(Note : If you interested on this chapter, please read to my fiction at Wattpad, this chapter contains much Images support of each paragraph)
Si cantik mobil Regalia kini berlari di kota yang dikenal dengan insomnia itu, tempat dimana kedudukan kekuasaan Lucis berada. Sebuah kota Metropolitan yang ditumpuk dengan gedung pencakar langit. Kota pusat kerajaan memiliki area yang benar-benar menakjubkan dimana dipisahkan dari daratan oleh jembatan dan dikelilingi oleh air dengan benteng tinggi yang melingkarinya. benteng yang berisi kristal agung didalam dindingnya dimana kristal itu dipusatkan di tengah, disimpan didalam sebuah benteng tinggi yang dikenal dengan sebutan Insomnia Citadel. Cahaya kristal tersebut memancar langsung dari benteng ke langit untuk memproyeksikan sebagai perisai yang melindungi Insomnia yang saat ini masih dikendalikan oleh Raja Regis Lucis Caelum.
Iris birunya memandang keluar dari kacal mobil yang membatasinya sembari memperhatikan seluk-beluk keramaian dari kota insomnia. Malam itu pangeran Noctis mengenakan setelan black double breasted yang melekat ditubuhnya, dimana dia menghiraukan layar ipad miliknya yang menampilkan Raja Regis kini sedang sibuk Melanjutkan pertemuan virtual online dengannya. Dia nampak kelelahan akibat pertemuan sebelumnya, maka dari itu dia pejamkan matanya perlahan dan mecoba untuk menikmati tidur singkatnya.
"Yang mulia Noctis...yang mulia Noctis" nampak iris familir itu melihatnya dari kaca depan mobil dan mecoba untuk membangunkannya.
"Hm..." Dan itu berhasil membuatnya setengah tersadar.
"Lucis Bar tujuan kita malam ini?" Tanya bodyguardnya untuk memastikan.
"Hmm" tune suaranya rendah meresponnya setuju.
Jarinya menekan layar handphone miliknya membaca sebuah vidio yang beberapa jam lalu barusan dia unduh, tampilan wajah kekesihnya Luna itu membuat dia terus memutarnya.
"Hei honey..Maaf saya benar-benar meminta maaf untuk tidak menjawab semua panggilan Anda, Seketika saya tiba disana saya banyak menjumpai konfrensi dengan atasan kerajaan dan itu membuat saya sangat lelah dan tidak bisa menjawab semua panggilan Anda" dia melihat wajah dari kekasihnya itu meminta belas kasihan darinya.
"Dan bagaimana kabarmu? Saya pasti sangat merindukanmu. Saya akan menjadwalkan kepergian saya ke Lucis secepat mungkin! Saya janji itu honey! Saya merindukan semua tentangmu, sentuhanmu termasuk candu bibirmu itu..." wajahnya berubah seketika dia merayunya. Disisi lain nampak dari Vidio yang berdurasi singkat itu menampilkan Luna yang berpakaian mini, mengekspos termasuk bagian dadanya yang terlihat sangat jelas. Noctis seketika itu merespon tidak menyukainya. Bagaimana tidak, posisi dari Luna yang tak lain adalah kekasihnya itu berani berpakaian yang sangat tak wajar seketika dia jauh dengannya, sekaligus dia bukan berada diruangannya sendiri untuk berpakaian yang seperti itu dan sepertinya ada hal lain yang dia lakukan bukan sengaja untuk sekedar menggodanya saja. Vidio yang hampir belum selesai itu sudah di tutupnya dengan cepat, tangannya mencengkram celana hitamnya kuat dan dia berdercak kesal.
Tak mengambil waktu lama. Mobil kerajaan itu berhenti, Noctis mulai melepaskan setelan jas hitam miliknya dan meninggalkan kemeja hitam yang masih melekat di tubuh atletisnya itu. Ia melangkahkan kakinya keluar kemudian mengkode bodyguardnya untuk pergi meninggalkannya. Dia perlahan memasuki bar miliknya, Lucis bar and restaurant. Staff disana kaget mendapati kedatangannya, jarang sekali sebelumnya pangeran Noctis menyempatkan dirinya untuk singgah di bar miliknya itu. Bar itu didesain dengan arsitektur ternama di Lucis, dengan mengambil tema Deep Dive. Desain Deep Dive mencakup batasan spasial yang melekat dalam skala kecil, ketinggian langit-langit yang bervariasi dan bentukan yang rumit. Di ruangan dalam, tanjakan yang landai membawa tamu ke lingkungan yang canggih menghindari minimalis yang memiliki beragam material dan objek. Tempat intim seluas 155 meter persegi ini dibuka sebagai serangkaian sketsa : jalan masuk, panggung bar dan restaurant. Ruangan itu dibungkus dengan kayu gelap, diselingi oleh rak dan relung yang mendukung berbagai benda dan artefak secara alamiah. Sedangkan di langit-langit, pita baja yang disampirkan yang di rancang khusus untuk menambahkan kesan eksentrik dalam ruangan itu. Tempat duduk berlapis bludru, meja cocktail mini dan perabotan antik melengkapi interiornya. Restaurant dipisahkan dari bar utama oleh dinding partisi baja dan kaca dengan dilengkapi campuran barang antik dimana menyediakan ruangan pribadi untuk pertemuan yang akrab. Karpet antik, logam berpatina, kain mewah, kayu gelap (kayu ek dan kenari) dan panel dekoratif melengkapi ruangan itu. Sesaat Anda masuk, Anda akan turun kedalam kegelapan yang diwarnai dengan rasa sihir dan mistik dari Lucis. Kesan emosional yang terbentuk dari dimensi ruangan arstiktur tersebut.
Noctis mengistirahatkan dirinya duduk di kursi paling tengah sembari mengkode bartender didepannya.
"Vodka" nama yang sangat familiar, minuman favorit bagi sang pangeran Lucis. Di sisi lain pengunjung yang setengah memenuhi bar itu tercengang, baik pria dan wanita disana mulai membicarakan public figure utama dari kerajaan Lucis. Noctis meresponnya dingin sembari menunggu bartender itu menuangkan liquid ke dalam gelas mini di depannya, dia meneguk sekali minuman tak berwarna itu kemudian mengeluarkan cigerattes dari saku kirinya, menyalakan korek kemudian menikmati sebatang cigerattes didalam bar itu. Meskipun di salah satu sisi tembok terpajang larangan untuk merokok di area tersebut, namun Noctis mengacuhkanya begitu saja. Malam semakin larut, live music orkestra mulai memainkan lagunya dimana vokalis wanita bersuara lembut itu melantunkan lagunya yang berjudul Sway - Michele bubble sembari diiringi irama ketukan saksofon dan perkusi yang pas menambah alunan lagu yang bergenre jazz itu menjadi sangat sexual .
(Nb : Saya sangat menyarankan disini untuk mendengarkan lagu sesuai yang didiskripsikan, Pink martini-Sway genre klasik yang lebih cocok dengan suasana itu dan saya mencoba untuk melampirkan link youtubenya disini tapi sayangnya itu tidak bisa, so please listen and enjoy ;))
Disisi lain tampak pria berambut hitam itu kini sedang menghabiskan botol vodkal kedua miliknya, dia lebih memilih menikmati malamnya sendiri bersama lantunan lagu dan botol Vodka miliknya kemudian setengah tersadar Noctis mengkode bartender di depannya untuk memberikan botol Vodka ke tiga kalinya.
"Maaf yang mulia... Anda sudah mabuk berat. Peraturan disini mewajibkan semua orang untuk berhenti minum seketika mereka sudah setengah kehilangan kesadaran" dia membungkuk sopan sembari merapikan meja Noctis yang sangat berantakan dimana dipenuhi botol Vodka kosong dan sisa putung rokoknya miliknya.
"Berikan saya sekali lagi... Brengsek" Sentak Noctis dengan tune rendahnya namun terdengar tajam. Dia menunggu bartender di depannya memberikan orderan miliknya sembari merokok dan meneguk Vodka dari botolnya secara langsung dengan bergantian.
"Saya meminta maaf yang mulia..." Bartender itu membungkuk sekali lagi.
"Hei... Brengsek. Dengar, sekali lagi kau berani melarang saya, saat ini juga kau harus pergi meninggalkan bar ini mengerti!" Sentak Noctis dari tune yang terendah hingga suara itu menggemakan bar dan menarik perhatian bagi seluruh pengunjung bar Lucis tersebut. Dengan sigap bartender yang kini bergidik ketakutan memberikan botol Vodka ketiga miliknya dan menyajikannya langsung tepat di depan Noctis. Tak menunggu waktu lama dari sisi lain berjalan seorang wanita tinggi berambut coklat lurus datang menghampiri bartender kemudian duduk disebelah pangeran Noctis. Wanita tinggi itu mengenakan hotpants dan jaket denim pendek miliknya dimana secara tidak langsung menampilkan perut atletis yang sengaja di bangun memadatinya.
"Wishkey please..." Dia tersenyum ke arah bartender kemudian merapikan rambutnya sekaligus melihat diam-diam pria yang duduk di sampingnya.
"Yang mulia Noctis... Senang melihat Anda" dia memposisikan kursinya mendekat ke arah Pangeran dan respon Noctis tetap mengacuhkannya.
"Oh... Maaf sebelumnya mengganggu Anda yang mulia. Saya memperhatikan Anda dari kejauhan untuk waktu yang lama. Dan saya berpikir sepertinya Anda kesepian karena tak ada seorangpun yang berani menemani Anda" dia meminum wishkeynya cantik sembari menyilangkan kakinya.
"Saya tidak tertarik..." Respon Noctis dingin menyanggupinya. Dia masih mengepulkan uap rokok dari mulutnya. Wanita cantik itu menghadapkan kursinya tepat di hadapan Noctis kemudian perlahan melebarkan kakinya untuk menarik perhatian pangeran Lucis.
"Anda... Terlihat sangat tampan dengan cigerattes Anda yang mulia" dia mengunci pandangannya kepada miliknya. Mencoba menghipnotisnya untuk kesekian kalinya.
"Anda... Tidak takut untuk melakukan ini?" Respon Noctis menghisap rokoknya kemudian mengepulkan asap rokok miliknya tepat dihadapan wajah cantik itu.
"Haha" Responnya tertawa anggun. Kemudian meneguk wishkey miliknya
"Jarang ada wanita cantik seperti Anda menyukai segelas wishkey. Kau tahu, Itu...Sangat keras akan pengaruhnya" Pelahan Noctis meminta wanita itu mengarahkan wishkey miliknya untuk dia minum langsung dari tangannya.
"Iya keras... Seperti Anda yang mulia" wanita itu masih mengunci pandangannya sembari memindahkan tangannya perlahan ke arah organ intim milik sang pangeran dan itu membuat Noctis semakin liar melihatnya. Dia sadar dia mabuk tapi bagaimanapun juga dia tidak mau menolak atas pemberiannya.
"Saya bisa memberikan semua hal yang Anda inginkan... Yang mulia. Apapun itu... Untuk Raja kami" dia mendekatkan tubuhnya melawan miliknya sembari jari-jari nakal itu perlahan membuka kancing kemeja hitam miliknya secara keseluruhan dan mendapati tubuh atletis Noctis yang terlihat jelas di depannya. Tangan kanan wanita itu menjalajahi bagian tubuh depan miliknya, merasakan sensasi otot yang dibangun secara sempurna kemudian berakhir untuk menyita rokok miliknya sekaligus disisi lain tangan kirinya sibuk berdansa dengan organ intim pangeran yang tampak mulai mengeras.
"Anda... Terlihat sangat tampan menggairahkan yang mulia" Dia berbisik dekat kearah bibirnya kemudian mengecup bibirnya. Wanita itu mengontrol sang pangeran, mencium bibirnya pelan dan mengajak lidahnya berdansa dengan miliknya. Di sisi lain perlahan Noctis memeluknya memegangnya erat dan menciumnya secara agresif. Wanita itu terbelalak kaget namun menikmatinya. Dia membiarkan pria tampan itu mengontrol dirinya saat ini. Noctis terlihat sangat menikmatinya dan lupa akan jati dirjnya karena pengaruh alkohol miliknya. Lantunan lagu Sway yg menggemakan ruangan itu mendukung sexualitas miliknya, dia tak peduli dengan sekitar, dan wanita itu benar dia kesepian, dia hanya ingin dipenuhi hasrat sensualnya. Noctis kemudian dengan kasar mendorong wanita itu ke arah tembok kemudian kembali mencumbuinya merasakan aroma bibir yang dulu dia sering rasakan dan saat ini dia rindukan. Tak menunggu waktu lama Noctis merasakan rasa sakit yang luar biasa dimana itu meninggalkan bercak darah yang menetes dari bibirnya.
"Brengsek kau pangeran! Beraninya kau mencumbui kekasih saya!" Tampak pria paruh baya itu menonjoknya sekali lagi dan itu membuat Noctis terpental kebelakang.
"Kau tidak punya wanita lain untuk bisa kau nikmati hah?!" Dia menonjoknya lagi. Noctis yang kini terkapar lemah dan tak sadar mencoba bangun sempoyongan kemudian membalas serangannya namun pria itu dengan mudah menghindari dan mendapati Noctis terhempas jatuh melawan tembok di depannya karena pengaruh berat dari alkohol miliknya. Kurang puas dengan dua kali serangan pria itu menarik kerah milik pangeran, menyeret tubuh sempoyongan itu kemudian menghajarnya tepat di wajahnya membuat Noctis terdorong mundur melawan meja marmer bar itu dan membuat material gelas dan botol diatas meja itu kini pecah. Adegan perkelahian itu membuat seisi bar memberi perhatian penuh kepada mereka berdua, beberapa pria ada yang mencoba untuk melerainya termasuk barista yang menemaninya tadi. Dan beberapa wanita mencoba untuk menghubungi pihak kerajaan Lucis untuk meredam konflik yang terjadi saat ini. Noctis terlihat kacau, wajahnya lebam dan tampak dia kesusahan untuk tersadar penuh akan jati dirinya. Tak menunggu waktu lama Gladiol dan Prompto muncul di hadapan mereka. Perhatian Igniz datang langsung untuk membantu sang pangeran sedangkan disisi lain Gladiol dan Prompto mengkondisikan suasana bar yang nampak berantakan itu sembari masih diiringi lyric lagu terakhir yang dilantunkan dari vocalis orkestra itu.
I can hear the sounds of violins...
Long before it begins...
Make me thrill as only you know how...
Sway me smooth, sway me now...
