Yuhuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu~
Udah berapa abad Author tydack kesini?
Iyak bener banget ada chapter baru niehhh
Dah nggak sabar?
Skuy baca
Boboiboy milik Monsta
"Ingat dan dingingatkan": Berbicara
'Katok ini punya siapa?': Berpikir/membatin
Enjoy~
"Ini kan…?!" Solar sempet mencopot visornya lalu mengucek matanya habis itu dia pakaikan lagi kacamata kebanggaannya itu.
"Fix diri ini masih sehat secara mental dan psikis. Serta aing lagi nggak ngehalu"
Kenapa Solar kaget? Karena terpampang nyata dalam genggamannya sebuah foto menyerupai power sphera yang tidak dia ketahui.
"Angelbot? Macam pernah dengar…eh?! Bukannya ini power sphera yang nggak jelas keberadaanya itu?!"
Solar cuman pernah baca penjelasan dan deskripsi power sphera itu dari Databot. Databot sendiri tidak pernah tahu rupa dan wujud power sphera yang digadang - gadang termasuk pada power sphera golongan mistis itu.
Terus bagaimana dia bisa berkesimpulan seperti itu? Alah biasalah nih anak kan jenius tapi kalau dah bersangkut dengan dirinya sendiri kek idiot.
"Terus nih bocah dapet dari mana foto ini?!"
Dari gua btw... emang kenapa? Et dah lanjot!
"Bukannya nggak ada power sphera disini? Atau hipotesis ku yang salah?!" Solar menggigit bibirnya merasa bahwa dirinya masuk pada permasalahan yang lebih besar lagi.
Si bungsu masih setia menggenggam barang bukti foto yang berkaitan dengan dimensinya.
"Bagaimana Solar bisa dapat foto ini? Dari mana? Kenapa? Dan untuk apa?... jangan - jangan dia mengicar power sphera ini?!"
Panik sih belom tapi pingin nabok iya.
Ya gimana ya, Solar tuh... biasanya yang tahu duluan. Jiwa kompetitifnya bersaut ingin mengalahkan Solar dimensi ini.
Pemikiran Solar mubeng (muter) terus dibagian 'kenapa' sampai akhirnya berhenti ke titik 'untuk apa?'
"Angelbot... power sphera ini mempunyai kuasa untuk 'memberi petunjuk bagi mereka yang tersesat'... aneh sih emang kuasa power sphera ini... malah menurutku nggak guna banget. Tapi kenapa foto power sphera ini ada di koper ini? Masa sih organisasi T.A.P.O.P.S juga ada di dimensi ini? Terus mereka nemu darimana? Apa mereka orang yang sama? Terus— auch!" Tuh kan tergigit lidahnya hanya karena perkataannya tak secepat informasi berseliweran di otaknya.
"... aku punya firasat buruk... dan semoga firasat ini tidak terjadi"
Solar menghitung berapa bintang yang ada di horoskop Leo untuk menenangkan dirinya.
"Fuhhh... makin banyak aja yang harus ku lakuin, makin begadang nanti nih"
Solar memilah - milah lagi dokumen yang menurutnya bisa membantunya mengungkap dirinya yang lain ataupun mungkin ada lagi foto power sphera (yang untungnya dia tidak temukan, lama - lama jantungnya tidak kuat dengan surprise yang diberikan dirinya) lalu membereskan dokumen - dokumen tadi menjadi satu. Terkhusus untuk foto power sphera, dia saku-kan pada jaketnya. Gaswat darurat jika ada yang menemukannya selain dia.
Nah sekarang ditangannya ada buku diary berwarna abu - abu.
"Keknya kita sama - sama fanatik abu dan putih"
Kertasnya berwarna hitam legam dan Solar bisa menebak buku ini pasti penting hingga menulis dan membaca saja butuh effort lebih.
"Seperti biasa, merepotkan diri sendiri adalah sebuah keharusan"
Sampulnya masih bagus tidak ada noda bahkan sampai Solar membuka keseluruhan lembar nggak ada tulisan apapun.
Kepala Solar kembali berdenyut nyeri karena ketambahan beban pikiran, tapi dia membiarkannya. Si bungsu meraba kertas itu mencoba merasakan sensasi orang menulis, hingga ide tiba - tiba muncul.
Biasalah otak kelewat encer itu sebuah anugerah dan petaka emang.
Tangan berselaput kaus itu bersinar mengeluarkan cahaya yang pasti bisa membuat siapapun silau. Tangan Solar menyinari salah satu kertas pada diary dan tulisan mulai bermunculan.
"Hm... cerdik sih tapi gimana caranya lu nulis?" Si manusia dari dimensi lain jadi bingung ama dirinya sendiri.
Solar sempat membaca salah satu kalimat. Nggak mungkin dia akan membaca semuanya disini, karena dia tahu akan memakan banyak waktu untuk membaca diary itu.
"Semuanya berubah.. aku ingin yang lalu selamanya bersama kita. Mengapa semua ini terjadi?"
"Apa ini?" Solar membalikkan lembaran selanjutnya. Jadi tambah kepo kan dia.
"Aku menemukan caranya... tapi masih belum menemukan yang tepat… kita akan menjadi seperti dulu lagi!"
Membaca dua kalimat itu sudah membuat Solar menjadi masam apalagi nanti dia membaca semuanya.
"Kenapa aku punya feeling kalau kau akan melakukan suatu kebodohan yang sangat luar binasa" Solar menyelipkan buku itu di dalam jaketnya lalu beralih ke laptop yang nangkring dari tadi nungguin dijamah juga.
"...jangan bilang laptop ini pun nantangin kepinteran gua?" dan benar saja si laptop tidak bersimpati sama sekali dengan otak Solar. Rasanya pingin banting nih laptop tapi cuman ini satu - satunya yang dia punya untuk jadi petunjuk.
"Ya, Tuhan… kolom kata sandi lagi... apa kata sandinya? Berikanlah kekuatan pada hambamu yang malang ini, Tuhan" Solar menarik napas panjang dan melemaskan jarinya. Menyempatkan diri melihat waktu di jam tangannya dan mulai berkutat pada laptop.
"Hatchi! Hmmmm…"
Perlu diketahui Solar telah memasukkan kata sandi berupa:
Solar_cogans
Halisimaung
Mommygemgem
Taufansedeng
KatokbolongBlaze
Ilernya_Ice
Bendulimoetlpolozzz
Donatlobakalien
Tsunderederelobak
Embul_ndut_nyot!
Cekinglagicepat
Princesspink
Dimana semua kata sandi itu pernah dia gunakan sekali atau dua kali tapi sayangnya tidak ada yang masuk.
"Aaarggh! biar nanti dah kuretas. Capek mikir muluk!" jerit Solar sambil memegang kepalanya. Lama - lama dia akan membogem Solar, bodoh amat dengan mukanya yang tidak terlihat coganz nanti.
Si pemegang kuasa cahaya itu menyempatkan diri untuk melihat secara teliti ruangan ditempatinya (karena dia yakin harus kesini lagi entah dengan alasan apa) sebelum alarm pikirannya berdering.
"Duh, waktuku mau habis aku harus segera keluar dari sini sebelum ketahuan mereka"
Solar mengarahkan bola cahayanya sambil mencari jalan keluar. Tak lupa membawa laptop tadi dan sebuah koper mini yang entah mengapa baru dia temukan di pojok ruangan. Maunya sih menggunakan tangga yang keatas tadi, tapi saat dilihat lebih teliti dia menemukan pintu lain.
"Pintu? Tembus kemana nih?" Solar mendorong perlahan pintu tadi, takut kalau keras – keras bakal rusak, kan dah sepuh pintunya.
Saat dibuka pintu tadi, bukannya udara yang menyapa malah turun bejibun daun kering.
"Uhuk! Uhuk! Njir ku kira ketiban beban duniawi ternyata sampah organik, huweeeek" lagi - lagi Solar harus menepuk dirinya supaya paling nggak agak bersihlah padahal dah kotor.
Sehabis mencuci mukanya di air keran terdekat, Solar kembali menutup pintu itu dan inginnya menyembunyikan pintu tadi menggunakan daun kering.
"Haihhhh masa sih aku harus nyapu dulu untuk menyamarkan pintu tadi?"
Sinar matahari yang silau membuat tubuh Solar perlahan merasa bugar kembali. Kuasanya dia nonaktifkan, tapi mata silver itu tak berubah menjadi cokelat.
"Ini... kebun belakang? Kebunnya Kak Thorn?"
Solar celingak - celinguk kek orang ilang. Kebunnya Thorn terlihat sangat lebat mungkin waktu panen tinggal beberapa hari lagi.
'Hmmmm keknya aku harus ikut bantu Kak Thorn, biar bisa tanya - tanya seputar keadaan rumah. Kan Kak Thorn agak blok'on~'
"Hahhhhhhhhh" menghela nafas berat Solar maunya lanjut meneliti kebun Thorn tapi Solar sadar diri kalau kamarnya berantakan dan waktu tidak berada dipihaknya.
"Ughhhhhhhhhhhhhhhhhh lelah diri ini!"
Setelah penat membereskan kamar dan mandi biar wangi, Solar duduk di sofa sambil menonton tv.
"Duh, nggak enak banget nggak ada hp. Oh pujaan hati ku aku harus beli kamuuuu... tapi pakai uang siapa?" Solar mewek. Dia sempat melihat isi dompet Solar tapi… uangnya nggak cukup. Mau minta pada abang - abangnya… dia terlalu gengsi. Mana lagi setelah dia lihat - lihat keseluruhan rumah… finansial keluarganya disini… tidak seberuntung dengan didemensinya. Bayangkan saja, ruang keluarga yang biasanya penuh dengan koleksi PS dan video game itu kini hanya terpampang TV saja. Lemari mainan figuran yang biasanya berada di pojok ruang tamu hasil koleksi kakak birunya itu tidak ada digantikan dengan pohon - pohon plastik yang kusam berdebu. Ayam milik Blaze masih ada, tapi tak sebanyak yang dia tahu.
"Terus kenapa bisa ada AC dikamar ku dengan kak Ice? Masa sih semua itu dijual untuk membeli AC? Adoyyy pusing kepalaku"
Solar membanting bantal sofa terus menggigitnya gemas. Dia mana tega melihat… kekurangan ini.
"Kenapa yang namanya finansial itu bikin pusing? Kalau saja aku berada dimensiku aku tinggal gesek langsung keluar"
Woh jangan heran Readers, gaji ketujuh elemental itu besar bukan main tergantung tingkat kesulitan misi yang mereka lakukan. Dan jika kalian bertanya siapa yang paling banyak cuan alias kaya raya? Pastilah si sulung. Bukan atm lagi uangnya, tapi black card cuy. Gaji Solar juga tinggi kok, kan dia dapet budget dari kerjaan sambilan menjadi inventor, peneliti, dan juga perencana. Dia juga sering bikin GA atau Give Away, Katanya sih mau jadi dermawan "mau ngasih makan mereka yang tidak seberuntung layaknya diri ini yang rupawan" Iya seperti itu perkataannya, nggak kaget juga jika ujarannya mengundang saudara yang lain buat gelud.
Matahari hari ini sangat terik, peluh membasahi baju pemuda berwarna biru yang sedang menenteng sebungkus nasi
"Haihhh panasnya…"
Ice mengeluh sepanjang perjalanan pulang kerumah. Sempat meraba - raba dadanya sebentar karena merasa tak nyaman.
Dia tadi habis dari Koko Tiam membantu kakak dan adiknya serta atoknya berdagang. Ya walaupun dia tidak membantu banyak… paling nggak dia tidak ingin dikatakan beban.
"Huff…. Syukur rame banget tadi yang beli… tapi kok pas banget pas si kembar tua nggak ada.."
Mereka tahu, kalau Halilintar sering mengambil kerja part-time an. Taufan sendiri ada latihan skateboard untuk lomba tingkat nasional. Sedang Gempa ada kerja kelompok yang sudah terbengkalai akibat menjaga si bungsu.
"Ughhh antara apes sama nggak sih ini"
Ice menghela nafas lega saat dia membuka pintu rumah dan melihat Solar akting jadi kucing.
Ya, gimana ya… siapa sih yang nggak bakal kaget pas tiba - tiba pintu dibuka tanpa salam kek atau ngomong apa.
"... ngapain?"
"Kakak pikirlah aku ngapain!" Si bungsu besengut lalu melanjutkan aktivitasnya.
Enak bener dah adeknya yang satu ini.
"Hey, itu Ice Cream siapa yang kau makan?" Ice melihat merek es krim familiar. Dia menyisihkan uang untuk membeli itu brooo janganlah kau makan sesuka hati!
"Yang rasa es teh panas"
"... Itu punyaku Sol"
"Eh?! Iyakah?! Solar minta maaf makan es krim Kak Ice!" Solar langsung berdiri ingin menaruh barang bukti pada tempatnya semula tapi udah abis setengah…
'Waduh!'
Yang satu lagi mikir gimana membujuk kakaknya supaya nggak marah yang satu lagi mikir.
Pemikiran Ice sedang dilanda…. keanehan. Wajah panik yang adeknya tampakkan sekarang tak sepadan dengan perlakuannya dulu.
"Lalu? Emang gua pikirin? Salah sendiri taruh di kulkas. Dari pada mubazir ya gua makan"
"Kak, nanti Solar ganti deh bener nih" Solar tahu, seberapa kecewanya jika si kakak penyuka minuman aneh ini barangnya digunakan tanpa izin.
"Mmm nggak papa. Makan aja"
"Emmmm Solar beliin sekarang deh"
"Nggak usah Sol"
"Emmmmmmm Solar keluar dulu, Kak"
"Duduk Sol"
Dengan kecepatan cahaya Solar duduk anteng, ralat lari dari pintu rumah terus duduk lagi disofa. Solar pernah membuat Ice marah dan dia nggak ingin mengulangi kejadian itu lagi.
"Nih" tangan Ice mengulurkan sebungkus nasi.
"Eh?"
'HSKSKSKSKSKSK abang tahu aja kalau dedek lagi laper '
"Kakak udah makan kah?"
Heran lagi kan si Ice pas adeknya tanya hal yang bersangkut paut atas kesehatan saudaranya.
'Solar yang kutahu mana pernah nanyain kek gini...'
"Udah tadi. Kak Gempa sempat masak di kedai"
Wajah Solar tetiba ceria saat mendengar yang masak adalah Gempa.
Ice sampai harus ngucek matanya saat melihat bintang - bintang imajiner beterbangan
'Keknya aku harus ngambil inhaler/nebulizer soalnya dah agak menghalu tinggi' Lalu kenapa tubuhnya terasa berat saat ingin mengambil barang itu?
"Kak? Kak?! Kak Ice!"
Bersambung
Sampai ketemu lagi~
