"Selamat pagi, Nut."
Insinyur sipil yang punya nama tersebut mendongak dari meja kerjanya di ruangan yang lebih kecil. Ada orang lain di situ, yakni Ying, duduk di kubikel yang berseberangan. Gadis berkacamata itu melirik sedikit saat Solar masuk, bertukar anggukan singkat dengan si arsitek, lalu kembali menekuni pekerjaannya di komputer.
"Pagi, Solar. Ada apa?" Nut membalasnya.
Sambil membetulkan letak kacamatanya, Solar duduk di depan Nut, lalu menatapnya dengan serius. "Aku mau minta tolong padamu."
"Apa, nih?" Nut menggeser pandangannya dari laptop di atas meja.
"Tolong cek perhitunganku." Solar bicara nyaris dalam bisikan, seolah tidak mau Ying mendengar.
Alis Nut terangkat. "Oh? Untuk proyeknya Pak Kaizo itu?"
"Benar. Proses perizinan kami sudah hampir selesai."
Mata Nut mengikuti gerak-gerik Solar yang membuka ranselnya dan mengeluarkan segepok kertas tebal.
"Untuk gedung pencakar langit setinggi enam ratus meter. Semua perhitungan kontur dan stabilitas bangunan, kapasitas dan kekuatan tanah, tegangan geser …." Solar mengabsen datanya satu per satu dan menatanya di atas meja.
Nut mengernyit. "Tunggu sebentar, Solar. Bukankah ada Fang dalam timmu? Biar dia saja yang mengecek?"
Solar melirik tajam. "Nut, kamu lupa Fang itu lemah di mata kuliah Kalkulus?"
"Oh," gumam Nut sambil mengangguk. "Iya, aku lupa. Maaf." Diraihnya tumpukan kertas itu. Bukannya Nut merasa terbeban, sih. Hanya saja, "Aku selesaikan kerjaanku sebentar, ya."
Solar bangkit berdiri dan tersenyum. Insinyur yang dua belas tahun lebih tua darinya itu memang selalu bisa diandalkan. "Oke. Terima kasih banyak, Nut."
"Sip, sama-sama." Nut menatap si junior. "Jadi, tim untuk proyek Pak Kaizo ini ada kalian berempat?"
"Berempat?" Solar belum jadi keluar dari ruangan.
"Pak Amato, kamu, Fang, dan seniman mural itu?"
"Oh, benar. Ada empat orang. Tapi yang terakhir itu, 'kan, bukan dari biro kita."
"Hmm …." Nut berpikir-pikir sebentar dan Solar menunggunya. "Pak Kaizo pasti akan mendanai seluruh proyeknya, 'kan?"
"Iya."
"Mau kubantu menghubungi biro Pak Tarung untuk tender pekerja? Kudengar mereka sudah menambah lebih banyak tenaga. Nanti akan kuinfokan ke Yaya, biar diurus pembayarannya sekalian."
Senyum Solar makin terkembang. "Kalau kamu nggak repot, boleh, Nut. Terima kasih banyak, ya."
"Dengan senang hati." Nut balas tersenyum dan menatapnya penuh arti.
"Duluan, Ying," ucap Solar pada sang hawa.
"Iya, Solar," balas Ying sambil melambaikan tangan sekilas.
Solar keluar dari kantor Nut dengan hati senang. Memang tidak salah minta tolong pada si insinyur serbabisa yang dijuluki demikian oleh Amato dan telah terbukti sepanjang sejarah hidup Solar sendiri.
Sejarah hidup yang bagaikan roller coaster.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Disclaimer: BoBoiBoy © Monsta
A Luta Continua (Latin: the struggle continues) © Roux Marlet
The author gained no material profit from this work of fiction.
Alternate Universe, No Pairing, Grown-up Characters.
Genre: Friendship, Family, Angst.
Rated M (Mature) for the ADDICTIONS theme (to be explained later).
.
Important side notes: Tok Aba dan Amato di sini bukan ayah dan anak.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Amato dan Pian mendirikan Surya Gamma Sentosa, Sdn. Bhd. saat Solar baru berumur satu tahun (jadi, bisa dibilang biro itu seusia dengan Solar). Selama tujuh tahun pertama, Amato dan Pian menjalankannya hanya berdua saja sampai sepasang saudara kembar, Sai dan Shielda, bergabung dengan mereka. Sai seorang insinyur sipil dan Shielda seorang arsitek, keduanya fresh graduate tapi bersemangat untuk mengembangkan biro itu bersama Amato dan Pian. Satu klien sukses, menyampaikannya kepada kenalannya, begitu seterusnya. Dari situlah mula-mula nama Surya Gamma Sentosa dikenal orang. Biro itu makin berkembang ketika Nut, insinyur sipil yang berpengalaman di bidang freelance marketing, bergabung dengan mereka dan jadi ada banyak promosi melalui media massa. Itu tahun yang sama dengan kelulusan Solar dari Sekolah Rendah.
Solar masih ingat bahwa sejak dulu dia memang menyukai Nut yang bisa apa saja. Saat partisi kecil mainan Lego miliknya ada yang tersangkut di bagian yang lebih besar, Nut pasti bisa mengeluarkannya tanpa merusaknya. Nut juga jago pertukangan, bahkan sempat membuatkan sendiri meja gambar mini untuk Solar sebelum akhirnya dia dibelikan oleh orang tuanya di ulang tahun yang ke-13. Pada tahun itu juga, Sai mengundurkan diri dari biro karena lolos seleksi menjadi pegawai pemerintah dan Pian juga tak lagi bekerja di situ karena bisnisnya telah meluas ke bidang properti dan pakaian, tapi dia tetap sebagai pemegang saham Surya Gamma Sentosa.
Solar berhasil mengambil kelas akselerasi dalam dua jenjang pendidikannya, sehingga dia memulai kuliah arsitektur di umur tujuh belas tahun. Dia juga sudah bertekad untuk lulus menjadi arsitek dalam tiga tahun, ikut bekerja di Surya Gamma Sentosa, dan memulai kuliah teknik sipilnya sambil bekerja.
Segala rencana Solar untuk masa depannya tampak sungguh matang dan terstruktur, seperti halnya gambar-gambar bangun ruang di atas kertas di bentangan meja gambarnya. Manusia boleh saja berencana, tapi Tuhan punya kehendak. Ibarat menara tinggi yang runtuh karena kesombongan, keruntuhan masa depan Solar barangkali dimulai saat ulang tahunnya yang kedelapan belas dan sedang menuju puncak tertinggi di hidupnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Selamat ulang tahun, Solar!"
Solar dituntun oleh sang ibu, Hanna, menuju bagian belakang rumah dengan mata ditutup tangan. Saat Amato memanggilnya, Hanna melepas sang putra, dan Solar terkejut melihat sebuah mobil sport berwarna perak di depannya.
"Mobil ini … untukku?"
"Untuk siapa lagi?"Amato tertawa dan mengacak rambut putranya.
Binar di mata Solar tak menyembunyikan rasa senangnya. Dia memang sudah tidak pernah minta hadiah apa-apa lagi yang berhubungan dengan arsitektur karena merasa apa yang dipunyainya sudah cukup. Bukan kebetulan juga Solar mulai mengambil kursus mengemudi tahun itu, tapi pikirnya dia akan mencoba belajar menyetir sedan milik Amato.
Mobil mentereng jenis convertible car dengan dua tempat duduk itu merk Chevrolet Corvette dan bagian atapnya bisa dibuka-tutup menggunakan remote control. Solar merinding sendiri membayangkan harga kendaraan itu. Disentuhnya dasbor dengan lembut.
"Terima kasih, Ayah, Ibu. I-ini pasti mahal …."
Amato tersenyum simpul. "Oh, Solar, kamu nggak usah khawatir. Bukan Hanna namanya kalau gagal berhemat."
Hanna terkikik. "Mobil ini bukan beli jadi, tapi dirakit!"
Solar ternganga. "Dirakit? Bagian per bagian?"
"Iya. Ayahmu dan Nut yang merakitnya. Hebat, 'kan? Bisa dapat separuh harga."
"Itu, 'kan, idemu, Hanna." Senyum Amato tampak puas. "Tapi memang ada kepuasan tersendiri ketika berhasil merakitnya. Meskipun, Nut yang lebih banyak mengerjakannya daripada aku."
Penjelasan orang tuanya membuat hati Solar menghangat. Hari itu juga, Solar membelikan separsel makanan untuk karyawan teladan ayahnya itu sebagai tanda terima kasih. Nut terkaget-kaget saat mendapatkannya.
"Oh, iya! Benar juga! Selamat ulang tahun ke-18, Solar! Kamu sudah besar sekarang. Semoga cepat lulus jadi arsitek dan kerja di sini! Dan juga, mobil itu bakal membuatmu terlihat keren untuk pergi kencan!"
Tahun itu memang tahun terakhir Solar berkuliah arsitektur. Solar dengan malu menanggapi, "Terima kasih, Nut. Aku belum tertarik untuk kencan dengan siapa pun. Aku mau fokus pada studiku."
Dan memang hanya studi saja yang menjadi fokus hidup Solar sampai beberapa tahun setelahnya. Kemudian, ada orang-orang baru yang masuk di hidupnya, salah satunya adalah Fang.
Waktu Solar pertama kali mengenal Fang di kampus teknik sipil, tampaknya saat itu adalah puncak hidupnya.
Fang sempat terlambat masuk kuliah semester pertama karena insiden patah tulang kaki akibat kecelakaan motor di jalan. Saat akhirnya ikut kuliah, Fang mengira orang yang mengajar di depan kelas Kalkulus hari itu adalah dosen yang masih sangat muda. Alangkah kagetnya dia ketika minggu berikutnya si dosen muda berkacamata itu duduk di barisan mahasiswa.
"Eh … Pak? Bang? Kukira Anda itu dosen?"
"Siapa? Aku?" Solar menatapnya selagi Fang mendudukkan diri di sampingnya pelan-pelan. "Oh, kamu yang habis kecelakaan itu, ya. Aku mahasiswa semester satu juga, kok. Apa aku terlihat setua itu?"Solar tersenyum miring karena Fang terlihat semakin bingung.
"Eh? Kok, minggu lalu kamu ngajar Kalkulus?"
"Karena nilai ujian satu kelas ini jeblok. Kamu juga, ujian susulanmu dapat C, 'kan?"
"Aduh," keluh Fang. "Aku memang lemah di Kalkulus. Kalau begitu, kamu dapat nilai bagus?"
"Nilai sempurna. Makanya aku diminta memberi tutorial di kelas."
"Wow? Hebatnya!" Fang betul-betul tampak kagum. "Ajari lagi, dong. Penjelasanmu kemarin mudah dipahami!"
"Nanti, aku minta izin dosennya dulu, hehe."
"Kamu cocok jadi dosen, kayaknya," puji Fang lagi.
"Aku? Dosen? Aku nggak cocok jadi pengajar. Bukan, bukan masalah penguasaan ilmunya. Hanya saja, rasanya itu bukan panggilan hidupku." Mereka berdua sama-sama tertawa. "Kamu sendiri, mau jadi dosen?"
Ditanya begitu, Fang menunduk sedikit. "Iya, aku bercita-cita jadi dosen. Makanya, aku harus belajar rajin, karena aku tahu di mana saja kelemahanku."
"Semangat yang bagus," ujar Solar seraya tersenyum tulus. "Oh, ya. Namamu siapa? Aku Solar dan aku sarjana arsitektur."
"Aku Fang … jadi, kamu ini umur berapa, sih?"
"Tiga tahun di atasmu."
"Oh … apa harusnya aku panggil kamu Bang Solar?"
"Nggak. Solar aja."
"Oke … Solar."Fang mengulurkan tangannya dan Solar menyambutnya.
Hampir sama dengan Solar, Fang juga mahasiswa yang ambisius. Mereka sering belajar bersama dan bersaing dalam banyak mata kuliah selain Kalkulus, menargetkan untuk lulus sarjana teknik sipil dalam waktu kurang dari empat tahun. Solar, sementara itu, belum pernah punya teman seakrab Fang semasa sekolah maupun kuliah arsitekturnya. Berteman dengan Fang membuatnya menyadari pentingnya kawan karib yang saling mendukung dan bersaing secara sehat. Alhasil, Fang-lah orang luar pertama yang diajak Solar menumpang mobilnya dan main ke rumahnya.
"Gila …," seloroh Fang tanpa sadar saat diundang Solar ke parkiran kampus.
Solar menahan senyumnya. "Ini mobil rakitan, kok. Nggak semahal itu."
"Kamu merakit sendiri?!" Fang masih terpesona pada kendaraan mentereng itu sambil duduk ke kursi penumpang yang atapnya terbuka itu. Warna peraknya memberi kesan elegan dan Solar memang sangat rajin membersihkan mobilnya.
"Bukan. Nut yang merakitnya bersama ayahku."
Fang makin melotot. "Ayahmu merakitnya? Dan siapa lagi itu Nut?"
Di perjalanan, Solar kemudian bercerita panjang lebar perihal ayahnya, biro konstruksi tempatnya bekerja part-time, dan karyawan teladan yang membantu merakit mobil itu.
"Selamat, Fang. Kamu teman pertama yang kuajak naik kendaraan ini."
"Hah?" Fang menoleh keheranan. "Bukannya kamu sudah agak lama bisa menyetir?"
"Iya. Coba teliti lagi kalimatku tadi," sahut Solar sambil fokus mengemudi.
"Aku teman pertama yang kamu ajak naik kendaraan ini …," gumam Fang setengah mengingat-ingat. "Gimana teman yang lain?"
Senyum Solar timbul sedikit. "Nggak ada."
Fang terdiam, tak tahu harus menanggapi apa. Maksudnya, Solar tidak pernah punya teman, atau apa?
"Iya, aku nggak pernah punya teman dekat." Solar menyuarakan isi pikiran Fang dengan matanya tetap ke jalanan. "Orang-orang mendekatiku di kelas hanya karena mau mencontek tugas atau ujianku. Waktu di Sekolah Rendah, aku pernah di-bully gara-gara itu, dan ayahku memindahkanku ke sekolah lain. Ibuku yang biasanya menghiburku kalau terjadi hal semacam itu. Mereka berdua banyak memujiku, bilang bahwa aku pintar dan aku bisa berprestasi sendiri. Aku boleh menolong teman, tapi bukan dengan memberi contekan. Misalnya, dengan memberi tutorial. Tapi lagi, nggak semua orang mau diajari pelan-pelan kalau ada cara pintas lainnya untuk dapat nilai bagus."
Fang kembali tertegun. "Iya, kamu memang pintar, sih …."
"Terima kasih. Kamu juga pintar, Fang, di semua mata kuliah selain Kalkulus, ya. Hehehe. Selain itu, kamu juga tulus. Makanya kita bisa berteman."
"Aww. Aku harus terharu, nih?" gurau Fang, meski dalam hati sebetulnya tersentuh.
"Boleh." Senyum Solar kini merekah. "Nah, kita sudah sampai! Kantor Surya Gamma Sentosa!"
Kantor itu berupa rumah sederhana dengan partisi buatan di sana-sini. Solar lalu memperkenalkan Fang pada sang ayah dan semua karyawan yang ada di situ.
"Mahasiswa teknik sipil juga?" tanya Amato yang terlihat antusias.
Anggukan dari Solar. "Kalau sudah lulus nanti, kamu boleh bekerja di sini, Fang!"
Fang tampak malu-malu sembari Solar dengan bersemangat (dan percaya diri) menyampaikan ini-itu tentangnya (dan tentang dirinya sendiri).
"Ujian Aljabar, Fisika, Kimia, semua dibabat habis oleh Fang! Yak, ada satu kelemahannya yaitu Kalkulus. Tapi tenang, aku dan Fang bisa saling melengkapi soal itu nantinya."
Amato tampak terkesan dengan teman baru Solar dan di kemudian hari hal itu memang menjadi salah satu pertimbangan dalam menerima Fang bekerja di biro itu. Beberapa kali, Fang mengerjakan tugas kelompok bersama Solar di biro dan juga jadi semakin mengenal para karyawan Amato.
"Mobil ini bisa untuk balapan, ya?" tanya Fang suatu ketika, saat diajak lagi oleh Solar berkeliling kota dengan kecepatan tinggi.
"Bisa. Namanya saja mobil sport."
Mungkin Fang tidak sadar bahwa ucapannya seolah ramalan masa depan. Namun sesungguhnya, tidak ada yang tahu akan ada apa di masa depan. Solar tak mungkin mengira bahwa ayahnya yang selalu berhati-hati dalam mengemudi bakal terkena kecelakaan mobil dan ibunya meninggal dalam kecelakaan itu. Saat itu baru tahun kedua Solar bekerja sebagai arsitek di biro sang ayah dan, dalam sekejap, kebahagiaan direnggut darinya.
Amato mengalami dukacita berkepanjangan dan terus-menerus mengurung diri di rumah. Bahkan biro itu sempat diliburkan sampai satu bulan sebelum dibuka kembali dengan Nut yang memimpin sementara. Mau tak mau Solar juga kepikiran dan mengalami kemacetan dalam studinya.
"Ayo, Solar. Ibumu juga pasti nggak mau kamu patah semangat begini. Kita pasti bisa lulus tiga setengah tahun."
Kalau bukan karena Fang yang tak bosan-bosan merendenginya, skripsi Solar sudah pasti makin terbengkalai.
Benar juga. Solar tidak boleh ikut-ikutan terpuruk seperti ayahnya. Siapa tahu, dengan dirinya lulus cepat sesuai harapan, Ayah bisa tersenyum lagi? Membayangkan hal itu, Solar jadi tersenyum juga.
"Makasih, Fang."
Menjelang semester terakhir mereka di kampus, ada pesta tahun baru yang diadakan besar-besaran karena ada seorang penyanyi tenar yang menjadi mahasiswa baru di tahun itu. Solar dan Fang ikut hadir, merasa optimis bahwa itu adalah pesta mereka yang terakhir sebagai mahasiswa. Lebih tepatnya, Fang yang menyeret Solar untuk ikut, untuk berganti suasana, lantaran beberapa minggu terakhir ini Solar banyak murung dan jarang bepergian.
"Kamu tahu, Fang? Ujianku kemarin? Semuanya dapat nilai A dan Ayah cuma bilang, 'Oh, iya. Bagus, Solar.'"
"Ya, 'kan, memang bagus?" balas Fang sembari makan puding. Dia dan Solar berdiri dekat meja panjang tempat hidangan penutup itu disajikan.
"Apa nggak boleh kalau aku mengharapkan dia memujiku seperti dulu?" Solar ikut makan puding sambil mencurahkan isi hati. "Semuanya berubah sejak Ibu tiada."
"Memangnya kalau dulu, pujian ayahmu seperti apa?"
"Yaaa, biasa saja sebetulnya. 'Solar hebat, Solar pintar.'"
Fang mengernyit. "Bukannya sama saja dengan 'Bagus' tadi?"
"Pilihan katanya beda."
"Tapi itu tetap sebuah pujian," bantah Fang.
"Mungkin karena hanya Ayah tanpa ada Ibu yang mengatakannya."
Solar juga mengernyit. Harusnya dia berterima kasih, Fang mau mendengarkan keluhannya yang kekanak-kanakan ini. Tapi, sejak masa kecilnya Solar telah tumbuh baik-baik dengan limpahan pujian dari kedua orang tuanya. Kehilangan semua itu membuatnya frustrasi dan tidak bersemangat melanjutkan tugas akhir.
"Apa perlu aku yang mengucapkannya untukmu?" usul Fang setengah hati. Dari banyak cerita Solar tentang orang tuanya, terutama ibunya, dan hubungannya dengan Amato di biro, Fang bisa melihat mengapa Solar begitu lekat pada pujian dari mereka. Adalah fakta tak terbantahkan bahwa Solar itu pintar, hebat, dan keren; tapi memangnya perlu, ya, hal itu diucapkan begitu gamblang? Di umur mereka yang sudah kepala dua?
"Waaah, benar. Solar itu pintar dan hebat, ya."
Suara seorang yang asing membuat keduanya menoleh.
"Selain pintar dan hebat, dia juga punya mobil yang keren." Pemuda di hadapan mereka, tinggi besar dan berahang persegi, bicara sambil tersenyum miring. "Sayangnya, dia nggak punya nyali untuk mencoba balapan."
"Apa katamu?" salak Solar sebelum Fang sempat bicara.
"Apa nggak membosankan, hidup damai di bawah ketiak Ayah dan Ibu?" balas pemuda asing itu lagi. "Kutantang kamu ikut balapan mobil, Solar."
"Solar, jangan dengarkan dia," sergah Fang cepat-cepat.
Saat itu, beberapa orang telah berkumpul di belakang si pemuda asing. Sepertinya kawan-kawan satu gengnya.
"Main keroyokan, ya?" lontar Solar, mengenali tipe pem-bully pengecut macam orang ini.
"Huh. Mata Empat sepertimu, mana bisa mengalahkan geng kami," sahut salah satu kawan si bully yang berbadan gemuk.
"Kenapa kamu malah membahas mata minus? Aku memang butuh kacamata untuk menunjang belajarku, tahu?" Solar semakin berani berbicara meski Fang merepet di sampingnya dengan panik. Mereka mulai menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Memangnya berapa minusmu?" tanya lawan bicara Solar.
"Enam." Solar menyahut dengan hidung terdongak. Selain karena pemuda di hadapannya begitu tinggi, Solar merasa tersinggung karena orang itu tadi menyebut tentang orang tuanya.
"Hahaha. Matamu minus enam, berani ikut balapan?" Pemuda asing yang pertama terbahak.
"Kenapa enggak?" tantang Solar.
"Solar!" Fang masih merepet.
"Oke. Besok malam di taman kota, kutunggu kamu dan mobilmu. Kalau kamu kalah, jangan nangis dan ngadu ke orang tua, lho."
Pemuda tinggi besar itu sudah balik badan, mengira tantangannya sudah cukup menyerang mental Solar, tapi dia salah.
"Gimana kalau aku menang?" seru Solar keras-keras, hampir menyamai musik dari pengeras suara.
Si pemuda asing menoleh kembali. "Kami—aku dan kawan-kawanku—akan mengakuimu dan memuji kehebatanmu. Kamu boleh bergabung dengan kami kalau kamu mau."
"Tantangan diterima."
Dan begitulah mulanya kehancuran Solar akibat keputusan yang diambil saat hatinya panas.
Kata-kata Fang tidak digubrisnya, "Mereka itu juara bertahan balapan liar, tahu?"
"Fang, aku ini dianugerahi kecerdasan spasial, bisa memperkirakan jarak dan ruang dengan cepat. Udah pernah lihat aku ngebut, 'kan?"
"Iya, tapi—"
"Orang seperti mereka perlu disadarkan sedikit biar nggak songong begitu terus."
"Tapi kamu belum pernah balapan mobil, 'kan?"
"Belum, sih. Tapi aku yakin aku bisa. Lingkaran taman kota itu jalurnya mudah."
"Hei. Kamu tahu mereka siapa, 'kan, Solar?" ujar Fang lirih. "Mereka Geng Tengkotak …."
"Geng mahasiswa bangkotan yang skripsinya nggak selesai-selesai dan tahun depan terancam drop out itu?"
"Benar, itu mereka. Ketuanya bernama Bora Ra. Semester sepuluh saat ini." Fang mengernyit ketika melihat Solar malah tersenyum lebar.
"Bora Ra, Yoyo, Kikita, Gaganaz, satu lagi aku lupa namanya … mereka mengulang kelas Kalkulus tiap tahun, tahu. Aku sempat lihat di daftar presensi saat mengajar dulu."
"Oh," komentar Fang singkat.
"Bagus, lah. Akan kubuktikan mereka salah dan mereka akan bertobat dan kembali menyelesaikan apa yang jadi tanggung jawab mereka."
Fang menggeleng-geleng, tahu dirinya tak bisa mendebat lagi kepercayaan diri yang setinggi itu. Niat Solar juga terdengar mulia sekali. Atau sebetulnya, Solar hanya ingin mendapatkan secuil pujian semu untuk sesuatu hal yang belum pernah dilakukannya? Fang turut mendampinginya dalam balapannya yang pertama dan Solar ternyata betul-betul memenangi pertandingan kecepatan antara enam orang itu.
"Harus kuakui, kamu memang hebat, Solar." Bora Ra akhirnya mengucapkan kalimat itu. "Maafkan kata-kataku kemarin."
"Aku diterima di geng?" Solar menyambut tangan yang meminta maaf.
"Ya."
"Solar?" ucap Fang tak percaya. "Kamu masih mau balapan?"
"Iya, Fang. Aku butuh selingan selagi menyelesaikan skripsi. Sedikit lagi, aku bisa maju ujian."
Fang tidak bisa menyalahkan kalau Solar memang perlu perubahan suasana. "Tapi, kalau malam hari kamu balapan, paginya bakalan kecapekan, dong?"
"Fang, aku selama kuliah arsitektur, sudah sering begadang. Dan, balapan ini toh hanya di akhir pekan saja. Ya, 'kan, Bora Ra?"
Bagi Solar, begadang memang bukan hal baru. Apalagi kini teman-teman sekampus semakin mengaguminya karena, selain pintar secara akademis, dirinya juga jago balapan mobil. Bahkan beberapa kali ada penantang baru yang bertaruh sejumlah uang untuk mengalahkannya dalam balapan, dan semuanya berakhir kalah. Solar bukan kepengin uangnya; yang dia cari terus-menerus adalah pujian-pujian orang yang mengakui kehebatannya bermobil. Balap mobil menjadi adiksi tanpa dia sadari.
Lagipula, seumur hidupnya, Solar sudah jadi anak teladan yang patuh. Apakah sesekali dia harus jadi nakal sedikit, ya, agar ayahnya kembali peduli padanya? Nasihat Fang yang kemudian pun diabaikannya, saat gelar sarjana teknik sipilnya sudah di tangan dan dia tetap bergaul dengan Geng Tengkotak.
"Kamu sudah berhasil diterima di geng mereka. Apa lagi yang kamu mau?! Sejak kapan kamu nggak bisa lepas dari taruhan bodoh ini, Solar?!"
"Kamu nggak harus selalu menontonku bertanding, Fang. Selesaikan saja revisi skripsimu itu."
Fang masih menunjukkan ekspresi itu. Raut wajah yang kecewa. Kenapa Fang bisa kecewa padanya? Memangnya Solar mengecewakan Fang dalam hal apa?
"Apa lagi yang kamu mau, Solar …?"
Solar merenungkan pertanyaan Fang saat ikut balapan lagi malam itu. Betul juga, ya. Buat apa sebetulnya dia terus balapan liar seperti ini? Apa dia menikmati balapan dan taruhannya, atau hanya sensasinya? Adrenalin yang dipacu dengan kecepatan melaju di atas aspal? Dopamin yang muncul dari rasa senang karena berhasil menang?
Yang dicari Solar sesungguhnya sederhana: pujian dan pengakuan dari orang lain. Seumur hidupnya, dia telah terbiasa dengan semua itu. Prestasi akademik dan memenangkan balapan liar hanya sarananya. Solar tidak mau sampai ada yang mengancam hal itu menghilang dari hidupnya.
Deru-deru mobil di sekitarnya menyentakkan Solar dari lamunan.
"Taruhan tertinggi! Lima puluh Ringgit untuk kemenangan Solar!"
"Bersedia, semua!"
Solar membetulkan letak kacamatanya lalu bersiaga di balik kemudi. Ayolah, satu lagi kemenangan mudah, dan mungkin setelah ini Solar akan istirahat dulu dari balapan untuk mengurus wisudanya.
Wajah Amato yang tersenyum bangga telah terbayang dalam imajinasinya. Lulusan terbaik, Indeks Prestasi Kumulatif yang sempurna, dalam waktu kurang dari empat tahun yang menjadi standar kelulusan sarjana. Mungkin Amato bakalan kaget kalau tahu Solar juga menjuarai balapan liar di sela-sela mengerjakan skripsi yang sempurna. Manajemen waktu yang luar biasa! Wah, kepala Solar bisa melembung kalau dia tidak mengenyahkan sendiri pujian-pujian imajiner itu.
"Siap … mulai!"
Solar menginjak pedal gas dengan kecepatan penuh dan langsung mengambil lajur sebelah kiri. Walaupun ini balapan liar di malam hari ketika jalan raya sudah sepi, Solar tetap patuh aturan lalu lintas. Lagipula, dengan berada di lajur kiri, dia tidak perlu mengurangi kecepatan atau berpindah lajur kalau ada kendaraan dari arah berseberangan. Dengan segera, para pesaing tertinggal di belakang dan senyum Solar terkembang. Oh, sudah tentu dia akan menang lagi seperti malam-malam yang sudah-sudah.
Namun, malam itu berbeda. Musim hujan telah tiba, dan satu-dua tetes air menjatuhi Solar. Sambil mendecak pelan, diraihnya tombol pada controller untuk menutup atap mobilnya yang terbuka. Tetesan hujan segera menderas dalam sekejap dan Solar agak terdistraksi karena atapnya macet. Beberapa mobil berhasil menyalipnya, membuat Solar merutuk.
Entah kebetulan apa, pada papan penanda jalan di dekat situ tertera tulisan, 'Kurangi kecepatan saat hujan' dan 'Bahaya jalan licin'. Seingat Solar, jalur yang dipilih malam ini memang banyak turunan karena termasuk daerah perbukitan.
Solar bukannya takut kena hujan malam-malam, tapi atap mobil yang separuh terbuka membuat air hujan membasahi kacamatanya. Butiran air di alat bantu itu malah menghalangi pandangannya dan Solar segera melepasnya, menaruhnya di dasbor. Bukan pilihan yang bijak juga, mengingat matanya minus enam; segala lapang pandangnya menjadi buram semua. Solar tidak bisa buang waktu lebih banyak lagi—beberapa detik berhenti untuk mengelap kacamata, maka dia sudah pasti akan kalah—jadi Solar memicingkan mata dan terus melaju.
Beberapa detik lagi berlalu dan Solar berhasil menyalip kembali dua mobil yang tadi menyalipnya. Sepertinya kurang satu atau dua lagi di depannya. Jalan banyak berkelak-kelok sehingga Solar kesulitan memastikan, konsentrasinya agak terpecah untuk memperkirakan jarak dari bagian tengah jalan lajur kiri ke pembatas jalan di tepi yang terlindung tebing-tebing tinggi. Lintasan balap sudah hampir berakhir, Solar harus segera mengejar lawannya.
Saat berbelok di tikungan yang melengkung ke kanan, ada satu mobil dari arah berlawanan. Posisi Solar agak terlalu ke tengah karena pandangannya terbatas, jadi perkiraan jaraknya juga tidak akurat. Dengan kaget, Solar membanting setir ke arah kiri sambil meraih kacamata (yang diharapkannya sudah kering) dan malah hampir menabrak mobil balap di depannya (yang baru saja memasang lampu kendaraan jadi terlambat dia ketahui keberadaannya).
Solar berbelok terlalu tajam dengan kecepatan yang masih tinggi lalu menghantam pinggiran tebing keras-keras; posisi tangannya terjepit kemudi dan dasbor serta kacamata yang pecah. Pikiran terakhirnya sebelum pingsan adalah, betapa menyesalnya dia telah merusak mobil yang susah payah dirakit oleh Ayah dan Nut ini.
.
.
.
.
.
to be continued.
.
.
.
.
.
Author's Note:
Orang dengan mata minus, daya penglihatannya memang berkurang di malam hari.
.
Roux baru sadar, kenapa sulit sekali dan lambat sekali diri ini melanjutkan A LUTA CONTINUA (sampai tertunda setahun lebih sejak idenya bertelur). Solar di sini ternyata adalah cerminan diri saya banget hahaha (ketawa pahit) kenapa bisa selama ini nggak sadar? Sebagian diri Roux mikir plot, sebagian lagi denial bahwa ini hanya fiksi dan bukan cerminan kenyataan. Beda jauh konteksnya, tapi sama maknanya, dan hari ini Roux semacam baru bisa menerima. Wah, telat banget sepertinya :")
Cerita ini mungkin akan tamat 3 chapter lagi (kalau tiap babnya nggak teramat panjang).
Akhir kata, ambil hal-hal yang baik saja, dan semoga pesan moralnya bisa tersampaikan~
.
.
.
.
.
16.12.2023
