Disclaimer : Keseluruhan Karakter, background dan tempat berdasarkan Final Fantasy XV dan saya perlu sampaikan sebelumnya, ada satu karakter wanita dulu yang pernah dirilis oleh Square Enix "Stella Nox Fleuret" berasal dari Final Fantasy Versus XIII, dia merupakan salah satu pemeran utama wanita di sini. Awalnya saya ingin menambahkan Nama itu di opsi Karakter tapi saya tidak menemukannya :( *sedih dan terakhir saya juga memposting mengenai cerita ini di website lain Lady Strife ( reni_strife) - Wattpad, saya lebih banyak melampirkan gambar di website itu, jika ingin membacanya lebih realistis dengan gambar per chapternya saya sangat menyarankan untuk membacanya disana, bak layaknya sebuah film saya mengansumsinya seperti itu. Okay So Lets Enjoy Everyone! and Please Review! Saya sangat suka seketika membaca review kalian! PLease review sebanyak banyaknya ya!
"Kau Memutuskan untuk pergi secepat itu?"
"iyap...mau gimana lagi. Perdana Menteri Camelia Claustra dari Lestallum memintaku untuk datang ke konfrensinya, kau tahu sekarang banyak sekali skandal di sana dan mereka membutuhkan nasihat saya"
"Wanita yang hebat"
"Pasti. Maka dari itu kau sangat beruntung untuk mendapatkan wanita seperti saya"
Pria itu tersenyum lembut, mengecup pelan dahi wanita yang berbaring di sebelahnya. Sementara sepasang mata berwarna ungu pucat itu memandanginya dan membelai lembut pipinya. perlahan ia menggerakkan bibirnya, mengatur volume suaranya dengan lembut, dan memanggil nama dari kekasihnya.
"Noctis..."
Noctis Lucis Caelum. Pria berambut hitam spiky, betubuh tinggi dan atletis adalah Pangeran dan pewaris tahta kerajaan Lucis. Dialah calon raja masa depan bagi kerajaan Lucis. Meskipun dia masih sangat muda bagi seorang raja, namun King Regis Lucis Caelum CXIII telah memutuskan untuk pengganti tahta kursi kerajaan Lucis adalah anak tunggalnya sendiri. Meskipun Noctis belum sempat menyutujui pernyataan ayahnya sendiri. Kau tahu? Pekerjaan yang begitu berat bagi seorang raja untuk tetap menjaga kesehjahteraan rakyatnya. Namun bagaimana lagi pada akhirnya di akan menyetujuinya karena dialah satu-satunya putra tunggal dari Raja Regis. Pria itu membelai rambutnya perlahan, mengagumi setiap kecantikan yang di miliki oleh kekasihnya-Luna. Lunafreya Nox Fleuret. Putri dari kerajaan Tenebrae yang menjalin hubungan khusus dengan pangeran Lucis. Meskipun hubungan ini masih di rahasiakan dari publik karena mereka memiliki alasan itu tersendiri. Luna telah menjalin hubungan sekian lamanya dengan pewaris Lucis itu. semakin lama hubungan yang mereka bangun semakin kuat, hingga pada akhirnya pangeran Noctis ingin melamarnya namun rencana itu gagal seketika Luna akan pergi dari Lucis untuk kepentingan pekerjaanya. Oleh karena itu dia mencoba lebih bersabar lagi dan memutuskankan untuk melamarnya seketika dia pulang kembali dari Lestallum.
"Kapan kau kembali?" Dia mengusap lembut rambut pirang kekasihnya sembari masih tetap mempertahankan pandangannya.
"Tidak tahu" jawabnya singkat
"Kau tahu saya bakalan-"
"Rindu? Ayolah Noct kau bisa menelponku semaumu. Jangan menganggap kepergianku adalah terkahir kalinya kau untuk melihatku. Kau tahu saya tidak akan menghilang begitu saja seperti buih yang di terjang oleh angin" Ucap Luna ngotot membuat noctis tersenyum simpul. Tanpa mengambil waktu lama ia dekatkan bibirnya dan bibir luna, perlahan mereka saling mendekat dan berakhir dengan ciuman yang menggairahkan. Sepasang kekasih itu bermain mesrah di atas ranjang, dengan gairah Noctis perdalam ciumanya hingga Luna terengah-rengah. Ia rasakan aroma leci dari bibirnya dan perlahan menikmatinya. Dia tahu aroma itu sungguh memabukkan bagi dirinya seketika dia menyentuhnya. Respon Luna pun sungguh di luar dugaan, dia mengerang nyaring dan terus memainkan aksi bibirnya. Tak puas sampai di situ saja, ciuman Noctis perlahan pindah ke bagian yang lebih sensitif, mengecup lembut lehernya sambil menggerakkan tangan jailnya ke daerah yang Luna suka. Luna pun merespon kesenangan, ia lingkarkan lenganya menelungkup ke leher Noctis dan merasakan setiap sentuhanya. Ranjang pun berderit kencang seirama dengan permainan mereka, suara desahan yang menggema ruangan itu tak akan mampu mengusik permainan mereka. Sepasang kekasih itu pun perlahan hanyut dalam ilusi yang memabukkan, yang mampu membuat mereka lupa akan segalanya.
