GojoHime Short Stories
Jujutsu Kaisen by Akutami Gege
Warn : Bahasa gaul, gajelas, dll
Cut #2
The Fake Death
"Geto Suguru, Gojo Satoru, dinyatakan meninggal dunia dalam sebuah misi. Mengheningkan cipta, mulai."
Herannya, tidak ada yang menangis.
bahkan Utahime sekalipun.
Iori Utahime tahu betul rencana para petinggi SMA Jujutsu untuk memalsukan kematian kedua muridnya selama misi berlangsung. Katanya, untuk dijadikan umpan- roh kutukan tingkat khusus dalam investigasi ini dikatakan hanya tertarik keluar jika ada mayat yang masih segar. Ini akan mempermudah mereka untuk mengalahkan- atau menyegel roh tersebut jika Gojo dan Geto tidak sanggup mengalahkannya.
Terlepas dari hal itu, Ia juga paham betul Gojo tidak setuju akan hal itu- menurutnya, itu terlalu kekanakan. Roh Kutukan tingkat khusus tidak akan tertipu oleh tipu daya semurah itu. Gojo Satoru juga mana terima dibilang tidak sanggup mengalahkan roh kutukan seperti itu, tidak mungkin. Ia kan Tuan Si Paling Kuat. Ego dan harga dirinya terluka saat ia mendengar Gojo tak bisa mengalahkannya.
Tapi disinilah Utahime berdiri, di hadapan monumen dengan foto Gojo Satoru yang disandingkan dengan foto Geto Suguru, tersenyum lebar sudah dihiasi pita warna hitam. Tatapannya nanar, wajahnya pucat pasi, seakan ia tidak percaya apa yang terjadi- namun inilah realitanya. Entah mereka sungguh memalsukan kematiannya atau tidak, namun pada hari kematiannya diumumkan- Utahime memang sempat melihat tubuhnya robek (lagi) dan penuh darah di medan pertempuran dalam misinya.
"Mbak Uta, makan yuk. Mbak belum makan dari pagi," kata Shoko, yang sudah menunggu Utahime berdiri selama 2 jam setengah di hadapan altar milik Gojo itu. Mereka ada di ruang kelasnya Gojo, Geto dan Shoko- mereka membuat altar kenang-kenangan disana.
"Duluan aja, Shoko. Nanti aku nyusul," kata Utahime.
Shoko menghela nafas. Tentu saja, musuh bebuyutan pun akan merasa kehilangan ketika musuhnya benar-benar lenyap di hadapannya.
"Nanti aku bawakan bekal kesini, ya," kata Shoko, lalu pergi meninggalkan Utahime sendirian.
...
Kejam banget.
Ingin rasanya Utahime mendaratkan tonjokkan di figura foto Gojo Satory yang terlihat seperti sedang meledeknya. Utahime menghela nafas, ia akhirnya menarik kursi dan duduk di hadapan altar itu. Langit sore mendung tak membuat Utahime terganggu. Cuaca jelek, suasana hati buruk, ah.. Satoru yang sudah mati pun tak kunjung berhenti meledek Utahime, ya.
Terus kenapa gue disini, ya?
"Kalo diliat, lo jelek banget ya, Gojo," kata Utahime, sambil tertawa kecil. "Gak Adil..."
Utahime meletakkan dahinya di meja tempat ia beristirahat. Sejujurnya, ia sulit mengatakannya. Sedih? Jangan ditanya, meski Gojo dan Geto adalah adik kelasnya yang paling menyebalkan- mereka juga adik kelas yang sangat ia sayangi, termasuk Shoko. Karena murid SMA Jujutsu sangat sedikit, lingkungan mereka juga kecil, semua orang terasa seperti keluarga. Kehilangan satu atau dua diantaranya akan sangat menimbulkan perubahan yang drastis.
Ia merasa hampa.
Terutama saat tahu- dan melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat Gojo berbaring lemah disana.
Saat itu Iori Utahime mulai membenci dirinya yang tak bisa berbuat apapun.
"Maaf ya..."
Tanpa sadar, air mata jatuh perlahan. Yang bener nih? Gue nangisin Gojo Satoru? Menangisinya adalah hal yang paling tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan Utahime. Tapi disinilah ia, dipenuhi rasa penyesalan dan kekosongan di benaknya. Ia merasa gagal menjadi kakak yang harusnya melindungi adiknya- ia merasa ia turut bertanggung jawab atas kematiannya.
Utahime memegang erat pita putih pemberian pria albino itu. Rambutnya terurai agak berantakan, namun ia tidak peduli. Ia hanya bisa menunduk di ruang kelas itu, sembari melihat cahaya matahari semakin meredup, dan ruang kelas semakin gelap.
Gadis itu terlelap sebentar. Kepalanya pusing karena air mata yang terus mengalir. Ia kemudian membuka matanya setelah sadar ada seseorang di ruangan itu yang menyalakan lampu ruangan. Utahime segera mengelap airmata dan ingusnya untuk menghapus jejak tangisannya.
"Shoko? Udah balik? Aku gak-"
"Tuan Putri lagi ngapain sendirian disini?"
Suara familiar itu mengganggunya. Utahime menoleh ke sumber suara, pemuda di hadapannya tersenyum lebar.
...
Utahime tak bisa bicara apapun.
"Satoru...?"
"Satoru? Ih tumben, seterusnya panggil gue Satoru aja ya! Jangan Gojo terus hahaha,"
Ia tahu ia akan ditipu, tapi tidak seperti ini.
"Tapi lo.. gak.. lo kan berdarah banyak banget, luka di tubuh lo gimana...?"
"Ooh? Ini?" Pemuda itu sedikit menyibakkan kaos putihnya dan menunjukkan bekas luka berukuran cukup besar yang sudah mengering di tubuhnya. "Utahime lupa, gue kan bisa pake Teknik Kutukan Pembalik?"
Seharusnya gue tau kalo Gojo gabakal mati kalo kepalanya belom putus dari badannya.
Hantu Gojo Satoru- kurang lebih begitu yang ada di kepala Utahime, kini kembali hadir di hadapannya, tanpa penjelasan juga. Utahime juga sudah terlalu lelah untuk komentar protes kenapa ia bisa hadir lagi di hadapannya- yang ia tahu, ia marah. Tangisnya makin menjadi.
"BEGO!" Utahime bangkit dari duduknya, melempar pita putih khasnya itu ke arah Gojo. "Lo hantunya doang, kan? Ngapain sih kesini?! Pergi sana ke surga!" Kata Utahime, sambil berlari ke arah Gojo dan meninju tubuhnya meski pukulannya lemah.
"Eh-eh eh, Utahime! Hantu mana ada yang bisa ditonjok begini!" Kata Gojo.
Utahime tidak mendengar, "Dasar tolol! Ngapain sih balik lagi!" umpatnya sambil terus meninju.
"Asli, sakit loh ini bekas lukanya," Kata Gojo.
"BODO AMAT!" Kata Utahime, "Lo pikir gue bisa tidur tenang setelah denger lo sama Geto mati?! Ini bayaran karena lo pada udah nipu gue tau ga!" Lanjutnya.
Gojo menghentikan tinjuan kecil Utahime dan berhasil memegang pergelangan tangannya. Mata birunya berhasil menangkap manik hazelnut milik Utahime yang kemerahan karena menangis. Bekas lecet di daerah mata dan hidung juga menunjukkan bahwa ia sudah berduka semenjak hari Gojo Satoru dan Geto Suguru diumumkan meninggal dunia.
Gojo menghela nafasnya.
Ia menarik tubuh itu ke dalam pelukannya.
Utahime tak berdaya. Ia langsung menangis tak karuan seperti anak kecil. Pemuda itu langsung mengeratkan pelukannya dan mendaratkan kepalanya di atas kepala Utahime.
"Maaf ya, gak maksud bikin Utahime sedih, kok,"
"Gue gak sedih..! Gue marah sama lo!"
Ia terkekeh kecil, "Iya tau, marah kok nangis," katanya.
Sungguh aneh, tapi nyata. Utahime bertahan lama dalam pelukannya- seakan tidak ingin melepaskannya. Seakan tidak ingin kehilangan dirinya. Akan jadi penyesalan terbesar dalam hidupnya bila Gojo mati tanpa dirinya. Utahime akan larut dalam kesedihannya.
Gojo Satoru dengan lembut mengelus surai hitam legam yang panjang itu. Ia juga tidak tahu Utahime akan sehisteris ini- dalam hidupnya, ia hanya tahu bahwa gadis miko itu membencinya karena ia terlalu sering meledeknya. Ia sendiri juga pasti merasa bersalah karena telah membuat gadis yang paling ia perhatikan ini menangis tersedu-sedu.
"Udah ah, gak perlu nangis. Gue kan udah balik,"
Utahime perlahan meredakan tangisannya. Ia tetap memeluk tubuh jangkung itu dan tak berencana melepaskannya.
"Nyesel deh," kata Gojo. "Kalo Utahime sedihnya sampe kayak gini, mending misi kemarin bar-bar aja. Gausah pura-pura mati,"
"Lo bikin gue khawatir banget tau ga,"
"Ya makanya nyesel, maka dari itu,"
Gojo melepaskan pelukannya- ia menangkup wajah kecil Utahime dengan luka di wajahnya yang khas. Gojo Satoru tersenyum sesaat, "Janji deh, gue gabakal mati sebelum waktunya,"
Wajahnya memerah, tapi tersamarkan dengan bekas tangisan yang tadi. "Bener janji? Kalo bohong, bakal gue tagih sampe nanti kehidupan di akhirat loh," ancam Utahime.
"Bener, Janji," katanya. Ia melepas tangkupan tangannya dari wajah Utahime.
Utahime tahu itu bohong.
Tapi ia tetap memegang janji itu sampai nanti.
