Disclaimer : Jujutsu Kaisen by Gege Akutami
A Fanfiction by Noisseggra
Pair : Gojo Satoru X Fushiguro Megumi
Genre : Drama, Supernatural, Romance
Warning : OOC (Out of Character), iya di fanfic ini sengaja OOC, nggak terlalu mirip sama Manga/Anime, demi plot.
YAOI, BL, RATED M, Semi Canon, maybe typo (s)
You have been warned !
This fic inspired from manhwa The Ordinary Lifestyle Of A Universal Guide by Kang Yoonwoo
A/N : Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V
.
.
Kiseki no Hiiraa
.
.
Setelah makan siang di tempat Hatake, Megumi, Ijichi dan Nanami pun kembali menaiki perahu meninggalkan pulau kecil itu.
"Gojo-san kemari jam berapa?" tanya Megumi saat mereka menaiki kapal.
"Hmm…sepertinya saat kita tiba nanti, pesawatnya juga baru mendarat. Mungkin kita yang harus menunggu sampai dia datang," ucap Ijichi.
Megumi mengangguk. "Kita naik pesawat jam berapa untuk ke Tokyo? Bukankah sebaiknya pesan sekarang?"
"Ya, boleh saja. Mau penerbangan yang jam berapa?"
"Mm…jam 8 malam tidak apa-apa? Biar sedikit lebih banyak waktu," Megumi menatap Ijichi juga Nanami.
"Tak masalah," balas Nanami.
"Baiklah, kalau begitu saya pesankan tiga tiket jam 8 ya," ujar Ijichi sambil menggeser-geser layar tablet nya.
Mereka menaiki kapal kurang lebih satu jam sampai akhirnya tiba kembali ke pulau utama. "Kita ketemuan di mana?" tanya Megumi setelah mereka turun dari kapal.
"Sebentar, Gojo-san bilang dia…" ujar Ijichi sambil melihat ponselnya. Tapi detik berikutnya ekspresi Ijichi berubah shock. "Eeehhh…?!"
"Ada apa?" tanya Megumi. Tp belum terjawab pertanyaan Megumi, ia rasa ia sudah tau kenapa Ijichi shock begitu. Karena detik berikutnya, Megumi melihat sosok Gojo yang tengah melambaikan tangan dan menghampiri ke arah mereka.
"Megumi-Sensei, misimu sudah selesai," dan yang Gojo sapa juga cuma Megumi.
"Ack…ano, bukankah pesawat Anda harusnya baru mendarat? Bagaimana bisa sudah di sini," ucap Ijichi.
Megumi bergantian menatap ke arah Ijichi lalu Gojo.
"Dia teleport dari bandara ke sini," balas Nanami sambil menatap Gojo dengan tatapan menyelidik. "Menyia-nyiakan energy saja."
Megumi hanya bisa sweatdrop mendengar itu. Ia kembali menatap Gojo untuk menanyakan kebenarannya. "Kau betulan teleport? Bukankah jarak bandara ke si–...hey," ucapan Megumi terhenti saat Gojo tiba-tiba meraih tangannya, lalu memperhatikan dengan seksama. Detik berikutnya ia menatap Ijichi dan Nanami dengan tatapan tajam.
"Apa yang sudah terjadi? Bukankah ini cuma misi kelas D? Dan kalian berdua ada di sana," tanya Gojo dengan nada berat.
Ijichi langsung keringat dingin. Megumi cukup terkejut. Apa para jujutsushi bisa tahu apa yang terjadi hanya dengan melihat? Tadi Nanami juga bisa menyimpulkan bahwa Gojo baru saja menggunakan kemampuan teleportasi tanpa mendengar jawaban dari Gojo.
"Maaf, aku lengah," ucap Nanami.
"Hey, bukan begitu, yang tadi itu salahku," Megumi langsung melakukan pembelaan. "Tadi aku yang seenaknya menyentuh kutukan itu, dan terluka. Tapi hanya luka kecil saja, sudah mendapat penanganan juga."
Gojo masih mengerutkan alisnya. Ia mengusap-usap punggung tangan Megumi seolah ingin menyingkirkan sesuatu tapi tak bisa.
"Serius, ini sudah tidak sakit sama sekali," Megumi coba meyakinkan.
"Baiklah kalau begitu," ucap Gojo pada akhirnya meski sempat diam beberapa saat. "Kalau begitu ayo jalan-jalan, mumpung sudah di Okinawa. Beli oleh-oleh begitu," senyum Gojo, ia menggandeng tangan Megumi dan mulai melangkah. "Kalian sudah makan siang atau belum?"
"Kami sudah. Kau?" tanya Megumi.
"Sudah tadi di pesawat. Ayo, kudengar di dekat sini ada distrik yang bagus buat belanja."
Mereka pun menuju distrik yang dimaksud Gojo. Banyak sekali jajanan dan merchandise khas Okinawa. Mereka berjalan-jalan melihat seisi distrik itu, dan sekalipun Gojo tak melepas gandengan tangan Megumi.
Megumi melirik ke arah tangannya yang digandeng Gojo itu, pipinya sedikit memerah. Melihat sikap Gojo membuat Megumi berpikir bahwa Gojo seperti tak ingin menyembunyikan hubungan mereka, dan Megumi juga tak keberatan dengan itu. Hanya saja ia masih merasa sedikit malu. Ini pertama kalinya ia punya hubungan istimewa dengan seseorang, jadi untuk langsung menunjukkannya di depan umum begitu masih membuatnya canggung. Meski begitu…Megumi tak melepaskan gandengan tangan Gojo.
"Ah, sepertinya toko yang itu lengkap. Ayo coba ke sana saja," ajak Gojo. Mereka pun memasuki sebuah toko. Di sana banyak sekali jajanan, di bagian toko yang lain ada juga pakaian. Mereka pun berkeliling di sana.
Megumi melihat-lihat pakaian saat Gojo sibuk melihat makanan manis dan tampak siap memborong. Megumi melihat beberapa pakaian, mungkin akan ia beli untuk Toji. Kalau untuk ayahnya cari yang desain simple dan warna gelap pikirnya.
"Fushiguro-Sensei," panggilan itu membuat Megumi menoleh. Di sampingnya tampak Nanami yang tengah berdiri sambil menatap Gojo. Ia lalu beralih menatap Megumi. "Apa kau menyukai Gojo-san?" tanya Nanami.
"..." Megumi terdiam sesaat, mencerna ucapan itu. Lalu wajahnya pun memerah. "...y…a…" ucapnya malu. Ia merasa de javu dengan saat Ijichi menanyainya.
"Kalau begitu syukurlah," tambah Nanami yang tampak menghela nafas lega.
"Haha, kalian rupanya mengkhawatirkan Gojo-san ya," ujar Megumi.
"Kalian?"
Megumi mengangguk. "Iya. Ijichi-san juga tadi sempat menanyakan hal yang sama. Katanya khawatir kalau orang yang bisa menangani Gojo-san malah tak menyukainya."
"Kalau aku lebih ke menghawatirkanmu. Kalau kau tadi bilang tak suka aku cuma mau menghajarnya saja," balas Nanami dengan wajah menghitam.
'Eeeehhh…' Megumi hanya bisa bercucuran keringat dingin.
"Dia itu sangat menyebalkan, seenaknya sendiri, selalu bersikap semaunya tanpa peduli respon orang lain," Nanami melanjutkan ocehannya. "Jadi maksudku kalau dia bersikap menjengkelkan padamu tapi ternyata kau menahan diri untuk tidak mengomel karena kau merasa tidak enak gara-gara dia jujutsushi special grade, biar aku yang melakukannya untukmu."
Megumi hanya sweatdrop mendengarnya. "Ti-tidak begitu kok…aku juga…me…me…menyukainya," mau bagaimanapun mengucapkan kata suka masih cukup memalukan bagi Megumi.
"...begitu," balas Nanami kemudian. "Tapi yah…" Nanami kembali menatap Gojo. "Melihat sikapnya saat bersamamu, seperti melihat dia yang dulu saat masih SMU. Seperti dia sudah kembali ke sifatnya di masa itu."
Mata Megumi sedikit melebar mendengar itu. Ia mengingat ucapan Yuuji yang pernah mengatakan bahwa Geto selalu berharap Gojo kembali seperti dulu lagi. Mungkin sekarang…meski sedikit…Megumi berhasil melakukan itu. Dan senyum tipis pun terlukis di bibir Megumi.
"Meski kedua versi dirinya tetap menyebalkan," tambah Nanami dengan wajah kembali kesal yang lagi-lagi membuat Megumi sweatdrop.
Setelah puas belanja, mereka ganti jalan-jalan ke pantai untuk melihat matahari terbenam. Cuacanya sedang bagus sekali, jadi pemandangannya sangat indah. Mereka di sana sampai gelap tiba, lalu memutuskan untuk makan malam di sebuah restaurant sekitar sana. Jadi mereka bisa makan sambil melihat pemandangan laut juga.
"Iya kan, bagaimana kalau kita mencoba ke sana," obrol Gojo saat mereka makan malam. Ia menunjukkan layar ponselnya ke hadapan Megumi, memperlihatkan tempat yang bagus.
"Baka, setelah makan malam kami harus ke bandara," ucap Nanami bahkan tanpa menatap Gojo.
"Yaah…" manyun Gojo. Megumi menatap raut wajah Gojo yang berubah sedih. Manis sekali, pikirnya.
"Memangnya kau masih berapa hari di tempat misi mu, Gojo-san?" tanya Megumi.
"Mungkin satu atau dua hari lagi. Setelah itu juga masih misi tapi pindah ke daerah lain, belum bisa langsung kembali ke Tokyo," balas Gojo dengan tatapan sendu.
"..." Megumi terdiam, sesibuk itu ya jujutsushi. Mereka melaksanakan beberapa misi sebelum kembali ke HQ untuk mendapatkan heal. Mungkin jujutsushi lain bisa selalu ke rumah sakit terdekat setiap selesai misi, tapi tentu saja hal itu tidak berlaku bagi Gojo.
Krrtt…
Genggaman tangan Megumi sedikit mengerat. "Apa…aku ikut denganmu saja, ke tempat misi mu."
"..." perlahan tatapan mata Gojo membola, wajahnya jelas sekali dari murung berubah ceria.
"Mana bisa, perintah HQ Fushiguro-Sensei ikut misi bertahap dari E sampai S. Sekarang masih di kelas D," potong Nanami yang kembali membuat wajah Gojo murung.
"Tidak, bukan misi. Tapi ke tempat dia stay selama misi," Megumi beralih menatap Gojo. "Kau bilang misi selama beberapa hari, pasti kau stay di suatu tempat kan? Penginapan atau semacam itu?"
"Iya, aku stay di sebuah hotel," ucap Gojo bersemangat. "Benar juga, kau bisa stay di sana, aku tidak akan mengajakmu saat aku pergi misi."
Megumi beralih menatap Nanami seolah meminta persetujuan. Pria itu menghela nafas lelah. "Memangnya kau tak apa, Fushiguro-Sensei? Kau tidak ada rencana untuk besok?"
"Kurasa tidak. Lagipula aku libur di hari Sabtu dan Minggu, jadi aku tak ada jadwal besok."
Nanami kembali menghela nafas lelah, mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Ia lalu menatap tajam Gojo. "Tapi kau benar-benar tak boleh membawanya selama misi," ia memperingatkan.
"Iya iya, nggak akan," balas Gojo.
"Heh, ya sudah. Pastikan saja ada tiket pesawat ke tempatmu yang bisa dipesan mendadak untuk Fushiguro-Sensei," Nanami melanjutkan makannya.
"Tenang, pasti ada," balas Gojo yang juga melanjutkan makan.
"Eh, benar juga. Kalau tidak ada kursi kosong bagaimana," Megumi baru kepikiran. Pesawat kan tidak seperti bus yang seenaknya bisa naik selama bus nya ada.
"Tidak apa Sensei. Sebenarnya kalau bepergian dengan pesawat, aku selalu pesan dua kursi untukku sendiri karena aku malas bersebelahan dengan orang lain. Dan yang sekarang juga sama saja, aku sudah booking dua kursi," jelas Gojo. "Nanti tinggal ku hubungi pihak maskapai untuk booking kursi di sebelahku atas nama mu."
"Begitu rupanya."
.
Seusai makan malam, mereka pun naik transportasi online menuju bandara.
"Ja, kalau begitu, sampai jumpa," ucap Ijichi saat mereka harus berpisah untuk menaiki dua penerbangan berbeda.
"Sampai jumpa. Terimakasih banyak atas bantuannya," Megumi membungkukkan badan sesaat sebagai tanda hormat. Setelah itu mereka pun berpisah menuju penerbangan masing-masing. Meski sepertinya penerbangan Ijichi dan Nanami lebih dulu dibanding Gojo dan Megumi, mereka pun masih harus menunggu beberapa lama sebelum mereka juga memasuki pesawat untuk ke tujuan mereka.
Megumi lumayan terkejut saat ia naik pesawat, dan rupanya kursi yang dipesan Gojo ada di kelas 1, sehingga mereka mendapatkan tempat duduk yang bisa dipakai untuk berbaring, juga bilik yang pintunya bisa ditutup untuk mereka menikmati perjalanan.
"Wah," ucap Megumi setelah masuk ke dalam bilik nya dan Gojo, mencoba tempat duduknya.
"Nyaman tidak?" tanya Gojo sambil menutup pintu.
"Nyaman," balas Megumi sambil menarik selimut, mencoba benda itu. Megumi berada di kursi yang dekat jendela sementara Gojo di kursi sampingnya. Untuk beberapa saat mereka diam menikmati perjalanan. Megumi juga menatap pemandangan luar yang baginya memukau. Sampai ia menatap pantulan di kaca dan menyadari kalau Gojo menatap ke arahnya.
Gojo tersenyum saat menyadari Megumi menatap wajahnya di kaca. Ia lalu meraih tangan Megumi, mengecup tangan itu. "Ini seriusan tak apa?" tanya Gojo.
"Iya. Masih sedikit terasa tapi tak mengganggu. Seperti…apa ya. Kalau kita habis menyentuh gelas panas begitu. Sudah tidak sakit lagi, tapi tetap masih terasa," balas Megumi, ia sedikit memiringkan tubuh ke arah Gojo. "Memangnya…Gojo-san bisa melihat sesuatu di tanganku?"
Gojo mengangguk. "Terlihat ada energy lain, seperti asap hitam tipis begitu, tapi tidak bisa kusingkirkan."
"Woah…" Megumi menatap tangannya sendiri, ia tak melihat apa-apa. "Apa semua jujutsushi begitu? Tadi Nanami-san juga bisa tahu kau habis teleport tanpa kau mengatakannya."
"Hmm…ya, kurang lebih. Jujutsushi biasanya bisa melihat residual energy yang ada, semisal jujutsushi ini pernah memakai kekuatannya di daerah sini, semacam itu. Beberapa jujutsushi kuat bahkan bisa meninggalkan residu yang bisa membuat kutukan tak bisa mendekati area itu sampai residu nya hilang."
"Hee, begitu rupanya. Pantas saja," ujar Megumi. Megumi mengalihkan pandangan dan tanpa sengaja menatap ke arah mata Gojo. Entah kenapa Megumi bisa melihat mata cemerlang itu tampak letih. Ya, meski terlihat biasa saja, Megumi tahu Gojo kelelahan. Mungkin tadi Gojo mempercepat misi nya demi menemui Megumi. Apalagi setelah misi bukannya istirahat dia malah harus naik pesawat, jalan-jalan seharian pula.
"Gojo-san, perjalanannya cukup lama, bagaimana kalau kita istirahat saja. Selimutnya nyaman," ajak Megumi.
"Ya, boleh saja. Kau pasti lelah habis misi seharian, Sensei," ucap Gojo.
Megumi hanya tersenyum mendengar itu. Mereka pun berbaring dan menutup tubuh mereka dengan selimut. Benar saja, tak lama berbaring, Gojo sudah terlelap duluan. Megumi menatap wajah tenang Gojo, dan mengusap tangannya yang masih belum melepas gandengan tangan Megumi.
Merasa tak bisa tidur, Megumi memilih duduk dan menatap pemandangan luar, meski tetap tak melepas gandengan tangannya dengan Gojo.
.
~OoooOoooO~
.
"Gojo-san, Gojo-san…"
"Nn…" mata Gojo perlahan terbuka saat namanya dipanggil dan tubuhnya digoncang pelan.
"Kita sudah mendarat," ucap Megumi.
Gojo pun perlahan duduk sambil menguap, mengumpulkan kesadarannya. Setelah beberapa saat berlalu barulah ia turun dari pesawat bersama Megumi.
"Hnghh…" Gojo masih meregangkan otot setelah turun dari pesawat dan menuju pintu keluar bandara. "Kita ke Mall dulu kah," ucapnya.
"Hah, untuk apa?" tanya Megumi.
"Sensei, kau tidak bawa baju ganti kan?"
"Ah, iya juga. Hey, tapi beli di toko pinggiran jalan saja lah, kenapa juga harus ke Mall."
"Ya, tidak apa kan. Sekalian buat liburan baju nya."
"Nggak, cari yang di toko biasa saja."
"Geez, iya deh iya," balas Gojo. Mereka menaiki transportasi online lagi dari bandara. Tapi karena hari sudah cukup malam, banyak toko yang sudah tutup. Alhasil mereka akhirnya betulan pergi ke Mall yang buka 24 jam.
"Astaga," Megumi menghela nafas lelah sambil memilih-milih baju. Ia sedikit kesal melihat harga nya. Bukan dia tak mampu beli sih, tapi kalau beli dengan harga segitu malas saja. Apalagi cuma buat baju yang akan dia pakai selama di sana. Masa iya harus membawa pulang pakaian kotor. Masalahnya dia tak membawa tas besar atau apapun, hanya bawa tas kecil tempat membawa tablet kerja dan alat heal.
Tapi yah, kalau beli di Mall dengan harga mahal begini Megumi sayang juga kalau baju nya tak dibawa pulang nantinya. Apa dia harus beli ransel juga. Geez…
"Sensei, Sensei," saat tengah memilih itu, Gojo memanggilnya sambil menghampiri membawa beberapa pasang baju. "Sepertinya ini cocok," ia menempelkan baju-baju itu di tubuh Megumi. "Iya, pasti cocok. Coba dong Sensei, ke ruang ganti. Ukurannya pas atau tidak."
"A…eh…tapi…" Megumi sweatdrop sendiri.
"Ah, yang ini juga, yang ini juga," Gojo gonta ganti berbagai baju menempelkannya di tubuh Megumi. "Coba semua ya," dan menempatkan tumpukan itu di tangan Megumi.
Menghela nafas lelah, akhirnya Megumi setuju. Ia pun menuju ruang ganti, mencoba pakaian-pakaian itu. Ia sempatkan melirik tag harga nya dan hanya bisa menarik nafas panjang. Mungkin uang tabungannya akan kena juga, pikirnya. Tapi ia tetap mengenakan pakaian itu, ia pakai baju dan celana dengan setelan yang sudah dipasangkan oleh Gojo tadi, lalu membuka ruang ganti untuk menunjukkannya pada Gojo.
"Bagaimana?" tanyanya.
Mata Gojo berbinar. "Iya, cocok sekali. Kau suka? Nyaman dipakai?" ucap Gojo bersemangat.
"..." Megumi terdiam menatap ekspresi Gono yang begitu senang melihatnya. Mau tak mau ia pun tersenyum. "Iya, ukurannya juga pas, jadi nyaman dipakai."
"Baguslah kalau begitu. Ayo coba yang lainnya, Sensei."
"Iya, tunggu oke," Megumi pun kembali ke ruang ganti. Saat menatap cermin, ia baru sadar kalau wajahnya tersenyum dan pipinya sedikit merona. Megumi tertawa kecil. Baiklah, tak apa. Sesekali melihat Gojo senang bukan hal buruk baginya. Megumi pun kembali mencoba setelan yang lain.
"Wah, dia jago juga ya memasangkan atasan dan bawahannya. Kombinasi nya bagus," gumam Megumi sambil melihat bayangannya sendiri di cermin. Ia merasa selera Gojo dalam berpakaian sangat baik.
Ia pun kembali keluar dan menunjukkannya pada Gojo. "Bagus?"
"Aaaaa iya bagus banget, Sensei. Sepertinya semua pakaian cocok untukmu."
"Haha, ada-ada saja."
Megumi mencoba semua pakaian yang tadi diberikan Gojo, dan memang bagus semua. Ia pun keluar kamar sambil membopong tumpukan itu.
"Ini…apa harus kubeli semua?" tanya Megumi menatap tumpukan di tangannya.
"Iya, kan bagus semua tadi. Kau bilang juga nyaman dipakai," balas Gojo bersemangat.
Megumi menghela nafas kecil. Ya sudahlah, bisa menabung lagi dengan gaji bulan depan, pikirnya. Yang penting Gojo senang, hehe.
Mereka pun berjalan ke kasir, meletakkan pakaian-pakaian tadi di meja. Saat Megumi meraih tas untuk mengambil dompetnya, Gojo sudah duluan menyodorkan sebuah black card ke petugas kasir.
"Eh…?" Megumi mematung.
"Hng? Nani?" balas Gojo.
"Itu…biar aku yang…"
"Haha tak apa. Kan aku yang mau juga," tawa Gojo.
"Ta-tapi kan…" Megumi sweatdrop. Ia merasa tak enak karena harga nya mahal sekali.
"Ii no ii no. Sesekali tak masalah kan," balas Gojo santai sambil menerima barang-barang tadi yang sudah dilipat rapi petugas dan dimasukkan ke kantong belanja. "Ayo," ajaknya setelah selesai.
Mereka pun berjalan keluar dari toko itu.
"Ano sa, setidaknya biarkan aku bayar setengah," ucap Megumi.
"Tidak usah. Kan kubilang aku yang mau juga," balas Gojo. "Oh ya, sekarang tinggal beli pakaian santai buat selama di hotel. Lalu pakaian dalam, juga sepatu."
"HAH?"
"Oh, mungkin koper juga. Buat membawa barang-barang ini pulang ke Tokyo nantinya."
"Tunggu–...Gojo-saaan…"
Meski pada akhirnya Megumi pasrah saat Gojo menyeretnya kesana kemari untuk memborong yang lain lagi. Akhirnya mereka baru keluar dari Mall itu sekitar pukul 11 malam.
"Astaga, ini kelewat banyak nggak sih," ucap Megumi sweatdrop saat melihat hasil belanjaan mereka.
"Haha tak apa tak apa," balas Gojo santai.
Tak lama kemudian kendaraan yang dipesan mereka tiba, mereka pun mengangkut barang-barang itu masuk lalu berkendara menuju hotel tempat Gojo menginap.
Petugas hotel langsung menyambut saat mereka turun, membawakan barang-barang mereka. Tapi tak membawa barang-barang itu naik bersama mereka.
"Sensei, nanti pakai baju hotel dulu. Barang-barang tadi kusuruh dry clean dulu ke petugas hotel," ucap Gojo saat mereka di lift naik.
"Eh?"
"Iya, pasti kotor kan mungkin di Mall sudah dipegang-pegang pengunjung lain. Soalnya itu bukan custom made."
Megumi hanya bisa sweatdrop dan mengangguk mengiyakan.
Kamar Gojo rupanya ada di lantai 10. Megumi sempat terkesiap saat masuk ke sana. Kamarnya besar sekali. Apa jujutsushi selalu menginap di tempat seperti ini kalau pergi misi?
"Sensei, kau mandi duluan saja. Pasti gerah," ucap Gojo sambil melepas outer nya. "Bajunya…tadi sudah kusuruh taruh kamar," mereka pun masuk ke kamar. Sudah ada tumpukan baju di sana. "Nah, itu sudah ada."
"Mm, baiklah," angguk Megumi. Ia pun melepas tas nya lalu mengambil pakaian itu untuk kemudian menuju kamar mandi.
"Pakaian kotormu taruh keranjang saja Sensei, biar ikut ter dry clean besok," terdengar teriakan Gojo dari luar.
"Ya," balas Megumi dengan suara yang sedikit dikeraskan.
Megumi pun mulai menanggalkan pakaiannya, lalu menuju shower. Ia nyalakan setelah mengatur suhu nya supaya hangat. Ia terdiam selama tubuhnya diguyur air hangat dari shower. Perlahan, ujung matanya melirik ke pintu kamar mandi yang tertutup.
Mereka…sudah pacaran kan? Apa Gojo tak mau sekedar menggodanya untuk meminta mandi bersama…?
Blush…
Seketika wajah Megumi memerah saat menyadari apa yang barusan terlintas di pikirannya.
Apa sih yang kau pikirkan Megumiii, omel Megumi pada diri sendiri sambil mempercepat mandinya.
Seusai mandi, Megumi menatap bayangannya sendiri di cermin sehabis menggosok gigi dan berkumur dengan mouthwash, sebuah handuk melingkar di pinggangnya. Jantungnya berdebar. Apa…dia keluar dengan penampilan begitu saja ya…?
Lagi, wajahnya memanas. Dasar gila, jangan macam-macam deh, Megumi kembali mengomel dalam hati. Ia pun bergegas memakai pakaian yang disiapkan pihak hotel tadi, yang rupanya sebuah kaos putih pendek dan celana longgar di atas lutut. Setelah itu Megumi mengambil handuk kecil dan mengelap rambut basahnya sambil keluar kamar mandi.
"Aku sudah selesai Gojo-san," ucap Megumi.
"Oh, ya," balas Gojo. Ia pun gantian menuju kamar mandi.
Megumi sempatkan melihat wajah Gojo yang masih terlihat letih. Heeh, untung saja Megumi tidak macam-macam tadi. Ia tahu Gojo masih kelelahan dengan hari ini. Sambil menunggu Gojo, Megumi duduk di tepi ranjang setelah mengambil tab kerja nya. Ia mulai meng hair dryer rambutnya yang sudah lembab setelah dihanduk, lalu membuka tab untuk melihat status Gojo.
Kondisinya saat ini ada di angka 87%. Lumayan tinggi juga. Apalagi setelah ini Gojo masih ada misi, belum bisa kembali ke HQ.
Megumi memberesi handuk dan hairdryer setelah itu. Lalu naik ke ranjang sambil memainkan tab. Tak lama kemudian Gojo keluar dari kamar mandi sudah memakai pakaian santai juga.
"...mm…" Gojo tampak mematung melihat Megumi yang sudah naik ke ranjang, ia tampak ragu-ragu.
Ah…
Megumi baru sadar, apa jangan-jangan tadi Gojo mau menanyai apa ia harus tidur di futon atau di sofa sementara Megumi di ranjang, semacam itu. Soalnya Gojo seolah ragu mau mendekati ranjang.
Megumi tersenyum lalu melambaikan tangan membentuk gesture mendekat. Dan benar saja, ekspresi Gojo langsung berubah ceria.
"Hehe," tawanya kecil sambil menghampiri ranjang.
Megumi juga menepi, lalu mengambil hairdryer dari meja. "Sini, ku keringkan rambutmu," ucapnya. Bisa ia lihat ekspresi Gojo yang semakin senang karenanya.
Megumi pun membantu Gojo mengeringkan rambut. Di jarak dekat bisa Megumi lihat gurat tipis di bawah mata Gojo, menandakan jujutsushi itu memang kelelahan.
"Sudah," ucap Megumi setelah merasa cukup. Ia mematikan hairdryer dan kembali meletakkannya di meja. "Ayo tidur, ini sudah tengah malam," ucap Megumi.
"Ya," balas Gojo. Ia mematikan lampu utama dan menyalakan lampu redup, lalu berbaring di samping Megumi yang sudah naik ke ranjang duluan. "Oyasumi, Sensei," ucap Gojo, berbaring miring ke arah Megumi.
"Mm," Megumi hanya mengangguk, lalu mengubah posisinya untuk miring ke arah Gojo, dan tubuhnya juga bergeser mendekat.
"Sen…sei…" ucap Gojo terbata dengan wajah bersemu.
Tangan Megumi terulur menyentuh lembut pipi Gojo, dan perlahan wajahnya kian mendekat.
"Sen…sei…" ulang Gojo, tapi pastinya ia tak keberatan, apalagi saat detik berikutnya Megumi mencium bibirnya dengan hangat. Gojo tersenyum, lalu memejamkan mata menikmati ciuman itu. Mulutnya terbuka saat Megumi meminta akses masuk dengan lidahnya, Gojo pun menyambut pagutan lidah itu.
Hingga perlahan Gojo merasakan hawa sejuk dan nyaman lewat ciuman itu. Matanya langsung terbuka. Megumi sedang melakukan heal?
"Sensei–..." Gojo segera melepaskan ciuman.
"Sssh…sh sh sh," Megumi menenangkan. Ia sedikit mengangkat tubuh atasnya dan kembali mendekat supaya Gojo tak bisa kabur lagi.
"Tapi kau pasti lelah setelah misi seharian," ucap Gojo.
"Tak apa, besok aku bisa bersantai seharian penuh. Okay," Megumi menurunkan tubuhnya dan kembali mencium Gojo. Kali ini Gojo tak menolak, ia bahkan meraih tubuh Megumi dan memeluknya lembut. Hawa sejuk itu kembali seiring ciuman mereka. Hawa sejuk yang begitu nyaman, membuat rileks seluruh otot tubuh yang lelah setelah aktivitas hari itu.
Megumi membuka mata saat merasa sudah tak ada respon lagi dari Gojo. Ia melepas ciuman, dan melihat jujutsushi itu sudah terlelap. Pasti Gojo lelah sekali setelah semua misi dan kegiatan hari ini. Syukurlah kini ia bisa rileks setelah mendapatkan heal darinya. Megumi tersenyum seraya mengusap lembut surai Gojo. "Oyasumi," bisiknya.
Megumi menarik selimut dan menutupinya sampai ke dada Gojo, lalu dengan perlahan berbaring di samping Gojo. Megumi mengangkat tangannya dan menatap di bagian punggung tangan, bekas gigitan kutukan tadi.
Ia tak mengatakannya, tapi tadi saat heal ia merasa bagian itu kembali sakit. Padahal sebelumnya tak sesakit itu, hanya seperti bekas terkena sesuatu yang panas seperti yang ia katakan pada Gojo sebelum itu. Tapi saat melakukan heal, Megumi merasa seperti ada rasa panas yang menusuk menghampiri tempat itu. Seperti disengat ubur-ubur atau semacamnya.
Megumi menghela nafas lelah. Ah sudahlah, besok kalau sudah tiba di HQ bisa ia tanyakan pada Shoko atau pada siapa. Untuk saat ini tidak terlalu mengganggu, pikirnya. Ia pun meringkuk ke balik selimut dan mulai memejamkan mata.
.
~OoooOoooO~
.
Megumi terbangun saat mendengar suara gemericik air. Dengan perlahan ia membuka mata, ia menatap ke samping, sudah tidak ada Gojo di sampingnya. Megumi beralih meraih ponsel untuk melihat jam, masih jam 3 pagi. Gojo mau pergi di jam segini kah? Megumi hanya bisa bertanya-tanya.
Ia pun duduk di tepi ranjang sambil membuka tab, melihat status Gojo. Kini persentasenya sudah turun ke angka 67%. Lumayan juga. Sepertinya mereka semakin kompatibel dan proses heal nya meningkat.
Tak lama kemudian Gojo keluar dari kamar mandi sudah memakai pakaian rapi, bahkan sudah memakai seragam HQ.
"Oh, hai. Apa aku membangunkanmu, Sensei?" sapa nya.
"Tidak," balas Megumi. "Kau mau pergi misi di jam segini?"
Gojo mengangguk. "Tadi dapat update an baru dari manager dan para madou, sepertinya aku harus turun tangan lebih cepat."
Megumi menghela nafas lelah. "Tidak makan dulu?"
Gojo menggeleng. "Nanti saja gampang," senyum Gojo seraya menghampiri Megumi lalu duduk di sampingnya. "Aku belum tahu kembali jam berapa. Nanti Sensei makan duluan saja. Oh, disini juga ada banyak fasilitas seperti kolam renang dan lain-lain. Kalau mau pakai saja fasilitasnya, nanti masukkan ke tagihan kamar."
Megumi mengangguk. "Terimakasih," ucapnya.
Gojo tersenyum. "Ya sudah, aku pergi dulu ya Sensei."
"..." Megumi terdiam lalu bangkit dan beralih duduk di pangkuan Gojo. Gojo sempat terkejut akan tingkah Megumi, tapi ia tak menolak saat kemudian Megumi menciumnya. Gojo pun memejamkan mata menikmati ciuman itu. Hingga alisnya berkerut saat merasakan heal dari Megumi, ia nyaris melepas ciuman, tapi tangan Megumi meraih belakang kepalanya seolah tak membiarkan Gojo kabur. Akhirnya ia pun melanjutkan ciuman itu.
Setelah merasa cukup, Megumi pun melepas ciuman, meninggalkan benang saliva tipis yang memisahkan bibir mereka.
Gojo mengusap bibir basah Megumi. "Arigatou, Sensei," ucap Gojo lembut.
Megumi mengangguk kecil. "Hati-hati," pesannya.
Setelah itu Gojo pun pergi untuk melaksanakan misi nya.
.
~OoooOoooO~
.
Megumi kembali tidur dan terbangun saat pintu kamar nya diketuk.
"Room service," terdengar suara dari luar.
Megumi menatap sekeliling untuk mengumpulkan kesadaran. Ia pun bergegas bangkit untuk membukakan pintu si petugas hotel dan mempersilahkan dua petugas hotel itu masuk. Rupanya mereka sekalian membawa pakaian Megumi yang sudah di dry clean semalam beserta koper nya.
Saat salah satu petugas itu membuka tirai jendela, rupanya matahari sudah cukup tinggi.
"Apa tidak apa-apa aku mandi dulu?" tanya Megumi.
"Tak apa, kami akan membersihkan bagian lain dulu," ucap mereka dengan senyum ramah.
Megumi pun kembali ke kamar menyeret kopernya, lalu membawa sesetel pakaian ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, ia meraih ponsel dan dompet lalu pergi keluar kamar, dua petugas itu masih membersihkan bagian ruang tengah. Megumi pun keluar kamar. Ia menatap jam, sekitar setengah sembilan. Megumi memutuskan turun ke restaurant untuk sarapan.
Sambil makan ia sempatkan mengecek ponsel. Tapi tak ada chat masuk dari Gojo. Mungkin ia sibuk dengan misi nya, pikir Megumi. Megumi menatap menerawang ke luar restaurant. Dia mau apa ya hari itu. Dia tak ada rencana, dan Gojo juga tak ada untuk menemaninya. Tapi…mumpung di tempat baru, mungkin dia akan jalan-jalan saja.
Megumi pun membuka ponsel untuk browsing tempat-tempat yang bagus di sekitar situ, setelah menemukan beberapa, ia pun menyelesaikan makan, lalu pergi dari hotel itu. Ia memilih untuk naik bus saja keliling kota, dan akan turun di halte yang dekat dengan tempat yang ia browse tadi.
Selama perjalanan ia menatap keluar jendela, melihat pemandangan luar. Ah, rupanya ia masih berada dekat laut juga. Ia melewati sebuah jalan di tepian tebing, dari sana ia bisa melihat pemandangan laut yang jaraknya tak begitu jauh.
Bus itu terus melaju sampai melewati terowongan, dan berbelok meninggalkan jalur yang berada di samping laut itu. Kini pemandangannya berganti warna hijau setelah melewati terowongan, hingga bus itu berhenti di sebuah halte tak jauh dari gapura besar bertuliskan objek wisata air terjun. Megumi turun di halte tersebut, beberapa pengunjung juga turun.
Mereka memasuki gapura objek wisata itu, ada dua jalur, satu alternatif, satu jalan besar dan disediakan kereta wisata di sana untuk dinaiki pengunjung menuju tempat wisata. Orang-orang yang tadi turun dari bus bersama Megumi memilih menaiki kereta wisata, sementara Megumi memilih jalur alternatif karena merasa ingin berjalan santai saja.
Megumi pun melewati jalur alternatif itu yang lajurnya memasuki jalur pepohonan, pemandangannya indah sekali dan suasananya sejuk. Di depan ia juga melihat beberapa pengunjung melewati jalur itu meski sedikit. Megumi berjalan santai menikmati suasana sejuk itu, ia tarik nafas dalam-dalam, mengisi paru-paru nya dengan udara yang begitu segar.
Selama perjalanan ia melihat beberapa kutukan, tapi kecil saja yang ia yakin bahkan tak masuk kelas-kelas. Mereka juga hanya merayap di pepohonan, sama sekali tak mendekati manusia yang lewat di sana. Oh, atau karena ada talisman mungkin? Megumi baru menyadari itu saat melewati sebuah tiang di tepi jalur yang ada talisman menempel di sana. Sepertinya antisipasi dari pihak wisata.
Cukup lama Megumi berjalan, ia tiba di pasar seni objek wisata itu. Di sana barulah ramai dengan para pengunjung. Banyak sekali merchandise dan jajanan dijual di sana. Megumi juga ikut melihat-lihat.
"Silahkan mampir."
"Mari mampir."
"Selamat datang."
Terdengar riuh pedagang menawarkan dagangan mereka. Megumi melirik tukang jajanan, wah kalau bersama Gojo pasti Gojo akan senang sekali. Tanpa sadar Megumi tertawa kecil mengingat bagaimana antusias nya Gojo kemarin saat belanja di Okinawa bersamanya. Saat menyadari itu barulah ia menutup mulutnya sendiri dengan tangan, merasa malu kenapa ia tersenyum sendiri.
Ia melanjutkan jalan dan kembali melihat-lihat, kali ini matanya dibuat tertarik pada sebuah waterglobe yang dijual di salah satu stand. Waterglobe itu berisi pemandangan malam, dengan gunung dan danau di dalam nya. Warnanya perpaduan antara gradasi biru, juga taburan warna biru berkilauan sebagai bintang di bagian langitnya, juga kilauan di bagian air, ada warna soft blue di bagian danau dan gunungnya seperti kunang-kunang atau spirit? Yang jelas indah sekali. Saat melihat itu ia teringat pada muryoukuso milik Gojo.
Ada satu waterglobe lagi yang menarik perhatian Megumi. Yang itu berisi pemandangan laut dan langit. Warna biru nya lebih muda dan cerah, dengan sapuan warna putih awan. Ada tambahan beberapa detail seperti burung yang terbang, juga di bagian bawahnya ada pulau dan pepohonan mungil. Tapi warna birulah yang mendominasi, dan kali itu membuat Megumi teringat akan mata cerah Gojo. Benar-benar cemerlang.
Sebenarnya banyak waterglobe dengan pemandangan lain, seperti pemandangan air terjun wisata itu, atau pemandangan hutan, tapi Megumi malah tertarik dengan yang dua itu. Dan akhirnya Megumi pun berakhir membeli keduanya.
Megumi melanjutkan jalan setelah menenteng tas kertas berisi waterglobe yang tadi dibeli. Kali ini menuju jalan keluar dari pasar wisata itu. Tapi saat di jalan, ia melihat tukang jajanan. Mungkin seperti taiyaki, tapi bentuknya bermacam-macam, dan isiannya juga bervariasi. Ah…kalau melihat itu Gojo pasti menyukainya, pikir Megumi.
Megumi mendekat, melihat-lihat menu nya, lalu memutuskan untuk membeli yang berbentuk cumi-cumi dengan isian susu vanila kental. Megumi tak terlalu suka manis, kalau isi coklat seperti kesukaan Gojo sepertinya terlalu manis baginya, tapi kalau vanilla baginya masih bisa ditolerir.
"Terimakasih banyak," ucap pedagang itu mengantar kepergian Megumi.
Megumi pun keluar dari area pasar itu, ia melihat-lihat sekeliling mencari tempat duduk. Ia melihat sebuah bangku taman di bawah pohon yang masih kosong, ia pun menghampiri bangku itu dan duduk di sana. Ia letakkan tas kertas di samping tubuh, lalu mulai memakan jajan di tangannya yang masih hangat.
Megumi makan sambil menikmati pemandangan, dari sana sudah terlihat air terjunnya, nanti setelah makan ia akan kesana. Mata Megumi melirik lagi dan mendarat di tas kertas berisi waterglobe tadi. Kalau dipikir-pikir…dari tadi yang ia ingat soal Gojo terus. Kalau ada Gojo lah, Gojo pasti suka lah, yang ini mengingatkannya pada Gojo lah…
Semburat tipis muncul di pipi Megumi. Ia berdehem kecil, kenapa juga ia memikirkan Gojo sepanjang hari. Ia mengalihkan pandangan dari waterglobe itu sambil kembali menggigit jajanannya, kali ini ia menatap jajanan berbentuk cumi itu. Bentuk cumi…dan dari bagian ujung yang Megumi gigit barusan meleleh krim vanilla berwarna putih…
Tes…
Krim itu meleleh, menetes keluar.
"..." Megumi terdiam, dua detik kemudian…
Blush…!
Wajahnya memerah total dan berasap seperti kepiting rebus. Dengan segera Megumi menggigit jajanan itu supaya bentuknya tak seperti cumi lagi dan membuat Megumi berakhir tersedak.
"Uhukk–...uhuk…" Megumi menepuk-nepuk dadanya sendiri. Untunglah ia membawa minum dan ia pun minum supaya tak tersedak lagi.
"Pwah…" ia menghela nafas lega setelah berhenti tersedak. "Dasar gila, memangnya apa yang kau pikirkan," gerutunya pada diri sendiri. Ia pun segera menghabiskan jajanan di tangannya lalu melangkah menuju air terjun.
.
Suasana di sana lumayan ramai ternyata, mungkin karena akhir pekan. Megumi menitipkan sepatunya ke tempat penitipan barang, ia lalu turun ke sungai, melompat ke batu-batu di atas sungai nya untuk bisa menikmati air terjun indah itu lebih dekat. Saat merasa menemukan spot yang cocok, ia pun duduk di batu besar itu. Saat itulah ia merasa mendengar dering ponsel disela suara derasnya air terjun.
Megumi bergegas merogoh tas kecilnya untuk mencari ponsel, tapi ponsel nya dalam keadaan layar mati, berarti bukan ponselnya yang bunyi. Ia pun meraih tab kerja nya, benar saja, ada satu panggilan masuk. Dan kalau di tab kerja, kemungkinan besar dari HQ atau orang terkait. Megumi memasang earpod lalu menerima panggilan itu yang ternyata memang dari HQ.
"Fushiguro-Sensei, posisi Anda ada di mana?" tanya mereka.
"Eee….di air terjun Mizumi, tempat wisata," jawab Megumi. "Ada apa? Apa ada yang bisa kubantu?"
"..." untuk beberapa saat hening tak ada jawaban. "Ah, tidak, hanya memastikan saja. Setelah ini tolong kirimkan foto Anda di lokasi sekarang, ke link yang akan kami kirim. Terimakasih."
Meski sedikit bingung, Megumi menurut saja. Megumi pun mengambil selfie dengan background air terjun, lalu mengirimkannya lewat link yang dikirim HQ. Tak berapa lama mereka membalas.
'Terimakasih. Beberapa jam ke depan tolong kirimkan hal yang sama. Foto Anda serta lokasi Anda. Terimakasih.'
'Baik,' ketik Megumi. Saat mengetik itulah Megumi sepertinya menyadari sesuatu, dan ia pun tertawa. Mungkin karena ia ikut Gojo ke misi. Sama seperti Nanami kemarin yang mewanti-wanti Gojo untuk tidak membawa Megumi ke misi, ia rasa sekarang HQ juga memastikan keberadaannya.
"Heeehh…" Megumi menghela nafas panjang setelahnya. Ia duduk menghadap air terjun, merasakan sejuknya udara. Masih memegang tab kerja Megumi memutuskan untuk mengecek statistik Gojo. Ia perhatikan setiap data, persentase nya, heart rate nya. Megumi tersenyum tipis, dan kembali menatap air terjun dengan tatapan sedikit sayu.
Andai dia di sini, menikmati pemandangan ini bersamaku.
Kembali hati Megumi mengharapkan kehadiran Gojo di sampingnya.
.
~OoooOoooO~
.
Setelah puas dari air terjun Megumi memutuskan jalan-jalan ke tempat lain. Sama seperti sebelumnya, ia naik bus keliling kota. Tak lupa ia memberikan update untuk HQ tentang keberadaannya. Selama jalan-jalan itu Megumi masih tak mendapatkan kabar apapun dari Gojo, tak tahu jujutsushi itu kapan selesai misi. Jadi Megumi pun melanjutkan hari nya dengan berkeliling, daripada di hotel sendirian.
Bahkan sampai melewati jam makan siang. Ia makan di luar, setelah itu lanjut jalan-jalan lagi. Sampai sore hari, Megumi memutuskan untuk ke pantai. Ia ingin menikmati pemandangan senja di tepi pantai, jadi ia pun menuju salah satu pantai di sana.
Matahari sudah sangat condong ke arah barat saat Megumi tiba di pantai. Lagi-lagi ia melepas sepatunya, menikmati dinginnya pasir pantai di kaki jenjangnya. Ia berjalan-jalan saja di sana, sesekali turun ke tepian ombak sekedar merasakan air laut sambil melangkah. Ia terus berjalan sampai ke tempat yang jarang orang, lalu memilih satu spot untuk duduk menunggu matahari terbenam.
Ia menghela nafas panjang saat duduk menikmati suasana. Kakinya sempat ia benamkan di dalam pasir yang agak basah, ia main-mainkan di sana. Megumi melirik tas kertas di samping tubuhnya, ia lalu mengeluarkan waterglobe yang tadi ia beli, meletakkannya di pasir. Cahaya matahari sore memantul indah dari waterglobe itu. Megumi mengambil beberapa foto estetik dengan benda itu dan pemandangan sore.
Setelah selesai ia memutuskan untuk update status dengan foto-foto barusan. Ngomong-ngomong soal foto, ia tadi sudah laporan ke HQ kan ya dia di mana?
Sekedar memastikan, Megumi meraih tab kerja dan melihat apakah dia sudah mengirimkan foto dan lokasi, dan ternyata memang sudah. Saat melihat tab kerja itulah gantian ponsel Megumi yang berdenting pelan. Megumi beralih ke ponselnya, dan ekspresinya berubah cerah saat ternyata itu chat dari Gojo.
'Sensei ada di mana?' tanya Gojo.
Megumi pun membalas chat itu, memberitahu bahwa dia di pantai, lalu menanyakan apakah Gojo sudah selesai misi. Megumi mengerutkan sebelah alis saat Gojo membalas dengan menyuruhnya share loc. Apa…Gojo mau menyusulnya kesitu?
Megumi pun menuruti kemauan Gojo untuk share loc. Setelahnya hening, tak ada balasan lagi. Dan Megumi juga memilih untuk memeluk lutut, menyembunyikan wajahnya yang tersipu tanpa alasan jelas. Ia kembali menatap cakrawala meski setengah wajahnya masih terbenam oleh lengannya sendiri. Matahari sudah semakin rendah, mendekati garis horizon. Suara ombak kecil bersahutan, menyapu riuhnya debar jantung Megumi.
"Sensei," tak lama kemudian terdengar suara yang membuat debaran jantung Megumi kian tak karuan. Megumi mengangkat kepalanya dan menoleh, ia melihat Gojo melambai berjalan ke arahnya. Ia masih mengenakan seragam HQ.
"Kau baru kembali?" tanya Megumi basa basi.
"Iya. Karena kupikir kau pasti jalan-jalan, aku menghubungi dulu siapa tahu masih diluar, kan bisa kususul, hehe," balas Gojo seraya duduk di samping Megumi. Ia menghela nafas seolah melepas lelah, dilepasnya seragam jujutsushi nya dan ia letakkan di samping badan. Ia juga lalu mulai melepaskan sarung tangan.
"Harusnya kau langsung kembali ke hotel saja. Pasti lelah," ucap Megumi.
"Tak apa. Aku masih punya banyak energy, lagipula ini sudah santai, istirahat juga namanya," Gojo juga melepas sepatu, lalu ikutan Megumi membenamkan kakinya ke pasir. "Wuaah nyaman juga ternyata."
Megumi tertawa kecil menanggapi itu. Keduanya lalu diam menikmati pemandangan senja yang begitu indah.
"Ini apa?" tanya Gojo saat menyadari benda bulat di dekat Megumi.
"Oh, tadi kubeli di tempat wisata. Bagus kan," balas Megumi. Kubeli karena warnanya mengingatkanku pada matamu, nyaris saja Megumi mengatakan itu, tapi untunglah tak keceplosan. Ia kembali menelan kata-katanya.
"Bagus. Apa ini ada lampu hologramnya juga?" Gojo membolak balik benda itu. "Ah, ada. Ini kan."
"Eh? Seriusan? Wah, aku malah belum melihat."
Gojo menggeser saklar ke on, dan muncul pendar hologram yang memancarkan pemandangan di dalam waterglobe meski tak terlihat jelas karena mereka ada di tempat terbuka dan suasana belum cukup gelap.
"Nanti coba saja di hotel. Pasti bagus," ujar Gojo.
"Apa yang ini juga sama ya," Megumi meraih satu waterglobe lagi bersamaan dengan Gojo yang menaruh waterglobe di tangannya sehingga tangan mereka sempat bersentuhan.
Tek…
Keduanya terdiam dan saling tatap. Tangan Gojo beralih meraih tangan Megumi, menggenggamnya di pasir pantai yang sejuk. Perlahan wajah mereka mendekat dan ciuman itu pun terjadi. Ciuman lembut yang disaksikan matahari senja. Mata keduanya terpejam, keduanya memagut lembut bibir masing-masing.
Gojo mengerutkan alis saat lagi-lagi ia merasa sejuk, tanda Megumi tengah melakukan heal padanya. Lalu seperti sebelumnya, tangan Megumi juga meraih wajah Gojo, mengusapnya lembut sebelum beralih memeluk leher Gojo seolah tak membiarkannya pergi.
Ciuman mereka terlepas beberapa waktu kemudian. Gojo tersenyum lembut menatap wajah Megumi. Ia raih tangan Megumi yang memeluknya, lalu mengecup tangan itu.
"Jangan melakukan heal terus, nanti lama-lama kau mengira aku minta cium hanya karena ingin mendapat heal," ujar Gojo.
"Tak apa, cuma sedikit saja. Aku tak memaksakan diri," balas Megumi. Ia terdiam sesaat.
"Sensei?" panggil Gojo.
Megumi kembali menatap Gojo. "Bagaimana kalau setiap kembali misi kau menemuiku. Aku akan melakukan heal meski sedikit, mungkin setidaknya bisa menenangkanmu."
Gojo mengerutkan alis kemudian tertawa kecil. "Tidak perlu seperti itu. Aku sudah biasa seperti ini. Kita heal di saat kau libur saja Sensei, saat kondisimu prima. Kalau setiap aku pulang misi dan kau sedang kerja bagaimana. Nanti energy mu habis."
"Tidak akan, aku tak akan melakukan heal secara penuh. Lagipula, apa kau tidak merasa? Semakin lama heal kita semakin efektif. Heal yang awalnya berat bagiku, sekarang lebih mudah kulakukan. Persentasemu juga berkurang lebih cepat. Mungkin angka 20% tidak jauh lagi."
"..." Gojo terdiam, hanya senyum tipis yang masih di sana. Ia eratkan tangan yang menggenggam tangan Megumi. "Ii no…?" tanya nya lirih.
Megumi mengangguk. "Ya, datanglah kepadaku setiap kau pulang misi."
"...baiklah," balas Gojo dan tersenyum manis dengan mata terpejam ke arah senja.
Blush…
Wajah Megumi memanas menatap pemandangan indah itu. Jantungnya berdegup kencang yang membuatnya langsung memalingkan muka. Ia berharap, semoga saja Gojo tak menyadari degupan jantungnya dari kedua tangan mereka yang masih terhubung.
.
.
.
~ To be Continue ~
.
Support me on Trakteer : Noisseggra
