Disclaimer : Jujutsu Kaisen by Gege Akutami
A Fanfiction by Noisseggra
Pair : Gojo Satoru X Fushiguro Megumi
Genre : Drama, Supernatural, Romance
Warning : OOC (Out of Character), iya di fanfic ini sengaja OOC, nggak terlalu mirip sama Manga/Anime, demi plot.
YAOI, BL, RATED M, Semi Canon, maybe typo (s)
You have been warned !
This fic inspired from manhwa The Ordinary Lifestyle Of A Universal Guide by Kang Yoonwoo
A/N : Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V
.
.
Kiseki no Hiiraa
.
.
Megumi menutup buku yang dibacanya sebagai pengantar tidur malam itu. Ia belum mengantuk, tapi rasanya ia sedang tak bisa konsentrasi pada buku di tangannya itu. Ia berbaring di ranjang, beralih meraih ponsel. Belum ada balasan baru dari Gojo. Sepertinya jujutsushi itu sibuk sekali.
Megumi berbaring miring memeluk bantal guling, ia ketuk-ketuk layar ponsel, membaca chat-chat nya dengan Gojo. Ia…merindukan pria itu. Padahal baru tadi pagi berpisah. Mungkin karena selama dua hari ini dia sering bersama Gojo, sekarang ia benar-benar merindukan pria itu setelah berpisah darinya.
"Kuso. Kapan pulang sih," gumam Megumi dan meletakkan ponsel nya ke kasur. Ia mencoba memejamkan mata karena malam sudah larut, dan besok pagi ia harus kerja.
.
~OoooOoooO~
.
Keesokan harinya Megumi masuk kerja seperti biasa, masuk ke kantornya, lalu menerima request heal. Ia menatap beberapa nama yang ia kenal di antrian heal nya, diantaranya seseorang bernama Seiji, seorang jujutsushi kelas satu. Megumi rasa akhir-akhir ini sering melakukan heal dengannya.
Tak berapa lama bel pintu Megumi ditekan, dan suara Seiji muncul di intercom.
"Ohayou gozaimasu, Sensei~" sapa nya bersemangat seperti biasa. Orangnya memang banyak bicara dan terkesan ramai, mungkin setipe dengan Yuuji dan Haibara.
"Ohayou, masuklah," balas Megumi.
Pintu pun terbuka dan Seiji muncul di sana. Ia masuk sambil membawa sebuah kotak yang terbungkus cantik.
"Oleh-oleh untukmu Sensei, kudengar kau baru pergi misi sampai tiga hari. Pasti lelah. Ini ginseng korea, katanya bisa untuk menambah stamina," Seiji menyodorkan kotak itu pada Megumi.
"A…rigatou, kau tidak perlu repot-repot. Lagipula aku pergi liburan bukan misi," balas Megumi meski tetap menerima kotak itu, tak sopan saja jika menolak sesuatu yang sudah disodorkan.
"Oh begitu, pasti menyenangkan," Seiji duduk di sofa pasien.
"Ya sudah, ayo mulai heal nya," balas Megumi, dan mereka pun melakukan heal seperti biasa sampai selesai.
"Akhir-akhir ini sering misi berat kah?" obrol Megumi setelah mengakhiri sesi heal nya, sambil melihat data Seiji di meja. Megumi merasa persentase Seiji semakin tinggi setiap kali dia datang. Dulu 25%, 37%, pernah turun, tapi lebih sering naik, dan hari ini di angka 54%. Meski untungnya Megumi masih bisa menurunkan sampai 0 dalam 1x heal.
"Ah, ya, begitulah," jawab Seiji.
"Kalau begitu harusnya kau lah yang butuh ginseng ini."
"Hahaha, tenang saja. Aku masih punya banyak di paviliun," tawa Seiji. "Ya sudah. Kalau begitu aku pamit dulu, Sensei. Terimakasih banyak."
"Ya, terimakasih juga ginseng nya," balas Megumi. Ia menatap ginseng pemberian Seiji setelah jujutsushi itu menghilang di balik pintu. Sepertinya akan ia bagi juga dengan Toji. Mungkin Gojo juga kalau mau.
Aaah, jadi teringat Gojo lagi. Hish, kapan dia kembali sih. Gerutu Megumi dalam hati. Dia meraih ponsel sambil menunggu pasien berikutnya tiba. Ia tersenyum lebar saat melihat ada balasan chat dari Gojo. Tapi belum sempat ia buka, pasien berikutnya sudah datang. Akhirnya Megumi pun meletakkan kembali ponselnya dan lanjut kerja.
.
~OoooOoooO~
.
"Sensei, aku tidak yakin minggu depan aku bisa menemanimu misi lagi," ucap Gojo di ujung telefon.
"He? Masih misi kah?" tanya Megumi. Ia berada di sofa kamar sambil memotong kukunya.
"Belum tahu. Tapi aku disuruh libur di sini. Biasanya kalau aku libur di tempat misi, akan ada misi lanjutan tanpa aku bisa kembali ke Tokyo."
"Begitu ya. Sepertinya sedang musim sibuk ya."
"Yeah, terjadi bencana di beberapa tempat kan. Mungkin itu penyebabnya."
"Ah, aku juga ada pasien yang persentasenya naik terus setiap datang. Mungkin memang sedang musim sibuk untuk semua jujutsushi."
"Ya, bisa jadi. Suguru juga belum pulang misi hampir dua minggu, haha. Dia mengeluh terus ingin bertemu Yuuji."
"Heeh, aku mengerti rasanya. Pasti kangen sekali."
"..."
"Gojo-san…?"
"Apa itu caramu mengatakan kau kangen padaku, Sensei?"
Blush…
Megumi baru sadar dengan apa yang diucapkannya. "Y-ya, memangnya kenapa," tapi ia juga tak mau menyangkal itu.
Gojo tertawa. "Aaaaah, aku benar-benar ingin kembali ke Tokyo sekarang juga."
"..." Megumi terdiam mendengar itu. "...ya, cepatlah kembali," ucapnya kemudian yang membuat Gojo tersenyum.
.
~OoooOoooO~
.
Hari berikutnya Megumi bekerja seperti biasa, dan Seiji datang lagi, kali ini persentasenya lebih tinggi. Sampai 68%. Tapi syukurlah, Megumi masih bisa menurunkannya sampai 0.
"Hey, ini sedang musim sibuk untuk jujutsushi kah?" tanya Megumi.
"Maksud Sensei?"
"Ya, soalnya persentase mu naik tinggi hanya dalam waktu sehari. Beberapa jujutsushi yang kukenal juga katanya pergi misi sampai berminggu-minggu. Jadi kukira memang sedang musim sibuk."
"Ya…bisa dibilang begitu sih. Kemarin sempat ada badai kan di daerah kota XX. Biasanya bencana begitu memunculkan banyak kutukan. Tidak hanya di daerah yang terdampak, tapi daerah lain yang sekedar mendengar beritanya. Kan ada juga yang ikutan panik atau khawatir karena mendengar daerah kena bencana."
"Begitu ya, pantas saja," balas Megumi.
"Ja~ kalau begitu sampai jumpa besok, Sensei," pamit Seiji.
"Ja," balas Megumi. Setelah Seiji pergi barulah Megumi menyadari. Besok? Sampai jumpa besok? Apa Seiji merencanakan untuk heal lagi keesokan hari? Kenapa dia bisa tahu dia akan datang lagi?
Megumi mengerutkan dahi dengan sedikit kecurigaan. Tapi pada akhirnya ia menggeleng untuk membuyarkan pemikiran itu. Kan tadi dia bilang memang sedang musim sibuk jujutsushi, mungkin setelah ini Seiji pergi misi atau semacamnya. Misi yang entah bagaimana bisa memastikan ia ingin mendapat heal lagi besok.
"Fuuh…sudahlah," gumam Megumi lirih.
.
~OoooOoooO~
.
"Serius? Besok kau datang?" ucap Megumi terdengar nyaris terlalu bersemangat. Ia segera menurunkan nada bicaranya.
"Iya, libur 1 hari lumayan lah buat kembali sebentar," balas Gojo di ujung telefon.
"Hey, tapi kalau cuma 1 hari mending libur di sana saja. Nanti kau capek di perjalanan," balas Megumi sambil memutar sendok kecil di kopi nya.
"Tak apa. Soalnya ada yang bilang kangen sih. Aku jadi ingin cepat-cepat kembali."
Blush…
Wajah Megumi memanas. Ia meraih bantal sofa dan memeluknya. "H-hey, jangan begitu. Kembali saat kau betulan selesai misi saja," balas Megumi. "Aku bisa menunggu," tambahnya dengan suara lirih.
"Apa kalau kubilang aku juga mau ambil barangku yang ketinggalan akan membuatmu lebih tenang?" balas Gojo.
"Itu…"
"Hehe, tenang saja. Aku mau ambil sesuatu juga di paviliun."
"Memangnya ambil apa?"
"Hmm…apa ya, coba kupikir."
"Tuh kaaan…" rengek Megumi. Gojo tertawa mendengar itu. "Ah, kau suka ginseng? Aku dapat banyak dari salah satu client," Megumi menawarkan.
"Boleh, ya, aku mau sekalian ambil ginseng nanti," alasan Gojo
"Hish kau ini," manyun Megumi yang kembali membuat Gojo tertawa.
Megumi tersenyum memikirkan kedatangan Gojo esok hari. Besok…sebaiknya sebisa mungkin ia akan menjaga energy nya tinggi. Supaya bisa melakukan heal banyak pada Gojo. Gojo sedang berusaha keras melakukan misi, Megumi juga harus berusaha keras untuk bisa melakukan heal terbaik untuk jujutsushi itu.
.
~OoooOoooO~
.
Keesokan harinya, Megumi kembali bekerja. Sesuai rencana, ia berusaha menggunakan energy nya seminimal mungkin. Saat jam istirahat juga ia memilih tiduran di kamar ruang kerjanya daripada jalan ke kantin. Ia memesan makanan, ia suruh letakkan di ruang tunggu saja.
Setelah istirahat yang ia rasa cukup, ia menyisakan waktu istirahatnya untuk makan. Dengan begitu energi nya pulih lumayan banyak untuk pekerjaan setelah jam istirahat.
"Terimakasih banyak, Sensei," pamit seorang jujutsushi setelah sesi heal mereka selesai. Megumi menatap persentase nya di meja, ada di angka 86%. Ia tersenyum, syukurlah masih tinggi. Ia menatap jam yang menunjuk waktu sekitar jam 4 sore. Mungkin ia bisa menerima 1 pasien lagi sebelum mengakhiri jam kerja nya.
Ah, kebetulan sekali ada satu request masuk, ia pun segera menerima request itu tanpa melihat nama nya. Ia lebih tergoda untuk melihat ponsel pribadi nya, ada chat dari Gojo.
'Sensei, aku sudah tiba di HQ,' begitu isinya. Dan itu chat Gojo di jam 2 siang tadi. Ah, shit. Megumi baru membuka chat nya sekarang. Ya meski tak ada bedanya juga sih, Megumi tetap baru bisa keluar kantor nanti setelah jam kerja nya selesai di jam 5.
Ia sempatkan membalas chat Gojo.
'Syvkurlah sudh ssampai. Aku slsleai krja jm5,' ketik Megumi typo karena sudah mendengar bel ruangannya dibunyikan, tanda pasiennya sudah tiba.
Megumi segera menyimpan ponselnya, menunggu pasien itu masuk yang rupanya adalah Seiji.
"Oh, selamat datang, Seiji-san," sambut Megumi.
"Yoho~ Sensei," balas Seiji sambil melambaikan tangan. Ia terlihat berantakan dari, nafasnya juga sedikit patah-patah. Seiji menghampiri lalu duduk di sofa seberang sofa Megumi. Mereka menempelkan tangan mereka ke meja. Megumi terbelalak saat melihat persentase Seiji ada di angka 91%.
"Hey…bukankah angka ini kelewat tinggi?" ucap Megumi.
Seiji tersenyum. "Hehe, iya, misi nya kemarin susah sekali," balasnya. "Ayo lakukan heal Sensei."
"..." Megumi menatap tajam dan sedikit curiga, tapi mau bagaimana lagi. Seorang jujutsushi dengan persentase tinggi ada di hadapannya, ia harus melakukan heal. Megumi pun meraih tangan Seiji lalu mulai melakukan heal.
Meski persentase Seiji tinggi, Megumi tetap melakukan heal yang biasa, tidak melakukan hal ekstra untuknya. Ia sudah bertekad menjaga persentase nya tetap tinggi demi Gojo. Lagipula ia melakukan heal seperti biasa, bukan menguranginya. Hanya saja ia tak melakukan hal lebih demi jujutsushi di hadapannya ini.
Setelah dirasa cukup, Megumi pun melepaskan koneksi mereka, lalu meletakkan tangan mereka ke meja kembali, melihat hasil akhirnya sekaligus penginputan data. Persentase Megumi ada di angka 81%, Seiji menurun ke angka 19%.
"Catatan waktu 29 menit 11 detik," ucap Megumi sambil mengotak-atik meja touchscreen nya.
"Sensei," panggil Seiji.
"Ya?"
"Persentaseku belum 0, apa boleh heal lagi? Dengan metode yang berbeda."
"..." Megumi menghentikan gerakannya lalu menatap Seiji dalam diam. Jujutsushi itu tampak kikuk.
"Y-ya maksudku kan kalau efektifitas heal nya kurang, harus ganti metode kan, biar lebih efektif," Seiji menjelaskan.
Megumi bersandar ke sandaran sofa dengan kedua tangan terlipat di depan dada. "Metode yang berbeda yaitu…" ia sengaja menggantung kalimatnya.
"Ciuman atau se–..."
"Nggak," potong Megumi langsung yang membuat Seiji seketika kaku di tempat. "Ohoo, jadi ini yang kau incar ya, Seiji-san. Kau sengaja membuat statistik mu tinggi supaya aku tidak bisa menurunkannya sampai 0 dengan metode heal yang biasa, jadi kau meminta metode heal lain."
"I-i-itu…" keringat dingin langsung bercucuran di tubuh Seiji.
"Aaah, pantas saja statistik mu bisa naik setinggi hanya dalam waktu singkat beberapa hari terakhir. Kau memang sengaja menumpuknya ya," Megumi menopang dagu dengan satu tangan. "Oh ya, tidak mungkin kan dalam satu misi langsung naik segini. Jangan-jangan kau melakukan beberapa misi tanpa heal, dan ceroboh memakai kekuatanmu, sengaja supaya tinggi. Kau juga tidak ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan segera, melainkan sengaja menunggu ke HQ untuk mendapatkan heal. Begitu?" Megumi mengutarakan analisis nya.
"T-tidak…ju…ga," Seiji membuang pandangan dengan sweatdrop di kepala.
"Ah, ya, kau bilang heal dariku sudah tidak efektif kan. Bagaimana kalau kau ku rujuk ke healer lain saja."
"Gyaaahh tidak tidak, tidak perlu," Seiji langsung panik.
"Pfftt…hahahaha," Megumi tertawa melihat kepanikan serius Seiji.
"Aaah, Sensei," Seiji merajuk sambil menghela nafas lelah.
Untuk beberapa saat Megumi masih tertawa. Benar-benar deh. Jadi semua ini memang akal-akalan Seiji saja, soalnya aneh statistik setinggi itu dalam waktu dekat. Dan statistiknya selalu bertambah tinggi setiap menemui Megumi.
Megumi menyudahi tawanya, menghela nafas panjang. Ia jadi ingat masa-masa ia sering dilecehkan di tempat kerja yang dulu. Tapi di sini, di HQ, setidaknya jujutsushi nya tak seperti itu. Seiji hanya mengusahakan untuk mendapat heal lebih, tapi sama sekali tak menyentuh Megumi. Jangankan menyerang, ia bahkan tak berkata kasar sama sekali. Megumi masih bisa respect sikap Seiji yang seperti itu. Meskipun begitu ia harus meluruskan ini.
"Tapi aku serius, kau tidak boleh melakukan ini lagi," tegas Megumi. "Angka 90% ke atas bukan angka main-main lagi. Aku yakin kalau pihak HQ tahu, kau pasti kena sanksi."
"I-iya, maaf," Seiji menunduk.
"Ya, kali ini kumaafkan. Tapi kalau kau melakukannya lagi, aku benar-benar mem blacklist mu dari daftar pasienku."
"Gyaah…ja-jangan, baiklah, aku janji tidak akan melakukannya lagi," ucap Seiji panik.
"Ya, baguslah," balas Megumi. "Tapi soal statistik mu, aku lepas tangan. Sebelum heal data mu sudah masuk ke database, dengan persentase segitu. Jadi kalau sampai HQ menindakmu aku tidak bisa melindungimu atau apapun."
"Iya…aku mengerti," ucap Seiji pasrah.
Karena heal sudah selesai dan jam kerja Megumi juga hampir habis, ia pun meraih ponsel nya untuk melihat barangkali ada chat dari Gojo.
"Ano…tapi Sensei, kau serius tidak bisa melakukan heal dengan metode lain?" tanya Seiji sambil memain-mainkan jarinya. "Maksudku…ehm, bagaimana caranya supaya bisa melakukan metode lain denganmu."
"Nggak akan, metode heal denganku hanya dengan ini. Aku tidak akan melakukan metode lain," jawab Megumi sambil membuka chat dari Gojo.
'Sensei, gara-gara aku muncul di HQ, aku dapat misi lagi dan harus segera pergi. Aku menunggu di ruang tunggu kantormu, barangkali masih bisa bertemu sebelum aku pergi dan jam kerjamu selesai.'
Membaca itu Megumi pun segera bangkit. Berarti Gojo ada di depan kantornya kini? Kalau belum pergi sih. Megumi nyaris melangkah tapi baru ingat ada Seiji.
"Ah, ya. Aku hanya ingin memberitahu bahwa heal ku bahkan efektif pada jujutsushi special grade, Geto Suguru. Dengan metode ini. Jadi…ya, menyerah saja. Aku tidak akan melakukan metode lain padamu," ucap Megumi sebelum melanjutkan langkah menuju pintu keluar.
Karena merasa heal sudah selesai, Seiji pun mengikuti langkah Megumi.
Di luar ruangan Megumi, Shoko duduk di kursi gantung dengan muka lelah, Gojo duduk di sofa kecil sambil menonton TV.
"Satoruuuu, asisten manajer mu sudah menunggu di bawaah," ucap Shoko lemas. "Yang akan dapat masalah bukan kau saja."
"Geez, urusai. Lagipula ini hari liburku kenapa juga aku harus dapat misi baru," balas Gojo kesal.
"Ya bukan salahku level misi nya naik dari A ke S, dan kebetulan jujutsushi level satu ke atas hanya kau saja yang sedang di HQ."
"Ya sudah, kalau begitu bi–...Senseiiii…" ucap Gojo girang saat pintu terbuka dan Megumi muncul di sana bersama seorang pasien di belakang Megumi. Gojo pun langsung mematikan TV. Megumi melangkah menghampiri Gojo sementara Seiji menutup pintu.
"Kau harus pergi misi lagi?" tanya Megumi tak percaya. Apalagi melihat Gojo yang sudah berseragam dan siap untuk pergi.
"Iya nih, menyebalkan banget. Padahal aku kesini untuk menemui Sensei," rajuk Gojo.
"Fushiguro-Sensei. Bisa tolong bujuk si bodoh ini untuk segera pergi? Asisten manajer sudah menunggu di bawah, aku bisa dapat masalah lagi karena tak bisa menyuruhnya pergi," ucap Shoko malas.
"Tidak ada waktu untuk heal dulu?" tanya Megumi. "Dia baru saja selesai misi juga kan."
"Tak apa lah, dia biasa tak mendapat heal sampai lama kan. Nanti selesai misi yang sekarang baru heal lagi," jawab Shoko santai.
"Hehe, ya sudah Sensei. Aku hanya ingin melihatmu saja," ucap Gojo. "Aku khawatir selesai misi ini harus kembali lagi ke sana dan tidak sempat bertemu denganmu," Gojo pun bangkit dari sofa. "Kalau begitu sampai jum–..." ucapan Gojo terhenti saat Megumi kembali mendorongnya duduk ke sofa, lalu meraih wajah Gojo dan menciumnya.
"Aackk–..." Seiji terkejut melihat itu, Shoko juga terbelalak. Ia belum tahu hubungan mereka sudah sejauh itu.
"Mm…" Gojo memejam mendapat ciuman tiba-tiba itu, tapi tentu saja ia menikmatinya. Ia merasa nikmat saat Megumi melakukan heal dalam ciuman mereka. Perasaan yang sejuk dan nyaman sekali.
Tangan Gojo bergerak untuk meraih tubuh Megumi, menariknya sedikit kuat supaya Megumi mau duduk di pangkuannya. Ia pun memeluk Megumi erat sambil melanjutkan ciuman mereka.
"Hehe," Gojo tersenyum kecil setelah heal nya selesai, ia mengusap bibir Megumi yang basah. Manis sekali. Tak tahan, ia pun mencium kembali bibir itu barang sesaat.
"S-S-Sensei…katanya kau tidak mau melakukan heal dengan metode selain memegang nadi…" ucap Seiji lemas.
"Ha?" balas Megumi masih sedikit drowsy setelah ciumannya. Ia menoleh ke arah Seiji masih dengan tatapan sedikit sayu. "Ya kalau Gojo-san berbeda lah, karena dia pacarku," ucapnya.
"Eh?"
"HAH?!"
"Heeee…"
Ucap mereka terkejut. Seiji menatap kaku, Shoko juga tampak terkejut.
"Odoroita…" ucap Shoko. "Ya, aku wajar terkejut. Tapi kenapa kau juga tampak terkejut Satoru?"
Hah?
Megumi langsung menoleh ke arah Gojo.
"I-itu…itu…" Gojo bengong sendiri. "Sensei, kapan kita–..."
"SA-TO-RU," terdengar suara Yaga dari lorong sebelah, suaranya terdengar marah.
"Satoru! Aku tidak mau dapat masalah," Shoko langsung menarik Gojo paksa.
"Tunggu–...Sensei, aku harus bicara pada Megu–..."
"Sudahlah bicara nanti saja," Shoko terus mendorong menjauh. Meninggalkan Megumi yang kini mematung di tempat.
Hah?
Eh?
Haaaahhh…?
Megumi jadi bingung sendiri. Jadi mereka tidak pacaran? Jadi selama ini Megumi saja yang mengira mereka sudah jadian? Tapi mereka melakukan ini dan itu–...ya tapi sebelum ini mereka sudah pernah melakukan ini dan itu sih. Tapi…tapi…
"A…aku permisi dulu…" ucap Seiji pelan seraya melangkah pergi dengan hati-hati. Meninggalkan Megumi yang masih mematung di tempat.
.
~OoooOoooO~
.
Megumi jadi terus kepikiran gara-gara itu. Ia sering melamun. Makan malam pun sering ia menatap kosong dengan sendok di udara. Membaca buku sama saja, tak masuk ke kepala sama sekali. Pikirannya terus melayang mengenai hubungannya dengan Gojo.
Ia mengingat-ingat lagi kapan ia merasa kalau mereka sudah jadian. Ah, ya, sejak kissmark itu. Megumi kesulitan mengungkapkan perasaan, jadi ia pikir dengan kissmark ia sudah resmi memiliki Gojo, dan juga sebaliknya. Bukankah dari yang ia baca, kissmark itu tanda kepemilikan? Apa artikel yang dibacanya itu salah?
Megumi mengecek ponsel untuk segera mencari artikel itu lagi, siapa tahu ia yang salah baca. Tapi tidak, ia tak salah baca. Artikel itu menyebutkan bahwa kissmark adalah tanda kepemilikan. Lalu kenapa Gojo tetap menganggap hubungannya dengan Megumi belum resmi? Apa karena itu juga kah Gojo tak pernah melakukan lebih pada Megumi? Saat ini mereka belum pernah melakukan sex satu kalipun.
Megumi menghela nafas lelah. Ia ganti membaca chat dari Gojo yang sudah ia balas.
'Sensei, aku ingin bicara. Tapi secara langsung, tidak lewat chat atau telefon.'
'Iya, aku juga.'
Begitu isinya. Jadi Megumi baru akan bisa bernafas lega setelah pembicaraan dengan Gojo nanti. Yang nanti nya itu entah kapan mengingat Gojo sangat sibuk akhir-akhir ini.
Megumi menghela nafas panjang berkali-kali. Ia sama sekali tak bisa tenang meski sudah menghela nafas berkali-kali. Sampai akhirnya ia pun tertidur karena lelah.
.
~OoooOoooO~
.
Esok paginya Megumi beraktifitas seperti biasa. Ia sudah memakai seragam healer dan bersiap pergi saat ia ingat itu hari Kamis, yang artinya dia harusnya bukan pergi kerja, tapi pergi misi.
"Aaargh," ucapnya kesal dan kembali ke kamar untuk ganti baju ke pakaian misi. Setelahnya barulah ia keluar paviliun sambil mengecek tab kerja nya. Di sana ada chat masuk dari HQ yang mengatakan bahwa misi Megumi dimulai jam 3 sore nanti. Mengingat sekarang ia sudah mulai ke misi kelas C yang lebih tinggi dari misi-misi sebelumnya, kini HQ yang mengatur misi untuk Megumi, bukan bebas memilih seperti sebelumnya.
"Haaahhhh," Megumi menatap kesal karena dia sudah siap-siap. Tapi saat ia cek lagi, ternyata HQ sudah mengirim pesan sejak jam 5 pagi. Megumi saja yang baru membukanya sekarang.
Menghela nafas lelah, Megumi pun memutar langkah kembali ke paviliun. Ia merasa harinya benar-benar kacau dibarengi suasana hati yang sama kacaunya.
Megumi menatap sekeliling dalam diam. Sekarang ia harus apa? Tidak kerja, belum ada misi. Kalau dia diam saja di paviliun pasti kepikiran macam-macam lagi.
"Ugh…" Megumi berpikir keras bagaimana ia akan menghabiskan waktunya.
Ah, ya. Di HQ kan ada banyak fasilitas. Mungkin ia bisa mencoba fasilitas yang ada di sana mumpung tak ada kegiatan.
"Yosh," Megumi pun menanggalkan seragam HQ nya dan memakai pakaian casual, lalu keluar dari paviliun. Sambil berjalan ia sambil berpikir mau kemana dulu. Bagaimana kalau lapangan untuk latihan? Mungkin ada podium atau track lari. Tapi Megumi sudah malas olahraga jam segitu. Hanya menonton orang latihan juga sama saja diam di tempat.
Kolam renang? Hmm…ia rasa masih terlalu pagi untuk berenang. Ah, ya. Perpustakaan. Kalaupun nanti tak bisa konsen membaca, dia bisa jalan-jalan saja atau mencari-cari buku. Gojo bilang bahkan ada greenhouse di perpustakaannya kan. Oke, akhirnya Megumi memutuskan untuk ke perpustakaan.
Megumi terkesima begitu memasuki perpustakaan. Tempat itu benar-benar luas, ia senang melihat rak-rak buku dan jajaran bukunya yang tertata rapi. Megumi pun mulai menelusuri rak yang ada setelah mengisi daftar pengunjung.
Ia menemukan banyak buku tentang healer dan jujutsushi, novel juga ada, bahkan komik pun ada. Karena sedang tak ingin bacaan berat, Megumi memilih mengambil beberapa komik dan novel untuk ia baca. Lain kali saja lah dia mencari buku soal healer dan semacamnya.
Setelah membawa beberapa buku di tangan, ia kembali berkeliling mencari greenhouse yang dimaksud Gojo. Ia membaca denah di komputer perpustakaan, juga dibantu penunjuk arah di beberapa tempat. Rupanya greenhouse ada di bagian tengah perpustakaan.
Ia kembali terpukau begitu menemukan tempat itu. Greenhouse itu sangat luas. Banyak gazebo serta kursi di dalam sana, diteduhi tanaman-tanaman hijau. Suasananya begitu sejuk, harum bunga juga begitu segar menyentuh indra penciuman. Megumi rasa greenhouse akan menjadi tempat favoritnya setelah ini.
Megumi memilih untuk menghampiri sebuah sofa-bed yang terlindung oleh struktur setengah lingkaran yang menaunginya, dan tentu saja struktur itu ditumbuhi tanaman-tanaman hijau yang segar dipandang mata. Megumi naik ke sana, setengah bersandar ke sandaran sofa-bed itu lalu mulai membaca. Dengan suasana setenang itu membuat pikirannya yang kacau pun bisa tenang, dan ia menikmati apa yang ia baca.
.
.
Tanpa sadar Megumi sudah menghabiskan dua buku. Ia menatap ke arah ponsel untuk melihat jam dan lumayan terkejut saat mengetahui ternyata itu sudah masuk jam makan siang. Megumi meregangkan otot nya yang kaku, lalu bangkit dari sofa-bed dan membawa buku-bukunya pergi, mengembalikannya ke tempat semula. Setelah itu Megumi pergi dari perpustakaan menuju kantin.
Suasana cukup ramai di kantin karena memang masih jam makan siang. Megumi mencari tempat kosong setelah memesan makanan. Hampir tak ada tempat kosong, hanya saja ada beberapa meja yang tak penuh, terisi ujung ujung nya saja.
Megumi menghampiri meja yang paling sedikit isinya lalu duduk di sana, menunggu makanannya datang. Tak berapa lama ia duduk, seseorang datang menghampiri dan menuju kursi yang berseberangan dengan Megumi.
"Permisi, boleh duduk di sini? Yang lainnya sudah pe–..." Megumi mendongak saat mendengar suara yang familiar, Seiji. Dan Seiji juga menghentikan ucapan saat menyadari siapa yang ada di depannya.
"A…" ucap mereka bersamaan. Mematung sesaat, tapi mereka lalu tetap duduk bersama. Ya karena kebanyakan kursi memang sudah penuh. Untuk beberapa saat keduanya hanya diam.
"Sensei…sendirian saja?" tanya Seiji basa basi, mengisi keheningan awkward di antara mereka.
"Ya. Kau sendiri?" balas Megumi.
"Ya. Teman-temanku pergi misi semua."
Megumi mengerutkan sebelah alis. "Kau tidak pergi misi."
"Aku kena suspend satu minggu gara-gara yang kemarin itu," Seiji mengusap tengkuknya.
"Hahaha," tawa Megumi. "Ya lagian kau ini, persentase naik hanya dalam sehari, sudah jelas mencurigakan."
"Mau bagaimana lagi, Sensei bertugas hanya Senin sampai Rabu sih. Kamis Jumat kau selalu tidak ada, aku tak punya banyak waktu untuk…" Seiji membuang pandangan saat menyadari apa yang barusan akan dikatakannya.
"Untuk mengakali supaya gan–..."
"Shhhhh…" Seiji menaruh telunjuk di bibir. "Iya aku minta maaf, sudah jangan dibahas lagi dong. Aku juga sudah kena teguran HQ ini."
Megumi hanya tertawa kecil membalasnya. Pesanan mereka datang tak lama setelah itu dan mereka pun mulai makan.
"Jadi…" ucap Seiji setelah mereka berdua cukup lama diam. "Ehm…" dia berdehem kecil sebelum melanjutkan ucapan. "Sensei, kau ada hubungan khusus dengan Gojo Satoru?"
Tek…
Seketika Megumi menghentikan gerakannya, batal menyuapkan makanan ke mulut. Ia sudah berusaha untuk tak memikirkan itu tapi sekarang Seiji malah membuka obrolan soal itu.
Megumi menghela nafas lelah lalu hanya memutar-mutar garpu nya ke piring.
"Dengar, Sensei. Aku tahu type orang sepertinya," ucap Seiji setengah berbisik. "Mr. Populer yang hanya ingin hubungan sebatas saling menguntungkan. Dia tak akan segan-segan mempermainkanmu Sensei."
Megumi menatap dengan sebelah alis bertaut.
"Buktinya dia terlihat main-main di saat kau sepertinya serius pada hubungan kalian. Itu sih yang kutangkap dari ekspresi dan sikapnya kemarin," lanjut Seiji.
Megumi menghela nafas lelah lalu meletakkan sendoknya. "Aku sudah kenyang, sampai jumpa," ucapnya lalu meninggalkan meja makan.
Megumi menghela nafas lelah selama melangkah meninggalkan kantin. Pikirannya kembali kalut. Ia cek ponsel yang masih hening, tak ada kabar lanjutan dari Gojo. Lagipula mereka sudah mengatakan akan bicara tatap muka, bukan lewat ponsel, jadi Megumi tak tahu apa yang bisa diharapkan dari mengecek ponselnya. Ia kembali menyakukan ponselnya dan dalam hati berharap semoga tidak bertemu Seiji dalam waktu dekat.
.
.
Sesuai arahan pihak HQ, Megumi menuju gedung jujutsushi di jam 3 sore. Ia ditemui oleh seorang asisten manager dan seorang petugas HQ yang Megumi tak tahu apa tugasnya.
"Beliau Oda-san, asisten manager Anda untuk hari ini," jelas petugas itu. Oda menjabat tangan Megumi dan memperkenalkan diri. "Lalu untuk jujutsushi yang akan mendampingi Anda…" belum selesai petugas itu berucap, Seiji masuk ke ruangan itu dengan langkah tergesa.
"Maaf terlambat, notice nya mendadak sekali," ucapnya dengan nafas terengah.
Megumi menatap tak percaya. Jangan bilang Seiji lah yang akan mendampinginya.
"Ya, tak apa. Ini memang mendadak," ucap si petugas tadi. "Beliau adalah jujutsushi level 1, Seiji-san. Beliau yang akan mendampingi Anda selama misi."
Seiji juga menatap tegang, melirik Megumi dengan sebelah alis bertaut.
"Tapi bukankah dia sedang mendapat suspend?" tanya Megumi.
"Benar. Tapi saat ini sedang musim sibuk sekali. Semua jujutsushi turun ke misi, ada beberapa yang free tapi jujutsushi level dua ke bawah. Kami tidak ingin ambil resiko membahayakan Anda dengan perlindungan minim, apalagi dengan adanya kejadian kemarin dimana Anda sempat mendapat serangan kutukan."
"Tunggu, aku juga punya pertanyaan," timbrung Seiji. "Apa aku tak salah dengar. Pergi misi? Fushiguro-Sensei? Setahuku beliau healer energy, bukan healer fisik."
"Untuk detailnya akan Oda-san jelaskan di perjalanan," jawab si petugas HQ. "Yang jelas tugas Anda adalah memastikan keselamatan Fushiguro-Sensei, dan mengawalnya selama misi," petugas itu lalu mendekati Megumi. "Mengingat kecelakaan kemarin, sebaiknya Anda memakai ini juga," ia menyodorkan kotak berisi sarung tangan.
"..." Megumi pun meraih sarung tangan itu dan memakainya.
"Baiklah, kalian bisa pergi."
"Mari," Oda memandu. Mereka pun berjalan keluar gedung dan menuju mobil mereka.
"Heee, jadi selama dua hari kau tak bertugas, kau itu pergi misi, Sensei," ucap Seiji selama melangkah.
"Yeah," balas Megumi singkat.
"Tapi ini confidential kah? Makanya tak dipublikasi secara umum info nya."
Megumi tak menjawab karena masih kesal. Ia berharap tak bertemu Seiji dalam waktu dekat, malah sekarang harus stuck bersamanya.
"Tidak confidential tapi sebaiknya tidak menyebar secara umum juga," Oda yang menggantikan menjawab. "Karena ini sifatnya masih eksperimen. Jadi mohon kerjasamanya, Seiji-san," Oda menekan tombol pada kunci mobil.
"Eksperimen? Sebenarnya eksperimen apa?" lanjut Seiji sambil memasuki mobil di kursi penumpang, Megumi masuk di sisi sebelahnya.
"Untuk melakukan heal pada jujutsushi saat bertugas. Sekaligus untuk membiasakan Fushiguro-Sensei di lingkungan yang ada kutukan."
Gasp…
Seiji sempat tercekat. "Itu…untuk heal pada jujutsushi supaya tidak sampai berserk dalam misi nya?" mata Seiji berbinar.
"Ya. Begitu kurang lebih nya," Oda memakai seatbelt lalu melajukan mobilnya.
"..." Seiji terdiam, ia lalu menatap Megumi dengan senyum. Tatapannya seperti berkaca-kaca. Megumi hanya melirik sesaat lalu kembali membuang pandangan keluar jendela, dan Seiji akhirnya melakukan hal yang sama. Setelah itu yang lanjut menjelaskan soal detail misi juga Oda, juga menjelaskan tugas Megumi, serta sudah sejauh apa eksperimen yang dijalani.
.
Setelah beberapa waktu mereka tiba di sebuah distrik yang tampaknya tutup. Sudah ada mobil terparkir dan seorang asisten manager bersama seseorang berseragam jujutsushi. Asisten manager itu memperkenalkan jujutsushi tersebut dengan nama Shino.
"Jadi…mereka akan membantuku dalam misi?" tanya Shino dengan tatapan sangsi.
"Tidak, kami hanya mengawasi," balas Megumi dengan tatapan mati. Ia sedang malas.
"Mengawasi? Semacam memberi penilaian?"
"Tidak, lebih seperti mengamati saja. Tanpa penilaian."
"..." Shino terdiam, melipat tangannya di depan dada. "Apa akan membantu dalam beberapa hal?"
"Tidak. Anggap saja kami tidak ada," balas Megumi yang membuat kedutan besar nangkring di dahi Shino. Dia lalu memasuki area distrik itu sambil bersungut-sungut.
"Sore ja, kalau begitu kami duluan," pamit Megumi pada dua asisten manager di sana yang tengah sweatdrop. Megumi lalu masuk ke area distrik mengikuti langkah Shino.
Mereka melihat-lihat sekeliling, distrik itu tampak hanya tutup, bukan terbengkalai.
"Ini sengaja mereka tutup untuk pembersihan hari ini," ucap Shino menjelaskan. Ia tampak mengambil minuman dari vending machine, lalu melemparkannya ke Megumi dan Seiji. Ia sendiri mengambil sekaleng minuman dan menenggaknya.
"Fwaah, ini kalian serius tidak membantu apa-apa?" tanya Shino sambil berkacak pinggang.
"Ya, aku bisa, tapi dalam tahap kecil saja. Kalau dia," Megumi menunjuk Seiji dengan ibu jari nya. "Dia bertugas mengawalku, jadi bisa dibilang dia tidak boleh terpisah dariku, kau tidak bisa menyuruhnya untuk melakukan sesuatu."
"Khh…" Shino tampak cemberut.
"Ya lagipula kalau kami membantu, bisa dibilang misi ini credit nya bukan untukmu dong. Ini kan seharusnya misi mu," tambah Seiji.
"Gaah, i-iya sih. Tapi seharusnya aku melakukan ini dengan seorang rekanku. Makanya kalau sekarang aku sendirian untuk misi di tempat sebesar ini tanpa tobari, rasanya…entahlah," balas Shino.
"He? Ini harusnya misi dua orang?" tanya Megumi.
Shino mengangguk. "Tapi akhir-akhir ini musim sibuk sekali. Kami berdua pun harus dipisah untuk menjalankan dua misi berbeda. Malah sekarang aku kebagian misi yang tidak pakai tobari pula."
Megumi menghela nafas, kurang lebih dia mengerti kondisinya. "Baiklah, memangnya kau butuh bantuan seperti apa? Selama tidak terlalu menyulitkan mungkin aku bisa."
"Hng…apa ya, yang tidak harus menyulitkan…" Shino tampak berpikir, kembali menenggak minumannya. "Ah, ya paling memantau titik saja sih."
"Hng?"
"Jadi begini. Dari laporan madou, kutukan ini aktif begitu matahari terbenam, dan ada dua titik kemunculan. Aku mengawasi satu titik, kalian mengawasi di titik satunya lagi saja. Kita komunikasi lewat ponsel, nanti kalau kutukannya muncul di titik pengawasan kalian, kalian katakan saja dan aku akan segera datang. Bagaimana?"
"Ya, boleh saja," balas Megumi. Mereka pun improvisasi dengan ponsel mereka karena memang tak siap membawa walkie talkie atau semacam itu. Jadi mereka bertukar nomor dan melakukan group call.
"Oke, jadi aku akan jaga area A karena menurut madou kemungkinan besar kemunculannya di sini. Radius nya sekitar 300 meter. Kalian jaga di area B, radius nya jg kurang lebih sama. Ada ruko berlantai 4 yang atapnya adalah cafe terbuka. Kalian pantau dari sana saja," jelas Shino. "Kalau kita bisa membasmi kutukannya saat pertama dia keluar, kita bisa menyelesaikan misi ini dengan cepat."
Setelah itu mereka pun berpencar menuju area masing-masing. Megumi berjalan bersama Seiji menuju area yang disebutkan.
"Gedung ini kah?" tanya Megumi setelah menemukan sebuah gedung 4 lantai berwarna merah tua.
"Ya," balas Seiji. Mereka lalu menaiki tangga untuk menuju atap gedungnya. Matahari bahkan belum terbenam saat itu, jadi mereka harus menunggu terlebih dahulu. Mereka pun duduk di kursi cafe yang dekat dengan pagar pembatas, sambil melihat layout sekitar.
Pandangan Megumi mendarat ke Seiji yang juga tengah mengamati sekeliling, ia jadi ingin bicara.
"Hey," panggil Megumi.
Seiji menoleh. "Ya?"
"Soal yang kau bicarakan sebelumnya…"
"Soal Gojo-san yang memang player?"
"Bukan!" omel Megumi, tapi lalu berdehem untuk menormalkan kembali nada suaranya. Karena suasana sepi suaranya jadi terdengar keras meski tadi tak membentak terlalu kuat.
"Soal kau yang terdengar senang saat tahu tujuanku pergi misi," lanjut Megumi.
"Oh, soal itu," ucap Seiji. "Ya, tentu saja. Kalau benar sampai ada healer yang bisa dikirim ke pertempuran untuk mencegah seseorang berserk, itu akan menenangkan sekali," cengirnya. Ia menatap jauh ke depan sambil memainkan kedua jemarinya yang bertaut.
"Di pertempuran…kami sendirian. Entah itu menang, atau kalah, kami sendirian di sana. Saat menjalani misi yang sulit, perasaan akan kalah itu ada, dan itu mengerikan. Tapi…ada yang lebih mengerikan dari itu," Seiji mengusap tengkuknya. "Perasaan bahwa mungkin kami akan berserk."
Iris Megumi perlahan membola mendengar itu. Tapi ia hanya diam, tetap mendengarkan kalimat Seiji.
"Saat pertarungan sengit, tentu saja kami ingin menang, kami tak ingin mati, dan kami terus menggunakan kekuatan kami semaksimal mungkin. Tapi saat hal itu belum cukup untuk memenangkan pertempuran, kami ingin menggunakan kekuatan kami lebih, lebih, dan lebih untuk menang, untuk bertahan hidup. Tapi bayangan akan berserk seketika menghantui.
Bagaimana kalau ternyata saat menggunakan kekuatan lebih, persentase kami sudah di level bahaya. Bagaimana kalau yang kami anggap sedikit lagi saja itu, rupanya sudah di garis finish," tautan tangan Seiji mengerat. Ia menatap Megumi dengan kedua alis bertaut dan mata sedikit berkaca. Ia lalu kembali membuang pandangan.
"Kalau sampai berserk, mungkin kutukannya juga mati. Tapi bagaimana dengan rekan-rekan kami. Para madou, para asisten manager, para healer fisik yang ikut. Mungkin mereka juga akan mati. Lebih parah lagi mungkin kami bisa menghancurkan seluruh wilayah di sekitar, melibatkan lebih banyak orang tak bersalah, membuat mereka terbunuh."
Seiji menggeleng. "Itu perasaan yang sangat tidak menyenangkan," ia menelan ludah pahit. "Tapi di sisi lain, menghadapi kematian juga bukan hal mudah. Insting manusia pasti ingin survive. Meski mengetahui resiko berserk itu mengerikan, tapi bagaimana dengan kutukan di hadapan kami yang mengancam nyawa kami. Kami hanya ingin survive, hanya ingin mempertahankan diri. Kami tidak ingin…mati…"
Seiji memundurkan tubuhnya meski masih berpegang ke pagar, ia mendongak dan menghela nafas dalam-dalam. Untuk beberapa lama ia terdiam, lalu menatap Megumi. Bisa Megumi lihat bahwa mata Seiji memang berkaca-kaca, hidungnya juga sedikit memerah.
"Jadi kalau betulan ada healer yang bisa datang menyelamatkan kami di saat seperti iu…" Seiji tak berhasil melanjutkan kalimatnya. Ia kembali membuang muka dan kali ini berjalan menjauh dari Megumi, menenangkan diri di sudut lain.
Megumi mengeratkan genggamannya ke pagar pembatas, sekali lagi menyadari betapa pentingnya eksperimen yang dia pegang ini. Ia harus berusaha semaksimal mungkin untuk para jujutsushi yang berjuang di garis depan itu.
Perlahan matahari mulai terbenam di ufuk barat, suasana mulai gelap. Megumi mulai bersiaga, Seiji yang sudah tenang juga kembali menghampiri Megumi. Mereka mengawasi sekitar.
Prick…
Saat itulah Megumi merasakan sesuatu, entah apa ia juga tak tahu, tapi yang jelas ia merasakannya. Sesuatu seperti menekan tubuhnya.
"Heh, muncul juga," ucap Seiji, menatap ke arah gedung depan sebelah kiri dari tempat mereka berada. Ia lalu meraih ponsel untuk menghubungi Shino.
"Shino, kutukannya akan muncul di area sini. Sebaiknya kau bergegas kemari. Gedung berwarna biru tua di depan gedung tempat kami berada."
.
.
.
~To be Continue~
.
Support me on Trakteer : Noisseggra
