Semua netra seringkali terpaku pada sinar semata, namun melupakan bayang yang ikut tercipta. Laksana memandang kerlip cahaya beserta bayang yang ia ciptakan dalam satu bingkai yang sama. Menjadi utuh adalah perkara yang sesederhana itu, kendati tak semudah itu pula terlaksana.
Cipta dan Sirna
By: Koyuki17
Boboiboy © Monsta Studio
.
.
.
Chapter 4: Bayang
Dentang bel telah lama terdengar, dan hampir semua orang tak lagi berada di gedung sekolah. Boboiboy mengawasi lorong panjang di lantai tiga sebelum mengangkat tangannya dan membisikkan sesuatu pada arloji oranye-hitamnya itu.
"Ochobot, aku sudah di depan pintu masuk," ujarnya pelan.
Beberapa detik berlalu, dan portal itu kembali terbuka. Boboiboy segera masuk dan menutup kembali pintu rapat-rapat. Ochobot langsung menyambungkan portal pintu itu pada lorong singkat menuju aula khusus yang dekat dengan ruang kontrol Matra. Di sanalah tempat latihan bagi Boboiboy dan teman-temannya itu selama waktu senggang mereka selepas sekolah.
"Lama sekali kau Boboiboy!" komentar Ying dari salah satu ruangan latihan di aula itu menyambut kedatangan teman bertopinya itu. Ia dan Yaya tengah berdiri berhadapan di balik pintu masuk yang terbuat dari kaca.
Tak ada Ochobot yang biasanya mengawasi latihan mereka. Kemarin, ia telah selesai memberitahukan dasar-dasar pengendalian kekuatan dan eksplorasi kekuatan. Sejak itulah sang robot sibuk mempersiapkan simulasi untuk misi mereka di Matra nantinya.
"Apa boleh buat, kalau latihan pasti selesainya jam segini." Boboiboy menyadari kedua orang itu tengah melakukan sesuatu. "Kalian berlatih bersama lagi?"
"Yup, kami mencoba mengombinasikan kekuatan kami berdua!" jawab Yaya semangat. "Kau mau melihatnya Boboiboy?"
Anggukan Boboiboy langsung mendapat respon dari kedua gadis itu. Yaya memusatkan kekuatannya dan memunculkan sinar pink dari arlojinya. "Apungan graviti!"
Beberapa batuan besar di depan ketiga orang itu pun melayang-layang di udara. Sang gadis berkerudung itu mengayunkan tangannya dan melemparkan batu-batu itu menuju pilar jauh yang disediakan sebagai target latihan mereka.
"Kecepatan maksimal!" kini giliran kekuatan Ying menyeruak, tertuju pada batu yang digerakkan Yaya. Batu itu pun melesat dengan sangat cepat dan dalam sekejap meghancurka pilar dalam satu dentuman kencang. Tersisalah puing-puing pilar yang berserakan.
"Wow! Kalian hebat sekali lah!" Boboiboy berdecak kagum. Walau dalam hati ia semakin segan rasanya membuat kedua temannya itu marah padanya. Bisa habis ia nanti. "Oiya, Gopal ada dimana?"
"Tuh, menukarkan semua objek di ruangan menjadi makanan seperti biasanya." Ying menunjuk satu ruangan latihan lain sebelum melirik Yaya kembali. "Ayo, latihan lagi Yaya!"
Boboiboy kini berlari menghampiri Gopal, yang memang benar tengah duduk santai di tengah ruangan latihan.
"Gopal, tadi semua bertanya kamu ke mana!" ujar Boboiboy dengan nada penuh amarah "Jangan tiba-tiba menghilang di tengah latihan dong!" Barusan pasalnya Boboiboy terpaksa mencari alasan ke mana hilangnya teman tambunnya itu.
"Habis aku lapar lah! Kapan lagi bisa makan sepuasnya gratis, hehehe." Gopal mengambil satu balok kayu dengan tangan kanannya. "Tukaran makanan!"
Senapan jari Gopal menembakkan sinar kehijauan dan mengubah benda di tangannya itu menjadi kotak camilan cokelat kesukannya. Boboiboy pun malas berkometar lagi dan hanya memutar bola matanya.
"Tapi tetap saja rasanya masih ada kurang sedikit. Apaa gitu…" Celotehan Gopal membuat Boboiboy menepuk jidatnya.
"Kalau nanti kau dimarahi Papa Zola baru tahu rasa!" itulah yang terakhir kali Boboiboy ucapkan sebelum meninggalkan Gopal yang asyik memakan kudapan barunya itu.
Boboiboy menempati satu ruangan latihan yang kosong. Aula itu memang didesain Ochobot untuk latihan mereka dengan sekatan dinding logam yang membagi aula dalam lima ruangan cukup besar yang tersusun melingkar. Hanya bagian pintu masuk ruangan yang disekat oleh kaca tembus pandang, agar Ochobot bisa mengawasi mereka dengan mudah. Dalam masing-masing ruangan terdapat berbagai objek dan pilar-pilar sebagai target serangan.
'Aku tak boleh kalah, setidaknya memunculkan dua elemental terakhir!' Boboiboy bertekad dengan sungguh-sungguh.
Sudah hampir satu minggu mereka memulai latihan, namun Boboiboy merasa bahwa kekuatannya masihlah belum cukup. Yaya sementara itu telah mampu mengangkat berbagai objek dan membuat dirinya terbang melesat di udara dengan kekuatan manipulasi gravitasinya. Ying menguasai kekuatannya, seperti memperlambat atau mempercepat waktu di sekitarnya ataupun objek yang dipilihnya. Gopal telah mahir mengubah segala benda menjadi makanan favoritnya.
Manik hazel itu sempat melirik Fang, yang berada di ruangan yang bersebrangan dengannya. Boboiboy mendengar dari Ochobot bahwa Fang telah menguasai kekuatan bayangnya dan membentuk warna kelam itu sesuai imajinasinya. Jemari Fang kini mengeluarkan lebih banyak bayangan dan membentuknya menjadi sosok harimau bermata merah menyala.
Boboiboy kembali memfokuskan diri pada kekuatannya. Arloji miliknya kini beputar, lalu simbol elemental berwarna hijau kini berada pada jarum penunjuk. Menandakan elemental mana yang ingin digunakannya sekarang. Tangan kanannya terbuka, dan semburat sinar kehijauan kian berpendar.
.
.
.
"Bagaiman latihan kalian hari ini?" robot kuning itu akhirnya muncul dan menghampiri kelima remaja itu. Tepat setelah sesi latihan selesai tepat pada jam enam sore. Mereka kini berkupul di tengah aula bersama-sama dan bersiap untuk pulang.
"Lancar Ochobot! Kita sekarang bisa mengendalikan kekuatan dengan baik!" sahut Ying dengan penuh semangat.
"Apa ada yang ingin kalian tanyakan soal kekuatan kalian?" Ochobot mendapat gelengan yang menegaskan jawaban 'tidak'.
"Oh ya, apa simulasinya sudah siap Ochobot?" tanya Yaya penasaran.
"Persiapannya hampir selesai dan aku telah selesai mengaktifkan replika Pelahap Ingatan untuk latihan! Sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu pada masing-masing dari kalian…" mata biru sang robot kini melirik Boboiboy. "Tapi sebelum itu, bagaimana tentang kekuatan elementalmu Boboiboy?"
Kini semua atensi tertuju pada Boboiboy, yang mulai berkeringat dingin. Dua menit selanjutnya mereka pun menyaksikan bagaimana sang remaja bertopi mengeluarkan dua elemental barunya itu. Walau raut wajah Boboiboy yang ragu membuat mereka menerka bahwa kekuatan Boboiboy belum bisa diandalkan untuk misi pertama. Sebuah hal yang membuat misi pertama pasti berat untuk mereka semua.
"Elemental keenam ini…" Boboiboy membuka tangannya dan memunculkan tunas mungil berwarna hijau.
"Tumbuhan…?" Ying kebingungan.
"Berguna sekali untuk proyek penghijauan ya." Gopal langsung mendapat sikutan telak dari Ying maupun Yaya.
"Lalu elemental terakhir?" Ochobot meluruskan kembali topik pembicaraan mereka.
Boboiboy pun membentuk pistol dengan jempol dan telunjuk tangannya. Lalu semburat cahaya putih memancar dari ujung jemarinya itu. Tembakan sinar itu mengarah pada kedua mata Gopal dan membuatnya mengaduh dan menutup mata.
"Ups… maaf nggak sengaja," ucap Boboiboy sambil diam-diam tertawa dalam hati.
Sejauh ini, ada tujuh hal yang bisa dibuat Boboiboy dengan kekuatan elementalnya. Tiga yang paling sering ialah pisau berliku dari listrik, hembusan angin dari tangannya, serta tanah yang mencuat setelah ia meninju lantai sekuat tenaga. Dua yang lain ialah kobaran api dan bola air, cukup sulit memunculkan keduanya. Dan dua elemental yang baru saja muncul pun nampaknya tidak cukup kuat untuk menjadi serangan yang pantas ketika menghadapi Pelahap ingatan.
"Apa boleh buat, kekuatan Poros akan semakin besar ketika kalian berhasil mendapatkan Nukleus dari setiap sektor Matra." Ochobot menepuk punggung Boboiboy dan membesarkan hati remaja bertopi itu.
"Huh benar kan, memang lemah betul kekuatanmu itu!" cibir Fang sembari melempar pandangannya pada sang rival.
"Berisik lah! Nanti juga aku akan semakin kuat darimu, pasti!" Boboiboy langsung meyahut dengan panasnya.
-CdS-
Simulasi akan diadakan besok dan kelima remaja itu belum juga berunding bersama dalam satu meja. Ochobot telah meminta Fang untuk menyusun rencana sebagai persiapan mereka di Matra nantinya. Sayangnya yang diminta nampak enggan dan pergi begitu saja ketika baru dipanggil namanya. Di tengah waktu yang semakin sempit sebelum simulasi, Gopal pun memberikan satu pencerahan.
"Cara membujuk dia sih gampang," ujaran Gopal membuat ketiga orang itu meliriknya dengan segera.
Lalu disanalah mereka berlima berkumpul bersama. Di taman belakang sekolah, sebelum latihan di Matra sore itu. Dengan sekotak donat lobak merah yang diamankan dari kantin sekolah sebagai konsumsi diskusi mereka sekaligus cara membujuk Fang. Ajaibnya, Fang mau ikut diskusi mereka sebelum simulasi. Mereka duduk di meja panjang di taman, yang seringkali dijamahi sebagai tempat berkumpul dan mengobrol.
"Jadi, apa yang ingin kalian tahu?" Fang pun memastikan maksud teman-temannya itu menyogoknya dengan makanan favoritnya itu.
"Apa lagi? Soal besok kita harus bagaimana lah! Pasti ada hal lain tentang Matra yang kau tahu bukan?" Ying berseru dengan tidak sabar.
"Kasar sekali sih…" Fang mengomentari sikap remaja putri itu. "Tapi karena kalian telah mentraktirku makan, aku akan menjelaskannya."
"Besok kita langsung melakukan apa yang ada di rekaman itu, sama persis seperti yang tim poros keenam lakukan. Boboiboy, kau langsung mencari portal begitu masuk ke dalam Matra. Ikuti saja instingmu karena portal menuju pilar sejalan dengan sumber retakan Matra. Cari Nukleus Matra, terus ya selesai misi. Selain Poros ya harus bisa menghadapi Pelahap ingatan dan jangan membiarkan mereka lolos menyusul Poros. Kurasa kemarin Ochobot sudah menjelaskan sampai tuntas."
"Lalu, apa lagi yang ingin kalian tahu?" tambah Fang dengan ketus.
"Tidak ada informasi lainnya? Misalkan tentang tujuh sektor Matra yang nanti kita masuki selama misi." kini Yaya yang mengajukan pertanyaan.
"Sektor matra yang terdistorsi selalu acak. Bersiaplah kalau nanti kita masuk ke tempat-tempat yang aneh," Jawab Fang. "Pelahap ingatan yang menjadi lawan pun bisa berubah-ubah. Tak banyak informasi pasti tentang sektor Matra dan kekuatan Pelahap ingatan yang akan muncul nanti."
"Jadi kita pun hanya bisa tahu hal itu nanti ya." Ying menyimpulkan dengan nada sedikit kecewa. Matra masih menyimpan segudang misteri yang membuat mereka was-was. Bahkan sebelum mereka menemui Ochobot, dan pada akhirnya memutuskan untuk turun dalam misi yang cukup berbahaya ini. Masih banyak yang belum mereka tahu pasti.
"Oi, Fang! Apa Ochobot tidak bisa melakukan sesuatu soal Matra? Maksudku, dia berada di tempat dan bertugas memantau Matra dari ruangan pengawas bukan?" Tanya Gopal penasaran.
"Tidak bisa lah! Selama belum mendapatkan Nukleus, Ochobot hanya bisa mengawasi saja."
"Soal Matra, apa kita harus merahasiakan semuanya Fang?" Boboiboy meminta pendapat. "Setidaknya kita bisa memberikan peringatan tanpa nama."
"Dan membuat kekacauan karena semua orang tahu ada sesuatu seberbahaya mereka berkeliaran?" Fang mendebat sambil menghela napas. "Kau mau melibatkan banyak orang ke dalam permasalahan Matra ini?"
Boboiboy memalingkan muka. Jawaban Fang memang menusuk tapi benar adanya ketiks ia memikirkannya lagi.
"Kalau menghapus Matra bagaimana? Selesai masalahnya bukan kalau begitu," usul Gopal dengan mulut yang baru menelan donat dengan rakusnya.
"Ochobot mendengar yang barusan kau bilang, kau pasti akan didepak dari misi," jawaban Fang yang bernada serius dan membuat Gopal bungkam seketika. "Menghapus Matra tidak mugkin dilakukan sekarang, dan pencipta Pelahap ingatan berbeda dengan Tuannya Ochobot. Jadi menyerahlah."
"Jadi yang jahat bukan tuannya Ochobot ya." ada sedikit rasa lega ketika Yaya mendengar hal ini.
"Kalau kita menyelidiki orang yang membuat Pelahap ingatan itu?" tanya Ying sembari menopang dagu.
"Entahlah. Tapi aku punya firasat orang itu pun sepertinya sudah tak ada lagi." Fang memalingkan muka, tak ingin memperpanjang topik ini lagi.
"Ochobot hanya menceritakannya padamu?" kini Gopal menyampirkan tangannya pada bahu Fang.
"Sekarang juga kalian tahu, jadi apa bedanya bukan." Fang menyahut enteng dan menepis tangan Gopal dari bahunya.
Kini semua pemikiran mereka tertuju pada orang-orang yang menciptakan semua ini. Seseorang yang ochobot sebut sebagai tuan adalah orang hebat yang telah menciptakan Matra. Entah sejak kapan Matra dibuat, dan untuk apa persisnya dimensi lain yang begitu nyata itu harus tetap dipertahankan. Memang terasa janggal, namun mereka tak memiliki kesempatan sekarang untuk menyelidikinya. Tidak jika sebuah program berbahaya mengintai dan mengambil ingatan orang-orang.
"Apa masih ada lagi yang ingin kalian tahu?" Fang mengambil kembali satu donat dan menunggu. Namun tak ada lagi yang bertanya.
Walaupun dengan makanan favoritnya itu, Fang tidak mengubah sifat dingin dan ketusnya pada mereka. Ada banyak pertanyaan menyangkut Poros ketiga yang tak lain adalah kakak Fang. Namun jangankan soal itu, Fang bahkan tak berniat menyentuh topik itu padahal ada kesempatan untuk menyelipkannya barusan.
"Sudah cukup tanya jawabnya kalalu begitu." Boboiboy pun menghela napas. Mereka harus puas dulu dengan informasi terbatas ini.
"Sebentar lagi juga kita harus latihan lagi untuk besok," perkataan Ying terhenti ketika melihat kotak donat sudah tandas tanpa sisa.
"Ini siapa yang menghabiskan donatnya? Aku dan Yaya belum ngambil satu pun lah!" teriakan murka dari Ying hampir membuat Gopal dan Fang tersedak di tengah kunyahan mereka.
-CdS-
Sabtu menyapa kembali, genap seminggu sudah sejak kelima remaja itu mendapatkan kekuatan dan cukup melatih kekuatan mereka. Ochobot memberitahukan simulasi yang akan dimulai hari ini lewat pesan singkat lewat arloji-arloji mereka. Tak ada keterangan persisnya jam berapa, tapi robot kuning itu menunggu hingga suasana aman bagi mereka untuk melakukan simulasi.
"Tok Aba tak akan kembali lagi bukan Boboiboy?" Yaya pun melirik ke arah pintu dimana baru setengah jam yang lalu Tok Aba pamit.
"Setiap Sabtu Tok Aba biasanya pergi menemui sahabat lamanya sekalian berbelanja kebutuhan kedai. Pasti sampai larut malam kok." Boboiboy menjelaskan sembari membawa lima gelas jus jeruk dan meletakkannya di atas meja.
Kelima remaja itu kini duduk berkumpul di ruang tamu rumah Boboiboy. Ochobot meminta mereka berkumpul di satu tempat yang takkan menarik perhatian sekaligus aman dari orang-orang sebelum simulasi. Dengan dalih belajar bersama, di sinah kini mereka berada. Menunggu sinyal dari Ochobot kapan simulasi akan dimulai.
"Lalu, kenapa kita harus ngerjain PR dulu? Pusing lah sekarang aku!" Gopal memprotes dan melirik kedua remaja putri itu.
"Hush! Kita kan mendapat izin ke sini sambil belajar!" sahut Ying, tangannya sibuk membereskan buku yang berserakan di meja sekaligus membantu Boboiboy menata gelas-gelas minuman.
"Lagipula kan nggak ada ruginya, dan kita bisa memastikan tugas selesai sebelum pergi ke Matra." tambah Yaya. "Sini yuk Fang, kita istirahat dulu sambil minum."
Fang, satu-satunya orang yang memisahkan diri dengan bersandar pada dinding dekat jendela pun mau tak mau mendekati meja dan ikut duduk di atas karpet. Kelima remaja itu kini meminum jus jeruk dan istirahat sejenak setelah selesai mengerjakan PR.
"Jadi, ada yang tahu kapan simulasinya dimulai?" tanya Ying.
"Belum ada pesan dari Ochobot ya pasti masih be˗" Boboiboy baru setengah menjawab ketika sebuah suara aneh membuatnya menengadah. Fang melakukan hal yang sama, dan kedua rival itu saling berpandangan dengan keheranan.
"Ada apa Boboiboy?" Tanya Yaya sembari ikut menengadah namun gadis itu tak menemukan apapun yang aneh di sana.
BRAK!
Terdengar suara langkah kaki menjejak lantai di atas dengan kasarnya. Membuat kaca jendela bergetar saking kerasnya.
"Ada orang di atas!" seru Ying panik.
Arloji kelima remaja itu mengeluarkan cahaya merah pertanda distorsi Matra telah terjadi pada simulasi mereka itu. Sebuah pesan yang dikirim oleh Ochobot pun membuat mereka fokus pada arloji masing-masing dan membaca apa yang tertulis di sana. Simulasi dimulai. Distorsi ada tepat di atas kalian. Pasang handsfree yang kuberikan kemarin dan temukan portal Matra. Aku memantau dan memberi aba-aba dari sini.
Tanpa banyak bicara, mereka pun memasangkan satu handsfree hitam yang diberikan Ochobot. Lalu setelah memastikan arloji yang menjadi sumber kekuatan terpasang, mereka pun kembali berlari sekencang mungkin menuju tangga.
"Ada dua replika pelahap ingatan yang keluar tapi ingat, jangan dikejar!" itulah arahan Ochobot yang terdengar begitu handsfree mereka menyala. "Semoga kalian beruntung."
"Baiklah, ada di atas bukan?" Boboiboy setengah berseru dan menaiki undak tangga menuju lantai dua. Tepat di atas ruang tamu adalah kamarnya. Tak salah lagi. portalnya ada di sana. Tangan Boboiboy dengan cepat mengayunkan kenop pintu kamar, namun apa yang dilihatnya adalah kamar yang kosong dengan jendela yang terbuka lebar.
"Mereka kabur lewat jendela!" Ying pun melewati Boboiboy dan mengecek ambang jendela. Namun Pelahap Ingatan tak lagi terlihat di manapun.
"Portalnya? Di mana portalnya?!" Gopal terlihat panik sambil memegangi kepalanya.
"Di atas!" seruan Fang membuat keempat teman sekelasnya mendongak dan menemukan lingkaran hitam yang berada di langit-langit kamar. Mereka telah menemukan portal menuju Matra.
"Bagaimana kita ke atas?" ujar Ying sedikit tak sabar. Mereka harus segera masuk dan memancing Pelahap Ingatan itu kembali.
"Geser meja ini cepat!" arahan dari Boboiboy pun memecah kepanikan di antara mereka.
Meja belajar Boboiboy pun digusur oleh ketiga remaja putra itu sehingga mereka bisa meraih portal. Boboiboy yang pertama memanjat meja dan mencoba memastikan keamanan portal itu. Saat tangan Boboiboy menyentuh portal, tubuhnya terasa ditarik ke atas hingga kakinya tak lagi menjejak meja. Didengarnya teriakan di bawah sebelum dimensi berputar dalam warna gelap. Lalu Boboiboy bisa merasakan semuanya tak lagi berputar dan tubuhnya terempas ke lantai keramik yang dingin.
Belum lima detik ia memandangi sekeliling, Boboiboy kembali berseru. "Ini… di sekolah?!"
.
.
.
Kelima remaja itu tak mungkin tidak mengenali koridor yang dilalui hampir setiap pagi menuju kelas mereka di lantai dua. Matra dimana simulasi mereka berlangsung adalah gedung sekolah mereka sendiri. Dari cahaya yang menembus jendela dan suara bel sekolah, mereka tahu persis ini adalah waktu pagi.
"Ada dua Pelahap Ingatan yang mendekati kalian! Bersiaplah!" Aba-aba Ochobot kontan membuat Gopal panik.
"Tunggu! Aku belum persiapan apapun lah!" protes Gopal.
"Boboiboy, cepat cari portal masuk menuju pilar! Mirip dengan portal masuk tadi pokoknya, Nukleus ada di dalam sana! Yang lainnya menghadapi Pelahap ingatan dan mengawasi portal!" ujar Ochobot kembali.
"Baiklah! Ke mana pilarnya Ochobot?" Boboiboy bertanya lewat handsfree di telinganya. Belum ada retakan Matra yang jelas, jadi ia bingung harus ke mana.
"Ke lantai bawah! Kau harus memutar menghindari Pelahap Ingatan sebisa mungkin Boboiboy!" Ochobot berseru. "Cepatlah, mereka datang!"
Boboiboy berlari dan berbelok ke kiri, menghilang dari pandangan teman-temannya seiring langkahnya menuruni undak tangga. Lalu di saat yang hampir bersamaan, dua sosok berjubah muncul dari portal. Fang mengambil posisi paling depan dan langsung menyerang.
"Serangan bayang!" bayangan Fang langsung menyergap dua sosok berjubah itu dan mendorong mereka hingga membentur dinding koridor dengan kerasnya.
"Ada Pelahap ingatan ketiga yang muncul dan mengejar Boboiboy! Coba hentikan dia!" Ochobot memberikan arahan kembali.
Lalu sosok Pelahap Ingatan berjubah abu-abu melintas menuju tangga.
"Bola masa!" seru Ying, bola dari kekuatannya membuat Pelahap ingatan ketiga itu melabat dan nyaris berhenti "Sekarang Yaya!"
"Tunggu! Bagaimana kalau dia terluka karena pukulanku?" Yaya kini meragu, ini pertama kalinya ia harus memukul seseorang. Sesuatu berwujud orang lebih tepatnya.
"Mereka mirip orang tapi bukan lah! Lihat, kalahkan mereka seperti ini!" Tangan bayang Fang kini mencengkram salah satu pelahap ingatan yang sempoyongan karena serangannya barusan dan melemparkannya ke dalam portal. "Kalau kita melempar mereka ke portal, lebih mudah mengawasi mereka kalau kembali!"
"Maafkan aku karena harus memukulmu!" Yaya pun menghampiri Pelahap Ingatan yang tadi diberhentikan oleh Ying dengan kepalan tangannya. "Tumbukan padu!"
Dua kali pukulan Yaya telak mengenai sosok berjubah itu hingga mengirimkannya tepat ke portal tempat mereka datang.
"Jangan lempar musuh sembarangan keluar! Kalau nanti ada yang lewat dekat portal gimana?" Ochobot terdengar marah. "Lalu mereka kalah karena serangan tadi. Ada waktu lima menit sampai mereka beregenerasi. Tetap siaga!"
"Ups, kayaknya ada sesuatu yang rusak di kamar." ujar Fang ketika mendengar Pelahap Ingatan itu jatuh menabrak sesuatu sampai terdengar derak kayu yang patah.
"Kalian, jangan seenaknya merusak kamar orang lah!" Boboiboy kini berkomentar lewat handsfree. "Pokoknya nanti tanggung jawab! Oiya Ochobot, aku harus ke mana sekarang?" Boboiboy mencoba mengesampingkan amarahnya dan kembali pada tugasya sekarang.
"Kau bisa mendengar suara seperti retakan atau sesuatu yang mirip dengan sesuatu yang pecah?" tanya Ochobot dengan sungguh-sungguh.
Langkah Boboiboy terhenti dan telinganya mulai menajam, sebisa mungkin mencari suara yang dijelaskan Ochobot. Ia menenangkan napasnya, lalu suara pelan mendapat atensinya. Suara sesuatu yang retak. Tak salah lagi, suara itu berasal dari aula sekolah yang berada di sebrang gedung utama sekolah. Secepat kilat, Boboiboy berlari menuju pintu dan memasuki aula.
"Di sini! Tidak… di atas!" seru Boboiboy sembari mendongak.
Ada satu portal lagi, berupa lingkaran hitam seperti portal yang dimasukinya. Namun portal itu berada di atap aula yang tingginya berkali lipat dari tinggi kamarnya. Takkan mudah mencapainya.
"Aku butuh bantuan! Portal keduanya ada di langit-langit aula!" Boboiboy berkata dengan tergesa.
"Kalau begitu, biar aku…" Yaya pun menyadari bahwa ia bisa menerbangkan Boboiboy menuju portal dengan kekuatannya, namun salah satu dari mereka tiba-tiba memisahkan diri. "Tunggu Fang! Kau mau ke mana?!"
.
.
.
"Kalau saja kekuatan anginku lebih kuat, aku bisa menerbangkan diriku ke sana" gumam Boboiboy gemas, ia tak bisa membuat tubuhnya mencapai atap aula. Tidak ada kursi ataupun meja yang bisa ditumpuk sampai setinggi itu. Boboiboy memerlukan bantuan Yaya setidaknya.
"Kau butuh bantuan?" suara penuh dengan nada sindiran itu membuat Boboiboy melirik dengan cepat.
Fang berdiri di ambang pintu ganda aula dengan senyuman penuh kemenangan di wajahnya.
"Ochobot, kenapa malah dia yang ke sini?" tanya Boboiboy gusar.
"Berisik, ada yang ingin aku dan Ochobot pastikan!" ucap Fang sembari menutup telinganya. "Pegangan yang kuat atau kau nanti akan jatuh."
"Eh?"
"Seharusnya hanya Poros saja yang bisa memasuki pilar, tapi Ochobot memintaku untuk mencoba." Tak memedulikan kebingungan rivalnya itu, Fang mulai mengeluarkan bayangan dari jemarinya.
"Elang bayang!"
Seketika hewan bersayap itu muncul dan memekik nyaring. Lalu kaki bercakar itu meraih kedua bahu Boboiboy sementara Fang menaiki punggung sang burung. Sayap berselimut gelap pun membentang, elang bayang bersiap untuk terbang. Tujuannya ialah portal menuju Pilar Matra.
"Fang, setidaknya biarkan aku naik ke atas lah!" Boboiboy mencoba melepaskan diri dari cengkraman kaki elang yang menyekat bahunya dengan
"Elangku sayangnya nggak cukup besar untuk dua orang." Fang menyahut tak peduli.
Elang bayang pun mengepakkan sayapnya, membuat mereka menjauhi tanah dengan cepatnya. Boboiboy hanya bisa pasrah dan berdoa mereka bisa menerobos pilar. Elang bayang kini mencapai ujung portal, lalu mereka bertiga melintasi gelap lalu menyambut tempat baru bernama pilar Matra.
PRANGGG!
Atap kaca berubah menjadi kepingan mozaik penuh warna karena terjangan elang bayang Fang. Mereka kini berada dalam posisi terbalik, di mana jalan keluar portal ternyata mengarah pada hamparan lantai batu-batu bulat besar dengan tepian halus. Boboiboy langsung memekik ngeri.
"FANG! CEPAT PUTAR BALIK POSISINYA!" seruan BoBoiBoy begitu lantang karena kini ia hanya bisa bergelayut di kaki sang elang bayang, yang kini juga ikut panik.
Untunglah elang bayang bisa membenarkan posisi tepat sebelum mereka menabrak lantai. Boboiboy yang berada di bawah pun mengaduh saat jatuh dari cengkeraman elang dengan bonus tertimpa hewan itu. Elang bayang Fang tak lama lenyap setelah tuntas menunaikan tugasnya, sementara itu Fang langsung melompat turun.
"Pendaratan yang sempurna!" Fang mengacungkan jempolnya dan melirik rivalnya dengan sumringah.
"Sempurna apanya?!" kilah BoBoiBoy, yang pinggangnya itu serasa remuk setelah pendaratan mereka barusan.
.
.
.
"Boboiboy dan Fang sudah masuk ke dalam pilar. Tiga Pelahap ingatan selesai beregenerasi dan ada di balik portal, jangan biarkan mereka lolos!"
"Serahkan pada kami!" Sahut Yaya dan Ying bersamaan.
"Eh, Fang jadi bisa masuk?!" seru Gopal kaget.
Tiga Pelahap Ingatan yang dilemparkan Yaya dan Fang kini kembali muncul dan memasuki portal. Dua diantara mereka mengeluarkan senjata berupa pemukul kasti. Sayangnya gerakan mereka kalah cepat dengan Ying, yang kini mengaktifkan kekuatannya.
"Seribu tendangan laju!" Ying pun melesat maju dan menendang dua Pelahap Ingatan sampai jatuh terjengkang ke ujung koridor kanan. Dua musuh mereka jatuh pingsan dan tak bangkit lagi, sebelum akhirnya menghilang seperti debu. Namun satu Pelahap ingatan bisa menghentikan tendangan Ying dan memukul mundur gadis itu.
"Kau tidak apa-apa Ying?!" Seru Yaya cemas. Ying hanya mengangguk dan kembali berdiri. Hanya sedikit lagi dan tendangannya itu seharusnya bisa telak mengenai musuh.
Tudung jubah Pelahap Ingatan itu kini tersibak, memperlihatkan dengan jelas sosok seorang bapak paruh baya. Rambut gelap yang dibelah pinggir itu, dan juga kumis tebal itu tak asing lagi bagi ketiganya. Pak Cik Kumar, penjual es krim sekaligus ayah Gopal itu yang ada di balik jubah salah satu Pelahap ingatan. Baik Ying maupun Yaya menoleh ke arah Gopal dan meminta penjelasan darinya.
"Dey! Aku tak tahu apapun lah soal ini!" Gopal menyangkal.
"Pelahap Ingatan bisa menjelma menjadi orang yang mungkin kalian kenal ataupun kalian takuti. Karena itu aku menanyakannya pada kalian kemarin" Ochobot segera menjelaskan sebelum ketiganya semakin kebingungan. "Anggap saja ini latihan, kalian pasti bisa!"
Pak Cik Kumar memandang tajam ketiga remaja yang masih mencerna apa yang terjadi. Tagannya kini meraih sesuatu di balik jubahnya, lalu satu senapan berlaras pendek terarah pada mereka. Seketika ketiganya itu menelan ludah.
"Sembunyi ke balik dinding!" Yaya berteriak dan ketiganya langsung mundur dan berlindung dari tembakan laser bertubi-tubi.
"Kuharap kau tahu cara menenangkan ayahmu ini Gopal!" ujar Ying keras.
"Bawa bertenanglah Appa!" seru Gopal sambil menutup telinganya.
.
.
.
Berlanjut pada chapter 5: Kawan
A/N: Terima kasih bagi yang sempat mampir (terutama untuk kak Valkyrie Ai, terima kasih banyak ^^)
Perjalanan ff ini masih panjang (lebih panjang dari ff Proved me Wrong). Semoga bisa terselesaikan seperti ff lainnya, karena memang sejak tahun lalu mulai sulit untuk membagi waktu m(_ _)m
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya~
