Read My Music by GoodMornaing
Cast: Park Chanyeol x Byun Baekhyun
Genre: Romance and Drama
.
.
.
Chapter 44 : Fireworks!
- Happy Reading -
.
.
.
Seoul, Korea Selatan. Lokasi Mansion Byun.
Musim Semi, 2014. Pukul 23:20
- 40 menit sebelum insiden -
Setelah pertemuan yang manis lagi mengharukan itu, dengan menakjubkannya Jesper berkata, "Saya sudah mendengar beberapa cerita tentang anda. Dan melihat dari situasi kalian berdua, saya yakin Ayah saya sekarang masih memiliki beberapa hal yang ingin dibicarakan bersama anda. Dan kebetulan saya sekarang ingin menyelesaikan hitungan soal yang sedari tadi belum saya selesaikan. Jadi, saya harap anda berdua membicarakan masalah diantara kalian berdua ditempat lain, dan biarkan saya fokus tanpa terganggu disini." Dengan percaya diri dan kalimat- kalimat yang sama sekali tak mencerminkan umurnya Jesper berkata tegas sambil menatap Baekhyun dan Chanyeol bergantian.
Setelah mendengar itu, dengan kompak Baekhyun dan Chanyeol saling melempar pandang. Kemudian sebuah tawa renyah secara bersamaan pecah dari keduanya.
"Ahh.. Kau benar, maafkan kami berdua karena mengganggu waktu belajarmu. Kami permisi kalau begitu, aku akan mengarahkan salah satu Maid dan beberapa Bodyguard untuk menunggu didepan pintu, bila kau memerlukan sesuatu kau tinggal memanggil mereka." Ujar Baekhyun setelah tawanya reda, seraya mengelus lembut rambut si anak kesayangan.
Jesper mengangguk. Kemudian manik mata berwarna Abu- abu itu dengan binar polosnya menatap kedua pria dewasa dihadapannya berjalan menjauh. Dan tersenyum saat Chanyeol sesekali menoleh kemudian melambai jenaka padanya. Bagaimana harus menjelaskannya.. Jesper selama ini lahir dan hidup dalam lingkungan laboraturium dan Rumah sakit tempat ibunya bekerja.
Selama dirinya hidup. Dirinya dan orang sekitarnya mengetahui akan bakat apa yang dimiliki olehnya. Dan semua orang disana memperlakukan dirinya sebagai orang yang sangat berbeda, amat sangat menegaskan bahwa dirinya adalah anak yang tak biasa. Anak yang terlahir berjuta-juta banding satu. Anak yang mungkin hanya terlahir satu orang selama beberapa ratus tahun sekali. Terlampau spesial hingga terasa menyebalkan bagi Jesper.
Namun di Mansion Byun tak seperti itu, disini Jasper tetap diperlakukan seperti bocah biasa 4 tahun. Namun disaat yang sama semua orang seakan mengerti bahwa dirinya memang memiliki kapasitas otak dan nalar sebesar itu, serta paham sekali akan bagaimana cara berkomunikasi dan menanggapi dirinya yang banyak tanya sekaligus banyak tahu.
Menurut pengamatan Jesper selama beberapa minggu tinggal di Mansion ini. Kejadian ini disebabkan oleh Kakek dan Ayahnya sendiri.
Itu dua, dirinya bukanlah si jenius pertama yang orang- orang Mansion Byun hadapi. Namun ada Ayahnya. Ada juga Kakek dan Neneknya. Lalu Xiumin Ahjussi.
Dan sepertinya pria yang baru saja diperkenalkan kepada Jesper tadi, Park Chanyeol jugalah seorang Jenius, namun dalam bidang yang berbeda.
Orang- orang di Mansion Byun sudah terbiasa mengadapi para pewaris Byun dan para tangan kanan Byun yang memang selalu bagian dari orang-orang yang berbeda.
Jesper mengangguk sendiri dalam kesimpulan otak kecilnya, "Pasangan itu memang harus setara satu sama lain. Agar tak menyakiti siapapun didalamnya. Pria itu serasi dengan Ayahku. Dia hebat." Gumam Jesper, tanpa menyadari bahwa itulah jawaban yang selama ini kedua pria dewasa yang selama 3 tahun itu berpisah.
Keduanya berpisah demi mencapai kesetaraan untuk keduanya.
Dan untuk saat ini, keduanya telah sukses mendapatkan hal tersebut.
.
..
...
Pukul 23:30
- 30 menit sebelum insiden -
Baekhyun dan Chanyeol berjalan bersama mengitari taman belakang Mansion Byun yang sekarang tengah menampilkan pesona Musim Semi-nya. Ditambah lagi gemerlap lampu- lampu tumblr berwarna gold yang menciptakan suasana semakin gemerlap namun sendu disaat yang sama.
Kata apa yang tepat menggambarkan suasana taman ini, ahhh.. "Melankolis." Bisik Chanyeol dalam hati.
"Dia sangat dan sangat menggemaskan, juga mengagumkan. Membuat kita bertanya- tanya apakah dia sungguh hidup atau hanya boneka yang memiliki baterai dibelakangnya. Terlalu indah untuk jadi nyata." Ujar Chanyeol membuka pertanyaan.
Baekhyun dan Chanyeol berjalan bersisian, dan sepertinya sekuat tenaga menahan diri satu sama lain untuk tak bergandengan tangan.
"Itulah yang aku pikirkan saat pertama kali bertemu dengannya dua bulan lalu. Dia menatapku dengan mata polosnya namun terasa sekali bahwa mata itu menganalisis dengan cepat. Dan tanpa aku sempat menjelaskannya, dia sudah terlebih dahulu tahu. Aku adalah ayah biologisnya. Dia akhirnya setuju ikut denganku setelah aku memberi seluruh surat menyurat hasil penyelidikan kasus ibunya." Jawab Baekhyun ikut menanggapi dan membagikan cerita yang selama ini tak pernah dirinya bagi dengan siapapun.
Chanyeol mengangguk. Dirinya tak tahu harus menanggapi apa. Sebab tak ingin salah bicara dalam topik menyangkut nyawa seseorang.
Baekhyun yang peka tentu saja memahami itu. Kemudian mengambil inisiatif untuk meraih tangan Chanyeol terlebih dahulu.
"Apakah kau ada jadwal akhir pekan ini Chan?" Tanya Baekhyun, kemudian tersenyum jenaka saat Chanyeol menoleh kearahnya dengan cepat. Chanyeol menatap terkejut Baekhyun dengan mata bundarnya. Baekhyun menahan tawa melihat betapa panik dan gugupnya Chanyeol.
"Kau sudah terlampau sukses hingga aku harus menanyakan jadwalmu terlebih dahulu sebelum mengajakmu berkencan." Tambah Baekhyun menggoda Chanyeol. Dan sukses saja, menciptakan bias kemerahan dipipi Chanyeol.
"Aku.." Chanyeol menghela napas. "Maafkan aku Baek, aku punya jadwal akhir pekan ini." Jawab Chanyeol dengan suara yang sama sekali tak ditutupi bahwa pria tinggi itu justru lebih kecewa daripada Baekhyun yang merupakan statusnya si pengajak disini.
Baekhyun menahan diri untuk tak tertawa. Merasa terhibur sekaligus lega. Sebab setelah tiga tahun berlalu. Pria yang paling dirindukannya ini, sama sekali tak berubah sifatnya.
"Ya sudah. Kalau begitu aku akan mencoba mencocokkan jadwalmu dengan jadwalku terlebih dahulu. Sepertinya Manager-mu dan Sekretarisku akan membuat diskusi yang panjang setelah ini." Ujar Baekhyun dengan suara yang terdengar bahagia bercampur geli ingin tertawa. Pria mungil nan menggemaskan itu sepertinya sudah merencanakan hal jahil lagi jahat dalam menyiksa Sekretarisnya sendiri.
Chanyeol ikut tersenyum, memahami isi kepala Baekhyun.
"Kita.. mau berkencan kemana?" Tanya Chanyeol hati- hati, dengan suara gugup dan excited menjadi satu.
Mendengar pertanyaan itu ternyata tak membuat Baekhyun langsung menjawabnya. Pria cantik itu ternyata justru terdiam sebentar. Kemudian melangkah cepat, menuju kearah ayunan berwarna putih favorit nya. Lalu menduduki ayunan yang tak ada yang berani mendudukinya selain dirinya di Mansion Byun ini.
Dengan patuhnya Chanyeol mengikuti Baekhyun. Kemudian tanpa disuruh, mulai mendorong pelan belakang Baekhyun. Membuat Baekhyun terayun sedang tak terlalu kencang.
"Kau tahu tempatnya. Kedai Es Krim Kakek Kim." Jawab Baekhyun akhirnya.
"Pulau Jeju?" Tanya Chanyeol memastikan, setelah Chanyeol mengingat dimanakah kedai es krim yang Baekhyun maksud.
"Iya. Aku ingin mengambil sesuatu yang aku titipkan disana." Ujar Baekhyun lagi.
Hening yang nyaman melanda keduanya.
Hingga akhirnya Chanyeol memecah senyap itu dengan pertanyaan, "Sesuatu yang Baekhyun titip pada Kakek Kim itu... adalah ini?" seraya mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.
Baekhyun terbelalak.
Dengan refleks kakinya menghentikan ayunan yang sedang didudukinya. Baekhyun menunduk menatap nanar pada tanah rerumputan dan sepatu kulitnya yang sebenarnya tak ada artinya. Kedua pasang tangan berjemari lentik yang tadi memegang tali ayunan, kini beralih keatas pahanya sendiri kemudian meremat satu sama lain.
Selamat Park Chanyeol, kau berhasil membuat seorang Komisaris Byun Baekhyun merasa gugup.
Dengan perlahan Baekhyun menoleh kebelakang. Disertai dengan degupan keras jantungnya hingga terdengar ke telinganya sendiri. Dirinya menyaksikan Chanyeol yang sedang berdiri persis dibelakangnya. Dengan sebuah kotak cincin berwarna maroon yang mana Baekhyun amat kenal sekali.
Tentu saja, dirinya sendirilah yang membeli itu.
"Kau..." Kepala Baekhyun menjadi kosong. Dirinya blank. Semua ini tak sesuai yang Baekhyun rencanakan. Ini sama sekali tak ada dalam skenario yang dirinya rancang. Kapan? Bagaimana? Sejak kapan? Dirinya tak tahu.
"Saat kau ke Jerman untuk Operasi mata 2,5 tahun lalu. Aku merindukanmu, dan tak ada yang bisa aku tanyai tentang dirimu. Kau seperti menghilang ditelan bumi hingga tahun berikutnya. Lalu kebetulan aku mengikuti acara Reality Show di Pulau Jeju. Dan saat syuting selesai, aku mengingat perkataanmu dulu. Bahwa bila aku ke Kedai Es Krim Kakek Kim, maka yang perlu aku pesan adalah es krim rasa kesukaan-mu, dan merupakan kesukaan seluruh pemimpin keluarga Byun. Dan.. aku sama sekali tak menyangka, Kakek Kim justru memberikan aku kotak ini, bukannya sebuah es krim rasa stroberi."
"Sungguh Baekhyun. Saat itu, kau sama sekali tak dapat membayangkan.. bagaimana aku berusaha sekuat tenaga menahan diri untuk tak ikut memesan tiket pesawat menyusulmu ke Jerman saat itu juga." Chanyeol mengatakan itu semuanya sambil berjalan pelan melingkari Baekhyun, lalu berhenti tepat didepan si komisaris cantik yang sekarang terlihat begitu shock.
Wajah Baekhyun yang sedari tadi pucat. Mulai berangsur merona, namun rona merah dipipinya justru tampak lebih pekat daripada biasanya. Hal ini disebabkan oleh Chanyeol yang dengan tenang dan tampak alami sekali, mengambil posisi berlutut dengan satu kaki didepannya.
Keduanya kini berhadapan, dengan Baekhyun yang masih duduk diatas ayunannya. Dengan Chanyeol yang berlutut didepannya. Seraya membuka kotak berwarna maroon yang selama 3 tahun ini tertunda menjalankan tugasnya untuk menjadi simbol akan terikatnya hubungan keduanya.
"Baek, aku ingin berterima kasih sebab kau telah hadir dalam hidupku. Aku ingin berterima kasih akan dirimu yang dulu rela melepaskanku dan membantuku untuk mencapai diriku yang sekarang. Dan aku berterima kasih akan dirimu yang aku sangat yakin, sudah bekerja dengan sungguh keras untuk masa depan kita, sambil menungguku kembali." Setelah mengatakan itu Chanyeol berdiam diri sebentar, mengambil beberapa helaan napas.
Kemudian merubah posisi yang tadinya berlutut dengan satu kaki, menjadi berlutut dengan kedua kakinya. Berlutut layaknya orang yang memohon pengampunan. Tangan yang tadinya memegang kotak cincin berwarna maroon, kini diletakkan diatas kedua pahanya dengan tangan menggepal.
"Saat menerima kotak cincin ini, aku merasa seperti ada yang menembak kepalaku. Aku menyadari betapa egoisnya pilihanku hari itu. Aku sudah menyakitimu dan mengingkari banyak janji yang sudah kuucapkan padamu. Aku merasa bodoh. Merasa tolol. Aku merasa diolok-olok oleh kesadaranku sendiri. Harusnya aku tak gegabah. Harusnya aku cukup sabar. Harusnya aku percaya diriku dan percaya pada pasanganku. Seharusnya aku menunggu setidaknya beberapa hari lagi sampai akhirnya kau melamarku dengan cincin ini, kemudian kita berdua bisa berkembang bersama. Menjalani segalanya bersama. Aku berjuang debut dan menaiki popularitas dengan dirimu disampingku. Dan seharusnya aku menemanimu mengoperasi matamu. Seharusnya aku..." Lidah Chanyeol terasa tercekat. Dirinya akhirnya dapat mengatakan hal yang terpendam dihatinya selama ini.
Dengan ekspresi campur aduk, Baekhyun memandang Chanyeol yang sekarang terisak berlutut didepannya. Lalu dengan pelan turun dari ayunannya, kemudian ikut duduk dihadapan Chanyeol. Memegang kedua pipi tirus pria yang paling dicintainya itu. Menyeka lembut air mata Chanyeol dengan ibu jari lentiknya. Dilanjutkan dengan mengelus pelan kedua pipi Chanyeol yang sekarang lembab sebab air mata.
Mata abu- abu Baekhyun menatap lurus pada mata Chanyeol yang sekarang tampak kemerahan sembab karena menangis.
"Hey.. ssttss.. Chanyeol-ku.. sudahlah, tak apa... tak apa. Aku sendiri merasa apa yang terjadi diantara kita memang sudah jalan takdirnya begitu. Tak ada yang perlu disesali dari prosesnya. Mari kita lihat hasilnya sekarang. Yang penting adalah bagaimana kita sekarang, kau dan aku sudah siap untuk menatap satu sama lain dengan sejajar tanpa salah satu merasa membebani yang lain. Kita sudah tak khawatir bila kekurangan kita akan menyakiti satu sama lain lagi."
"Mari berfokus pada itu saja. Paham?" Tanya Baekhyun dengan lembut diakhir, kemudian dijawab Chanyeol dengan anggukan. Menciptakan kekehan lucu dari bibir Baekhyun, dimatanya Chanyeol selalu tampak menggemaskan.
Dan selanjutnya, jemari lentik Baekhyun berpindah dari pipi Chanyeol ke atas tangan Chanyeol yang sekarang tengah menggenggam kotak cincin yang selama 3 tahun ini tertunda untuk diberikan oleh Baekhyun kepada Chanyeol.
Baekhyun mengambil kotak cincin itu, lalu membukanya pelan. Terlihatlah sepasang cincin berwarna hitam dan abu-abu dengan model yang sama namun warna yang berbeda, dan sama- sama memiliki berlian kecil diatasnya, terlihat simple namun indah itu berpendar memantulkan cahaya lampu taman.
"Jadi, ekhm.." Baekhyun berdehem, memperbaiki suaranya agar tak pecah.
"Tuan Park Chanyeol, bersediakah kau... untuk menerimaku, sebagai suamimu?" Chanyeol mendongak tak percaya, menatap Baekhyun yang sekarang juga tengah menatapnya dengan ekspresi penuh harap.
"Kau gila. Serius kau menanyakan hal itu sekarang?" Bisik Chanyeol pelan, sebelum akhirnya meraih kedua wajah mungil Baekhyun dengan kedua tangannya, dan didetik sebelum mempertemukan bibir keduanya. Chanyeol berbisik tepat didepan bibir Baekhyun, "Jangan konyol Baek, tentu saja aku bersedia. Hal ini tak perlu dipertanyakan lagi." Dan sebelum Baekhyun dapat menjawabnya ataupun sekedar tertawa pelan seperti ciri khas dirinya, Chanyeol telah lebih dahulu mengunci bibirnya dengan sebuah ciuman yang dalam.
Keduanya cukup lama larut dalam sebuah ciuman dalam yang sarat akan rasa rindu, haru, dan bahagia didalamnya itu.
Hingga akhirnya entah siapa yang memulai, ritme ciuman keduanya semakin melambat, kemudian secara perlahan Baekhyun dan Chanyeol mulai menjauhkan wajah masing- masing, meski tetap saja berjarak cukup dekat hingga keduanya merasakan napas beradu ke wajah satu sama lain.
Mata keduanya bertemu, dan tak perlu menunggu lama hingga keduanya kembali terkekeh pelan. Sama- sama merasa geli dengan banyaknya kupu-kupu yang beterbangan didalam perut masing- masing. Lucu sekali, rasanya seperti kembali menjadi remaja yang baru saja jatuh cinta.
Baekhyun mengambil satu cincin yang berukuran lebih besar berwarna abu-abu, kemudian menyematkannya ke jari manis tangan kanan Chanyeol.
Setelah itu, tanpa aba- aba Chanyeol menyematkan cincin satunya yang berukuran lebih kecil berwarna hitam ke jari manis tangan kanan Baekhyun.
Akhirnya setelah 3 tahun yang terasa seperti selamanya itu. Chanyeol dan Baekhyun telah resmi bertunangan.
Tak ada satupun yang bersuara. Baekhyun dan Chanyeol duduk diatas rumput dengan nyaman, saling berpegangan tangan, dan menatap wajah satu sama lain dengan ekspresi saling mengagumi. Dan seakan keduanya telah mengerti satu sama lain bahkan tanpa perlu bersuara, dengan kompak Baekhyun dan Chanyeol kembali mendekatkan wajah satu sama lain.
Namun disaat jarak wajah keduanya sudah dekat sekali, mungkin hanya tinggal satu senti. Suasana yang awalnya sudah tercipta dengan sempurna, dirusak oleh dering suara telepon milik Chanyeol.
Sontak saja keduanya terperanjat, dengan refleks menjauhkan diri satu sama lain. Baekhyun tersenyum maklum. Sedangkan Chanyeol merasa canggung tak enak hati.
"Hallo.." Chanyeol menjawab dengan suara yang berusaha dibuat terdengar normal.
Namun siapa sangka ternyata jawaban dari seberang telepon justru lebih tidak normal daripada situasi Chanyeol sekarang.
"CHANYEOL HYUNG!! DATANGI BAEKHYUN HYUNG SEKARANG, TANYAKAN DIMANA KEBERADAAN BAEK HA!! SEMBUNYIKAN ANAK ITU SEKARANG. DAN EVAKUASI SEMUA ORANG UNTUK KELUAR DARI MANSION BYUN. AKAN ADA SERANGAN TERORIS, MANSION BYUN SUDAH DIPASANGI BOM!! WAKTUMU 10 AH TIDAK, 9 MENIT DARI SEKARANG!!!" Terdengar yang Sehun berteriak sekuat tenaga dari seberang telepon.
Chanyeol membatu sebentar. Merasa otaknya sedikit berkabut dan sulit untuk mencerna apalagi menelaah situasi sekarang. Sungguh.. segalanya terlalu kontradiksi dan tiba-tiba.
"A-apa? Sehun apa yang sedang kau bicarak-
BOOM!!!!
Kalimat Chanyeol terhenti sebentar sebab terdengar ledakan besar di udara. Membuat Chanyeol menoleh kearah sumber suara, dengan mata berbinar dan mulut ternganga Chanyeol terpana sebentar. Menatap keatas langit masih dengan ponsel ditelinganya, pertunjukan kembang api indah tengah berlangsung.
"HALLO?! HALLO?? HYUNG!!! HYUNGGGG!!" Teriak Sehun dengan histeris.
Teriakan Sehun dari seberang telepon menyadarkan Chanyeol. Diikuti dengan ekspresi Baekhyun yang tampak tak biasa. Komisaris BB Groub itu terlihat mengecek ditangannya, yang mengarah pada pukul 23:51.
"Pertunjukkan kembang api dimulai lebih cepat daripada yang dijadwalkan yaitu pukul 00.00, dan juga tak sesuai rencana justru diarahkan ke bagian pintu luar Mansion, seakan mengundang seluruh tamu untuk keluar sekarang. Chanyeol, kita harus kembali dan melihat situasi didalam. Ada yang tak beres." Baekhyun berujar cepat, seraya berdiri dari posisinya.
Tanpa bantahan apapun Chanyeol dengan segera ikut berdiri. Kemudian menjawab Sehun yang sedari tadi sepertinya sudah hampir terkena serangan panik diseberang sana, "Oke Sehun, terima kasih informasinya. Aku dan Baekhyun akan berusaha menanganinya disini." Ujar Chanyeol sembari mengikuti langkah cepat Baekhyun didepannya, kemudian menutup saluran telepon itu tanpa menunggu Sehun menjawab.
"Jadi apa katanya?" Tanya Baekhyun seraya berjalan tergesa menuju lokasi sang putra kesayangan terakhir kali terlihat. Sambil mengetikkan pesan SOS kepada sang sekretaris yang sekarang masih berada ditengah ruang pesta.
"Sehun mengatakan sudah ada beberapa teroris yang memasuki Mansion Byun dan menanam Bom disini. Dan misi utama mereka adalah menculik Jasper. Waktu kita kurang lebih 8 menit sejak aku menutup telepon." Chanyeol menjelaskan situasi dengan cepat, seketika saja otaknya terasa jernih kembali. Sungguh keajaiban yang terjadi setiap manusia dihadapi dengan situasi yang mencekam.
Mendengar itu Baekhyun tak lagi berjalan, namun berlari kearah perpustakaan yang sedari tadi menjadi tujuan utama keduanya. Dan betapa terkejutnya Baekhyun mendapati seorang Maid dan dua orang Bodyguard yang awalnya berjaga didepan perpustakaan tempat putranya belajar, kini ditemukan tergeletak tak berdaya dilorong depan Perpustakaan.
Baekhyun berhenti sebentar, mengambil kemudian mengeluarkan napas dengan pelan. Lalu menutup matanya, berusaha mengaktifkan ketajaman indranya saat dirinya tak melihat apapun.
Dan benar saja, semua suara dan aroma asing yang memasuki ruangan perpustakaan ini langsung terdeteksi oleh Baekhyun. Dan yang paling penting adalah berapa banyak terdengar langkah kaki dan suara detak jantung dari dalam ruangan didepannya.
Tiga orang tamu tak diundang, kesimpulan Baekhyun setelah menganalisis semuanya.
"Kau bisa bela diri?" Tanya Baekhyun menoleh kearah Chanyeol, dan sebelum Chanyeol dapat menjawab, terdengar suara gemuruh dan teriakan panik serta langkah kaki yang berlari bersahutan dari arah Ballroom Mansion.
Membuat keduanya kembali sadar, bahwa waktu yang keduanya miliki kurang lebih 5 menit saja lagi.
Sebelum terdistraksi lagi, Chanyeol menoleh kearah Baekhyun, kemudian mengangguk.
"Good." Gumam Baekhyun, seraya mengeluarkan sebuah Revolver dari balik jasnya. Kemudian membuka magazen dari pistolnya, mengecek jumlah peluru dalam revolvel miliknya tersebut. Kemudian kembali menutupnya saat telah dipastikan pistol tersebut berisi amunisi penuh. Diikuti dengan menarik hummer atau pelatuk pistol, menciptakan bunyi klik, menandakan pistol telah pada posisi siap digunakan.
Sebab situasi yang sedang gawat, Chanyeol berusaha mengabaikan dahulu perasaan terkejutnya akan bagaimana Baekhyun tampak terbiasa sekali memakai senjata api. Baekhyun melakukan seluruh antraksinya tadi dalam waktu kurang dari satu menit.
"Aku hitung mundur dari 3, dan ikuti aku secepat mungkin. Kau harus tepat dibelakangku sampai mereka semua kulumpuhkan, setelah itu kau langsung datangi Jesper." Bisik Baekhyun kepada Chanyeol. Dan dijawab si pria tinggi hanya dengan anggukan.
"Tiga"
"Dua"
Baekhyun meraih kemudian meremat tangan Chanyeol.
"Satu."
BRAKK!!!
Baekhyun membuka paksa pintu yang terkunci itu hanya dengan satu buah tendangan. Baekhyun kembali menarik kemudian menghembuskan napas dengan pelan. Kemudian menutup matanya rapat.
DOR!
DOR!
DOR DOR!!!
Chanyeol ternganga akan pemandangan yang baru saja dirinya saksikan. Setelah Baekhyun membuka paksa pintu perpustakaan, tiga pria berbadan besar sudah berlari kearah mereka dengan kecepatan kilat. Dan sebelum mereka semua berhasil menuju kearah Baekhyun dan Chanyeol, bahkan sebelum mereka semua bersiap menembak atau menusuk dengan senjata masing-masing. Baekhyun bergerak lebih cepat dan mengirim mereka semua ke alam baka.
Dengan sekali tembakan tepat dijantung. Oh, dua kali tembakan kepada pria yang terakhir sebab pria itu berhasil menghindar didetik saat kawan satu komplotannya terkabar disebelahnya, dan justru menjadi tameng untuk tubuhnya. Alhasil Baekhyun harus menembak sekali lagi.
Intinya, sekarang semua teroris itu telah mati.
Chanyeol langsung berlari menuju arah tempat belajar Jasper.
"BAEKHA!! Ha-yaa!!" Teriak Chanyeol dengan panik, dan rasanya seluruh napas Chanyeol terenggut saat melihat si balita tampak tak sadarkan diri dengan tangan dan kaki terikat, serta mulut yang dilakban. Dan disamping si balita, sudah tersedia sebuah koper besar dalam kondisi terbuka, yang sepertinya kan menjadi wadah para penculik membawa anak yang akan menjadi satu- satunya pewaris tunggal BB Groub saat ini.
"CERMIN!! BUKA PINTU BAWAH TANAH SEKARANG JUGA. AKTIFKAN KETAHANAN AKAN GETARAN DAN LEDAKAN MENJADI TINGKAT PALING TINGGI PADA SELURUH BAGIAN MANSION BYUN."
"CERMIN! HUBUNGI PEMADAM KEBAKARAN DAN AMBULANCE SEKARANG."
"CERMIN! CIPTAKAN SURAT PERINGATAN KEPADA SELURUH MEDIA UNTUK TUTUP MULUT DAN TAK MENULIS ARTIKEL APAPUN TENTANG KEJADIAN DI MANSION BYUN MALAM INI."
"CERMIN!! HIDUPKAN SIRINE KEBAKARAN DAN HIDUPKAN SELURUH SEMPROTAN AIR PEMADAM KEBAKARAN MANSION, SEKARANG!"
Dengan Jesper berada dalam gendongannya, Chanyeol menyaksikan bagaimana Baekhyun berbicara pada dinding kaca yang selama ini dirinya kira hanyalah kaca biasa. Dan tak perlu waktu sedetik setelah Baekhyun mengucapkan perintahnya, semuanya terlaksana dengan baik. Dan setelah perintah terakhir diucapkan.. benar saja, suara bising sirine dan semprotan air langsung memenuhi seluruh ruangan dan pelosok Mansion Byun.
Jam menunjukkan Pukul 23:59:45
-15 Detik lagi-
"CHANYEOL! BAEKHA!, CEPAT KESINI." Chanyeol berlari kencang kearah Baekhyun dengan Baekha berada didalam gendongannya. Hanya perlu waktu 5 detik bagi Chanyeol untuk sampai mendatangi Baekhyun.
-10 Detik lagi-
Keduanya ditarik Baekhyun untuk ikut masuk kedalam kotak kaca yang ternyata merupakan lift keruang bawah tanah.
Perlu 3 detik untuk ketiganya masuk kedalam sana.
4 detik untuk lift turun kebawah.
Dan 2 detik untuk lantai atau pintu diatas mereka kembali tertutup.
Kemudian..
BOOOMMMMM!!!!
Suara ledakan terdengar dari arah luar. Ruangan bawah tanah ini diciptakan dengan sungguh kokoh, hingga tahan ledakan dan getaran. Namun suara yang diciptakan oleh bom yang ditanam oleh para teroris itu tetap menembus dinding dan terdengar hingga kedalam. Sekuat itulah ledakannya.
Chanyeol dan Baekhyun mendongak keatas dengan ekspresi horor. Bila telat sedetik saja, maka ucapkan selamat tinggal pada dunia dan impian keduanya untuk menikah nanti.
Ping.
Ponsel Baekhyun berbunyi, pesan singkat yang teramat singkat dari Xiumin, sekretaris kesayangannya, muncul di HP Baekhyun.
Isi pesan itu adalah, "Semua tamu selamat. Evakuasi berhasil."
Sontak saja Chanyeol dan Baekhyun terduduk dilantai setelah membaca pesan itu. Merasakan lemas seketika dikedua lutut mereka, maklum saya, mereka berdua telah melewati kejadian maut yang sungguh mencekam.
Setelah itu keduanya berpelukan sambil menghela napas lega, dengan Jesper berada ditengah keduanya. Masih tak ada yang sanggup bersuara diantara keduanya.
Ping.
Ponsel Baekhyun kembali berbunyi. Baekhyun membukanya masih dengan sebelah tangan Chanyeol berada dipinggangnya, sehingga Chanyeol bisa ikut membaca pesan yang dikirimkan oleh sekretaris nya itu.
Yang ternyata berbunyi, "Jawab pesanku bodoh. Jadi aku bisa tahu kalian sudah mati atau masih hidup. Sungguh tak lucu bila tunanganku harus menjalankan Perusahaan BB Group sendirian."
Setelah membaca itu, sontak saja Baekhyun dan Chanyeol langsung tertawa. Bila yang membaca pesan ini adalah orang lain, mungkin sudah akan tersinggung bahkan mengumpat dengan kata- kata kasar dan tak sopannya Xiumin. Namun keduanya sudah sangat mengenal sifat pemuda chubby itu. Begitulah cara Xiumin mengungkapkan kekhawatirannya. Dan tanpa Xiumin yang dengan tegas, patuh, dan kompeten sebagai Sekretaris. Hasil akhirnya tidak akan seperti sekarang.
Saat ini seluruh tamu undangan pesta di Mansion Byun, sudah berhutang nyawa pada pemuda berwajah kucing itu.
Dengan sisa kekehannya, Baekhyun mengetik jawaban singkat untuk Sekretarisnya yang Baekhyun yakin sekali sekarang diluar sana tengah mengamuk ingin memasuki Mansion Byun dan memastikan Baekhyun selamat, sementara Chen Ahjussi sekuat tenaga menahannya.
Baekhyun menjawab, "Aman."
Setelah itu wajah Baekhyun berubah menjadi serius. Ada satu yang janggal dari semua kejadian ini. Darimana Sehun mendapatkan informasi serangan teroris yang akan menyerang Mansion Byun.
Siapa sebenarnya seorang Oh Sehun?
...
...
..
.
TBC
Author note:
Hayoloh Sehun, gimana kalau nanti malah dibuat Baekhyun berlutut dibawah kakinya dan dihukum seperti yang sudah sudah, hayoloh hayolohh.. Sekarang Tuan Byun serem lohh
