Pagi itu mereka di temani si cantik Regalia. Mobil yang di buat oleh Desiner otomotif profesional yang dirancang khusus untuk Pangeran Kerajaan Lucis. Mobil yang sekilas mirip seperti mobil sport Maybach Exelero yang di kombinasikan dengan style dari mobil Jaguar S-Type dan tentunya si Regalia ini memliki plat khusus dimana "RHS-114" tercantum di plat mobilnya- numerik yang tertulis di belakangnya adalah tanda bahwa Noctis adalah pengganti akan dari Raja Regis CXIII, sedangkan di bawah platnya sendiri tertulis The Royal Capital yang menunjukkan bahwa mobil ini adalah mobil khusus kelas para bangsawan kerajaan Lucis sekarang. Tepat pukul delapan lebih dua puluh menit mereka telah tiba di bandara internasional LCA. Keberutungan membawa mereka tiba lebih cepat dan terhindar dari kemacetan di kota. LCA -Lucis Caelum Airport- terpampang jelas menempel di tembok pintu masuk bangunan raksasa tersebut. Gaya Arsitektur yang mewah terlihat dari bangunan bergaya modern itu dan desain bangunan Avant Grade yang selalu mengundang decak kagum banyak orang. Bandara itu di bangun dengan bangunan sekuler modern bertingkat sepuluh yang di kelilingi oleh 7 bangunan satelit yang melingkarinya. Di lihat dari luarnya saja Bandara itu adalah Bandara kelas ekonomi atas, karena kebanyakan Pengunjung kelas eknomi bawah yang tergolong kurang mampu untuk membayar tarif penerbangan di Bandara LCA tersebut. Bandara itu di lengkapi dengan berbagai fasilitas, di mulai dari Restoran, Tempat berbelanja, Museum penerbangan Lucis, Perpustakaan LCA, dan internet tanpa kabel. Mesikupun demikian bangunan ini masih memerlukan banyak renovasi, karena permintaan dari sang raja untuk mempermewah kawasan tersebut demi kenyamanan para pengunjung yang datang. Pagi itu bandara LCA terlihat sangat sepi namun di padati dengan kawanan orang berbaju hitam resmi yang tampak seperti bodyguard kerajaan Lucis. Mereka membentuk formasi untuk memperketat keamanan wilayah tersebut, mereka tidak menginginkan hal-hal di luar kendali selama keberangkat putri dari Tenebrae tersebut. Dari kejauhan tampak Pangeran Noctis telah menginjakkan kakinya di karpet merah, mengisyaratkan mereka untuk memberikan penghormatan bahwa tamu kerajaan yang mereka tunggu telah tiba. Noctis berjalan bak model yang sangat sempurna di atas karpet merah itu, namun seperti biasa di wajahnya tak terlihat seutas senyuman yang merekah di bibirnya, meskipun demikian itu tak akan mengurangi kesempurnaan dari pangeran Lucis itu. Langkah kakinya pun terhenti seketika ia melihat wanita berambut pirang berdiri dari kejauhan di antara sebuah jet terbang. Angin meniup perlahan helaian rambutnya dan Noctis tak dapat mengenalinya karena wanita itu berdiri membalakanginya. Namun tak lama kemudian sesosok wanita itu dapat di kenalinya, ia perlahan menoleh dan matanya seketika melebar saat iris violet itu bertemu langsung dengan iris biru terangnya.

"Noct!" Wanita itu berteriak dan beranjak pergi ke arah Noctis. Memeluknya dengan seksama kemudian melepaskanya sembari menenangkan dirinya.

"Kau lama sekali? Hilangkan kebiasaan burukmu itu Noct" Senyum merekah di bibir Luna saat ia dapat bertatapan langsung dengan Noctis. Begitu pula dengan pria yang di depannya, kesempatan bertemu dengan kekasihnya untuk terakhir kalinya adalah kebahagiaannya tersendiri. Noctis bersyukur kedatangannya tak mengambil waktu lama untuk keberangkatan kekasihnya.

Dia tampak cantik hari ini, dengan rambut yang dikuncir dan di ikat seperti sanggul yang sengaja di buat berantakan namun terlihat sangat rapi, serta white longsleeve bodycon dress yang ia kenakan tak luput dari decakan kagum pria yang berada di depannya dimana dress itu memperlihatkan belahan halus punggungnya. Dengan dress yang ia kenakan saat ini secara tak langsung memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sangat indah. Sekejap Noctis terkesima dengan kekasihnya itu. namun di sisi lain dia kecewa atas penampilannya yang begitu terbuka, dia tak ingin lelaki lain secara tak langsung dapat melihat bentuk tubuhnya. Namun sekejap kekecewaan itu sirna seketika ia tertangkap ilusi hipnostis dari iris violet itu. perlahan Luna mendekatkan bibirnya dan mengecupnya pelan.

"Kau... " Dia menghentikan aksi menciumnya kemudian mengerutkan keningnya perlahan.

"Biar aku tebak...Kau tersihir dengan penampilanku pagi ini bukan?" Sekali lagi senyum merekah di bibirnya.

Noctis tidak menjawab, dia hanya tersenyum kagum memandangi dewi yang berada di depannya sekarang. Dia hanya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk bermesrahaan dengannya, menciumnya dan membawanya jatuh ke dalam ilusinnya yang memabukkan.

"Oh ayolah Noct... kau hanya membuatku tertawa. Ngomong-ngomong tampan, kau terlihat menggairahkan di pagi ini..." Dia mengedipkan mata kirinya sembari tersenyum geli ke arah Noctis. Di sisi lain Noctis yang menyibukkan dirinya dengan Luna, ke tiga temanya hanya dapat diam menyaksikan mereka berdua. Suasana itu sudah tak asing bagi mereka, namun pastinya sangat asing bagi media masa. Terkadang mereka sangat iri melihat keromantisan mereka berdua, Tidak bagi Prompto playboy kelas kakap yang sehari-harinya berganti pasangan. Namun terkadang sekali-kali Prompto menyempatkan dirinya untuk menggoda putri dari Tenebrae itu, berharap bahwa putri secantik Luna dapat ia rebut dari pelukan Noctis. Naasnya usaha yang selalu ia lakukan berakhir tragis dimana Luna selalu bisa menghindar dari godaanya dan ucapan pedas yang selalu mengahantamnya bertubi-tubi saat ia mulai menggodanya, dan pada hari itu juga Prompto berjanji dalam hidupnya bahwa ia tak akan mengulangi sikap bodohnya itu. Sedangkan untuk Gladiol dan teman berkacamatanya itu mereka masih belum menemukan pasangan yang pantas untuk mereka, meskipun wanita di lingkup kerajaan tak sedikit yang mengejar dan berusaha mendapatkan mereka berdua. Satu jam sudah Noctis dan Luna terlarut dalam pembicaraan, sepintas terlihat wajah bosan yang terpasang di wajah Prompto dan kedua temannya.

"Oh ayolah kapan kita bisa berhenti melihat sandiwara cinta yang memuakkan ini dan pergi untuk pulang" rengek Prompto sembari merapikan rambutnya.

"Promp ini bukan sandiwara, ini nyata" ucap ignis dengan nada bicaranya seperti biasa.

"Kau memutuskan untuk pulang? Berapa banyak kencan buta dalam daftarmu?" Sahut Gladiol di tengah obrolan mereka. Prompto terperanjat saat ia mendengar sindiran halus yang keluar dari mulut temannya itu. Mulutnya tak berhenti bergerak dalam sunyi. Dia ingin membalas kekejaman itu. namun bibirnya tak mampu membalas dan ia memutuskan untuk lebih baik diam.

Tak lama kemudian langkah kaki yang terdengar dari kejauhan menyita perhatian mereka berlima, Seorang wanita cantik berambut pirang terurai bak layakanya seorang dewi berjalan dari kejauhan dimana senyum yang merekah di wajahnya menambah pesonanya tersendiri saat mata-mata itu serentak menatap kehadirannya. Wanita itu mengenakan white skirt dress bermotif white rose dimana motif itu hanya menghiasi area atasnya. Warna yang sangat cocok bagi Putri muda Tenebrae itu. Stella Nox Fleuret putri dari kerajaan Tenebrae yang tepatnya adalah adik kandung dari Lunafreya Nox Fleuret. Sepintas banyak orang tak bisa membedakan saat mereka berkenalan langsung antara Stella dan Luna, karena dari segi wajah, warna rambut serta postur tubuhnya-meskipun postur tubuh Stella yang agak kurusan dari Luna- memiliki tingkat kesamaan yang akurat. Ratu Sylva Via Fleuret tak menyangka dapat memiliki anak semirip bak layaknya seorang anak kembar, seharusnya mereka berdua harus memiliki perbedaan dari segi fisiknya. Namun seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan mereka berdua, Luna mengubah gaya rambutnya, dan Stella yang masih tetap mempertahankan rambut pirang terurainya. Luna yang lebih tua dua tahun darinya lebih cepat tumbuh menjadi gadis dewasa yang anggun, sedangkan Stella yang lebih mudah darinya tumbuh menjadi gadis remaja yang manis. Wanita itu menghentikan langkahnya sekaligus memfokuskan pandanganya tepat ke arah wanita pirang yang berada di depannya. Dia menundukkan kepala untuk waktu yang cukup lama sembari merangkai kata yang pantas untuk ia ucapkan.

"Luna... maaf sebelumnya. Ibu tak bisa datang karena yang mulia raja Regis memerintahkannya untuk bergabung dengan rapat dewan menteri. Saya tidak bisa memastikan rapat apa yang diikuti. Oleh karena itu, saya menyampaikan bahwa Ibu sangat menyesal tak bisa hadir mengantarkan kepergianmu..." Stella menghentikan ucapanya sembari menegakkan badannya.

"Dan Maaf... atas keterlambatan saya" Dia melanjutkan pembicaraanya sekaligus tersenyum kecut ke arah wanita yang berada di depannya.

"Sudahlah... Katakanlah pada Ibu untuk tak perlu meminta maaf" dia meresponnya dengan ekspresi datar, meskipun sekilas tampak kekesalan yang tergambar di wajahnya.

"Permisi nona... kenapa Anda tidak memberitahuku sebelumnya. Kalau saya tahu tentang ini saya akan memohon pada Raja untuk membatalkan pertemuan mereka dan Ratu Sylva bisa datang untuk saat ini" sahut Noctis di tengah obrolan mereka. Dia hanya ingin memberikan yang terbaik bagi kekasihnya.

"Mohon di maafkan pangeran, ini adalah kesalahan saya karena tidak sempat berpikir bisa memberi tahu Anda" Dia menundukkan kepalanya untuk kesekian kalinya.

"Sudahlah Noct... Kau tidak perlu seperti itu. Orang dewasa tahu mana yang lebih penting untuk di dahulukan. Lagi pula Ibu jauh lebih penting di butuhkan di rapat itu daripada untuk mendatangiku" dia mencoba memperbaiki suasana. Sekilas tampak Noctis memandangi Stella cukup lama, dia hanya agak familiar dengan wanita itu, karena dalam pikirannya dia pernah bertemu dengan wanita ini sebelumnya tapi entah kapan. Dia juga berpikir bahwa Luna tak pernah sesekali bercerita tentang wanita yang berada di depannya saat ini, sekaligus dengan wajahnya yang sekilas mirip dengan Luna. Sejenak dia beranggapan bahawa Luna kekasihnya memiliki saudara kembar.

"Hei Noct jangan memandangi dia terlalu lama, kau mencoba untuk membuatku cemburu?" ucap Luna dengan nada yang sangat datar namun terdengar kejam. Noctis tidak berpikir bahwa kekasihnya itu bisa juga cemburu.

"Jangan sampai berpikir bahwa dia adalah kembaranku Noct... Karena aku tak begitu suka untuk di samakan dengan orang lain" Lanjutnya dengan nada yang sedikit ketus. Noctis hanya memandanginya sesaat kemudian beralih ke wanita yang berada di sampingnya. Di sisi lain Stella yang terkesima dengan Noctis yang sebelumnya sempat memandanginya, Ia juga kesal dengan tingkah laku kakaknya yang seperti itu. dia tak begitu suka dengan kakaknya yang berbicara ketus tentang dirinya.

"Luna... Siapa wanita ini? Kau tidak pernah bercerita apapun tentang wanita di keluarga Anda selain Ratu Sylva bukan?"

"Dia adalah Wanita berambut pirang ke dua di kerajaan Teneabre Noct... Saudaraku..." Luna melangkahkan kakinya mendekati Stella sembari memperkenalkan Stella kepada Noctis.

"Stella Perkenalkan Pangeran Noctis...Noct, Putri Stella" dia memperkenalkan mereka berdua satu sama lain. Stella pun bergegas mengulurkan tangannya untuk menerima jabatan dari Pria Spiky itu, namun di luar dugaan pria itu sama sekali tidak menjabat uluran tangannya. Dengan senyum kesal, Stella menurunkan tangannya dan menarik dress nya ke dua sisi sehingga tampak mengembang kemudian dia membungkukkan badannya seraya menghormati Pangeran Lucis yang berada di depannya itu.

"Senang berkenalan dengan Anda yang mulia..." Stella membungkukkan badannya sebentar kemudian menegakkannya. Tak sengaja iris violet cerah itu menangkap pandangan iris biru muda yang begitu tajam ke arahnya. Pandangan yang mampu membuat orang nyaris meleleh sesaat. Iris biru muda milik Noctis itu memandanginya sesekali lagi untuk waktu yang cukup lama dan itu menimbulkan warna merah merona terlihat jelas di pipi Stella. Stella sudah dua kali memerah karena tatapanya, ia tak tahu mengapa ia bisa sedimikian rupa. Padahal dalam hidupnya dia tak pernah sesekali memerah saat lelaki manapun menatapnya. Namun kali ini berbeda, Pria yang berposisi sebagai kekasih dari kakaknya itu kini berhasil membuatnya memerah di saat pertemuan pertama mereka. Pria itu masih memandanginya dan itu berhasil membuat Stella salah tingkah, dia sesekali membenarkan dress nya, poninya dan memutar bola matanya untuk menghindari tatapannya itu. Namun lensa mata Stella itu tak bisa kabur dari tatapannya, akhirnya tanpa sengaja ia pun kembali menatapnya dan di luar dugaan Pangeran itu pun Tersenyum simpul melihatnya.

"wuohooo! Demi etro! sungguh saya di berkati di pagi ini dengan kehadiran sosok seorang dewi yang turun dari langit! Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu Anda tuan putri..." sahut Prompto yang setengah berteriak menyadarkan mereka berdua. Dia tak ingin ketinggalan dengan obrolan ke tiga temannya itu. Gladiol dan Ignis serempak mengerutkan dahi melihat teman muda berambut pirangnya itu bertingkah laku bak layaknya seorang bocah yang berumur 7 tahun. Stella yang baru tersadar secepatnya merespon dengan senyum sembari membungkukkan badannya. Ia hanya ingin secara tak langsung berterima kasih kepada seseorang yang telah memuji dirinya.

"Suatu kehormatan bagi saya juga untuk bertemu Anda, dan terima kasih atas pujian Anda Tuan" Dia menegakkan badannya sembari masih teresenyum ke arah Prompto. Tak mengambil waktu lama Prompto pun mengulurkan tanganya, ia tak ingin membuang kesempatan emas untuk dapat berkenalan langsung dengan Stella.

"Putri Stella... izinkan saya untuk memperkanalkan diri... Pria muda tertampan ke-dua di kerajaan Lucis... Prompto" dia tersenyum menggoda dan itu membuat Stella begidik ketakutan.

"Apa?! Pria tertampan? Siapa yang sudi untuk memanggilmu dengan sebutan itu?" Sahut Gladiol menarik perhatian Prompto sesaat.

"Hei Gladiol! Bisakah Anda sesekali tidak berbicara kasar tentang saya?"

"Hei sobat! Saya hanya tidak setuju dengan ucapan Anda. Kau menganggap dirimu sebagai Pria tertampan ke-dua? Sedangkan di sini masih ada Saya, Ignis dan lelaki lainnya yang lebih tampan daripada Anda"

"Gladiol! *$!#^&! Saya hanya! Saya hanya ingin Putri Stella terkagum dengan saya! Putri secantik dia mana mungkin mau sama lelaki jelek! Kalau kau tidak setuju dengan pria muda tertampan ke-dua, okey fine! Pertama kedengarannya bagus juga!"

"Hei kau coba berani untuk merebut Noctis di peringkat itu" Sahut Ignis di tengah kegaduan mereka. Dia hanya ingin membenarkan omongan dari Prompto dan memperbaiki suasana, namun di luar dugaan ucapan dari Ignis malah membuat kegaduhan itu semakin panas.

"Ignis! Jangan memperjelas! Kau menurunkan level saya!" Emosi Prompto meluap.

"Yo Ignis! Kau sepikiran dengan saya sobat! Give me a tos!" Gladiol kalap kegirangan.

"Gladiol! Ignis! Jangan harap kalian mendapat ampunan dari saya nantinya! Kau sukses betul mempermalukan diri saya di depan Tuan putri!"

"Lagi pula kita berdua tak ingin Putri Stella akhirnya jatuh ke dalam rayuanmu... Saya tahu pada akhirnya kau akan mengajaknya untuk kencan bukan, Hidung Belang?" ucap Gladiol panjang lebar dan dari kejauhan tampak ignis bertepuk tangan.

"Ya...Maaf sekali Promp. Saya setuju dengan Gladiol, lagi pula kau tidak ada capeknya menggoda orang. Pertama, kau berkali-kali menggodaku sampai Noctis menghajarmu baru kau menghentikan aksimu. Sekarang kau lebih berani untuk menggoda Saudara perempuanku. Bisa-bisanya kau dapat pengaduan dari Ratu Sylvia tentang aksimu itu, lalu kau bakalan masuk trending topik saat ini dan kawanan wanita di seluruh penjuru dunia bakalan tahu tentang sifat aslimu itu dan yang lebih menakutkan lagi... wanita simpananmu itu akan menjauh darimu" mereka berlima serentak melihat ke arah Luna. Terlihat Gladiol yang berusaha memendam tawanya, Ignis dengan tepukannya, Noctis yang masih diam dan Stella yang terkikik di balik tangannya. Prompto terlihat sangat sangat di permalukan, wajahnya terlihat sangat memerah dan tadinya ia seperti dirudal langsung tertembak ke arah dadanya dan sekejap membuatnya mati sesaat. Luna tersenyum simpul melihat Prompto. Di dalam hatinya dia bakalan rindu suasana kegaduhan seperti sekarang ini.

"Dimohon perhatiannya... kebarangkatan jet terbang akan di mulai dalam 5 menit. Di mohon untuk Putri Lunafreya Nox Fleuret segera memasuki ruangan yang telah disiapkan, karena pesawat akan segera lepas landas"

"Noct...kau dengar itu. mereka memanggilku" Wanita itu mulai mengenakan jaket bulu putihnya, lalu memeluk kekasihnya.

"Jangan lupa untuk sering menelfonku yah" di mengecup bibir kekasihnya lembut sebelum memberinya kesempatan untuk berbicara.

"Saya akan selalu mencintaimu Luna"

"Me too. Selalu ingat itu di pikiran Anda" dia melepaskan pelukannya. kemudian beralih ke arah adik perempuannya.

"Stella jaga Kerajaan kita selama kepergianku. Dan jangan lupa sesekali mengirimkan pesan untukku. Aku selalu menyayangimu" Dia memeluk Stella sebentar kemudian memanggil kedua bodyguard nya untuk mendampinginnya berjalan ke arah jet terbangnya. Tampak dari kejauhan mereka berlima melambaikan tangan ke arah Luna. Memberikan salam untuk terakhir kalinya ke pada putri dari Tenebrae itu.