Disclaimer : Jujutsu Kaisen by Gege Akutami

A Fanfiction by Noisseggra

Pair : Gojo Satoru X Fushiguro Megumi

Genre : Drama, Supernatural, Romance

Warning : OOC (Out of Character), iya di fanfic ini sengaja OOC, nggak terlalu mirip sama Manga/Anime, demi plot.

YAOI, BL, RATED M, Semi Canon, maybe typo (s)

You have been warned !

This fic inspired from manhwa The Ordinary Lifestyle Of A Universal Guide by Kang Yoonwoo

A/N : Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V

.

.

Kiseki no Hiiraa

.

.

"Baiklah, jadi ini rencananya," seseorang yang memperkenalkan diri bernama Finn menjelaskan plan mereka selama di helikopter.

"Posisi Gojo Satoru ada di sebelah sini," ia menunjuk satu titik. "Kami akan menerjunkan kalian di sebelah sini," tunjuknya ke titik lain yang lumayan berjarak. "Dengan begitu masih ada jarak sebelum kalian melakukan kontak dengan Gojo Satoru. Mungkin sempatkan scouting dulu, tapi pastikan pendaratan kalian aman. Kalian akan terjun tandem saja, Okkotsu-san punya pengalaman dalam sky diving, selain itu untuk mencegah kalian terpisah satu sama lain selama pendaratan. Jangkauan area nya luas sampai kekkai pun tidak dipasang, banyak kutukan di mana-mana. Tidak mungkin meninggalkan Sensei tanpa pengawalan."

"Baik," ucap Yuuta.

"Setelah menurunkan kalian kami akan bergabung dengan tim Madou terdekat di area ini," tunjuk Finn ke titik lainnya yang lumayan jauh dari tempat Gojo berada. "Tergantung kondisi, kami akan langsung menjemput kalian, tapi jika tidak memungkinkan, kami akan mengirim regu darat untuk bantuan saat semua sudah selesai."

Setelah itu tim memakaikan parasut ke Yuuta dan mengaitkannya juga ke Megumi.

"Bersiap-siap, kita akan segera sampai titik," ucap pilot.

Mereka pun bersiap menuju pintu keluar, tapi tiba-tiba helikopter itu terasa bergetar kuat.

"Oi oi, kita 50m di atas arena pertempuran loh," keluh pilot.

"Sensei, ini tekanan kekuatan Gojo-Sensei, bisa terasa sampai jarak segini," ucap Yuuta. "Kau mengerti kan kira-kira seberapa kuat tekanannya dalam jarak dekat?"

Megumi menelan ludah berat lalu mengangguk pelan.

"Oke, bersiap meluncur," pintu terbuka dan Finn menuntun mereka berdua ke pintu keluar. "3 2 1, and go !"

Yuuta dan Megumi meluncur terjun dari pesawat. Rupanya kabut tebal sekali, dan tekanan kekuatan itu makin terasa saat mereka terjun makin ke bawah.

"Kuso–..." umpat Yuuta merasakan tubuh mereka berganti arah karena tekanan pertempuran dari bawah, tapi ia belum bisa melihat dengan jelas akibat kabut yang ada. "Sensei, aku akan membuka parasut. Pendaratan tak jelas, aku tak mau ambil resiko kita terlalu dekat dengan titik hantam."

"Ya," balas Megumi.

Yuuta mengembangkan parasut, terjun bebas mereka langsung melambat akibat itu. Mereka melayang turun, dan area bawah sudah lebih jelas terlihat setelah menembus kabut-kabut tadi.

Nyuutt…!

Dada Megumi seperti diremas. Besarnya tekanan kutukan bercampur dengan tekanan kekuatan Gojo, menghimpit Megumi seperti bongkahan batu besar.

"Sial, angin membawa kita terlalu dekat dengan arena pertempuran," umpat Yuuta, berusaha mengarahkan parasutnya meski tak bisa akibat arah angin yang berubah.

"..." Megumi mulai bisa melihat arena pertempuran. Ngeri sekali. Terlihat kilatan Aka beberapa kali, dan kutukan berkerumun seperti di sarangnya. Mata Megumi mencari, dan akhirnya ia melihat Gojo.

"Tch! Pantas saja, lubang cacing. Kutukan tak akan ada habisnya sampai lubang cacing itu kehabisan energy," ucap Yuuta yang juga mengamati pertempuran, ia melihat satu titik di mana para kutukan itu terus manifest dari sebuah portal hitam.

"Okkotsu-san," panggil Megumi saat mereka melayang tak begitu jauh dari Gojo. "Jatuhkan aku."

"...he?"

Megumi menoleh menatap Yuuta. "Tak apa, jatuhkan aku. Di sini."

"Tapi–...Sensei…!"

"Tak apa, aku yakin akan baik-baik saja," Megumi menatap lurus Yuuta, seolah tak ada keraguan di matanya.

Yuuta meneguk ludah berat, tapi lalu mengangguk. "Bersiap Sensei," dan ia pun melepas kaitan yang menahan tubuh Megumi.

Megumi terjun bebas dari parasut, menuju arah Gojo.

Deg…!

Entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdegup begitu keras, seperti kena hantaman. Mungkinkah ia lepas dari Yuuta dan merasakan tekanan Gojo tanpa perlindungan sama sekali sehingga baru terasa sekarang? Entahlah, ia juga tak tahu.

Megumi mencoba fokus, atau dia akan mati. Setelah di jarak yang menurutnya cukup, ia pun mengisi paru-parunya untuk meneriakkan nama Gojo.

"Gojo-san!" panggilnya.

Gojo menoleh, ekspresinya tampak marah, tapi lalu terkejut saat melihat Megumi yang terjun bebas dari atas. Tanpa kata Gojo pun ber teleport ke udara dan segera menyambar tubuh Megumi.

"Baka! Apa yang kau lakukan!" omel Gojo setelah berhasil menangkap tubuh Megumi, mereka melayang di udara, beberapa belas meter dari tanah. "Kau cari mati atau apa?! Terjun bebas begini? Di arena penuh kutukan begi–...mmnhh…" omelan Gojo terhenti saat Megumi memeluk lehernya lalu mencium bibirnya.

Megumi melakukan heal dengan segera begitu lidah mereka terhubung, mengecap rasa masing-masing. Megumi sedikit merasa aneh. Saat heal dengan Inumaki di medan pertempuran, ia merasakan energy Inumaki begitu hitam dan berat, butuh usaha ekstra baginya melakukan heal dalam kondisi kekuatan jujutsushi aktif.

Tapi saat dengan Gojo, ia tak berpikir macam-macam dan langsung melakukan heal seperti biasa. Energy Gojo serasa tak ada yang berubah dari biasanya. Tak berubah gelap, tak berubah berat, layaknya air danau yang begitu tenang di malam hari. Megumi terus menyelam dan membenamkan dirinya dalam kekuatan Gojo, dan mengalirkan energy nya juga ke sana. Membuat perasaan sejuk dan tenang itu menghampiri mereka.

Setelah merasa cukup, Megumi melepas ciuman, ia menatap ekspresi Gojo yang kini lebih tenang.

"Baka, apa yang kau lakukan," ucapan Gojo juga sudah melembut.

"Ya, habisnya aku terlalu takut kalau heal di bawah, banyak kutukan mengerikan," ucap Megumi.

Gojo tertawa kecil lalu kembali mencium Megumi, melumat bibirnya. Megumi menerima saja ciuman itu meski ia juga tahu kalau di bawah, kutukan-kutukan itu berusaha meraih mereka, tapi tak berhasil karena Gojo memasang semacam dinding transparant di bawah kaki mereka, membuat para kutukan itu tertahan di bawah.

Slash…dzing…blaarrr!

Terdengar suara pertempuran di sisi lain hutan, sepertinya Yuuta sudah mendarat.

Megumi melepas ciuman. "Kau harus membantunya."

"Ya," balas Gojo, meski begitu ia sempatkan mencium Megumi kembali sesaat. Ia lalu mengganti posisi Megumi ke punggungnya. "Pegangan, Sensei. Gomen, aku butuh kedua tanganku untuk ini," ucap Gojo.

"Mm," Megumi mengangguk dan berpegang erat pada Gojo.

Gojo melesat turun, membentuk beberapa segel dengan tangannya.

"Jutsushiki Junten, Ao, Jutsushiki Hanten, Aka. Kyoshiki, Murasaki."

Sebuah bola cahaya raksasa berwarna ungu gabungan dari Ao dan Aka melesat menembus gerombolan kutukan yang ada, meluluh lantahkan semua yang dilewati.

Setelah cahaya itu lenyap, Gojo melesat menghampiri Yuuta. Jujutsushi itu tampak tengah membuang setengah tubuh kutukan dari pedangnya.

"Wah, sasuga Sensei. Tsuyoi ne," ucap Yuuta.

"Hehe," cengir Gojo. Mereka menatap ke arah lubang cacing itu dan tampaknya masih belum selesai.

"Sepertinya harus all-out Sensei," ucap Yuuta.

"Ya," Gojo lalu membopong Megumi dan menurunkannya di bawah sebuah pohon yang cukup besar. Setelah itu ia merapal untuk membentuk tobari melindungi Megumi. "Kau tunggulah di sini, Sensei," ucap Gojo.

Megumi mengangguk, ia duduk bersandar ke akar-akar pohon dan menyamankan diri. Gojo kembali menjauh, menghilang ke balik pepohonan. Di sela pepohonan Megumi sempat melihat sekelebat bayangan Rika, sepertinya Yuuta sudah memanggilnya.

Setelah itu yang ada hanyalah suara pertempuran dan getaran energy. Jantung Megumi kembali berdegup aneh, ia meremas dadanya sendiri, bahkan debaran jantungnya bisa ia rasakan kuat di telapak tangan. Megumi tak terlalu ambil pusing, mungkin itu efek pertempuran di mana dua special-grade tengah unjuk kekuatan mereka. Ya, paling itu.

Megumi sedikit merinding saat melihat ada kutukan dari arah lain yang menatap ke arahnya. 'Ugh, palingan tobari nya kuat untuk melindungiku, ya kan,' batin Megumi mengingat yang membuat tobari adalah Gojo.

Tapi saat kutukan itu baru selangkah mau menuju arah Megumi, sebuah cahaya merah bergerak begitu cepat dan menembus kepala kutukan itu.

"Kiiiiiikkkkkk…" kutukan itu pun meringkik keras dan tumbang, lalu lenyap perlahan.

Megumi hanya bisa sweatdrop, sepertinya Gojo tetap mengawasinya meski dari jarak jauh.

Megumi lanjut menunggu sambil sesekali tegang saat ada kutukan mendekat, meski selalu saja langsung kena headshot Aka dari jarak jauh. Hingga akhirnya suasana berubah tenang, dan tak lama kemudian Yuuta dan Gojo datang menghampirinya.

"Kau tak apa Sensei?" Gojo melepas tobari dan membantu Megumi berdiri.

"Ya, seseorang meng headshot setiap kutukan yang mendekat," balas Megumi. Gojo hanya nyengir membalasnya.

"Oke, sekarang apa?" tanya Gojo. "Alat komunikasiku rusak saat pertempuran," ia menunjukkan alat komunikasinya yang sudah remuk. "Dan tak ada sinyal ponsel di sini."

"Tim bilang akan segera bergabung dengan kita setelah semuanya tenang, kita cari tempat terbuka lalu menunggu saja," ucap Yuuta.

Mereka pun berjalan mencari tempat itu. Ada sebuah tempat yang lumayan terbuka bekas pertempuran, mereka memilih menunggu di sana. Yuuta meletakkan pedangnya dan duduk di pangkal pohon yang sudah tumbang bagian atasnya.

Megumi menghampiri. "Bagaimana kondisimu, Okkotsu-san," tanyanya.

"Baik, aku tak terlalu banyak memakai kekuatanku karena ada Gojo-Sensei," balas Yuuta.

"Tak apa, kuperiksa sebentar," Megumi meletakkan tangannya ke leher Yuuta dan memejamkan mata. Ia memilih leher karena lebih cepat, apalagi di kondisi begitu yang kurang tenang dibanding saat di kantor healer.

Yuuta sweatdrop saat mendapat tatapan mengerikan dari Gojo. Ia bingung kenapa dan harus bagaimana. Perlahan heal dari Megumi mengalir ke Yuuta, dan Yuuta mulai merasakan perasaan sejuk itu. Nyaman sekali, begitu menenangkan.

Setelah merasa cukup, Megumi menyudahi heal nya. "Mungkin setelah kembali kau perlu heal tambahan, tapi untuk sekarang ini sudah cukup," ucapnya.

Yuuta mengangguk. "Terimakasih banyak, Sensei," senyumnya, dan kembali sweatdrop merasakan tatapan menusuk Gojo. "Ano, mungkin Sensei juga harus melakukan heal pada Gojo-Sensei juga?"

"Ya, mau kulakukan. Aku berencana menghabiskan energy ku untuk heal dengannya, karena itulah aku melakukan heal dulu padamu."

"Souka…" balas Yuuta, barulah Gojo tersenyum. Yuuta kembali sweatdrop, sepertinya kurang lebih ia mengerti hubungan antara Megumi dengan Gojo. Apalagi mengingat Megumi yang bersikeras mendatangi Gojo meski HQ sendiri yang melarang.

"Sensei…" sambut Gojo senang saat Megumi menghampiri.

"Tadi aku sudah sempat melakukan heal, apa sekarang masih bisa bertahan?" tanya Megumi.

"Eh?"

"Aku merasa harus menunggu reinforcement dari HQ dulu."

"Sonnaa…" rengek Gojo tapi pada akhirnya menurut.

Cukup lama menunggu akhirnya mereka melihat sorot senter di kejauhan. Yuuta mengeluarkan Rika dan menyuruhnya terbang ke atas pepohonan untuk memberitahu posisi mereka, dan cahaya senter itu pun berbelok menuju arah mereka.

Tak lama kemudian beberapa orang berseragam HQ muncul, membawa carrier dan tas-tas besar.

"Kalian baik-baik saja?" tanya mereka.

"Ya," balas Yuuta.

"Helikopter mengalami kendala dan kemungkinan besok pagi baru bisa menjemput. Tim memutuskan untuk bermalam di hutan," jelas mereka. "Kami berencana mendirikan camp setelah menemukan kalian."

Setelah itu mereka pun mencari tempat untuk camp. Gojo lebih tepatnya. Dia melayang beberapa meter di udara, mencari lokasi.

"Ada clearing di arah timur laut, dekat dengan sungai juga. Sepertinya cocok untuk camp," lapor Gojo setelah kembali mendarat.

Mereka pun berjalan menuju ke sana dengan penerangan dari tim HQ.

"Sensei, kau lelah? Mau kugendong saja?" tanya Gojo.

"Nggak perlu, aku masih kuat jalan," balas Megumi. Sementara Yuuta hanya bisa tersenyum melihat mereka lovey dovey begitu.

Tak berapa lama mereka tiba di tempat yang dimaksud Gojo, sebuah tempat yang landai dan lumayan terbuka, bisa untuk mendirikan beberapa tenda. Tim HQ segera mengeluarkan peralatan mereka dan membangun camp, ada juga yang segera menyalakan api.

"Gojo-san, sungai di sebelah mana? Katamu dekat sini ada sungai?" tanya seseorang yang membawa wadah kosong.

"...ayo," ucap Gojo dan bangkit. "Area ini tidak sepenuhnya clear dari kutukan, terutama kutukan yang memang berdomisili di sini. Pastikan tidak ada yang pergi sendirian kemanapun," komandonya.

"Ryoukai," balas yang lain. Gojo lalu pergi memandu dua orang yang mau mengambil air ke sungai.

"Ano, apa ada tim yang patroli juga menyisir daerah sini?" tanya Yuuta.

"Iya ada, ada tujuh tim yang ikut dalam misi kali ini. Kami sudah membagi tugas. Tim ini, tim C, yang paling dekat dengan posisi Gojo-san, bertugas bergabung dengan jujutsushi setelah misi selesai. Tim yang lain menyisir area sekitar untuk memastikan tak ada kutukan yang tersisa. Ditambah reinforcement dari HQ juga, tapi kondisi kabut tebal membuat helikopter belum bisa mengudara, mereka mendarat di arah barat daya dari sini."

Setelah tenda-tenda berdiri, seorang petugas medis menghampiri. "Okkotsu-san, Fushiguro-Sensei, mari. Kami lakukan pengecekan medic untuk kalian. Untuk memastikan saja," ucapnya.

Megumi dan Yuuta pun menurut, mereka masuk ke sebuah tenda medic, ada dua petugas dengan orang yang tadi. Mereka lalu melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Megumi dan Yuuta, lalu memberikan energy bar pada mereka.

Saat mereka keluar tenda, api unggun sudah menyala, kursi-kursi pendek juga sudah tertata di tepiannya. "Kemarilah ada coklat panas," seseorang memberikan dua cangkir kepada Yuuta dan Megumi.

"Makan energy bar dulu, sup nya belum matang," ucap seseorang yang tampak tengah memasak sesuatu.

Yuuta dan Megumi pun duduk di kursi pendek dekat api unggun, menghangatkan diri. Seseorang menaruh selimut di pundak mereka.

"Arigatou…" balas Yuuta dan Megumi.

Tak berapa lama Gojo datang bersama tim yang mengambil air. Gojo langsung saja duduk di samping Megumi.

"Gojo-san, medical check-up," perintah medic yang tadi memeriksa Megumi.

"Nggak perlu, aku baik saja," balas Gojo.

"Gojo-san…!" kesal medic itu.

Megumi menghela nafas lelah. "Check-up sana, hanya memastikan saja," ucapnya. Barulah Gojo mau ke tenda medis meski sambil manyun. Tapi karena penasaran, akhirnya Megumi menyusul juga. Gojo sedang diukur persentasenya saat Megumi masuk.

"Berapa persentase nya," tanya Megumi.

"83%. Sudah lumayan membaik."

"Sebaiknya aku melakukan heal lagi padanya."

"Ah, Anda belum mengukur persentase Anda, kemarilah Sensei."

Megumi mendekat, ia mengukur persentasenya, ada di angka 71%.

"Lumayan juga, tadi aku habis melakukan heal dua kali pada Gojo-san dan Okkotsu-san."

"Eh? Dua kali? Kalau begitu istirahatlah, sudah cukup heal nya. Lagipula persentase Gojo-san sudah turun."

"Tak apa, 71% masih angka tinggi bagiku," balas Megumi.

"Hehe," Gojo pun tampak nyengir senang.

"Tapi nanti. Aku mau istirahat dulu," ucap Megumi. Ia lalu keluar tenda dan melanjutkan minum coklat panas bersama Yuuta, tak berapa lama barulah Gojo menyusul setelah menyelesaikan medical check-up nya. Sup juga sudah jadi, dan mereka pun makan makanan hangat itu sambil mengobrol ringan.

Hari sudah larut dan udara makin dingin, mereka pun bersiap masuk ke tenda. Ada dua tenda ridge yang didirikan, dan satu tenda dome.

"Gojo-san, Okkotsu-san, Fushiguro-Sensei, kalian bisa istirahat di tenda ridge A," ucap salah satu anggota tim. "Tenda B untuk tidur tim, tenda C itu tempat menaruh barang-barang."

"He? Memangnya cukup untuk kalian semua?" tanya Yuuta yang melihat mereka ada enam orang termasuk medic. "Sebaiknya dibagi rata juga ke tenda kami."

"Tidak apa, kami juga gantian berjaga. Jadi yang tidur di sana paling dua-tiga orang. Anda tidak perlu khawatir."

"Baiklah kalau begitu. Ayo Sensei," Yuuta bangkit dari kursinya.

"Aku mau ke sungai dulu," ucap Megumi.

"Biar kutemani, berbahaya pergi sendirian," ucap Gojo.

"Ya," balas Megumi. Mereka berdua pun menuju sungai, sekitar 5 menit jalan kaki ke sana. Megumi membawa senter yang diberikan tim HQ.

"Apa senter nya taruh atas batu saja biar terang semua," tanya Megumi.

"Tidak perlu, senter nya kau bawa saja Sensei, aku tak perlu," balas Gojo.

"Begitu, kalau butuh bilang nanti," Megumi menggulung celananya selutut lalu turun ke air yang dangkal. Ia bersembunyi di balik bebatuan sementara Gojo ke bebatuan lain.

"Ugh, airnya dingin sekali," ucap Megumi, meski begitu ia tetap membasuh mukanya dengan air dingin itu. Ia melanjutkan keperluannya di sana, setelah itu naik ke atas batu yang cukup datar untuk duduk menunggu Gojo.

Tak berapa lama Gojo muncul dari balik bebatuan besar lain.

"Kau nggak kesulitan nggak pakai senter?" tanya Megumi.

"Ya, mataku lumayan bagus meski di dalam gelap."

Megumi hampir lupa Gojo punya mata bagus. Gojo melangkah ke arahnya dan ia bersiap bangun untuk pergi, tapi Gojo menahan tangannya.

"Bisa bicara sekarang?" tanya Gojo.

"..." Megumi terdiam tapi lalu mengangguk. Ia pun mematikan senter dan kembali duduk di atas batu itu, Gojo duduk di sampingnya.

"Sensei, waktu kau mengatakan aku pacarmu, apa kau serius?" tanya Gojo.

"Ya, aku serius. Aku justru kaget saat kau ikutan terkejut. Kupikir kita punya hubungan lebih," balas Megumi.

Gojo meraih tangan Megumi dan menggenggamnya erat. "Apa itu artinya kau juga punya rasa terhadapku?"

"Ya, tentu saja," Megumi menatap mata Gojo, ia sudah mulai terbiasa dengan pencahayaan yang ada, jadi ia sudah bisa melihat dengan lebih baik. Ia rasa ini saat yang tepat untuk mengatakannya. "Aku mencintaimu, Gojo-san."

Megumi bisa melihat mata Gojo membola, lalu jujutsushi itu meraih tubuh Megumi, memeluknya erat.

Deg…deg…deg…deg…

Megumi terhenyak saat ia bisa merasakan degup jantung Gojo yang begitu keras. Apakah Gojo nervous? Atau ia bahagia? Megumi tak tahu yang mana, tapi yang jelas ia senang dengan keduanya.

Untuk waktu yang cukup lama Gojo hanya memeluk Megumi erat dalam diam, seolah belum percaya apa yang barusan terjadi.

Megumi menyamankan dirinya di pelukan Gojo, menyandarkan penuh tubuhnya supaya lebih rileks. "Gojo-san, kalau selama ini kau menganggap kita belum pacaran, kau anggap hubungan kita apa?" tanya Megumi. "Padahal kita sudah melakukan banyak hal, kau tahu, hal yang…"

"Ungh…" Gojo menggumam tak jelas. Ia menyamankan posisinya supaya bisa lebih nyaman memeluk Megumi. "Ya…kupikir semacam fuck buddy mungkin."

"Hah? Jadi aku kau jadikan fuck buddy?" Megumi melepaskan diri dari pelukan, menatap Gojo.

"Bukan begitu," Gojo sweatdrop, ia lalu membopong Megumi ke pangkuannya dengan posisi saling berhadapan, memeluk Megumi kembali dengan erat, sepertinya belum puas memeluk healer itu.

"Kan sudah kubilang aku punya rasa terhadapmu, Sensei," Gojo merebahkan kepalanya ke pundak Megumi. "Tapi kau tidak pernah mengatakan perasaanmu, meskipun kau mau melakukan hal semacam itu denganku. Jadi kupikir kau hanya menggunakanku untuk penyaluran hasratmu saja."

"Astaga, jadi seperti itu pandanganmu terhadapku."

Gojo tertawa kecil. "Ya mau bagaimana lagi, kau bilang ini pertama kali nya kau merasakan nikmat saat heal, terus baru pertama ciuman juga, baru pertama sex juga. Jadi kupikir wajar saja kalau kau suka dengan kenikmatan itu, dan menjadikanku mainanmu."

"Dan kau mau saja kujadikan mainan begitu?"

Gojo tersenyum, ia memundurkan tubuhnya demi bisa menatap Megumi. "Aku terlalu mencintaimu sampai titik di mana aku tak keberatan dijadikan mainanmu sekalipun."

"Baka ga, teruslah bilang begitu dan aku betulan akan mempermainkanmu," Megumi menjewer kedua pipi Gojo.

"Aaa ittai…" keluh Gojo pelan.

"..." Megumi menatap Gojo lalu mengusap pipinya seolah meredakan hasil cubitannya tadi. "Tapi seriusan kau punya pemikiran begitu?"

Gojo mengangguk. "Aku tidak mau memungkiri, dulu aku juga ketagihan saat pertama kali melakukan sex. Berbeda jauh sekali dengan onani. Kupikir sudah cukup dengan itu, tapi setelah merasakan sex dengan orang lain, aku merasa onani tak ada apa-apanya. Makanya saat Sensei bilang ini pertama kalinya bagimu, aku jadi berpikir mungkin kau ketagihan juga, dan aku merasa tak masalah jadi pemuasmu saja kalau kau tetap tak ada rasa terhadapku."

Megumi manyun. "Kalau betulan kau kujadikan pemuasku saja seriusan tak apa? Mungkin aku hanya memanfaatkanmu, dan memanggilmu saat butuh pelampiasan saja."

"Iya, sudah kubilang tak apa. Aku mencintaimu Sensei, akan kumanfaatkan kesempatan apapun untuk bisa dekat denganmu."

"Lalu kenapa cemburu saat aku pergi dengan Seiji? Kau bilang kau hanya mainanku saja," seringai Megumi.

"Itu…" Gojo langsung sweatdrop.

"Aah, apa sebaiknya kupertimbangkan saja ya jadian dengan Seiji, dia sangat perhatian padaku. Lalu Gojo-san jadi 'mainan' ku saja."

"Aaaack…" Gojo seketika tergagap. "Huaa kau boleh melakukannya, tapi jangan bilang padaku dong, aku tetap saja akan sakit hati," rengek Gojo.

"Pfftt…hahaha," Megumi tertawa melihat kelakuan Gojo. "Dasar. Makanya jangan seenaknya menuduh orang bisa dengan mudah mempermainkan orang lain. Kau bilang karena mencintaiku pun, rasanya tidak menyenangkan kau mengatakan aku bisa dengan mudah mempermainkanmu, padahal aku memikirkan ini dengan serius."

"Iya maafkan aku, aku hanya berpikir dengan pengalamanku saja," Gojo menyandarkan kepala di pundak Megumi.

"Pengalaman?"

"Mm mm," Gojo mengangguk. "Dulu awal aku melakukan sex karena suruhan dari Shoko, tadinya hanya untuk mencoba heal dengan metode itu. Tapi aku merasa nikmat, dan bisa dikatakan, dengan sex bisa sedikit menurunkan tingkat stress ku. Jadi meski di luar heal, aku mulai melakukan sex dengan beberapa orang.

Beberapa healer juga justru mereka yang memintanya, jadi kuturuti saja. Meski heal nya tetap tak efektif, tapi aku sedikit merasa baikan setelah menikmati sex. Dan itu merambat ke orang lain tidak hanya healer saja, seperti rekan jujutsushi dan kenalan wanita.

Gara-gara sex dengan mereka itu, beberapa dari mereka memiliki rasa terhadapku, mereka menyatakan cinta, tapi aku hanya ingin sex nya saja, bukan spesifik memiliki hubungan dengan mereka. Dan beberapa dari mereka bilang tak masalah jadi mainanku, asal aku mau menerima mereka, dan menghubungi mereka setiap aku ingin melampiaskan nafsuku.

Karena itulah…kupikir sekarang aku ada di posisi mereka. Aku menyukai seseorang yang tidak membalas perasaanku. Aku merasa pantas kalau dijadikan mainan atau panggilan saja selama aku bisa bersama orang yang kusukai itu," Gojo mengakhiri penjelasannya.

"Hee, jadi ternyata rumor yang Seiji katakan benar adanya," balas Megumi datar.

"Rumor apa?" Gojo segera menegakkan tubuh demi menatap Megumi.

"Katanya kau playboy yang suka main sana sini tanpa pernah menjalin hubungan dengan orang yang kau tiduri," ucap Megumi dengan tatapan mati.

"Aacck–..." Gojo membatu, ia tidak bisa mengelak. "Maafkan aku, aku janji aku sudah berhenti melakukan itu. Lagipula itu kulakukan karena sedikit meredakan kondisiku. Sekarang aku sudah punya Sensei, aku janji tidak akan melakukannya dengan orang lain lagi," Gojo meraih tangan Megumi dan menggenggamnya erat.

"Hee, iya kah?" Megumi menatap sangsi.

"Iyaaa, seriusan. Lagipula melakukan sex dengan mereka tidak senikmat melakukan dengan Sensei. Jadi aku tidak butuh mereka lagi."

Megumi menghela nafas lelah lalu mengecup pipi Gojo. "Iya iya, lagipula aku tidak bisa mengubah masa lalumu, tidak ada gunanya aku mempermasalahkan itu," ia menatap mata Gojo lurus. "Yang penting mulai sekarang kau hanya milikku, dan kau tidak boleh melakukan itu lagi dengan orang lain."

"Iya, aku berjanji. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan darimu Sensei, aku akan melakukan yang terbaik untuk jadi pacarmu–..." ucapan Gojo terhenti, seketika wajahnya memanas. "Kita…betulan sudah pacaran kan sekarang?" ia ingin mengkonfirmasi lagi.

"..." Megumi membuang pandangan, tapi ia mengangguk dengan pipi yang memerah juga.

Gojo menutup wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangan. Mereka berdiam cukup lama dengan wajah berasap masing-masing.

Setelah sedikit reda, Gojo membuka jemarinya dari wajah untuk mengintip menatap Megumi. "Tapi seriusan, Sensei. Sejak kapan kau punya rasa terhadapku? Terus kapan kita jadian? Maksudku–...kapan kau menganggap kita jadian? Apa aku sedang pingsan atau apa kalau sampai tidak sadar saat kau mengatakan perasaanmu?"

Megumi tampak berpikir. "Kalau menyadari perasaan…kurasa sejak malam itu, kau ingat? Saat heal di paviliun mu setelah makan malam bertiga dengan Tou-san ku juga."

"..." Gojo terdiam sesaat. "EH? Sudah sejak itu? Ke-ke-kenapa kau tidak bilang Sensei," rengek Gojo.

"Aku bilang, tapi kau tertidur. Soalnya waktu itu kau habis pulang dari luar negeri kan, terus misi juga, dan melakukan hal begitu denganku. Sepertinya kau lebih ke tumbang sih daripada tidur."

"Aaaahhh…kusooo," keluh Gojo. "Mungkin mulai sekarang aku harus kembali tidak pernah tidur lagi," ucapnya serius.

"Hey, mana boleh begi–..."

"Terus, sejak itu juga kau menganggap kita jadian?" tanya Gojo.

Megumi menggeleng. "Aku juga berniat menyatakan cinta padamu, tapi waktunya selalu tidak tepat dan aku belum jadi mengatakannya. Tapi malam itu, aku meninggalkan kissmark di lehermu," Megumi mengetuk lehernya sendiri. "Aku diberitahu Tou-san apa itu kissmark, dan itu juga alasan dia ngamuk saat kita workout pagi itu, karena dia melihat kissmark di leherku yang kukira gigitan serangga."

Gojo sweatdrop, ia ingat benar kejadian itu, ia yang sudah horror membayangkan Toji tak akan merestuinya.

"Ja-jadi Tou-san mu sudah tahu…"

"Ya, dia yang memberitahuku malah. Terus aku browsing juga, katanya kissmark itu tanda kepemilikan. Saat kita pulang misi dan makan di restaurant itu, setelahnya aku meninggalkan kissmark di lehermu kan. Kupikir aku sudah meresmikan hubungan kita."

"..." Gojo hanya bisa sweatdrop.

"Gomen, salahku juga tidak bilang sih. Tapi waktu itu aku nervous sekali," ujar Megumi tersipu. "Tapi sekarang…setidaknya aku sudah berani mengatakan itu."

"..." Gojo menatap pipi Megumi yang sedikit merona. Ia lalu mendekatkan wajah. "Sensei…kita betulan sudah resmi kan?"

"Mm," Megumi mengangguk pelan, dan detik berikutnya bibirnya pun dicium oleh Gojo. Megumi balas meraup bibir Gojo, mengulumnya. Ia juga balas memeluk saat Gojo mendekap tubuhnya, meraih belakang kepalanya untuk memperdalam ciuman. Ia suka saat Gojo sedikit meremas rambutnya begitu.

Mereka berciuman untuk waktu yang cukup lama, setelahnya baru melepas ciuman dengan nafas yang sedikit tersengal. Wajah mereka masih di posisi yang begitu dekat, menatap mata masing-masing.

Wajah Gojo kembali merona, ia memeluk Megumi dan menyembunyikan wajah di pundak healer itu. "Deym, aku masih belum percaya kau benar-benar milikku Sensei."

"..." Megumi memeluk lalu menepuk pelan punggung Gojo. "Ya, sekarang aku sudah menjadi–...tunggu," ucap Megumi saat menyadari sesuatu. Ia melepas pelukan Gojo untuk bisa melihat wajahnya. "Jangan-jangan selama ini kau tak pernah mau melakukan sampai selesai karena menganggap kita tak punya hubungan?"

"Itu…" Gojo kembali sweatdrop dengan wajah memerah. "Y-ya…habisnya, aku merasa seperti memanfaatkan kesempatan kalau sampai melakukan sex hanya karena ingin, sementara kau tidak punya rasa terhadapku."

"Heh, padahal yang bilang menganggap fuck buddy juga kau, tapi tak berani melakukan fuck," seringai Megumi.

"Senseeii…begini begini aku masih punya batasan," rengek Gojo. Megumi tertawa kecil mendengar itu, sementara Gojo hanya manyun. Tapi ia lalu kembali mendekatkan wajah. "Jadi, sekarang sudah boleh? Melakukan sampai selesai?"

Wajah Megumi ikutan memerah mendengar itu, tapi ia lalu mengangguk.

Gojo kembali memeluk Megumi dan menyembunyikan kepala di balik pundaknya. "Ah, kusoooo. Aku bisa kena serangan jantung kalau begini," keluh Gojo. Megumi hanya bisa diam dan masih memerah, ia bisa merasakan debar jantung Gojo saat ini, ya meski ia sendiri juga berdebar hebat sih.

Megumi merapatkan diri untuk memeluk Gojo lebih erat, saat itulah ia merasakan sesuatu dan segera melepas pelukan, mendorong tubuh Gojo sedikit menjauh. "Hey, tapi bukan sekarang juga. Di tengah hutan begini, sedang ada tim juga," omel Megumi dengan wajah memerah.

"Hng?" Gojo tampak bingung tapi lalu menatap ke arah Megumi melihat dan terkejut saat melihat selangkangannya sudah menggunduk. Gojo langsung menutupinya dengan tangan. "I-ini hanya reaksi tubuhku saja, bukan berarti aku mau sekarang juga," kilah Gojo dengan wajah memerah.

"Ugh, sudahlah, sebaiknya kita kembali ke tenda," Megumi bangkit dari posisinya sebelum ia ikut terpengaruh juga.

"Sensei…" rengek Gojo masih sambil memegangi bagian bawah tubuhnya.

Megumi berjongkok lalu meraih coat Gojo yang terbuka, lalu menutupnya dan memasang sabuknya. "Dengan begini nggak akan kelihatan kan," ucap Megumi tegas meski wajahnya masih panas.

"Haha," Gojo hanya bisa sweatdrop dan pasrah saja. Mereka pun kembali ke tenda setelah itu.

"Sleeping bag nya sudah cukup?" tanya tim pada Yuuta yang tengah membopong sebuah selimut.

"Iya, sudah ada tiga. Ini aku tadi ambil selimut tambahan saja," balas Yuuta.

"Apa perlu tiga selimut juga?"

"Nggak perlu, selimutnya lebar. Bisa untuk bersama kalau mau."

"Begitu, ya nanti kalau butuh apa-apa ambil ke tenda C saja Okkotsu-san."

"Ya, terimakasih."

"Eh, ngomong-ngomong memangnya Gojo-san tidur ya? Aku dengar rumor katanya dia bahkan tidak perlu tidur karena kemampuan mata nya itu," sahut seorang anggota tim yang lain.

"Hush, ngawur. Mau bagaimanapun dia tetap manusia," sahut rekannya. Yuuta hanya bisa tertawa lalu masuk ke tenda A.

"Memangnya itu betulan?" tanya Megumi sambil menyikut Gojo, mereka berhenti beberapa meter dari tenda karena mendengar percakapan tadi.

"Umm…ya dan tidak," balas Gojo. "Sebelum heal dengan Sensei aku bisa dikatakan tidak pernah tidur sih, sekalipun tidur paling beberapa menit, lalu bangun kembali. Seperti orang demam kau tahu? Biasanya orang demam akan tidur tapi sering terbangun kan, karena tak nyaman dan karena mimpi buruk. Ya, semacam itu. Tapi sejak heal dengan Sensei, aku bisa tidur dengan nyaman."

"Halah, omong kosong," bantah Megumi meski aslinya ia tersipu, ia pun melangkah ke arah tenda.

"Serius, setelah heal pertama kita itu kurasa untuk pertama kalinya aku bisa tidur lelap setelah bertahun-tahun lamanya," Gojo mengikuti langkah Megumi.

"Oh, kalian sudah kembali," sapa anggota tim yang berjaga. "Selamat beristirahat."

"Ya, selamat malam," balas Megumi dan masuk ke tenda A diikuti Gojo. Yuuta sudah masuk ke sleeping bag nya dan tengah menata selimut.

"Sensei, aku ambil selimut ini untuk tambahan kalau sleeping bag nya tidak cukup hangat. Soalnya ini dingin sekali," ucap Yuuta. "Kalau mau, kubentangkan selimutnya untuk bertiga. Ini selimutnya besar."

"Ya, terimakasih banyak," balas Megumi. Ia lalu masuk ke sleeping bag yang di tengah, sementara Gojo di pinggirnya. Mereka mulai berbaring dan memejamkan mata saat Megumi baru teringat sesuatu. "Eh, aku lupa belum jadi melakukan heal lagi padamu, Gojo-san."

"Hng, ya, lakukan saja Sensei," ucap Yuuta setengah mengantuk. "Tadi Gojo-san menggunakan banyak kekuatannya. Hoaaahm…"

Megumi sedikit keluar dari sleeping bag nya dan bergeser ke arah Gojo. "Sini," ucapnya.

Gojo justru tampak manyun, membuat Megumi mengerutkan alis bingung.

"Yuuta," panggil Gojo.

"Hng?" jawab Yuuta sudah setengah tidur.

"Kupasang tobari ya."

"Ya…" balas Yuuta lemah, sepertinya sudah ngantuk sekali.

"Tobari? Untuk ap–..." ucapan Megumi terhenti saat Gojo menariknya ke dalam pelukan, lalu mengurung tubuh mereka berdua dalam sebuah tobari, hanya Yuuta saja yang berada di luar tobari.

"Yuuta nggak akan bisa melihat dan mendengar kita di sini, Sensei," ucap Gojo. Meski dari dalam tobari mereka masih bisa melihat keluar, hanya saja berwarna gelap, seperti kaca hitam.

"Tapi memangnya kenapa? Kan hanya heal–...mnn…" ucapan Megumi terhenti saat Gojo menarik tubuhnya turun dan mencium bibirnya. Gojo menggeser tubuh Megumi ke atas tubuhnya, supaya menindih Gojo. "Hey–..." ucap Megumi setengah berbisik setelah melepas ciuman. "Hngh…" ia mengerang saat tangan Gojo meremas bokongnya, membuat tubuh Megumi menggesek selangkangan Gojo.

"Aku mana kuat kalau harus menahan diri dalam kondisi begini dan kau mau melakukan heal," ucap Gojo dengan nafas memburu.

Wajah Megumi memerah, ia ingat tadi Gojo sempat ereksi saat mereka kembali ke tenda.

"Sensei…biarkan aku…aku tidak bisa tahan lagi," pinta Gojo.

Megumi menelan ludah berat, menatap ekspresi sange Gojo membuatnya terangsang juga. "Tapi hanya seperti biasa, ok? Jangan masukkan. Aku tidak mau sex pertama kita di tempat seperti ini."

Gojo mengangguk lalu kembali mencium Megumi, tangannya masih meremas bokong Megumi, lalu membuka resletingnya dan menurunkan celana Megumi, meremas bokong mulusnya secara langsung. Gojo juga membuka resleting celananya sendiri, membiarkan penisnya yang sudah tegak menyelip di bagian bawah tubuh Megumi, menggesek lubangnya.

"Ahh…fuck," ucap Gojo sambil menggesek sensual, tangannya meremas bokong Megumi lebih erat, lalu menyentuh pintu lubangnya dengan jari.

"Ngh…mnn," Megumi mengerang, ia tetap berusaha menahan suara meski Gojo bilang suaranya tak akan terdengar keluar tobari.

"Sensei…Sensei…" panggil Gojo, ia menciumi leher Megumi, menjilatnya, lalu menggigitnya kecil. Ia menikmati leher Megumi yang jenjang itu.

"Ngh…Gojo–...san…ahh," desahan lolos juga dari mulut Megumi.

Gojo memasukkan jarinya ke mulut Megumi, membasahi itu. Memainkan sesaat lidah Megumi, menjadikannya membuat ekspresi yang sedikit liar.

Gojo menyeringai. "Kau sexy sekali Sensei," bisiknya.

"Uru–...sai…" balas Megumi.

Gojo menarik jemarinya, lalu kembali menyentuh lubang Megumi, kali ini memasukinya dengan dua jari.

"Ngh–..." Megumi mengerang tertahan, tangannya mencengkram pundak Gojo. Ia bisa rasakan jemari Gojo bergerak di dalam lubangnya, dan masuk semakin dalam. "Ngh–...ahhh…" ia mendesah saat jemari Gojo menyentuh titik nikmat di dalam sana, lalu bergerak maju mundur menyentuh titik itu.

Satu tangan Gojo yang bebas menyentuh pipi Megumi lembut, membingkai ekspresinya yang sedang merasakan kenikmatan. Gojo menjilat lidah Megumi sesaat, mengecup basah bibirnya juga.

"Sensei, bayangkan benda ini adalah milikku," goda Gojo seraya menyentak masuk jari ketiganya.

"Ng–...Aaahhhh–...mph," Megumi segera membekap mulutnya, suara hening malam membuatnya malu dengan suaranya sendiri yang terlalu keras terdengar.

"Sensei…" tangan Gojo beralih menyusup ke balik baju Megumi, meraba dadanya, merasakan nipple nya yang ereksi. Gojo memilin nipple itu, membuat Megumi sedikit mengangkat tubuh atasnya merasakan sensasi yang ada. Gojo menjilat bibirnya penuh nafsu, pemandangan yang benar-benar membuatnya terangsang melihat Megumi keenakan begitu.

"G-Gojo-san…ughhh…" Megumi menumpu tubuhnya dengan kedua tangan ke tubuh Gojo, ia mencengkram pundaknya erat saat merasakan sensasi dari kedua area tubuhnya yang sensitif.

Megumi melirik penisnya yang sudah basah dan tegak total, seperti sudah mau keluar kapan saja, sementara di belakang tubuhnya ia bisa merasakan penis Gojo menggesek bokongnya.

"Ngh…" Megumi mengangkat tubuh sehingga tangan Gojo terlepas dari lubangnya. "Sensei…?"

Megumi beralih duduk lebih mundur, membuat penis Gojo berada di depan tubuhnya. Ia menggesekkan penisnya dengan penis Gojo. "Ayo lakukan bersama," ucap Megumi terengah. "Kau bilang kau tidak tahan lagi."

Gojo menelan ludah berat melihat ekspresi menggoda Megumi. Ia lalu duduk, merapatkan tubuhnya dengan Megumi. "Sensei, kau yang lakukan oke?"

Megumi mengangguk, ia lalu menyatukan penis mereka dan mengocoknya bersama. Sementara tangan Gojo kembali meremas bokong Megumi, lalu memasuki lubangnya.

"Aahhh…" Megumi kembali mendesah saat jemari Gojo menyentuh sweetspot nya di dalam lubang. Tanpa ia sadari ia meremas sedikit kuat penis mereka, lalu mengocoknya lebih cepat.

"Ingin klimaks?" Gojo membisikkan di dekat telinga Megumi, menjilat cupingnya yang sensitif.

Megumi mengangguk. Ia mempercepat gerakan tangannya, menikmati bagian depan dan belakang tubuhnya yang diberi rangsangan. "Cium…" pintanya, ia ingin kenikmatan lebih lagi.

Gojo menurut, ia mencium Megumi, melumat bibirnya, lalu menaut lidahnya. Perlahan ia merasakan sejuk saat ciuman berlangsung, Megumi melakukan heal padanya, membuat kenikmatan yang mereka rasakan semakin memuncak.

"Hmnh…amn," Megumi mengerang di sela ciuman basah mereka. Ia terus melakukan heal, menambah kenikmatan kegiatan mereka berkali-kali lipat, dan akhirnya Megumi tak bisa menahan diri saat Gojo kembali memilin nipple nya kuat. Megumi menumpahkan sperma di tangannya sendiri, membasahi kedua penis mereka.

"Mmnhh–…ahhh…haah…" ia melepas ciuman karena terengah setelah klimaks, ia sandarkan kepala ke dada bidang Gojo.

Setelah membiarkan Megumi beristirahat sebentar, Gojo membaringkan Megumi dan mendorong tubuhnya maju sehingga bokong Megumi terangkat ke arah selangkangannya. "Heyy–..." ucap Megumi.

"Sedikit saja Sensei, aku tak akan memasukkannya," ucap Gojo. Ia mengocok penisnya sendiri, lalu mendorongnya ke lubang Megumi, menekan pintu lubangnya pelan, lalu memundurkannya lagi, ia lakukan beberapa kali.

Wajah Megumi memanas, ia menutup wajahnya dengan punggung tangan, kalau sex dengan Gojo…benda itu akan masuk ke tubuhnya.

"Ngh…ahh, Sen-sei…Sensei," Gojo mengerang saat gerakan tangannya semakin cepat dan akhirnya klimaks, membasahi lubang Megumi dengan sperma nya.

"..." Megumi hanya bisa bungkam, masih menutup wajahnya dengan punggung tangan. Ia suka melihat wajah Gojo saat klimaks, terlihat menikmati sekali. Dan kini Megumi merasakan tubuh bagian bawahnya yang basah oleh cairan Gojo, terasa panas dan lengket. Megumi menatapi wajah Gojo yang terengah, masih menikmati pasca klimaksnya. Setelah itu barulah Gojo menatap Megumi dan tatapan mereka bertemu.

Gojo tersenyum, ia menurunkan tubuhnya dan mencium bibir Megumi dengan lembut. Megumi menyambut dengan memeluk leher Gojo.

"Malam ini aku pasti tidur lelap," bisik Gojo.

Megumi menatap lurus mata Gojo. "Ucapanmu yang tadi itu serius? Kau tak pernah tidur nyenyak sebelum heal denganku?"

"Aku serius, sudah kubilang kan, seperti demam. Aku selalu terbangun karena perasaan yang tak nyaman," Gojo menindih tubuh Megumi dan memeluknya erat.

"Tapi bagaimana bisa kau bertahan? Manusia bisa gila bahkan mati jika kurang tidur selama beberapa belas hari saja."

"Aku punya mata bagus. Salah satu kemampuan mata ini membuatku bisa meregenerasi otakku supaya tetap segar. Tapi tentu saja hal itu membuat aku terus memakai kekuatanku, yang artinya terus menumpuk energy negatif ku juga meski kadarnya sedikit. Seperti auto pilot begitu.

Tapi sekarang setelah heal dengan Sensei, aku bisa tidur normal tanpa melakukan itu. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir aku tidur lelap," Gojo mengecup pipi Megumi.

"..." Megumi terdiam, sekali lagi ia seolah diingatkan seberapa penting heal nya bagi Gojo. Heal yang baginya adalah keseharian biasa, rupanya menjadi hal yang sangat penting bagi seseorang.

Megumi meraih pipi Gojo untuk membuatnya terangkat, menatap wajahnya. Kemudian ia kembali mencium Gojo dan melakukan heal padanya.

"Hey, sudah cukup, tadi sudah kan," ucap Gojo sembari tertawa kecil.

"Tak apa, aku sudah bilang akan menghabiskan energy ku untuk heal denganmu kan," balas Megumi dan kembali mencium pacarnya itu, melakukan heal padanya sampai Megumi merasa begitu lelah. Setelah itu barulah ia melepas ciuman.

"Hmh, Sensei…" ucap Gojo manja dan memeluk Megumi. "Aku mencintaimu."

Megumi balas memeluk meski merasa energy nya nyaris tak ada untuk sekedar mengangkat tangan. "Ya, aku juga mencintaimu," balasnya sebelum ia memejam, entah tidur karena kelelahan atau pingsan.

.

.

.

~To be Continue~

.

Support me on Trakteer : Noisseggra