"Bangun Noct! Astaga ruanganmu, kau mabuk lagi? Raise and shine buddy kamu ada jadwal latihan pagi ini" Teriak Gladiol dan itu setengah berhasil membangunkan temannya itu.
"Glad.. kau bisa pending untuk beberapa menit?" Dia mengernyit membuka matanya sedikit sekaligus memegang rambutnya yang berantakan itu kemudian mengarahkan temannya untuk mengambil botol medis yang nampak familiar bagi mereka berdua.
"Brengsek. Sakit yang kau rasakan itu karena kebiasaan burukmu. Kau harus menguranginya yang mulia" dia menepuk bahu dari pria yang mencoba duduk dari ranjangnya.
"Hei. Kau sadar, Raja Regis memerintahkan seluruh staff wanita untuk membangunkanmu dan tak ada satupun yang berhasil menyadarkanmu selama satu jam" lanjut Gladiol
"Bodoh saya tidak tertarik dengan mereka"
"Haha kau mencoba untuk menipu saya? Sudahlah kau Raja baru disini kau sepatutnya menjadi contoh bagi rakyatmu yang mulia. Haha" Dia tertawa kemudian melanjutkan
"Saya tunggu Anda di arena latihan seperti biasa yang mulia" Gladiol menepuk bahunya kemudian melangkahkan kakinya sembari mengisyaratkan kepada pelayan kerajaan untuk membantunya menyigapkan pangeran Lucis tersebut. Disisi lain pangeran yang nampak exhausted akibat menemukan dirinya yang mabuk berat karena vodkanya, perlahan kemudian dia mengambil botol medisnya meneguknya dan menggerutu.
"Damn Gladiol" tak mengambil waktu lama dia berjalan sempoyongan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya selagi pelayan kerajaan merapikan ruangannya dan mempersiapkan setelan baju untuk latihannya.
Sudah 45 menit dia mengahbiskan waktu untuk mempersiapkan dirinya dan mengisi perutnya dengan lemon tea hangat kesukaannya. Dia berjalan cepat sembari masih memegang kepalanya dan tak menunggu waktu lama dia sampai di tempat dimana dia akan berlatih Ultimate Blade dengan Gladiol Amicitia, pewaris keluarga bangsawan. Amicitia yang sudah berperan sebagai pengawal pemerintah negara Lucis selama bergenerasi, dan tak heran mengapa mereka memiliki hubungan yang sangat akrab dengan Noctis, Lebih tepatnya Noctis menganggap dia sebagai saudaranya sendiri.
"Anda terlambat 45 menit yang mulia, dan Anda seharusnya sangat beruntung saya sudah terlatih dengan hal itu haha" dia melambai dari kejauhan dan terlihat Noctis meresponnya tersenyum kecut kemudian bergegas mengambil Ultimate Blade miliknya yang terpajang disudut arena itu. Tak mengambil waktu lama dari kejauhan dia berlari secara kesit dan mengayunkan pedangnya ke arah Gladiol dan secara sigap pelatih dari Amicitia tersebut menangkis serangan dari Noctis.
"Nice Gladiol" Noctis tersenyum menyeringai seketika badannya terhempas mundur akibat dari tangkisan temannya itu. Gladiol mulai meluncurkan serangan balik kearahnya dengan combo miliknya namun sayangnya Noctis tidak akan mudah terkalahkan begitu saja. Dia menangkis serangan combo Gladiol secara sempurna dan secara tidak langsung iris matanya berubah menjadi kemerahan. Gladiol mulai begidik ketakutan. Dia mencoba mengendurkan serangannya namun dengan agresifnya Noctis menyerang balik Gladiol dengan skill ultimate miliknya dimana itu menampilkan seluruh pedang miliknya yang siap akan melumpuhkan gladiol dengan sekali serangannya.
"Noct kendalikan dirimu! Jangan biarkan kau berdansa dengan emosimu" Sentak Gladiol sembari sigap akan mencounter serangan dari Pangeran Lucis tersebut. Iris kecoklatan miliknya menangkap bahwa sang pangeran sudah berlari kesit ke arahnya kemudian melemparkan ultimate blade tepat kearah Gladiol dan terpeleset mengarah ke tower arena tersebut. Tower yang nyaris runtuh akibat sekali serangan miliknya. Gladiol pun bernafas lega, pria setinggi 198 cm itu nyaris mati dengan sekali serangan namun sayangnya dari kejauhan nampak telinga kirinya menteskan darah segar. Tak mengambil waktu lama Noctis mengisyaratkan kepada pelayan kerajaan untuk melakukan tindakan medis kepada gladiol.
"Noct, saya tidak memintamu untuk membunuhku bukan?" Sahut gladiol terengah-engah mendekati pria itu namun noctis menghiraukannya, dia menyibukkan dirinya meletakkan Ultimate Bladenya ke stand weapon milknya dan melepas kaos hitam yang menempel ditubuhnya. Sinar matahari memantul dikulitnya secara sempurna menampilkan otot tubuh yang dibentuk secara padat dan berisi dimana keringat yang membasahi tubuhnya menambah kesan exotis yang jarang dimiliki oleh semua pria.
Dia perlahan berjalan menjauhi glaidol kemudian mengambil minuman soft drink segar didepannya sembari duduk mengistirahatkan tubuhnya.
"Yang mulia, beberapa bulan kedepan kerajaan Lucis akan mengadakan pertandingan dengan kerajaan Niflheim dan saya tidak ingin Anda seketika itu melenyapkannya. Saya tahu Anda mampu, Anda sangat tidak menyukai Niflheim, Tapi pertandingan itu bukan alasan yang tepat untuk membunuhnya" dia mendekati sembari menepuk bahunya. Pertandingan antar kerajaan merupakan tradisi tiap tahunan yang tak lain adalah tradisi untuk mengakrabkan satu kerajaan dengan kerajaan lainnya.
"Wanita pirang itu lagi hah?" Sahut Gladiol mendekati Noctis kemudian mengambil minuman yang sama sembari duduk disamping Pangeran Lucis itu. Kalimat yang keluar dari mulut Gladiol secara tak sadar menarik perhatiannya dan itu membuat noctis menatapnya tajam. Bagaimana tidak Gladiol tahu Noctis memikiran wanita pirang itu dikarenakan ia melihat Noctis menyibukkan dirinya dengan menelpon kekasihnya Luna secara tak henti-hentinya. Di sisi lain, tampak seorang wanita pirang yang sama dengan rambut yang terurai secara cantik kini sedang mengitari lapangan arena tersebut dan itu mengalihkan perhatian Noctis ke arahnya. Stella yang mengenakan dress panjang selutut dan agak terawang membuat sisi lain dari pangeran lucis mulai berkeliaran. Dia menatap satu persatu langkah dari sang putri mengitari arena tersebut dan pada akhirnya sepasang iris violet dan iris biru miliknya saling mengunci satu sama lain. Stella tersenyum merekah menyapa pangeran Lucis dari kejauhan.
"Yang mulia Noctis" dia mendekati pangeran yang sedang beristirahat duduk sambil membungkukkan badannya secara anggun dan memberi salam.
"Putri Stella senang melihat Anda. Silahkan, Anda tidak keberatan untuk menemani saya?" Noctis berdiri mempersilahkan adik dari kekasihnya itu untuk duduk menggantikannya
"Yang mulia saya rasa latihan hari ini sudah cukup, kita bisa lanjutkan keesokan harinya - dan Putri Stella senang bertemu Anda" Sahut Gladiol pamit kemudian meninggalkan mereka berdua.
Disisi lain Noctis mengisyaratkan kepada pelayan kerajaan untuk mempersiapkan hidangan makan siang dikarenakan jam telah menunjukkan pukul 11.
"Tolong hidangkan crown city roast, kami bisa menunggu hidangan itu" Perintah Noctis kepada pelayan kerajaan dan itu meninggalkan mereka berdua saling membeku satu sama lain.
"Stella, bagaimana dengan kerajaan kami? Kau betah untuk tinggal disini untuk sementara waktu?" Ucap Noctis memecah keheningan, dia lebih suka berbicara non formal secara tak ada yang mengawasi dirinya.
"Disini hangat tidak terlalu panas, sejuk tak terlalu dingin. Mungkin saya akan memperpanjang waktu untuk tinggal disini yang mulia" dia tersenyum simpul sembari merapikan rambutnya yang tertiup angin sepoi.
"Luna tidak pernah menceritakan tentang kamu sebelumnya. Bahkan kalau dia bercerita tentang wanita selain dirinya yang tak lain adalah ibu Anda" Noctis menjeda mengalihkan topik pembicaraan.
"Kenapa dia menyembunyikannya dari saya?" Lanjutnya sembari mengunci pandangannya ke arah wanita pirang itu. Disisi lain Stella nampak kebingungan dan mencoba memberikan jawaban yang tepat bagi hubungan Noctis dan Luna.
"Anda mencintainya bukan yang mulia? Mungkin Luna berpikir setidaknya lebih baik Anda hanya mengenalnya saja"
"Stella, saya mencintainya dan kau tidak perlu untuk menanyakan hal itu" Respon pangeran Noctis kecewa kemudian mengalihkan pandangannya ke depan arena itu.
"Saya mencintainya, menurutmu wajar jika dia tidak menjawab panggilan saya?" Dia perlahan mengepalkan tangannya dan itu membuat Stella terperangah, dia tidak percaya bahwa kakaknya sendiri mengabaikan panggilan dari kekasihnya dan memilih untuk membalas pesan darinya.
"Saya tahu Anda tidak perlu menceritakannya Putri Luna" Nampak Pangeran Lucis itu mengarahkan tangannya dan menyentuh dagu dari Putri muda Tenebrae itu. Dia mendekatkan wajahnya dan berbisik
"Karena Luna adalah Anda" sekejap dia menciumnya, perlahan memejamkan matanya sembari mengajak bibir Luna untuk terbuka padanya. Stella terkejut kemudian mencoba melepaskan dirinya karena dia tahu ini tidak baik untuk hubungan mereka berdua termasuk Luna. Namun sayangnya tangan berotot itu memeluk badannya secara kuat dan memaksanya untuk menyerah. Stella mulai kualahan, ciuman itu sangat agresif namun memabukkan bagi dirinya. Dengan perlahan dia membuka mulutnya membiarkan pangeran muda tampan itu melumat apa yang ia sembunyikan dari bibirnya sehingga tubuh atletis itu refleks mendorong Stella dan membuatnya terjatuh melawan gravitasi. Noctis mengunci kedua tangan Stella dengan kuat, dia melanjutkan aksinya mencumbui dirinya, menjelajahi lehernya dan terdengar erangan nyaring yang keluar dari bibir glossynya itu. Stella hampir terjatuh dalam cumbuannya, dia perlahan memberontak dan menyadarkan pangeran Noctis yang kini di atasnya.
"Saya mohon yang mulia... Ini tidak baik untuk Anda dan Luna" dia memberontak dan seketika itu Noctis mengangkat wajahnya dan menatapnya.
"Anda tidak menyukainya yang mulia?" Dia mengerutkan dahinya sekaligus memandangnya sebentar kemudian mencium dahi wanita yang di depannya dan beranjak bangun dari atas tubuhnya. Disisi lain Stella dengan sigap membenahkan gaun putih miliknya, termasuk kain lengannya yang jatuh dan hampir memperlihatkan belahan dadanya. Tak lama kemudian iris violet miliknya melihat bahwa punggung terlanjang laki-laki yang mencumbuinya itu perlahan meninggalkannya sendiri, tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun Noctis meninggalkan Stella berdiri di lapangan itu.
"Yang mulia Stella, maaf kami membuat Anda menunggu. Silahkan untuk menikmati hidangan siang kerajaan" Nampak pelayan kerajaan muncul dari kejauhan kemudian mendekatinya dan menghidangkan 2 menu makan siang tersebut. Kemudian pelayan itu pamit dan meninggalkannya sendiri bersama angin sepoi yang meniup helaian rambut dan gaunnya secara indah.
