Osomatsu-san (c) Akatsuka Fujio
Karamatsu/Everyone
post-canon, canon settings
buat bang jim
Kesepian.
Itulah yang sedang dirasakan oleh Karamatsu saat ini.
Sebenarnya dia tidak benar-benar sendiri, memiliki lima saudara kembar. Itu adalah jumlah sangat banyak dan dulunya mereka begitu dekat. Mereka bahkan sering melakukan apapun bersama-sama. Tertawa dan bercanda dalam melalui hari-hari.
Namun, entah sejak kapan, jarak di antara mereka mulai muncul. Semakin renggang, saling menjauh hingga sampai tahap enggan bertatap muka. Sesuatu yang tidak seharusnya terjadi pada hubungan persaudaraan mereka. Distan yang amat menyakitkan.
Karamatsu memikirkan masalah mereka sepanjang waktu, tapi bukankah itu percuma jika tak menemukan solusinya? Orang bilang masa SMA adalah yang paling indah, tapi tampaknya itu hanyalah mitos belaka bagi mereka. Relasi Karamatsu dengan lima saudaranya adalah contoh. Ia bahkan tidak tahu dari mana harus mulai mengurai benang kusut ini.
Sebenarnya Karamatsu sangat ingin membicarakan ini. Namun ia takut bila justru akan memperburuk hubungan mereka semua hanya karena dirinya. Dia sama sekali tidak bisa berpikiran optimis karena kenyataannya sudah separah itu. Mereka berenam bahkan jarang berbicara di rumah.
Sangat sulit bila ingin memperbaiki semuanya seperti semula.
Bukannya Karamatsu masa bodoh, atau benar-benar tidak tahu mengenai penyebab kenapa mereka berenam berakhir begini. Semua orang sering kali salah memanggil nama mereka, ini bisa dimaklumi karena mereka kembar. Tetapi, kemudian, enam entitas itu mulai dibandingkan, dipandang merepotkan.
Mungkin dari sana pula lah titik yang mengawali keretakan hubungan mereka.
Bohong bila Karamatsu tidak merasa takut. Banyak pikiran buruk menghantuinya, yang mana hanya bisa melihat semua saudaranya berubah. Ia penakut serta pengecut, kombinasi yang sangat sempurna.
Karamatsu adalah pribadi yang tidak percaya diri. Ia memiliki banyak kekurangan, sehingga takut orang akan berkomentar buruk tentangnya. Namun sebenarnya itu bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan permasalahannya sekarang. Ia lebih takut mendapat anggapan mengganggu dari saudaranya bila dirinya turut ikut campur.
Jadi, sebisa mungkin, Karamatsu juga berusaha membantu saudaranya ketika mereka berada dalam kesulitan. Ia tidak melakukannya secara terang-terangan karena takut itu akan mempengaruhi hubungan mereka sekarang. Dia tidak ingin semuanya bertambah jadi kian buruk.
Misalnya saja ketika Osomatsu tak sengaja mengotori pakaian olahraganya karena terkena tumpahan kopi dari temannya, Karamatsu akan menggantinya dengan seragam miliknya. Atau ketika bekal milik Todomatsu tertinggal, Karamatsu juga akan membawakannya ke sekolah, tidak lupa menyelipkan permen serta makanan manis kesukaan adiknya.
Lain waktu juga ada kejadian seperti ini, ketika Choromatsu tak bisa membawa buku pelajarannya, dia pun meminjamkan miliknya. Karamatsu lewat di sekitar area loker secara kebetulan dan tahu saudaranya itu diisengi oleh teman sekelasnya. Mereka mengunci loker Choromatsu, membuang kuncinya dan mengatainya aneh, kemudian tertawa-tawa seperti tidak berdosa sama sekali.
Lihat, dia hanya seorang pengecut. Tak berani melakukan apapun bahkan ketika saudaranya diperlakukan demikian oleh orang asing. Karamatsu takut jika melangkah, itu akan memperburuk semuanya. Jadi ia memilih diam, berdiri seperti patung dan hanya memperhatikan. Ia merasa tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menghentikan perang dingin di antara mereka.
Karamatsu hanya akan merenung, meratapi apa yang terjadi. Terkadang bahkan melamun karena memikirkannya setiap saat. Apakah saudaranya baik-baik saja hari ini?
Menggelikan. Ia bahkan tidak bisa menanyakan hal sesederhana itu pada saudaranya sekarang karena rasa takutnya. Padahal mereka bertemu setiap hari, tinggal di atap yang sama. Namun rasanya seperti ada dinding tak terlihat yang membatasi. Seolah memisahkan mereka dengan sendirinya.
Bukankah itu sangat menyedihkan?
Karamatsu pun kembali hanya menjadi pengamat hari ini. Baik di rumah ataupun sekolah. Memperhatikan apakah ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk saudaranya. Maka ia pun memutuskan melihat mereka sebentar hari ini.
Todomatsu masih menempel pada Choromatsu, seperti anak kecil saja. Ia sedikit ketakutan dan terus memegang lengan kakaknya agar tidak terpisah. Mereka tampak dekat, membuat Karamatsu sedikit lega. Setidaknya mereka bersama, begitu pikirnya.
Karamatsu dengar, Jyushimatsu dipanggil ke kantor kesiswaan karena terlambat masuk kelas. Penampilannya juga berubah dan agak membuat Karamatsu khawatir. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tetapi tampaknya saudaranya itu hanya diberi nasihat saja oleh guru yang bersangkutan. Sehingga ia pun bernapas lega ketika mendengar dari balik pintu. Kemudian pergi sebelum saudaranya keluar dari ruangan itu.
Berikutnya adalah Ichimatsu. Dia bersosialisasi dengan cukup baik, seharusnya Karamatsu juga tidak mencemaskan apapun. Setidaknya, Ichimatsu tidak sendirian, begitulah pikirnya. Namun tidak dapat dipungkiri, Karamatsu juga merasa tersisihkan ketika melihatnya. Walaupun ia tahu bahwa Ichimatsu sebenarnya hanya memaksakan dirinya.
Osomatsu? Tanpa perlu menengok pun, Karamatsu tahu apa yang sedang dia lakukan. Mungkin saja melakukan hal-hal bodoh sesuka hatinya.
Sayang sekali, ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk itu.
Karamatsu hanya berpikir, bahwa semuanya akan membaik seiring waktu. Ternyata tidak sama sekali. Ia masih merasa begitu kesepian, bahkan takut ketika ada orang yang memanggilnya. Mereka bukan saudaranya, jadi Karamatsu memiliki kecemasan untuk hal tersebut.
Karamatsu ingin sekali dipanggil oleh saudaranya, bersama-sama lagi seperti dahulu kala. Di mana mereka masih saling bergandengan tangan dan merangkul bahu, tertawa dengan renyah tanpa memikirkan apapun. Bermain, bercanda, apapun itu. Selama bisa menghabiskan waktu dengan saudara-saudaranya, Karamatsu akan merasa senang. Itu sudah lebih dari cukup.
"Matsuno!"
"Hiee!"
Karamatsu panik ketika namanya dipanggil oleh salah seorang teman kelasnya. Ia berkeringat dingin dan kemudian berlari menjauh secepat yang ia bisa. Sangat sulit mengatasi ini, meski tahu bahwa temannya tersebut tidak memiliki maksud apa-apa.
"Matsuno, aku hanya ingin mengumpulkan pekerjaan rumahmu!" Seru temannya itu.
"A-ambil saja di tas!" Balas Karamatsu sambil melenggang pergi. Dia berlari begitu cepat hingga kini telah menghilang dari batas pandang si pemanggil.
" Dia selalu begitu, si Matsuno itu … "
Bisik-bisik di koridor tidak bisa dihindarkan. Suara Karamatsu begitu keras sehingga menarik atensi. Beberapa siswa lain yang kebetulan berada di sana tentu saja akan membicarakan hal tersebut. Mereka berkumpul, mendekat dan kemudian mulai membicarakan Karamatsu.
"Oh, Matsuno yang itu ? Dia pengecut sekali, masa' selalu lari ketika dipanggil temannya?"
"Masa', sih ?"
"Wajahnya juga berjerawat, apa dia tidak cuci muka, ya?"
"Hahahaha! Kau benar, pasti begitu!"
Mereka tertawa-tawa sampai kemudian seseorang datang menghampiri. Penampilannya acak-acakan, dengan wajah galak dan juga sikap preman. Kedua tangan diletakkan di saku celana, menatap tajam sambil berkata dengan nada marah,
"Kalian ngapain di situ?"
Wajah seram Jyushimatsu membuat bulu kuduk para penggosip itu merinding. Kaki pun segera mundur beberapa langkah sembari gemetaran. Mereka terkejut seolah melihat makhluk dari dunia lain dan refleks berteriak,
" Mampus, itu Jyushimatsu!"
Mereka yang membicarakan Karamatsu langsung kabur begitu saja karena takut dihajar. Belakangan, Jyushimatsu sangat mencolok, jadi lebih mudah dikenali sekarang. Terlebih, pemuda itu juga tampak menakutkan saat menatap. Tentu saja kabur adalah pilihan yang paling baik.
" Cih," decak Jyushimatsu. Orang-orang sampah, beraninya bicara di belakang saja. Ia benar-benar tidak menyukainya. Jadi memberikan mereka sedikit pelajaran seharusnya bukan masalah.
Jyushimatsu menghela napas. Ia kemudian melihat ke arah Karamatsu pergi. Seharusnya sekarang baik-baik saja. Jadi ia pun berbalik pergi. Ia sudah melakukan apa yang harus dilakukan, tidak perlu berlama-lama, kan?
[ Karamatsu yang bersembunyi di balik dinding hanya bisa terdiam. ]
"Klub drama?"
"Benar, Matsuno. Apa kau tertarik?"
Karamatsu berkedip. Ia tengah berjalan di lorong hari ini untuk ke kantin. Kemudian tanpa sengaja bertemu dengan salah satu anggota klub drama di jalan. Orang itu pun tiba-tiba saja menanyainya apakah ia tertarik untuk masuk bersamanya.
Kali ini Karamatsu tidak kaget, karena ia tahu anggota klub drama itu berjalan berlawanan arah darinya jadi tidak terlalu mendadak baginya. Karamatsu melihatnya membawa selebaran, pasti orang itu diminta mencari anggota baru. Yang benar saja, kenapa harus dirinya dan bukan orang lain?
"Kau bisa belajar banyak hal di klub drama!" Orang itu masih berusaha membujuk Karamatsu.
"Ta-tapi aku belum pernah berakting sebelumnya."
"Justru karena itu, kau harus mencobanya!"
"Aku takut tidak sesuai harapanmu … "
"Sudahlah, ayo ikut saja! Oke? Kami mengandalkanmu, jadi ayo isi formulir anggota dulu!"
Karamatsu kelabakan, tapi tidak enak jika menolak secara terang-terangan. Akhirnya ia pun terseret ke klub drama untuk melakukan registrasi sebagai anggota. Sejujurnya, Karamatsu bahkan tidak pernah mengira akan mendapatkan tawaran secara langsung seperti ini.
"Nah, isi namamu di sini, kemudian kelas, lalu … "
Karamatsu tidak begitu mendengarkan. Ia sibuk berpikir mengapa sekarang dirinya berada di sini. Memangnya dia punya kemampuan? Kira-kira seperti itulah. Orang yang merekrutnya, ia juga baru bertemu hari ini tapi mereka bicara seolah-olah sudah saling mengenal. Ataukah ini hanya perasaannya saja?
Mengikuti instruksi, akhirnya Karamatsu pun menyelesaikan formulir pendaftarannya. Semua terjadi begitu cepat hingga ia belum memproses segala sesuatunya di benak. Apakah ini nyata? Atau sebenarnya dia hanya bermimpi saja? Karena jika dipikir-pikir, semuanya sangat aneh dan terlalu mendadak.
"Yosh! Kau bisa mulai datang besok, Matsuno!"
Karamatsu berusaha menyela, "Ta-tapi aku … "
"Kau sudah mengisi formulirnya, oke?"
"Ba-baik."
Karamatsu terlalu takut menyampaikan pendapatnya, jadi ia memilih diam. Lagipula dia juga sudah mendaftar, menolak akan makin sulit. Tapi apa yang akan terjadi padanya setelah ini? Dia tak memiliki pengalaman apa-apa. Sulit sekali rasanya untuk tenang.
Sampai pulang pun, Karamatsu masih memikirkan soal itu. Bagaimana ini? Dia takut hanya akan jadi beban di klub drama. Walau harus diakui, bahwa sebenarnya Karamatsu senang karena diajak meski bukan dari seseorang yang ia kenal. Tapi keduanya adalah hal yang berbeda.
Di rumah, sebenarnya juga tak ada hal khusus. Semua saudaranya masih begitu, membuat Karamatsu sedih. Mereka saling menjaga jarak dan sibuk dengan urusan masing-masing. Berkumpul, tapi seolah tak ada apapun yang menghubungkan mereka meskipun nyatanya sedarah. Apa memang benar-benar tidak ada harapan supaya mereka bisa kembali ?
Karamatsu tahu tidak akan semudah itu, jadi ia melakukan apa yang bisa dilakukannya. Seperti membantu menata sepatu saudara-saudaranya di rak, atau sekadar membereskan kekacauan yang mereka buat di kamar. Misalnya saja, makan snack dan bungkusnya tidak dibuang. Sesuatu yang sederhana seperti itu saja sedikit memuaskannya.
Namun selang beberapa waktu, ternyata itu tidaklah cukup. Sehingga Karamatsu akan diam-diam menempel pada saudaranya karena rasa rindu yang terus menumpuk. Ia hanya berani menyelinap masuk ke selimut Ichimatsu atau Jyushimatsu, sebab yang lainnya bukanlah opsi yang bagus. Mungkin bisa dikatakan ini adalah firasatnya karena sudah lama mengenal mereka.
Karamatsu bisa tidur dengan nyenyak setelah itu. Ia tidak tahu apakah ini sebuah ketergantungan atau tidak karena sesekali melakukannya. Ia harap, baik Ichimatsu maupun Jyushimatsu tidak ada yang menyadari tingkahnya. Dia masih belum mau dicap aneh oleh saudaranya sendiri.
Ketika Karamatsu terlelap, Jyushimatsu dan Ichimatsu bergantian menatap saudara mereka itu. Lalu saling bertukar pandang, seolah mengerti apa yang dibicarakan pihak lain dalam hati.
Tentu saja keduanya tahu beberapa kebaikan Karamatsu pada mereka, jadi melakukan semacam timbal balik. Lagipula, hubungan mereka dengan Karamatsu sebenarnya tidak terlalu buruk karena kakak nomor dua itu lebih banyak diam daripada yang lainnya. Sehingga sebenarnya tidak ada perselisihan, tetapi karena suasananya sedang tidak enak, jadi berbicara juga terasa sungkan.
Mereka kemudian memutuskan untuk segera tidur juga dan membagi lebih banyak selimut untuk Karamatsu. Setelah itu memejamkan mata dan menuju ke alam mimpi.
[ Mereka tidak tahu, Karamatsu belum sepenuhnya tertidur saat itu. ]
Kegiatan klub drama sebenarnya cukup seru.
Karena anggotanya agak banyak, suasananya jadi ramai. Karamatsu datang dengan keraguan, karena ia tidak percaya diri. Tetapi siswa yang merekrutnya kemarin melihatnya dan kemudian menyeret Karamatsu untuk bergabung.
Karamatsu sungguh tidak tahu apa-apa soal drama. Namun siswa yang mengajaknya itu tiba-tiba berkata,
"Tidak apa-apa, Matsuno. Karena baru bergabung, kau boleh melihat-lihat dulu latihan kami. Sesuatu seperti itu datang secara alami, jadi kami juga tidak mau memaksa."
Sesungguhnya Karamatsu begitu enggan, tetapi akhirnya dia setuju karena hanya harus melihat. Latihan klub drama, ya … mungkin tidak ada salahnya menonton sesekali. Hanya saja, Karamatsu tidak ingin melihat dari depan, jadi ia berjalan menjauh dari panggung yang akan digunakan sebagai latihan.
Karamatsu pernah dengar bahwa klub drama sekolah mereka cukup bagus, tapi tak pernah melihatnya secara langsung. Mungkin ini hanya kesempatan sekali seumur hidup, karena setelah ini sepertinya ia ingin mengundurkan diri saja sebagai anggota.
Pertunjukan latihan memakai skrip Hansel dan Gretel, cerita yang cukup populer. Bahkan Karamatsu yang tak terlalu banyak tahu soal kisah-kisah fiksi pernah mendengarnya.
Semua orang segera mengambil posisi masing-masing, kemudian pengarah alias sutradara akan memberikan aba-aba untuk mulai, berhenti, dan sebagainya. Narator pun bersiap-siap sambil mengecek pelantang suaranya berkali-kali. Karena ini latihan, jadi tidak ada yang menggunakan kostum. Mereka hanya mengenakan baju olahraga atau seadanya.
Latihan pun dimulai. Narator membacakan narasinya, kemudian para pemeran mulai muncul di atas panggung. Mereka berakting di atas sana sambil mengucapkan dialog yang telah dipelajari sebelumnya. Sebenarnya, itu hanyalah cerita biasa, menurut Karamatsu. Kisah fiksi polanya memang selalu seperti itu, bukan?
Namun yang tidak disangka, adalah betapa lihai para aktor ketika bersandiwara. Memang tidak sempurna, tapi sangat terasa menjiwai. Mereka membawakan peran mereka dengan baik dan membuat dirinya hanyut dalam pertunjukan itu hingga selesai. Semua perasaan yang terbawa dari pentas telah mencapai hatinya.
Itu bagus sekali.
Karamatsu tanpa sadar terpukau, matanya berbinar-binar seolah menemukan tujuan baru. Padahal ia berencana segera pergi dari klub drama, tetapi melihat penampilan mereka berhasil sedikit menggoyahkan niatnya.
Para anggota bubar setelah pertunjukan latihan selesai. Mereka melakukan sedikit review dan kemudian mengecek ulang naskah untuk diperbaiki. Benar-benar sangat totalitas. Karamatsu tidak pernah punya gambaran sebuah klub sebelumnya, tapi sekarang ia bisa melihatnya secara langsung. Kegiatan seperti ini … tidak buruk juga.
Eh?
"Matsuno, bagaimana? Pertunjukan kami sedikit bagus, kan?" Siswa yang mengajak Karamatsu kemari menghampirinya. Beruntung Karamatsu tidak terkejut karena dia datang dari arah depan.
"I-iya … " balas Karamatsu.
"Kalau begitu, kau tidak ada masalah bergabung dengan kami, kan?"
"A-apa yang—"
"Woah, terima kasih, Matsuno! Aku tunggu kembali kau untuk datang besok!"
Karamatsu tidak tahu harus menjawab apa. Ia merasa sungkan jika harus menolak secara terus terang, tetapi menerimanya begitu saja juga membuatnya takut. Namun pada akhirnya, Karamatsu tidak berkata apa-apa dan hanya menggaruk kepalanya.
Pemuda itu kembali ke kelas setelahnya. Ia takkan datang lagi ke tempat itu, lebih baik kembali pada hari-harinya yang biasa. Duduk di kursi, menunggu angin datang membelai helai rambutnya. Atau memikirkan saudara-saudaranya. Sudah berapa lama mereka seperti ini?
Karamatsu tidak mau menghitung berapa banyak waktu yang berlalu.
Meski demikian, Karamatsu tahu bahwa masih ada saudaranya yang sedikit peduli padanya. Mungkin itu hanya Ichimatsu dan Jyushimatsu untuk sekarang, tetapi ini menunjukkan bahwa relasi mereka masih memiliki harapan. Hanya saja, Karamatsu masih merasa ketakutan. Ia tidak bisa mengumpulkan keberanian.
Karamatsu masih melihat mereka, mengamati dan kadang membantu saudaranya yang kesulitan tanpa rasa pamrih. Dia melakukannya karena ingin, tiada paksaan. Ini untuk saudaraku, begitulah yang selalu ia pikirkan. Ia tidak peduli, bahkan bila seorang di antara mereka merasa keberatan dengan tindakannya.
Hari demi hari terlewati hingga sehari sebelum kelulusan mereka. Siang itu, Karamatsu mendapatkan surat dari seseorang bernama Takahashi, tertulis nama di bagian pengirimnya seperti itu. Kata 'Untuk Matsuno' pada amplop menunjukkan bahwa mungkin ini ditujukan untuk salah satu saudaranya. Mereka ada enam, omong-omong, termasuk dirinya.
Sayangnya, rasa cemas Karamatsu terus muncul. Ia duduk di bangku sambil menghela napas, memegang sepucuk surat yang entah apa isinya. Apakah dia harus membacanya sekarang? Atau memberitahu saudaranya terlebih dahulu?
Karena Karamatsu merasa ini kesempatan yang bagus untuk bicara dengan saudaranya, maka Ia memutuskan tidak untuk membacanya dan mencari mereka. Ini memang hanya sebuah surat, siapapun penerimanya bukanlah masalah selama bisa menjadi alasan yang bagus.
Karamatsu mulai mencari saudaranya setelah itu. Pergi ke tempat di mana mereka biasa muncul, sebab ia-lah yang selalu mengamati mereka setiap hari. Namun entah kenapa, Karamatsu tidak bertemu dengan satu pun dari mereka hari ini. Bahkan meski saling menjauh, seharusnya Karamatsu masih bisa melihatnya.
Namun hingga sore hari, hasil pencariannya nihil. Saudaranya bagai hilang ditelan bumi padahal Karamatsu yakin mereka takkan pergi begitu saja. Lalu ke mana mereka hari ini? Apakah mereka akan meninggalkan Karamatsu sendirian seperti ini?
Itu menakutkan.
Dalam perjalanan pulang, Karamatsu hanya mendengar langkah kakinya sendiri. Berikut bayangan panjang, terbentuk dari bias cahaya yang menemani dirinya saat ini. Begitu sepi, begitu sunyi. Tak ada gelak tawa atau candaan dalam beberapa waktu ini.
Karamatsu masih tidak terbiasa dengan kesepian meskipun selalu pulang sendiri belakangan. Tapi hari ini rasanya lebih menyedihkan daripada kemarin-kemarin.
Apakah tidak akan ada yang berubah?
Karamatsu tiba di rumah, berpikir mungkin saudaranya kembali duluan. Tetapi, situasinya masih sama. Hanya ada dirinya dan juga udara kosong. Baik di kamar, ruang makan, pun semua sudut ruang yang sudah ia sisir. Mungkin ada alasan lain mengapa saudaranya belum pulang.
Karamatsu mencari lagi, berusaha berkeliling. Siapa tahu saudaranya mampir ke sebuah tempat. Mulai dari pachinko, tempat Profesor Dekapan, kedai oden milik Chibita, hingga hampir ke tepi kota. Terik matahari tidak ia pedulikan, hingga keringat pun menetes begitu banyak. Mungkin juga sol sepatunya sudah aus sekarang. Tapi tetap saja, ia tidak menemui siapapun hingga kakinya terasa begitu letih.
Berjalan dengan lunglai, Karamatsu akhirnya pergi ke taman. Biasanya jika tidak ada kegiatan, kadangkala ada saudaranya yang mampir ke mari. Namun sepertinya ini bukanlah hari keberuntungan Karamatsu karena ia sama sekali tak melihat saudaranya di sini.
Karamatsu sudah lelah dengan semuanya, dia menyadari itu. Menjadi orang yang hanya selalu diam bukanlah hal yang baik. Ia menangkup wajahnya sendiri dan menarik napas dalam-dalam, sebelum diembuskan kembali. Tenanglah, Karamatsu, pasti ada cara— ia meyakinkan dirinya sendiri seperti itu.
Karena sudah agak larut, Karamatsu pulang. Rupanya saudara-saudaranya juga sudah kembali, tampaknya mereka baru saja akan makan malam. Karamatsu langsung bergabung dengan mereka, namun masih diam.
Selesai mandi, mereka menyiapkan futon untuk tidur bersama. Sedari tadi Karamatsu tidak berkata apa-apa, tak ada juga yang menanyainya. Suasana nya masih tetap seperti ini. Ia membantu menggelar futon dan menata selimut setelah itu.
Mereka tiduran bersisian seperti biasa. Karamatsu sudah mendengar suara dengkuran, tetapi ia tidak bisa menahan dirinya lagi untuk berbicara sekarang. Kesempatan mungkin tidak akan datang lagi di lain waktu, bukan?
"Besok, temui aku sepulang sekolah."
Tidak ada jawaban.
Karamatsu menghela napas, mungkin mereka sudah tidur jadi dirinya juga tidak berharap banyak. Entah dari mana datangnya keberanian itu, ia ingin melakukan apa yang ia bisa, walau tidak tahu apakah akan berhasil atau tidak. Hanya saja, dia tidak ingin mereka berenam terus stagnan dan berhenti di tempat yang sama terus-menerus. Dia ingin hubungan mereka berubah.
Kembali seperti dulu.
Hari ini adalah penentuan dari titik balik, atau itulah yang setidaknya diinginkan oleh Karamatsu. Ia tidak tahu apakah mereka semua akan datang, tetapi pemuda itu memutuskan untuk berhenti berlari.
Ia sudah lelah.
Maka Karamatsu menarik napas dalam-dalam, lalu diembuskannya kembali. Ia melangkah menuju atap sekolah sembari memantapkan hati. Apapun yang terjadi, dia harus mengungkapkan perasaannya hari ini.
Ketika Karamatsu tiba di sana, semua saudaranya hadir—sedikit tidak menyangka, sebenarnya. Tetapi ini lebih baik karena mereka semua akhirnya bisa saling bicara. Jadi ternyata semalam mereka semua mendengarnya. Ada sedikit perasaan lega dalam hati Karamatsu karena permintaannya tidak diabaikan.
"Jadi kenapa kau memanggil kami, Karamatsu?"
Osomatsu yang bertanya duluan, mewakili yang lain. Karamatsu berusaha menyingkirkan rasa takutnya yang mendadak muncul lagi, dia sudah melangkah sejauh ini, sekarang atau tidak sama sekali.
"Baiklah, aku akan bicara."
Kau bisa melakukannya, Karamatsu, batin pemuda itu pada dirinya sendiri. Ia pun menatap saudara-saudaranya, lantas angkat suara.
"Aku tidak suka kita seperti ini. Maksudku … saling menjauh dan berpura tidak mengenal satu sama lain. Apa gunanya kita meneruskan ini? Jadi, bisakah kita berhenti?"
Karamatsu akhirnya mengatakannya. Ia hampir tidak percaya dengan dirinya sendiri. Walau ia akui memang sulit, tetapi ia sudah berhasil melaluinya.
"Apa? Kau mengumpulkan kami hanya untuk mengatakan itu?" Tanya Choromatsu.
"Aku hanya tidak ingin melihat kalian keluar dari zona nyaman dan memaksakan diri seperti itu. Aku tidak tahan melihatnya lagi! Kenapa kalian mencoba terlihat berbeda dengan cara yang memuakkan? Kita ini kembar!"
Karamatsu terengah-engah usai berbicara. Apakah itu cukup untuk meyakinkan mereka?
"Sebenarnya ada satu hal lagi—"
Karamatsu mengulurkan tangannya, mencari surat itu di saku belakang celananya. Ia bermaksud menjelaskan alasan mengapa mengumpulkan mereka semua sekarang. Tetapi ketika ia tengah melakukannya, saudara-saudaranya justru memulai pertengkaran sendiri.
" Well, aku baik-baik saja dengan ini." Kata Osomatsu. Sebab pada dasarnya dia memang tidak berubah.
Choromatsu terpancing. "Kau baik-baik saja? Kau tidak tahu bagaimana rasanya jadi aku, makanya kau bisa bilang begitu!"
"Apa sih masalahmu? Kau pikir aku suka seperti ini?!" Sahut Ichimatsu.
"Hei, akulah yang paling kesulitan di sini!" Jyushimatsu pun ikut menimpali.
Todomatsu tampak kebingungan melihat saudaranya bertengkar. Ia ingin melerai, tapi tidak berani. Sedangkan Karamatsu tidak jadi mengambil surat dari Takahashi begitu melihat apa yang mereka lakukan.
"Semuanya, hentikan! Kita harus bicara baik-baik!" Serunya. Tetapi tampaknya tak ada yang mendengar.
"Kenapa kau berpikir dirimu yang paling menderita, hah?"
"Itu karena kau tidak mengalami yang kurasakan!"
"Karena wajah kita sama, jadi orang-orang tidak pernah melihat perbedaan di antara kita!"
"Memangnya itu salahku kita terlahir seperti ini?!"
"Tentu saja! Kalau kau tidak berwajah sama denganku, ini tidak akan terjadi! Aku hampir tidak tahan dengan semua ini!"
"Jika kau tidak kuat, kenapa tidak mati saja, hah?!"
"Kalau begitu mengapa tidak kau yang duluan, brengsek?!"
"Berisik, lebih baik kalian mati bersama-sama!"
Karamatsu terpaku. Mengapa mereka bisa mengucapkan kata 'mati' semudah itu? Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh saudara-saudaranya? Mungkinkah dia yang salah dengar?
"Cepat mati saja, sana!"
"Mau kubunuh, ya?!"
"Maju sini!"
Rupanya tidak.
Bukan hanya makian, mereka semua juga saling berkelahi sekarang. Menghajar satu sama lain seolah-olah bertemu dengan musuh bebuyutan setelah sekian lama.
"He-hentikan … "
Karamatsu mulai ketakutan karena semuanya berada di luar kendali. Melihat saudaranya memukul yang lain, membuat hatinya sedih. Padahal hari ini ia ingin mereka semua berbaikan.
"Hentikan! Kumohon, hentikan!" Kali ini Karamatsu berseru lebih keras, namun masih tidak ada yang mengindahkannya.
Memutar otak, Karamatsu berpikir bagaimana caranya bisa mendapatkan atensi. Ia melihat pembatas atap secara kebetulan dan teringat dengan pertunjukan latihan klub drama. Ia menelan ludah, belum pernah melakukan ini sebelumnya. Namun bila ia bisa bersandiwara dengan baik, mungkin saja akan ada yang mendengarkannya, kan?
Sekarang bukan waktunya untuk ragu, maka Karamatsu menaiki pagar atap, memosisikan dirinya di sana dan kemudian berteriak untuk mendapat perhatian.
"Berhenti atau aku akan melompat dari sini!"
Keributan itu menjadi senyap seketika. Semua orang berhenti berkelahi dan memaki, saat mendengar serta melihat Karamatsu yang kini berada di atas pagar atap.
"Karamatsu, apa yang kau lakukan di sana?" Tanya Osomatsu.
"Karena kalian tidak ada yang mau berhenti! Aku benci melihat kalian saling mencaci dan menyumpahi!"
Todomatsu merasa tertolong dengan tindakan Karamatsu untuk menghentikan semua saudara mereka yang berkelahi. Sebab ia juga bingung bagaimana harus menghentikan mereka dan hanya dapat melihat.
"Kenapa kami harus mendengarkanmu?" Sahut Ichimatsu.
Choromatsu membenarkan. "Benar, ini urusan kami."
Usaha Karamatsu tampaknya sia-sia dan Todomatsu menatap khawatir. Apakah ini akan baik-baik saja?
Ketika mereka semua berkelahi lagi, tanpa sengaja pagar atap tersenggol dan membuat Karamatsu kehilangan keseimbangan. Kakinya berusaha menahan sebisanya, tetapi karena terlalu mendadak, tubuhnya ikutan oleng.
"Huaaaa!"
Teriakan Karamatsu menyadarkan mereka yang tengah ribut. Mereka semua panik dan langsung bergegas menuju ke pagar atap yang tidak jauh dari jangkauan mereka. Kepanikan langsung menyelimuti, seolah menyadarkan mereka mengenai hal yang lebih penting daripada pertengkaran seperti ini.
Waktu terasa berjalan begitu lambat ketika mereka ingin meraih Karamatsu. Osomatsu memegang Jyushimatsu, kemudian Ichimatsu, diteruskan oleh Todomatsu dan juga Choromatsu yang berusaha menangkap tangan Karamatsu.
Tap
"Karamatsu nii-san, kau tidak apa-apa?!" Tanya Choromatsu.
"Aku baik-baik saja!" Balas Karamatsu. Meski begitu, ia takut sekali karena sedang berada di tempat yang tinggi. Ia bahkan bisa merasakan angin yang cukup kencang di tempat ini. Jika tubuhnya ringan, maka bisa dipastikan akan tertiup dengan mudah.
"Bertahanlah, Karamatsu, kami akan menolongmu!" Teriak Osomatsu.
"Pegangan yang kuat!" Imbuh Ichimatsu.
Tubuh Karamatsu masih bergelantungan, terlambat sedikit saja maka akan jatuh ke bawah. Choromatsu menariknya, dibantu oleh yang lain yang berada di belakang dan menahannya. Perlahan-lahan, mereka pun berhasil menaikkan kembali Karamatsu ke atap.
Pihak penarik terengah-engah karena itu adalah prosedur yang sangat sulit. Posisi mereka juga di atap, sedikit kesalahan saja maka akan berakhir dengan sangat buruk. Tetapi napas Karamatsu juga terputus-putus, karena baru saja selamat dari bahaya.
Setelah itu hanya ada keheningan. Dengan tubuh babak belur dan juga semilir angin yang menemani. Tampaknya juga tidak ada yang berniat bicara, begitu pula dengan Karamatsu. Jadi … apakah akhirnya hanya seperti ini?
Mereka pulang setelah itu. Kali ini Karamatsu tidak sendirian, berikut dengan bayangan panjang yang biasanya hanya ada tunggal kini menjadi beberapa. Bukan lagi suara langkah kakinya saja yang terdengar. Tetapi suasananya masih tidak enak, sehingga tak ada seorang pun yang mencoba berbicara.
Karamatsu tidak hanya mendengar suara langkah kaki. Namun juga isakan pelan dari mereka yang berjalan beriringan dengannya. Mereka semua berusaha menahan dan menutupinya dengan tangan. Membuat Karamatsu merasa tidak enak. Tetapi lebih baik ia berpura-pura tidak tahu saja.
"Karamatsu, maafkan kami."
Osomatsu yang pertama kali memecah keheningan itu. Mata dan hidungnya sudah sangat merah. Karamatsu hanya menoleh, kemudian memalingkan wajah ke arah lain setelah mengangguk.
"Kata-kata kami memang keterlaluan, hiks."
Ichimatsu tersedak setelah berucap demikian. Tangisnya pecah dengan hebat. Karamatsu baru ingat dia memiliki hati yang sangat rapuh, jadi wajar saja bila sampai seperti ini.
"Kami takkan mengulanginya lagi," kata Choromatsu. Ia merapatkan telapak tangan di wajahnya, tidak mau wajah buruknya terlihat.
"Benar, apa yang sebenarnya aku pikirkan? Menyuruh saudaraku sendiri mati. Itu … itu mengerikan sekali … "
Jyushimatsu menangis kencang, hingga membuat yang lainnya jadi ikut-ikutan. Beruntung mereka sedang berada di area yang sepi, jadi Karamatsu tidak mempermasalahkannya. Sebenarnya ia tidak mengharapkan permintaan maaf dari mereka, hanya ingin semuanya kembali seperti semula.
Mereka berenam berhenti karena ada palang kereta yang turun di dekat beberapa pohon sakura yang terletak pada pinggir jalan. Sembari menunggu, mereka hanya berdiri dan terisak kecuali Karamatsu. Todomatsu pun mendekati saudara tertua kedua mereka dan memeluknya erat-erat.
"Karamatsu nii-san, aku akan selalu menemani nii-san!"
Karamatsu hanya diam. Suara dari penanda kereta yang akan lewat mulai berbunyi. Ia hanya berdiri dan tidak membalas. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya ia pikirkan.
"Be-benar!" Ichimatsu tampak seperti ingat sesuatu. "Kami takkan berusaha keluar dari zona nyaman kami. Itu kan yang kau inginkan?"
"Begitu, jadi kita tidak perlu memaksakan diri lagi." Choromatsu menunduk, berusaha menyeka air matanya. Kalau dipikir-pikir, bersandiwara seperti itu terus sangat melelahkan karena mereka tidak lagi menjadi diri sendiri. Ucapan Karamatsu benar.
"Kami akan selalu bersamamu, kami berjanji!" Seru mereka serempak, mungkin karena ikatan sebagai saudara yang cukup kuat sehingga bisa memikirkan hal yang sama. Mereka kembar, wajar jika memiliki banyak kesamaan, bukan?
Namun Karamatsu masih tidak menjawab. Ia hanya memandang lurus ke depan sembari melamunkan sesuatu.
"Apa kau masih marah, Karamatsu nii-san?" Tanya Jyushimatsu takut-takut. Sebab Karamatsu tidak berbicara sedari tadi.
Osomatsu hanya diam meski jejak air matanya masih ada. Tentu saja ia bersedih ketika membayangkan Karamatsu hampir saja tiada dari kehidupan mereka. Ia pun menunggu Karamatsu membalas ucapan itu. Ia juga merasa bersalah dan ingin tahu apa tanggapan Karamatsu akan hal ini. Benarkah dia masih marah?
Karamatsu pun membuka mulutnya,
"Aku—"
Kereta lewat dengan kecepatan tinggi di hadapan mereka, dengan suara yang cukup keras. Angin menyibak sedikit rambut ke-enamnya dan juga menerbangkan beberapa kelopak bunga sakura dari sekitar yang berguguran kemana-mana. Lima saudara yang lain melihat ke arah Karamatsu, terbeliak. Setelah dua menit, kereta sudah berlalu dan palang pun terbuka kembali.
Karamatsu berjalan duluan, kemudian disusul oleh saudara-saudaranya.
"Kalau begitu, aku permisi dulu, brother."
"Woi, Karamatsu nii-san!"
Karamatsu pergi dengan melambaikan tangan, menghilang begitu cepat. Choromatsu? Jangan tanya. Dia sudah siap meledak di tempat. Menyeret saudara yang lain boleh juga.
Ini semua berawal ketika Karamatsu terlalu baik hingga tidak pernah menolak permintaan tolong dari saudara-saudaranya. Choromatsu yang melihatnya jadi kesal sendiri serta bermaksud memberi nasihat, tapi siapa sangka ia akan dikhianati seperti ini?!
Alih-alih Karamatsu yang menolak permintaan tolong, kini Choromatsu yang kena getah nya. Tahu begini, dia takkan mau memberikan saran apapun pada kakak nya! Tidak berguna!
Ketika mereka dewasa, tidak banyak yang berubah, sebenarnya. Kehidupan Matsuno bersaudara juga begini-begini saja, terlebih menjadi NEET. Meski dipandang rendah, atau bahkan tidak berguna, tetapi mereka menemukan kedamaian hati dengan tidak berusaha memakai topeng kembali.
Benar, semuanya telah berada di zona nyaman masing-masing. Sesuai dengan apa yang mereka katakan beberapa tahun lalu. Janji adalah sesuatu yang harus ditepati, bukan? Terus berpura-pura dan menipu hati mereka sendiri begitu melelahkan. Mereka tidak ingin melaluinya lagi.
Namun semua menjadi lain ketika Karamatsu berubah. Pemuda yang dulunya selalu pendiam dan ketakutan itu sekarang adalah sosok yang berbeda sekali dengan dirinya dulu. Mereka tidak tahu apa yang mendasari Karamatsu keluar dari zona nyamannya seperti itu. Mereka pun tak menyukai keputusannya.
Bukankah Karamatsu yang meminta mereka agar kembali menjadi diri sendiri? Lalu kenapa dia sekarang menjadi seperti itu? Saudara-saudaranya juga tidak pernah berusaha mencari tahu. Yang jelas, mereka merasa sakit hati akan hal ini.
"Hei, bagaimana pendapat kalian tentang Karamatsu?"
Choromatsu entah mendapat dorongan dari mana untuk menanyakan apa yang dipikirkannya. Mungkin karena kekesalannya kali ini tidak bisa ditahan seperti biasanya. Semua saudaranya yang bertingkah rada-rada itu pun langsung diam saat mendengar pertanyaan Choromatsu.
"Maksudmu apa, Choromatsu? Pendapatku tentang dia? Sudah pasti orang narsis. Iya, kan?" Osomatsu menoleh kepada semua orang di sana dan mendapatkan anggukan.
"Bukan itu yang aku bicarakan."
Osomatsu menatap malas. "Apaan sih, ngomong yang jelas, dong."
"Yang kumaksud, adalah soal kepribadiannya. Apakah menurut kalian … Karamatsu berubah?"
Ichimatsu berdecak. "Ya, dia menjadi tambah narsis."
Choromatsu sweatdrop. "Kau tidak perlu mengulangi apa yang dikatakan Osomatsu nii-san."
"Tapi bukannya itu benar?" Jyushimatsu menimpali. Perubahan Karamatsu yang paling besar memang adalah sifat narsisnya itu.
"Iya, tidak diragukan lagi." Todomatsu kian memanaskan suasana. "Narsis ya narsis aja."
"Dengarkan aku dulu! Kalian cuma ingin bilang 'narsis' karena tidak ada jawaban lain, kan?" Choromatsu mencak-mencak.
"Yah … " semuanya langsung memalingkan wajah. Tuh, kan!
Kenapa semua saudaranya berotak lemot? Dia sudah lelah harus menjelaskan secara detail mengenai apa yang sebenarnya ia tanyakan. Tapi dia harus melakukannya, bukan?
"Maksudku, tentang sifat baiknya itu. Kurasa dia tidak pernah berubah sedari dulu."
Semuanya terdiam. Memang benar, mungkin Karamatsu yang narsis adalah sebuah perubahan besar. Namun tentu saja ada sesuatu yang masih tetap sama di dalam dirinya dan itu adalah kebaikan hatinya. Mereka pernah merasakannya, sampai sekarang juga begitu. Seketika mereka tersadar bahwa tindakan Karamatsu yang selalu membantu mereka merupakan bagian dari kebaikannya.
"Tiba-tiba aku ingin menangis." Todomatsu berujar. Karamatsu adalah kakak yang baik setelah ia kembali mengingatnya.
Dulu, Todomatsu selalu bingung ketika bekalnya yang tertinggal bisa berada di tasnya. Tidak hanya itu, ada juga beberapa permen manis yang ditinggalkan. Todomatsu awalnya skeptis, mengira bahwa ia sendiri yang melupakannya. Tetapi suatu hari, ia tidak sengaja melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa itu adalah tindakan Karamatsu.
Todomatsu selalu menginginkan perhatian kakak-kakak nya, karena itu ia selalu menempel pada Choromatsu di sekolah dulu. Dikarenakan yang lain lebih sulit didekati dan lagi situasi mereka begitu buruk saat itu. Todomatsu hanya tidak ingin terpisah dari saudaranya. Ia berusaha menarik atensi, mungkin dengan begitu semua akan lebih baik.
Sayangnya tidak ada perubahan yang berarti. Walau Choromatsu membiarkannya menempel padanya, tetapi mereka semua ada enam. Todomatsu masih merasa dirinya memiliki banyak kekurangan sehingga kakak-kakak nya tidak mau melihat ke arahnya. Apakah ia memang tidak sepantas itu untuk bersama mereka?
Todomatsu kemudian menjadi tidak percaya diri. Ia berpikir hari-hari yang ia lalui akan seperti ini terus. Membosankan, sekaligus menyebalkan. Karena banyak pikiran, maka dia sesekali lupa membawa bekalnya ke sekolah. Itu adalah hal yang biasa terjadi, kan?
Oleh sebab itu, ketika tidak sengaja melihat Karamatsu melakukan semua itu untuknya, ia merasa harapannya telah terjawab dengan sendirinya. Walaupun dulu ia juga tidak begitu dekat dengan Karamatsu karena sifat penakut kakak nya itu, tetapi Todomatsu selalu berterima kasih di dalam hatinya. Dia memiliki harapan bahwa saudara-saudaranya yang lain mungkin bisa akur suatu saat.
"Karamatsu nii-san sangat baik sekali, dia selalu mengantar kotak bekalku yang ketinggalan dan bahkan memberikanku permen manis." Celoteh Todomatsu ketika mengenang memori indah itu.
Karamatsu dulu memang bukan orang yang banyak bicara, bahkan meski berubah pun, Todomatsu tidak bisa benar-benar membencinya. Karamatsu adalah seseorang yang selalu menunjukkan hatinya melalui tindakan. Jadi ia hanya merasa … begini saja juga tidak apa-apa. Ini sudah cukup.
"Yah, walau aku tidak suka ketika dia berubah seperti itu. Rasanya dia bukan seperti orang yang aku kenal. Tapi, ya sudahlah." Todomatsu tertawa pelan.
"Ya sudahlah, apanya?!" Teriak Ichimatsu. Semua orang terkejut karena biasanya dia yang paling kalem dalam situasi begini. Sebenci itukah dirinya pada Karamatsu hingga tidak bisa ditutupi?
"Dia itu mengkhianati kita! Todomatsu, apa matamu tidak terbuka?!"
Todomatsu menunduk setelahnya. Memang benar, dirinya juga merasa terkhianati oleh itu. Alasan mengapa mereka semua bersikap begini adalah karena Karamatsu yang justru keluar dari zona nyamannya usai kelulusan. Padahal dulu ia yang berkata bahwa tidak apa-apa bagi mereka untuk menjadi diri sendiri.
Jelas saja mereka semua menjadi sakit hati.
Jyushimatsu tiba-tiba menyahut. "Tapi dia selalu mengkhawatirkan kita, aku rasa kita tidak bisa mengubah fakta itu."
"Bagaimana kau tahu?" Tanya Osomatsu.
"Dulu aku sering sekali dipanggil ke ruang kesiswaan—wah, aku bahkan tidak ingin mengingatnya karena sangat memalukan!" Jyushimatsu menutupi wajahnya.
"Hei, bagaimana kami tahu kalau kau tidak cerita?!" Choromatsu makin kesal sekarang.
"Jadi … kalian tahu aku dulu memang seperti itu, bukan? Setiap kali aku dipanggil, Karamatsu nii-san akan mendengarkan dari luar sampai aku selesai dimarahi."
"Dia tidak menemuimu?" Choromatsu menatap.
Jyushimatsu menghela napas. "Situasi kita sedang buruk saat itu, jadi kurasa Karamatsu nii-san hanya tidak ingin membuat masalahnya menjadi besar. Sekarang ketika aku memikirkannya kembali, itu sedikit membuatku senang."
Jyushimatsu tidak berbohong. Dulu, sikapnya sangat kekanakan dan bahkan berdandan menjadi preman demi terlihat berbeda dari saudaranya yang lain. Walau tak melakukan apapun, wajah seramnya cukup membuat orang takut serta melabelinya dengan julukan anak nakal. Lalu tentu saja sekolah tidak akan tinggal diam dan segera menindak tegas anak didik mereka.
Jyushimatsu dipanggil ke ruang kesiswaan, untuk dinasihati. Masuk telinga kanan dan keluar melalui telinga kiri. Dia malas mendengarkan, sebenarnya. Hanya saja dia tidak peduli pada apapun lagi, jadi membiarkan semua berlalu seperti itu.
Jyushimatsu tidak pernah menyadari itu sebelumnya. Ketika dia keluar dari ruang kesiswaan suatu hari, tanpa sengaja ia masih melihat Karamatsu yang baru saja berbalik menuju arah lain lalu berbelok. Awalnya Jyushimatsu pikir itu hanya kebetulan, hingga ia mendengar suatu rumor dari para siswa.
"Eh, tahu, tidak? Karamatsu dari kelas xx katanya sering sekali pergi ke ruang kesiswaan?"
"Serius ini?"
"Seseorang melihatnya selalu kembali dari arah sana. Kau tahu kan, lorong itu sepi karena tak ada murid yang berani lewat!"
"Aku baru ingat. Guru pembimbing sangat galak!"
"Dia anak yang tampak penakut dan pendiam, tapi tidak kusangka memiliki banyak masalah juga, ya."
"Hahahaha, kita memang tidak bisa menilai orang dari luarnya saja."
Jyushimatsu tahu tidak seharusnya ia langsung membenarkan pembicaraan orang. Tetapi yang meyakinkannya adalah bagaimana murid-murid itu dengan entengnya menertawai saudaranya. Apakah selama ini hanya dia yang tidak menyadari itu?
Berikutnya, Jyushimatsu mencari rumor yang berkaitan dengan kakak nya, apapun itu. Tidak jauh berbeda daripada sebelumnya. Mereka menghina Karamatsu dan membicarakannya di belakang seperti itu. Mengatainya jerawatan dan juga pengecut. Tertawa tanpa dosa hingga Jyushimatsu ingin menghajar mereka semua.
Tetapi, Jyushimatsu memikirkan ulang. Dia tidak bisa melakukannya seperti itu. Karenanya, ia hanya menakuti mereka dengan menunjukkan wajah seramnya. Ia harap itu bisa sedikit membantu, tapi ia juga tidak tahu bagaimana hasilnya. Jyushimatsu hanya melakukan apa yang ia bisa.
"Jadi karena itulah aku pikir Karamatsu nii-san masih memperhatikan kita, hanya saja dia memang tidak pernah bicara soal itu." Jyushimatsu pun mengakhiri ceritanya.
"Kalian semua … aku tidak percaya ini." Ichimatsu menatap malas.
"Kau tidak punya kenangan yang indah bersamanya?" Ledek Jyushimatsu.
"Diam, aku tidak mau membicarakan itu."
Ichimatsu mendengkus, membuat yang lain berusaha memaklumi. Tampaknya amarah pemuda itu pada Karamatsu sangatlah besar jadi mereka tidak bisa berkomentar apa-apa.
"Karamatsu nii-san juga selalu membantuku." Choromatsu mengalihkan topik supaya suasana tidak kian runyam.
"Bagaimana dia membantumu?" Todomatsu penasaran.
"Yah, kau tahu, aku dulu selalu dibully dan dibilang mesum … "
"Bukannya kau mesum memang fakta, ya?" Semua orang serempak bertanya. Choromatsu langsung marah seketika.
"Dengar dulu! Waktu itu aku dijahili dan Karamatsu nii-san … "
Choromatsu tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Suaranya hilang entah ke mana secara tiba-tiba. Tenggorokannya kering dan matanya terasa panas. Perundungan yang dialaminya merupakan mimpi buruk selama di sekolah dan ia senang karena Todomatsu selalu menempel padanya.
Tetapi adik nya itu tidak pernah tahu apa yang dialaminya.
Si bungsu justru berkata dengan entengnya. "Kau kan memang pantas dibully."
"Todomatsu?!" Choromatsu kian patah hati begitu mengalami pengkhianatan tidak terduga. Ia syok hingga terjatuh ke lantai. Tidak ada peringatan soal critical damage!
Osomatsu merasa buruk sekarang. Semua itu terjadi ketika mereka bersekolah di tempat yang sama. Tapi mengapa ia tidak pernah berusaha peduli, atau setidaknya mencari tahu mengenai apa yang terjadi pada saudara-saudaranya?
Ia bukanlah kakak yang baik bagi mereka.
Karamatsu lah yang menggantikan perannya. Membantu semua meski dalam diam. Sekarang ia baru memikirkan, pastilah yang mengganti seragamnya yang terkena tumpahan kopi waktu sekolah dulu adalah Karamatsu. Mengapa saat itu ia tidak memikirkan kemungkinan tersebut?
Kenapa dia bisa sebodoh ini?
"Omong-omong soal itu … kurasa aku juga pernah." Osomatsu yang teringat kembali dengan itu mendadak berbicara hingga membuat yang lain menjadi tertarik.
"Benarkah, Osomatsu nii-san?!" Semua orang langsung teralihkan akan hal tersebut dan jadi penasaran. Kok bisa Karamatsu mau membantu Osomatsu yang bentukan nya tidak jelas begitu?
"Ah, sebentar, aku agak lupa."
"Wuuu!" Semua orang melemparinya dengan benda-benda dan membuat Osomatsu harus menghindar supaya dirinya aman.
"Padahal aku niat bercanda sedikit, kalian ini kenapa serius sekali, sih?!"
"Tentu saja, kita sedang membicarakan Karamatsu nii-san, bukan?!"
Mereka berkelahi sebentar setelah itu, namun tidak berlangsung lama. Kelimanya terdiam dan duduk setelahnya. Mungkin karena mereka saudara, jadinya memikirkan hal yang sama. Tidak ada gunanya meneruskan ini.
"Rasanya aku jadi ingat waktu dulu." Celetuk Choromatsu.
"Kita juga pernah bertengkar seperti ini, ya?" Jyushimatsu menatap langit-langit.
Todomatsu berbicara, "Itu kenangan yang cukup menyakitkan."
" … " Ichimatsu hanya terdiam.
Osomatsu kian murung. "Aku benar-benar menyesal kita pernah seperti itu."
Tidak ada yang mau mengingat hari itu lagi. Di mana mereka saling mencaci serta menyumpahi untuk mati satu sama lain. Sangat mengerikan. Bagaimana bisa mereka melakukan hal seperti itu dahulu kala? Pantas saja Karamatsu sampai muak.
Omong-omong soal itu, Karamatsu juga lah yang berinisiatif untuk memperbaiki hubungan mereka. Ia bisa mengatasi sifat penakutnya hanya demi hubungan persaudaraan keenamnya. Semuanya jadi merasa tidak enak sekarang karena selalu memanfaatkan kebaikan Karamatsu.
Mereka benar-benar sampah.
"Kalau dipikir-pikir, Karamatsu nii-sa n dulu selalu berusaha dekat dengan kita, ya … " Choromatsu memulai topik lain. Sekalian untuk mencairkan suasana. Keheningan yang cukup lama ini sangat mengganggu dan ia tidak tahan untuk terus menutup mulutnya.
"Tentu saja, Karamatsu kan ingin dekat denganku." Sahut Osomatsu santai. Sudah jelas adiknya itu peduli padanya, kan? Jadi tidak diragukan lagi, bahwa Karamatsu memang ingin dekat dengannya.
Keempat saudaranya yang lain tidak terima. "Jangan terlalu percaya diri!"
"Memangnya kalian dekat dengan dia?!" Osomatsu menatap sengit.
Choromatsu berdehem. "Tentu saja! Dia yang selalu membantuku walau diam-diam! Itu karena kami sangat dekat, bukankah begitu?"
"Enak saja," potong Jyushimatsu. "Karamatsu nii-san selalu menungguku. Kami begitu dekat, oke?"
"Tidak, tidak. Aku yang paling dekat dengan Karamatsu nii-san." Todomatsu menunjuk pada dirinya sendiri.
"Kalian berisik sekali …. " Komentar Ichimatsu di sela-sela keributan antar saudara itu. Tidak bisakah mereka memberinya ketenangan sehari saja?
Osomatsu melirik aneh seraya tersenyum. Ia lantas menaik-turunkan alisnya, selama tahu apa yang hendak diucapkan adik nya.
"Apa? Kau sekarang cemburu, Ichimacchan ? HAHAHAHAA!"
"Aku tidak—"
Tawa Osomatsu meledak sebelum Ichimatsu sempat berbicara. Membahana memenuhi ruang. Diikuti oleh yang lainnya, pula. Membuat telinga Ichimatsu terasa amat risih saat mendengarnya.
Ichimatsu tidak menjawab. Tetapi itu memang benar adanya. Sial. Kenapa Osomatsu harus mengatakannya seperti itu, sih?! Sekarang dia jadi tidak bisa berbicara apa-apa!
Namun ada satu hal yang perlu diketahui. Ichimatsu sungguh tidak menyukai Karamatsu, omong-omong. Saudara-saudaranya yang bodoh hanya salah paham dengannya. Tapi, ini benar-benar menyebalkan. Ia jadi ingin mengutuk mereka, secara mendadak mengeluarkan aura kegelapan miliknya.
"He-hentikan itu sekarang, Ichimatsu/Ichimatsu nii-san!" Mereka tampak ketakutan. Bagaimana jika sisi gelap Ichimatsu muncul? Jiwanya yang psikopat itu tidak mudah ditangani.
Selepas itu, mereka terdiam kembali. Tidak berlangsung lama karena tiba-tiba saja Osomatsu menjauh dan berkacak pinggang.
"Jadi aku yang paling dekat dengan Karamatsu, kan?"
"Minimal ngaca." Kata Choromatsu. Dibenarkan juga oleh saudara yang lain melalui anggukan. Membuat Osomatsu tersudutkan. Dia harus segera membalas dengan sesuatu.
"Kalian pikir dia mau dekat-dekat kalian ?!"
Osomatsu tentu saja harus membela dirinya. Lagipula, itu sangat aneh. Karamatsu lah yang membuatnya jelas. Jika mereka tidak dekat, maka Karamatsu takkan mengganti seragamnya waktu dulu terkena tumpahan kopi, bukan? Memikirkannya saja membuat Osomatsu sangat bangga.
"Enak saja, aku sudah bilang kalau itu aku!"
Choromatsu kesal. Kenyataannya, bahwa Karamatsu peduli padanya dahulu ketika hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Hanya Karamatsu yang tergerak dan memiliki hati untuk membantu dirinya. Osomatsu bahkan tidak melakukan apapun padahal dia adalah saudara tertua. Bisa-bisanya dia bilang seperti itu?
"Tapi aku rasa Karamatsu nii-san lebih dekat denganku." Jyushimatsu ikut-ikutan menambah panas suasana.
"Dia itu cuma khawatir padamu karena jadi preman … " Ichimatsu menguap. Yah, meskipun preman bodong tapi tetap dihitung, kan?
Todomatsu tertawa pelan, membuat semua orang jadi menoleh ke arahnya. Tawanya agak aneh, begitu mencurigakan.
"Kalian semua tidak tahu, ya?" Todomatsu bersidekap sembari memasang wajah sombong. "Aku adalah kesayangan Karamatsu nii-san. Kami bahkan tidak pernah berselisih. Bukankah itu sangat dekat ?"
Ichimatsu harusnya tidak menanggapi karena dia tidak menyukai Karamatsu sekarang. Tetapi mendengar Todomatsu berkata demikian jadi membuatnya berapi-api entah kenapa.
"Tapi kau tidak pernah merasakan bagaimana Karamatsu nii-san memperhatikan dirimu secara langsung, kan?"
"Hah? Memangnya kau pernah?"
Todomatsu jelas tidak percaya. Setahunya Ichimatsu tidak pernah suka Karamatsu yang sekarang. Mereka juga sulit bicara satu sama lain kecuali jika sedang meminta tolong. Apa ini? Keajaiban dunia ke-delapan?
Ichimatsu menaikkan alisnya, sengaja memancing. "Menurutmu?"
Senyuman di wajah Ichimatsu begitu menjengkelkan. Bukan hanya bagi Todomatsu, tetapi semuanya. Bagaimana bisa Ichimatsu mengatakan hal seperti itu?! Membuat mereka menjadi marah sekarang.
"Oh, Ichimatsu. Bukannya kau tidak suka Karamatsu, ya?" Osomatsu menatapnya.
"Tentu saja." Balas Ichimatsu. "Kenapa aku harus menyukainya?"
"Lalu kenapa kau terlihat ingin dekat dengannya?!" Choromatsu berang.
"Siapa yang bilang?" Ichimatsu tidak terima.
"Ichimatsu!" / "Ichimatsu nii-san!"
Osomatsu dan Choromatsu menyerangnya bersamaan. Kemudian Jyushimatsu serta Todomatsu juga ikut membantu. Sekarang Ichimatsu jadi terjebak. Tangan dan kakinya ditahan dengan kuat oleh mereka. Membuat Ichimatsu jadi kesulitan bergerak, apalagi melepaskan diri.
Sial. Kalau seperti ini, dia tak akan bisa melawan balik—
"Kalian ngapain ?"
Suara yang familiar itu berhasil menghentikan perang dunia yang sebentar lagi akan terjadi. Matsuno bersaudara melihat Karamatsu kembali sambil membawa satu kresek soft drink. Tampaknya ia baru saja membeli itu dari luar.
"Ah, ini … " Jyushimatsu berkeringat dingin. Bagaimana mereka harus menjelaskannya? Memperebutkan gelar siapa yang paling dekat dengan Karamatsu? Tampaknya bukan ide yang bagus bila mengatakannya.
Todomatsu pun terdiam. Dia tidak bisa membuat-buat alasan dan hanya terpaku di tempat seperti robot. Choromatsu memalingkan wajah, hanya Osomatsu yang menjawab.
"Kami … sedang main sebentar."
Karamatsu mengernyit. Dia sangat mengenal semua saudaranya. Main? Apa mereka pikir ia akan mempercayainya? Dikira mengelabuinya itu mudah ?
Karamatsu melihat sekeliling. Sepertinya mereka berselisih lagi dan kali ini Ichimatsu yang kena. Karamatsu juga tidak mau tahu alasannya sebab percuma saja meski ia bertanya tetap tidak akan diberitahu. Karamatsu hanya berjalan mendekat pada saudaranya itu dan kemudian mengulurkan salah satu tangannya yang tidak membawa soft drink.
"Kau tidak apa-apa, Ichimatsu?"
Hening.
Karamatsu masih bergeming, mengulurkan tangan. Pada. Ichimatsu.
EEEEEEEH?!
Ichimatsu tidak meraih tangan Karamatsu. Dia tidak bisa melakukannya karena membencinya. Jadi Ichimatsu hanya berdiri dan kemudian berlalu tanpa mengucapkan apapun. Lantas menutup pintu, entah hendak pergi ke mana.
Karamatsu rasa mungkin Ichimatsu sedang dalam suasana hati yang buruk saja. Dia kan memang selalu seperti itu. Karamatsu juga tidak begitu mempermasalahkannya. Sehingga ia pun ganti bertanya kepada yang lainnya.
"Aku beli minuman untuk kalian. Kenapa kalian memasang wajah jelek? Tidak mau? Oi, kalian kenapa?!"
Semua saudaranya telah berubah menjadi debu.
Ini adalah hari yang cerah.
Jyushimatsu memutuskan pergi latihan, bahkan meski ramalan cuaca mengatakan akan hujan. Ia pulang dalam keadaan basah kuyup dan langsung ke kamar. Saat itulah, ia melihat saudara-saudaranya sibuk berunding tentang order fiktif dua buah pizza yang tak akan mereka beli.
Jyushimatsu sibuk berdiskusi sampai Osomatsu juga datang. Mereka akhirnya berdebat soal pizza tersebut dan memutuskan bertanya pada Karamatsu yang sedari tadi tiduran sambil membaca sesuatu.
"Karamatsu, mana yang akan kau pesan?"
"Aku sih terserah kalian, brother. Aku mau pergi ke toilet dulu."
Karamatsu selalu saja seperti itu. Membuat yang lain kesal karena tidak pernah menunjukkan sifat egoisnya sedikit pun. Beramai-ramai mereka pun bertanya pada Karamatsu, memojokkannya agar menjawab. Tapi dia hanya mengatakan,
"Aku hanya mencoba menghentikan pembicaraan bodoh kalian, tahu?"
Semua terdiam. Entah mengapa rasanya begitu mengerikan melihat kilat amarah pada tatapannya. Karamatsu sangat berbeda sekarang dari yang biasanya mereka tahu dalam kehidupan sehari-hari.
Lalu, Karamatsu hampir tidak pernah bersikap setegas itu. Menyatakan apa yang ia suka dan tidak secara terang-terangan. Bahkan Osomatsu yang biasanya tidak peduli jadi tertegun. Benarkah itu Karamatsu? Dia tidak banyak bicara, tapi kalimat itu benar-benar sangat menyakitkan.
Choromatsu dan Todomatsu pun langsung memijat bahunya, berusaha menenangkan Karamatsu. Sementara kakak kedua mereka terus berbicara betapa tidak bergunanya mendiskusikan hal yang tidak nyata. Mereka bahkan tidak membeli pizza-nya. Hari itu, Karamatsu pun resmi memiliki nama panggilan lain, yakni 'Exclusive Matsu'.
" Gak jadi ke toilet?" Tanya Choromatsu untuk menghentikan situasi ini.
Karamatsu menghela napas, tampaknya sudah tahu maksud tersembunyi Choromatsu. "Hah, kau jadi mengingatkanku. Kalau begitu, aku akan pergi sebentar."
Pemuda itu segera keluar dari ruangan dan menutup pintu kembali. Sedangkan kelima saudaranya kini bisa menjadi sedikit lebih lega. Suasananya sedikit tidak enak jadi mereka harus memberikan jeda supaya tidak canggung. Beberapa menit pun bukanlah masalah.
"Karamatsu ternyata bisa marah juga, ya." Osomatsu memulai obrolan. Dia bisa mati bosan jika mereka semua hanya diam. Lagipula, suasananya jadi aneh jika dibiarkan hening terlalu lama, bukan?
"Dia kan manusia, wajar saja." Sahut Choromatsu. Hah, dasar si paling logis.
"Tapi marahnya sangat keren, iya, kan?"
Semua menoleh pada Todomatsu yang memasang wajah tidak berdosa. Seakan-akan yang dia katakan adalah hal yang normal.
"Seriusan, Todomatsu?" Jyushimatsu bertanya.
"Kenapa tidak?"
Todomatsu tampak berbunga-bunga. Mengerikan. Membuat Osomatsu dan yang lainnya ingin muntah. Aura apa yang dikeluarkan oleh si bungsu? Kenapa warnanya jadi merah muda begitu? Tersipu-sipu lagi. Huek.
"Maksudnya kau jadi Karamatsu Boys, begitu?" Tanya Osomatsu, memastikan. Ia ingat adik nya yang satu itu menyebut penggemarnya dengan julukan tersebut.
"Memangnya kenapa?" Todomatsu sewot.
"Tidak bisa!" Jyushimatsu meninggi. "Aku lah Karamatsu Boys yang asli!"
Todomatsu tersenyum, kemudian matanya berubah dan melompat untuk mencekik Jyushimatsu. "Apa katamu?!"
"AKH—" Jyushimatsu merasa sesak karena ulah Todomatsu. Udara berhenti masuk ke dalam tubuhnya dan itu membuat tenggorokannya jadi kering. Ia berusaha mendorong, tapi Todomatsu bukanlah lawan yang mudah dijatuhkan.
"O-oi …. " Ichimatsu khawatir. Ia, Choromatsu dan Osomatsu akhirnya mencoba menghentikan tindakan percobaan pembunuhan ini. Todomatsu memang terlihat manis, tapi sifat aslinya sangatlah mengerikan.
"Uhuk … uhuk …. " Jyushimatsu terbatuk-batuk setelah berhasil terbebas dari cengkeraman Todomatsu.
"Lepaskan aku! Urusanku belum selesai dengannya!" Si bungsu masih belum puas mencekik Jyushimatsu karena berani-beraninya merebut gelar Karamatsu Boys darinya.
"Lagian, kenapa sih kau ngebet banget jadi Karamatsu Boys?" Heran Osomatsu sambil berusaha menahannya. Kekuatan Todomatsu tidak bisa diremehkan jadi ia harus tetap fokus.
"Karena aku yang paling dekat dengan Karamatsu nii-san, oke?!" Jawab Todomatsu.
"Hei, kok jadi gitu aturannya?" Choromatsu tidak terima.
"Benar, Todomatsu. Bagaimana caranya kau memutuskan sepihak seperti itu?!" Osomatsu ikut merasa kesal.
Ichimatsu? Dia diam saja. Namun dalam hatinya, ia sudah sangat ingin menenggelamkan Todomatsu ke dasar Palung Mariana. Hingga tanpa sadar menekan erat lengan si bungsu yang tengah ditahannya.
"Aduh, Ichimatsu nii-san!" Pekik Todomatsu karena merasakan sakit yang mendadak.
"Berarti kalau begitu, aku dan kau adalah Karamatsu Boys." Kata Jyushimatsu santai. Tampaknya sudah lupa bahwa tadi dia sempat dicekik oleh saudaranya sendiri.
"Apa maksudnya itu?!" Todomatsu berkedut kesal.
"Yah … semacam perkumpulan? Aku tidak tahu namanya. Tapi bukankah kita semua bisa menjadi Karamatsu Boys bersama-sama? Tidak pernah ada aturan bahwa itu hanya untuk satu orang."
Jyushimatsu memberikan sebuah solusi yang sangat brilian. Membuat Osomatsu dan Choromatsu hampir saja sepakat dengannya. Jika bukan karena Todomatsu berseru,
"Enak saja! Aku adalah Karamatsu Boys nomor satu!"
Osomatsu dan Choromatsu diam sebentar. Kalau dipikir-pikir, ucapan Todomatsu masuk akal. Walaupun mereka mungkin menjadi Karamatsu Boys, tapi keduanya tidak mau disamakan dengan siapapun.
"Tunggu," sela Osomatsu. "Aku adalah saudara tertua, jadi bukankah itu menjadikanku Karamatsu Boys #1?"
Osomatsu memasang wajah sombongnya, menatap rendah sambil menyilangkan lengan dan ganti membuat saudaranya yang lain kesal.
"Tidak bisa!" Seru yang lain secara serempak.
"Harusnya itu aku!" Choromatsu mengeluarkan pendapatnya. "Maksudku, Karamatsu nii-san selalu berusaha membantuku secara nyata walau diam-diam!"
"Hei!" Jyushimatsu tidak mau kalah. "Karamatsu nii-san itu selalu memperhatikan aku, jadi akulah Karamatsu Boys #1!"
"Kalian hanya bisa membuatnya repot, sedangkan aku tidak pernah ada masalah dengan Karamatsu nii-san! Aku lah Karamatsu Boys #1!" Todomatsu benar-benar marah sepertinya.
Mereka berempat bertengkar dan Ichimatsu hanya diam. Tapi ia sudah muak bila tidak bicara apapun dan melihat saudara-saudaranya dengan mudah mengklaim menjadi Karamatsu Boys. Tanpa basa-basi, ia pun mengeluarkan aura kegelapannya dan membuat semua orang terhenti.
"I-Ichimatsu?" Osomatsu ketakutan dan berlindung di balik adik-adik nya yang lain. Tanda ini bukan merupakan hal bagus. Sesuatu telah membangkitkan kemarahan Ichimatsu dan ia tidak tahu bagaimana mengatasinya.
"Oh, jadi kau mengakui bahwa kau juga Karamatsu Boys, Ichimatsu nii-san?" Todomatsu menatapnya. Firasatnya mengatakan seperti itu dan Ichimatsu juga tidak membantah pernyataan tersebut. Bagaimana bisa Todomatsu tidak tahu apa yang dia pikirkan? Mereka ini kembar, tahu.
"Hah?! Jadi karena itu dia marah?!" Choromatsu dan Jyushimatsu saling memandang. Ichimatsu hampir tidak pernah berkata apapun soal Karamatsu. Karena itu mereka juga biasanya tidak membahas saudaranya yang satu itu jika tengah bersama karena ia terlihat membencinya. Namun sebuah fakta mencengangkan justru terungkap hari ini.
Osomatsu kaget. "Todomatsu, kau bisa mengerti apa yang ingin dia katakan?"
Drap drap drap
Mereka mendengar suara langkah kaki mendekat dari luar. Segera, kelimanya pun kembali ke tempat masing-masing sebelum saudara mereka pergi tadi. Benar saja, tak lama kemudian, Karamatsu datang lagi.
"Kenapa hening sekali?" Tanya Karamatsu. Ia agak heran ketika melihat saudara-saudaranya hanya duduk dan diam. Apakah telah terjadi sesuatu?
"Karamatsu nii-san," panggil Todomatsu.
"Oh, ada apa?" Mungkin di bungsu ingin meminta tolong lagi? Karamatsu juga tak akan menolaknya, sih. Jadi ia pun mendengarkan permintaannya.
Todomatsu tampak sedikit gelisah, tapi akhirnya ia berkata, "Aku menyukaimu, Karamatsu nii-san!"
Bagai petir menggelegar di siang bolong—tapi sekarang memang sedang hujan, sih—, ucapan Todomatsu seakan mengibarkan bendera perang di antara mereka kecuali Karamatsu. Si bungsu juga mengucapkannya dengan mudah, membuat yang lain merasa iri dan dengki.
"Ah," Karamatsu berkedip, kemudian tersenyum. "Aku juga menyukaimu, brother !"
Guntur menggelegar dengan cukup keras dari arah luar untuk kali kedua. Kali ini Todomatsu yang tersambar, tepat di hatinya. Bro … brother ? Jadi statusnya cuma sebatas itu di mata Karamatsu? Tidak bisa dipercaya! Apakah dia salah dengar?!
Todomatsu hanya sedang denial.
Sementara yang lain melihat pemandangan tersebut sambil menahan tawa. Rasain tuh, Todomatsu! BWAHAHAHAHHHA—begitu batin setan mereka berbicara. Tertawa puas akan nasib mengenaskan Todomatsu yang terkena brother-zone.
"I-iya … "
Todomatsu yang patah semangat menjadi lemas, lemah, lunglai, letih dan lesu. Sepertinya dia terkena anemia. Kepalanya jadi pusing dan memilih merebahkan diri di lantai.
"Kau tidak takut masuk angin, brother ?" Tanya Karamatsu melihat saudaranya berada di lantai.
"Hari ini terik sekali, aku sampai kepanasan. Ha … ha … ha …. " Tawa menyedihkan keluar dari mulut Todomatsu, tapi Karamatsu yang dasarnya memang tidak peka hanya berkata,
"Oh. Ya sudah kalau begitu." Kata Karamatsu, mengabaikan bahwa di luar sedang hujan deras. Agak aneh juga, tapi mungkin Todomatsu benar-benar tidak enak badan dan Karamatsu tidak mau mengganggunya.
Todomatsu menutup wajahnya, ingin mengubur dirinya sendiri setelah melakukan konfesi. Sedangkan yang lain masih tertawa dalam hati. Todomatsu sampai nge hang begitu gara-gara Karamatsu. Kapan lagi mereka bisa melihat ini?
Sisa empat orang pun saling menatap satu sama lain. Seolah-olah ada kilatan listrik di antara mereka; aku yang akan menjadi Karamatsu Boys #1!
"Sebenarnya, aku juga sangat menyukaimu, Karamatsu."
Osomatsu segera mencuri start duluan. Masalah begini adalah hal sepele! Lihat saja, Todomatsu akan menangis setelah melihat dirinya berhasil. Saudara tertua itu memang memiliki kepercayaan diri yang terlalu tinggi.
Ketika yang lain geram dan Osomatsu hahahihi, jawaban dari Karamatsu pun terucap,
"Tentu saja, brother! Kau adalah yang tertua, tidak mungkin aku tidak menyukaimu, brother!" balasan itu diiringi dengan senyuman mengkilat dan juga jempol darinya.
KRATAK
Hati Osomatsu pecah berkeping-keping hingga tidak lagi berbentuk. Karamatsu bahkan menyebut ia sebagai 'brother' sebanyak dua kali. Kenapa Karamatsu tidak peka? Padahal dia mengatakannya dengan sangat jelas, kan?!
"Osomatsu nii-san, sebaiknya kau duduk saja, ya." Todomatsu mendadak muncul di sampingnya sambil memijat bahunya. Berikut dengan senyum mencurigakan—lebih tepatnya, sebuah seringai.
"TIDAKKKKK!"
Selepas kekalahan Osomatsu, kini giliran Choromatsu yang maju. Ia tidak bisa menggunakan kalimat yang sama, kan? Itu namanya adalah plagiasi. Jadi Choromatsu pun memikirkan dengan baik apa yang akan ia katakan pada Karamatsu sekarang.
"Karamatsu nii-san … " panggilnya pelan. Bermaksud sopan. Todomatsu dan Osomatsu tidak pernah memikirkan sisi yang ini, bukan? Untuk bisa diakui, maka adab itu sangatlah penting. Kedua saudaranya tadi memang tidak berguna! Lihatlah bagaimana dia akan menunjukkannya!
"Ya?" Karamatsu menoleh padanya.
"Sebenarnya, aku ingin mengatakan sesuatu."
"Katakan saja."
"Aku … merasa jika memiliki ketertarikan padamu. Bagaimana denganmu? Apakah memiliki pandangan yang sama denganku?"
Osomatsu dan Todomatsu membatin, kampret! Bisa-bisanya Choromatsu menggunakan senjata pamungkas seperti itu. Konfesi mereka jadi biasa-biasa saja ketika dibandingkan, bukankah ini tidak adil?!
"Todomatsu, siapkan tali." Kata Osomatsu.
Todomatsu mengangguk. "Roger."
Apa yang mau kalian rencanakan?
Karamatsu tampak berpikir sejenak. Sepertinya dia serius mempertimbangkan hal ini. Hingga akhirnya jawaban itu keluar dari mulutnya,
"Sebenarnya, aku juga tertarik padamu, brother. Tapi bukan dalam batas tinggi ataupun rendah, ya tengah-tengah saja."
KRATAK (2)
Choromatsu tertegun, lalu jatuh pingsan. Jasadnya segera dibawa oleh Osomatsu dan Todomatsu yang membawa tandu entah dari mana. Kemudian disingkirkan dengan segera dari hadapan saudara mereka. Mission completed.
Ichimatsu jadi ngeri sendiri melihatnya, begitu pula dengan Jyushimatsu. Kini hanya mereka berdua yang tersisa. Apakah mereka juga harus mengatakannya, atau lebih baik diam saja?
"Aku tidak tahu my brother sangat antusias. Kalian lapar, ya? Bagaimana kalau kita beli sesuatu, brother ?" Tanya Karamatsu. Hujan juga tampaknya sudah mulai mereda.
"Tidak juga." Kata Ichimatsu, tapi sambil memalingkan wajahnya.
"Aku juga." Sahut Jyushimatsu.
"Oh, ya sudah. Padahal aku bisa membelikan kalian sedikit makanan."
"E-eh, tidak perlu."
Ichimatsu dan Jyushimatsu merasa tidak enak pada Karamatsu sekarang. Harus apa setelah ini? Mereka bisa saja berhenti, tetapi bukankah itu terlalu pengecut? Tapi jika ingin maju … apakah mereka akan bernasib sama seperti Todomatsu, Osomatsu atau bahkan Choromatsu yang sudah …
"Aku belum mati, woi!" Seru Choromatsu sambil bangkit dari pingsannya.
"Ngagetin aja!" Todomatsu menyuruhnya berbaring lagi dan mendorong, dibantu oleh Osomatsu. Pasien harus istirahat, iya, kan? Kalau bisa jangan sampai dia terbangun lagi.
"Tolong aku!"
Namun seperti biasanya, hal itu dianggap tidak terlalu penting. Kini Karamatsu hendak berlalu dan mengambil bacaannya, tetapi tiba-tiba Jyushimatsu menahannya.
Padahal Jyushimatsu bisa mengatakannya dengan mudah, tetapi setiap melihat mata Karamatsu, ia jadi mengurungkan niatnya. Ini lebih sulit daripada bayangannya!
"Ada apa, Jyushimatsu?"
"Ma-maukah kau … " mata Jyushimatsu berputar-putar sekarang karena panik. " … jalan denganku, Karamatsu nii-san?"
"Woi, apaan tuh?!" Protes Osomatsu, Todomatsu dan Choromatsu. Jyushimatsu brengsek! Beraninya mengucapkan kalimat seperti itu!
"Jalan?" Karamatsu bertanya ulang.
"I-iya."
Jyushimatsu tidak tahu lagi. Dia benar-benar bingung! Tapi intinya dia sudah mengatakan apa yang harus dikatakannya. Aduh, kepalanya jadi pusing sekarang.
Karamatsu mengangguk, "Boleh, sih."
Jyushimatsu hampir saja berseru bahagia kalau saja tidak dilanjutkan dengan kalimat,
"Tapi sekarang sedang hujan, brother. Kita tidak bisa jalan-jalan atau akan jatuh sakit!"
Jyushimatsu memegang kepalanya, kemudian berteriak-teriak tidak jelas sebelum akhirnya bergabung bersama Osomatsu cs. Akhirnya, kini hanya tersisa Ichimatsu sebagai pemain terakhir. Solo yolo. Begitu menegangkan sekaligus menakutkan.
"Lah, tinggal Ichimatsu?" Osomatsu menatap remeh. "memangnya dia bisa melakukannya?"
"Dia tidak mungkin bisa, hahaha." Balas Todomatsu.
"Benar, probabilitasnya mencapai minus." Choromatsu turut berbisik.
Jyushimatsu ikutan mengejek. "Heee~ Ichimatsu nii-san itu ternyata payah, ya."
"Hahahahahaha!"
Tawa mereka terdengar memenuhi ruang. Karamatsu tidak peduli, tetapi Ichimatsu tak bisa abai. Hanya saja, ia tidak tahu harus berkata apa. Lagipula, bukankah dia ini membenci Karamatsu? Lalu kenapa dirinya harus konfes, hah?! Ini sangat menggelikan!
"Hei, Ichimatsu."
"Apa—"
Semua terjadi begitu cepat. Ketika wajah Karamatsu mendadak mendekat, membuat jantung Ichimatsu berdetak sangat hebat. Pipinya mulai terasa panas, merasakan kedekatan yang tiba-tiba menghampiri.
Karamatsu memang keren, apalagi jika dilihat dari jarak sedekat ini. Membuat Ichimatsu jadi bingung. Apa yang terjadi padanya sekarang? Tetapi, manusia itu memiliki refleks yang kadang sulit dikendalikan. Lalu, selanjutnya, tanpa sadar ia berkata,
"Aku … aku suka kamu."
Suara hujan masih terdengar walau tidak sederas tadi. Ichimatsu melihat Karamatsu kian mendekatkan wajahnya. Sepertinya bukan hanya suara hujan, tapi juga debaran di dadanya terdengar amat keras. Osomatsu cs sudah ketar-ketir dan takut mereka akan kalah. Mereka pun memukul tatami sambil menyumpahi Ichimatsu.
"Ichimatsu, kami tidak akan pernah memaafkanmu!"
Dalam suasana yang terbilang cukup mendukung itu, Karamatsu berbisik ke telinga Ichimatsu.
"Maaf, aku mau mengambil selebaran pizza-nya, brother."
Ichimatsu ngehang.
Osomatsu cs diam sebentar, sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut.
Namun Karamatsu tidak mengerti dan hanya menarik selebaran pizza yang mereka bicarakan tadi dari tindihan tangan Ichimatsu. Tentu saja Karamatsu tidak melupakan apa yang disampaikan oleh Ichimatsu tadi.
"Oh, brother. Kau jangan khawatir. Aku juga menyukaimu!"
"Woi, Ichimatsu! Sadar!" Osomatsu cs masih mengejeknya yang gagal total.
Ichimatsu hanya terdiam. Kemudian ia membalikkan dirinya, membuka hoodie nya dan memeluk lututnya. Karamatsu awalnya membiarkan saja sampai kemudian Ichimatsu tiba-tiba menyerang Osomatsu cs yang tadi menertawainya.
"Maju kalian semua."
Glek!
Aura gelap Ichimatsu begitu besar dan membuat yang lain sempat takut. Tetapi entah bagaimana mereka akhirnya berkelahi lagi. Membuat keributan yang sebenarnya tidak perlu.
"Ini gara-gara kalian mengganggu jadi aku tidak bisa mengatakannya dengan benar!"
"Ngaca, dong! Kau itu cuma denial kalau sudah ditolak, iya, kan?!"
"Tunggu, ini kan gara-gara Todomatsu!"
"Kau benar. Todomatsu adalah penyebab semua ini!"
"GRAHHHH!"
Begitulah yang mereka ucapkan, tetapi Karamatsu tidak bisa mendengar dengan jelas karena suara mereka saling menyahut. Dia tidak tahu apa yang terjadi, makanya dia bertanya,
"Kalian ini kenapa, sih, brother?"
Semua saudaranya berhenti berkelahi detik itu juga. Mereka saling menatap satu sama lain dan mengangguk. Kemudian, berdiri di hadapan Karamatsu dengan tertib. Osomatsu sebagai saudara tertua pun, mendapat kesempatan untuk mewakili adik-adik nya. Dia harus mengatakannya dengan jelas supaya Karamatsu mengerti!
"Karamatsu, kau harus bersiap-siap. Karena mulai sekarang, kami takkan segan padamu lagi." Ia mengatakannya sambil menyeringai.
"Apa maksudnya itu, brother?" Tanya Karamatsu dengan polosnya.
Osomatsu berkedut kesal. "Kau dengar aku, kan! Kami takkan segan-segan lagi—"
"Aku cuma mau belikan kalian pizza. Mau tidak?" Karamatsu memotong kalimat itu dan memandang saudara-saudaranya. Serentak, mereka pun langsung berkata,
"MAU!"
Membelanjakan uang Karamatsu rasanya menyenangkan.
Matsuno bersaudara akhirnya membeli pizza setelah hujan reda. Jalanan masih basah dan mereka berjalan mencari tempat yang ada di selebaran milik mereka. Tempatnya agak jauh, harus melewati turunan serta rel kereta, tapi bukan masalah sama sekali.
Matsuno bersaudara makan dan bercanda seperti biasanya. Enam entitas kembar itu kemudian pulang setelah kenyang dan berjalan beriringan. Aroma petrikor pun juga terasa menyegarkan.
"Ah, pizzanya enak sekali! Makasih, Karamatsu nii-san!" Todomatsu mendadak memeluk lengannya.
Karamatsu berkata dengan bangga, "No problem, brother!"
IT'S A PROBLEM; batin yang lainnya.
"Rasanya tidak enak karena memakai uangmu, tapi terima kasih, ya." Osomatsu tidak mau kalah, memeluk lengan Karamatsu yang satunya. Ia dan Todomatsu kembali menatap dengan kilatan listrik imajiner.
"Bukan apa-apa. Aku senang selama kalian senang."
Choromatsu menendang punggung Osomatsu dengan kakinya. Ia mendekat, tapi tidak menggelayuti lengan Karamatsu. "Tapi uang dari mana itu, Karamatsu nii-san? Kita semua kan NEET."
Jyushimatsu memungut kerah belakang pakaian Todomatsu dan menggantikan posisinya. "Benar. Dari mana kau mengumpulkannya, nii-san?"
" It's a secret, brother." Balas Karamatsu sambil membenahi kacamatanya. Cling.
Sebenarnya itu adalah uang recehan yang selalu ditabungnya selama ini. Ia juga tidak ingin menggunakannya, tapi ketika saudaranya membahas pizza hari ini, ia merasa harus membelikan mereka. Toh, cuma sekali-kali jadi tidak apa-apa.
Ichimatsu tidak tahu harus bilang apa, jadi ia hanya mengatakan. "Kalau begitu terima kasih banyak, Karamatsu nii-san."
Walaupun Ichimatsu masih membencinya, tetapi dia bukan orang yang tidak tahu terima kasih. Apa yang dilakukan Karamatsu hari ini mengingatkannya kembali ketika mereka masih sekolah. Ichimatsu hanya tidak mau ribut lagi nanti.
Karamatsu tersenyum. "Santai saja, brother. Aku melakukan ini karena aku menginginkannya."
Mereka melangkah bersama-sama. Suaranya begitu banyak dan juga ramai bahkan tanpa harus berbicara. Karamatsu merasa senang, menikmati momen ini. Untunglah waktu itu dia mengatakan isi hatinya, sehingga mereka semua bisa bersama seperti sekarang. Bila tidak … Karamatsu mungkin masih akan berjalan sendirian, tidak memiliki tujuan ataupun mengejar kebahagiaan.
Tapi ia tidak perlu melakukan itu, bukan?
Bagi Karamatsu, suasana ini adalah yang paling membuatnya senang. Mereka berjalan hingga mendekati palang kereta. Tidak ada transportasi yang beroperasi sehingga mereka bisa langsung lewat. Tetapi Karamatsu memilih menghentikan langkahnya dan membuat semua saudaranya heran.
"Ada apa, Karamatsu nii-san?" Tanya Choromatsu.
"Aku jadi ingat, waktu itu kita juga berjalan bersama seperti ini. Aku merasa sangat bersyukur, karena kita tidak terpisah lagi."
Semua langsung diam. Itu adalah kenangan yang cukup menyakitkan. Meski waktu telah berlalu begitu lama, mereka masih merasa berhutang pada Karamatsu. Bila ia tidak ada, entah bagaimana nasib persaudaraan mereka.
"Karamatsu nii-san, kami juga senang bisa bersamamu sekarang."
Karamatsu mengulas senyum ketika mendengar Todomatsu mengatakannya. Saudara lainnya juga mengangguk, membenarkan ucapan tersebut. Karamatsu benar-benar merasa lega, karena semuanya sekarang berada di sini, di tempat yang sama.
Karamatsu berjalan duluan, sedikit maju ke depan dan akan melewati palang. Ia kemudian berbalik sedikit, menoleh kepada semua saudara kembarnya. Persis ketika mereka pulang di hari kelulusan mereka.
"Aku—"
Osomatsu, Choromatsu, Ichimatsu, Jyushimatsu dan Todomatsu terpaku. Seakan mengingat sesuatu dari masa lalu. Karamatsu yang sama, pula kata-kata yang persis di tempat yang sama. Mengingatkan mereka bahwa ia tidak pernah bersikap pilih-pilih pada saudaranya. Baik dulu maupun sekarang.
Karamatsu selalu berusaha untuk adil dan mementingkan yang lainnya terlebih dahulu sebelum dirinya. Bahkan untuk permintaan tolong yang begitu banyak, ia sebisa mungkin tidak ingin menolaknya.
Karamatsu melakukan itu semua demi mereka. Supaya mereka berenam tidak lagi terpecah-pecah seperti sebelumnya. Memberikan perhatian yang sama kepada semuanya meski itu tidak pernah mudah, atau bahkan melelahkan. Tetapi itu mungkin karena rasa takut yang selalu menghantuinya. Mereka benar-benar tidak pernah mencoba memahami itu.
"Hei, Karamatsu." Panggil Osomatsu.
Karamatsu berkedip. "Ada apa, brother?"
Osomatsu tahu bagaimana Karamatsu berpikir sekarang ketika mendengar kalimat itu. "Kau benar-benar keterlaluan. Selalu membagi semuanya sama rata."
Tawa renyah meluncur dari Karamatsu. "Maaf, Osomatsu nii-san. Aku memang selalu seperti itu."
Karamatsu berbalik sepenuhnya dan merentangkan kedua tangannya. Tersenyum di tengah dinginnya udara sehabis hujan. Tidak ada bunga ataupun sesuatu yang menghiasi, tapi sosoknya terlihat lebih indah dari apapun.
Satu per satu dari mereka maju, kemudian memeluk Karamatsu hingga hampir tidak ada spasi yang tersisa. Mereka tertawa dan kemudian melanjutkan perjalanan pulang, dengan langkah-langkah kaki yang membawa serta kebahagiaan.
.
[ "Aku selalu menyayangi kalian semua." ]
.
