu.
Pandangan Chanyeol mengitari perpustakaan yang tak pernah dimasukinya lagi, sejak dirinya meninggalkan Mansion Byun 3 tahun lalu.
"Tak ada yang berubah.." Gumam Chanyeol yang masih dapat terdengar oleh Baekhyun.
"Mansion Byun memang selalu begitu. Tak berubah. Bangunan dan ruangannya. Maid dan Butlernya. Koki dan Bodyguardnya. Sudah begini sejak Byun pertama membangunnya. Ah.. ada perubahan, yaitu dibangunnya perpustakaan ini saat Ibuku baru saja menikah dengan Ayahku. Namun jika diukur dari terakhir kali kau berada di Mansion ini, benar... tak ada yang berubah." Baekhyun mengatakan itu semua dengan suara dan emosi yang sungguh tenang. Kemudian menoleh kepada Chanyeol disampingnya, sedikit mendongak agar dapat menatap arah mata Chanyeol yang lebih tinggi darinya.
Dengan senyuman secantik malaikat, Baekhyun kemudian berucap, "Satu- satunya yang berubah sejak tiga tahun kau tak kesini adalah... aku."
Chanyeol menatap mata abu- abu yang sekarang tak terlihat kosong, melainkan bisa berfokus pada sebuah objek, dan dengan keberuntungan sebesar lautan, fokus utama mata abu- abu itu sekarang adalah dirinya.
"Selamat atas kembalinya penglihatanmu Baek. Maaf terlambat 2 tahun untuk mengatakannya." Ujar Chanyeol setulus embun.
Mendengar itu membuat Baekhyun tersenyum dengan mata ikut melengkung bersamaan dengan bibirnya. Kemudian tanpa Ba Bi Bu, Baekhyun meraih tangan besar Chanyeol, menarik pria tinggi itu untuk berjalan kebagian belakang Perpustakaan bersamanya.
"Ada seseorang yang ingin aku perkenalkan padamu." Ujar Baekhyun dengan langkah semakin cepat.
Chanyeol mengira Baekhyun akan membawanya kearah dinding kaca besar perpustakaan, yang merupakan tempat favorit keduanya menghabiskan waktu dulu. Namun perkiraan Chanyeol salah, Baekhyun justru membawanya berjalan berbelok ke kanan melewati dinding kaca yang Chanyeol hanya dapat lirik sekilas diantara beberapa rak buku yang keduanya lewati.
Setelah menyadari kemanakah Baekhyun membawanya, Chanyeol bergumam didalam hati, "Ruang belajar dari Perpustakaan, yang biasa digunakan untuk menjadi tempat Jeno dan Jaemin untuk Home Schooling."
Langkah keduanya bersahutan menggema dilantai marmer Perpustakaan Mansion Byun. Membuat seseorang yang sedari tadi fokus menulis rumus di papan tulis besar itu menoleh.
Seketika, Chanyeol merasa tubuhnya membeku. Dirinya menatap intens dan kaku kepada seseorang didepannya.
Seorang anak laki-laki berumur kurang lebih 3 atau 4 tahunan. Sedang berdiri diatas kursi kayu yang dijadikan alat bantu si bocah kecil untuk bisa menulis pada area tinggi dipapan tulis yang dipakainya.
Namun bukan posisi ataupun kegiatan anak laki- laki itu yang membuat Chanyeol membeku. Melainkan wajah, figur, bahkan bahasa tubuh dari anak laki- laki itu yang membuat Chanyeol langsung mengenalinya.
Anak laki- laki itu teramat mirip dengan Baekhyun hingga rasanya bulu kuduk Chanyeol terasa meremang. "Baek.. kau.. punya keponakan? Bukankah kau anak tunggal.." Bisik Chanyeol dengan mata yang masih terfokus pada si Baekhyun versi mini, yang sekarang terlihat berusaha turun dari kursi yang tadi dinaiki-nya.
Baekhyun mengeluarkan ekspresi tenang namun serius. "Jesper.. bisa kesini sebentar?" Mendengar panggilan Baekhyun, si bocah langsung berjalan cepat mendatangi keduanya pria dewasa didepannya.
Chanyeol masih menatap anak laki- laki yang sekarang dirinya tahu bernama Jesper itu dengan lekat.
Jesper sekarang berdiri didepan Baekhyun. Dengan kedua tangan Baekhyun berada dikedua pundaknya. Chanyeol memandang keduanya bergantian. Semakin takjub dengan kemiripan keduanya.
"Jesper, ini adalah pria yang kemarin Ayah ceritakan, ayo beri salam dan perkenalkan dirimu kepadanya." Baekhyun mengatakan itu semua dengan suara lembut dan senyuman terselip dalam setiap katanya. Sesekali menatap Chanyeol, menelaah semua ekspresi sang musisi.
Sedangkan disisi lain, tenggorokan Chanyeol terasa tercekat setelah mendengar bagaimana sang komisaris menyebut dirinya sendiri. Ayah?
Jeda sunyi yang singkat itu dipecahkan oleh suara imut Jasper, "Selamat Malam, nama saya Jesper Byun BaekHa, umur saya 4 tahun. Saya bisa berbicara 14 bahasa yaitu Korean, Mandarin, Jepang, Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, Arab, Portugis, Rusia, Indonesia, Thai, dan Tagalog. Jadi bicaralah senyamannya dengan bahasa yang anda bisa, saya akan mengikutinya. Senang bertemu dengan anda." Ujar Jesper yang berbicara cepat menjelaskan semuanya, kemudian menutup itu semua dengan bungkukkan sopan 90 derajat. Baekhyun langsung mengusak pelan rambut Jesper setelah jagoan kecilnya itu kembali pada posisi berdiri tegap.
Chanyeol mengerutkan dahi seraya memiringkan kepala. Terlampau terkejut untuk mencerna semuanya. Tanpa sadar memperlihatkan respon yang terlihat sungguh lucu.
Baekhyun tertawa pelan. "Oh ayolah Chanyeol, dia tengah memamerkan hasil kerja kerasnya. Seorang Jenius juga perlu belajar mati-matian untuk bisa mengetahui itu semua. Puji dia."
Mendengar itu Chanyeol langsung tersadar akan sikapnya yang sama sekali tidak keren sedari tadi. Detik selanjutnya pria itu langsung merubah sikapnya, beberapa kali berdehem singkat untuk mengatur nada suaranya agar tak pecah. Kemudian mengambil posisi berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan pria kecil didepannya sekarang.
"Hallo, aku Park Chanyeol. 23 tahun. Meski aku tak bisa banyak bahasa sepertimu, aku bisa memainkan banyak alat musik seperti Piano, Gitar, Bass, Biola, Drum, dan Cello. Aku sudah membuat 2 album lagu best seller selama 3 tahun ini. Aku juga bisa banyak sekali olahraga seperti sepak bola, basket, renang, snorkeling, snowboading, golf, tenis, biliard, bowling, menembak, berkuda bahkan memanah. Katakan saja padaku bila kau tertarik pada salah satu dari itu semua dan ingin bermain denganku, aku akan langsung mengajarimu." Jawab Chanyeol seraya mengulurkan tangannya.
Mata Jasper tampak berbinar mendengarnya. Kemudian dengan semangat membalas uluran tangan Chanyeol, keduanya bersalaman dengan semangat.
Menyaksikan itu semua membuat Baekhyun tertawa geli seraya menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan Chanyeol yang bukannya memuji anak kecil yang sedang memamerkan kehebatan mereka, justru ikut bersaing memamerkan kehebatannya sendiri.
Sepertinya keduanya seumuran secara mental.
"Siapa nama orangtua mu Jesper?" Meski Chanyeol bertanya dengan nada ramah dan santai kepada Jesper, namun Baekhyun menyadari nada introgasi yang terselip didalamnya.
Dengan polos namun cerdasnya Jasper menjawab, "Victoria Song dan Byun Baekhyun. Tapi mereka bukan pasangan, saya bayi tabung. Ayah adalah pendonor, dan Ibu adalah penerima."
Chanyeol langsung mendongak menatap Baekhyun, yang dibalasi dengan anggukan dari pria secantik malaikat itu.
Pandangan Chanyeol kembali kearah Jasper, "Lalu dimana Nyonya Victoria sekarang?"
"Dia meninggal dilaboratorium nya sendiri, semua orang mengatakan bahwa itu adalah kecelakaan karena kecerobohan dalam pekerjaannya, namun saya tahu hal yang sebenarnya terjadi. Dia dibunuh oleh organisasi yang mencuri hasil temuannya. Ibu sudah berhasil menciptakan sebuah virus yang bisa menciptakan pandemi dan diperkirakan bisa membunuh 0,30% orang dibumi hanya dalam waktu 6 bulan."
"Sekarang saya setuju untuk ikut Ayah, karena Ayah punya kekuatan untuk membantu saya mencari tahu siapa yang membunuh Ibu dan kekuatan untuk membalas mereka suatu saat nanti." Jesper mengatakan itu dengan suara tenang, yang Chanyeol bersumpah teramat familiar.
"Gabungan gen yang sungguh mengerikan. Ah aku aku mengatakan itu tanpa maksud menjelekkan. Aku hanya merasa takjub." tanggapan Chanyeol setelah melihat mata abu- abu milik Jesper.
Chanyeol tersenyum lembut memandang Jesper, kemudian mengusap halus rambut lurus berwarna hitam legam milik putra dari pujaan hatinya itu. Kemudian dengan lembut berkata, "Kita memiliki satu kesamaan lagi. Ibuku juga sudah meninggal, dan aku juga cuma punya Ayah sekarang. Beberapa orang bilang itu kecelakaan, beberapa lagi bilang itu disebut pembunuhan. Namun untuk hal ini kita berdua tak sama, dulu aku justru menjauhi Ayahku karena aku menyalahkan segalanya padanya. Dan dia menyalahkan segalanya padaku. Perlu 20 tahun untuk kami dapat memperbaikinya, kau beruntung bisa lebih cepat dariku menemukan sosok Ayah dalam hidupmu." Jesper berkedip pelan, pria kecil dengan IQ dan EQ diatas rata- rata itu sedang memproses semuanya.
Dan hasil dari proses otak jeniusnya adalah..
"Wahh.. terima kasih Jesper.." Chanyeol terkekeh pelan seraya membalas pelukan Jasper. Sepasang lengan kecil itu dengan erat melingkari lehernya. Tangan besar Chanyeol mengelus belakang Jesper dengan pelan, dan tangan satunya membalas pelukan Jesper. Melingkari seluruh tubuh mungil anak laki- laki itu hanya dengan satu tangannya.
Baekhyun memandangi itu semuanya dalam diam. Dirinya sendiri merasa aneh. Seperti ada seseorang yang tengah mengelitiki perutnya. Ataupun tengah meniup balon di dadanya. Rasanya sungguh sesak dan lega disaat bersamaan. Tanpa sadar air mata mulai mengumpul dimatanya. Membuat pandangannya memburam. Namun tak ada tetes air mata yang jatuh dari kedua matanya.
Akhirnya kedua pria yang paling dicintainya didunia ini bertemu. Kedua pria yang sekarang tengah dilindunginya dengan sekuat tenaga. Kedua pria yang masa depan dan mimpi keduanya berusaha Baekhyun bantu untuk dikabulkan tanpa seorangpun menghalangi atau merusaknya. Baekhyun bahkan sampai rela mengotori tangannya demi melindungi kebahagian kedua pria ini.
Sunyi merasuki seluruh ruangan. Menciptakan senyap yang hanya diisi oleh suara jam dinding yang berdetik tanpa henti.
tik
tok
tik
tok
Jam menunjukkan pukul 23:20 Waktu Korea Selatan. 40 menit sebelum insiden.
.
..
...
Disaat bersamaan Shin Jimin dengan tenang menatap pertokoan mewah dan lampu- lampu jalan yang dilewatinya dari balik kaca mobil yang sekarang mengantarkannya.
"Nona Jimin, apakah benar tak apa datang seterlambat Nona?" Ujar si Supir yang malam ini mengantarkan Jimin.
Jimin tersenyum lembut namun ada kegetiran dimatanya, "Aku tak semenyedihkan itu untuk menyaksikan langsung pria yang kusukai berbalikkan dengan mantan kekasihnya." Ujarnya dengan suara pelan yang hanya dirinya sendiri bisa mendengar.
Kemudian tertawa untuk menutupi atmosfer aneh yang diciptakannya sendiri, "Tenang saja Pak, mereka semua tak ada yang tega memarahiku kecuali Minseok Oppa."
..
...
...
TBC
author note:
yeyeye yayaya yeyeye yayaya
lanjut???
wehehe lanjut dong~
