Yoshida marah, benci dan dendam namun di balik semua itu ada perasaan rindu yang amat dalam. Sangat menyakitkan hingga membuatnya terus berkeliaran di hutan tempatnya merenggang nyawa untuk terakhir kalinya. Arwahnya tidak tenang setiap kali ia memikirkan akan kekasihnya Denji, terlebih saat memikirkan bagaimana keluarga Hayakawa akan memperlakukannya dengan buruk kembali setelah Yoshida tidak ada di sisinya untuk melindungi. sepanjang pagi dan malam, Yoshida hanya bisa menangis geram di tengah hutan lebat, menyesali kenapa dia tidak mundur dari perburuan yang teman-temannya rencanakan, terlebih saat melihat wanita gila itu,Reze. Wanita yang terus berusaha merusak hubungannya dengan Denji, mulai dengan merayunya hingga pernah ingin membius memperkosanya, untungnya ia bisa menghindar dari wanita itu namun malam itu semua berubah ketika teman-teman yang di anggapnya baik ternyata bekerjasama untuk membunuhnya. Mereka mengikat tubuhnya menggantung di atas pohon lalu memberi kesempatan untuk Reze menembaknya dengan brutal bahkan hingga peluru shotgun habis, setelah itu memutilasi dan membuang sekujur tubuhnya di seluruh hutan. Mengingat kenangan itu membuat rasa dendam dalam Yoshida membara, ia bersumpah untuk tidak akan beristirahat tenang sebelum membalaskan semua yang di lakukan teman-teman dan keluarga Hayakawa. Hingga suatu hari sosok tinggi besar berbulu lebat seperti serigala dengan kepala kambing hitam itu muncul di hadapan Yoshida, menyeringai dengan gigi dan taringnya yang tajam. Yoshida seharusnya takut namun tidak ada perasaan ingin kabur hanya menatap sosok itu dengan sorot tajam penuh dendamnya.
"HAHAHAHA..AKU KAGUM AKAN KEBERANIANMU, BOCAH!!" sosok itu tertawa keras yang menggema di seluruh hutan, membuat beberapa hewan lari ketakutan. Yoshida sedikit terkejut namun dengan datar menjawab "Apa yang kau inginkan?? seperti yang kau lihat aku sudah mati jadi tidak ada gunanya kau memakanku.. lagipula aku juga menolak untuk ke surga atau neraka, sebelum aku membalas semuanya". Sorot mata Yoshida dingin dan gelap, masih tidak menunjukkan rasa takut, sosok monster itu menatap dengan kagum. Sudah ratusan tahun ia tidak bertemu arwah yang begitu di selimuti oleh kebencian dan luka yang amat kelam seperti Yoshida, kebanyakan arwah atau mahluk hidup takut dan lari saat bertemu sosoknya. Sepertinya akan menarik jika ia membuat kesepakatan dengan arwah bocah ini.
*
Yoshida kembali membelai lembut rambut sambil sesekali mencium kening Denji yang saat ini sedang terlelap, ia sebenarnya ingin menikmati momen saat ini lebih lama namun waktunya tinggal sedikit lagi, memang dendamnya sudah cukup reda setelah membunuh keluarga Hayakawa namun hasratnya untuk bersama kekasihnya selama-lamanya sangat besar. Ia mengingat kembali perjanjian yang ia sudah lakukan untuk monster yang menamakan dirinya Krampus, namun bukankah sudah saatnya ia meminta upah setelah memberikannya "makan" dari keluarga Hayakawa? tapi sepertinya tidak akan cukup karena memang membutuhkan lebih banyak energi untuk bisa meyakinkan Denji yang masih hidup pergi bersamanya. Bahkan saat ini sulit untuk membuat Denji menyadari keberadaannya yang samar sebagai arwah. Yoshida menghela nafas panjang, mengingat-ingat siapa lagi yang pantas menjadi korbannya, mengingat ia harus membawakan beberapa nyawa lagi sebelum perjanjiannya usai. Yoshida tidak bisa sembarangan memilih korban juga, karena semakin banyak dosa yang di lakukan orang tersebut kepadanya semakin besar juga energinya. Tanpa terasa matahari mulai menyingsing bayang Yoshida mulai pudar, sosoknya tidak bisa bertahan di pagi hari hanya mengikuti kekasihnya bagai bayang transparan.
*
Sore harinya terjadi keributan di rumah sakit , karena banyaknya polisi media bergelombong memadati pintu masuk untuk meliput penangkapan dari Denji. Lelaki itu sekarang resmi menjadi tersangka pembunuh berantai di mansion keluarga Hayakawa. Tentu saja itu semua permainan dari detektif kishikibe yang sengaja menanamkan barang bukti membayar saksi palsu agar dirinya terbebas dari tuduhan pembunuhan Yoshida dulu. Denji hanya terdiam dengan tatapan kosong saat kamera wartawan menyorot dirinya. Ia tahu hal ini akan terjadi, toh sejak lama tidak ada yang mau membela atau melindungi orang seperti dirinya, hanya Yoshida yang merangkulnya dengan sayang. Detektif paruh baya itu mendorong kasar Denji masuk ke mobil polisi. Ia ingin semuanya cepat selesai Denji tidak berbicara macam-macam di hadapan wartawan.
"Lajukan mobilnya kita ambil jalan pintas ke penjara Kasukabe secepatnya!" perintah detektif kishikibe kepada polisi yang menjadi bawahannya. Penjara Kasukabe terkenal sebagai penjara terpencil yang banyak menampung kriminal berbahaya, banyak insiden pembunuhan bunuh diri yang terjadi di penjara tersebut. Denji tersenyum miris, sudah mengira kalau dirinya akan berusaha di singkirkan oleh detektif paruh baya itu sebelum membeber lebih jauh tentang kasus Yoshida. Perjalanan makin lama makin sunyi gelap karena nyatanya mereka semakin jauh dari kota. Mobil yang hanya berisi 3 orang tersebut melaju cepat karena sepertinya polisi yang mengemudi juga takut akan sesuatu, hingga mobil mereka menghantam sesuatu, polisi detektif kishikibe yang panik langsung keluar mobil untuk mengecek apakah seseorang yang mereka tabrak. Ternyata hanya seekor rusa liar yang kini terkapar penuh darah. Detektif paruh baya itu berdecak marah merasa konyol karena panik setelah menabrak hewan. Saat dirinya ingin berbalik ke mobil, polisi yang bersamanya berteriak dengan muka pucat setelah melihat sosok Denji dengan mata merah gigi runcing mencabik borgol di tangannya, lalu menerjang polisi tersebut lalu mengigit lehernya hingga darah mengucur deras kepalanya hampir putus. Detektif Kishikibe terkejut melihat pemandangan horror di hadapannya. Sosok Denji seolah-olah seperti binatang buas yang siap memangsa siapapun di hadapannya. Detektif paruh baya itu mengambil senapan dan menembak ke arah Denji berkali-kali, membuat pemuda itu terkapar penuh darah dengan luka tembak di dada serta lehernya. Detektif Kishikibe dengan nafas memburu menendang Denji yang ia yakini sudah mati bersama polisi yang mendampinginya. Ia mengambil kunci mobil dari saku polisi tersebut kabur mengendarai mobil dengan cepat. Ia terus mengumpat dirinya yang melewati jalan sepi tidak ada bukti yang mendukung jika ia membunuh atas dasar pembelaan diri, jika ia kembali ke kota pasti orang-orang akan menuduhnya telah membunuh rekan polisi berserta Denji.
*
Suara bisikan riuh, membuat Denji perlahan terbangun. Kepala seluruh tubuhnya terasa sangat sakit berat untuk di gerakkan. Ia menatap sekeliling yang di penuhi warna putih aroma obat. Terakhir ia mengingat mobil polisi yang di tumpanginya menabrak sesuatu sebelum pingsan tidak ingat lagi apa yang terjadi.
"Pasien Denji.. anehnya ia masih bisa bertahan setelah mengalami luka tembak beberapa kali, walaupun kondisinya sangat lemah saat ini" ucap seorang dokter cukup lantang. Denji mendengar percakapan seorang dokter sepertinya beberapa suster beserta kepolisian di balik pintu, sepertinya mereka belum sadar dengan keadaan Denji yang sudah bangun. "Sungguh aneh Denji bisa selamat hmm..menurut penyelidikan polisi meninggal karena luka gigitan yang sepertinya dari taring hewan buas di lokasi hanya mayat seekor rusa yang memiliki bekas gigitan yang sama, sepertinya mereka, berpapasan dengan bintang buas ketika detektif kishikibe menembak, ia mengenai Denji..hanya itu bisa kami simpulkan saat ini, mengingat detektif koshikibe juga belum di temukan saat ini" ujar seorang polisi. "Ya..tapi aku tidak bisa berjanji apapun karena luka tembak Denji cukup parah mengenai titik-titik vital, jadi lebih baik kalian mencari petunjuk lain bila pasien Denji tidak terselamatkan" Dokter mewanti-wanti karena memang hanya Denji saksi kunci dalam kasus ini keadaannya masih kritis. Mereka pun berpencar setelah percakapan berakhir. Denji kembali menutup matanya berpura-pura tidak sadar begitu, suster datang untuk mengecek keadaannya mengganti infus. Dalam benak Denji berpikir apa benar yang di katakan dokter kalau mereka bertemu hewan buas saat di jalan tapi kenapa dirinya yang terkena tembak berkali-kali, seolah detektif kishikibe berniat membunuhnya. Denji berusaha mengingat apa yang terjadi tetapi sakit kepala yang hebat membuatnya pingsan samar-samar mendengar suara itu lagi.
*
Yoshida melihat datar mahluk yang di sebut Krampus itu menjilati dari jari-jarinya yang panjang, setelah mencabik menyantap mayat detektif paruh baya itu. Yoshida sedikit tergelitik saat mengingat kalau detektif Kishikibe yang berpikir dirinya akan lolos saat menutup kasus pembunuhnya mencoba menuduh Denji sebagai pelaku. Sungguh naif detektif kishikibe, berpikir kalau ia bisa lolos dari cengkramannya. Walaupun Yoshida sempat panik ketika memasuki tubuh kekasihnya, detektif keparat itu berani-beraninya menembak Denji berkali-kali. Mengingat kejadian itu aura gelap Yoshida semakin pekat hingga membuat monster yang tadinya asik menyantap mangsanya ikut merasakan. Yoshida tersenyum tipis, "Aku sudah melaksanakan semua perjanjian kita bukan??ini saatnya kau mengabulkan permintaan terakhirku". Monster itu tertawa keras, dugaannya ternyata benar, melakukan perjanjian dengan arwah seperti Yoshida memang menguntungkan baginya. Ia juga sudah puas memakan puluhan manusia yang di umpankan Yoshida. Kini tinggal babak terakhir dari rencana mereka, membawa arwah Denji bersama kekasihnya kembali, yang tentu saja harga terakhir yang harus di bayar membiarkan monster itu mencabik tubuh Denji hingga ia mati. "Kekasihmu itu sedikit merepotkan karena roh ibunya selalu melekat membuatnya selamat dari maut berkali-kali, karena itu... sepertinya akan lebih mudah jika aku membawanya ke hutan, bukankah begitu?" kekeh Krampus yang kini mengubah wujudnya menjadi manusia. Yoshida hanya tersenyum miring, mungkin ia memang sudah gila terobsesi dengan Denji sejak dulu, baginya apapun cara yang di gunakan asalkan mereka bersama tidak masalah, lagipula itu juga yang menjadi permintaan Denji bukan? bertemu dengannya lagi.
*
Malam itu badai salju terus turun semenjak siang hari. Suasana rumah sakit saat ini amat sepi, bahkan beberapa staff memutuskan untuk pulang karena udara yang makin dingin badai yang ganas. Denji merapatkan selimut di tubuhnya, keadaannya di luar dugaan cepat pulih, sekarang ia sudah bisa menggerakkan tangannya hanya saja area kepala leher masih kaku. Denji memutar radio usang di sebelah tempat tidurnya, hari ini suasana hatinya sangat buruk, seolah sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Apakah mungkin detektif Kishikibe yang kabur, akan menemuinya berusaha membunuhnya lagi? ataukah...Monster pada malam natal itu akan kembali? begitu banyak pertanyaan di kepalanya. Pengumuman darurat dari radio, tiba-tiba saja membuat seluruh badan Denji tegang. Berita yang mengabarkan bahwa mayat dari detektif Kishikibe yang tercabik-cabik sudah di temukan dalam hutan bersamaan dengan mobil polisi yang sudah hancur. Denji sangat takut saat ini di tambah jendela ruangannya terbuka akibat angin keras dari badai salju.
TOK TOK TOK
Bunyi ketukan pintu mengangetkan Denji, ia menggenggam erat selimutnya ketika sesosok bayangan masuk ke ruangan, namun wajah tegang Denji menjadi rilex ketika melihat dokter yang biasa merawatnya datang dengan beberapa obat jarum suntik. Dokter tersebut terseyum agak ganjil menatap Denji seakan ingin melakukan sesuatu yang buruk. Perasaan Denji kembali merasa terancam, seperti ada suara di kepalanya untuk melawan dokter tersebut melarikan diri, namun badannya masih terasa amat kaku untuk di gerakkan, seakan ada sosok yang menahan tubuhnya. Sesaat dokter tersebut menyuntikkan sesuatu ke tubuh Denji, perlahan-lahan matanya memberat nafasnya ikut menjadi berat, hingga keheningan menyelimuti dirinya.
"Denji..sayang.. bangunlah.." bisikan lirih merasuki telinga Denji, samar-samar terdengar seperti kekasihnya, Yoshida. Denji membuka matanya, namun pandangannya masih kabur, ia meraba wajah lelaki di hadapannya. Mulai dari kelopak mata, hidung hingga mulut, semua yang di sentuhannya terasa begitu nyata tidak seperti malam-malam ketika ia bermimpi. Yoshida memeluk erat menciumi wajah kekasihnya itu. "Akhirnya setelah sekian lama..kita bisa bersama lagi, aku sangat merindukanmu Denji" bisik Yoshida lembut. Wajah Denji tersipu malu perasaan bahagia terasa membuncah di dadanya, seakan tidak ingin lepas lagi dari kekasihnya. Seperti pulang kembali ke pelukan hangat yang sudah sejak lama ia rindukan, namun di tengah pertemuan mereka, ada suara parauh yang seakan memaksa Denji untuk bangun. Suara itu terus berputar di kepala Denji, seolah ingin menariknya dari pelukan Yoshida. Yoshida menatap tajam sesosok bayangan di balik punggung Denji, wanita itu ternyata belum menyerah juga. Benar-benar menyusahkan, jika saja bukan karena wanita itu terus mengganggu, Denji sudah pasti akan ada di pelukannya sejak lama. Tentu saja wanita itu juga kembali mengacaukan rencananya namun kali ini ia sudah memiliki partner yang akan mengurus arwah wanita menyusahkan itu. Yoshida mencium bibir Denji penuh dengan gairah membawa kekasihnya semakin dalam ke "dunianya", berusaha menjauhkan kekasihnya dari alam sadar serta mengalihkan perhatiannya. Yoshida tersenyum tipis di tengah ciuman mereka, begitu merasakan sosok bayangan besar di sampingnya. "Cukup lama juga persiapanmu.. sekarang musnahkan wanita itu, untuk menyelesaikan perjanjian kita" bisik Yoshida kepada Krampus, yang tentu saja dengan kuku tajamnya menarik wajah wanita yang sudah tercabik lalu membawanya ke neraka bersama. Arwah wanita malang yang merupakan ibunya Denji hanya bisa berteriak kencang sebelum dirinya di tarik ke dalam kegelapan. Yoshida merangkup wajah Denji dengan senyuman berbinar, "sayang... akhirnya kita bisa bersama lagi, aku sangat rindu mencintaimu Denji" riang Yoshida, akhirnya aura benci kegelapan dalam dirinya hilang bersamaan dengan Denji yang kini merasa tubuhnya lebih ringan. Denji menitikkan air mata haru, walaupun ada perasaan ganjal tapi melihat senyum kekasihnya membuatnya yakin kalau mereka akan baik-baik saja.
"Yoshida..aku juga sangat mencintaimu" bisik Denji di tengah kegelapan malam.
end.
