Cahaya Agung perlahan nampak dari ufuk timur, memberikan kehangatan dan kedamaian bagi Negara yang terkenal dengan Kristal agungnya itu. kelopak mata pria itu bergerak, merasakan setiap refleksi sentuhan cahaya yang merambat ke arah wajahnya. Perlahan dia bangkit tanpa membuka matanya. Melemaskan otot tubuhnya yang menegang dan mengalihkan pandanganya tepat ke samping dirinya, matanya seketika terbelalak saat ia melihat wanita yang di sampingnya telah hilang seketika. Namun kekhawatiran itu menghilang seketika dia menangkap memo kecil kecoklatan yang berada tepat di sampingnya.
"Kau tahu saya bisa membayangkan wajah kagetmu saat kau tersadar bahwa saya telah menghilang dari sisimu"
Pria itu tersenyum simpul, sementara pupil matanya masih tetap fokus untuk membaca memo kecil yang ia pegang.
"Saya telah mempersiapkan sepaket baju yang wajib kau pakai nantinya, berjanjilah untuk terilhat tampan di depanku"
Pria itu sekilas mengerutkan dahi.
"Oia! Tadi saat kau tertidur, saya menyempatkan diri untuk membuat lemon tea kesukaanmu. Pastinya saya tahu kau akan bangun kesiangan karena permainan semalam bukan? Haha dan k au pasti tak kan sempat untuk pergi sarapan! Maka dari itu isilah perutmu dengan minuman ini. Semoga kau suka! Love Luna"
Lagi-lagi Noctis tersenyum, dia sungguh di berkati dengan kehangatan pagi yang ia rasakan saat ini. Tiba-tiba ponselnya berdering nyaring membuat ia tersentak dari lamunanya. Segeralah ia bangkit, lalu ia sambar lemon tea di atas meja dan ia teguk sekali sembari mencari celana hitam yang tergeletak berantakan di atas lantai. Ia pakai celana itu dengan tergesa-gesa, membuat ia lupa akan membetulkan resletingnya. Dia sambar Hand phone yang tergeletak di atas meja, dan mendapati Temannya prompto yang telah menelfonya selama puluhan kali. Ia hiraukan panggilan dari temannya itu. kemudian ia bergegas melangkah menuju kamar mandi. Tak mengambil waktu lama, ia segera keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah, mengeringkan tubunya dalam waktu 5 menit, dan menyemprotkan body parfume ke area tubuhnya. Lagi-lagi Hand Phone nya berdering keras dan itu membuat ia berdercak kesal. Pria itu telah berpakaian rapi saat ini, mendapatkan Jas launs double breasted yang sangat pas bagi tubuhnya, menampilkan dada bidangnya yang sungguh mempesona. Charcoal warna yang sangat cocok untuk Noctis. Kekasihnya Luna selalu pintar dalam memilihkan setelan jas yang cocok untuk di pakai Noctis, meskipun Noctis tidak terlalu suka untuk diatur dalam hal berpakaiannya. Namun bagaimanapun juga ia tak mau mengekang tentang apa yang kekasihnya berikan kepadanya. Sejenak ia bercermin dan ia memutuskan bahwa ia sudah terlihat sangat rapi. Bergegaslah ia pakai jam tangannya lalu menyambar Hand phone yang tergelatak di atas meja. Ia melihat 1 pesan suara di layar monitor Hpnya, ia putuskan untuk membukanya sembari melangkah keluar dari kamarnya.
"Woy! Sudah dua jam kita menunggumu pantat ayam! Kemana saja kau? Kau sengaja bukan untuk tidak mengangkat panggilan saya? Awas yah! Ku makan kau saat kau tiba di sini!"
Dia mendengus kesal, ia lebih tidak memperdulikanya karena dia tahu lebih baik tidak meladeni ocehan salah satu teman konyolnya itu. Ia pun mempercepat langkah kakinya untuk menghindari keterlambatannya. Langkah pria itu seketika terhenti saat Ignis teman berkacamatanya itu menyapanya dari kejauhan. Ia melihat sobatnya itu melambaikan tangan ke arahnya.
"Pagi Yang Mulia. Suatu kehormatan bagi saya untuk menyambut Anda di pagi yang cerah ini" Pria berkacama itu membungkuk, memberikan penghormtan bagi Pangeran Lucis yang berada tepat di depannya.
"Ignis sok formal!" celetuh Prompto kesal.
"Hei pantat ayam! Kemana saja kau? Kau tahu sudah berapa lama kita menunggumu di sini?" Prompto tak henti-hentinya berteriak ke arahnya.
"Ayolah Promp! Semalaman dia sibuk mendatangani tumpukan surat yang di berikan oleh Cor Leonis! Sebagai raja Lucis yang masih muda, dia tak biasa dengan pekerjaan seperti itu!" Bentak Gladiol yang tak kalah nyaring dengan Prompto.
"Halah! Bilang saja semalam kau lagi bermanis manja dengan Luna, atau berciuman mungkin? Saya tahu kau tidak akan membiarkan perpisahan itu tanpa pemanis pengobat rindu bukan?" Ucap Prompto tanpa jeda dan itu membuat Noctis tersentak langsung menatapnya tajam.
"Promp... jaga bicaramu, sebaiknya kita bergegas untuk ke bandara. Sekarang kita sudah terlambat 5 menit" Sahut Ignis tenang di tengah obrolan mereka sembari membuka knop pintu mobil.
Tak mengambil waktu lama dan merespon temanya itu, Noctis pun melangkah masuk dan di ikuti oleh temanya Gladiol. Memastikan Noctis telah di dalam, Ignis langsung menutup pintu dan beranjak ke tempat dimana dia akan menjadi supir Pangeran Lucis di pagi itu. Menyalakan mesin dengan sekasama, Noctis dan ke-3 temanya itu pun beranjak pergi ke bandara Lucis Caelum.
