Disclaimer : BoBoiBoy Galaxy milik Monsta Studio, cerita dan karakter original milikku.

Main Genre: Thriller/Action/Mystery

Others : Friendship-Family

Warning! OOC! Elemental as Siblings, humanoid alien and robot, OC etc.

•••

Now playing : NCT Dream - Fire Alarm

•••

Setelah perjalanan yang cukup panjang -menurut Halilintar- menuju ke ruangan atasan mereka, akhirnya mereka tiba di sana. Helaan napas lega lolos dari bibirnya.

Taufan terkekeh kecil.

"Aku heran kenapa kamu bisa memiliki penggemar sebanyak itu, Kak? Terlebih lagi kebanyakan dari mereka cantik-cantik," ujarnya enteng dengan tangan dilipat di belakang kepala.

Perkataannya itu dibalas putaran mata malas dari Halilintar. "Mana kutahu. Mereka saja kurang kerjaan mengejar orang yang jelas tidak suka."

"Tapi, kamu tetap tersenyum pada mereka?" Sebelah alis Taufan terangkat sangsi. Satu sudut bibirnya masih ditarik naik membentuk seringai geli akan tingkah Halilintar. "Tidak takut kalau nanti mereka terbawa perasaan?" lanjut Taufan bertanya.

"Aku mencoba menghargai. Kalau mereka bawa perasaan atau tidak, itu bukan urusanku."

"Jahat sekali," komentar Taufan.

"Berisik."

Namun, bukannya berhenti dia justru semakin gencar melancarkan godaan ada Halilintar. Kilatan jail di mata biru safirnya terpancar jelas. Tampaknya Taufan benar-benar menikmati kepulangan Halilintar dari tugasnya. Selain melepas rindu, juga membuatnya dapat kembali menjaili kakak sulungnya itu.

Bahkan, karena berdiri tepat di sisi kiri Halilintar membuat Taufan semakin gencar. Ia sesekali menyenggol lengan kakaknya. Tidak peduli jika Halilintar sejak tadi berusaha menahan kekesalan. Sedangkan Gempa, pemuda itu sudah pasrah. Ia hanya dapat tersenyum kaku ketika sosok di belakang meja itu menatap lurus tanpa emosi ke arah mereka bertiga.

Tingkah mereka mungkin tidak akan berhenti kalau saja suara deheman singkat dan berat tak terdengar. Seketika saja semua atensi segera beralih. Mereka segera berdiri tegap saat mendapati sorot dingin dari orang di depan sana.

"Baiklah. Kalian sudah selesai bertengkar? Jika belum, silakan lanjutkan sampai puas. Saya tidak masalah," sindir pria di balik meja itu.

"Maaf, Koko Ci."

Pria itu melotot. "HEH!"

"Maaf, Komandan."

Komandan bernama Koko Ci itu menarik napas panjang dengan mata terpejam. Menahan diri agar tidak meledak pada tiga anak muda itu.

Setelah merasa cukup baik, manik di balik kacamata itu terbuka. Menampakkan sepasang mata cokelat dengan kantung mata tebal.

Taufan meringis kecil. "Komandan, kapan terakhir kali Anda tidur?" tanyanya tiba-tiba.

Kening Koko Ci berkerut heran. Namun, tetap memberikan jawaban pada pertanyaan barusan. "Kemarin malam."

Taufan membulatkan bibir seraya mengangguk paham. "Oh pantas saja."

"Apanya yang pantas saja?" Koko Ci semakin bingung dengan maksud dari ucapan Taufan.

"Pantas saja Anda seperti seekor panda. Ada punya kantung mata yang hitam tebal," jawabnya enteng dengan kepala dianggukkan.

Akan tetapi, Taufan tidak sadar jika dia telah menyulut emosi seseorang. Ia kemudian meringis saat sebuah spidol mendarat sempurna di atas jidatnya. "Aduh! Siapa yang melempar-"

"Apa? Kamu mau protes?" tantang Koko Ci.

"Tidak, Komandan," cicitnya pelan.

"Bisa-bisanya dalam keadaan genting begini masih bercanda. Sudah, sekarang kita kembali ke tujuan awal saya memanggil kalian bertiga." Laptop di depannya di geser ke samping dan memasang raut serius . "Apakah kalian sudah mendengar berita yang sedang ramai hari ini?" tanya Koko Ci memulai pembicaraan.

Ketiganya mengangguk. Taufan yang sejak awal penasaran kenapa tugas ini dilimpahkan pada divisinya segera angkat suara.

"Tapi, tidak kami mendapat tugas begini. Kecuali memang ada alasan tersendiri yang mengharuskannya agar diselesaikan oleh kami. Terlebih, Anda baru tahu bukan jika kakak sulung kami baru saja kembali dari tugas luar kotanya?" Taufan langsung bertanya pada intinya. Ekspresi serius muncul menggantikan sisi nakalnya barusan.

Halilintar saling bertukar pandangan Gempa sejenak. Ini dugaan mereka saja atau memang Taufan sedari awal curiga dengan sesuatu. Namun, saat akan bertanya, suara berat sang komandan menginterupsi.

"Memang. Maka dari itu, saya tugaskan kasus ini pada kalian," tukasnya. "Kamu jangan dulu curiga pada saya, Taufan. Mungkin ketika menyelidiki kasus ini kalian akan menemukan hal menarik nantinya." Mata bermanik cokelat itu dilarikan sedikit ke arah Halilintar seolah memberikan kode.

Alis Halilintar bertaut kebingungan beberapa saat, lalu matanya membulat. Berbagai praduga tiba-tiba saja datang mampir di kepalanya. Ada setitik harapan muncul di manik delima itu.

Kedua sudut bibir Koko Ci naik sesaat sebelum kembali ke wajah seriusnya.

"Saya tidak akan memberi instruksi lagi. Baca saja berkas yang baru saja di kirim dari tim forensik. Mereka baru saja selesai mengidentifikasi mayat dari korban pembunuhan itu."

Flashdisk dan berkas ia serahkan pada Halilintar. Ia tak langsung membuka-buka dulu, tetapi dipandangi sejenak berkas tersebut, lalu kembali pada Koko Ci.

Halilintar terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk paham. "Baiklah."

"Kalau begitu, sekarang kalian pergi ke lokasi. Akan ada orang yang membantu kalian nanti."

"Dimengerti."

"Bubar!"

•••

Sesuai perintah, Halilintar, Taufan dan Gempa bergegas menuju lokasi di mana pembunuhan terjadi. Sepanjang perjalanan ketiga tidak bersuara. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Terlebih Halilintar yang memang punya firasat tersendiri.

Berdasarkan kode lirikan dan juga senyum tipis Koko Ci, ia berasumsi memang ada sesuatu. Mereka memang sering mendapatkan kasus yang tidak ringan dan biasanya selalu beralasan. Kali ini juga sama. Hanya saja, terlihat seperti biasa saja. Tidak heran kalau adiknya sampai protes.

Halilintar memutar kemudi saat melihat lokasi yang sudah diberi garis kuning kepolisian. Di sana masih tampak sekali orang-orang berkerumun antara penasaran atau bagian dari liputan.

Awalnya biasa saja. Mereka tidak sadar dengan keberadaan mobil yang dibawa Halilintar. Namun, secara sengaja Taufan menekan tombol sirene terdengar. Halilintar melotot kesal. "Kenapa dinyalakan?"

Mata Taufan dikerjapkan beberapa kali. "Apa? Aku sengaja biar mereka memberi jalan," jawabnya santai.

"Tidak harus dengan sirene juga. Kamu tidak kasihan lihat nenek itu kaget," tunjuk Halilintar pada seorang nenek dengan sepedanya di pinggir jalan.

Taufan ikut melihat. Matanya dipicingkan sesaat kemudian dia membulatkan bibirnya. "Kalau beliau tidak usah dikhawatirkan. Jangankan dikagetkan sirene, hampir tertabrak mobil saja beliau mana peduli," jelasnya dengan tangan dikibaskan. Meminta Halilintar jangan terlalu cemas.

Gempa yang sedari tadi mendengarkan percakapan dibuat heran. "Yang benar saja?"

"Tidak percaya?" Taufan meliriknya lewat ekor mata. "Sebentar, aku kasih buktinya dulu biar kalian pada percaya."

Setelah itu, setengah tubuhnya di condongkan keluar jendela. Ia menatap lurus pada sosok nenek tua di pinggir. Tanpa berpikir dua kali, Taufan berteriak memanggilnya.

"NENEK! ANDA BAIK-BAIK SAJAKAN?!"

"HAH!?" Nenek tersebut terkejut. Kepalanya ditolehkan ke kanan dan ke kiri mencari sumber teriakan tersebut.

Mengetahui itu, Taufan sekali lagi berteriak. "DI SINI!"

"BUYUNG! KAMU BAIK-BAIK SAJA, NAK! KAKIMU TIDAK KESANGKUT LAGIKAN?"

Sekali lagi sang nenek berteriak, bertanya keadaan Taufan. Namun, pertanyaan tersebut membuatnya terdiam. Ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana saat nenek itu dengan polosnya mengatakan hal barusan. Dari sekian banyak tingkah keren ( menurutnya ) mengapa harus itu?

Taufan mendelik kesal ketika suara tawa tertahan berasal dari samping terdengar. "Jangan tertawa!"

"Buyung, Buyung Upik sekalian."

"Diam deh, Kak. Kamu kalau kumat mengejek orang beneran bikin aku mau tenggelamin ke sumur," ketus Taufan.

"Tapi, aku heran kenapa kakak bisa kenal beliau? Mana akrab banget lagi," tanya Gempa bingung.

"Oh, itu. Awalnya aku mau menolong beliau dari kecopetan, kebetulan juga ketemu di minimarket. Cuman, kayaknya jadi buang-buang waktu secara percuma saja."

"Percuma bagaimana? Niatmu, kan baik ingin membantu."

"Kalau orangnya biasa saja, aku nggak akan bilang begitu. Tapi, nenek itu beda dari yang lain. Beliau ternyata lebih kuat hingga mampu memukuli copet sampai babak belur," jelas Taufan meringis.

Taufan bergidik ngeri jika ingat kejadian itu. Betapa brutalnya pukulan yang dilayangkan sang nenek pada pencopet hingga membuat mereka jatuh tak sadarkan diri. Belum lagi benjolan di kepalanya.

Benar-benar menyeramkan. Perempuan tidak yang muda, tidak yang tua sama saja.

"Kalau melihat beliau, aku jadi keinget sama dia."

Mobil telah terparkir rapih. Halilintar menoleh cepat pada Taufan dengan alis terangkat. "Dia?"

"Iya, dia." Taufan berkata santai sesaat kemudian mengerutkan keningnya. "Tunggu. Kenapa kamu bertanya seakan nggak tahu siapa yang aku maksud?"

Tidak mungkin Halilintar begitu, kan? Apalagi dia itu termasuk orang terdekatnya.

"Ya ... karena memang nggak tahu? Sudahlah, kita ke sini bukan untuk bahas hal lain. Ada yang lebih penting dari itu." Halilintar mencabut kunci mobil dan keluar terlebih dahulu.

Sedangkan di belakangnya, Taufan dan Gempa saling berpandangan. Mereka kemudian menatap punggung Halilintar yang kian menjauh.

Ini hanya perasaan mereka saja atau kakak sulungnya itu bertingkah seakan-akan lupa? Namun, dari sorot mata yang Taufan tangkap, ada sedikit binar tidak biasa di sana.

Helaan nafas lelah lolos dari bibir Gempa. Datu tangannya terangkat, lalu menepuk bahu Taufan beberapa kali.

"Jangan terlalu dipikirin. Biarin saja kak Hali dengan urusannya dulu. Tentang dia masih bisa menyusul lain kali. Toh, itu bukan tujuan utamanya saat ini," ujarnya menenangkan Taufan. Meskipun dia sendiri juga merasa ada keanehan akan sikap Halilintar.

Taufan mengangguk. Mereka berdua pun segera menyusul Halilintar yang saat ini sedang berbicara dengan seseorang berambut ungu jabrik di sana.

Sebentar, rambut ungu?

•••

"Baiklah. Terima kasih atas bantuan kalian semua. Mulai dari sini serah pada divisi penyidikan Halilintar," ujar pemuda berambut ungu pada para polisi.

Mereka mengangguk paham. Bersamaan dengan itu, seseorang yang dimaksud sudah tiba.

"Hoi, landak ungu. Sejak kapan kamu ada di Pulau Rintis?" tanya Halilintar tanpa berbasa-basi.

"Kebiasaan. Kalau datang minimal nyapa dulu atau ucapkan salam, bukannya malah nodong pakai pertanyaan." Pemuda itu menatapnya kesal. "Terus, berhenti panggil aku begitu. Aku punya nama ya," ujarnya jengkel.

"Namamu terlalu keren. Lebih cocok dipanggil Ah Meng."

"HOI! Namaku itu-" kalimat yang akan dilontarkan terpotong oleh teriakan membahana dari seseorang. Saat menoleh, dia mendapati dua orang serupa dengan Halilintar.

"PANG! KAPAN KAU PULANG?!"

Ia berseru sambil melambaikan tangan ceria.

"Woy! Namaku Fang lah."

Taufan yang sudah ada di hadapan mereka manggut-manggut paham. "Oh, namamu Fang Lah. Okelah."

"Dahlah." Fang kelihatan sudah lelah dengan tingkah kembaran itu. "Oh iya, kenapa kalian lama banget? Aku hampir kelimpungan di sini sendirian. Memang ada bantuan dari kepolisian, tapi mereka cuman mengamakan saja," ujarnya bertanya.

"Kami dipanggil dulu ke kantor. Jadi, agak terlambat kemari. Lagi pula, berita dadakan disampaikan," jawab Gempa tenang. Ia berjongkok dan mulai mempersiapkan barang apa saja yang akan digunakan.

"Ya maaf. Itu kelalaianku yang telat ngasih tahunya," cetusnya sambil mengusap belakang kepala.

"Nah karena sudah di sini, sekarang lebih baik kalian semua segera melakukan pencarian petunjuk penting." Halilintar membuka tas pinggangnya dan mengambil sebuah glove. "Oh iya, Taufan, kamu ikut denganku," ajaknya.

Taufan mengangguk. Mereka kemudian berpencar ke setiap sudut dari lokasi tersebut, berharap menemukan setidaknya hal yang patut dicurigai. Bahkan, beberapa orang yang bertempat tinggal tak jauh dari sana pun ikut ditanyai.

Ketika berada di dekat sebuah pohon besar, Halilintar berjongkok sebentar. Manik delimanya mengamati rumput yang berada di sekitar pohon itu.

"Kak Hali, kenapa kamu tiba-tiba menerima tugas ini begitu saja?" Taufan tiba-tiba saja bertanya seraya menelisik sudut-sudut yang dirasa mencurigakan. "Padahal, ini bukan tugas berat seperti yang sering kita terima dulu."

Gerakan tangan Halilintar yang mengusap akar pohon berhenti. Ia tidak segera menjawab. Bibirnya dikatupkan rapat, lalu tak berapa lama kemudian ia menarik napas dan menghembuskan perlahan. Sampai matanya menangkap sebuah objek dari balik rerumputan itu.

"Karena seperti kata komandan Koko Ci, kita mungkin akan menemukan hal menarik di sini. Beliau punya alasan kuat, Fan."

"Maksudnya?" tanya Taufan tak paham.

Halilintar mengambil benda yang ditemukannya itu, lalu berbalik.

"Seperti benda ini."

"Itu ..."

•••

To be continued

Ibaratnya nih ya, ini versi halusnya gitu wkwk