Rupa cakrawala di hadapan kita ialah enigma, esensi takdir yang masih terburai dan pudar. Jarum determinasi pun terarah pada kedua polar. Mengikat statis, dimana pada naungan kealpaan kita aman. Atau merengkuh sebaris dinamika, walau segenap tantangan harus kita jumpa.

Cipta dan Sirna

By: Koyuki17

Boboiboy © Monsta Studio

.

.

.

"Ini bukan pahlawan-pahlawanan, kau mengerti tidak sih?" satu sentakan Fang kontan membubarkan atmosfer kesenangan yang meliputi keempat teman sekelasnya itu.

Semua orang di sana terdiam seketika dan menerka seberapa amarah remaja itu hingga ia angkat bicara. Beberapa menit yang lalu mereka masih kegirangan dan mengamati arloji BoBoiBoy yang berbeda. Kini semua mata tertuju pada Fang yang melangkah dengan gusar dan mendekati BoBoiBoy.

"Kau tahu tidak apa yang sekarang kau tanggung? Setelah kau menjadi seorang Poros?" tangan Fang pun dengan kasar menarik bagian depan kaus BoBoiBoy dengan kasar. "Kenapa harus kamu yang terpilih sih?"

"Kalau begitu, beri tahulah Fang! Kalau tak diberi tahu kita nggak akan mengerti apapun!" Boboiboy pun memegang tangan Fang dan melepaskan cengkeraman jemari itu dari bajunya. Rasa simpatinya pada Fang luntur setelah sentakan barusan.

"Sudah, sudah!" sementara Ying menahan Boboiboy, Gopal pun menarik Fang supaya tidak membuat situasi semakin keruh dengan apapun sahutan yang belum dilontarkannya.

"Fang, kau bisa ikut denganku sebentar…?" Ochobot pun kini ikut menyela dan memberi isyarat bagi Fang untuk mengikutinya menuju ruangan di samping.

Fang tak memprotes lalu mengekori robot kuning itu, melewati pintu kaca dan mereka berdua pun mulai bercakap. Sebuah percakapan yang tak terdengar oleh keempat remaja lainnya. Mereka hanya bisa mencuri-curi pandang dan mengira-ngira apa yang Ochobot bicarakan dengan Fang. Hanyalah raut masam Fang yang menyiratkan bahwa sang robot tak bisa berbuat apa-apa soal Poros yang terpilih.

"Fang pastinya ingin sekali menjadi Poros ya," ujar Yaya. "Kalau saja dia lebih terbuka, pasti kita takkan kebingungan seperti ini."

"Sudah berapa lama ia menunggu saat ini ya, menemukan Matra? Dan lagi malah jadi tak sesuai harapannya untuk menjadi seorang Poros," celetuk Ying tiba-tiba.

"Sejak dia bertingkah aneh mungkin," komentar Gopal. "Salahmu sih sampai terpilih Boboiboy!"

"Kenapa pula aku yang salah?!" gagal memahami pola pikir sahabat tambunnya itu, Boboiboy pun menyahut sembari mengangkat alis.

.

.

.

Chapter 3: Misi

Tangan kanan Boboiboy terbuka, membentang pada dinding padat tempat ia dan sahabatnya masuk ke dalam ruang kontrol Matra dan bertemu dengan Ochobot. Embusan pelan napasnya diiringi dengan pejaman kedua matanya. Warna kelam itu menyambut benaknya, lalu remaja bertopi oranye itu memilah ingatan tentang papan kayu yang dicat putih dan sederhana. Tentang bagaimana halaman mungil berpagar rapat yang mengantar kepergiannya ke sekolah setiap paginya.

"Sudah terbuka!" suara Ochobot membuat Boboiboy membuka kembali kedua matanya. "Memang paling mudah membuat portal dari pintu yang sering dilihat!"

Sebelum mereka pulang, sang robot kuning meminta Boboiboy membuka portal menuju dunia asal mereka. Salah satu tugas penting seorang Poros, begitulah yang Ochobot katakan pada Boboiboy. Lalu dengan sedikit arahan, Boboiboy mencoba mengubah dinding logam kehitaman itu menjadi sebuah portal. Dengan ingatan tentang pintu dan tempat yang berada dibalik pintu itu. Lalu sentuhan tangannya pada dinding itu berubah menjadi pintu yang dimaksud.

"Nah, sekarang cepatlah kalian pulang sebelum malam semakin larut!" Ochobot mendorong Yaya dan Ying dengan segera. "Apalagi anak perempuan seperti kalian ini!"

"Anu… Ochobot, soal latihan dan simulasi yang kau bicarakan tadi…" Yaya menyinggung kembali topik yang mereka bicarakan sebelum Boboiboy membuka portal.

"Itu setelah aku menunjukkan sesuatu terlebih dulu pada kalian." Ochobot mengoreksi ucapan yang dimaksud Yaya. "Datanglah ke titik koordinat di mana kalian menemukan portal ke Matra barusan. Hari Senin, jam tiga sore."

"Baiklah, sampai jumpa nanti Ochobot!" Boboiboy melambaikan tangan sebelum kembali pada portal berbentuk pintu yang baru saja dibuatnya.

Kenop pintu berayun turun, dengan sedikit ragu Boboiboy membuka pintu itu perlahan. Keempat temannya mengawasi dengan penasaran di belakang punggung Boboiboy. Semua nampak menahan napas sampai sepetak halaman depan rumah Boboiboy jelas tepampang di balik pintu. Lalu mereka semua pun berjalan melintasi pintu dan menyaksikan bagaimana mereka telah pulang.

"Hebat… kita benar-benar kembali," gumam Ying takjub.

"Ruang pengawasan Matranya hilang…" Yaya sementara itu memandangi ruang tamu yang berada di sisi lain pintu alih-alih tempat yang baru saja mereka datangi. "Benar-benar portal satu arah ya! seperti kata Ochobot."

"Akhirnya kita pulaaang." Gopal nampak begitu lega setelah dikiranya mereka akan terus terperangkap di dunia entah itu.

"Rasanya seperti mimpi yang terlalu nyata…" Boboiboy ikut berkomentar sebelum memandangi ketiga temannya itu dan menyadari ada seseorang yang hilang. "Eh, Fang ke mana ya?"

"Nggak ada sopan-sopannya dia! Paling tidak pamit dulu kek," dumel Ying. Tak ada yang memperpanjang topik tentang teman berkacamata nila mereka itu setelahnya.

Terlalu banyak hal yang mereka ketahui malam itu, hingga tak banyak percakapan yang saling bersambungan. Lamunan-lamunan kecil selanjutnya membuat mereka menyadari bahwa esok hari yang akan mereka jelang takkan lagi sama. Lalu tak berselang lama Boboiboy menyaksikan satu demi satu temannya pamit pulang. Namun remaja bertopi itu termenung cukup lama di halaman.

Rumah yang ditinggalinya dengan sang kakek selalu menjadi tempat yang nyaman untuk memandangi lanskap kota. Pasalnya, tempat yang persis berada di atas bukit mungil itu membuat manik hazel itu bisa memandangi seisi kota tanpa kecuali. Namun kali ini, terkuaklah bagaimana eksistensi bernama Pelahap ingatan, juga dunia bernama Matra menjadi ancaman bagi kota ini. Dan sekarang, mungkin tak ada yang tahu tentang hal ini selain ia dan teman-temannya.

Mungkin lebih baik jika apa yang dilihatnya pada saat meneropong bintang malam itu adalah pencuri biasa.

-CdS-

Tak pernah sekalipun Boboiboy menunggu hari Senin namun minggu ini adalah pengecualian. Setelah sekolah berakhir, ia langsung menyeret Gopal untuk menunggu di lantai ketiga gedung sekolah. Masih ada sepuluh menit sebelum jam tiga, waktu yang dijanjikan untuk mereka bisa kembali ke Matra. Boboiboy berjalan mondar-mandir, gelisah menunggu pintu yang dulu ditemukannya dengan tidak sengaja itu muncul.

"Lama lah! Bahkan belum ada yang muncul," protes Gopal. Ia duduk bersandar pada tembok balkon. Sudah empat-lima kali ia menguap lebar.

"Sekarang sudah jam tiga kan? Harusnya nggak lama lagi," Boboiboy yang sama-sama lelah menunggu pun kini duduk bersandar di koridor. Lalu suara kaki yang menaiki undak tangga beserta gemanya memecah sunyi. Memberi tahu ada orang yang datang.

"Aih, portalnya belum ada?" suara Ying membuat Boboiboy dan Gopal menoleh, dua orang teman mereka itu akhirnya datang dari balik koridor.

"Belum, nih." Sahut Gopal dengan bibir cemberut.

"Oh, ya. Bukannya kita bisa menghubungi Ochobot lewat ini?" Yaya menunjuk arloji pink-nya.

"Tapi, bagaimana caranya?" Boboiboy memandang lekat arlojinya. Diputarnya pergelangan tangannya, berharap menemukan fitur yang dimaksud Yaya barusan.

"Ngapain kalian masih di sini?" suara ketus Fang menjadi penanda bahwa ia menjadi orang terakhir yang datang.

"Kami baru ingin menghubungi Ochobot soalnya pintunya belum muncul," Ujar Yaya.

Manik kemerahan Fang kini beralih pada Boboiboy, yang masih kebingungan dengan arlojinya. Remaja itu menghela napas panjang, lalu ia mengeluarkan arlojinya dan memencet sebuah tombol di bagian samping dengan cekatan. Sebuah hologram meluncur dari arlojinya dan memperlihatkan gambar sang robot kuning.

"Apa kalian semua sudah ada di titik portal masuk?" suara Ochobot terdengar dari sana.

"Sudah, Ochobot. Cepat buka portalnya, tidak ada siapa-siapa lagi kok." Tutur Fang dengan lugas.

"Oke, kubukakan sekarang!"

Tak barang sepuluh detik, sebuah pintu kayu berwarna pucat muncul menggantikan poster keselamatan laboratorium yang sebelumnya ada di sana. Tidak salah lagi kalau pintu inilah yang diraih Boboiboy saat mereka mencoba kabur malam itu. Keempat remaja itu menoleh pada Fang, menangkap seringaian puas darinya.

"Masa begini saja nggak bisa?" nada suara Fang yang meremehkan sempat membuat Boboiboy panas.

"Tapi kau datang paling telat tahu!" celetuk Gopal.

"Biarin." Fang tak peduli dan langsung berjalan menuju pintu dan membukanya. "Tunggu apa lagi? Masuk lah."

Lorong gelap panjang itu kini berujung pada ruangan tepat di samping ruang kontrol Matra. Mereka tinggal berjalan menuju pintu kaca untuk sampai pada Ochobot, yang tengah sibuk dengan monitor-monitor. Tangan mekanisnya mengetikkan sesuatu dengan cepat.

"Aku ingin menunjukkan sesuatu pada kalian hari ini," ujar Ochobot. Walau perhatiannya masih sibuk pada monitor dan papan ketik.

Sebuah arloji berwarna keperakan muncul dari bagian langit-langit, tersimpan dengan apik dalam bola kaca yang tembus pandang yang meluncur pelan ke bawah.

"Arloji milik siapa, Ochobot?" Yaya penasaran dan mengamati lekat arloji itu.

"Ini adalah arloji dari pemilik kekuatan sebelum kalian. Sudah setahun sejak misi mereka berakhir."

"Sebelum kami, ada berapa pemilik kekuatan?" kini Ying bertanya dengan penasaran.

"Aku tidak bisa menyebutkan berapa pastinya. Tapi Boboiboy akan menjadi poros yang ketujuh."

Ada enam orang yang menjadi seorang poros sebelum Boboiboy, itu informasi baru bagi mereka. Bisa dibayangkan sudah berapa banyak penerima kekuatan seperti mereka. Yang tahu tentang Matra berikut Pelahap ingatan yang menjadi ancaman.

"Dan salah satu poros sebelum kita ke sini adalah kakakmu ya, Fang?" Boboiboy melirik remaja berkacamata itu.

"Berarti ini arloji kakakmu?!" pemikiran Gopal malah berujung pada kesimpulan itu.

"Ish, bukan lah! Lagipula, kakakku itu adalah poros ketiga." Fang membenarkan.

"Oh gitu," kini Gopal melirik si robot kuning. "Ochobot, yang ingin kamu perlihatkan hanya arloji ini saja, eh?"

"Bukan ini saja, tentunya." Ochobot pun mengetikkan sesuatu kembali lalu arloji itu memproyeksikan hologram ke seluruh ruangan. "Tapi rekaman misi para pemilik kekuatan sebelumnya yang ada di dalam arloji ini."

Di tengah ruangan, tiba-tiba muncul sosok enam orang remaja seusia mereka. Dua perempuan dan empat orang laki-laki. Dari seragam yang mereka kenakan, keenam orang ini bersekolah di tempat yang sama. Mereka tengah duduk melingkar tepat di tengah ruangan. Sementara

"Baru setahun, namun Matra kembali tidak stabil." Ochobot mulai menjelaskan. "Kita harus cepat merebut tujuh Nukleus Matra seperti misi mereka dulu."

"Siapa saja mereka Ochobot? Siapa tahu kita pernah bertemu!" sebagai aktivis sekolah, Yaya merasa bisa mencari tahu tentang kakak kelas mereka.

"Kupikir, sulit bagi kalian buat mengetahui mereka." Ochobot lalu mengetik kembali dan kini tampilan hologram pun berganti. "Ada banyak hal yang harus kita bahas, terutama apa yang harus kalian lakukan selama misi nanti."

Raut wajah Fang yang mengeras membuat Boboiboy penasaran. Nampaknya ia mengetahui sesuatu tentang hal ini. Tapi jika Ochobot bahkan mengalihkan topik, ini, berarti mereka belum boleh mengetahuinya. 'Yang lebih penting adalah fokus pada misi nanti!' Boboiboy mencamkan itu dalam hati.

"Di antara mereka, orang inilah yang terpilih menjadi Poros." Kini hanya ada seorang pemuda jangkung berambut agak ikal yang ditampilkan. "Kita akan membahas Pelahap ingatan dan Matra sebelum membahas misi."

Sebuah bola yang berwujud seperti bumi kini ditampilkan, namun sesuatu menyelimuti sekelilingnya. "Seperti kalian lihat, yang menyelimuti dunia kalian adalah Matra. Kalau diperbesar menjadi seperti ini."

Kini muncul sebuah lanskap kota. Namun langit berada di atas kota tersambung pada langit lagi dan sebuah kota lain dalam keadaan terbalik.

"Seperti dunia paralel!" seru Yaya takjub.

"Bisa dibilang seperti itu. Tapi Matra tidak bisa seterusnya stabil, misalnya seperti ini."

Retakan tiba-tiba muncul dari Matra, membuat gambaran kota itu seperti akan hancur berkeping-keping. Bersamaan dengan itu, sebuah lubang muncul di dunia nyata. "Munculnya portal itu adalah tanda dari distorsi Matra."

"Lihat itu, sesuatu keluar dari dalam portal! Pencuri berjubah yang waktu itu!" Ying menunjuk portal, dimana dua buah bayangan menyelinap keluar.

"Itu adalah Pelahap ingatan yang dimaksud kan Ochobot?" Yaya memastikan, dan segera Ochobot mengiyakan.

"Kenapa mereka bisa bergerak secepat itu ya?" Boboiboy mengerutkan dahi.

"Ah, itu karena waktu di Matra dan waktu di dunia kalian berbeda." Ochobot kembali menjelaskan. "Tapi nanti setelah kalian ada di misi pertama, aliran waktu kalian akan sama dengan aliran waktu para Pelahap ingatan, jadi jangan khawatir."

"Fyuuh. Nggak kebayang nanti harus bertarung sementara mereka melesat begitu," celetuk Gopal lega.

"Tenang, kalau begitu pun kan kuasaku manipulasi masa!" Ying membusungkan dadanya.

Setelah itu, Ochobot menampilkan lebih banyak lagi tentang sosok Pelahap ingatan. Bagaimana mereka menandai seseorang sebagai target mereka untuk diambil ingatannya. Dan bagaimana mereka mengambil ingatan seseorang dan memindahkannya untuk membuat menutup distorsi Matra sedikit demi sedikit. Namun mereka baru bisa memulihkan Matra setelah mengambil ingatan dari setidaknya sepuluh orang.

"Kebanyakan orang-orang yang ditangkap dan masuk ke dalam Matra, lalu mereka diambil ingatannya di sana. Ingatan yang hilang bisa jadi ingatan tentang kejadian baru-baru ini atau ingatan yang sudah lama. Beberapa orang akan mengira bahwa ingatan itu hanya mereka lupakan."

"Kalau begitu, akan sulit melawan mereka bukan Ochobot?" Ujar Yaya. "Seperti kita tak bisa menyentuh mereka sama sekali."

"Bertarung jarak dekat memang sangat berisiko. Tapi kalian tak akan apa-apa jika melakukan kontak fisik dengan mereka, asalkan tidak tertangkap saja."

Kini, arloji memproyeksikan bagaimana Pelahap ingatan tengah menyerang salah satu anak perempuan pemilik kekuatan. Tangan sang gadis berambut pendek itu dengan cekatan mengeluarkan senjata api lewat sebuah lingkaran sinar di sekitar arlojinya. Membuat semua membelakakkan mata dengan kagetnya. Pastilah berbahaya jika membuat nona yang satu ini marah.

Gadis itu menghindari pukulan dan sergapan Pelahap ingatan, hingga tudung tersingkap dan menunjukkan rupa seorang laki-laki dewasa. Sulit mengatakan bahwa lawan yang mereka hadapi itu adalah sebuah program, karena sosok itu terlalu nyata dan nyaris tak ada bedanya dengan manusia. Tangan sang gadis menarik pelatuk, namun dua tembakannya meleset dan Pelahap ingatan itu mundur.

"Sedikit lagi padahal!" teriak Gopal, terbawa suasana.

"Nonton sih gampang…" ujar Fang.

Namun pertarungan itu tak berlangsung lama. Bidikan sang gadis pun tepat mengenai bagian tengah tubuh sang lawan. Pelahap ingatan itu kini retak sekujur tubuhnya, lalu ia pun terburai dan lenyap dari pandangan. Seperti abu yang tertiup angin yang lewat. Satu hal yang akhirnya mencirikan bahwa mereka bukanlah manusia.

"Berarti setelah mereka bisa dikalahkan, tak ada lagi musuh kan?" Boboiboy bertanya dengan semangat.

"… ah, aku lupa bilang kalau dalam waktu 5 menitan mereka bisa beregenerasi dan muncul lagi."

"Apaaa?!" teriakan protes langsung memecahkan suasana.

"Kita lawan zombie lah berarti!"

-CdS-

Jika distorsi Matra terjadi, maka misi mereka dimulai. Entah itu mereka tengah belajar di kelas, telah tertidur di larutnya malam, atau apapun itu, mereka harus bergerak cepat. Tepat setelah Ochobot memberikan pesan dan arloji mereka berkedip merah. Siap siaga 24 jam mungkin slogan yang tepat untuk para pemilik kekuatan sepanjang misi.

"Kalian harus cepat masuk ke portal. Dengan itulah Pelahap ingatan akan terpancing kembali ke Matra." Jelas Ochobot.

"Dan kita akan menjadi target mereka, bukan?" Ying menambahkan sembari setengah meringis.

Mereka kini menyaksikan bagaimana kekompakan tim poros keenam, yang langsung berlari secepat kilat menuju portal. Dalam sekejap mereka berada dalam dimensi yang berbeda, yang tak lain adalah Matra. Sektor Matra yang mereka masuki ialah sebuah kota yang telah ditinggalkan. Lima orang lalu bersiaga di dekat portal, sementara sang poros bergerak seperti mencari sesuatu.

"Dia mencari apa?" bingung dengan tingkah sang Poros, Yaya pun bertanya.

"Poros harus masuk ke sistem Matra di sektor itu, atau yang biasa kusebut sebagai Pilar. Untuk masuk ke sana harus lewat portal lagi."

Setelah memasuki sebuah toko, poros keenam pun menemukan sebuah portal tepat di balik rak kayu yang kosong. Ia pun masuk ke dalam portal dan ruang dimana ia berpijak pun berganti kembali. Kali ini koridor-koridor lengkap dengan banyak furnitur, mengepungnya dalam sebuah labirin yang dibentuk.

"Setelah masuk ke pilar, maka dia harus mencari Nukleus. Benda itulah pusat dari distorsi sekaligus cara bagi Poros untuk mengakses sistem."

"Kamu enak berarti Boboiboy! Nggak usah lawan zombie-zombie itu!" Gopal mengguncang-guncang Boboiboy sembari meringis.

"Poros akan menjadi incaran utama Pelahap ingatan. Jadi justru menjadi tugas kalian untuk menghentikan mereka lah." Sang robot pun mengoreksi.

Kembali pada rekaman itu, kini sang poros mengobservasi ruangan di sekelilingnya. Namun satu Pelahap ingatan masuk dan menjegal langkahnya. Ia harus melawan Pelahap ingatan itu, sama seperti sang gadis barusan. Ochobot berkata bahwa kemampuan sang Poros sebelumnya adalah manipulasi magnet. Ia bisa mengumpulkan berbagai logam dan menjadikannya 'zirah' untuk pertarungan.

"Uwaaah, retakannya makin hebat!" pekik Boboiboy.

Selagi pertarungan semakin sengit, Matra kini benar-benar nyaris hancur. Poros pun kini melancarkan pukulan telak dengan lengan berbalut logamnya itu, menghempaskan lawan hingga kalah dan menghilang tanpa sisa.

"Dia harus cepat!" seru Yaya.

Tepat setelah Poros menggunakan semua kekuatannya, menerobos labirin dengan tangan logamnya. Pada satu titik ia berhenti dan melirik ke segala arah dengan panik, mencari apa yang Ochobot sebut sebagai Nukleus barusan. Poros itu kini nampaknya mengetahui ada di mana Nukleus berada. Ia meninju hamparan lantai granit, membereskan potongan-potongan lantai yang hancur. Tak berselang lama, sesuatu terlihat dari bawah tepat dimana sang Poros mengeruk. Ia pun melepaskan tangan logamnya dan mengambil sebuah bola berwarna merah bening. Ketika Ochobot memperbesar rekaman itu, terlihat sesuatu seperti sebuah chip berada di dalam bola seukuran bola tenis itu.

"Itu adalah Nukleus, kau nanti harus menemukannya dengan cepat Boboiboy. Karena waktu kalian terbatas oleh portal depan yang semakin menutup sejak kalian masuk." Mendengar itu, Boboiboy langsung memandangi rupa Nukleus dengan lebih cermat. Bola berwarna itu adalah tujuan utama mereka pasalnya.

Waktu dalam Matra seolah berhenti seketika. Di luar pilar, semua Pelahap ingatan pun mematung sebelum terburai dan hilang tanpa sisa. Retakan hebat yang mengoyak Matra pun berangsur hilang. Misi selesai dan Sang poros kini kembali pada teman-temannya yang menunggu. Remaja lelaki itu pun membuka portal, dan mereka kembali ke halaman belakang sekolah dengan aman.

"Kalau portal menutup sebelum Poros menemukan Nukleus, apa yang akan terjadi pada kita Ochobot?" Ying penasaran. "Poros bisa membuka portal bukan di Matra?"

"Kalian akan terjebak di sana lah! Lalu Nukleus pun tidak bisa lagi diakses oleh Poros." Tukas sang robot. "Jika ada yang terjebak, yang bisa dilakukan hanya menunggu sampai distorsi selanjutnya. Bahkan Poros sekalipun tak akan bisa membuat portal sebelum menemukan Nukleus."

Remaja bertopi jingga itu mulai memahami ucapan Fang padanya tempo hari. Misi mereka di matra nanti akan sangat bergantung padanya. Jika ia gagal menemukan Nukleus, maka mereka harus mengulangi misi sampai ia berhasil. Lalu sesuai arti dari kata Poros itu sendiri, ia harus menyangga stabilnya Matra dengan ingatan yang ia miliki.

.

.

.

"Walaupun dengan kekuatan, bukan berarti kalian akan selalu aman. Apalagi jika kalian memaksakan kekuatan sampai batas tertentu, itu akan berbalik membahayakan kalian." Ochobot berkata sembari mematikan proyeksi dan mengembalikan arloji itu pada tempat penyimpanannya semula.

Sejak awal dikejar oleh Pelahap ingatan, mereka tahu bahwa ini bukanlah perkara sepele. Dan sederet penjelasan ochobot dan rekaman yang diproyeksikan pada mereka telah membuktikannya dengan gamblang. Ini bukanlah sekedar penuturan sebuah permainan anak-anak ataupun video game sekalipun. Banyak hal yang harus mereka pertaruhkan di sana.

"Kalian boleh memikirkannya lagi." Tiba-tiba saja sang robot berujar demikian.

"Tapi… kalau kami nggak mencoba, apa yang akan terjadi dengan Matra?" celetuk Boboiboy.

"Itu akan menjadi masalahku nanti. Dan aku tak bisa memaksa kalian untuk hal ini."

Kelima kawan itu (minus Fang) saling berpandangan. Mengisyaratkan bahwa mereka harus membicarakannya dulu bersama.

"Bahkan setelah kalian berhasil menuntaskan ketujuh misi, saat itu kalian akan menghadapi sebuah pilihan lagi." Ochobot memungkas penuturannya hari itu. "Mungkin, ini yang bisa kuberitahu pada kalian sekarang."

-CdS-

"Ka.. kalian tetap memutuskan untuk tetap lanjut?!" rasa terkejut gamblang terlihat dari seruan robot itu.

"Kami tak tahu bisa menuntaskan misi dengan baik atau tidak, tapi," Boboiboy pun melirik Ying.

"Kita tidak akan membiarkan Matra seperti ini dan Pelahap ingatan keluar!"

"Jadi, tolong bimbing kami lagi ya, Ochobot!" Yaya menambahkan.

"Wa… walaupun berbahaya. Tapi apa boleh buat." Walaupun bernada sedikit keberatan, Gopal tak bisa membujuk teman-temannya untuk mundur.

"Aku tidak bisa membiarkan dia seenaknya dan mengacaukan misi." Fang menunjuk Boboiboy ˗yang langsung mengepalkan tangannya karena menahan emosi.

"Kalau begitu, besok kalian bisa mulai latihan. Akan kusiapkan arena latihan untuk kalian." Kepakan sayap sang robot terlihat lebih cepat dari biasanya. Mungkin itu adalah tanda kalau ia merasa senang. "Dan tentu saja aku akan menyertai kalian di awal latihan."

"Siap! Kami akan datang besok sepulang sekolah!" ucap Ying.

"Aku tidak sabar untuk melatih kekuatanku!" Yaya berseru riang.

"Memikirkannya membuatku kelaparaan~" Gopal malah hanyut dalam fantasinya. Diiringi perut yang berbunyi nyaring, ia membayangkan makanan kesukaannya.

"Masa semua benda mau diubah jadi makanan? Dasar kau ini!" celetuk Ying.

"Ya suka-suka aku!" Hei Ochobot, buat kekuatan ini bisa kulakukan di rumah dong!" pinta Gopal dengan penuh harap.

"Nggak bisa lah! Kekuatan kalian cuma bisa digunakan di Matra."

"Ochobot, apa kekuatanku belum bisa dilatih juga?" Boboiboy masih khawatir dengan hal yang satu itu.

"Bukannya tak bisa sama sekali, tapi kekuatannya masih belum bisa maksimal. Bisa dibilang," ada jeda sebelum robot itu melanjutkan. "Kau bisa mengeluarkan dasar-dasarnya dulu."

"Da.. dasar-dasarnya?" mata Boboiboy kontan terbelalak.

"Itu artinya kau akan payah di misi pertama." Fang pun terkekeh.

"Awas ya, kalau nanti sudah misi ketujuh aku pasti akan lebih kuat darimu!" Boboiboy tak mau kalah.

"Aku pasti sudah lebih jago menggunakan kekuatanku saat itu," kilah Fang tak kalah sengit.

"Haiiih, bisa kalian tidak meributkan ini lagi?"

-CdS-

Semua terlihat begitu benderang, membuat manik mata Boboiboy mengerjap silau. Remaja itu terdiam, berusaha mengindrai ruang di mana kakinya berpijak. Tak ada suara yang bisa ditangkapnya, begitupun nihil aroma yang bisa menjadi penanda. Hanyalah sensori yang berada di tubuhnya yang bisa mengirimkan sinyal, bahwa hawa yang begitu hangat menyelimutinya saat ini. Membuat otot-otot di tubuhnya rileks.

Boboiboy mencoba membuka penuh kedua matanya untuk kali ketika embusan angin dan kabut memecah terang. Palet gelap menyeruak di hadapannya, seolah sebuah lukisan terisap oleh angin dan membentang di sekeliling remaja itu. Memberikan rupa sebuah ruangan kosong yang separuh rusak, hingga langit malam mengintip dari luar sana.

"Akhirnya, kau sudah memutuskan hal ini bukan?"

Sebuah suara membuat Boboiboy terperanjat lalu menoleh ke belakang, ia tak seorang diri di sana. Yang ditangkap olehnya ialah figur seorang remaja seusianya, sebuah kaus putih berlengan pendek dan celana biru panjang dipakai oleh sosok itu. Rambut kecokelatan dengan sejumput helaian putih sama persis seperti yang Boboiboy miliki. Cemerlang kedua manik hazel itu menatapnya, seiring lekuk bibir itu membentuk sebuah senyuman hangat. Ekspresi yang sedikit berbeda dari Boboiboy.

"Kau…" kata 'siapa' terjegal oleh kelu mulut Boboiboy.

"Kita akan segera berjumpa, tapi mungkin aku bukan yang pertama." Sosok itu kembali menyahut.

Kontan Boboiboy mengerutkan dahi, mencoba mencerna maksud dari perkataan yang dilontarkan barusan. Ia masih penasaran atas sosok di hadapannya itu, yang memiliki rupa persis sepertinya. Namun tahu-tahu sosok itu beranjak mendekati Boboiboy yang masih bermuka kusut.

"Aku adalah bagian darimu, kepingan ingatan yang pertama." Kedua lengan itu menarik Boboiboy ke dalam sebuah dekapan erat. "Ingatlah itu."

.

.

.

Percikan air membawa hawa dingin pada wajah Boboiboy, membuat pemuda itu menggumam tidak jelas seiring kesadarannya yang kembali. Sebuah tangan menyipratkan air kembali. Disusul oleh ujaran ketus Tok Aba.

"Bagun Boboiboy! Sudah siang ini."

Boboiboy pun berguling di kasurnya, mengambil posisi duduk sebelum mengamati sekeliling dengan mata setengah terpejam. Cahaya matahari yang kian terik meloloskan diri dari celah di antara tirai jendela, benar adanya perkataan Tok Aba barusan. Sang kakek sementara itu telah menghilang setelah menutup pintu kamar.

Lima menit Boboiboy masih duduk termangu di kasur, mengingat-ingat mimpinya yang terputus. Mimpi yang begitu jelas namun anehnya sulit untuk dipanggilnya kembali. Ia bertemu dengan seseorang, yang bahkan tak ia kenal sebelumnya. Rasanya ia seperti menjumpai seorang teman lama.

.

.

.

Berlanjut pada chapter 4: Bayang

.

A/N: Terima kasih bagi yang telah mampir, hampir satu tahun dan akhirnya ada waktu lagi untuk membaca ulang ff ini dan memutuskan untuk menulis ulang dan menambahkan penjelasan tentang Matra.

Cukup lama untuk menyadari plot yang hilang ini, setelah menggali kembali rancangan Matra pada awalnya (awalnya memang tidak terpikirkan akan menjadi ff).

Sampai jumpa di chapter selanjutnya ^^